Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Seorang kakek tua dengan deret panjang angka di rekeningnya memutuskan untuk membeli sepetak tanah. Seperti biasa, tetangga-tetangga yang sirik mulai mencibir. "Si kakek itu sudah tua, pasti tanah itu dipersiapkan untuk makamnya kelak." Begitu ucap seorang ibu yang berlebihan berat badan sekaligus berlebihan prasangka. Namun keputusan sang kakek tampan itu sepenuhnya berbeda, dia mengeluarkan ekstra uang untuk menjadikan sepetak tanah tersebut sebagai garasi untuk mobil klasik barunya. Di meja makan saat melahap santapan malam, sang cucu perempuan dengan polos menanyakan motif pendirian garasi baru itu. Dengan senyum bersahaja lelaki beruban itu menjelaskan "aku bisa saja menggunakan tanah ini untuk makamku, tapi itu berarti aku yakin akan segera meninggal dunia. Sedangkan aku ingin hidup lebih lama lagi. Aku memilih membuat garasi karena aku percaya dan berharap masih ada cukup waktu untukku menambah deretan koleksi. Sebuah kejenakaan besar saat kita berharap hal baik namun tindakan kita menunjukkan hal sebaliknya."




Manusia senantiasa diperhadapkan pada pilihan untuk mengambil tindakan, itulah keniscayaan. Itu sudah fakta lawas bukan? Namun sadarkah kita bahwa setiap pilihan kita selalu didasari akan dua kemungkinan tujuan. Seperti analogi sang kakek, satu pilihan yang diambilnya: membeli tanah. Namun motif pemanfaatannya menjadi jauh berbeda. Pertama adalah menyiapkan untuk makam, yang mencerminkan ketakutan bahwa tidak ada cukup lagi waktu baginya menikmati hidup. Sebuah tindakan was-was akan fakta bahwa usianya sudah semakin mendekati ajal. Sedangkan yang kedua menunjukkan siratan harapan bahwa dia masih memiliki cukup waktu untuk menikmati hidup lewat deretan mobil antiknya. Satu tindakan yang sama, mengandung dua makna motif yang sepenuhnya bertolak belakang: ketakutan atau harapan.

Ketika saya memilih mempertahankan Riyan itu bisa saja karena saya takut tidak ada lelaki lain yang lebih baik dari dia, namun faktanya saya mempertahankan dia karena saya punya harapan baik untuk masa depan kami bersama.

Saat kita memilih mengalokasikan dana khusus membeli sebuah gadget baru, itupun didasarkan dua garis besar motif. Ketakutan dikatakan ketinggalan jaman atau harapan bahwa segala akses kemudahan teknologi akan mempermudah hidup kita.

Saat kita memilih giat menyelesaikan skripsi atau tesis, tak jauh berbeda halnya. Itu antara kita takut malu tertinggal teman seangkatan atau karena kita memang optimis setelah gelar sarjana/master didapat banyak peluang akan terbuka lebar.

Sudah fakta yang populer bahwa kita terus dan terus memilih sesuatu, tapi yang jarang kita ingat adalah kenapa kita memilih hal itu? Serangkaian tindakan yang menindaklanjuti pilihan sangat bergantung pada motif tersebut. Ketika saya membuang kesempatan double degree, itu sepenuhnya didasarkan pada ketakutan. Sebagian orang berkata itu hal realistis, titik diri menyadari kemampuannya. Tapi kemudian terungkap bahwa itu murni sisi pengecut saya yang menolak untuk melakukan usaha ekstra.

Hampir selalu optimisme disinonimkan dengan utopis dan ketakutan dilabeli kata realistis. Seperti si kakek, entah cucu, kerabat, atau tetangganya pasti ada yang terheran dan menertawakan pilihan membangun sebuah garasi. "Wong wes tuwek." Begitu mungkin isi cibirannya. Satu-satunya yang tahu arti harapan dan sukacita soal garasi dan koleksi itu hanyalah dia seorang. Begitu juga kita. Hampir setahun jatuh bangun di pergumulan pekerjaan, saya membuktikan mitos bahwa kadang orang lain cenderung menertawakan pilihan kita yang berlandaskan harapan. Mereka kadang tanpa sengaja melemparkan kosa kata yang merujuk pada ejekan pada kita, murni karena kedangkalan mereka memahami motif atas pilihan tersebut. Tak heran jika Paulo Coelho pernah berucap 'you dont need explain your dream, it belongs to you.' Selama kita tahu persis apa pondasi pilihan kita, suara lain tidaklah terlalu utama.

