Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

MAINSTREAM-isme
(:noun) paham yang menempatkan rata-rata pilihan kebanyakan sebagai pertimbangan.

Penambahan imbuhan 'isme' adalah keisengan saya, tanpa maksud apa-apa selain agar terdengar lebih keren. Harus diakui kata 'mainstream' ataupun sang antonim yang berimbuhan 'anti' di depannya adalah kosa kata populer saat ini. Apakah memang menjadi 'berbeda' sekarang merupakan toplist pekerjaan favorit generasi kita? Sepertinya begitu. Menjadi lain dari yang kebanyakan, kuda laut punya cara sendiri untuk itu. Bayi kuda laut dilahirkan tidak dari betina. Emansipasi yang kerap diteriakkan kaum hawa juga secara kodrati disuarakan oleh spesies ini. Tugas melahirkan justru diemban apik oleh sang jantan. Satu dari jutaan keunikan alam.

Menjadi berbeda dari yang kebanyakan terkesan lebih seksi.  Misalnya adalah passion to travel -Wanderlust- demikian julukannya. Bekerja di kantoran dianggap terlalu boring dan menetap di satu tempat tanpa travelling dianggap usang, agaknya itu yang disuarakan banyak kaum muda belakangan ini. Di instagram akan begitu mudah menemukan akun yang menampilkan rangkaian perjalanan di surga-surga dunia semudah menemukan apa arti rumus phytagoras di mesin pencarian google.


Memang merasa bangga jika menjadi berbeda itu hal naluriah bagi kita manusia. Namun bagaimana dengan kisah sang kuda laut tadi? Saya tergelitik rasa penasaran akan apa yang dipikirkan oleh spesies lain dalam koridor laut yang sama. "Macho kok bunting" apakah ejekan semacam itu kerap didengarnya? Entahlah. Saya bukan seorang psikolog -baik manusia apalagi hewan.
Di tengah keunikannya, saya yakin pasti kuda laut tidak pernah merepotkan diri dengan melihat apa yang mayoritas terjadi. Jika memang dia punya cukup waktu dan energi mengamati penduduk lautan, mungkin dia akan tergoda akan salah satu dari dua hal ini: angkuh karena terlalu berbeda atau minder (juga) karena terlalu berbeda.

Alam yang menakjubkan ini menyiratkan sebuah pesan yang kaya. Kuda laut hanya salah satunya. Masih banyak yang lain, misalnya kolibri, satu-satunya burung yang dapat terbang mundur. Atau kaum nokturnal yang melakukan terobosan pada pembagian waktu antara aktivitas dan istirahat. Paus, sang pesenandung di lautan. Semua di alam ini adalah sebuah ke-khas-an. Menjadi berbeda adalah hal paling mainstream di muka bumi.

Paulo Coelho, lagi-lagi saya harus mengutip darinya, pernah berkata: "pohon tidak pernah berusaha menjadi berbeda, dia hanya berusaha tumbuh dan menjadi dirinya sebaik mungkin. Sungai pun tak berusaha menjadi berguna, dia hanya berusaha tetap mengalir. Dia berusaha menjadi sungai. Lalu darinya, banyak makhluk dapat dihidupi."

Kutipan sederhana dari peraih nobel dunia literatur tersebut mengusir virus mainstreamisme dengan lantang. Perbedaan dasar sebenarnya adalah: "melihat siapa?" Saat berusaha menjadi berbeda sesungguhnya kita sedang melihat ke orang lain. Kita melihat apa yang berlaku kebanyakan, entah akan mengikuti atau justru melawan arus nantinya. Pesan yang diajarkan alam justru jauh lebih sederhana: lihatlah ke dirimu sendiri. Entah hanya belasan atau jutaan orang yang memiliki kesamaan pekerjaan atau hobi, itu tidak terlalu penting. Bagaimana kamu mengupayakan pekerjaan dan hobi, itu jauh lebih penting. Inilah pesan kedua. Saat mainstreamisme mengajak kita menghitung kuantitas, alam mengajarkan lagi-lagi yang lebih sederhana: tetaplah bertahan dan lakukan yang terbaik! Alam mengajarkan tentang kualitas!

