Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

“Semua orang memiliki mimpi”
Hmmm sebentar.. mungkin tepatnya begini: “semua orang boleh bermimpi”

atau versi saya: "semua orang butuh bermimpi"
Terlepas dari yang beda pendapat dan antipati, saya sepakat pada banyak motivator yang telah menekankan arti penting impian. Sudah gratis, memberi tujuan hidup pula. Kira-kira begitu. Tak mau kalah, sayapun punya. Salah satunya adalah soal pernikahan. Bukan tentang kemewahan tapi beberapa konsep yang terlanjur mendarah-daging dalam angan.

www.greenweddingshoes.com


Sore ini saya dan Riyan menghabiskan waktu melimpah membicarakan banyak hal. Di tengah obrolan itu Riyan bertanya:
“sayang.. gimana kalau dream wedding-mu tidak tercapai?”

Saya menghela nafas.
Saya diam.
Saya mengambil jeda.

Ada beberapa jenis pertanyaan yang menuntut keseriusan ganda, karena mengharuskan memberi jawab sekaligus menguji diri sendiri. Pertanyaan ini, salah satunya.
Impian soal pernikahan dan seabreg impian lain seakan menjadi kebutuhan bagi saya. Bukan karena sebuah kegagalan –atau ketakutan terhadap hal itu- saya akan membatalkan impian. Belum pernah, dan semoga tidak perlu. Bagi saya impian adalah prasyarat kehidupan.


  • Impian Menghadirkan gairah
Impian membuat saya menjalani sesuatu dengan tertuju dan penuh gairah. Ketika mendambakan sesuatu, sejatinya bukan “ini harus tercapai” yang menjadi energi namun sebuah suara lembut yang menyatakan “aku akan mencoba mencapainya”. Niat “mencoba” itulah yang membukakan banyak pintu peluang.

Antusiasme dan impian memiliki korelasi erat. Bagi orang yang terlampau excited terhadap banyak hal, impian menjadi sebuah pecutan untuk tetap keep on track. Sebaliknya, bagi yang minim antuasias, impian adalah stimulan terbaik untuk menyalakan api ketertarikan.


  • Ruang Memuji Sang Sutradara
Ada 150 poin mimpi yang saya miliki. Sebagian sudah tercapai, sebagian sedang diusahakan dicapai, sebagaian hanya tinggal menunggu dilakukan, namun untuk sebagian sisanya saya tidak benar-benar tahu bagaimana mewujudkannya. Itulah intinya. Beberapa impian yang seakan misteri justru menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana kehendakNya bekerja.

Ijinkan saya memberi contoh. ketika saya menuliskan poin “ikut sidang PBB”, I have totally no idea bagaimana akan merealisasikannya. Ajaibnya, itu terwujud. Saya tidak merencanakan samasekali dan *taraaaa* itu terjadi. Di momen itu saya tahu persis bahwa ada Tangan yang selalu melampaui keterbatasan dan Tangan yang sama pula penuh dengan belas kasihan. Itu hanya satu momen. Impian kecil “S1 usia 20 tahun” dan “bekerja sebelum wisuda” semua tanpa perencanaan, terkabul.

Jangan salah tafsir! Kita tidak pernah boleh beriman bahwa semua impian akan terwujud. Kita mesti beriman bahwa Pencipta selalu memberi terbaik, bahwa Dia tidak pernah pelit, bahwa Dia pula yang penuh kuasa sekaligus belas kasih.

Ketika ada impian yang tidak terwujud, kita akan sedih. Rasakan itu sekadarnya saja lalu melanjutkan hidup dan mencapai kemungkinan yang lain. Semudah itu? IYA. Karena iman, kita dapat yakin ketika Dia berkata ‘tidak’ maka ada hal lebih baik akan datang. Klise? Mungkin. Tapi itu benar. Maka… membuang waktu dengan kesedihan akan menjadi wujud takabur paling ulung.

  • Tidak kebal kecewa
“orang yang tidak pernah kalah yakni mereka yang tak pernah bertempur.”
                Resiko impian adalah kemungkinan akan kegagalan. Selalu menyakitkan. Faktanya, hanya orang yang tidak bermimpi yang tidak pernah kalah. Mereka menghindari sayatan, perasaan tak berdaya, dan malu terhina, dengan samasekali tidak berjuang sedari awal. Saya hanya tidak mau menjadi ‘mereka’ itu. Seburuk apapun kemungkinan kegagalan, sekiranya lebih baik untuk tidak bersembunyi di balik kalimat “jangan mengharapkan apapun maka kau tidak akan kecewa.”

Kekecewaan membuat kita menyadari keterbatasan diri, membuat kaki (bahkan lutut) kita menginjak bumi, dan menguji naluri sebagai pejuang sejati.

Ketika dulu saya menceritakan soal 12 kriteria pasangan hidup saya, beberapa orang dengan sangat sopan menjelaskan: “ah kalau aku terserah Tuhan mau kasih seperti apa. Daripada bikin kriteria tapi nanti kecewa.” Hanya karena takut kecewa, beberapa orang membatalkan impiannya. Atau mungkin, sekadar meralatnya.

Oke, tentang kriteria pasangan hidup saya tidak kecewa. Tuhan berbaik hati memberikannya lewat seorang Riyan. Tapi saya punya BANYAK kekalahan yang lain. Bahkan soal 150 poin itu, mimpi “membawa mama papa pergi ke luar negeri” tidak bisa saya penuhi karena papa telah berpulang. Sedih? SANGAT! Sebuah titik kegagalan, sebagai seorang anak dan sebagai seorang pemimpi. Bagaimanapun, persis kala itu saya dijejali banyak pelajaran hidup berharga, misalnya tentang kematian dan arti keluarga.

Jika demikian, kenapa  harus anti dengan rasa kecewa?


Lamunan saya dalam penyusunan gagasan ini dipecahkan oleh Riyan di seberang sana yang menagih jawaban. Agaknya durasi saya mengambil jeda dan menarik nafas kelewat lama.

sama seperti saat aku gagal CPNS gagal menang lomba, dan kegagalan lain, aku akan sedih...
…tapi aku akan menerima dan melanjutkan hidup.”

Sang penanya puas dengan jawaban itu.

Dan aku disini hanya berbisik di hati: “Tapi untuk saat ini, ijinkan aku sekeras mungkin berusaha mewujudkannya.”


---
Jangan takut bermimpi,
sebab ketika kau menginginkan sesuatu,
semesta berkonspirasi menolongmu





Suatu hari sekumpulan orang melakukan pertemuan akbar membahas nasib lanjutan seorang terdakwa kasus.

Ada dilema di benak jemaat sidang kala itu: melepaskan dengan pengampunan dan sekedar melakukan pembinaan atau tetap memenjarakan yang pastinya merusak masa depan sang terdakwa.

Lalu saya diminta bersuara. Dengan lantang saya berkata: "Tuhan itu adil dan kasih. Selalu ada pengampunan, namun bukan justru meniadakan konsekuensi."




Dengan logat mantab dan penuh pemahaman, saya memenangkan hati hampir seisi ruangan sidang. Mereka mengangguk sepakat. Hukuman tetap harus dilakukan.


Beberapa detik setelah palu diketuk, cermin besar menyambut untuk mengajak merenung: "adiss, andaikata suatu hari kamu ada di posisi terdakwa itu, apakah kamu akan berani bilang yang sama?"

Saya berpikir keras di tengah hiruk pikuk sidang yang berlanjut pada kasus kedua. Andaikata suatu hari saya melakukan kesalahan, apakah saya dapat besar hati dan berani berkata: "oke Tuhan adil dan kasih. Saya sudah melakukan kesalahan, saya layak dihukum. Tolong maafkan saya tapi tetap berikan hukuman bagi saya."

