Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Setelah berlayar entah dari sudut Nusantara bagian mana, penjarahan kekayaan alam Indonesia oleh Belanda tiba di sebuah pulau kecil yang terletak antara Kalimantan dan Madura. Namanya sekarang Keramian, namun dulu pulau ini disebut Ariandes. Ratusan tahun setelahnya, Pulau kecil penghasil cengkeh ini menjadi saksi 12 bocah nyasar terdampar lalu BELAJAR.

(1) Hampir Sampai

Empat jam dari Masalembu, kapal Miami berlabuh jangkar di tengah lautan. Sebelumnya, kami disambut dengan tarian selamat datang dari kawanan lumba-lumba. Tanpa diminta, mereka melompat dan berenang lincah. Saya terhenyak sesaat menyaksikan apa yang saya kira hanya mimpi menjadi nyata. Selain itu hati kami juga riang, menyambut fakta bahwa perjalanan yang mengundang mual akhirnya usai. Para ABK sudah memberitahu bahwa kami akan dijemput oleh kapal nelayan. Belum adanya dermaga yang memadai membuat transfer penumpang terjadi tengah lautan. Disana satu per satu kardus sumbangan dan kardus logistik kami turunkan lalu dengan super hati-hati kami membawa tubuh kami berpindah ke kapal yang lebih kecil, melewati sebuah tangga besi. Kapal nelayan tak perlu waktu lama untuk mengantar kami mendekati daratan. Belum selesai ternyata tapak perjalanan, sebelum menginjakkan kaki di bentangan pulau tersebut kami masih saja harus berpindah sarana. Dari kapal nelayan menuju ke sampan. "Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar!" Begitu otak saya menyimpulkan sambil tubuh menikmati angin khas pesisir.

Di sampan berkapasitas tiga orang itu saya mengobrol dengan seorang ibu beserta anak perempuannya yang bernama Nana, penduduk asli pulau Keramian. Dengan logat yang unik, ibu bertubuh kecil itu menceritakan bagaimana banyak anak di pulau tersebut tidak piawai berbahasa Indonesia. Memang, keseharian disana sangat kental dengan percakapan dua bahasa daerah: Bugis dan Madura, kemungkinan besar dikarenakan posisi geografisnya.

Sesampainya di bibir pantai kami disambut super hangat oleh perangkat desa yang telah mengetahui akan kedatangan kami lewat mas Eko Sanjaya, seorang warga asli yang secara kebetulan saya temukan alamat emailnya lewat akun Instagram. Sosial media unjuk nilai fungsi disini. 

(2) Relawan Mengabdi

Sebelum berangkat kami telah menyusun rencana bahwa di pulau ini wujud karya kami akan banyak menyentuh soal pendidikan. Bagian dominan durasi sepekan saya disini adalah membagi ilmu dan wawasan. "Kepuasan hati tercapai justru saat kita dapat melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak dapat membalas kembali samasekali," parafrase ungkapan Martin Luther King ini terbukti valid adanya. 

Tidak ada SMA disana, hanya ada lima sekolah tingkat SD dan satu sekolah tingkat SMP. Jika ditotal saya mengunjungi lima diantaranya. Bagian yang berhasil membuat saya merinding adalah ketika salah seorang siswa SD dengan berani melakukan solo lagu Indonesia Raya. Sesuai pembagian, saya banyak bertugas di kelas 4-5 SD, sebuah tantangan baru mengingat saat KKN ataupun mengajar di Gloria saya selalu berhadapan dengan siswa SMP. Nada yang ceria, ekspresi yang menggemaskan, berusaha saya tampilkan untuk menghindarkan mereka dari rasa bosan. 

Di lain kesempatan, saya merasa hebat kala berhasil mengemas Indonesia sebagai negara yang membanggakan. Juga saat saya mencontohkan beberapa nama atlet Indonesia yang mendunia untuk memotivasi mereka. Nada obrolan ini lebih serius dari biasanya, maklum penyesuaian materi dan intonasi memang harus dilakukan saat mengajar di tingkatan yang berbeda. Di tengah siang terik dan berdebu itu saya duduk membicarakan Nusantara dengan para anak SMP yang memang sudah biasa saya 'tangani'. Ketidaksiapan materi untungnya terbungkus aman lewat segala wujud spontanitas dan memuluskan saya memancing tekad dan angan mereka untuk menggoreskan asa. 