Si jantan hippocampus tidak pernah berusaha menjadi anti-mainstream dengan hak untuk melahirkan. Dia hanya berusaha menjadi kuda laut. Kolibri pun demikian, dia tak merepotkan diri untuk lebih dulu melakukan survey terhadap kemampuan terbang kawan-kawan berbulu lainnya. Dia hanya berusaha menjadi kolibri yang tetap terbang.

Bagi sungai, yang terbaik adalah tetap basah dan mengalir. Idaman bagi sang pohon adalah tetap bertumbuh dan berbuah. Tapi untuk manusia? siapa yang dapat mendefinisikannya? no one but ourselves :)

But who can say what’s best? That’s why you need to grab whatever chance of happiness you have, and not worry about other people too much. -Haruki Murakami

Berbahagialah ia yang terlalu lelah memikirkan hari esok. Lelap nyenyak menjadi miliknya. Esok masih saja ditemani kabut. Biarkan aku bersandar sejenak. Saat ini harus aku maknai juga :)

Satu paragraf singkat diatas bukan gubahan seorang Claudya, Di tengah menunggu sebuah antrian, tersodor sebuah majalah lokal perusahaan dan saya tergelitik untuk menguak apa yang ada di dalamnya. Durasi dihabiskan lebih banyak di halaman paragraf tersebut terpatri. Saya membaca ulang bagian "terlalu lelah memikirkan hari esok." Sontak saya bertanya apakah salah memikirkan hari esok? Bukankah itu hal yang wajar? Tidak ada seorangpun yang membantu saya menemukan jawabannya. Karena kadang jawaban memang harus dibuat dan tak sekedar dinanti, maka saya membuat jawaban versi saya sendiri hari ini:

Tidak ada yang salah dengan merencanakan masa depan. Tentang apa, kemana, berapa, dan kapan. Saya dan Anda memiliki angan akan masing-masingnya. Menginginkan apa, hendak pergi kemana, ingin berpenghasilan berapa, dan menikah kapan, Semua ada dalam baris pikiran yang terkonversi dalam tiga hal: rencana, upaya, dan doa. Ketiga ini adalah cara ampuh menjawab pertanyaan bagaimana kita mewujudkan itu semua. Sayangnya kadang kita lupa menarik nafas dan memberi koma pada perjuangan untuk menjawab pertanyaan mengapa kita memikirkan itu?

Ingin bahagia, banyak yang menjawab demikian mungkin. Perencanaan yang rinci dipuji sebagai sebuah rasa mawas akan masa depan sehingga dapat menciptakan kehidupan yang nyaman. Memastikan apa yang masih ada dalam kendali dan menekan kemungkinan kecerobohan. Manusia ahli dalam hal itu. Sayangnya dengan jawaban tersebut, kita lupa bahwa bahagia merupakan state of mind atau pengkondisian pikiran, itu adalah keputusan, yang bagi sebagian orang dinganggap sebagai tujuan.

"Jika sudah memiliki ini, sudah pergi kesana kemari, dan setiap bulan sudah mengantongi puluhan juta gaji, baru saya akan bahagia." Kita memberi syarat atas perasaan dan suasana kehidupan yang sebenarnya dapat kita rasakan kapanpun kita mau. Kabar baiknya adalah bahagia dapat dimulai hari ini. Menurut saya yang selalu sok tahu ini, banyak orang yang tidak mampu menikmati "sekarang" karena mereka merasa kebahagiaan ada nan jauh disana. Kebahagiaan ada di masa depan, sehingga membuat mereka terlalu sibuk memikirkan tentang apa yang masih bersemat kata "akan."

Bagi kita dan mereka yang sudah bahagia hari ini, rencana adalah wujud syukur yang menjauhkan kita dari takabur. Kita tidak takabur atau terlalu sombong menilai bahwa kehidupan akan selalu mudah, karena itu kita membuat rencana. Kita SUDAH bahagia hari ini, bukan karena hidup kita serba ideal namun karena kita memilih demikian. Kita sudah bahagia, kita tidak kesulitan untuk menikmati apa yang dinamakan: HARI INI.

