Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

sejujurnya, 150 poin itu saya buat se-pengen saya (yaiyalah, masak sepengen kamu?) maksudnya, saya gak pernah menata kehidupan berdasarkan poin itu, dan samasekali tidak pernah menyusun rencana untuk mencapai-nya satu per-satu. saya bukan tipe yang sangat disetir dengan poin-poin tersebut, jika banyak yang tercapai saya bisa bilang itu terjadi begitu saja :) ya karena Tuhan bermurah ke saya ^^

oke, karena saya malas mengetik ulang, saya share capture'an tweet aja. hehe





Mazmur 48:15 “Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita!”


Jika sebelumnya aku menulis tentang KakJo yang diterima kerja di tempat idaman sesuai passion dan juga tentang kelulusan yang brilliant dari sahabat sejurusan, Sinta, sekarang jemari ini akan menari untuk kawanku yang lainnya.

Jika ada yang menghabiskan banyak sekali malam bersamaku, itu adalah Arthami Berliana Hutagalung. Sahabat sekosan sejak 2010.
Aku ingat sekali, saat kabar papa ku dipanggil Tuhan, orang yang sedang ada di sisiku, dan menenangkanku tidak lain adalah dia.
Sahabat terbaik untuk menemani lemburan-lemburan tugas kuliah. Apalagi di masa skripsi, kami berempat: saya-dia-laptopku-laptopnya, berjuang hingga matahari kembali terbit..

Kadang kami minum kopi, sengaja tetap terjaga entah untuk apa.. hanya sekedar ngobrol membahas hidup yang penuh warna, persis seperti lampu-lampu yang melilit pohon natal.

Perjuangan skripsiku sudah berakhir Juli lalu, juga bukan tanpa Artha..
Dia satu teman yang bahkan mau datang ke sidangku, yang berbeda jurusan dengannya.. menemani hingga hasil dibacakan. Tapi yang tidak akan bisa aku lupa adalah bagaimana dia menenangkanku di masa nano-nano semalam sebelum sidang. Antara takut dan gembira, Artha menemaniku memilih yang kedua.
Terimakasih Artha, telah jadi pendengar yang luar biasa..
dan terimakasih karena kamu selalu mengingatkan: "bahkan ketika kita ambil sedikit jeda sejenak, jangan terlalu terlena. Jangan lupa, beban lainnya akan terus datang!"


Selamat untukmu, Arthami Berliana Hutagalung, S.Ak. Kita sudah sama-sama sarjana J \m/
Januari
sibuk ngumpulin duit dan segala tetek bengek berangkat ke Thailand
untuk pertama kalinya bikin cece nangis L  feeling so bad.

Februari
Internship life. One lifetime experience. My Miraculous Month.
Ngerasain sidang PBB. Ngunjungi Logos Hope (dengan kebetulan), Chinese New Year yang paling seru, dan sebagainya. Banyak wishlist-s yang bisa dicoret bulan ini.

Maret
Raker uk3. It means, tugas sebagai BPH telah usai :’)
JKS di Malang. Teman baru dimana-mana J

April
Mulai Ngajar di Gloria (sebagai part timer, 3 bulan)

Mei
Skripsi SELESAI!! Oh thanks God.

Juni
Mulai gabung sama komunitas baru lagi: RessYouth J

Juli
Tanggal 1 : Mulai ngajar lagi, sebagai full timer
Tanggal 7 : my sister’s wedding
Tanggal 10 : sidang skripsi
Tanggal 12 : ulang tahun
Tanggal 15 : pengumuman lomba foto, dan juara II

Agustus
Ikut liputan investigas salah satu saluran TV swasta
Reuni temen SMP angkatan lulus tahun 2007
Ikut upacara bendera (setelah sekian lama)
Gagal Yudisium

September
Finally Yudisium beres! Ready for graduation next month
Pertama kali-nya mendoakan timnas (di kelas 7D)
Pindah kosan setelah empat tahun yang sangat nyaman di gang Karang menjangan V-VI

Oktober
GRADUATE!! J feeling so great
Pertama kalinya lihat DBL (junior pula) but it’s totally fun \m/
Jambore Pemuda GKI se-Jawa Bali. Pengalaman Baru, Teman baru.

