Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Pendeta penuh sahaja itu adalah salah seorang gembala asli dari GKI Residen Sudirman, tempat saya berjemaat lima tahun terakhir. Walau tak mengenal tapi saya tahu persis namanya. Usianya belum terlalu tua dengan perawakan tergolong kurus dibandingkan para bapak lain yang mulai menimbun kegemukan di perut. Di barisan tengah, saya mengikuti ibadah seperti biasa sampai akhirnya insting sok tahu saya bergeming.

Tak biasanya, sebuah pembawaan karismatik terpancar dalam gaya luwes bapak itu sehari-hari. Kesan menggebu-gebu dalam bingkai kontrol yang mengagumkan tercermin. Ada penekanan yang berulang soal ketaatan dalam penderitaan sebagai umat Tuhan sebagai manisfestasi tema utama ibadah. Dari tengah hingga akhir khotbah suara pendeta itu mulai gontai. Ada nada yang tak terdefinisikan tersembunyi di balutan jas hitamnya yang gagah, hingga akhirnya mata itu berkaca-kaca. Jemaat -atau mungkin hanya saya- semakin terenyuh. Iya, tidak dapat disembunyikan sang pengkhotbah sedang menghayati benar isi pesan yang ia bagi. Merinding mampir. Di kala kalimat "walaupun kadang kita tidak mengerti kenapa Tuhan seakan diam pada masalah kita ..." terucap, upayanya untuk tetap tegar terkalahkan dengan tetes air mata. Saya tidak tahu kenapa beliau sore ini menjadi begitu emosional, tebak saya adalah mungkin ia sendiri sedang dalam pergumulan berat. Seakan kalimat ajakan yang ia pakai untuk menguatkan para jemaat sedang ia coba laksanakan sendiri. Tidak mudah mungkin, hingga harus ada tetes air jujur keluar dari sudut kelopak matanya.




Menjadi pewarta Firman, tidak selalu berarti bahwa ia telah tuntas melakukan isi khotbahnya, mungkin di detik ia membagi di saat yang sama persis itulah ia sedang mencoba. Salah besar jika kita asumsikan bahwa bahwa pelayan Tuhan adalah yang sudah beres total hidupnya. Memang, sudah seharusnya perkataan dan tindakan menjadi seirama, tapi kala itu masih proses ada kalanya kita memperkataan kebenaran sebagai pedang bermata dua: memberkati orang lain sembati mengoreksi diri sendiri. Sayang sekali jika kita kerap berkata: "anda lho bisa khotbah kok malah gak bisa lakuin." Proses adalah bagian hidup SEMUA ORANG tanpa terkecuali, metodenya berbeda tapi agaknya bukan didasarkan pertimbangan status tertentu.

Usaha sang pengkhotbah untuk menekankan pesan berharga itu lantas membuat saya teringat sesuatu. Betapa banyak orang yang menolak sebuah kesempatan pelayanan dengan dalih "aku belum siap" atau dengan kalimat yang lebih rohani "aku belum layak". Pertanyaannya adalah: Sungguhkah kita merasa akan layak nantinya? Tidak akan! Benarkah kita akan merasa siap suatu hari? Belum tentu!

Bahkan seorang pendetapun berjuang di tengah segala kondisi serta karakter yang sulit, tapi toh Tuhan berkenan memakai dia. Kenapa? Karena memang tidak ada seorangpun yang dipanggil karena kesempurnaan. Justru tahta panggilan yang Ia mandatkan adalah ruang untuk kita berproses menuju keserupaan dengan Pencipta. Itulah kenapa pelayanan disebut sebagai anugerah, karena itu samasekali di luar kelayakan kita.

Momen emosional tadi dengan lantang menggiring saya pada penghayatan: "tetap melakukan beban panggilan bahkan saat kondisi tidak nyaman," sebuah teladan yang bukan saja saya dengar namun telah saya saksikan.

Akhirnya kami semua -dia sang Pendeta dan kami para umat- larut dalam senyap, kami tunduk dalam durasi doa yang lebih lama dari biasanya. Dan kala ucap 'amin' terdengar, senyum teduh sumringahnya telah kembali. Sebuah kesimpulan dan 'permainan' ekspresi yang mengagumkan!
Saya tahu bahwa kebaikan Tuhan bukan hanya soal memberikan kemudahan tapi juga tentang kekuatan saat hal sulit terjadi..

