Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Kapal Miami kami sampai pagi-pagi disana. Pikat matahari yang baru gagah di langit terpantul jelas di lautan jernih sekitar pulau ini. Antara dermaga menuju pusat aktivitas masyarakat terjejer banyak kapal nelayan. Pulau yang berbentuk U landai ini memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan desa kecil di pulau Jawa. Image seram dan terpencil yang ditayangkan oleh sebuah serial televisi samasekali tidak terbukti.




Masalembu, bukan Masalembo! Itulah koreksi pertama saya. Pulau ini masuk dalam kabupaten Sumenep, Madura. Tidak banyak yang berbeda dari penampakan desa-desa di Jawa, ruas jalan yang tergolong sempit, aktivitas pasar tradisional yang ramai, jejeran toko-toko kecil, dan harga makanan yang murah. Benar-benar murah! Sebagai sarapan, saya dan (lagi-lagi) dua kawan dari ITS, Diah dan Marqi, terbelalak heran ketika kami menikmati semangkuk makanan berkuah yang mereka sebut sebagai 'soto' hanya 2500 rupiah per porsinya. Ada lontong, toge, bumbu kacang, suwiran ikan tongkol, dan kuah kaldu ikan. Salah satu makanan paling unik yang pernah saya jumpai. Di pulau ini hampir semua makanan berbahan dasar ikan, maklum itulah yang paling mudah dicari. Sapi disembelih hanya saat Idul Adha dan Idul Fitri, begitu keterangan ibu penjual soto berkerudung merah gelap.

Masyarakat disana juga tergolong modern yang lancar berbahasa Indonesia, kontras dengan pulau tempat saya mengabdi. Kondisi fasilitas juga cukup membanggakan, ada listrik 24 jam, berdiri pom bensin, tersedia sinyal yang memadai, serta beberapa toko pengisian pulsa. Image 'terpencil' sama sekali tidak benar. Jika ingin menyaksikan wujud berbeda petualangan Indonesia, saya kira Masalembu cocok diperhitungkan sebagai destinasi. Lautnya indah, masyarakatnya ramah, dan tidak terlalu sulit untuk 'bertahan hidup' disana. Untuk menuju ke pulau yang mayoritas berbahasa Madura itu, tidak ada jalan lain selain melalui jalur laut. Hampir semua kapal perintis singgah di Masalembu, dikarenakan adanya dermaga yang tergolong bagus.



Di perairan sekitar Masalembu memang sudah terkenal dengan arus segita bermuda. Bukan hanya mitos, kecelakaan memang pernah terjadi bertahun lalu, membuktikan keganasan segitiga itu. Titik pertemuan tiga arus yang jelas mengalahkan para pelayar amatir. Para awak kapalpun mengakui perbedaan signifikan arus di perairan sana.

Walau hanya sebentar menginjakkan kaki di Masalembu, tapi setidaknya saya dapat membawa oleh-oleh fakta bahwa apa yang ada di serial televisi berjudul Masalembo itu sepenuhnya salah.

Jangan takut untuk singgah, Masalembu indah dan ramah, sumpah! :D

Heran dengan judul post ini? Hahaha iya, itu merupakan versi bercanda dari fakta bahwa bangsa kita memang besar dan kuat di lautan. Hal pertama yang akan saya ungkap disini adalah: berlayar itu tidak mudah! Seriously.

Kapal perintis yang mengantarkan kami ke tiga destinasi: Maselembu, Keramian, dan Matasiri dinamakan kapal Miami. Berwarna hijau tua dan diandalkan sebagai pengantar pasokan bahan makanan, singkatnya kapal ini merupakan sebuah kapal barang. Ada ruang besar yang membuat kami leluasa untuk tidur di segala sudut ditambah fakta bahwa kapal itu memang kami 'monopoli'.



Di kapal itu saya berkenalan dengan dua ABK, seorang Flores dari Larantuka (NTT) yang berpenampilan nyentrik serta Pak Ibrahim seorang Makassar yang besar di Papua. Ini semacam kebiasaan bagi saya. Selalu ada durasi waktu yang saya habiskan untuk meninggalkan keseruan bersama teman-teman lalu mengobrol dengan orang lintas usia dan lintas golongan.  Bagi saya ini cara ampuh untuk memperkaya wawasan.

