Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

... lalu saat saya membuka pintu, para siswa membawa lilin kecil di kelas, berbalik badan menghadap saya dan menyanyikan lagu "happy wedding miss adiss" dengan menggunakan melodi dari lagu selamat ulang tahun.
dimulai dari pertanyaan salah seorang siswa yang tergolong kepo tentang kapan saya menikah, memorable moment inipun dimulai. Dengan jujur saya jawab "usia 26" tanpa diduga, siswa tersebut berteriak membroadcast-kan secara lisan ke teman sekelas. kericuhan di kelas membuat pesan yang disampaikan tidak persis sama dengan apa yang diterima. Dengan respon terkejut mereka berteriak "miss adiss tanggal 26 menikah"
percakapan ini jadi awal mula gosip tanggal pernikahan saya.
saya hanya tersenyum, tanpa membenarkan dan tidak pula berusaha membunuh antusiasme gosip itu. pada akhirnya, tanpa disangka, penerimaan saya akan gosip ini justru jadi awal mula salah satu catatan terbaik selama satu tahun menjadi guru ini.
cake, lilin-lilin kecil, lagu, pie susu, dan kartu ucapan yang super imut menjadikan tanggal 26Februari2014 begitu berkesan. Februari ini benar-benar magical buat saya.

tanpa mengurangi makna dari kata "wedding" itu sendiri, saya mengucap syukur gosip pernikahan ini telah mengakrabkan saya dengan siswa. Semakin sempurna karena ternyata seseorang khusus, dengan begitu antusias menjadikan gosip ini sebagai doa baik bagi kami berdua. dan dengan sangat lugu berkata "lima tahun lg ya Diss" :) dan saya dengan senyum berkata "amin"

untuk melengkapi keceriaan hari itu, saya dengan sengaja membuatkan jelly dengan kreasi penuh warna. Cheerful jelly -begitu saya menamakannya- akhirnya dilahap habis oleh para siswa. Sempurnah!

"big thanks 9C. for the surprise! :D walaupun gak nikah beneran, tapi tetep excited. saya anggap ini doa. selamat ketemu di wedding saya sesungguhnya!! :D once again, thank you :D"
keputusan menjadi guru satu tahun ini, bisa saya simpulkan sebagai salah satu keputusan terbaik yang saya buat. saya hanya bisa tersenyum kecil, "Happy Wedding miss Adiss" telah memeriahkan minggu terakhir Februari yang sungguh penuh tekanan dan tanggungan kerjaan. and for that, I thank God.

Ada sebuah survey, seribu orang ditanya apa mereka mau tahu kapan mereka mati. 96 persen mengatakan tidak. Aku lebih memilih pada 4 persen. Ku pikir itu akan membuatku lega, untuk mengetahui berapa lama lagi waktuku berkarya.
Itu adalah cuplikan dari perkataan Carter dalam film favorit saya: the bucket lists
Saya sependapat! Tanpa berusaha menjadi anti-mainstream, kenyataannya saya tergolong 4 persen itu.

Hak yang tidak akan pernah dimiliki oleh manusia adalah berkata “aku belum siap” saat Tuhan sudah menetapkan tanda titik dalam hidupnya.

Bukan pula hak seorang insan-pun di bumi untuk menawar, atau sekedar meminta perpanjangan waktu menyelesaikan yang belum tuntas.

Pada akhirnya kematian, sesuatu yang terlihat “masih lama” itu sangat dekat dengan kita. Sangat dekat.

Saya tumbuh dengan kenyataan beberapa sanak keluarga saya Tuhan panggil di usia yang belum terlalu tua, bahkan beberapa diantara mereka tergolong terlalu dini untuk mengakhiri hidup. Sepertinya Tuhan berusaha mengingatkan saya sesuatu: kematian itu dekat.

Saya tidak tahu, apa yang akan saya lakukan di surga kelak. Apakah benar saya bisa menoleh ke bumi dan melihat bagaimana kelereng hijau terus berputar. Atau sungguhkah saya bisa mengintip orang-orang terkasih saya dan melihat bagaimana mereka menjalani hidup pasca kematian saya?
Tanpa terlalu ingin memberi makan rasa penasaran itu, satu yang saya tahu dengan jelas: kematian itu memang dekat. Dan fakta berikutnya adalah: saya ingin dikenang.


bersambung  (…)
This valentine was so special, dan jelas saya bakal berceloteh di sini untuk menceritakan sedetail-detailnya 2 hari istimewa ini. As I remember, I’ve been celebrate valentine since I was in junior high school. But I can tell you that this valentine is most special valentine I ever had! Most special and the sweetest one >,< you’ll know later.