November
Peringatan Hari Pahlawan di sekolah
Kena teguran karena tulisan
Cooking class bareng para siswa \m/

Desember
Ke Monkasel dan Tugu Pahlawan (my first, padahal uda 4 tahun di Surabaya)
Nginep di sekolah (acara PerJuSa)
Joyful Christmas.
Punya novel kedua (setelah Geographical of Bliss, Desember 2012)

Merci Beoucoup mon Seigneur ^^

Mazmur 48:15 “Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita!”

Minggu terakhir di tahun ini adalah liburan yang berkualitas. Seperti kata penulis buku Geographical of Bliss, mereka yang penya waktu untuk membiarkan pikirannya berkeliaran justru bisa lebih mendalami apa yang terjadi di sekitarnya. Perkataan itu ditujukan untuk menjelaskan orang Eropa yang menghabiskan banyak waktu di kafe, untuk ‘merenung’ dan akhirnya melahirkan banyak ilmuwan serta filsuf hebat. Sepertinya perenungan demikian telah membius saya di liburan ini. Bukan, bukan tentang hal yang sangat rohani atau dramatis. Hanya memaknai kembali bagaimana sebuah pertemanan dimulai.

Percakapan intens saya dengan seorang kawan yang saya kenal tahun lalu membuat saya menyadari kecenderungan yang sama dalam hidup ini, ya dalam hidup saya.

Tidak ada yang kebetulan, itu benar dan filosofi ini sudah sangat populer. Seperti satu ucapan di film full house “takdir adalah serangkaian kebetulan yang menuju pada satu titik yang sama”

Antara kebetulan dan pertemanan, dua hal berbeda konteks yang dalam eksekusi lapangannya sangatlah berkaitan. Ada begitu banyak kebetulan yang membuat sebuah pertemanan bahkan persahabatan di mulai. Seseorang yang tidak pernah kita dengar namanya, yang tidak kita kenal melalui komunitas terdekat kita (kelas di sekolah, ataupun di jurusan saat kuliah), yang tidak pernah kita rencanakan pertemuannya, mungkin menjadi seseorang we can count for a lifetime.
Kita bisa memulai pertemanan dimana saja dan kapan saja, baru kemarin saat malam natal saya berkenalan dengan dua orang perantau baru di Surabaya. Satu orang dari Jakarta, dan satu yang lain dari Jogja. Kami bersebelahan saat malam natal, kami ngobrol bertukar pin dan tidak disangka keakraban kami layaknya kawan yang sudah lama mengenal. Entah sampai kapan ini bertahan, mungkin hanya sebentar seperti euphoria tahun baru yang paling lama bertahan hanya dua minggu. Tapi kenapa berusaha menebak? Cukup tetap jadi orang yang positif, sambut setiap orang baru dengan kehangatan. Seperti kata Sidney white “awalnya saya hanya ingin diterima, namun saya sadar kita semua ingin diterima.” Dan karena itu, saya ingin berusaha memperlakukan orang yang saya kenal baik lama ataupun baru saja, dengan sebaik-baiknya.

Tidak ada yang membenci sebuah pertemuan, entah itu akan bertahan atau tidak nantinya. Bahkan ketika hanya berujung “mengenal,” itu tetap layak disyukuri. Mungkin seperti saya dan twin saya, Limbong. Kami kebetulan berkenalan di sebuah acara di Bali, dan ‘secara ajaib’ saya menemukan dia adalah saudara kembar saya yang terpisah, karena ulang tahun kami persis sama. Tapi itu hanya euphoria semata, pada kenyataannya saya tidak pernah benar-benar berbagi apapun dengan dia kecuali sebuah buku untuk hadiah ulang tahunnya. Tidak ada cerita yang pernah kami bagi. Tapi tidak semua kisah seperti itu.