Penting untuk tegas memilih, namun juga sangat penting untuk memastikan bahwa kita sedang berdiri di batu harapan dan bukan justru berjinjit di tepi jurang ketakutan. Setiap pengalaman pahit yang sesekali saya sesali kebanyakan disponsori tindakan yang mendustai motivasinya. Dalam angan saya berkata percaya, namun tindakan justru mengarah ke hal sebaliknya. Seperti kata kakek, itu sebuah kejenakaan bukan?


"May our choice reflects our hopes not our fears"
Ketika usai memilih sesuatu, tanyakan kembali pada diri kita "apa tindakanku selanjutnya?
Apakah aku sedang mempersiapkan makam ataukah sedang membangun garasi saat ini?"

MAINSTREAM-isme
(:noun) paham yang menempatkan rata-rata pilihan kebanyakan sebagai pertimbangan.

Penambahan imbuhan 'isme' adalah keisengan saya, tanpa maksud apa-apa selain agar terdengar lebih keren. Harus diakui kata 'mainstream' ataupun sang antonim yang berimbuhan 'anti' di depannya adalah kosa kata populer saat ini. Apakah memang menjadi 'berbeda' sekarang merupakan toplist pekerjaan favorit generasi kita? Sepertinya begitu. Menjadi lain dari yang kebanyakan, kuda laut punya cara sendiri untuk itu. Bayi kuda laut dilahirkan tidak dari betina. Emansipasi yang kerap diteriakkan kaum hawa juga secara kodrati disuarakan oleh spesies ini. Tugas melahirkan justru diemban apik oleh sang jantan. Satu dari jutaan keunikan alam.

Menjadi berbeda dari yang kebanyakan terkesan lebih seksi.  Misalnya adalah passion to travel -Wanderlust- demikian julukannya. Bekerja di kantoran dianggap terlalu boring dan menetap di satu tempat tanpa travelling dianggap usang, agaknya itu yang disuarakan banyak kaum muda belakangan ini. Di instagram akan begitu mudah menemukan akun yang menampilkan rangkaian perjalanan di surga-surga dunia semudah menemukan apa arti rumus phytagoras di mesin pencarian google.


Memang merasa bangga jika menjadi berbeda itu hal naluriah bagi kita manusia. Namun bagaimana dengan kisah sang kuda laut tadi? Saya tergelitik rasa penasaran akan apa yang dipikirkan oleh spesies lain dalam koridor laut yang sama. "Macho kok bunting" apakah ejekan semacam itu kerap didengarnya? Entahlah. Saya bukan seorang psikolog -baik manusia apalagi hewan.
Di tengah keunikannya, saya yakin pasti kuda laut tidak pernah merepotkan diri dengan melihat apa yang mayoritas terjadi. Jika memang dia punya cukup waktu dan energi mengamati penduduk lautan, mungkin dia akan tergoda akan salah satu dari dua hal ini: angkuh karena terlalu berbeda atau minder (juga) karena terlalu berbeda.

Alam yang menakjubkan ini menyiratkan sebuah pesan yang kaya. Kuda laut hanya salah satunya. Masih banyak yang lain, misalnya kolibri, satu-satunya burung yang dapat terbang mundur. Atau kaum nokturnal yang melakukan terobosan pada pembagian waktu antara aktivitas dan istirahat. Paus, sang pesenandung di lautan. Semua di alam ini adalah sebuah ke-khas-an. Menjadi berbeda adalah hal paling mainstream di muka bumi.

Paulo Coelho, lagi-lagi saya harus mengutip darinya, pernah berkata: "pohon tidak pernah berusaha menjadi berbeda, dia hanya berusaha tumbuh dan menjadi dirinya sebaik mungkin. Sungai pun tak berusaha menjadi berguna, dia hanya berusaha tetap mengalir. Dia berusaha menjadi sungai. Lalu darinya, banyak makhluk dapat dihidupi."

