Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Tidak ada wanita yang tidak suka dibilang cantik. Satu yang berbeda adalah tidak semua orang akan menginvestasikan waktu dan uangnya untuk hal itu. Saya sendiri ingin cantik untuk kekasih saya dan saya butuh merasa cantik untuk diri saya sendiri. Repot bukan, kita tidak berminat dengan produk kecantikan tapi menolak apa adanya diri. *fiuhh

Di penghujung melepas usia 23 tahun, saya mengalami sindrom krisis kepercayaan diri. Cukup parah, agaknya. Keminderan satu per satu tiba, dari soal gigi berantakan, kulit wajah dengan bercak hitam, rambut mengembang, hingga selera fashion yang engga banget. Benar-benar gejolak aneh yang semestinya hadir ketika saya masih usia belasan tahun.

Suatu siang saya menangis sejadi-jadinya dan membatalkan kencan bersama Riyan. Entah kenapa saya merasa tidak cukup modis dan benar-benar old-fashion. Saya enggan meninggalkan rumah. Riyan tidak marah, pun tidak menenggalamkan saya dengan berbagai petuah apalagi penghakiman. Justru, segelas es krim mcFlurry dia tawarkan, dan itu menjadi solusi paling teduh. Sembari saya menghabiskan es krim lembut dengan remahan oreo di atasnya, dia setia mencari tahu kesusahan hati kekasihnya ini.

Hipotesis kala itu adalah keminderan akibat komparasi terhadap pesona menawan para kawan wanita seumuran saya. Mereka piawai berdandan dan memadumadan pakaian, sedangkan saya? sudahlah *pasrah.

Di tengah obrolan, saya melemparkan sebuah guyonan dan Riyan tertawa dengan lepasnya. Terbahak-bahak seakan tak ada beban di dunia. Dia kemudian menarik nafas, dan dengan begitu tulus berkata "udah.. kamu kayak gini aja. Ga usah susah payah mikirin penampilan. Kamu menggila kayak gini aja aku uda bahagia banget."

Merasa berhasil menghadirkan kebahagiaan, kadang menjadi kebutuhan hakiki. Menjadi cantik atau tidak cantik seketika tak lagi terlalu penting.

Akhirnya yang tersisa dan mungkin yang paling penting adalah soal prasyarat apa dan kondisi bagaimana kita merasa menarik, dan orang-orang seperti apa yang membuat kita merasa selalu cukup cantik.

Di momen sebelumnya, ketika batal memasang kawat gigi, saya meminta maaf ke Riyan. Tiba-tiba perasaan gagal menjadi sosok kekasih yang menawan, menghantui pikiran.

"Apa aku pernah mengeluh soal penampilanmu?"

Hanya pertanyaan itu yang dia lemparkan. Tanda tanya itu memancing saya berpikir, kenapa adiss berubah? Kenapa kecuekan saya soal penampilan sebelum pacaran justru hilang? Kenapa saya berpikir terlalu keras untuk menjadi cantik? Toh Riyan tidak sekali-kalipun menuntut saya menjadi modis, toh Riyan tak pernah mengeluh. Memang mungkin muasal semua ini adalah komparasi lewat sosial media, ditambah citra diri yang sedang tidak sehat.

Ketika saya tahu, bahwa di tengah ketidaksempurnaan ini saya dapat membuat orang lain bahagia, saya sepenuhnya dapat menerima diri dengan seutuhnya.

Penghujung problematika confidence crisis ini disimpulkan dengan indah saat saya bercakap dengan sahabat terbaik saya. Sebuah konklusi yang membuat saya mengucapkan selamat datang pada usia 24 tahun dengan lega dan nyaman.

Adiss: Ce.. ayu ya si ***** sekarang
Cece: iya padahal dulu tomboy
Adiss: kadang adiss ngerasa penampilan e adiss ini engga banget. Pas arek sak umur’e adiss wes pake baju-baju cantik, adiss sek kaos dan jeans doang.
Cece: hahaha yawes biarin. Tapi kamu wis lebih feminim. Belajar dandan gitu
Adiss: Iyo. Tapi tetep ngerasa cuma butiran debu ce.
Cece: halah lapo. Kamu itu kan ya menang ndek petualangan. Wes pigi mana-mana. Punya pengalaman juga. Ga semua isa ngerasain. Walaupun item tapi punya kebanggaan. Ben simple tapi wes ngeraih banyak hal.
Adiss: hmmm tapi orang seng liat adiss ya masak ngerti adiss wes ngelakukno itu semua. Toh juga ga keren-keren amet walaupun adiss enjoy.
cece: ya biarin mereka ga ngerti. Biarin ga keren. Yang penting kamu happy sama pilihanmu.

EXACTLY!! Dari obrolan itu, setidaknya saya belajar dua hal utama.

Pertama, Prinsip "bahagia dengan pilihanmu" adalah rona kecantikan berharga yang tidak bisa disembunyikan. Rona itulah yang menjadi pesona dan mengembalikan citra diri yang sehat. Rona itu juga membuat kita merasa aman dan nyaman menjadi diri sendiri. Bahkan, semakin saya sadar bahwa penghayatan akan prinsip tersebut membuat kita jauh dari rasa iri. Sebagaimana kita sudah bahagia dengan pilihan kita sendiri, sebagaimana kita sudah mendefinisikan arti bahagia kita sendiri, kitapun akan memberikan ruang orang lain menjadi happy dengan pilihan mereka sendiri. Entah melalui travelling, bersolek, memasak, ataupun mengambil pendidikan tinggi.

Kedua, merasa cantik dan menjadi cantik ternyata lagi-lagi dasarnya tentang pilihan. Memilih untuk menerima diri sendiri dengan bahagia dan memilih orang-orang seperti apa yang kita ijinkan hadir di hidup kita dan membawa pengaruh.

Saya hanya cukup beruntung telah memilih Riyan dan cece saya sebagai influencer di hidup ini. Andai saja saya memilih Awkarin, ah entahlah apa jadinya diri ini. Sekian.

imperfection is beautiful




Suatu hari sekumpulan orang melakukan pertemuan akbar membahas nasib lanjutan seorang terdakwa kasus.

Ada dilema di benak jemaat sidang kala itu: melepaskan dengan pengampunan dan sekedar melakukan pembinaan atau tetap memenjarakan yang pastinya merusak masa depan sang terdakwa.

Lalu saya diminta bersuara. Dengan lantang saya berkata: "Tuhan itu adil dan kasih. Selalu ada pengampunan, namun bukan justru meniadakan konsekuensi."




Dengan logat mantab dan penuh pemahaman, saya memenangkan hati hampir seisi ruangan sidang. Mereka mengangguk sepakat. Hukuman tetap harus dilakukan.


Beberapa detik setelah palu diketuk, cermin besar menyambut untuk mengajak merenung: "adiss, andaikata suatu hari kamu ada di posisi terdakwa itu, apakah kamu akan berani bilang yang sama?"

