Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.



Keberuntungan dan lawan katanya, konon merupakan bagian yang tidak dapat ditebak dalam hidup ini. Perjalanan saya mencicipi secuil Kamboja menunjukan bahwa hal tersebut benar adanya. Tak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi bahkan semenit di depan. Begitu pula dalam perjalanan, dibuka, diisi, dan ditutup dengan menu yang tak dapat ditebak.

Bersama seorang kawan baik. Tsabitha namanya, kami singgah ke daerah perbatasan antara Kamboja dan Thailand.  Kami disambut dengan antrian panjang, yang rekornya samasekali belum terkalahkan sejak tiga tahun lalu hingga hari ini. Di bagian imigrasi Kamboja, oknum-oknum berseragam berhasil membodohi kami dengan meminta bayaran sebesar 200 baht untuk stempel yang membekas di passport kami. Penat dan kesal hati pastinya. Kami terheran mengapa kecurangan semacam itu masih saja terjadi. Untuk sekedar menghibur hati, kami memutuskan untuk menambah satu malam menginap kami di daerah perbatasan itu. Bukan untuk mengenang atau merencanakan balas dendam, hanya sekedar menyayangkan 200 baht yang melayang, sekalian menjadikan daerah perbatasan itu sebagai ruang eksplorasi kami akan kondisi budaya dan ekonomi negara tersebut. Kemampuan bahasa Inggris yang sangat minim dari warga sana jelas menjadi kendala tersendiri sebelum akhirnya kami dapat menemukan sebuah hostel dengan harga terjangkau.
Keesokan harinya, kami bermaksud kembali ke Bangkok dengan memberi makan rasa penasaran kami terhadap rute baru yaitu via jalur kereta. Ketika matahari belum gagah di peraduannya, kami sudah terjaga untuk mencari kendaraan thuk-thuk yang akan mengantar kami dari hotel menuju stasiun.
Tidak banyak yang khas dari kereta Thailand, justru menjadi terkesan karena lorong gerbong itu mengingatkan kami berdua pada tanah kampung halaman.
Langkah kaki awal kami setibanya di stasiun bukan hanya dibarengi oleh debu-debu lantai, namun juga kekaguman akan pesona klasik di stasiun itu. Perlengkapan elektronik yang lengkap, tak mengurangi kesan bangunan tua yang khas.


jelas stasiun yang menyenangkan!


Tanpa mau terlalu lama dimanja oleh pesonanya, kami bergegas keluar dari stasiun. Satu-satunya pertanyaan yang muncul adalah, kemana lagi arah angin membawa sepasang kaki lelah kami ini. Jawaban akan perenungan singkat di tengah terik siang itu dihantarkan oleh sebuah berita di surat Kabar Bangkok Post, dituliskan disana bahwa akan ada book fair terapung terbesar di dunia, singgah ke Pelabuhan Thailand.




Tak pikir panjang, itu adalah pertanda bahwa dewi fortuna masih rindu menghiburkan hati penjelajah kami.  Pertanyaannya kini adalah bagaimana menuju ke tempat itu? Kami hanya berusaha patuh pada nasihat klasik, malu bertanya hanya akan memperburuk suasana. Singkat cerita, dewi fortuna yang hanya kiasan itu termanifestasi dalam wajah imut seorang gadis mahasiswa Chulalongkorn yang menawari kami untuk naik taxi bersama. Saat itu, pelajaran sederhana yang kami petik adalah bahwa kebaikan memang merupakan bahasa universal. Kami tak pandai berkomunikasi, bahasa beragam yang memperkaya dunia juga acap menghalangi. Namun senyum dan bantuan sederhana berbicara lebih lantang. Ya, sore itu, kami tergugah pada fakta hidup sederhana: one simple act of kindness spoke louder than a thousand words.
bersama mahasiswa Chulalongkorn

Setibanya di pelabuhan, keberuntungan kembali menyapa karena panitia memutuskan untuk menggratiskan tiket masuk. Saya dan Tsabitha hanya saling menatap geli, betapa kami beruntung hari itu. Saat itu, tak ada kata lain terucap selain mata yang terbelalak melihat kapal besar yang menepi itu, dan berhiaskan senyum kru kapal yang datang dari berbagai negara. Hingga saya menuliskan kisah ini, merinding masih hinggap mengingat betapa ajaib kapal tesebut. Membawa jutaan buku berkualitas, mengumpulkan kru dari berbagai belahan bumi, dan menyambut berbagai pengunjung dengan keramahan bak tuan rumah.




Kami bahkan sempat bertemu dengan kru asal Indonesia, dan rasanya selalu menyenangkan untuk menyapa saudara sedarah di tanah yang berbeda. Setelah berjam-jam berkeliling dan cukup mengabadikan pengalaman itu dalam jeprat-jepret senyuman, kami pun kembali pulang ke penginapan. Di perjalanan bus Thailand yang nyaman, kami berdua dengan lollipop di mulut kami, tertawa kecil penuh syukur mengingat rangkaian kebetulan yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 48 jam.

Perjalanan itu mengajarkan kamu bahwa antrian terpanjang dalam hidup kadang adalah antrian dari kesialan menuju keberuntungan. Tak ada jalan pintas dalam antrian, itu catatan pentingnya. Satu-satunya cara adalah tetap di jalur, berusaha menikmati setiap menit dan setiap langkah. Dibuka dengan ketidakberuntungan yang mengesalkan, menuju pada sebuah kapal besar ajaib yang menepi di pelabuhan. Antrian kami menghabiskan banyak baht, keringat, dan nyaris menguapkan semangat. Namun memaksa diri untuk tetap mengikuti naluri perjalanan tanpa tergesa untuk pulang, membawa kami pada kepuasan besar.




Setelah berlayar entah dari sudut Nusantara bagian mana, penjarahan kekayaan alam Indonesia oleh Belanda tiba di sebuah pulau kecil yang terletak antara Kalimantan dan Madura. Namanya sekarang Keramian, namun dulu pulau ini disebut Ariandes. Ratusan tahun setelahnya, Pulau kecil penghasil cengkeh ini menjadi saksi 12 bocah nyasar terdampar lalu BELAJAR.

(1) Hampir Sampai

Empat jam dari Masalembu, kapal Miami berlabuh jangkar di tengah lautan. Sebelumnya, kami disambut dengan tarian selamat datang dari kawanan lumba-lumba. Tanpa diminta, mereka melompat dan berenang lincah. Saya terhenyak sesaat menyaksikan apa yang saya kira hanya mimpi menjadi nyata. Selain itu hati kami juga riang, menyambut fakta bahwa perjalanan yang mengundang mual akhirnya usai. Para ABK sudah memberitahu bahwa kami akan dijemput oleh kapal nelayan. Belum adanya dermaga yang memadai membuat transfer penumpang terjadi tengah lautan. Disana satu per satu kardus sumbangan dan kardus logistik kami turunkan lalu dengan super hati-hati kami membawa tubuh kami berpindah ke kapal yang lebih kecil, melewati sebuah tangga besi. Kapal nelayan tak perlu waktu lama untuk mengantar kami mendekati daratan. Belum selesai ternyata tapak perjalanan, sebelum menginjakkan kaki di bentangan pulau tersebut kami masih saja harus berpindah sarana. Dari kapal nelayan menuju ke sampan. "Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar!" Begitu otak saya menyimpulkan sambil tubuh menikmati angin khas pesisir.

Di sampan berkapasitas tiga orang itu saya mengobrol dengan seorang ibu beserta anak perempuannya yang bernama Nana, penduduk asli pulau Keramian. Dengan logat yang unik, ibu bertubuh kecil itu menceritakan bagaimana banyak anak di pulau tersebut tidak piawai berbahasa Indonesia. Memang, keseharian disana sangat kental dengan percakapan dua bahasa daerah: Bugis dan Madura, kemungkinan besar dikarenakan posisi geografisnya.