I do agree that 14 February is only a number, and I never said that we must wait till that day come to share something, and to do something out of ‘normal’. Tapi untuk beberapa hal, sebuah identitas “tanggal” menyempurnakan sebuah kesan. Menurut saya begitu. Jadi jangan takut melakukan sesuatu di-luar-kebiasaan di tanggal istimewa.




Pudding


I made something by my own for my beloved students finally. Awalnya mikir gak bisa wujudin ini gara-gara alasan “I have no enough time” tapi nasihat klasik bilang “you will never have enough time, you have to make it” dan akhirnya saya memutuskan membuatkan pudding untuk murid-murid 7D dan beberapa orang terdekat saya di sekolah. Di tengah gerimis membasahi kepala dan becek mengotori kaki, saya berjalan kaki membeli cup-cup pudding, dan bahan-bahan di toko sekitar kosan. Lalu saya mulai membuat, dari adonan coklat, moka, caramel, dan strawberry. Dari jam 7 sampai jam 11. Di tengah empat jam itu, dengan kondisi kepala agak pusing akibat gerimis, seingat saya, senyuman tak pergi dari bibir. Tanpa keluhan bukan karena tak ada rasa lelah, tapi karena saya tahu untuk siapa saya melakukan ini, untuk mereka yang saya kasihi.
Pelajaran berharga di dapur: cinta membuat sesuatu menjadi ringan.

Coklat
Valentine tak lengkap tanpa coklat. Bukan begitu? Dan ini jelas valentine ter-manis yang pernah saya alami. Belasan batang coklat mewarnai meja kerja saya, sebagai pemberian dari murid-murid saya. Ah so happy! Walaupun akhirnya bingung ini gimana ngabisinnya. Bisa dipastikan valentine tahun depan, saya akan merindukan tumpukan coklat semacam ini :( lalu di tengah lumeran coklat di mulut, saya tersenyum kecil menyadari seberapapun dewasa atau tua-nya usia, kita tetap bahagia ketika orang lain memberikan sesuatu untuk kita. Tidak terlupakan, itu fakta sederhana yang membahagiakan.



Friendship Card
Saya selalu rindu, setiap orang terdekat saya menyimpan sesuatu yang berwujud untuk mengenang saya. Fakta bahwa saya –dan kita semua- akan meninggal itu sangat menolong untuk belajar menyisakan sesuatu yang baik di muka bumi ini, setidaknya di ingatan dan di tangan orang-orang terdekat. Dengan keterbatasan kreativitas saya buatkan sebuah kartu sederhana yang setidaknya mengingatkan dua sahabat saya ini bagaimana saya bersyukur memiliki mereka. Ketika membuatkan kartu ini, saya sedang berada di sekolah di tengah kekosongan akibat siswa diliburkan mendadak pasca hujan abu parah di Surabaya. Seorang rekan guru, melihat saya berkutat dengan guntingan dan sebagainya lalu dengan polos berkomentar “miss adiss ini romantis ya.” Haha sontak saya tertawa. Entahlah itu menggelikan, tapi membuat saya tersanjung bagaimanapun.
Ohya kembali ke topik, kami bertiga –saya, Helen, kak Ajeng- sudah merencanakan cukup lama untuk mencoret bucket lists nomor 10 kami: minum kopi luwak. Akhirnya, terwujud! Puji Tuhan.
Saya bahagia, karena saya membuatkan sesuatu untuk sahabat saya, karena saya bisa minum kopi termahal di dunia asli Indonesia, karena saya bisa mencoret wishlist saya, dan karena saya tidak sendirian melewatkan malam itu.