Kadang kebetulan membuat kita menemukan rekan terbaik di kala hidup ada di titik terburuk. Seperti antara saya dan Fro (Daniel Jones Bernadi). Kami mengenal tanpa sengaja karena sama-sama ikut UM UGM di Jogja, dan sama-sama ditolak lalu sama-sama diterima di UNAIR. Bahkan saat ini, ketika dia punya seorang kekasih, dia masih mau menjaga percakapan kecil kami. Dan jangan tanya, ketika saya insomnia, dialah yang akan saya cari. Saya membayangkan jika saat itu SMA saya dan SMA-nya tidak join bus untuk UM UGM di Jogja dan jika salah satu dari kami diterima di UGM, mungkin dia hanya akan jadi someone-I-know but will never be my friend. Untungnya semua ‘jika’ itu tidak terjadi.

Kadang kebetulan juga menuntunmu ke orang-orang yang membuatmu belajar. Misalnya belajar gigih meraih cinta (asik bahasanya ya :p) yang saya sadari beberapa hari yang lalu dari Rado, kawan dekat Limbong, yang sedang berusaha memenangkan hati sahabat cewek terdekat saya. You-might-know-who-is-she.
Mungkin lebih dari itu, membuat belajar memaknai apa yang terjadi. Seperti bagaimana kebetulan mempertemukan saya dengan kakJo. Di mulai di natal 2010. Kami menjadi sama-sama perantau yang kebetulan menghabiskan hari penuh sukacita dan kedamaian tidak bersama keluarga di rumah. Melalui percakapan online facebook, kami janjian pergi ke ibadah natal bersama, padahal tidak pernah berkenalan secara tatap muka sebelumnya. Banyak yang saya pelajari dari kakak ini, tapi yang terpenting saya menemukan seorang yang selalu bisa saya usik dengan cerita-cerita gembira ketika saya jatuh cinta, dan cerita muram ketika patah hati. Saya tidak mau membayangkan, jika hari natal itu saya memilih pulang kampung, mungkin saya tidak akan menemukan sahabat baik seperti kakJo.

Kebetulan juga tidak jarang membimbingmu ke seorang kawan yang menularkan antusiasme tinggi dalam hidup. Seperti antara saya dan Arya. Jika dia dan kawan saya tidak pernah jadian, mungkin kami tidak akan mengenal. Bahkan setelah dia dan kawan saya berhenti memadu cinta sekitar 2 tahun lalu, bahkan walaupun dia sempat pindah ke Bogor, kami tetap akrab hingga hari ini. Saya telah menjadi temannya sejak dia gandrung skate board, capoeira, dan sekarang beatbox, dan saya harap ketika hobinya lagi-lagi berubah, saya tetap jadi temannya. Dia menjadi teman yang sangat antusias pada banyak hal, dan kamu pasti tahu antusiasme itu seperti rasa kantuk, bisa menular tanpa kita sadari.

Dan mungkin, kebetulan juga yang mungkin akan membawamu setapak demi setapak pada seseorang yang ingin kau doakan setiap hari. Seperti saya hari ini dengan seseorang yang berusaha mencari alamat blog saya sekarang, Riyan. Bermulai dari bercandaan di perjalanan Jombang-Surabaya antara BPH PMK ITS dan BPH UK3 UA, dan bermula dari kepatuhan saya terhadap suruhan Beetho (kawannya) untuk sms dia di hari ulang tahunnya yang menjadi permulaan kedekatan kami hingga sekarang.

yang istimewa dari sebuah pertemanan adalah tidak ada status 'mantan', kita tidak bisa mengubah status apapun. Bahkan antara saya dan Limbong, saya tidak akan menjuluki-nya “mantan kembaran.” Sama seperti tidak akan ada mantan ayah atau mantan ibu, sepertinya juga tidak akan ada mantan teman atau mantan kenalan apalagi mantan sahabat J dan itu kabar baiknya! yang ada hanyalah istilah "kawan lama" bukan "mantan kawan." Kecuali, Anda memilih untuk mengakhiri itu, memberikan sebauh batas akhir pada relasi yang tidak harus berakhir.

