Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.




13 November lalu menjadi catatan penting bagi kita betapa semakin keji dan kejamnya kehidupan. Isu terorisme terus bergulir di berbagai penjuru dunia. Kita menjadi mudah untuk berkata #prayfor #paris #lebanon #baghdad apalagi dengan sosial media yang kita punya. Tren masa kini adalah jempol kita bergerak lebih cepat dari aksi yang ada. Quote yang saya angkat merupakan wujud sindiran bagi kita yang sangat getol menampilkan empati kepada dunia luar yang begitu jauh tapi kesulitan untuk mencintai sesama kita di sekitar.


Mewujudkan kemanusiaan tidak selalu berarti kita terjun ke lapangan sebagai tenaga sukarela ataupun mengekspos berbagi kalimat empatik. Satu hal yang tersisa untuk kita jawab: "sudahkah kita benar-benar menjadi orang yang baik bagi teman kerja kita? Sudahkah kita berhenti dari kebiasaan menggosip? Sudahkah hati kita damai dan terjauh dari perasaan tersinggung?"

Saya mengamati satu kebiasaan dari para pengguna sosial media di Indonesia atau mungkin dunia. Bahwa perdebatan pro dan kontra selalu menjadi hal menarik dimana semakin itu panas justru semakin baik. Masih soal prayforparis ya, saat saya menengok laman facebook saya, sebuah paragraf panjang tersodor dari seseorang yang sedang mengajukan opininya. Dia mengekspresikan rasa gerah akibat sindiran orang lalu tak lupa disusul bumbu pembelaan. Satu alis saya naik. Tanpa disadari perilaku yang mudah tersulut dan terhasut inilah yang mengabsenkan damai sehari-hari. Mudah sekali terganggu dengan respon orang lalu memberikan respon balik dan terus bergulir.

Jika karena satu ucap teman kita hati kita sudah dipenuhi amarah, jika kita gagal mencintai orang yang tinggal seatap dengan kita, sungguhkah kita sudah lebih baik dari mereka yang menghabisi nyawa?

Memang kita tidak sampai membunuh orang, tapi standar Tuhan begitu tinggi. Jika kita MEMBENCI saudara kita maka kita tak ubahnya pembunuh. Belum lagi fakta bahwa tindakan kriminalitas seperti itu tak jarang adalah akumulasi kebencian. Tanpa disadari kita ambil peran di dalamnya. Akibat tidak banyak orang yang menabur benih kedamaian, hingga yang bertumbuh subur justru amarah yang menumpahkan darah. Sekali lagi saya bertanya, sungguhkah kita sudah lebih baik dari 'mereka'?

THINK TWICE!
Aku dan riyan memulai pacaran sebelum akhirnya jadi sahabat karib. Malam ini ngerasain banget enaknya punya pacar multi peran. Dari kakak yang cerewet ingetin ini itu, partner seiman buat saling bahas Firman dan doa bareng, dan salah satu yang paling signifikan adalah sebagai sahabat.

Riyan gak terlalu suka kalo aku umbar masalah di publik khususnya sosial media, baginya itu akan buka kesempatan cowok lain untuk kasih perhatian yang berpotensi ganggu hubungan kami. Ke sahabat cewekpun demikian, dia ingatkan: "nanti saat sudah menikah dan muncul masalah, apakah kamu akan lebih cepat ngobrol dengan sahabatmu atau denganku?" Bagiku ini masuk akal, walaupun itu samasekali gak berarti kami tidak membutuhkan sahabat lain. Tanpa disuruhpun setelah menikmati persahabatan dengan pacar sendiri, sosial media jadi pilihan akhir untuk curcol. Tiap malem selalu ditanyain "gimana hari ini?" dan aku bisa cerita apapun, bener-bener APAPUN soal nano-nanonya hari tersebut. Belum lagi saat seperti malam ini, ada dua kejadian gak enak yang aku rasain dan aku cuma chat bilang "mas, aku ..." Sesegera itu telpon berdering, di layar hp lawasku nama riyan nongol dengan nada khawatir dan empati. Di laen waktu, saat harus menghadapi kegagalan, riyan sempatkan bilang ke aku "makasih sudah berusaha". Kalimat sederhana yang mengalihkan kesedihan pada sebuah kebesaran hati yang memulihkan.


Sahabatan ama pacar sendiri ataupun pacaran ama sahabat sendiri itu sama-sama enak, tapi catatannya adalah keduanya tidak serta-merta terjadi. Dua kepala dan dua latar belakang, artinya ada dua perbedaan yang besar harus dipertemukan. Mutlak butuh waktu. Awal-awal pacaran kami acap berantem karena beda gaya dalam definisi "sahabat yang baik". Bagiku itu berarti "mendengar banyak" dan bagi riyan itu sinonim dengan "memberi (saran) banyak". Lalu mana yang benar? Irisan keduanya, porsi takaran mendengar dan memberi saran yang seimbang, dengan bahasa dan timing yang tepat! Aku bersyukur riyan mengijinkanku memimpin untuk mengintisarikan pergolakan ini sebagai sebuah resolusi dan komitmen bagi kami berdua. Langsung berhasil? Ohhh jelas tidak! Tapi yg penting akhirnya ketekunan dan kasih menghasilkan buah manis. Menjadi saling membutuhkan, itu perasaan yang aman yang membahagiakan.

Saat ini aku menikmati hubungan yang sangat stabil, tanpa disadari melalui masa-masa sulit di awal karena penyesuaian karakter, lalu disusul dengan berbagai masalah keadaan (pekerjaanku ataupun pekerjaannya), itu semua menumbuhkan rasa sepenanggungan kami. Obrolan kami sehari-hari tak ubahnya dua sahabat karib. Dari perkara industry oil and gas, berita politik, postingan lucu 9gag, kisah masa kecil, hingga rahasia keluarga, bisa kami bagi.

Dan sangat nikmat memiliki hubungan dimana pertanyaan "gimana kamu hari ini?" menjadi sama mesranya dengan kalimat "Iloveyou" :)


-diketik sangat cepat dan penuh syukur seusai berpamit tidur-
Sudah sore, ini saatnya aku membangunkanmu. Lalu kamu datang dengan nada tak seramah biasanya. "Tidurku ga nyenyak" begitu katamu. Setelah kutanya, terungkaplah bahwa 'dia' yang kita rindukan telah mencuri lelapmu. Kamu berpikir soal strategi kali ini, sebuah logika dalam memilih.

Tahukah kamu?
Ada perasaan sedih padaku, selalu sedih, setiap kali ada hal yang mencuri senyummu. Tapi di balik gusarmu, tersirat banggaku. Sebuah kebanggaan terhadap pria yang serius memikirkan masa depan dan sebuah kebanggaan besar karena bisa menemanimu di masa sekarang.

Dia yang adalah benda penting kelak bagi keluarga, dia yang tidak bisa berpindah tapi mengharuskan kita untuk berpindah (mungkin) menjauh dari Surabaya -kota kecintaan kita berdua.

Hidup ini memang begitu sayang, tidak selalu kenyataan mengangguk setuju pada rencana. Pun Tuhan kadang berkata tidak, alih-alih jahat itu murni karena Dia siapkan yang lebih baik. Iya, hidup kadang seberantakan itu, memporakporandakan kedamaian dimulai dari sebuah tidur siang. Aku di sini bukan untuk merapikannya, aku memastikan bahwa api asamu masih menyala.

