Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Suatu hari sekumpulan orang melakukan pertemuan akbar membahas nasib lanjutan seorang terdakwa kasus.

Ada dilema di benak jemaat sidang kala itu: melepaskan dengan pengampunan dan sekedar melakukan pembinaan atau tetap memenjarakan yang pastinya merusak masa depan sang terdakwa.

Lalu saya diminta bersuara. Dengan lantang saya berkata: "Tuhan itu adil dan kasih. Selalu ada pengampunan, namun bukan justru meniadakan konsekuensi."




Dengan logat mantab dan penuh pemahaman, saya memenangkan hati hampir seisi ruangan sidang. Mereka mengangguk sepakat. Hukuman tetap harus dilakukan.


Beberapa detik setelah palu diketuk, cermin besar menyambut untuk mengajak merenung: "adiss, andaikata suatu hari kamu ada di posisi terdakwa itu, apakah kamu akan berani bilang yang sama?"

Saya berpikir keras di tengah hiruk pikuk sidang yang berlanjut pada kasus kedua. Andaikata suatu hari saya melakukan kesalahan, apakah saya dapat besar hati dan berani berkata: "oke Tuhan adil dan kasih. Saya sudah melakukan kesalahan, saya layak dihukum. Tolong maafkan saya tapi tetap berikan hukuman bagi saya."

Saya sangsi. Mungkin saya akan berkelit. Mungkin pula saya akan memelas sedemikian untuk memohon pengampunan. Mungkin saya akan menyembunyikan kalimat itu. Atau mungkin hanya menekankan pada 'kasih' dan mengabaikan sisi 'adil'.



Source: www.mcgilldaily.com
Faktanya, kita terlampu sering menjadi hakim yang hebat untuk orang lain dan pengacara mahir untuk diri sendiri.

Apa yang kita tahu dan apa yang kita ingin terapkan untuk orang lain, seringnya sulit jika berhadapan dengan diri sendiri. Maka tak heran jika ribuan kutipan dari filsuf hebat segala jaman menekankan bahwa musuh sejati seorang manusia adalah dirinya sendiri.

Konsep kebenaran selalu membutuhkan kedewasaan yang utuh. Untuk menerapkan yang sepadan baik bagi orang lain dan diri sendiri.

Jika di sidang itu saya (dan Anda) berani berkata: "Tuhan itu kasih dan adil, kita sepatutnya meneladani. Kita memaafkan sang terdakwa hari ini, namun dia tetap harus dipenjara" maka di sidang lain saat kita yang menjadi terdakwa, kita sudah semestinya besar jiwa berkata: "ampuni aku, tapi tetap jatuhkan hukuman itu bagiku!"


Beranikah kita?


Setahun lalu natal saya begitu kelabu. Tanpa pekerjaan yang artinya tanpa ada pundi rupiah di saku. Baju yang saya kenakan di natal tahun lalu tidak lain baju pinjaman dari kakak perempuan. Atasan putih dengan kain sifon lembut dan rok merah muda, saya masih ingat benar. Tahun lalu natal saya teramat sepi, tanpa sahabat, karena dua yang paling karib dengan saya sudah kembali ke tanah asalnya masing-masing. Walau kerap terdefinisikan sebagai sanguin bahkan ekstrovert bagi sebagian besar orang, namun keterampilan untuk memiliki teman sepenuhnya berbeda dengan keterampilan menjalin persahabatan. Saya tidak punya banyak sahabat. Tahun lalu juga tanpa pelayanan dan komunitas. Di natal itu hanya ada saya dan kekasih saya yang berdampingan memegang lilin dengan tatakan kertas berbentuk lingkaran berwarna coklat. Semua detail natal tahun lalu saya ingat dengan jelas. Siapa sangka menu tahun ini begitu berbeda.

Satu-satunya orang yang menemani saya di natal tahun lalu justru tidak ada di sisi. Namun semua yang absen tahun lalu, hadir saat ini. Ada pelayanan, ada sahabat datang, ada pekerjaan, dan pastinya ada baju baru.

Keuangan saya di bulan ini meningkat tajam, pikiran saya mulai menjelajah untuk membuat daftar apa saja yang ingin saya beli. Sebotol parfum merk tertentu yang telah mencuri hati saya bertahun-tahun lalu, beberapa perlengkapan basic make-up, dan  beberapa potong pakaian. Lalu teringat juga bahwa sepatu cantik saya sudah tergolong usang walau memang masih layak pakai, jika ada uang lebih mungkin saya akan membeli sepasang yang baru, begitu monolog pikiran saya. Rasanya tidak berdosa untuk sesekali memanjakan diri, pembelaan diri muncul. Sebulan penuh juga saya terus berpikir soal iPhone baru. Satu barang utama yang ingin saya beli.

Rencana mengunjungi pusat perbelanjaan saya atur dalam jadwal. Rencananya sepulang ibadah hari minggu. Tepatnya di advent ketiga. Saya dengan sengaja mengatur jadwal ibadah pagi agar ada sisa waktu untuk merealisasikan apa rencana yang ada di angan. “tangan yang penuh kebaikan” begitu tema ibadahnya. Ketika Firman diberitakan, dengan pemaparan, visualisasi, dan bumbu-bumbu humor, ada satu hati yang tertuntuk lesu.  Saya diam. Rencana ke mall saya batalkan dan saya bergegas pulang.

Di tepi kasur saya duduk, lalu menunduk. Saya melihat malu pada apa yang saya pikirkan sehari lalu soal apa-apa saja yang hendak saya beli. Natal sempat beralih makna, dari “memberi” menjadi “memanjakan diri.” Sejujurnya saya merasa begitu berdosa, entah naluri konsumtif dari mana yang timbul di diri Claudya ini. Biasanya saya tidak begini, saya tidak suka belanja, saya merasa baik-baik saja dengan hidup yang minimalis, dan sungguh syarat hidup saya sangatlah ringan.

Sore itu menjadi titik balik saya menghayati natal ini. Entah ide darimana, saya tergelitik membuka lemari baju saya dan disana saya temukan tumpukan pakaian yang lebih dari cukup. Di samping lemari saya memiliki dua kardus pakaian yang bahkan tidak pernah saya gunakan lagi. Lucu sekali saya merasa tidak punya cukup pakaian, kecuali memang arwah keserakahan sedang hinggap.

Dulu saat kuliah saya pernah menjual baju-baju saya bersama dua sahabat saya, mengumpulkan pundi rupiah lalu membelikan cemilan-cemilan kecil untuk dibagi di orang-orang segang kosan dari anak-anak hingga manula. Pernah pula saya berjualan online hanya untuk bisa berbagi sembako saat natal seperti ini. Tanpa gaji, sebagai mahasiswa perantauan dengan uang bulanan tidak lebih dari satu juta, saya bisa berbuat banyak bagi orang lain. Kini adiss telah jatuh miskin dengan gaji diatas UMR setiap bulannya.
Orang dikatakan kaya bukan karena memiliki banyak namun karena sanggup memberi banyak. Saya malu ke Tuhan dan diri sendiri.




Sendirian saya mengambil waktu untuk merenung. Kita kadang terlalu larut dalam hingar bingar natal hingga lupa apa makna natal sesungguhnya, apa yang terbesar harus kita koreksi di penghujung tahun, apa yang Tuhan rindu kita lakukan.

