Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

“Semua orang memiliki mimpi”
Hmmm sebentar.. mungkin tepatnya begini: “semua orang boleh bermimpi”

atau versi saya: "semua orang butuh bermimpi"
Terlepas dari yang beda pendapat dan antipati, saya sepakat pada banyak motivator yang telah menekankan arti penting impian. Sudah gratis, memberi tujuan hidup pula. Kira-kira begitu. Tak mau kalah, sayapun punya. Salah satunya adalah soal pernikahan. Bukan tentang kemewahan tapi beberapa konsep yang terlanjur mendarah-daging dalam angan.

www.greenweddingshoes.com


Sore ini saya dan Riyan menghabiskan waktu melimpah membicarakan banyak hal. Di tengah obrolan itu Riyan bertanya:
“sayang.. gimana kalau dream wedding-mu tidak tercapai?”

Saya menghela nafas.
Saya diam.
Saya mengambil jeda.

Ada beberapa jenis pertanyaan yang menuntut keseriusan ganda, karena mengharuskan memberi jawab sekaligus menguji diri sendiri. Pertanyaan ini, salah satunya.
Impian soal pernikahan dan seabreg impian lain seakan menjadi kebutuhan bagi saya. Bukan karena sebuah kegagalan –atau ketakutan terhadap hal itu- saya akan membatalkan impian. Belum pernah, dan semoga tidak perlu. Bagi saya impian adalah prasyarat kehidupan.


  • Impian Menghadirkan gairah
Impian membuat saya menjalani sesuatu dengan tertuju dan penuh gairah. Ketika mendambakan sesuatu, sejatinya bukan “ini harus tercapai” yang menjadi energi namun sebuah suara lembut yang menyatakan “aku akan mencoba mencapainya”. Niat “mencoba” itulah yang membukakan banyak pintu peluang.

Antusiasme dan impian memiliki korelasi erat. Bagi orang yang terlampau excited terhadap banyak hal, impian menjadi sebuah pecutan untuk tetap keep on track. Sebaliknya, bagi yang minim antuasias, impian adalah stimulan terbaik untuk menyalakan api ketertarikan.


  • Ruang Memuji Sang Sutradara
Ada 150 poin mimpi yang saya miliki. Sebagian sudah tercapai, sebagian sedang diusahakan dicapai, sebagaian hanya tinggal menunggu dilakukan, namun untuk sebagian sisanya saya tidak benar-benar tahu bagaimana mewujudkannya. Itulah intinya. Beberapa impian yang seakan misteri justru menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana kehendakNya bekerja.

Ijinkan saya memberi contoh. ketika saya menuliskan poin “ikut sidang PBB”, I have totally no idea bagaimana akan merealisasikannya. Ajaibnya, itu terwujud. Saya tidak merencanakan samasekali dan *taraaaa* itu terjadi. Di momen itu saya tahu persis bahwa ada Tangan yang selalu melampaui keterbatasan dan Tangan yang sama pula penuh dengan belas kasihan. Itu hanya satu momen. Impian kecil “S1 usia 20 tahun” dan “bekerja sebelum wisuda” semua tanpa perencanaan, terkabul.

Jangan salah tafsir! Kita tidak pernah boleh beriman bahwa semua impian akan terwujud. Kita mesti beriman bahwa Pencipta selalu memberi terbaik, bahwa Dia tidak pernah pelit, bahwa Dia pula yang penuh kuasa sekaligus belas kasih.

Ketika ada impian yang tidak terwujud, kita akan sedih. Rasakan itu sekadarnya saja lalu melanjutkan hidup dan mencapai kemungkinan yang lain. Semudah itu? IYA. Karena iman, kita dapat yakin ketika Dia berkata ‘tidak’ maka ada hal lebih baik akan datang. Klise? Mungkin. Tapi itu benar. Maka… membuang waktu dengan kesedihan akan menjadi wujud takabur paling ulung.

  • Tidak kebal kecewa
“orang yang tidak pernah kalah yakni mereka yang tak pernah bertempur.”
                Resiko impian adalah kemungkinan akan kegagalan. Selalu menyakitkan. Faktanya, hanya orang yang tidak bermimpi yang tidak pernah kalah. Mereka menghindari sayatan, perasaan tak berdaya, dan malu terhina, dengan samasekali tidak berjuang sedari awal. Saya hanya tidak mau menjadi ‘mereka’ itu. Seburuk apapun kemungkinan kegagalan, sekiranya lebih baik untuk tidak bersembunyi di balik kalimat “jangan mengharapkan apapun maka kau tidak akan kecewa.”

Kekecewaan membuat kita menyadari keterbatasan diri, membuat kaki (bahkan lutut) kita menginjak bumi, dan menguji naluri sebagai pejuang sejati.

Ketika dulu saya menceritakan soal 12 kriteria pasangan hidup saya, beberapa orang dengan sangat sopan menjelaskan: “ah kalau aku terserah Tuhan mau kasih seperti apa. Daripada bikin kriteria tapi nanti kecewa.” Hanya karena takut kecewa, beberapa orang membatalkan impiannya. Atau mungkin, sekadar meralatnya.

Oke, tentang kriteria pasangan hidup saya tidak kecewa. Tuhan berbaik hati memberikannya lewat seorang Riyan. Tapi saya punya BANYAK kekalahan yang lain. Bahkan soal 150 poin itu, mimpi “membawa mama papa pergi ke luar negeri” tidak bisa saya penuhi karena papa telah berpulang. Sedih? SANGAT! Sebuah titik kegagalan, sebagai seorang anak dan sebagai seorang pemimpi. Bagaimanapun, persis kala itu saya dijejali banyak pelajaran hidup berharga, misalnya tentang kematian dan arti keluarga.