Mengajar anak-anak disana merengkuh jiwa saya pada memori tentang pedihnya kegagalan WVI (Wahana Visi Indonesia). Masih teringat jelas air mata tanpa basah dan teriak tanpa suara kala mengetahui bahwa kerinduan besar untuk berkarya di pedalaman tidak bersambut oleh sebuah penerimaan organisasi. Jika disimpulkan, arti besar pengalaman ini adalah obat yang menyembuhkan luka yang saya kira hanya dapat sembuh oleh waktu semata. Saat saya mengajar Anak-anak itu untuk berani bermimpi, sebenar-benarnya mimpi saya sedang digenapi. Ini sebuah barter yang sempurna!



Selain mengajar kami juga menyalurkan bantuan sembako. Dibantu perangkat desa, kami memetakan nama-nama yang memang membutuhkan. Aktivitas pembagian sembako ini difasilitasi sebuah motor truk yang dikenal sebagai odong-odong, sebuah sebutan yang mengundang geli di angan. Selama perjalanan blusukan ke tiga dusun, kami sembari menguji adrenalin dan ketahanan tulang ekor melewati berbagai rute bebatuan dan belokan curam.

Tiga puluh kresek paket sembako mengantarkan kami pada rumah reot, wajah keriput, dan tubuh kurus. Sebuah pemandangan miris yang harus menjadi pisau tajam menusuk orang pemerintahan agar tidak egois menghabiskan uang negara. Saat DPR membahas milyaran rupiah sebagai dana aspirasi, kami menyaksikan betapa banyak warga berjuang mengalahkan kebutuhan hari lepas hari.



(3) Yang Khas Disana

Bibir pantai hanya berjarak belasan meter dari ruas jalan utama. Tidak mengherankan jika rumah di kanan kiri jalan tersebut hampir semuanya berupa rumah panggung. Dengan tiang kayu berdiri menopang, para penduduk merasa aman kalau-kalau ombak pasang terlalu tinggi dan masuk ke permukiman. Pun hal itu wujud akulturasi budaya bawaan suku Bugis yang juga banyak tinggal di pulau yang mengandalkan penjualan kopra (kelapa kering) sebagai pemasukan ekonominya.

Satu hari menjelang puasa, kami menghabiskan sore di dermaga yang sedang dibangun. Kelak dermaga ini akan mempermudah labuhnya kapal perintis dan semoga menambah mobilitas bagi masyarakat. Dalam langkah pulang kami dikenalkan dengan jajanan khas. Tak lengkap rasanya mengenal masyarakat tanpa mencicipi kuliner asli yang ada. Namanya Pempek, parasnya tak jauh beda dengan yang telah populer di Jawa, hanya lebih pipih. Dibuat dengan ikan dan olahan tepung lalu digoreng di minyak dengan api sedang, pempek ini siap dinikmati dengan kuah asam yang sangat unik. Jika pempek Palembang mengandalkan cuka untuk menghadirkan rasa asam, pempek Keramian mengandalkan biji asam yang sebenarnya. Rasa asamnya unik sekaligus membuat ketagihan.

Pulau ini terdiri dari tiga dusun yang masing-masingnya berjauhan. Dusun Air Hidup merupakan sisi kota Keramian. Nama itu diambil karena adanya mata air yang terus mengalir di sekitar sana. Dua dusun lain bernama Alas Jaya (bahasa Indonesia: hutan yang besar) sesuai penampakan fisiknya serta dusun Sudi Mampir (bahasa Indonesia: Berkenan Singgah) yang seakan membahasakan ajakan ramah untuk bertamu.

Jauh berbeda dengan Masalembo, pulau ini dialiri listrik hanya empat jam sehari (18.00 - 22.00). "Jam listrik mulai menyala kadang terlambat, tapi jam padamnya selalu tepat" begitu penuturan miris pak Kepala Desa yang bagaimanapun mengundang tawa. Tidak berlebihan jika saat kami berpamitan warga hanya menitipkan satu aspirasi untuk kami suarakan nanti: Hadirkan Listrik penuh waktu.

