Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Aku dan riyan memulai pacaran sebelum akhirnya jadi sahabat karib. Malam ini ngerasain banget enaknya punya pacar multi peran. Dari kakak yang cerewet ingetin ini itu, partner seiman buat saling bahas Firman dan doa bareng, dan salah satu yang paling signifikan adalah sebagai sahabat.

Riyan gak terlalu suka kalo aku umbar masalah di publik khususnya sosial media, baginya itu akan buka kesempatan cowok lain untuk kasih perhatian yang berpotensi ganggu hubungan kami. Ke sahabat cewekpun demikian, dia ingatkan: "nanti saat sudah menikah dan muncul masalah, apakah kamu akan lebih cepat ngobrol dengan sahabatmu atau denganku?" Bagiku ini masuk akal, walaupun itu samasekali gak berarti kami tidak membutuhkan sahabat lain. Tanpa disuruhpun setelah menikmati persahabatan dengan pacar sendiri, sosial media jadi pilihan akhir untuk curcol. Tiap malem selalu ditanyain "gimana hari ini?" dan aku bisa cerita apapun, bener-bener APAPUN soal nano-nanonya hari tersebut. Belum lagi saat seperti malam ini, ada dua kejadian gak enak yang aku rasain dan aku cuma chat bilang "mas, aku ..." Sesegera itu telpon berdering, di layar hp lawasku nama riyan nongol dengan nada khawatir dan empati. Di laen waktu, saat harus menghadapi kegagalan, riyan sempatkan bilang ke aku "makasih sudah berusaha". Kalimat sederhana yang mengalihkan kesedihan pada sebuah kebesaran hati yang memulihkan.


Sahabatan ama pacar sendiri ataupun pacaran ama sahabat sendiri itu sama-sama enak, tapi catatannya adalah keduanya tidak serta-merta terjadi. Dua kepala dan dua latar belakang, artinya ada dua perbedaan yang besar harus dipertemukan. Mutlak butuh waktu. Awal-awal pacaran kami acap berantem karena beda gaya dalam definisi "sahabat yang baik". Bagiku itu berarti "mendengar banyak" dan bagi riyan itu sinonim dengan "memberi (saran) banyak". Lalu mana yang benar? Irisan keduanya, porsi takaran mendengar dan memberi saran yang seimbang, dengan bahasa dan timing yang tepat! Aku bersyukur riyan mengijinkanku memimpin untuk mengintisarikan pergolakan ini sebagai sebuah resolusi dan komitmen bagi kami berdua. Langsung berhasil? Ohhh jelas tidak! Tapi yg penting akhirnya ketekunan dan kasih menghasilkan buah manis. Menjadi saling membutuhkan, itu perasaan yang aman yang membahagiakan.

Saat ini aku menikmati hubungan yang sangat stabil, tanpa disadari melalui masa-masa sulit di awal karena penyesuaian karakter, lalu disusul dengan berbagai masalah keadaan (pekerjaanku ataupun pekerjaannya), itu semua menumbuhkan rasa sepenanggungan kami. Obrolan kami sehari-hari tak ubahnya dua sahabat karib. Dari perkara industry oil and gas, berita politik, postingan lucu 9gag, kisah masa kecil, hingga rahasia keluarga, bisa kami bagi.

Dan sangat nikmat memiliki hubungan dimana pertanyaan "gimana kamu hari ini?" menjadi sama mesranya dengan kalimat "Iloveyou" :)


-diketik sangat cepat dan penuh syukur seusai berpamit tidur-
Maret 2012. Pertemuan ITS dan Unair
Pertemuan perdana kami terjadi di Jombang, di rumah seorang dokter lulusan Unair yang juga aktif di persekutuan (dr. Leo Suisan). Waktu itu momennya adalah saling mengenalkan pengurus pusat persekutuan Unair dan ITS. Kami semobil di perjalanan pulang ke Surabaya, teman-teman kami entah dengan alasan apa terus menggoda dan menjodohkan kami berdua. Hal itu berlalu tanpa suara selain hanya perkenalan di sosial media. Berbulan-bulan kami menjadi hanya sekedar mengenal tanpa menjadi teman. (RY & cte)


September 2012. Ulang tahun
Di awal bulan aku dengan patuh nan lugu menuruti perintah seorang teman ITS (Beethoven) untuk mengucapkan selamat ulang tahun personal ke Riyan. Dia bahkan mengirimkan nomor Riyan lewat direct message twitter. Sms ucapanpun terkirim dan sejak saat itu kami terus saling bercakap lewat sms. Akulah yang memulai keakraban ini, sebuah sms yang tidak pernah aku sesali. (cte)
---
Di siang hari tepat di hari ulang tahunku, sebuah sms muncul dari nomor yang tidak tercatat di buku telepon. Seperti banyak sms lain, itu berisi ucapan selamat ulang tahun sambil ditambah kalimat doa singkat. Dengan penasaran aku membalas hormat berterimakasih sambil bertanya memastikan siapakah gerangan di balik nomor itu. Ternyata dia adalah Adiss anak Unair, seorang kenalan yang aku temui di Jombang beberapa bulan lalu. Terkaget juga dari mana dia mendapatkan nomorku, namun enggan lebih lanjut bertanya karena yang jelas saat itu aku sedikit berbesar hati karena dia muncul di hari pertama usia 22 tahunku. (RY)