Sepertinya di tulisan lain, saya pernah mengatakan ini, tapi biarkan saya ulangi. Hal paling saya syukuri dan saya banggakan di dunia ini, setelah keselamatan dari Pencipta saya, adalah orang-orang yang Tuhan ijinkan hadir. Saya tidak bisa membanggakan fisik saya, apalagi bakat saya. Saya bukan orang jenius, dan sangat payah di dunia olahraga dan seni. Tapi di tengah keterbatasan dan ketidaklayakan ini, Tuhan anugrahkan banyak banyak sekali orang yang akan melipatgandakan sukacita di hari bahagia, dan mengangkat saya lebih tinggi ketika saya sudah menyerah dan menempelkan wajah ke bumi. Apa yang bisa saya kata?
kecenderungannya hanya satu: kebetulan selalu terjadi.

Orang-orang itu semua lahir dari ‘kebetulan ajaib’ yang Dia rancangkan. Mereka yang memeriahkan hidup saya yang entah akan berujung pada usia berapa. dan mungkin menjadi seperti Richard Parker untuk seorang Pi, yang membuat gairah untuk hidup tetap ada.
saya anjurkan anda mengamati film Life of Pi, ada begitu banyak kebetulan yang terjadi, dan semua berujung pada satu kisah yang membuat orang lain dan dirinya sendiri belajar tentang Tuhan. Kadnag tentang Hikmat-Nya, kadang hanya sekedar membuat kita mengingat bahwa Tuhan memang ada dan terus berkarya.

jadi.. jangan takut, karena yang mengatur kebetulan itu adalah Pencipta Semesta yang tidak akan pernah melakukan salah..


Selamat menjelang tahun baru!! Buka senyum lebar-lebar ke setiap orang yang kau temui, siapa tahu dia akan jadi sahabatmu selamanya!
ini sebuah karangan dari John Wayne Schlatter, yang tidak sengaja saya temukan ketika mengisi siang yang kosong sendirian di perpustakaan sekolah..

aku Seorang Guru

seharian, 
aku telah diminta menjadi seorang aktor, 
teman, penemu barang hilang, psikolog, 
pengganti orang tua, penasihat, 
pengarah, motivator, 
dan penjaga iman

Meski tersedia peta, 
grafik, formula, kata kerja, cerita dan buku
Aku sebenarnya tidak punya apa-apa untuk diajarkan,
karena murid-muridku sebenarnya hanya mempunyai diri mereka sendiri untuk belajar,
dan aku tahu dibutuhkan seluruh dunia untuk memberitahu siapa diri kita

aku sebuah paradoks. Aku paling keras berbicara ketika aku paling banyak mendengar
Karunia terbesarku terdapat dalam apa yang aku siap terima dari murid-muridku dengan sikap menghargai.

kekayaan materi bukanlah tujuanku, tapi aku seorang pencari harta karun, yang selalu mencari peluang baru bagi murid-muridku
-peluang untuk menggunakan bakat mereka- dan selalu mencari bakat baru yang kadang tersembunyi di balik sikap menyerah

akulah yang paling beruntung di antara semua pekerja

seorang dokter diizinkan untuk mengantar kehidupan ke dalam dunia dalam satu saat ajaib, aku diizinkan melihat kehidupan itu dilahirkan kembali setiap hari
bersama pertanyaan baru, gagasan baru, dan persahabatan baru.
seorang arsitek tahu bahwa jika ia membangun dengan teliti, bangunannya mungkin akan berdiri selama berabad-abad. Seorang guru tahu bahwa jika ia membangun dengan cinta dan kebenaran, apa yang ia bangun akan abadi

aku seorang pejuang, setiap hari bertempur melawan tekanan teman, sikap negatif, rasa takut, cara berpikir seragam prasangka, kebodohan, dan kelesuan.
tapi aku memiliki sekutu hebat: kecerdasan, rasa ingin tahu, dukungan orang tua, berbagai individu, kreatifitas, iman, cinta, dan tawa
semua bergegas menghampiriku dengan dukungan yang luar biasa.