Tapi yang saya baru tahu adalah hal ini: 

Ternyata Kebaikan Tuhan juga soal bagaimana Dia memampukan kita PULIH dari sesuatu yang sangat berat melukai..

Minim mawas kita tidak sadar bahwa ternyata merupakan berkat besar untuk kita diijinkan kembali melanjutkan hidup ini dengan sebuah cara pandang yang dipulihkan, bahwa hari depan menyimpan banyak sekali keindahan dibandingkan segala luka yang terjadi di hari lalu. Saya bersyukur sebagaimanapun kemelut keluarga saya dulu, hari ini saya boleh berdiri dengan kepercayaan bahwa saya bisa membentuk keluarga yang jauh lebih baik ke depan. Tidak ada skeptisme, hanya ada iman yang terus dirangkai dalam usaha dan doa.





Untuk tetap percaya setelah dikecewakan
Untuk mau mengusahakan yang terbaik di masa depan, tanpa dihantui kegagalan yang lalu
Untuk tetap mengasihi bahkan usai disakiti
Semua ini adalah berkat-tak-tersadari yang dapat saya (dan Anda) nikmati


Kebaikan Tuhan (sekali lagi) bukan hanya soal memberikan kekuataan SAAT hal buruk terjadi tapi juga memberikan pemulihan SETELAH hal itu terlewati..

Kejadian ini berlangsung sekitar setahun lalu di kota Apel, tepatnya di lokasi sebuah gereja. Saya masih belum genap menutup pintu mobil dan beranjak, seorang aktivis gereja menegur dan tanpa banyak jeda berkomentar soal figur saya yang tak ubahnya anak SD. Seakan tersambar petir, ucapan itu cukup menghentak tapi saya pilih untuk abai. Langkah kaki saya berlanjut hingga tiba di pintu gereja. Seorang penyambut jemaat menyodorkan telapak tangannya untuk mengajak saya bersalaman. Celetukan yang tak jauh berbeda kembali saya dengar. Kali ini tentang fisik saya yang menurutnya menjadi semakin kurus. Kalimat itu bahkan ditutup dengan keseriusan ucap bahwa saya terlihat pucat dan tak ubahnya orang sakit. Menyengir aneh, hanya itu yang bisa saya lakukan toh secara objektif berat badan saya justru sedang naik. Beberapa meter kemudian, penyambut jemaat yang lain menghampiri. Mulai waspadalah saya setelah dua kali mendapatkan jackpot celetukan. Tapi ternyata hal yang sepenuhnya berbeda kali itu. Dia dengan jabatan tangan yang mantab berkomentar bahwa penampilan saya makin segar. Hal yang aneh bukan?! Hanya berjarak beberapa meter dengan fisik yang masih sama persis namun dua komentar bertolak belakang yang terlontar. 
Dari kejadian itu saya agaknya paham bahwa perkataan kita sangat dipengaruhi dengan kebiasaan kita menilai sesuatu. Serupawan apapun, seseorang dapat saja menjatuhinya sebuah komentar buruk, karena memang komentar tersebut dititikberatkan pada hal yang kurang baik. Sebaliknya, sesederhana apapun penampilan orang lain, seseorang yang sudah terbiasa berfokus pada ketulusan akan dapat saja menemukan sesuatu yang baik dan layak dipuji. Sekali lagi, ini tentang kebiasaan. Sebuah mata dan lidah yang terus harus dilatih.

Kedua saya hanya bergumam heran, apakah layak komentar senegatif itu mencuat dari mulut seorang penyambut jemaat gereja. Apa yang kita perkatakan seharusnya sinkron dengan jati diri dan posisi kita, itulah poinnya! Terlepas dari apa posisi atau profesi kita, hakikatnya adalah kita merupakan anak terang! Berarti sudah seharusnya kita mencerminkan terang yang lembut itu lewat lidah kecil ini.