Oktober 2012. Goodbye Papa
Papaku meninggal. Di saat itu aku melihat Riyan menjadi sosok yang meluangkan waktu untuk menghiburku. Masa kelam adalah penguji ampuh tentang kualitas seorang rekan. Riyan mendapatkan poin tambah kala itu. (cte)


Desember 2012. Natal pertama Kami
Setelah keakraban yang cukup, muncul sebuah rasa ingin mengenal adiss lebih lagi. Malam itu aku mantab untuk menyatakannya, walau memang masih bercampur rasa malu serta bingung menyusun percakapan. Adiss adalah seorang perempuan yang aku kira dapat menjadi penolong yang sepadan untukku. Hari itu aku bertekad jujur tanpa perlu terburu memulai hubungan. Bagiku, membiarkan perempuan tahu perasaanku akan membantuku menentukan sikap-sikapku ke depan sekaligus membuktikan bahwa aku seorang laki-laki yang dimandatkan menjadi inisiator dalam hubungan. Akhirnya dengan begitu jujur di sela obrolan aku mengakui ketertarikanku padanya. Malam itu aku sangat senang melihat responnya yang berterimakasih dengan tulus atas perasaan, keberanian, dan kejujuran dariku. Aku merasa memilih wanita yang tepat saat dia mengajakku menutup malam itu dengan tunduk doa bersama. Dengan jujur dia mengakui bahwa dia heran kenapa aku tertarik dalam selang waktu hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi. Terburu, mungkin itu kesannya terhadapku. (RY)
---
Terkejut adalah perasaan pertamaku, lalu disusul dengan rasa tersanjung membaca pengakuan darinya. Laki-laki yang sangat lugu, dia bahkan kebingungan sendiri menata kalimatnya. Mengingat itu membuatku tersenyum geli saat ini. Bagaimanapun itu terjadi hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi, bagiku ini sangat terburu. Namun aku belajar menghargai keberanian semacam itu dan menyerahkan ke Sutradara hidup. Toh waktu juga akan membuktikan dan memurnikan. (cte)


Januari 2013.
Masih teringat jelas aku seperti orang bodoh dengan langkah mondar mandir lalu naik-turun tangga di rumahku, hanya untuk memantabkan hati dan menata kalimat di telepon perdanaku itu. Setelah niat yang kembang kempis, aku putuskan menelepon. Setidaknya aku dapat melepasnya sebelum pergi ke negeri orang selama satu bulan. (RY)


Maret 2013.
Ini bulan dimana aku mulai meragukan Riyan. Aku melihat bahwa perasaannya (mungkin) sudah pergi begitu saja. Dia disibukan dengan wisuda dan mencari kerja. Bahkan oleh-olehku dari Thailand yang aku harap membuatnya berinisiatif menemuiku tatap muka, hanya terbentur dengan kecuekannya. Menyebalkan! (cte)


April-Mei 2013. Hilang Kontak
Rasaku masih sama, tapi adiss tidak ada suara. (RY)
Dia berkata suka, tapi kini hilang begitu saja. Apa maksudnya? (cte)


Juli 2013. Thanks to facebook
Ulang tahunnya adalah momen kami kembali bercengkrama. Aku menyiapkan satu kejutan kecil untuk adiss di hari istimewanya itu, Satu-satunya jalan adalah mengirimkan lewat Facebook. Rasa senangnya tidak dia tutupi sama sekali, padahal pemberianku sangatlah sederhana. Menggembirakan juga merasa berhasil menunjukkan keistimewaan khusus padanya. Tidak lupa aku menanyakan nomornya lewat jendela chat facebook dan menjelaskan kenapa aku sempat menghilang. Melawan gengsi, aku mengakui di dua bulan itu aku mencarinya. (RY)
---
Dia melakukan hal simple di ulang tahunku dan membuatku terpesona. Mulai saat itu kami kembali intens berkomunikasi dan terungkap bahwa dia menghilang karena telepon genggamnya sudah tutup usia dan nomorku turut lenyap. Senyum lebar terutas karena tahu ternyata dia mencariku juga. Aaaaahh (cte)


