Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

saya meminta ke Tuhan.
saya meminta banyak hal.
dasar manusia.
dan ketika saya meminta pasangan, saya dengan gentar mengajukan bbrp hal yg saya idamkan ada dalam diri pasangan saya. selusin poin terus ada di angan.
beberapa orang kawan kadang melihat hal itu buruk. mengatur Tuhan untuk memberikan sesuai kriteria saya.

seorang datang seorang lain pergi.
yg saya anggap murni mau berteman kadang mengarah lebih.
list kriteria itu membuat saya sabar menanti. menunggu orang paling tepat yg sesuai dengan poin-poin itu.
dan akhirnya, saat ini beberapa kawan yg awalnya pesimis, justru melihat betapa baiknya Tuhan pd saya. memberikan (hampir) tepat dengan yg saya doakan.

satu poin terlewatkan. tapi itu tidak lain sebagai pengingat, bagaimanapun Dia yg menentukan. saya boleh meminta tapi kedaulatan tetap dalam tangan-Nya.

:) saya tidak pernah menyangka, Tuhan menghadirkan dia, yg memiliki hampir semua hal yg saya doakan :') 

eleos!
ini kisah bukan tentang pasangan. ini hanya antara guru dan siswa yang di pertemukan di satu sekolah dan menemukan banyak sekali hal cocok antara keduanya.

setiap siswa bisa duduk diam mendengarkan pelajaran, menjadi pihak yg "tidak lebih tahu" dibandingkan guru. tapi guru yg beruntung adalah yg menemukan siswa yg juga berdiri memiliki wawasan lebih dari dirinya sendiri.
sepertinya saya ada dalam hitungan "beruntung" itu.. karena saya memiliki murid semacam itu: kathleen (dan nama-nama lain yg akan saya tulis berikutnya)

pernah satu waktu saya dan siswi ini mengobrol panjang tentang wedding industry, karena kebetulan orang tua bekerja di bidang tsb. dan saya hanya takjub menemukan bahwa di usianya dia paham begitu banyak tentang industry yg sedang perlahan saya pelajari sejak usia 21 tahun. begitu pula tentang photography. dia sungguh sudah expert di usianya bahkan jika disejajarkan para mahasiswa yang sekedar menenteng dslr tanpa passion di hatinya.

saya mengagumi orang tuanya. bahkan walau kami tak pernah bertemu.
kelak ketika saya sudah punya anak, saya ingin mendukung apapun hobi positifnya. membantu dia meng explore passionnya tanpa mengurungnya pada idealisme kuno saya sebagai orang tua.

begitu iri dengan dia dan beberapa siswa lain yg sejak SMP sudah tau apa passion nya. ah sungguh! saya pun ingin begitu.
doa saya hanyalah supaya bara passion itu tidak dipadamkan pertimbangan semu semacam: "apa kata orang" dan "berapa uang yg bisa aku dapat"

capture'an tweet ini merupakan award besar bagi saya. 


we just 'click' on so many ways indeed.
so thank you Kathleen!
saya sudah berulang kali jatuh cinta di kelas, tapi di ruang guru sepertinya baru kemarin.
kebetulan saya diberi kepercayaan untuk menghandle sebuah acara sebagai ketua. cukup kewalahan memanage acara ini.
dan di hari H, saya mengucap syukur sekali kepanikan itu sejenak menguap. pagi-pagi seorang rekan guru berkata "miss, que sera sera aja"
perkataan ini menenangkan dengan signifikan suasana hati hari itu. tapi tak berhenti. dukungan para guru yg sangat tanggap dengan berbagai keadaan "di luar rencana" sangat memudahkan saya.
saya tidak akan menyadari betapa saya beruntung punya rekan kerja kooperatif semacam mereka jika saya tidak dibingungkan dengan predikat 'ketua' di acara ini.

one thing we must keep in our mind: the hard time is simply mean that we need other people andshow us who's really care and who's don't..