Selama mengarungi lautan, Anjungan kapal merupakan tempat favorit kami berkumpul membunuh rasa bosan. Disitu kami berfoto, memasak, bermain kartu, atau sekedar bersenandung gila. Bonus perjalanan ini adalah membuat kami menyaksikan dengan mata telanjang keindahan matahari terbit dan matahari terbenam. Ah bagi saya pribadi itu keindahan sejati, mengamati secara langsung matahari bergerak turun kala senja. Saya sedang mencicipi kedamaian surga.

Perjalanan ini membagi kami dalam tiga golongan: pelaut, bukan pelaut, dan golongan tengah. Sebagian orang bisa penuh tawa dan seakan tak kunjung habis baterainya untuk tetap terjaga. Kadang bahkan masih sempat untuk usil menganggu. Ada juga golongan yang KO sekejap saat angin laut kencang berhembus dan kapal mulai bergoyang akibat gelombang. Kocaknya, sebagian di antara mereka adalah orang yang sudah menaklukan banyak tempat dan banyak puncak. Kang Abel -orang Bandung- contohnya. Tak butuh waktu lama buatnya langung tergeletak lemas segera setelah kapal mulai melaju. "Apapun tidak pernah membuat saya mabuk, kecuali laut" begitu lugasnya dengan ekspresi heran yang menggelikan berlogat sunda kental. Saya adalah golong ketiga, ada di tengah-tengah. Kuat terjaga untuk sesekali bercengkrama namun juga tepar di bantal kala ombak terlalu kencang menyerang.

Di atas kapal Miami ada beberapa kenangan manis tergoreskan bagi saya pribadi. Misalkan saat Rizal -seorang mahasiswa UB- mendapati saya seorang keturunan Tionghoa (ini fenomena jarang terjadi). Dia merupakan muslim taat yang mengagumkan, namun tak segan untuk menanyakan apa makna di balik Claudya Tio Elleossa. Juga saat saya dan Diah -mahasiswa ITS- saling menatap secara otomatis saat mendengar seorang ibu-ibu di pelabuhan berjualan "nasi bungkusnya, yang huruf A ikan Ayam - yang huruf O ikan Telur" nahloh! Kok gak sinkron.. Hahha saya dan Diah yang akhirnya jadi partner berbagi selimut hanyut dalam tawa yang renyah. Ohya saya juga merinding terkesan melihat kawan-kawan muslim yang tetap menjalankan sholat lima waktu seakan tak menyadari goncangan kapal. Suatu subuh bahkan saya -seorang Kristen- merinding haru mendengarkan Mas Beki -mahasiswa Jogja- mengaji dengan sangat merdu. Sungguh, momen seperti ini membuat saya makin bangga akan keberagaman umat beragama di Indonesia. Pemandangan seperti itu juga menggertak saya untuk menjadi umat beragama yang lebih baik. Terakhir adalah momen kala kebaikan memang selalu termanifestasi lewat tindakan. Di malam pertama pelayaran, saya bersama dua mahasiswa ITS (Diah dan Marqi) dan satu mahasiswa BSI Jakarta (mas Firman) tidur berbagi karpet yang sama. Lalu seorang bocah Jogja bernama Dika tanpa aba-aba menyelimuti kami berempat dan menyisakan dia tidur tanpa selimut samasekali. Entah kenapa ini jadi salah satu bagian mengesankan bagi saya. Kepedulian sederhana kadang bisa meninggalkan kesan mendalam. Terimakasih Dika.

Akhirnya, di kapal Miami itu terungkap kualitas pribadi banyak orang dari yang cuek hingga super peduli, yang menyisakan seorang Claudya untuk kembali belajar. Mengapung belasan jam di gelombang air juga membuat saya mencicipi mabuk laut yang sesungguhnya, dan oleh karenanya kekaguman saya haturkan bagi para pelaut Indonesia. Kapten dan para ABK baik dari kapal penumpang, kapal barang, ataupun kapal ikan di segala penjuru nusantara. Kalian orang hebat! 

