Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Alkisah... Suatu hari seseorang lelaki tampan terjaga dari lelapnya. Dia sendirian memikul sebuah tanggung jawab yang besar. Sang Tuan-nya meminta dia untuk memberi nama pada segala hal yang ada di taman indah itu. Satu per satu. Baik kepada burung di udara, segala kawanan liar di hutan, tak luput bagi mereka yang menghiasi lautan. Di tengah keasyikan itu, dia termangu tanya "tidak adakah dari semua makhluk itu yang sepadan untuk menolongku?" Tak berselang lama, dia bertemu belahan jiwa sepanjang masa. Benar! Ini adalah kisah perjodohan pertama di muka bumi, antara Adam dan Hawa. Dari kejadian itu, muncul banyak sekali kekaguman sekaligus membawa pada pertanyaan umum di benak para manusia jutaan tahun setelahnya.
   

Pertanyaan 1 : "kenapa Allah membuat Adam tidur?"
Setelah tugas melelahkan, sang Adam dibiarkan tidur. Ini adalah sebuah kesengajaan besar dari yang Khalik untuk memulai rencana tulus-Nya terhadap manusia pertama itu. Allah sendiri yang berinisiatif untuk menciptakan seorang Hawa. Kata kuncinya adalah adalah: inisiatif.

Bagi kita, awalnya terlihat biasa saja toh semua manusia memang akan tidur setelah lelah bekerja. Namun mari kita perhatikan pernyataan ini: 'Allah membuatnya tidur'. Jelas ini merupakan kesengajaan mulia yang memulai proses pengambilan tulang rusuk hingga pertemuan sang Adam dan perempuannya.

Sebelum kita memikirkan siapa pasangan kita, sudah seharusnya kita menghayati bahwa setiap tahap kehidupan kita adalah anugerah yang dimulai dari rencana Allah yang membawa kebaikan. Dari aktivitas tidur, Allah menyediakan pasangan bagi Adam. Dari aktivitas pelayanan kuliah, Riyan dipertemukan dengan saya. Dari organisasi kampus, sejoli memulai kisah cinta. Ada banyak hal yang dapat menjadi titik mula kisah cinta. Jika Allah sudah berinisiatif maka kegiatan sederhanapun dapat diajadikan awal yang sempurna. Sebaliknya, seberapapun kita menebar pesona jika Allah belum merasa perlu untuk mengambil inisiatif, maka tindakan kita jadi sia-sia.



Pertanyaan 2a: "Kenapa perlu ada Hawa?"
Pertanyaan jenius! Pada dasarnya Allah merupakan penolong yang jauh lebih dari cukup bagi Adam. Bagaimana tidak, faktanya Dia adalah Pencipta. Tidak diperlukan manusia lain, Allah adalah pelengkap hidup yang terbaik.

Lantas apa arti skenario pengambilan satu tulang rusuk Adam tersebut? Dia yang adalah Pencipta Semesta menahan diri-Nya untuk tidak mengisi sebuah kekosongan dalam diri Adam -sebagai simbol dari semua laki-laki- dan mengijinkan ruang kosong itu hanya diisi oleh seorang dari tulang rusuknya. Kata kuncinya adalah "menahan diri".

Hawa diciptakan jelas untuk menjadi penolong bagi Adam. Hawa diciptakan juga sebagai manifestasi Allah yang sedang menahan diri-Nya. Fakta itu tidak henti menginspirasi saya untuk menjadi wanita yang dapat mengisi sisi kosong laki-laki yang memang adalah kesengajaan Allah sendiri. Pencipta yang segala Maha itu telah menahan diri-Nya untuk mengisi kekosongan Adam, Riyan, dan seluruh laki-laki di muka bumi ini. Pengenalan akan skenario agung tersebut agaknya menyadarkan kita bahwa sebenarnya tidak ada alasan manusia tidak menahan ego-nya untuk membentuk kesepadanan dan harmoni hubungan laki-laki dan perempuan. Mengalah penuh kasih, itu adalah teladan yang diajarkan Allah di taman Eden dalam skenario pasangan hidup. Pilihannya adalah kita mau meniru atau membantah?


Pertanyaan 2b : "Kenapa tidak menciptkan 'Adam' yang lain?"
Pertanyaan cerdas dan kritis! Jika hanya untuk menolong, kenapa Allah tidak ciptakan saja laki-laki lain?
Ini karena Allah bukan hanya sedang membuat hubungan pertemanan namun sebuah hubungan unik yang dapat merepresentasikan tentang Kristus dan Jemaat-Nya. Sebuah hubungan hierarkis penuh kasih dimana ada titik pertemuan akan penghormatan dan penundukan.


Pertanyaan 3 : "Bagaimana konsep jodoh Kristen?"
Setelah Adam bangun, tertulis peristiwa selanjutnya bahwa 'Allah membawa perempuan itu pada Adam'. Inilah konsep jodoh! Pendalaman soal ayat ini pertama kali saya dengar saat saya menguping di kelas pastoral pra-nikah. Bapak pendeta dengan suara berkharismanya menjelaskan bahwa detail menarik yang kadang terlupa adalah kenyataan bahwa Adam tidak berkeliling-keliling taman untuk menemukan Hawa, namun Allah sendiri yang membawa wanita itu ke hadapan Adam.

Disini mengingatkan kita bahwa jodoh adalah seseorang yang dibawa pada kita saat kita sendiri telah baik melakukan apa yang Dia perintahkan, seperti Adam yang usai melakukan tugas memberikan nama-nama makhluk di taman itu. Ketika kita fokus untuk hidup dalam ketaatan dan melayani Dia, dengan cara-Nya sendiri sosok yang kita butuhkan akan datang. Itulah jodoh!

Hal ini ditegaskan dengan beberapa kisah lain, salah satunya adalah kisah pertemuan Ribka dengan Ishak. Kala itu Ribka hanya melakukan tindakan sederhana yaitu melayani memberi minum unta milik Eliezer -abdi Abraham yang memang diperintahkan untuk mencarikan pasangan bagi Ishak. Dimulai dari tindakan sederhana penuh kerendahan hati melayani, Ribka memikat hati Eliezer hingga diapun dipinang sebagai menantu Abraham. Baik Adam dan Hawa, Ishak dan Ribka, Musa dan Zipora mengingatkan kita untuk lihai menafsirkan setiap momen sebagau kesempatan melayani Pencipta. Tidak perlu mata yang rajin melirik sana sini, cukup fokus melayani Dia lewat berbagai hal, maka jodohpun akan Dia tunjukkan di waktu yang tepat dan cara yang mengagumkan.

Pertanyaan 4: "Bagaimana Adam yakin bahwa Hawa adalah yang sepadan baginya?"
Jawaban pertama adalah karena tidak ada perempuan lain saat itu. Hahaha mari tertawa sejenak. Itulah yang berbeda ketika jumlah penduduk bumi menjadi milyaran orang, dimana godaan untuk membandingkan dan 'cari aja yang lain' lebih mudah dilakukan.