Kepastian bukan penghuni hari esok, pun kebahagiaan. 
Mereka berdua adalah tamu hari ini. (cte)








No explanation needed.
"Never use stereotypes, both in real life and your writing."

karena yang kurus tidak selalu diet
dan dokter tidak harus bertulisan tangan jelek
laki-laki tidak haram menyukai pink
dan orang kaya tidak selalu naik mobil mewah
:)

kadang saat kamu sudah benar-benar lelah, Tuhan merayu dengan mengabulkan harapan yang hanya kamu bisikan atau menyelipkan semangat lewat pujian sekitar :)



Seharusnya tulisan tentang ini sudah terpampang disini sebelum tahun berganti. Ketika sepi kabar baik, dua hidangan penutup tahun 2014 adalah kabar saya memenangkan lomba menulis cerita travelling inspiratif dari Kompas dan kabar menjadi kontributor Love Journey. Dimulai dari meneliti jejak karir senior jurusan saya, Mas Lalu Abdul Fatah yang memang serius berkecimpung dalam dunia menulis, sayapun tergoda melakukan strategi yang tidak jauh berbeda (walaupun sepertinya dalam kadar yang masih terlampau tak sama). Bermula dari kesetiaan mengikuti lomba-lomba lalu menjadi kontributor, menerbitkan buku sendiri, lalu berkarir di dunia literatur. Terbersit keinginan serupa untuk menerbitkan buku. Itu pendeknya. Sama seperti pegiat mimpi lain -tidak bisa disangkal- ada kalanya memang kita merasa impian kita terlalu muluk dan ada saatnya kita bahkan mempertanyakan bijaksanakah pilihan untuk ngotot terhadap satu intuisi. Di tengah saya mengalami itu, Tuhan yang Maha Asik memperlihatkan restuNya lewat satu prestasi kecil ini. Dia selalu layak terhadap prasangka baik kita.

Soal antologi, sebenarnya ini yang kedua. Tulisan pertama saya yang terabadikan dalam buku adalah lewat buku Share His Glory, yang diterbitkan oleh Gereja. Walaupun memang berlabel "untuk kalangan sendiri" tapi setidaknya saya tahu ada beberapa orang yang tidak saya kenal yang sudah membaca kisah saya dan berharap mereka terberkati olehnya.




Keinginan saya tiba-tiba bertutur tentang ini disponsori rasa bahagia yang memuncak satu pekan penuh yang lalu. Tautan menuju salah satu tulisan saya berkeliaran di sosial media dan memancing ratusan pengunjung di blog usang ini. BEYOND EXPECTATION. Berbagai kawan bahkan menghampiri dengan genggaman apresiasi. Sungguh itu bermakna besar, belum pula kenyataan melihat ucapan terimakasih karena tulisan saya tersebut telah menyadarkan sesuatu. Sepertinya itulah keindahan membagi tulisan. Sebuah hobi yang hampir saya kubur mati. Satu teman bahkan datang dan dengan tulus berkata "terima kasih karena sudah menulis ya dis." Bagi saya, baik prestasi menulis ataupun apresiasi pembaca adalah cara Pencipta merayu saya untuk tetap menari dalam kata.

Entah kapan dan entah apa bisa saya merealisasikan mimpi menerbitkan buku, masih tanda tanya. Pencipta hanya merayu dengan tanda seru: " tetaplah menulis!"




Ada sebuah kisah, tentang seorang nabi bernama Elia.
Setelah melakukan banyak perkara, dia diperhadapkan pada ancaman bahaya.
Seorang bernama izebel menggertak menghabisi nyawa.
Walau nabi, dia hanya manusia.
Rasa takutpun melanda.
Dia memilih menjauh dari realita.

Murung menyendiri, lalu malaikat Tuhan menghampiri.
Disedikan roti bakar dan air sekendi.
Tapi di dalam hati, Elia tidak mengerti.
Satu yang dia mau adalah Izebel mati, agar cemas di hidupnya bisa pergi.