Sayang.. Ketahuilah setiap kali kamu datang dengan keluhan, ada secuil hatiku mengasihani diri sendiri. Bukan, samasekali bukan mengeluh karena keberadaanmu. Justru atas fakta bahwa aku tak banyak membantu, saranku juga kadang tak ampuh. Hanya terus berharap hal sederhana semacam surat terbuka ini ada maknanya.


Sediaku hanyalah selalu meminjamkan telinga. Siagaku itu tentang baris doa.

Tak ada hidup nihil masalah, tapi selama kamu mau mencoba maka aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap ada mendukungmu pula menyemangatimu, sayang.

Kalimat-kalimat indah di alkitab bisa kamu baca sendiri untuk menguatkan imanmu, tapi toh aku selalu ingin mencoba mengembalikanmu pada pengharapan yang sempurna. Kata semangatpun kadang tak berdaya, tapi toh tetap aku ucap semata agar kamu ingat bahwa itulah kewajiban kita. Tetap SEMANGAT.

Semangat itu tentang kemampuan tersenyum dan berbisik "Tuhan aku percaya." Semangat itu juga soal berkata "oke memang sulit, tapi aku akan mencoba."

Boleh prihatin, sejenak menggugah ketidakmampuan diri. Tapi lakukan itu sebentar saja ya sayang, lalu kembalikan seri indah muka tampanmu. Jangan bermuram karena masa depan kita tak suram. Jangan ciut bahagia, ini hanya tentang "BELUM" dan bukan kata "TIDAK BISA". Dan kuatlah besarkan jiwa! Karena tanpa disadari kamu punya dua otak, empat mata, empat tangan, dan empat kaki.. kala berjuang. 




Terpenting, kamu punya dua puluh jari tangan untuk melipat tangan memohon belas kasih pada sang Pencipta besar. Mungkin tambahan jari itu akan mempercepat doa kita sampai padaNya. Kalaupun tidak, berarti tambahan imanlah yang sedang darurat kita butuhkan. Apapun itu, semangat selalu PERLU!!

Jadiii... Sudah bisa tersenyumkah kamu petang ini? 

"Orang yang bersemangat DAPAT MENANGGUNG penderitaannya, ..." (Amsal 18:14a)


Kampung halaman adalah sebutan bagi tempat kemana hati ini berpulang. Berupa sebuah ruang aman untuk lari dari hiruk pikuk tempat perantauan. Seringnya dia hanyalah alasan bermalasan menikmati nyaman rumah, tapi kali ini saya ingin menjelajah. Tak harus selalu jauh, menguak keindahan alam atau memenuhi kepuasan jalan-jalan bisa dimulai dari kota tempat kita bertumbuh besar. Itulah perjalanan kali ini.

Seperti biasa tawa selalu mengisi perjalanan, di sela-sela obrolan hangat khas kawan lama. Sebagian karena kalimat-kalimat humor dengan logat yang kental. Sisanya murni disponsori oleh rasa geli dari kekonyolan lampau kala masih bersekolah.

Air terjun di daerah perbatasan Lumajang dan Malang merupakan pilihan pemuas kaki gatal kami. Sebuah objek wisata yang membuat kami berempat rela menempuh jarak cukup jauh dengan medan yang relatif ekstrim. Nama tempatnya adalah Coban Sewu, jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka bermakna air terjun seribu. Tidak mengherankan mengapa penduduk memberi nama demikian sebab di satu lokasi yang sama berdiri kokoh sangat banyak jalur vertikal untuk air jatuh dengan akselerasi tinggi.

Setelah puas mengabadikan dalam jepretan ponsel, kaki kami bergegas menelesuri rute menuju goa tetes. Satu perjalanan, dua objek wisata didapatkan. Cerita ini baru benar-benar dimulai disini.

Sumber foto: jawapos.com

Sebagai gambaran kondisi terjal yang dihadapi di Coban Sewu



Hutan, jembatan bambu buatan warga, dan susur sungai, adalah menu pembukanya. Uji nyali sesungguhnya adalah saat kami harus menapakkan kaki di bebatuan licin tepat dimana air mengalir. Tebing tinggi disana hanya sebentar mencuri perhatian, selebihnya saya hanya terpengeranga heran. Untuk sepersekian detik saya harap itu hanya sebuah rute cadangan dan adalah opsi lain yang lebih mudah, tapi sama seperti dalam perjuangan mencapai impian kadang jalan yang tak mulus itu adalah pilihan tunggal. Dengan kaki yang tak terlalu piawai satu persatu batu saya lewati hingga posisi semakin tinggi. Di setiap trek curam tersedia tali karet berwarna hitam pekat untuk membantu pengunjung berpegangan. Dengan jersey barcelona, celana jeans panjang warna hitam pudar, tas ransel kucel, dan sandal jepit kegedean, saya memaksa diri untuk tidak terlalu merepotkan ketiga teman saya. Air keringat bercampur dengan tetes air alam, mereka membawa pergi sedikit sisi manja saya, namun tetap dibumbui rasa takut yang khas.

Setelah ada di lokasi yang landai, tiga teman saya bersantai menikmati rokok mereka. Saat itu saya menoleh kembali ke susunan batu bersudut lebih lancip dari 45 derajat yang awalnya saya sinonimkan dengan kemustahilan. Jika dipikir, saya samasekali bukan penakut terhadap hal-hal seperti itu. Katakanlah wahana penguji adrenalin, hampir semua siap saya sambut. Tapi dibebatuan itu keberanian saya sempat menguap. Selagi teman saya masih asik dengan tembakau gulungnya, saya menemukan alasan sederhana: kepercayaan. Ketika saya naik wahana permainan pengadu adrenalin kebanyakan saya menikmati tanpa rasa takut sebab saya tahu persis sekaligus percaya bahwa setiap alat telah diperhitungkan oleh kaum ahli dan telah teruji aman. Di Coban Sewu, kedamaian itu absen sebab menyadari bahwa tali karet yang tersediapun tak terjamin, tidak ada yang tahu siapa yang membuatnya dan saya tidak cukup yakin apakan itu kuat untuk dijadikan pegangan.

Kepercayaan adalah faktor penting.

Dari perjalanan super mendadak hari itu, saya memahami makna dari sebuah quote terkenal "bird sitting on a tree is not afraid of the branch breaking, because its trust is not on the branch but on its wings." Menyelesaikan trek itu adalah simbolis bahwa saya mampu menaruh kepercayaan pada tapak kaki saya sendiri bukan pada seutas tali karet tersebut.

Rute yang sulit ditambah sumber daya yang meragukan, kadang kita jumpai dalam hidup ini. Di saat seperti itulah kita sedang diuji, siapakah yang sedang kita andalkan? Sesuatu di luar kita yang serba tidak pasti atau justru kekuatan yang diam-diam terkumpul dalam diri kita sendiri.

Setelah mengambil durasi merenung singkat, energi saya kembali terkumpul untuk meneruskan perjalanan pulang. Dengan paha penuh asam laktat, saya sempatkan menunduk lalu berbangga akan sepasang telapak kaki mungil ukuran 36 yang telah bekerja keras itu dan membuktikan bahwa saya tak salah telah percaya pada mereka. Saya berjanji akan memanjakan mereka dengan air panas sesampainya di rumah, saya tahu mereka membutuhkan itu :')
Pernah mendengar istilah headskin? Sebuah teknik mencukur yang dipangkas habis dan menyisakan sekitar setengah sentimeter rambut di atas kulit kepala. Bagi kaum adam hal ini lumrah dilakukan. Seiring jaman, beberapa perempuan terinspirasi memberikan sentuhan serupa di kepalanya. Entah sejak kapan, saya mendambakan hal serupa dan akhirnya terwujud! But the purpose of this post is not for brag my new haircut by the way.