Sesampainya di bibir pantai kami disambut super hangat oleh perangkat desa yang telah mengetahui akan kedatangan kami lewat mas Eko Sanjaya, seorang warga asli yang secara kebetulan saya temukan alamat emailnya lewat akun Instagram. Sosial media unjuk nilai fungsi disini. 

(2) Relawan Mengabdi

Sebelum berangkat kami telah menyusun rencana bahwa di pulau ini wujud karya kami akan banyak menyentuh soal pendidikan. Bagian dominan durasi sepekan saya disini adalah membagi ilmu dan wawasan. "Kepuasan hati tercapai justru saat kita dapat melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak dapat membalas kembali samasekali," parafrase ungkapan Martin Luther King ini terbukti valid adanya. 

Tidak ada SMA disana, hanya ada lima sekolah tingkat SD dan satu sekolah tingkat SMP. Jika ditotal saya mengunjungi lima diantaranya. Bagian yang berhasil membuat saya merinding adalah ketika salah seorang siswa SD dengan berani melakukan solo lagu Indonesia Raya. Sesuai pembagian, saya banyak bertugas di kelas 4-5 SD, sebuah tantangan baru mengingat saat KKN ataupun mengajar di Gloria saya selalu berhadapan dengan siswa SMP. Nada yang ceria, ekspresi yang menggemaskan, berusaha saya tampilkan untuk menghindarkan mereka dari rasa bosan. 

Di lain kesempatan, saya merasa hebat kala berhasil mengemas Indonesia sebagai negara yang membanggakan. Juga saat saya mencontohkan beberapa nama atlet Indonesia yang mendunia untuk memotivasi mereka. Nada obrolan ini lebih serius dari biasanya, maklum penyesuaian materi dan intonasi memang harus dilakukan saat mengajar di tingkatan yang berbeda. Di tengah siang terik dan berdebu itu saya duduk membicarakan Nusantara dengan para anak SMP yang memang sudah biasa saya 'tangani'. Ketidaksiapan materi untungnya terbungkus aman lewat segala wujud spontanitas dan memuluskan saya memancing tekad dan angan mereka untuk menggoreskan asa. 

Mengajar anak-anak disana merengkuh jiwa saya pada memori tentang pedihnya kegagalan WVI (Wahana Visi Indonesia). Masih teringat jelas air mata tanpa basah dan teriak tanpa suara kala mengetahui bahwa kerinduan besar untuk berkarya di pedalaman tidak bersambut oleh sebuah penerimaan organisasi. Jika disimpulkan, arti besar pengalaman ini adalah obat yang menyembuhkan luka yang saya kira hanya dapat sembuh oleh waktu semata. Saat saya mengajar Anak-anak itu untuk berani bermimpi, sebenar-benarnya mimpi saya sedang digenapi. Ini sebuah barter yang sempurna!



Selain mengajar kami juga menyalurkan bantuan sembako. Dibantu perangkat desa, kami memetakan nama-nama yang memang membutuhkan. Aktivitas pembagian sembako ini difasilitasi sebuah motor truk yang dikenal sebagai odong-odong, sebuah sebutan yang mengundang geli di angan. Selama perjalanan blusukan ke tiga dusun, kami sembari menguji adrenalin dan ketahanan tulang ekor melewati berbagai rute bebatuan dan belokan curam.

Tiga puluh kresek paket sembako mengantarkan kami pada rumah reot, wajah keriput, dan tubuh kurus. Sebuah pemandangan miris yang harus menjadi pisau tajam menusuk orang pemerintahan agar tidak egois menghabiskan uang negara. Saat DPR membahas milyaran rupiah sebagai dana aspirasi, kami menyaksikan betapa banyak warga berjuang mengalahkan kebutuhan hari lepas hari.



(3) Yang Khas Disana

Bibir pantai hanya berjarak belasan meter dari ruas jalan utama. Tidak mengherankan jika rumah di kanan kiri jalan tersebut hampir semuanya berupa rumah panggung. Dengan tiang kayu berdiri menopang, para penduduk merasa aman kalau-kalau ombak pasang terlalu tinggi dan masuk ke permukiman. Pun hal itu wujud akulturasi budaya bawaan suku Bugis yang juga banyak tinggal di pulau yang mengandalkan penjualan kopra (kelapa kering) sebagai pemasukan ekonominya.

Satu hari menjelang puasa, kami menghabiskan sore di dermaga yang sedang dibangun. Kelak dermaga ini akan mempermudah labuhnya kapal perintis dan semoga menambah mobilitas bagi masyarakat. Dalam langkah pulang kami dikenalkan dengan jajanan khas. Tak lengkap rasanya mengenal masyarakat tanpa mencicipi kuliner asli yang ada. Namanya Pempek, parasnya tak jauh beda dengan yang telah populer di Jawa, hanya lebih pipih. Dibuat dengan ikan dan olahan tepung lalu digoreng di minyak dengan api sedang, pempek ini siap dinikmati dengan kuah asam yang sangat unik. Jika pempek Palembang mengandalkan cuka untuk menghadirkan rasa asam, pempek Keramian mengandalkan biji asam yang sebenarnya. Rasa asamnya unik sekaligus membuat ketagihan.

Pulau ini terdiri dari tiga dusun yang masing-masingnya berjauhan. Dusun Air Hidup merupakan sisi kota Keramian. Nama itu diambil karena adanya mata air yang terus mengalir di sekitar sana. Dua dusun lain bernama Alas Jaya (bahasa Indonesia: hutan yang besar) sesuai penampakan fisiknya serta dusun Sudi Mampir (bahasa Indonesia: Berkenan Singgah) yang seakan membahasakan ajakan ramah untuk bertamu.

Jauh berbeda dengan Masalembo, pulau ini dialiri listrik hanya empat jam sehari (18.00 - 22.00). "Jam listrik mulai menyala kadang terlambat, tapi jam padamnya selalu tepat" begitu penuturan miris pak Kepala Desa yang bagaimanapun mengundang tawa. Tidak berlebihan jika saat kami berpamitan warga hanya menitipkan satu aspirasi untuk kami suarakan nanti: Hadirkan Listrik penuh waktu.

(4) Waktu Luang

Jalan-jalan sore menjadi kegemaran baru kala tak ada kegiatan yang mengisi. Kami pernah menyusuri 3,6 kilometer mencapai pantai yang tak terlalu indah tapi seakan menjadi pantai pribadi. Keceriaan dan kegilaan tumpah sebagai keluarga, bukan lagi sebagai selusin orang asing yang baru saja mengenal beberapa hari. Satu yang unik hari itu adalah hujan yang turun dengan tingkat labil yang tinggi. Tetes air langit yang muncul dan hilang berulang membuat kami akhirnya singgah ke beberapa rumah penduduk. Alih-alih silahturahmi, kami sebenarnya sedang berteduh tapi justru di beberapa singgah itu kami merasakan kesahajaan masyarakat Keramian yang sesungguhnya. 



Seperti rutinitas khas bulan Ramadhan, saya sekejap merasa kesepian kala 10 kawan lain pergi tarawih. Namun sesegera mereka kembali ke rumah, menit-menit 'hangat' lanjut dilakukan kadang hingga larut malam. Kami membicarakan banyak hal. Saya tidak mungkin lupa membagi satu cerita yang membuat kami semua total terbahak-bahak hingga perut terkocok lemas. Sepulang baksos kami diberi hadiah sebutir kelapa muda utuh. Sebuah tantangan bergulir untuk membuka kelapa itu dengan tangan kosong. Setelah bergantian mengupas bagian luar berupa sabut-sabut tebal, tangan kami dapat meraba batok kelapa yang jelas berkontur keras. Tak ada sangka dan tak seorangpun menduga, bukan sulap tanpa sihir, batok kelapa yang begitu keras pecah hanya dengan hantaman tangan kosong Marqi, si adik kembar saya. Sontak tawa meriah tak terelakkan, merayakan kekuatan super yang terpendam di salah satu anggota kelompok kami.