Pagi itu saya buka dengan otak yang berpikir keras hampir semalaman. Menimbang dan memperkirakan banyak hal. Niat saya untuk terjun di kegiatan yang digagas Kemenko Kemaritiman ini masih saja belum utuh,  walau sudah jelas saya diperhitungkan sebagai peserta disana. Muncul di permukaan sedikit keraguan, mengingat kondisi fisik yang sempat drop akibat asam lambung yang melunjak. Hanya beralaskan rasa penasaran dan bernaungkan keberanian, kesempatan mengikuti ekspedisi ini akhirnya saya sambut hangat. Alasan kuat lain yang mendorong saya adalah fakta bahwa saya akan segera kembali menjadi guru per 1 Juli, saya HARUS datang pada para siswa dengan oleh-oleh cerita yang nyata tentang Indonesia. Optimisme dan sedikit kedisiplinan mengatur jam makan semoga cukup untuk menjauhkan saya dari nyeri lambung yang sungguh menyiksa.

Tanjung perak adalah titik saya bertemu dengan berbagai kawan dari segala penjuru tempat. Untuk sebagian orang, mendapatkan teman baru sama berharganya dengan mendapati rekening terisi baris angka panjang. Saling berkenalan, adalah kegiatan pertama kami sembari menanti kepastian jam tentang kapal yang akan menjadi sarana bagi 37 orang mewujudkan kerinduan untuk mengabdi.

Seperti saya singgung di tulisan sebelumnya, sedikit sentuhan keajaiban surga membuat saya dapat mengikuti sebuah kegiatan yang menjadi manifestasi pemenuhan mimpi saya: berlayar dan mengabdi. Nama kegiatannya adalah Ekspedisi Nusantara Jaya, yang berlandaskan misi menjangkau daerah terluar Indonesia, terkhusus pulau-pulau kecilnya. Ada banyak hal yang terjadi di luar ekspektasi, maklum kegiatan ini memang perdana dilaksanakan pun oleh kemeknnterian yang masih tergolong balita. Hingga satu titik saya dan para kawan lainnya sadar bahwa kami bukan sekedar 'peserta' disini namun merupakan kumpulan orang bersemat sebutan 'relawan'. "Relawan ya harus rela," begitu celetuk seorang bersahaja bernama Vita yang kebetulan juga sekelompok dengan saya. Kerelaan itu tentang kesabaran akan jadwal kapal perintis yang serba tak jelas juga tentang janji-janji soal fasilitas. Akibat serba tak pasti, peserta menyurut dari 98 menjadi hanya 37. Drastis bukan? 

Empat huruf saja: RELA, itu sebuah perasaan sederhana namun tidak mudah ternyata. Untungnya saya dan 36 orang lainnya cukup beruntung diberi kesempatan mempelajarinya bersama.

Awal episode seminggu luar biasa dimulai oleh sebuah latihan rasa rela. Saya kira ini appetizer yang tidak terlalu buruk, karena pengabdian kadang memang sinonim dengan pengorbanan. Dan ... Bukankah semua pengorbanan selalu menuntut kerelaan?
Kampung halaman adalah sebutan bagi tempat kemana hati ini berpulang. Berupa sebuah ruang aman untuk lari dari hiruk pikuk tempat perantauan. Seringnya dia hanyalah alasan bermalasan menikmati nyaman rumah, tapi kali ini saya ingin menjelajah. Tak harus selalu jauh, menguak keindahan alam atau memenuhi kepuasan jalan-jalan bisa dimulai dari kota tempat kita bertumbuh besar. Itulah perjalanan kali ini.

Seperti biasa tawa selalu mengisi perjalanan, di sela-sela obrolan hangat khas kawan lama. Sebagian karena kalimat-kalimat humor dengan logat yang kental. Sisanya murni disponsori oleh rasa geli dari kekonyolan lampau kala masih bersekolah.

Air terjun di daerah perbatasan Lumajang dan Malang merupakan pilihan pemuas kaki gatal kami. Sebuah objek wisata yang membuat kami berempat rela menempuh jarak cukup jauh dengan medan yang relatif ekstrim. Nama tempatnya adalah Coban Sewu, jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka bermakna air terjun seribu. Tidak mengherankan mengapa penduduk memberi nama demikian sebab di satu lokasi yang sama berdiri kokoh sangat banyak jalur vertikal untuk air jatuh dengan akselerasi tinggi.

Setelah puas mengabadikan dalam jepretan ponsel, kaki kami bergegas menelesuri rute menuju goa tetes. Satu perjalanan, dua objek wisata didapatkan. Cerita ini baru benar-benar dimulai disini.