Saya berpikir keras di tengah hiruk pikuk sidang yang berlanjut pada kasus kedua. Andaikata suatu hari saya melakukan kesalahan, apakah saya dapat besar hati dan berani berkata: "oke Tuhan adil dan kasih. Saya sudah melakukan kesalahan, saya layak dihukum. Tolong maafkan saya tapi tetap berikan hukuman bagi saya."

Saya sangsi. Mungkin saya akan berkelit. Mungkin pula saya akan memelas sedemikian untuk memohon pengampunan. Mungkin saya akan menyembunyikan kalimat itu. Atau mungkin hanya menekankan pada 'kasih' dan mengabaikan sisi 'adil'.



Source: www.mcgilldaily.com
Faktanya, kita terlampu sering menjadi hakim yang hebat untuk orang lain dan pengacara mahir untuk diri sendiri.

Apa yang kita tahu dan apa yang kita ingin terapkan untuk orang lain, seringnya sulit jika berhadapan dengan diri sendiri. Maka tak heran jika ribuan kutipan dari filsuf hebat segala jaman menekankan bahwa musuh sejati seorang manusia adalah dirinya sendiri.

Konsep kebenaran selalu membutuhkan kedewasaan yang utuh. Untuk menerapkan yang sepadan baik bagi orang lain dan diri sendiri.

Jika di sidang itu saya (dan Anda) berani berkata: "Tuhan itu kasih dan adil, kita sepatutnya meneladani. Kita memaafkan sang terdakwa hari ini, namun dia tetap harus dipenjara" maka di sidang lain saat kita yang menjadi terdakwa, kita sudah semestinya besar jiwa berkata: "ampuni aku, tapi tetap jatuhkan hukuman itu bagiku!"


Beranikah kita?


“tabur yang baik, maka kamu juga akan menuai yang baik.”



Ponsel lama saya akhirnya pensiun, setelah saya mendapat sebuah ponsel baru. Dibandingkan menjual, saya memilih memberinya sebuah cuti di laci. Saya hanya ingin (sekaligus yakin) suatu hari jika ada seorang kerabat membutuhkan alat komunikasi secara mendesak, ponsel putih itu dapat unjuk gigi. Ternyata benar, seorang teman terpaksa merawat-inap-kan ponsel pintarnya. Saya tawarkan ponsel lama saya untuk dipinjam. Saya sedang berusaha berbuat baik. Apakah untuk menabur?

Dalam bulan ini saya sudah dua kali menampung adek kelas dari luar kota untuk menginap karena ada keperluan di Surabaya. Menjadi tuan rumah sebaik mungkin, jelas merupakan hasrat tersendiri. Menjemput, mengantar, dan menemani ke destinasi yang ingin dituju. Saya juga sedang berusaha berbuat baik disini. Apakah untuk menabur?

"Dis anterin dong kesana.."
"Dis bisa ga jemput aku disini?"
Jika tidak ada halangan, permintaan mengantar alias nebengi tidak akan saya tolak. Kadang capek, tapi toh tidak rugi apapun bagi saya. Saya sedang berusaha berbuat baik sekali lagi. Apakah untuk menabur?

TIDAK! Saya tidak sedang berusaha menabur. Saya hanya sekedar meneruskan sebuah benih ke orang lain. Saya hanya berusaha sekedar TAHU DIRI.

Kenapa begitu?
Saat saya mengurungkan niat menjual HP lama, saya hanya teringat pada sahabat saya dulu: Chyntia namanya. Dulu saya kuliah dengan modal super pas-pasan, sehingga tidak punya cukup uang untuk mengganti HP bobrok saya. Saat itu dia dengan besar hati meminjamkan HP lamanya berbulan-bulan. Tanpa sedikitpun ongkos

Saat saya menerima adek kelas untuk menginap, pikiran saya hanya tertuju pada satu nama: Sinta. Dia berkali-kali harus saya repotkan selama saya sibuk menyandang status jobseeker dan singgah ke Jakarta. Bukan hanya menampung, namun memberikan perlakuan yang selalu menyenangkan. Bahkan pernah suatu waktu di tengah hujan dia membagi payungnya hanya untuk mengantar saya ke stasiun KRL.

Saat saya memilih untuk mengantar teman ke berbagai tempat, saya dibawa pada kenangan saat saya diantar oleh Artha, kak Ajeng, dan pastinya Helen. Entah berapa kali saya nebeng. Di tengah kesibukan masing-masing, mereka selalu menyediakan waktu untuk mengantar.

Pada akhirnya tiga kebaikan yang saya sebut tadi samasekali bukan bentuk menabur, tapi wujud tahu diri. Sebagai orang yang sudah menerima kebaikan, selayaknya juga membagi kebaikan serupa.

Mungkin Chyntia, Sinta, Artha, kak Ajeng, Helen, tidak menerima tuaian dari taburannya secara langsung dari saya. Terkesan saya sedang salah alamat dalam membalas budi, tapi itu karena saya ingin memastikan bahwa benih kebaikan mereka dicicipi banyak orang lain.

Pay it forward kalau istilah kerennya. Meneruskan kebaikan kepada orang lain dan menjadikan kebaikan tersebut terus menyebar. Hukum tabur tuai itu bukan mentah-mentah menabur lalu pasti menuai dari orang yang sama. Tidak sepolos itu. Namun percayalah kebaikan yang sudah ditabur tidak akan pernah sia-sia. Sekali-kalipun tidak pernah sia-sia.

Ini memang berawal dari hukum tabur tuai yang dikenal dalam berbagai agama dan kebudayaan. Kita ditanamkan keyakinan bahwa benih yang baik akan menghasilkan panenan yang baik, dan sebaliknya pula. Anggapan itu menyemangati kita untuk menabur sebanyak mungkin benih kebaikan, atas dasar sebuah keyakinan bahwa suatu hari kita akan menuai hasilnya. Hasil yang baik. Hasil yang tidak mengecewakan.

Faktanya beberapa orang menganggap utopis prinsip ini. Kenapa? Karena mereka pernah atau bahkan sering dikecewakan. Jika tidak salah, kutipan yang sering mereka cantumkan senada demikian "adalah bodoh untuk mengharap orang lain kembali baik pada kita, setelah kita berbuat baik pada mereka. Seperti percaya bahwa seekor singa tidak akan memangsa kita, hanya karena kita tidak memangsa mereka".

Banyak kekecewaan. Merasa sudah berlaku baik ke seseorang tapi tidak merasa ada pengembalian setimpal dari orang yang sama. Kebaikan yang bertepuk sebelah tangan tampak begitu menyakitkan. Padahal prinsip tabur tuai sebenarnya jauh lebih agung dari insting sok tahu manusia.

Tiga cerita soal benih kebaikan diawal cerita ini membuat saya makin mantab dengan kebenaran bahwa benih kebaikan itu tidak akan terbuang percuma, terlepas jika orang yang menerima benih itu tidak dapat memberikan balas budi yang memadai secara langsung. Jangan jemu berbuat baik karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai.

