Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

mendaki gunung membuat kita tahu bahwa "kopi dan kawan, sama hangatnya"
dan mengunjungi pantai membuat kita tahu "air kelapa dan tawa sahabat sama segarnya"

Bali 2012
karimun jawa 2014



setelah menulis tentang Kak Jonathan, Artha, dan Sinta, sahabat keempat yang ingin saya abadikan dalam tulisan adalah Helen Florensi Oleh.
kami kenal, karena ada di fakultas yang sama. aktif di persekutuan FISIP yang walau sangat terbatas tapi telah menjadi rumah bagi hati kami. di hampir full empat tahun saya menjalani pelayanan, saya ber-partner dengan dia.

tapi ternyata, cerita kami diperkaya dengan kesamaan antusiasme perjalanan. Entah sudah berapa kali kami berdua menjelajah siang bolong Surabaya untuk mengunjungi berbagai tempat makan baru.
bahkan bersepeda motor berdua ke Malang, juga melakukan hal yg serupa.

dia partner perjalanan yg super kece! tipe penjelajah yg praktis dengan kamera semi SLR kebanggaannya.
seorang cewek yang super simple. serta pastinya, sosok sahabat selalu berusaha ada untuk mem-back-up orang terdekatnya.
dan saya beruntung menjadi salah satu "orang terdekat" itu :)




sembari menikmati suasana mendung kota probolinggo, saya mem-flashback perjalanan saya di tahun ini. per januari 2014 sampai bulan sebelum berganti usia, ada setidaknya empat perjalanan berkesan

5 bulan sebelumnya..
dengan status sebagai "penyusup" tepat di hari pertama tahun ini, pulau menjangan menjadi saksi seorang bernyali ciut melawan sisi pengecutnya akan kedalaman dan rasa pedas.
di perairan pulau kecil itu, kagum tak henti meluap, akan keindahan bawah laut. pesona yg melebihi tebaran awan di puncak penanggungan, sunrise di bromo, bahkan laut jernih serta pasir putih karimun jawa.
dua wishlist bisa tercoret, adalah bonus. suatu perjalanan dengan kawan-kawan baru tanpa banyak rencana dan berakhir dengan kepuasaan!

2 bulan sebelumnya ...
pendakian perdana di 1653 mdpl. petualangan yang tidak menyisakan kesempatan untuk mencoret barang sebijipun wishlist. tapi perjalanan kaki 6 jam yg basah, dengan medan yg tak mudah jelas melekat di hati karena siratan rasa yg tak terkira. entah kapan bisa menikmati lagi perasaan semacam itu: haru dan bangga

bersama bendera kebanggaan saya


beberapa minggu yg lalu ...
di awal bulan ini, saya mengunjungi kota klasik: Jogjakarta. tidak ada yg terlalu mainstream di kota ini. Malioboro tak pernah kehilangan pesona. Borobudur yg megah juga tetap layak disinggahi. tapi perjalanan ini menetap di ingatan karena sang partner perjalanan dan kunjungan ke rumah sakit kelahiran saya di magelang, yg sekaligus menjawab salah satu poin dari 150 keinginan saya.
tempat tangisan pertama saya di bumi
entah kenapa suka banget sama foto kami satu ini


se minggu lalu ...
perjalanan paling tidak menarik, karena dilakukan berombongan. pun kecewa dengan alam bawah laut yg sudah rusak. jauh kalah indah dibandingan jelajah bawah laut menjangan. tapi jatuh cinta masih boleh saya cicipi di perjalanan kali ini, karena mengenal orang-orang warga asli Karimun Jawa, serta olahan ikannya yg murah tapi sakti menggugah selera. mengunjungi destinasi yg memang saya ingin tuju, lega rasanya!

bersama pak Sabar. yang menjelaskan banyak hal tentang pulau itu.

dua bocah cewek yg menyambut sore saya di dermaga Karimun Jawa

di menjangan, saya jatuh cinta dengan keindahan bawah lautnya.
di jogjakarta, saya jatuh cinta dengan partner perjalanan saya.
di karimun jawa, saya jatuh cinta dengan sikap sahaja warga lokal sana.
di penanggungan, saya jatuh cinta pada setiap jengkal langkah, setiap tetes embun, keringat, bahkan air hujan. tak mungkin lupa, jatuh cinta dengan samudera awan dan siratan sinar matahari yg berangkat gagah ke peraduan. tapi yg terpenting, disana saya jatuh cinta pada: diri saya sendiri.