Sumber foto: jawapos.com

Sebagai gambaran kondisi terjal yang dihadapi di Coban Sewu



Hutan, jembatan bambu buatan warga, dan susur sungai, adalah menu pembukanya. Uji nyali sesungguhnya adalah saat kami harus menapakkan kaki di bebatuan licin tepat dimana air mengalir. Tebing tinggi disana hanya sebentar mencuri perhatian, selebihnya saya hanya terpengeranga heran. Untuk sepersekian detik saya harap itu hanya sebuah rute cadangan dan adalah opsi lain yang lebih mudah, tapi sama seperti dalam perjuangan mencapai impian kadang jalan yang tak mulus itu adalah pilihan tunggal. Dengan kaki yang tak terlalu piawai satu persatu batu saya lewati hingga posisi semakin tinggi. Di setiap trek curam tersedia tali karet berwarna hitam pekat untuk membantu pengunjung berpegangan. Dengan jersey barcelona, celana jeans panjang warna hitam pudar, tas ransel kucel, dan sandal jepit kegedean, saya memaksa diri untuk tidak terlalu merepotkan ketiga teman saya. Air keringat bercampur dengan tetes air alam, mereka membawa pergi sedikit sisi manja saya, namun tetap dibumbui rasa takut yang khas.

Setelah ada di lokasi yang landai, tiga teman saya bersantai menikmati rokok mereka. Saat itu saya menoleh kembali ke susunan batu bersudut lebih lancip dari 45 derajat yang awalnya saya sinonimkan dengan kemustahilan. Jika dipikir, saya samasekali bukan penakut terhadap hal-hal seperti itu. Katakanlah wahana penguji adrenalin, hampir semua siap saya sambut. Tapi dibebatuan itu keberanian saya sempat menguap. Selagi teman saya masih asik dengan tembakau gulungnya, saya menemukan alasan sederhana: kepercayaan. Ketika saya naik wahana permainan pengadu adrenalin kebanyakan saya menikmati tanpa rasa takut sebab saya tahu persis sekaligus percaya bahwa setiap alat telah diperhitungkan oleh kaum ahli dan telah teruji aman. Di Coban Sewu, kedamaian itu absen sebab menyadari bahwa tali karet yang tersediapun tak terjamin, tidak ada yang tahu siapa yang membuatnya dan saya tidak cukup yakin apakan itu kuat untuk dijadikan pegangan.

Kepercayaan adalah faktor penting.

Dari perjalanan super mendadak hari itu, saya memahami makna dari sebuah quote terkenal "bird sitting on a tree is not afraid of the branch breaking, because its trust is not on the branch but on its wings." Menyelesaikan trek itu adalah simbolis bahwa saya mampu menaruh kepercayaan pada tapak kaki saya sendiri bukan pada seutas tali karet tersebut.

Rute yang sulit ditambah sumber daya yang meragukan, kadang kita jumpai dalam hidup ini. Di saat seperti itulah kita sedang diuji, siapakah yang sedang kita andalkan? Sesuatu di luar kita yang serba tidak pasti atau justru kekuatan yang diam-diam terkumpul dalam diri kita sendiri.

Setelah mengambil durasi merenung singkat, energi saya kembali terkumpul untuk meneruskan perjalanan pulang. Dengan paha penuh asam laktat, saya sempatkan menunduk lalu berbangga akan sepasang telapak kaki mungil ukuran 36 yang telah bekerja keras itu dan membuktikan bahwa saya tak salah telah percaya pada mereka. Saya berjanji akan memanjakan mereka dengan air panas sesampainya di rumah, saya tahu mereka membutuhkan itu :')
32 orang berangkat. bukan jumlah sedikit walau untuk ukuran "liburan bersama"

perjalanan menuju jepara dari surabaya di mulai malam hari. perjalanan sekitar 6 jam sebelum sampai ke pelabuhan kartini. sedikit mengecewakan sebenarnya, ketika melihat bagaimana banyak wisatawan berminat terhadap karimun jawa namun fasilitas di pelabuhan sangat jauh dr kata memuaskan.
baik pelayanan petugas, kerapian lahan parkir, bahkan fasilitas toilet umum.

perjalanan dilanjutkan dengan kapal lambat (dengan harga tiket: 42000), sekitar 4 jam perjalanan laut. mual sempat mampir, baik akibat asap rokok ataupun gelombang laut.

