Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Empat orang itu bergerombol di suatu sudut di ruang guru. Ada sesuatu yang menggerakkan mereka mendekat otomatis. Pemandangan itu mengingatkan saya tentang ibu-ibu perumahan yang langsung menyatu serempak antusias kala penjual sayur datang. Sesuatu yang memikat empat guru tampan itu masih tersembunyi di balik postur mereka yang cukup gagah. Tapi… setelah menghidupkan kepekaan indra, saya tahu! Saya kenal persis aromanya. KOPI! Dugaan saya tepat, salah satu kawan kami yang baru saja menikah membawakan kopi Bali sebagai buah tangan, sontak semua pecinta kopi di ruang guru langsung bersatu.

Konon kopi merupakan minuman favorit kedua di dunia setelah teh yang memang terkenal dengan bebragai khasiat dan mengandung nilai budaya tinggi di berbagai peradaban. Sebelum Starbucks yang kita kenal saat ini, kedai kopi sudah ada ratusan tahun lalu tepatnya di Turki dan bernamakan Kiva Han. Di Indonesia kedai kopi akrab disebut WarKop, sebuah tempat yang mempertemukan banyak orang dengan berbagai latar belakang, dan membuat mereka mendadak menjadi politikus atau ekonom handal mengkritisi pemerintah. Mungkin itu kesaktian kafein. Tidak heran Eric Warren dalam bukunya Geographical of Bliss menyimpulkan bagaimana budaya ngopi telah melahirkan banyak filsuf hebat di Eropa. Mereka membiarkan pikirannya berjam-jam liar ditemani kopi dan akhirnya menemukan banyak hal.

wajah kedai kopi pertama dunia. source: http://4.bp.blogspot.com


“Kon gawe susu ga?”


Seketika lamunan saya sebagai pihak kelima di cerita ini, buyar. Logat Suroboyo kental itu memancing saya untuk memperhatikan lebih detail keseruan yang ada. Pertanyaan itu memunculkan banyak respon, atau varian, tepatnya.


aku pake susu yang banyak, biar ga deg-deg-an
punyaku dikasih gula tapi ga mau susu
kopi asli itu ya hitam ya pahit, punya saya tanpa susu dan tanpa gula” begitu komentar seorang guru kurus yang memang pecinta kopi.


Nada mereka bertiga seumpama seorang customer yang sedang memesan kopi di barista handal. Saya seketika membayangkan jika kumpulan itu semuanya penyuka kopi susu atau satu suara menjadi fans kopi hitam pekat, agaknya proses minum kopi siang itu akan menjadi jauh lebih sederhana. Tidak perlu repot bertanya tidak pula rempong meracik. Namun siapa sangka justru dari perbedaan selera itu muncul dialog dan kelakar. Seperti saat jawaban “biar ga deg-deg-an” memancing tawa renyah. Pernyataan polos dari guru paling muda di sekolah kami itu memunculkan diskusi lalu konklusi bahwa efek kafein memang mirip dengan jatuh cinta. Seorang guru bahkan menambahkan, bahwa efek itu juga senada dengan perasaan dag-dig-dug saat bertemu dengan pak Polisi di jalanan yang sedang melakukan tilang. Kesimpulan yang nyeleneh sepaket dengan tawa canda ini tidak akan muncul tanpa adanya perbedaan selera. Dari dulu kewajiban manusia bukanlah menyederhanakan (apalagi meniadakan) perbedaan, namun justru membentuk harmoni di tengah berbagai perbedaan selera. Kita mencintai keteraturan bukan homogenitas. 

Lagipula… siapa yang berwenang menetapkan racikan kopi seperti apa yang terbaik? Semua punya seleranya sendiri. Untuk beberapa orang kopi memang tidak sepantasnya ditambah susu, tapi siapa yang menjadikan itu aturan mutlak?

Satu yang mutlak adalah prinsip bahwa kopi harus diseduh dengan air, sesederhana itu.
Kadang konflik-tidak-perlu justru terjadi karena sebagian orang memutlakkan yang relatif dan kekacauan sering muncul akibat merelatifkan apa yang mutlak. Seperti kurang kerjaan menikmati kopi tanpa air, pernah coba?

source: http://i.telegraph.co.uk

Empat rekan saya itu dengan selera kopinya masing-masing mengingatkan saya dengan prinsip ini:
In necessariis unitas (unity in necessary things)
in dubiis libertas (liberty in doubtful things)
in omnibus caritas (charity in all things)
Premis ketiga dari kutipan latin Augustine of Hippo ini menjadi simpulan terbaik bagi perenungan iseng nan tidak penting yang dimulai dari sebungkus kopi bubuk Bali: "untuk segalanya harus ada kasih!" Kasih yang mau menghargai perbedaan selera. termasuk kasih untuk menawarkan segelas kopi susu super nikmat bagi saya :) *nyengir bahagia*


*this writing is inspired by true event and dedicated to Mr. teguh, Mr. Samuel, Mr. Robin, Mr. Vincent, and Mr. Ivander.
Di tengah sore hari Jumat usai meyeruput segelas kopi susu instan favorit, telingaku nakal menguping percakapan para kawan guru lain. Topiknya tentang beberapa siswa yang populer belakangan akibat segala ulah mereka. Hampir semua guru sudah dibuat geleng-geleng oleh mereka yang (untungnya) terpencar di berbagai kelas. Mereka yang masih gres melepas seragam putih-merahnya membawa berbagai kejutan.

Menghadapi berbagai karakter 'unik' itu memang menciutkan nyaliku. Aku sesekali takut. Di saat yang lain kadang aku terjebak untuk melabeli beberapa di antara mereka dengan sebutan "aneh" atau kadang menghakimi tanpa suara dengan julukan "nakal". Dan aku juga sesekali angkuh.

Ada serpihan enggan saat melihat tabel jadwalku saatnya mengunjungi mereka. Raga yang hadir tak lebih dari sekedar wujud tanggung jawab. Iya, memang kasih dan secuil dedikasi tidak pernah absen walau sesekali itu semua diselubungi pekat rasa takut. 

Masih dengan segelas kopi susu yang tersisa separuhnya, tanganku yang tak berhias cat kuku mulai membuka lembar demi lembar catatan siswa tentang satu topik renungan.
Senyap menyelinap, aku abaikan es kopi susu nikmatku.

Aku merasa bersalah, seketika.
Hidup mereka tak serenyah tawa yang dihadirkan di lorong-lorong sekolah kala 40 menit durasi istirahat tiba. Dengan membiarkan punggung jatuh di sandaran kursi kerjaku aku terkesiak tentang fakta bahwa banyak kisah tak mulus di celah kebisingan yang mereka ciptakan. Orang tua yang kurang perhatian, mama papa yang tak ubahnya dua peserta kompetisi debat, hingga pengabaian besar yang harus dirasakan bertahun-tahun.

Deretan nama yang acap memancing onar ternyata tak instan menjadi demikian.
Selalu ada sebab. Semua ada awalnya.
Terbingkai kisah sendu atau peran antagonis sebagai sponsor segala karakter kurang baik itu.
Tidak ada seorangpun yang dikodratkan menjadi pribadi yang buruk. Tak seorangpun juga yang sengaja diciptakan 'nakal' oleh Sang Khalik. Segala ke-khas-an negatif itu adalah sebuah produk berbagai faktor kompleks. Keluarga, kadang adalah penyebab utamanya. Di lembar yang sama mereka mengaku, tak mudah untuk mengucap syukur atas kondisi keluarganya.

There isn't anyone you couldn't love once you've heard their story -Aister

Membaca ataupun mendengar secuil penjelasan tu sudah berhasil meluluhkan hati, ketakutan dan kesombongan pun turut larut. Dari heran penuh gemas bergeser menjadi sendu kasihan. Mereka yang terlihat aneh, mereka yang gemar membuat onar, dan mereka yang hobi menabung daftar panjang pelanggaran justru adalah pribadi yang paling membutuhkan kelembutan dan kasih bukan justru omelan semata. Kadang yang mereka butuh adalah telinga yang siaga mendengar dan didikan yang dibahasakan dengan kepedulian.