Kutipan sederhana dari peraih nobel dunia literatur tersebut mengusir virus mainstreamisme dengan lantang. Perbedaan dasar sebenarnya adalah: "melihat siapa?" Saat berusaha menjadi berbeda sesungguhnya kita sedang melihat ke orang lain. Kita melihat apa yang berlaku kebanyakan, entah akan mengikuti atau justru melawan arus nantinya. Pesan yang diajarkan alam justru jauh lebih sederhana: lihatlah ke dirimu sendiri. Entah hanya belasan atau jutaan orang yang memiliki kesamaan pekerjaan atau hobi, itu tidak terlalu penting. Bagaimana kamu mengupayakan pekerjaan dan hobi, itu jauh lebih penting. Inilah pesan kedua. Saat mainstreamisme mengajak kita menghitung kuantitas, alam mengajarkan lagi-lagi yang lebih sederhana: tetaplah bertahan dan lakukan yang terbaik! Alam mengajarkan tentang kualitas!

Si jantan hippocampus tidak pernah berusaha menjadi anti-mainstream dengan hak untuk melahirkan. Dia hanya berusaha menjadi kuda laut. Kolibri pun demikian, dia tak merepotkan diri untuk lebih dulu melakukan survey terhadap kemampuan terbang kawan-kawan berbulu lainnya. Dia hanya berusaha menjadi kolibri yang tetap terbang.

Bagi sungai, yang terbaik adalah tetap basah dan mengalir. Idaman bagi sang pohon adalah tetap bertumbuh dan berbuah. Tapi untuk manusia? siapa yang dapat mendefinisikannya? no one but ourselves :)

But who can say what’s best? That’s why you need to grab whatever chance of happiness you have, and not worry about other people too much. -Haruki Murakami

Berbahagialah ia yang terlalu lelah memikirkan hari esok. Lelap nyenyak menjadi miliknya. Esok masih saja ditemani kabut. Biarkan aku bersandar sejenak. Saat ini harus aku maknai juga :)

Satu paragraf singkat diatas bukan gubahan seorang Claudya, Di tengah menunggu sebuah antrian, tersodor sebuah majalah lokal perusahaan dan saya tergelitik untuk menguak apa yang ada di dalamnya. Durasi dihabiskan lebih banyak di halaman paragraf tersebut terpatri. Saya membaca ulang bagian "terlalu lelah memikirkan hari esok." Sontak saya bertanya apakah salah memikirkan hari esok? Bukankah itu hal yang wajar? Tidak ada seorangpun yang membantu saya menemukan jawabannya. Karena kadang jawaban memang harus dibuat dan tak sekedar dinanti, maka saya membuat jawaban versi saya sendiri hari ini:

Tidak ada yang salah dengan merencanakan masa depan. Tentang apa, kemana, berapa, dan kapan. Saya dan Anda memiliki angan akan masing-masingnya. Menginginkan apa, hendak pergi kemana, ingin berpenghasilan berapa, dan menikah kapan, Semua ada dalam baris pikiran yang terkonversi dalam tiga hal: rencana, upaya, dan doa. Ketiga ini adalah cara ampuh menjawab pertanyaan bagaimana kita mewujudkan itu semua. Sayangnya kadang kita lupa menarik nafas dan memberi koma pada perjuangan untuk menjawab pertanyaan mengapa kita memikirkan itu?

Ingin bahagia, banyak yang menjawab demikian mungkin. Perencanaan yang rinci dipuji sebagai sebuah rasa mawas akan masa depan sehingga dapat menciptakan kehidupan yang nyaman. Memastikan apa yang masih ada dalam kendali dan menekan kemungkinan kecerobohan. Manusia ahli dalam hal itu. Sayangnya dengan jawaban tersebut, kita lupa bahwa bahagia merupakan state of mind atau pengkondisian pikiran, itu adalah keputusan, yang bagi sebagian orang dinganggap sebagai tujuan.

"Jika sudah memiliki ini, sudah pergi kesana kemari, dan setiap bulan sudah mengantongi puluhan juta gaji, baru saya akan bahagia." Kita memberi syarat atas perasaan dan suasana kehidupan yang sebenarnya dapat kita rasakan kapanpun kita mau. Kabar baiknya adalah bahagia dapat dimulai hari ini. Menurut saya yang selalu sok tahu ini, banyak orang yang tidak mampu menikmati "sekarang" karena mereka merasa kebahagiaan ada nan jauh disana. Kebahagiaan ada di masa depan, sehingga membuat mereka terlalu sibuk memikirkan tentang apa yang masih bersemat kata "akan."