Saya telah membaca beberapa buku soal pasangan hidup, namun dari kelas pastoral pra-nikah itu saya mempelajari lagi pesona indah perjodohan pertama ini. "Sepadan" adalah sesuatu yang ada di ukuran Allah. Hampir mustahil kita mengetahui seseorang itu sepadan dengan kita atau tidak TANPA kita dekat dengan Allah. Sepadan merupakan wujud kesesuaian paling tinggi berdasarkan standar Allah.  Manusia menjalaninya dengan ketaatan dan iman berbalut pengharapan penuh kasih. Semoga secuplik percakapan malam saya dengan Riyan ini memberikan sedikit gambaran:
Adiss : kalau ada perempuan yang lebih terampil mencintaimu dan lebih sepadan dalam menolongmu, kamu boleh putusin aku.
Riyan : kalau gitu aku boleh dong cari yang lain, aku coba jalani untuk cari tahu.
Adiss : gak bisa, putuskan aku dulu baru silahkan cari yang lain
Riyan : lalu gimana aku tahu kalau belum menjalani?
Adiss : itulah iman! Saat kamu memulai pacaran denganku kamu juga tidak tahu persis apakah aku akan bisa menjadi penolongmu dan apakah kita sepadan. Kamu hanya yakin akan hal itu, lalu memulai denganku. Saat itu kamu sedang mempraktekan soal iman, pengharapan, dan kasih dalam waktu bersamaan.
Riyan : *senyum* itulah kenapa aku tidak pernah menyesal memilihmu.

Sebelum kita berkomitmen dalam hubungan kita masih boleh untuk menerka-nerka sosok seperti apa yang akan sepadan dengan kita, lewat mengenal Tuhan dan diri sendiri sebaik mungkin. Namun saat sudah dalam hubungan, terkaan itu sudah harus berganti menjadi pengakuan dan iman bahwa pasangan kita adalah yang PALING SEPADAN bukan karena perbandingan, namun karena iman dan pengharapan.





Dari satu kata 'sepadan', dimulai dari satu Oknum Berdaulat, bertempat di satu taman istimewa, skenario ini menghadirkan kekayaan yang luar bisa yang menyisakan kesimpulan: Allah adalah makcomblang terbaik sepanjang masa! Percayakan kisahmu pada-Nya! :)
Aku dan riyan memulai pacaran sebelum akhirnya jadi sahabat karib. Malam ini ngerasain banget enaknya punya pacar multi peran. Dari kakak yang cerewet ingetin ini itu, partner seiman buat saling bahas Firman dan doa bareng, dan salah satu yang paling signifikan adalah sebagai sahabat.

Riyan gak terlalu suka kalo aku umbar masalah di publik khususnya sosial media, baginya itu akan buka kesempatan cowok lain untuk kasih perhatian yang berpotensi ganggu hubungan kami. Ke sahabat cewekpun demikian, dia ingatkan: "nanti saat sudah menikah dan muncul masalah, apakah kamu akan lebih cepat ngobrol dengan sahabatmu atau denganku?" Bagiku ini masuk akal, walaupun itu samasekali gak berarti kami tidak membutuhkan sahabat lain. Tanpa disuruhpun setelah menikmati persahabatan dengan pacar sendiri, sosial media jadi pilihan akhir untuk curcol. Tiap malem selalu ditanyain "gimana hari ini?" dan aku bisa cerita apapun, bener-bener APAPUN soal nano-nanonya hari tersebut. Belum lagi saat seperti malam ini, ada dua kejadian gak enak yang aku rasain dan aku cuma chat bilang "mas, aku ..." Sesegera itu telpon berdering, di layar hp lawasku nama riyan nongol dengan nada khawatir dan empati. Di laen waktu, saat harus menghadapi kegagalan, riyan sempatkan bilang ke aku "makasih sudah berusaha". Kalimat sederhana yang mengalihkan kesedihan pada sebuah kebesaran hati yang memulihkan.


Sahabatan ama pacar sendiri ataupun pacaran ama sahabat sendiri itu sama-sama enak, tapi catatannya adalah keduanya tidak serta-merta terjadi. Dua kepala dan dua latar belakang, artinya ada dua perbedaan yang besar harus dipertemukan. Mutlak butuh waktu. Awal-awal pacaran kami acap berantem karena beda gaya dalam definisi "sahabat yang baik". Bagiku itu berarti "mendengar banyak" dan bagi riyan itu sinonim dengan "memberi (saran) banyak". Lalu mana yang benar? Irisan keduanya, porsi takaran mendengar dan memberi saran yang seimbang, dengan bahasa dan timing yang tepat! Aku bersyukur riyan mengijinkanku memimpin untuk mengintisarikan pergolakan ini sebagai sebuah resolusi dan komitmen bagi kami berdua. Langsung berhasil? Ohhh jelas tidak! Tapi yg penting akhirnya ketekunan dan kasih menghasilkan buah manis. Menjadi saling membutuhkan, itu perasaan yang aman yang membahagiakan.

Saat ini aku menikmati hubungan yang sangat stabil, tanpa disadari melalui masa-masa sulit di awal karena penyesuaian karakter, lalu disusul dengan berbagai masalah keadaan (pekerjaanku ataupun pekerjaannya), itu semua menumbuhkan rasa sepenanggungan kami. Obrolan kami sehari-hari tak ubahnya dua sahabat karib. Dari perkara industry oil and gas, berita politik, postingan lucu 9gag, kisah masa kecil, hingga rahasia keluarga, bisa kami bagi.

Dan sangat nikmat memiliki hubungan dimana pertanyaan "gimana kamu hari ini?" menjadi sama mesranya dengan kalimat "Iloveyou" :)


-diketik sangat cepat dan penuh syukur seusai berpamit tidur-
Sudah sore, ini saatnya aku membangunkanmu. Lalu kamu datang dengan nada tak seramah biasanya. "Tidurku ga nyenyak" begitu katamu. Setelah kutanya, terungkaplah bahwa 'dia' yang kita rindukan telah mencuri lelapmu. Kamu berpikir soal strategi kali ini, sebuah logika dalam memilih.

Tahukah kamu?
Ada perasaan sedih padaku, selalu sedih, setiap kali ada hal yang mencuri senyummu. Tapi di balik gusarmu, tersirat banggaku. Sebuah kebanggaan terhadap pria yang serius memikirkan masa depan dan sebuah kebanggaan besar karena bisa menemanimu di masa sekarang.

Dia yang adalah benda penting kelak bagi keluarga, dia yang tidak bisa berpindah tapi mengharuskan kita untuk berpindah (mungkin) menjauh dari Surabaya -kota kecintaan kita berdua.

Hidup ini memang begitu sayang, tidak selalu kenyataan mengangguk setuju pada rencana. Pun Tuhan kadang berkata tidak, alih-alih jahat itu murni karena Dia siapkan yang lebih baik. Iya, hidup kadang seberantakan itu, memporakporandakan kedamaian dimulai dari sebuah tidur siang. Aku di sini bukan untuk merapikannya, aku memastikan bahwa api asamu masih menyala.

Sayang.. Ketahuilah setiap kali kamu datang dengan keluhan, ada secuil hatiku mengasihani diri sendiri. Bukan, samasekali bukan mengeluh karena keberadaanmu. Justru atas fakta bahwa aku tak banyak membantu, saranku juga kadang tak ampuh. Hanya terus berharap hal sederhana semacam surat terbuka ini ada maknanya.


Sediaku hanyalah selalu meminjamkan telinga. Siagaku itu tentang baris doa.

Tak ada hidup nihil masalah, tapi selama kamu mau mencoba maka aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap ada mendukungmu pula menyemangatimu, sayang.

Kalimat-kalimat indah di alkitab bisa kamu baca sendiri untuk menguatkan imanmu, tapi toh aku selalu ingin mencoba mengembalikanmu pada pengharapan yang sempurna. Kata semangatpun kadang tak berdaya, tapi toh tetap aku ucap semata agar kamu ingat bahwa itulah kewajiban kita. Tetap SEMANGAT.