Saya sangsi. Mungkin saya akan berkelit. Mungkin pula saya akan memelas sedemikian untuk memohon pengampunan. Mungkin saya akan menyembunyikan kalimat itu. Atau mungkin hanya menekankan pada 'kasih' dan mengabaikan sisi 'adil'.



Source: www.mcgilldaily.com
Faktanya, kita terlampu sering menjadi hakim yang hebat untuk orang lain dan pengacara mahir untuk diri sendiri.

Apa yang kita tahu dan apa yang kita ingin terapkan untuk orang lain, seringnya sulit jika berhadapan dengan diri sendiri. Maka tak heran jika ribuan kutipan dari filsuf hebat segala jaman menekankan bahwa musuh sejati seorang manusia adalah dirinya sendiri.

Konsep kebenaran selalu membutuhkan kedewasaan yang utuh. Untuk menerapkan yang sepadan baik bagi orang lain dan diri sendiri.

Jika di sidang itu saya (dan Anda) berani berkata: "Tuhan itu kasih dan adil, kita sepatutnya meneladani. Kita memaafkan sang terdakwa hari ini, namun dia tetap harus dipenjara" maka di sidang lain saat kita yang menjadi terdakwa, kita sudah semestinya besar jiwa berkata: "ampuni aku, tapi tetap jatuhkan hukuman itu bagiku!"


Beranikah kita?


“tabur yang baik, maka kamu juga akan menuai yang baik.”



Ponsel lama saya akhirnya pensiun, setelah saya mendapat sebuah ponsel baru. Dibandingkan menjual, saya memilih memberinya sebuah cuti di laci. Saya hanya ingin (sekaligus yakin) suatu hari jika ada seorang kerabat membutuhkan alat komunikasi secara mendesak, ponsel putih itu dapat unjuk gigi. Ternyata benar, seorang teman terpaksa merawat-inap-kan ponsel pintarnya. Saya tawarkan ponsel lama saya untuk dipinjam. Saya sedang berusaha berbuat baik. Apakah untuk menabur?

Dalam bulan ini saya sudah dua kali menampung adek kelas dari luar kota untuk menginap karena ada keperluan di Surabaya. Menjadi tuan rumah sebaik mungkin, jelas merupakan hasrat tersendiri. Menjemput, mengantar, dan menemani ke destinasi yang ingin dituju. Saya juga sedang berusaha berbuat baik disini. Apakah untuk menabur?

"Dis anterin dong kesana.."
"Dis bisa ga jemput aku disini?"
Jika tidak ada halangan, permintaan mengantar alias nebengi tidak akan saya tolak. Kadang capek, tapi toh tidak rugi apapun bagi saya. Saya sedang berusaha berbuat baik sekali lagi. Apakah untuk menabur?

TIDAK! Saya tidak sedang berusaha menabur. Saya hanya sekedar meneruskan sebuah benih ke orang lain. Saya hanya berusaha sekedar TAHU DIRI.

Kenapa begitu?
Saat saya mengurungkan niat menjual HP lama, saya hanya teringat pada sahabat saya dulu: Chyntia namanya. Dulu saya kuliah dengan modal super pas-pasan, sehingga tidak punya cukup uang untuk mengganti HP bobrok saya. Saat itu dia dengan besar hati meminjamkan HP lamanya berbulan-bulan. Tanpa sedikitpun ongkos

Saat saya menerima adek kelas untuk menginap, pikiran saya hanya tertuju pada satu nama: Sinta. Dia berkali-kali harus saya repotkan selama saya sibuk menyandang status jobseeker dan singgah ke Jakarta. Bukan hanya menampung, namun memberikan perlakuan yang selalu menyenangkan. Bahkan pernah suatu waktu di tengah hujan dia membagi payungnya hanya untuk mengantar saya ke stasiun KRL.

Saat saya memilih untuk mengantar teman ke berbagai tempat, saya dibawa pada kenangan saat saya diantar oleh Artha, kak Ajeng, dan pastinya Helen. Entah berapa kali saya nebeng. Di tengah kesibukan masing-masing, mereka selalu menyediakan waktu untuk mengantar.

Pada akhirnya tiga kebaikan yang saya sebut tadi samasekali bukan bentuk menabur, tapi wujud tahu diri. Sebagai orang yang sudah menerima kebaikan, selayaknya juga membagi kebaikan serupa.

Mungkin Chyntia, Sinta, Artha, kak Ajeng, Helen, tidak menerima tuaian dari taburannya secara langsung dari saya. Terkesan saya sedang salah alamat dalam membalas budi, tapi itu karena saya ingin memastikan bahwa benih kebaikan mereka dicicipi banyak orang lain.

Pay it forward kalau istilah kerennya. Meneruskan kebaikan kepada orang lain dan menjadikan kebaikan tersebut terus menyebar. Hukum tabur tuai itu bukan mentah-mentah menabur lalu pasti menuai dari orang yang sama. Tidak sepolos itu. Namun percayalah kebaikan yang sudah ditabur tidak akan pernah sia-sia. Sekali-kalipun tidak pernah sia-sia.

Ini memang berawal dari hukum tabur tuai yang dikenal dalam berbagai agama dan kebudayaan. Kita ditanamkan keyakinan bahwa benih yang baik akan menghasilkan panenan yang baik, dan sebaliknya pula. Anggapan itu menyemangati kita untuk menabur sebanyak mungkin benih kebaikan, atas dasar sebuah keyakinan bahwa suatu hari kita akan menuai hasilnya. Hasil yang baik. Hasil yang tidak mengecewakan.

Faktanya beberapa orang menganggap utopis prinsip ini. Kenapa? Karena mereka pernah atau bahkan sering dikecewakan. Jika tidak salah, kutipan yang sering mereka cantumkan senada demikian "adalah bodoh untuk mengharap orang lain kembali baik pada kita, setelah kita berbuat baik pada mereka. Seperti percaya bahwa seekor singa tidak akan memangsa kita, hanya karena kita tidak memangsa mereka".

Banyak kekecewaan. Merasa sudah berlaku baik ke seseorang tapi tidak merasa ada pengembalian setimpal dari orang yang sama. Kebaikan yang bertepuk sebelah tangan tampak begitu menyakitkan. Padahal prinsip tabur tuai sebenarnya jauh lebih agung dari insting sok tahu manusia.

Tiga cerita soal benih kebaikan diawal cerita ini membuat saya makin mantab dengan kebenaran bahwa benih kebaikan itu tidak akan terbuang percuma, terlepas jika orang yang menerima benih itu tidak dapat memberikan balas budi yang memadai secara langsung. Jangan jemu berbuat baik karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai.

FREE HAIRCUT FOR HOMELESS
Source: www.takepart.com

Kita tidak bisa memastikan dari siapa tuaian itu, seberapa subur benih itu, semanis apa buahnya, dan seberapa banyak panenannya. Bukan bagian kita untuk menebak apalagi mengatur, bagian kita adalah menggerakkan tangan terus untuk menabur benih baik. Toh sebenarnya kita tidak murni sedang menyemai benih, kadang kita hanya sekedar meneruskan benih itu dari seseorang ke orang lain.



"Help people, even when you know they can't help you back. Because helping people, can be a cure. Not just for those who in need but for your soul as well." -Marinela Reka


... sebuah pesan yang terus berulang ...
Dimulai dari tepat minggu lalu saat saya dan Riyan menghabiskan hari minggu malam dengan bertukar khotbah, pertama kalinya saya tahu tentang "sero-fenisia". Lalu pengakraban kata itu disusul dengan satu artikel renungan dan satu update status path kawan saya tentang ringkasan khotbah di gerejanya. Ibadah minggu tadi, adalah penguat semua kebetulan ini. Kali ini, saya memberanikan diri untuk memparafrase apa yang saya dapatkan dari semua rangkaian kebetulan tentang wanita sero-fenosia dan seorang tuli dan gagap. Dengan segala keterbatasan pengetahuan alkitab dan juga keterampilan menulis, saya harap tidak mengurangi kesempatan untuk berkat indah ini dinikmati.

