Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

I'm a huge fan of photography but I'm not Photographer.
I do like travelling, but you can't call me as a Backpacker.
and I have a blog, but I'm not a truly writer.

kenapa demikian? karena saya menghormati tiga 'status' itu. Photographer, Backpacker,dan Writer.
tiga status itu didapatkan seseorang karena keseriusan mereka menjalani hobi mereka. mendalami dunia yang mereka cintai. lalu memberi sumbangsih yang signifikan.

belakangan, dunia tulis menulis di dunia maya makin marak. fotografi-pun tidak kalah populer, kesannya kamera D-SLR kini menjadi barang wajib anak muda. dan jangan tanya soal travelling. bukankah itu sekarang hal itu semacam menjadi trending topic di mana-mana.

saya sendiri kurang simpatik kepada mereka yang hanya pernah kedua destinasi (misalkan) lalu dengan bangga menyebut dirinya seorang backpacker. dan mereka yang punya D-SLR ditenteng kemana-mana untuk diakui sebagai seorang pecinta fotografi. menurut saya tidak semudah itu. in my -not so- humble opinion, orang-orang semacam itu jadi wujud pencarian pengakuan.

tidak ada standar angka, berapa destinasi minimal yang harus kau tuju untuk bisa menyebutmu seorang petualang sejati
tidak ada juga standar pengetahuan teknik memfoto, ataupun standar jumlah foto, agar kau layak dikatakan sebagai seorang pelaku seni fotografi.
dan jelas, semua orang bisa menulis, semua orang bisa membuat blog tapi hanya sebagian saja yang layak dikatakan sebagai seorang penulis.

menurut saya, seberapa kecintaan dan dedikasimu terhadap secarik tulisan, sebongkah foto, dan secuplik perjalanan, itu yang penting.

selamat berkarya para backpacker, yang mengabadikan kisahnya berupa foto ataupun tulisan. bagikan apapun yang bisa membuat negeri ini menjadi lebih baik! :) biarlah hobimu menjadi hidupmu, yang menghidupkan orang lain! ^^
Jika ada yang berpikir bahwa guru hanya mengajar, Anda salah besar! Ada banyak tumpukan koreksian yang menanti untuk digarap, ada materi-materi yang terus berjalan dan memaksa seorang guru memutar otak mencari metode yang mengasyikan, dan beban-beban administrative lainnya. Akhir semester hampir tiba, dan jelas semua tanggungan jadi memuncak.

Di tengah kejenuhan itu, Tuhan sediakan penghiburan
.
Dan sepanjang saya mengingat, setiap minggu Tuhan berikan satu penghiburan tersendiri. Ini adalah tulisan tentang bagaimana Tuhan memimpin saya dalam menjalani profesi berharga ini, dan mengijinkan siswa saya dengan cara polosnya sendiri membuat saya tahu bahwa saya dihargai. Samasekali bukan tulisan untuk menyombongkan diri. Jika nantinya saya lemah, saya berharap saya kembali bisa mengingat penghiburan-penghiburan Tuhan melalui tulisan ini, dan kembali menjadi kuat.

Penghiburan pertama yang paling saya ingat, beberapa bulan lalu. di kelas bahasa mandarin siswa diminta untuk menuliskan satu paragraph tentang sekolahnya dalam bahasa mandarin. Salah satu hal yang harus dicantumkan adalah pelajaran kesukaan. Seorang siswa (yang terkenal jenius, sempurna di setiap pelajaran) menanyakan ke Lao Shi-nya, apa bahasa mandarin pelajaran PKN. Hal ini tidak saya dengar langsung tapi dari cerita lao shi yang bersangkutan, saat makan siang. Hati saya berbinar saat itu. Seorang murid terbaik, memilih pelajaran PKN sebagai pelajaran favoritnya. Di lain hari, tiba-tiba dia mengirimkan sebuah capture’an (sayangnya terhapus L) percakapannya dengan temannya yang saat hari itu (tepat saat ada pelajaran PKN) harus mengikuti sebuah kegiatan di luar sekolah. Bunyi percakapannya kira-kira begini:
K.A : kan enak besok gak ikut pelajaran
E: haha iya dong. mau ikut?
K.A : engga. seneng gak ikut pelajaran PKN?
E : lho engga :’( pengen ikut pelajaran PKN
Sederhana sekali bukan? Tapi saya menghargai hal itu. Setidaknya pelajaran yg saya ajar tidak menjadi momok bagi siswa-siswa saya.
Lain waktu, seorang anak dari kelas lain bertemu saya dan berkata “lho miss, kenapa PKN itu cuma seminggu sekali. Gimana bisa cinta bangsa kalo PKN aja cuma seminggu sekali” hahaha masuk akal sih celetukan siswa polos ini. Dan dari anak yang sama dia berkata (baru beberapa hari yang lalu) “enakan PKN hari senin miss, biar senin ada yg seru pelajarannya. Sekarang diganti ke hari selasa, hari seninnya jadi berat banget miss” :’) salahkan jika saya merasa dihargai dengan hal-hal semacam itu?