Sepulang dari tempat yang konon hanya dicintai kaum hawa tersebut (baca: salon) saya hanya bergumam sendiri merasakan lega dan bangga akhirnya bisa 'berdaulat' atas tubuh. Pergulatan gemas ini muncul pasca mengamati bahwa setiap kali saya ingin mimiliki model rambut tertentu ada saja yang memghalangi. Sebelumnya dikarenakan alasan akan mengikuti CPNS lalu kali ini karena akan kembali menjadi guru. Memiliki potongan 'yang sepantasnya' itu adalah jalan terbaik, begitu mungkin singkatnya. Masalahnya siapa yang menjadi hakim atas 'pantas' dan 'tidak' suatu hal?

"Potongan seperti itu dianggap gak sopan" begitu kata cece dan Riyan. Kenyataannya, selain mereka berdua di luar sana masih banyak yang menilai demikian.

"A stereotype is used to catergorize a group of people. People don't understand that type of person, so they put them into classifications ..." (Urban Dictionary)
"A generalization, usually exaggerated or oversimplified and often offensive, that is used to describe or distinguish a group." (Dictionary.reference.com)

Perempuan yang memiliki cat rambut atau potongan ekstrim dianggap sebagai wanita kurang baik. Seseorang dengan tato dianggap berandalan. Lelaki dengan tindik dinilai sebagai preman. Itulah yang ada di masyarakat. Bukan hanya soal fisik, ini kadang juga tentang selera musik, masih berkeliaran orang yang mengganggap bahwa pecinta heavy metal merupakan segerombolan bandit ataupun orang yang hobi melakukan aksi vandalisme. Ataupun gaya berpakaian, yang melahirkan stereotype bahwa lelaki yang menggunakan warna pink adalah kaum 'gay'. People tend to give a label, this fact has proven many times in our daily life.




Di agamaku diajarkan 'Tubuhmu adalah Bait Allah. Janganlah merusak bait Allah', sejujurnya ayat populer ini kadang digunakan semena-mena bagi orang dengan adat ketimuran yang kental untuk mengharamkan tato dan beberapa hal lain yang dianggap tidak lazim. Ijinkan saya membagi pandangan bahwa perusakan tubuh sebenarnya adalah justru saat kita enggan membudayakan hidup sehat. Rokok adalah salah satu hal yang menurut saya memang layak untuk dilarang. Sedangkan tato, itu merupakan sebuah seni yang tidak menyakiti tubuh secara berkepanjangan. Orang Kristen yang mengerti kutipan ayat diatas anehnya justru menganggap biasa perokok namun memandang sebelah mata pemakai tato ataupun tindik.

Lalu pernah satu kali teman saya membagikan cerita bagaimana seseorang di gereja kami menolak musik rock untuk masuk di musik pemuda gerejawi. Alasannya? Ketakutan bahwa akan ada biusan hal negatif yang dibawa musik tersebut di kehidupan rohani. Saya hanya geli dengan pandangan itu. Sebagai seorang Kristen Protestan yang sangat mencintai cara ibadah dengan keteraturan, saya masih selalu merinding ketika -dengan sopan- aliran musik semacam itu digunakan untuk memuji Tuhan. Rasa takjub yang sama adalah saat menyaksikan seorang dengan penampilan ekstrim tertib mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli. Seraya berdecak "semua selera, suku bangsa, dan segala faktor pembeda manusia tidak dapat menghalangi kita bersama menyembah Pencipta."

I love pixie cut, headskin, assymetric style. And I do adoring tattoo so bad. So you will say that I'm a bad Christian? Of course no. Yang akan membuat saya menjadi Seorang Kristen yang buruk adalah saat saya menyanyikan dosa dan berdansa dengan kesombongan. Saat saya makan kemunafikan dan tidur dengan kebebalan.
I'm not good at make up and I'm pretty bad with hair-do stuffs. But again, these reasons will never make me a woman anyless. Yang membuat saya menjadi wanita sepenuhnya adalah kemampuan saya untuk TUNDUK, pada Allah dan nantinya pada suami saya. Menjadi wanita seutuhnya adalah tentang saya menjalankan peran 'penolong sepadan' bagi pasangan saya.

Menjadi orang sopan, beragama, berbudaya, seharusnya tidak didasarkan pada perkara-perkara yang lekat dengan selera. Hal demikian merupakan atribut manifestasi sisi subjektif yang begitu beragam. Justifikasi sebenarnya adalah tentang tindakan dan kebiasaan, sesuatu yang lebih cocok untuk disejajarkan dengan penilaian objektif. Adat ketimuran harus dijunjung, saya tidak sedikitpun memperdebatkannya. Tentang sopan santun tindak dan tutur, mari berbangga dengan tetap menjadi 'old-style' dan bukan manusia sok modern yang lupa budaya luhur bangsanya. Tapi soal selera, tolong jadilah masyarakat yang dewasa! Berhentilah memberi label.


Untuk selera, harus ada kebebasan
Untuk yang prinsipal, harus ada kesamaan
Dan untuk semuanya, perlu ada kasih!

"Karena manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir" -Pengkhotbah.

Salah satu momen yang istimewa di hidup manusia adalah saat kita diperbolehkan menjadi saksi atas realisasi sabda-Nya. Kita berdecak "ah bener ya ayat di firman itu." Setidaknya itu berlaku untuk saya. Kita bukan hanya membaca namun menyaksikan dan mengalami. Adakah yang lebih indah? Kali ini saya ditampar oleh fakta betapa kerdil diri ini untuk memahami apa yang sebenarnya sedang sibuk Dia kerjakan.

Selasa yang tidak mengandung angka cantik menghantarkan pada dua kejutan. Semuanya seirama berkolaborasi menambah kekaguman baru tentang bagaimana Tuhan berkarya di pribadi seseorang.

Tulisan blog saya tentang "malu menjadi guru" adalah tulisan paling banyak di-reshare selain tulisan tentang Riyan. Secara acak, link itu disambangi oleh seorang kenalan yang saya temui di sesi Focus Group Discussion untuk rekrutmen sebuah NGO besar. Dia bertutur tentang kesannya terhadap tulisan saya yang (Puji Tuhan) membuatnya memiliki sebuah perspektif baru. Nyatanya, komentar singkatnya juga membawa saya pada pemahaman baru yang berharga.

Dia menceritakan betapa dia kaget akan kabar penerimaan karena pada dasarnya dia hanya 'mencoba'. Jika ditanya apa yang sangat dia inginkan, maka jawabannya adalah menjadi guru mengingat dia juga dari jurusan yang sangat cocok untuk berkiprah di dunia pendidikan. Namun setelah mencoba di berbagai institusi sekolah, asanya selalu terhalang. Sampai akhirnya dia diterima di NGO ini. Sepenuhnya berkebalikan dari saya yang sangat menginginkan NGO ini namun berujung pada penolakan dan memberi jeda untuk meneguhkan bahwa saya harus kembali berkarya menjadi guru. 

Dari baris kalimat di kolom komentar itu, saya memahami betapa rencana Tuhan atas setiap pribadi begitu mengejutkan sekaligus unik. Dia membawa anak-Nya dengan segala cara menuju tempat dimana seharusnya dia berada. Kegagalan kadang pertanda kita harus berusaha lebih keras tapi tak jarang itu sinonim dengan bahasa 'tidak' dari Allah. Bukan karena Dia jahat, murni karena Dia telah menyiapkan yang PALING SESUAI. Tidak berarti yang paling nyaman, tidak selalu yang paling menggairahkan, tapi PASTI yang paling sesuai.