((blogpost ini dikembangkan menjadi artikel renungan, dapat di baca di https://ignitegki.com/article/111-kisah-roti-bakar-dan-sekendi-air-sebagai-pengingat-kebaikan-tuhan)

Namun Pencipta memang tak terduga. Izebel mati tak di jaman Elia.
Walau mampu, tapi Allah menunda kematian sang sumber bahaya.
Elia hanya diperintah, untuk tetap melangkah.

Di sela itu semua, Elia berharap disapa oleh Allah.
Lewat hal luar biasa seperti badai dan gempa.
Namun tak dia dapati sapaan Pencipta.
Justru di angin sepoi, kelembutanNya nyata

Ribuan Tahun berikutnya, seorang Claudya mengalami yang serupa walau tak persis sama
Menanti jawaban doa dalam waktu yang lama.
Dari yakin, berubah marah. Dari Khawatir hingga mati rasa.
Bagaimanapun, kisah Elia mengingatkan pesan berharga:

"kebaikan Tuhan bukan hanya tentang solusi atas masalah,
tapi juga tentang rangkaian pemeliharaan selagi menunggu solusi itu tiba."





Just like the picture said: no relationship is easy. It needs hard work indeed. This story is about how imperfect person like me and almost perfect person like Riyan keep stay. We stayed.


Rahasia 1: kasih dan kesepakatan
Riyan: "kita ini sebelum jadian bilang saling suka karakter masing-masing. Setelah jadian, baru terungkap semua. Yang bikin bertahan cuma sayang dan niat"
Dimulai dari kasih lalu dilanjutkan dengan niat. Rahasia sembilan bulan kami, sesederhana itu.

Kata Morrie di tulisan Mitch Albom, pernikahan akan mengalami banyak masalah jika tidak sepakat pada serangkaian nilai penting yang sama. Begitu pula pacaran, dua manusia perlu menyepakati hal-hal penting dalam hubungan. Misalkan tentang kejujuran, tentang prioritas pembagian waktu, tentang attitude saat berdebat (tidak kasar, tidak menutup telpon, dll) juga banyak hal lain. Kita tidak sedang mencari partner yang sempurna, justru sedang mengusahakan kesepakatan sepanjang usia dengan sesama manusia yang lemah.
"Lalu pertanyaannya, apa nilai yang paling penting?" tanya Mitch Albom
"Nilai tentang berharganya hubungan kalian" Jawab Morrie sang bijak.
Percuma ada cinta menggebu jika hanya satu orang yang menilai berharga sebuah hubungan. Ini mutlak: DIBUTUHKAN DUA ORANG yang sama-sama meyakini harga relasi kasih yang mereka miliki.


Rahasia 2: Kerja keras
Ketika aku dan Riyan memulai hubungan ini, bahkan setelah proses saling mengenal yang tergolong lama, kamipun masih dikejutkan dengan berbagai karakter satu sama lain. Riyan harus terkaget dengan ke-moody-an ku dan akupun harus terbebelalak dengan sisi koleris Riyan yang dominan. Satu dan disusul berbagai kejutan lainnya selama sembilan bulan hubungan ini. Pengenalan ini tak akan berakhir walaupun kami berdua sudah beranak-pinak memenuhi bumi.

Di sela satu per satu karakter yang terungkap, sepasang kekasih akan diperhadapkan pada beberapa kekaguman bernada "astaga I found my other half" yaitu melihat berbagai perbedaan yang saling melengkapi. Tapi potensi ketidakcocokan juga muncul. Ketidakdewasaan akan berkata bahwa itu alasan berpisah, tapi kasih yang menuju pernikahan kudus paham bahwa perasaan cocok adalah alasan bertahan dan ketidakcocokan adalah ruang untuk berproses. Lagi-lagi, Sesederhana itu.