kecuali penanggungan, di setiap perjalanan terselip kesempatan mencoret beberapa poin dari 150 keinginan.
tapi entah mengapa, pendakian adalah cerita yg paling ingin saya banggakan di usia ini.
semoga itu pertanda, di usia duapuluhdua akan ada puncak lain yg mengijikan saya melakukan pengulangan rasa yg serupa :)
terimakasih kelas 9! selamat lulus SMP!
selamat memasuki masa putih abu-abu yg sering dibilang sbg masa paling indah.
grab every opportunity and have fun!



-with love, miss Adiss.

Lihatlah betapa korupnya negeri ini,
ketika pejabat seakan tak punya malu lagi.

Penjajahan bukan lagi soal senapan,
tapi komisi besar menutup mulut perjuangan negeri.
Suap dimana-mana, korupsi merajarela.

Makin tak heran sebuah judul film berkata: "sungguh lucunya negeri ini"

Tapi selain itu semua, pernahkah menengok begitu melimpahnya kearifan lokal negeri ini?

Satu prinsip kuno yang baru saya pelajari hari ini adalah: "tuna satak, bati sanak"
yang artinya, kadang tidak untung berupa uang tak apa, asal jaringan makin meluas.
wah wah, para motivator dunia yang menekankan tentang jaringan daripada profit dollar bisa jadi meniru falsafah kuno kita ini.
selain itu, selama saya sebulan lebih di negeri asing, saya nyaris tidak pernah melihat ada percakapan antara dua orang yang tidak mengenal di sebuah bus kota atau tempat umum tertentu. bandingkan dengan disini, percakapan kecil di bemo hanya untuk sekedar bertanya "turun mana mbak" akan kita temui dengan mudah.
kebiasaan-kebiasaan luhur negeri ini begitu banyak. belum lagi jika kita bicarakan makanannya yang beraneka ragam, kain tradisional dari banyak tempat yang sungguh menawan.
surga dunia paling mainstream pun tak pernah sepi.
gunung megah yang menjulang.
prestasi anak negeri yang tak pula bisa dipungkiri.
jadi jika anda menanyakan saya, kenapa saya mencintai Indonesia, saya bisa jawab dengan sangat mudah.
saya cinta keberagamannya, saya cinta alamnya, saya cinta makanannya, saya cinta senyum sapa ramah orang-orangnya, saya cinta kemerduan alat musik tradisionalnya, saya cinta hampir semuanya di negeri ini.
hanya dua yang saya benci, pemerintahannya dan para golongan sok agamis yang terus memaksakan homogenitas negeri.

sang guru senior di ujung percakapan sore tadi bertanya "miss adiss ini kok bisa cinta banget sama Indonesia" lalu saya dengan lugu menjawab "saya juga gak nyangka bisa cinta banget sama negeri ini bu"

jadi moral percakapan tadi sangat sederhana, kecintaan ke Indonesia itu mudah. asal sejenak berhenti melihat pemerintahannya. :)


This valentine was so special, dan jelas saya bakal berceloteh di sini untuk menceritakan sedetail-detailnya 2 hari istimewa ini. As I remember, I’ve been celebrate valentine since I was in junior high school. But I can tell you that this valentine is most special valentine I ever had! Most special and the sweetest one >,< you’ll know later.

I do agree that 14 February is only a number, and I never said that we must wait till that day come to share something, and to do something out of ‘normal’. Tapi untuk beberapa hal, sebuah identitas “tanggal” menyempurnakan sebuah kesan. Menurut saya begitu. Jadi jangan takut melakukan sesuatu di-luar-kebiasaan di tanggal istimewa.