_______

Dalam Markus 7:24-37, dipaparkan secuplik adegan saat Yesus mengunjungi wilayah tirus. Disana Yesus dihampiri oleh seorang wanita non-Yahudi yang memohon pertolongan untuk anaknya yang sedang kerasukan setan lalu disusul dengan karya kesembuhan bagi seorang tuli dan gagap.

Agaknya adegan senada sudah pernah terjadi di bagian lain injil, tentang Yesus yang berbelas kasih dan melakukan keajaiban. Namun kenapa perikop ini menjadi unik?

Pertama, mari kita ingat bahwa setiap injil memiliki ciri dan sasaran yang berbeda. Matius misalnya memfokuskan pada pembaca orang Yahudi sehingga tidak mengherankan jika kitab itu dimulai dengan menuliskan silsilah Yesus sebagai ototrisasi perihal Yesus sesuai dengan tradisi Yahudi. Sedangkan Markus adalah injil yang ditujukan bagi para orang non-Yahudi atau dalam bahasa Perjanjian Baru sering diwakilkan dengan sebutan "Yunani" (Gentile, dalam bahasa Inggris). Perikop soal sero-fenisia ini HANYA termuat di kitab Markus, sehingga hampir mustahil hal tersebut dilakukan tanpa tujuan. Markus seakan ingin mengantarkan pesan peneguhan bagi orang-orang yang dianggap tidak terpilih oleh Allah.

Kedua, mari tengok konteks geografis di perikop itu.


Yesus dikatakan mengunjungi Tirus secara sengaja. Signifikansinya adalah bahwa Tirus (dan Sidon) bukan wilayah Yahudi. Anggapan bahwa Yesus rasis dan hanya melayani kaum Yahudi sepenuhnya digagalkan di perikop ini. Kesengajaan Yesus mengunjungi wilayah non-Yahudi adalah bukti bahwa pelayanannya tidak berbatas kesamaan suku bangsa. Selain itu, konteks geografis juga disinggung di ayat 31. Kita akan merasa biasa saja jika hanya membaca kalimat itu tanpa meluangkan waktu melihat konteks lebih besar. Wilayah Tirus, Sidon, dan Danau Galilea semacam segitiga siku-siku dimana Tirus adalah titik pertemuan dua garis tegak lurusnya. Untuk menuju Danau Galilea Yesus SAMASEKALI TIDAK PERLU melewati Sidon. Tapi, Dia memilih untuk melalui wilayah itu. Sekali lagi, disitulah penegasan betapa tudingan rasis pada Yesus adalah hal tidak relevan. Fakta besarnya adalah Sidon bukan hanya dijadikan sebagai bagian dari rute perjalanan oleh-Nya, namun juga tempat pelayanan yang terbukti dengan Dia yang berkenan menyembuhkan seorang tuli dan gagap (ayat 34). Yesus merepotkan diriNya sendiri dengan menambah jauh perjalanan untuk berkarya bagi orang-orang non-Yahudi karena Dia tahu ada orang yang sedang membutuhkan.




JamahanNya, bukankah dari situ kita seharusnya tersentuh dengan betapa murahnya Penebus kita?Dengan cara-Nya sendiri Ia tahu bagaimana akan menyalurkan pertolongan bagi kita.

Ketiga, mari kita berpindah ke konteks tradisi. Di perikop itu dikatakan bahwa seorang Wanita sero-fenosia menghampiri Yesus (ayat 26). Terlihat sangat sangat sederhana memang sebelum kita menyadari pemetaan perbedaan besar antara Yesus dan Wanita tsb. Yesus adalah seorang laki-laki Yahudi sedangkan wanita tersebut adalah seorang wanita non-Yahudi. Konteks tradisi saat itu adalah sangat tidak sopan untuk wanita menghampiri pria di kawasan publik, APALAGI jika itu bersebrangan suku bangsa. Apa yang dilakukan wanita itu adalah sikap iman yang besar. Bahkan tanpa kita sadari dari tindakan itu termanifestasi tiga hal besar sekaligus: Iman, Pengharapan, dan kasih. Iman yang meyakini bahwa Yesus MAMPU menolong, pengharapan bahwa Yesus akan MAU menolong, dan kasih kepada anaknya yang sedang menderita.

(ditambahkan 8 Maret) Selain tiga konteks yang ada di atas, ada hal unik lain yang khas di perikop ini. Keempat: konteks kebiasaan. Beralih dari wanita Sero-fenisia menuju ke karya Yesus pada seorang tuli dan gagap (ayat 31-35). Di banyak kisah penyembuhan yang lain Tuhan Yesus terlebih sering menggunakan pernyataan tegas yang membawa mukjizat, namun di peristiwa ini Yesus melakukan setidaknya tiga tindakan aktif untuk suatu karya penyembuhan. Pertama tindakan mengajak orang tuli dan gagap tersebut untuk menjauh dari keramaian sehingga mereka dapat secara personal berinteraksi (ayat 32). Hal ini menjadi berkesan ketika kita menyadari bahwa seseorang yang tuli dan gagap adalah orang yang sangat sulit bersentuhan secara sosial. Bayangkan, tuli dan gagap! Bukan buta dan lumpuh yang membuat mobilitas terganggu namun komunikasi dapat tetap berjalan. Ajakan yesus untuk mereka memisahkan diri dari orang banyak menyuarakan empati personal tak terhingga. Kedua adalah tindakan Yesus yang memasukkan jari dan meraba lidah untuk mengantarkan sebuah kesembuhan. Kenapa tidak hanya lewat kata-kata seperti biasanya? Mungkin dapat menjadi perenungan bahwa terkadang belas kasih tidak boleh hanya berhenti lewat doa dan kalimat simpatik namun tangan dan kaki yang bergerak. Ketiga, Yesus menengadah ke langit (ayat 34), disini diekspresikan sebuah kerendahan hati besar dari kepada Bapa. Jika Dia yang juga Allah penuh kuasa dapat sedemikian merendahkan hati dan mengandalkan Bapa, bagaimana kita manusia yang samasekali bukan maha-kuasa bahkan tidak tahu apa yang terjadi barang sejam ke depan?

Setelah memahami konteks besar bacaan, mari beralih ke hal-hal detail di bacaan tersebut dan mengambil intisari teladan.

Ayat 24 "... Ia tidak mau ada orang yang mengetahui kedatanganNya ..." ditambah ayat 36, tersingkap attitude Yesus: giat dalam diam. Baru beberapa waktu lalu saya hadir dalam sebuah KKR remaja, seorang hamba Tuhan yang agaknya memang populer di Surabaya tak sedikit menyinggung kiprah dan prestasinya dalam pelayanan di sela-sela pelayanan Firman. Walau terlihat rohani untuk menyatakan berapa banyak jiwa yang sudah dilayani, agaknya itu tetap bukanlah hal yang Yesus teladankan. Ketika hendak memulai pelayanan disana, Yesus bahkan berusaha menyembunyikannya. Sungguh miris jika kita anak Tuhan masih sibuk mencari pengakuan dengan menggembar-gemborkan hal baik yang kita lakukan.