Dengan tanda tanya saya keheranan kenapa saya menjadi begitu ingin tampil cantik dengan pakaian up-to-date. Tidak lain adalah karena saya melihat betapa banyak kawan saya yang bisa berpenampilan menawan dan saya tidak. Iri, selalu jadi masalah saya sejak dulu. parahnya itu membuat saya menjadi orang yang pelit berbagi. Saya telah menjadi seburuk-buruknya manusia dan semiskin-miskinnya pribadi.
Kita tidak bisa berbagi bukan karena kita kurang memiliki, namun karena lupa seberapa banyak kita sudah diberkati.
Ingatan saya melangkah mundur dan mengurai kebaikan Tuhan di masa lampau dengan mengijinkan saya mencicipi banyak pengalaman yang saya rindukan; ikut sidang PBB, mengajar di pedalaman dan berlayar, lulus usia 20tahun, kerja sebelum sarjana, hingga melayani lewat menulis, semua yang sekedar saya ucapkan sebagai kerinduan, Dia kabulkan. Saya ingat sekali telah menulis “ke ranukumbolo” di 12 Juli 2014, Dia kabulkan tepat dua minggu setelahnya. Saya dibawa ke momen saat saya mendapatkan helm keroppi dengan keajaiban. Dari dulu banyak kawan seiman saya berujar soal saktinya doa saya, karena mereka terus menyaksikan betapa banyak pengabulan doa yang saya nikmati. Faktanya adalah itu semua TIDAK PERNAH saya doakan. Saya tidak pernah meminta, percayalah! Saya hanya berkeinginan dan Tuhan terlewat baik mengabulkan itu sebagai kenyataan. Inilai prinsip saya (dulu): “lupakanlah dirimu, maka Dia akan mengingatmu.”

Tahun ini prinsip itu terbuai dengan banyak godaan komparasi, hingga saya terlalu fokus dengan diri sendiri. Citra diri saya sempat terdistraksi dengan banyak hal di dunia maya. As we grow older, as we financially improve and have more access to the many things this world has to offer, it’s really easy to get carried away and forget our identity.

Akhirnya saya berdamai, sejumlah uang yang awalnya ingin saya habiskan sendiri saya belokkan untuk melakukan misi “menjadi berkat” dan damai sejati hadir. Sebuah keasyikan tersendiri untuk meletakkan diri kita di urutan terakhir. Memang adalah jauh lebih bahagia untuk memberi daripada menerima. Kepuasan itu nyata. Sebelum natal hati saya babak belur, dan tepat saat natal tiba hati yang hancur itulah yang saya bawa, sebuah bentuk hati yang paling cocok dalam menyambut kelahiranNya: Hati yang remuk dan siap dibentuk kembali.
Karena suatu hal murid les saya mendadak ketakutan akan pikirannya sendiri. Bocah kelas 2 SD yang jago bahasa inggris itu, terisak keras sembari memegang kepala berusaha melupakan suatu kata yang menghantui. Sampai di satu titik kala sudut matanya masih basah, dia menangkupkan tangan sembari menengadah ke saya yang memang lebih tinggi, lalu berkata: "can you pray for me?"


Hati saya luluh, Seorang makhluk polos di hadapan saya dengan sangat santun meminta sesuatu yang tidak akan pernah menjadi terlalu mahal untuk dilakukan: DOA.

Sebagai guru di sekolah rohani, sebagai anak dan adik, sebagai kakak bimbing, sebagai sahabat, dan sebagai pacar, memimpin doa bukanlah hal yang asing. Sedari kecil papa saya sudah membiasakan untuk saya memimpin doa di meja makan. Menampung sebuah private message berisi "dis doakan aku ..." Juga terlampau sering saya terima. Tapi sore ini ada seorang bocah yang sangat bergumul dengan karakternya memohon guru les yang baru ia kenal seminggu untuk menghadap Pencipta. Entah kenapa saya begitu terkesan dengan adegan tadi. Setiap kata dan ekspresinya seakan berjalan lambat berulang di otak. 

Kita tidak pernah tahu dari mana pelajaran akan didapat, kita tidak pernah tahu berkat macam apa yang hadir lewat seseorang, dan jelas kita tidak pernah bisa menerka orang atau kejadian seperti apa yang dapat Tuhan pakai untuk mendidik kita. Siapa sangka dari anak SD, seorang dewasa justru ditegur.

Sangat penting agaknya untuk mengenalkan tentang Pencipta sedini mungkin pada seorang individu. Indah sekali lho saat kita mengalami kesusahan, kita tahu kemana kita harus pergi. Dan bayangkan saja jika itu terjadi sejak sekolah dasar atau bahkan sebelumnya. Tidak ada jaminan memang seorang anak yang dikenalkan Tuhan sedari kecil akan mudah dididik atau pasti jadi anak yang baik, tapi poinnya adalah dia tahu bahwa segala hal dapat dia bawa ke Tuhan dan tahu pasti bahwa Dia dapat diandalkan. Ketika seseorang tahu bahwa dia harus berdoa minta tolong saat PR-nya sulit, saya yakin itu akan membiasakan dia juga merendah untuk masalah-masalah lebih besar dalam hidupnya kelak, untuk belajar tunduk mengandalkan Dia.

Dari sisi saya sebagai orang dewasa, adegan ketulusan tadi mengingatkan apa yang Paulus pernah bilang "Dia menggunakan yang bodoh untuk mempermalukan yang bijak", begitu kira-kira isi suratnya dan begitu pula simpulan kejadian tadi. Saya jarang sekali berdoa belakangan ini, bukan karena saya merasa mampu, tapi simple karena saya tahu bahwa solusi dari masalah adalah tindakan nyata. Saya lupa satu hal: meminta tolong pada Empunya hidup. Meminta arahan dan kekuatan, saat melakukan tindakan-tindakan tersebut. Kadang kita memisahkan antara hal rohani dan non-rohani, untuk yang kita kira perkara rohani kita getol doakan tapi untuk sebagian yang tidak rohani kita cuek bebek dengan pendapat dan pimpinan-Nya. Padahal bahkan perkara degup jantungpun adalah sebuah kemurahan Pencipta. Aneh sekali jika kita mengkotakkan perkara antara "silahkan Tuhan, masuk dan tolong aku" dengan "tidak perlu Tuhan, ini bukan tentang aku dan Engkau."

Seorang bocah yang ketakutan dengan kata "cookies monster" tahu bahwa dia harus lari ke Tuhan dulu sebelum berupaya menghapus ketakutannya. Masakkah kita lupa bahwa kita harus lari padaNya dulu untuk sgala sesuatu?



Semoga memberkati :)
Pendeta penuh sahaja itu adalah salah seorang gembala asli dari GKI Residen Sudirman, tempat saya berjemaat lima tahun terakhir. Walau tak mengenal tapi saya tahu persis namanya. Usianya belum terlalu tua dengan perawakan tergolong kurus dibandingkan para bapak lain yang mulai menimbun kegemukan di perut. Di barisan tengah, saya mengikuti ibadah seperti biasa sampai akhirnya insting sok tahu saya bergeming.