Kadang aku (dan mungkin beberapa guru lain) hanya terlalu sombong, merasa lebih dewasa, lebih normal, dan lebih tahu. Miris memang saat predikat 'guru' membuat kami menjadi hakim atas sesama kami dan bukan justru menjadi perban yang membalut luka.

Bagaimanapun benar memang bahwa baik antara rasa takut dan sombong hanya cocok bersanding dengan sesuatu yang tak utuh kita pahami. Setelah menyimak sedikiiit saja rangkai kalimat jujur siswa, seketika gelas kaca berisi air keruh kopi susu itu menjadi cermin untukku, seraya menegur "lihatlah lebih dekat dan dengarlah lebih jernih, lalu kau akan bisa mengasihi dengan lebih tulus."
Ratusan siswa berbaris di lapangan futsal, seragam mereka sama: putih-biru, namun raut mereka beragam. Dari raut kelelahan, bingung dan asing, hingga ekspresi penuh tawa. Tak hanya raut, ada keberagaman lain yang aku tangkap. Semuanya satu arah mengantarkanku pada kesimpulan: Betapa Kreatifnya sang Pencipta.

Kembali menjadi guru sinonim dengan mengucapkan selamat datang terhadap berbagai pengalaman baru dengan para siswa. Kesan pertama yang aku kenang di tengah hiruk pikuk keberisikan khas remaja adalah kekaguman betapa Tuhan menciptakan manusia sangatlah unik dan soal naluri manusia dalam mengasihi. Agaknya kesan ini kelewat sederhana di sepekan awalku di Sekolah, tapi sejujurnya itulah yang terus membuatku tersenyum di sepanjang durasi upacara pembukaan Layanan Orientasi Siswa. Saat sang Kepala Sekolah memberikan beberapa wejangan untuk siswa baru, bola mataku berkeliling nakal mengamati sepintas para calon murid, dari situ aku mendapati betapa kompleksnya faktor genetika yang mempengaruhi seorang individu dan menjadi pembeda dengan individu yang lain. Misalnya soal besar atau kecilnya hidung, model rambut, bentuk rahang, tipe senyuman, dan susunan gigi. Belum lagi jika kita berbicara soal karakter.

Seketika saya teringat sebuah film kartun yang pastinya kita kenal akrab: Winnie The Pooh. Disana tersodor beberapa karakter yang diwakilkan beragam hewan yang berbeda. dari Tiger sang pelompat, Rabbit yang gemar mengeluh, Piglet yang Imut, dan Pooh pecinta madu. Masing-masing mereka memilih kesukaan yang berbeda, ciri fisik yang pastinya berlainan, serta karakter yang juga tak sama. Cerita kartun itu hanya cerminan dari sepersekian kecil ujung kuku keagungan Pencipta. Hal lain yang saya sadari adalah naluri alami kita untuk mencintai keberagaman. Seperti yang pernah ditulis oleh Nelson Mandela: 
No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite.” ― Nelson MandelaLong Walk to Freedom



Wajah yang terjadi sekarang adalah bagaimana sebuah identitas bukan lagi bertujuan menjadi pembeda tapi juga pemisah. Sudah terlalu banyak kejadian dalam sejarah menunjukkan betapa rasa benci akan sesuatu yang berbeda telah menjadi pembenaran untuk melakukan segala kejahatan kemanusiaan, hingga akhirnya kata 'genosida' muncul dalam deret perbendaharaan kata. Kita dilahirkan dengan naluri alami mencintai, tanpa perlu pusing menanyakan terlebih dahulu: "kamu agama apa?" ataupun sekedar bergumam "dia tidak cantik, aku tidak perlu mengasihinya". Budayalah yang menggiring kita menjadi manusia pemilih.


Alih-alih bangga dengan keberagaman yang dirancang sedemikian oleh Pencipta,
dan membiarkan diri larut dalam naluri mencintai,
kita justru lebih menikmati latihan yang lebih susah: latihan untuk membenci.
Aneh bukan?



Setelah berlayar entah dari sudut Nusantara bagian mana, penjarahan kekayaan alam Indonesia oleh Belanda tiba di sebuah pulau kecil yang terletak antara Kalimantan dan Madura. Namanya sekarang Keramian, namun dulu pulau ini disebut Ariandes. Ratusan tahun setelahnya, Pulau kecil penghasil cengkeh ini menjadi saksi 12 bocah nyasar terdampar lalu BELAJAR.

(1) Hampir Sampai

Empat jam dari Masalembu, kapal Miami berlabuh jangkar di tengah lautan. Sebelumnya, kami disambut dengan tarian selamat datang dari kawanan lumba-lumba. Tanpa diminta, mereka melompat dan berenang lincah. Saya terhenyak sesaat menyaksikan apa yang saya kira hanya mimpi menjadi nyata. Selain itu hati kami juga riang, menyambut fakta bahwa perjalanan yang mengundang mual akhirnya usai. Para ABK sudah memberitahu bahwa kami akan dijemput oleh kapal nelayan. Belum adanya dermaga yang memadai membuat transfer penumpang terjadi tengah lautan. Disana satu per satu kardus sumbangan dan kardus logistik kami turunkan lalu dengan super hati-hati kami membawa tubuh kami berpindah ke kapal yang lebih kecil, melewati sebuah tangga besi. Kapal nelayan tak perlu waktu lama untuk mengantar kami mendekati daratan. Belum selesai ternyata tapak perjalanan, sebelum menginjakkan kaki di bentangan pulau tersebut kami masih saja harus berpindah sarana. Dari kapal nelayan menuju ke sampan. "Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar!" Begitu otak saya menyimpulkan sambil tubuh menikmati angin khas pesisir.

Di sampan berkapasitas tiga orang itu saya mengobrol dengan seorang ibu beserta anak perempuannya yang bernama Nana, penduduk asli pulau Keramian. Dengan logat yang unik, ibu bertubuh kecil itu menceritakan bagaimana banyak anak di pulau tersebut tidak piawai berbahasa Indonesia. Memang, keseharian disana sangat kental dengan percakapan dua bahasa daerah: Bugis dan Madura, kemungkinan besar dikarenakan posisi geografisnya.

Sesampainya di bibir pantai kami disambut super hangat oleh perangkat desa yang telah mengetahui akan kedatangan kami lewat mas Eko Sanjaya, seorang warga asli yang secara kebetulan saya temukan alamat emailnya lewat akun Instagram. Sosial media unjuk nilai fungsi disini. 

(2) Relawan Mengabdi

Sebelum berangkat kami telah menyusun rencana bahwa di pulau ini wujud karya kami akan banyak menyentuh soal pendidikan. Bagian dominan durasi sepekan saya disini adalah membagi ilmu dan wawasan. "Kepuasan hati tercapai justru saat kita dapat melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak dapat membalas kembali samasekali," parafrase ungkapan Martin Luther King ini terbukti valid adanya. 

Tidak ada SMA disana, hanya ada lima sekolah tingkat SD dan satu sekolah tingkat SMP. Jika ditotal saya mengunjungi lima diantaranya. Bagian yang berhasil membuat saya merinding adalah ketika salah seorang siswa SD dengan berani melakukan solo lagu Indonesia Raya. Sesuai pembagian, saya banyak bertugas di kelas 4-5 SD, sebuah tantangan baru mengingat saat KKN ataupun mengajar di Gloria saya selalu berhadapan dengan siswa SMP. Nada yang ceria, ekspresi yang menggemaskan, berusaha saya tampilkan untuk menghindarkan mereka dari rasa bosan. 

Di lain kesempatan, saya merasa hebat kala berhasil mengemas Indonesia sebagai negara yang membanggakan. Juga saat saya mencontohkan beberapa nama atlet Indonesia yang mendunia untuk memotivasi mereka. Nada obrolan ini lebih serius dari biasanya, maklum penyesuaian materi dan intonasi memang harus dilakukan saat mengajar di tingkatan yang berbeda. Di tengah siang terik dan berdebu itu saya duduk membicarakan Nusantara dengan para anak SMP yang memang sudah biasa saya 'tangani'. Ketidaksiapan materi untungnya terbungkus aman lewat segala wujud spontanitas dan memuluskan saya memancing tekad dan angan mereka untuk menggoreskan asa. 