Jika demikian, kenapa  harus anti dengan rasa kecewa?


Lamunan saya dalam penyusunan gagasan ini dipecahkan oleh Riyan di seberang sana yang menagih jawaban. Agaknya durasi saya mengambil jeda dan menarik nafas kelewat lama.

sama seperti saat aku gagal CPNS gagal menang lomba, dan kegagalan lain, aku akan sedih...
…tapi aku akan menerima dan melanjutkan hidup.”

Sang penanya puas dengan jawaban itu.

Dan aku disini hanya berbisik di hati: “Tapi untuk saat ini, ijinkan aku sekeras mungkin berusaha mewujudkannya.”


---
Jangan takut bermimpi,
sebab ketika kau menginginkan sesuatu,
semesta berkonspirasi menolongmu





Keberhasilan tidak diukur dari ketenaran. Setidaknya itu menurut seorang tukang sapu di kantor pinggiran kota. Dengan senyum tanpa gerutu dia menyapu ubin-ubin indah disana selama bertahun-tahun. Walau upah tidak seberapa, namun kepuasan selalu dikantonginya kala pulang. Satu kali sang istri terheran apa alasan di balik senyum bangganya. Terungkap bahwa beberapa tamu dan pegawai kantor bercakap memuji lantai bersih dan berkilau yang menyambut derap kaki mereka. Dengan ekspresi lega lelaki paruh baya itu menambahkan: “mereka tidak mengenal namaku namun mereka menjadi nyaman dan memuji lantai bersih yang telah ku sapu. Itu kesuksesan besar bagiku."
Tak lama, sang anak bungsu mereka mendekat. Dengan raut penasaran besar menuju ke pangkuan ibunya lalu bertanya: “ayah, apa itu kesuksesan?”

nak, kesuksesan adalah saat kau berhasil memberi dampak baik lewat karyamu. Kesuksesan juga tentang rasa hormat sebab kau bekerja bukan melulu untuk hidup dan pengakuan semata namun untuk menunjukkan cintamu pada sesama. Sering kali orang abai terhadap jerih lelahmu, namun kau tidak dilumpuhkan oleh itu, ketulusan menjadi peganganmu. Sesekali kau berbuat salah namun kau tidak membiarkan penyesalan mengepungmu.”

Sang ayah berhenti sejenak, untuk menyeruput wedang jahe yang dihidangkan oleh putri sulungnya. Petuahpun berlanjut.

“Sesekali kau tersentak fakta bahwa banyak orang yang lebih kaya dan lebih terkenal ketimbang dirimu, namun kau tetap baik-baik saja tanpa iri mengutuki karyamu sendiri. Kau sedang tidak membuang waktu dengan membandingkan apa yang kau kerjakan dengan apa yang dikerjakan orang lain. Itu juga merupakan kesuksesan."

“jadi ayah, berarti kesuksesan tentang waktu yang sangat lama, bukan?!” Dengan nada memastikan sang anak kembali bertanya.
"tidak anakku, kesuksesan bukanlah hasil akhir yang baru bisa kau nikmati setelah berjerih lelah dalam waktu tertentu. Ia merupakan tamu harian, yang selalu mengetuk pintu rumah orang yang dapat berbaring tidur di ranjangnya dengan jiwa damai. Juga kepada mereka yang berkata 'aku akan memberikan yang terbaik hari ini' setiap pagi usai berlutut memohon makanan yang secukupnya pada Empunya kemuliaan."

dan jangan lupa..” sahut sang istri “kesuksesan juga tentang memiliki cukup waktu yang hangat bersama sanak, kawan, dan keluarga.

Semua menyaut dalam senyum sepakat dan syukur sebelum beranjak dalam istirahat lelap.

tulisan ini dimulai dari diskusi bersama Riyan soal definisi sukses
serta diperkaya dan diinspirasi oleh tulisan Paulo Coelho lewat sub-bab "keberuntungan"
di bukunya yang berjudul "manuskrip yang ditemukan di arca"




13 November lalu menjadi catatan penting bagi kita betapa semakin keji dan kejamnya kehidupan. Isu terorisme terus bergulir di berbagai penjuru dunia. Kita menjadi mudah untuk berkata #prayfor #paris #lebanon #baghdad apalagi dengan sosial media yang kita punya. Tren masa kini adalah jempol kita bergerak lebih cepat dari aksi yang ada. Quote yang saya angkat merupakan wujud sindiran bagi kita yang sangat getol menampilkan empati kepada dunia luar yang begitu jauh tapi kesulitan untuk mencintai sesama kita di sekitar.


Mewujudkan kemanusiaan tidak selalu berarti kita terjun ke lapangan sebagai tenaga sukarela ataupun mengekspos berbagi kalimat empatik. Satu hal yang tersisa untuk kita jawab: "sudahkah kita benar-benar menjadi orang yang baik bagi teman kerja kita? Sudahkah kita berhenti dari kebiasaan menggosip? Sudahkah hati kita damai dan terjauh dari perasaan tersinggung?"

Saya mengamati satu kebiasaan dari para pengguna sosial media di Indonesia atau mungkin dunia. Bahwa perdebatan pro dan kontra selalu menjadi hal menarik dimana semakin itu panas justru semakin baik. Masih soal prayforparis ya, saat saya menengok laman facebook saya, sebuah paragraf panjang tersodor dari seseorang yang sedang mengajukan opininya. Dia mengekspresikan rasa gerah akibat sindiran orang lalu tak lupa disusul bumbu pembelaan. Satu alis saya naik. Tanpa disadari perilaku yang mudah tersulut dan terhasut inilah yang mengabsenkan damai sehari-hari. Mudah sekali terganggu dengan respon orang lalu memberikan respon balik dan terus bergulir.