usai kegiatan di kekosongan ruang guru pasca jam pulang kerja, saya disibukkan dengan pencarian kerja di layar komputer. seorang kawan guru mendekat lalu di tengah keburu-buruannya menghadiri sebuah kegiatan dia menarik kursi lalu menanyakan tentang rencana pasca kerja di gloria. dan dia memberi banyak sekali informasi terkait pekerjaan yg saya minati dana dengan kata-kata yg super positif bisa menyulap atmosfer pencarian kerja dengan menyenangkan..

dengan lega saya dapat menyimpulkan, positive attitude selalu berhasil. jika tidak menyelesaikan masalah tapi setidaknya meringankan beban. jika meringankan beban pun tidak, pasti setidaknya menekan tingkat kepanikan.
pulang malam itu, badan rasanya capek luar biasa. tapi lega tersirat di angan. setidaknya acara yg saya 'garap' melahirkan sukacita dan yg terpenting membuat saya belajar bahwa lirik lagu "smilers never lose and frowners never win" itu memang benar. bad words make everything worse :) so stay positive guys!

jaman sekarang, aplikasi yang mempersempit jarak semakin marak. tapi sore ini. di kala kegalauan melanda, satu-satunya yg saya pilih tetaplah blog ini.

di ruang ini saya bisa dan boleh menulis apapun tanpa khawatir dihakimi. bahkan ketika ada yg berkunjung ke halaman ini, saya tidak akan ambil pusing apakah mereka menghargai ketikan curahan hati saya atau justru mengejeknya.

di instagram saya membagi foto selfie saya pagi ini. penuh raut senyuman. tapi itu bohong. karena sebenarnya muramlah yang paling tepat menggambarkan suasana.
di twitter saya mentweet tentang seni menertawakan diri. tapi hanya sekedar rangkaian kata tanpa bisa saya lakukan.
kenyataannya sosial media yg ada hanyalah topeng. tempat untuk memperlihatkan bahwa hidup kita baik-baik saja. dan bahwa ada banyak ide yang muncul dalam benak yang kita ingin orang lain ketahui.
saya senang dengan blog ini. dia masih jadi tempat curhat paling favorit setelah sang Pencipta.

belakangan saya sedang kehilangan damai sejahtera.
entahlah. sisi sanguinist yang cenderung cuek, lenyap. cenderung terlalu mengambil hati apa yg terjadi. mungkin sedang jenuh. mungkin pula karena banyak hal yang tak bisa saya ungkapkan dengan mudah

saya membayangkan betapa entengnya hidup jika apa yg meresahkan kita bisa seketika diluapkan. tanpa ambil pusing dengan pendapat orang lain.
kenyataannya saya tidak bisa demikian. karena itu saya memilih blog ini dibandingkan segala sosmed yang ada.

kemudahan komunikasi sudah ada di tangan. sayang sungguh sayang, kita kadang lupa yang terpenting bukan seberapa banyak sosial media yang kita miliki tapi seberapa kita sudah memaksimalkannya untuk menjalin hubungan terkhusus menunjukkan sebuah kepedulian.

kadang saya hanya ingin mendengarkan pertanyaan: "are you okay, diss?" 
entah melalui suara ataupun tatapan wajah. dan pertanyaan semacam itu mungkin akan memulai cerita. bosan juga mengetik apa yang ada di bilik hati. kadang hanya ingin segelas minuman segar bersama orang yang menyediakan waktu untuk mendengar.


[dear my unspokenspace] saya harap saya akan jarang membuka mu, blog. saya harap secara lisan saya bisa membagi kegelisahan hati ke orang yg tepat. bukan lagi ke kamu. tapi sebelum itu terjadi, tetaplah setia bersama saya. kelihatannya saya akan sering mengunjungimu dua bulan ini. semoga saja untuk mengetik nada keajaiban bukan penyesalan.