Bonus perjalanan ini adalah kulit yang menghitam pekat, tepatnya setelah mengunjungi pulau Kambing, sebuah pulau kosong kecil di sekitar Keramian. Ada gua, bukit, dan pantai yang mempesona. Namun ada yang lebih indah dari itu semua bagi saya, yaitu durasi saya mengajarkan permainan tahun 90an 'domikado' pada sekelompok anak yang memang ikut pelesir dengan kami berduabelas. Saya menghabiskan masa mengapung pulang dengan riang bermain bersama mereka. Kehidupan selalu LEBIH DARI CUKUP untuk membuat bahagia, itulah pesan tersirat yang selalu diteguhkan lewat senyum tanpa beban anak-anak kecil.



Terlalu banyak kenangan indah yang membuat kisah ini panjang teruraikan. Alinea yang telah adapun telah melewati sortir pilih dan pilah rekam peristiwa. Masih ada bagian tentang cooking class di dapur yang dengan jujur membuktikan perbedaan budaya masing-masing suku. Ingatan tentang para lelaki yang belajar mandi di sumur dikarenakan kamar mandi dimonopoli antrian kaum hawa juga menggelitik saya pada tawa. Begitu juga soal lima perempuan yang terjaga menanti para lelaki yang sedang mencari ikan hingga satu jam menjelang sahur tiba, tak ubahnya istri yang sedang menunggu suami pulang mencari nafkah.

Hanya seminggu tapi begitu banyak kebersamaan terabadikan. Dimulai dari kesediaan menanggung susah senang bersama kala mengabdi, dilanjutkan dengan sikap hangat yang sigap membantu, diisi dengan kisah hidup yang saling dibagi, dan senantiasa diwarnai insiden lucu.

Semua terkemas sesuai nama pulau ini: Keram(a)ian. Ramai dengan tawa, ramai penuh hikmah, ramai meninggalkan kenangan indah.

Kapal Miami kami sampai pagi-pagi disana. Pikat matahari yang baru gagah di langit terpantul jelas di lautan jernih sekitar pulau ini. Antara dermaga menuju pusat aktivitas masyarakat terjejer banyak kapal nelayan. Pulau yang berbentuk U landai ini memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan desa kecil di pulau Jawa. Image seram dan terpencil yang ditayangkan oleh sebuah serial televisi samasekali tidak terbukti.




Masalembu, bukan Masalembo! Itulah koreksi pertama saya. Pulau ini masuk dalam kabupaten Sumenep, Madura. Tidak banyak yang berbeda dari penampakan desa-desa di Jawa, ruas jalan yang tergolong sempit, aktivitas pasar tradisional yang ramai, jejeran toko-toko kecil, dan harga makanan yang murah. Benar-benar murah! Sebagai sarapan, saya dan (lagi-lagi) dua kawan dari ITS, Diah dan Marqi, terbelalak heran ketika kami menikmati semangkuk makanan berkuah yang mereka sebut sebagai 'soto' hanya 2500 rupiah per porsinya. Ada lontong, toge, bumbu kacang, suwiran ikan tongkol, dan kuah kaldu ikan. Salah satu makanan paling unik yang pernah saya jumpai. Di pulau ini hampir semua makanan berbahan dasar ikan, maklum itulah yang paling mudah dicari. Sapi disembelih hanya saat Idul Adha dan Idul Fitri, begitu keterangan ibu penjual soto berkerudung merah gelap.

Masyarakat disana juga tergolong modern yang lancar berbahasa Indonesia, kontras dengan pulau tempat saya mengabdi. Kondisi fasilitas juga cukup membanggakan, ada listrik 24 jam, berdiri pom bensin, tersedia sinyal yang memadai, serta beberapa toko pengisian pulsa. Image 'terpencil' sama sekali tidak benar. Jika ingin menyaksikan wujud berbeda petualangan Indonesia, saya kira Masalembu cocok diperhitungkan sebagai destinasi. Lautnya indah, masyarakatnya ramah, dan tidak terlalu sulit untuk 'bertahan hidup' disana. Untuk menuju ke pulau yang mayoritas berbahasa Madura itu, tidak ada jalan lain selain melalui jalur laut. Hampir semua kapal perintis singgah di Masalembu, dikarenakan adanya dermaga yang tergolong bagus.



Di perairan sekitar Masalembu memang sudah terkenal dengan arus segita bermuda. Bukan hanya mitos, kecelakaan memang pernah terjadi bertahun lalu, membuktikan keganasan segitiga itu. Titik pertemuan tiga arus yang jelas mengalahkan para pelayar amatir. Para awak kapalpun mengakui perbedaan signifikan arus di perairan sana.

Walau hanya sebentar menginjakkan kaki di Masalembu, tapi setidaknya saya dapat membawa oleh-oleh fakta bahwa apa yang ada di serial televisi berjudul Masalembo itu sepenuhnya salah.

Jangan takut untuk singgah, Masalembu indah dan ramah, sumpah! :D

Heran dengan judul post ini? Hahaha iya, itu merupakan versi bercanda dari fakta bahwa bangsa kita memang besar dan kuat di lautan. Hal pertama yang akan saya ungkap disini adalah: berlayar itu tidak mudah! Seriously.

Kapal perintis yang mengantarkan kami ke tiga destinasi: Maselembu, Keramian, dan Matasiri dinamakan kapal Miami. Berwarna hijau tua dan diandalkan sebagai pengantar pasokan bahan makanan, singkatnya kapal ini merupakan sebuah kapal barang. Ada ruang besar yang membuat kami leluasa untuk tidur di segala sudut ditambah fakta bahwa kapal itu memang kami 'monopoli'.



Di kapal itu saya berkenalan dengan dua ABK, seorang Flores dari Larantuka (NTT) yang berpenampilan nyentrik serta Pak Ibrahim seorang Makassar yang besar di Papua. Ini semacam kebiasaan bagi saya. Selalu ada durasi waktu yang saya habiskan untuk meninggalkan keseruan bersama teman-teman lalu mengobrol dengan orang lintas usia dan lintas golongan.  Bagi saya ini cara ampuh untuk memperkaya wawasan.

Selama mengarungi lautan, Anjungan kapal merupakan tempat favorit kami berkumpul membunuh rasa bosan. Disitu kami berfoto, memasak, bermain kartu, atau sekedar bersenandung gila. Bonus perjalanan ini adalah membuat kami menyaksikan dengan mata telanjang keindahan matahari terbit dan matahari terbenam. Ah bagi saya pribadi itu keindahan sejati, mengamati secara langsung matahari bergerak turun kala senja. Saya sedang mencicipi kedamaian surga.

Perjalanan ini membagi kami dalam tiga golongan: pelaut, bukan pelaut, dan golongan tengah. Sebagian orang bisa penuh tawa dan seakan tak kunjung habis baterainya untuk tetap terjaga. Kadang bahkan masih sempat untuk usil menganggu. Ada juga golongan yang KO sekejap saat angin laut kencang berhembus dan kapal mulai bergoyang akibat gelombang. Kocaknya, sebagian di antara mereka adalah orang yang sudah menaklukan banyak tempat dan banyak puncak. Kang Abel -orang Bandung- contohnya. Tak butuh waktu lama buatnya langung tergeletak lemas segera setelah kapal mulai melaju. "Apapun tidak pernah membuat saya mabuk, kecuali laut" begitu lugasnya dengan ekspresi heran yang menggelikan berlogat sunda kental. Saya adalah golong ketiga, ada di tengah-tengah. Kuat terjaga untuk sesekali bercengkrama namun juga tepar di bantal kala ombak terlalu kencang menyerang.