(4) Waktu Luang

Jalan-jalan sore menjadi kegemaran baru kala tak ada kegiatan yang mengisi. Kami pernah menyusuri 3,6 kilometer mencapai pantai yang tak terlalu indah tapi seakan menjadi pantai pribadi. Keceriaan dan kegilaan tumpah sebagai keluarga, bukan lagi sebagai selusin orang asing yang baru saja mengenal beberapa hari. Satu yang unik hari itu adalah hujan yang turun dengan tingkat labil yang tinggi. Tetes air langit yang muncul dan hilang berulang membuat kami akhirnya singgah ke beberapa rumah penduduk. Alih-alih silahturahmi, kami sebenarnya sedang berteduh tapi justru di beberapa singgah itu kami merasakan kesahajaan masyarakat Keramian yang sesungguhnya. 



Seperti rutinitas khas bulan Ramadhan, saya sekejap merasa kesepian kala 10 kawan lain pergi tarawih. Namun sesegera mereka kembali ke rumah, menit-menit 'hangat' lanjut dilakukan kadang hingga larut malam. Kami membicarakan banyak hal. Saya tidak mungkin lupa membagi satu cerita yang membuat kami semua total terbahak-bahak hingga perut terkocok lemas. Sepulang baksos kami diberi hadiah sebutir kelapa muda utuh. Sebuah tantangan bergulir untuk membuka kelapa itu dengan tangan kosong. Setelah bergantian mengupas bagian luar berupa sabut-sabut tebal, tangan kami dapat meraba batok kelapa yang jelas berkontur keras. Tak ada sangka dan tak seorangpun menduga, bukan sulap tanpa sihir, batok kelapa yang begitu keras pecah hanya dengan hantaman tangan kosong Marqi, si adik kembar saya. Sontak tawa meriah tak terelakkan, merayakan kekuatan super yang terpendam di salah satu anggota kelompok kami.

Bonus perjalanan ini adalah kulit yang menghitam pekat, tepatnya setelah mengunjungi pulau Kambing, sebuah pulau kosong kecil di sekitar Keramian. Ada gua, bukit, dan pantai yang mempesona. Namun ada yang lebih indah dari itu semua bagi saya, yaitu durasi saya mengajarkan permainan tahun 90an 'domikado' pada sekelompok anak yang memang ikut pelesir dengan kami berduabelas. Saya menghabiskan masa mengapung pulang dengan riang bermain bersama mereka. Kehidupan selalu LEBIH DARI CUKUP untuk membuat bahagia, itulah pesan tersirat yang selalu diteguhkan lewat senyum tanpa beban anak-anak kecil.



Terlalu banyak kenangan indah yang membuat kisah ini panjang teruraikan. Alinea yang telah adapun telah melewati sortir pilih dan pilah rekam peristiwa. Masih ada bagian tentang cooking class di dapur yang dengan jujur membuktikan perbedaan budaya masing-masing suku. Ingatan tentang para lelaki yang belajar mandi di sumur dikarenakan kamar mandi dimonopoli antrian kaum hawa juga menggelitik saya pada tawa. Begitu juga soal lima perempuan yang terjaga menanti para lelaki yang sedang mencari ikan hingga satu jam menjelang sahur tiba, tak ubahnya istri yang sedang menunggu suami pulang mencari nafkah.

Hanya seminggu tapi begitu banyak kebersamaan terabadikan. Dimulai dari kesediaan menanggung susah senang bersama kala mengabdi, dilanjutkan dengan sikap hangat yang sigap membantu, diisi dengan kisah hidup yang saling dibagi, dan senantiasa diwarnai insiden lucu.

Semua terkemas sesuai nama pulau ini: Keram(a)ian. Ramai dengan tawa, ramai penuh hikmah, ramai meninggalkan kenangan indah.