FREE HAIRCUT FOR HOMELESS
Source: www.takepart.com

Kita tidak bisa memastikan dari siapa tuaian itu, seberapa subur benih itu, semanis apa buahnya, dan seberapa banyak panenannya. Bukan bagian kita untuk menebak apalagi mengatur, bagian kita adalah menggerakkan tangan terus untuk menabur benih baik. Toh sebenarnya kita tidak murni sedang menyemai benih, kadang kita hanya sekedar meneruskan benih itu dari seseorang ke orang lain.



"Help people, even when you know they can't help you back. Because helping people, can be a cure. Not just for those who in need but for your soul as well." -Marinela Reka


Empat orang itu bergerombol di suatu sudut di ruang guru. Ada sesuatu yang menggerakkan mereka mendekat otomatis. Pemandangan itu mengingatkan saya tentang ibu-ibu perumahan yang langsung menyatu serempak antusias kala penjual sayur datang. Sesuatu yang memikat empat guru tampan itu masih tersembunyi di balik postur mereka yang cukup gagah. Tapi… setelah menghidupkan kepekaan indra, saya tahu! Saya kenal persis aromanya. KOPI! Dugaan saya tepat, salah satu kawan kami yang baru saja menikah membawakan kopi Bali sebagai buah tangan, sontak semua pecinta kopi di ruang guru langsung bersatu.

Konon kopi merupakan minuman favorit kedua di dunia setelah teh yang memang terkenal dengan bebragai khasiat dan mengandung nilai budaya tinggi di berbagai peradaban. Sebelum Starbucks yang kita kenal saat ini, kedai kopi sudah ada ratusan tahun lalu tepatnya di Turki dan bernamakan Kiva Han. Di Indonesia kedai kopi akrab disebut WarKop, sebuah tempat yang mempertemukan banyak orang dengan berbagai latar belakang, dan membuat mereka mendadak menjadi politikus atau ekonom handal mengkritisi pemerintah. Mungkin itu kesaktian kafein. Tidak heran Eric Warren dalam bukunya Geographical of Bliss menyimpulkan bagaimana budaya ngopi telah melahirkan banyak filsuf hebat di Eropa. Mereka membiarkan pikirannya berjam-jam liar ditemani kopi dan akhirnya menemukan banyak hal.

wajah kedai kopi pertama dunia. source: http://4.bp.blogspot.com


“Kon gawe susu ga?”


Seketika lamunan saya sebagai pihak kelima di cerita ini, buyar. Logat Suroboyo kental itu memancing saya untuk memperhatikan lebih detail keseruan yang ada. Pertanyaan itu memunculkan banyak respon, atau varian, tepatnya.


aku pake susu yang banyak, biar ga deg-deg-an
punyaku dikasih gula tapi ga mau susu
kopi asli itu ya hitam ya pahit, punya saya tanpa susu dan tanpa gula” begitu komentar seorang guru kurus yang memang pecinta kopi.


Nada mereka bertiga seumpama seorang customer yang sedang memesan kopi di barista handal. Saya seketika membayangkan jika kumpulan itu semuanya penyuka kopi susu atau satu suara menjadi fans kopi hitam pekat, agaknya proses minum kopi siang itu akan menjadi jauh lebih sederhana. Tidak perlu repot bertanya tidak pula rempong meracik. Namun siapa sangka justru dari perbedaan selera itu muncul dialog dan kelakar. Seperti saat jawaban “biar ga deg-deg-an” memancing tawa renyah. Pernyataan polos dari guru paling muda di sekolah kami itu memunculkan diskusi lalu konklusi bahwa efek kafein memang mirip dengan jatuh cinta. Seorang guru bahkan menambahkan, bahwa efek itu juga senada dengan perasaan dag-dig-dug saat bertemu dengan pak Polisi di jalanan yang sedang melakukan tilang. Kesimpulan yang nyeleneh sepaket dengan tawa canda ini tidak akan muncul tanpa adanya perbedaan selera. Dari dulu kewajiban manusia bukanlah menyederhanakan (apalagi meniadakan) perbedaan, namun justru membentuk harmoni di tengah berbagai perbedaan selera. Kita mencintai keteraturan bukan homogenitas. 

Lagipula… siapa yang berwenang menetapkan racikan kopi seperti apa yang terbaik? Semua punya seleranya sendiri. Untuk beberapa orang kopi memang tidak sepantasnya ditambah susu, tapi siapa yang menjadikan itu aturan mutlak?

Satu yang mutlak adalah prinsip bahwa kopi harus diseduh dengan air, sesederhana itu.
Kadang konflik-tidak-perlu justru terjadi karena sebagian orang memutlakkan yang relatif dan kekacauan sering muncul akibat merelatifkan apa yang mutlak. Seperti kurang kerjaan menikmati kopi tanpa air, pernah coba?

source: http://i.telegraph.co.uk

Empat rekan saya itu dengan selera kopinya masing-masing mengingatkan saya dengan prinsip ini:
In necessariis unitas (unity in necessary things)
in dubiis libertas (liberty in doubtful things)
in omnibus caritas (charity in all things)
Premis ketiga dari kutipan latin Augustine of Hippo ini menjadi simpulan terbaik bagi perenungan iseng nan tidak penting yang dimulai dari sebungkus kopi bubuk Bali: "untuk segalanya harus ada kasih!" Kasih yang mau menghargai perbedaan selera. termasuk kasih untuk menawarkan segelas kopi susu super nikmat bagi saya :) *nyengir bahagia*


*this writing is inspired by true event and dedicated to Mr. teguh, Mr. Samuel, Mr. Robin, Mr. Vincent, and Mr. Ivander.
Alkisah... Suatu hari seseorang lelaki tampan terjaga dari lelapnya. Dia sendirian memikul sebuah tanggung jawab yang besar. Sang Tuan-nya meminta dia untuk memberi nama pada segala hal yang ada di taman indah itu. Satu per satu. Baik kepada burung di udara, segala kawanan liar di hutan, tak luput bagi mereka yang menghiasi lautan. Di tengah keasyikan itu, dia termangu tanya "tidak adakah dari semua makhluk itu yang sepadan untuk menolongku?" Tak berselang lama, dia bertemu belahan jiwa sepanjang masa. Benar! Ini adalah kisah perjodohan pertama di muka bumi, antara Adam dan Hawa. Dari kejadian itu, muncul banyak sekali kekaguman sekaligus membawa pada pertanyaan umum di benak para manusia jutaan tahun setelahnya.
   

Pertanyaan 1 : "kenapa Allah membuat Adam tidur?"
Setelah tugas melelahkan, sang Adam dibiarkan tidur. Ini adalah sebuah kesengajaan besar dari yang Khalik untuk memulai rencana tulus-Nya terhadap manusia pertama itu. Allah sendiri yang berinisiatif untuk menciptakan seorang Hawa. Kata kuncinya adalah adalah: inisiatif.

Bagi kita, awalnya terlihat biasa saja toh semua manusia memang akan tidur setelah lelah bekerja. Namun mari kita perhatikan pernyataan ini: 'Allah membuatnya tidur'. Jelas ini merupakan kesengajaan mulia yang memulai proses pengambilan tulang rusuk hingga pertemuan sang Adam dan perempuannya.

