Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Tidak ada wanita yang tidak suka dibilang cantik. Satu yang berbeda adalah tidak semua orang akan menginvestasikan waktu dan uangnya untuk hal itu. Saya sendiri ingin cantik untuk kekasih saya dan saya butuh merasa cantik untuk diri saya sendiri. Repot bukan, kita tidak berminat dengan produk kecantikan tapi menolak apa adanya diri. *fiuhh

Di penghujung melepas usia 23 tahun, saya mengalami sindrom krisis kepercayaan diri. Cukup parah, agaknya. Keminderan satu per satu tiba, dari soal gigi berantakan, kulit wajah dengan bercak hitam, rambut mengembang, hingga selera fashion yang engga banget. Benar-benar gejolak aneh yang semestinya hadir ketika saya masih usia belasan tahun.

Suatu siang saya menangis sejadi-jadinya dan membatalkan kencan bersama Riyan. Entah kenapa saya merasa tidak cukup modis dan benar-benar old-fashion. Saya enggan meninggalkan rumah. Riyan tidak marah, pun tidak menenggalamkan saya dengan berbagai petuah apalagi penghakiman. Justru, segelas es krim mcFlurry dia tawarkan, dan itu menjadi solusi paling teduh. Sembari saya menghabiskan es krim lembut dengan remahan oreo di atasnya, dia setia mencari tahu kesusahan hati kekasihnya ini.

Hipotesis kala itu adalah keminderan akibat komparasi terhadap pesona menawan para kawan wanita seumuran saya. Mereka piawai berdandan dan memadumadan pakaian, sedangkan saya? sudahlah *pasrah.

Di tengah obrolan, saya melemparkan sebuah guyonan dan Riyan tertawa dengan lepasnya. Terbahak-bahak seakan tak ada beban di dunia. Dia kemudian menarik nafas, dan dengan begitu tulus berkata "udah.. kamu kayak gini aja. Ga usah susah payah mikirin penampilan. Kamu menggila kayak gini aja aku uda bahagia banget."

Merasa berhasil menghadirkan kebahagiaan, kadang menjadi kebutuhan hakiki. Menjadi cantik atau tidak cantik seketika tak lagi terlalu penting.

Akhirnya yang tersisa dan mungkin yang paling penting adalah soal prasyarat apa dan kondisi bagaimana kita merasa menarik, dan orang-orang seperti apa yang membuat kita merasa selalu cukup cantik.

Di momen sebelumnya, ketika batal memasang kawat gigi, saya meminta maaf ke Riyan. Tiba-tiba perasaan gagal menjadi sosok kekasih yang menawan, menghantui pikiran.

"Apa aku pernah mengeluh soal penampilanmu?"

Hanya pertanyaan itu yang dia lemparkan. Tanda tanya itu memancing saya berpikir, kenapa adiss berubah? Kenapa kecuekan saya soal penampilan sebelum pacaran justru hilang? Kenapa saya berpikir terlalu keras untuk menjadi cantik? Toh Riyan tidak sekali-kalipun menuntut saya menjadi modis, toh Riyan tak pernah mengeluh. Memang mungkin muasal semua ini adalah komparasi lewat sosial media, ditambah citra diri yang sedang tidak sehat.

Ketika saya tahu, bahwa di tengah ketidaksempurnaan ini saya dapat membuat orang lain bahagia, saya sepenuhnya dapat menerima diri dengan seutuhnya.

Penghujung problematika confidence crisis ini disimpulkan dengan indah saat saya bercakap dengan sahabat terbaik saya. Sebuah konklusi yang membuat saya mengucapkan selamat datang pada usia 24 tahun dengan lega dan nyaman.

Adiss: Ce.. ayu ya si ***** sekarang
Cece: iya padahal dulu tomboy
Adiss: kadang adiss ngerasa penampilan e adiss ini engga banget. Pas arek sak umur’e adiss wes pake baju-baju cantik, adiss sek kaos dan jeans doang.
Cece: hahaha yawes biarin. Tapi kamu wis lebih feminim. Belajar dandan gitu
Adiss: Iyo. Tapi tetep ngerasa cuma butiran debu ce.
Cece: halah lapo. Kamu itu kan ya menang ndek petualangan. Wes pigi mana-mana. Punya pengalaman juga. Ga semua isa ngerasain. Walaupun item tapi punya kebanggaan. Ben simple tapi wes ngeraih banyak hal.
Adiss: hmmm tapi orang seng liat adiss ya masak ngerti adiss wes ngelakukno itu semua. Toh juga ga keren-keren amet walaupun adiss enjoy.
cece: ya biarin mereka ga ngerti. Biarin ga keren. Yang penting kamu happy sama pilihanmu.

EXACTLY!! Dari obrolan itu, setidaknya saya belajar dua hal utama.

Pertama, Prinsip "bahagia dengan pilihanmu" adalah rona kecantikan berharga yang tidak bisa disembunyikan. Rona itulah yang menjadi pesona dan mengembalikan citra diri yang sehat. Rona itu juga membuat kita merasa aman dan nyaman menjadi diri sendiri. Bahkan, semakin saya sadar bahwa penghayatan akan prinsip tersebut membuat kita jauh dari rasa iri. Sebagaimana kita sudah bahagia dengan pilihan kita sendiri, sebagaimana kita sudah mendefinisikan arti bahagia kita sendiri, kitapun akan memberikan ruang orang lain menjadi happy dengan pilihan mereka sendiri. Entah melalui travelling, bersolek, memasak, ataupun mengambil pendidikan tinggi.

Kedua, merasa cantik dan menjadi cantik ternyata lagi-lagi dasarnya tentang pilihan. Memilih untuk menerima diri sendiri dengan bahagia dan memilih orang-orang seperti apa yang kita ijinkan hadir di hidup kita dan membawa pengaruh.

Saya hanya cukup beruntung telah memilih Riyan dan cece saya sebagai influencer di hidup ini. Andai saja saya memilih Awkarin, ah entahlah apa jadinya diri ini. Sekian.

imperfection is beautiful




Suatu hari sekumpulan orang melakukan pertemuan akbar membahas nasib lanjutan seorang terdakwa kasus.

Ada dilema di benak jemaat sidang kala itu: melepaskan dengan pengampunan dan sekedar melakukan pembinaan atau tetap memenjarakan yang pastinya merusak masa depan sang terdakwa.

Lalu saya diminta bersuara. Dengan lantang saya berkata: "Tuhan itu adil dan kasih. Selalu ada pengampunan, namun bukan justru meniadakan konsekuensi."




Dengan logat mantab dan penuh pemahaman, saya memenangkan hati hampir seisi ruangan sidang. Mereka mengangguk sepakat. Hukuman tetap harus dilakukan.


Beberapa detik setelah palu diketuk, cermin besar menyambut untuk mengajak merenung: "adiss, andaikata suatu hari kamu ada di posisi terdakwa itu, apakah kamu akan berani bilang yang sama?"

Saya berpikir keras di tengah hiruk pikuk sidang yang berlanjut pada kasus kedua. Andaikata suatu hari saya melakukan kesalahan, apakah saya dapat besar hati dan berani berkata: "oke Tuhan adil dan kasih. Saya sudah melakukan kesalahan, saya layak dihukum. Tolong maafkan saya tapi tetap berikan hukuman bagi saya."

Saya sangsi. Mungkin saya akan berkelit. Mungkin pula saya akan memelas sedemikian untuk memohon pengampunan. Mungkin saya akan menyembunyikan kalimat itu. Atau mungkin hanya menekankan pada 'kasih' dan mengabaikan sisi 'adil'.



Source: www.mcgilldaily.com
Faktanya, kita terlampu sering menjadi hakim yang hebat untuk orang lain dan pengacara mahir untuk diri sendiri.

Apa yang kita tahu dan apa yang kita ingin terapkan untuk orang lain, seringnya sulit jika berhadapan dengan diri sendiri. Maka tak heran jika ribuan kutipan dari filsuf hebat segala jaman menekankan bahwa musuh sejati seorang manusia adalah dirinya sendiri.

Konsep kebenaran selalu membutuhkan kedewasaan yang utuh. Untuk menerapkan yang sepadan baik bagi orang lain dan diri sendiri.

Jika di sidang itu saya (dan Anda) berani berkata: "Tuhan itu kasih dan adil, kita sepatutnya meneladani. Kita memaafkan sang terdakwa hari ini, namun dia tetap harus dipenjara" maka di sidang lain saat kita yang menjadi terdakwa, kita sudah semestinya besar jiwa berkata: "ampuni aku, tapi tetap jatuhkan hukuman itu bagiku!"


Beranikah kita?


Alkisah... Suatu hari seseorang lelaki tampan terjaga dari lelapnya. Dia sendirian memikul sebuah tanggung jawab yang besar. Sang Tuan-nya meminta dia untuk memberi nama pada segala hal yang ada di taman indah itu. Satu per satu. Baik kepada burung di udara, segala kawanan liar di hutan, tak luput bagi mereka yang menghiasi lautan. Di tengah keasyikan itu, dia termangu tanya "tidak adakah dari semua makhluk itu yang sepadan untuk menolongku?" Tak berselang lama, dia bertemu belahan jiwa sepanjang masa. Benar! Ini adalah kisah perjodohan pertama di muka bumi, antara Adam dan Hawa. Dari kejadian itu, muncul banyak sekali kekaguman sekaligus membawa pada pertanyaan umum di benak para manusia jutaan tahun setelahnya.
   