Dalam ayat 27-28 termuat kalimat soal anjing dan reremahan roti. Terlihat keras dan sesekali membenarkan soal tudingan rasisme Yesus. Tapi justru di kalimat ini sedang ditunjukkan integritas Yesus yang tetap berbalut kasih ditambah ekspresi iman dari wanita Sero-fenisia tsb. Dari sini kita dapat menegaskan sekali lagi tentang besarnya Kemurahan Allah. Seruan iman seorang non-Yahudi pun Ia balas dengan sebuah sentuhan mukjizat, apalagi seruan anak-anakNya.

Ayat 36, adalah soal kesaksian. Kita tahu bahwa bersaksi adalah bagian lekat dari seorang anak Tuhan. Tapi acapkali kita seakan enggan, karena merasa tidak perlu dan tidak cukup penting. Padahal secara mendasar respon kita sebagai orang yang tahu diri ketika usai menerima kebaikan adalah menceritakan itu. Saya pernah mendengarkan analogi indah ini.


"Kita tertimpa kecelakaan dan sedang membutuhkan dengan sangat donor darah, padahal darah tsb tergolong sulit, lalu seorang datang tanpa dibayar mau memberikan donor darah. Apakah respon kita? Pertama adalah kita akan berterimakasih karena bantuannya kita batal mati. Kedua kita akan berusaha membalas budi, dengan mengirimkan hadiah atau apapun itu. Terakhir secara otomatis kita akan bercerita ke teman kita 'orang itu lho yang sudah selamatkan aku, karena donor darahnya'."

Analogi itu hanyalah perkara darah jasmani yang pada akhirnya tidak berguna lagi saat kita mati karena usia nantinya. Tapi anehnya kita lebih bisa tahu diri ke yang memberi hal sementara dibandingkan ke Yang memberi kekekalan. Kita manusia cenderung lupa betapa banyak dan keren yang Tuhan sudah anugerahkan, sehingga akhirnya tidak merasa berkewajiban untuk bersaksi. Jadi sekarang, masih malas bersaksi?

Terakhir dari ayat 37, sebuah penutup yang SANGAT INDAH. Kita dapat tahu bahwa Allah membuat segala sesuatunya BAIK. Mungkin terlihat rumit dan aneh seperti pilihanNya menentukan rute menuju danau Galilea, namun itulah kedaulatanNya! Walau kadang terkesan tidak rasional, taruhlah iman! Bahwa Dia sungguh jago mentransformasi yang usang menjadi baru, yang lunglai menjadi kokoh, dan yang suram menjadi cerah! Amin. 



Sumber:
1. khotbah GPIB MORIA Jaksel, 31 Agutus 2015.
2. Khotbah GKI Residen Sudirman Surabaya 06 September 2015.
3. Renungan harian Wasiat 4 September 2015
4. Khotbah HKBP Denpasar 06 September 2015
5. Renungan Pagi Guru 8 Maret 2016
Di tengah sore hari Jumat usai meyeruput segelas kopi susu instan favorit, telingaku nakal menguping percakapan para kawan guru lain. Topiknya tentang beberapa siswa yang populer belakangan akibat segala ulah mereka. Hampir semua guru sudah dibuat geleng-geleng oleh mereka yang (untungnya) terpencar di berbagai kelas. Mereka yang masih gres melepas seragam putih-merahnya membawa berbagai kejutan.

Menghadapi berbagai karakter 'unik' itu memang menciutkan nyaliku. Aku sesekali takut. Di saat yang lain kadang aku terjebak untuk melabeli beberapa di antara mereka dengan sebutan "aneh" atau kadang menghakimi tanpa suara dengan julukan "nakal". Dan aku juga sesekali angkuh.

Ada serpihan enggan saat melihat tabel jadwalku saatnya mengunjungi mereka. Raga yang hadir tak lebih dari sekedar wujud tanggung jawab. Iya, memang kasih dan secuil dedikasi tidak pernah absen walau sesekali itu semua diselubungi pekat rasa takut. 

Masih dengan segelas kopi susu yang tersisa separuhnya, tanganku yang tak berhias cat kuku mulai membuka lembar demi lembar catatan siswa tentang satu topik renungan.
Senyap menyelinap, aku abaikan es kopi susu nikmatku.

Aku merasa bersalah, seketika.
Hidup mereka tak serenyah tawa yang dihadirkan di lorong-lorong sekolah kala 40 menit durasi istirahat tiba. Dengan membiarkan punggung jatuh di sandaran kursi kerjaku aku terkesiak tentang fakta bahwa banyak kisah tak mulus di celah kebisingan yang mereka ciptakan. Orang tua yang kurang perhatian, mama papa yang tak ubahnya dua peserta kompetisi debat, hingga pengabaian besar yang harus dirasakan bertahun-tahun.

Deretan nama yang acap memancing onar ternyata tak instan menjadi demikian.
Selalu ada sebab. Semua ada awalnya.
Terbingkai kisah sendu atau peran antagonis sebagai sponsor segala karakter kurang baik itu.
Tidak ada seorangpun yang dikodratkan menjadi pribadi yang buruk. Tak seorangpun juga yang sengaja diciptakan 'nakal' oleh Sang Khalik. Segala ke-khas-an negatif itu adalah sebuah produk berbagai faktor kompleks. Keluarga, kadang adalah penyebab utamanya. Di lembar yang sama mereka mengaku, tak mudah untuk mengucap syukur atas kondisi keluarganya.

There isn't anyone you couldn't love once you've heard their story -Aister

Membaca ataupun mendengar secuil penjelasan tu sudah berhasil meluluhkan hati, ketakutan dan kesombongan pun turut larut. Dari heran penuh gemas bergeser menjadi sendu kasihan. Mereka yang terlihat aneh, mereka yang gemar membuat onar, dan mereka yang hobi menabung daftar panjang pelanggaran justru adalah pribadi yang paling membutuhkan kelembutan dan kasih bukan justru omelan semata. Kadang yang mereka butuh adalah telinga yang siaga mendengar dan didikan yang dibahasakan dengan kepedulian.




Kadang aku (dan mungkin beberapa guru lain) hanya terlalu sombong, merasa lebih dewasa, lebih normal, dan lebih tahu. Miris memang saat predikat 'guru' membuat kami menjadi hakim atas sesama kami dan bukan justru menjadi perban yang membalut luka.

Bagaimanapun benar memang bahwa baik antara rasa takut dan sombong hanya cocok bersanding dengan sesuatu yang tak utuh kita pahami. Setelah menyimak sedikiiit saja rangkai kalimat jujur siswa, seketika gelas kaca berisi air keruh kopi susu itu menjadi cermin untukku, seraya menegur "lihatlah lebih dekat dan dengarlah lebih jernih, lalu kau akan bisa mengasihi dengan lebih tulus."
Heran dengan judul post ini? Hahaha iya, itu merupakan versi bercanda dari fakta bahwa bangsa kita memang besar dan kuat di lautan. Hal pertama yang akan saya ungkap disini adalah: berlayar itu tidak mudah! Seriously.

Kapal perintis yang mengantarkan kami ke tiga destinasi: Maselembu, Keramian, dan Matasiri dinamakan kapal Miami. Berwarna hijau tua dan diandalkan sebagai pengantar pasokan bahan makanan, singkatnya kapal ini merupakan sebuah kapal barang. Ada ruang besar yang membuat kami leluasa untuk tidur di segala sudut ditambah fakta bahwa kapal itu memang kami 'monopoli'.



Di kapal itu saya berkenalan dengan dua ABK, seorang Flores dari Larantuka (NTT) yang berpenampilan nyentrik serta Pak Ibrahim seorang Makassar yang besar di Papua. Ini semacam kebiasaan bagi saya. Selalu ada durasi waktu yang saya habiskan untuk meninggalkan keseruan bersama teman-teman lalu mengobrol dengan orang lintas usia dan lintas golongan.  Bagi saya ini cara ampuh untuk memperkaya wawasan.