[dear reader] yang jelas, jika Anda membaca post ini sekarang, saya sarankan anda men-chat kawan atau sahabat anda melalui salah satu aplikasi sosmed yang ada. sekedar menanyakan "is everything okay?" mungkin akan jadi awal ampuh untuk seseorang meluapkan apa yang tertahan di hati dan otaknya. dan bahkan siapa tahu dengan pertanyaan sesederhana itu anda menjadi belajar sesuatu.

:) selamat sore (dari sepetak kosan di surabaya)

saya berusaha mencari judul yg dramatis, dalam bahasa inggris. tapi pelafalan ala suroboyo yg sepertinya paling tepat menggambarkan kekaguman saya.

ada banyak post yg ingin saya bagi. tapi entah akan punya cukup waktu atau tidak ditengah menumpuknya pekerjaan. jadi, ijinkan saya rangkum dalam post ini.


april ini sungguh luar biasa. kata orang, jangan hitung hari-nya tapi hitung berkat di dalamnya. dan saya melakukan hal yg serupa.

bulan ini saya mendapatkan banyak jackpot. pertama adalah acara dedicate for life yang saya gagas dan disambut baik oleh rekan pelayanan di gereja. ini adalah proyek yg membuat saya bolak-balik panti asuhan. saya kira akan capek awalnya. tapi justru kegiatan ini menghapuskan keletihan saya di dunia kerja. melihat senyum dan antusiasme para anak panti menyambut kami datang, membayar lelah keringat dari panas angkot.

tapi Tuhan emang gak sekedar baik tapi juga keren. skenario yg Dia siapkan adalah wujud totalitas mahakarya. ahh rasanya pengen jelasin detail apa yg Tuhan kerjakan dalam pelayanan ini. dari gimana Dia campur tangan bantu jualan baju bekas. menggerakkan hati banyak pemuda buat join program ini (sampai melebihi target) dan mengijinkan kami kekurangan hingga berkelebihan. Oh memang Dia Pencipta! 



selain acara ini, april saya diceriakan dengan puncak penanggungan.
so first of all, I wanna thank my good friend: fro! dari keisengan ngobrol, dia dengan ajaib meyakinkan bahwa mendaki penanggungan itu tidak sulit. dan seperti saya tulis di instagram: "rekan yg baik meyakinkan bahwa kamu bisa tanpa membiarkan kamu sendirian melewatinya"
keterbatasan kapasitas fisik (maklum jarang olahrga) ternyata terkalahkan dengan niat. puncak itu saya raih! walau hanya 1653 mdpl, tapi ini adalah pencapaian besar buat saya. puji Tuhan..

dunia kerja juga menghadirkan pertemanan baru. akhirnya punya waktu buat keluar bareng rekan guru cewek. dan yg favorit adalah banyak sekali momen menyenangkan bersama murid di bulan ini.



ohya, ada yg favorit. saya pernah dulu mengucap "pengen deh dateng ke ultah murid" eh bulan ini juga saya diundang ke tiga perayaan ultah siswa. emang Tuhan itu selalu denger kepengen saya :') dan ajaibnya, Dia selalu tunjukkan bahwa Dia peduli akan keinginan (yg kadang konyol) dari saya.



dan besok (21 april) saya bakal mencicipi satu resto baru yg emang uda saya idamkan. lagi-lagi Tuhan kasih persis yg saya mau dengan skenario terbaik.