Kapal Miami kami sampai pagi-pagi disana. Pikat matahari yang baru gagah di langit terpantul jelas di lautan jernih sekitar pulau ini. Antara dermaga menuju pusat aktivitas masyarakat terjejer banyak kapal nelayan. Pulau yang berbentuk U landai ini memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan desa kecil di pulau Jawa. Image seram dan terpencil yang ditayangkan oleh sebuah serial televisi samasekali tidak terbukti.




Masalembu, bukan Masalembo! Itulah koreksi pertama saya. Pulau ini masuk dalam kabupaten Sumenep, Madura. Tidak banyak yang berbeda dari penampakan desa-desa di Jawa, ruas jalan yang tergolong sempit, aktivitas pasar tradisional yang ramai, jejeran toko-toko kecil, dan harga makanan yang murah. Benar-benar murah! Sebagai sarapan, saya dan (lagi-lagi) dua kawan dari ITS, Diah dan Marqi, terbelalak heran ketika kami menikmati semangkuk makanan berkuah yang mereka sebut sebagai 'soto' hanya 2500 rupiah per porsinya. Ada lontong, toge, bumbu kacang, suwiran ikan tongkol, dan kuah kaldu ikan. Salah satu makanan paling unik yang pernah saya jumpai. Di pulau ini hampir semua makanan berbahan dasar ikan, maklum itulah yang paling mudah dicari. Sapi disembelih hanya saat Idul Adha dan Idul Fitri, begitu keterangan ibu penjual soto berkerudung merah gelap.

Masyarakat disana juga tergolong modern yang lancar berbahasa Indonesia, kontras dengan pulau tempat saya mengabdi. Kondisi fasilitas juga cukup membanggakan, ada listrik 24 jam, berdiri pom bensin, tersedia sinyal yang memadai, serta beberapa toko pengisian pulsa. Image 'terpencil' sama sekali tidak benar. Jika ingin menyaksikan wujud berbeda petualangan Indonesia, saya kira Masalembu cocok diperhitungkan sebagai destinasi. Lautnya indah, masyarakatnya ramah, dan tidak terlalu sulit untuk 'bertahan hidup' disana. Untuk menuju ke pulau yang mayoritas berbahasa Madura itu, tidak ada jalan lain selain melalui jalur laut. Hampir semua kapal perintis singgah di Masalembu, dikarenakan adanya dermaga yang tergolong bagus.



Di perairan sekitar Masalembu memang sudah terkenal dengan arus segita bermuda. Bukan hanya mitos, kecelakaan memang pernah terjadi bertahun lalu, membuktikan keganasan segitiga itu. Titik pertemuan tiga arus yang jelas mengalahkan para pelayar amatir. Para awak kapalpun mengakui perbedaan signifikan arus di perairan sana.

Walau hanya sebentar menginjakkan kaki di Masalembu, tapi setidaknya saya dapat membawa oleh-oleh fakta bahwa apa yang ada di serial televisi berjudul Masalembo itu sepenuhnya salah.

Jangan takut untuk singgah, Masalembu indah dan ramah, sumpah! :D

Heran dengan judul post ini? Hahaha iya, itu merupakan versi bercanda dari fakta bahwa bangsa kita memang besar dan kuat di lautan. Hal pertama yang akan saya ungkap disini adalah: berlayar itu tidak mudah! Seriously.

Kapal perintis yang mengantarkan kami ke tiga destinasi: Maselembu, Keramian, dan Matasiri dinamakan kapal Miami. Berwarna hijau tua dan diandalkan sebagai pengantar pasokan bahan makanan, singkatnya kapal ini merupakan sebuah kapal barang. Ada ruang besar yang membuat kami leluasa untuk tidur di segala sudut ditambah fakta bahwa kapal itu memang kami 'monopoli'.



Di kapal itu saya berkenalan dengan dua ABK, seorang Flores dari Larantuka (NTT) yang berpenampilan nyentrik serta Pak Ibrahim seorang Makassar yang besar di Papua. Ini semacam kebiasaan bagi saya. Selalu ada durasi waktu yang saya habiskan untuk meninggalkan keseruan bersama teman-teman lalu mengobrol dengan orang lintas usia dan lintas golongan.  Bagi saya ini cara ampuh untuk memperkaya wawasan.