Tak biasanya, sebuah pembawaan karismatik terpancar dalam gaya luwes bapak itu sehari-hari. Kesan menggebu-gebu dalam bingkai kontrol yang mengagumkan tercermin. Ada penekanan yang berulang soal ketaatan dalam penderitaan sebagai umat Tuhan sebagai manisfestasi tema utama ibadah. Dari tengah hingga akhir khotbah suara pendeta itu mulai gontai. Ada nada yang tak terdefinisikan tersembunyi di balutan jas hitamnya yang gagah, hingga akhirnya mata itu berkaca-kaca. Jemaat -atau mungkin hanya saya- semakin terenyuh. Iya, tidak dapat disembunyikan sang pengkhotbah sedang menghayati benar isi pesan yang ia bagi. Merinding mampir. Di kala kalimat "walaupun kadang kita tidak mengerti kenapa Tuhan seakan diam pada masalah kita ..." terucap, upayanya untuk tetap tegar terkalahkan dengan tetes air mata. Saya tidak tahu kenapa beliau sore ini menjadi begitu emosional, tebak saya adalah mungkin ia sendiri sedang dalam pergumulan berat. Seakan kalimat ajakan yang ia pakai untuk menguatkan para jemaat sedang ia coba laksanakan sendiri. Tidak mudah mungkin, hingga harus ada tetes air jujur keluar dari sudut kelopak matanya.




Menjadi pewarta Firman, tidak selalu berarti bahwa ia telah tuntas melakukan isi khotbahnya, mungkin di detik ia membagi di saat yang sama persis itulah ia sedang mencoba. Salah besar jika kita asumsikan bahwa bahwa pelayan Tuhan adalah yang sudah beres total hidupnya. Memang, sudah seharusnya perkataan dan tindakan menjadi seirama, tapi kala itu masih proses ada kalanya kita memperkataan kebenaran sebagai pedang bermata dua: memberkati orang lain sembati mengoreksi diri sendiri. Sayang sekali jika kita kerap berkata: "anda lho bisa khotbah kok malah gak bisa lakuin." Proses adalah bagian hidup SEMUA ORANG tanpa terkecuali, metodenya berbeda tapi agaknya bukan didasarkan pertimbangan status tertentu.

Usaha sang pengkhotbah untuk menekankan pesan berharga itu lantas membuat saya teringat sesuatu. Betapa banyak orang yang menolak sebuah kesempatan pelayanan dengan dalih "aku belum siap" atau dengan kalimat yang lebih rohani "aku belum layak". Pertanyaannya adalah: Sungguhkah kita merasa akan layak nantinya? Tidak akan! Benarkah kita akan merasa siap suatu hari? Belum tentu!

Bahkan seorang pendetapun berjuang di tengah segala kondisi serta karakter yang sulit, tapi toh Tuhan berkenan memakai dia. Kenapa? Karena memang tidak ada seorangpun yang dipanggil karena kesempurnaan. Justru tahta panggilan yang Ia mandatkan adalah ruang untuk kita berproses menuju keserupaan dengan Pencipta. Itulah kenapa pelayanan disebut sebagai anugerah, karena itu samasekali di luar kelayakan kita.

Momen emosional tadi dengan lantang menggiring saya pada penghayatan: "tetap melakukan beban panggilan bahkan saat kondisi tidak nyaman," sebuah teladan yang bukan saja saya dengar namun telah saya saksikan.

Akhirnya kami semua -dia sang Pendeta dan kami para umat- larut dalam senyap, kami tunduk dalam durasi doa yang lebih lama dari biasanya. Dan kala ucap 'amin' terdengar, senyum teduh sumringahnya telah kembali. Sebuah kesimpulan dan 'permainan' ekspresi yang mengagumkan!
Saya tahu bahwa kebaikan Tuhan bukan hanya soal memberikan kemudahan tapi juga tentang kekuatan saat hal sulit terjadi..

Tapi yang saya baru tahu adalah hal ini: 

Ternyata Kebaikan Tuhan juga soal bagaimana Dia memampukan kita PULIH dari sesuatu yang sangat berat melukai..

Minim mawas kita tidak sadar bahwa ternyata merupakan berkat besar untuk kita diijinkan kembali melanjutkan hidup ini dengan sebuah cara pandang yang dipulihkan, bahwa hari depan menyimpan banyak sekali keindahan dibandingkan segala luka yang terjadi di hari lalu. Saya bersyukur sebagaimanapun kemelut keluarga saya dulu, hari ini saya boleh berdiri dengan kepercayaan bahwa saya bisa membentuk keluarga yang jauh lebih baik ke depan. Tidak ada skeptisme, hanya ada iman yang terus dirangkai dalam usaha dan doa.





Untuk tetap percaya setelah dikecewakan
Untuk mau mengusahakan yang terbaik di masa depan, tanpa dihantui kegagalan yang lalu
Untuk tetap mengasihi bahkan usai disakiti
Semua ini adalah berkat-tak-tersadari yang dapat saya (dan Anda) nikmati


Kebaikan Tuhan (sekali lagi) bukan hanya soal memberikan kekuataan SAAT hal buruk terjadi tapi juga memberikan pemulihan SETELAH hal itu terlewati..

... sebuah pesan yang terus berulang ...
Dimulai dari tepat minggu lalu saat saya dan Riyan menghabiskan hari minggu malam dengan bertukar khotbah, pertama kalinya saya tahu tentang "sero-fenisia". Lalu pengakraban kata itu disusul dengan satu artikel renungan dan satu update status path kawan saya tentang ringkasan khotbah di gerejanya. Ibadah minggu tadi, adalah penguat semua kebetulan ini. Kali ini, saya memberanikan diri untuk memparafrase apa yang saya dapatkan dari semua rangkaian kebetulan tentang wanita sero-fenosia dan seorang tuli dan gagap. Dengan segala keterbatasan pengetahuan alkitab dan juga keterampilan menulis, saya harap tidak mengurangi kesempatan untuk berkat indah ini dinikmati.

_______

Dalam Markus 7:24-37, dipaparkan secuplik adegan saat Yesus mengunjungi wilayah tirus. Disana Yesus dihampiri oleh seorang wanita non-Yahudi yang memohon pertolongan untuk anaknya yang sedang kerasukan setan lalu disusul dengan karya kesembuhan bagi seorang tuli dan gagap.

Agaknya adegan senada sudah pernah terjadi di bagian lain injil, tentang Yesus yang berbelas kasih dan melakukan keajaiban. Namun kenapa perikop ini menjadi unik?

Pertama, mari kita ingat bahwa setiap injil memiliki ciri dan sasaran yang berbeda. Matius misalnya memfokuskan pada pembaca orang Yahudi sehingga tidak mengherankan jika kitab itu dimulai dengan menuliskan silsilah Yesus sebagai ototrisasi perihal Yesus sesuai dengan tradisi Yahudi. Sedangkan Markus adalah injil yang ditujukan bagi para orang non-Yahudi atau dalam bahasa Perjanjian Baru sering diwakilkan dengan sebutan "Yunani" (Gentile, dalam bahasa Inggris). Perikop soal sero-fenisia ini HANYA termuat di kitab Markus, sehingga hampir mustahil hal tersebut dilakukan tanpa tujuan. Markus seakan ingin mengantarkan pesan peneguhan bagi orang-orang yang dianggap tidak terpilih oleh Allah.

Kedua, mari tengok konteks geografis di perikop itu.