Dan yang paling ekstrem, dan sekaligus membahagiakan.

Saya pernah berceletuk (kelepasan bicara) bahwa saya mengajar mereka hanya 1 tahun. Dan tidak dikira respon mereka sungguh mengharukan. Hampir semua langsung bertanya “lho kenapa miss” saya pun akhirnya sedikit menjelaskan rencana saya untuk pekerjaan yang lain. Ada yang mengira pekerjaan saya tetap sebagai guru tapi di sekolah lain, dan dia dgn sangat esktrem berceletuk “aku ikut pindah kemana miss ngajar” saya tahu, itu hanya celetukan semata, tapi lucu dan membahagiakan juga kalau diingat. Lalu anak yang lain dalam kelas itu berkata “lho pelajaran PKN nanti jadi boring lagi, kayak pas SD”

Dan banyak hal-hal kecil semacam itu yang saya boleh alami. Benar-benar memberi kekuatan ketika kejenuhan mulai menyerang.


Ada banyak orang hebat, melalukan hal yang baik dengan caranya, Tapi menurut saya, hanya yang beruntung yang diijinkan tahu bahwa apa yang mereka kerjakan itu dihargai orang, hanya yang beruntung yang diijinkan tahu bagaimana ketulusan orang lain menilai apa yang mereka kerjakan. dan puji Tuhan, saya termasuk dalam hitungan orang beruntung tersebut!







setelah terinterupsi banyak sekali koreksian, akhirnya bisa mengetik sesuatu malam ini.
kali ini saya hanya ingin berbagi sejauh apa anak-anak SMP ini membuat saya bukan hanya menjadi tenaga pengajar tapi juga kembali belajar :)