Selama mengarungi lautan, Anjungan kapal merupakan tempat favorit kami berkumpul membunuh rasa bosan. Disitu kami berfoto, memasak, bermain kartu, atau sekedar bersenandung gila. Bonus perjalanan ini adalah membuat kami menyaksikan dengan mata telanjang keindahan matahari terbit dan matahari terbenam. Ah bagi saya pribadi itu keindahan sejati, mengamati secara langsung matahari bergerak turun kala senja. Saya sedang mencicipi kedamaian surga.

Perjalanan ini membagi kami dalam tiga golongan: pelaut, bukan pelaut, dan golongan tengah. Sebagian orang bisa penuh tawa dan seakan tak kunjung habis baterainya untuk tetap terjaga. Kadang bahkan masih sempat untuk usil menganggu. Ada juga golongan yang KO sekejap saat angin laut kencang berhembus dan kapal mulai bergoyang akibat gelombang. Kocaknya, sebagian di antara mereka adalah orang yang sudah menaklukan banyak tempat dan banyak puncak. Kang Abel -orang Bandung- contohnya. Tak butuh waktu lama buatnya langung tergeletak lemas segera setelah kapal mulai melaju. "Apapun tidak pernah membuat saya mabuk, kecuali laut" begitu lugasnya dengan ekspresi heran yang menggelikan berlogat sunda kental. Saya adalah golong ketiga, ada di tengah-tengah. Kuat terjaga untuk sesekali bercengkrama namun juga tepar di bantal kala ombak terlalu kencang menyerang.

Di atas kapal Miami ada beberapa kenangan manis tergoreskan bagi saya pribadi. Misalkan saat Rizal -seorang mahasiswa UB- mendapati saya seorang keturunan Tionghoa (ini fenomena jarang terjadi). Dia merupakan muslim taat yang mengagumkan, namun tak segan untuk menanyakan apa makna di balik Claudya Tio Elleossa. Juga saat saya dan Diah -mahasiswa ITS- saling menatap secara otomatis saat mendengar seorang ibu-ibu di pelabuhan berjualan "nasi bungkusnya, yang huruf A ikan Ayam - yang huruf O ikan Telur" nahloh! Kok gak sinkron.. Hahha saya dan Diah yang akhirnya jadi partner berbagi selimut hanyut dalam tawa yang renyah. Ohya saya juga merinding terkesan melihat kawan-kawan muslim yang tetap menjalankan sholat lima waktu seakan tak menyadari goncangan kapal. Suatu subuh bahkan saya -seorang Kristen- merinding haru mendengarkan Mas Beki -mahasiswa Jogja- mengaji dengan sangat merdu. Sungguh, momen seperti ini membuat saya makin bangga akan keberagaman umat beragama di Indonesia. Pemandangan seperti itu juga menggertak saya untuk menjadi umat beragama yang lebih baik. Terakhir adalah momen kala kebaikan memang selalu termanifestasi lewat tindakan. Di malam pertama pelayaran, saya bersama dua mahasiswa ITS (Diah dan Marqi) dan satu mahasiswa BSI Jakarta (mas Firman) tidur berbagi karpet yang sama. Lalu seorang bocah Jogja bernama Dika tanpa aba-aba menyelimuti kami berempat dan menyisakan dia tidur tanpa selimut samasekali. Entah kenapa ini jadi salah satu bagian mengesankan bagi saya. Kepedulian sederhana kadang bisa meninggalkan kesan mendalam. Terimakasih Dika.

Akhirnya, di kapal Miami itu terungkap kualitas pribadi banyak orang dari yang cuek hingga super peduli, yang menyisakan seorang Claudya untuk kembali belajar. Mengapung belasan jam di gelombang air juga membuat saya mencicipi mabuk laut yang sesungguhnya, dan oleh karenanya kekaguman saya haturkan bagi para pelaut Indonesia. Kapten dan para ABK baik dari kapal penumpang, kapal barang, ataupun kapal ikan di segala penjuru nusantara. Kalian orang hebat! 

"Karena manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir" -Pengkhotbah.

Salah satu momen yang istimewa di hidup manusia adalah saat kita diperbolehkan menjadi saksi atas realisasi sabda-Nya. Kita berdecak "ah bener ya ayat di firman itu." Setidaknya itu berlaku untuk saya. Kita bukan hanya membaca namun menyaksikan dan mengalami. Adakah yang lebih indah? Kali ini saya ditampar oleh fakta betapa kerdil diri ini untuk memahami apa yang sebenarnya sedang sibuk Dia kerjakan.

Selasa yang tidak mengandung angka cantik menghantarkan pada dua kejutan. Semuanya seirama berkolaborasi menambah kekaguman baru tentang bagaimana Tuhan berkarya di pribadi seseorang.

Tulisan blog saya tentang "malu menjadi guru" adalah tulisan paling banyak di-reshare selain tulisan tentang Riyan. Secara acak, link itu disambangi oleh seorang kenalan yang saya temui di sesi Focus Group Discussion untuk rekrutmen sebuah NGO besar. Dia bertutur tentang kesannya terhadap tulisan saya yang (Puji Tuhan) membuatnya memiliki sebuah perspektif baru. Nyatanya, komentar singkatnya juga membawa saya pada pemahaman baru yang berharga.

Dia menceritakan betapa dia kaget akan kabar penerimaan karena pada dasarnya dia hanya 'mencoba'. Jika ditanya apa yang sangat dia inginkan, maka jawabannya adalah menjadi guru mengingat dia juga dari jurusan yang sangat cocok untuk berkiprah di dunia pendidikan. Namun setelah mencoba di berbagai institusi sekolah, asanya selalu terhalang. Sampai akhirnya dia diterima di NGO ini. Sepenuhnya berkebalikan dari saya yang sangat menginginkan NGO ini namun berujung pada penolakan dan memberi jeda untuk meneguhkan bahwa saya harus kembali berkarya menjadi guru. 

Dari baris kalimat di kolom komentar itu, saya memahami betapa rencana Tuhan atas setiap pribadi begitu mengejutkan sekaligus unik. Dia membawa anak-Nya dengan segala cara menuju tempat dimana seharusnya dia berada. Kegagalan kadang pertanda kita harus berusaha lebih keras tapi tak jarang itu sinonim dengan bahasa 'tidak' dari Allah. Bukan karena Dia jahat, murni karena Dia telah menyiapkan yang PALING SESUAI. Tidak berarti yang paling nyaman, tidak selalu yang paling menggairahkan, tapi PASTI yang paling sesuai.




Kedua, saya diingatkan bahwa apa yang kita miliki bahkan walau terlihat sangat remeh, kadang adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang lain di luar sana. Tidak ada alasan kita tidak bersyukur. Sungguh. 

Ketiga, kebetulan dia sampai ke blog kumuh ini, sederhana membuat saya semakin yakin tidak ada yang kebetulan. Setiap hal bisa Dia gunakan untuk menjadi sarana penjelasan bagi orang lain semakin memahami karakter Agung nan berdaulat-Nya.

Bukan saja perkara komen 'nyasar', Selasa kali ini menjadi semakin melekat di hati sekaligus membekaskan seutas senyum adalah karena sebuah kabar bahwa saya diterima menjadi peserta salah satu kegiatan Pemerintah untuk menghidupkan semangat kemaritiman. Sebuah kegiatan bernama 'Ekspedisi Nusantara Jaya' akan mengisi bulan Juni saya. Berlayar di secuplik laut megah Indonesia lalu diselingi dengan bersandar singgah ke pulau-pulau kecil untuk membantu masyarakat disana. Kalian tahu apa artinya ini bagi saya? 