Kerja keras pertama dalam hubungan adalah mindset atau hikmat yang memastikan bahwa 'The One' is could be from anyone. But the "Real One" is someone who makes you said "yes". Tanpa mindset ini, silahkan keluar masuk hubungan mencari kesempurnaan yang PASTI melelahkan. Saat Riyan menembakku dengan peluru berwujud buku pop-art yang sangat indah, dia tidak menuliskan disana untuk aku menjadi pacarnya. Dia justru memintaku menjadi partner mengucap janji setia di altar gereja dan menghabiskan waktu bersama anak-anak di sebuah rumah. Dia dan aku tidak sedang mencoba-coba "apakah kami cocok?" percobaan itu sudah berjalan satu tahun empat bulan sebelum malam penuh grogi dia memintaku menjadi kekasih.

Rahasia 3: Kerja keras
Di antara tumpukan kagum atau sinis orang sekitar, kami bertahan. Pertahanan ini bukan tanpa sayatan. Entah berapa kali maaf harus saling termohonkan. Usia penuh ego tak bisa diingkari membuat perdebatan makin runyam. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu cemburu.
"Manusia menajamkan manusia"
Kerap aku mengingatkan ini baik ke Riyan atau diri sendiri ketika kami mulai geram dengan rasa sakit baik akibat kesalahan atau teguran. Persis malam ini saat aku memimpin kami berdua berdoa, terucap kalimat:
"Tuhan,
berikan kami kelembutan saat meresponi kesalahan.
Kerendahan hati untuk mengakui salah.
Kebesaran hati untuk mengampuni"

Ketika dua orang bersama, pasti mereka akan saling menyakiti. Sengaja ataupun tidak. Karena itulah, kerja keras kedua adalah: sikap terhadap kesalahan.
Suatu malam setelah bertengkar parah dan Riyan merasa sangat lelah, aku bertanya "Riyan masih punya stok maaf buat adiss?" lalu dia dengan nada belum sepenuhnya pulih ceria menjawab: "iya tinggal sedikit"
Dari situ aku menyadari, stok maaf yang berharga itu terus berkurang seiring kesalahan. Tapi bagi mereka yang sungguh saling mengasihi dan berniat seumur hidup bersama, stok itu tidak boleh dan tidak akan pernah habis. Selalu ada keceriaan baru yang membuat stok itu secara otomatis nan ajaib bertambah. Akan ada memori indah yang memampukan seseorang berinisiatif menambah lagi tumpukan pengampunan tersebut. dan tenang, Sang Sumber Stok Maaf itu selalu bermurah pada kita.

Hampir aku beranjak ke point selanjutnya lalu melupakan kenyataan pahit dalam hubungan: Memaafkan yang mengaku salah, itu mudah. Memaafkan yang tidak mengaku salah, itu sulit. Meminta maaf saat salah, itu juga sulit. Tapi meminta maaf ketika merasa tidak salah, itu paling sulit.

Aku tahu, Riyan begitu berjuang di tengah kolerisnya tentang hal ini. Baik meminta maaf ataupun memaafkan. Kadang dia gagal, tapi dia juga pernah berhasil, dan saat itu dia bertransformasi menjadi seseorang yang tidak ingin aku lepaskan hingga uban menjadi kebanggaan. Aku mengaguminya.
Tidak ada kelembutan Riyan dalam hal ini yang membuatku ingin manja mengulangi salah dan memperalatnya. Entah bagaimana kelembutanku di mata Riyan. Satu yang aku tahu, tidak pernah ada kelembutan yang menodai harga diri. Kelembutan pria justru menjadi alasan wanita belajar penundukan dan Kelembutan wanita, adalah alasan seorang pria tetap setia.

Rahasia 4: Kerja keras (peringatan: saya akan menulis banyak disini)
Setiap kali kami membatalkan niat menyerah, satu kalimat yang selalu muncul di otakku adalah: masih ada dua orang yang mau berjuang.