Desember 2013. Natal kedua kami
FINALLY, dia mengajakku keluar. Di liburan Natal, dia pulang kampung ke Surabaya dan menyempatkan bertemu berdua denganku. Ini pertemuan personal kami yang pertama, tepat satu tahun setelah dia mengungkapkan perasaannya. Sebuah tahapan yang pelan namun pasti. Syukur tiada henti aku haturkan. Dari sini aku melihat kualitas pria, dimana tidak melakukan yang terlalu banyak bagi seorang perempuan sebelum memantabkan hatinya sendiri. Tidak membiarkan seorang perempuan salah tafsir akan niatan sang lelaki. Aku tahu dia grogi saat itu, sampai dia meninggalkan jaketnya di kursi restoran saat kami beranjak pergi. Selagi bertemu aku tidak lupa bertanya: “Bagaimana perasaanmu setahun lalu? Masih samakah?” (cte)
---
Sore itu aku sempat nyasar saat menjemputnya. Dia datang dengan membawa helm keroppi di tangan. “Anak ini benar-benar penyuka kodok hijau rupanya,” begitu bisikku dalam angan yang segera terpecahkan dengan sapaan “halo Riyan” darinya. Kami bersalaman, seakan baru kenal. Gadis berbalut pakaian hitam itu menunjukkan grogi yang tidak biasa. Menggelikan juga jika mengingat dia salah tingkah terhadap sebuah cherry merah di gelas minumannya. Di sela mengunyah makanan Italia dan di hadapan gadis yang aku doakan selama satu tahun itu, aku semakin memantabkan hati. Aku meminta ijin untuk menjalin komunikasi lebih intens dengannya, yaitu beralih dari komunikasi teks menuju ke telepon. Lalu aku tidak lupa menjawab pertanyaan lembutnya, dengan senyum aku menanggapi “iya, perasaanku setahun lalu itu masih sama.” (RY)


17 April 2014. Hari Eksekusi
Aku berkutat berhari-hari dengan sebuah buku pop-art. Kurang kece bagiku untuk menyatakan rasa tanpa menunjukkan usaha ekstra. Di tengah kesibukan aku belajar membuat pop-art 3D dan aku harap dapat menjadi peluru jitu mencuri kata IYA darinya. Dengan senyum berpadu nervous aku menyusun halaman per halaman. Buku itu bersampul gambar planet bumi, tempat kami bertemu (begitu pula milyaran pasangan lain. Haha) Kian hari kemantaban bertambah. Kualitasnya sebagai wanita yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti mencari yang lain. Sudah waktunya aku memulai menjalin hubungan. Jika diterima, maka saat ibadah Jumat Agung keesokan harinya, aku sudah dapat menyebutnya sebagai kekasih di hadapan Tuhanku di gereja. Oke, ini hari yang tepat! Skenario yang sempurna! (RY)
---
Nonton dan makan, aku kira hanya itu isi hari Kamis malam kami setahun lalu. Tidak disangka, dia yang saat itu berkaos biru dengan raut aneh mengumpulkan keberanian untuk menunjukkan sebuah buku. Dia memberiku waktu membaca. Disana tertulis tentang kasih, tantangan, altar gereja, dan sebuah rumah. Tanpa banyak bicara, dia menanyakan kesediaanku menjadi pasangannya. Sejujurnya aku berharap akan ditembak keesokan harinya, tepat setelah ibadah Jumat Agung selesai. Bangku gereja merupakan satu tempat idaman aku memulai sebuah hubungan. Laki-lakiku punya rencana yang berbeda mungkin. Kualitasnya sebagai laki-laki yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti menunggu yang lain. Buku astronot (begitu kami menamainya) itu siaga mengetuk kemantabanku. Jerih lelahnya terbayar dengan anggukan kepala penuh senyuman. Kami mulai pacaran! Yeaaay. (cte)


18 April 2014 (Jumat Agung). Doa
Bisikku adalah: “Terimakasih telah mati bagiku. Dan terimakasih atas orang disampingku yang kini adalah pasanganku. Tolong jagai kami, Tuhan. Ajari kami kasih-Mu” (RY & cte)