Pertama, mengikuti program pelayaran sudah saya coba sejak 2013 namun terhalang ijin cuti. Jadi jelas, ini satu lagi poin dimana mimpi saya terkonversi menjadi kenyataan. Tidak mungkin bahagia absen dari hati ini.

Kedua, makna besar kegiatan ini bagi saya personal adalah titik temu dua keinginan besar yang gagal saya dapatkan. Antara bergabung NGO dan (C)PNS. Kerinduan saya untuk 'membantu' masyarakat di luar pulau Jawa yang sesak ini saya kira hanya dapat saya lakukan lewat NGO namun ternyata asumsi saya keliru. Ada hal yang sepenuhnya berbeda dari yang saya bayangkan yang bisa membuat saya men-check salah satu poin dari daftar keinginan. Sisi lainnya adalah fakta bahwa kegiatan ini benar-benar adalah agenda pemerintah. Kabar kembali menjadi guru PKN menyisakan satu pertanyaan, bagaimana mungkin saya mengajarkan tentang Indonesia tanpa pernah benar-benar berkecimpung atau mencicipi kegiatan yang memang digarap oleh pemerintah. Ternyata, rasa heran itu ditaklukan dengan kesempatan emas ini. Lagi-lagi manusia hanya jago menerka. 

Saya akan mengikuti salah satu kegiatan dari pemerintah yang melibatkan sangat banyak kementerian plus diperbolehkan menjadi 'berguna' untuk mereka yang sering terlupa. Oke, ini menjadi akhir kisah paling sempurna yang membuktikan bahwa kita boleh memiliki kerinduan namun jangan sekali-kali menyetir Dia untuk cara penggenapan kerinduan itu!

Akhirnya dengan sejuk hati penuh kagum saya dapat meminjam sepenggal paragraf favorit yang saya temukan dari buku Almost Heaven:
"I have been given this assignment by Him, the One who knows the end from the beginning, the One who holds the future in His nail-scarred hands and so I will gladly fulfill my role. Of course, it didn’t work out according my plan. LIFE GENERALLY DOESN'T. God had a totally different plan. I don’t know. I don't think I'll ever know. And part of me doesn’t even want to know. I just wanted this to be something that could only be explained by God’s intervention."

Manusia suka mencari tanda. Manusia gemar mengumpulkan fakta-fakta yang memperkuat posisinya. Itulah kenapa ulasan horoscope masih laris di kolom surat kabar dan ramalan kartu menjadi sesuatu yang tidak kehilangan pesonanya. Menjadi percaya tanpa melihat, bukan hanya Thomas yang sulit melakukannya 2000 tahun lalu.

Ini adalah cerita yang sudah lama parkir di otak saya dan akhirnya tidak tertahan untuk disemayamkan dalam tulisan. Kisah ini masih merupakan rangkaian memahami panggilan kala masa menjadi pengangguran. Seperti yang saya tulis di cerita lengkap sebelumnya, saya kembali menjadi guru. Fiuuh.. Melamar ke enam sekolah, adalah tindakan saya menguji hasil pergumulan dan semoga empat panggilan dalam satu minggu merupakan pertanda besar bahwa hmmm saya memang harus menggarap ladang ini. Tapi dasarnya manusia, seorang Claudya masih menggerutu. Setiap kali melihat aktivias sosial media kawan yang diterima mengabdi sebagai PNS dan sosial media pelayanan dari WVI, hati saya teriris (literally). Masih belum berdamai, mungkin itu tepatnya. Menerima kekalahan bukanlah hal mudah, apalagi jika setelah tahapan itu kita diharuskan masuk ke satu area baru yang sebenarnya ingin kita tinggalkan jauh. Saya bertanya ke Tuhan dan mempertanyakan diri sendiri. "Jangan-jangan aku salah mengartikan hasil pergumulan." begitu pembelaan dalam angan.
Suatu siang, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor yang tidak saya kenal. Ternyata itu lagi-lagi sebuah panggilan seleksi pekerjaan. Orang di seberang telepon itu berbicara sangat fasih dalam Bahasa Inggris, saya penasaran. Tidak berselang lama, terungkaplah bahwa itu merupakan panggilan pekerjaan dari sebuah sekolah tempat para anak expatriate di Surabaya bersekolah. WOW, saya tidak percaya lamaran yang saya kirim melebihi tenggat waktu maksimal ternyata ditanggapi dengan sangat baik. Sayangnya telepon itu berdering pasca keputusan akan ke sekolah mana saya akan berkarya sudah saya buat. Dengan sopan saya menolak tawaran itu. 

Panggilan yang mengusik jam santai saya siang itu tidaklah sia-sia. Samasekali tidak sia-sia. Lima dari enam sekolah, bukankah tanda besar bahwa this is a place I belong to be. Dua minggu setelahnya, sekolah keenam melakukan hal yang sama. Lengkap sudah pertanda ini, saya menemui jalan buntu untuk membangkang. Telepon kelima itu, menyuarakan kesan mendalam. Atas keterlambatan saya mengirimkan lamaran dan atas reputasi sekolah sebesar itu. Lebih-lebih kala saya mendengar responnya yang meminta saya kembali mencoba melamar di sekolah itu setelah kontrak saya di sekolah saya (akan) mengajar saat ini tuntas. Telepon keenam hanyalah bonus, sebuah tanda pemantab hati yang tidak saya minta, yang pastinya ditujukan untuk manusia super keras kepala seperti saya.




Kita rajin mengajukan tanda tanya pada Pencipta, jika kita cukup beruntung pertanda itu akan datang. Namun bagaimanapun kita tidak bisa terus mengandalkannya. Ada waktu di hidup pertanda akan bersembunyi hingga akhir. Percaya sebelum melihat pertanda adalah kualitas iman sesungguhnya. Saya gagal untuk itu, beruntungnya kekerdilan iman saya masih dinaungi oleh Kemurahan Pencipta. 

Setelah satu tahun ini saya tahu bahwa mencari pekerjaan (kadang) menjadi begitu rumit tapi sesuatu yang jauh melebihi itu adalah kesulitan mengungkap panggilan kita, dan kamu tahu apa yang paling sulit? menjadi taat.



I’ve learned from life that sometimes, the darkest times can bring us to the brightest places.

That our most painful struggles can grant us the most necessary growth.

I’ve learned that what seems like a curse at the moment can actually be a blessing,
and that what seems like the end of the road is actually just the discovery that I am meant to travel down a different path. 

I’ve learned that no matter how difficult things seem, there is always hope.




And I’ve learned that no matter how powerless I feel or how horrible things seem, I can’t give up. I have to keep going.
Even when it’s scary,
even when all of my strength seems gone,
I have to keep picking myself back up and moving forward,
because whatever I'm battling in the moment, it will pass, and I will make it through. I’ve made it this far. I can make it through whatever comes next...

(Powerful Word by Yasinta Astrid)
MAINSTREAM-isme
(:noun) paham yang menempatkan rata-rata pilihan kebanyakan sebagai pertimbangan.

Penambahan imbuhan 'isme' adalah keisengan saya, tanpa maksud apa-apa selain agar terdengar lebih keren. Harus diakui kata 'mainstream' ataupun sang antonim yang berimbuhan 'anti' di depannya adalah kosa kata populer saat ini. Apakah memang menjadi 'berbeda' sekarang merupakan toplist pekerjaan favorit generasi kita? Sepertinya begitu. Menjadi lain dari yang kebanyakan, kuda laut punya cara sendiri untuk itu. Bayi kuda laut dilahirkan tidak dari betina. Emansipasi yang kerap diteriakkan kaum hawa juga secara kodrati disuarakan oleh spesies ini. Tugas melahirkan justru diemban apik oleh sang jantan. Satu dari jutaan keunikan alam.