Jika karena satu ucap teman kita hati kita sudah dipenuhi amarah, jika kita gagal mencintai orang yang tinggal seatap dengan kita, sungguhkah kita sudah lebih baik dari mereka yang menghabisi nyawa?

Memang kita tidak sampai membunuh orang, tapi standar Tuhan begitu tinggi. Jika kita MEMBENCI saudara kita maka kita tak ubahnya pembunuh. Belum lagi fakta bahwa tindakan kriminalitas seperti itu tak jarang adalah akumulasi kebencian. Tanpa disadari kita ambil peran di dalamnya. Akibat tidak banyak orang yang menabur benih kedamaian, hingga yang bertumbuh subur justru amarah yang menumpahkan darah. Sekali lagi saya bertanya, sungguhkah kita sudah lebih baik dari 'mereka'?

THINK TWICE!
guilty pleasure
(:n) something you shouldn't like but like anyway
(:n) something that you love to do but just cannot admit that you do it

Everybody tend to have something called guilty pleasure. Maybe for extreme side the example are about porn and drugs, but if we open our mind wider and be honest to ourselves, the guilty pleasure can transform in so many forms: food, social media, clothes, movie, game, or even laziness.

Why it's called guilty?
Why it's called pleasure?
Both words are totally opposite. The first one is about feeling regret and the second one drag us to the comfort state of mind. Some activities make us confuse to define "is that a good thing to do? May I? Why shouldn't I?" We afraid of what people will see. We are live in society that push us to the always-think-twice area. Their construction of 'good' or 'bad' is affect us all the time. I didn't say it's a bad thing anyway, and the fact is I cannot imagine how chaos the world will be if every person doesn't has any guilty feeling at all. Same side of it, we desperately need a reason to be excited. Since every time our adrenaline up or after we finish our favorite meal, we can feel statisfy. That feeling help us to enjoy life.

We need both of them! The problem comes when we failed to place each in right portion. Too many guilty feeling prove that maybe we are already overthinking and be the person like what people wanna see. What I try to say is for some things that absolutely wrong like porn and drugs, we shouldn't give any compromise. The real face about pleasure is not worth to be placed at those terms. But for so many many things else, I think we must keep being ourselves without spending too many times worrying about people's opinion. 

Let me give an example.

Weekend has similar meaning with 'time to hang out' but for some people -introvert especially- spending time in their room is a great pleasure. People tend to judge that maybe she/he are a geek or weird person just because she/he ignore one hang out invitation at the weekend. For me -about that case, being home and have self-time for introvert person is a truly pleasure so it's not necessary to add the word of 'guilty' at all.

And what will happen if we only think about pleasure?
Of course, it will hard to us to be responsible. 'Pleasure is just a bonus, not a priority' I ever read that statement and it's kinda worth remember. We must underlines that statement as a good reminder. Because at the end maturity will help us to figure it out that life doesn't always agree with our plan. Even happy ending is not always exist in the way we want.

We need extra careful to maintain our behavior in this judgmental environment, while still having a chance to be ourselves. Guilty-side seems need little bit free-soul when pleasure-side totally need enough maturity. Each control another. We have to remember that all the extreme side and whatever that too-much is not really good.



Ratusan siswa berbaris di lapangan futsal, seragam mereka sama: putih-biru, namun raut mereka beragam. Dari raut kelelahan, bingung dan asing, hingga ekspresi penuh tawa. Tak hanya raut, ada keberagaman lain yang aku tangkap. Semuanya satu arah mengantarkanku pada kesimpulan: Betapa Kreatifnya sang Pencipta.

Kembali menjadi guru sinonim dengan mengucapkan selamat datang terhadap berbagai pengalaman baru dengan para siswa. Kesan pertama yang aku kenang di tengah hiruk pikuk keberisikan khas remaja adalah kekaguman betapa Tuhan menciptakan manusia sangatlah unik dan soal naluri manusia dalam mengasihi. Agaknya kesan ini kelewat sederhana di sepekan awalku di Sekolah, tapi sejujurnya itulah yang terus membuatku tersenyum di sepanjang durasi upacara pembukaan Layanan Orientasi Siswa. Saat sang Kepala Sekolah memberikan beberapa wejangan untuk siswa baru, bola mataku berkeliling nakal mengamati sepintas para calon murid, dari situ aku mendapati betapa kompleksnya faktor genetika yang mempengaruhi seorang individu dan menjadi pembeda dengan individu yang lain. Misalnya soal besar atau kecilnya hidung, model rambut, bentuk rahang, tipe senyuman, dan susunan gigi. Belum lagi jika kita berbicara soal karakter.

Seketika saya teringat sebuah film kartun yang pastinya kita kenal akrab: Winnie The Pooh. Disana tersodor beberapa karakter yang diwakilkan beragam hewan yang berbeda. dari Tiger sang pelompat, Rabbit yang gemar mengeluh, Piglet yang Imut, dan Pooh pecinta madu. Masing-masing mereka memilih kesukaan yang berbeda, ciri fisik yang pastinya berlainan, serta karakter yang juga tak sama. Cerita kartun itu hanya cerminan dari sepersekian kecil ujung kuku keagungan Pencipta. Hal lain yang saya sadari adalah naluri alami kita untuk mencintai keberagaman. Seperti yang pernah ditulis oleh Nelson Mandela: 
No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite.” ― Nelson MandelaLong Walk to Freedom



Wajah yang terjadi sekarang adalah bagaimana sebuah identitas bukan lagi bertujuan menjadi pembeda tapi juga pemisah. Sudah terlalu banyak kejadian dalam sejarah menunjukkan betapa rasa benci akan sesuatu yang berbeda telah menjadi pembenaran untuk melakukan segala kejahatan kemanusiaan, hingga akhirnya kata 'genosida' muncul dalam deret perbendaharaan kata. Kita dilahirkan dengan naluri alami mencintai, tanpa perlu pusing menanyakan terlebih dahulu: "kamu agama apa?" ataupun sekedar bergumam "dia tidak cantik, aku tidak perlu mengasihinya". Budayalah yang menggiring kita menjadi manusia pemilih.


