Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Karena suatu hal murid les saya mendadak ketakutan akan pikirannya sendiri. Bocah kelas 2 SD yang jago bahasa inggris itu, terisak keras sembari memegang kepala berusaha melupakan suatu kata yang menghantui. Sampai di satu titik kala sudut matanya masih basah, dia menangkupkan tangan sembari menengadah ke saya yang memang lebih tinggi, lalu berkata: "can you pray for me?"


Hati saya luluh, Seorang makhluk polos di hadapan saya dengan sangat santun meminta sesuatu yang tidak akan pernah menjadi terlalu mahal untuk dilakukan: DOA.

Sebagai guru di sekolah rohani, sebagai anak dan adik, sebagai kakak bimbing, sebagai sahabat, dan sebagai pacar, memimpin doa bukanlah hal yang asing. Sedari kecil papa saya sudah membiasakan untuk saya memimpin doa di meja makan. Menampung sebuah private message berisi "dis doakan aku ..." Juga terlampau sering saya terima. Tapi sore ini ada seorang bocah yang sangat bergumul dengan karakternya memohon guru les yang baru ia kenal seminggu untuk menghadap Pencipta. Entah kenapa saya begitu terkesan dengan adegan tadi. Setiap kata dan ekspresinya seakan berjalan lambat berulang di otak. 

Kita tidak pernah tahu dari mana pelajaran akan didapat, kita tidak pernah tahu berkat macam apa yang hadir lewat seseorang, dan jelas kita tidak pernah bisa menerka orang atau kejadian seperti apa yang dapat Tuhan pakai untuk mendidik kita. Siapa sangka dari anak SD, seorang dewasa justru ditegur.

Sangat penting agaknya untuk mengenalkan tentang Pencipta sedini mungkin pada seorang individu. Indah sekali lho saat kita mengalami kesusahan, kita tahu kemana kita harus pergi. Dan bayangkan saja jika itu terjadi sejak sekolah dasar atau bahkan sebelumnya. Tidak ada jaminan memang seorang anak yang dikenalkan Tuhan sedari kecil akan mudah dididik atau pasti jadi anak yang baik, tapi poinnya adalah dia tahu bahwa segala hal dapat dia bawa ke Tuhan dan tahu pasti bahwa Dia dapat diandalkan. Ketika seseorang tahu bahwa dia harus berdoa minta tolong saat PR-nya sulit, saya yakin itu akan membiasakan dia juga merendah untuk masalah-masalah lebih besar dalam hidupnya kelak, untuk belajar tunduk mengandalkan Dia.

Dari sisi saya sebagai orang dewasa, adegan ketulusan tadi mengingatkan apa yang Paulus pernah bilang "Dia menggunakan yang bodoh untuk mempermalukan yang bijak", begitu kira-kira isi suratnya dan begitu pula simpulan kejadian tadi. Saya jarang sekali berdoa belakangan ini, bukan karena saya merasa mampu, tapi simple karena saya tahu bahwa solusi dari masalah adalah tindakan nyata. Saya lupa satu hal: meminta tolong pada Empunya hidup. Meminta arahan dan kekuatan, saat melakukan tindakan-tindakan tersebut. Kadang kita memisahkan antara hal rohani dan non-rohani, untuk yang kita kira perkara rohani kita getol doakan tapi untuk sebagian yang tidak rohani kita cuek bebek dengan pendapat dan pimpinan-Nya. Padahal bahkan perkara degup jantungpun adalah sebuah kemurahan Pencipta. Aneh sekali jika kita mengkotakkan perkara antara "silahkan Tuhan, masuk dan tolong aku" dengan "tidak perlu Tuhan, ini bukan tentang aku dan Engkau."

Seorang bocah yang ketakutan dengan kata "cookies monster" tahu bahwa dia harus lari ke Tuhan dulu sebelum berupaya menghapus ketakutannya. Masakkah kita lupa bahwa kita harus lari padaNya dulu untuk sgala sesuatu?



Semoga memberkati :)
Di tengah sore hari Jumat usai meyeruput segelas kopi susu instan favorit, telingaku nakal menguping percakapan para kawan guru lain. Topiknya tentang beberapa siswa yang populer belakangan akibat segala ulah mereka. Hampir semua guru sudah dibuat geleng-geleng oleh mereka yang (untungnya) terpencar di berbagai kelas. Mereka yang masih gres melepas seragam putih-merahnya membawa berbagai kejutan.

Menghadapi berbagai karakter 'unik' itu memang menciutkan nyaliku. Aku sesekali takut. Di saat yang lain kadang aku terjebak untuk melabeli beberapa di antara mereka dengan sebutan "aneh" atau kadang menghakimi tanpa suara dengan julukan "nakal". Dan aku juga sesekali angkuh.

Ada serpihan enggan saat melihat tabel jadwalku saatnya mengunjungi mereka. Raga yang hadir tak lebih dari sekedar wujud tanggung jawab. Iya, memang kasih dan secuil dedikasi tidak pernah absen walau sesekali itu semua diselubungi pekat rasa takut. 

Masih dengan segelas kopi susu yang tersisa separuhnya, tanganku yang tak berhias cat kuku mulai membuka lembar demi lembar catatan siswa tentang satu topik renungan.
Senyap menyelinap, aku abaikan es kopi susu nikmatku.