Pudding


I made something by my own for my beloved students finally. Awalnya mikir gak bisa wujudin ini gara-gara alasan “I have no enough time” tapi nasihat klasik bilang “you will never have enough time, you have to make it” dan akhirnya saya memutuskan membuatkan pudding untuk murid-murid 7D dan beberapa orang terdekat saya di sekolah. Di tengah gerimis membasahi kepala dan becek mengotori kaki, saya berjalan kaki membeli cup-cup pudding, dan bahan-bahan di toko sekitar kosan. Lalu saya mulai membuat, dari adonan coklat, moka, caramel, dan strawberry. Dari jam 7 sampai jam 11. Di tengah empat jam itu, dengan kondisi kepala agak pusing akibat gerimis, seingat saya, senyuman tak pergi dari bibir. Tanpa keluhan bukan karena tak ada rasa lelah, tapi karena saya tahu untuk siapa saya melakukan ini, untuk mereka yang saya kasihi.
Pelajaran berharga di dapur: cinta membuat sesuatu menjadi ringan.

Coklat
Valentine tak lengkap tanpa coklat. Bukan begitu? Dan ini jelas valentine ter-manis yang pernah saya alami. Belasan batang coklat mewarnai meja kerja saya, sebagai pemberian dari murid-murid saya. Ah so happy! Walaupun akhirnya bingung ini gimana ngabisinnya. Bisa dipastikan valentine tahun depan, saya akan merindukan tumpukan coklat semacam ini :( lalu di tengah lumeran coklat di mulut, saya tersenyum kecil menyadari seberapapun dewasa atau tua-nya usia, kita tetap bahagia ketika orang lain memberikan sesuatu untuk kita. Tidak terlupakan, itu fakta sederhana yang membahagiakan.



Friendship Card
Saya selalu rindu, setiap orang terdekat saya menyimpan sesuatu yang berwujud untuk mengenang saya. Fakta bahwa saya –dan kita semua- akan meninggal itu sangat menolong untuk belajar menyisakan sesuatu yang baik di muka bumi ini, setidaknya di ingatan dan di tangan orang-orang terdekat. Dengan keterbatasan kreativitas saya buatkan sebuah kartu sederhana yang setidaknya mengingatkan dua sahabat saya ini bagaimana saya bersyukur memiliki mereka. Ketika membuatkan kartu ini, saya sedang berada di sekolah di tengah kekosongan akibat siswa diliburkan mendadak pasca hujan abu parah di Surabaya. Seorang rekan guru, melihat saya berkutat dengan guntingan dan sebagainya lalu dengan polos berkomentar “miss adiss ini romantis ya.” Haha sontak saya tertawa. Entahlah itu menggelikan, tapi membuat saya tersanjung bagaimanapun.
Ohya kembali ke topik, kami bertiga –saya, Helen, kak Ajeng- sudah merencanakan cukup lama untuk mencoret bucket lists nomor 10 kami: minum kopi luwak. Akhirnya, terwujud! Puji Tuhan.
Saya bahagia, karena saya membuatkan sesuatu untuk sahabat saya, karena saya bisa minum kopi termahal di dunia asli Indonesia, karena saya bisa mencoret wishlist saya, dan karena saya tidak sendirian melewatkan malam itu.


Old friend
Persahabatan konon semakin teruji oleh waktu, dan jarak. Kebahagiaan saya di tanggal 14 tidak berhenti. Esoknya (baca: tanggal 15) saya lagi-lagi bersyukur karena skenario yang Tuhan siapkan. Saya bisa bertemu teman lama saya, teman sejak SMP hingga saya sekarang jadi guru anak SMP. Kita berpisah SMA, kuliah, berpisah kota, dan tidak selalu punya cukup kesempatan bercengkrama bahkan walau hanya melalui sosial media. Tapi ketika kami bertemu, kenangan lama pun membaur. Kami tidak menjadi orang asing bagi satu sama lain, bercerita layaknya tak ada lagi kesibukan yang menanti. 3 jam mengobrol mengobati rasa kangen dan menyempurnakan bulan kasih sayang ini.


Lovely Patty
Yang membuat manis hari-hari ini tak juga kehabisan ide, rasanya belum cukup membuat saya bahagia. Tanggal 15 malam, saya bergabung di komunitas rohani saya (selain uk3): RessYouth. Acara gathering kali ini agendanya makan burger bareng-bareng. Simple sih, tapi penuh sukacita! Burger tipis kadang jauh lebih enak ketika dimakan bersama kawan-kawan daripada burger berlapis-lapis yang dimakan sendirian. Asik. Dan pastinya malam itu, sukacita saya terlengkapi dengan dua hal yang saya sangat suka: es nutrisari dan kartu (baik remi ataupun uno)!!