Perjuangan kami bukan hanya tentang berusaha saling bertemu di tengah jarak yang memisah. Lebih jauh dari itu, rutinitas harian kami adalah wujud perjuangan yang nyata. Kadang berupa kreatifitas membuat pasangan senang. Seperti yang kerap aku lakukan, mengirimi Riyan gambar di sela waktu kerjanya, memanfaatkan spontanitas khas sanguin untuk menceriakannya dengan gombalan dan kejutan dengan barang hadiah. Kadang kerja keras juga ditunjukan dengan konsistensi tingkat tinggi ala Riyan. Menelpon minimal satu jam setiap malam, menyapa pagi, dan menyempatkan saling menggoda di jam makan siang. Serta kesiapsiagaan Riyan menawarkan tangan bantuan, itu juga adalah bahasa kasih luar biasa.

Perjuangan juga terwujud dalam kerelaan membatasi kedekatan dengan kawan lawan jenis. Dia hampir tidak pernah membuatku cemburu apalagi curiga. Sayangnya, Riyan harus merelakan hatinya beberapa kali kecewa. Ini adalah satu bab lagi pelajaran ketat yang sudah berhasil kami lalui.

Jadi, kerja keras selanjutnya dapat diringkas dengan: bahasa kasih. Banyak pasangan saling cinta, tapi juga tak sedikit yang kandas karena gagal membahasakan kasih mereka dengan anggapan pasangan telah tahu itu. Ingatlah, kita tidak berpacaran dengan cenayang. Tak masalah bagaimana cara membahasakannya, yang masalah adalah ketika kasih tidak dibahasakan samasekali

Romantisme itu perlu! Tapi bahasa romantis setiap orang juga berbeda. Coba bandingkan antara mbak Angel-mas Adi dan Bintang-Bastian. Completely different style to express love. Soal kreatifitas dia kalah dariku. Begitu sebaliknya, soal ketekunan akupun kalah jauh darinya. Dalam batin aku mengagumi romantisme tingkat tinggi seorang laki-laki yang dilakukan Riyan dengan cakap, yaitu dengan serius memikirkan masa depan. Tentang rumah, kendaraan, jumlah anak, bahkan hewan peliharaan tak sungkan dia diskusikan denganku.

Bahasa kasih, lagi-lagi aku harus katakan, kami memang berbeda dan puji Tuhan, kami telah banyak sekali mengalami kemajuan soal ini. Ah sungguh bukan hal yang mudah awalnya. Aku menuntut dia berbicara bahasa kasih sepertiku, dan dia mengakui dengan gemas berbalut rendah hati bahwa itu terlalu berat baginya. Sampailah aku di satu titik dimana aku menyerah menyetir bahasa kasihnya. Terlalu sulit mengharapkan spontanitas dari seorang koleris sesulit mengharapkan stabilitas dari seorang sanguin. Malam ini, aku dapat tersenyum bangga mengingat betapa kami telah belajar.

Usai pergumulan panjaaaaang soal ini,  aku mendapati satu fakta di satu tengah malam aku terjaga: "jangan mencari perasaan adil. Tapi usahakanlah kasih yang terus memberi" Ketika kita mencari keadilan, kebanyakan kita akan tidak terpuaskan. Antara sombong merasa telah melakukan lebih banyak atau insecured karena melakukan lebih sedikit. Jadi, lebih baik fokuskan pikiran pada "apa yang bisa aku lakukan untuk kekasihku ini?"

Rahasia 5: Kerja keras.
Hampir selalu setiap selesai berdebat aku menuliskan sesuatu di kumpulan note kami. Disana tertumpuk kesimpulan dari setiap masalah, agar kami tak mengulangi kesalahan yang sama atau sekedar mencatat apa yang pasangan kami inginkan. Mulai belakangan ini aku juga memutuskan dan mengajak Riyan untuk berdoa bersama setiap kali kami selesai bertengkar.