Yesus dikatakan mengunjungi Tirus secara sengaja. Signifikansinya adalah bahwa Tirus (dan Sidon) bukan wilayah Yahudi. Anggapan bahwa Yesus rasis dan hanya melayani kaum Yahudi sepenuhnya digagalkan di perikop ini. Kesengajaan Yesus mengunjungi wilayah non-Yahudi adalah bukti bahwa pelayanannya tidak berbatas kesamaan suku bangsa. Selain itu, konteks geografis juga disinggung di ayat 31. Kita akan merasa biasa saja jika hanya membaca kalimat itu tanpa meluangkan waktu melihat konteks lebih besar. Wilayah Tirus, Sidon, dan Danau Galilea semacam segitiga siku-siku dimana Tirus adalah titik pertemuan dua garis tegak lurusnya. Untuk menuju Danau Galilea Yesus SAMASEKALI TIDAK PERLU melewati Sidon. Tapi, Dia memilih untuk melalui wilayah itu. Sekali lagi, disitulah penegasan betapa tudingan rasis pada Yesus adalah hal tidak relevan. Fakta besarnya adalah Sidon bukan hanya dijadikan sebagai bagian dari rute perjalanan oleh-Nya, namun juga tempat pelayanan yang terbukti dengan Dia yang berkenan menyembuhkan seorang tuli dan gagap (ayat 34). Yesus merepotkan diriNya sendiri dengan menambah jauh perjalanan untuk berkarya bagi orang-orang non-Yahudi karena Dia tahu ada orang yang sedang membutuhkan.




JamahanNya, bukankah dari situ kita seharusnya tersentuh dengan betapa murahnya Penebus kita?Dengan cara-Nya sendiri Ia tahu bagaimana akan menyalurkan pertolongan bagi kita.

Ketiga, mari kita berpindah ke konteks tradisi. Di perikop itu dikatakan bahwa seorang Wanita sero-fenosia menghampiri Yesus (ayat 26). Terlihat sangat sangat sederhana memang sebelum kita menyadari pemetaan perbedaan besar antara Yesus dan Wanita tsb. Yesus adalah seorang laki-laki Yahudi sedangkan wanita tersebut adalah seorang wanita non-Yahudi. Konteks tradisi saat itu adalah sangat tidak sopan untuk wanita menghampiri pria di kawasan publik, APALAGI jika itu bersebrangan suku bangsa. Apa yang dilakukan wanita itu adalah sikap iman yang besar. Bahkan tanpa kita sadari dari tindakan itu termanifestasi tiga hal besar sekaligus: Iman, Pengharapan, dan kasih. Iman yang meyakini bahwa Yesus MAMPU menolong, pengharapan bahwa Yesus akan MAU menolong, dan kasih kepada anaknya yang sedang menderita.

(ditambahkan 8 Maret) Selain tiga konteks yang ada di atas, ada hal unik lain yang khas di perikop ini. Keempat: konteks kebiasaan. Beralih dari wanita Sero-fenisia menuju ke karya Yesus pada seorang tuli dan gagap (ayat 31-35). Di banyak kisah penyembuhan yang lain Tuhan Yesus terlebih sering menggunakan pernyataan tegas yang membawa mukjizat, namun di peristiwa ini Yesus melakukan setidaknya tiga tindakan aktif untuk suatu karya penyembuhan. Pertama tindakan mengajak orang tuli dan gagap tersebut untuk menjauh dari keramaian sehingga mereka dapat secara personal berinteraksi (ayat 32). Hal ini menjadi berkesan ketika kita menyadari bahwa seseorang yang tuli dan gagap adalah orang yang sangat sulit bersentuhan secara sosial. Bayangkan, tuli dan gagap! Bukan buta dan lumpuh yang membuat mobilitas terganggu namun komunikasi dapat tetap berjalan. Ajakan yesus untuk mereka memisahkan diri dari orang banyak menyuarakan empati personal tak terhingga. Kedua adalah tindakan Yesus yang memasukkan jari dan meraba lidah untuk mengantarkan sebuah kesembuhan. Kenapa tidak hanya lewat kata-kata seperti biasanya? Mungkin dapat menjadi perenungan bahwa terkadang belas kasih tidak boleh hanya berhenti lewat doa dan kalimat simpatik namun tangan dan kaki yang bergerak. Ketiga, Yesus menengadah ke langit (ayat 34), disini diekspresikan sebuah kerendahan hati besar dari kepada Bapa. Jika Dia yang juga Allah penuh kuasa dapat sedemikian merendahkan hati dan mengandalkan Bapa, bagaimana kita manusia yang samasekali bukan maha-kuasa bahkan tidak tahu apa yang terjadi barang sejam ke depan?

Setelah memahami konteks besar bacaan, mari beralih ke hal-hal detail di bacaan tersebut dan mengambil intisari teladan.

Ayat 24 "... Ia tidak mau ada orang yang mengetahui kedatanganNya ..." ditambah ayat 36, tersingkap attitude Yesus: giat dalam diam. Baru beberapa waktu lalu saya hadir dalam sebuah KKR remaja, seorang hamba Tuhan yang agaknya memang populer di Surabaya tak sedikit menyinggung kiprah dan prestasinya dalam pelayanan di sela-sela pelayanan Firman. Walau terlihat rohani untuk menyatakan berapa banyak jiwa yang sudah dilayani, agaknya itu tetap bukanlah hal yang Yesus teladankan. Ketika hendak memulai pelayanan disana, Yesus bahkan berusaha menyembunyikannya. Sungguh miris jika kita anak Tuhan masih sibuk mencari pengakuan dengan menggembar-gemborkan hal baik yang kita lakukan.

Dalam ayat 27-28 termuat kalimat soal anjing dan reremahan roti. Terlihat keras dan sesekali membenarkan soal tudingan rasisme Yesus. Tapi justru di kalimat ini sedang ditunjukkan integritas Yesus yang tetap berbalut kasih ditambah ekspresi iman dari wanita Sero-fenisia tsb. Dari sini kita dapat menegaskan sekali lagi tentang besarnya Kemurahan Allah. Seruan iman seorang non-Yahudi pun Ia balas dengan sebuah sentuhan mukjizat, apalagi seruan anak-anakNya.

Ayat 36, adalah soal kesaksian. Kita tahu bahwa bersaksi adalah bagian lekat dari seorang anak Tuhan. Tapi acapkali kita seakan enggan, karena merasa tidak perlu dan tidak cukup penting. Padahal secara mendasar respon kita sebagai orang yang tahu diri ketika usai menerima kebaikan adalah menceritakan itu. Saya pernah mendengarkan analogi indah ini.


"Kita tertimpa kecelakaan dan sedang membutuhkan dengan sangat donor darah, padahal darah tsb tergolong sulit, lalu seorang datang tanpa dibayar mau memberikan donor darah. Apakah respon kita? Pertama adalah kita akan berterimakasih karena bantuannya kita batal mati. Kedua kita akan berusaha membalas budi, dengan mengirimkan hadiah atau apapun itu. Terakhir secara otomatis kita akan bercerita ke teman kita 'orang itu lho yang sudah selamatkan aku, karena donor darahnya'."

Analogi itu hanyalah perkara darah jasmani yang pada akhirnya tidak berguna lagi saat kita mati karena usia nantinya. Tapi anehnya kita lebih bisa tahu diri ke yang memberi hal sementara dibandingkan ke Yang memberi kekekalan. Kita manusia cenderung lupa betapa banyak dan keren yang Tuhan sudah anugerahkan, sehingga akhirnya tidak merasa berkewajiban untuk bersaksi. Jadi sekarang, masih malas bersaksi?

Terakhir dari ayat 37, sebuah penutup yang SANGAT INDAH. Kita dapat tahu bahwa Allah membuat segala sesuatunya BAIK. Mungkin terlihat rumit dan aneh seperti pilihanNya menentukan rute menuju danau Galilea, namun itulah kedaulatanNya! Walau kadang terkesan tidak rasional, taruhlah iman! Bahwa Dia sungguh jago mentransformasi yang usang menjadi baru, yang lunglai menjadi kokoh, dan yang suram menjadi cerah! Amin. 