A phone call
Last but not least, telpon dari seseorang menyempurnakan dua hari penuh kasih ini. Bercengkrama walau hanya lewat telpon sudah sangat cukup. Tidak jauh berbeda dengan valentine sebelumnya, masih sendiri. Hanya, valentine kali ini sudah ada seseorang istimewa yang saya doakan. Penuh keraguan tentang kisah ini, mengingat beberapa hal. Kadang ada ketakutan ending kisah ini tidak seperti yang saya impikan dan lebih baik diakhiri lebih awal sebelum terlalu jauh. Tapi sama seperti hari-hari lalu, sebuah panggilan dan percakapan telpon selalu berhasil mengingatkan bahwa hal ini layak diperjuangkan. Dan di paragraph ini, saya hanya ingin mengutip kalimat Paulus ketika mengingat jemaat Filipi “every time I think of you, I give thanks to my God” (Philippians 1:3)

Pembelajaran utama dari valentine tahun ini adalah : kasih itu ditindaknyatakan. Berupa pudding, burger, atau hanya sekedar menyempatkan waktu bertemu kawan lama. Berwujud kartu, coklat, atau panggilan telpon. Kasih itu sebuah verb, kata kerja aktif, yang harus dikonversikan melalui sebuah tindakan.
"one simple act of kindness spoke louder than a thousand profound love" :)

*tulisan bahagia ini tidak luput dari kesedihan akibat bencana gunung Kelud. Semoga para korban diberikan penghiburan dari sang Pencipta. Amin.
bersama mas-mas, melepas kami di DMK

35 hari petualangan sudah usai. waktunya kembali ke negeri tercinta. hari itu 7 maret, kami diantar oleh pihak supir KBRI ke bandara, dan jelas tiga mas teman kami satu apartemen turut mengantarkan. pokoknya big thanks banget buat mas Arman dan mas Achank yang udah banyak bantu, dan buat mas Riky yg yang pernah seharian menemani pencarian jersey >,< (dia baru pulang dari kamboja, jadi baru akhir-akhir gabung sama kami).
dinner 504, by mas Achank & mas Arman

akan sangat banyak yang saya rindukan dari kota Bangkok, terkhusus transportasi yang super nyaman, tingkat keamanan, dan ke-jarang-an asap rokok + bunyi klakson. sepertinya itu tiga besar hal yang benar-benar saya harapkan ada di Indonesia. tapi soal makanan, lidah gak bisa bohong, selera  20tahun jelas tidak akan dengan begitu mudah berubah.
pulaaaaang.. ke Surabaya yang penuh polusi, dengan berbagai tanggung jawab yang menanti
terimakasih Bangkok, sudah jadi bagian yang mengesankan :) selamat berjumpa lagi di lain hari ^^
sebelum kembali, setelah kegiatan magang selesai, kami tidak mau sedikitpun membuang waktu. di hari-hari akhir, ada beberapa tempat yang kami kunjungi.
pattaya salah satu iconic-nya Thailand sih. disini pusat dunia malamnya. penuh aura gelap deh pas disana >,< hehe kami ke KohLarn Island, harus nyebrang hampir sejam dari pelabuhan tempat kami turun naik Van dari Bangkok. Van bangkok-pattaya tergolong murah: 250 baht. dan untuk nyebrang hanya 30baht. lumayan baguslah pantai-nya, walaupun kata si Tsabitha, bagusan Gili Trawangan jauuuh.





yang lain pada tulis nama pacar -_-

setelah ke KohLarn island, lagi-lagi 'berpisah', saya, Tsabitha, dan Ocik melanjutkan perjalanan dan mampir ke walking streetnya, sedangkan Bella, Putri dan Anggia langsung pulang. kami menikmati walking street di kala sore menjelang malam, bener-bener kayak chaosan road lah, tapi dengan aura 'gelap' yang benar-benar pekat.

tidak terlalu banyak cerita di Pattaya.. kalo boleh pilih ya pilih Krabi atau Phi-phi island lah ya, tapi itu jauh dari Bangkok, plus sangat-lah menguras budget, so berharap satu hari bisa kesana lagi ya ^^