Aku merasa bersalah, seketika.
Hidup mereka tak serenyah tawa yang dihadirkan di lorong-lorong sekolah kala 40 menit durasi istirahat tiba. Dengan membiarkan punggung jatuh di sandaran kursi kerjaku aku terkesiak tentang fakta bahwa banyak kisah tak mulus di celah kebisingan yang mereka ciptakan. Orang tua yang kurang perhatian, mama papa yang tak ubahnya dua peserta kompetisi debat, hingga pengabaian besar yang harus dirasakan bertahun-tahun.

Deretan nama yang acap memancing onar ternyata tak instan menjadi demikian.
Selalu ada sebab. Semua ada awalnya.
Terbingkai kisah sendu atau peran antagonis sebagai sponsor segala karakter kurang baik itu.
Tidak ada seorangpun yang dikodratkan menjadi pribadi yang buruk. Tak seorangpun juga yang sengaja diciptakan 'nakal' oleh Sang Khalik. Segala ke-khas-an negatif itu adalah sebuah produk berbagai faktor kompleks. Keluarga, kadang adalah penyebab utamanya. Di lembar yang sama mereka mengaku, tak mudah untuk mengucap syukur atas kondisi keluarganya.

There isn't anyone you couldn't love once you've heard their story -Aister

Membaca ataupun mendengar secuil penjelasan tu sudah berhasil meluluhkan hati, ketakutan dan kesombongan pun turut larut. Dari heran penuh gemas bergeser menjadi sendu kasihan. Mereka yang terlihat aneh, mereka yang gemar membuat onar, dan mereka yang hobi menabung daftar panjang pelanggaran justru adalah pribadi yang paling membutuhkan kelembutan dan kasih bukan justru omelan semata. Kadang yang mereka butuh adalah telinga yang siaga mendengar dan didikan yang dibahasakan dengan kepedulian.




Kadang aku (dan mungkin beberapa guru lain) hanya terlalu sombong, merasa lebih dewasa, lebih normal, dan lebih tahu. Miris memang saat predikat 'guru' membuat kami menjadi hakim atas sesama kami dan bukan justru menjadi perban yang membalut luka.

Bagaimanapun benar memang bahwa baik antara rasa takut dan sombong hanya cocok bersanding dengan sesuatu yang tak utuh kita pahami. Setelah menyimak sedikiiit saja rangkai kalimat jujur siswa, seketika gelas kaca berisi air keruh kopi susu itu menjadi cermin untukku, seraya menegur "lihatlah lebih dekat dan dengarlah lebih jernih, lalu kau akan bisa mengasihi dengan lebih tulus."
ini adalah salinan teks ucapan perpisahan saya di kolega satu tahun yg berkesan bagi saya.

kepada pak wahyu yg jadi partner ngobrol politik yg sangat seru.
pak andreas, pak vincent, dan pakTe yg membuat saya merasa posisi bangku saya sangat strategis krn dikelilinhi orang-orang yg menyenangkan. menceriakan masa-masa membosankan.
kepada miss melita, yang jadi satu-satunya guru yg ingat dan tulus berkata enak pada puding buatan saya. dan menjadi sosok yg sangat rendah hati bagi saya.
buat miss yuland dan lao shi henny yg jadi teman curhat kisah percintaan saya.
buat pak nico partner mengerjakan berbagai tugas, yg juga selalu positif mendukung hobi menulis saya.
buat pak Robin yg pernah berkata "que sera sera" di saat yg sangat tepat ketika saya begitu tertekan, dan akhirnya berhasil menenangkan saya.
buat miss michelle teman ngobrol badminton dan destinasi wisata indonesia. dan mengajarkan satu lagu yg begitu berkesan bagi saya.
buat miss rina yg selalu memberikan respon positif setiap saya selesai membawakan renungan
pastinya juga buat miss nancy teman sekos saya, yg sangat sering mendengarkan kegalauan tentang pergumulan pekerjaan dan memberikan masukan yg begitu memberkati.
saya juga menemukan sosok yg begitu saya kagumi disini, yaitu miss leona dan miss kenyo. dari berbagai karakter yg beliau2 ini miliki, terkhusus pembawaan lemah lembut nan keibuan.

di sekolah ini, yg paling saya kasihi adalah siswa kelas 9, lalu 7D, dan baru belakangan ini saya menyadari betapa saya jatuh cinta dengan kebersamaan di ruang guru ini.

terimakasih atas teguran, tawa, nasihat, cerita, dan semuanya :)

tidak ada saat yg terlihat tepat untuk berkata selamat tinggal, tidak ada saat yg terlalu tepat untuk mengakhiri sesuatu yg berarti. dan saya tidak meminta apapun selain spy bapak ibu guru tetap memperhitungkan saya sebagai seorang teman walaupun tak lagi jadi rekan kerja :)
ini kisah bukan tentang pasangan. ini hanya antara guru dan siswa yang di pertemukan di satu sekolah dan menemukan banyak sekali hal cocok antara keduanya.