Semangat itu tentang kemampuan tersenyum dan berbisik "Tuhan aku percaya." Semangat itu juga soal berkata "oke memang sulit, tapi aku akan mencoba."

Boleh prihatin, sejenak menggugah ketidakmampuan diri. Tapi lakukan itu sebentar saja ya sayang, lalu kembalikan seri indah muka tampanmu. Jangan bermuram karena masa depan kita tak suram. Jangan ciut bahagia, ini hanya tentang "BELUM" dan bukan kata "TIDAK BISA". Dan kuatlah besarkan jiwa! Karena tanpa disadari kamu punya dua otak, empat mata, empat tangan, dan empat kaki.. kala berjuang. 




Terpenting, kamu punya dua puluh jari tangan untuk melipat tangan memohon belas kasih pada sang Pencipta besar. Mungkin tambahan jari itu akan mempercepat doa kita sampai padaNya. Kalaupun tidak, berarti tambahan imanlah yang sedang darurat kita butuhkan. Apapun itu, semangat selalu PERLU!!

Jadiii... Sudah bisa tersenyumkah kamu petang ini? 

"Orang yang bersemangat DAPAT MENANGGUNG penderitaannya, ..." (Amsal 18:14a)


Maret 2012. Pertemuan ITS dan Unair
Pertemuan perdana kami terjadi di Jombang, di rumah seorang dokter lulusan Unair yang juga aktif di persekutuan (dr. Leo Suisan). Waktu itu momennya adalah saling mengenalkan pengurus pusat persekutuan Unair dan ITS. Kami semobil di perjalanan pulang ke Surabaya, teman-teman kami entah dengan alasan apa terus menggoda dan menjodohkan kami berdua. Hal itu berlalu tanpa suara selain hanya perkenalan di sosial media. Berbulan-bulan kami menjadi hanya sekedar mengenal tanpa menjadi teman. (RY & cte)


September 2012. Ulang tahun
Di awal bulan aku dengan patuh nan lugu menuruti perintah seorang teman ITS (Beethoven) untuk mengucapkan selamat ulang tahun personal ke Riyan. Dia bahkan mengirimkan nomor Riyan lewat direct message twitter. Sms ucapanpun terkirim dan sejak saat itu kami terus saling bercakap lewat sms. Akulah yang memulai keakraban ini, sebuah sms yang tidak pernah aku sesali. (cte)
---
Di siang hari tepat di hari ulang tahunku, sebuah sms muncul dari nomor yang tidak tercatat di buku telepon. Seperti banyak sms lain, itu berisi ucapan selamat ulang tahun sambil ditambah kalimat doa singkat. Dengan penasaran aku membalas hormat berterimakasih sambil bertanya memastikan siapakah gerangan di balik nomor itu. Ternyata dia adalah Adiss anak Unair, seorang kenalan yang aku temui di Jombang beberapa bulan lalu. Terkaget juga dari mana dia mendapatkan nomorku, namun enggan lebih lanjut bertanya karena yang jelas saat itu aku sedikit berbesar hati karena dia muncul di hari pertama usia 22 tahunku. (RY)


Oktober 2012. Goodbye Papa
Papaku meninggal. Di saat itu aku melihat Riyan menjadi sosok yang meluangkan waktu untuk menghiburku. Masa kelam adalah penguji ampuh tentang kualitas seorang rekan. Riyan mendapatkan poin tambah kala itu. (cte)


Desember 2012. Natal pertama Kami
Setelah keakraban yang cukup, muncul sebuah rasa ingin mengenal adiss lebih lagi. Malam itu aku mantab untuk menyatakannya, walau memang masih bercampur rasa malu serta bingung menyusun percakapan. Adiss adalah seorang perempuan yang aku kira dapat menjadi penolong yang sepadan untukku. Hari itu aku bertekad jujur tanpa perlu terburu memulai hubungan. Bagiku, membiarkan perempuan tahu perasaanku akan membantuku menentukan sikap-sikapku ke depan sekaligus membuktikan bahwa aku seorang laki-laki yang dimandatkan menjadi inisiator dalam hubungan. Akhirnya dengan begitu jujur di sela obrolan aku mengakui ketertarikanku padanya. Malam itu aku sangat senang melihat responnya yang berterimakasih dengan tulus atas perasaan, keberanian, dan kejujuran dariku. Aku merasa memilih wanita yang tepat saat dia mengajakku menutup malam itu dengan tunduk doa bersama. Dengan jujur dia mengakui bahwa dia heran kenapa aku tertarik dalam selang waktu hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi. Terburu, mungkin itu kesannya terhadapku. (RY)
---
Terkejut adalah perasaan pertamaku, lalu disusul dengan rasa tersanjung membaca pengakuan darinya. Laki-laki yang sangat lugu, dia bahkan kebingungan sendiri menata kalimatnya. Mengingat itu membuatku tersenyum geli saat ini. Bagaimanapun itu terjadi hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi, bagiku ini sangat terburu. Namun aku belajar menghargai keberanian semacam itu dan menyerahkan ke Sutradara hidup. Toh waktu juga akan membuktikan dan memurnikan. (cte)


Januari 2013.
Masih teringat jelas aku seperti orang bodoh dengan langkah mondar mandir lalu naik-turun tangga di rumahku, hanya untuk memantabkan hati dan menata kalimat di telepon perdanaku itu. Setelah niat yang kembang kempis, aku putuskan menelepon. Setidaknya aku dapat melepasnya sebelum pergi ke negeri orang selama satu bulan. (RY)


Maret 2013.
Ini bulan dimana aku mulai meragukan Riyan. Aku melihat bahwa perasaannya (mungkin) sudah pergi begitu saja. Dia disibukan dengan wisuda dan mencari kerja. Bahkan oleh-olehku dari Thailand yang aku harap membuatnya berinisiatif menemuiku tatap muka, hanya terbentur dengan kecuekannya. Menyebalkan! (cte)


April-Mei 2013. Hilang Kontak
Rasaku masih sama, tapi adiss tidak ada suara. (RY)
Dia berkata suka, tapi kini hilang begitu saja. Apa maksudnya? (cte)


Juli 2013. Thanks to facebook
Ulang tahunnya adalah momen kami kembali bercengkrama. Aku menyiapkan satu kejutan kecil untuk adiss di hari istimewanya itu, Satu-satunya jalan adalah mengirimkan lewat Facebook. Rasa senangnya tidak dia tutupi sama sekali, padahal pemberianku sangatlah sederhana. Menggembirakan juga merasa berhasil menunjukkan keistimewaan khusus padanya. Tidak lupa aku menanyakan nomornya lewat jendela chat facebook dan menjelaskan kenapa aku sempat menghilang. Melawan gengsi, aku mengakui di dua bulan itu aku mencarinya. (RY)
---
Dia melakukan hal simple di ulang tahunku dan membuatku terpesona. Mulai saat itu kami kembali intens berkomunikasi dan terungkap bahwa dia menghilang karena telepon genggamnya sudah tutup usia dan nomorku turut lenyap. Senyum lebar terutas karena tahu ternyata dia mencariku juga. Aaaaahh (cte)