H-2 kepulangan, saya dan Bitha (selalu berdua ya) menjelajah art festival. kebetulan ada pameran street-art, lukisan-lukisan tiga dimensi yang dilukis dijalanan Bangkok.








melepas lelah sambil duduk-duduk di area central world





ketemu artis, semacam 'olga'nya Indonesia

petunjuk jalan street art




Tentang magang ya, seharusnya ini jadi kisah paling panjang, karena 5 hari dalam seminggu, dari jam 8 sampai jam 5, selama empat minggu dihabiskan di wilayah Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok (KBRI Bangkok). FYI, KBRI Bangkok salah satu KBRI terbesar. Di lahan yang sama, KBRI Bangkok punya sekolah Indonesia-Bangkok, buat para diaspora Indonesia, dan juga wisma yang tergolong gede. Ada beberapa atase dan fungsi, tapi untuk program magang, tersedia lima pilihan: Fungsi Ekonomi, Atase Politik, Atase Perdagangan, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, dan Fungsi Penerangan Sosial Budaya. Nah, karena kami berenam maka kami diharuskan rolling di setiap minggunya.
bagian luar KBRI



Di minggu pertama, saya dan tsabitha berkesempatan ke PenSosBud. Kantor paling cozy deh, penuh barang display budaya. Atasan kami: Pak Gofar. Ada juga staff lokal (orang Thai) namanya Phi Namon, dan staff dari Indonesia, Mas Aji. Mereka berdua itu khas banget, mas Aji kayak mas beruang dan orangnya flat sekali, bikin gemes si anak-anak magang. Kalo phi (sebutan ‘kakak’) Namon, bahasa inggisnya agak lucu, tapi orangnya baik banget. Di minggu ini, kami berdua awalnya sudah kebagian tugas buat manage pertemuan radio dan majalah Thailand buat wawancara sama pak Lutfi Rauf (Duta Besar). Di minggu ini juga kami berkutat dengan Koran untuk membuat laporan dwi-mingguan. karena fungsi penerangan, jadi kantor ini sangat sering berurusan dengan media. Selain itu, yang paling seru ya, kami bantu nyiapin acara Angklung Night, pergelaran seni besar yang diadain KBRI dan mengundang orang-orang besar di Thailand. Sayangnya, acara itu berlangsung 12 Maret, dan kami sudah harus kembali ke ‘rumah’ tanggal 7 Maret-nya L
undangan angklung night

ohya, saya merasa tidak kebetulan ada di fungsi ini di minggu pertama, karena saya langsung kenal phi Namon yang akhirnya mengenalkan saya ke gereja BIC (Bethany International Church) di Bangkok, yang notabene melayani ibadah dalam bahasa Indonesia (dan Thai, dan English). Eh usut punya usut, dia ikut gereja di situ karena phi Namon emang lagi ber-relationship sama orang Indonesia yang udah lama tinggal di Bangkok. Orang Batak lhoo.. pas saya sadar, di kantor PenSosBud gak ada diplay kain ulos, ya sontak kaget lah, nah kan bang Haris (sekarang sudah jadi suaminya phi Namon) orang Batak, nah ternyata si abang dan keluarganya ini emang uda lahir dan besar di Thailand, jadi jangankan ulos, bahasa Batak-pun tak bisa tapi bahasa Thailand lancar. Akhirnya, ulos dari Bang Riswan –atas seijinnya- saya serahkan ke kantor PenSosBud, ya cara sederhana melestarikan budaya bangsa, walaupun bukan suku saya sih ^^


buku yang mengisi waktu luang
Di minggu kedua, saya di fungsi ekonomi, bareng si Putri. Kata Putri, nganggur banget di kantor ini, mana tempat meja kami ada di sejenis gudang -_- bukan di ruang utama. Ternyata, gak nganggur juga, saya dan putri ditugaskan menuliskan beberapa dokumen, dan membuat beberapa review. Kalo uda nganggur ya, di fungsi ini jadi krik krik banget, si putri watsapp’an mulu sama si Aris, cowoknya, nah saya? Hanya bisa bermain onet >,< yang berkesan karena saya bisa ikut sidang UNESCAP dan seminar kementerian luar negeri di IDIS (Institute of Diplomacy and International Study), yang menghadirkan orang penting kedua di kementerian luar negeri Thailand. Dua momen penuh ilmu deh pokoknya. Di kantor fungsi ekonomi ada pak Wasana, lulusan Unair, jadi ya semacam nostalgia, beliaunya cerita-cerita. Yang berkesan dari beliau, selain traktirannya, adalah pesan sederhana favorit saya: “kalau nikah sama anak teknik aja” dan satu lagi, quote-nya: “usia 20an itu adalah usia ketika dunia terlihat begitu misterius”