Ini rahasia hampir terakhir: komunikasi dan resolusi. Bukan karena ada di urutan belakang, maka ini kurang penting. Nyatanya ini adalah salah satu yang paling esensial: komunikasi vertikal dan horizontal + resolusi vertikal dan horizontal. Pada Tuhan dan pada pasangan. Mengundang campur tangan Tuhan, bukan hanya teori dan iming-iming kemudahan. Bergantung padaNya dalam mengasihi orang lain mutlak dibutuhkan. Belum pernah lepas dari ingatan ketika aku memohon dengan sangat "Tuhan berikan kami kasih mesra" lalu Tuhan secara begitu ajaib memampukan kami mewujudkan kemesraan luar biasa. Juga bagaimana di satu hari kami mendengar khotbah tema yang PERSIS sama di dua jenis gereja di dua kota yang berlainan dari dua tokoh Alkitab yang berbeda. Dua manusia saling jatuh cinta lalu saling berusaha, tapi ada Tangan Tak Terlihat yang senantiasa menjaga dan memelihara di tengah kecerobohan dan keterbatasan.

Komunikasi tidak cukup jika tidak dibarengi dengan rumusan komitmen ke depan. Pun resolusi juga tidak terwujud tanpa komunikasi. Riyan sangat baik dalam menjaga komunikasi, dan keterampilanku bekerja saat menyusun resolusi. Kami berbeda namun saling melengkapi disini.

Rahasia terakhir: Pengharapan dan Ucapan syukur.
Mengucap syukurlah senantiasa dan tetaplah percaya, kata Paulus. Perjuangan menuju pernikahan sangat berat, tapi pengharapan akan keindahan sebuah pernikahan juga menjadi alasan bertahan di setiap pahit manis perjalanan. Kita bekerja keras seumur hidup, kita tangguh bertahan terhadap apa yang kita anggap baik di depan. Itu adalah hal baik jika kita boleh berjerih lelah untuk sesuatu, karena itu tanda kita masih manusia, sebab tak ada perjuangan di dunia orang mati,  ucap sang Bijak Pengkhotbah.
Seperti syukur karena diberikan kesempatan kuliah dan pengharapan akan gelar sarjana akan menjadikan semangat berjuang menyelesaikan skripsi. Begitu pula dengan relasi sejoli manusia.
"beyond blessed and proud to call you mine, Riyan Yonathan" inilah kalimat pembukaku saat kami berdua jadian. Perasaan bangga dan terberkati itu masih sama seperti hari ini, dan menjadi penyemangat aku melakukan segala kerja keras. Aku bersyukur atas yang aku miliki. Aku merasa cukup. Aku (dimampukan) untuk percaya bahwa apa yang akan kami miliki ke depan sungguh indah. Aku sebagai wanita berhenti menanti yang lain dan Riyan sebagai laki-laki berhenti mencari yang lain. Kami bertahan, bukan karena pasangan kami sempurna, bukan karena hubungan ini selalu nyaman, tapi karena kasih, pengharapan, dan pastinya ucapan syukur yang memampukan kami bekerja keras.

Sekian.

Ini rahasia kami, setiap pasangan memiliki rahasianya sendiri. Di antara itu semua masih terlalu banyak wujud kerja keras yang harus diusahakan. Yang jelas kasih adalah investasi besar, kami belajar menumbuhkannya dengan kerja keras.

Sebagai penutup, aku sisipkan to do list kami :) 

1. Berdoa bersama dan terus saling mengasihi
2. Setia melakukan hal-hal sederhana untuk pasangan
3. Bertanya jika ingin tahu
4. Berkata "tidak" dengan hormat, jika tidak sepakat
5. Memuji dengan tulus
6. Menegur dengan rendah hati
7. Meminta maaf dan mengampuni
8. Mendengar tanpa menghakimi
9. Bercerita dengan apa adanya