dan kepada siapa lagi aku harus berterimakasih atas hidup indah yang begitu beruntung bisa kujalani ini selain kepada kalian, masyarakat, dan para orangtua. karena kalian telah memberiku kehormatan besar dengan mempercayaiku untuk mendidik sumbangan terbesar kalian bagi keabadian, anak-anak kalian.

aku seorang guru.. dan untuk itu aku bersyukur kepada Tuhan setiap hari


tulisan ini indah sekali.. saya bisa membayangkan guru-guru saya dulu merasakan itu semua, dan juga rekan kerja saya sekarang yang telah menikmati keindahan sebagai tenaga pendidik jauh lebih dulu daripada saya.

Hanya satu tahun menjadi guru -di sekolah ini, itupun jauh dari kata sempurna dan samasekali tidak layak merasakan emosi yang nyata tersirat dalam tulisan diatas.. Saya hanya cukup yakin, dan terus berharap bahwa satu tahun saya sebagai guru tidak berlalu sia-sia.. semoga ada pesan dan teladan yang nyata.. atau setidaknya sepotong janji persahabatan dengan mereka..
saya beryukur pada Tuhan atas setiap suka, duka, dan segala-sesuatu-diantara-keduanya selama menjadi guru. lebih dari itu, saya bersyukur karena saya diberi murid-murid yang luar biasa, yang mendudukkan saya kembali untuk belajar! :)
selamat hari Guru! untuk para Guru. dan untuk setiap kita yang dipercayakan Tuhan menjadi guru untuk satu sama lain manusia di bumi ini..

saya menutup tulisan ini dengan quote yang sungguh-sungguh sangat sederhana
"jika kau bisa membaca tulisan ini, berterimakasihlah kepada seorang guru!" -Stiker Bemper
"banyak yang telah kupelajari dari rekan-rekanku 
lebih banyak lagi dari guruku,
tapi yang paling banyak dari murid-muridku" -Talmud
kebanyakan diantara kami, memiliki tim jagoan bola sendiri.
beberapa mengidolakan sosok CR7,
sebagian memuja tim merah (arsenal dan MU),
beberapa yang lain sangat mengagumi si Kaka,
pun ada yang bangga dengan jersey Barcelona
tapi yang indah, yang sangat saya sukai dari kelas saya adalah ketika kami tunduk bersama mendoakan timnas Indonesia

setiap hari selalu ada waktu untuk melakukan renungan di kelas. kadang saya, kadang murid saya yang memimpin. tapi setiap hari kami memliki pokok doa tertentu.
hari Selasa kami akan mendoakan secara khusus salah satu teman sekelas
hari Kamis kami akan mendoakan secaa khusus salah satu guru atau staff di sekolah
dan Hari Jumat kami akan mendoakan bangsa dan negara yang tercinta ini

awalnya mereka enggan dan merasa aneh karena saya mengajak untuk mendoakan negara ini setiap minggu. tapi seiring berjalan, mereka yang justru memberi saya ide bagian apa di negeri ini yang perlu didoakan.
semisal waktu kami sudah mendoakan pemerintahan, bencana, pemberantasan korupsi, saya semacam kebingungan apa lagi isu spesifik yang bisa didoakan. lalu seorang siswa memimpin renungan tentang "menghargai makanan" dan mereka juga yang memberi usul, untuk mendoakan orang-orang yang tidak berkecukupan untuk sesuap nasi.

selain pokok doa "rutin" saya selalu saya menanyakan hal lain apa yang mau didoakan. misalkan "ada ulangan? atau ada keluarga yang sakit?" dan satu waktu, ketika saya bertanya demikian beberapa siswa menjawab "doakan timnas miss, lawan Korsel" awalnya saya tertawa, menganggap itu hanya bercandaan. tapi raut wajah mereka menunjukkan bahwa asumsi saya salah.
saya akhirnya 'tunduk' pada permintaan polos nan tulus itu.
pertama kalinya dalam hidup saya saya membawa doa sebuah permainan bola.
saya geli, bercampur bangga sebagai anak negeri, juga merasa terharu akan nasionalisme kecil ini.