19 april juga jadi momen bahagia buat saya karena kakak saya ulang tahun. hanya beberapa orang terdekat saya yg paham kenapa saya cinta mati sama kakak saya ini. pemberian paling ajaib dr Tuhan adalah kehadirannya.

dan klimaks sukacita bulan ini adalah kehadiran seseorang. dan dengan bangga saya sebut dia sebagai pacar saya :) 
komitmen setelah saling mengenal lebih dari 2 tahun. dan saling mendoakan lebih dari 1 tahun berpuncak pada sukacita.
saya bangga dan merasa terberkati untuk menyebut dia sebagai partner hidup saya :)
saya bisa bercerita banyak sekali, tapi yang jelas dia benar-benar bukti bahwa Tuhan mencintai saya dan benar, Dia SELALU peduli scara detail akan hidup saya. Riyan adalah wujud pengabulan doa. saya mengasihinya. dan itu artinya, di saat yg sama dia jadi alasan saya untuk semakin mengasihi Pencipta.

yang saya pelajari di bulan ini adalah bahwa ketika kita sejenak menundukkan kehendak kita pada kaki-Nya, itu adalah sebuah investasi besar.

saya tidak pernah meminta apa-apa yg saya dapatkan diatas. saya hanya selalu berbisik dengan gentar akan apa yg saya inginkan. kriteria pasangan, program untuk anak panti, petualangan pendakian, makan di sebuah resto tertentu, dan banyak hal detail lain. tapi justru ketika saya menjadikan Dia sahabat dan tempat pertama saya berbisik, Dia menjadikan itu semua nyata sesuai cara-Nya yg baik.

saya kadang tergoda berpikir "apa kebaikan saya sehingga Pencipta selalu memberi apa yg saya rindukan" tapi itu hanyalah pertanyaan sombong. dan terjawab dengan momen paskah. apa yg saya dapatkan semata karena Dia bermurah, bukan karena saya layak.

sekarang saya adalah seorang jobseeker. di tengah ekspresi santai, ada kalanya saya takut menjadi pengangguran. tapi april ini mengingatkan saya bahwa jika Dia peduli akan hal sekecil makan di sebuah resto idaman, apa iya Dia akan abai akan masa depan saya?

selamat paskah kawan :) sbab Dia hidup, ada hari esok. dan aku tak perlu gentar.
"aku tau ini semua adalah kesia-siaan. tapi Tuhan, raja tua ini juga ingin merasa bangga akan dirinya sendiri"

kutipan dari novel Alchemist karya Paul Coelho menjadi cerminan hati saya di tengah perjuangan mencapai puncak di pendakian perdana ini.

lupakan sejenak quote itu. mari mundur dan biarkan saya menceritakan kisah ini dari awal.

kawan saya Daniel (fro) dalam obrolan kami dengan iseng mengajak saya naik ke penanggungan. saya tau itu hampir mustahil untuk saya iya-kan mengingat kapasitas tubuh saya. tapi somehow teman saya satu ini berhasil meyakinkan bahwa gunung tersebut tidak terlalu mengerikan untuk pemula. asal tubuh fit dan tanpa beban pikiran, cukup.
dasar saya memang ingin, tanpa banyak ragu sayapun mengiyakan.
persiapan yang saya lakukan hanyalah main badminton untuk melatih fisik dan nafas. walaupun saya tau tidak akan berguna banyak. hehe

perjalanan dimulai di siang bolong dari surabaya. bersama dua teman dari Ekonomi Pembangunan Unair. pikir saya: "lagi-lagi menyusup"
setelah melakukan hal senada di perjalanan ke pulau menjangan.

setelah melewati gerimis kecil di daerah porong, kami melanjutkan perjalanan hingga masuk ke daerah trawas. singkat cerita kami sampai di pelawangan gunung tsb saat matahari sudah bersiap terbenam. perjalanan menuju puncak bayangan kami mulai sekitar setengah enam. keuntungan perjalanan malam adalah tidak melihat seberapa jauh rute yg masih haus ditempuh.
saya belajar sesuatu, kadang kita harus melupakan sejenak keseluruhan perjalanan dan cukup memikirkan dua hal: satu tapak di depan dan puncak itu sendiri.