Mengajar anak-anak disana merengkuh jiwa saya pada memori tentang pedihnya kegagalan WVI (Wahana Visi Indonesia). Masih teringat jelas air mata tanpa basah dan teriak tanpa suara kala mengetahui bahwa kerinduan besar untuk berkarya di pedalaman tidak bersambut oleh sebuah penerimaan organisasi. Jika disimpulkan, arti besar pengalaman ini adalah obat yang menyembuhkan luka yang saya kira hanya dapat sembuh oleh waktu semata. Saat saya mengajar Anak-anak itu untuk berani bermimpi, sebenar-benarnya mimpi saya sedang digenapi. Ini sebuah barter yang sempurna!



Selain mengajar kami juga menyalurkan bantuan sembako. Dibantu perangkat desa, kami memetakan nama-nama yang memang membutuhkan. Aktivitas pembagian sembako ini difasilitasi sebuah motor truk yang dikenal sebagai odong-odong, sebuah sebutan yang mengundang geli di angan. Selama perjalanan blusukan ke tiga dusun, kami sembari menguji adrenalin dan ketahanan tulang ekor melewati berbagai rute bebatuan dan belokan curam.

Tiga puluh kresek paket sembako mengantarkan kami pada rumah reot, wajah keriput, dan tubuh kurus. Sebuah pemandangan miris yang harus menjadi pisau tajam menusuk orang pemerintahan agar tidak egois menghabiskan uang negara. Saat DPR membahas milyaran rupiah sebagai dana aspirasi, kami menyaksikan betapa banyak warga berjuang mengalahkan kebutuhan hari lepas hari.



(3) Yang Khas Disana

Bibir pantai hanya berjarak belasan meter dari ruas jalan utama. Tidak mengherankan jika rumah di kanan kiri jalan tersebut hampir semuanya berupa rumah panggung. Dengan tiang kayu berdiri menopang, para penduduk merasa aman kalau-kalau ombak pasang terlalu tinggi dan masuk ke permukiman. Pun hal itu wujud akulturasi budaya bawaan suku Bugis yang juga banyak tinggal di pulau yang mengandalkan penjualan kopra (kelapa kering) sebagai pemasukan ekonominya.

Satu hari menjelang puasa, kami menghabiskan sore di dermaga yang sedang dibangun. Kelak dermaga ini akan mempermudah labuhnya kapal perintis dan semoga menambah mobilitas bagi masyarakat. Dalam langkah pulang kami dikenalkan dengan jajanan khas. Tak lengkap rasanya mengenal masyarakat tanpa mencicipi kuliner asli yang ada. Namanya Pempek, parasnya tak jauh beda dengan yang telah populer di Jawa, hanya lebih pipih. Dibuat dengan ikan dan olahan tepung lalu digoreng di minyak dengan api sedang, pempek ini siap dinikmati dengan kuah asam yang sangat unik. Jika pempek Palembang mengandalkan cuka untuk menghadirkan rasa asam, pempek Keramian mengandalkan biji asam yang sebenarnya. Rasa asamnya unik sekaligus membuat ketagihan.

Pulau ini terdiri dari tiga dusun yang masing-masingnya berjauhan. Dusun Air Hidup merupakan sisi kota Keramian. Nama itu diambil karena adanya mata air yang terus mengalir di sekitar sana. Dua dusun lain bernama Alas Jaya (bahasa Indonesia: hutan yang besar) sesuai penampakan fisiknya serta dusun Sudi Mampir (bahasa Indonesia: Berkenan Singgah) yang seakan membahasakan ajakan ramah untuk bertamu.

Jauh berbeda dengan Masalembo, pulau ini dialiri listrik hanya empat jam sehari (18.00 - 22.00). "Jam listrik mulai menyala kadang terlambat, tapi jam padamnya selalu tepat" begitu penuturan miris pak Kepala Desa yang bagaimanapun mengundang tawa. Tidak berlebihan jika saat kami berpamitan warga hanya menitipkan satu aspirasi untuk kami suarakan nanti: Hadirkan Listrik penuh waktu.

(4) Waktu Luang

Jalan-jalan sore menjadi kegemaran baru kala tak ada kegiatan yang mengisi. Kami pernah menyusuri 3,6 kilometer mencapai pantai yang tak terlalu indah tapi seakan menjadi pantai pribadi. Keceriaan dan kegilaan tumpah sebagai keluarga, bukan lagi sebagai selusin orang asing yang baru saja mengenal beberapa hari. Satu yang unik hari itu adalah hujan yang turun dengan tingkat labil yang tinggi. Tetes air langit yang muncul dan hilang berulang membuat kami akhirnya singgah ke beberapa rumah penduduk. Alih-alih silahturahmi, kami sebenarnya sedang berteduh tapi justru di beberapa singgah itu kami merasakan kesahajaan masyarakat Keramian yang sesungguhnya. 



Seperti rutinitas khas bulan Ramadhan, saya sekejap merasa kesepian kala 10 kawan lain pergi tarawih. Namun sesegera mereka kembali ke rumah, menit-menit 'hangat' lanjut dilakukan kadang hingga larut malam. Kami membicarakan banyak hal. Saya tidak mungkin lupa membagi satu cerita yang membuat kami semua total terbahak-bahak hingga perut terkocok lemas. Sepulang baksos kami diberi hadiah sebutir kelapa muda utuh. Sebuah tantangan bergulir untuk membuka kelapa itu dengan tangan kosong. Setelah bergantian mengupas bagian luar berupa sabut-sabut tebal, tangan kami dapat meraba batok kelapa yang jelas berkontur keras. Tak ada sangka dan tak seorangpun menduga, bukan sulap tanpa sihir, batok kelapa yang begitu keras pecah hanya dengan hantaman tangan kosong Marqi, si adik kembar saya. Sontak tawa meriah tak terelakkan, merayakan kekuatan super yang terpendam di salah satu anggota kelompok kami.

Bonus perjalanan ini adalah kulit yang menghitam pekat, tepatnya setelah mengunjungi pulau Kambing, sebuah pulau kosong kecil di sekitar Keramian. Ada gua, bukit, dan pantai yang mempesona. Namun ada yang lebih indah dari itu semua bagi saya, yaitu durasi saya mengajarkan permainan tahun 90an 'domikado' pada sekelompok anak yang memang ikut pelesir dengan kami berduabelas. Saya menghabiskan masa mengapung pulang dengan riang bermain bersama mereka. Kehidupan selalu LEBIH DARI CUKUP untuk membuat bahagia, itulah pesan tersirat yang selalu diteguhkan lewat senyum tanpa beban anak-anak kecil.



Terlalu banyak kenangan indah yang membuat kisah ini panjang teruraikan. Alinea yang telah adapun telah melewati sortir pilih dan pilah rekam peristiwa. Masih ada bagian tentang cooking class di dapur yang dengan jujur membuktikan perbedaan budaya masing-masing suku. Ingatan tentang para lelaki yang belajar mandi di sumur dikarenakan kamar mandi dimonopoli antrian kaum hawa juga menggelitik saya pada tawa. Begitu juga soal lima perempuan yang terjaga menanti para lelaki yang sedang mencari ikan hingga satu jam menjelang sahur tiba, tak ubahnya istri yang sedang menunggu suami pulang mencari nafkah.

Hanya seminggu tapi begitu banyak kebersamaan terabadikan. Dimulai dari kesediaan menanggung susah senang bersama kala mengabdi, dilanjutkan dengan sikap hangat yang sigap membantu, diisi dengan kisah hidup yang saling dibagi, dan senantiasa diwarnai insiden lucu.

Semua terkemas sesuai nama pulau ini: Keram(a)ian. Ramai dengan tawa, ramai penuh hikmah, ramai meninggalkan kenangan indah.

"Karena manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir" -Pengkhotbah.

Salah satu momen yang istimewa di hidup manusia adalah saat kita diperbolehkan menjadi saksi atas realisasi sabda-Nya. Kita berdecak "ah bener ya ayat di firman itu." Setidaknya itu berlaku untuk saya. Kita bukan hanya membaca namun menyaksikan dan mengalami. Adakah yang lebih indah? Kali ini saya ditampar oleh fakta betapa kerdil diri ini untuk memahami apa yang sebenarnya sedang sibuk Dia kerjakan.