Di atas kapal Miami ada beberapa kenangan manis tergoreskan bagi saya pribadi. Misalkan saat Rizal -seorang mahasiswa UB- mendapati saya seorang keturunan Tionghoa (ini fenomena jarang terjadi). Dia merupakan muslim taat yang mengagumkan, namun tak segan untuk menanyakan apa makna di balik Claudya Tio Elleossa. Juga saat saya dan Diah -mahasiswa ITS- saling menatap secara otomatis saat mendengar seorang ibu-ibu di pelabuhan berjualan "nasi bungkusnya, yang huruf A ikan Ayam - yang huruf O ikan Telur" nahloh! Kok gak sinkron.. Hahha saya dan Diah yang akhirnya jadi partner berbagi selimut hanyut dalam tawa yang renyah. Ohya saya juga merinding terkesan melihat kawan-kawan muslim yang tetap menjalankan sholat lima waktu seakan tak menyadari goncangan kapal. Suatu subuh bahkan saya -seorang Kristen- merinding haru mendengarkan Mas Beki -mahasiswa Jogja- mengaji dengan sangat merdu. Sungguh, momen seperti ini membuat saya makin bangga akan keberagaman umat beragama di Indonesia. Pemandangan seperti itu juga menggertak saya untuk menjadi umat beragama yang lebih baik. Terakhir adalah momen kala kebaikan memang selalu termanifestasi lewat tindakan. Di malam pertama pelayaran, saya bersama dua mahasiswa ITS (Diah dan Marqi) dan satu mahasiswa BSI Jakarta (mas Firman) tidur berbagi karpet yang sama. Lalu seorang bocah Jogja bernama Dika tanpa aba-aba menyelimuti kami berempat dan menyisakan dia tidur tanpa selimut samasekali. Entah kenapa ini jadi salah satu bagian mengesankan bagi saya. Kepedulian sederhana kadang bisa meninggalkan kesan mendalam. Terimakasih Dika.

Akhirnya, di kapal Miami itu terungkap kualitas pribadi banyak orang dari yang cuek hingga super peduli, yang menyisakan seorang Claudya untuk kembali belajar. Mengapung belasan jam di gelombang air juga membuat saya mencicipi mabuk laut yang sesungguhnya, dan oleh karenanya kekaguman saya haturkan bagi para pelaut Indonesia. Kapten dan para ABK baik dari kapal penumpang, kapal barang, ataupun kapal ikan di segala penjuru nusantara. Kalian orang hebat! 

Kampung halaman adalah sebutan bagi tempat kemana hati ini berpulang. Berupa sebuah ruang aman untuk lari dari hiruk pikuk tempat perantauan. Seringnya dia hanyalah alasan bermalasan menikmati nyaman rumah, tapi kali ini saya ingin menjelajah. Tak harus selalu jauh, menguak keindahan alam atau memenuhi kepuasan jalan-jalan bisa dimulai dari kota tempat kita bertumbuh besar. Itulah perjalanan kali ini.

Seperti biasa tawa selalu mengisi perjalanan, di sela-sela obrolan hangat khas kawan lama. Sebagian karena kalimat-kalimat humor dengan logat yang kental. Sisanya murni disponsori oleh rasa geli dari kekonyolan lampau kala masih bersekolah.

Air terjun di daerah perbatasan Lumajang dan Malang merupakan pilihan pemuas kaki gatal kami. Sebuah objek wisata yang membuat kami berempat rela menempuh jarak cukup jauh dengan medan yang relatif ekstrim. Nama tempatnya adalah Coban Sewu, jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka bermakna air terjun seribu. Tidak mengherankan mengapa penduduk memberi nama demikian sebab di satu lokasi yang sama berdiri kokoh sangat banyak jalur vertikal untuk air jatuh dengan akselerasi tinggi.

Setelah puas mengabadikan dalam jepretan ponsel, kaki kami bergegas menelesuri rute menuju goa tetes. Satu perjalanan, dua objek wisata didapatkan. Cerita ini baru benar-benar dimulai disini.

Sumber foto: jawapos.com

Sebagai gambaran kondisi terjal yang dihadapi di Coban Sewu



Hutan, jembatan bambu buatan warga, dan susur sungai, adalah menu pembukanya. Uji nyali sesungguhnya adalah saat kami harus menapakkan kaki di bebatuan licin tepat dimana air mengalir. Tebing tinggi disana hanya sebentar mencuri perhatian, selebihnya saya hanya terpengeranga heran. Untuk sepersekian detik saya harap itu hanya sebuah rute cadangan dan adalah opsi lain yang lebih mudah, tapi sama seperti dalam perjuangan mencapai impian kadang jalan yang tak mulus itu adalah pilihan tunggal. Dengan kaki yang tak terlalu piawai satu persatu batu saya lewati hingga posisi semakin tinggi. Di setiap trek curam tersedia tali karet berwarna hitam pekat untuk membantu pengunjung berpegangan. Dengan jersey barcelona, celana jeans panjang warna hitam pudar, tas ransel kucel, dan sandal jepit kegedean, saya memaksa diri untuk tidak terlalu merepotkan ketiga teman saya. Air keringat bercampur dengan tetes air alam, mereka membawa pergi sedikit sisi manja saya, namun tetap dibumbui rasa takut yang khas.

Setelah ada di lokasi yang landai, tiga teman saya bersantai menikmati rokok mereka. Saat itu saya menoleh kembali ke susunan batu bersudut lebih lancip dari 45 derajat yang awalnya saya sinonimkan dengan kemustahilan. Jika dipikir, saya samasekali bukan penakut terhadap hal-hal seperti itu. Katakanlah wahana penguji adrenalin, hampir semua siap saya sambut. Tapi dibebatuan itu keberanian saya sempat menguap. Selagi teman saya masih asik dengan tembakau gulungnya, saya menemukan alasan sederhana: kepercayaan. Ketika saya naik wahana permainan pengadu adrenalin kebanyakan saya menikmati tanpa rasa takut sebab saya tahu persis sekaligus percaya bahwa setiap alat telah diperhitungkan oleh kaum ahli dan telah teruji aman. Di Coban Sewu, kedamaian itu absen sebab menyadari bahwa tali karet yang tersediapun tak terjamin, tidak ada yang tahu siapa yang membuatnya dan saya tidak cukup yakin apakan itu kuat untuk dijadikan pegangan.

Kepercayaan adalah faktor penting.

Dari perjalanan super mendadak hari itu, saya memahami makna dari sebuah quote terkenal "bird sitting on a tree is not afraid of the branch breaking, because its trust is not on the branch but on its wings." Menyelesaikan trek itu adalah simbolis bahwa saya mampu menaruh kepercayaan pada tapak kaki saya sendiri bukan pada seutas tali karet tersebut.

Rute yang sulit ditambah sumber daya yang meragukan, kadang kita jumpai dalam hidup ini. Di saat seperti itulah kita sedang diuji, siapakah yang sedang kita andalkan? Sesuatu di luar kita yang serba tidak pasti atau justru kekuatan yang diam-diam terkumpul dalam diri kita sendiri.

Setelah mengambil durasi merenung singkat, energi saya kembali terkumpul untuk meneruskan perjalanan pulang. Dengan paha penuh asam laktat, saya sempatkan menunduk lalu berbangga akan sepasang telapak kaki mungil ukuran 36 yang telah bekerja keras itu dan membuktikan bahwa saya tak salah telah percaya pada mereka. Saya berjanji akan memanjakan mereka dengan air panas sesampainya di rumah, saya tahu mereka membutuhkan itu :')

Konon, kita tak bisa berbohong hanya sekali, akan ada kebohongan lain yang perlu menutupi. Begitu pula dengan mimpi. Aku rasa, ketika satu terjawab yang lain akan turut terealisasi.