Sebelum kita memikirkan siapa pasangan kita, sudah seharusnya kita menghayati bahwa setiap tahap kehidupan kita adalah anugerah yang dimulai dari rencana Allah yang membawa kebaikan. Dari aktivitas tidur, Allah menyediakan pasangan bagi Adam. Dari aktivitas pelayanan kuliah, Riyan dipertemukan dengan saya. Dari organisasi kampus, sejoli memulai kisah cinta. Ada banyak hal yang dapat menjadi titik mula kisah cinta. Jika Allah sudah berinisiatif maka kegiatan sederhanapun dapat diajadikan awal yang sempurna. Sebaliknya, seberapapun kita menebar pesona jika Allah belum merasa perlu untuk mengambil inisiatif, maka tindakan kita jadi sia-sia.



Pertanyaan 2a: "Kenapa perlu ada Hawa?"
Pertanyaan jenius! Pada dasarnya Allah merupakan penolong yang jauh lebih dari cukup bagi Adam. Bagaimana tidak, faktanya Dia adalah Pencipta. Tidak diperlukan manusia lain, Allah adalah pelengkap hidup yang terbaik.

Lantas apa arti skenario pengambilan satu tulang rusuk Adam tersebut? Dia yang adalah Pencipta Semesta menahan diri-Nya untuk tidak mengisi sebuah kekosongan dalam diri Adam -sebagai simbol dari semua laki-laki- dan mengijinkan ruang kosong itu hanya diisi oleh seorang dari tulang rusuknya. Kata kuncinya adalah "menahan diri".

Hawa diciptakan jelas untuk menjadi penolong bagi Adam. Hawa diciptakan juga sebagai manifestasi Allah yang sedang menahan diri-Nya. Fakta itu tidak henti menginspirasi saya untuk menjadi wanita yang dapat mengisi sisi kosong laki-laki yang memang adalah kesengajaan Allah sendiri. Pencipta yang segala Maha itu telah menahan diri-Nya untuk mengisi kekosongan Adam, Riyan, dan seluruh laki-laki di muka bumi ini. Pengenalan akan skenario agung tersebut agaknya menyadarkan kita bahwa sebenarnya tidak ada alasan manusia tidak menahan ego-nya untuk membentuk kesepadanan dan harmoni hubungan laki-laki dan perempuan. Mengalah penuh kasih, itu adalah teladan yang diajarkan Allah di taman Eden dalam skenario pasangan hidup. Pilihannya adalah kita mau meniru atau membantah?


Pertanyaan 2b : "Kenapa tidak menciptkan 'Adam' yang lain?"
Pertanyaan cerdas dan kritis! Jika hanya untuk menolong, kenapa Allah tidak ciptakan saja laki-laki lain?
Ini karena Allah bukan hanya sedang membuat hubungan pertemanan namun sebuah hubungan unik yang dapat merepresentasikan tentang Kristus dan Jemaat-Nya. Sebuah hubungan hierarkis penuh kasih dimana ada titik pertemuan akan penghormatan dan penundukan.


Pertanyaan 3 : "Bagaimana konsep jodoh Kristen?"
Setelah Adam bangun, tertulis peristiwa selanjutnya bahwa 'Allah membawa perempuan itu pada Adam'. Inilah konsep jodoh! Pendalaman soal ayat ini pertama kali saya dengar saat saya menguping di kelas pastoral pra-nikah. Bapak pendeta dengan suara berkharismanya menjelaskan bahwa detail menarik yang kadang terlupa adalah kenyataan bahwa Adam tidak berkeliling-keliling taman untuk menemukan Hawa, namun Allah sendiri yang membawa wanita itu ke hadapan Adam.

Disini mengingatkan kita bahwa jodoh adalah seseorang yang dibawa pada kita saat kita sendiri telah baik melakukan apa yang Dia perintahkan, seperti Adam yang usai melakukan tugas memberikan nama-nama makhluk di taman itu. Ketika kita fokus untuk hidup dalam ketaatan dan melayani Dia, dengan cara-Nya sendiri sosok yang kita butuhkan akan datang. Itulah jodoh!

Hal ini ditegaskan dengan beberapa kisah lain, salah satunya adalah kisah pertemuan Ribka dengan Ishak. Kala itu Ribka hanya melakukan tindakan sederhana yaitu melayani memberi minum unta milik Eliezer -abdi Abraham yang memang diperintahkan untuk mencarikan pasangan bagi Ishak. Dimulai dari tindakan sederhana penuh kerendahan hati melayani, Ribka memikat hati Eliezer hingga diapun dipinang sebagai menantu Abraham. Baik Adam dan Hawa, Ishak dan Ribka, Musa dan Zipora mengingatkan kita untuk lihai menafsirkan setiap momen sebagau kesempatan melayani Pencipta. Tidak perlu mata yang rajin melirik sana sini, cukup fokus melayani Dia lewat berbagai hal, maka jodohpun akan Dia tunjukkan di waktu yang tepat dan cara yang mengagumkan.

Pertanyaan 4: "Bagaimana Adam yakin bahwa Hawa adalah yang sepadan baginya?"
Jawaban pertama adalah karena tidak ada perempuan lain saat itu. Hahaha mari tertawa sejenak. Itulah yang berbeda ketika jumlah penduduk bumi menjadi milyaran orang, dimana godaan untuk membandingkan dan 'cari aja yang lain' lebih mudah dilakukan.

Saya telah membaca beberapa buku soal pasangan hidup, namun dari kelas pastoral pra-nikah itu saya mempelajari lagi pesona indah perjodohan pertama ini. "Sepadan" adalah sesuatu yang ada di ukuran Allah. Hampir mustahil kita mengetahui seseorang itu sepadan dengan kita atau tidak TANPA kita dekat dengan Allah. Sepadan merupakan wujud kesesuaian paling tinggi berdasarkan standar Allah.  Manusia menjalaninya dengan ketaatan dan iman berbalut pengharapan penuh kasih. Semoga secuplik percakapan malam saya dengan Riyan ini memberikan sedikit gambaran:
Adiss : kalau ada perempuan yang lebih terampil mencintaimu dan lebih sepadan dalam menolongmu, kamu boleh putusin aku.
Riyan : kalau gitu aku boleh dong cari yang lain, aku coba jalani untuk cari tahu.
Adiss : gak bisa, putuskan aku dulu baru silahkan cari yang lain
Riyan : lalu gimana aku tahu kalau belum menjalani?
Adiss : itulah iman! Saat kamu memulai pacaran denganku kamu juga tidak tahu persis apakah aku akan bisa menjadi penolongmu dan apakah kita sepadan. Kamu hanya yakin akan hal itu, lalu memulai denganku. Saat itu kamu sedang mempraktekan soal iman, pengharapan, dan kasih dalam waktu bersamaan.
Riyan : *senyum* itulah kenapa aku tidak pernah menyesal memilihmu.

Sebelum kita berkomitmen dalam hubungan kita masih boleh untuk menerka-nerka sosok seperti apa yang akan sepadan dengan kita, lewat mengenal Tuhan dan diri sendiri sebaik mungkin. Namun saat sudah dalam hubungan, terkaan itu sudah harus berganti menjadi pengakuan dan iman bahwa pasangan kita adalah yang PALING SEPADAN bukan karena perbandingan, namun karena iman dan pengharapan.