Desember 2013. Natal kedua kami
FINALLY, dia mengajakku keluar. Di liburan Natal, dia pulang kampung ke Surabaya dan menyempatkan bertemu berdua denganku. Ini pertemuan personal kami yang pertama, tepat satu tahun setelah dia mengungkapkan perasaannya. Sebuah tahapan yang pelan namun pasti. Syukur tiada henti aku haturkan. Dari sini aku melihat kualitas pria, dimana tidak melakukan yang terlalu banyak bagi seorang perempuan sebelum memantabkan hatinya sendiri. Tidak membiarkan seorang perempuan salah tafsir akan niatan sang lelaki. Aku tahu dia grogi saat itu, sampai dia meninggalkan jaketnya di kursi restoran saat kami beranjak pergi. Selagi bertemu aku tidak lupa bertanya: “Bagaimana perasaanmu setahun lalu? Masih samakah?” (cte)
---
Sore itu aku sempat nyasar saat menjemputnya. Dia datang dengan membawa helm keroppi di tangan. “Anak ini benar-benar penyuka kodok hijau rupanya,” begitu bisikku dalam angan yang segera terpecahkan dengan sapaan “halo Riyan” darinya. Kami bersalaman, seakan baru kenal. Gadis berbalut pakaian hitam itu menunjukkan grogi yang tidak biasa. Menggelikan juga jika mengingat dia salah tingkah terhadap sebuah cherry merah di gelas minumannya. Di sela mengunyah makanan Italia dan di hadapan gadis yang aku doakan selama satu tahun itu, aku semakin memantabkan hati. Aku meminta ijin untuk menjalin komunikasi lebih intens dengannya, yaitu beralih dari komunikasi teks menuju ke telepon. Lalu aku tidak lupa menjawab pertanyaan lembutnya, dengan senyum aku menanggapi “iya, perasaanku setahun lalu itu masih sama.” (RY)


17 April 2014. Hari Eksekusi
Aku berkutat berhari-hari dengan sebuah buku pop-art. Kurang kece bagiku untuk menyatakan rasa tanpa menunjukkan usaha ekstra. Di tengah kesibukan aku belajar membuat pop-art 3D dan aku harap dapat menjadi peluru jitu mencuri kata IYA darinya. Dengan senyum berpadu nervous aku menyusun halaman per halaman. Buku itu bersampul gambar planet bumi, tempat kami bertemu (begitu pula milyaran pasangan lain. Haha) Kian hari kemantaban bertambah. Kualitasnya sebagai wanita yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti mencari yang lain. Sudah waktunya aku memulai menjalin hubungan. Jika diterima, maka saat ibadah Jumat Agung keesokan harinya, aku sudah dapat menyebutnya sebagai kekasih di hadapan Tuhanku di gereja. Oke, ini hari yang tepat! Skenario yang sempurna! (RY)
---
Nonton dan makan, aku kira hanya itu isi hari Kamis malam kami setahun lalu. Tidak disangka, dia yang saat itu berkaos biru dengan raut aneh mengumpulkan keberanian untuk menunjukkan sebuah buku. Dia memberiku waktu membaca. Disana tertulis tentang kasih, tantangan, altar gereja, dan sebuah rumah. Tanpa banyak bicara, dia menanyakan kesediaanku menjadi pasangannya. Sejujurnya aku berharap akan ditembak keesokan harinya, tepat setelah ibadah Jumat Agung selesai. Bangku gereja merupakan satu tempat idaman aku memulai sebuah hubungan. Laki-lakiku punya rencana yang berbeda mungkin. Kualitasnya sebagai laki-laki yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti menunggu yang lain. Buku astronot (begitu kami menamainya) itu siaga mengetuk kemantabanku. Jerih lelahnya terbayar dengan anggukan kepala penuh senyuman. Kami mulai pacaran! Yeaaay. (cte)


18 April 2014 (Jumat Agung). Doa
Bisikku adalah: “Terimakasih telah mati bagiku. Dan terimakasih atas orang disampingku yang kini adalah pasanganku. Tolong jagai kami, Tuhan. Ajari kami kasih-Mu” (RY & cte)