Pertanyaan 1 : "kenapa Allah membuat Adam tidur?"
Setelah tugas melelahkan, sang Adam dibiarkan tidur. Ini adalah sebuah kesengajaan besar dari yang Khalik untuk memulai rencana tulus-Nya terhadap manusia pertama itu. Allah sendiri yang berinisiatif untuk menciptakan seorang Hawa. Kata kuncinya adalah adalah: inisiatif.

Bagi kita, awalnya terlihat biasa saja toh semua manusia memang akan tidur setelah lelah bekerja. Namun mari kita perhatikan pernyataan ini: 'Allah membuatnya tidur'. Jelas ini merupakan kesengajaan mulia yang memulai proses pengambilan tulang rusuk hingga pertemuan sang Adam dan perempuannya.

Sebelum kita memikirkan siapa pasangan kita, sudah seharusnya kita menghayati bahwa setiap tahap kehidupan kita adalah anugerah yang dimulai dari rencana Allah yang membawa kebaikan. Dari aktivitas tidur, Allah menyediakan pasangan bagi Adam. Dari aktivitas pelayanan kuliah, Riyan dipertemukan dengan saya. Dari organisasi kampus, sejoli memulai kisah cinta. Ada banyak hal yang dapat menjadi titik mula kisah cinta. Jika Allah sudah berinisiatif maka kegiatan sederhanapun dapat diajadikan awal yang sempurna. Sebaliknya, seberapapun kita menebar pesona jika Allah belum merasa perlu untuk mengambil inisiatif, maka tindakan kita jadi sia-sia.



Pertanyaan 2a: "Kenapa perlu ada Hawa?"
Pertanyaan jenius! Pada dasarnya Allah merupakan penolong yang jauh lebih dari cukup bagi Adam. Bagaimana tidak, faktanya Dia adalah Pencipta. Tidak diperlukan manusia lain, Allah adalah pelengkap hidup yang terbaik.

Lantas apa arti skenario pengambilan satu tulang rusuk Adam tersebut? Dia yang adalah Pencipta Semesta menahan diri-Nya untuk tidak mengisi sebuah kekosongan dalam diri Adam -sebagai simbol dari semua laki-laki- dan mengijinkan ruang kosong itu hanya diisi oleh seorang dari tulang rusuknya. Kata kuncinya adalah "menahan diri".

Hawa diciptakan jelas untuk menjadi penolong bagi Adam. Hawa diciptakan juga sebagai manifestasi Allah yang sedang menahan diri-Nya. Fakta itu tidak henti menginspirasi saya untuk menjadi wanita yang dapat mengisi sisi kosong laki-laki yang memang adalah kesengajaan Allah sendiri. Pencipta yang segala Maha itu telah menahan diri-Nya untuk mengisi kekosongan Adam, Riyan, dan seluruh laki-laki di muka bumi ini. Pengenalan akan skenario agung tersebut agaknya menyadarkan kita bahwa sebenarnya tidak ada alasan manusia tidak menahan ego-nya untuk membentuk kesepadanan dan harmoni hubungan laki-laki dan perempuan. Mengalah penuh kasih, itu adalah teladan yang diajarkan Allah di taman Eden dalam skenario pasangan hidup. Pilihannya adalah kita mau meniru atau membantah?


Pertanyaan 2b : "Kenapa tidak menciptkan 'Adam' yang lain?"
Pertanyaan cerdas dan kritis! Jika hanya untuk menolong, kenapa Allah tidak ciptakan saja laki-laki lain?
Ini karena Allah bukan hanya sedang membuat hubungan pertemanan namun sebuah hubungan unik yang dapat merepresentasikan tentang Kristus dan Jemaat-Nya. Sebuah hubungan hierarkis penuh kasih dimana ada titik pertemuan akan penghormatan dan penundukan.


Pertanyaan 3 : "Bagaimana konsep jodoh Kristen?"
Setelah Adam bangun, tertulis peristiwa selanjutnya bahwa 'Allah membawa perempuan itu pada Adam'. Inilah konsep jodoh! Pendalaman soal ayat ini pertama kali saya dengar saat saya menguping di kelas pastoral pra-nikah. Bapak pendeta dengan suara berkharismanya menjelaskan bahwa detail menarik yang kadang terlupa adalah kenyataan bahwa Adam tidak berkeliling-keliling taman untuk menemukan Hawa, namun Allah sendiri yang membawa wanita itu ke hadapan Adam.

Disini mengingatkan kita bahwa jodoh adalah seseorang yang dibawa pada kita saat kita sendiri telah baik melakukan apa yang Dia perintahkan, seperti Adam yang usai melakukan tugas memberikan nama-nama makhluk di taman itu. Ketika kita fokus untuk hidup dalam ketaatan dan melayani Dia, dengan cara-Nya sendiri sosok yang kita butuhkan akan datang. Itulah jodoh!

Hal ini ditegaskan dengan beberapa kisah lain, salah satunya adalah kisah pertemuan Ribka dengan Ishak. Kala itu Ribka hanya melakukan tindakan sederhana yaitu melayani memberi minum unta milik Eliezer -abdi Abraham yang memang diperintahkan untuk mencarikan pasangan bagi Ishak. Dimulai dari tindakan sederhana penuh kerendahan hati melayani, Ribka memikat hati Eliezer hingga diapun dipinang sebagai menantu Abraham. Baik Adam dan Hawa, Ishak dan Ribka, Musa dan Zipora mengingatkan kita untuk lihai menafsirkan setiap momen sebagau kesempatan melayani Pencipta. Tidak perlu mata yang rajin melirik sana sini, cukup fokus melayani Dia lewat berbagai hal, maka jodohpun akan Dia tunjukkan di waktu yang tepat dan cara yang mengagumkan.

Pertanyaan 4: "Bagaimana Adam yakin bahwa Hawa adalah yang sepadan baginya?"
Jawaban pertama adalah karena tidak ada perempuan lain saat itu. Hahaha mari tertawa sejenak. Itulah yang berbeda ketika jumlah penduduk bumi menjadi milyaran orang, dimana godaan untuk membandingkan dan 'cari aja yang lain' lebih mudah dilakukan.

Saya telah membaca beberapa buku soal pasangan hidup, namun dari kelas pastoral pra-nikah itu saya mempelajari lagi pesona indah perjodohan pertama ini. "Sepadan" adalah sesuatu yang ada di ukuran Allah. Hampir mustahil kita mengetahui seseorang itu sepadan dengan kita atau tidak TANPA kita dekat dengan Allah. Sepadan merupakan wujud kesesuaian paling tinggi berdasarkan standar Allah.  Manusia menjalaninya dengan ketaatan dan iman berbalut pengharapan penuh kasih. Semoga secuplik percakapan malam saya dengan Riyan ini memberikan sedikit gambaran:
Adiss : kalau ada perempuan yang lebih terampil mencintaimu dan lebih sepadan dalam menolongmu, kamu boleh putusin aku.
Riyan : kalau gitu aku boleh dong cari yang lain, aku coba jalani untuk cari tahu.
Adiss : gak bisa, putuskan aku dulu baru silahkan cari yang lain
Riyan : lalu gimana aku tahu kalau belum menjalani?
Adiss : itulah iman! Saat kamu memulai pacaran denganku kamu juga tidak tahu persis apakah aku akan bisa menjadi penolongmu dan apakah kita sepadan. Kamu hanya yakin akan hal itu, lalu memulai denganku. Saat itu kamu sedang mempraktekan soal iman, pengharapan, dan kasih dalam waktu bersamaan.
Riyan : *senyum* itulah kenapa aku tidak pernah menyesal memilihmu.

Sebelum kita berkomitmen dalam hubungan kita masih boleh untuk menerka-nerka sosok seperti apa yang akan sepadan dengan kita, lewat mengenal Tuhan dan diri sendiri sebaik mungkin. Namun saat sudah dalam hubungan, terkaan itu sudah harus berganti menjadi pengakuan dan iman bahwa pasangan kita adalah yang PALING SEPADAN bukan karena perbandingan, namun karena iman dan pengharapan.





Dari satu kata 'sepadan', dimulai dari satu Oknum Berdaulat, bertempat di satu taman istimewa, skenario ini menghadirkan kekayaan yang luar bisa yang menyisakan kesimpulan: Allah adalah makcomblang terbaik sepanjang masa! Percayakan kisahmu pada-Nya! :)
Beberapa waktu lalu saya disibukkan dengan kegiatan pengumpulan dana. Lewat penjualan gelang denim, kami rindu memberikan donasi dukungan bagi komunitas CrossLine. Dana terkumpul, dan saya kira cerita telah usai.

 

Dengan badan kekar, ripped jeans,
dan tato gambar Yesus di lengannya,
Bang Jack -dari pihak CrossLine- dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis tertentu.
Terungkap kemudian betapa dia bersyukur bahwa ada sebuah komunitas pemuda gereja yang membuatkan charity bagi pelayanan mereka.
Dengan nada yang makin lirih dia berkata bahwa ini kali pertama sebuah komunitas melakukan hal demikian bagi mereka. Tanpa diminta.
Seketika saya menangis. Ternyata perkara menjualkan beberapa gelang seharga 15 ribu telah menjadi berkat besar bagi sekelompok orang lain.