Kedua, saya diingatkan bahwa apa yang kita miliki bahkan walau terlihat sangat remeh, kadang adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang lain di luar sana. Tidak ada alasan kita tidak bersyukur. Sungguh. 

Ketiga, kebetulan dia sampai ke blog kumuh ini, sederhana membuat saya semakin yakin tidak ada yang kebetulan. Setiap hal bisa Dia gunakan untuk menjadi sarana penjelasan bagi orang lain semakin memahami karakter Agung nan berdaulat-Nya.

Bukan saja perkara komen 'nyasar', Selasa kali ini menjadi semakin melekat di hati sekaligus membekaskan seutas senyum adalah karena sebuah kabar bahwa saya diterima menjadi peserta salah satu kegiatan Pemerintah untuk menghidupkan semangat kemaritiman. Sebuah kegiatan bernama 'Ekspedisi Nusantara Jaya' akan mengisi bulan Juni saya. Berlayar di secuplik laut megah Indonesia lalu diselingi dengan bersandar singgah ke pulau-pulau kecil untuk membantu masyarakat disana. Kalian tahu apa artinya ini bagi saya? 

Pertama, mengikuti program pelayaran sudah saya coba sejak 2013 namun terhalang ijin cuti. Jadi jelas, ini satu lagi poin dimana mimpi saya terkonversi menjadi kenyataan. Tidak mungkin bahagia absen dari hati ini.

Kedua, makna besar kegiatan ini bagi saya personal adalah titik temu dua keinginan besar yang gagal saya dapatkan. Antara bergabung NGO dan (C)PNS. Kerinduan saya untuk 'membantu' masyarakat di luar pulau Jawa yang sesak ini saya kira hanya dapat saya lakukan lewat NGO namun ternyata asumsi saya keliru. Ada hal yang sepenuhnya berbeda dari yang saya bayangkan yang bisa membuat saya men-check salah satu poin dari daftar keinginan. Sisi lainnya adalah fakta bahwa kegiatan ini benar-benar adalah agenda pemerintah. Kabar kembali menjadi guru PKN menyisakan satu pertanyaan, bagaimana mungkin saya mengajarkan tentang Indonesia tanpa pernah benar-benar berkecimpung atau mencicipi kegiatan yang memang digarap oleh pemerintah. Ternyata, rasa heran itu ditaklukan dengan kesempatan emas ini. Lagi-lagi manusia hanya jago menerka. 

Saya akan mengikuti salah satu kegiatan dari pemerintah yang melibatkan sangat banyak kementerian plus diperbolehkan menjadi 'berguna' untuk mereka yang sering terlupa. Oke, ini menjadi akhir kisah paling sempurna yang membuktikan bahwa kita boleh memiliki kerinduan namun jangan sekali-kali menyetir Dia untuk cara penggenapan kerinduan itu!

Akhirnya dengan sejuk hati penuh kagum saya dapat meminjam sepenggal paragraf favorit yang saya temukan dari buku Almost Heaven:
"I have been given this assignment by Him, the One who knows the end from the beginning, the One who holds the future in His nail-scarred hands and so I will gladly fulfill my role. Of course, it didn’t work out according my plan. LIFE GENERALLY DOESN'T. God had a totally different plan. I don’t know. I don't think I'll ever know. And part of me doesn’t even want to know. I just wanted this to be something that could only be explained by God’s intervention."

Maret 2012. Pertemuan ITS dan Unair
Pertemuan perdana kami terjadi di Jombang, di rumah seorang dokter lulusan Unair yang juga aktif di persekutuan (dr. Leo Suisan). Waktu itu momennya adalah saling mengenalkan pengurus pusat persekutuan Unair dan ITS. Kami semobil di perjalanan pulang ke Surabaya, teman-teman kami entah dengan alasan apa terus menggoda dan menjodohkan kami berdua. Hal itu berlalu tanpa suara selain hanya perkenalan di sosial media. Berbulan-bulan kami menjadi hanya sekedar mengenal tanpa menjadi teman. (RY & cte)


September 2012. Ulang tahun
Di awal bulan aku dengan patuh nan lugu menuruti perintah seorang teman ITS (Beethoven) untuk mengucapkan selamat ulang tahun personal ke Riyan. Dia bahkan mengirimkan nomor Riyan lewat direct message twitter. Sms ucapanpun terkirim dan sejak saat itu kami terus saling bercakap lewat sms. Akulah yang memulai keakraban ini, sebuah sms yang tidak pernah aku sesali. (cte)
---
Di siang hari tepat di hari ulang tahunku, sebuah sms muncul dari nomor yang tidak tercatat di buku telepon. Seperti banyak sms lain, itu berisi ucapan selamat ulang tahun sambil ditambah kalimat doa singkat. Dengan penasaran aku membalas hormat berterimakasih sambil bertanya memastikan siapakah gerangan di balik nomor itu. Ternyata dia adalah Adiss anak Unair, seorang kenalan yang aku temui di Jombang beberapa bulan lalu. Terkaget juga dari mana dia mendapatkan nomorku, namun enggan lebih lanjut bertanya karena yang jelas saat itu aku sedikit berbesar hati karena dia muncul di hari pertama usia 22 tahunku. (RY)


Oktober 2012. Goodbye Papa
Papaku meninggal. Di saat itu aku melihat Riyan menjadi sosok yang meluangkan waktu untuk menghiburku. Masa kelam adalah penguji ampuh tentang kualitas seorang rekan. Riyan mendapatkan poin tambah kala itu. (cte)


Desember 2012. Natal pertama Kami
Setelah keakraban yang cukup, muncul sebuah rasa ingin mengenal adiss lebih lagi. Malam itu aku mantab untuk menyatakannya, walau memang masih bercampur rasa malu serta bingung menyusun percakapan. Adiss adalah seorang perempuan yang aku kira dapat menjadi penolong yang sepadan untukku. Hari itu aku bertekad jujur tanpa perlu terburu memulai hubungan. Bagiku, membiarkan perempuan tahu perasaanku akan membantuku menentukan sikap-sikapku ke depan sekaligus membuktikan bahwa aku seorang laki-laki yang dimandatkan menjadi inisiator dalam hubungan. Akhirnya dengan begitu jujur di sela obrolan aku mengakui ketertarikanku padanya. Malam itu aku sangat senang melihat responnya yang berterimakasih dengan tulus atas perasaan, keberanian, dan kejujuran dariku. Aku merasa memilih wanita yang tepat saat dia mengajakku menutup malam itu dengan tunduk doa bersama. Dengan jujur dia mengakui bahwa dia heran kenapa aku tertarik dalam selang waktu hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi. Terburu, mungkin itu kesannya terhadapku. (RY)
---
Terkejut adalah perasaan pertamaku, lalu disusul dengan rasa tersanjung membaca pengakuan darinya. Laki-laki yang sangat lugu, dia bahkan kebingungan sendiri menata kalimatnya. Mengingat itu membuatku tersenyum geli saat ini. Bagaimanapun itu terjadi hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi, bagiku ini sangat terburu. Namun aku belajar menghargai keberanian semacam itu dan menyerahkan ke Sutradara hidup. Toh waktu juga akan membuktikan dan memurnikan. (cte)