Alih-alih bangga dengan keberagaman yang dirancang sedemikian oleh Pencipta,
dan membiarkan diri larut dalam naluri mencintai,
kita justru lebih menikmati latihan yang lebih susah: latihan untuk membenci.
Aneh bukan?



ada yang menaruh hatinya pada seni
kadang tentang seperangkat nada
kadang tentang rasa puas dari goresan di ujung kuas

tak sedikit yang terpana pada megahnya semesta
kesana kemari membawa hidup pada carrier yang tinggi

ada yang meletakkan cintanya pada olahraga
menjaga fisik prima untuk meraih rasa bangga

ada yang melekatkan asmara pada gaya
mendesign pakaian atau sekedar terampil memadupadan

ada juga yang jatuh cinta pada pemuas lidah
dengan memasak, dia menambah bahagia

ada yang terpaut pada aksi sosial
memberi makna pada mereka yang kadang terlupa

banyak juga yang memilih menari dalam kata
saat gubahan tulisan menjadi simbolis keterbukaan besar

ada sebagian yang memilih tetap serius
menggeluti dunia penelitian akademis
mencipta dan menyimpulkan sesuatu yang berguna

ada yang tidak bisa move-on dari fotografi
memantabkan presisi lalu jepret sana sini

ada pula yang memang cinta pada dunia wirausaha
satu hal kecil bisa berubah jadi ide bisnis di benaknya




Lalu, di antara itu semua manakah yang lebih baik? TIDAK ADA. Tidak ada yang lebih baik satu dari lainnya. Cinta yang berbeda itu ada dimana-mana, tak bisa kita menghakimi bahwa satu bidang menjadi lebih penting atau lebih remeh dari lainnya. Semua panggilan hati itu berharga, selalu ada kemungkinan dan semoga selalu ada cukup kesempatan untuk menjadikan itu sebagai sesuatu yang berguna untuk sesama.
Pernah mendengar istilah headskin? Sebuah teknik mencukur yang dipangkas habis dan menyisakan sekitar setengah sentimeter rambut di atas kulit kepala. Bagi kaum adam hal ini lumrah dilakukan. Seiring jaman, beberapa perempuan terinspirasi memberikan sentuhan serupa di kepalanya. Entah sejak kapan, saya mendambakan hal serupa dan akhirnya terwujud! But the purpose of this post is not for brag my new haircut by the way.

Sepulang dari tempat yang konon hanya dicintai kaum hawa tersebut (baca: salon) saya hanya bergumam sendiri merasakan lega dan bangga akhirnya bisa 'berdaulat' atas tubuh. Pergulatan gemas ini muncul pasca mengamati bahwa setiap kali saya ingin mimiliki model rambut tertentu ada saja yang memghalangi. Sebelumnya dikarenakan alasan akan mengikuti CPNS lalu kali ini karena akan kembali menjadi guru. Memiliki potongan 'yang sepantasnya' itu adalah jalan terbaik, begitu mungkin singkatnya. Masalahnya siapa yang menjadi hakim atas 'pantas' dan 'tidak' suatu hal?

"Potongan seperti itu dianggap gak sopan" begitu kata cece dan Riyan. Kenyataannya, selain mereka berdua di luar sana masih banyak yang menilai demikian.

"A stereotype is used to catergorize a group of people. People don't understand that type of person, so they put them into classifications ..." (Urban Dictionary)
"A generalization, usually exaggerated or oversimplified and often offensive, that is used to describe or distinguish a group." (Dictionary.reference.com)

Perempuan yang memiliki cat rambut atau potongan ekstrim dianggap sebagai wanita kurang baik. Seseorang dengan tato dianggap berandalan. Lelaki dengan tindik dinilai sebagai preman. Itulah yang ada di masyarakat. Bukan hanya soal fisik, ini kadang juga tentang selera musik, masih berkeliaran orang yang mengganggap bahwa pecinta heavy metal merupakan segerombolan bandit ataupun orang yang hobi melakukan aksi vandalisme. Ataupun gaya berpakaian, yang melahirkan stereotype bahwa lelaki yang menggunakan warna pink adalah kaum 'gay'. People tend to give a label, this fact has proven many times in our daily life.




Di agamaku diajarkan 'Tubuhmu adalah Bait Allah. Janganlah merusak bait Allah', sejujurnya ayat populer ini kadang digunakan semena-mena bagi orang dengan adat ketimuran yang kental untuk mengharamkan tato dan beberapa hal lain yang dianggap tidak lazim. Ijinkan saya membagi pandangan bahwa perusakan tubuh sebenarnya adalah justru saat kita enggan membudayakan hidup sehat. Rokok adalah salah satu hal yang menurut saya memang layak untuk dilarang. Sedangkan tato, itu merupakan sebuah seni yang tidak menyakiti tubuh secara berkepanjangan. Orang Kristen yang mengerti kutipan ayat diatas anehnya justru menganggap biasa perokok namun memandang sebelah mata pemakai tato ataupun tindik.

Lalu pernah satu kali teman saya membagikan cerita bagaimana seseorang di gereja kami menolak musik rock untuk masuk di musik pemuda gerejawi. Alasannya? Ketakutan bahwa akan ada biusan hal negatif yang dibawa musik tersebut di kehidupan rohani. Saya hanya geli dengan pandangan itu. Sebagai seorang Kristen Protestan yang sangat mencintai cara ibadah dengan keteraturan, saya masih selalu merinding ketika -dengan sopan- aliran musik semacam itu digunakan untuk memuji Tuhan. Rasa takjub yang sama adalah saat menyaksikan seorang dengan penampilan ekstrim tertib mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli. Seraya berdecak "semua selera, suku bangsa, dan segala faktor pembeda manusia tidak dapat menghalangi kita bersama menyembah Pencipta."