Bagi saya, itulah keindahan melayani Tuhan, kita diperbolehkan mendapati bahwa hidup kita yang jauh dari sempurna dapat jadi berkat. Kita mencicipi hikmah dari sebuah pilihan untuk melawan kenyamanan. Seketika lelaki kekar itu jujur berterimakasih pada kami, maka ingatan saya dibawa pada momen dimana saya riweuh balesin satu per satu chat beli gelang dan sekedar menyempatkan waktu buat kirim paketan, dan saya tahu itu sudah terbayar LUNAS.

Ada beberapa orang yang merasa menjadi orang baik saja sudah cukup. Sebagian yang lain menganggap bahwa pekerjaan adalah ladang tunggal pelayanan. Tapi sebagian yang lain memilih untuk mengurangi waktu bersantai demi melayani. Bahkan tak jarang ada yang memberi hidup untuk merangkul banyak orang. Pundi rupiah tidak sibuk mereka habiskan untuk mengikuti tren baik fashion atau lifestyle tertentu tapi untuk berbagi.

Lalu apa untungnya bagi mereka?
Kenyamanan berkurang padahal tak semua mawas akan karya dan karsanya.
Waktu santai menipis seraya dompet juga kembang kempis.
Satu kenikmatan yang mereka (dan semoga kita juga) bisa kecap dibandingkan mereka yang hanya memilih nyaman adalah: tahu bahwa Tuhan telah pakai mereka (dan semoga kita) yang super cemar buat jadi berkat.

Selain itu agaknya kebahagian orang yang melayani adalah bertambahnya banyak sekali alasan untuk bersyukur. Ijinkan saya menjelaskan bagian ini. Orang yang melayani dengan sungguh memautkan hatinya bukan hanya pada urusan pribadinya. Dia pautkan rasa terhadap sebuah acara, sebuah misi khusus, atau hal lain. Sehingga ketika orang-yang-tidak-melayani hanya bersyukur atas apa yang ada di hidupnya sendiri, orang-yang-tahu-pelayanan bisa menemukan terlampau banyak alasan untuk bersyukur dan masuk ke banyak kesempatan menyaksikan betapa kerennya Tuhan.

Tidak ada karya hebat yang lahir dari sebuah keegoisan menomorsatukan kenyamanan. Jika Dia yang adalah pemilik semesta mau melawan kenyamanan surga buat menyelamatkan kita, masak kita terlampu jijik merangkul mereka yang dianggap hina? 



Karena suatu hal murid les saya mendadak ketakutan akan pikirannya sendiri. Bocah kelas 2 SD yang jago bahasa inggris itu, terisak keras sembari memegang kepala berusaha melupakan suatu kata yang menghantui. Sampai di satu titik kala sudut matanya masih basah, dia menangkupkan tangan sembari menengadah ke saya yang memang lebih tinggi, lalu berkata: "can you pray for me?"


Hati saya luluh, Seorang makhluk polos di hadapan saya dengan sangat santun meminta sesuatu yang tidak akan pernah menjadi terlalu mahal untuk dilakukan: DOA.

Sebagai guru di sekolah rohani, sebagai anak dan adik, sebagai kakak bimbing, sebagai sahabat, dan sebagai pacar, memimpin doa bukanlah hal yang asing. Sedari kecil papa saya sudah membiasakan untuk saya memimpin doa di meja makan. Menampung sebuah private message berisi "dis doakan aku ..." Juga terlampau sering saya terima. Tapi sore ini ada seorang bocah yang sangat bergumul dengan karakternya memohon guru les yang baru ia kenal seminggu untuk menghadap Pencipta. Entah kenapa saya begitu terkesan dengan adegan tadi. Setiap kata dan ekspresinya seakan berjalan lambat berulang di otak. 

Kita tidak pernah tahu dari mana pelajaran akan didapat, kita tidak pernah tahu berkat macam apa yang hadir lewat seseorang, dan jelas kita tidak pernah bisa menerka orang atau kejadian seperti apa yang dapat Tuhan pakai untuk mendidik kita. Siapa sangka dari anak SD, seorang dewasa justru ditegur.

Sangat penting agaknya untuk mengenalkan tentang Pencipta sedini mungkin pada seorang individu. Indah sekali lho saat kita mengalami kesusahan, kita tahu kemana kita harus pergi. Dan bayangkan saja jika itu terjadi sejak sekolah dasar atau bahkan sebelumnya. Tidak ada jaminan memang seorang anak yang dikenalkan Tuhan sedari kecil akan mudah dididik atau pasti jadi anak yang baik, tapi poinnya adalah dia tahu bahwa segala hal dapat dia bawa ke Tuhan dan tahu pasti bahwa Dia dapat diandalkan. Ketika seseorang tahu bahwa dia harus berdoa minta tolong saat PR-nya sulit, saya yakin itu akan membiasakan dia juga merendah untuk masalah-masalah lebih besar dalam hidupnya kelak, untuk belajar tunduk mengandalkan Dia.

Dari sisi saya sebagai orang dewasa, adegan ketulusan tadi mengingatkan apa yang Paulus pernah bilang "Dia menggunakan yang bodoh untuk mempermalukan yang bijak", begitu kira-kira isi suratnya dan begitu pula simpulan kejadian tadi. Saya jarang sekali berdoa belakangan ini, bukan karena saya merasa mampu, tapi simple karena saya tahu bahwa solusi dari masalah adalah tindakan nyata. Saya lupa satu hal: meminta tolong pada Empunya hidup. Meminta arahan dan kekuatan, saat melakukan tindakan-tindakan tersebut. Kadang kita memisahkan antara hal rohani dan non-rohani, untuk yang kita kira perkara rohani kita getol doakan tapi untuk sebagian yang tidak rohani kita cuek bebek dengan pendapat dan pimpinan-Nya. Padahal bahkan perkara degup jantungpun adalah sebuah kemurahan Pencipta. Aneh sekali jika kita mengkotakkan perkara antara "silahkan Tuhan, masuk dan tolong aku" dengan "tidak perlu Tuhan, ini bukan tentang aku dan Engkau."

Seorang bocah yang ketakutan dengan kata "cookies monster" tahu bahwa dia harus lari ke Tuhan dulu sebelum berupaya menghapus ketakutannya. Masakkah kita lupa bahwa kita harus lari padaNya dulu untuk sgala sesuatu?



Semoga memberkati :)
Pendeta penuh sahaja itu adalah salah seorang gembala asli dari GKI Residen Sudirman, tempat saya berjemaat lima tahun terakhir. Walau tak mengenal tapi saya tahu persis namanya. Usianya belum terlalu tua dengan perawakan tergolong kurus dibandingkan para bapak lain yang mulai menimbun kegemukan di perut. Di barisan tengah, saya mengikuti ibadah seperti biasa sampai akhirnya insting sok tahu saya bergeming.

Tak biasanya, sebuah pembawaan karismatik terpancar dalam gaya luwes bapak itu sehari-hari. Kesan menggebu-gebu dalam bingkai kontrol yang mengagumkan tercermin. Ada penekanan yang berulang soal ketaatan dalam penderitaan sebagai umat Tuhan sebagai manisfestasi tema utama ibadah. Dari tengah hingga akhir khotbah suara pendeta itu mulai gontai. Ada nada yang tak terdefinisikan tersembunyi di balutan jas hitamnya yang gagah, hingga akhirnya mata itu berkaca-kaca. Jemaat -atau mungkin hanya saya- semakin terenyuh. Iya, tidak dapat disembunyikan sang pengkhotbah sedang menghayati benar isi pesan yang ia bagi. Merinding mampir. Di kala kalimat "walaupun kadang kita tidak mengerti kenapa Tuhan seakan diam pada masalah kita ..." terucap, upayanya untuk tetap tegar terkalahkan dengan tetes air mata. Saya tidak tahu kenapa beliau sore ini menjadi begitu emosional, tebak saya adalah mungkin ia sendiri sedang dalam pergumulan berat. Seakan kalimat ajakan yang ia pakai untuk menguatkan para jemaat sedang ia coba laksanakan sendiri. Tidak mudah mungkin, hingga harus ada tetes air jujur keluar dari sudut kelopak matanya.




Menjadi pewarta Firman, tidak selalu berarti bahwa ia telah tuntas melakukan isi khotbahnya, mungkin di detik ia membagi di saat yang sama persis itulah ia sedang mencoba. Salah besar jika kita asumsikan bahwa bahwa pelayan Tuhan adalah yang sudah beres total hidupnya. Memang, sudah seharusnya perkataan dan tindakan menjadi seirama, tapi kala itu masih proses ada kalanya kita memperkataan kebenaran sebagai pedang bermata dua: memberkati orang lain sembati mengoreksi diri sendiri. Sayang sekali jika kita kerap berkata: "anda lho bisa khotbah kok malah gak bisa lakuin." Proses adalah bagian hidup SEMUA ORANG tanpa terkecuali, metodenya berbeda tapi agaknya bukan didasarkan pertimbangan status tertentu.

Usaha sang pengkhotbah untuk menekankan pesan berharga itu lantas membuat saya teringat sesuatu. Betapa banyak orang yang menolak sebuah kesempatan pelayanan dengan dalih "aku belum siap" atau dengan kalimat yang lebih rohani "aku belum layak". Pertanyaannya adalah: Sungguhkah kita merasa akan layak nantinya? Tidak akan! Benarkah kita akan merasa siap suatu hari? Belum tentu!

Bahkan seorang pendetapun berjuang di tengah segala kondisi serta karakter yang sulit, tapi toh Tuhan berkenan memakai dia. Kenapa? Karena memang tidak ada seorangpun yang dipanggil karena kesempurnaan. Justru tahta panggilan yang Ia mandatkan adalah ruang untuk kita berproses menuju keserupaan dengan Pencipta. Itulah kenapa pelayanan disebut sebagai anugerah, karena itu samasekali di luar kelayakan kita.