Nyaris sama dengan proposal kegiatan yang diajukan untuk meminta bantuan dana, penantian pasangan versiku juga demikian. Aku ajukan dengan getar pada Pencipta selusin poin yang ingin aku dapati di pribadi pasangan hidupku kelak. Ini rahasia hanya antara aku dan Empunya semesta. Rangkaian kriteria akan sosok pasangan idaman membuatku menanti dengan kesabaran walau dalam kesendirian. Seseorang datang lalu pergi, membuatku getir mengakui hatiku seumpama bandara, beberapa singgah tanpa aku biarkan menetap. Iya, satu-satunya yang aku butuhkan adalah laki-laki yang menjadikan hatiku sebagai rumah. Empat tahun setelahnya, aku menemukan sosok itu. Genggaman tangannya adalah mimpi yang telah termanifestasi dalam kenyataan. Hatiku tertambat pada seorang pria lulusan teknik yang memenangkan kata “iya” dariku dengan cara yang memukau nan unik.
Berselang dua hari setelah pertemuan meresmikan hubungan, dia kembali melanjutkan perantauan ke ibu kota yang konon sangat kejam. LDR adalah wujud konsekuensi sekaligus komitmen kami untuk mempersiapkan masa depan bersama dengan mencari nafkah di kota yang berbeda. Dengan hamburan rasa rindu, kami memilih Yogyakarta menjadi pilihan titik temu di suatu kesempatan akhir minggu. Berada di tengah antara Surabaya-Jakarta, agaknya menjadikan Yogyakarta sebagai pilihan strategis nan adil. Pun dia adalah sebuah kota pilihan yang tak pernah membosankan.
Permohonan cuti adalah hal pertama yang harus kami pikirkan, sebelum menikmati perjalanan perdana sebagai pasangan. Di sela kesibukan pekerjaan kami juga saling bertukar informasi untuk penginapan serta jadwal kereta. Pemilihan tanggal liburan kami adalah saat high season, momen yang tepat namun sepaket dengan konsekuensi sulitnya menemukan penginapan. Tak berselang lama, kami berangkat dari stasiun kota yang berbeda, sayangnya jadwal kereta dari Surabaya mengharuskan aku tiba terlebih dahulu. Salah satu kebetulan paling manis dalam perjalanan ini adalah alunan lagu Yogyakarta dari kla-project yang didendangkan tepat saat aku menapakan kaki di lantainya yang berdebu. Di larut malam, aku menanti kereta dari Jakarta memperdengarkan nyaring suaranya. Masih teringat jelas ekspresi sang kekasih kala turun dari gerbong kereta dan mendapati wanitanya telah menanti dengan senyum penuh rindu. Sebuah perasaan yang ingin aku nikmati lain waktu kami melakukan perjalanan bersama.
Malam itu kami hanya berbalut lelah akibat perjalanan panjang. Dengan naik taxi kami menuju ke penginapan. Tak banyak canda cengkrama karena sejujurnya kami hanya ingin bergegas dari stasiun menuju kamar kami masing-masing. Durasi malam itu hanya dihabiskan dengan saling menatap dan saling melemparkan senyum lega, karena akhirnya perjalanan ini terwujud juga. Sebelum melelapkan diri di ruang yang terpisah, kami menyempatkan waktu untuk tertunduk dalam doa bersama. Sebuah menu pembuka perjalanan yang begitu manis dan bersahaja. Aku menyebutnya “formasi doa 20 jari” dan sejak malam itu, formasi demikian adalah salah satu rutinitas yang aku rindukan.
Adalah kebiasaan setiap melakukan perjalanan, aku membawa sebuah buku harian tempat aku menuliskan 150 impian sebelum usia 30 tahunku tiba. Di kamarku sendiri, dengan penuh haru syukur aku mencoret salah satu poin malam itu. Jemari dengan spidol warna kuning terang mengarah pada nomor 66 dimana tertulis keinginanku untuk mencicipi duo backpacker as a couple. “Ah akhirnya, satu lagi poin terkabul!” Begitu kataku dalam angan dan girang.
Di sela euforia sukacita itu, aku baca ulang seluruh poin yang tertulis disana. Hingga di nomor 98 aku terhenti. Keinginan untuk mengunjungi rumah sakit kelahiran adalah sesuatu yang memang aku idamkan, selain itu adalah salah satu pesan yang diamanatkan kepadaku oleh Almarhum papa semasa beliau hidup. Kebetulan tangisan pertamaku sebagai seorang bayi di bumi ini bertempat di Magelang, dan tak sampai dua tahun setelahnya kami sekeluarga berpindah kota tempat tinggal. Itulah mengapa kunjungan ke Rumah Sakit kelahiran akan menjadi sesuatu yang istimewa. Keesokan paginya, dengan sedikit ragu memberanikan diri bertanya pada sang kekasih apakah mungkin untuk mengunjungi tempat itu, selagi kami berdua memang sedang ada di Yogyakarta. Tak banyak berharap persetujuan darinya, karena menyadari bahwa untuk menuju ke Magelang akan mengubah rundown kami, yang seharusnya hari itu menikmati desiran ombak pantai gunung kidul. Siapa sangka, lelaki ini sekali lagi memenangkan hati dengan antusiasmenya memenuhi keinginanku. Destinasi pantai berganti menuju kota Magelang.
Bermodal google maps, kami mencari arah menuju Rumah Sakit saksi perjuangan gigih mamaku 22 tahun yang lalu. Perjalanan Yogyakarta-Magelang bukan perjalanan yang senantiasa mulus, saya mendapati bagaimana pasangan saya ini sungguh bukan orang yang mudah mentoleransi kecerobohan. Mungkin salah satu karakter dan tuntutan mendasar dari anak teknik adalah perfeksionismenya, sehingga tak mengejutkan dia kerap geram dengan kecerobohanku. Dengan nada gemas, dia terheran betapa payahnya aku dalam membaca peta. Oke, pembelaanku tak banyak berbeda dari perempuan lainnya: kaum hawa memang lebih suka berhenti untuk bertanya dibandingkan membaca peta. Pasti mengesalkan baginya harus beberapa kali memutar arah, tapi yang mengagumkan adalah bagaimana dia dengan sabar mengajariku lalu sesekali menyemangatiku yang sudah hampir putus asa karena terlalu sering salah menunjuk arah saat itu. Tak ada nada kasar dan tak ada penghakiman bernada kesombongan, kekesalan dan gemas hatinya masih berbalut kasih dalam memperlakukan wanitanya.
Setelah beberapa kali salah membedakan kanan dan kiri atau sekedar terlambat memberi tahu saatnya berbelok, akhirnya kami tiba. Lega, perasaan pertama saat itu, kewajiban membaca peta terhenti sejenak. Kami berdiri di depan sebuah gedung rumah sakit yang tak terlalu besar, namun membuat saya merinding gembira. Di tengah terik kota Magelang yang teduh itu, lelaki kebanggaanku telah membantuku memenuhi amanat almarhum Papaku. Tak banyak yang kami lakukan, hanya sekedar mengambil foto sebagai kenang-kenangan. Masih dengan petunjuk peta elektronik, perjalanan berlanjut menuju ke salah satu keajaiban dunia: Borobudur.
Di tempat itu, kami menemukan sebuah kesamaan yaitu menikmati setiap detail tanpa terburu-buru. Kadang beberapa orang akan sibuk berfoto atau sekedar berkeliling tanpa mau perlahan menikmati ilmu dibalik sebuah destinasi, misalnya tentang sejarah. Aku seakan menemukan sebuah kesamaan erat bagaimana kami bisa melangkah perlahan menikmati setiap relief di candi yang masyur itu, dengan obrolan-obrolan bertukar wawasan. Masih di kawasan Borobudur, ketika tiba di Museum Samudera-Reksa yang merupakan ruang khusus penyimpanan salah satu replika kapal gagah kejayaan masa lalu. Disana aku melihat sendiri betapa dia mencintai ilmunya. Kebetulan dia adalah lulusan teknik perkapalan, yang membuat ruangan itu tak lain adalah dunianya. Membaca satu per satu informasi yang tertempel di dinding itu, dan dengan nada antusias menjelaskan beberapa hal teknis kapal kepadaku yang awam ini. Tak sepenuhnya mengerti, tapi bagaimanapun membuatku merasa terkagum dengan warisan kapal-kapal nusantara jaman dulu. Itulah bagian yang menyenangkan jika pasangan kita berbeda disiplin ilmu, akan banyak informasi baru yang dapat dibarter untuk memperkaya masing-masing kami. Perbedaan memang tak selalu memecah.