Old friend
Persahabatan konon semakin teruji oleh waktu, dan jarak. Kebahagiaan saya di tanggal 14 tidak berhenti. Esoknya (baca: tanggal 15) saya lagi-lagi bersyukur karena skenario yang Tuhan siapkan. Saya bisa bertemu teman lama saya, teman sejak SMP hingga saya sekarang jadi guru anak SMP. Kita berpisah SMA, kuliah, berpisah kota, dan tidak selalu punya cukup kesempatan bercengkrama bahkan walau hanya melalui sosial media. Tapi ketika kami bertemu, kenangan lama pun membaur. Kami tidak menjadi orang asing bagi satu sama lain, bercerita layaknya tak ada lagi kesibukan yang menanti. 3 jam mengobrol mengobati rasa kangen dan menyempurnakan bulan kasih sayang ini.


Lovely Patty
Yang membuat manis hari-hari ini tak juga kehabisan ide, rasanya belum cukup membuat saya bahagia. Tanggal 15 malam, saya bergabung di komunitas rohani saya (selain uk3): RessYouth. Acara gathering kali ini agendanya makan burger bareng-bareng. Simple sih, tapi penuh sukacita! Burger tipis kadang jauh lebih enak ketika dimakan bersama kawan-kawan daripada burger berlapis-lapis yang dimakan sendirian. Asik. Dan pastinya malam itu, sukacita saya terlengkapi dengan dua hal yang saya sangat suka: es nutrisari dan kartu (baik remi ataupun uno)!!


A phone call
Last but not least, telpon dari seseorang menyempurnakan dua hari penuh kasih ini. Bercengkrama walau hanya lewat telpon sudah sangat cukup. Tidak jauh berbeda dengan valentine sebelumnya, masih sendiri. Hanya, valentine kali ini sudah ada seseorang istimewa yang saya doakan. Penuh keraguan tentang kisah ini, mengingat beberapa hal. Kadang ada ketakutan ending kisah ini tidak seperti yang saya impikan dan lebih baik diakhiri lebih awal sebelum terlalu jauh. Tapi sama seperti hari-hari lalu, sebuah panggilan dan percakapan telpon selalu berhasil mengingatkan bahwa hal ini layak diperjuangkan. Dan di paragraph ini, saya hanya ingin mengutip kalimat Paulus ketika mengingat jemaat Filipi “every time I think of you, I give thanks to my God” (Philippians 1:3)

Pembelajaran utama dari valentine tahun ini adalah : kasih itu ditindaknyatakan. Berupa pudding, burger, atau hanya sekedar menyempatkan waktu bertemu kawan lama. Berwujud kartu, coklat, atau panggilan telpon. Kasih itu sebuah verb, kata kerja aktif, yang harus dikonversikan melalui sebuah tindakan.
"one simple act of kindness spoke louder than a thousand profound love" :)

*tulisan bahagia ini tidak luput dari kesedihan akibat bencana gunung Kelud. Semoga para korban diberikan penghiburan dari sang Pencipta. Amin.
"tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian"

-the five people you met in heaven (Mitch Albom)
Sudah fakta lawas bahwa menjadi guru bukanlah hal mudah, tapi harus diakui menjadi guru Pendidikan Kewarganegaraan memiliki tantangan khas tersendiri. Berdiri menjelaskan tentang Negara di hadapan para siswa yang mungkin sudah bosan dengan berbagai kabar buruk tentang Indonesia, samasekali tak mudah. Hal ideal selalu terbentur dengan pesimistis pikiran, Namun tantangan kadang sinonim dengan peluang. Sejak saat itu saya bertekad memanfaatkan status sebagai tenaga pendidik untuk beraksi.