minggu lalu adalah jadwal ulangan harian PKN untuk kelas 7, di salah satu kelas (7C) ada satu anak yang cukup berisik. Awalnya hanya dengan teguran kecil, lalu berulang dan mengganggu teman-teman lainnya dan memaksa saya untuk menggertak bahwa saya akan mengeluarkan dia jika masih saya berisik. sayangnya dia tetap berisik. saya menghampiri mejanya dan berkata "kamu mau keluar?" dan seketika dia keluar. padahal maksud saya kali itu, sekali lagi menggertak. setelah kelas usai, para siswa moving. saya panggil anak tsb. anak cowok yang sudah jadi bulan-bulanan para guru lain ini masuk ke kelas dengan mata merah. DIA MENANGIS!! saya kaget, iba, dan masih juga terlintas marah. saya ajak dia bicara. lalu terungkaplah bahwa anak ini tidak terima dengan keputusan saya untuk mengeluarkan dia sendirian, padahal dia kelas itu ada beberapa anak selain dia yang juga menyumbangkan keributan di tengah-tengah keseriusan mengerjakan ulangan. masing-masing kami merasa benar, dan di saat yang bersamaan kami sama-sama bersalah. karena dia belum selesai mengerjakan ulangannya, saya berikan kesempatan dia untuk mengerjakan bagian yang belum dikerjakan esok harinya sepulang sekolah.
singkat kata, saya menunggu di ruangan lalu dia datang. hati saya masih terlintas sedikit kemarahan sehingga ketika dia masuk mengetuk pintu saya tidka melemparkan senyum samasekali. tapi ternyata jauh berbeda dengan dia. dia masuk dengan ceria dan kepolosan bertanya "miss, jadi kan hari ini" lalu menanyakan "soalnya tetap atau ganti miss?" juga bertanya "lho miss aku dikasih waktu berapa lama" dan rentetan pertanyaan dengan nada antusias khas remaja. saya sempat terdiam lalu menyadari hal yang saya -sebagai gadis 21 tahun- tidak mampu lagi lakukan. dia sepertinya lupa begitu saja air mata kemarahannya ke saya 1 hari sebelumnya, dia datang ke saya hari itu tanpa mengingat lagi bagian yang tidak menyenangkan. ya itulah yang semakin sulit orang dewasa lakukan, menganggap lalu perasaan negatif. memaafkan dengan tuntas, tanpa terus mengungkit kembali kemarahan dan kekecewaan. berapa banyak dari kita yang bisa melakukan hal itu?
misalnya ketika saya ada masalah dengan ibu kos, dengan mudah saya beberkan kesalahan ibu tsb. saya mengingat, mengungkit, dan memaafkan tanpa ketuntasan. sepertinya bukan hanya saya yang melakukannya, bukan hanya saya yang kehilangan kemampuan "melupakan." agaknya usia bertambah membuat memori otak terus bertambah, sehingga semakin banyak ruang untuk mengingat dan menyimpan banyak hal, yang sayangnya bukan hanya hal positif tapi juga emosi negatif.
terimakasih Georgiano yang mengingatkan saya hal ini :)
officially, getting older for once more. Praise Lord, I’m 21 years old already.
yeaaah, saya hanya mau bersyukur.. dan bersyukur.. lalu bersyukur..
bagaimana bisa tidak bersyukur atas segala kemurahanNya yg bahkan sebenarnya samasekali tidak layak saya –manusia berdosa ini- cicipi. Bertambah angka usia, mendapatkan gelar sarjana masih di usia 20, melihat kakak perempuan tercinta naik ke pelaminan, dan mendapat kerja saat saya belum sarjana.  Dua poin dalam wishlist saya terkabul tanpa rencana. Rasanya benar-benar bulan yang luar biasa. Tapi lebih dari itu, ada satu hal yang benar-benar membuat sukacita ini sempurna: itu bukan tentang ‘apa’ tapi tentang ‘siapa,’ sangat bersyukur karena saya tahu dengan persis siapa yang layak ada di samping saya saat kejayaan dan pencapaian melimpah yaitu mereka yang setia di kala masa duka, dan terus berkata jangan menyerah ketika saya singgah di titik terendah, sekalilagi terimakasih buat Arlan, Kak Jo, Alfian, Krisna, kak Ajeng, Helen, Adit, dan Daud.. yang sudah melakukan hal serupa, yang menemani saya bahkan jauh-jauh menempuh jarak surabaya-lumajang ketika saya berduka ^^

ah Tuhan, sempurna sekali apa yang Engkau kerjakan. mungkin adiss belum punya scoopy buat memberhentikan segala kebiasaan ‘nebeng’ juga belum punya DSLR buat menyalurkan hobi photografi, juga belum punya iPhone buat … (entahlah, cuma pengen aja) dan belum punya seseorang yang bisa jadi alasan bergalauria, tapi lagi-lagi tidak akan kehabisan alasan untuk bersyukur.


Hadiah untuk ultah tahun ini, tidak banyak tapi sepertinya semua tepat sasaran. Hadiah dari cece, topi dan kacamata hitam, bener-bener dua item idaman buat menemani perjalanan bolang selanjutnya. ada juga satu hadiah buku dari artha dan esther, yang semakin menguatkan pengharapan. Hadiah dari Helen dan kak Ajeng gak kalah membahana, baju kerja!! :D ya jelaslah bakal berguna. Keroppi pink dari kakJo mungkin kurang sesuai usia, tapi gimana ya, namanya juga koleksi. Suka-suka aja dikasih keroppi. Apalagi warnanya PINK, nemenin satu keroppi pink di kamar yang udah setahun sendirian (lainnya warna hijau soalnya). Intinya, ini bulan yang luaaarr biasa :D terimakasih Tuhan. Bolehlah berkali-kali seperti ini lagi. Tapi, entah pelangi entah badai, biarkan adis tetap belajar mencintai Engkau, Sang Pemberi dibandingkan mencintai hal-hal pemberianMu.. :)
slogan lebih cepat lebih baik ini tidak mengarah ke satu elit tertentu. tapi toh juga familiar di sekitar kita.
nah itu dia yang jadi pergumulan saya sekarang. yaitu tentang: WISUDA.
ah memang ya, alasan ngeluh manusia itu ada aja. dulu pas kuliah awal2 ngeluh jurnal yang bejibun. pas akhir-akhir ngeluh proposal dan skripsi. pas selesai semua itu, gantian ngeluh urusan wisuda yang so ribet.
intinya nih, hari ini aura muram saya ya karena emang masih gak ikhlas aja harus nunda wisuda. bukan karena saya tidak siap, tapi karena regulasi kampus yang sering tidak menyenangkan. *sigh*
kalo dari saya sendiri, gak terlalu maksa buat agustus, dari keluarga juga gak maksa. tapi ada banyak keadaan yang memang sesuai dengan prinsip "lebih cepat lebih baik"
dalam dua bulan penundaan, ada banyak hal yang tidak terbayangkan yang bisa terjadi.
kita tidak pernah tau usia seseorang. kadang ada ketakutan berlebih, orang-orang yang untuknya saya berjuang mendapat sarjana justru tidak bisa menikmati kebahagiaan wisuda saya. ya kayak papa saya.