Di minggu ketiga, saya berpindah ke atase perdagangan. Menurut Bella dan Tsabitha yang sebelumnya disini, ini kantor paling hectic, dan ternyata itu benar. Hectic banget, telpon berdering tiap waktu. Di kantor di temani dua staff, satu mbak Merry orang salatiga, dan phi Prim, orang Thai. Dua-duanya seru abis, enak sekali diajak ngobrol. Ohya, ada bu Ida sebagai ibu Atase, orangnya tegas sekali, belajar banyak dari beliau. Selama di kantor ini, saya ditugaskan membantu membantu menjawab email perusahaan Thailand yang mau berbisnis dengan Indonesia. Misalnya tentang prosedur ekspor pelumas, perihal SNI, dan prosedur ekspor kaolin yang ditanyakan beberapa perusahaan Thailand. Ya cukup sibuk, tapi benar-benar belajar banyak. 

meja saya di atase perdagangan

Sebelum pulang ke Indonesia, bu Ida sempat mengajak kami makan malam eksklusif di Bayoke, titik tertinggi di Bangkok, lantai 89. Makan puas malam itu, karena bertipe all you can eat. Benar-benar ALL, dari sushi, pasta, chicken wine (pake wine asli di bumbunya, teman muslim tidak ikut mencicipi. Ini sulit ditemukan di Surabaya, akhirnya bisa coba!!), dan banyak menu dengan porsi semaunya. Yang berkesan dari makan malam ini adalah lima mas-mas yang nari dan nyanyi pake peralatan dapur, yang so entertaining! Setelah makan, kami bersama bu Ida, mbak Merry, dan phi Prim naik dan menikmati Bangkok dari atas, terasa mimpi menikmati ini :’) phi Prim juga sempat membuat kami have fun maen bowling di Siam Paragon. Kalo mbak Merry, ngajak gowes puter-puter taman, tapi saya gak ikut karena itu hari minggu dan tidak mungkin melewatkan ibadah ^^

bowling - Siam Paragon
phi Prim dan kami ber-6

Minggu terakhir, saya di atase pendidikan. lagi-lagi, kata temen-temen di atase ini nganggur pake banget, tapi untungnya saat saya disana, tidak demikian. Tugas yang saya lakukan, me-manage kunjungan beberapa universitas baik ke KBRI dan ke universitas di Thailand. Satu yang tidak saya duga adalah, saya kedapatan mempersiapkan acara Camp Tech, acaranya ITS yang berurusan dengan beberapa universitas besar Thailand. Ah, sepertinya saya emang berjodoh sama anak teknik :) (ngarep total). Hehe ohya, di atase ini ada pak Yunardi yang punya suara sungguh-sungguh berwibawa, dan sangat baik! Ada juga phi Meg, pak Darmanto, dan Mrs.Supit. cukup hectic di minggu itu, ‘nganggur’ sama sekali tidak ada, dan itulah yang saya cari. Udah jauh-jauh kesini, jangan sampai di kantor cuma duduk-duduk aja kan? ^^

thainichi institute, bersama pak Dubes
Selain kegiatan di kantor-kantor itu, pak Suargana, yang begitu baik juga membuat kami belajar tentang prosedur ke-konsuler-an J
Kami juga sempat diajak ke Thai-Nichi Institute bersama Bapak Duta Besar, Lutfi Rauf. Ini institute teknik, kerja sama Thailand-Jepang. Ah lagi-lagi merasa begitu berjodoh dengan anak teknik ^^ bahkan saat di negeri orangpun diijinkan mampir kampus-nya anak teknik
tarian Thailand dan Jepang - Thai-Nichi Institute