Dari satu kata 'sepadan', dimulai dari satu Oknum Berdaulat, bertempat di satu taman istimewa, skenario ini menghadirkan kekayaan yang luar bisa yang menyisakan kesimpulan: Allah adalah makcomblang terbaik sepanjang masa! Percayakan kisahmu pada-Nya! :)
Beberapa waktu lalu saya disibukkan dengan kegiatan pengumpulan dana. Lewat penjualan gelang denim, kami rindu memberikan donasi dukungan bagi komunitas CrossLine. Dana terkumpul, dan saya kira cerita telah usai.

 

Dengan badan kekar, ripped jeans,
dan tato gambar Yesus di lengannya,
Bang Jack -dari pihak CrossLine- dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis tertentu.
Terungkap kemudian betapa dia bersyukur bahwa ada sebuah komunitas pemuda gereja yang membuatkan charity bagi pelayanan mereka.
Dengan nada yang makin lirih dia berkata bahwa ini kali pertama sebuah komunitas melakukan hal demikian bagi mereka. Tanpa diminta.
Seketika saya menangis. Ternyata perkara menjualkan beberapa gelang seharga 15 ribu telah menjadi berkat besar bagi sekelompok orang lain.

Bagi saya, itulah keindahan melayani Tuhan, kita diperbolehkan mendapati bahwa hidup kita yang jauh dari sempurna dapat jadi berkat. Kita mencicipi hikmah dari sebuah pilihan untuk melawan kenyamanan. Seketika lelaki kekar itu jujur berterimakasih pada kami, maka ingatan saya dibawa pada momen dimana saya riweuh balesin satu per satu chat beli gelang dan sekedar menyempatkan waktu buat kirim paketan, dan saya tahu itu sudah terbayar LUNAS.

Ada beberapa orang yang merasa menjadi orang baik saja sudah cukup. Sebagian yang lain menganggap bahwa pekerjaan adalah ladang tunggal pelayanan. Tapi sebagian yang lain memilih untuk mengurangi waktu bersantai demi melayani. Bahkan tak jarang ada yang memberi hidup untuk merangkul banyak orang. Pundi rupiah tidak sibuk mereka habiskan untuk mengikuti tren baik fashion atau lifestyle tertentu tapi untuk berbagi.

Lalu apa untungnya bagi mereka?
Kenyamanan berkurang padahal tak semua mawas akan karya dan karsanya.
Waktu santai menipis seraya dompet juga kembang kempis.
Satu kenikmatan yang mereka (dan semoga kita juga) bisa kecap dibandingkan mereka yang hanya memilih nyaman adalah: tahu bahwa Tuhan telah pakai mereka (dan semoga kita) yang super cemar buat jadi berkat.

Selain itu agaknya kebahagian orang yang melayani adalah bertambahnya banyak sekali alasan untuk bersyukur. Ijinkan saya menjelaskan bagian ini. Orang yang melayani dengan sungguh memautkan hatinya bukan hanya pada urusan pribadinya. Dia pautkan rasa terhadap sebuah acara, sebuah misi khusus, atau hal lain. Sehingga ketika orang-yang-tidak-melayani hanya bersyukur atas apa yang ada di hidupnya sendiri, orang-yang-tahu-pelayanan bisa menemukan terlampau banyak alasan untuk bersyukur dan masuk ke banyak kesempatan menyaksikan betapa kerennya Tuhan.

Tidak ada karya hebat yang lahir dari sebuah keegoisan menomorsatukan kenyamanan. Jika Dia yang adalah pemilik semesta mau melawan kenyamanan surga buat menyelamatkan kita, masak kita terlampu jijik merangkul mereka yang dianggap hina? 



Hari ini membongkar kardus tumpukan buku-buku, karena ingin menemukan satu buku agenda (almarhum) papa. Satu buku yang dia bagi untuk kami berdua bertukar tulisan. Hampir saja menguap dari ingatan, bahwa kami adalah partner kompak dalam menuangkan rangkaian kata. Ada beberapa tulisan saya yang dia salin di agenda pribadinya, dan ada banyak sajak ataupun puisi karyanya yang saya salin di buku menulis saya sejak SMP.

Jadi saya tahu, hobi berceloteh dalam baris-baris tulisan ini diwariskan dari beliau. Tipe tulisan kami juga sangat mirip, berupa kalimat-kalimat pendek, dan sangat gemar membuat rima pada akhir setiap baris. Dan kami penggila quote! Itu yang jelas.

Di tengah tumpukan buku berdebu itu, ada dua buku lain yang penuh dengan tulisan khas papa. Rasa penasaranpun hinggap. Salah satunya adalah buku diary sejak tahun 1989-1991, sebelum saya lahir. Ada dua hal yang akhirnya membuat haru, tertanggal 9 Juni 1991 papa mencatat bahwa kakak perempuan saya (Elsa) membeli mainan kereta, dan selisih empat hari kemudian catatan lain berkata bahwa papa saya mengunjungi taman Kyai Langgeng (Magelang) hanya berdua dengan kakak saya itu.

Diary macam apa itu? Bukankah diary hanya mencatat yang berkesan? Awalnya geli, tapi justru dari dua catatan sepele itu saya menangkap kasih sayang besar papa saya sebagai seorang ayah pada Putri Sulungnya itu. Sehingga perkara mengunjungi sebuah taman berdua ataupun membeli mainan keretapun dipatrikan dalam sebuah goresan tinta.

Haru makin memuncak ketika saya menemukan agenda lain yang berisikan catatan dari tahun 1996-1998. Disana dituliskan sebuah puisi dengan judul nama saya: Claudya. Mengembanglah hati ini, sebelum laki-laki manapun pernah mengirim berbagai gombalan dan mampir di hati, ada sosok laki-laki yang jatuh cinta pertama kali pada saya dan di awal kasmaran sepanjang masa, puisi sederhanapun lahir.

Begini bunyi puisinya.

“CLAUDYA
Kaulah penyulut semangat papa
Kau membuat papa bergairah
Kau membuat papa penuh energi dan daya
Papa tiada renta
Berdegup kencang jantung ini
Memacu diri
Terus berlari
Mengejar prestasi yang lebih baik lagi
Papa tiada merasa letih
Apalagi tertatih
Akhirnya raih reputasi
Demi Claudya jantung hati
Kasih papa takkan terhenti
Pasti”
(karya: Yoseph Tio)



Hari ini, sejak menit setelah saya menemukan tiga buku warisan papa, saya tersadar apa arti penting sebuah buku, atau setidaknya tulisan. Lembaran kisah, tuturan kata, hal paling sepele atau luar biasa, merupakan warisan berharga.  Tulisan adalah bukti bahwa kita pernah hidup, bukan hanya pernah “ada.” dan saya pastikan, anak saya akan memegang hal yang sama nantinya, sebuah buku yang membuat gagasan dan cinta saya tetap hidup walau kata (almarhum) sudah disematkan di awal nama saya :)

Terimakasih papa, nama “Tio” darimu yang terselip dalam namaku, ternyata mewariskan darah kecintaan yang sama, yaitu pada tulisan. Dan pastinya, terimakasih atas puisinya :) I always miss you.
Sudah sore, ini saatnya aku membangunkanmu. Lalu kamu datang dengan nada tak seramah biasanya. "Tidurku ga nyenyak" begitu katamu. Setelah kutanya, terungkaplah bahwa 'dia' yang kita rindukan telah mencuri lelapmu. Kamu berpikir soal strategi kali ini, sebuah logika dalam memilih.