(Hampir) setahun sudah, usia hubungan kami. Melewati banyak kata maaf dan terimakasih. Diisi dengan ribuan kata panggilan ‘sayang’ yang kerap menguap di tengah amarah. (23 kata)
365 hari kami merajut kasih, diselingi doa dan kemesraan, kadang berganti pertengkaran konyol yang pada akhirnya berujung tawa geli. Kami bergantian merendah untuk bersedia diisi. Berusaha tangguh untuk layak mengisi. (30 kata)
Setelah menjalani proses panjang, orang kerap bertanya pada kami “kenapa harus perlahan jika bisa cepat?” Betul juga. Tapi agaknya mereka lupa bahwa ada kenikmatan khusus yang tidak akan dirasakan jika tergesa-gesa. Waktu adalah penguji terbaik. Jarak adalah tambahan faktor yang memurnikan. Apakah rasa itu hanya asmara atau sebuah keseriusan masa depan. Proses perlahan yang lelakiku pilih adalah kebanggaan kami. (58 kata)
Aku bisa saja menuturkan segala kelemahaannya, begitu sebaliknya. Tapi setahun ini mengajarkan bahwa hubungan antara dua manusia adalah tentang berfokus terhadap apa yang baik sembari saling berproses membenahi yang kurang baik, Sesederhana itu. Tentang penerimaan dan penyesuaian. Dua orang yang sama-sama tidak sempurna, penuh beda, namun saling cinta. Akhirnya menyisakan dua kewajiban yang sama rata: meregang dan melebur. Itulah garis besar satu tahun ini. (64 kata)
Melebur. Bagian menyakitkan yang pertama. Beberapa orang (laki-laki khususnya) bahkan menganggap ini sebagai kelemahan, tapi berita buruknya adalah ini harus dilakukan. Rasa sakit itu berbanding lurus dengan imbalan kedamaian. Mengalah dan mengesampingkan kerasnya diri sendiri, bukankah ini latihan ikhlas yang sesungguhnya? Ketika ada beberapa perbedaan, dua manusia bergantian melebur kadang dengan rela seringnya dengan sedikit terpaksa. Meleburkan apa? meleburkan selera, pandangan, dan pastinya ego. Memadukan perbedaan menuju satu anggukan sepakat yang seirama. (72 kata)
Meregang. Tak ubahnya perempuan hamil. Analogi ini aku pilih setelah menyaksikan bagaimana calon ponakanku terus mengambil ruang di perut ibunya. Awalnya mengira perutnya sudah cukup membuncit dan tak akan lebih membesar lagi, namun kenyataannya berbeda. Penyesuaian ukuran uterus terus terjadi demi memberi ruang kepada manusia lain. Itulah yang dilakukan dalam hubungan. Melakukan penyesuaian dan memberikan ruang. Ada kalanya merasa “ini sudah cukup” namun kenyataannya, naluri cinta memampukan ruang itu terus membesar. Itulah jalan berbagi hidup, yaitu dengan memberi ruang. Dengan meregang. (81 kata)
Seorang kakak persekutuan kampus pernah kutanya seberapa dia yakin akan menikah dengan kekasihnya, dia menjawab 99%. Seorang Adiss terperanga heran, andai aku bisa seberani dia. Satu persennya adalah jika faktor distraksi yang benar-benar tidak bisa dikendalikan terjadi, begitu jelasnya. Jika padaku ditanyakan apakah kami pasti akan menikah? Aku tidak tahu jawabannya dan juga tidak tahu bagaimana bergeming bijak dan merdu untuk itu. Satu yang pasti, pernikahan adalah tujuan kami. Sebuah tujuan suci yang kami landasi dengan iman, pengharapan, dan kasih. Aku hanya terus berharap ini adalah kisah yang tidak mengenal pisah. (91 kata)
Dia pernah sedikit mengecewakanku soal kelalaiannya menyemarakkan hari ulang tahun dengan kejutan ataupun pemberian sesuai ekspektasiku yang mungkin terlalu tinggi. Namun di hari yang berbeda dia memberiku hadiah paling indah yang berbeda: keluarga. Ini kado terbaik sepanjang masa. Dimulai dari ibadah natal bersama orang tuanya, aku mengenal keluarga baru yang semoga kemudian dapat aku sebut sebagai mertua. Belum lagi rasa besar hati karena diperkenalkan di keluarga besar. Aku melihat bagaimana lelakiku yang tidak jago merangkai kata namun ahli membuat gadisnya tergila-gila. Bukti keseriusannya bukanlah kalimat “mencintaimu selamanya” namun sebuah tindakan mempersilahkan aku masuk di keluarga yang begitu ia banggakan. Aku lebih dari beruntung. (103 kata)
Mengasihi dengan sederhana, aku belajar darinya. Tanpa banyak basa-basi namun penuh aksi. Tidak banyak mengumbar janji namun menatap masa depan bersama dengan pasti. Suatu malam kala aku berbaring santai dengan kakak perempuanku, Riyan menelpon dan seketika membawaku pergi dari sebuah kasur empuk menuju awan-awan lembut. “Kalau tahun depan aku sudah mampu, lalu aku ajak kamu nikah, gimana?” Ah sungguh, pertanyaan yang belum terjawab itu memenangkan hatiku sebagai seorang perempuan. Tidak terburu-buru dan terus mempersiapkan segalanya, kami rajin saling mengingatkan tentang itu sembari memilih terhanyut dalam rutinitas yang tidak pernah membosankan: sekedar ucapan selamat pagi ataupun senyum melepas malam. Konsistensi dan kesetiaan, adalah bahasa romantisme universal cinta yang dewasa, setidaknya menurutku. (110 kata)
Di sejumlah hari kami bersama, di sela-sela rindu terselip pilu. Dia beberapa kali menghancurkan hatiku. Misalnya saat bertanya “kapan kita bisa tinggal satu kota?” Jawaban akan tanda tanya itu belum kami temukan hingga hari ini. Jarak yang ada bukan bencana namun bagaimanapun rindu yang menggebu itu tidak selalu nikmat. Dia sekali lagi mematahkan hati, saat jam dua pagi mengirimkan teks memberitahu bahwa dia sakit dan dengan rendah hati berandai aku dapat disana merawatnya. Miris mengusir tidur lelapku. Aku yang adalah gadisnya tidak dapat berbuat apa-apa. Merawat hanya lewat kalimat. Memberi rasa nyaman lewat ketikan tangan. Jarak membawa siksa, itu adalah fakta. Teknologi memang membantu, membuatku dapat menikmati senyum tampannya. Namun untuk gandengan tangannya yang sangat lembut, aku tetap harus sabar menunggu. (122 kata)
Memiliki Riyan membuatku menyadari betapa indahnya relasi yang berkiblat pada hubungan Kristus dan jemaat-Nya ini. Di sebuah buku rohani tentang pasangan hidup aku melihat betapa indahnya skenario saat Allah menciptakan Hawa untuk Adam. Dia yang adalah Pencipta Semesta menahan diri-Nya untuk tidak mengisi sebuah kekosongan dalam diri Adam -sebagai smbol dari semua laki-laki- dan mengijinkan ruang kosong itu hanya diisi oleh seorang dari tulang rusuknya. Peristiwa perjodohan pertama di muka bumi ini tidak henti menginspirasiku untuk menjadi wanita yang dapat mengisi sisi kosong laki-laki yang memang adalah kesengajaan Allah sendiri. Pencipta yang segala Maha itu telah menahan diri-Nya untuk mengisi kekosongan Adam, Riyan, dan seluruh laki-laki di muka bumi ini. Pengenalan akan skenario agung tersebut agaknya menyadarkan kami bahwa sebenarnya tidak ada alasan manusia tidak menahan ego-nya untuk membentuk kesepadanan dan harmoni hubungan perempuan dan laki-laki. Mengalah penuh kasih, itu adalah teladan pertama yang diajarkan Allah di taman Eden dalam skenario pasangan hidup. Pilihannya adalah kita mau meniru atau membantah? (159 kata)
Perasaan paling menyenangkan dari memiliki Riyan adalah merasa cukup. Dua teman perempuanku pernah berdebat kecil mempertanyakan tentang “mencari yang terbaik” atau “mencari yang lebih baik.” Bagiku, ada banyak orang yang lebih baik dari Riyan. Daniela Mananta misalnya. Itu sekaligus menjelaskan Riyan bukanlah yang super ataupun terbaik. Tapi ijinkan aku membagi pandangan, bahwa yang kita cari bukanlah yang terbaik ataupun lebih baik. Pencarian semacam itu sangat melelahkan. Sebenarnya yang kita butuhkan adalah menemukan yang paling sepadan. Dia yang kurang-lebihnya dapat mengisi kita dan diisi oleh kita. Aku menemukannya dalam diri Riyan Yonathan. Kenyataannya wanita bukan hanya mencari pria yang dapat membuatnya tertawa namun juga bersedia dibuat tertawa olehnya. Bukan hanya tegas untuk mengatur tapi juga memiliki hati yang bersedia ditegur. Tidak dapat dipungkiri ketika kita memberi saran, teguran atau sekedar alasan untuk tertawa, kepercayaan diri meningkat. Dari kepercayaan diri yang cukup, cinta yang sehat mengembang. Di momen Riyan tertawa, aku menjadi semakin jatuh cinta. Merasa cukup, itu perasaan sederhana yang luar biasa. Membisukan hingar bingar keserakahan manusia. (166 kata)


----
Akhirnya jika ditanyakan apa momen terindah bagiku dalam 12 bulan ini, maka aku akan jawab: saat Riyan berkata “aku merasa begitu dikasihi olehmu.” Ini adalah pencapaian dan keberhasilan terbaikku. Satu kalimat yang memperlihatkan bahwa segala usahaku ditafsirkan tepat oleh pasanganku. Kasihku pada Riyan di 12 bulan hubungan kami, sama seperti jumlah kata dalam 12 paragraf di tulisan ini: terus bertambah. Aku menulis ini dengan sedemikian, untuk menyuarakan syukurku yang tidak terhingga :)



Tentang perjalanan cintaku, aku harap kamu adalah titik. Tidak ada alinea baru setelahmu. Dan tentang lembar kisah kita berdua, aku harap setiap hari adalah koma. Selalu ada lanjutan baru yang membuat kasihku semakin bertambah.
"Sayang idungku mancung ya"
Ah kata sapa. Gak mancung lah itu.
"Hmmm aku lagi PMS lho"
Ohiya sayang, mancung banget idungmu. Aku mah pesek, kalah jauh.