setiap siswa bisa duduk diam mendengarkan pelajaran, menjadi pihak yg "tidak lebih tahu" dibandingkan guru. tapi guru yg beruntung adalah yg menemukan siswa yg juga berdiri memiliki wawasan lebih dari dirinya sendiri.
sepertinya saya ada dalam hitungan "beruntung" itu.. karena saya memiliki murid semacam itu: kathleen (dan nama-nama lain yg akan saya tulis berikutnya)

pernah satu waktu saya dan siswi ini mengobrol panjang tentang wedding industry, karena kebetulan orang tua bekerja di bidang tsb. dan saya hanya takjub menemukan bahwa di usianya dia paham begitu banyak tentang industry yg sedang perlahan saya pelajari sejak usia 21 tahun. begitu pula tentang photography. dia sungguh sudah expert di usianya bahkan jika disejajarkan para mahasiswa yang sekedar menenteng dslr tanpa passion di hatinya.

saya mengagumi orang tuanya. bahkan walau kami tak pernah bertemu.
kelak ketika saya sudah punya anak, saya ingin mendukung apapun hobi positifnya. membantu dia meng explore passionnya tanpa mengurungnya pada idealisme kuno saya sebagai orang tua.

begitu iri dengan dia dan beberapa siswa lain yg sejak SMP sudah tau apa passion nya. ah sungguh! saya pun ingin begitu.
doa saya hanyalah supaya bara passion itu tidak dipadamkan pertimbangan semu semacam: "apa kata orang" dan "berapa uang yg bisa aku dapat"

capture'an tweet ini merupakan award besar bagi saya. 


we just 'click' on so many ways indeed.
so thank you Kathleen!
terimakasih kelas 9! selamat lulus SMP!
selamat memasuki masa putih abu-abu yg sering dibilang sbg masa paling indah.
grab every opportunity and have fun!



-with love, miss Adiss.

Lihatlah betapa korupnya negeri ini,
ketika pejabat seakan tak punya malu lagi.

Penjajahan bukan lagi soal senapan,
tapi komisi besar menutup mulut perjuangan negeri.
Suap dimana-mana, korupsi merajarela.

Makin tak heran sebuah judul film berkata: "sungguh lucunya negeri ini"

Tapi selain itu semua, pernahkah menengok begitu melimpahnya kearifan lokal negeri ini?

Satu prinsip kuno yang baru saya pelajari hari ini adalah: "tuna satak, bati sanak"
yang artinya, kadang tidak untung berupa uang tak apa, asal jaringan makin meluas.
wah wah, para motivator dunia yang menekankan tentang jaringan daripada profit dollar bisa jadi meniru falsafah kuno kita ini.
selain itu, selama saya sebulan lebih di negeri asing, saya nyaris tidak pernah melihat ada percakapan antara dua orang yang tidak mengenal di sebuah bus kota atau tempat umum tertentu. bandingkan dengan disini, percakapan kecil di bemo hanya untuk sekedar bertanya "turun mana mbak" akan kita temui dengan mudah.
kebiasaan-kebiasaan luhur negeri ini begitu banyak. belum lagi jika kita bicarakan makanannya yang beraneka ragam, kain tradisional dari banyak tempat yang sungguh menawan.
surga dunia paling mainstream pun tak pernah sepi.
gunung megah yang menjulang.
prestasi anak negeri yang tak pula bisa dipungkiri.
jadi jika anda menanyakan saya, kenapa saya mencintai Indonesia, saya bisa jawab dengan sangat mudah.
saya cinta keberagamannya, saya cinta alamnya, saya cinta makanannya, saya cinta senyum sapa ramah orang-orangnya, saya cinta kemerduan alat musik tradisionalnya, saya cinta hampir semuanya di negeri ini.
hanya dua yang saya benci, pemerintahannya dan para golongan sok agamis yang terus memaksakan homogenitas negeri.

sang guru senior di ujung percakapan sore tadi bertanya "miss adiss ini kok bisa cinta banget sama Indonesia" lalu saya dengan lugu menjawab "saya juga gak nyangka bisa cinta banget sama negeri ini bu"

jadi moral percakapan tadi sangat sederhana, kecintaan ke Indonesia itu mudah. asal sejenak berhenti melihat pemerintahannya. :)


Tidak perlu menjadi seorang berparas rupawan dan ikut acara tahunan bergengsi di sebuah stasiun tv swasta, untuk mendapatkan panggilan “miss” :)
Sebuah tanggung jawab sebagai seorang pendidik melekat dibalik empat huruf itu.
namun panggilan yang sama mengingatkan bukan hanya tentang beban, tapi juga sukacita.
Bukan hanya tentang pekerjaan tapi panggilan
diri saya yang sebenarnya tidak pernah terungkap di ruang guru. Disana hanya tempat untuk singgah dan mengambil jeda di tengah kerasnya kehidupan kelas.
Agaknya seperti kehadiran mall di tengah perjuangan suka duka universitas.
di kelas, saya jatuh cinta.