(Hampir) setahun sudah, usia hubungan kami. Melewati banyak kata maaf dan terimakasih. Diisi dengan ribuan kata panggilan ‘sayang’ yang kerap menguap di tengah amarah. (23 kata)
365 hari kami merajut kasih, diselingi doa dan kemesraan, kadang berganti pertengkaran konyol yang pada akhirnya berujung tawa geli. Kami bergantian merendah untuk bersedia diisi. Berusaha tangguh untuk layak mengisi. (30 kata)
Setelah menjalani proses panjang, orang kerap bertanya pada kami “kenapa harus perlahan jika bisa cepat?” Betul juga. Tapi agaknya mereka lupa bahwa ada kenikmatan khusus yang tidak akan dirasakan jika tergesa-gesa. Waktu adalah penguji terbaik. Jarak adalah tambahan faktor yang memurnikan. Apakah rasa itu hanya asmara atau sebuah keseriusan masa depan. Proses perlahan yang lelakiku pilih adalah kebanggaan kami. (58 kata)
Aku bisa saja menuturkan segala kelemahaannya, begitu sebaliknya. Tapi setahun ini mengajarkan bahwa hubungan antara dua manusia adalah tentang berfokus terhadap apa yang baik sembari saling berproses membenahi yang kurang baik, Sesederhana itu. Tentang penerimaan dan penyesuaian. Dua orang yang sama-sama tidak sempurna, penuh beda, namun saling cinta. Akhirnya menyisakan dua kewajiban yang sama rata: meregang dan melebur. Itulah garis besar satu tahun ini. (64 kata)
Melebur. Bagian menyakitkan yang pertama. Beberapa orang (laki-laki khususnya) bahkan menganggap ini sebagai kelemahan, tapi berita buruknya adalah ini harus dilakukan. Rasa sakit itu berbanding lurus dengan imbalan kedamaian. Mengalah dan mengesampingkan kerasnya diri sendiri, bukankah ini latihan ikhlas yang sesungguhnya? Ketika ada beberapa perbedaan, dua manusia bergantian melebur kadang dengan rela seringnya dengan sedikit terpaksa. Meleburkan apa? meleburkan selera, pandangan, dan pastinya ego. Memadukan perbedaan menuju satu anggukan sepakat yang seirama. (72 kata)
Meregang. Tak ubahnya perempuan hamil. Analogi ini aku pilih setelah menyaksikan bagaimana calon ponakanku terus mengambil ruang di perut ibunya. Awalnya mengira perutnya sudah cukup membuncit dan tak akan lebih membesar lagi, namun kenyataannya berbeda. Penyesuaian ukuran uterus terus terjadi demi memberi ruang kepada manusia lain. Itulah yang dilakukan dalam hubungan. Melakukan penyesuaian dan memberikan ruang. Ada kalanya merasa “ini sudah cukup” namun kenyataannya, naluri cinta memampukan ruang itu terus membesar. Itulah jalan berbagi hidup, yaitu dengan memberi ruang. Dengan meregang. (81 kata)
Seorang kakak persekutuan kampus pernah kutanya seberapa dia yakin akan menikah dengan kekasihnya, dia menjawab 99%. Seorang Adiss terperanga heran, andai aku bisa seberani dia. Satu persennya adalah jika faktor distraksi yang benar-benar tidak bisa dikendalikan terjadi, begitu jelasnya. Jika padaku ditanyakan apakah kami pasti akan menikah? Aku tidak tahu jawabannya dan juga tidak tahu bagaimana bergeming bijak dan merdu untuk itu. Satu yang pasti, pernikahan adalah tujuan kami. Sebuah tujuan suci yang kami landasi dengan iman, pengharapan, dan kasih. Aku hanya terus berharap ini adalah kisah yang tidak mengenal pisah. (91 kata)
Dia pernah sedikit mengecewakanku soal kelalaiannya menyemarakkan hari ulang tahun dengan kejutan ataupun pemberian sesuai ekspektasiku yang mungkin terlalu tinggi. Namun di hari yang berbeda dia memberiku hadiah paling indah yang berbeda: keluarga. Ini kado terbaik sepanjang masa. Dimulai dari ibadah natal bersama orang tuanya, aku mengenal keluarga baru yang semoga kemudian dapat aku sebut sebagai mertua. Belum lagi rasa besar hati karena diperkenalkan di keluarga besar. Aku melihat bagaimana lelakiku yang tidak jago merangkai kata namun ahli membuat gadisnya tergila-gila. Bukti keseriusannya bukanlah kalimat “mencintaimu selamanya” namun sebuah tindakan mempersilahkan aku masuk di keluarga yang begitu ia banggakan. Aku lebih dari beruntung. (103 kata)
Mengasihi dengan sederhana, aku belajar darinya. Tanpa banyak basa-basi namun penuh aksi. Tidak banyak mengumbar janji namun menatap masa depan bersama dengan pasti. Suatu malam kala aku berbaring santai dengan kakak perempuanku, Riyan menelpon dan seketika membawaku pergi dari sebuah kasur empuk menuju awan-awan lembut. “Kalau tahun depan aku sudah mampu, lalu aku ajak kamu nikah, gimana?” Ah sungguh, pertanyaan yang belum terjawab itu memenangkan hatiku sebagai seorang perempuan. Tidak terburu-buru dan terus mempersiapkan segalanya, kami rajin saling mengingatkan tentang itu sembari memilih terhanyut dalam rutinitas yang tidak pernah membosankan: sekedar ucapan selamat pagi ataupun senyum melepas malam. Konsistensi dan kesetiaan, adalah bahasa romantisme universal cinta yang dewasa, setidaknya menurutku. (110 kata)
Di sejumlah hari kami bersama, di sela-sela rindu terselip pilu. Dia beberapa kali menghancurkan hatiku. Misalnya saat bertanya “kapan kita bisa tinggal satu kota?” Jawaban akan tanda tanya itu belum kami temukan hingga hari ini. Jarak yang ada bukan bencana namun bagaimanapun rindu yang menggebu itu tidak selalu nikmat. Dia sekali lagi mematahkan hati, saat jam dua pagi mengirimkan teks memberitahu bahwa dia sakit dan dengan rendah hati berandai aku dapat disana merawatnya. Miris mengusir tidur lelapku. Aku yang adalah gadisnya tidak dapat berbuat apa-apa. Merawat hanya lewat kalimat. Memberi rasa nyaman lewat ketikan tangan. Jarak membawa siksa, itu adalah fakta. Teknologi memang membantu, membuatku dapat menikmati senyum tampannya. Namun untuk gandengan tangannya yang sangat lembut, aku tetap harus sabar menunggu. (122 kata)
Memiliki Riyan membuatku menyadari betapa indahnya relasi yang berkiblat pada hubungan Kristus dan jemaat-Nya ini. Di sebuah buku rohani tentang pasangan hidup aku melihat betapa indahnya skenario saat Allah menciptakan Hawa untuk Adam. Dia yang adalah Pencipta Semesta menahan diri-Nya untuk tidak mengisi sebuah kekosongan dalam diri Adam -sebagai smbol dari semua laki-laki- dan mengijinkan ruang kosong itu hanya diisi oleh seorang dari tulang rusuknya. Peristiwa perjodohan pertama di muka bumi ini tidak henti menginspirasiku untuk menjadi wanita yang dapat mengisi sisi kosong laki-laki yang memang adalah kesengajaan Allah sendiri. Pencipta yang segala Maha itu telah menahan diri-Nya untuk mengisi kekosongan Adam, Riyan, dan seluruh laki-laki di muka bumi ini. Pengenalan akan skenario agung tersebut agaknya menyadarkan kami bahwa sebenarnya tidak ada alasan manusia tidak menahan ego-nya untuk membentuk kesepadanan dan harmoni hubungan perempuan dan laki-laki. Mengalah penuh kasih, itu adalah teladan pertama yang diajarkan Allah di taman Eden dalam skenario pasangan hidup. Pilihannya adalah kita mau meniru atau membantah? (159 kata)
Perasaan paling menyenangkan dari memiliki Riyan adalah merasa cukup. Dua teman perempuanku pernah berdebat kecil mempertanyakan tentang “mencari yang terbaik” atau “mencari yang lebih baik.” Bagiku, ada banyak orang yang lebih baik dari Riyan. Daniela Mananta misalnya. Itu sekaligus menjelaskan Riyan bukanlah yang super ataupun terbaik. Tapi ijinkan aku membagi pandangan, bahwa yang kita cari bukanlah yang terbaik ataupun lebih baik. Pencarian semacam itu sangat melelahkan. Sebenarnya yang kita butuhkan adalah menemukan yang paling sepadan. Dia yang kurang-lebihnya dapat mengisi kita dan diisi oleh kita. Aku menemukannya dalam diri Riyan Yonathan. Kenyataannya wanita bukan hanya mencari pria yang dapat membuatnya tertawa namun juga bersedia dibuat tertawa olehnya. Bukan hanya tegas untuk mengatur tapi juga memiliki hati yang bersedia ditegur. Tidak dapat dipungkiri ketika kita memberi saran, teguran atau sekedar alasan untuk tertawa, kepercayaan diri meningkat. Dari kepercayaan diri yang cukup, cinta yang sehat mengembang. Di momen Riyan tertawa, aku menjadi semakin jatuh cinta. Merasa cukup, itu perasaan sederhana yang luar biasa. Membisukan hingar bingar keserakahan manusia. (166 kata)