Suatu kali saya adakan sebuah kuis di kelas, lalu di pertanyaan terakhir saya sisipkan satu perintah: “tuliskan tiga hal baik dan satu hal buruk dari Indonesia.” Serentak saya dihujani berbagai protes. Dengan nada mengeluh para siswa kebingungan mencari apa yang baik yang bisa dibanggakan di negeri ini? Kebingungan ini agaknya beralasan, sebab berita terlalu berisik dengan carut marut politik. Kejadian ini membuat saya berpikir, sungguhkah mereka tidak tahu betapa banyaknya hal cantik dan menarik di Bumi Pertiwi?
Waktu berselang cukup lama, hingga Saat pembahasan sampai pada topik globalisasi. Berbeda dengan topik sebelemunya yang kebanyakan memanfaatkan aktivitas di kelas untuk menunjuang kreativitas dan pemahaman akan teori, kali ini saya tergelitik untuk lebih mendekatkan para peserta didik pada kegiatan di luar kelas untuk memahami aplikasi dari teori itu sendiri. Inti dari Globalisasi yang saat itu saya sampaikan cukup sederhana: “globalisasi itu ruang dimana jika kita lengah kita kalah.” Hal itu saya tekankan dengan sebuah rencana proyek tertentu. Mengingat bahwa globalisasi sendiri adalah masa kejayaan informasi, maka proyek bersama saya arahkan ke hal tersebut.
Tetap berbalut dengan pelajaran PKN, saya mencoba mengintegrasikan kemampuan penguasaan teknologi informasi khas globalisasi dengan kecintaan akan negeri. Satu proyek ini saya namakan: Promote Indonesia. Bukan nama yang unik apalagi bombastis, tapi ada niat tulus di baliknya. Jangan kira penerimaan siswa akan hal ini berjalan mulus, banyak juga keluhan yang menghampiri meja saya. Namun menyerah pada kemalasan atau komentar negative tak akan memperbaiki keadaan. Begitu kira-kira prinsip saya. Sepenuhnya sadar bahwa kebanyakan siswa melakukan ini bukan karena sungguh mencintai Indonesia, namun tidak lain karena tuntutan dan keinginan akan nilai yang memuaskan. Tapi tak apa, setidaknya dengan tugas ini mereka ‘terpaksa’ mencari informasi tentang surga-surga terpencil di Indonesia serta ke-khas-an kuliner Indonesia. Melalui ini saya harap mereka sejenak beralih fokus dari pemberitaan negatif menuju fokus akan banyak hal yang bisa dibanggakan dari negeri yang gemah ripah loh jinawi ini.
Proyek ini sangat sederhana yaitu memberikan kewajiban para siswa memanfaatkan sosial media untuk membagikan tentang hal positif dari Indonesia. Pilihan sosial media yang saya tawarkan adalah Instagram dan Twitter, mengingat penggunaan tagar yang efektif dalam penyebarluasan isi pikiran. Dalam proyek ini mereka bukan hanya membagi sekedar gambar, namun juga informasi yang berkaitan. Misalkan berkenaan dengan perkiraan budget yang dibutuhkan dan akses menuju tempat wisata. Penilaian saya dasarkan pada keunikan konten dan cara penyampaian, yang semuanya dapat mengasah kretifitas mereka, dalam mengedit foto contohnya. Ini adalah kolaborasi Guru PKN bersama 76 siswa SMP untuk mempromosikan Indonesia yang berlangsung dua minggu, dengan topik wisata di minggu pertama dan kuliner di minggu kedua.

capture aktivitas instagram seorang siswa tentang wisata dari asal dia berada: Ternate






Capture dari aktivitas seorang siswa di twitter untuk promote Indonesia

Bagi saya, Guru bukan saja tentang membagi ilmu, namun juga membiuskan cinta pada peserta didiknya, Seperti guru matematika yang meyakinkan bahwa matematika itu asik dan berguna, guru Pendidikan Kewarganegaraan-pun serupa. Guru PKN bukan hanya tentang memenuhi kewajiban kurikulum tentang Pemerintahan Indonesia, namun membiuskan rasa bangga dan cinta akan Bangsa. Tindakan ini adalah cara saya memanfaatkan ‘hegemoni’ sebagai guru menggerakan siswa untuk ambil tindakan! Dampaknya adalah para siswa belajar menggunakan sosial media untuk hal yang berguna, membuat mereka mencari tahu tentang negerinya yang begitu indah, serta membagikan opini atau informasi positif tentang Indonesia kepada para pengguna social media lainnya. Aksi kecil lebih baik daripada tidak bertindak samasekali, aksi bersama lebih ampuh daripada aksi seorang diri. Hanya berupa tweet atau share foto di instagram, tak masalah. Daripada hanya mengkritik dan tidak berbuat apa-apa. Bukan begitu?



Salam dari kelas PKN.

"Tuhan, aku tahu aku harus memikul salib.
sama seperti Engkau yang telah terlebih dahulu melakukannya
memikul salib karena mengasihiku.
aku tidak mengeluh, Tuhan. sungguh.
aku hanya heran haruskah Salib-ku seberat ini?
dan aku penasaran tidak bisakah aku memikul Salib yang lebih indah?
lihat, salibku begitu usang, penuh goresan. aku malu
jika memang harus berat, tidak bisakah Engkau memberiku Salib yang lebih menawan?"