Di durasi 40 menit di antara bel yang berdering, ada banyak cerita yang sudah dibagi, bahkan air mata pun pernah tercurah.
Di kelas, saya bermain peran. Kadang marah layaknya seorang panglima militer, kadang menurunkan nada dan berperingai lembut sebagai ibu.
Kadang saya hanya tertawa dan mengijinkan saya ditertawakan -bukan karena rasa hormat akan guru terlalu murah- tapi karena saya sedang ada dalam posisi sebagai kawan mereka.
Di kelas saya dipaksa menjadi wikipedia, mengetahui banyak hal dan harus selalu siap menjawab banyak pertanyaan.
Di kelas, saya menjaga agar sikap saya terpuji dan jadi teladan. Namun tak jarang saya buka kebobrokan dan kekonyolan masa lalu, agar mereka tidak jatuh pada lubang yang serupa.
Di kelas saya belajar, itu yang terpenting. Dan membuat saya tertunduk mengagumi hukum semesta yang agung di segala kepercayaan: “semakin banyak kamu menabur, semakin banyak kamu menuai”




Dan di ruang yang sama, saya menemukan alasan untuk bersyukur, hari lepas hari.
Saya rasa, saya telah gagal dalam mendidik murid dalam kedisiplinan. Pada akhirnya, saya sering kalah dengan rasa tidak tega. Saya bukan guru yang baik. Kelas saya berisik. Tapi bagaimanapun, saya tetap guru, saya membagi ilmu.
Di sela-sela usaha menjadi seorang yang layak mendapat hormat mereka, sekarang saya justru mengubah nada doa saya, agar Pencipta melayakkan saya mendapatkan kasih mereka. Itu berharga.
Tidak lama lagi saya akan menjadi mantan guru mereka, tapi selama panggilan “miss” itu bersua, maka saya akan tetap jadi seseorang yang dengan taat duduk diam membalas chat ataupun memberi telinga untuk mendengarkan.

Masa mendidik di bangku sekolah hampir habis. Masa bercengkrama di kelas, telah diambang batas, tapi masa jatuh cinta pada mereka akan tinggal tetap, selama mereka masih mau memanggil saya “miss”
... lalu saat saya membuka pintu, para siswa membawa lilin kecil di kelas, berbalik badan menghadap saya dan menyanyikan lagu "happy wedding miss adiss" dengan menggunakan melodi dari lagu selamat ulang tahun.
dimulai dari pertanyaan salah seorang siswa yang tergolong kepo tentang kapan saya menikah, memorable moment inipun dimulai. Dengan jujur saya jawab "usia 26" tanpa diduga, siswa tersebut berteriak membroadcast-kan secara lisan ke teman sekelas. kericuhan di kelas membuat pesan yang disampaikan tidak persis sama dengan apa yang diterima. Dengan respon terkejut mereka berteriak "miss adiss tanggal 26 menikah"
percakapan ini jadi awal mula gosip tanggal pernikahan saya.
saya hanya tersenyum, tanpa membenarkan dan tidak pula berusaha membunuh antusiasme gosip itu. pada akhirnya, tanpa disangka, penerimaan saya akan gosip ini justru jadi awal mula salah satu catatan terbaik selama satu tahun menjadi guru ini.
cake, lilin-lilin kecil, lagu, pie susu, dan kartu ucapan yang super imut menjadikan tanggal 26Februari2014 begitu berkesan. Februari ini benar-benar magical buat saya.

tanpa mengurangi makna dari kata "wedding" itu sendiri, saya mengucap syukur gosip pernikahan ini telah mengakrabkan saya dengan siswa. Semakin sempurna karena ternyata seseorang khusus, dengan begitu antusias menjadikan gosip ini sebagai doa baik bagi kami berdua. dan dengan sangat lugu berkata "lima tahun lg ya Diss" :) dan saya dengan senyum berkata "amin"

untuk melengkapi keceriaan hari itu, saya dengan sengaja membuatkan jelly dengan kreasi penuh warna. Cheerful jelly -begitu saya menamakannya- akhirnya dilahap habis oleh para siswa. Sempurnah!

"big thanks 9C. for the surprise! :D walaupun gak nikah beneran, tapi tetep excited. saya anggap ini doa. selamat ketemu di wedding saya sesungguhnya!! :D once again, thank you :D"
keputusan menjadi guru satu tahun ini, bisa saya simpulkan sebagai salah satu keputusan terbaik yang saya buat. saya hanya bisa tersenyum kecil, "Happy Wedding miss Adiss" telah memeriahkan minggu terakhir Februari yang sungguh penuh tekanan dan tanggungan kerjaan. and for that, I thank God.
ini sebuah karangan dari John Wayne Schlatter, yang tidak sengaja saya temukan ketika mengisi siang yang kosong sendirian di perpustakaan sekolah..

aku Seorang Guru

seharian, 
aku telah diminta menjadi seorang aktor, 
teman, penemu barang hilang, psikolog, 
pengganti orang tua, penasihat, 
pengarah, motivator, 
dan penjaga iman

Meski tersedia peta, 
grafik, formula, kata kerja, cerita dan buku
Aku sebenarnya tidak punya apa-apa untuk diajarkan,
karena murid-muridku sebenarnya hanya mempunyai diri mereka sendiri untuk belajar,
dan aku tahu dibutuhkan seluruh dunia untuk memberitahu siapa diri kita

aku sebuah paradoks. Aku paling keras berbicara ketika aku paling banyak mendengar
Karunia terbesarku terdapat dalam apa yang aku siap terima dari murid-muridku dengan sikap menghargai.