Selasa yang tidak mengandung angka cantik menghantarkan pada dua kejutan. Semuanya seirama berkolaborasi menambah kekaguman baru tentang bagaimana Tuhan berkarya di pribadi seseorang.

Tulisan blog saya tentang "malu menjadi guru" adalah tulisan paling banyak di-reshare selain tulisan tentang Riyan. Secara acak, link itu disambangi oleh seorang kenalan yang saya temui di sesi Focus Group Discussion untuk rekrutmen sebuah NGO besar. Dia bertutur tentang kesannya terhadap tulisan saya yang (Puji Tuhan) membuatnya memiliki sebuah perspektif baru. Nyatanya, komentar singkatnya juga membawa saya pada pemahaman baru yang berharga.

Dia menceritakan betapa dia kaget akan kabar penerimaan karena pada dasarnya dia hanya 'mencoba'. Jika ditanya apa yang sangat dia inginkan, maka jawabannya adalah menjadi guru mengingat dia juga dari jurusan yang sangat cocok untuk berkiprah di dunia pendidikan. Namun setelah mencoba di berbagai institusi sekolah, asanya selalu terhalang. Sampai akhirnya dia diterima di NGO ini. Sepenuhnya berkebalikan dari saya yang sangat menginginkan NGO ini namun berujung pada penolakan dan memberi jeda untuk meneguhkan bahwa saya harus kembali berkarya menjadi guru. 

Dari baris kalimat di kolom komentar itu, saya memahami betapa rencana Tuhan atas setiap pribadi begitu mengejutkan sekaligus unik. Dia membawa anak-Nya dengan segala cara menuju tempat dimana seharusnya dia berada. Kegagalan kadang pertanda kita harus berusaha lebih keras tapi tak jarang itu sinonim dengan bahasa 'tidak' dari Allah. Bukan karena Dia jahat, murni karena Dia telah menyiapkan yang PALING SESUAI. Tidak berarti yang paling nyaman, tidak selalu yang paling menggairahkan, tapi PASTI yang paling sesuai.




Kedua, saya diingatkan bahwa apa yang kita miliki bahkan walau terlihat sangat remeh, kadang adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang lain di luar sana. Tidak ada alasan kita tidak bersyukur. Sungguh. 

Ketiga, kebetulan dia sampai ke blog kumuh ini, sederhana membuat saya semakin yakin tidak ada yang kebetulan. Setiap hal bisa Dia gunakan untuk menjadi sarana penjelasan bagi orang lain semakin memahami karakter Agung nan berdaulat-Nya.

Bukan saja perkara komen 'nyasar', Selasa kali ini menjadi semakin melekat di hati sekaligus membekaskan seutas senyum adalah karena sebuah kabar bahwa saya diterima menjadi peserta salah satu kegiatan Pemerintah untuk menghidupkan semangat kemaritiman. Sebuah kegiatan bernama 'Ekspedisi Nusantara Jaya' akan mengisi bulan Juni saya. Berlayar di secuplik laut megah Indonesia lalu diselingi dengan bersandar singgah ke pulau-pulau kecil untuk membantu masyarakat disana. Kalian tahu apa artinya ini bagi saya? 

Pertama, mengikuti program pelayaran sudah saya coba sejak 2013 namun terhalang ijin cuti. Jadi jelas, ini satu lagi poin dimana mimpi saya terkonversi menjadi kenyataan. Tidak mungkin bahagia absen dari hati ini.

Kedua, makna besar kegiatan ini bagi saya personal adalah titik temu dua keinginan besar yang gagal saya dapatkan. Antara bergabung NGO dan (C)PNS. Kerinduan saya untuk 'membantu' masyarakat di luar pulau Jawa yang sesak ini saya kira hanya dapat saya lakukan lewat NGO namun ternyata asumsi saya keliru. Ada hal yang sepenuhnya berbeda dari yang saya bayangkan yang bisa membuat saya men-check salah satu poin dari daftar keinginan. Sisi lainnya adalah fakta bahwa kegiatan ini benar-benar adalah agenda pemerintah. Kabar kembali menjadi guru PKN menyisakan satu pertanyaan, bagaimana mungkin saya mengajarkan tentang Indonesia tanpa pernah benar-benar berkecimpung atau mencicipi kegiatan yang memang digarap oleh pemerintah. Ternyata, rasa heran itu ditaklukan dengan kesempatan emas ini. Lagi-lagi manusia hanya jago menerka. 

Saya akan mengikuti salah satu kegiatan dari pemerintah yang melibatkan sangat banyak kementerian plus diperbolehkan menjadi 'berguna' untuk mereka yang sering terlupa. Oke, ini menjadi akhir kisah paling sempurna yang membuktikan bahwa kita boleh memiliki kerinduan namun jangan sekali-kali menyetir Dia untuk cara penggenapan kerinduan itu!

Akhirnya dengan sejuk hati penuh kagum saya dapat meminjam sepenggal paragraf favorit yang saya temukan dari buku Almost Heaven:
"I have been given this assignment by Him, the One who knows the end from the beginning, the One who holds the future in His nail-scarred hands and so I will gladly fulfill my role. Of course, it didn’t work out according my plan. LIFE GENERALLY DOESN'T. God had a totally different plan. I don’t know. I don't think I'll ever know. And part of me doesn’t even want to know. I just wanted this to be something that could only be explained by God’s intervention."

Manusia suka mencari tanda. Manusia gemar mengumpulkan fakta-fakta yang memperkuat posisinya. Itulah kenapa ulasan horoscope masih laris di kolom surat kabar dan ramalan kartu menjadi sesuatu yang tidak kehilangan pesonanya. Menjadi percaya tanpa melihat, bukan hanya Thomas yang sulit melakukannya 2000 tahun lalu.

Ini adalah cerita yang sudah lama parkir di otak saya dan akhirnya tidak tertahan untuk disemayamkan dalam tulisan. Kisah ini masih merupakan rangkaian memahami panggilan kala masa menjadi pengangguran. Seperti yang saya tulis di cerita lengkap sebelumnya, saya kembali menjadi guru. Fiuuh.. Melamar ke enam sekolah, adalah tindakan saya menguji hasil pergumulan dan semoga empat panggilan dalam satu minggu merupakan pertanda besar bahwa hmmm saya memang harus menggarap ladang ini. Tapi dasarnya manusia, seorang Claudya masih menggerutu. Setiap kali melihat aktivias sosial media kawan yang diterima mengabdi sebagai PNS dan sosial media pelayanan dari WVI, hati saya teriris (literally). Masih belum berdamai, mungkin itu tepatnya. Menerima kekalahan bukanlah hal mudah, apalagi jika setelah tahapan itu kita diharuskan masuk ke satu area baru yang sebenarnya ingin kita tinggalkan jauh. Saya bertanya ke Tuhan dan mempertanyakan diri sendiri. "Jangan-jangan aku salah mengartikan hasil pergumulan." begitu pembelaan dalam angan.
Suatu siang, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor yang tidak saya kenal. Ternyata itu lagi-lagi sebuah panggilan seleksi pekerjaan. Orang di seberang telepon itu berbicara sangat fasih dalam Bahasa Inggris, saya penasaran. Tidak berselang lama, terungkaplah bahwa itu merupakan panggilan pekerjaan dari sebuah sekolah tempat para anak expatriate di Surabaya bersekolah. WOW, saya tidak percaya lamaran yang saya kirim melebihi tenggat waktu maksimal ternyata ditanggapi dengan sangat baik. Sayangnya telepon itu berdering pasca keputusan akan ke sekolah mana saya akan berkarya sudah saya buat. Dengan sopan saya menolak tawaran itu. 

Panggilan yang mengusik jam santai saya siang itu tidaklah sia-sia. Samasekali tidak sia-sia. Lima dari enam sekolah, bukankah tanda besar bahwa this is a place I belong to be. Dua minggu setelahnya, sekolah keenam melakukan hal yang sama. Lengkap sudah pertanda ini, saya menemui jalan buntu untuk membangkang. Telepon kelima itu, menyuarakan kesan mendalam. Atas keterlambatan saya mengirimkan lamaran dan atas reputasi sekolah sebesar itu. Lebih-lebih kala saya mendengar responnya yang meminta saya kembali mencoba melamar di sekolah itu setelah kontrak saya di sekolah saya (akan) mengajar saat ini tuntas. Telepon keenam hanyalah bonus, sebuah tanda pemantab hati yang tidak saya minta, yang pastinya ditujukan untuk manusia super keras kepala seperti saya.