Borobudur tak hanya menyimpan sejarah kearifan dan kejayaan nusantara, namun juga sejarah pribadiku. Nama panggilanku sejak kecil hingga hari ini sangat jauh berbeda dari nama asliku. Tak sedikitpun ada kesamaan. Nama itu tidak lain lahir dari sebuah diskusi singkat di taman kawasan Borobudur. Uniknya, diskusi penentuan nama panggilan itu tidak terjadi antara orang tuaku namun antara tukang kebun dan seorang turis. Di Borobudur nama panggilanku menengok sejarahnya.
Bagi sepasang kekasih hal penting tak melulu soal menemukan kesamaan, namun juga menemukan perbedaan yang saling melengkapi. Ujung jalan-jalan di Borobudur kami membuatku menemukan satu perbedaan yang membahagiakan. Di kala makan siang, seorang ibu tua mendekat ke bangku kami duduk menjajakan jualannya. Dengan nada kalem dan ekspresi datar, dia masuk dalam tawar-menawar dengan ibu tersebut. Singkat cerita, harga termurah dari pacarku ini memenangkan nego. Aku terheran melihat seorang lelaki dengan piawai melakukan tawar-menawar harga, karena sebenarnya kemampuan itu tak ada dalam diriku. Dia adalah partner yang sungguh melengkapiku, bahkan di perkara sederhana ini.
Usai perjalanan yang menggosongkan itu, kami ingin bersantai menikmati makan malam berdua. Kebetulan kami sama-sama penggila pasta dan beruntungnya tak jauh dari penginapan kami menemukan sebuah restoran pasta dengan konsep outdoor dengan rasa yang otentik Italia. Makan malam itu tak berlalu hanya dengan obrolan khas pacaran. Suasana romantis taman berpadu cahaya lampu-lampu kecil tak menghindarkan kami dari sebuah kegiatan unik yang memang sudah aku rencanakan. Di meja restoran itu aku mengajarinya permainan kartu poker dan jenis permainan kartu lainnya. Agaknya perbedaan kami bertukar dari yang senormalnya. Keterampilan menawar harga harusnya dikuasai kaum hawa ternyata tidak ada dalam diriku, demikian perihal main kartu serta permainan penguji adrenalin yang senormalnya ada di lelaki justru tak ada dalam dirinya. Sungguh kombinasi yang membuka lebar peluang saling melengkapi. Hal-hal semacam ini tak akan kami sadari jika kebersamaan selalu ada dalam jarak yang terpisah.
Hari ketiga kami sekaligus penghujung liburan telah sampai di depan mata. Sebelum mengunjungi tempat-tempat sesuai rencana, kami sejenak beribadah bersama. Kebetulan itu hari minggu, sehingga kami sempatkan mencari gereja yang tak jauh dari penginapan untuk menghadap ke Pencipta yang merajut kisah kami berdua. Setelah mengisi kebutuhan rohani saatnya mengisi kebutuhan jasmani. Di depan Malioboro Mall kami menetapkan pilihan sarapan. Menunya adalah nasi pecel. Dengan lesehan kami menikmati sarapan berdua. Tidak beruntungnya adalah nasi pecel yang kami pesan ternyata sangatlah pedas bagiku yang samasekali tidak kuat menahan panas di lidah. Dengan menyesal aku harus menyerah dan hanya memakan bagian yang belum banyak tersentuh oleh bumbu kacang khas Indonesia itu. Dia terganggu dengan kenyataan ada sisa makanan yang tidak dihabiskan, lalu tanpa banyak berkomentar dia dengan sukarela menghabiskan bagian di piring bambuku itu. Sebuah momen yang membuatku mendapati karakter positif dalam dirinya.
Sisa hari itu sebelum jadwal sore kereta kami tiba, dengan lincah kami singgah ke Taman Sari, Benteng Vrederburg, tempat oleh-oleh, dan sejenak makan siang di salah satu tempat Gudeg terkenal di Yogyakarta. Pukul 13.00 kami harus mengembalikan sepeda motor sewaan kami, padahal kereta kami berdua tiba di Lempuyangan sore menjelang malam. Untuk penghematan, kami menolak perpanjangan durasi sewa motor dan beralih ke kendaraan umum khas Yogyakarta: TransJogja. Sembari menghabiskan empat jam menanti jadwal kereta, kami berjalan menyusuri Malioboro dan sesekali menepi melihat beberapa barang. Tapi tak ada satupun yang kami beli. Satu lagi catatan kesamaan kami berdua, kami bukan tipe yang gelap mata terhadap barang-barang. Jika tak butuh, tak perlu merogoh saku. Aku rasa kesamaan prinsip ini akan menghindarkan kami dari perdebatan alokasi dana ketika nantinya kami berumahtangga. Sepasang kaki telah lelah tak sepakat dengan antusiasme mata yang masih ingin menikmati pemandangan transaksi jual beli di sepanjang jalan. Protes lelah kaki kami tidak lain karena perjalanan menyusuri lorong terkenal itu harus dengan membawa barang bawaan serta oleh-oleh bakpia di kanan tangan dan kiri.
Malioboro Mall menjadi pilihan singgah terakhir. Di sebuah kafe, kami memanfaatkan dengan baik waktu yang tersisa sembari menyeruput minuman dingin yang menghilangkan dahaga. Siang itu, aku keluarkan buku harianku. Di hadapannya, masih dengan spidol yang sama, aku coret poin wishlist nomor 98. Dengan tatapan serius nan tulus aku ungkapkan terimakasih karena membuatku dapat mengunjungi tempat kelahiran. Senyum merekah di bibir kami berdua. Dia adalah orang pertama yang aku perbolehkan memegang buku harianku bahkan mengijinkannya membaca satu per satu poin wishlist itu. Kata orang, kedekatan teruji ketika seseorang dengan berani membagi mimpi-mimpinya, dan siang itu aku membuktikan bahwa itu benar. Usai tuntas membaca, dia memegang tanganku lalu berkata “aku akan bantu kamu wujudkan satu per satu.” Kalimat mengandung janji itu melelehkan hatiku sebagai seorang perempuan. Dia tidak berjanji akan mewujudkan semua, dia hanya berjanji akan menjadi penolongku mewujudkan sedikit demi sedikit. Sebuah janji yang tak melampui kemampuan adalah sebuah janji yang bisa dipercaya. Waktu akhirnya membawa kami pada kewajiban kembali ke kota perantauan. Dengan naik becak kami menuju ke stasiun. Peristiwa sendu akhirnya terjadi, dimana aku harus melepasnya. Dengan menarik nafas aku sesaat merasa seperti jelangkung di perjalanan ini. Datang tak dijemput pulangpun tak diantar. Dengan dendam dan humor aku berkata kali selanjutnya dia harus merasakan perasaan rindu gelisah kala menjemput dan sedih tak rela saat mengantar.
Di tengah perjalanan malam kereta menuju kembali ke kota perantauanku, aku menyadari bahwa kesulitan menjalin sebuah hubungan jarak jauh bukan saja tentang menimbun rindu dan menguji kepercayaan, namun sempitnya kesempatan mengenal pasangan secara langsung. Bagaimana dia memilih menu makanan? Bagaimana caranya memperlakukan tukang parkir dan pelayanan restoran? Apakah dia membuang sampah pada tempatnya? Berbagai kebiasaan sederhana mengungkapkan kualitas pribadi seseorang, yang sangat sulit terungkap dengan percakapan via suara semata. Memang traveling adalah kesempatan mengungkap karakter tersembunyi baik diri sendiri, penduduk sekitar, dan juga partner perjalanan, dan itulah yang terjadi di perjalanan perdana kami.
Tak banyak tempat yang kami kunjungi saat itu, dan harus diakui kebanyakan adalah destinasi wajib Yogyakarta, seperti Benteng Vederburg, Taman Sari, Borobudur, dan Kuliner Gudeg. Tak layak saya berbangga akan naluri petualang kami. Beruntungnya kesempurnaan kisah perjalanan tidak selalu dinilai dari banyaknya destinasi yang dikunjungi, bukan pula pilihan tempat anti-mainstream hasil eksplorasi. Kadang kesempurnaan perjalanan sederhana disimpulkan dari seberapa banyak keyakinan dan syukur yang lahir saat itu. Tiga hari dua malam di kota klasik Yogyakarta membuatku mantab memperhitungkan dia sebagai bagian di masa depan kelak, atas segala persamaan terlebih perbedaan kami yang saling melengkapi. Di lorong jalanan Maliboro, di atas susunan bebatuan Borobudur, dan di tengah hiruk Lempuyangan, mimpiku dengan setia menggenggam tangan lalu memancing syukur, bagaimana dia yang adalah jawaban mimpi telah menolongku mewujudkan dua mimpiku saat itu. Semakin istimewa karena dia yang adalah lelaki impianku juga berjanji mewujudkan mimpi-mimpiku lainnya.
Adakah yang lebih indah ketika satu mimpi membuat mimpi-mimpi lain terealisasi?