Menjadi berbeda dari yang kebanyakan terkesan lebih seksi.  Misalnya adalah passion to travel -Wanderlust- demikian julukannya. Bekerja di kantoran dianggap terlalu boring dan menetap di satu tempat tanpa travelling dianggap usang, agaknya itu yang disuarakan banyak kaum muda belakangan ini. Di instagram akan begitu mudah menemukan akun yang menampilkan rangkaian perjalanan di surga-surga dunia semudah menemukan apa arti rumus phytagoras di mesin pencarian google.


Memang merasa bangga jika menjadi berbeda itu hal naluriah bagi kita manusia. Namun bagaimana dengan kisah sang kuda laut tadi? Saya tergelitik rasa penasaran akan apa yang dipikirkan oleh spesies lain dalam koridor laut yang sama. "Macho kok bunting" apakah ejekan semacam itu kerap didengarnya? Entahlah. Saya bukan seorang psikolog -baik manusia apalagi hewan.
Di tengah keunikannya, saya yakin pasti kuda laut tidak pernah merepotkan diri dengan melihat apa yang mayoritas terjadi. Jika memang dia punya cukup waktu dan energi mengamati penduduk lautan, mungkin dia akan tergoda akan salah satu dari dua hal ini: angkuh karena terlalu berbeda atau minder (juga) karena terlalu berbeda.

Alam yang menakjubkan ini menyiratkan sebuah pesan yang kaya. Kuda laut hanya salah satunya. Masih banyak yang lain, misalnya kolibri, satu-satunya burung yang dapat terbang mundur. Atau kaum nokturnal yang melakukan terobosan pada pembagian waktu antara aktivitas dan istirahat. Paus, sang pesenandung di lautan. Semua di alam ini adalah sebuah ke-khas-an. Menjadi berbeda adalah hal paling mainstream di muka bumi.

Paulo Coelho, lagi-lagi saya harus mengutip darinya, pernah berkata: "pohon tidak pernah berusaha menjadi berbeda, dia hanya berusaha tumbuh dan menjadi dirinya sebaik mungkin. Sungai pun tak berusaha menjadi berguna, dia hanya berusaha tetap mengalir. Dia berusaha menjadi sungai. Lalu darinya, banyak makhluk dapat dihidupi."

Kutipan sederhana dari peraih nobel dunia literatur tersebut mengusir virus mainstreamisme dengan lantang. Perbedaan dasar sebenarnya adalah: "melihat siapa?" Saat berusaha menjadi berbeda sesungguhnya kita sedang melihat ke orang lain. Kita melihat apa yang berlaku kebanyakan, entah akan mengikuti atau justru melawan arus nantinya. Pesan yang diajarkan alam justru jauh lebih sederhana: lihatlah ke dirimu sendiri. Entah hanya belasan atau jutaan orang yang memiliki kesamaan pekerjaan atau hobi, itu tidak terlalu penting. Bagaimana kamu mengupayakan pekerjaan dan hobi, itu jauh lebih penting. Inilah pesan kedua. Saat mainstreamisme mengajak kita menghitung kuantitas, alam mengajarkan lagi-lagi yang lebih sederhana: tetaplah bertahan dan lakukan yang terbaik! Alam mengajarkan tentang kualitas!

Si jantan hippocampus tidak pernah berusaha menjadi anti-mainstream dengan hak untuk melahirkan. Dia hanya berusaha menjadi kuda laut. Kolibri pun demikian, dia tak merepotkan diri untuk lebih dulu melakukan survey terhadap kemampuan terbang kawan-kawan berbulu lainnya. Dia hanya berusaha menjadi kolibri yang tetap terbang.

Bagi sungai, yang terbaik adalah tetap basah dan mengalir. Idaman bagi sang pohon adalah tetap bertumbuh dan berbuah. Tapi untuk manusia? siapa yang dapat mendefinisikannya? no one but ourselves :)

But who can say what’s best? That’s why you need to grab whatever chance of happiness you have, and not worry about other people too much. -Haruki Murakami

Berbahagialah ia yang terlalu lelah memikirkan hari esok. Lelap nyenyak menjadi miliknya. Esok masih saja ditemani kabut. Biarkan aku bersandar sejenak. Saat ini harus aku maknai juga :)

Satu paragraf singkat diatas bukan gubahan seorang Claudya, Di tengah menunggu sebuah antrian, tersodor sebuah majalah lokal perusahaan dan saya tergelitik untuk menguak apa yang ada di dalamnya. Durasi dihabiskan lebih banyak di halaman paragraf tersebut terpatri. Saya membaca ulang bagian "terlalu lelah memikirkan hari esok." Sontak saya bertanya apakah salah memikirkan hari esok? Bukankah itu hal yang wajar? Tidak ada seorangpun yang membantu saya menemukan jawabannya. Karena kadang jawaban memang harus dibuat dan tak sekedar dinanti, maka saya membuat jawaban versi saya sendiri hari ini:

Tidak ada yang salah dengan merencanakan masa depan. Tentang apa, kemana, berapa, dan kapan. Saya dan Anda memiliki angan akan masing-masingnya. Menginginkan apa, hendak pergi kemana, ingin berpenghasilan berapa, dan menikah kapan, Semua ada dalam baris pikiran yang terkonversi dalam tiga hal: rencana, upaya, dan doa. Ketiga ini adalah cara ampuh menjawab pertanyaan bagaimana kita mewujudkan itu semua. Sayangnya kadang kita lupa menarik nafas dan memberi koma pada perjuangan untuk menjawab pertanyaan mengapa kita memikirkan itu?

Ingin bahagia, banyak yang menjawab demikian mungkin. Perencanaan yang rinci dipuji sebagai sebuah rasa mawas akan masa depan sehingga dapat menciptakan kehidupan yang nyaman. Memastikan apa yang masih ada dalam kendali dan menekan kemungkinan kecerobohan. Manusia ahli dalam hal itu. Sayangnya dengan jawaban tersebut, kita lupa bahwa bahagia merupakan state of mind atau pengkondisian pikiran, itu adalah keputusan, yang bagi sebagian orang dinganggap sebagai tujuan.

"Jika sudah memiliki ini, sudah pergi kesana kemari, dan setiap bulan sudah mengantongi puluhan juta gaji, baru saya akan bahagia." Kita memberi syarat atas perasaan dan suasana kehidupan yang sebenarnya dapat kita rasakan kapanpun kita mau. Kabar baiknya adalah bahagia dapat dimulai hari ini. Menurut saya yang selalu sok tahu ini, banyak orang yang tidak mampu menikmati "sekarang" karena mereka merasa kebahagiaan ada nan jauh disana. Kebahagiaan ada di masa depan, sehingga membuat mereka terlalu sibuk memikirkan tentang apa yang masih bersemat kata "akan."

Bagi kita dan mereka yang sudah bahagia hari ini, rencana adalah wujud syukur yang menjauhkan kita dari takabur. Kita tidak takabur atau terlalu sombong menilai bahwa kehidupan akan selalu mudah, karena itu kita membuat rencana. Kita SUDAH bahagia hari ini, bukan karena hidup kita serba ideal namun karena kita memilih demikian. Kita sudah bahagia, kita tidak kesulitan untuk menikmati apa yang dinamakan: HARI INI.

Kepastian bukan penghuni hari esok, pun kebahagiaan. 
Mereka berdua adalah tamu hari ini. (cte)








No explanation needed.
"Never use stereotypes, both in real life and your writing."

karena yang kurus tidak selalu diet
dan dokter tidak harus bertulisan tangan jelek
laki-laki tidak haram menyukai pink
dan orang kaya tidak selalu naik mobil mewah
:)

Alkisah ada dua orang yang sama-sama ingin jadi pelaut handal. Sebut saja A dan si B, untuk mempermudah. Mereka mendaftar di akademi pelayaran yang sama, namun skenario lanjutan mereka sangat berbeda.