Momen emosional tadi dengan lantang menggiring saya pada penghayatan: "tetap melakukan beban panggilan bahkan saat kondisi tidak nyaman," sebuah teladan yang bukan saja saya dengar namun telah saya saksikan.

Akhirnya kami semua -dia sang Pendeta dan kami para umat- larut dalam senyap, kami tunduk dalam durasi doa yang lebih lama dari biasanya. Dan kala ucap 'amin' terdengar, senyum teduh sumringahnya telah kembali. Sebuah kesimpulan dan 'permainan' ekspresi yang mengagumkan!
Saya tahu bahwa kebaikan Tuhan bukan hanya soal memberikan kemudahan tapi juga tentang kekuatan saat hal sulit terjadi..

Tapi yang saya baru tahu adalah hal ini: 

Ternyata Kebaikan Tuhan juga soal bagaimana Dia memampukan kita PULIH dari sesuatu yang sangat berat melukai..

Minim mawas kita tidak sadar bahwa ternyata merupakan berkat besar untuk kita diijinkan kembali melanjutkan hidup ini dengan sebuah cara pandang yang dipulihkan, bahwa hari depan menyimpan banyak sekali keindahan dibandingkan segala luka yang terjadi di hari lalu. Saya bersyukur sebagaimanapun kemelut keluarga saya dulu, hari ini saya boleh berdiri dengan kepercayaan bahwa saya bisa membentuk keluarga yang jauh lebih baik ke depan. Tidak ada skeptisme, hanya ada iman yang terus dirangkai dalam usaha dan doa.





Untuk tetap percaya setelah dikecewakan
Untuk mau mengusahakan yang terbaik di masa depan, tanpa dihantui kegagalan yang lalu
Untuk tetap mengasihi bahkan usai disakiti
Semua ini adalah berkat-tak-tersadari yang dapat saya (dan Anda) nikmati


Kebaikan Tuhan (sekali lagi) bukan hanya soal memberikan kekuataan SAAT hal buruk terjadi tapi juga memberikan pemulihan SETELAH hal itu terlewati..

Sudah sore, ini saatnya aku membangunkanmu. Lalu kamu datang dengan nada tak seramah biasanya. "Tidurku ga nyenyak" begitu katamu. Setelah kutanya, terungkaplah bahwa 'dia' yang kita rindukan telah mencuri lelapmu. Kamu berpikir soal strategi kali ini, sebuah logika dalam memilih.

Tahukah kamu?
Ada perasaan sedih padaku, selalu sedih, setiap kali ada hal yang mencuri senyummu. Tapi di balik gusarmu, tersirat banggaku. Sebuah kebanggaan terhadap pria yang serius memikirkan masa depan dan sebuah kebanggaan besar karena bisa menemanimu di masa sekarang.

Dia yang adalah benda penting kelak bagi keluarga, dia yang tidak bisa berpindah tapi mengharuskan kita untuk berpindah (mungkin) menjauh dari Surabaya -kota kecintaan kita berdua.

Hidup ini memang begitu sayang, tidak selalu kenyataan mengangguk setuju pada rencana. Pun Tuhan kadang berkata tidak, alih-alih jahat itu murni karena Dia siapkan yang lebih baik. Iya, hidup kadang seberantakan itu, memporakporandakan kedamaian dimulai dari sebuah tidur siang. Aku di sini bukan untuk merapikannya, aku memastikan bahwa api asamu masih menyala.

Sayang.. Ketahuilah setiap kali kamu datang dengan keluhan, ada secuil hatiku mengasihani diri sendiri. Bukan, samasekali bukan mengeluh karena keberadaanmu. Justru atas fakta bahwa aku tak banyak membantu, saranku juga kadang tak ampuh. Hanya terus berharap hal sederhana semacam surat terbuka ini ada maknanya.


Sediaku hanyalah selalu meminjamkan telinga. Siagaku itu tentang baris doa.

Tak ada hidup nihil masalah, tapi selama kamu mau mencoba maka aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap ada mendukungmu pula menyemangatimu, sayang.

Kalimat-kalimat indah di alkitab bisa kamu baca sendiri untuk menguatkan imanmu, tapi toh aku selalu ingin mencoba mengembalikanmu pada pengharapan yang sempurna. Kata semangatpun kadang tak berdaya, tapi toh tetap aku ucap semata agar kamu ingat bahwa itulah kewajiban kita. Tetap SEMANGAT.

Semangat itu tentang kemampuan tersenyum dan berbisik "Tuhan aku percaya." Semangat itu juga soal berkata "oke memang sulit, tapi aku akan mencoba."

Boleh prihatin, sejenak menggugah ketidakmampuan diri. Tapi lakukan itu sebentar saja ya sayang, lalu kembalikan seri indah muka tampanmu. Jangan bermuram karena masa depan kita tak suram. Jangan ciut bahagia, ini hanya tentang "BELUM" dan bukan kata "TIDAK BISA". Dan kuatlah besarkan jiwa! Karena tanpa disadari kamu punya dua otak, empat mata, empat tangan, dan empat kaki.. kala berjuang. 




Terpenting, kamu punya dua puluh jari tangan untuk melipat tangan memohon belas kasih pada sang Pencipta besar. Mungkin tambahan jari itu akan mempercepat doa kita sampai padaNya. Kalaupun tidak, berarti tambahan imanlah yang sedang darurat kita butuhkan. Apapun itu, semangat selalu PERLU!!

Jadiii... Sudah bisa tersenyumkah kamu petang ini? 

"Orang yang bersemangat DAPAT MENANGGUNG penderitaannya, ..." (Amsal 18:14a)


... sebuah pesan yang terus berulang ...
Dimulai dari tepat minggu lalu saat saya dan Riyan menghabiskan hari minggu malam dengan bertukar khotbah, pertama kalinya saya tahu tentang "sero-fenisia". Lalu pengakraban kata itu disusul dengan satu artikel renungan dan satu update status path kawan saya tentang ringkasan khotbah di gerejanya. Ibadah minggu tadi, adalah penguat semua kebetulan ini. Kali ini, saya memberanikan diri untuk memparafrase apa yang saya dapatkan dari semua rangkaian kebetulan tentang wanita sero-fenosia dan seorang tuli dan gagap. Dengan segala keterbatasan pengetahuan alkitab dan juga keterampilan menulis, saya harap tidak mengurangi kesempatan untuk berkat indah ini dinikmati.

_______

Dalam Markus 7:24-37, dipaparkan secuplik adegan saat Yesus mengunjungi wilayah tirus. Disana Yesus dihampiri oleh seorang wanita non-Yahudi yang memohon pertolongan untuk anaknya yang sedang kerasukan setan lalu disusul dengan karya kesembuhan bagi seorang tuli dan gagap.

Agaknya adegan senada sudah pernah terjadi di bagian lain injil, tentang Yesus yang berbelas kasih dan melakukan keajaiban. Namun kenapa perikop ini menjadi unik?

Pertama, mari kita ingat bahwa setiap injil memiliki ciri dan sasaran yang berbeda. Matius misalnya memfokuskan pada pembaca orang Yahudi sehingga tidak mengherankan jika kitab itu dimulai dengan menuliskan silsilah Yesus sebagai ototrisasi perihal Yesus sesuai dengan tradisi Yahudi. Sedangkan Markus adalah injil yang ditujukan bagi para orang non-Yahudi atau dalam bahasa Perjanjian Baru sering diwakilkan dengan sebutan "Yunani" (Gentile, dalam bahasa Inggris). Perikop soal sero-fenisia ini HANYA termuat di kitab Markus, sehingga hampir mustahil hal tersebut dilakukan tanpa tujuan. Markus seakan ingin mengantarkan pesan peneguhan bagi orang-orang yang dianggap tidak terpilih oleh Allah.

Kedua, mari tengok konteks geografis di perikop itu.


Yesus dikatakan mengunjungi Tirus secara sengaja. Signifikansinya adalah bahwa Tirus (dan Sidon) bukan wilayah Yahudi. Anggapan bahwa Yesus rasis dan hanya melayani kaum Yahudi sepenuhnya digagalkan di perikop ini. Kesengajaan Yesus mengunjungi wilayah non-Yahudi adalah bukti bahwa pelayanannya tidak berbatas kesamaan suku bangsa. Selain itu, konteks geografis juga disinggung di ayat 31. Kita akan merasa biasa saja jika hanya membaca kalimat itu tanpa meluangkan waktu melihat konteks lebih besar. Wilayah Tirus, Sidon, dan Danau Galilea semacam segitiga siku-siku dimana Tirus adalah titik pertemuan dua garis tegak lurusnya. Untuk menuju Danau Galilea Yesus SAMASEKALI TIDAK PERLU melewati Sidon. Tapi, Dia memilih untuk melalui wilayah itu. Sekali lagi, disitulah penegasan betapa tudingan rasis pada Yesus adalah hal tidak relevan. Fakta besarnya adalah Sidon bukan hanya dijadikan sebagai bagian dari rute perjalanan oleh-Nya, namun juga tempat pelayanan yang terbukti dengan Dia yang berkenan menyembuhkan seorang tuli dan gagap (ayat 34). Yesus merepotkan diriNya sendiri dengan menambah jauh perjalanan untuk berkarya bagi orang-orang non-Yahudi karena Dia tahu ada orang yang sedang membutuhkan.