Terakhir, dari kejadian yang masih sama saya memperkirakan apa efek dari rangkaian kata-kata. Jika saja saya hanya jemaat tamu, maka seusai mendapatkan komentar senegatif itu maka saya mungkin akan berpikir ulang untuk tetap beribadah disana. Dari satu komentar mungkin sebuah hati sedang dipahitkan atau justru dipulihkan. Pertanyaannya kini adalah bagaimana kita sehari-hari, apakah perkataan kita membuat orang nyaman dan merasa disambut atau justru membuat mereka merasa tertolak?

Sebuah hari minggu pagi yang bagi saya sedikit menjengkelkan namun menyisakan pelajaran berharga.






*Tulisan ini adalah parafrase dari renungan pagi Mr Lukas (English Teacher) di sekolah tempat saya mengajar, sebuah renungan sederhana yang menegur dan sangat memberkati.
... sebuah pesan yang terus berulang ...
Dimulai dari tepat minggu lalu saat saya dan Riyan menghabiskan hari minggu malam dengan bertukar khotbah, pertama kalinya saya tahu tentang "sero-fenisia". Lalu pengakraban kata itu disusul dengan satu artikel renungan dan satu update status path kawan saya tentang ringkasan khotbah di gerejanya. Ibadah minggu tadi, adalah penguat semua kebetulan ini. Kali ini, saya memberanikan diri untuk memparafrase apa yang saya dapatkan dari semua rangkaian kebetulan tentang wanita sero-fenosia dan seorang tuli dan gagap. Dengan segala keterbatasan pengetahuan alkitab dan juga keterampilan menulis, saya harap tidak mengurangi kesempatan untuk berkat indah ini dinikmati.

_______

Dalam Markus 7:24-37, dipaparkan secuplik adegan saat Yesus mengunjungi wilayah tirus. Disana Yesus dihampiri oleh seorang wanita non-Yahudi yang memohon pertolongan untuk anaknya yang sedang kerasukan setan lalu disusul dengan karya kesembuhan bagi seorang tuli dan gagap.

Agaknya adegan senada sudah pernah terjadi di bagian lain injil, tentang Yesus yang berbelas kasih dan melakukan keajaiban. Namun kenapa perikop ini menjadi unik?

Pertama, mari kita ingat bahwa setiap injil memiliki ciri dan sasaran yang berbeda. Matius misalnya memfokuskan pada pembaca orang Yahudi sehingga tidak mengherankan jika kitab itu dimulai dengan menuliskan silsilah Yesus sebagai ototrisasi perihal Yesus sesuai dengan tradisi Yahudi. Sedangkan Markus adalah injil yang ditujukan bagi para orang non-Yahudi atau dalam bahasa Perjanjian Baru sering diwakilkan dengan sebutan "Yunani" (Gentile, dalam bahasa Inggris). Perikop soal sero-fenisia ini HANYA termuat di kitab Markus, sehingga hampir mustahil hal tersebut dilakukan tanpa tujuan. Markus seakan ingin mengantarkan pesan peneguhan bagi orang-orang yang dianggap tidak terpilih oleh Allah.

Kedua, mari tengok konteks geografis di perikop itu.


Yesus dikatakan mengunjungi Tirus secara sengaja. Signifikansinya adalah bahwa Tirus (dan Sidon) bukan wilayah Yahudi. Anggapan bahwa Yesus rasis dan hanya melayani kaum Yahudi sepenuhnya digagalkan di perikop ini. Kesengajaan Yesus mengunjungi wilayah non-Yahudi adalah bukti bahwa pelayanannya tidak berbatas kesamaan suku bangsa. Selain itu, konteks geografis juga disinggung di ayat 31. Kita akan merasa biasa saja jika hanya membaca kalimat itu tanpa meluangkan waktu melihat konteks lebih besar. Wilayah Tirus, Sidon, dan Danau Galilea semacam segitiga siku-siku dimana Tirus adalah titik pertemuan dua garis tegak lurusnya. Untuk menuju Danau Galilea Yesus SAMASEKALI TIDAK PERLU melewati Sidon. Tapi, Dia memilih untuk melalui wilayah itu. Sekali lagi, disitulah penegasan betapa tudingan rasis pada Yesus adalah hal tidak relevan. Fakta besarnya adalah Sidon bukan hanya dijadikan sebagai bagian dari rute perjalanan oleh-Nya, namun juga tempat pelayanan yang terbukti dengan Dia yang berkenan menyembuhkan seorang tuli dan gagap (ayat 34). Yesus merepotkan diriNya sendiri dengan menambah jauh perjalanan untuk berkarya bagi orang-orang non-Yahudi karena Dia tahu ada orang yang sedang membutuhkan.