Kita rajin mengajukan tanda tanya pada Pencipta, jika kita cukup beruntung pertanda itu akan datang. Namun bagaimanapun kita tidak bisa terus mengandalkannya. Ada waktu di hidup pertanda akan bersembunyi hingga akhir. Percaya sebelum melihat pertanda adalah kualitas iman sesungguhnya. Saya gagal untuk itu, beruntungnya kekerdilan iman saya masih dinaungi oleh Kemurahan Pencipta. 

Setelah satu tahun ini saya tahu bahwa mencari pekerjaan (kadang) menjadi begitu rumit tapi sesuatu yang jauh melebihi itu adalah kesulitan mengungkap panggilan kita, dan kamu tahu apa yang paling sulit? menjadi taat.



Minggu depan tepat 9 bulan saya menjadi pengangguran. Usia pas untuk seorang wanita hamil melahirkan. Di durasi ini banyak kisah tersimpan, saya berjanji membagi rinci kala semua terjelaskan benang merahnya. Sekarang adalah waktu tepat saya membagi seberkas kisah membosankan ini.
Keputusan resign dari pekerjaan yang super nyaman harus saya ambil, katakanlah ini bentuk kenekadan seorang pemudi tak tahu diri. Awalnya saya kira ini adalah strategi, terungkap kemudian ini wujud dari ingkar pada panggilan.

Di bulan-bulan awal saya menjadi pencari kerja, telinga disegarkan dengan kabar peluang untuk bergabung di sebuah lembaga nirlaba untuk menjadi tenaga pendidik di pedalaman. Panggilan ini merupakan titik terang sekaligus penghiburan besar yang tepat sesuai keinginan. "I make my dream come true" kalimat ini ingin segera saya tulis di segala sosial media. Saya menunggu jadwal wawancara dengan antusias sembari mempersiapkan segalanya, tanpa sibuk lagi membagi lamaran kerja. Antusiasme menanti kapan dapat mulai pergi ke wilayah Timur Indonesia untuk membagi ilmu. Seminggu.. dua minggu.. telepon lanjutan tak kunjung datang. Singkat cerita, entah saya dibohongi atau apa, hal itu kandas. Itulah momen terendah saya yang pertama selama menjadi jobseeker. Dalam hati saya menuduh Tuhan sedang mempermainkan saya.  Bagaimanapun sangat lebih baik jika panggilan itu tidak pernah datang, pikir saya dalam angan. Ini adalah kabar PHP alias Pemberi Harapan Palsu, tanpa kabar itu saya akan tetap giat mencari kerja tanpa terbuai ke langit ketujuh. Tanda tanya besar saya ajukan dengan nada marah.
Waktu berlalu dan saya sudah pulih dari kecewa. Fokus mempersiapkan tes CPNS adalah strategi saya di sekitar bulan November itu. Di tengah mempersiapkan diri untuk persaingan ketat menjadi abdi negara, saya lagi-lagi absen dari aktivitas menyebar lamaran. Singkat cerita, secara ajaib saya lolos hingga tahap akhir. Tahap demi tahap adalah proses saya semakin menginginkan ini. Setelah dua bulan menunggu –durasi yang cukup lama- rasa gelisah penantian tergantikan dengan air mata. Saya hanya ada di cadangan. Dibutuhkan lebih dari keajaiban untuk membuat saya benar-benar bisa bekerja disana. Tangisan saya di satu hari menjelang hari kasih sayang itu disponsori bukan hanya oleh kesedihan tapi juga amarah, mengapa harus dibawa sampai akhir jika akhirnya gagal? Waktu, dana, dan tenaga terlanjur dihabiskan disini dan berujung percuma.
Tak selang lama, panggilan dari satu tempat yang memang saya inginkan sejak saya lulus kuliah, datang. World Vision Indonesia persisnya. Ini adalah penghiburan luar biasa. Satu per satu tahap saya lewati. Hati saya bersemi, karena jika ini tempat yang Dia pilih, maka saya akan menjalaninya dengan bahagia. Kegagalan CPNS akan menjadi sepenuhnya masuk akal. Ternyata benar, saya dibawa hingga ke Tangerang. Di tengah berbagai polemik pergantian jadwal dari institusi tersebut, saya memperpanjang kesabaran. Selalu ada ruang cukup di hati bagi sesuatu yang sungguh kita ingini. Kesempatan ini benar-benar bisa memulihkan hati saya dari luka sekaligus membuat impian saya menjadi nyata. Berkunjung ke kantornya adalah momen saya makin jatuh cinta. Ora et labora saya terapkan maksimal di tahapan akhir konversi mimpi jadi nyata.
Sekembalinya ke Surabaya, sebuah email dari tim recruitment masuk ke inbox surel saya. Tanpa pikir panjang, dengan antusias saya membuka. Hanya berselang beberapa hari dari tes, hasil final telah keluar. Disana tertulis bahwa saya tidak dapat mengisi posisi tersebut. Saya baca ulang dan baca ulang, berharap ada kesalahan baca. Namun ternyata benar, satu lagi penolakan besar saya alami. Berbeda dengan kabar CPNS yang membuat saya langsung menumpahkan hujanan air mata dan menghampiri banyak kawan, kali itu saya hanya terdiam dan merahasiakannya. Saya duduk dan berdoa. Apa inti semua ini?
Di antara berbagai lamaran, hanya sedikit yang berlanjut pada panggilan. Di antara beberapa proses seleksi HANYA DUA yang sampai ke tahap akhir: CPNS dan WVI. Keduanya adalah point impian saya. Dua biji momentum membuat saya mencicipi kedua gedung tempat saya ingin berkarya namun tanpa kesimpulan bahwa mereka menerima. Merasa bodoh dan kacau. Doa usaha agaknya tak kurang-kurang saya haturkan. Kecewa jelas ada, setelah dibawa ke awan karena dua kerinduan dibimbing hingga tahap akhir, lalu dihempaskan ke dasar laut saat berujung pada penolakan. Sungguhkah seburuk itu saya? Tapi di sela itu diri hina ini meminta dengan sangat untuk rendah hati menyediakan ruang di pikiran untuk mengolah apa inti semua ini. Mungin dan hampir pasti ada sesuatu yang terlewat.