tapi mungkin ini hanya ketakutan yang berlebih, dari manusia yang kurang beriman.

HALAMAN INSPIRATIONAL


Jika Tuhan mengijinkanmu melangkah di jalan yang Berbatu,
itu artinya, Dia sudah menyiapkanmu sepasang sepatu yang tangguh
-Papa

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (II Korintus 12:9a)


“… beware of the sin of ingratitude
–St Francis Assisi: Sermon to the Birds


So if you're full of trouble
and you never seem to win
Just open up your heart and let the sun shine in
(Frente)



from this moment on, every voice that told you 'you can't' is silenced. Every reason that tells you that things will never change, disappears. And the person you were before this moment, that person's turn is over, now's your turn –Mrs.Gruwell, Freedom Writers
ah sekarang sudah jadi guru..
kontrak selama satu tahun kedepan sudah dimulai.

sejauh ini, sama sekali tidak menyesal tentang keputusan yang saya ambil, dengan mengeliminasikan pilihan bekerja di bank, dan memilih institusi sekolah.
walaupun dipusingkan dengan berbagai perangkat mengajar, tapi puji Tuhannya merasa begitu damai. dikelilingi atmosfer persekutuan dan tawa-tawa para siswa.
dan anehnya, ada siratan rasa bangga yang tidak bisa diingkari. bisa mengajarkan tentang Indonesia ke siswa-siswa setelah saya delapan semester belajar bagaimana negara ini berusaha untuk strategis bergerak dikancah internasional (walaupun kenyataannya tidak strategis sih -_-) daaaan cukup menantang juga mengajarkan tentang globalisasi, yang anak HI pahami dengan penuh teori tinggi, untuk ke tataran siswa. anggaplah ini satu tahun mengabdi, satu tahun untuk MEMBUMIKAN ilmu yang sudah saya terima ^^

kalo mau dibicarakan, kenapa saya memilih pekerjaan ini, saya punya tiga alasan.
pertama,  saya tiga bulan bekerja sebagai part timer di sekolah ini. saya mengajar kelas 8. mereka adalah murid pertama saya. entah, ada keinginan untuk melihat mereka lulus ke SMA. dan caranya adalah dengan kembali ke sekolah tsb.

kedua, karena saya butuh penghasilan. setelah kepergian penopang keluarga, tanggung jawab saya jelas tidak semakin kecil. saya memutar otak sebenarnya bukan (hanya) tentang kebutuhan hidup bulanan di kota rantauan, tapi tentang kebutuhan wisuda dan skripsi (yudisium juga) yang jelas menelan banyak biaya.

ketiga, simply karena ada tawaran. selain sekolah ini dan bank, saya belum melamar dan ditawari pekerjaan lain. dengan ijazah SMA saat itu, mau kerja apa?