empat jam kemudian kami sudah siap memasang tenda dan memasak makan malam di tengah rasa pegal kaki dan badan. susu sereal hangat ditambah sandwich ala kadarnya benar-benar terasa nikmat.
rute yg dilewati cukup sulit mengingat malam itu hujan tak kunjung lelah. licinnya tanah menambah tantangan. namun bayangan puncak sungguh menguatkan.

kami hanya tidur tiga jam. sebelum jam 3 pagi bergerak dari puncak bayangan menuju puncak sesungguhnya.
lelah raga terlupa, dengan semangat keindahan matahari terbit di ketinggain 1653 mdpl tersebut. dari berempat hanya saya dan fro yang memutuskan lanjut hingga puncak. untungnya ada teman fro, si moth dan rekan se-UKM nya (sinematografi) yg meramaikan rute miring dan curam khas penanggungan. bukan hanya kaki yg bekerja, otak dan tangan pun wajib berkoordinasi dengan baik memilih tapak-tapak yang aman.

saya sempat jalan sendirian cukup jauh, karena fro menemani lina yang akhirnya memutuskan berhenti di tengah jalan dan kembali ke tenda. di saat itu, saya menangis (dalam artian sesungguhnya), saya tidak percaya bahwa saya bisa. membuktikan ke sisi pengecut saya bahwa dia salah, itu MELEGAKAN.
hingga di puncak, air mata haru harus ditahan akibat terlalu ramai pendaki lain. kekaguman akan lukisan Pencipta dengan matahari dan awannya sungguh membayar perjalanan 6 jam yang sungguh basah dan membuat lelah.

seperti kutipan di awal tulisan ini, ini hanya kesia-siaan. toh yang menganggap ini hal besar hanya saya sendiri. hanya saya yang tahu arti bangga akan 1653 mdpl itu. tapi, biarlah, siapa peduli. to give your self a credit and proud, is a must!

jika ditanyakan apa saya akan mengulangi melakukan pendakian(?) jelas saya jawab IYA. tak peduli berapa biru njarem di sekujur kaki, tak peduli seberapa hitam warna kulit bertransformasi, saya akan tetap melakukannya.

saya masih lebih mencintai pantai, tapi puncak gunung memberikan apa yang tidak pernah diberikan oleh hamparan laut: KEBANGGAAN.



terimakasih kelas 9! selamat lulus SMP!
selamat memasuki masa putih abu-abu yg sering dibilang sbg masa paling indah.
grab every opportunity and have fun!



-with love, miss Adiss.

Kincir Angin Masa Kecil

Ketika melewati sebuah lorong gedung tertentu langkah saya terhenti di depan deretan poster-poster karya pemenang dari sebuah kompetisi bertema lingkungan hidup. Hanya tergelitik sepakat dalam angan disertai imbuhan miris dalam porsi yang wajar ketika membaca kutipan ini:

"Jika pohon terakhir akan ditebang, dan mata air terakhir berhenti mengalir,
Mungkin baru saat itu manusia sadar bahwa uang tidak dapat dimakan."