Sumber:
1. khotbah GPIB MORIA Jaksel, 31 Agutus 2015.
2. Khotbah GKI Residen Sudirman Surabaya 06 September 2015.
3. Renungan harian Wasiat 4 September 2015
4. Khotbah HKBP Denpasar 06 September 2015
5. Renungan Pagi Guru 8 Maret 2016
aku kirimkan padaMu sebuah kecup penuh syukur.. Sebuah tulisan tak menentu, ungkapan hati sebelum lelap tidur..

Tuhan, aku yakin sebelum aku lahir, kebaikanMu telah Maha hadir. Skenario hidupku telah disusun rapi seindah tatanan galaksi, hingga tidak sekedipan matapun ada yang layak dikeluhkan, dipertanyakan, apalagi disesalkan. 




Jika belakangan ini rasanya hidupku sempurna, itu murni sebuah kemurahan yang Esa. Aku tahu hal mulus tidak akan selalu selamanya, karena untuk semua hal bergantian pergi dan tiba. Akan tiba romansa berganti getir yang menyiksa. Selagi bisa, aku hanya ingin menikmati setiap inci momen ini dan melatih diri untuk semakin banyak bersyukur tanpa menjadi takabur.

Hingga nanti saat masa sempurna ini mulai 'dicoba', aku menjadi hamba yang tidak sibuk menanyakan kenapa ini dan itu terjadi tak sesuai harap dan asa, tapi justru fokus menghitung banyak berkat yang sudah aku terima melampaui segala kelayakanku sebagai manusia berdosa.

Ketika hidupku tak ubahnya teka-teki tak pasti, itu jua karena Engkau sedang menempa diri ini. Pun masa sukar akan ada akhirnya, ajari aku tak berlarut dalam muram dan sungut.

Dan akhirnya aku yakin bahwa syukur yg aku sudah haturkan tak pernah cukup seimbang dengan nikmat yang Kau beri. Karena itu, mohon ajari aku untuk merangkul erat sikap berterimakasih hari demi hari :)
Manusia suka mencari tanda. Manusia gemar mengumpulkan fakta-fakta yang memperkuat posisinya. Itulah kenapa ulasan horoscope masih laris di kolom surat kabar dan ramalan kartu menjadi sesuatu yang tidak kehilangan pesonanya. Menjadi percaya tanpa melihat, bukan hanya Thomas yang sulit melakukannya 2000 tahun lalu.

Ini adalah cerita yang sudah lama parkir di otak saya dan akhirnya tidak tertahan untuk disemayamkan dalam tulisan. Kisah ini masih merupakan rangkaian memahami panggilan kala masa menjadi pengangguran. Seperti yang saya tulis di cerita lengkap sebelumnya, saya kembali menjadi guru. Fiuuh.. Melamar ke enam sekolah, adalah tindakan saya menguji hasil pergumulan dan semoga empat panggilan dalam satu minggu merupakan pertanda besar bahwa hmmm saya memang harus menggarap ladang ini. Tapi dasarnya manusia, seorang Claudya masih menggerutu. Setiap kali melihat aktivias sosial media kawan yang diterima mengabdi sebagai PNS dan sosial media pelayanan dari WVI, hati saya teriris (literally). Masih belum berdamai, mungkin itu tepatnya. Menerima kekalahan bukanlah hal mudah, apalagi jika setelah tahapan itu kita diharuskan masuk ke satu area baru yang sebenarnya ingin kita tinggalkan jauh. Saya bertanya ke Tuhan dan mempertanyakan diri sendiri. "Jangan-jangan aku salah mengartikan hasil pergumulan." begitu pembelaan dalam angan.
Suatu siang, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor yang tidak saya kenal. Ternyata itu lagi-lagi sebuah panggilan seleksi pekerjaan. Orang di seberang telepon itu berbicara sangat fasih dalam Bahasa Inggris, saya penasaran. Tidak berselang lama, terungkaplah bahwa itu merupakan panggilan pekerjaan dari sebuah sekolah tempat para anak expatriate di Surabaya bersekolah. WOW, saya tidak percaya lamaran yang saya kirim melebihi tenggat waktu maksimal ternyata ditanggapi dengan sangat baik. Sayangnya telepon itu berdering pasca keputusan akan ke sekolah mana saya akan berkarya sudah saya buat. Dengan sopan saya menolak tawaran itu. 

Panggilan yang mengusik jam santai saya siang itu tidaklah sia-sia. Samasekali tidak sia-sia. Lima dari enam sekolah, bukankah tanda besar bahwa this is a place I belong to be. Dua minggu setelahnya, sekolah keenam melakukan hal yang sama. Lengkap sudah pertanda ini, saya menemui jalan buntu untuk membangkang. Telepon kelima itu, menyuarakan kesan mendalam. Atas keterlambatan saya mengirimkan lamaran dan atas reputasi sekolah sebesar itu. Lebih-lebih kala saya mendengar responnya yang meminta saya kembali mencoba melamar di sekolah itu setelah kontrak saya di sekolah saya (akan) mengajar saat ini tuntas. Telepon keenam hanyalah bonus, sebuah tanda pemantab hati yang tidak saya minta, yang pastinya ditujukan untuk manusia super keras kepala seperti saya.




Kita rajin mengajukan tanda tanya pada Pencipta, jika kita cukup beruntung pertanda itu akan datang. Namun bagaimanapun kita tidak bisa terus mengandalkannya. Ada waktu di hidup pertanda akan bersembunyi hingga akhir. Percaya sebelum melihat pertanda adalah kualitas iman sesungguhnya. Saya gagal untuk itu, beruntungnya kekerdilan iman saya masih dinaungi oleh Kemurahan Pencipta. 

Setelah satu tahun ini saya tahu bahwa mencari pekerjaan (kadang) menjadi begitu rumit tapi sesuatu yang jauh melebihi itu adalah kesulitan mengungkap panggilan kita, dan kamu tahu apa yang paling sulit? menjadi taat.




Ada sebuah kisah, tentang seorang nabi bernama Elia.
Setelah melakukan banyak perkara, dia diperhadapkan pada ancaman bahaya.
Seorang bernama izebel menggertak menghabisi nyawa.
Walau nabi, dia hanya manusia.
Rasa takutpun melanda.
Dia memilih menjauh dari realita.

Murung menyendiri, lalu malaikat Tuhan menghampiri.
Disedikan roti bakar dan air sekendi.
Tapi di dalam hati, Elia tidak mengerti.
Satu yang dia mau adalah Izebel mati, agar cemas di hidupnya bisa pergi.


((blogpost ini dikembangkan menjadi artikel renungan, dapat di baca di https://ignitegki.com/article/111-kisah-roti-bakar-dan-sekendi-air-sebagai-pengingat-kebaikan-tuhan)

Namun Pencipta memang tak terduga. Izebel mati tak di jaman Elia.
Walau mampu, tapi Allah menunda kematian sang sumber bahaya.
Elia hanya diperintah, untuk tetap melangkah.