Bagaimanapun TUHAN ITU BAIK, hanya tidak boleh saya kotakkan kebaikanNya dengan apa yang nyaman versi saya. Dalam hening, saya memutar kembali perjalanan pencarian kerja ini. Sebuah proses yang normalnya dialami fresh usai lulus kuliah. Tepat setelah resign dari profesi guru, tawaran pertama yang hadir adalah menjadi guru namun di sekolah lain dan jenjang yang juga berbeda. Kesempatan ini tanpa melewati lamaran senormalnya, sebab sang kepala sekolah sendiri yang memberi tawaran. Saya menolak dengan santun saat itu, karena saya tahu rencana saya ke depan. CPNS, Berkarya di Pedalaman, dan Menulis. Hanya tiga itu. Kembali menjadi guru bukanlah opsi. Sore itu saya tergelitik, jangan-jangan apa yang paling saya ingkari merupakan petunjuk paling nyata. Ah tidak mungkin, saya buyarkan lamunan. Saya tidak ingin kembali menjadi guru. Tegas saya dalam logika.
Durasi perenungan itu berlanjut dengan mengakui bahwa menjadi guru di satu tahun saya sebelumnya merupakan pengalaman luar biasa. Seutas senyuman hadir. Ditengah penolakan saya terhadap pengulangan profesi ini, saya melihat diri sendiri sebagai pribadi yang sudah mengecilkan peran yang telah menghadirkan banyak hal indah dalam 16 bulan kehidupan saya.  Dicintai banyak murid dan dapat dianggap berjasa karena membagi ilmu. Saya rasa ini cukup keren. Rasa senang menjadi guru tertutupi rasa malu. Kembali menarik mundur, pikiran ini ternyata mulai mengusik sejak satu malam di Jogja kekasih saya mengatakan dengan jujur bahwa ayahnya menginginkan menantu dengan pekerjaan yang keren. "Oke, waktunya cari pekerjaan yang lebih kece" itulah kira-kira tekad dan kesimpulan seorang Claudya malam itu, demi dapat menjadi menantu idaman sang calon mertua. Akhirnya di paragraf ini air mata saya tumpah, bukan menyalahkan Riyan apalagi ayahnya, tapi murni menertawakan diri sendiri yang dengan mudah mengingkari kebahagiaan demi kepentingan orang lain. Dan makin miris kala tahu bahwa saya telah tidak taat pada Sang Pemilik saya hanya untuk menyenangkan manusia lainnya.
Paradigma bahwa menjadi guru bukanlah hal keren semakin tertanam saat melihat teman-teman sejurusan saya. BPJS, Kemenlu, MT Danone, berbagai Bank besar, dan sebagainya. Seketika saya malu, merasa kecil, dan terkesan gagal membanggakan. Di negara ini atau mungkin masih banyak negara lain, profesi guru bukanlah hal bergengsi, bukan begitu? Sampai suatu siang saya menghampiri sahabat saya yang bijak, Sinta, untuk menceritakan ini. Dan nasihatnya saat itu adalah: sawang sinawang. Semakin kita melihat dan membandingkan, maka tidak akan ada habisnya. Lebih baik fokus melakukan yang terbaik sesuai dengan apa yang diminati. Saya sepakat. 
Mungkin kesempatan CPNS dan MT WVI hingga tahap akhir tidak lain sebagai hadiah agar saya dapat mencicipi dua gedung bangunan tempat impian saya berkarya, dua kesempatan saya bertemu sahabat saya Sinta (karena saya selalu menginap disana) dan menambah kesempatan berkencan dengan pacar saya. Entahlah, benar atau tidak. Sang Pencipta selalu layak akan prasangka baik kita. Ini adalah kebetulan yang menyakitkan bagaimanapun. Saya terlampau yakin, Dia tidak pernah berniat jahat dan sekaligus percaya Dia tidak akan nyasar menempatkan anak-Nya. Jangan-jangan ini adalah caraNya mengingatkan ke saya yang keras kepala ini bahwa Keinginan dan Rencana akhirnya kalah dengan apa yang dinamakan PANGGILAN.
Dengan berusaha lembut saya mengoreksi diri, mungkin ini adalah konsekuensi ketidaktaatan saya dari awal. Perjalanan panjang menjadi jobseeker ini telah menumpaskan tabungan dari 16 bulan saya bekerja. Pahitnya, kebanyakan dialokasikan untuk pergi ke Ibu kota beberapa kali untuk DUA proses seleksi itu: CPNS dan WVI.
Sampai detik kala mengetik ini, saya masih berusaha membuktikan bahwa saya tidak harus kembali menjadi guru. Di tengah keberdosaan, saya masih ingin ingkar lalu ngotot sebenarnya ada ladang SELAIN PENDIDIKAN yang bisa saya garap. Kalaupun saya menyadari bahwa ini adalah ladang yang bisa membahagiakan hati, saya masih ketakutan dengan rasa malu dari para murid saya dahulu, rekan kerja, teman sejurusan, dan banyak orang lain. Mama dan cece, dua orang yang paling saya repoti justru tidak saya khawatirkan. Semata karena saya paham persis bahwa mereka akan selalu memberikan dukungan tanpa padam, apapun pekerjaan yang saya pilih nantinya. Ketakutan karena ketidakmampuan membanggakan justru tertuju pada orang tua Riyan. Jika saya menjadi guru, nantinya saya perlu usaha ekstra untuk menjadi (calon) menantu yang membanggakan. Pikiran ini mengganggu tidur lelap saya.
Sembari memikirkan tentang apa arti panggilan, memori saya memunculkan seorang alumni Persekutuan kampus yang pernah bercerita tentang hal senada. Masih ingat persis dia mengatakan bahwa kita tidak bisa mengelak dari sebenar-benarnya panggilan kita. Lewat belokan-belokan tajam sekalipun Dia bisa menarik kita kembali ke ladang yang Dia siapkan, enak atau tidak enak bagi kita. Saya tidak ragu dan justru mengagumi hal itu. Yang saya tidak terima adalah jika panggilan saya ternyata di bidang yang dianggap tidak keren dan tidak menghasilkan banyak pundi rupiah. Faktanya adalah, saat saya sering mengingatkan orang lain untuk taat, saya sendiri sulit melakukannya *tawa miris*
Setelah perenungan berakhir, saya berusaha menguji hipotesis bahwa saya memang dipanggil di dunia pendidikan. Tidak baik menjadi manusia yang hanya terus berpikir tanpa bertindak. Kata Kevin DeYoung, di bukunya Just Do Something, perlu tindakan untuk terus memperjelas apa kehendakNya dan bukan hanya duduk diam merenung. Saya belajar taat dengan melamar ke sekolah-sekolah. Setiap hasil yang keluar akan jadi petunjuk nyata untuk membuktikan kebenaran hipotesis awal. Pertama kalinya dalam 9 bulan, strategi saya mulus. Upaya saya memurnikan hipotesis menunjukkan titik terang. Empat dari enam sekolah yang saya lamar merespon dengan sangat baik. Bagi saya ini adalah tanda seru besar dari Pencipta. Saya sedang ada di H-1 memilih antara dua sekolah di Surabaya. Antara galau, malu, dan senang berpadu berbalutkan satu perasaan khas hasil ketaatan: damai sejahtera. Dimanapun itu, saya ingin menjalaninya dengan kemantaban hati karena saya tahu ini adalah kepercayaanNya. Saya ingin menjadi guru yang memiliki hati terpanggil sebuah pembeda besar dari seorang Miss Adiss yang dahulu.
Durasi panjang pontang-panting pergumulan ini bagaimanapun masih layak disyukuri. Masa jobless ini membuat saya memiliki banyak waktu untuk keluarga saya, bersama mama yang sendirian di rumah dan menjadi saksi kerempongan cece yang sedang hamil anak pertama. Pun membuat saya semakin sering punya waktu mendoakan satu per satu sahabat saya dan menanyakan kabar mereka. Masa ini juga membuat saya dapat banyak menulis, satu hobi yang kadang tak sempat saya lakukan kala sibuk bekerja. Walau tidak enak, tapi rentang waktu hampir 10 bulan ini bukanlah masa yang buruk. Masih terselip beberapa kabar baik, memenangkan lomba menulis kompas dan menjadi kontributor di sebuah antologi (yang semoga segera diterbitkan) adalah salah satunya.
 Ini bukan ending yang saya bayangkan, sejujurnya. Masih terselip perasaan malu kembali menjadi guru. Tapi jika kembali menjadi guru adalah sinonim dengan ketaatan, saya akan mengambil segala resikonya. Pandangan miring orang lain akan saya tampung dengan kerendahan hati. Dari awal memang ada andil ketidaktaatan dan kesombongan, wajar jika saya harus menelan berbagai pandangan miris.

Terlampau sering saya menerima kebaikan di atas segala kelayakan, waktunya saya memberikan ketaatan di atas segala kenyamanan.

SEMUA BAIK. Hikmah perjalanan ini akan membuat saya semakin mengenal Pencipta saya, mengenal siapa sebenarnya sahabat saya, dan mengenal diri saya sendiri. Dia masih sutradara yang punya skenario terbaik. Mengapa adegan ini terjadi dan mengapa adegan yang itu harus dihapus. Saya yakin sama seperti sangat-sangat banyak hal lain yang bisa membuat saya terkagum dengan cara-Nya berkerja yang Maha kreatif, suatu hari saya akan melihat masa ini dengan haru bahwa ternyata Dia memang selalu punya  rambu lalu lintas-Nya sendiri. Peta-Nya selalu jelas, hanya saja saya dan mungkin banyak manusia lainnya kadang berkacamata buram untuk membaca peta itu dengan baik. Atau sesekali Dia memang mengijinkan kita berpetualang di rimba, tak lain demi latihan ketahanan.