JamahanNya, bukankah dari situ kita seharusnya tersentuh dengan betapa murahnya Penebus kita?Dengan cara-Nya sendiri Ia tahu bagaimana akan menyalurkan pertolongan bagi kita.

Ketiga, mari kita berpindah ke konteks tradisi. Di perikop itu dikatakan bahwa seorang Wanita sero-fenosia menghampiri Yesus (ayat 26). Terlihat sangat sangat sederhana memang sebelum kita menyadari pemetaan perbedaan besar antara Yesus dan Wanita tsb. Yesus adalah seorang laki-laki Yahudi sedangkan wanita tersebut adalah seorang wanita non-Yahudi. Konteks tradisi saat itu adalah sangat tidak sopan untuk wanita menghampiri pria di kawasan publik, APALAGI jika itu bersebrangan suku bangsa. Apa yang dilakukan wanita itu adalah sikap iman yang besar. Bahkan tanpa kita sadari dari tindakan itu termanifestasi tiga hal besar sekaligus: Iman, Pengharapan, dan kasih. Iman yang meyakini bahwa Yesus MAMPU menolong, pengharapan bahwa Yesus akan MAU menolong, dan kasih kepada anaknya yang sedang menderita.

(ditambahkan 8 Maret) Selain tiga konteks yang ada di atas, ada hal unik lain yang khas di perikop ini. Keempat: konteks kebiasaan. Beralih dari wanita Sero-fenisia menuju ke karya Yesus pada seorang tuli dan gagap (ayat 31-35). Di banyak kisah penyembuhan yang lain Tuhan Yesus terlebih sering menggunakan pernyataan tegas yang membawa mukjizat, namun di peristiwa ini Yesus melakukan setidaknya tiga tindakan aktif untuk suatu karya penyembuhan. Pertama tindakan mengajak orang tuli dan gagap tersebut untuk menjauh dari keramaian sehingga mereka dapat secara personal berinteraksi (ayat 32). Hal ini menjadi berkesan ketika kita menyadari bahwa seseorang yang tuli dan gagap adalah orang yang sangat sulit bersentuhan secara sosial. Bayangkan, tuli dan gagap! Bukan buta dan lumpuh yang membuat mobilitas terganggu namun komunikasi dapat tetap berjalan. Ajakan yesus untuk mereka memisahkan diri dari orang banyak menyuarakan empati personal tak terhingga. Kedua adalah tindakan Yesus yang memasukkan jari dan meraba lidah untuk mengantarkan sebuah kesembuhan. Kenapa tidak hanya lewat kata-kata seperti biasanya? Mungkin dapat menjadi perenungan bahwa terkadang belas kasih tidak boleh hanya berhenti lewat doa dan kalimat simpatik namun tangan dan kaki yang bergerak. Ketiga, Yesus menengadah ke langit (ayat 34), disini diekspresikan sebuah kerendahan hati besar dari kepada Bapa. Jika Dia yang juga Allah penuh kuasa dapat sedemikian merendahkan hati dan mengandalkan Bapa, bagaimana kita manusia yang samasekali bukan maha-kuasa bahkan tidak tahu apa yang terjadi barang sejam ke depan?

Setelah memahami konteks besar bacaan, mari beralih ke hal-hal detail di bacaan tersebut dan mengambil intisari teladan.