JamahanNya, bukankah dari situ kita seharusnya tersentuh dengan betapa murahnya Penebus kita?Dengan cara-Nya sendiri Ia tahu bagaimana akan menyalurkan pertolongan bagi kita.

Ketiga, mari kita berpindah ke konteks tradisi. Di perikop itu dikatakan bahwa seorang Wanita sero-fenosia menghampiri Yesus (ayat 26). Terlihat sangat sangat sederhana memang sebelum kita menyadari pemetaan perbedaan besar antara Yesus dan Wanita tsb. Yesus adalah seorang laki-laki Yahudi sedangkan wanita tersebut adalah seorang wanita non-Yahudi. Konteks tradisi saat itu adalah sangat tidak sopan untuk wanita menghampiri pria di kawasan publik, APALAGI jika itu bersebrangan suku bangsa. Apa yang dilakukan wanita itu adalah sikap iman yang besar. Bahkan tanpa kita sadari dari tindakan itu termanifestasi tiga hal besar sekaligus: Iman, Pengharapan, dan kasih. Iman yang meyakini bahwa Yesus MAMPU menolong, pengharapan bahwa Yesus akan MAU menolong, dan kasih kepada anaknya yang sedang menderita.

(ditambahkan 8 Maret) Selain tiga konteks yang ada di atas, ada hal unik lain yang khas di perikop ini. Keempat: konteks kebiasaan. Beralih dari wanita Sero-fenisia menuju ke karya Yesus pada seorang tuli dan gagap (ayat 31-35). Di banyak kisah penyembuhan yang lain Tuhan Yesus terlebih sering menggunakan pernyataan tegas yang membawa mukjizat, namun di peristiwa ini Yesus melakukan setidaknya tiga tindakan aktif untuk suatu karya penyembuhan. Pertama tindakan mengajak orang tuli dan gagap tersebut untuk menjauh dari keramaian sehingga mereka dapat secara personal berinteraksi (ayat 32). Hal ini menjadi berkesan ketika kita menyadari bahwa seseorang yang tuli dan gagap adalah orang yang sangat sulit bersentuhan secara sosial. Bayangkan, tuli dan gagap! Bukan buta dan lumpuh yang membuat mobilitas terganggu namun komunikasi dapat tetap berjalan. Ajakan yesus untuk mereka memisahkan diri dari orang banyak menyuarakan empati personal tak terhingga. Kedua adalah tindakan Yesus yang memasukkan jari dan meraba lidah untuk mengantarkan sebuah kesembuhan. Kenapa tidak hanya lewat kata-kata seperti biasanya? Mungkin dapat menjadi perenungan bahwa terkadang belas kasih tidak boleh hanya berhenti lewat doa dan kalimat simpatik namun tangan dan kaki yang bergerak. Ketiga, Yesus menengadah ke langit (ayat 34), disini diekspresikan sebuah kerendahan hati besar dari kepada Bapa. Jika Dia yang juga Allah penuh kuasa dapat sedemikian merendahkan hati dan mengandalkan Bapa, bagaimana kita manusia yang samasekali bukan maha-kuasa bahkan tidak tahu apa yang terjadi barang sejam ke depan?

Setelah memahami konteks besar bacaan, mari beralih ke hal-hal detail di bacaan tersebut dan mengambil intisari teladan.

Ayat 24 "... Ia tidak mau ada orang yang mengetahui kedatanganNya ..." ditambah ayat 36, tersingkap attitude Yesus: giat dalam diam. Baru beberapa waktu lalu saya hadir dalam sebuah KKR remaja, seorang hamba Tuhan yang agaknya memang populer di Surabaya tak sedikit menyinggung kiprah dan prestasinya dalam pelayanan di sela-sela pelayanan Firman. Walau terlihat rohani untuk menyatakan berapa banyak jiwa yang sudah dilayani, agaknya itu tetap bukanlah hal yang Yesus teladankan. Ketika hendak memulai pelayanan disana, Yesus bahkan berusaha menyembunyikannya. Sungguh miris jika kita anak Tuhan masih sibuk mencari pengakuan dengan menggembar-gemborkan hal baik yang kita lakukan.

Dalam ayat 27-28 termuat kalimat soal anjing dan reremahan roti. Terlihat keras dan sesekali membenarkan soal tudingan rasisme Yesus. Tapi justru di kalimat ini sedang ditunjukkan integritas Yesus yang tetap berbalut kasih ditambah ekspresi iman dari wanita Sero-fenisia tsb. Dari sini kita dapat menegaskan sekali lagi tentang besarnya Kemurahan Allah. Seruan iman seorang non-Yahudi pun Ia balas dengan sebuah sentuhan mukjizat, apalagi seruan anak-anakNya.

Ayat 36, adalah soal kesaksian. Kita tahu bahwa bersaksi adalah bagian lekat dari seorang anak Tuhan. Tapi acapkali kita seakan enggan, karena merasa tidak perlu dan tidak cukup penting. Padahal secara mendasar respon kita sebagai orang yang tahu diri ketika usai menerima kebaikan adalah menceritakan itu. Saya pernah mendengarkan analogi indah ini.


"Kita tertimpa kecelakaan dan sedang membutuhkan dengan sangat donor darah, padahal darah tsb tergolong sulit, lalu seorang datang tanpa dibayar mau memberikan donor darah. Apakah respon kita? Pertama adalah kita akan berterimakasih karena bantuannya kita batal mati. Kedua kita akan berusaha membalas budi, dengan mengirimkan hadiah atau apapun itu. Terakhir secara otomatis kita akan bercerita ke teman kita 'orang itu lho yang sudah selamatkan aku, karena donor darahnya'."

Analogi itu hanyalah perkara darah jasmani yang pada akhirnya tidak berguna lagi saat kita mati karena usia nantinya. Tapi anehnya kita lebih bisa tahu diri ke yang memberi hal sementara dibandingkan ke Yang memberi kekekalan. Kita manusia cenderung lupa betapa banyak dan keren yang Tuhan sudah anugerahkan, sehingga akhirnya tidak merasa berkewajiban untuk bersaksi. Jadi sekarang, masih malas bersaksi?

Terakhir dari ayat 37, sebuah penutup yang SANGAT INDAH. Kita dapat tahu bahwa Allah membuat segala sesuatunya BAIK. Mungkin terlihat rumit dan aneh seperti pilihanNya menentukan rute menuju danau Galilea, namun itulah kedaulatanNya! Walau kadang terkesan tidak rasional, taruhlah iman! Bahwa Dia sungguh jago mentransformasi yang usang menjadi baru, yang lunglai menjadi kokoh, dan yang suram menjadi cerah! Amin. 



Sumber:
1. khotbah GPIB MORIA Jaksel, 31 Agutus 2015.
2. Khotbah GKI Residen Sudirman Surabaya 06 September 2015.
3. Renungan harian Wasiat 4 September 2015
4. Khotbah HKBP Denpasar 06 September 2015
5. Renungan Pagi Guru 8 Maret 2016
Jika ditarik pola tentang apa yang terjadi seminggu ini, awalnya aku ingin memberi judul "seminggu berwajah palsu", namun kemudian aku tahu ada kalimat lain yang lebih tepat.
Menjadi wali kelas tahun ini tidaklah mudah, anak-anak yang dipercayakan kepadaku tidak seperti dua tahun lalu. Ada terlalu banyak hal yang menjebakku pada keinginan untuk membandingkan. Penatku juga disponsori oleh pikiran betapa sulitnya aku kembali stabil secara finansial setelah menjadi pengangguran setahun penuh. Sesekali sisi pemikirku mengalahkan segala kecuekan seorang sanguin. Di tengah itu semua, lelakiku di seberang sana ada di kondisi yang juga tidak terlalu baik. Tekanan untuknya memulai KPR semakin terasa, sayangnya keinginan kuat tak cukup. Berbagai faktor pertimbangan tak jarang menjadi aral yang merintangi deal pembelian. Baik soal lokasi, luas tanah, ataupun harga. Kala lelakiku berkeluh kesah, dengan otomatis aku lupakan bebanku sendiri. Sedari awal aku tahu bahwa tugas wanita adalah meringankan beban pria, itulah mengapa wanita disebut dengan istilah "penolong".

Di satu malam aku ajak dia memainkan game sambung kalimat, di malam lain dengan penuh nada manja aku menggombalinya, dan melakukan berbagai strategi hanya untuk mengembalikan sukacitanya. Dasar orang melankolis, bagi Riyan terlalu sulit untuk sekedar mengabaikan apalagi dengan cepat mengubah raut mood nya menjadi kembali ceria. Dia tertawa, tapi aku tahu persis itu hanyalah tawa yang ditujukan agar aku merasa dihargai atas setiap usaha menghibur. Di saat penat juga kepalaku, aku harus menghapus muram kekasihku. Tak hanya sehari, beberapa kali hal senada terjadi dalam seminggu. Di tengah kesal lahir aku menghibur diri dengan menulis ini :

There are some moments in life we should ignore our own burden. It's not fake, simply pretending that we can be stronger than we ever thought, and the fact is when we trying to lift someone little higher or just cheering up someone's day, we are not pretending anymore.
We've already been strong. 
Our hidden strength somehow appears just in moment when we try to be selfless




Tak selang lama, hari jumat ini tepatnya. Berbalut pakaian khas biru ala officer Girls Brigade dengan iPhone jadul di tanganku, aku tergetak dengan suara tanda masuknya sebuah surat elektronik di kotak masukku. Ternyata satu lagi penundaan konversi mimpi harus aku hadapi. Di ruang guru aku menahan tangis, tapi aku memilih untuk meletakkan sejenak sedihku di tumpukan koreksian yang menunggu. Masuk ke kelas, hal yang tak jauh berbeda terjadi, dedikasi atau sekedar janji profesional tetap memampukanku membagi ilmu dengan senyum. Pengingkaran demi pengingkaran kadang membawa pada pedih yang lebih dalam. Merasa begitu lemah, aku menghalalkan kejujuran untuk membagi beban dengan seorang kawan. Aku berniat setelah makan siang akan mengijinkan diriku jatuh dalam pengakuan semata murni untuk meringankan tekanan, ternyata jalan cerita sepenuhnya berbeda. Di kantin saat pelayan catering sibuk meladeni barisan siswa, seorang ibu penjaga koperasi meminta tolong aku menenangkan bocah yang terdiam dalam isak. Kejadian itu mengubah segalanya.