I love pixie cut, headskin, assymetric style. And I do adoring tattoo so bad. So you will say that I'm a bad Christian? Of course no. Yang akan membuat saya menjadi Seorang Kristen yang buruk adalah saat saya menyanyikan dosa dan berdansa dengan kesombongan. Saat saya makan kemunafikan dan tidur dengan kebebalan.
I'm not good at make up and I'm pretty bad with hair-do stuffs. But again, these reasons will never make me a woman anyless. Yang membuat saya menjadi wanita sepenuhnya adalah kemampuan saya untuk TUNDUK, pada Allah dan nantinya pada suami saya. Menjadi wanita seutuhnya adalah tentang saya menjalankan peran 'penolong sepadan' bagi pasangan saya.

Menjadi orang sopan, beragama, berbudaya, seharusnya tidak didasarkan pada perkara-perkara yang lekat dengan selera. Hal demikian merupakan atribut manifestasi sisi subjektif yang begitu beragam. Justifikasi sebenarnya adalah tentang tindakan dan kebiasaan, sesuatu yang lebih cocok untuk disejajarkan dengan penilaian objektif. Adat ketimuran harus dijunjung, saya tidak sedikitpun memperdebatkannya. Tentang sopan santun tindak dan tutur, mari berbangga dengan tetap menjadi 'old-style' dan bukan manusia sok modern yang lupa budaya luhur bangsanya. Tapi soal selera, tolong jadilah masyarakat yang dewasa! Berhentilah memberi label.


Untuk selera, harus ada kebebasan
Untuk yang prinsipal, harus ada kesamaan
Dan untuk semuanya, perlu ada kasih!


Majalah terkemuka Amerika Serikat, TIME, tahun lalu memuat satu bahasan khusus tentang SURGA. Sampulnya bergambar seorang laki-laki sedang duduk dengan pose sedang meneropong sesuatu di awan-awan. Judul yang terpampang adalah Rethinking Heaven.

Saya penasaran surga seperti apa yang akan dibahas oleh majalah yang jelas bukan genre religius itu. Ekspektasi saya cukup tinggi. Ada banyak informasi yang saya dapatkan, tentang konsep surga di berbagai budaya dan kepercayaan.

Siang itu saya sedang berada di Perpustakaan tersohor Universitas Indonesia, dan disanalah saya mendapatkan intisari bagaimana pemikiran soal kehidupan setelah kematian membawa pengaruh signifikan bagi durasi kala masih di bumi. “People who are heaven-minded are world changers.” Begitu bunyi sepenggal kalimat di halaman itu.

Berusaha menjadi orang baik, sederhananya, merupakan implikasi logis dari kepercayaan akan eksistensi surga.

Saya disini tidak ingin sedang membedahnya dari segi keimanan saya, justru saya tergelitik tentang bagaimana kita sebagai orang bertuhan -terlepas apapun agama kita- menghayati keimanan dalam keseharian kita.

Apakah menjadi orang yang sangat ngotot ingin masuk surga dan menjadi pengikut agama yang baik menghalalkan kita terus mencari kesalahan atau titik lemah agama lain? Saya rasa tidak.

Oke, saya akan akui saya menulis ini karena rasa gerah akan laman facebook saya yang diisi satu dua orang yang terus saling bertemu dalam kolom ‘comment’ untuk berdebat. Ini bukan tentang agama apa dan siapa yang mengatakannya, ini tentang mengoreksi cara-cara kita saat berupaya membuktikan bahwa kita adalah seorang “heaven-minded.”

Baik dari kawan Kristen (seagama dengan saya) ataupun kawan Muslim, saya menemukan dua tipe ‘religius’ yang sangat berbeda. Orang pertama sangat hobi menggunakan sosial medianya untuk membuka ruang ‘bertukar pikiran’ walaupun kebanyakan berujung pada debat dunia maya. Melalui facebook, kebanyakan, dia bahkan tak segan untuk memberikan komparasi akan dua agama mayoritas di negeri ini. Yang Kristen menyindir yang Islam, dan sang Muslim menyindir Orang Nasrani. Saya tidak tahu apa motifnya.

Tipe kedua, diwakili oleh teman KKN saya, dia adalah seorang Muslim yang paling Islam yang pernah saya temui. Ini juga mewakili satu sahabat Kristen saya yang juga mengantongi kekaguman saya luar biasa. Mereka berdua sangat taat bahkan banyak berkarya. Sosial media mereka religius namun dengan nada yang sepenuhnya berbeda. Bukan melakukan perbandingan doktrin antar agama, kebanyakan justru membagi hal inspiratif atau bahkan koreksi terhadap teman seagamanya. 

Sebagai misal adalah saat kawan muslim saya membagi artikel bagaimana umat muslim harus belajar tertib merapikan sandal saat sholat Jumat. Dia tak tanggung-tanggung menampilkan kontrasnya perbedaan soal kerapian itu dengan kawan kita yang beragama Budha di depan Vihara. Sama-sama melakukan komparasi mungkin, namun untuk mengoreksi sesama penganut agamanya. Teman saya yang Kristen juga berlaku demikian, dia mencetuskan beberapa kalimat yang justru menegur sesama orang Nasrani.

Apakah artinya kawan muslim saya menjadi kurang-Islam dengan memuji salah satu kebiasaan baik orang Budha? Tidak samasekali! Apakah teman Kristen saya mnjadi kurang berkualitas keimanannya dengan memberikan teguran-teguran halus tentang kekristenan? Sekali lagi, tidak!