Tawapun pecah di sela-sela kegiatan facetime kami saat pagi dan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul rapi. Dengan alasan Premenstrual Syndrom (PMS), saya berhasil memenangkan percakapan. *devil smirk*

Satu bulan sekali, peristiwa peluruhan dinding rahim yang tidak dibuahi membawa efek tersendiri baik dari segi fisik ataupun psikologis. Pengaruh hormonal ini membuat perempuan sulit menjauh dari moody yang luar biasa, hal serupa terjadi pada saya. Rutinitas ini membuat Riyan menjadi jauh lebih waspada. Dia bahkan mengingat jadwal bulanan saya, alih-alih peduli sebenarnya hanya untuk menjaga diri kapan harus membanyak stok sabar. Masa sebulan sekali ini adalah masa PMS namun dengan kepanjangan yang berbeda: Pria Mengalah Sekali.




Seperti normalnya hubungan, perempuanlah yang harus menjadi pihak lebih lembut. Saya pun berusaha demikian. Riyan kerap memuji saya karena hampir selalu berhasil tetap kalem saat kemarahannya sudah memuncak. Bahkan pernah di tengah emosinya, tanpa banyak bicara saya mendekap dan mengelus dadanya, sambil berkata "sudah sayang, sudah" dia mengakui itu sangat menentramkan. Saya bukanlah orang yang pro bahwa perempuan adalah makhluk yang selalu ingin merasa benar. Perasaan tidak ingin disalahkan ada di laki-laki dan perempuan. Bagi saya justru sudah sewajarnya perempuan menjadi pihak yang mengalah, itu tidak lain karena naluri alami kelembutan kaum hawa.

Walau demikian ada beberapa hari dalam sebulan saya gantian yang menikmati kelembutan sekaligus kekocakan pria tersayang saya. Entahlah kenapa bagi saya pengaruh hormonal sebulan sekali ini benar-benar signifikan berdampak pada mood. Uring-uringan sangat terasa tanpa kuasa untuk melawan. Sejujurnya ini bukan sebagai alasan untuk manja dan ingin selalu benar, tapi kenyataannya ini alami secara biologis terjadi.

"Menurutmu aku manis banget pas makin lama pacaran ato justru di awal pacaran?" Tanya saya serius dengan berharap jawaban manis mesra.
"Kamu manis banget saat sebelum PMS dan setelah masa 'dapet' berakhir." Jawabnya lugas tanpa ragu.
Sayapun hanya tertawa melihat bagaimana pria saya ini begitu humorisnya menanggapi perkara sindrom pra-menstruasi. 

Masa 'Pria Mengalah Sekali' sedang saya nikmati hari-hari ini. Menyenangkan ada di hubungan di mana saya tahu tidak selamanya saya sebagai perempuan yang harus berlaku lembut dan sungguh bersyukur memiliki pria yang juga bisa menjadikan masa moody ini menjadi lebih ceria. Belum lagi senandung lembut suaranya setiap kali dilep menyerang malam sebelum tidur.

Teman saya pernah berucap kesan bahwa saya dan Riyan seperti air dan air, sama-sama lunak dan mudah mengalah. Lagi-lagi ini tentang penyesuaian diri. Sebuah adaptasi penuh kasih. Sebuah rahasia sederhana hubungan yang menyenangkan. Sebuah alasan tetap happy saat punggung terasa nyeri sekali :')




Just like the picture said: no relationship is easy. It needs hard work indeed. This story is about how imperfect person like me and almost perfect person like Riyan keep stay. We stayed.


Rahasia 1: kasih dan kesepakatan
Riyan: "kita ini sebelum jadian bilang saling suka karakter masing-masing. Setelah jadian, baru terungkap semua. Yang bikin bertahan cuma sayang dan niat"
Dimulai dari kasih lalu dilanjutkan dengan niat. Rahasia sembilan bulan kami, sesederhana itu.

Kata Morrie di tulisan Mitch Albom, pernikahan akan mengalami banyak masalah jika tidak sepakat pada serangkaian nilai penting yang sama. Begitu pula pacaran, dua manusia perlu menyepakati hal-hal penting dalam hubungan. Misalkan tentang kejujuran, tentang prioritas pembagian waktu, tentang attitude saat berdebat (tidak kasar, tidak menutup telpon, dll) juga banyak hal lain. Kita tidak sedang mencari partner yang sempurna, justru sedang mengusahakan kesepakatan sepanjang usia dengan sesama manusia yang lemah.
"Lalu pertanyaannya, apa nilai yang paling penting?" tanya Mitch Albom
"Nilai tentang berharganya hubungan kalian" Jawab Morrie sang bijak.
Percuma ada cinta menggebu jika hanya satu orang yang menilai berharga sebuah hubungan. Ini mutlak: DIBUTUHKAN DUA ORANG yang sama-sama meyakini harga relasi kasih yang mereka miliki.


Rahasia 2: Kerja keras
Ketika aku dan Riyan memulai hubungan ini, bahkan setelah proses saling mengenal yang tergolong lama, kamipun masih dikejutkan dengan berbagai karakter satu sama lain. Riyan harus terkaget dengan ke-moody-an ku dan akupun harus terbebelalak dengan sisi koleris Riyan yang dominan. Satu dan disusul berbagai kejutan lainnya selama sembilan bulan hubungan ini. Pengenalan ini tak akan berakhir walaupun kami berdua sudah beranak-pinak memenuhi bumi.

Di sela satu per satu karakter yang terungkap, sepasang kekasih akan diperhadapkan pada beberapa kekaguman bernada "astaga I found my other half" yaitu melihat berbagai perbedaan yang saling melengkapi. Tapi potensi ketidakcocokan juga muncul. Ketidakdewasaan akan berkata bahwa itu alasan berpisah, tapi kasih yang menuju pernikahan kudus paham bahwa perasaan cocok adalah alasan bertahan dan ketidakcocokan adalah ruang untuk berproses. Lagi-lagi, Sesederhana itu.

Kerja keras pertama dalam hubungan adalah mindset atau hikmat yang memastikan bahwa 'The One' is could be from anyone. But the "Real One" is someone who makes you said "yes". Tanpa mindset ini, silahkan keluar masuk hubungan mencari kesempurnaan yang PASTI melelahkan. Saat Riyan menembakku dengan peluru berwujud buku pop-art yang sangat indah, dia tidak menuliskan disana untuk aku menjadi pacarnya. Dia justru memintaku menjadi partner mengucap janji setia di altar gereja dan menghabiskan waktu bersama anak-anak di sebuah rumah. Dia dan aku tidak sedang mencoba-coba "apakah kami cocok?" percobaan itu sudah berjalan satu tahun empat bulan sebelum malam penuh grogi dia memintaku menjadi kekasih.

Rahasia 3: Kerja keras
Di antara tumpukan kagum atau sinis orang sekitar, kami bertahan. Pertahanan ini bukan tanpa sayatan. Entah berapa kali maaf harus saling termohonkan. Usia penuh ego tak bisa diingkari membuat perdebatan makin runyam. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu cemburu.
"Manusia menajamkan manusia"
Kerap aku mengingatkan ini baik ke Riyan atau diri sendiri ketika kami mulai geram dengan rasa sakit baik akibat kesalahan atau teguran. Persis malam ini saat aku memimpin kami berdua berdoa, terucap kalimat:
"Tuhan,
berikan kami kelembutan saat meresponi kesalahan.
Kerendahan hati untuk mengakui salah.
Kebesaran hati untuk mengampuni"

Ketika dua orang bersama, pasti mereka akan saling menyakiti. Sengaja ataupun tidak. Karena itulah, kerja keras kedua adalah: sikap terhadap kesalahan.
Suatu malam setelah bertengkar parah dan Riyan merasa sangat lelah, aku bertanya "Riyan masih punya stok maaf buat adiss?" lalu dia dengan nada belum sepenuhnya pulih ceria menjawab: "iya tinggal sedikit"
Dari situ aku menyadari, stok maaf yang berharga itu terus berkurang seiring kesalahan. Tapi bagi mereka yang sungguh saling mengasihi dan berniat seumur hidup bersama, stok itu tidak boleh dan tidak akan pernah habis. Selalu ada keceriaan baru yang membuat stok itu secara otomatis nan ajaib bertambah. Akan ada memori indah yang memampukan seseorang berinisiatif menambah lagi tumpukan pengampunan tersebut. dan tenang, Sang Sumber Stok Maaf itu selalu bermurah pada kita.