Anak itu gemuk, seorang lelaki yang biasanya membuat onar. Siang itu dia di hadapan piring makan siangnya duduk menghapus tetes air mata. Aku masih ingat jelas bulir air jernih keluar dari sudut luar matanya. Hatiku hanyut. Aku yang hari itu menahan tangis seharian, duduk lemas dan kalah. Aku pakai jariku menghapus air matanya. Dengan nada sabar dan lembut aku coba tanyakan alasan dari tangis itu. Siang itu, aku bergumam "masih ada waktu lain untuk mimpiku -yang tertunda karena email tadi pagi- digenapi, tapi air mata seorang anak kecil tidak akan bisa menanti." Ternyata siang itu bukanlah kekalahan yang meletakkanku pada tindakan tersebut, justru merupakan sebuah kemenangan. Iya, aku menang mengalahkan ego untuk hanya memikirkan diri sendiri.

Hari itu aku tahu bahwa yang aku tulis semalam sepenuhnya benar. Kekuatan tersembunyi akan keluar saat kita berusaha untuk tidak egois dengan masalah kita sendiri. "Yang kuat menopang yang lemah" begitu nasihat berharga yang kita acap dengar. Kadang kita tidak layak dikatakan kuat, kadang kita semata mencoba menjadi "tidak lebih lemah" untuk layak menopang beban orang lain. Kita semua punya masalah, jika berlandaskan itu maka semua kita akan jadi egois dan enggan merepotkan diri untuk memikirkan beban orang lain. Padahal justu saat kita berusaha menguatkan orang lain, kitapun dikuatkan. Sebuah pedang bermata dua, bukan?!

Saat aku menahan tangis dan harus menghapus air mata orang lain, disitu aku sudah tidak lagi sedang berpura-pura, saat itu aku sedang menjadi versi super dari seorang Claudya. Walaupun mungkin tidak ada seorangpun menganggap penting apa yang aku lakukan siang itu di kantin, bahkan ketika Riyan dan bocah itu juga tidak mawas tentang upayaku menghiburnya, itu bukanlah masalah besar bagiku. Hanya sedikit berharap penduduk surga menengokku sejenak, dan memperhitungkan itu sebagai kebaikan. Sebuah kebaikan yang diawali dengan kepalsuan dan dibungkus dengan kekuatan, sebuah kebaikan yang membuatku menang.

Dan akhirnya aku tahu judul yang tepat untuk minggu ini adalah: "seminggu menikmati kekuatan tersembunyi."

Di tengah sore hari Jumat usai meyeruput segelas kopi susu instan favorit, telingaku nakal menguping percakapan para kawan guru lain. Topiknya tentang beberapa siswa yang populer belakangan akibat segala ulah mereka. Hampir semua guru sudah dibuat geleng-geleng oleh mereka yang (untungnya) terpencar di berbagai kelas. Mereka yang masih gres melepas seragam putih-merahnya membawa berbagai kejutan.

Menghadapi berbagai karakter 'unik' itu memang menciutkan nyaliku. Aku sesekali takut. Di saat yang lain kadang aku terjebak untuk melabeli beberapa di antara mereka dengan sebutan "aneh" atau kadang menghakimi tanpa suara dengan julukan "nakal". Dan aku juga sesekali angkuh.

Ada serpihan enggan saat melihat tabel jadwalku saatnya mengunjungi mereka. Raga yang hadir tak lebih dari sekedar wujud tanggung jawab. Iya, memang kasih dan secuil dedikasi tidak pernah absen walau sesekali itu semua diselubungi pekat rasa takut. 

Masih dengan segelas kopi susu yang tersisa separuhnya, tanganku yang tak berhias cat kuku mulai membuka lembar demi lembar catatan siswa tentang satu topik renungan.
Senyap menyelinap, aku abaikan es kopi susu nikmatku.

Aku merasa bersalah, seketika.
Hidup mereka tak serenyah tawa yang dihadirkan di lorong-lorong sekolah kala 40 menit durasi istirahat tiba. Dengan membiarkan punggung jatuh di sandaran kursi kerjaku aku terkesiak tentang fakta bahwa banyak kisah tak mulus di celah kebisingan yang mereka ciptakan. Orang tua yang kurang perhatian, mama papa yang tak ubahnya dua peserta kompetisi debat, hingga pengabaian besar yang harus dirasakan bertahun-tahun.

Deretan nama yang acap memancing onar ternyata tak instan menjadi demikian.
Selalu ada sebab. Semua ada awalnya.
Terbingkai kisah sendu atau peran antagonis sebagai sponsor segala karakter kurang baik itu.
Tidak ada seorangpun yang dikodratkan menjadi pribadi yang buruk. Tak seorangpun juga yang sengaja diciptakan 'nakal' oleh Sang Khalik. Segala ke-khas-an negatif itu adalah sebuah produk berbagai faktor kompleks. Keluarga, kadang adalah penyebab utamanya. Di lembar yang sama mereka mengaku, tak mudah untuk mengucap syukur atas kondisi keluarganya.

There isn't anyone you couldn't love once you've heard their story -Aister

Membaca ataupun mendengar secuil penjelasan tu sudah berhasil meluluhkan hati, ketakutan dan kesombongan pun turut larut. Dari heran penuh gemas bergeser menjadi sendu kasihan. Mereka yang terlihat aneh, mereka yang gemar membuat onar, dan mereka yang hobi menabung daftar panjang pelanggaran justru adalah pribadi yang paling membutuhkan kelembutan dan kasih bukan justru omelan semata. Kadang yang mereka butuh adalah telinga yang siaga mendengar dan didikan yang dibahasakan dengan kepedulian.




Kadang aku (dan mungkin beberapa guru lain) hanya terlalu sombong, merasa lebih dewasa, lebih normal, dan lebih tahu. Miris memang saat predikat 'guru' membuat kami menjadi hakim atas sesama kami dan bukan justru menjadi perban yang membalut luka.

Bagaimanapun benar memang bahwa baik antara rasa takut dan sombong hanya cocok bersanding dengan sesuatu yang tak utuh kita pahami. Setelah menyimak sedikiiit saja rangkai kalimat jujur siswa, seketika gelas kaca berisi air keruh kopi susu itu menjadi cermin untukku, seraya menegur "lihatlah lebih dekat dan dengarlah lebih jernih, lalu kau akan bisa mengasihi dengan lebih tulus."
"When God smiles, everything is possible" :)

Kalimat ini terus menghantuiku. Biasanya sepenggal kalimat membayang usai membaca sebuah tulisan tertentu. Tapi tidak kali ini. Entah dimana aku menemukan baris kata itu, tapi yang jelas aku yakin itu ada maksudnya.

Tidak seperti tahun-tahun dulu, biasanya menjelang ulang tahun aku akan sibuk menuliskan banyak poin keinginan. Kata (sebagian) orang, aku terlalu idealis. Tahun ini tidak. Melihat setahun sebelumnya yang tak mulus, aku memutuskan untuk lebih sibuk menulis duapuluhdua berkat spesifik yang Tuhan berikan, di antara jutaan berkat harian yang sepanjang tahun sudah aku nikmati seperti soal makanan dan kesehatan. Aku tidak banyak berkespektasi, tentang hadiah, kejutan, termasuk segala pengabulan doa. Sudah cukup keterlaluan aku menyetir hidup ini, sesekali menjadi orang yang mengalir dalam ketidaktahuan mungkin bisa membawaku pada banyak kejutan lain. Mungkin saja begitu.

SATU JULI
Hari pertama bulan ini aku buka dengan menerima tantangan untuk mulai berkendaraan pribadi pertama kalinya. Menghadapi keganasan ruas jalan Ahmad Yani Surabaya yang kadang tak ubahnya sebuah arena balapan. Hari pertama itu juga aku sambut dengan menebarkan senyum pada rekan lama di Gloria, sebuah tempat yang membuktikan bahwa aku gagal move-on soal kecintaan akan dunia pendidikan. Antusias dan sesekali cemas mewarnai bisik doa pagi itu.



10 HARI
Seminggu awal berlalu. Tepat tanggal sepuluh, jarak antara aku dan kekasihku menyempit drastis. Hari-hari kasmaranku dimulai. Aku habiskan seperempat hariku dengannya, sebagai tanda pelampiasan akan seperempat tahun yang melekat rindu.