Di sela itu semua, Elia berharap disapa oleh Allah.
Lewat hal luar biasa seperti badai dan gempa.
Namun tak dia dapati sapaan Pencipta.
Justru di angin sepoi, kelembutanNya nyata

Ribuan Tahun berikutnya, seorang Claudya mengalami yang serupa walau tak persis sama
Menanti jawaban doa dalam waktu yang lama.
Dari yakin, berubah marah. Dari Khawatir hingga mati rasa.
Bagaimanapun, kisah Elia mengingatkan pesan berharga:

"kebaikan Tuhan bukan hanya tentang solusi atas masalah,
tapi juga tentang rangkaian pemeliharaan selagi menunggu solusi itu tiba."



dear Bayi Kudus
di manapun Kau berada

Santa dengan tumpukan hadiah bukan lagi penarik perhatianku, aku sudah besar! Gadis 22 tahun ini punya hobi baru: mengirim surat. Terkhusus setengah tahun belakangan. Sudahkah Kau membacanya? Aku menulis untuk-Mu, kadang dengan keyboard kadang dengan pena, kadang dengan syukur kebanyakan dengan gerutu. Aku tahu, aku tahu, orang bilang aku harus menyampaikannya lewat doa, sayangnya aku sudah lupa cara berdoa. Yang aku ingat adalah cara untuk menulis. Surat ini berarti harafiah, sebuah salinan susunan kata dariku menjelang lahir-Mu. ohya, sebagai peringatan saja, ini surat terakhirku, setidaknya tahun ini. Jadi jika aku menghilang beberapa waktu tidak menyapa-Mu, tolong ampuni.
Aku tahu Kau merindukanku, tapi bukankah meriah penyambutan-Mu belakangan akan menutupi duka-Mu karena kehilanganku?

sang Bayi,

Bagaimana perasaanmu? Jutaan manusia dengan segala euforia menanti-Mu. Senangkah Engkau dengan pesta belakangan ini? Ornamen penuh ceria dan kemeriahan di setiap sudut kota. Kau begitu dicintai. Namun di sela itu, sebenarnya aku masih sedih. Beberapa orang masih meributkan apakah boleh mengucapkan selamat akan kelahiran-Mu kepada kami. Tapi ya sudahlah, itulah nikmat keberagaman khas bangsa tercinta.
Hal paling menyayat hati adalah bahwa di antara berbagai kerlap-kerlip, sejujurnya aku belum menemukan keteduhan khas peristiwa kelahiran-Mu. Seakan-akan ribuan tahun lalu Kau hadir di hotel mewah. Bukankah Kau lahir di kandang hina? eh atau aku salah membaca sejarah?

sang Bayi, sang Penguasa Bumi..
Aku ingin memberitahu-Mu, betapa datarnya persiapanku akan momen istimewa setahun sekali ini. Jangan tersinggung, Kau tetap Pujaanku. Maaf ya sang Bayi Kudus, aku tak bisa menjadi seperti aku yang dulu-dulu. Jangankan pelayanan, persekutuan-pun tidak aku nikmati. Jangankan proyek berbagi, HPDT ku saja sudah abai tertumpuk sangsi. Sepertinya seseorang sedang meminjam cinta mula-mulaku.
Kalau Kau ada waktu, tolong buatkan aku sebongkah cinta awal yang baru.

Sang Bayi, yang lahir juga dalam tangisan sama seperti aku.
Mungkin Engkau terlewat sibuk dengan berbagai christmas wish yang hadir dari seluruh penjuri bumi, Kau jadi melewatkan memperhatikan gerak-gerikku. Sekarang aku beritahu pada-Mu, belakangan aku kerap menepuk dada, bukan karena sedang susah bernafas. Aku menepuk dadaku untuk mengingatkan bahwa semua masih baik-baik saja. Apakah Kau setuju bahwa hidupku memang bukan bencana?
Lain waktu, aku menepuk dadaku hanya sekedar merasakan detak jantung seorang manusia yang hidupnya masih ada dalam kendali Pencipta. apakah Kau setuju bahwa aku masih ada dalam hitungan orang yang dipedulikan oleh Bapa?
ohya, aku penasaran. Bagaimana Kau melakukan seleksi atas jutaan wish manusia di akhir tahun ini? Permintaan seperti apa yang akan Kau kabulkan? Aku sungguh ingin tahu, karena aku punya satu permintaan sebenarnya. Tapi aku ragu, apakah permintaan ini akan lolos seleksi dari-Mu. Aku juga malu, dengan kado semacam apa aku harus membalas budi nantinya?
Tolong beri aku bocoran, apa yang harus aku lakukan agar permintaanku dapat jadi kenyataan.

sang Bayi Mulia,
Tidakkah Kau pernah merasa kesepian?
atau merasa bahwa untuk mengatur dunia ini tugas yang terlalu berat?
pernah Kau iseng mempertanyakan sang Bapa?
kalau IYA, berarti kita sama!

Sang Bayi yang mengasihku,
Terlalu banyak hal yang berjalan tak sesuai rencana dan terlalu sedikit kejutan yang menggembirakan.
Sudah tak banyak ingin yang tersisa. Hanya sedikit harap semoga natal ini tak terlewat begitu saja. Semoga tak berlalu tanpa arti. Mungkin tak limpah sukacita atau gema senandung riuh, yang aku perlu hanyalah rasa teduh menghayati betapa mengagumkan Kau meniadakan setiap keegoisan.

sang Bayi, sahabatku.
tolong yakinlah, bahwa aku masih sangat mengasihi-Mu.
Jangan sedih karena aku tidak bisa memberikan penyambutan yang layak.
Sebagai sahabat-Mu, aku ingin memberitahu-Mu, dunia ini bukan tempat yang ramah.
aku tahu, Kau tidak akan kewalahan mengatasinya, tapi
andai kata Kau berencana segera kembali ke surga, tolong tolong bawa aku juga :)
bagaimanapun KelahiranMu itu momen awal kesengsaraan-Mu yang penuh cinta,
tapi jika boleh aku yang egois ini meminta
bisakah momen itu justru jadi akhir dari kesengsaraanku yang penuh dosa?

sang Bayi,
Jika sudah ada waktu, balaslah surat ini. Aku menunggu

salam hangat,
pengagum-Mu,
Claudya Tio Elleossa


"silahkan ambil apa saja Tuhan, kalo ada sesuatu di dunia ini yang saya cari melebihi saya mencari-Mu"



Potongan doa polos ini diucapkan oleh seorang senior kenalan saya di persekutuan lintas kampus yang dia ketikkan di sebuah jejaring sosial tepat saat ulang tahunnya. Jika bagimu itu adalah doa yang mudah? maka standing applause bahkan sujud kagum mungkin harus saya dedikasikan. Karena hingga detik ini saya belum benar-benar berani dengan tulus meminta hal yang sama. Sisi pengecut terlalu takut kehilangan banyak hal di dunia ini yang kenyataannya memang menyenangkan.


Cinta saya pada Pencipta memang masih harus dipertanyakan. sangat dipertanyakan. Saya mendapati bahwa berkata "terserah" pasa Empunya hidup bukanlah hal mudah. Kalaupun mudah, itu jua bukan pilihan favorit saya. Sungguh saya ini hamba keras kepala!

Tidak jauh berbeda dengan kalimat doa pertama yang saya kutip di awal tulisan ini, kalimat "jadilah padaku seperti kehendakMu" juga tak kalah menguras kerendahan hati sekaligus keberanian yang tak terhingga. Lewat satu kalimat itu terkandung penyerahan diri yang luar biasa dan kepercayaan yang utuh, bahwa APAPUN keputusan Pencipta -bahkan walau membunuh mimpinya- adalah hal terbaik.