Ayat 24 "... Ia tidak mau ada orang yang mengetahui kedatanganNya ..." ditambah ayat 36, tersingkap attitude Yesus: giat dalam diam. Baru beberapa waktu lalu saya hadir dalam sebuah KKR remaja, seorang hamba Tuhan yang agaknya memang populer di Surabaya tak sedikit menyinggung kiprah dan prestasinya dalam pelayanan di sela-sela pelayanan Firman. Walau terlihat rohani untuk menyatakan berapa banyak jiwa yang sudah dilayani, agaknya itu tetap bukanlah hal yang Yesus teladankan. Ketika hendak memulai pelayanan disana, Yesus bahkan berusaha menyembunyikannya. Sungguh miris jika kita anak Tuhan masih sibuk mencari pengakuan dengan menggembar-gemborkan hal baik yang kita lakukan.

Dalam ayat 27-28 termuat kalimat soal anjing dan reremahan roti. Terlihat keras dan sesekali membenarkan soal tudingan rasisme Yesus. Tapi justru di kalimat ini sedang ditunjukkan integritas Yesus yang tetap berbalut kasih ditambah ekspresi iman dari wanita Sero-fenisia tsb. Dari sini kita dapat menegaskan sekali lagi tentang besarnya Kemurahan Allah. Seruan iman seorang non-Yahudi pun Ia balas dengan sebuah sentuhan mukjizat, apalagi seruan anak-anakNya.

Ayat 36, adalah soal kesaksian. Kita tahu bahwa bersaksi adalah bagian lekat dari seorang anak Tuhan. Tapi acapkali kita seakan enggan, karena merasa tidak perlu dan tidak cukup penting. Padahal secara mendasar respon kita sebagai orang yang tahu diri ketika usai menerima kebaikan adalah menceritakan itu. Saya pernah mendengarkan analogi indah ini.


"Kita tertimpa kecelakaan dan sedang membutuhkan dengan sangat donor darah, padahal darah tsb tergolong sulit, lalu seorang datang tanpa dibayar mau memberikan donor darah. Apakah respon kita? Pertama adalah kita akan berterimakasih karena bantuannya kita batal mati. Kedua kita akan berusaha membalas budi, dengan mengirimkan hadiah atau apapun itu. Terakhir secara otomatis kita akan bercerita ke teman kita 'orang itu lho yang sudah selamatkan aku, karena donor darahnya'."

Analogi itu hanyalah perkara darah jasmani yang pada akhirnya tidak berguna lagi saat kita mati karena usia nantinya. Tapi anehnya kita lebih bisa tahu diri ke yang memberi hal sementara dibandingkan ke Yang memberi kekekalan. Kita manusia cenderung lupa betapa banyak dan keren yang Tuhan sudah anugerahkan, sehingga akhirnya tidak merasa berkewajiban untuk bersaksi. Jadi sekarang, masih malas bersaksi?

Terakhir dari ayat 37, sebuah penutup yang SANGAT INDAH. Kita dapat tahu bahwa Allah membuat segala sesuatunya BAIK. Mungkin terlihat rumit dan aneh seperti pilihanNya menentukan rute menuju danau Galilea, namun itulah kedaulatanNya! Walau kadang terkesan tidak rasional, taruhlah iman! Bahwa Dia sungguh jago mentransformasi yang usang menjadi baru, yang lunglai menjadi kokoh, dan yang suram menjadi cerah! Amin. 



Sumber:
1. khotbah GPIB MORIA Jaksel, 31 Agutus 2015.
2. Khotbah GKI Residen Sudirman Surabaya 06 September 2015.
3. Renungan harian Wasiat 4 September 2015
4. Khotbah HKBP Denpasar 06 September 2015
5. Renungan Pagi Guru 8 Maret 2016
tepat kemarin (15 Juni) saya mengikuti sebuah ibadah sederhana (tanpa liturgi khusus) yang sungguh menyentuh. bukan hanya bagian khotbah, tapi cuplikan doa dan pujian serta. ijinkan saya membaginya..

dibuka dengan pujian uang bgitu indah dari NKB 017.

Andaikan laut tintanya dan langit jadi kertasnya,
andaikan ranting kalamnya dan insan pun pujangganya,
takkan genap mengungkapkan hal kasih mulia
dan langit pun takkan lengkap memuat kisahnya.

reff : O kasih Allah agunglah! Tiada bandingnya!
Kekal teguh dan mulia! Dijunjung umatNya.