Januari 2013.
Masih teringat jelas aku seperti orang bodoh dengan langkah mondar mandir lalu naik-turun tangga di rumahku, hanya untuk memantabkan hati dan menata kalimat di telepon perdanaku itu. Setelah niat yang kembang kempis, aku putuskan menelepon. Setidaknya aku dapat melepasnya sebelum pergi ke negeri orang selama satu bulan. (RY)


Maret 2013.
Ini bulan dimana aku mulai meragukan Riyan. Aku melihat bahwa perasaannya (mungkin) sudah pergi begitu saja. Dia disibukan dengan wisuda dan mencari kerja. Bahkan oleh-olehku dari Thailand yang aku harap membuatnya berinisiatif menemuiku tatap muka, hanya terbentur dengan kecuekannya. Menyebalkan! (cte)


April-Mei 2013. Hilang Kontak
Rasaku masih sama, tapi adiss tidak ada suara. (RY)
Dia berkata suka, tapi kini hilang begitu saja. Apa maksudnya? (cte)


Juli 2013. Thanks to facebook
Ulang tahunnya adalah momen kami kembali bercengkrama. Aku menyiapkan satu kejutan kecil untuk adiss di hari istimewanya itu, Satu-satunya jalan adalah mengirimkan lewat Facebook. Rasa senangnya tidak dia tutupi sama sekali, padahal pemberianku sangatlah sederhana. Menggembirakan juga merasa berhasil menunjukkan keistimewaan khusus padanya. Tidak lupa aku menanyakan nomornya lewat jendela chat facebook dan menjelaskan kenapa aku sempat menghilang. Melawan gengsi, aku mengakui di dua bulan itu aku mencarinya. (RY)
---
Dia melakukan hal simple di ulang tahunku dan membuatku terpesona. Mulai saat itu kami kembali intens berkomunikasi dan terungkap bahwa dia menghilang karena telepon genggamnya sudah tutup usia dan nomorku turut lenyap. Senyum lebar terutas karena tahu ternyata dia mencariku juga. Aaaaahh (cte)


Desember 2013. Natal kedua kami
FINALLY, dia mengajakku keluar. Di liburan Natal, dia pulang kampung ke Surabaya dan menyempatkan bertemu berdua denganku. Ini pertemuan personal kami yang pertama, tepat satu tahun setelah dia mengungkapkan perasaannya. Sebuah tahapan yang pelan namun pasti. Syukur tiada henti aku haturkan. Dari sini aku melihat kualitas pria, dimana tidak melakukan yang terlalu banyak bagi seorang perempuan sebelum memantabkan hatinya sendiri. Tidak membiarkan seorang perempuan salah tafsir akan niatan sang lelaki. Aku tahu dia grogi saat itu, sampai dia meninggalkan jaketnya di kursi restoran saat kami beranjak pergi. Selagi bertemu aku tidak lupa bertanya: “Bagaimana perasaanmu setahun lalu? Masih samakah?” (cte)
---
Sore itu aku sempat nyasar saat menjemputnya. Dia datang dengan membawa helm keroppi di tangan. “Anak ini benar-benar penyuka kodok hijau rupanya,” begitu bisikku dalam angan yang segera terpecahkan dengan sapaan “halo Riyan” darinya. Kami bersalaman, seakan baru kenal. Gadis berbalut pakaian hitam itu menunjukkan grogi yang tidak biasa. Menggelikan juga jika mengingat dia salah tingkah terhadap sebuah cherry merah di gelas minumannya. Di sela mengunyah makanan Italia dan di hadapan gadis yang aku doakan selama satu tahun itu, aku semakin memantabkan hati. Aku meminta ijin untuk menjalin komunikasi lebih intens dengannya, yaitu beralih dari komunikasi teks menuju ke telepon. Lalu aku tidak lupa menjawab pertanyaan lembutnya, dengan senyum aku menanggapi “iya, perasaanku setahun lalu itu masih sama.” (RY)


17 April 2014. Hari Eksekusi
Aku berkutat berhari-hari dengan sebuah buku pop-art. Kurang kece bagiku untuk menyatakan rasa tanpa menunjukkan usaha ekstra. Di tengah kesibukan aku belajar membuat pop-art 3D dan aku harap dapat menjadi peluru jitu mencuri kata IYA darinya. Dengan senyum berpadu nervous aku menyusun halaman per halaman. Buku itu bersampul gambar planet bumi, tempat kami bertemu (begitu pula milyaran pasangan lain. Haha) Kian hari kemantaban bertambah. Kualitasnya sebagai wanita yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti mencari yang lain. Sudah waktunya aku memulai menjalin hubungan. Jika diterima, maka saat ibadah Jumat Agung keesokan harinya, aku sudah dapat menyebutnya sebagai kekasih di hadapan Tuhanku di gereja. Oke, ini hari yang tepat! Skenario yang sempurna! (RY)
---
Nonton dan makan, aku kira hanya itu isi hari Kamis malam kami setahun lalu. Tidak disangka, dia yang saat itu berkaos biru dengan raut aneh mengumpulkan keberanian untuk menunjukkan sebuah buku. Dia memberiku waktu membaca. Disana tertulis tentang kasih, tantangan, altar gereja, dan sebuah rumah. Tanpa banyak bicara, dia menanyakan kesediaanku menjadi pasangannya. Sejujurnya aku berharap akan ditembak keesokan harinya, tepat setelah ibadah Jumat Agung selesai. Bangku gereja merupakan satu tempat idaman aku memulai sebuah hubungan. Laki-lakiku punya rencana yang berbeda mungkin. Kualitasnya sebagai laki-laki yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti menunggu yang lain. Buku astronot (begitu kami menamainya) itu siaga mengetuk kemantabanku. Jerih lelahnya terbayar dengan anggukan kepala penuh senyuman. Kami mulai pacaran! Yeaaay. (cte)


18 April 2014 (Jumat Agung). Doa
Bisikku adalah: “Terimakasih telah mati bagiku. Dan terimakasih atas orang disampingku yang kini adalah pasanganku. Tolong jagai kami, Tuhan. Ajari kami kasih-Mu” (RY & cte)





Judul diatas bukanlah sebuah majas melainkan tema harafiah. Belakangan ini saya sedang gandrung dengan tren masa kini: LARI. Pacar saya sudah mengingatkan untuk saya mencoba aktivitas yang katanya asyik ini sejak lama, tapi saya terlalu enggan dan lebih berminat dengan jenis olahraga lain. Setiap kali melihat di sosial media beberapa orang berkomentar "lari itu bikin nagih", saya hanya mengangkat satu alis tanda ragu dan heran.

Sampai suatu siang di sebuah laboratorium kesehatan, sosok bapak dengan jas putih dan pembawaan yang kalem memeriksa denyut nadi dan detak jantung saya. Ragu dan heran saya melebur menjadi tekad.

"Jantungnya santai ya mbak. Beda sama orangnya yang sangat bersemangat." begitu kalimat pertamanya sembari masih memegang stetoskop di tangan.
oh gitu ya dok?
"Iya mbak. Jantung dan sisi sanguinnya gak sinkron ini."
Dia menambah kalimat yang membuat saya meraba, dia ini dokter atau psikolog ya?

Nasihat berulang-ulang dari Riyan terkalahkan dengan satu komentar seimbang antara miris dan humoris dari Dokter tersebut. Setelah prosesi pemeriksaan umum selesai, dia menyarankan saya mencoba olahraga lari. Alasannya sederhana karena olahraga itu memang sangat baik menjaga konsistensi tempo detak jantung.