mendoakan timnas di kelas kami bukan hanya berlangsung satu waktu itu, namun hampir setiap ada pertandingan timnas, kami akan menyempatkan tunduk kepala dan berdoa.

selain membawa dalam doa, "bola" menjadi berkesan selama saya jadi guru saat ini karena tidak jarang obrolan tentang bola menjadi perekat keakraban saya dengan beberapa siswa. kerap kali, saat ada pertandingan dua klub besar saya menanyakan prediksi mereka. sebagian akurat, kebanyakan yang lain meleset jauh. dan kadang sebaliknya, mereka yang "mendatangi" saya (secara langsung ataupun di layar bbm) untuk mengabari tentang tim kesukaan saya, atau hanya sekedar menanyakan opini.
mereka adalah guru saya tentang bola, karena mereka jauh lebih banyak tahu..


dan terakhir, sepakbola yang terwujud dalam lapangan kecil, atau futsal menjadi tontonan favorit saya selama jadi guru.

futsal tidak pernah menjadi lebih menarik dibandingkan saat ini
setiap kamis ada kegiatan ekstra kulikuler. saya selalu keluar ruang guru lebih dulu, hanya untuk duduk di depan dan melihat keceriaan anak-anak SMP berebut bola. seakan tidak ada duka di muka bumi ini. seakan dunia ini hanya miliki mereka yang ada di lapangan. dan senyuman mereka seakan berbisik


"lupakan sejenak tugas dan ulangan. ayo buat gol, kawan!!"




pengalaman dengan "bola" ini akan jadi salah satu bagian favorit saya selama menjadi guru.. dan saya bersyukur atasnya..
Sebenarnya siapa itu pemuda? Dan siapa mereka yang layak dikatakan sebagai pahlawan?

Film lawas berjudul GIE membantu memecahkah pergumulan nasionalis saya malam ini. Mungkin cerita ini bisa dimulai dengan quote indah dari toko Soe Hok Gie tersebut
“lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
Dan sembari saya mengetik ini, saya jadi ragu untuk melanjutkannya. Mengingat tulisan saya sebelumnya tentang upacara. Saya sudah menjadi orang munafik saat itu, demi tidak ‘diasingkan.’ Pertanyaannya, lantas apa saya layak membicarakan hal ini lebih jauh?
Biarlah. Mari menjadi sedikit bebal dan fasik, menasihati bahkan ketika saya sendiri tidak mampu melakukannya. Bukankah itu teladan dari para petinggi negara kita?

Kembali ke bahasan utama. Membicarakan pemuda, sudah bukan jamannya lagi mengkonotasikannya sebagai penggolongan usia. Pemuda nyatanya bukan batasan angka kaku di kertas, itu pendapat saya. Pemuda itu tentang jiwa, acap kali terdengar demikian. Pertanyaannya, jiwa seperti apa? Jiwa pengecut yang bahkan terkalahkan dengan budaya titip absen di kampus? Atau jiwa plagiat yang hobby comot pasang (co-pas) tulisan orang? Atau jiwa yang bermain aman, asal tidak dibenci, cukuplah. Atau justru seorang pencaci sejati, bukan untuk perbaikan hanya agar dikenal sebagai seorang muda yang kritis? Atau jiwa yang ditemukan membisu, menjadi secuil diantara yang terlupakan, tapi berjuang untuk yang mereka inginkan?