By the way, saya 'menikmati' masa ini dengan menghabiskan kitab Ayub, disana tersodor kisah yang luar biasa indah. Bukan karena ketabahannya, justru karena saya tahu bahwa seorang Ayub-pun pernah mencicipi masa mempertanyakan Pencipta dengan sedemikian.

Bersyukur dapat mencicipi secuil dari ujung kuku perenungan Ayub. Semoga akhirnya saya keluar sebagai seorang yang murni sama seperti dia, dan berujung pada kesimpulan: “aku tahu Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan TIDAK ADA rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2)


kurang dari sebulan lagi saya akan bertambah usia..
saya ingat juli tahun lalu adalah satu bulan yg sangat luar biasa.. saya rindu meminta hal serupa tahun ini. penuh dengan adegan bahagia. seketika saya menyadari betapa kita acap kali terjebak dalam pengandaian tertentu. misalnya untuk memiliki kekuatan super untuk memperpanjang durasi bahagia dan men-skip bagian tak gembira. dan itulah yg saya alami, setidaknya menjelang datangnya bukan juli.

namun sepertinya, akan menjadi menjemukan jika kita mampu men-skip bagian-bagian duka dalam perputaran skenario hidup ini.
dan untungnya tak ada satupun manusia yg cukup super melakukannya.
ketidakmampuan yg melegakan!

cita-cita masih rapi di angan. kadang redup kadang membara. tapi ada kalanya kita perlu mengumpulkan nyali menghadap masa depan dengan melihat bagaimana penyertaan Tuhan di waktu lalu. dan melihat hal yg TELAH berlalu, saya tak ada alasan untuk meragukan apa yang AKAN terjadi. Dia berdaulat, dan selalu begitu.

ohya, belakangan saya sedang dilimpahi syukur akibat memiliki sahabat-sahabat baru. pertemanan unik dr tempat kerja yg justru baru erat di penghujung waktu..
entah kapan persahabatan dimulai, itu tidak penting. memiliki orang yg bersamanya kamu bisa mentertawakan hidup, itu yg penting.

saya ingin masa-masa penghujung 21 menjadi berarti. berusaha menghentak otak untuk berhenti bertanya apakah di usia berikutnya, kisah saya akan menjadi sesuatu yg dapat dibanggakan di blog ini.

sama seperti episode manapun dalam hidup, tak ada secuilpun bagian yg dapat ditebak. tapi bayangkan saja betapa membosankan hidup ini jika semua dapat diterka dengan mudah.
dan atas kemisteriusan hidup ini, saya memuja-Nya.


ini adalah salinan teks ucapan perpisahan saya di kolega satu tahun yg berkesan bagi saya.

kepada pak wahyu yg jadi partner ngobrol politik yg sangat seru.
pak andreas, pak vincent, dan pakTe yg membuat saya merasa posisi bangku saya sangat strategis krn dikelilinhi orang-orang yg menyenangkan. menceriakan masa-masa membosankan.
kepada miss melita, yang jadi satu-satunya guru yg ingat dan tulus berkata enak pada puding buatan saya. dan menjadi sosok yg sangat rendah hati bagi saya.
buat miss yuland dan lao shi henny yg jadi teman curhat kisah percintaan saya.
buat pak nico partner mengerjakan berbagai tugas, yg juga selalu positif mendukung hobi menulis saya.
buat pak Robin yg pernah berkata "que sera sera" di saat yg sangat tepat ketika saya begitu tertekan, dan akhirnya berhasil menenangkan saya.
buat miss michelle teman ngobrol badminton dan destinasi wisata indonesia. dan mengajarkan satu lagu yg begitu berkesan bagi saya.
buat miss rina yg selalu memberikan respon positif setiap saya selesai membawakan renungan
pastinya juga buat miss nancy teman sekos saya, yg sangat sering mendengarkan kegalauan tentang pergumulan pekerjaan dan memberikan masukan yg begitu memberkati.
saya juga menemukan sosok yg begitu saya kagumi disini, yaitu miss leona dan miss kenyo. dari berbagai karakter yg beliau2 ini miliki, terkhusus pembawaan lemah lembut nan keibuan.

di sekolah ini, yg paling saya kasihi adalah siswa kelas 9, lalu 7D, dan baru belakangan ini saya menyadari betapa saya jatuh cinta dengan kebersamaan di ruang guru ini.

terimakasih atas teguran, tawa, nasihat, cerita, dan semuanya :)

tidak ada saat yg terlihat tepat untuk berkata selamat tinggal, tidak ada saat yg terlalu tepat untuk mengakhiri sesuatu yg berarti. dan saya tidak meminta apapun selain spy bapak ibu guru tetap memperhitungkan saya sebagai seorang teman walaupun tak lagi jadi rekan kerja :)
ini kisah bukan tentang pasangan. ini hanya antara guru dan siswa yang di pertemukan di satu sekolah dan menemukan banyak sekali hal cocok antara keduanya.

setiap siswa bisa duduk diam mendengarkan pelajaran, menjadi pihak yg "tidak lebih tahu" dibandingkan guru. tapi guru yg beruntung adalah yg menemukan siswa yg juga berdiri memiliki wawasan lebih dari dirinya sendiri.
sepertinya saya ada dalam hitungan "beruntung" itu.. karena saya memiliki murid semacam itu: kathleen (dan nama-nama lain yg akan saya tulis berikutnya)

pernah satu waktu saya dan siswi ini mengobrol panjang tentang wedding industry, karena kebetulan orang tua bekerja di bidang tsb. dan saya hanya takjub menemukan bahwa di usianya dia paham begitu banyak tentang industry yg sedang perlahan saya pelajari sejak usia 21 tahun. begitu pula tentang photography. dia sungguh sudah expert di usianya bahkan jika disejajarkan para mahasiswa yang sekedar menenteng dslr tanpa passion di hatinya.

saya mengagumi orang tuanya. bahkan walau kami tak pernah bertemu.
kelak ketika saya sudah punya anak, saya ingin mendukung apapun hobi positifnya. membantu dia meng explore passionnya tanpa mengurungnya pada idealisme kuno saya sebagai orang tua.

begitu iri dengan dia dan beberapa siswa lain yg sejak SMP sudah tau apa passion nya. ah sungguh! saya pun ingin begitu.
doa saya hanyalah supaya bara passion itu tidak dipadamkan pertimbangan semu semacam: "apa kata orang" dan "berapa uang yg bisa aku dapat"

capture'an tweet ini merupakan award besar bagi saya. 


we just 'click' on so many ways indeed.
so thank you Kathleen!
saya sudah berulang kali jatuh cinta di kelas, tapi di ruang guru sepertinya baru kemarin.
kebetulan saya diberi kepercayaan untuk menghandle sebuah acara sebagai ketua. cukup kewalahan memanage acara ini.
dan di hari H, saya mengucap syukur sekali kepanikan itu sejenak menguap. pagi-pagi seorang rekan guru berkata "miss, que sera sera aja"
perkataan ini menenangkan dengan signifikan suasana hati hari itu. tapi tak berhenti. dukungan para guru yg sangat tanggap dengan berbagai keadaan "di luar rencana" sangat memudahkan saya.
saya tidak akan menyadari betapa saya beruntung punya rekan kerja kooperatif semacam mereka jika saya tidak dibingungkan dengan predikat 'ketua' di acara ini.

one thing we must keep in our mind: the hard time is simply mean that we need other people andshow us who's really care and who's don't..

usai kegiatan di kekosongan ruang guru pasca jam pulang kerja, saya disibukkan dengan pencarian kerja di layar komputer. seorang kawan guru mendekat lalu di tengah keburu-buruannya menghadiri sebuah kegiatan dia menarik kursi lalu menanyakan tentang rencana pasca kerja di gloria. dan dia memberi banyak sekali informasi terkait pekerjaan yg saya minati dana dengan kata-kata yg super positif bisa menyulap atmosfer pencarian kerja dengan menyenangkan..

dengan lega saya dapat menyimpulkan, positive attitude selalu berhasil. jika tidak menyelesaikan masalah tapi setidaknya meringankan beban. jika meringankan beban pun tidak, pasti setidaknya menekan tingkat kepanikan.
pulang malam itu, badan rasanya capek luar biasa. tapi lega tersirat di angan. setidaknya acara yg saya 'garap' melahirkan sukacita dan yg terpenting membuat saya belajar bahwa lirik lagu "smilers never lose and frowners never win" itu memang benar. bad words make everything worse :) so stay positive guys!

terimakasih kelas 9! selamat lulus SMP!
selamat memasuki masa putih abu-abu yg sering dibilang sbg masa paling indah.
grab every opportunity and have fun!