*tulisan ini merupakan tulisan yang berhasil lolos audisi "would you be my travelmate"


32 orang berangkat. bukan jumlah sedikit walau untuk ukuran "liburan bersama"

perjalanan menuju jepara dari surabaya di mulai malam hari. perjalanan sekitar 6 jam sebelum sampai ke pelabuhan kartini. sedikit mengecewakan sebenarnya, ketika melihat bagaimana banyak wisatawan berminat terhadap karimun jawa namun fasilitas di pelabuhan sangat jauh dr kata memuaskan.
baik pelayanan petugas, kerapian lahan parkir, bahkan fasilitas toilet umum.

perjalanan dilanjutkan dengan kapal lambat (dengan harga tiket: 42000), sekitar 4 jam perjalanan laut. mual sempat mampir, baik akibat asap rokok ataupun gelombang laut.

sesampainya disana, kami naik bison menuju homestay. tidak ada yg khas dari tempat bermalam selama empat hari itu, kecuali air putih. aroma laut dan sengir asin sejumput ada di setiap teguk air putih yg kami konsumsi.
tapi jangan khawatir, banyak kelontongan yg menjual air mineral untuk para wisatawan yg memang tidak bisa kompromi dgn air putih yg "unik" itu >,<

hari pertama kami sampai sekitar jam 2 siang. bergegas mandi dan tanpa membuang waktu beberapa kami yg masih memiliki cadangan energi berjalan kaki menuju dermaga besar, tepatnya menjelang matahari terbenam.
semburat oranye tertangkap sempurna oleh air laut, dan oleh setiap mata yg memandang.

sunset di dermaga besar


nyatanya sore itu saya menemukan keindahan yg melampaui semburat cahaya kala senja: Fatimah dan Soleha.
dua gadis cilik yg malu-malu mendekati kami. dan saya sambut dengan tawaran meminjamkan kacamata serta topi saya untuk mereka pakai. keakraban berlanjut. kami bermain, bernyanyi, dan menari bersama. iya, saya MENARI. walau hanya berputar ala penari balet, itu bukan hal mudah bagi orang usia 21. dan hanya rasa bahagia yg nyata berbinar di mata saya sore itu.
sepertinya jepretan sahabat saya, helen, lebih bisa berbicara dari rangkaian kata saya tentang sore bahagia di dermaga.


bahagia emang super sederhana


petualangan dimulai. esok paginya kami beranjak ke dermaga karena kami akan menyebrang menuju pulau-pulau di sekitar Karimun Jawa besar. (sejujurnya, saya tidak ingat persis urutan nama pulau yg saya kunjungi. maaf). dalam satu hari kami berhenti di tiga spot snorkeling. tapi tidak ada satupun spot yg benar-benar mengesankan. jadi lagi-lagi tak akan banyak cerita soal ini.



di perahu yg saya naiki, ada pak sabar. dia menjadi teman ngobrol yg menambahkan kepingan pengetahuan pada otak kecil saya. tentang tradisi lomban di hari ketujuh sawal dan dengan senyum menjawab penasaran konyol saya "pak kalau ada yg butuh operasi caesar gimana ya?"

hampir terlewat, ada nama lain yg juga mencuri hati saya di pulau itu. di hari kedua saya dan helen berencana menikmati sunrise di sebuah pantai, yg dikenal dengan nama: nirwana. akhirnya, semalam sebelumnya kami harus mencari rental sepeda motor. dan kami temukanlah rental motor "jojo"
dengan harga 50rb untuk setengah hari.
owner rental ini, membiar kami mengambil sendiri motor di parkirannya saat hendak menuju nirwana di jam subuh. MENGAMBIL SENDIRI, dengan kondisi kunci yg bergelantung. itu sukar kami cerna, tapi akhirnya membuat saya mengagumi etos saling percaya di masyarakat sana.

dan bagian terakhir yg cukup layak dibagi adalah: tongseng. jika anda mengunjungi karimun jawa jangan sampai lupa menikmati cumi tongseng di alun-alun. harganya bervariasi, tergantung ukuran. tapi rasa dijamin nikmat dan bikin rindu :)

di hari kepulangan, ada sesuatu yg membuat perjalanan ini ditutup dgn rasa miris.
pagi-pagi buta kami sudah sampai di dermaga. titik-titik gerimis menemani durasi penantian keberangkatan kapal. kamu menunggu tepat di belakang portal penutup jalan. saya, rombongan, dan banyak wisatawan lain.
kecewanya adalah, beberapa orang tidak cukup sabar menanti kedatangan petugas untuk membuka portal dan menerobos masuk.
oke, di hadapan para turis asing kelakukan warga asli demikian. rombongan tai lung kungfu dari bandung, dengan jaket kebanggaan mereka menerobos bersama. bahkan harus saya akui, juga ada dua orang dari institusi sekolah saya mengajar. tidak ada pembelaan yg cukup untuk tindakan semacam itu. kesabaran menunggu akan jauh lebih terhormat.
tanpa ingin merinci kejadian ini, saya harap masyarakat Indonesia bukan hanya menjadi wisatawan yg cerdas tapi juga bijak.

banyak kekecewaan di perjalanan ini. tapi masih beruntung karena ada alasan yg membuat saya memperhitungkan ini sebagai pengalaman yg mengesankan: para warga disana dan kuliner malamnya.dan sedikit banyak adalah karena ini merupakan momen terakhir menghabiskan waktu bersama rekan kerja :')

sesama guru IPS: kocak!
ladies :)


Soleha, Fatimah, pak Sabar, dan mas Jojo adalah kebetulan "manis" yg saya temui di sela-sela ketidaksempurnaan perjalanan ini.
pertemuan dengan mereka membuat saya merasa sedang mengambil sepotong fortune cookies yg tepat dan membuat perjalanan ini tetap layak dibagi.

sisi berkesan dari perjalanan sama seperti fortune cookies, kita tidak bisa menebak apa yg akan membuat hati kita tersenyum. mungkin satu-satunya yg dibutuhkan adalah ketegasan yg cukup untuk melawan kekecewaan dan tetap melangkah, setegas langkah saya sore itu menuju dermaga yg menjadi awal kisah cinta di karimun jawa.
sembari menikmati suasana mendung kota probolinggo, saya mem-flashback perjalanan saya di tahun ini. per januari 2014 sampai bulan sebelum berganti usia, ada setidaknya empat perjalanan berkesan

5 bulan sebelumnya..
dengan status sebagai "penyusup" tepat di hari pertama tahun ini, pulau menjangan menjadi saksi seorang bernyali ciut melawan sisi pengecutnya akan kedalaman dan rasa pedas.
di perairan pulau kecil itu, kagum tak henti meluap, akan keindahan bawah laut. pesona yg melebihi tebaran awan di puncak penanggungan, sunrise di bromo, bahkan laut jernih serta pasir putih karimun jawa.
dua wishlist bisa tercoret, adalah bonus. suatu perjalanan dengan kawan-kawan baru tanpa banyak rencana dan berakhir dengan kepuasaan!