Seperti tulisan mainstream lainnya, yang terakhir adalah yang paling benar. Itulah pemuda. Mereka yang mau berjuang tanpa terlalu meributkan apa definisi perjuangan itu sendiri dan tau dengan pasti mengapa mereka berjuang. Pemuda bukan anak-anak yang tau berjuang, tapi tidak tahu alasannya. terkurung pada 'amanah agung' orang tua. Pemuda bukan pula lansia, yang tahu hal yang patut diperjuangkan tapi tidak punya lagi asa dan daya untuk melakukannya. Pemuda adalah pemuda, penuh energi, bergerak sesuai visi. seharusnya demikian.
Itu saja semangat pemuda tahun 1928 dulu, yang pada tanggal 28 Oktober berpuncak pada satu ikrar mulia di tanah subur ini. Mereka tau bahwa negeri ini terlalu beragam dan rawan perpecahan. Dan mereka bukan hanya tau tapi juga mau. Itu intinya pemuda. Mereka tidak diam berpangku tangan, pun tidak hanya memberikan kritik-kritik tanpa penyelesaian. Mereka berupaya sedapat mereka, dan disaat yang sama mereka sudah mendapatkan gelar pahlawan.
Pemuda adalah jiwa dengan semangat memperjuangkan apa yang mereka diyakini. Untuk dirinya sendiri. terangkum dalam satu kata: BERJUANG. Sedangkan pahlawan, mendasarkan perjuangannya untuk orang lain, untuk banyak orang lain, hingga tak jarang lupa memikirkan dirinya sendiri. Bisa diringkas pula dalam satu kata: BERKORBAN.
Pahlawan bukan hanya yang mau MATI untuk negeri ini, tapi juga yang mau HIDUP dan mengabdi untuk bangsa ini, bahkan ketika orang-orang lupa berterimakasih atas keringatnya.
Banyak orang yang layak dikatakan sebagai pemuda. Tapi siapa dapat menemukan pahlawan hari-hari ini?

Setidaknya marilah benar-benar menjadi pemuda. Perjuangan mimpimu, passionmu, idealismemu, dan terlebih imanmu! :) dan di sela-sela itu semua, mari sedikit berharap keajaiban, ada semangat pahlawan yang mampir dan hidup dalam jiwa kita.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, hai (calon) Pahlawan. Dan selamat Hari Pahlawan, hai para Pemuda!
bagaimana perasaanmu jika seorang di sekitarmu mendapatkan hal baik, lalu mengabarimu. ikut senang bukan? entah itu keluarga, ataupun teman. tapi kabar gembira sebenarnya menjadi jauh lebih manis ketika kita tahu bagaimana perjuangan yang ada di balik pencapaian tersebut.

misalkan, temen SMP saya Reni. dia pengen banget masuk salah satu SMA terkenal di kota lain. saya jadi saksi mata bagaimana dia belajar untuk tes masuk SMA tersebut, bahkan di hari-H tes, saya ikut ke kota itu buat nemenin dia, ya sembari berharap itu bisa buat teman dekat saya itu makin semangat. pengumuman baru keluar sekitar 1 bulan setelahnya. dan saya menunggu pengumuman itu seakan saya adalah peserta tes-nya. kabar gembira pun datang, dia diterima!! rasanya happy sekali. bukan pencapaian saya, tapi karena saya tahu bagaimana dia menginginkan hal itu, dan bagaimana dia berjuang untuk hal itu, kemenangannya menjadi hal yang manis juga buat saya.

hal semacam itu terjadi beberapa kali, tapi hari senin lalu rasa bahagia semacam itu kembali muncul dengan warna yang berbeda. tidak lagi tentang teman atau saudara, tapi dari murid saya.

ceritanya begini..
saat saya part time sebagai guru (di sekolah yang sama, selama 3 bulan) ada siswa saya yang mengikuti sebuah tes beasiswa sekolah di Singapore.
penantian hasil pun berjalan. dari tiga siswa saya, ada satu orang yang benar-benar menginginkan beasiswa itu, dia belajar ekstra dibandingkan lainnya.
hari pengumumanpun tiba, dan saya mem-bbm dia sekitar jam 7 malam untuk menanyakan hasilnya, sembari berharap hasil terbaik yang muncul di layar smartphone saya.
ternyata, cerita lain yang terjadi. dua temannya sudah dihubungi bahwa mereka di terima, tapi sampai jam tujuh malam dia justru tidak mendengar hasil yang dia harap-harapkan. lalu ditengah keputusasaan penantian itu, dia tiba-tiba bercerita bahwa hal demikian sering terjadi. dia kalah dengan temannya yang level usahanya tidak sekeras dia.
kadang hidup tidak adil, sepertinya begitu kesimpulannya.
saya berusaha menghibur dia, disaat yang sama saya merasa marah untuk sejenak, entah kepada siapa. sampai malam itu saya men-tweet beberapa ekspresi ketidakterimaan saya tentang ketidakadilan hidup semacam itu.