----
Akhirnya jika ditanyakan apa momen terindah bagiku dalam 12 bulan ini, maka aku akan jawab: saat Riyan berkata “aku merasa begitu dikasihi olehmu.” Ini adalah pencapaian dan keberhasilan terbaikku. Satu kalimat yang memperlihatkan bahwa segala usahaku ditafsirkan tepat oleh pasanganku. Kasihku pada Riyan di 12 bulan hubungan kami, sama seperti jumlah kata dalam 12 paragraf di tulisan ini: terus bertambah. Aku menulis ini dengan sedemikian, untuk menyuarakan syukurku yang tidak terhingga :)



Tentang perjalanan cintaku, aku harap kamu adalah titik. Tidak ada alinea baru setelahmu. Dan tentang lembar kisah kita berdua, aku harap setiap hari adalah koma. Selalu ada lanjutan baru yang membuat kasihku semakin bertambah.
Judul yang saya pilih tidak lain adalah sepotong janji suci pernikahan. Entah sudah berapa banyak juta pasang manusia saling cinta telah menyatakannya dalam pelbagai bahasa yang berbeda. Sebuah janji pada pasangan, dihadapan para keluarga dan pemuka agama, menjadi awal sebuah perjalanan rumah tangga dimulai. Dari satu kalimat banyak tanggung jawab yang akan diemban masing-masing pengucapnya.

Saya belum menikah, jadi saya jelas tak dapat menghayati janji itu secara utuh. Tapi ijinkan saya membagi apa yang saya pikirkan dari kalimat janji suci itu.

janji yang serius tapi sangat manusiawi.


"for better and for worse",
adalah sebuah ungkapan yang siap akan perubahan.
tidak dikatakan "for good and bad" yang merujuk ke kondisi stagnan,
janji "better and worse" menyimpan misteri perubahan yang PASTI akan dialami pasangan.



Di balik janji "for better" berarti ada sebuah kesiapan menapaki tindakan yang lebih baik. Pekerjaan yang lebih baik, mengharuskan pilihan pindah kota tempat tinggal yang sudah nyaman. Mimpi studi lanjut di luar negeri, atau banyak pencapaian lain. Mungkin terlihat lebih mudah dibandingkan menerima "for worse" tapi mutlak perlu ada kesiapan. Belum lagi perubahan karakter atau kebiasaan tertentu. Memang idealnya terjadi demikian, mari dengan fair mengakui bahwa sedari kecil kita diperhadapkan dengan banyak pembiasaan baik yang nyatanya tak semua dapat melebur ke karakter kita dengan mulus.

Untuk "for worse" jelas dibutuhkan banyak sekali penerimaan dan pengampunan. Kesalahan ataupun pudarnya kondisi serba manis masa awal pernikahan. Entah siapa pencetus kalimat janji suci ini, tapi bagi saya ini JENIUS!