Mungkin benar, itulah yang akan terjadi jika banyak pihak terus memperlakukan alam dengan seenaknya. Di Kelas Biologi ketika saya masih berbalut pakaian putih-biru sudah disinggung bahwa ada beberapa sumber daya alam yang memang tidak dapat diperbarui. Ada batas terhadap segala sesuatunya, itu fakta. Tapi saya yang adalah sarjana sosial juga tak pakar dalam hal itu dan tidak cukup kompeten untuk memberi berbagai pandangan serius dan teoritis. Satu yang saya yakini adalah prinsip konservatif yang dengan padat lugas diucapkan oleh seorang novelis tahun 1800-an pemenang penghargaan Literatur Pulitzer, Edna Feber, “Perhaps too much of everything is as bad as too little.”
Seperti sosial media yang melekat di kawula muda seantero dunia, telah dimanfaatkan untuk berbagai hal positif, dan telah bertransformasi menjadi kebutuhan. Ketika digunakan berlebihan juga membawa pengaruh buruk. Catatan lain penting di dunia maya adalah eksistensi sebuah peraturan tanpa aksara – etika nama lainnya – yang menjauhkan kita dari cemooh dan gerah para netizen lainnya.
Pemanfaatan energi berprinsip tak jauh berbeda, namun dalam konsekuensi yang jauh lebih serius sebab berkaitan dengan alam dan hajat hidup orang banyak. Kita membutuhkan energi dalam banyak bentuk. Minyak, gas, dan listrik, yang paling sering kita jumpai. Mulai menjadi masalah ketika pemanfaatan itu mengasumsikan kita adalah pengguna tunggal dan semakin parah jika ada rasa abai tentang batas dari energi tersebut. Pemborosan merupakan cerminan khas dan utama dari asumsi yang salah serta rasa abai. Inilah PR pertama kita: membenahi pola pikir. Tidak tuntas disitu, tugas selanjutnya adalah tentang tindakan nyata demi terwujudnya sustainablity. Penghematan sudah merupakan keharusan, itu tiada lagi berpilihan. Alam kita menyediakan yang tak terbatas sebenarnya, hanya kadang kita sudah terjebak dalam nyaman terhadap sesuatu yang sudah rutin kita gunakan. Sebut saja energi fosil berupa minyak bumi dan batu bara. Ketergantungan ini perlu dikoreksi, tak ubahnya ulangan harian dari siswa sekolah. Jika alam dapat bicara, mungkin dengan suara parau dia akan menunjukkan sisi-sisi dari dirinya yang belum banyak tersentuh. Angin misalnya.
 “Yuk beli kincir angin”
Ajakan seorang teman kala masa kecil menyelinap dalam jeda lamunan saya tentang pemanfaatan energi angin di masyarakat kita. Sebagai anak desa, saya akrab dengan mainan itu selain petak umpet dan juga layangan pastinya. Ada kalanya uang jajan kami habis dan memaksa kami membuat sendiri. Bermodal kertas atau botol plastik bekas, kami berkreasi. Penghematan dilakukan, rasa senangpun didapat.
Konon anak kecil adalah sumber inspirasi. Di balik kepolosan, ada banyak hikmah yang dapat dipelajari. Selama menjadi guru SMP, saya membuktikan kebenarannya. Lalu tiba-tiba membayangkan andai kita bisa menjadi mereka. Didorong keterbatasan uang saku, lahirlah kincir angin kreasi sendiri. Keinginan untuk menciptakan sesuatu kerap muncul usai merasa kurang atau saat apa yang biasanya kita gunakan sudah habis. Merasa tidak nyaman adalah permulaan penting. Sayangnya, kita belum ada di tahap itu. Mungkinkah kita harus menunggu minyak bumi habis, barulah ada keinginan untuk memanfaat sesuatu yang berbeda? Harusnya tidak.
Ada banyak sekali bagian dari alam ini yang dapat lebih dieksplorasi. Bahkan fenomena pasang surut gelombang bukan saja menginspirasi para penyair namun juga ilmuwan, Tidal wave energy contoh hasilnya. Anginpun demikian, tidak sebatas digunakan untuk menceriakan masa kanak-kanak. Kincir angin dalam ukuran yang lebih besar dan material lebih berat sudah terbukti bermanfaat di berbagai lokasi negeri ini. Kota Jakarta yang kerap menjadi sasaran berbagai keluhan juga telah memberikan contoh pintar, yaitu dengan memanfaatkan panel surya di lampu-lampu jalan tol. Mobil listrik, walau belum benar-benar ditanggapi serius oleh pemerintah, tetap merupakan inovasi yang layak diperhitungkan dalam upaya penghematan bahan bakar minyak. Sudah banyak yang dilakukan dan ini tidak dapat didustakan. Namun masih ada banyak lagi yang dapat diupayakan. Geothermal mungkin salah satunya. Memanfaatkan posisi strategis Indonesia sebagai salah satu Ring of Fire adalah pilihan cerdas. Indonesia sudah melakukannya namun belum dalam tingkat signifikan jika dibandingkan berbagai hasil studi tentang tingkat panas bumi yang sangat tinggi di negeri ini. Jumlah PLTP kita bahkan tidak lebih banyak dari jumlah jari di tangan kita. Sangat potensial namun belum menjadi familiar dan belum bertransformasi sebagai pilihan favorit.
Seperti kegiatan membuat kincir angin mainan, semua membutuhkan bahan-bahan tertentu. Keengganan untuk menciptakan atau mengubah suatu cara konvensional sering terbentur dengan mahalnya biaya awal yang harus dikeluarkan. Investasi, itulah kata kuncinya. Bermula dengan alokasi dana khusus di awal sebelum menikmati potensial manfaat. Ini seperti alur bisnis pada normalnya, tinggal mencari tahu siapa yang cukup peduli untuk merealisasikannya. Akan ada keuntungan, pastinya bagi khalayak yang terus haus akan energi seiring pertumbuhan ekonomi dan juga bagi pelaku bisnis.
Kita ada di sebuah negeri yang begitu besar nan strategis, tapi akan menjadi percuma jika pola pikir kita masih salah dan penuh kemalasan. Resource Curse merupakan teori terkenal, dimana melimpahnya sumber daya alam tidak selalu sinonim dengan segala hal positif. Ada dampak negatif yang terselip. Namun itupun dapat diubah, itu bukan sebuah keniscayaan. Ketika ada pola pikir yang tepat disertai tindakan yang nyata dan cerdas, maka keadaan akan membaik. Banyak sekali karya innovator muda di negeri ini yang berusaha membuktikannya. Mereka patut dihargai lebih. Bukan saja perkara hak paten atau pujian, namun lebih pada dukungan nyata dari berbagai pihak. Sinergi, kali ini kata kuncinya. Apapun sisi menawan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif akan sia-sia jika tanpa karya inovatif dan keseriusan yang masif. Ini PR kita semua untuk membenahi pola pikir, melakukan penghematan, dan lebih jeli memanfaatkan energi alternatif. Ini usaha kita bersama. Seperti membuat mainan kincir angin, tidak asyik jika dilakukan sendirian.