kekayaan materi bukanlah tujuanku, tapi aku seorang pencari harta karun, yang selalu mencari peluang baru bagi murid-muridku
-peluang untuk menggunakan bakat mereka- dan selalu mencari bakat baru yang kadang tersembunyi di balik sikap menyerah

akulah yang paling beruntung di antara semua pekerja

seorang dokter diizinkan untuk mengantar kehidupan ke dalam dunia dalam satu saat ajaib, aku diizinkan melihat kehidupan itu dilahirkan kembali setiap hari
bersama pertanyaan baru, gagasan baru, dan persahabatan baru.
seorang arsitek tahu bahwa jika ia membangun dengan teliti, bangunannya mungkin akan berdiri selama berabad-abad. Seorang guru tahu bahwa jika ia membangun dengan cinta dan kebenaran, apa yang ia bangun akan abadi

aku seorang pejuang, setiap hari bertempur melawan tekanan teman, sikap negatif, rasa takut, cara berpikir seragam prasangka, kebodohan, dan kelesuan.
tapi aku memiliki sekutu hebat: kecerdasan, rasa ingin tahu, dukungan orang tua, berbagai individu, kreatifitas, iman, cinta, dan tawa
semua bergegas menghampiriku dengan dukungan yang luar biasa.

dan kepada siapa lagi aku harus berterimakasih atas hidup indah yang begitu beruntung bisa kujalani ini selain kepada kalian, masyarakat, dan para orangtua. karena kalian telah memberiku kehormatan besar dengan mempercayaiku untuk mendidik sumbangan terbesar kalian bagi keabadian, anak-anak kalian.

aku seorang guru.. dan untuk itu aku bersyukur kepada Tuhan setiap hari


tulisan ini indah sekali.. saya bisa membayangkan guru-guru saya dulu merasakan itu semua, dan juga rekan kerja saya sekarang yang telah menikmati keindahan sebagai tenaga pendidik jauh lebih dulu daripada saya.

Hanya satu tahun menjadi guru -di sekolah ini, itupun jauh dari kata sempurna dan samasekali tidak layak merasakan emosi yang nyata tersirat dalam tulisan diatas.. Saya hanya cukup yakin, dan terus berharap bahwa satu tahun saya sebagai guru tidak berlalu sia-sia.. semoga ada pesan dan teladan yang nyata.. atau setidaknya sepotong janji persahabatan dengan mereka..
saya beryukur pada Tuhan atas setiap suka, duka, dan segala-sesuatu-diantara-keduanya selama menjadi guru. lebih dari itu, saya bersyukur karena saya diberi murid-murid yang luar biasa, yang mendudukkan saya kembali untuk belajar! :)
selamat hari Guru! untuk para Guru. dan untuk setiap kita yang dipercayakan Tuhan menjadi guru untuk satu sama lain manusia di bumi ini..

saya menutup tulisan ini dengan quote yang sungguh-sungguh sangat sederhana
"jika kau bisa membaca tulisan ini, berterimakasihlah kepada seorang guru!" -Stiker Bemper
"banyak yang telah kupelajari dari rekan-rekanku 
lebih banyak lagi dari guruku,
tapi yang paling banyak dari murid-muridku" -Talmud
kebanyakan diantara kami, memiliki tim jagoan bola sendiri.
beberapa mengidolakan sosok CR7,
sebagian memuja tim merah (arsenal dan MU),
beberapa yang lain sangat mengagumi si Kaka,
pun ada yang bangga dengan jersey Barcelona
tapi yang indah, yang sangat saya sukai dari kelas saya adalah ketika kami tunduk bersama mendoakan timnas Indonesia

setiap hari selalu ada waktu untuk melakukan renungan di kelas. kadang saya, kadang murid saya yang memimpin. tapi setiap hari kami memliki pokok doa tertentu.
hari Selasa kami akan mendoakan secara khusus salah satu teman sekelas
hari Kamis kami akan mendoakan secaa khusus salah satu guru atau staff di sekolah
dan Hari Jumat kami akan mendoakan bangsa dan negara yang tercinta ini

awalnya mereka enggan dan merasa aneh karena saya mengajak untuk mendoakan negara ini setiap minggu. tapi seiring berjalan, mereka yang justru memberi saya ide bagian apa di negeri ini yang perlu didoakan.
semisal waktu kami sudah mendoakan pemerintahan, bencana, pemberantasan korupsi, saya semacam kebingungan apa lagi isu spesifik yang bisa didoakan. lalu seorang siswa memimpin renungan tentang "menghargai makanan" dan mereka juga yang memberi usul, untuk mendoakan orang-orang yang tidak berkecukupan untuk sesuap nasi.

selain pokok doa "rutin" saya selalu saya menanyakan hal lain apa yang mau didoakan. misalkan "ada ulangan? atau ada keluarga yang sakit?" dan satu waktu, ketika saya bertanya demikian beberapa siswa menjawab "doakan timnas miss, lawan Korsel" awalnya saya tertawa, menganggap itu hanya bercandaan. tapi raut wajah mereka menunjukkan bahwa asumsi saya salah.
saya akhirnya 'tunduk' pada permintaan polos nan tulus itu.
pertama kalinya dalam hidup saya saya membawa doa sebuah permainan bola.
saya geli, bercampur bangga sebagai anak negeri, juga merasa terharu akan nasionalisme kecil ini.

mendoakan timnas di kelas kami bukan hanya berlangsung satu waktu itu, namun hampir setiap ada pertandingan timnas, kami akan menyempatkan tunduk kepala dan berdoa.