dan sejauh ini, intinya saya jatuh cinta. tahun depan akan jadi sangat berat. waktunya mengucapkan perpisahan. waktunya mencari pekerjaan idaman. yang jelas tahapan kehidupan sebagai guru ini akan memperkaya saya. itu pasti ! :)
Soli Deo Gloria!
Segala Puji dan Kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus, atas kemurahan dan anugrah-Nya yang mengijinkan penulis menempuh perkuliahan dan bahkan memampukan untuk menuntaskannya hingga akhir, serta untuk penyertaan dan penghiburanNya yang ajaib bahkan di masa kedukaan yang kelam di tengah-tengah proses penulis menyelesaikan Skripsi ini.
Pemilihan topik skripsi ini adalah wujud kolaborasi dari berbagai faktor. Dimulai dari ketertarikan penulis akan rezim perlindungan HaKI yang penulis pelajari dari Mata Kuliah Globalisasi dan Strategi, yang memunculkan rasa miris akibat ketimpangan yang muncul dari rezim tersebut, ditambah faktor kekaguman sebagai anak desa, akan lahan sawah hijau yang membentang dan rasa penasaran sebagai anak negeri mengapa masih ada kelaparan di negeri lumbung padi ini, yang seharusnya tidak lagi terjadi di dunia penuh teknologi canggih. Penulis sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, walau demikian semoga memberi wawasan signifikan bagi para pembaca.
Tuntasnya proses skripsi ini terutama dari dan untuk Dia. I have been given this assignment by Him, the One who knows the end from the beginning, the One who holds the future in His nail-scarred hands and so I will gladly fulfill my role. Of course, it didn’t work out according my plan. Life generally doesn’t. God had a totally different plan. I don’t know. I don’t think I’ll ever know. And part of me doesn’t even want to know. I just wanted this to be something that could only be explained by God’s intervention. Those days I walked by faith and not by sight, It was the most exciting time of my life. Terimasih untukNya yang membuat penulis bisa bertemu mereka yang penulis sebutkan di 10 poin dibawah, mereka yang layak mendapat terimakasih, karena dukungan, doa, dan semangat;
1.      Om Eddy Harsono, atau elik -yang sering penulis panggil sebagai papa angkat- yang karena keringat dari bisnis ‘toko kue Soponyono’nya mau membiayai kuliah, hingga gelar sarjana ini didapatkan. Terimakasih telah menjadi alat Tuhan untuk mendekatkan penulis kepada cita-cita, ditengah segala keterbatasan orang tua kandung penulis. Tanpa beliau, kuliah akan hanya jadi angan.
2.      Papa, Yoseph Tio, yang sudah damai di surga, yang meninggalkan penulis di tengah-tengah masa akhir perjuangan dan untuk Mama, Kristien Handayani, dengan segala ketegarannya. Terimakasih atas unconditional love yang membuat penulis tidak pernah menemukan alasan untuk menyerah. Terimakasih juga untuk Cece, Elsa Anastasia, yang menjadi sahabat pertama dan mama kedua bagi penulis, yang kepedulian dan ketulusannya mengajarkan penulis banyak hal.
3.      Dosen Pembimbing Skripsi penulis, Bapak Vinsensio Dugis atas bimbingannya selama dua semester ini. Terimakasih untuk ibu Baiq Wardhani selaku ketua departemen HI, penguji proposal, serta Mas Radityo, dan Mas M. Yunus yang telah memberikan banyak masukan melalui sidang pra-skripsi. Terimakasih kepada Mas Joko Susanto atas wawasan yang selalu memancing rasa ingin tahu, termasuk tentang TRIPs dari perkuliahan Globalisasi Strategi. Terimakasih untuk Mas Safril sebagai dosen wali awal penulis.
4.      Keluarga UK3, terkhusus Tim Choir, Daud, Arlan, KakFeni, Alfian, dan Adit, termasuk karena mau menempuh jarak Surabaya-Lumajang untuk menguatkan penulis di masa kedukaan. Juga untuk segenap kelurga PD Fisip, termasuk adik-adik bimbing penulis. Terimakasih atas kesempatan melayani dan membuat penulis bertemu banyak sahabat dan saudara baru. Terimakasih karena membuat penulis semakin mengenal sang Pencipta.