jam 9 obrolan kami berhenti. itu batas malam saya untuk chat dengan murid saya.
sejam kemudian, dering HP saya berbunyi dan mengetahui bahwa sebuah chat masuk, dan tidak lain dari siswa yang sama. isinya? "miss akhirnya aku ditelpon. hahaha"
saya ingat sekali. itu kalimat bahagia yang samasekali tidak jelas. tapi tawa-nya mengarahkan saya pada satu kesimpulan bahwa itu tentang beasiswanya.
dia diterima!! semacam save the best for the last. jam 10 malam, untuk sebuah telpon formal itu agak mustahil. entah kenapa selarut itu, tapi siapa yang peduli, kabar gembira tetaplah kabar gembira, jam berapapun tiba-nya, tidak berubah!
saya lega bercampur bangga, karena hidup (masih) adil, karena dia berhasil, dan karena saya diikutkan perjuangannya walaupun hanya secuil.

itu terjadi bulan Juni 2012. kabar itu jelas membuat anak tsb tidak berstatus siswa Gloria lagi di tahun ajaran berikutnya. kamipun lama tidak bertemu, sampai senin kemarin dia datang kembali ke sekolah. berpamitan kepada guru-guru karena keesokan harinya dia akan berangkat. tidak disangka, dia menghampiri meja saya, dan kami menyempatkan mengingat percakapan kami malam itu. kamipun tersenyum kecil.
jika dihitung saya hanya mengajar dia tiga bulan, itupun sebagai seorang part timer. tapi saya bersyukur sekali, tiga bulan dengan anak tersebut tidak berlalu tanpa cerita.

:) selamat berjuang di negeri orang Terry. God bless you!

*setelah menulis ini, saya menyimpulkan satu hal. mungkin inilah yang membuat profesi guru, walaupun gajinya (dianggap) kecil, tapi lebih bahagia dan awet  muda. melihat siswa-siswa yang diajar meraih 'sesuatu' di hari depannya, adakah kabar yang lebih indah? berapakah kompensasi uang yang bisa menandingi rasa bangga?
Mengikuti ritual dengan standar yang jauh dibawah idealisme saya sebagai ‘bekas’ murid desa.
Mungkin itulah keunggulan sekolah negeri terlebih yang di desa, sekolah yang dibiayai pemerintah.
Entah karena keharusan atau seperti apa, tapi agaknya di kota ataupun desa,
upacara bendera di sekolah negeri dilaksanakan lebih serius dibandingkan di sekolah swasta.
Mungkin itu cara mereka berterimakasih pada negara yang mengurangi biaya pendidikan mereka,
walaupun dalam hati juga mengutuk dan membenci.
Apapun motifnya,
saya bangga karena telah besar di sekolah negeri dan bertahun-tahun menikmati upacara yang khidmat. Sedangkan di tempat saya mengajar, yang kedisiplinannya jauh lebih tinggi,
tidak ada samasekali penghargaan akan berjalannya upacara.
Dua kali sudah saya mengikuti upacara sebagai seorang tenaga pendidik.
Dari dua upacara itu saya kecewa, tidak ada samasekali greget kebangsaan.
Saya benci melihat bendera merah putih sudah terpampang di tiang tanpa dinaikkan oleh petugas upacara. 
Saya benci karena lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh speaker dan bukan pita suara paduan suara siswa.
Jangan heran nantinya, jika mulut mereka lebih vocal mengutuki dibandingkan menghargai bangsa ini.
Dan saya terlebih benci pada diri saya sebagai guru PKN,
yang bahkan tidak bisa melakukan apa-apa akan hal itu.
Tidak cukup punya kuasa –atau keberanian- untuk mendobrak kebiasaan itu,
dan dengan menggerutu tertunduk lesu mengikuti ‘ritual wajib’ kebangsaan yang tanpa arti.