Si A ditempatkan langsung di lautan. Semacam manifestasi prinsip "learning by doing" atau "practice makes perfect." Sedangkan si B di tempatkan di ruang kelas yang nyaman. Tenaga pengajar yang lembut namun tegas, kurikulum yang rapi. Sesekali praktek di lautan namun tetap penuh dengan pengawasan tenaga ahli dan berlokasi di laut yang juga bergelombang ringan. Pun, bukan tanpa tugas-tugas, namun semua masih dalam tahap normal yang tidak melelahkan.

Bertahun-tahun berlalu, satu tingkat selesai. Si A pulang dengan banyak memar dan luka menangani kapal di tengah lautan yang kejam. Dia jadi pelaut handal. Si B, dengan tubuh yang tergolong jelita, juga tak kalah. Diabpun menjadi pelaut handal.




Secuplik analogi ini akan mengantarkan kita pada dua tipe pelaut kehidupan ini. Mungkin kita juga akan mengerutkan alis bergumam betapa tidak adilnya skenario semacam itu bagi si A. Kemungkinanya ada dua, si A yang memang dianggap kurang pengalaman sehingga Guru merasa perlu mengirimkan dia langsung ke lautan keras, atau mungkin, Guru menilai bahwa hanya si A yang cukup mampu bertahan belajar langsung di laut.

Setiap orang dipercayakan hidup yang khas oleh sang Khalik, itu adalah sebuah keniscayaan. Lika-likunya begitu beragam sehingga sejenius apapun seseorang sepertinya tidak akan pernah mampu menyelami pemikiran yang Maha Agung. Jangankan menyelamai, untuk mengurai runtutnya saja terlampu sulit. Untuk sebagian orang, kehidupan terasa begitu rumit. Saya merasa ada di golongan itu. Kita semua agaknya merasa di golongan itu. Melihat bagaimana keluarga jatuh bangun, orang tua yang bertengkar hingga berpisah, menangis ketakutan mencari dana melanjutkan pendidikan, mengungsi tak punya rumah saat ulang tahun, dan bergelut dengan kebencian melihat ketidaksempurnaan orang sekitar.

Sekacau apapun itu, akhirnya terlewati. dan belum pernah saya menyesali dipercayakan hidup demikian. Hari ini saya melihat seorang pemudi yang dengan penuh kesakitan dibentuk oleh Penciptanya. Saya (merasa) adalah si A di analogi tadi, dan saya tak berusaha protes akan hal itu. Bertahun-tahun saya merasa baik-baik saja dengan pola didikan Pencipta saya. Hingga di suatu malam, ketika saya menceritakan hal ini ke orang terdekat yang sedang belajar menjadi pendengar yang baik, ada gelombang gelisah yang membanjiri pikiran. Dia adalah si B, bagi saya. Tak selang lama menit berganti tepat setelah saya dengan air mata haru dan sesekali pedih menceritakan perjalanan keluarga yang penuh drama, dia dengan begitu damai berkata "aku belum pernah melihat orang tuaku bertengkar."

Tepat saat itu, kali pertama mungkin dalam hidup saya ingin protes pada Penata skenario. Kenapa enak sekali dia? Punya orang tua yang saling mencintai hingga saat ini, terjauh dari "kesialan" atau berbagai kecerobohan. Pernah saya menanyakan "pergumulan apa yang membuatmu merasa sulit mengampuni?" lalu dia dengan kebingungan merasa bahwa mengampuni bukan hal susah. Dia keren! Saya begitu rendah melihat diri sendiri yang butuh bertahun-tahun mempelajari apa itu pengampunan. Saya marah seketika, kenapa sebagian orang dipercayakan hidup yang sederhana jalan ceritanya? Bukan tanpa masalah, tapi setidaknya perkara kekhawatiran dan pengampunan atau pergumulan lain dapat dia pelajari dengan lebih mulus.

Sedangkan saya entah berapa tahun harus dihabiskan untuk belajar mengampuni. Pun soal kekhawatiran, ketika yang lain termasuk sahabat saya ini gelisah bertanya "bakal kuliah dimana? bisakah masuk perguruan tinggi negeri?" saya harus tebentur dengan pertanyaan "apa saya bisa lanjut ke SMA?"

Mungkin Tuhan tidak adil.
Mungkin Tuhan kurang mencintai saya
dan lebih mencintai sahabat saya itu.

Tiga kalimat di atas hanyalah kemarahan sepersekian detik. Pada akhirnya bodoh sekali pemikiran semacam itu! Kemarahan yang mendustakan pengakuan bahwa untuk yang berkapasitas lebih dipercayakan beban yang lebih. Semua adil dalam porsi penuh kasih.

Harus diakui sangat jarang orang yang merasa dia adalah si B. Setiap orang merasa hidupnya sulit. Apakah saya benar? tapi mari dengan fair mengatakan, ada beberapa dari kita yang memang dianugerahkan kehidupan sangat indah. Jauh lebih mulus dibandingkan sebagian yang lain. Sekali lagi saya tegaskan, bukan tanpa masalah. Tapi punya jalan cerita yang tidak terlalu rumit. Punya orang tua harmonis yang mendidik atau bahkan keluarga besar yang peduli, punya kecukupan keuangan, punya sumber daya mewujudkan impian. Bersyukurlah!

Hidup yang indah dan sederhana bukan aib,
Sama seperti punya hidup yang rumit juga bukan kebanggaan.

Bagaimanapun, ini masih misteri. Tapi dari kejadian malam itu saya belajar bahwa penting bagi kita mensyukuri kehidupan indah tanpa membuat orang lain mempertanyakan Pencipta atas hidupnya yang susah. Sahabat saya malam itu, dari kalimat "aku tidak pernah melihat orangtuaku bertengkar" telah membuat saya iri, kecewa, marah, dan penuh tanya pada Pencipta. Memang, dari satu kalimat iman dapat bertumbuh atau justru terbunuh.

Ohya, saya tidak akan lupa memberikan potongan akhir dari cerita soal dua pelaut itu versi imagi saya sendiri.

Usai selebrasi kelulusan, si B dan beberapa orang lain datang menghampiri si A, dengan antusias mendengarkan kisah seru petualangan di lautan, mereka terkagum dan berkata pada si A "terimakasih, dari pengalamanmu aku belajar. kau telah memperkaya ilmuku untuk jadi pelaut handal, ilmu yang tidak aku temukan di ruangan"
Mendengar itu, si A alih-alih bangga justru dalam senyum getir berbisik di hati: "aku yang penuh darah dan memar, tapi ternyata dariku mereka belajar. uh.. sial sekali aku"
Lalu sang Guru membuyarkan lamunan gerutuan si A dengan berkata "hai nak, murid-Ku, terimakasih telah membantu mengajari mereka. Kau partner-Ku, pengalamanmu memperkaya kurikulum sekolah yang Aku dirikan ini."

Kita tergolong yang mana bukan masalah, yang penting adalah kita bersedia berproses dan belajar dari mana saja untuk menjadi pelaut handal itu!
Bagi si A, jangan sombong menilai dirimu yang paling tangguh sehingga membuat si B rendah diri akan pelajaran di kelas!
Bagi si B, Bersyukurlah! tapi jangan pernah membuat memar luka bekas petualangan badai di laut dari si A menjadi lebih perih! dan akhirnya membuat dia mempertanyakan sang Guru.

ingatlah peraturan akademi kelautan ini:
"ragu pada Guru adalah tabu!"