selain membawa dalam doa, "bola" menjadi berkesan selama saya jadi guru saat ini karena tidak jarang obrolan tentang bola menjadi perekat keakraban saya dengan beberapa siswa. kerap kali, saat ada pertandingan dua klub besar saya menanyakan prediksi mereka. sebagian akurat, kebanyakan yang lain meleset jauh. dan kadang sebaliknya, mereka yang "mendatangi" saya (secara langsung ataupun di layar bbm) untuk mengabari tentang tim kesukaan saya, atau hanya sekedar menanyakan opini.
mereka adalah guru saya tentang bola, karena mereka jauh lebih banyak tahu..


dan terakhir, sepakbola yang terwujud dalam lapangan kecil, atau futsal menjadi tontonan favorit saya selama jadi guru.

futsal tidak pernah menjadi lebih menarik dibandingkan saat ini
setiap kamis ada kegiatan ekstra kulikuler. saya selalu keluar ruang guru lebih dulu, hanya untuk duduk di depan dan melihat keceriaan anak-anak SMP berebut bola. seakan tidak ada duka di muka bumi ini. seakan dunia ini hanya miliki mereka yang ada di lapangan. dan senyuman mereka seakan berbisik


"lupakan sejenak tugas dan ulangan. ayo buat gol, kawan!!"




pengalaman dengan "bola" ini akan jadi salah satu bagian favorit saya selama menjadi guru.. dan saya bersyukur atasnya..
bagaimana perasaanmu jika seorang di sekitarmu mendapatkan hal baik, lalu mengabarimu. ikut senang bukan? entah itu keluarga, ataupun teman. tapi kabar gembira sebenarnya menjadi jauh lebih manis ketika kita tahu bagaimana perjuangan yang ada di balik pencapaian tersebut.

misalkan, temen SMP saya Reni. dia pengen banget masuk salah satu SMA terkenal di kota lain. saya jadi saksi mata bagaimana dia belajar untuk tes masuk SMA tersebut, bahkan di hari-H tes, saya ikut ke kota itu buat nemenin dia, ya sembari berharap itu bisa buat teman dekat saya itu makin semangat. pengumuman baru keluar sekitar 1 bulan setelahnya. dan saya menunggu pengumuman itu seakan saya adalah peserta tes-nya. kabar gembira pun datang, dia diterima!! rasanya happy sekali. bukan pencapaian saya, tapi karena saya tahu bagaimana dia menginginkan hal itu, dan bagaimana dia berjuang untuk hal itu, kemenangannya menjadi hal yang manis juga buat saya.

hal semacam itu terjadi beberapa kali, tapi hari senin lalu rasa bahagia semacam itu kembali muncul dengan warna yang berbeda. tidak lagi tentang teman atau saudara, tapi dari murid saya.

ceritanya begini..
saat saya part time sebagai guru (di sekolah yang sama, selama 3 bulan) ada siswa saya yang mengikuti sebuah tes beasiswa sekolah di Singapore.
penantian hasil pun berjalan. dari tiga siswa saya, ada satu orang yang benar-benar menginginkan beasiswa itu, dia belajar ekstra dibandingkan lainnya.
hari pengumumanpun tiba, dan saya mem-bbm dia sekitar jam 7 malam untuk menanyakan hasilnya, sembari berharap hasil terbaik yang muncul di layar smartphone saya.
ternyata, cerita lain yang terjadi. dua temannya sudah dihubungi bahwa mereka di terima, tapi sampai jam tujuh malam dia justru tidak mendengar hasil yang dia harap-harapkan. lalu ditengah keputusasaan penantian itu, dia tiba-tiba bercerita bahwa hal demikian sering terjadi. dia kalah dengan temannya yang level usahanya tidak sekeras dia.
kadang hidup tidak adil, sepertinya begitu kesimpulannya.
saya berusaha menghibur dia, disaat yang sama saya merasa marah untuk sejenak, entah kepada siapa. sampai malam itu saya men-tweet beberapa ekspresi ketidakterimaan saya tentang ketidakadilan hidup semacam itu.

jam 9 obrolan kami berhenti. itu batas malam saya untuk chat dengan murid saya.
sejam kemudian, dering HP saya berbunyi dan mengetahui bahwa sebuah chat masuk, dan tidak lain dari siswa yang sama. isinya? "miss akhirnya aku ditelpon. hahaha"
saya ingat sekali. itu kalimat bahagia yang samasekali tidak jelas. tapi tawa-nya mengarahkan saya pada satu kesimpulan bahwa itu tentang beasiswanya.
dia diterima!! semacam save the best for the last. jam 10 malam, untuk sebuah telpon formal itu agak mustahil. entah kenapa selarut itu, tapi siapa yang peduli, kabar gembira tetaplah kabar gembira, jam berapapun tiba-nya, tidak berubah!
saya lega bercampur bangga, karena hidup (masih) adil, karena dia berhasil, dan karena saya diikutkan perjuangannya walaupun hanya secuil.

itu terjadi bulan Juni 2012. kabar itu jelas membuat anak tsb tidak berstatus siswa Gloria lagi di tahun ajaran berikutnya. kamipun lama tidak bertemu, sampai senin kemarin dia datang kembali ke sekolah. berpamitan kepada guru-guru karena keesokan harinya dia akan berangkat. tidak disangka, dia menghampiri meja saya, dan kami menyempatkan mengingat percakapan kami malam itu. kamipun tersenyum kecil.
jika dihitung saya hanya mengajar dia tiga bulan, itupun sebagai seorang part timer. tapi saya bersyukur sekali, tiga bulan dengan anak tersebut tidak berlalu tanpa cerita.