Jumlah menit-menit tatap muka kami diwarnai dengan cengkrama bersama kakak perempuan dan ponakanku yang masih berenang dalam teduh rahim ibunya. Alasan menghemat adalah sponsor utama kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan di kafe atau mall, seperti yang dulu rutin kami lakukan. Cinta bermekaran di rumah, itu ideal memang. Sekedar menonton TV dan mengobrol di ruang tamu berempat dengan keluarga adalah pengalaman emas yang bagiku seimbang dengan harga menolak berbagai ajakan pelesir. Bersama Riyan, kencanku menjadi penuh ragam. Kami olahraga bersama, dia lari dengan gagah sedangkan aku ceria mengayuh sepeda. Lain waktu kami mencuci motor putih kesayanganku, dengan diselingi canda khas penuh cinta di garasi rumah. Salah satu yang paling berkesan adalah saat kami memasak spagetti bersama. Kebawelannya adalah bumbu penyedap khusus. Baginya aku adalah koki handal, terbukti ketika semangkuk semur daging dan beberapa perkedel bulat tersaji di meja makan. "Rasanya aneh," begitu kataku menganggap bahwa kali itu aku telah gagal. Tapi priaku justru menghabiskan dengan lahapnya menu tersebut bahkan dengan nada bangga menceritakan pada ibunya tentang masakanku.

Satu yang khas dari LDR adalah pedihnya ucapan 'sampai ketemu lagi'. Kadang itu bermakna dua bulan, atau bahkan setengah tahun ke depan. Di Juanda aku sendiri melepasnya. Setelah menyeluruput kopi sembari menanti jadwal penerbangan, dengan mata berkaca-kaca, aku membiarkan jarak kembali memelukku dan membiarkan siksaan rindu mengusikku.



TANGGAL DUABELAS
Hari favoritku tiba akhirnya. Di subuh yang gelap dua manusia menyelinap di kamarku menyanyikan lagu wajib khas ulang tahun, di sela-sela cahaya lilin. Iya, kakak ku dan pacarku lah yang berada disana. Sedikitpun tidak menyangka, lelakiku yang tidak terlalu romantis menjadi begitu kreatif menyiapkan kejutan. Belum henti, di meja makan setelah melepas 23 batang lilin di atas kue tart ku, di tengah sibuk mengunyah kue coklat yang nikmat, dia menunjukkan sebuah video. Di mahakarya itu termuat kompilasi wajah para teman-teman yang entah bagaimana caranya bisa sampai disana. Sahabat kuliah, rekan kerja, sahabat pelayanan, semua ada disitu. Air mata bahagia, yang entah kapan terakhir kali aku rasakan bisa saya nikmati lagi di pipi not-so-tembem ini. 

Di pembukaan usia 23 tahunku aku hanya menikmati setiap momen yang ada tanpa terlalu sibuk dengan teknologi semu. Aku mengambil waktu berkualitas dengan segala berkat Tuhan hari itu.



HALLO LIMA-SAHABAT
Di minggu ketiga, bahagia bergilir datang dari sahabat kuliah. Satu momen pernikahan selalu jadi ajang mini reuni. Bertemu para sahabat lama selalu menyenangkan, apalagi menyaksikan satu sahabat penuh sumringah di pelaminan megah. Beberapa rutinitas lain sisa hobi masa kuliah kami lakukan, contohnya adalah karaoke. Bersenandung fals bersama dan berebut memilih lagu favorit di deretan playlist selalu berbalutkan rasa senang nostalgia. Durasi nongkrong pun tidak berlalu sia-sia banyak cerita yang membuat kami menyimpulkan wejangan: hidup ini terlalu singkat untuk sibuk memikirkan hidup orang lain.



MALAIKAT KECIL
Tepat sehari setelahnya, klimaks Juli ku datang juga. Seorang keponakan cantik yang sudah aku cintai sembilan bulan lalu sudah bisa aku elus pipi lembutnya. Membelai rambut halus rambutnya menarikku pada imaji tentang awan-awan putih tempat para malaikat menari. Bagiku, dialah malaikat itu. Seorang gadis mungil jelita yang dibungkus dalam doa lewat nama Gicelle Joella Alvaretta.


----------------------------------------

Akhirnya, kala menengok catatan tahun lalu, aku tersadar betapa hidup ini penuh kejutan. Di usia duapuluhdua aku berkata bahwa satu yang membuat hidupku tak sempurna adalah tak segeranya hadir pekerjaan (baca: http://unspokenspace.blogspot.com/2014/06/penghujung-duapuluhsatu-kurang-satu.html). Di tahun ini, apa yang hilang sudah ada kembali, sebuah pekerjaan sesuai panggilan. Harusnya itu saja sudah membuat hidupku lengkap sempurna. Sayangnya Dia masih jadi Pribadi yang menolak untuk dapat ditebak, sehingga dengan kasih merancang pelengkap lain untuk hadir dan membuat hidup seorang Claudya lebih dari bahagia. Aku serius, ini semua LEBIH DARI BAHAGIA.

Jika masa manis ini berakhir, aku tahu itu artinya aku harus kembali membuka catatan ini dan menyadari betapa ajaib arti senyuman Tuhan dalam setiap naik-turun hidup.

Untuk masa depan, ini keyakinanku: "jika Ia tersenyum maka semua hal akan menjadi mungkin." Hanya, semoga daya juangku di usia baru seimbang dengan kadar setiap utas keyakinan itu. Jika berhasil, maka sangat besar peluang aku dapat membuat-Nya tersenyum juga kepadaku.
aku kirimkan padaMu sebuah kecup penuh syukur.. Sebuah tulisan tak menentu, ungkapan hati sebelum lelap tidur..

Tuhan, aku yakin sebelum aku lahir, kebaikanMu telah Maha hadir. Skenario hidupku telah disusun rapi seindah tatanan galaksi, hingga tidak sekedipan matapun ada yang layak dikeluhkan, dipertanyakan, apalagi disesalkan. 




Jika belakangan ini rasanya hidupku sempurna, itu murni sebuah kemurahan yang Esa. Aku tahu hal mulus tidak akan selalu selamanya, karena untuk semua hal bergantian pergi dan tiba. Akan tiba romansa berganti getir yang menyiksa. Selagi bisa, aku hanya ingin menikmati setiap inci momen ini dan melatih diri untuk semakin banyak bersyukur tanpa menjadi takabur.

Hingga nanti saat masa sempurna ini mulai 'dicoba', aku menjadi hamba yang tidak sibuk menanyakan kenapa ini dan itu terjadi tak sesuai harap dan asa, tapi justru fokus menghitung banyak berkat yang sudah aku terima melampaui segala kelayakanku sebagai manusia berdosa.

Ketika hidupku tak ubahnya teka-teki tak pasti, itu jua karena Engkau sedang menempa diri ini. Pun masa sukar akan ada akhirnya, ajari aku tak berlarut dalam muram dan sungut.

Dan akhirnya aku yakin bahwa syukur yg aku sudah haturkan tak pernah cukup seimbang dengan nikmat yang Kau beri. Karena itu, mohon ajari aku untuk merangkul erat sikap berterimakasih hari demi hari :)
Setelah berlayar entah dari sudut Nusantara bagian mana, penjarahan kekayaan alam Indonesia oleh Belanda tiba di sebuah pulau kecil yang terletak antara Kalimantan dan Madura. Namanya sekarang Keramian, namun dulu pulau ini disebut Ariandes. Ratusan tahun setelahnya, Pulau kecil penghasil cengkeh ini menjadi saksi 12 bocah nyasar terdampar lalu BELAJAR.

(1) Hampir Sampai

Empat jam dari Masalembu, kapal Miami berlabuh jangkar di tengah lautan. Sebelumnya, kami disambut dengan tarian selamat datang dari kawanan lumba-lumba. Tanpa diminta, mereka melompat dan berenang lincah. Saya terhenyak sesaat menyaksikan apa yang saya kira hanya mimpi menjadi nyata. Selain itu hati kami juga riang, menyambut fakta bahwa perjalanan yang mengundang mual akhirnya usai. Para ABK sudah memberitahu bahwa kami akan dijemput oleh kapal nelayan. Belum adanya dermaga yang memadai membuat transfer penumpang terjadi tengah lautan. Disana satu per satu kardus sumbangan dan kardus logistik kami turunkan lalu dengan super hati-hati kami membawa tubuh kami berpindah ke kapal yang lebih kecil, melewati sebuah tangga besi. Kapal nelayan tak perlu waktu lama untuk mengantar kami mendekati daratan. Belum selesai ternyata tapak perjalanan, sebelum menginjakkan kaki di bentangan pulau tersebut kami masih saja harus berpindah sarana. Dari kapal nelayan menuju ke sampan. "Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar!" Begitu otak saya menyimpulkan sambil tubuh menikmati angin khas pesisir.

Di sampan berkapasitas tiga orang itu saya mengobrol dengan seorang ibu beserta anak perempuannya yang bernama Nana, penduduk asli pulau Keramian. Dengan logat yang unik, ibu bertubuh kecil itu menceritakan bagaimana banyak anak di pulau tersebut tidak piawai berbahasa Indonesia. Memang, keseharian disana sangat kental dengan percakapan dua bahasa daerah: Bugis dan Madura, kemungkinan besar dikarenakan posisi geografisnya.

Sesampainya di bibir pantai kami disambut super hangat oleh perangkat desa yang telah mengetahui akan kedatangan kami lewat mas Eko Sanjaya, seorang warga asli yang secara kebetulan saya temukan alamat emailnya lewat akun Instagram. Sosial media unjuk nilai fungsi disini. 