*tulisan ini adalah artikel yang dikirimkan untuk mengikuti kompetisi menulis dari Total energy*


Lihatlah betapa korupnya negeri ini,
ketika pejabat seakan tak punya malu lagi.

Penjajahan bukan lagi soal senapan,
tapi komisi besar menutup mulut perjuangan negeri.
Suap dimana-mana, korupsi merajarela.

Makin tak heran sebuah judul film berkata: "sungguh lucunya negeri ini"

Tapi selain itu semua, pernahkah menengok begitu melimpahnya kearifan lokal negeri ini?

Satu prinsip kuno yang baru saya pelajari hari ini adalah: "tuna satak, bati sanak"
yang artinya, kadang tidak untung berupa uang tak apa, asal jaringan makin meluas.
wah wah, para motivator dunia yang menekankan tentang jaringan daripada profit dollar bisa jadi meniru falsafah kuno kita ini.
selain itu, selama saya sebulan lebih di negeri asing, saya nyaris tidak pernah melihat ada percakapan antara dua orang yang tidak mengenal di sebuah bus kota atau tempat umum tertentu. bandingkan dengan disini, percakapan kecil di bemo hanya untuk sekedar bertanya "turun mana mbak" akan kita temui dengan mudah.
kebiasaan-kebiasaan luhur negeri ini begitu banyak. belum lagi jika kita bicarakan makanannya yang beraneka ragam, kain tradisional dari banyak tempat yang sungguh menawan.
surga dunia paling mainstream pun tak pernah sepi.
gunung megah yang menjulang.
prestasi anak negeri yang tak pula bisa dipungkiri.
jadi jika anda menanyakan saya, kenapa saya mencintai Indonesia, saya bisa jawab dengan sangat mudah.
saya cinta keberagamannya, saya cinta alamnya, saya cinta makanannya, saya cinta senyum sapa ramah orang-orangnya, saya cinta kemerduan alat musik tradisionalnya, saya cinta hampir semuanya di negeri ini.
hanya dua yang saya benci, pemerintahannya dan para golongan sok agamis yang terus memaksakan homogenitas negeri.