((kataku lugu penuh keluh pada Penciptaku.
dan Dia mendengar, dan Dia memberi jawab dengan cara-Nya))

satu saat aku melihat temanku memikul salib yang sangat indah
penuh permata dan berlapis emas di beberapa sisinya
sungguh menawan.
lalu aku tergoda untuk meminjamnya. mencoba memikulnya
tak ku sangka, salib itu jauh lebih berat dari salib usangku
indah, tapi jauh lebih cepat membuat bahu ku ngilu
ah sudahlah. usang-pun tak apa.

di saat yang lain, tak berselang lama
aku melihat salib lain yang tak kalah memikat
pesonanya bukan karena kilau logam mulia
kali ini karena penuh mawar mekar nan semerbak
lagi-lagi, aku manusia selalu termakan rasa penasaran
walau tidak separah rasa penasaran yang menuntun hawa mencoba buah terlarang
aku pun memikulnya
tidak berat. ah sungguh aku ingin bertukar salib.
sebelum cukup jauh, aku merasa ada yang salah
darah!! bahuku terluka karena duri-duri mawar itu
lilitan mawar indah juga tak memuaskan
bahkan lebih menyakitkan.
ah sudahlah, usang-pun tak apa.

aku menyerah.
salibku yang terbaik
aku berhenti mencari salib lain yang menawan
hanya berujung kekecewaan
aku pikul yang usang ini dengan iman
berat memang, pun semua salib yang lain

mengeluh tak lagi jadi pilihan
sudahlah, usang-pun tak apa"

source :
http://jeffsprayerconnection.blogspot.com/2013/03/take-up-your-cross-and-follow.html


catatan penulis :
ungkapan "pikul-lah Salib" bukan hal asing, terkhusus bagi umat Nasrani. Sudah tak terbilang lagi berapa kali saya diingatkan dan mendengar tentang hal itu, di gereja, renungan harian, atau di persekutuan. Tapi Firman Tuhan memang tidak pernah kehilangan pesonanya. Secara tersurat ataupun tersirat melalui perumpamaan. Tulisan ini saya buat karena terinspirasi dari renungan pagi yang dibagikan oleh Guru Agama di sekolah tempat saya mengajar. Semoga tulisan ini jadi pengingat bahwa beban kita adalah beban sesuai dengan kemampuan. Tugas kita bukan untuk membuktikan salib mana yang terbaik, namun membuktikan bahwa selalu ada iman dan kesetiaan yang menguatkan pundak kita untuk memikulnya..

Salib-ku tak indah, tapi aku bangga!
usang-pun, tak apa!



Saya sangat iseng siang ini (Jumat, 17 Januari) lalu melakukan apa yang pernah disarankan oleh dosen saat kuliah "coba googling namanu sendiri, semakin banyak muncul -kecuali sosial media- semakin nyata eksistensimu di globalisasi"




Memang saat itu pembahasannya terkait globalisasi, atau persempitan dunia lebih tepatnya.
ternyata, kebanyakan yang tercantum dari hasil pencarian google atas nama "claudya tio elleossa" adalah aktivitas sosial media saya sendiri. Mengecewakan.

Namun ada pula beberapa hasil pencarian yang bahkan tidak saya duga dari aktivitas dunia maya pihak lain










HANYA ENAM? Ah saya miskin prestasi sekali.
Hmmm.. mari mencoba menghibur diri sendiri, dari kekecewaan atas ketidakpopuleran ini. Walau hanya ada enam halaman google, syukurlah tidak ada satupun gambar negatif, atau umpatan, atau berita buruk lainnya. Sangat sedikit, tapi kebanyakan berupa hal positif yang spesifik. Saya LEGA.
setidaknya ketika gelar almarhum disematkan dibelakang gelar S.Hub.Int, saya mendapati diri saya meninggalkan dunia ini dengan goresan sangat kecil yang positif.

Saya bukan artis, bukan orang hebat, tapi setidaknya saya ingin meninggal suatu hari nanti dengan titipan hal baik nyata di hati orang lain. Ya, juga sambil berharap hasil pencarian google semakin banyak mencatatkan nama saya di kemudian hari. Ini niat yang tidak buruk bukan? 

Mari kita renungkan, goresan atau jejak seperti apakah yang akan kita tinggalkan saat kita meninggal nanti?