Oke, saya akan biasakan lari. Itu tekad saya sepulang dari laboratorium kesehatan. Hal tersebut terlaksana setidaknya seminggu penuh ini. Selagi di desa dengan kesejukan dan suara alam yang indah, saya bangun lebih pagi untuk mengekspresikan saya menyayangi sang organ pemompa darah.

Setelah lari sekitar 15 menit, saya letakkan telapak tangan di dada hanya untuk merasakan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. Menyenangkan! dag-dig-dug kencang pasca lari mengingatkan saya tentang panas-dingin kala jatuh cinta. Merasakan dengan telapak tangan bagaimana jantung ini lebih bergairah memompa darah menyulut semangat saya juga. Perasaan unik ini sangat menyenangkan. Dan somehow, ini yang membuat saya ketagihan.


Kapanpun kita ingin menyerah atau sedang jenuh, sepertinya lari adalah solusi ampuh! Bukan lari dari kenyataan yang justru tidak membawa hikmah apa-apa, tapi justru lari keluar rumah dan menggerakkan kaki lebih lincah, lalu menikmati fakta ada organ tubuh kita yang begitu bergairah mempertahankan hidupnya.

Lari seminggu ini, bagi saya pribadi, bukan saja latihan fisik namun juga peneduh psikologis. Dia bertransformasi menjadi salah satu pengingat jitu untuk saya lebih menghargai hidup dari hal sederhana, seperti hembusan nafas, detak jantung, udara pagi, dan segarnya air putih :)

Lagi-lagi, ini perasaan yang menyenangkan!
"Sayang idungku mancung ya"
Ah kata sapa. Gak mancung lah itu.
"Hmmm aku lagi PMS lho"
Ohiya sayang, mancung banget idungmu. Aku mah pesek, kalah jauh.

Tawapun pecah di sela-sela kegiatan facetime kami saat pagi dan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul rapi. Dengan alasan Premenstrual Syndrom (PMS), saya berhasil memenangkan percakapan. *devil smirk*

Satu bulan sekali, peristiwa peluruhan dinding rahim yang tidak dibuahi membawa efek tersendiri baik dari segi fisik ataupun psikologis. Pengaruh hormonal ini membuat perempuan sulit menjauh dari moody yang luar biasa, hal serupa terjadi pada saya. Rutinitas ini membuat Riyan menjadi jauh lebih waspada. Dia bahkan mengingat jadwal bulanan saya, alih-alih peduli sebenarnya hanya untuk menjaga diri kapan harus membanyak stok sabar. Masa sebulan sekali ini adalah masa PMS namun dengan kepanjangan yang berbeda: Pria Mengalah Sekali.




Seperti normalnya hubungan, perempuanlah yang harus menjadi pihak lebih lembut. Saya pun berusaha demikian. Riyan kerap memuji saya karena hampir selalu berhasil tetap kalem saat kemarahannya sudah memuncak. Bahkan pernah di tengah emosinya, tanpa banyak bicara saya mendekap dan mengelus dadanya, sambil berkata "sudah sayang, sudah" dia mengakui itu sangat menentramkan. Saya bukanlah orang yang pro bahwa perempuan adalah makhluk yang selalu ingin merasa benar. Perasaan tidak ingin disalahkan ada di laki-laki dan perempuan. Bagi saya justru sudah sewajarnya perempuan menjadi pihak yang mengalah, itu tidak lain karena naluri alami kelembutan kaum hawa.

Walau demikian ada beberapa hari dalam sebulan saya gantian yang menikmati kelembutan sekaligus kekocakan pria tersayang saya. Entahlah kenapa bagi saya pengaruh hormonal sebulan sekali ini benar-benar signifikan berdampak pada mood. Uring-uringan sangat terasa tanpa kuasa untuk melawan. Sejujurnya ini bukan sebagai alasan untuk manja dan ingin selalu benar, tapi kenyataannya ini alami secara biologis terjadi.

"Menurutmu aku manis banget pas makin lama pacaran ato justru di awal pacaran?" Tanya saya serius dengan berharap jawaban manis mesra.
"Kamu manis banget saat sebelum PMS dan setelah masa 'dapet' berakhir." Jawabnya lugas tanpa ragu.
Sayapun hanya tertawa melihat bagaimana pria saya ini begitu humorisnya menanggapi perkara sindrom pra-menstruasi. 

Masa 'Pria Mengalah Sekali' sedang saya nikmati hari-hari ini. Menyenangkan ada di hubungan di mana saya tahu tidak selamanya saya sebagai perempuan yang harus berlaku lembut dan sungguh bersyukur memiliki pria yang juga bisa menjadikan masa moody ini menjadi lebih ceria. Belum lagi senandung lembut suaranya setiap kali dilep menyerang malam sebelum tidur.

Teman saya pernah berucap kesan bahwa saya dan Riyan seperti air dan air, sama-sama lunak dan mudah mengalah. Lagi-lagi ini tentang penyesuaian diri. Sebuah adaptasi penuh kasih. Sebuah rahasia sederhana hubungan yang menyenangkan. Sebuah alasan tetap happy saat punggung terasa nyeri sekali :')


kadang saat kamu sudah benar-benar lelah, Tuhan merayu dengan mengabulkan harapan yang hanya kamu bisikan atau menyelipkan semangat lewat pujian sekitar :)



Seharusnya tulisan tentang ini sudah terpampang disini sebelum tahun berganti. Ketika sepi kabar baik, dua hidangan penutup tahun 2014 adalah kabar saya memenangkan lomba menulis cerita travelling inspiratif dari Kompas dan kabar menjadi kontributor Love Journey. Dimulai dari meneliti jejak karir senior jurusan saya, Mas Lalu Abdul Fatah yang memang serius berkecimpung dalam dunia menulis, sayapun tergoda melakukan strategi yang tidak jauh berbeda (walaupun sepertinya dalam kadar yang masih terlampau tak sama). Bermula dari kesetiaan mengikuti lomba-lomba lalu menjadi kontributor, menerbitkan buku sendiri, lalu berkarir di dunia literatur. Terbersit keinginan serupa untuk menerbitkan buku. Itu pendeknya. Sama seperti pegiat mimpi lain -tidak bisa disangkal- ada kalanya memang kita merasa impian kita terlalu muluk dan ada saatnya kita bahkan mempertanyakan bijaksanakah pilihan untuk ngotot terhadap satu intuisi. Di tengah saya mengalami itu, Tuhan yang Maha Asik memperlihatkan restuNya lewat satu prestasi kecil ini. Dia selalu layak terhadap prasangka baik kita.

Soal antologi, sebenarnya ini yang kedua. Tulisan pertama saya yang terabadikan dalam buku adalah lewat buku Share His Glory, yang diterbitkan oleh Gereja. Walaupun memang berlabel "untuk kalangan sendiri" tapi setidaknya saya tahu ada beberapa orang yang tidak saya kenal yang sudah membaca kisah saya dan berharap mereka terberkati olehnya.




Keinginan saya tiba-tiba bertutur tentang ini disponsori rasa bahagia yang memuncak satu pekan penuh yang lalu. Tautan menuju salah satu tulisan saya berkeliaran di sosial media dan memancing ratusan pengunjung di blog usang ini. BEYOND EXPECTATION. Berbagai kawan bahkan menghampiri dengan genggaman apresiasi. Sungguh itu bermakna besar, belum pula kenyataan melihat ucapan terimakasih karena tulisan saya tersebut telah menyadarkan sesuatu. Sepertinya itulah keindahan membagi tulisan. Sebuah hobi yang hampir saya kubur mati. Satu teman bahkan datang dan dengan tulus berkata "terima kasih karena sudah menulis ya dis." Bagi saya, baik prestasi menulis ataupun apresiasi pembaca adalah cara Pencipta merayu saya untuk tetap menari dalam kata.