Tahukah kamu?
Ada perasaan sedih padaku, selalu sedih, setiap kali ada hal yang mencuri senyummu. Tapi di balik gusarmu, tersirat banggaku. Sebuah kebanggaan terhadap pria yang serius memikirkan masa depan dan sebuah kebanggaan besar karena bisa menemanimu di masa sekarang.

Dia yang adalah benda penting kelak bagi keluarga, dia yang tidak bisa berpindah tapi mengharuskan kita untuk berpindah (mungkin) menjauh dari Surabaya -kota kecintaan kita berdua.

Hidup ini memang begitu sayang, tidak selalu kenyataan mengangguk setuju pada rencana. Pun Tuhan kadang berkata tidak, alih-alih jahat itu murni karena Dia siapkan yang lebih baik. Iya, hidup kadang seberantakan itu, memporakporandakan kedamaian dimulai dari sebuah tidur siang. Aku di sini bukan untuk merapikannya, aku memastikan bahwa api asamu masih menyala.

Sayang.. Ketahuilah setiap kali kamu datang dengan keluhan, ada secuil hatiku mengasihani diri sendiri. Bukan, samasekali bukan mengeluh karena keberadaanmu. Justru atas fakta bahwa aku tak banyak membantu, saranku juga kadang tak ampuh. Hanya terus berharap hal sederhana semacam surat terbuka ini ada maknanya.


Sediaku hanyalah selalu meminjamkan telinga. Siagaku itu tentang baris doa.

Tak ada hidup nihil masalah, tapi selama kamu mau mencoba maka aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap ada mendukungmu pula menyemangatimu, sayang.

Kalimat-kalimat indah di alkitab bisa kamu baca sendiri untuk menguatkan imanmu, tapi toh aku selalu ingin mencoba mengembalikanmu pada pengharapan yang sempurna. Kata semangatpun kadang tak berdaya, tapi toh tetap aku ucap semata agar kamu ingat bahwa itulah kewajiban kita. Tetap SEMANGAT.

Semangat itu tentang kemampuan tersenyum dan berbisik "Tuhan aku percaya." Semangat itu juga soal berkata "oke memang sulit, tapi aku akan mencoba."

Boleh prihatin, sejenak menggugah ketidakmampuan diri. Tapi lakukan itu sebentar saja ya sayang, lalu kembalikan seri indah muka tampanmu. Jangan bermuram karena masa depan kita tak suram. Jangan ciut bahagia, ini hanya tentang "BELUM" dan bukan kata "TIDAK BISA". Dan kuatlah besarkan jiwa! Karena tanpa disadari kamu punya dua otak, empat mata, empat tangan, dan empat kaki.. kala berjuang. 




Terpenting, kamu punya dua puluh jari tangan untuk melipat tangan memohon belas kasih pada sang Pencipta besar. Mungkin tambahan jari itu akan mempercepat doa kita sampai padaNya. Kalaupun tidak, berarti tambahan imanlah yang sedang darurat kita butuhkan. Apapun itu, semangat selalu PERLU!!

Jadiii... Sudah bisa tersenyumkah kamu petang ini? 

"Orang yang bersemangat DAPAT MENANGGUNG penderitaannya, ..." (Amsal 18:14a)


Jika ditarik pola tentang apa yang terjadi seminggu ini, awalnya aku ingin memberi judul "seminggu berwajah palsu", namun kemudian aku tahu ada kalimat lain yang lebih tepat.
Menjadi wali kelas tahun ini tidaklah mudah, anak-anak yang dipercayakan kepadaku tidak seperti dua tahun lalu. Ada terlalu banyak hal yang menjebakku pada keinginan untuk membandingkan. Penatku juga disponsori oleh pikiran betapa sulitnya aku kembali stabil secara finansial setelah menjadi pengangguran setahun penuh. Sesekali sisi pemikirku mengalahkan segala kecuekan seorang sanguin. Di tengah itu semua, lelakiku di seberang sana ada di kondisi yang juga tidak terlalu baik. Tekanan untuknya memulai KPR semakin terasa, sayangnya keinginan kuat tak cukup. Berbagai faktor pertimbangan tak jarang menjadi aral yang merintangi deal pembelian. Baik soal lokasi, luas tanah, ataupun harga. Kala lelakiku berkeluh kesah, dengan otomatis aku lupakan bebanku sendiri. Sedari awal aku tahu bahwa tugas wanita adalah meringankan beban pria, itulah mengapa wanita disebut dengan istilah "penolong".

Di satu malam aku ajak dia memainkan game sambung kalimat, di malam lain dengan penuh nada manja aku menggombalinya, dan melakukan berbagai strategi hanya untuk mengembalikan sukacitanya. Dasar orang melankolis, bagi Riyan terlalu sulit untuk sekedar mengabaikan apalagi dengan cepat mengubah raut mood nya menjadi kembali ceria. Dia tertawa, tapi aku tahu persis itu hanyalah tawa yang ditujukan agar aku merasa dihargai atas setiap usaha menghibur. Di saat penat juga kepalaku, aku harus menghapus muram kekasihku. Tak hanya sehari, beberapa kali hal senada terjadi dalam seminggu. Di tengah kesal lahir aku menghibur diri dengan menulis ini :

There are some moments in life we should ignore our own burden. It's not fake, simply pretending that we can be stronger than we ever thought, and the fact is when we trying to lift someone little higher or just cheering up someone's day, we are not pretending anymore.
We've already been strong. 
Our hidden strength somehow appears just in moment when we try to be selfless




Tak selang lama, hari jumat ini tepatnya. Berbalut pakaian khas biru ala officer Girls Brigade dengan iPhone jadul di tanganku, aku tergetak dengan suara tanda masuknya sebuah surat elektronik di kotak masukku. Ternyata satu lagi penundaan konversi mimpi harus aku hadapi. Di ruang guru aku menahan tangis, tapi aku memilih untuk meletakkan sejenak sedihku di tumpukan koreksian yang menunggu. Masuk ke kelas, hal yang tak jauh berbeda terjadi, dedikasi atau sekedar janji profesional tetap memampukanku membagi ilmu dengan senyum. Pengingkaran demi pengingkaran kadang membawa pada pedih yang lebih dalam. Merasa begitu lemah, aku menghalalkan kejujuran untuk membagi beban dengan seorang kawan. Aku berniat setelah makan siang akan mengijinkan diriku jatuh dalam pengakuan semata murni untuk meringankan tekanan, ternyata jalan cerita sepenuhnya berbeda. Di kantin saat pelayan catering sibuk meladeni barisan siswa, seorang ibu penjaga koperasi meminta tolong aku menenangkan bocah yang terdiam dalam isak. Kejadian itu mengubah segalanya.