Hidup Itu Hompimpah kata D. Zawawi Imron: Keluarga Bencana:

tulisan sederhana nan tulus ini, saya temukan di tengah keisengan meng-google nama saya sendiri, dan menemukan ada nama saya tercantum di blog tersebut. Ternyata dari seorang kawan pejuang tanah terpencil. Pengalaman seumur hidup yang begitu berharga! sekali lagi, terimakasih Kedasih! :) terimakasih Keluarga Bencana  :) dan terimakasih Pandu -sang penulis blog tsb- yang telah menunjukkan wajah seorang muslim yang nyata tanpa mengurangi toleransi terhadap agama saya. Salut!
Diego : aku tidak punya rasa takut, apalagi ke air
Sid : justru rasa takutlah yang membedakan kita dengan batu. (sambil memegang sebuah batu kecil lalu melemparkan ke air), mereka tidak takut dan mereka tenggelam
Ini potongan percakapan favorit saya selama liburan, yang saya dapat dari film kartun Ice Age. Saya tidak menyangka Sid bisa sebijak itu, di tengah kekonyolan tingkahnya.
Tapi yang jadi inti tulisan ini bukanlah Sid (entah dia spesies apa sebenarnya), tapi perasaan yang dialami oleh Diego. Rasa takut.

Kita pasti punya rasa takut, setiap orang. Masalahnya adalah kadang kita lupa bahwa hidup adalah perjalanan kita melawan rasa takut itu. Saya ingat sekali papa saya dengan sangat bijak pernah berkata “lakukan apa yang kamu takutkan, nanti kamu juga tahu, yang kamu takutkan itu bukan apa-apa”




Hari pertama 2014 membuat saya belajar hal yang serupa. Ajakan kak Jannung, seorang kawan yang saya kenal dari jambore GKI, untuk join ke pulau Menjangan mengawali cerita ini. Saya tanpa banyak berpikir langsung meng-iya-kan. Masalah pertama adalah karena titik bertemu 11 orang ini adalah di Banyuwangi, di jam 7 pagi. Saya berangkat dari Lumajang (dengan durasi perjalanan  sekitar 4-5 jam) yang artinya harus berangkat sekitar jam 2 pagi. Jelas cemas, cewek sendirian naik bus umum ekonomi di jam segitu. Tapi sama seperti Diego, saya memaksa diri untuk berani. Walaupun melalui usaha meyakinkan sang mama dengan sedemikian.

Setibanya di Karang Ente, terminal bus Banyuwangi, jam setengah 7, saya dijemput dan kami bergegas menuju Ketapang untuk menyebrangi selat yang penuh lalu lalang kapal itu. Singkat cerita, kami sampai di Menjangan sekitar jam setengah 11. Pulau yang tidak cantik, karena tidak ada hamparan pasir putih favorit saya. Tapi memang tujuan kesana bukan untuk berjemur atau bersantai di bibir pantai, namun justru terjun ke hamparan air asin dan menikmati surga disana. Ini pertama kalinya saya snorkeling, jadi jelas dimulai dengan panduan sang expert. Untungnya kemampuan renang saya yang pas-pasan samasekali tidak mengganggu aktivitas yang membuat ketagihan ini. Awalnya takut, karena kepanikan bisa tiba-tiba meningkat ketika di dalam air, sama seperti saat ada di ketinggian. Tapi terlalu indah terumbu karang dan terlalu lincah makhluk-makhluk air disana, sangat sayang untuk dilewatkan. Di tengah keasyikan saya, yang sudah mulai terbiasa, sang guide mengajak untuk menikmati bagian wall, atau garis perpindahan antara laut dangkal dan laut lepas. Untuk yang tidak berpengalaman, jelas menakutkan karena sisi tersebut menjorok ke air dengan kedalaman yang luar biasa. Tapi, dengan bantuan sang expert, saya mencoba. Dan tidak menyesal sedikitpun. Sepertinya tidak ada keindahan yang lebih dari itu yang pernah saya nikmati. Sunrise Bromo, seperti bukan apa-apa. Saya jatuh cinta!! Andai saya cukup mahir menumpahkan keindahan terumbu karang dan berbagai spesies ikan yang sangat fantastis disana melalui kata-kata. Pencipta Semesta ini sungguh luar biasa.