Hampir aku beranjak ke point selanjutnya lalu melupakan kenyataan pahit dalam hubungan: Memaafkan yang mengaku salah, itu mudah. Memaafkan yang tidak mengaku salah, itu sulit. Meminta maaf saat salah, itu juga sulit. Tapi meminta maaf ketika merasa tidak salah, itu paling sulit.

Aku tahu, Riyan begitu berjuang di tengah kolerisnya tentang hal ini. Baik meminta maaf ataupun memaafkan. Kadang dia gagal, tapi dia juga pernah berhasil, dan saat itu dia bertransformasi menjadi seseorang yang tidak ingin aku lepaskan hingga uban menjadi kebanggaan. Aku mengaguminya.
Tidak ada kelembutan Riyan dalam hal ini yang membuatku ingin manja mengulangi salah dan memperalatnya. Entah bagaimana kelembutanku di mata Riyan. Satu yang aku tahu, tidak pernah ada kelembutan yang menodai harga diri. Kelembutan pria justru menjadi alasan wanita belajar penundukan dan Kelembutan wanita, adalah alasan seorang pria tetap setia.

Rahasia 4: Kerja keras (peringatan: saya akan menulis banyak disini)
Setiap kali kami membatalkan niat menyerah, satu kalimat yang selalu muncul di otakku adalah: masih ada dua orang yang mau berjuang.

Perjuangan kami bukan hanya tentang berusaha saling bertemu di tengah jarak yang memisah. Lebih jauh dari itu, rutinitas harian kami adalah wujud perjuangan yang nyata. Kadang berupa kreatifitas membuat pasangan senang. Seperti yang kerap aku lakukan, mengirimi Riyan gambar di sela waktu kerjanya, memanfaatkan spontanitas khas sanguin untuk menceriakannya dengan gombalan dan kejutan dengan barang hadiah. Kadang kerja keras juga ditunjukan dengan konsistensi tingkat tinggi ala Riyan. Menelpon minimal satu jam setiap malam, menyapa pagi, dan menyempatkan saling menggoda di jam makan siang. Serta kesiapsiagaan Riyan menawarkan tangan bantuan, itu juga adalah bahasa kasih luar biasa.

Perjuangan juga terwujud dalam kerelaan membatasi kedekatan dengan kawan lawan jenis. Dia hampir tidak pernah membuatku cemburu apalagi curiga. Sayangnya, Riyan harus merelakan hatinya beberapa kali kecewa. Ini adalah satu bab lagi pelajaran ketat yang sudah berhasil kami lalui.

Jadi, kerja keras selanjutnya dapat diringkas dengan: bahasa kasih. Banyak pasangan saling cinta, tapi juga tak sedikit yang kandas karena gagal membahasakan kasih mereka dengan anggapan pasangan telah tahu itu. Ingatlah, kita tidak berpacaran dengan cenayang. Tak masalah bagaimana cara membahasakannya, yang masalah adalah ketika kasih tidak dibahasakan samasekali

Romantisme itu perlu! Tapi bahasa romantis setiap orang juga berbeda. Coba bandingkan antara mbak Angel-mas Adi dan Bintang-Bastian. Completely different style to express love. Soal kreatifitas dia kalah dariku. Begitu sebaliknya, soal ketekunan akupun kalah jauh darinya. Dalam batin aku mengagumi romantisme tingkat tinggi seorang laki-laki yang dilakukan Riyan dengan cakap, yaitu dengan serius memikirkan masa depan. Tentang rumah, kendaraan, jumlah anak, bahkan hewan peliharaan tak sungkan dia diskusikan denganku.

Bahasa kasih, lagi-lagi aku harus katakan, kami memang berbeda dan puji Tuhan, kami telah banyak sekali mengalami kemajuan soal ini. Ah sungguh bukan hal yang mudah awalnya. Aku menuntut dia berbicara bahasa kasih sepertiku, dan dia mengakui dengan gemas berbalut rendah hati bahwa itu terlalu berat baginya. Sampailah aku di satu titik dimana aku menyerah menyetir bahasa kasihnya. Terlalu sulit mengharapkan spontanitas dari seorang koleris sesulit mengharapkan stabilitas dari seorang sanguin. Malam ini, aku dapat tersenyum bangga mengingat betapa kami telah belajar.

Usai pergumulan panjaaaaang soal ini,  aku mendapati satu fakta di satu tengah malam aku terjaga: "jangan mencari perasaan adil. Tapi usahakanlah kasih yang terus memberi" Ketika kita mencari keadilan, kebanyakan kita akan tidak terpuaskan. Antara sombong merasa telah melakukan lebih banyak atau insecured karena melakukan lebih sedikit. Jadi, lebih baik fokuskan pikiran pada "apa yang bisa aku lakukan untuk kekasihku ini?"

Rahasia 5: Kerja keras.
Hampir selalu setiap selesai berdebat aku menuliskan sesuatu di kumpulan note kami. Disana tertumpuk kesimpulan dari setiap masalah, agar kami tak mengulangi kesalahan yang sama atau sekedar mencatat apa yang pasangan kami inginkan. Mulai belakangan ini aku juga memutuskan dan mengajak Riyan untuk berdoa bersama setiap kali kami selesai bertengkar.

Ini rahasia hampir terakhir: komunikasi dan resolusi. Bukan karena ada di urutan belakang, maka ini kurang penting. Nyatanya ini adalah salah satu yang paling esensial: komunikasi vertikal dan horizontal + resolusi vertikal dan horizontal. Pada Tuhan dan pada pasangan. Mengundang campur tangan Tuhan, bukan hanya teori dan iming-iming kemudahan. Bergantung padaNya dalam mengasihi orang lain mutlak dibutuhkan. Belum pernah lepas dari ingatan ketika aku memohon dengan sangat "Tuhan berikan kami kasih mesra" lalu Tuhan secara begitu ajaib memampukan kami mewujudkan kemesraan luar biasa. Juga bagaimana di satu hari kami mendengar khotbah tema yang PERSIS sama di dua jenis gereja di dua kota yang berlainan dari dua tokoh Alkitab yang berbeda. Dua manusia saling jatuh cinta lalu saling berusaha, tapi ada Tangan Tak Terlihat yang senantiasa menjaga dan memelihara di tengah kecerobohan dan keterbatasan.

Komunikasi tidak cukup jika tidak dibarengi dengan rumusan komitmen ke depan. Pun resolusi juga tidak terwujud tanpa komunikasi. Riyan sangat baik dalam menjaga komunikasi, dan keterampilanku bekerja saat menyusun resolusi. Kami berbeda namun saling melengkapi disini.