Anak itu gemuk, seorang lelaki yang biasanya membuat onar. Siang itu dia di hadapan piring makan siangnya duduk menghapus tetes air mata. Aku masih ingat jelas bulir air jernih keluar dari sudut luar matanya. Hatiku hanyut. Aku yang hari itu menahan tangis seharian, duduk lemas dan kalah. Aku pakai jariku menghapus air matanya. Dengan nada sabar dan lembut aku coba tanyakan alasan dari tangis itu. Siang itu, aku bergumam "masih ada waktu lain untuk mimpiku -yang tertunda karena email tadi pagi- digenapi, tapi air mata seorang anak kecil tidak akan bisa menanti." Ternyata siang itu bukanlah kekalahan yang meletakkanku pada tindakan tersebut, justru merupakan sebuah kemenangan. Iya, aku menang mengalahkan ego untuk hanya memikirkan diri sendiri.

Hari itu aku tahu bahwa yang aku tulis semalam sepenuhnya benar. Kekuatan tersembunyi akan keluar saat kita berusaha untuk tidak egois dengan masalah kita sendiri. "Yang kuat menopang yang lemah" begitu nasihat berharga yang kita acap dengar. Kadang kita tidak layak dikatakan kuat, kadang kita semata mencoba menjadi "tidak lebih lemah" untuk layak menopang beban orang lain. Kita semua punya masalah, jika berlandaskan itu maka semua kita akan jadi egois dan enggan merepotkan diri untuk memikirkan beban orang lain. Padahal justu saat kita berusaha menguatkan orang lain, kitapun dikuatkan. Sebuah pedang bermata dua, bukan?!

Saat aku menahan tangis dan harus menghapus air mata orang lain, disitu aku sudah tidak lagi sedang berpura-pura, saat itu aku sedang menjadi versi super dari seorang Claudya. Walaupun mungkin tidak ada seorangpun menganggap penting apa yang aku lakukan siang itu di kantin, bahkan ketika Riyan dan bocah itu juga tidak mawas tentang upayaku menghiburnya, itu bukanlah masalah besar bagiku. Hanya sedikit berharap penduduk surga menengokku sejenak, dan memperhitungkan itu sebagai kebaikan. Sebuah kebaikan yang diawali dengan kepalsuan dan dibungkus dengan kekuatan, sebuah kebaikan yang membuatku menang.

Dan akhirnya aku tahu judul yang tepat untuk minggu ini adalah: "seminggu menikmati kekuatan tersembunyi."

Di tengah sore hari Jumat usai meyeruput segelas kopi susu instan favorit, telingaku nakal menguping percakapan para kawan guru lain. Topiknya tentang beberapa siswa yang populer belakangan akibat segala ulah mereka. Hampir semua guru sudah dibuat geleng-geleng oleh mereka yang (untungnya) terpencar di berbagai kelas. Mereka yang masih gres melepas seragam putih-merahnya membawa berbagai kejutan.

Menghadapi berbagai karakter 'unik' itu memang menciutkan nyaliku. Aku sesekali takut. Di saat yang lain kadang aku terjebak untuk melabeli beberapa di antara mereka dengan sebutan "aneh" atau kadang menghakimi tanpa suara dengan julukan "nakal". Dan aku juga sesekali angkuh.

Ada serpihan enggan saat melihat tabel jadwalku saatnya mengunjungi mereka. Raga yang hadir tak lebih dari sekedar wujud tanggung jawab. Iya, memang kasih dan secuil dedikasi tidak pernah absen walau sesekali itu semua diselubungi pekat rasa takut. 

Masih dengan segelas kopi susu yang tersisa separuhnya, tanganku yang tak berhias cat kuku mulai membuka lembar demi lembar catatan siswa tentang satu topik renungan.
Senyap menyelinap, aku abaikan es kopi susu nikmatku.

Aku merasa bersalah, seketika.
Hidup mereka tak serenyah tawa yang dihadirkan di lorong-lorong sekolah kala 40 menit durasi istirahat tiba. Dengan membiarkan punggung jatuh di sandaran kursi kerjaku aku terkesiak tentang fakta bahwa banyak kisah tak mulus di celah kebisingan yang mereka ciptakan. Orang tua yang kurang perhatian, mama papa yang tak ubahnya dua peserta kompetisi debat, hingga pengabaian besar yang harus dirasakan bertahun-tahun.

Deretan nama yang acap memancing onar ternyata tak instan menjadi demikian.
Selalu ada sebab. Semua ada awalnya.
Terbingkai kisah sendu atau peran antagonis sebagai sponsor segala karakter kurang baik itu.
Tidak ada seorangpun yang dikodratkan menjadi pribadi yang buruk. Tak seorangpun juga yang sengaja diciptakan 'nakal' oleh Sang Khalik. Segala ke-khas-an negatif itu adalah sebuah produk berbagai faktor kompleks. Keluarga, kadang adalah penyebab utamanya. Di lembar yang sama mereka mengaku, tak mudah untuk mengucap syukur atas kondisi keluarganya.

There isn't anyone you couldn't love once you've heard their story -Aister

Membaca ataupun mendengar secuil penjelasan tu sudah berhasil meluluhkan hati, ketakutan dan kesombongan pun turut larut. Dari heran penuh gemas bergeser menjadi sendu kasihan. Mereka yang terlihat aneh, mereka yang gemar membuat onar, dan mereka yang hobi menabung daftar panjang pelanggaran justru adalah pribadi yang paling membutuhkan kelembutan dan kasih bukan justru omelan semata. Kadang yang mereka butuh adalah telinga yang siaga mendengar dan didikan yang dibahasakan dengan kepedulian.




Kadang aku (dan mungkin beberapa guru lain) hanya terlalu sombong, merasa lebih dewasa, lebih normal, dan lebih tahu. Miris memang saat predikat 'guru' membuat kami menjadi hakim atas sesama kami dan bukan justru menjadi perban yang membalut luka.

Bagaimanapun benar memang bahwa baik antara rasa takut dan sombong hanya cocok bersanding dengan sesuatu yang tak utuh kita pahami. Setelah menyimak sedikiiit saja rangkai kalimat jujur siswa, seketika gelas kaca berisi air keruh kopi susu itu menjadi cermin untukku, seraya menegur "lihatlah lebih dekat dan dengarlah lebih jernih, lalu kau akan bisa mengasihi dengan lebih tulus."
"When God smiles, everything is possible" :)

Kalimat ini terus menghantuiku. Biasanya sepenggal kalimat membayang usai membaca sebuah tulisan tertentu. Tapi tidak kali ini. Entah dimana aku menemukan baris kata itu, tapi yang jelas aku yakin itu ada maksudnya.