(penulis: ini adalah adalah salah satu kidung bermajas personifikasi yang bgitu indah bagi saya. melihat hamparan laut dan langit mengingatkan sebuah kebesaran, pun itu tak mampu dengan sempurna menceritakan agungnya kasih Allah!)

doa pengampunan dosa: "...ya Tuhan, ampunilah kami jika kami berusaha tidak cukup keras mewujudkan firmanMu dalam tindakan kami ..."
(penulis: bagian ini menjadi berkesan karena secuplik kalimat "berusaha kurang keras." itulah masalah saya, dan mungkin anda juga. kita tahu apa yg benar, tapi seberapa sering kita berjuang untuk merealisasikannya? bukankah kita punya mental pecundang untuk kebenaran? terlalu sering kalah dengan kemalasan atau anggapan 'sok suci' dari orang lain.)

khotbah (saya parafrasekan dengan mengandalkan rekaman suara)

para ahli teologi sepakat bahwa "pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu" adalah amanat agung. tapi sebenarnya ada amanat yg Yesus sendiri berkata "keseluruhan hukum taurat dan kitab para nabi" bersumber padanya. bagian itu adalah amanat mengasihi dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi.
kita manusia sering merasa itu sesuatu yg mustahil dilakukan tapi mari merenungkan hal ini.
berapa banyak rupiah yg dihabiskan oleh orang tua untuk anaknya? bahkan sang akuntan paling teliti sekalipun tak berniat menghitungnya.
dan seberapa sering orang tua terbangun karena tangis dini hari bayinya? dan ditengah ketidaknyamanan itu mereka dapat tersenyum lega.
dan saat anaknya bertumbuh belajar belari, lalu mulai mencicipi jalan raya penuh bahaya, di tengah kepanikan ada sebuah rasa bangga bahwa anaknya sudah mulai menjejakkan kaki ke bumi.
hal itu menjadi penegas bagi kita bahwa: Tuhan telah menanamkan KAPASITAS untuk mengasihi dengan sepenuh hati, jiwa, dan akal budi. hanya kadang manusia lupa menggunakannya.

kadang kita juga jadi manusia yg hanya berfokus pada hal-hal besar. kita rela menghabiskan jutaan rupiah untuk melihat keindahan matahari terbenam dan terbit, di berbagai tempat di dunia. padahal matahari terbit dan terbenam bisa dinikmati bahkan di depan rumah. dan seumur hidup kita abaikan keindahannya.
iman kita kadang juga demikian, yaitu kita gantungkan pada hal-hal luar biasa. padahal seharusnya iman disandarkan pada hal-hal sehari-hari yg Tuhan terus sediakan tanpa kita minta. seperti nafas dan detak jantung.


Tuhan kita sungguh Allah yg setia dan BISA diandalkan. mazmur 121 mengatakan "ku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datangnya pertolonganku"
kalimat ini ditulis dgn konteks bahwa ada kepercayaan akan dewa-dewa saat itu. dewa yg menguasai gunung A, B, dan sebagainya. namun pemazmur melihat tak ada satupun yg dapat diandalkan. sbab mereka terbatas. tak demikian dengan Allah kita. Dia tak terbatas untuk memberikan pertolongan bagi kita.

(doa syafaat)
"Tuhan, bagi saudara kami yg berduka, hiburkanlah.
bagi mereka yg berniat baik terhadap sesamanya, lancarkanlah.
bagi mereka yg masih berkutat dgn kesalahan dan dosa mereka, tobatkanlah.
bagi mereka yg berjuang melakukan kebenaran, kuatkanlah.
bagi mereka yg berulangtahun, tambahkanlah hikmat
bagi mereka yg menunggu jawaban doa, tabahkanlah
..."

catatan penulis: saya tidak ingat persis keseluruhan doa, tapi itu adalah potongan syafaat terbaik yg saya pernah dengarkan :')

ditutup dgn pujian "ini aku utus aku"


ibadah tersebut menjadi satu ibadah paling memorable bagi saya. dan semoga menyempatkan anda mencicipi berkatnya melalui tulisan ini :)




"Tuhan, aku tahu aku harus memikul salib.
sama seperti Engkau yang telah terlebih dahulu melakukannya
memikul salib karena mengasihiku.
aku tidak mengeluh, Tuhan. sungguh.
aku hanya heran haruskah Salib-ku seberat ini?
dan aku penasaran tidak bisakah aku memikul Salib yang lebih indah?
lihat, salibku begitu usang, penuh goresan. aku malu
jika memang harus berat, tidak bisakah Engkau memberiku Salib yang lebih menawan?"