Rahasia terakhir: Pengharapan dan Ucapan syukur.
Mengucap syukurlah senantiasa dan tetaplah percaya, kata Paulus. Perjuangan menuju pernikahan sangat berat, tapi pengharapan akan keindahan sebuah pernikahan juga menjadi alasan bertahan di setiap pahit manis perjalanan. Kita bekerja keras seumur hidup, kita tangguh bertahan terhadap apa yang kita anggap baik di depan. Itu adalah hal baik jika kita boleh berjerih lelah untuk sesuatu, karena itu tanda kita masih manusia, sebab tak ada perjuangan di dunia orang mati,  ucap sang Bijak Pengkhotbah.
Seperti syukur karena diberikan kesempatan kuliah dan pengharapan akan gelar sarjana akan menjadikan semangat berjuang menyelesaikan skripsi. Begitu pula dengan relasi sejoli manusia.
"beyond blessed and proud to call you mine, Riyan Yonathan" inilah kalimat pembukaku saat kami berdua jadian. Perasaan bangga dan terberkati itu masih sama seperti hari ini, dan menjadi penyemangat aku melakukan segala kerja keras. Aku bersyukur atas yang aku miliki. Aku merasa cukup. Aku (dimampukan) untuk percaya bahwa apa yang akan kami miliki ke depan sungguh indah. Aku sebagai wanita berhenti menanti yang lain dan Riyan sebagai laki-laki berhenti mencari yang lain. Kami bertahan, bukan karena pasangan kami sempurna, bukan karena hubungan ini selalu nyaman, tapi karena kasih, pengharapan, dan pastinya ucapan syukur yang memampukan kami bekerja keras.

Sekian.

Ini rahasia kami, setiap pasangan memiliki rahasianya sendiri. Di antara itu semua masih terlalu banyak wujud kerja keras yang harus diusahakan. Yang jelas kasih adalah investasi besar, kami belajar menumbuhkannya dengan kerja keras.

Sebagai penutup, aku sisipkan to do list kami :) 

1. Berdoa bersama dan terus saling mengasihi
2. Setia melakukan hal-hal sederhana untuk pasangan
3. Bertanya jika ingin tahu
4. Berkata "tidak" dengan hormat, jika tidak sepakat
5. Memuji dengan tulus
6. Menegur dengan rendah hati
7. Meminta maaf dan mengampuni
8. Mendengar tanpa menghakimi
9. Bercerita dengan apa adanya

Sungguh kami tidak sempurna melakukan ini semua. Kami hanya berusaha menjadi dua kawan baik yang saling bekerjasama. Menjadi partner yang saling mendukung di suka duka. Baik air mata tawa, air mata pergumulan, dan air mata luka, sudah mengairi baris doa kami. Di ribuan hari bersama ke depan (jika Tuhan menghendaki) akan muncul masalah baru dan tantangan baru, tapi juga akan ada kekuatan baru!
kami tidak pernah sendirian berjuang, itulah rahasia terbesar.
Judul yang saya pilih tidak lain adalah sepotong janji suci pernikahan. Entah sudah berapa banyak juta pasang manusia saling cinta telah menyatakannya dalam pelbagai bahasa yang berbeda. Sebuah janji pada pasangan, dihadapan para keluarga dan pemuka agama, menjadi awal sebuah perjalanan rumah tangga dimulai. Dari satu kalimat banyak tanggung jawab yang akan diemban masing-masing pengucapnya.

Saya belum menikah, jadi saya jelas tak dapat menghayati janji itu secara utuh. Tapi ijinkan saya membagi apa yang saya pikirkan dari kalimat janji suci itu.

janji yang serius tapi sangat manusiawi.


"for better and for worse",
adalah sebuah ungkapan yang siap akan perubahan.
tidak dikatakan "for good and bad" yang merujuk ke kondisi stagnan,
janji "better and worse" menyimpan misteri perubahan yang PASTI akan dialami pasangan.



Di balik janji "for better" berarti ada sebuah kesiapan menapaki tindakan yang lebih baik. Pekerjaan yang lebih baik, mengharuskan pilihan pindah kota tempat tinggal yang sudah nyaman. Mimpi studi lanjut di luar negeri, atau banyak pencapaian lain. Mungkin terlihat lebih mudah dibandingkan menerima "for worse" tapi mutlak perlu ada kesiapan. Belum lagi perubahan karakter atau kebiasaan tertentu. Memang idealnya terjadi demikian, mari dengan fair mengakui bahwa sedari kecil kita diperhadapkan dengan banyak pembiasaan baik yang nyatanya tak semua dapat melebur ke karakter kita dengan mulus.

Untuk "for worse" jelas dibutuhkan banyak sekali penerimaan dan pengampunan. Kesalahan ataupun pudarnya kondisi serba manis masa awal pernikahan. Entah siapa pencetus kalimat janji suci ini, tapi bagi saya ini JENIUS!

Dalam periode pacaran, saya menyadari bahwa penerimaan akan perubahan bukanlah hal mudah, kebanyakan karena godaan pembandingan dengan kondisi yang sebelumnya. Hal ini adalah satu babak pembelajaran khusus bagi saya. Setelah berhenti membandingkan sang kekasih dengan orang lain, lalu berhenti untuk membandingkan dia dengan diri sendiri dan berakhir pada kesimpulan bahwa kami memang punya bahasa kasih yang berbeda. Masa belakangan ini latihan bergeser untuk membuat saya berhenti membandingkan kekasih saya hari ini dengan dirinya sendiri hari lalu.

Daun tidak bisa menuntut Embun membasahinya dengan konsistensi sempurna setiap hari
inilah analogi yang saya tegaskan ke diri sendiri, bahwa pembandingan terhadap hari yang lalu hanya akan membawa pada tuntutan akan konsistensi sempurna yang KITA TAHU tidak akan pernah dipenuhi oleh manusia.

Proses berhenti membandingkan dan siap atas segala perubahan ini adalah satu dari sekian banyak latihan mempersiapkan diri, sebelum saya akhirnya mampu mengucapkan janji:
"loving you for better and for worse, I do" :)


NB: Riyan, tolong sabar ya..


"diss, pergumulanmu sama riyan itu salah satu cerita pergumulan PH favoritku. pelan, gak banyak yg tahu, dan akhirnya jadi."

-celetukan seorang teman di tengah seruput kopinya-

melewati smsan, ganti ke whatsapp, lalu bbm, dan diselingi bbrp telpon.

butuh setengah tahun dari ketemu kenalan sampai mulai smsan
satu per tigapuluhdua windu jarak dari smsan sampai mulai mendoakan
dan tepat 365 hari penantian sejak pertama mendoakan hingga bertatap muka berdua
dan selusin pekan dari natal 2013 (pertemuan berdua perdana) hingga mengambil komitmen dalam hubungan..

jadi jika ada orang yg mengira saya sedang madly in love karena BARU jadian, itu salah.
saya madly in love karena saya sudah dan sedang (dan semoga terus) memiliki hasil doa dan penantian, yg jauh lebih lama dari yg orang pernah duga.

jatuh cinta saya pada Riyan hanya sepersekian dari kekaguman saya pada Perajut kisah kami berdua.

saya kini bisa membagi hal berharga pada sesama teman wanita: penantian (pasangan) yg digantungkan pada Sutradara Semesta yg paling berdaulat, tidak mengecewakan.
dan semoga Kekasih disana juga berani menyimpulkan pada teman laki-laki nya: pencarian (pasangan) yg digantungkan pada Sutradara Semesta yg paling berdaulat tidak mengecewakan.