Selama mengarungi lautan, Anjungan kapal merupakan tempat favorit kami berkumpul membunuh rasa bosan. Disitu kami berfoto, memasak, bermain kartu, atau sekedar bersenandung gila. Bonus perjalanan ini adalah membuat kami menyaksikan dengan mata telanjang keindahan matahari terbit dan matahari terbenam. Ah bagi saya pribadi itu keindahan sejati, mengamati secara langsung matahari bergerak turun kala senja. Saya sedang mencicipi kedamaian surga.

Perjalanan ini membagi kami dalam tiga golongan: pelaut, bukan pelaut, dan golongan tengah. Sebagian orang bisa penuh tawa dan seakan tak kunjung habis baterainya untuk tetap terjaga. Kadang bahkan masih sempat untuk usil menganggu. Ada juga golongan yang KO sekejap saat angin laut kencang berhembus dan kapal mulai bergoyang akibat gelombang. Kocaknya, sebagian di antara mereka adalah orang yang sudah menaklukan banyak tempat dan banyak puncak. Kang Abel -orang Bandung- contohnya. Tak butuh waktu lama buatnya langung tergeletak lemas segera setelah kapal mulai melaju. "Apapun tidak pernah membuat saya mabuk, kecuali laut" begitu lugasnya dengan ekspresi heran yang menggelikan berlogat sunda kental. Saya adalah golong ketiga, ada di tengah-tengah. Kuat terjaga untuk sesekali bercengkrama namun juga tepar di bantal kala ombak terlalu kencang menyerang.

Di atas kapal Miami ada beberapa kenangan manis tergoreskan bagi saya pribadi. Misalkan saat Rizal -seorang mahasiswa UB- mendapati saya seorang keturunan Tionghoa (ini fenomena jarang terjadi). Dia merupakan muslim taat yang mengagumkan, namun tak segan untuk menanyakan apa makna di balik Claudya Tio Elleossa. Juga saat saya dan Diah -mahasiswa ITS- saling menatap secara otomatis saat mendengar seorang ibu-ibu di pelabuhan berjualan "nasi bungkusnya, yang huruf A ikan Ayam - yang huruf O ikan Telur" nahloh! Kok gak sinkron.. Hahha saya dan Diah yang akhirnya jadi partner berbagi selimut hanyut dalam tawa yang renyah. Ohya saya juga merinding terkesan melihat kawan-kawan muslim yang tetap menjalankan sholat lima waktu seakan tak menyadari goncangan kapal. Suatu subuh bahkan saya -seorang Kristen- merinding haru mendengarkan Mas Beki -mahasiswa Jogja- mengaji dengan sangat merdu. Sungguh, momen seperti ini membuat saya makin bangga akan keberagaman umat beragama di Indonesia. Pemandangan seperti itu juga menggertak saya untuk menjadi umat beragama yang lebih baik. Terakhir adalah momen kala kebaikan memang selalu termanifestasi lewat tindakan. Di malam pertama pelayaran, saya bersama dua mahasiswa ITS (Diah dan Marqi) dan satu mahasiswa BSI Jakarta (mas Firman) tidur berbagi karpet yang sama. Lalu seorang bocah Jogja bernama Dika tanpa aba-aba menyelimuti kami berempat dan menyisakan dia tidur tanpa selimut samasekali. Entah kenapa ini jadi salah satu bagian mengesankan bagi saya. Kepedulian sederhana kadang bisa meninggalkan kesan mendalam. Terimakasih Dika.

Akhirnya, di kapal Miami itu terungkap kualitas pribadi banyak orang dari yang cuek hingga super peduli, yang menyisakan seorang Claudya untuk kembali belajar. Mengapung belasan jam di gelombang air juga membuat saya mencicipi mabuk laut yang sesungguhnya, dan oleh karenanya kekaguman saya haturkan bagi para pelaut Indonesia. Kapten dan para ABK baik dari kapal penumpang, kapal barang, ataupun kapal ikan di segala penjuru nusantara. Kalian orang hebat!