Lagi-lagi itu bukan pilihan yang akan saya idamkan. Bagi hamba bodoh dan egois ini, menemukan titik temu antara mimpi pribadi dan kehendak sang Khalik jauh lebih merdu terdengar.
Masih terbersit "semoga" agar saya dapat menemukan titik temu itu. Kalaupun tidak, mungkin memang waktunya bagi hamba tak berguna ini untuk belajar rendah hati berkata "terserah" pada Pencipta-nya :)


Tuanku, yang membuat segala serba pantas,
mohon berikan hamba rasa cemas
dengan porsi paling pas
rapuhkan hati dan otak yang terlalu keras
apalagi kemalasan meminta jalan pintas

Ayah semesta yang memegang kendali
atas nafas hidup hingga titik mati
ijinkan anakMu terputus nadi dalam menertawakan diri
karena mengasihani sendiri adalah satu tapak pasti
kala kelam membaca jati diri

Pelatih hidup yang sangar,
latih aku, lewat suka ataupun sukar
beri aku suplemen nyali yang besar
untuk tegar menapaki jalan yang kasar

wahai sang Guru,
ajari apapun yang aku perlu tahu
didik aku walaupun penuh pilu
tapi jadikan jauh
segala sesuatu yang justru memancing ragu

dan untuk Kau yang Maha
untuk Kau sang pemilik saya
jadikan aku kristal kaca
walau rapuh tapi indah
sering terlupa tapi membuat sang Pemilik bangga
dan terpenting dari segala, selalu dijaga agar tak sampai pecah
hanya untuk Kau, aku membuat rima
salam rindu teduh dari gelas kaca



Di masa lampau ada begitu banyak pergumulan yg saya lalui, kadang mulus kadang menguras iman. Menjadi jobless sejujurnya hal kecil bagi saya apalagi di masa jobless ini saya benar-benar punya waktu menggarap mimpi saya.

Sejujurnya, sampai detik ini tak ada jaminan keberhasilan atas perjuangan saya. tapi bukankah lebih terhormat mati di tengah perjalan mencari sumur daripada tewas karena diam meratapi kehausan?

Ada banyak hal yang saya rindukan, dan walau perlahan dan terlihat tak pasti, Tuhan begitu bermurah mewujudkan. Ada banyak masalah yang menempa, walau menguras air mata dan terlihat tak berujung toh akhirnya selalu berakhir indah.




aku tak pernah ragu akan Tuhanku.
aku ragu akan diriku, mampukah tuntas menggarap mimpi ini.
dan ragu akan orang-orang terdekatku, sabarkah menunggu mimpi ini terealisasi.

Jangan khawatirkan aku, kawan!
tapi tolong khawatirkan aku, Tuhan!
Bagaimana jika ada dua orang di satu lokasi yang sama. Orang pertama berprofesi sebagai ojek payung (sebut saja, si Ayung) dan yang kedua adalah seorang tukang semir sepatu (sebut saja dia, Amir)

si Ayung (www.antarafoto.com)
si Amir (www.tempo.co)

Si Ayung memohon hujan deras agar ada rupiah-rupiah yang bisa dia hasilkan hari itu. Hanya berbeda gang, si Amir meminta panas terik, karena itu memperbesar kemungkinan permintaan akan jasa semir sepatu meningkat.

Nika Tuhan kita maha menjawab IYA, sesuai dengan kebutuhan, maka apa yg akan Dia lakukan?
Keduanya sama-sama membutuhkan pemasukan, apakah Dia akan menjadikan hujan di satu gang namun kering kerontang di gang sebelah?

Ilustrasi si Ayung dan si Amir yang saya dengar sekitar dua tahun lalu tidak berujung pada jawaban, namun saya pribadi meyakini bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yg plin-plan. bukanlan Pribadi yg semena-mena mengubah cuaca (walaupun DIA mampu melakukannya), dan pastinya samasekali bukan Pribadi yang bisa diperintah oleh Manusia Berdosa.

Dengan dasar itu, saya terheran seberapa sering celetukan permohonan, baik dalam bisikan iseng ataupun doa serius, Dia kabulkan?

(mungkin) Tuhan telah merencanakan untuk melakukan sesuatu. Rencana itu (mungkin) sudah ada sebelum permohonan muncul di hati manusia yang bersangkutan. Dia sendiri dengan segala kedaulatan yang Kudus (mungkin) menaruh sebuah keinginan sesuai dengan hal yg memang Dia akan berikan, yang telah Dia siapkan.
Apa tujuannya? sederhana, supaya manusia tersebut merasa diteguhkan  tentang sosok Pribadi yg peduli, dan ucapan syukurpun melimpah.

Mari mengambil contoh. Saya terheran bagaimana saya bisa dapat gelar sarjana di usia 20. Walaupun hanya dua hari sebelum usia 21 tiba. Dia menuruti keinginan, yang bahkan walaupun tidak dikabulkan tidak akan mengurangi rasa bangga saya akan gelar sarjana yang Dia (dan dosen penguji saya) percayakan.

Di kasus itu, (mungkin) Dia telah menetapkan bahwa tanggal 10 Juli akan jadi hari untuk gelar sarjana saya, namun untuk menambah sukacita seorang Claudya yang manja, Dia titipkan keinginan akan "sarjana usia 20" di hati ini murni karena Dia tahu, bahwa yg terjadipun akan demikian.

Saya tidak ahli memaparkan tulisan analisa semacam ini. Namun intinya adalah, (mungkin) Tuhan menetapkan dahulu sesuatu terjadi barulah Dia menaruh kerinduan serupa di hati orang yang bersangkutan. Saya tidak tahu beberapa "(mungkin)" yg saya tuliskan itu benar atau melenceng jauh sesuai kebenaran firman Tuhan.

Hanya, saya masih sangat yakin bahwa Tuhan bukanlah budak doa manusia. Dia bukan mesin doraemon. Lebih dari percaya, bahwa ada skenario yang jauh lebih agung, di setiap jawaban "IYA" ataupun "TIDAK" :)

(semoga suatu hari saya bisa dimampukan untuk sedikit menyelaminya lalh mengetahui, apa yang akan terjadi di episode lanjutan Ayung dan Amir)

hari pertama bulan kesukaan.

aku sudah punya semuanya Tuhan..

aku punya pekerjaan satu tahun, yg baru berakhir kemarin (30 Juni) yg mempertemukanku dengan bebagai pengalaman menggugah.

di usia ini aku juga punya kekasih yg membanggakan, yg menyempurnakan hidup dan yg menambah sukacita.

aku juga punya kesehatan dan kesempatan untuk menjalani hobi. baik jalan-jalan atau sekedar menulis dan membaca.

dan walau tak sempurna, aku juga masih punya keluarga. satu mama dan satu kakak yg luar biasa.

tahun lalu, akhirnya setelah 8 semester, namaku punya gelar sarjana.

walau kos, aku punya atap yg menaungi dari panas terik dan hujan
walau tak indah dan melimpah, aku juga punya pakaian yg melengkapi tubuh jasmani.

selalu dan selalu, aku punya orang-orang yg bisa aku perhitungkan sebagai sahabat. yg bisa aku usik kapanpun untuk meminta pendapat.

di sudut ruangan kos, aku punya bukti betapa aku dikasihi: setumpuk barang-barang dari berbagai orang.

aku punya tabungan, walau tak banyak, itu menandakan aku sudah cukup layak memikirkan masa depan tanpa selalu mengandalkan sokongan keluarga. aku punya kemandirian, sungguh, aku punya itu sekarang.

aku punya poin-poin yg sudah dan belum tercapai. dan jika Kau berkehendak, aku punya cukup nyali dan kesempatan untuk mewujudkan.