Dalam periode pacaran, saya menyadari bahwa penerimaan akan perubahan bukanlah hal mudah, kebanyakan karena godaan pembandingan dengan kondisi yang sebelumnya. Hal ini adalah satu babak pembelajaran khusus bagi saya. Setelah berhenti membandingkan sang kekasih dengan orang lain, lalu berhenti untuk membandingkan dia dengan diri sendiri dan berakhir pada kesimpulan bahwa kami memang punya bahasa kasih yang berbeda. Masa belakangan ini latihan bergeser untuk membuat saya berhenti membandingkan kekasih saya hari ini dengan dirinya sendiri hari lalu.

Daun tidak bisa menuntut Embun membasahinya dengan konsistensi sempurna setiap hari
inilah analogi yang saya tegaskan ke diri sendiri, bahwa pembandingan terhadap hari yang lalu hanya akan membawa pada tuntutan akan konsistensi sempurna yang KITA TAHU tidak akan pernah dipenuhi oleh manusia.

Proses berhenti membandingkan dan siap atas segala perubahan ini adalah satu dari sekian banyak latihan mempersiapkan diri, sebelum saya akhirnya mampu mengucapkan janji:
"loving you for better and for worse, I do" :)


NB: Riyan, tolong sabar ya..


"diss, pergumulanmu sama riyan itu salah satu cerita pergumulan PH favoritku. pelan, gak banyak yg tahu, dan akhirnya jadi."

-celetukan seorang teman di tengah seruput kopinya-

melewati smsan, ganti ke whatsapp, lalu bbm, dan diselingi bbrp telpon.

butuh setengah tahun dari ketemu kenalan sampai mulai smsan
satu per tigapuluhdua windu jarak dari smsan sampai mulai mendoakan
dan tepat 365 hari penantian sejak pertama mendoakan hingga bertatap muka berdua
dan selusin pekan dari natal 2013 (pertemuan berdua perdana) hingga mengambil komitmen dalam hubungan..

jadi jika ada orang yg mengira saya sedang madly in love karena BARU jadian, itu salah.
saya madly in love karena saya sudah dan sedang (dan semoga terus) memiliki hasil doa dan penantian, yg jauh lebih lama dari yg orang pernah duga.

jatuh cinta saya pada Riyan hanya sepersekian dari kekaguman saya pada Perajut kisah kami berdua.

saya kini bisa membagi hal berharga pada sesama teman wanita: penantian (pasangan) yg digantungkan pada Sutradara Semesta yg paling berdaulat, tidak mengecewakan.
dan semoga Kekasih disana juga berani menyimpulkan pada teman laki-laki nya: pencarian (pasangan) yg digantungkan pada Sutradara Semesta yg paling berdaulat tidak mengecewakan.

kata orang kesendirian itu candu. itulah kenapa orang yg terlanjur lama sendiri enggan mengakhirinya dan terlalu nyaman dengan kesendirian itu.

saya pun sedikit banyak merasakan hal yg sama.. bisa pergi kemana saja, dengan siapa saja dan tak dipusingkan dengan hal-hal khas masa pacaran.
tak ada ketakutan untuk membuat cemburu. tak ada beban untuk melakukan sesuatu dgn orang yg sama secara konsisten. atau kewajiban mengikutsertakan seseorang dalam pilihan-pilihan hidup kita.

tapi semua pandangan itu berubah sejak bulan lalu. kesendirian yg saya rasa nikmat jauh kalah jika dibandingkan kebahagiaan karena memiliki pasangan yg tepat.

saya tidak keberatan untuk mengambil jarak dgn semua teman lawan jenis saya, untuk menjaga perasaan pasangan saya.
saya pun dengan sukacita mengucapkan selamat pagi dan selamat malam ke orang yg sama hari lepas hari. dan ternyata menyenangkan memiliki partner yg kepadanya kita bisa meminta pendapat. dan secara naluriah, keseriusan menatap masa depan juga membuat saya mengikutkan dia dalam mengambil pilihan tertentu.

sesuatu yg awalnya saya rasa akan memberatkan, justru menjadi kenikmatan tersendiri. karena orang yg tepat.

sebulan sudah berlalu. sesekali kami mengalami masalah. tapi itu salah satu cara saling mengenal karakter satu sama lain.
sebulan ini sudah tak terhitung brp banyak sukacita yg dia hadirkan.
dan hari-hari saya dilalui dengan kekaguman karena Tuhan memberikan dia untuk saya.
yg tetap stabil saat saya moody.
yg dengan jujur mengungkapkan kecemburuan.
dia yg sama juga menghibur di tengah dilep parah di suatu pagi.
yg setia menutup hari dengan indah. menjadi teman baik dalam sebuah chat random yg menggembirakan.
dan yg paling favorit adalah bagaimana dia 'memaksa' saya untuk berani melihat masa depan bersama, tanpa lupa mencari cara menikmati masa ini -yg terpisahkan 784 km-

sebuah hubungan dimulai bukan hanya karena rasa tertarik, tapi komitmen untuk saling membahagiakan.
menurut saya hal konyol ketika kita berkata sayang namun disaat yg sama kita tidak berusaha menyenangkan hati pasangan.
dan puji Tuhan, komitmen itu berjalan baik dalam hubungan kami yg masuh seumur kecambah ini.