Saya kira –pendapat sangat personal- orang yang menghayati agamanya benar-benar tidak akan disibukkan dengan diskusi-diskusi tentang “siapa yang lebih benar?”

Apa yang disebut orang muslim sebagai ‘Dakwah’, kami (saya dan teman Kristen) sebut sebagai ‘Penginjilan’. Keduanya menganjurkan kita membagi ‘kabar baik’ sesuai agama masing-masing, jika saya tidak salah mengartikan.

Di saat yang bersamaan saya yakin, keduanya juga tidak pernah bertujuan untuk memecah belah dan memanaskan suasana.

Kita berusaha membuat teman seagama kita menjadi lebih baik tanpa membuat teman lintas agama kita tersinggung. Kita yang meyakini agama kita dengan teguh sekaligus teduh, akan lebih banyak membagikan hal-hal indah tentang kepercayaan kita tanpa perlu menciderai agama lain. Fakta bahwa kita hidup di negara seberagam Indonesia agaknya menggiring kita pada tuntutan tata perilaku tertentu demi menjaga kedamaian, walaupun sebatas di ruang maya.

Lebih dari itu. Surga yang dijanjikan masing-masing agama seharusnya mendorong para pengikutnya mencari tahu karya apa yang dapat digarap untuk menjadikan kehidupan lebih baik bukan justru membuat banyak pihak merasa terusik.

“…. To open their arms more often than they point fingers” -TIME



Berbahagialah ia yang terlalu lelah memikirkan hari esok. Lelap nyenyak menjadi miliknya. Esok masih saja ditemani kabut. Biarkan aku bersandar sejenak. Saat ini harus aku maknai juga :)

Satu paragraf singkat diatas bukan gubahan seorang Claudya, Di tengah menunggu sebuah antrian, tersodor sebuah majalah lokal perusahaan dan saya tergelitik untuk menguak apa yang ada di dalamnya. Durasi dihabiskan lebih banyak di halaman paragraf tersebut terpatri. Saya membaca ulang bagian "terlalu lelah memikirkan hari esok." Sontak saya bertanya apakah salah memikirkan hari esok? Bukankah itu hal yang wajar? Tidak ada seorangpun yang membantu saya menemukan jawabannya. Karena kadang jawaban memang harus dibuat dan tak sekedar dinanti, maka saya membuat jawaban versi saya sendiri hari ini:

Tidak ada yang salah dengan merencanakan masa depan. Tentang apa, kemana, berapa, dan kapan. Saya dan Anda memiliki angan akan masing-masingnya. Menginginkan apa, hendak pergi kemana, ingin berpenghasilan berapa, dan menikah kapan, Semua ada dalam baris pikiran yang terkonversi dalam tiga hal: rencana, upaya, dan doa. Ketiga ini adalah cara ampuh menjawab pertanyaan bagaimana kita mewujudkan itu semua. Sayangnya kadang kita lupa menarik nafas dan memberi koma pada perjuangan untuk menjawab pertanyaan mengapa kita memikirkan itu?

Ingin bahagia, banyak yang menjawab demikian mungkin. Perencanaan yang rinci dipuji sebagai sebuah rasa mawas akan masa depan sehingga dapat menciptakan kehidupan yang nyaman. Memastikan apa yang masih ada dalam kendali dan menekan kemungkinan kecerobohan. Manusia ahli dalam hal itu. Sayangnya dengan jawaban tersebut, kita lupa bahwa bahagia merupakan state of mind atau pengkondisian pikiran, itu adalah keputusan, yang bagi sebagian orang dinganggap sebagai tujuan.

"Jika sudah memiliki ini, sudah pergi kesana kemari, dan setiap bulan sudah mengantongi puluhan juta gaji, baru saya akan bahagia." Kita memberi syarat atas perasaan dan suasana kehidupan yang sebenarnya dapat kita rasakan kapanpun kita mau. Kabar baiknya adalah bahagia dapat dimulai hari ini. Menurut saya yang selalu sok tahu ini, banyak orang yang tidak mampu menikmati "sekarang" karena mereka merasa kebahagiaan ada nan jauh disana. Kebahagiaan ada di masa depan, sehingga membuat mereka terlalu sibuk memikirkan tentang apa yang masih bersemat kata "akan."

Bagi kita dan mereka yang sudah bahagia hari ini, rencana adalah wujud syukur yang menjauhkan kita dari takabur. Kita tidak takabur atau terlalu sombong menilai bahwa kehidupan akan selalu mudah, karena itu kita membuat rencana. Kita SUDAH bahagia hari ini, bukan karena hidup kita serba ideal namun karena kita memilih demikian. Kita sudah bahagia, kita tidak kesulitan untuk menikmati apa yang dinamakan: HARI INI.

Kepastian bukan penghuni hari esok, pun kebahagiaan. 
Mereka berdua adalah tamu hari ini. (cte)








No explanation needed.
"Never use stereotypes, both in real life and your writing."

karena yang kurus tidak selalu diet
dan dokter tidak harus bertulisan tangan jelek
laki-laki tidak haram menyukai pink
dan orang kaya tidak selalu naik mobil mewah
:)

Sebelum beranjak ke rumah sakit sebagai rutinitas seminggu ini untuk membawakan mama apapun yang dia perlu, saya tertahan sejenak di depan layar TV. Bukan karena film seru seperti alasan saya biasanya, pagi ini karena lagu "cintaku" yang didendangkan tiga musisi yang wajahnya tidak familiar samasekali. Ternyata, tiga laki-lagi dengan dua gitar dan satu kajoon itu adalah para musisi jalanan. Sontak membawa saya pada ingatan bagaimana para pengamen menjadi bagian yang menyenangkan di seperempat usia saya yang bisa dikatakan "banyak di jalanan." Bukan sebagai pengamen seperti bahasan disini tapi sebagai perantau.

source : herdiansyahnotion.files.wordpress.com

Tiba-tiba kekaguman memenuhi pikiran saya selagi liputan tentang IMJ (Institut Musik Jalanan) ditampilkan. Mungkin hal ini berangkat dari sentimen pengalaman pribadi. 