Tuhan, aku sudah punya SEMUA-nya. terimakasih.
hanya, kurang satu: pekerjaan.

aku sedang mengerjakan bagianku dan menanti keputusan dari-Mu.

jadi, pagi ini. di hari pertama bulan kesukaan, walau agak khawatir, aku mau berterimakasih atas kesempatan menjadi Jobless sejenak, karena menghadirkan waktu yg cukup menghabiskan waktu berkualitas bersama keluargaku, pasangan yg jauh disana, dan tumpukan buku.

permintaanku cuma satu Tuhan, tlong jangan terlalu lama :D
tepat kemarin (15 Juni) saya mengikuti sebuah ibadah sederhana (tanpa liturgi khusus) yang sungguh menyentuh. bukan hanya bagian khotbah, tapi cuplikan doa dan pujian serta. ijinkan saya membaginya..

dibuka dengan pujian uang bgitu indah dari NKB 017.

Andaikan laut tintanya dan langit jadi kertasnya,
andaikan ranting kalamnya dan insan pun pujangganya,
takkan genap mengungkapkan hal kasih mulia
dan langit pun takkan lengkap memuat kisahnya.

reff : O kasih Allah agunglah! Tiada bandingnya!
Kekal teguh dan mulia! Dijunjung umatNya.

(penulis: ini adalah adalah salah satu kidung bermajas personifikasi yang bgitu indah bagi saya. melihat hamparan laut dan langit mengingatkan sebuah kebesaran, pun itu tak mampu dengan sempurna menceritakan agungnya kasih Allah!)

doa pengampunan dosa: "...ya Tuhan, ampunilah kami jika kami berusaha tidak cukup keras mewujudkan firmanMu dalam tindakan kami ..."
(penulis: bagian ini menjadi berkesan karena secuplik kalimat "berusaha kurang keras." itulah masalah saya, dan mungkin anda juga. kita tahu apa yg benar, tapi seberapa sering kita berjuang untuk merealisasikannya? bukankah kita punya mental pecundang untuk kebenaran? terlalu sering kalah dengan kemalasan atau anggapan 'sok suci' dari orang lain.)

khotbah (saya parafrasekan dengan mengandalkan rekaman suara)

para ahli teologi sepakat bahwa "pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu" adalah amanat agung. tapi sebenarnya ada amanat yg Yesus sendiri berkata "keseluruhan hukum taurat dan kitab para nabi" bersumber padanya. bagian itu adalah amanat mengasihi dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi.
kita manusia sering merasa itu sesuatu yg mustahil dilakukan tapi mari merenungkan hal ini.
berapa banyak rupiah yg dihabiskan oleh orang tua untuk anaknya? bahkan sang akuntan paling teliti sekalipun tak berniat menghitungnya.
dan seberapa sering orang tua terbangun karena tangis dini hari bayinya? dan ditengah ketidaknyamanan itu mereka dapat tersenyum lega.
dan saat anaknya bertumbuh belajar belari, lalu mulai mencicipi jalan raya penuh bahaya, di tengah kepanikan ada sebuah rasa bangga bahwa anaknya sudah mulai menjejakkan kaki ke bumi.
hal itu menjadi penegas bagi kita bahwa: Tuhan telah menanamkan KAPASITAS untuk mengasihi dengan sepenuh hati, jiwa, dan akal budi. hanya kadang manusia lupa menggunakannya.

kadang kita juga jadi manusia yg hanya berfokus pada hal-hal besar. kita rela menghabiskan jutaan rupiah untuk melihat keindahan matahari terbenam dan terbit, di berbagai tempat di dunia. padahal matahari terbit dan terbenam bisa dinikmati bahkan di depan rumah. dan seumur hidup kita abaikan keindahannya.
iman kita kadang juga demikian, yaitu kita gantungkan pada hal-hal luar biasa. padahal seharusnya iman disandarkan pada hal-hal sehari-hari yg Tuhan terus sediakan tanpa kita minta. seperti nafas dan detak jantung.


Tuhan kita sungguh Allah yg setia dan BISA diandalkan. mazmur 121 mengatakan "ku melayangkan mataku ke gunung-gunung, dari manakah datangnya pertolonganku"
kalimat ini ditulis dgn konteks bahwa ada kepercayaan akan dewa-dewa saat itu. dewa yg menguasai gunung A, B, dan sebagainya. namun pemazmur melihat tak ada satupun yg dapat diandalkan. sbab mereka terbatas. tak demikian dengan Allah kita. Dia tak terbatas untuk memberikan pertolongan bagi kita.

(doa syafaat)
"Tuhan, bagi saudara kami yg berduka, hiburkanlah.
bagi mereka yg berniat baik terhadap sesamanya, lancarkanlah.
bagi mereka yg masih berkutat dgn kesalahan dan dosa mereka, tobatkanlah.
bagi mereka yg berjuang melakukan kebenaran, kuatkanlah.
bagi mereka yg berulangtahun, tambahkanlah hikmat
bagi mereka yg menunggu jawaban doa, tabahkanlah
..."

catatan penulis: saya tidak ingat persis keseluruhan doa, tapi itu adalah potongan syafaat terbaik yg saya pernah dengarkan :')

ditutup dgn pujian "ini aku utus aku"


ibadah tersebut menjadi satu ibadah paling memorable bagi saya. dan semoga menyempatkan anda mencicipi berkatnya melalui tulisan ini :)



kita manusia selalu punya celah untuk mempertanyakan pencipta. bukan begitu?

kita bertanya kenapa harus masuk jurusan ini atau kenapa harus mengalami itu..
dan kita menuntut penjelasan. itu sudah biasa.

tapi kini, pikirkan. apa kita siap jika Dia mengajukan pertanyaan serupa pada kita.

bagaimana jika Dia bertanya: "nak, apa saja yg sudah kau lakukan dengan talenta yg Aku titipkan padamu?"
atau bertanya: "Aku beri kamu tubuh yg sehat, apa yg sudah kau manfaatkan dari situ?"
atau sekedar bertanya: "kau telah Aku tempatkan dengan kehidupan serba nyaman, berapa kali sehari kau ingat bersyukur pada Ku?"

saya membayangkan, betapa hina dan malunya saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. mungkin hanya bisa membisu.

satu imaji percakapan di pintu surga, belakangan ini benar-benar memberkati saya.

jika saat di surga nanti Tuhan bertanya: 'apa yg kau bawa, hai anakku?'
aku hanya ingin menjawab: 'tidak ada lagi Bapa. semua talenta yg Kau beri sudah aku habiskan selama aku hidup. tak ada lagi yg tersisa di diriku'
aku benar-benar ingin menjawab demikian. karena itu bahkan drama kecil, memegang uang kas, atau sekedar menulis, belakangan aku kerjakan. aku tidak tahu apa bakatku, aku hanya tau ketika ada kepercayaan datang maka itu kesempatan tepat untuk menabung kalimat-kalimat tepat menjawab pertanyaanNya.

sebelum aku yakin bisa menjawab dengan sempurna dan membuat nyata imaji percakapan di pintu surga itu, hanya ada dua yg aku akan belajar lakukan: berkarya dan BERHENTI bertanya :)