saya hanya terus bersyukur atas hubungan ini. masih banyak PR bagi kami berdua. tapi jika Tuhan telah memunculkan benih kasih, maka Dia juga yg akan menyediakan pupuk dan hujan dengan kadar yg tepat. sehingga akan muncul bunga dan buah, pun di waktu yg tepat.


dear Riyan Yonathan.. selamat beranjak dr usia kecambah menuju usia tomat.. semoga kita semakin jadi berkat :)
kalian tau apa naluri alami wanita?
moody. kebiasaan belanja ataupun hasrat ingin kurus tidak mendominasi semua kaum hawa. tapil moody adalah bawaan alami yg seharusnya semakin diproses seiring usia.

sindrom moody itu tidak selalu positif bahkan jika boleh saya simpulkan, cenderung negatif. dan tidak salah jika diidentikan dengan sifat kekanak-kanakan. Kemarin, sindrom itu mengusik. tanpa disadari mood saya tiba-tiba memburuk dan sayangnya saat bertelpon dengan Riyan, pacar saya.
tidak banyak antusiasme seperti biasanya.

kadang mood wanita menjadi seperti roller coaster, naik turun tak menentu. itulah kenapalaki-laki moody adalah pilihan beresiko bagi wanita yg sudah dilahirkan dengan kecenderungan fluktuasi hormon. dan satu karakter ini membuat saya makin belajar arti 'sepadan.'

beruntungnya, malam itu dia tidak menanggapi ini dengan amarah yg mungkin akan memperburuk suasana (so boys, you need to do so) justru dengan begitu sabar menanyakan apa saya sedang ada masalah. tanpa banyak mengeluh akan mood saya yg tiba-tiba berubah, dia menghibur saya. dan walaupun ketawa saya kering tak seperti biasanya, dia samasekali tidak menghakimi saya.

kami tutup percakapan dengan doa bersama. melihat kedewasaannya, saya terhindar dari keengganan memimpin doa walau suasana hati tak cukup kece malam itu. sebuah anugerah jika kita bisa menghadap Sang Pemelihara kisah, dalam tunduk syukur bersama.

keesokan paginya sungguh merasa bersalah karena membiarkan durasi telpon setelah dia seharian sibuk justru tidak berkualitas karena mood saya :(

panggilan telpon masuk pagi itu dan tidak lain dari dia seorang. dia dengan nada lembutnya mengucapkan selamat pagi. sama seperti hari-hari lalu, selalu istimewa. dengan nada khasnya dia melakukan satu 'ritual' kami di telpon yg membuat saya hanya tersenyum sembari memegang hp. dan ditutup dgn kejujuran sederhana yg membahagiakan :')

rasa syukur lantas meluap. satu dari selusin harapan telah terjawab.

salah satu yg saya rindukan ada dalam diri pasangan saya adalah: stabil.. yaitu tentang karakter yg akan mengimbangi sisi moody saya sbg seorang sanguin.
dan jelas itu ada dalam diri pasangan saya saat ini.

jika demikian, lalu bagaimana saya bisa berhenti mengagumi Sang Pemelihara kisah kami berdua (?) Dia yg turut tersenyum ketika melihat ada dua jantung anak manusia yg berdegup lebih kencang ketika bertatap muka.

hanya terus bersyukur. Dia bukan sedang memanjakan saya dengan memenuhi apa yg jadi kriteria pasangan yg saya dambakan. namun sedang menghadirkan sosok dengan karakter yg saya butuhkan.
untuk itulah hubungan ini dimulai: menjadi partner yg saling menyeimbangkan dengan penuh kasih.

dan untuk Riyan, bahkan di suasana hati seburuk apapun, ketahuilah itu akan berlalu keesokan harinya. dan bagaimanapun, tidak akan ada masa dimana "saya sedang tidak mood mengasihimu" :)
saya meminta ke Tuhan.
saya meminta banyak hal.
dasar manusia.
dan ketika saya meminta pasangan, saya dengan gentar mengajukan bbrp hal yg saya idamkan ada dalam diri pasangan saya. selusin poin terus ada di angan.
beberapa orang kawan kadang melihat hal itu buruk. mengatur Tuhan untuk memberikan sesuai kriteria saya.

seorang datang seorang lain pergi.
yg saya anggap murni mau berteman kadang mengarah lebih.
list kriteria itu membuat saya sabar menanti. menunggu orang paling tepat yg sesuai dengan poin-poin itu.
dan akhirnya, saat ini beberapa kawan yg awalnya pesimis, justru melihat betapa baiknya Tuhan pd saya. memberikan (hampir) tepat dengan yg saya doakan.

satu poin terlewatkan. tapi itu tidak lain sebagai pengingat, bagaimanapun Dia yg menentukan. saya boleh meminta tapi kedaulatan tetap dalam tangan-Nya.