2 bulan sebelumnya ...
pendakian perdana di 1653 mdpl. petualangan yang tidak menyisakan kesempatan untuk mencoret barang sebijipun wishlist. tapi perjalanan kaki 6 jam yg basah, dengan medan yg tak mudah jelas melekat di hati karena siratan rasa yg tak terkira. entah kapan bisa menikmati lagi perasaan semacam itu: haru dan bangga

bersama bendera kebanggaan saya


beberapa minggu yg lalu ...
di awal bulan ini, saya mengunjungi kota klasik: Jogjakarta. tidak ada yg terlalu mainstream di kota ini. Malioboro tak pernah kehilangan pesona. Borobudur yg megah juga tetap layak disinggahi. tapi perjalanan ini menetap di ingatan karena sang partner perjalanan dan kunjungan ke rumah sakit kelahiran saya di magelang, yg sekaligus menjawab salah satu poin dari 150 keinginan saya.
tempat tangisan pertama saya di bumi
entah kenapa suka banget sama foto kami satu ini


se minggu lalu ...
perjalanan paling tidak menarik, karena dilakukan berombongan. pun kecewa dengan alam bawah laut yg sudah rusak. jauh kalah indah dibandingan jelajah bawah laut menjangan. tapi jatuh cinta masih boleh saya cicipi di perjalanan kali ini, karena mengenal orang-orang warga asli Karimun Jawa, serta olahan ikannya yg murah tapi sakti menggugah selera. mengunjungi destinasi yg memang saya ingin tuju, lega rasanya!

bersama pak Sabar. yang menjelaskan banyak hal tentang pulau itu.

dua bocah cewek yg menyambut sore saya di dermaga Karimun Jawa

di menjangan, saya jatuh cinta dengan keindahan bawah lautnya.
di jogjakarta, saya jatuh cinta dengan partner perjalanan saya.
di karimun jawa, saya jatuh cinta dengan sikap sahaja warga lokal sana.
di penanggungan, saya jatuh cinta pada setiap jengkal langkah, setiap tetes embun, keringat, bahkan air hujan. tak mungkin lupa, jatuh cinta dengan samudera awan dan siratan sinar matahari yg berangkat gagah ke peraduan. tapi yg terpenting, disana saya jatuh cinta pada: diri saya sendiri.

kecuali penanggungan, di setiap perjalanan terselip kesempatan mencoret beberapa poin dari 150 keinginan.
tapi entah mengapa, pendakian adalah cerita yg paling ingin saya banggakan di usia ini.
semoga itu pertanda, di usia duapuluhdua akan ada puncak lain yg mengijikan saya melakukan pengulangan rasa yg serupa :)
"aku tau ini semua adalah kesia-siaan. tapi Tuhan, raja tua ini juga ingin merasa bangga akan dirinya sendiri"

kutipan dari novel Alchemist karya Paul Coelho menjadi cerminan hati saya di tengah perjuangan mencapai puncak di pendakian perdana ini.

lupakan sejenak quote itu. mari mundur dan biarkan saya menceritakan kisah ini dari awal.

kawan saya Daniel (fro) dalam obrolan kami dengan iseng mengajak saya naik ke penanggungan. saya tau itu hampir mustahil untuk saya iya-kan mengingat kapasitas tubuh saya. tapi somehow teman saya satu ini berhasil meyakinkan bahwa gunung tersebut tidak terlalu mengerikan untuk pemula. asal tubuh fit dan tanpa beban pikiran, cukup.
dasar saya memang ingin, tanpa banyak ragu sayapun mengiyakan.
persiapan yang saya lakukan hanyalah main badminton untuk melatih fisik dan nafas. walaupun saya tau tidak akan berguna banyak. hehe

perjalanan dimulai di siang bolong dari surabaya. bersama dua teman dari Ekonomi Pembangunan Unair. pikir saya: "lagi-lagi menyusup"
setelah melakukan hal senada di perjalanan ke pulau menjangan.

setelah melewati gerimis kecil di daerah porong, kami melanjutkan perjalanan hingga masuk ke daerah trawas. singkat cerita kami sampai di pelawangan gunung tsb saat matahari sudah bersiap terbenam. perjalanan menuju puncak bayangan kami mulai sekitar setengah enam. keuntungan perjalanan malam adalah tidak melihat seberapa jauh rute yg masih haus ditempuh.
saya belajar sesuatu, kadang kita harus melupakan sejenak keseluruhan perjalanan dan cukup memikirkan dua hal: satu tapak di depan dan puncak itu sendiri.

empat jam kemudian kami sudah siap memasang tenda dan memasak makan malam di tengah rasa pegal kaki dan badan. susu sereal hangat ditambah sandwich ala kadarnya benar-benar terasa nikmat.
rute yg dilewati cukup sulit mengingat malam itu hujan tak kunjung lelah. licinnya tanah menambah tantangan. namun bayangan puncak sungguh menguatkan.

kami hanya tidur tiga jam. sebelum jam 3 pagi bergerak dari puncak bayangan menuju puncak sesungguhnya.
lelah raga terlupa, dengan semangat keindahan matahari terbit di ketinggain 1653 mdpl tersebut. dari berempat hanya saya dan fro yang memutuskan lanjut hingga puncak. untungnya ada teman fro, si moth dan rekan se-UKM nya (sinematografi) yg meramaikan rute miring dan curam khas penanggungan. bukan hanya kaki yg bekerja, otak dan tangan pun wajib berkoordinasi dengan baik memilih tapak-tapak yang aman.

saya sempat jalan sendirian cukup jauh, karena fro menemani lina yang akhirnya memutuskan berhenti di tengah jalan dan kembali ke tenda. di saat itu, saya menangis (dalam artian sesungguhnya), saya tidak percaya bahwa saya bisa. membuktikan ke sisi pengecut saya bahwa dia salah, itu MELEGAKAN.
hingga di puncak, air mata haru harus ditahan akibat terlalu ramai pendaki lain. kekaguman akan lukisan Pencipta dengan matahari dan awannya sungguh membayar perjalanan 6 jam yang sungguh basah dan membuat lelah.

seperti kutipan di awal tulisan ini, ini hanya kesia-siaan. toh yang menganggap ini hal besar hanya saya sendiri. hanya saya yang tahu arti bangga akan 1653 mdpl itu. tapi, biarlah, siapa peduli. to give your self a credit and proud, is a must!

jika ditanyakan apa saya akan mengulangi melakukan pendakian(?) jelas saya jawab IYA. tak peduli berapa biru njarem di sekujur kaki, tak peduli seberapa hitam warna kulit bertransformasi, saya akan tetap melakukannya.

saya masih lebih mencintai pantai, tapi puncak gunung memberikan apa yang tidak pernah diberikan oleh hamparan laut: KEBANGGAAN.