((kataku lugu penuh keluh pada Penciptaku.
dan Dia mendengar, dan Dia memberi jawab dengan cara-Nya))

satu saat aku melihat temanku memikul salib yang sangat indah
penuh permata dan berlapis emas di beberapa sisinya
sungguh menawan.
lalu aku tergoda untuk meminjamnya. mencoba memikulnya
tak ku sangka, salib itu jauh lebih berat dari salib usangku
indah, tapi jauh lebih cepat membuat bahu ku ngilu
ah sudahlah. usang-pun tak apa.

di saat yang lain, tak berselang lama
aku melihat salib lain yang tak kalah memikat
pesonanya bukan karena kilau logam mulia
kali ini karena penuh mawar mekar nan semerbak
lagi-lagi, aku manusia selalu termakan rasa penasaran
walau tidak separah rasa penasaran yang menuntun hawa mencoba buah terlarang
aku pun memikulnya
tidak berat. ah sungguh aku ingin bertukar salib.
sebelum cukup jauh, aku merasa ada yang salah
darah!! bahuku terluka karena duri-duri mawar itu
lilitan mawar indah juga tak memuaskan
bahkan lebih menyakitkan.
ah sudahlah, usang-pun tak apa.

aku menyerah.
salibku yang terbaik
aku berhenti mencari salib lain yang menawan
hanya berujung kekecewaan
aku pikul yang usang ini dengan iman
berat memang, pun semua salib yang lain

mengeluh tak lagi jadi pilihan
sudahlah, usang-pun tak apa"

source :
http://jeffsprayerconnection.blogspot.com/2013/03/take-up-your-cross-and-follow.html


catatan penulis :
ungkapan "pikul-lah Salib" bukan hal asing, terkhusus bagi umat Nasrani. Sudah tak terbilang lagi berapa kali saya diingatkan dan mendengar tentang hal itu, di gereja, renungan harian, atau di persekutuan. Tapi Firman Tuhan memang tidak pernah kehilangan pesonanya. Secara tersurat ataupun tersirat melalui perumpamaan. Tulisan ini saya buat karena terinspirasi dari renungan pagi yang dibagikan oleh Guru Agama di sekolah tempat saya mengajar. Semoga tulisan ini jadi pengingat bahwa beban kita adalah beban sesuai dengan kemampuan. Tugas kita bukan untuk membuktikan salib mana yang terbaik, namun membuktikan bahwa selalu ada iman dan kesetiaan yang menguatkan pundak kita untuk memikulnya..

Salib-ku tak indah, tapi aku bangga!
usang-pun, tak apa!



catatan minggu, 8 Januari 2012..


sedari awal, kita ditentukan untuk menjadi reflektor dari kasihNya..
masalahnya adalah, seringkali kita gagal..


jadi pertanyaannya kini, bagaimana kita benar-benar bisa menjadi reflektor dari kasihNya itu ??
  • Jangan ikut berbuat dosa.. tetaplah berintegritas.. :) 
  • Menjadi KUAT.. hmm.. sekedar sharing, pernah suatu hari seorang teman yg tidak terlalu dekat dengan saya tiba-tiba berkata "wah.. kalau liat update statusnya ikut semangat ya walaupun banyak tugas, tapi statusnya ceria terus".. dari situ, saya belajar hal yang sederhana.. kadang kita memikirkan cara yang besar untuk menjadi berkat, padahal ada banyak hal kecil yg dgn setia bisa kita lakukan dan ternyata, itu membawa dampak :) Begitu pula kita semua, ketika kita mau mengucap syukur dan tidak mengeluh namun terus memiliki pola pikir solution oriented, disitulah nama Tuhan dipermuliakan. Jangan pernah pikirkan bahwa dengan hidup tanpa masalah itulah kesaksian terbaik. Samasekali tidak! justru ketika orang tau ada beban masalah di hidup kita, namun selalu damai dan punya kekuatan, disitulah mereka melihat bahwa Tuhan Yesus sungguh ada dihidup kita ^^
  • Mengabdi-lah.. apa artinya? lakukan sesuatu di ladang Tuhan. Jangan pernah berpikir ketika kita melayani kita melakukan pengorbanan.. hal itu kurang tepat, sebab sesungguhnya Dia lah yg berkorban bagi kita, dan sebagai ucapan syukur kita mengabdi padaNya..