-with love, miss Adiss.

Lihatlah betapa korupnya negeri ini,
ketika pejabat seakan tak punya malu lagi.

Penjajahan bukan lagi soal senapan,
tapi komisi besar menutup mulut perjuangan negeri.
Suap dimana-mana, korupsi merajarela.

Makin tak heran sebuah judul film berkata: "sungguh lucunya negeri ini"

Tapi selain itu semua, pernahkah menengok begitu melimpahnya kearifan lokal negeri ini?

Satu prinsip kuno yang baru saya pelajari hari ini adalah: "tuna satak, bati sanak"
yang artinya, kadang tidak untung berupa uang tak apa, asal jaringan makin meluas.
wah wah, para motivator dunia yang menekankan tentang jaringan daripada profit dollar bisa jadi meniru falsafah kuno kita ini.
selain itu, selama saya sebulan lebih di negeri asing, saya nyaris tidak pernah melihat ada percakapan antara dua orang yang tidak mengenal di sebuah bus kota atau tempat umum tertentu. bandingkan dengan disini, percakapan kecil di bemo hanya untuk sekedar bertanya "turun mana mbak" akan kita temui dengan mudah.
kebiasaan-kebiasaan luhur negeri ini begitu banyak. belum lagi jika kita bicarakan makanannya yang beraneka ragam, kain tradisional dari banyak tempat yang sungguh menawan.
surga dunia paling mainstream pun tak pernah sepi.
gunung megah yang menjulang.
prestasi anak negeri yang tak pula bisa dipungkiri.
jadi jika anda menanyakan saya, kenapa saya mencintai Indonesia, saya bisa jawab dengan sangat mudah.
saya cinta keberagamannya, saya cinta alamnya, saya cinta makanannya, saya cinta senyum sapa ramah orang-orangnya, saya cinta kemerduan alat musik tradisionalnya, saya cinta hampir semuanya di negeri ini.
hanya dua yang saya benci, pemerintahannya dan para golongan sok agamis yang terus memaksakan homogenitas negeri.

sang guru senior di ujung percakapan sore tadi bertanya "miss adiss ini kok bisa cinta banget sama Indonesia" lalu saya dengan lugu menjawab "saya juga gak nyangka bisa cinta banget sama negeri ini bu"

jadi moral percakapan tadi sangat sederhana, kecintaan ke Indonesia itu mudah. asal sejenak berhenti melihat pemerintahannya. :)


Tidak perlu menjadi seorang berparas rupawan dan ikut acara tahunan bergengsi di sebuah stasiun tv swasta, untuk mendapatkan panggilan “miss” :)
Sebuah tanggung jawab sebagai seorang pendidik melekat dibalik empat huruf itu.
namun panggilan yang sama mengingatkan bukan hanya tentang beban, tapi juga sukacita.
Bukan hanya tentang pekerjaan tapi panggilan
diri saya yang sebenarnya tidak pernah terungkap di ruang guru. Disana hanya tempat untuk singgah dan mengambil jeda di tengah kerasnya kehidupan kelas.
Agaknya seperti kehadiran mall di tengah perjuangan suka duka universitas.
di kelas, saya jatuh cinta.

Di durasi 40 menit di antara bel yang berdering, ada banyak cerita yang sudah dibagi, bahkan air mata pun pernah tercurah.
Di kelas, saya bermain peran. Kadang marah layaknya seorang panglima militer, kadang menurunkan nada dan berperingai lembut sebagai ibu.
Kadang saya hanya tertawa dan mengijinkan saya ditertawakan -bukan karena rasa hormat akan guru terlalu murah- tapi karena saya sedang ada dalam posisi sebagai kawan mereka.
Di kelas saya dipaksa menjadi wikipedia, mengetahui banyak hal dan harus selalu siap menjawab banyak pertanyaan.
Di kelas, saya menjaga agar sikap saya terpuji dan jadi teladan. Namun tak jarang saya buka kebobrokan dan kekonyolan masa lalu, agar mereka tidak jatuh pada lubang yang serupa.
Di kelas saya belajar, itu yang terpenting. Dan membuat saya tertunduk mengagumi hukum semesta yang agung di segala kepercayaan: “semakin banyak kamu menabur, semakin banyak kamu menuai”




Dan di ruang yang sama, saya menemukan alasan untuk bersyukur, hari lepas hari.
Saya rasa, saya telah gagal dalam mendidik murid dalam kedisiplinan. Pada akhirnya, saya sering kalah dengan rasa tidak tega. Saya bukan guru yang baik. Kelas saya berisik. Tapi bagaimanapun, saya tetap guru, saya membagi ilmu.
Di sela-sela usaha menjadi seorang yang layak mendapat hormat mereka, sekarang saya justru mengubah nada doa saya, agar Pencipta melayakkan saya mendapatkan kasih mereka. Itu berharga.
Tidak lama lagi saya akan menjadi mantan guru mereka, tapi selama panggilan “miss” itu bersua, maka saya akan tetap jadi seseorang yang dengan taat duduk diam membalas chat ataupun memberi telinga untuk mendengarkan.

Masa mendidik di bangku sekolah hampir habis. Masa bercengkrama di kelas, telah diambang batas, tapi masa jatuh cinta pada mereka akan tinggal tetap, selama mereka masih mau memanggil saya “miss”
... lalu saat saya membuka pintu, para siswa membawa lilin kecil di kelas, berbalik badan menghadap saya dan menyanyikan lagu "happy wedding miss adiss" dengan menggunakan melodi dari lagu selamat ulang tahun.
dimulai dari pertanyaan salah seorang siswa yang tergolong kepo tentang kapan saya menikah, memorable moment inipun dimulai. Dengan jujur saya jawab "usia 26" tanpa diduga, siswa tersebut berteriak membroadcast-kan secara lisan ke teman sekelas. kericuhan di kelas membuat pesan yang disampaikan tidak persis sama dengan apa yang diterima. Dengan respon terkejut mereka berteriak "miss adiss tanggal 26 menikah"
percakapan ini jadi awal mula gosip tanggal pernikahan saya.
saya hanya tersenyum, tanpa membenarkan dan tidak pula berusaha membunuh antusiasme gosip itu. pada akhirnya, tanpa disangka, penerimaan saya akan gosip ini justru jadi awal mula salah satu catatan terbaik selama satu tahun menjadi guru ini.
cake, lilin-lilin kecil, lagu, pie susu, dan kartu ucapan yang super imut menjadikan tanggal 26Februari2014 begitu berkesan. Februari ini benar-benar magical buat saya.

tanpa mengurangi makna dari kata "wedding" itu sendiri, saya mengucap syukur gosip pernikahan ini telah mengakrabkan saya dengan siswa. Semakin sempurna karena ternyata seseorang khusus, dengan begitu antusias menjadikan gosip ini sebagai doa baik bagi kami berdua. dan dengan sangat lugu berkata "lima tahun lg ya Diss" :) dan saya dengan senyum berkata "amin"

untuk melengkapi keceriaan hari itu, saya dengan sengaja membuatkan jelly dengan kreasi penuh warna. Cheerful jelly -begitu saya menamakannya- akhirnya dilahap habis oleh para siswa. Sempurnah!

"big thanks 9C. for the surprise! :D walaupun gak nikah beneran, tapi tetep excited. saya anggap ini doa. selamat ketemu di wedding saya sesungguhnya!! :D once again, thank you :D"
keputusan menjadi guru satu tahun ini, bisa saya simpulkan sebagai salah satu keputusan terbaik yang saya buat. saya hanya bisa tersenyum kecil, "Happy Wedding miss Adiss" telah memeriahkan minggu terakhir Februari yang sungguh penuh tekanan dan tanggungan kerjaan. and for that, I thank God.