Rasa dekat dengan para musisi jalanan jika ditelusur telah dimulai sejak saya SMP, dengan mencoba dua kali menyanyi diatas bus dan satu kali di perumahan bersama para kawan memenuhi rasa penasaran. Saat SMA, selama dua tahun, hampir setiap hari menjalani setidaknya 30 menit perjalanan bus antar kota yang kerap diwarnai melodi merdu kadang sumbang dari para pengamen. Koin atau uang kertas selalu saya sediakan khusus, wujud apresiasi atas musikalitas penghibur itu, menjadi awal keakraban saya dengan mereka. Sesekali mengobrol, sembari menunggu bus penuh. Suara merdu menggairahkan jalanan yang berdebu ditambah peringatan tulus untuk terhindar dari kejahatan. Menjadi teman mereka, adalah salah satu pengalaman berharga selama masa SMA yang sejauh ingatan mengenang dominan diisi dengan target angka pelajaran. Suatu kali seorang mabuk di kala bus sepi mencoba bermaksud tak baik pada saya, seketika mas pengamen kenalan dengan topi dekil dan celana jeans penuh sobekan naik masuk ke bus dan menggagalkan tindakan buruk sang pemabuk itu.

Kenyataannya, jalan raya dan kantor mewah itu sama, ada orang baik ada orang jahat di dalamnya. Sama-sama ada pengais rejeki, kadang halal kadang haram. Keduanya juga selalu menawarkan pelajaran dan pastinya menuntut kita seimbang antara ramah dan waspada.

Sayangnya masih banyak orang yang penuh dengan curiga atau bahkan kesombongan untuk menahan keramahan bagi kaum pengais rejeki jalanan.

Kembali ke IMJ, kekaguman tulus saya haturkan bagi para foundernya. Saya tak punya alasan untuk tak sepakat dengan penjelasan salah satu founder IMJ yang diundang di acara Indonesia Morning Show itu:
"karena beberapa perda pelarangan bukan hanya membatasi ruang berekspresi, tapi juga tanpa disadari melahirkan bibit kriminal baru."
Sepenuhnya sepakat! Lebih dari setuju!
Laranglah pengemis, tapi jangan pengamen! Mereka adalah penebar karya. Jalanan adalah panggung mereka. Jika pemerintah belum dapat memfasilitasi, maka jangan menjarah ruang ekspresi. Jika pemerintah tak punya cukup waktu memperhatikan, setidaknya jangan beri label haram pada kreatifitas jalanan.

Mereka dengan berbagai keterbatasan telah menelurkan satu album dengan cover gambar tematik hitam putih diisi dengan 10 dendangan gubahan para pengamen berbagai sudut di ibukota. Judul album perdana seharga Rp. 20.000,- ini memuat pesan "kalahkan hari ini."
Mereka membawa penegasan, to live our daily life till the fullest. Mengalahkan hari lepas hari, baik jalanan dan perkantoran (sekali lagi saya katakan) sama-sama keras, kalahkan itu!

Sekali lagi, selamat IMJ! Pagi ini dengan kehadiran beberapa dari kalian di IMS membuat saya memutar memori dan mengingatkan kegigihan passion yang tak mengecewakan! Musik kalian boleh berdebu, tapi biarlah ketulusan tetap menggebu!
Alkisah ada dua orang yang sama-sama ingin jadi pelaut handal. Sebut saja A dan si B, untuk mempermudah. Mereka mendaftar di akademi pelayaran yang sama, namun skenario lanjutan mereka sangat berbeda.

Si A ditempatkan langsung di lautan. Semacam manifestasi prinsip "learning by doing" atau "practice makes perfect." Sedangkan si B di tempatkan di ruang kelas yang nyaman. Tenaga pengajar yang lembut namun tegas, kurikulum yang rapi. Sesekali praktek di lautan namun tetap penuh dengan pengawasan tenaga ahli dan berlokasi di laut yang juga bergelombang ringan. Pun, bukan tanpa tugas-tugas, namun semua masih dalam tahap normal yang tidak melelahkan.

Bertahun-tahun berlalu, satu tingkat selesai. Si A pulang dengan banyak memar dan luka menangani kapal di tengah lautan yang kejam. Dia jadi pelaut handal. Si B, dengan tubuh yang tergolong jelita, juga tak kalah. Diabpun menjadi pelaut handal.




Secuplik analogi ini akan mengantarkan kita pada dua tipe pelaut kehidupan ini. Mungkin kita juga akan mengerutkan alis bergumam betapa tidak adilnya skenario semacam itu bagi si A. Kemungkinanya ada dua, si A yang memang dianggap kurang pengalaman sehingga Guru merasa perlu mengirimkan dia langsung ke lautan keras, atau mungkin, Guru menilai bahwa hanya si A yang cukup mampu bertahan belajar langsung di laut.

Setiap orang dipercayakan hidup yang khas oleh sang Khalik, itu adalah sebuah keniscayaan. Lika-likunya begitu beragam sehingga sejenius apapun seseorang sepertinya tidak akan pernah mampu menyelami pemikiran yang Maha Agung. Jangankan menyelamai, untuk mengurai runtutnya saja terlampu sulit. Untuk sebagian orang, kehidupan terasa begitu rumit. Saya merasa ada di golongan itu. Kita semua agaknya merasa di golongan itu. Melihat bagaimana keluarga jatuh bangun, orang tua yang bertengkar hingga berpisah, menangis ketakutan mencari dana melanjutkan pendidikan, mengungsi tak punya rumah saat ulang tahun, dan bergelut dengan kebencian melihat ketidaksempurnaan orang sekitar.