sesampainya disana, kami naik bison menuju homestay. tidak ada yg khas dari tempat bermalam selama empat hari itu, kecuali air putih. aroma laut dan sengir asin sejumput ada di setiap teguk air putih yg kami konsumsi.
tapi jangan khawatir, banyak kelontongan yg menjual air mineral untuk para wisatawan yg memang tidak bisa kompromi dgn air putih yg "unik" itu >,<

hari pertama kami sampai sekitar jam 2 siang. bergegas mandi dan tanpa membuang waktu beberapa kami yg masih memiliki cadangan energi berjalan kaki menuju dermaga besar, tepatnya menjelang matahari terbenam.
semburat oranye tertangkap sempurna oleh air laut, dan oleh setiap mata yg memandang.

sunset di dermaga besar


nyatanya sore itu saya menemukan keindahan yg melampaui semburat cahaya kala senja: Fatimah dan Soleha.
dua gadis cilik yg malu-malu mendekati kami. dan saya sambut dengan tawaran meminjamkan kacamata serta topi saya untuk mereka pakai. keakraban berlanjut. kami bermain, bernyanyi, dan menari bersama. iya, saya MENARI. walau hanya berputar ala penari balet, itu bukan hal mudah bagi orang usia 21. dan hanya rasa bahagia yg nyata berbinar di mata saya sore itu.
sepertinya jepretan sahabat saya, helen, lebih bisa berbicara dari rangkaian kata saya tentang sore bahagia di dermaga.


bahagia emang super sederhana


petualangan dimulai. esok paginya kami beranjak ke dermaga karena kami akan menyebrang menuju pulau-pulau di sekitar Karimun Jawa besar. (sejujurnya, saya tidak ingat persis urutan nama pulau yg saya kunjungi. maaf). dalam satu hari kami berhenti di tiga spot snorkeling. tapi tidak ada satupun spot yg benar-benar mengesankan. jadi lagi-lagi tak akan banyak cerita soal ini.



di perahu yg saya naiki, ada pak sabar. dia menjadi teman ngobrol yg menambahkan kepingan pengetahuan pada otak kecil saya. tentang tradisi lomban di hari ketujuh sawal dan dengan senyum menjawab penasaran konyol saya "pak kalau ada yg butuh operasi caesar gimana ya?"

hampir terlewat, ada nama lain yg juga mencuri hati saya di pulau itu. di hari kedua saya dan helen berencana menikmati sunrise di sebuah pantai, yg dikenal dengan nama: nirwana. akhirnya, semalam sebelumnya kami harus mencari rental sepeda motor. dan kami temukanlah rental motor "jojo"
dengan harga 50rb untuk setengah hari.
owner rental ini, membiar kami mengambil sendiri motor di parkirannya saat hendak menuju nirwana di jam subuh. MENGAMBIL SENDIRI, dengan kondisi kunci yg bergelantung. itu sukar kami cerna, tapi akhirnya membuat saya mengagumi etos saling percaya di masyarakat sana.

dan bagian terakhir yg cukup layak dibagi adalah: tongseng. jika anda mengunjungi karimun jawa jangan sampai lupa menikmati cumi tongseng di alun-alun. harganya bervariasi, tergantung ukuran. tapi rasa dijamin nikmat dan bikin rindu :)

di hari kepulangan, ada sesuatu yg membuat perjalanan ini ditutup dgn rasa miris.
pagi-pagi buta kami sudah sampai di dermaga. titik-titik gerimis menemani durasi penantian keberangkatan kapal. kamu menunggu tepat di belakang portal penutup jalan. saya, rombongan, dan banyak wisatawan lain.
kecewanya adalah, beberapa orang tidak cukup sabar menanti kedatangan petugas untuk membuka portal dan menerobos masuk.
oke, di hadapan para turis asing kelakukan warga asli demikian. rombongan tai lung kungfu dari bandung, dengan jaket kebanggaan mereka menerobos bersama. bahkan harus saya akui, juga ada dua orang dari institusi sekolah saya mengajar. tidak ada pembelaan yg cukup untuk tindakan semacam itu. kesabaran menunggu akan jauh lebih terhormat.
tanpa ingin merinci kejadian ini, saya harap masyarakat Indonesia bukan hanya menjadi wisatawan yg cerdas tapi juga bijak.