Entah kapan dan entah apa bisa saya merealisasikan mimpi menerbitkan buku, masih tanda tanya. Pencipta hanya merayu dengan tanda seru: " tetaplah menulis!"





Just like the picture said: no relationship is easy. It needs hard work indeed. This story is about how imperfect person like me and almost perfect person like Riyan keep stay. We stayed.


Rahasia 1: kasih dan kesepakatan
Riyan: "kita ini sebelum jadian bilang saling suka karakter masing-masing. Setelah jadian, baru terungkap semua. Yang bikin bertahan cuma sayang dan niat"
Dimulai dari kasih lalu dilanjutkan dengan niat. Rahasia sembilan bulan kami, sesederhana itu.

Kata Morrie di tulisan Mitch Albom, pernikahan akan mengalami banyak masalah jika tidak sepakat pada serangkaian nilai penting yang sama. Begitu pula pacaran, dua manusia perlu menyepakati hal-hal penting dalam hubungan. Misalkan tentang kejujuran, tentang prioritas pembagian waktu, tentang attitude saat berdebat (tidak kasar, tidak menutup telpon, dll) juga banyak hal lain. Kita tidak sedang mencari partner yang sempurna, justru sedang mengusahakan kesepakatan sepanjang usia dengan sesama manusia yang lemah.
"Lalu pertanyaannya, apa nilai yang paling penting?" tanya Mitch Albom
"Nilai tentang berharganya hubungan kalian" Jawab Morrie sang bijak.
Percuma ada cinta menggebu jika hanya satu orang yang menilai berharga sebuah hubungan. Ini mutlak: DIBUTUHKAN DUA ORANG yang sama-sama meyakini harga relasi kasih yang mereka miliki.


Rahasia 2: Kerja keras
Ketika aku dan Riyan memulai hubungan ini, bahkan setelah proses saling mengenal yang tergolong lama, kamipun masih dikejutkan dengan berbagai karakter satu sama lain. Riyan harus terkaget dengan ke-moody-an ku dan akupun harus terbebelalak dengan sisi koleris Riyan yang dominan. Satu dan disusul berbagai kejutan lainnya selama sembilan bulan hubungan ini. Pengenalan ini tak akan berakhir walaupun kami berdua sudah beranak-pinak memenuhi bumi.

Di sela satu per satu karakter yang terungkap, sepasang kekasih akan diperhadapkan pada beberapa kekaguman bernada "astaga I found my other half" yaitu melihat berbagai perbedaan yang saling melengkapi. Tapi potensi ketidakcocokan juga muncul. Ketidakdewasaan akan berkata bahwa itu alasan berpisah, tapi kasih yang menuju pernikahan kudus paham bahwa perasaan cocok adalah alasan bertahan dan ketidakcocokan adalah ruang untuk berproses. Lagi-lagi, Sesederhana itu.

Kerja keras pertama dalam hubungan adalah mindset atau hikmat yang memastikan bahwa 'The One' is could be from anyone. But the "Real One" is someone who makes you said "yes". Tanpa mindset ini, silahkan keluar masuk hubungan mencari kesempurnaan yang PASTI melelahkan. Saat Riyan menembakku dengan peluru berwujud buku pop-art yang sangat indah, dia tidak menuliskan disana untuk aku menjadi pacarnya. Dia justru memintaku menjadi partner mengucap janji setia di altar gereja dan menghabiskan waktu bersama anak-anak di sebuah rumah. Dia dan aku tidak sedang mencoba-coba "apakah kami cocok?" percobaan itu sudah berjalan satu tahun empat bulan sebelum malam penuh grogi dia memintaku menjadi kekasih.

Rahasia 3: Kerja keras
Di antara tumpukan kagum atau sinis orang sekitar, kami bertahan. Pertahanan ini bukan tanpa sayatan. Entah berapa kali maaf harus saling termohonkan. Usia penuh ego tak bisa diingkari membuat perdebatan makin runyam. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu cemburu.
"Manusia menajamkan manusia"
Kerap aku mengingatkan ini baik ke Riyan atau diri sendiri ketika kami mulai geram dengan rasa sakit baik akibat kesalahan atau teguran. Persis malam ini saat aku memimpin kami berdua berdoa, terucap kalimat:
"Tuhan,
berikan kami kelembutan saat meresponi kesalahan.
Kerendahan hati untuk mengakui salah.
Kebesaran hati untuk mengampuni"

Ketika dua orang bersama, pasti mereka akan saling menyakiti. Sengaja ataupun tidak. Karena itulah, kerja keras kedua adalah: sikap terhadap kesalahan.
Suatu malam setelah bertengkar parah dan Riyan merasa sangat lelah, aku bertanya "Riyan masih punya stok maaf buat adiss?" lalu dia dengan nada belum sepenuhnya pulih ceria menjawab: "iya tinggal sedikit"
Dari situ aku menyadari, stok maaf yang berharga itu terus berkurang seiring kesalahan. Tapi bagi mereka yang sungguh saling mengasihi dan berniat seumur hidup bersama, stok itu tidak boleh dan tidak akan pernah habis. Selalu ada keceriaan baru yang membuat stok itu secara otomatis nan ajaib bertambah. Akan ada memori indah yang memampukan seseorang berinisiatif menambah lagi tumpukan pengampunan tersebut. dan tenang, Sang Sumber Stok Maaf itu selalu bermurah pada kita.

Hampir aku beranjak ke point selanjutnya lalu melupakan kenyataan pahit dalam hubungan: Memaafkan yang mengaku salah, itu mudah. Memaafkan yang tidak mengaku salah, itu sulit. Meminta maaf saat salah, itu juga sulit. Tapi meminta maaf ketika merasa tidak salah, itu paling sulit.

Aku tahu, Riyan begitu berjuang di tengah kolerisnya tentang hal ini. Baik meminta maaf ataupun memaafkan. Kadang dia gagal, tapi dia juga pernah berhasil, dan saat itu dia bertransformasi menjadi seseorang yang tidak ingin aku lepaskan hingga uban menjadi kebanggaan. Aku mengaguminya.
Tidak ada kelembutan Riyan dalam hal ini yang membuatku ingin manja mengulangi salah dan memperalatnya. Entah bagaimana kelembutanku di mata Riyan. Satu yang aku tahu, tidak pernah ada kelembutan yang menodai harga diri. Kelembutan pria justru menjadi alasan wanita belajar penundukan dan Kelembutan wanita, adalah alasan seorang pria tetap setia.

Rahasia 4: Kerja keras (peringatan: saya akan menulis banyak disini)
Setiap kali kami membatalkan niat menyerah, satu kalimat yang selalu muncul di otakku adalah: masih ada dua orang yang mau berjuang.

Perjuangan kami bukan hanya tentang berusaha saling bertemu di tengah jarak yang memisah. Lebih jauh dari itu, rutinitas harian kami adalah wujud perjuangan yang nyata. Kadang berupa kreatifitas membuat pasangan senang. Seperti yang kerap aku lakukan, mengirimi Riyan gambar di sela waktu kerjanya, memanfaatkan spontanitas khas sanguin untuk menceriakannya dengan gombalan dan kejutan dengan barang hadiah. Kadang kerja keras juga ditunjukan dengan konsistensi tingkat tinggi ala Riyan. Menelpon minimal satu jam setiap malam, menyapa pagi, dan menyempatkan saling menggoda di jam makan siang. Serta kesiapsiagaan Riyan menawarkan tangan bantuan, itu juga adalah bahasa kasih luar biasa.