Setelah beberapa jam menyusuri satu spot yang paling ramai wisatawan di pulau itu, sang guide mengajak kami naik ke kapal dan berpindah spot. Tidak ada bibir pantai sama sekali di spot kali ini. Artinya, kapal berhenti di sekitar garis wall tersebut, dan kami menceburkan diri. Spot kali ini benar-benar dalam, sehingga kami disarankan berpegangan pada pelampung. Awalnya saya enggan, terlalu beresiko untuk yang tidak mahir renang. Untungnya untuk kesekian kali saya mengingat bahwa rasa takut harus ditaklukan. Saya pakai kembali semua perlengkapan snorkeling, yang sudah sempat saya lepas, lalu menceburkan diri. Keindahan wall di spot pertama itu hanya setengah dari keindahan di spot yang baru ini. indah sekali.

Kami berkeliling memutari spot itu. Cukup jauh, melelahkan, tapi sangat-sangat terbayar dengan keindahannya. Menemukan bintang laut warna biru, berenang bersama ikan nemo, melihat berbagai spesies yang sepertinya tidak pernah saya pelajari di kelas Biologi.

Kenikmatan harus berakhir, karena waktu yang terbatas. Empat jam snorkeling di pulau Menjangan jadi pengalaman tak terlupakan. Hanya sempat mengabadikan wajah saya sendiri dengan iPhone berbalut plastic (karena kamera underwater rusak akibat sedikit kecerobohan), tapi tak apa, keindahan itu sudah terekam baik di ingatan.

Kami kembali menuju daratan, dan sebelum kembali ke Gilimanuk kami sempatkan mengisi perut dengan hidangan khas Bali: ayam betutu. Saya sangat tidak toleran dengan rasa pedas, tapi sepertinya ayam betutu ini menggoda. Walaupun lidah harus terbakar karena pedas yang menyengat, tapi ada rasa bangga dan puas tersendiri.

Di ferry kembali ke ketapang, saya tidak bergabung dalam obrolan bersama 10 orang yang lain. Saya menikmati pemandangan dengan D-SLR Nikon yang sangat sulit saya pahami. Lalu terdiam dan menyadari, dua wishlist saya tercoret hari ini. Pertama adalah nomor 24, makan makanan khas di tempat asalnya. Sebenarnya saya sudah bisa mencoret ini saat makan pad Thai di Bangkok, tapi saya ingin poin ini berupa kuliner Indonesia, selalu membayangkan akan makan nasi padang di Sumatera atau Soto di Lamongan. Samasekali tidak pernah terpikirkan, poin itu akan tercoret dengan rasa pedas ayam Betutu yang saya nikmati di tanah dewata. Dan poin ke-43 yaitu snorkeling, yang terkabul dengan begitu ajaib.
Dua poin yang terwujud samasekali tanpa rencana. Tuhan baik sekali. Di hari pertama tahun 2014 sudah memperbolehkan saya mencoret dua poin wishlist. He gives me more than I ever asked and answer my desire more than I can thought :’)
Saya hanya membayangkan, jika malam itu saya menuruti rasa takut untuk naik bus sendirian dini hari, menuruti rasa takut untuk terjun ke bagian wall dan menuruti rasa takut akan rasa pedas, mungkin saya tidak akan sebahagia ini. Lagi-lagi saya teringat akan Sid dari film Ice Age, “worth a shot!”

Ada banyak sekali hal dalam hidup yang dapat membuat kita berkata dalam hati “layak untuk dicoba” sedikit bisikan memberanikan diri, memulai petualangan dengan orang asing, menikmati perjalanan dini hari, atau sekedar melawan kebencian akan rasa pedas. Worth a Shot!

Rasa takut tidak boleh menaklukan kita, itu membuat kita waspada bukan membuat kita kalah. Karena pada dasarnya keberanian itu bukan ketiadaan rasa takut, tapi kemauan untuk melawannya!


“Worth a Shot!”
Tanggal 31 sore hingga menjelang malam, saya sibuk menuliskan ulang 150 wishlist(s) saya di buku agenda tahun ini. Ya semacam rutinitas akhir tahun, jangan lupa di tambah beberapa resolusi baru untuk tahun selanjutnya.