banyak kekecewaan di perjalanan ini. tapi masih beruntung karena ada alasan yg membuat saya memperhitungkan ini sebagai pengalaman yg mengesankan: para warga disana dan kuliner malamnya.dan sedikit banyak adalah karena ini merupakan momen terakhir menghabiskan waktu bersama rekan kerja :')

sesama guru IPS: kocak!
ladies :)


Soleha, Fatimah, pak Sabar, dan mas Jojo adalah kebetulan "manis" yg saya temui di sela-sela ketidaksempurnaan perjalanan ini.
pertemuan dengan mereka membuat saya merasa sedang mengambil sepotong fortune cookies yg tepat dan membuat perjalanan ini tetap layak dibagi.

sisi berkesan dari perjalanan sama seperti fortune cookies, kita tidak bisa menebak apa yg akan membuat hati kita tersenyum. mungkin satu-satunya yg dibutuhkan adalah ketegasan yg cukup untuk melawan kekecewaan dan tetap melangkah, setegas langkah saya sore itu menuju dermaga yg menjadi awal kisah cinta di karimun jawa.
sembari menikmati suasana mendung kota probolinggo, saya mem-flashback perjalanan saya di tahun ini. per januari 2014 sampai bulan sebelum berganti usia, ada setidaknya empat perjalanan berkesan

5 bulan sebelumnya..
dengan status sebagai "penyusup" tepat di hari pertama tahun ini, pulau menjangan menjadi saksi seorang bernyali ciut melawan sisi pengecutnya akan kedalaman dan rasa pedas.
di perairan pulau kecil itu, kagum tak henti meluap, akan keindahan bawah laut. pesona yg melebihi tebaran awan di puncak penanggungan, sunrise di bromo, bahkan laut jernih serta pasir putih karimun jawa.
dua wishlist bisa tercoret, adalah bonus. suatu perjalanan dengan kawan-kawan baru tanpa banyak rencana dan berakhir dengan kepuasaan!

2 bulan sebelumnya ...
pendakian perdana di 1653 mdpl. petualangan yang tidak menyisakan kesempatan untuk mencoret barang sebijipun wishlist. tapi perjalanan kaki 6 jam yg basah, dengan medan yg tak mudah jelas melekat di hati karena siratan rasa yg tak terkira. entah kapan bisa menikmati lagi perasaan semacam itu: haru dan bangga

bersama bendera kebanggaan saya


beberapa minggu yg lalu ...
di awal bulan ini, saya mengunjungi kota klasik: Jogjakarta. tidak ada yg terlalu mainstream di kota ini. Malioboro tak pernah kehilangan pesona. Borobudur yg megah juga tetap layak disinggahi. tapi perjalanan ini menetap di ingatan karena sang partner perjalanan dan kunjungan ke rumah sakit kelahiran saya di magelang, yg sekaligus menjawab salah satu poin dari 150 keinginan saya.
tempat tangisan pertama saya di bumi
entah kenapa suka banget sama foto kami satu ini


se minggu lalu ...
perjalanan paling tidak menarik, karena dilakukan berombongan. pun kecewa dengan alam bawah laut yg sudah rusak. jauh kalah indah dibandingan jelajah bawah laut menjangan. tapi jatuh cinta masih boleh saya cicipi di perjalanan kali ini, karena mengenal orang-orang warga asli Karimun Jawa, serta olahan ikannya yg murah tapi sakti menggugah selera. mengunjungi destinasi yg memang saya ingin tuju, lega rasanya!

bersama pak Sabar. yang menjelaskan banyak hal tentang pulau itu.

dua bocah cewek yg menyambut sore saya di dermaga Karimun Jawa

di menjangan, saya jatuh cinta dengan keindahan bawah lautnya.
di jogjakarta, saya jatuh cinta dengan partner perjalanan saya.
di karimun jawa, saya jatuh cinta dengan sikap sahaja warga lokal sana.
di penanggungan, saya jatuh cinta pada setiap jengkal langkah, setiap tetes embun, keringat, bahkan air hujan. tak mungkin lupa, jatuh cinta dengan samudera awan dan siratan sinar matahari yg berangkat gagah ke peraduan. tapi yg terpenting, disana saya jatuh cinta pada: diri saya sendiri.