Perjuangan juga terwujud dalam kerelaan membatasi kedekatan dengan kawan lawan jenis. Dia hampir tidak pernah membuatku cemburu apalagi curiga. Sayangnya, Riyan harus merelakan hatinya beberapa kali kecewa. Ini adalah satu bab lagi pelajaran ketat yang sudah berhasil kami lalui.

Jadi, kerja keras selanjutnya dapat diringkas dengan: bahasa kasih. Banyak pasangan saling cinta, tapi juga tak sedikit yang kandas karena gagal membahasakan kasih mereka dengan anggapan pasangan telah tahu itu. Ingatlah, kita tidak berpacaran dengan cenayang. Tak masalah bagaimana cara membahasakannya, yang masalah adalah ketika kasih tidak dibahasakan samasekali

Romantisme itu perlu! Tapi bahasa romantis setiap orang juga berbeda. Coba bandingkan antara mbak Angel-mas Adi dan Bintang-Bastian. Completely different style to express love. Soal kreatifitas dia kalah dariku. Begitu sebaliknya, soal ketekunan akupun kalah jauh darinya. Dalam batin aku mengagumi romantisme tingkat tinggi seorang laki-laki yang dilakukan Riyan dengan cakap, yaitu dengan serius memikirkan masa depan. Tentang rumah, kendaraan, jumlah anak, bahkan hewan peliharaan tak sungkan dia diskusikan denganku.

Bahasa kasih, lagi-lagi aku harus katakan, kami memang berbeda dan puji Tuhan, kami telah banyak sekali mengalami kemajuan soal ini. Ah sungguh bukan hal yang mudah awalnya. Aku menuntut dia berbicara bahasa kasih sepertiku, dan dia mengakui dengan gemas berbalut rendah hati bahwa itu terlalu berat baginya. Sampailah aku di satu titik dimana aku menyerah menyetir bahasa kasihnya. Terlalu sulit mengharapkan spontanitas dari seorang koleris sesulit mengharapkan stabilitas dari seorang sanguin. Malam ini, aku dapat tersenyum bangga mengingat betapa kami telah belajar.

Usai pergumulan panjaaaaang soal ini,  aku mendapati satu fakta di satu tengah malam aku terjaga: "jangan mencari perasaan adil. Tapi usahakanlah kasih yang terus memberi" Ketika kita mencari keadilan, kebanyakan kita akan tidak terpuaskan. Antara sombong merasa telah melakukan lebih banyak atau insecured karena melakukan lebih sedikit. Jadi, lebih baik fokuskan pikiran pada "apa yang bisa aku lakukan untuk kekasihku ini?"

Rahasia 5: Kerja keras.
Hampir selalu setiap selesai berdebat aku menuliskan sesuatu di kumpulan note kami. Disana tertumpuk kesimpulan dari setiap masalah, agar kami tak mengulangi kesalahan yang sama atau sekedar mencatat apa yang pasangan kami inginkan. Mulai belakangan ini aku juga memutuskan dan mengajak Riyan untuk berdoa bersama setiap kali kami selesai bertengkar.

Ini rahasia hampir terakhir: komunikasi dan resolusi. Bukan karena ada di urutan belakang, maka ini kurang penting. Nyatanya ini adalah salah satu yang paling esensial: komunikasi vertikal dan horizontal + resolusi vertikal dan horizontal. Pada Tuhan dan pada pasangan. Mengundang campur tangan Tuhan, bukan hanya teori dan iming-iming kemudahan. Bergantung padaNya dalam mengasihi orang lain mutlak dibutuhkan. Belum pernah lepas dari ingatan ketika aku memohon dengan sangat "Tuhan berikan kami kasih mesra" lalu Tuhan secara begitu ajaib memampukan kami mewujudkan kemesraan luar biasa. Juga bagaimana di satu hari kami mendengar khotbah tema yang PERSIS sama di dua jenis gereja di dua kota yang berlainan dari dua tokoh Alkitab yang berbeda. Dua manusia saling jatuh cinta lalu saling berusaha, tapi ada Tangan Tak Terlihat yang senantiasa menjaga dan memelihara di tengah kecerobohan dan keterbatasan.

Komunikasi tidak cukup jika tidak dibarengi dengan rumusan komitmen ke depan. Pun resolusi juga tidak terwujud tanpa komunikasi. Riyan sangat baik dalam menjaga komunikasi, dan keterampilanku bekerja saat menyusun resolusi. Kami berbeda namun saling melengkapi disini.

Rahasia terakhir: Pengharapan dan Ucapan syukur.
Mengucap syukurlah senantiasa dan tetaplah percaya, kata Paulus. Perjuangan menuju pernikahan sangat berat, tapi pengharapan akan keindahan sebuah pernikahan juga menjadi alasan bertahan di setiap pahit manis perjalanan. Kita bekerja keras seumur hidup, kita tangguh bertahan terhadap apa yang kita anggap baik di depan. Itu adalah hal baik jika kita boleh berjerih lelah untuk sesuatu, karena itu tanda kita masih manusia, sebab tak ada perjuangan di dunia orang mati,  ucap sang Bijak Pengkhotbah.
Seperti syukur karena diberikan kesempatan kuliah dan pengharapan akan gelar sarjana akan menjadikan semangat berjuang menyelesaikan skripsi. Begitu pula dengan relasi sejoli manusia.
"beyond blessed and proud to call you mine, Riyan Yonathan" inilah kalimat pembukaku saat kami berdua jadian. Perasaan bangga dan terberkati itu masih sama seperti hari ini, dan menjadi penyemangat aku melakukan segala kerja keras. Aku bersyukur atas yang aku miliki. Aku merasa cukup. Aku (dimampukan) untuk percaya bahwa apa yang akan kami miliki ke depan sungguh indah. Aku sebagai wanita berhenti menanti yang lain dan Riyan sebagai laki-laki berhenti mencari yang lain. Kami bertahan, bukan karena pasangan kami sempurna, bukan karena hubungan ini selalu nyaman, tapi karena kasih, pengharapan, dan pastinya ucapan syukur yang memampukan kami bekerja keras.

Sekian.

Ini rahasia kami, setiap pasangan memiliki rahasianya sendiri. Di antara itu semua masih terlalu banyak wujud kerja keras yang harus diusahakan. Yang jelas kasih adalah investasi besar, kami belajar menumbuhkannya dengan kerja keras.

Sebagai penutup, aku sisipkan to do list kami :) 

1. Berdoa bersama dan terus saling mengasihi
2. Setia melakukan hal-hal sederhana untuk pasangan
3. Bertanya jika ingin tahu
4. Berkata "tidak" dengan hormat, jika tidak sepakat
5. Memuji dengan tulus
6. Menegur dengan rendah hati
7. Meminta maaf dan mengampuni
8. Mendengar tanpa menghakimi
9. Bercerita dengan apa adanya

Sungguh kami tidak sempurna melakukan ini semua. Kami hanya berusaha menjadi dua kawan baik yang saling bekerjasama. Menjadi partner yang saling mendukung di suka duka. Baik air mata tawa, air mata pergumulan, dan air mata luka, sudah mengairi baris doa kami. Di ribuan hari bersama ke depan (jika Tuhan menghendaki) akan muncul masalah baru dan tantangan baru, tapi juga akan ada kekuatan baru!
kami tidak pernah sendirian berjuang, itulah rahasia terbesar.