Bagi kita dan mereka yang sudah bahagia hari ini, rencana adalah wujud syukur yang menjauhkan kita dari takabur. Kita tidak takabur atau terlalu sombong menilai bahwa kehidupan akan selalu mudah, karena itu kita membuat rencana. Kita SUDAH bahagia hari ini, bukan karena hidup kita serba ideal namun karena kita memilih demikian. Kita sudah bahagia, kita tidak kesulitan untuk menikmati apa yang dinamakan: HARI INI.

Kepastian bukan penghuni hari esok, pun kebahagiaan. 
Mereka berdua adalah tamu hari ini. (cte)
"Persahabatan bagai kepompong. Mengubah ulat menjadi kupu-kupu"

begitulah sebuah lirik lagu berbunyi. dan itulah juga yang sering terjadi. ini adalah tulisan yang saya temukan diantara tulisan berdebu di note facebook. kejadiannya 21 Januari, di kala saya masih memakai seragam putih-abu.

"liburan yang menyenangkan walaupun hari-hari sebelumnya seperti ruangan gelap karena terlambat membayar tagihan listrik.

aku, reni, adam, bagus, gita, dan renny, bermula dari kejenuhan menghabiskan waktu liburan tanpa petualangan. kita memutuskan pergi walau tak jauh, menghirup udara liburan yang identik dengan sebuah kebebasan dari rutinitas untuk mengerjakan PR dan berkutat dengan ulangan
pagi itu cerah serasa awan kelam pun cuti menampakkan diri. Namun semua berubah tanpa permisi untuk menyuramkan langit dan menyembunyikan senyuman mentari. Mendung datang dan hati pun mulai kalut. “byuuuuuuurr” hujan pun tak tertahan tumpah membasahi liburan ini . Tanpa sungkan sang tetesan air hujan perlahan namun pasti makin membuat kami menggigil seraya dengan super keotomatisannya gerombolan gerutu pun menetes dari bibir kami

Kami pulang. Beberapa jam kami sampai dan mencoba memperbaiki penampilan. Entah angin apa yang terhembus waktu itu hingga dengan segera tawa memecah suasana, tetangga tertawa melihat aku dan yang lain basah kuyup serta mengertakan gigi tanpa remote control.

sontak saja kami pun merasa konyol, langit pun tak mau ketinggalan untuk beri peertanda yang indah, aku mempelopori untuk melepas alas kaki dan keluar dari teras rumah itu, menengadahkan wajahku melihat betapa indah cara langit menumpahkan air kehidupan. Aku mulai tersadar ini terlihat sangat bodoh di mata para sahabatku dan yang paling bodoh mereka mengikuti kebodohan ku ini. benar memang, "good friends never let their friend, do silly things ... alone" Mereka turut terjun dan kita pun bernyanyi. Menikmati liburan indah ini dengan patuh pada kata peribahasa 'sudah basah mandi sekalian'

sebenarnya simple. Dari kehujanan jadi hujan-hujan, sebuah pembiasan dari metamorfosa ulat menjadi kupu-kupu yang harus melalui tahap menjadi kepompong. Dan kepompong inilah yang aku beri nama “ persahabatan “

aku bersyukur Tuhan membuat perahu ku singgah ke sebuah pelabuhan yang bernama persahabatan, saat aku lelah mendayung dalam samudra perjalanan kehidupan. Di pelabuhan ini aku belajar, mengerti bahwa mentari selalu bersinar dengan indah jika kita menikmatinya, aku mencoba memahami betapa suci udara pagi saat kita tahu bahwa di belahan lain dari bumi dan tatanan galaksi ini ada sudut yang terjamah oleh molekul udara yang menyejukkan hati."

sumber foto : www.livethroughtheheart.com


Banyak hal indah yang Tuhan ijinkan aku pelajari melalui sebuah persahabatan.
dan kali ini, mengingatkan saya pada sebuah petuah terkenal
"life isn't about waiting for the storm to pass, it's about learning how to dance in the rain"