5.      Sahabat-sahabat terdekat penulis. CCCL (Chika, Chyntia, Claudya, Lia) yang sempat jadi sahabat di awal-awal perkuliahan, miss you all. Kak Jonathan Pratama, sahabat terdekat penulis untuk mendengar dan didengar, yang selalu menambah keindahan dan ucapan syukur di hari natal, terimakasih atas dukungan, teladan, dan masukan. ‘Pakdhe’ Krisna, terlepas dari segala terpaan kata ‘cie’ dari sana sini, terimakasih telah mau berdoa untuk penulis. Terimakasih untuk Kak Ajeng dan Helen yang jadi partner terdekat di akhir perkuliahan, semoga kita segera mewujudkan semua poin dalam bucket list kita. Untuk Yudha, yang juga menjadi teman sharing penulis. Untuk ‘fro’ Daniel, yang tetap menjadi teman baik, dari perjuangan UM-UGM hingga detik ini. Dan pastinya untuk Artha, teman kosan yang sudah menjadi sahabat baik penulis, terimakasih atas semua bantuan baik makanan hingga telinga yang mendengarkan selama tinggal ‘serumah’.
6.      Sahabat HI penulis: Ocik, yang penulis kenal semenjak daftar ulang SNMPTN; Sinta, yang mengajarkan penulis apa itu kerendahanhati sesungguhnya; Erryn sang partner saling curcol terkhusus di masa skripsi ini; Putri, yang tidak jarang memahami sesuatu yang sama dengan penulis hanya dengan tatapan mata; serta Dindya yang serba tahu banyak hal. Untuk teman-teman sebimbingan pak Dugis, Mami Sheila yang sudah menjadi Srikandi 3.5 tahun, Bella dan Anjar, dan terkhusus Trully dan Tsabitha yang banyak penulis rempong-in dan saling menyemangati. Pastinya, untuk HIers 2009, dengan segala keunikan individunya dan keseruan acara tahunannya, dan rasa sepenanggungan akibat tumpukan jurnal, Proud to be HIers! Semoga gelar S.Hub.Int ditambah passion masing-masing membawa kita semua pada kesuksesan! Amin! Selamat berkumpul lagi di lain kesempatan, terkhusus pernikahan teman seangkatan! Selamat menempuh kehidupan tanpa perhitungan SKS. We did it!
7.      Keluarga Bencana KKN Kedasih. Satu pengabdian di tanah pedesaan mempertemukan penulis dengan 19 teman yang begitu menyenangkan yang tetap karib hingga penulis menulis paragraf ini.
8.    Empat teman anak teknik 2009 yang penulis kenal secara ‘ajaib’ yang ternyata menjadi bagian yang banyak membantu dan menyemangati. Riyan ITS, bang Riswan Udayana dan Aggy UB, yang sangat menguatkan, selalu menyemangati, dan begitu peduli. Dan Manuel dari teknik pertanian UNEJ yang menjadi teman diskusi penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Terlihat kecil yang kalian lakukan, terlihat kebetulan cara kita mengenal, tapi semua Tuhan pakai untuk membawa kebaikan.
9.      Untuk mereka yang tidak bisa penulis abaikan. CG, sahabat sejak SD (Andin ‘twin’, Masita, Nia, mbak Vinda, Evi Dumeg), teman SMP (terkhusus Reni), terimakasih karena keakraban yang memudar karena jarak ternyata tidak mengalahkan kebaikan dan perhatian kalian. Teman SMA kelas akselerasi (terkhusus Wisesya yang sedang sama-sama memperjuangkan kelarnya skripsi ini), teman-teman JKS, Nav, Perkantas, dan RessYouth yang mewarnai perjalanan kuliah hingga penyelesaian skripsi ini. Untuk mbak Shanti, Sehat, dan Gabby, sebagai ex-roommate penulis yang penuh wejangan. Penulis juga menyempatkan berterimakasih untuk para siswa kelas VIII SMP Kristen Gloria, karena keunikan (termasuk kebandelan) kalian telah menjadi alasan untuk tertawa, bangun pagi, dan penuh semangat selama menjadi guru part-time di masa akhir kuliah yang membosankan ini. Dan terakhir, untuk beberapa orang di gang Karang Menjangan V-VI, yang membuat perjalanan kosan-kampus selama hampir empat tahun, menjadi cerah karena penuh sapaan, terimakasih!
10.  Tidak lupa untuk keluarga besar, baik dari Papa ataupun Mama, terimakasih atas diam seribu bahasa yang penuh keraguan, celaan, dan sesekali rasa bangga. Terimakasih karena segalanya itu telah menambah semangat penulis untuk membuktikan bahwa penulis bisa!
Dan untuk siapapun yang layak untuk mendapatkan ‘terimakasih’ ini, yang tidak dapat penulis tulis satu per satu, yang membantu secara langsung dan tidak. Terimakasih atas perhatian tak bersuara. Terimakasih karena kalian semua membuat penulis tahu bahwa Mazmur 91:11 (“karena malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu”) bukan hanya rangkaian kalimat semata.

Surabaya, 7 Juni 2013

Penulis