Bagian yang melelahkan dari magang Cuma satu: heels. 9 jam tiap harinya dengan hak tinggi, cukup menyiksa. Tapi overall, merasa sangat beruntung dan terberkati selama empat minggu magang disini ^^ puji Tuhan..

di taman deket apartemen, pulang magang

jam setengah 6 malam ini, masih terang gitu ^^



selain pasar dan mall, ada beberapa yang jadi must visited place :)

#1 Grand Palace.
(dari Victory Monument, bisa naik bis nomor 509)
Grand Palace itu semacam Borobudurnya Indonesia lah, tapi dengan tema warna emas dimana-mana. dengan harga 500 baht, kita dapat tiket terusan: Grand Palace, Emerald Budha, Vimanmek Mansion, Ananta Samakhom  Hall. sayangnya, empat tempat dalam tiket terusan ini terpisah di dua lokasi yang cukup jauh. jadi agak mustahil kalo mau nikmatin semua dalam satu hari. disekitar situ juga ada Wat Pho dan Wat Arun dan Sleeping Budha. untuk Sleeping Budha, jika beruntung dan dianggap orang Thailand asli, kita gak perlu bayar tiket masuk. kawasan Grand palace itu luas banget, termasuk istana King Bumibhol. ohya, karena ini termasuk wilayah suci dan peribadatan, pakaian mini dilarang masuk, jadi jangan pakai celana pendek, ataupun baju tanpa lengan.
ada satu yang amazing banget, patung bongkahan emas. sayang dilarang foto disana. satu lagi, di kawasan grand palace ada museum tekstil, yang didirikan sebagai bentuk dedikasi dari sang Ratu.


lukisan kisah tentang penyelamatan emerald budha

depan istana raja



sleeping Budha


nasi goreng babi Grand Palace, 50baht

di hari yang berbeda, kami memanfaatkan tiket terusan: Ananta Samakhom Hall (bangunan bergaya Eropa) dan Vimanmek Mansion yang ada di daerah Dusit.

ananta samakhom hall

vimanmek mansion

karena sudah terlanjur di area dusit, kami mengunjungi kebun binatang. Dusit zoo. jauh lebih bagus taman safari deh -_- yang paling heboh di hari itu adalah, saya di pup-in pinguin -_-
ini pelakunya!!
ternoda celana saya -_-

untungnya ya, saya hari itu pulang ke gereja, jadi sebelumnya bawa celana panjang :) terselamatkan..


setelah tiga minggu di negeri gajah, baru di zoo ini lihat gajah asli :3 sayangnya, malah miris. soalnya dieksploitasi jadi bahan sirkus.. huhuhu








#2 : Chaosan Road
udah terkenal lah ya, chaosan road itu. penuh bule. kayak legiannya Bali gitu.
disana cuma makan sama nikmatin jalanan aja. harga barang-barangnya jauh lebih mahal >,<
kalo ada yang pernah nonton Running Man episode Thailand, nah pasti lumayan familiar sama tempat ini, salah satu spot permainan permainan running man *\(^o^)/*


si bitha beli belalang goreng di Chaosan Road

buat take photo aja 10baht lho

yang paling oke adalah kami makan Pad Thai, mie asli Thailand :) enak banget.. ^^

#3 Asiatique Riverfront
kalau mau kesini harus nyebrang chao phraya dulu. disini penuh makanan. yang sempet aku beli, es krim turki, yang biasanya dimainin sama yg jual itu. tempat ini, cozy banget buat jalan-jalan, tapi buat dinner sambil nikmatin desiran air sungai kebanggaan negara itu, butuh merogoh kocek yang tidak sedikit -_- jadi hanya jalan-jalan, dan taraaaaaa naik BIANGLALA!! 200 baht, untuk 5 kali putaran. tinggi banget juga lho ^^




#4 bangkok art and culture centre
lagi-lagi berdua sama Bitha, sepulang saya ke gereja sebelum kami ke China town. kami ke museum.
ini konsep musemnya oke banget deh. dan ada perpustakaan paling sunyi yang pernah saya kunjungi dala
m hidup, buka satu halaman buku aja bakal denger lho >,< museum ini, ada dari seni keramik, seni literatur, lukis, pahat, macem-macem deh.. ^^

ini satu shop di dalam museum, penuh barang-barang unik ^^

museum dari sisi atas