(2) Relawan Mengabdi

Sebelum berangkat kami telah menyusun rencana bahwa di pulau ini wujud karya kami akan banyak menyentuh soal pendidikan. Bagian dominan durasi sepekan saya disini adalah membagi ilmu dan wawasan. "Kepuasan hati tercapai justru saat kita dapat melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak dapat membalas kembali samasekali," parafrase ungkapan Martin Luther King ini terbukti valid adanya. 

Tidak ada SMA disana, hanya ada lima sekolah tingkat SD dan satu sekolah tingkat SMP. Jika ditotal saya mengunjungi lima diantaranya. Bagian yang berhasil membuat saya merinding adalah ketika salah seorang siswa SD dengan berani melakukan solo lagu Indonesia Raya. Sesuai pembagian, saya banyak bertugas di kelas 4-5 SD, sebuah tantangan baru mengingat saat KKN ataupun mengajar di Gloria saya selalu berhadapan dengan siswa SMP. Nada yang ceria, ekspresi yang menggemaskan, berusaha saya tampilkan untuk menghindarkan mereka dari rasa bosan. 

Di lain kesempatan, saya merasa hebat kala berhasil mengemas Indonesia sebagai negara yang membanggakan. Juga saat saya mencontohkan beberapa nama atlet Indonesia yang mendunia untuk memotivasi mereka. Nada obrolan ini lebih serius dari biasanya, maklum penyesuaian materi dan intonasi memang harus dilakukan saat mengajar di tingkatan yang berbeda. Di tengah siang terik dan berdebu itu saya duduk membicarakan Nusantara dengan para anak SMP yang memang sudah biasa saya 'tangani'. Ketidaksiapan materi untungnya terbungkus aman lewat segala wujud spontanitas dan memuluskan saya memancing tekad dan angan mereka untuk menggoreskan asa. 

Mengajar anak-anak disana merengkuh jiwa saya pada memori tentang pedihnya kegagalan WVI (Wahana Visi Indonesia). Masih teringat jelas air mata tanpa basah dan teriak tanpa suara kala mengetahui bahwa kerinduan besar untuk berkarya di pedalaman tidak bersambut oleh sebuah penerimaan organisasi. Jika disimpulkan, arti besar pengalaman ini adalah obat yang menyembuhkan luka yang saya kira hanya dapat sembuh oleh waktu semata. Saat saya mengajar Anak-anak itu untuk berani bermimpi, sebenar-benarnya mimpi saya sedang digenapi. Ini sebuah barter yang sempurna!



Selain mengajar kami juga menyalurkan bantuan sembako. Dibantu perangkat desa, kami memetakan nama-nama yang memang membutuhkan. Aktivitas pembagian sembako ini difasilitasi sebuah motor truk yang dikenal sebagai odong-odong, sebuah sebutan yang mengundang geli di angan. Selama perjalanan blusukan ke tiga dusun, kami sembari menguji adrenalin dan ketahanan tulang ekor melewati berbagai rute bebatuan dan belokan curam.

Tiga puluh kresek paket sembako mengantarkan kami pada rumah reot, wajah keriput, dan tubuh kurus. Sebuah pemandangan miris yang harus menjadi pisau tajam menusuk orang pemerintahan agar tidak egois menghabiskan uang negara. Saat DPR membahas milyaran rupiah sebagai dana aspirasi, kami menyaksikan betapa banyak warga berjuang mengalahkan kebutuhan hari lepas hari.



(3) Yang Khas Disana

Bibir pantai hanya berjarak belasan meter dari ruas jalan utama. Tidak mengherankan jika rumah di kanan kiri jalan tersebut hampir semuanya berupa rumah panggung. Dengan tiang kayu berdiri menopang, para penduduk merasa aman kalau-kalau ombak pasang terlalu tinggi dan masuk ke permukiman. Pun hal itu wujud akulturasi budaya bawaan suku Bugis yang juga banyak tinggal di pulau yang mengandalkan penjualan kopra (kelapa kering) sebagai pemasukan ekonominya.

Satu hari menjelang puasa, kami menghabiskan sore di dermaga yang sedang dibangun. Kelak dermaga ini akan mempermudah labuhnya kapal perintis dan semoga menambah mobilitas bagi masyarakat. Dalam langkah pulang kami dikenalkan dengan jajanan khas. Tak lengkap rasanya mengenal masyarakat tanpa mencicipi kuliner asli yang ada. Namanya Pempek, parasnya tak jauh beda dengan yang telah populer di Jawa, hanya lebih pipih. Dibuat dengan ikan dan olahan tepung lalu digoreng di minyak dengan api sedang, pempek ini siap dinikmati dengan kuah asam yang sangat unik. Jika pempek Palembang mengandalkan cuka untuk menghadirkan rasa asam, pempek Keramian mengandalkan biji asam yang sebenarnya. Rasa asamnya unik sekaligus membuat ketagihan.

Pulau ini terdiri dari tiga dusun yang masing-masingnya berjauhan. Dusun Air Hidup merupakan sisi kota Keramian. Nama itu diambil karena adanya mata air yang terus mengalir di sekitar sana. Dua dusun lain bernama Alas Jaya (bahasa Indonesia: hutan yang besar) sesuai penampakan fisiknya serta dusun Sudi Mampir (bahasa Indonesia: Berkenan Singgah) yang seakan membahasakan ajakan ramah untuk bertamu.

Jauh berbeda dengan Masalembo, pulau ini dialiri listrik hanya empat jam sehari (18.00 - 22.00). "Jam listrik mulai menyala kadang terlambat, tapi jam padamnya selalu tepat" begitu penuturan miris pak Kepala Desa yang bagaimanapun mengundang tawa. Tidak berlebihan jika saat kami berpamitan warga hanya menitipkan satu aspirasi untuk kami suarakan nanti: Hadirkan Listrik penuh waktu.

(4) Waktu Luang

Jalan-jalan sore menjadi kegemaran baru kala tak ada kegiatan yang mengisi. Kami pernah menyusuri 3,6 kilometer mencapai pantai yang tak terlalu indah tapi seakan menjadi pantai pribadi. Keceriaan dan kegilaan tumpah sebagai keluarga, bukan lagi sebagai selusin orang asing yang baru saja mengenal beberapa hari. Satu yang unik hari itu adalah hujan yang turun dengan tingkat labil yang tinggi. Tetes air langit yang muncul dan hilang berulang membuat kami akhirnya singgah ke beberapa rumah penduduk. Alih-alih silahturahmi, kami sebenarnya sedang berteduh tapi justru di beberapa singgah itu kami merasakan kesahajaan masyarakat Keramian yang sesungguhnya. 



Seperti rutinitas khas bulan Ramadhan, saya sekejap merasa kesepian kala 10 kawan lain pergi tarawih. Namun sesegera mereka kembali ke rumah, menit-menit 'hangat' lanjut dilakukan kadang hingga larut malam. Kami membicarakan banyak hal. Saya tidak mungkin lupa membagi satu cerita yang membuat kami semua total terbahak-bahak hingga perut terkocok lemas. Sepulang baksos kami diberi hadiah sebutir kelapa muda utuh. Sebuah tantangan bergulir untuk membuka kelapa itu dengan tangan kosong. Setelah bergantian mengupas bagian luar berupa sabut-sabut tebal, tangan kami dapat meraba batok kelapa yang jelas berkontur keras. Tak ada sangka dan tak seorangpun menduga, bukan sulap tanpa sihir, batok kelapa yang begitu keras pecah hanya dengan hantaman tangan kosong Marqi, si adik kembar saya. Sontak tawa meriah tak terelakkan, merayakan kekuatan super yang terpendam di salah satu anggota kelompok kami.

Bonus perjalanan ini adalah kulit yang menghitam pekat, tepatnya setelah mengunjungi pulau Kambing, sebuah pulau kosong kecil di sekitar Keramian. Ada gua, bukit, dan pantai yang mempesona. Namun ada yang lebih indah dari itu semua bagi saya, yaitu durasi saya mengajarkan permainan tahun 90an 'domikado' pada sekelompok anak yang memang ikut pelesir dengan kami berduabelas. Saya menghabiskan masa mengapung pulang dengan riang bermain bersama mereka. Kehidupan selalu LEBIH DARI CUKUP untuk membuat bahagia, itulah pesan tersirat yang selalu diteguhkan lewat senyum tanpa beban anak-anak kecil.



Terlalu banyak kenangan indah yang membuat kisah ini panjang teruraikan. Alinea yang telah adapun telah melewati sortir pilih dan pilah rekam peristiwa. Masih ada bagian tentang cooking class di dapur yang dengan jujur membuktikan perbedaan budaya masing-masing suku. Ingatan tentang para lelaki yang belajar mandi di sumur dikarenakan kamar mandi dimonopoli antrian kaum hawa juga menggelitik saya pada tawa. Begitu juga soal lima perempuan yang terjaga menanti para lelaki yang sedang mencari ikan hingga satu jam menjelang sahur tiba, tak ubahnya istri yang sedang menunggu suami pulang mencari nafkah.

Hanya seminggu tapi begitu banyak kebersamaan terabadikan. Dimulai dari kesediaan menanggung susah senang bersama kala mengabdi, dilanjutkan dengan sikap hangat yang sigap membantu, diisi dengan kisah hidup yang saling dibagi, dan senantiasa diwarnai insiden lucu.

Semua terkemas sesuai nama pulau ini: Keram(a)ian. Ramai dengan tawa, ramai penuh hikmah, ramai meninggalkan kenangan indah.