:) selamat berjuang di negeri orang Terry. God bless you!

*setelah menulis ini, saya menyimpulkan satu hal. mungkin inilah yang membuat profesi guru, walaupun gajinya (dianggap) kecil, tapi lebih bahagia dan awet  muda. melihat siswa-siswa yang diajar meraih 'sesuatu' di hari depannya, adakah kabar yang lebih indah? berapakah kompensasi uang yang bisa menandingi rasa bangga?
Jika ada yang berpikir bahwa guru hanya mengajar, Anda salah besar! Ada banyak tumpukan koreksian yang menanti untuk digarap, ada materi-materi yang terus berjalan dan memaksa seorang guru memutar otak mencari metode yang mengasyikan, dan beban-beban administrative lainnya. Akhir semester hampir tiba, dan jelas semua tanggungan jadi memuncak.

Di tengah kejenuhan itu, Tuhan sediakan penghiburan
.
Dan sepanjang saya mengingat, setiap minggu Tuhan berikan satu penghiburan tersendiri. Ini adalah tulisan tentang bagaimana Tuhan memimpin saya dalam menjalani profesi berharga ini, dan mengijinkan siswa saya dengan cara polosnya sendiri membuat saya tahu bahwa saya dihargai. Samasekali bukan tulisan untuk menyombongkan diri. Jika nantinya saya lemah, saya berharap saya kembali bisa mengingat penghiburan-penghiburan Tuhan melalui tulisan ini, dan kembali menjadi kuat.

Penghiburan pertama yang paling saya ingat, beberapa bulan lalu. di kelas bahasa mandarin siswa diminta untuk menuliskan satu paragraph tentang sekolahnya dalam bahasa mandarin. Salah satu hal yang harus dicantumkan adalah pelajaran kesukaan. Seorang siswa (yang terkenal jenius, sempurna di setiap pelajaran) menanyakan ke Lao Shi-nya, apa bahasa mandarin pelajaran PKN. Hal ini tidak saya dengar langsung tapi dari cerita lao shi yang bersangkutan, saat makan siang. Hati saya berbinar saat itu. Seorang murid terbaik, memilih pelajaran PKN sebagai pelajaran favoritnya. Di lain hari, tiba-tiba dia mengirimkan sebuah capture’an (sayangnya terhapus L) percakapannya dengan temannya yang saat hari itu (tepat saat ada pelajaran PKN) harus mengikuti sebuah kegiatan di luar sekolah. Bunyi percakapannya kira-kira begini:
K.A : kan enak besok gak ikut pelajaran
E: haha iya dong. mau ikut?
K.A : engga. seneng gak ikut pelajaran PKN?
E : lho engga :’( pengen ikut pelajaran PKN
Sederhana sekali bukan? Tapi saya menghargai hal itu. Setidaknya pelajaran yg saya ajar tidak menjadi momok bagi siswa-siswa saya.
Lain waktu, seorang anak dari kelas lain bertemu saya dan berkata “lho miss, kenapa PKN itu cuma seminggu sekali. Gimana bisa cinta bangsa kalo PKN aja cuma seminggu sekali” hahaha masuk akal sih celetukan siswa polos ini. Dan dari anak yang sama dia berkata (baru beberapa hari yang lalu) “enakan PKN hari senin miss, biar senin ada yg seru pelajarannya. Sekarang diganti ke hari selasa, hari seninnya jadi berat banget miss” :’) salahkan jika saya merasa dihargai dengan hal-hal semacam itu?

Dan yang paling ekstrem, dan sekaligus membahagiakan.

Saya pernah berceletuk (kelepasan bicara) bahwa saya mengajar mereka hanya 1 tahun. Dan tidak dikira respon mereka sungguh mengharukan. Hampir semua langsung bertanya “lho kenapa miss” saya pun akhirnya sedikit menjelaskan rencana saya untuk pekerjaan yang lain. Ada yang mengira pekerjaan saya tetap sebagai guru tapi di sekolah lain, dan dia dgn sangat esktrem berceletuk “aku ikut pindah kemana miss ngajar” saya tahu, itu hanya celetukan semata, tapi lucu dan membahagiakan juga kalau diingat. Lalu anak yang lain dalam kelas itu berkata “lho pelajaran PKN nanti jadi boring lagi, kayak pas SD”

Dan banyak hal-hal kecil semacam itu yang saya boleh alami. Benar-benar memberi kekuatan ketika kejenuhan mulai menyerang.


Ada banyak orang hebat, melalukan hal yang baik dengan caranya, Tapi menurut saya, hanya yang beruntung yang diijinkan tahu bahwa apa yang mereka kerjakan itu dihargai orang, hanya yang beruntung yang diijinkan tahu bagaimana ketulusan orang lain menilai apa yang mereka kerjakan. dan puji Tuhan, saya termasuk dalam hitungan orang beruntung tersebut!