kecuali penanggungan, di setiap perjalanan terselip kesempatan mencoret beberapa poin dari 150 keinginan.
tapi entah mengapa, pendakian adalah cerita yg paling ingin saya banggakan di usia ini.
semoga itu pertanda, di usia duapuluhdua akan ada puncak lain yg mengijikan saya melakukan pengulangan rasa yg serupa :)
perjalanan ke Jogja di akhir mei membuat saya mengunjungi stasiun lawas kebanggaan Surabaya. tetap dengan asap rokok dan bahasa khas Suroboyoan.
sembari menunggu dengan durasi yg cukup lama, saya berdiri di sebuah sudut ruangan. dan merinding tiba-tiba singgah. melihat beberapa orang dgn penampilan lusuh dan seadanya membawa carrier di punggungnya. ini adalah pemandangan favorit khas stasiun.

saya suka travelling tapi saya enggan disebut backpacker.

karena saya sungguh menghormati mereka yang  menaruh hidup dalam tas punggungnya, yang  berhari-hari meninggalkan kenyamanan rumah untuk mencicipi petualangan, termasuk dgn orang yg tidak mereka kenal. yg tidak meributkan terik matahari ataupun pendingin ruangan. Kadang tidur beralaskan lantai masjid kadang beratapkan langit.
mereka yang tanpa disadari banyak orang, menghabiskan banyak rupiah untuk kecintaannya. sebuah hobi yg mahal, tak jauh berbeda dengan yang dibanggakan oleh kaum elit, hanya dalam wujud yg membumi.
mereka paham bahwa uang selalu bisa dicari lagi, mereka menabung untuk hal yang pasti: hobinya.

Sejujurnya, saya jarang iri dengan mereka yg memiliki berbagai barang mewah , justru sinis seringnya. bukan pula mereka yg punya pekerjaan yg diidam-idamkan banyak orang. saya selalu iri dan mengagumi mereka yg tau apa yg mereka cintai. dan berusaha menghidupi cintanya itu.
ah sungguh, ingin menjadi seperti mereka.

selamat berpetualang para backpacker Indonesia!! terimakasih telah menginspirasi :)


Lihatlah betapa korupnya negeri ini,
ketika pejabat seakan tak punya malu lagi.

Penjajahan bukan lagi soal senapan,
tapi komisi besar menutup mulut perjuangan negeri.
Suap dimana-mana, korupsi merajarela.

Makin tak heran sebuah judul film berkata: "sungguh lucunya negeri ini"

Tapi selain itu semua, pernahkah menengok begitu melimpahnya kearifan lokal negeri ini?

Satu prinsip kuno yang baru saya pelajari hari ini adalah: "tuna satak, bati sanak"
yang artinya, kadang tidak untung berupa uang tak apa, asal jaringan makin meluas.
wah wah, para motivator dunia yang menekankan tentang jaringan daripada profit dollar bisa jadi meniru falsafah kuno kita ini.
selain itu, selama saya sebulan lebih di negeri asing, saya nyaris tidak pernah melihat ada percakapan antara dua orang yang tidak mengenal di sebuah bus kota atau tempat umum tertentu. bandingkan dengan disini, percakapan kecil di bemo hanya untuk sekedar bertanya "turun mana mbak" akan kita temui dengan mudah.
kebiasaan-kebiasaan luhur negeri ini begitu banyak. belum lagi jika kita bicarakan makanannya yang beraneka ragam, kain tradisional dari banyak tempat yang sungguh menawan.
surga dunia paling mainstream pun tak pernah sepi.
gunung megah yang menjulang.
prestasi anak negeri yang tak pula bisa dipungkiri.
jadi jika anda menanyakan saya, kenapa saya mencintai Indonesia, saya bisa jawab dengan sangat mudah.
saya cinta keberagamannya, saya cinta alamnya, saya cinta makanannya, saya cinta senyum sapa ramah orang-orangnya, saya cinta kemerduan alat musik tradisionalnya, saya cinta hampir semuanya di negeri ini.
hanya dua yang saya benci, pemerintahannya dan para golongan sok agamis yang terus memaksakan homogenitas negeri.

sang guru senior di ujung percakapan sore tadi bertanya "miss adiss ini kok bisa cinta banget sama Indonesia" lalu saya dengan lugu menjawab "saya juga gak nyangka bisa cinta banget sama negeri ini bu"

jadi moral percakapan tadi sangat sederhana, kecintaan ke Indonesia itu mudah. asal sejenak berhenti melihat pemerintahannya. :)