 Tuhan memberkati :))





Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib 1 Petrus 2:9
kita adalah umatNya.. yg dari semula telah dipilih olehNya.. dan di ayat ini juga ada kalimat 'supaya kamu......' - keberadaan kita sudah seharusnya menunjukkan eksistensi untuk bersaksi mengenai perbuatanNya yg besar.. tidak dikatakan disana, 'nabi - rasul - orang pintar - orang yahudi' tapi digunakan kata KAMU.. ya, itu menunjuk ke Anda dan saya ^^
berangkat dari situ, kita sadar.. bahwa Dia yang memilih kita, juga berkenan memanggil kita untuk melakukan kehendakNya di bumi ini.


pertanyaannya, bagaimana kita memaknai panggilan Tuhan ?
kita mau belajar ke dua tokoh yg BERBEDA.. berbeda jaman, berbeda umur, berbeda wawasan..
pertama adalah Samuel (baca: 1 Samuel 3:1-20).. seorang tokoh dari perjanjian lama.. Tuhan memanggilnya di usia yg sangat muda.. sehingga dia masih begitu polos.. dengan wawasan yang begitu minim.. dan setelah tiga kali Tuhan memanggil.. dia menjawab "berbicaralah Tuhan, karena hambaMu mendengar"..
tokoh kedua, adalah Natanael (baca: Yohanes 1 : 43:51) seorang tokoh di perjanjian baru.. Tuhan memanggilnya di usia yg matang.. dia adalah seorang Israel murni, dan dikatakan bahwa dia dibawah pohon ara.. (sesuai tradisi, di bawah pohon ara biasanya orang2 belajar taurat).. ini menunjukkan dia memiliki wawasan yang begitu luas.. dan percakapannya dgn Filipus menunjukkan karakternya yg skeptis.. dan responnya pada Yesus saat itu adalah: "Rabi, Engkau anak Allah. raja orang Israel"


lihatlah dua tokoh ini, dengan begitu banyak perbedaan.. namun satu respon yg sama..
dari sini, kita bisa belajar dua hal.. pertama, Allah memanggil kita tanpa memandang latar belakang, usia, wawasan kita.. dan kedua, hal2 tersebut (latar belakang, dll) tidaklah boleh menjadi alasan kita untuk menolak panggilannya.. :) jadilah rendah hati.. itu artinya, jangan sombong dan jangan pula rendah diri..


pertanyaan kedua, bagaimana perwujudan nyata kita sabagai oarng yg telah dipanggilNya ?
belajar lagi dari Samuel dan Natanael.. sikap hati mereka begitu tercermin dan seharusnya begitupula sikap hati kita..
Samuel dalam responnya mengatakan "...hambaMu siap mendengar" walaupun ini atas perintah ayahnya, namun ini tetap cerminan hati dari Samuel.. makna yg begitu dalam tersirat dari dalamnya..
dan respon natanael pun serupa walau tak sama.. dia mengatakan 'Engkau......raja orang Israel'.. dgn kenyataan bahwa dia pun adalah orang Israel.. dalam bahasa sederhana, dia mengatakan 'raja ku'..


begitu pula dengan kita, ekspresi pengakuan semacam ini adalah dasar untuk melakukan panggilan dariNya.. mengakui bahwa Dia adalah RAJA.. dan kita adalah HAMBA..




respon atas panggilan dariNya, dapat kita laksanakan melalui profesi, studi, pelayanan persekutuan, dan bahkan cara kita bersosialisasi.. sudahkah kita memuliakan Dia ? :)


mari responi dan maknai panggilanNya yg begitu indah ini ^^ "Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 korintus 6:20) selamat hari minggu..