setelah terinterupsi banyak sekali koreksian, akhirnya bisa mengetik sesuatu malam ini.
kali ini saya hanya ingin berbagi sejauh apa anak-anak SMP ini membuat saya bukan hanya menjadi tenaga pengajar tapi juga kembali belajar :)

minggu lalu adalah jadwal ulangan harian PKN untuk kelas 7, di salah satu kelas (7C) ada satu anak yang cukup berisik. Awalnya hanya dengan teguran kecil, lalu berulang dan mengganggu teman-teman lainnya dan memaksa saya untuk menggertak bahwa saya akan mengeluarkan dia jika masih saya berisik. sayangnya dia tetap berisik. saya menghampiri mejanya dan berkata "kamu mau keluar?" dan seketika dia keluar. padahal maksud saya kali itu, sekali lagi menggertak. setelah kelas usai, para siswa moving. saya panggil anak tsb. anak cowok yang sudah jadi bulan-bulanan para guru lain ini masuk ke kelas dengan mata merah. DIA MENANGIS!! saya kaget, iba, dan masih juga terlintas marah. saya ajak dia bicara. lalu terungkaplah bahwa anak ini tidak terima dengan keputusan saya untuk mengeluarkan dia sendirian, padahal dia kelas itu ada beberapa anak selain dia yang juga menyumbangkan keributan di tengah-tengah keseriusan mengerjakan ulangan. masing-masing kami merasa benar, dan di saat yang bersamaan kami sama-sama bersalah. karena dia belum selesai mengerjakan ulangannya, saya berikan kesempatan dia untuk mengerjakan bagian yang belum dikerjakan esok harinya sepulang sekolah.
singkat kata, saya menunggu di ruangan lalu dia datang. hati saya masih terlintas sedikit kemarahan sehingga ketika dia masuk mengetuk pintu saya tidka melemparkan senyum samasekali. tapi ternyata jauh berbeda dengan dia. dia masuk dengan ceria dan kepolosan bertanya "miss, jadi kan hari ini" lalu menanyakan "soalnya tetap atau ganti miss?" juga bertanya "lho miss aku dikasih waktu berapa lama" dan rentetan pertanyaan dengan nada antusias khas remaja. saya sempat terdiam lalu menyadari hal yang saya -sebagai gadis 21 tahun- tidak mampu lagi lakukan. dia sepertinya lupa begitu saja air mata kemarahannya ke saya 1 hari sebelumnya, dia datang ke saya hari itu tanpa mengingat lagi bagian yang tidak menyenangkan. ya itulah yang semakin sulit orang dewasa lakukan, menganggap lalu perasaan negatif. memaafkan dengan tuntas, tanpa terus mengungkit kembali kemarahan dan kekecewaan. berapa banyak dari kita yang bisa melakukan hal itu?
misalnya ketika saya ada masalah dengan ibu kos, dengan mudah saya beberkan kesalahan ibu tsb. saya mengingat, mengungkit, dan memaafkan tanpa ketuntasan. sepertinya bukan hanya saya yang melakukannya, bukan hanya saya yang kehilangan kemampuan "melupakan." agaknya usia bertambah membuat memori otak terus bertambah, sehingga semakin banyak ruang untuk mengingat dan menyimpan banyak hal, yang sayangnya bukan hanya hal positif tapi juga emosi negatif.
terimakasih Georgiano yang mengingatkan saya hal ini :)
ah sekarang sudah jadi guru..
kontrak selama satu tahun kedepan sudah dimulai.

sejauh ini, sama sekali tidak menyesal tentang keputusan yang saya ambil, dengan mengeliminasikan pilihan bekerja di bank, dan memilih institusi sekolah.
walaupun dipusingkan dengan berbagai perangkat mengajar, tapi puji Tuhannya merasa begitu damai. dikelilingi atmosfer persekutuan dan tawa-tawa para siswa.
dan anehnya, ada siratan rasa bangga yang tidak bisa diingkari. bisa mengajarkan tentang Indonesia ke siswa-siswa setelah saya delapan semester belajar bagaimana negara ini berusaha untuk strategis bergerak dikancah internasional (walaupun kenyataannya tidak strategis sih -_-) daaaan cukup menantang juga mengajarkan tentang globalisasi, yang anak HI pahami dengan penuh teori tinggi, untuk ke tataran siswa. anggaplah ini satu tahun mengabdi, satu tahun untuk MEMBUMIKAN ilmu yang sudah saya terima ^^

kalo mau dibicarakan, kenapa saya memilih pekerjaan ini, saya punya tiga alasan.
pertama,  saya tiga bulan bekerja sebagai part timer di sekolah ini. saya mengajar kelas 8. mereka adalah murid pertama saya. entah, ada keinginan untuk melihat mereka lulus ke SMA. dan caranya adalah dengan kembali ke sekolah tsb.

kedua, karena saya butuh penghasilan. setelah kepergian penopang keluarga, tanggung jawab saya jelas tidak semakin kecil. saya memutar otak sebenarnya bukan (hanya) tentang kebutuhan hidup bulanan di kota rantauan, tapi tentang kebutuhan wisuda dan skripsi (yudisium juga) yang jelas menelan banyak biaya.

ketiga, simply karena ada tawaran. selain sekolah ini dan bank, saya belum melamar dan ditawari pekerjaan lain. dengan ijazah SMA saat itu, mau kerja apa?

dan sejauh ini, intinya saya jatuh cinta. tahun depan akan jadi sangat berat. waktunya mengucapkan perpisahan. waktunya mencari pekerjaan idaman. yang jelas tahapan kehidupan sebagai guru ini akan memperkaya saya. itu pasti ! :)

berminat? hubungi saya ^^
mungkin kalau harus menuliskan biodata, dan ada pertanyaan hobby, saya akan isi "bikin puding" ^^