:) saya tidak pernah menyangka, Tuhan menghadirkan dia, yg memiliki hampir semua hal yg saya doakan :') 

eleos!

saya berusaha mencari judul yg dramatis, dalam bahasa inggris. tapi pelafalan ala suroboyo yg sepertinya paling tepat menggambarkan kekaguman saya.

ada banyak post yg ingin saya bagi. tapi entah akan punya cukup waktu atau tidak ditengah menumpuknya pekerjaan. jadi, ijinkan saya rangkum dalam post ini.


april ini sungguh luar biasa. kata orang, jangan hitung hari-nya tapi hitung berkat di dalamnya. dan saya melakukan hal yg serupa.

bulan ini saya mendapatkan banyak jackpot. pertama adalah acara dedicate for life yang saya gagas dan disambut baik oleh rekan pelayanan di gereja. ini adalah proyek yg membuat saya bolak-balik panti asuhan. saya kira akan capek awalnya. tapi justru kegiatan ini menghapuskan keletihan saya di dunia kerja. melihat senyum dan antusiasme para anak panti menyambut kami datang, membayar lelah keringat dari panas angkot.

tapi Tuhan emang gak sekedar baik tapi juga keren. skenario yg Dia siapkan adalah wujud totalitas mahakarya. ahh rasanya pengen jelasin detail apa yg Tuhan kerjakan dalam pelayanan ini. dari gimana Dia campur tangan bantu jualan baju bekas. menggerakkan hati banyak pemuda buat join program ini (sampai melebihi target) dan mengijinkan kami kekurangan hingga berkelebihan. Oh memang Dia Pencipta! 



selain acara ini, april saya diceriakan dengan puncak penanggungan.
so first of all, I wanna thank my good friend: fro! dari keisengan ngobrol, dia dengan ajaib meyakinkan bahwa mendaki penanggungan itu tidak sulit. dan seperti saya tulis di instagram: "rekan yg baik meyakinkan bahwa kamu bisa tanpa membiarkan kamu sendirian melewatinya"
keterbatasan kapasitas fisik (maklum jarang olahrga) ternyata terkalahkan dengan niat. puncak itu saya raih! walau hanya 1653 mdpl, tapi ini adalah pencapaian besar buat saya. puji Tuhan..

dunia kerja juga menghadirkan pertemanan baru. akhirnya punya waktu buat keluar bareng rekan guru cewek. dan yg favorit adalah banyak sekali momen menyenangkan bersama murid di bulan ini.



ohya, ada yg favorit. saya pernah dulu mengucap "pengen deh dateng ke ultah murid" eh bulan ini juga saya diundang ke tiga perayaan ultah siswa. emang Tuhan itu selalu denger kepengen saya :') dan ajaibnya, Dia selalu tunjukkan bahwa Dia peduli akan keinginan (yg kadang konyol) dari saya.



dan besok (21 april) saya bakal mencicipi satu resto baru yg emang uda saya idamkan. lagi-lagi Tuhan kasih persis yg saya mau dengan skenario terbaik.

19 april juga jadi momen bahagia buat saya karena kakak saya ulang tahun. hanya beberapa orang terdekat saya yg paham kenapa saya cinta mati sama kakak saya ini. pemberian paling ajaib dr Tuhan adalah kehadirannya.

dan klimaks sukacita bulan ini adalah kehadiran seseorang. dan dengan bangga saya sebut dia sebagai pacar saya :) 
komitmen setelah saling mengenal lebih dari 2 tahun. dan saling mendoakan lebih dari 1 tahun berpuncak pada sukacita.
saya bangga dan merasa terberkati untuk menyebut dia sebagai partner hidup saya :)
saya bisa bercerita banyak sekali, tapi yang jelas dia benar-benar bukti bahwa Tuhan mencintai saya dan benar, Dia SELALU peduli scara detail akan hidup saya. Riyan adalah wujud pengabulan doa. saya mengasihinya. dan itu artinya, di saat yg sama dia jadi alasan saya untuk semakin mengasihi Pencipta.

yang saya pelajari di bulan ini adalah bahwa ketika kita sejenak menundukkan kehendak kita pada kaki-Nya, itu adalah sebuah investasi besar.

saya tidak pernah meminta apa-apa yg saya dapatkan diatas. saya hanya selalu berbisik dengan gentar akan apa yg saya inginkan. kriteria pasangan, program untuk anak panti, petualangan pendakian, makan di sebuah resto tertentu, dan banyak hal detail lain. tapi justru ketika saya menjadikan Dia sahabat dan tempat pertama saya berbisik, Dia menjadikan itu semua nyata sesuai cara-Nya yg baik.

saya kadang tergoda berpikir "apa kebaikan saya sehingga Pencipta selalu memberi apa yg saya rindukan" tapi itu hanyalah pertanyaan sombong. dan terjawab dengan momen paskah. apa yg saya dapatkan semata karena Dia bermurah, bukan karena saya layak.

sekarang saya adalah seorang jobseeker. di tengah ekspresi santai, ada kalanya saya takut menjadi pengangguran. tapi april ini mengingatkan saya bahwa jika Dia peduli akan hal sekecil makan di sebuah resto idaman, apa iya Dia akan abai akan masa depan saya?

selamat paskah kawan :) sbab Dia hidup, ada hari esok. dan aku tak perlu gentar.