Tidak seperti tahun-tahun dulu, biasanya menjelang ulang tahun aku akan sibuk menuliskan banyak poin keinginan. Kata (sebagian) orang, aku terlalu idealis. Tahun ini tidak. Melihat setahun sebelumnya yang tak mulus, aku memutuskan untuk lebih sibuk menulis duapuluhdua berkat spesifik yang Tuhan berikan, di antara jutaan berkat harian yang sepanjang tahun sudah aku nikmati seperti soal makanan dan kesehatan. Aku tidak banyak berkespektasi, tentang hadiah, kejutan, termasuk segala pengabulan doa. Sudah cukup keterlaluan aku menyetir hidup ini, sesekali menjadi orang yang mengalir dalam ketidaktahuan mungkin bisa membawaku pada banyak kejutan lain. Mungkin saja begitu.

SATU JULI
Hari pertama bulan ini aku buka dengan menerima tantangan untuk mulai berkendaraan pribadi pertama kalinya. Menghadapi keganasan ruas jalan Ahmad Yani Surabaya yang kadang tak ubahnya sebuah arena balapan. Hari pertama itu juga aku sambut dengan menebarkan senyum pada rekan lama di Gloria, sebuah tempat yang membuktikan bahwa aku gagal move-on soal kecintaan akan dunia pendidikan. Antusias dan sesekali cemas mewarnai bisik doa pagi itu.



10 HARI
Seminggu awal berlalu. Tepat tanggal sepuluh, jarak antara aku dan kekasihku menyempit drastis. Hari-hari kasmaranku dimulai. Aku habiskan seperempat hariku dengannya, sebagai tanda pelampiasan akan seperempat tahun yang melekat rindu.

Jumlah menit-menit tatap muka kami diwarnai dengan cengkrama bersama kakak perempuan dan ponakanku yang masih berenang dalam teduh rahim ibunya. Alasan menghemat adalah sponsor utama kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan di kafe atau mall, seperti yang dulu rutin kami lakukan. Cinta bermekaran di rumah, itu ideal memang. Sekedar menonton TV dan mengobrol di ruang tamu berempat dengan keluarga adalah pengalaman emas yang bagiku seimbang dengan harga menolak berbagai ajakan pelesir. Bersama Riyan, kencanku menjadi penuh ragam. Kami olahraga bersama, dia lari dengan gagah sedangkan aku ceria mengayuh sepeda. Lain waktu kami mencuci motor putih kesayanganku, dengan diselingi canda khas penuh cinta di garasi rumah. Salah satu yang paling berkesan adalah saat kami memasak spagetti bersama. Kebawelannya adalah bumbu penyedap khusus. Baginya aku adalah koki handal, terbukti ketika semangkuk semur daging dan beberapa perkedel bulat tersaji di meja makan. "Rasanya aneh," begitu kataku menganggap bahwa kali itu aku telah gagal. Tapi priaku justru menghabiskan dengan lahapnya menu tersebut bahkan dengan nada bangga menceritakan pada ibunya tentang masakanku.

Satu yang khas dari LDR adalah pedihnya ucapan 'sampai ketemu lagi'. Kadang itu bermakna dua bulan, atau bahkan setengah tahun ke depan. Di Juanda aku sendiri melepasnya. Setelah menyeluruput kopi sembari menanti jadwal penerbangan, dengan mata berkaca-kaca, aku membiarkan jarak kembali memelukku dan membiarkan siksaan rindu mengusikku.



TANGGAL DUABELAS
Hari favoritku tiba akhirnya. Di subuh yang gelap dua manusia menyelinap di kamarku menyanyikan lagu wajib khas ulang tahun, di sela-sela cahaya lilin. Iya, kakak ku dan pacarku lah yang berada disana. Sedikitpun tidak menyangka, lelakiku yang tidak terlalu romantis menjadi begitu kreatif menyiapkan kejutan. Belum henti, di meja makan setelah melepas 23 batang lilin di atas kue tart ku, di tengah sibuk mengunyah kue coklat yang nikmat, dia menunjukkan sebuah video. Di mahakarya itu termuat kompilasi wajah para teman-teman yang entah bagaimana caranya bisa sampai disana. Sahabat kuliah, rekan kerja, sahabat pelayanan, semua ada disitu. Air mata bahagia, yang entah kapan terakhir kali aku rasakan bisa saya nikmati lagi di pipi not-so-tembem ini. 

Di pembukaan usia 23 tahunku aku hanya menikmati setiap momen yang ada tanpa terlalu sibuk dengan teknologi semu. Aku mengambil waktu berkualitas dengan segala berkat Tuhan hari itu.



HALLO LIMA-SAHABAT
Di minggu ketiga, bahagia bergilir datang dari sahabat kuliah. Satu momen pernikahan selalu jadi ajang mini reuni. Bertemu para sahabat lama selalu menyenangkan, apalagi menyaksikan satu sahabat penuh sumringah di pelaminan megah. Beberapa rutinitas lain sisa hobi masa kuliah kami lakukan, contohnya adalah karaoke. Bersenandung fals bersama dan berebut memilih lagu favorit di deretan playlist selalu berbalutkan rasa senang nostalgia. Durasi nongkrong pun tidak berlalu sia-sia banyak cerita yang membuat kami menyimpulkan wejangan: hidup ini terlalu singkat untuk sibuk memikirkan hidup orang lain.



MALAIKAT KECIL
Tepat sehari setelahnya, klimaks Juli ku datang juga. Seorang keponakan cantik yang sudah aku cintai sembilan bulan lalu sudah bisa aku elus pipi lembutnya. Membelai rambut halus rambutnya menarikku pada imaji tentang awan-awan putih tempat para malaikat menari. Bagiku, dialah malaikat itu. Seorang gadis mungil jelita yang dibungkus dalam doa lewat nama Gicelle Joella Alvaretta.


----------------------------------------

Akhirnya, kala menengok catatan tahun lalu, aku tersadar betapa hidup ini penuh kejutan. Di usia duapuluhdua aku berkata bahwa satu yang membuat hidupku tak sempurna adalah tak segeranya hadir pekerjaan (baca: http://unspokenspace.blogspot.com/2014/06/penghujung-duapuluhsatu-kurang-satu.html). Di tahun ini, apa yang hilang sudah ada kembali, sebuah pekerjaan sesuai panggilan. Harusnya itu saja sudah membuat hidupku lengkap sempurna. Sayangnya Dia masih jadi Pribadi yang menolak untuk dapat ditebak, sehingga dengan kasih merancang pelengkap lain untuk hadir dan membuat hidup seorang Claudya lebih dari bahagia. Aku serius, ini semua LEBIH DARI BAHAGIA.

Jika masa manis ini berakhir, aku tahu itu artinya aku harus kembali membuka catatan ini dan menyadari betapa ajaib arti senyuman Tuhan dalam setiap naik-turun hidup.

Untuk masa depan, ini keyakinanku: "jika Ia tersenyum maka semua hal akan menjadi mungkin." Hanya, semoga daya juangku di usia baru seimbang dengan kadar setiap utas keyakinan itu. Jika berhasil, maka sangat besar peluang aku dapat membuat-Nya tersenyum juga kepadaku.