sang guru senior di ujung percakapan sore tadi bertanya "miss adiss ini kok bisa cinta banget sama Indonesia" lalu saya dengan lugu menjawab "saya juga gak nyangka bisa cinta banget sama negeri ini bu"

jadi moral percakapan tadi sangat sederhana, kecintaan ke Indonesia itu mudah. asal sejenak berhenti melihat pemerintahannya. :)


Tidak perlu menjadi seorang berparas rupawan dan ikut acara tahunan bergengsi di sebuah stasiun tv swasta, untuk mendapatkan panggilan “miss” :)
Sebuah tanggung jawab sebagai seorang pendidik melekat dibalik empat huruf itu.
namun panggilan yang sama mengingatkan bukan hanya tentang beban, tapi juga sukacita.
Bukan hanya tentang pekerjaan tapi panggilan
diri saya yang sebenarnya tidak pernah terungkap di ruang guru. Disana hanya tempat untuk singgah dan mengambil jeda di tengah kerasnya kehidupan kelas.
Agaknya seperti kehadiran mall di tengah perjuangan suka duka universitas.
di kelas, saya jatuh cinta.

Di durasi 40 menit di antara bel yang berdering, ada banyak cerita yang sudah dibagi, bahkan air mata pun pernah tercurah.
Di kelas, saya bermain peran. Kadang marah layaknya seorang panglima militer, kadang menurunkan nada dan berperingai lembut sebagai ibu.
Kadang saya hanya tertawa dan mengijinkan saya ditertawakan -bukan karena rasa hormat akan guru terlalu murah- tapi karena saya sedang ada dalam posisi sebagai kawan mereka.
Di kelas saya dipaksa menjadi wikipedia, mengetahui banyak hal dan harus selalu siap menjawab banyak pertanyaan.
Di kelas, saya menjaga agar sikap saya terpuji dan jadi teladan. Namun tak jarang saya buka kebobrokan dan kekonyolan masa lalu, agar mereka tidak jatuh pada lubang yang serupa.
Di kelas saya belajar, itu yang terpenting. Dan membuat saya tertunduk mengagumi hukum semesta yang agung di segala kepercayaan: “semakin banyak kamu menabur, semakin banyak kamu menuai”




Dan di ruang yang sama, saya menemukan alasan untuk bersyukur, hari lepas hari.
Saya rasa, saya telah gagal dalam mendidik murid dalam kedisiplinan. Pada akhirnya, saya sering kalah dengan rasa tidak tega. Saya bukan guru yang baik. Kelas saya berisik. Tapi bagaimanapun, saya tetap guru, saya membagi ilmu.
Di sela-sela usaha menjadi seorang yang layak mendapat hormat mereka, sekarang saya justru mengubah nada doa saya, agar Pencipta melayakkan saya mendapatkan kasih mereka. Itu berharga.
Tidak lama lagi saya akan menjadi mantan guru mereka, tapi selama panggilan “miss” itu bersua, maka saya akan tetap jadi seseorang yang dengan taat duduk diam membalas chat ataupun memberi telinga untuk mendengarkan.

Masa mendidik di bangku sekolah hampir habis. Masa bercengkrama di kelas, telah diambang batas, tapi masa jatuh cinta pada mereka akan tinggal tetap, selama mereka masih mau memanggil saya “miss”