Sekacau apapun itu, akhirnya terlewati. dan belum pernah saya menyesali dipercayakan hidup demikian. Hari ini saya melihat seorang pemudi yang dengan penuh kesakitan dibentuk oleh Penciptanya. Saya (merasa) adalah si A di analogi tadi, dan saya tak berusaha protes akan hal itu. Bertahun-tahun saya merasa baik-baik saja dengan pola didikan Pencipta saya. Hingga di suatu malam, ketika saya menceritakan hal ini ke orang terdekat yang sedang belajar menjadi pendengar yang baik, ada gelombang gelisah yang membanjiri pikiran. Dia adalah si B, bagi saya. Tak selang lama menit berganti tepat setelah saya dengan air mata haru dan sesekali pedih menceritakan perjalanan keluarga yang penuh drama, dia dengan begitu damai berkata "aku belum pernah melihat orang tuaku bertengkar."

Tepat saat itu, kali pertama mungkin dalam hidup saya ingin protes pada Penata skenario. Kenapa enak sekali dia? Punya orang tua yang saling mencintai hingga saat ini, terjauh dari "kesialan" atau berbagai kecerobohan. Pernah saya menanyakan "pergumulan apa yang membuatmu merasa sulit mengampuni?" lalu dia dengan kebingungan merasa bahwa mengampuni bukan hal susah. Dia keren! Saya begitu rendah melihat diri sendiri yang butuh bertahun-tahun mempelajari apa itu pengampunan. Saya marah seketika, kenapa sebagian orang dipercayakan hidup yang sederhana jalan ceritanya? Bukan tanpa masalah, tapi setidaknya perkara kekhawatiran dan pengampunan atau pergumulan lain dapat dia pelajari dengan lebih mulus.

Sedangkan saya entah berapa tahun harus dihabiskan untuk belajar mengampuni. Pun soal kekhawatiran, ketika yang lain termasuk sahabat saya ini gelisah bertanya "bakal kuliah dimana? bisakah masuk perguruan tinggi negeri?" saya harus tebentur dengan pertanyaan "apa saya bisa lanjut ke SMA?"

Mungkin Tuhan tidak adil.
Mungkin Tuhan kurang mencintai saya
dan lebih mencintai sahabat saya itu.

Tiga kalimat di atas hanyalah kemarahan sepersekian detik. Pada akhirnya bodoh sekali pemikiran semacam itu! Kemarahan yang mendustakan pengakuan bahwa untuk yang berkapasitas lebih dipercayakan beban yang lebih. Semua adil dalam porsi penuh kasih.

Harus diakui sangat jarang orang yang merasa dia adalah si B. Setiap orang merasa hidupnya sulit. Apakah saya benar? tapi mari dengan fair mengatakan, ada beberapa dari kita yang memang dianugerahkan kehidupan sangat indah. Jauh lebih mulus dibandingkan sebagian yang lain. Sekali lagi saya tegaskan, bukan tanpa masalah. Tapi punya jalan cerita yang tidak terlalu rumit. Punya orang tua harmonis yang mendidik atau bahkan keluarga besar yang peduli, punya kecukupan keuangan, punya sumber daya mewujudkan impian. Bersyukurlah!

Hidup yang indah dan sederhana bukan aib,
Sama seperti punya hidup yang rumit juga bukan kebanggaan.

Bagaimanapun, ini masih misteri. Tapi dari kejadian malam itu saya belajar bahwa penting bagi kita mensyukuri kehidupan indah tanpa membuat orang lain mempertanyakan Pencipta atas hidupnya yang susah. Sahabat saya malam itu, dari kalimat "aku tidak pernah melihat orangtuaku bertengkar" telah membuat saya iri, kecewa, marah, dan penuh tanya pada Pencipta. Memang, dari satu kalimat iman dapat bertumbuh atau justru terbunuh.

Ohya, saya tidak akan lupa memberikan potongan akhir dari cerita soal dua pelaut itu versi imagi saya sendiri.

Usai selebrasi kelulusan, si B dan beberapa orang lain datang menghampiri si A, dengan antusias mendengarkan kisah seru petualangan di lautan, mereka terkagum dan berkata pada si A "terimakasih, dari pengalamanmu aku belajar. kau telah memperkaya ilmuku untuk jadi pelaut handal, ilmu yang tidak aku temukan di ruangan"
Mendengar itu, si A alih-alih bangga justru dalam senyum getir berbisik di hati: "aku yang penuh darah dan memar, tapi ternyata dariku mereka belajar. uh.. sial sekali aku"
Lalu sang Guru membuyarkan lamunan gerutuan si A dengan berkata "hai nak, murid-Ku, terimakasih telah membantu mengajari mereka. Kau partner-Ku, pengalamanmu memperkaya kurikulum sekolah yang Aku dirikan ini."

Kita tergolong yang mana bukan masalah, yang penting adalah kita bersedia berproses dan belajar dari mana saja untuk menjadi pelaut handal itu!
Bagi si A, jangan sombong menilai dirimu yang paling tangguh sehingga membuat si B rendah diri akan pelajaran di kelas!
Bagi si B, Bersyukurlah! tapi jangan pernah membuat memar luka bekas petualangan badai di laut dari si A menjadi lebih perih! dan akhirnya membuat dia mempertanyakan sang Guru.

ingatlah peraturan akademi kelautan ini:
"ragu pada Guru adalah tabu!"