Setelah tuntas menuliskan semuanya, saya tutup buku agenda dan menyodorkan proposal keinginan dan beberapa rencana saya ke hadapan Pemilik Hidup. Dari jam 10 hingga jam setengah satu pagi, saya mengikuti ibadah pergantian tahun. Oleh Gembala gereja, di beri tema “eben heazer” yang artinya “sampai disini Tuhan menolong kita”

Eben Heazer sangat nyata bagi saya, Tuhan menolong saya sedemikian rupa tahun 2013. Baik berupa pencapaian atau kegagalan, baik pengabulan doa atau kata ‘tidak’ dari-Nya, baik berupa banyak orang baru hingga seseorang yang khusus. Tapi, kata “sampai disini” sungguh mengusik saya. Lalu bagaimana 2014 saya? Jangan-jangan pertolongan-Nya tidak akan berlanjut.  Untung saja usikan ini terpecahkan oleh sang Pendeta, bahwa sebenarnya di dalam kata eben haezer itu sendiri terkandung janji Tuhan, untuk hari yang selanjutnya.

Tepat pergantian jam, terdengar beberapa letupan kembang api, tapi di detik itu saya sedang dengan begitu damai berlutut di hadapan-Nya, menyerahkan semua rencana dan ketakutan saya dan pastinya menyebutkan satu per satu nama orang yang begitu saya kasihi. Inilah yang membuat saya tidak bisa melewatkan pergantian tahun selain di gereja kampung halaman. Bukan kembang api, kebersamaan dengan kawan, ataupun makanan yang berlimpah, yang saya tunggu di momen pergantian tahun. Melainkan menulis Resolusi, mendapat Ayat emas, dan BERLUTUT di rumah-Nya, itu menjadi hal paling berharga dan favorit saya untuk momen pergantian tahun.

ohya, ayat emas tahun ini diinspirasi lagi-lagi oleh pemazmur. Melalui mazmur 48:13-15 tentang kegagahan kota sion yang berujung pada kemuliaan Allah. saya merasa hal tsb sungguh nyata, melihat saya menutup tahun ini dengan penuh syukur atas banyak pencapaian yang semua menjadi kesaksian akan kebaikanNya. private message yang lagi-lagi pas!

Setelah ibadah selesai, setiap dari jemaat maju ke sebuah meja kecil, mengambil satu ayat emas tahunan (tentang ayat emas, saya sudah pernah bagi di postingan lainnya - http://unspokenspace.blogspot.com/2012/12/private-message-from-god.html).
Saya menebak, pasti saya akan diingatkan Tuhan untuk lebih rendah hati, baik ke manusia terlebih ke Dia. Saya merasa tahun ini mulus sekali, dan godaan untuk tinggi hati dan merasa mampu tanpa-Nya, begitu nyata. Atau mungkin diingatkan untuk lebih berbagi (baca: tidak pelit) karena tabungan yang raib akibat kegiatan magang, saya harus menghemat sedemikian dari gaji saya, dan meniadakan kemurahan hati. My Creator is definitely unpredictable. Terkaget ketika membuka kertas ayat emas yang saya ambil acak diantara tumpukan kertas ayat-ayat lain. Justru satu hal yang saya rasa sudah saya lakukan dengan baik tahun ini. Sempat berpikir: “Tuhan gak salah nih?”

Tapi saya teringat, tahun 2012 saya disambut dengan ayat "hanya dekat Allah saja kiranya aku tenang, sebab daripada-Nyalah harapanku" (Mazmur 62:6)
Itu sangat aneh, karena 2011 tahun dimana saya sangat dekat dengan Tuhan. Kenapa diingatkan untuk dekat lagi? ternyata tidak lain karena tahun 2012 banyak sekali hal yang bisa jadi alasan untuk saya menjauh. Dan menjadi tenang, itu adalah hal yang luar biasa mustahil.
Karena itu ayat emas saya tahun ini, walaupun belum saya pahami, pasti dipakai Tuhan sebagai “peringatan dari awal.” Nanti saya pasti bagi disini, ketika ayat emas ini benar-benar ‘berbicara’ melalui sebuah kejadian tertentu. We’ll see..

Tahun 2014 yang entah seperti apa nantinya, ingatlah Eben Haezer! Tuhan sudah menolong, dan Dia tetap akan menolong J selamat tahun baru \m/ selamat berkarya.

(KJV+)  Then Samuel took a stone, and set it between Mizpeh and Shen, and called  the name of it Ebenezer, saying, hitherto hath the LORD helped us.