Sungguh kami tidak sempurna melakukan ini semua. Kami hanya berusaha menjadi dua kawan baik yang saling bekerjasama. Menjadi partner yang saling mendukung di suka duka. Baik air mata tawa, air mata pergumulan, dan air mata luka, sudah mengairi baris doa kami. Di ribuan hari bersama ke depan (jika Tuhan menghendaki) akan muncul masalah baru dan tantangan baru, tapi juga akan ada kekuatan baru!
kami tidak pernah sendirian berjuang, itulah rahasia terbesar.
Sebelum beranjak ke rumah sakit sebagai rutinitas seminggu ini untuk membawakan mama apapun yang dia perlu, saya tertahan sejenak di depan layar TV. Bukan karena film seru seperti alasan saya biasanya, pagi ini karena lagu "cintaku" yang didendangkan tiga musisi yang wajahnya tidak familiar samasekali. Ternyata, tiga laki-lagi dengan dua gitar dan satu kajoon itu adalah para musisi jalanan. Sontak membawa saya pada ingatan bagaimana para pengamen menjadi bagian yang menyenangkan di seperempat usia saya yang bisa dikatakan "banyak di jalanan." Bukan sebagai pengamen seperti bahasan disini tapi sebagai perantau.

source : herdiansyahnotion.files.wordpress.com

Tiba-tiba kekaguman memenuhi pikiran saya selagi liputan tentang IMJ (Institut Musik Jalanan) ditampilkan. Mungkin hal ini berangkat dari sentimen pengalaman pribadi. 

Rasa dekat dengan para musisi jalanan jika ditelusur telah dimulai sejak saya SMP, dengan mencoba dua kali menyanyi diatas bus dan satu kali di perumahan bersama para kawan memenuhi rasa penasaran. Saat SMA, selama dua tahun, hampir setiap hari menjalani setidaknya 30 menit perjalanan bus antar kota yang kerap diwarnai melodi merdu kadang sumbang dari para pengamen. Koin atau uang kertas selalu saya sediakan khusus, wujud apresiasi atas musikalitas penghibur itu, menjadi awal keakraban saya dengan mereka. Sesekali mengobrol, sembari menunggu bus penuh. Suara merdu menggairahkan jalanan yang berdebu ditambah peringatan tulus untuk terhindar dari kejahatan. Menjadi teman mereka, adalah salah satu pengalaman berharga selama masa SMA yang sejauh ingatan mengenang dominan diisi dengan target angka pelajaran. Suatu kali seorang mabuk di kala bus sepi mencoba bermaksud tak baik pada saya, seketika mas pengamen kenalan dengan topi dekil dan celana jeans penuh sobekan naik masuk ke bus dan menggagalkan tindakan buruk sang pemabuk itu.

Kenyataannya, jalan raya dan kantor mewah itu sama, ada orang baik ada orang jahat di dalamnya. Sama-sama ada pengais rejeki, kadang halal kadang haram. Keduanya juga selalu menawarkan pelajaran dan pastinya menuntut kita seimbang antara ramah dan waspada.

Sayangnya masih banyak orang yang penuh dengan curiga atau bahkan kesombongan untuk menahan keramahan bagi kaum pengais rejeki jalanan.

Kembali ke IMJ, kekaguman tulus saya haturkan bagi para foundernya. Saya tak punya alasan untuk tak sepakat dengan penjelasan salah satu founder IMJ yang diundang di acara Indonesia Morning Show itu:
"karena beberapa perda pelarangan bukan hanya membatasi ruang berekspresi, tapi juga tanpa disadari melahirkan bibit kriminal baru."
Sepenuhnya sepakat! Lebih dari setuju!
Laranglah pengemis, tapi jangan pengamen! Mereka adalah penebar karya. Jalanan adalah panggung mereka. Jika pemerintah belum dapat memfasilitasi, maka jangan menjarah ruang ekspresi. Jika pemerintah tak punya cukup waktu memperhatikan, setidaknya jangan beri label haram pada kreatifitas jalanan.

Mereka dengan berbagai keterbatasan telah menelurkan satu album dengan cover gambar tematik hitam putih diisi dengan 10 dendangan gubahan para pengamen berbagai sudut di ibukota. Judul album perdana seharga Rp. 20.000,- ini memuat pesan "kalahkan hari ini."
Mereka membawa penegasan, to live our daily life till the fullest. Mengalahkan hari lepas hari, baik jalanan dan perkantoran (sekali lagi saya katakan) sama-sama keras, kalahkan itu!

Sekali lagi, selamat IMJ! Pagi ini dengan kehadiran beberapa dari kalian di IMS membuat saya memutar memori dan mengingatkan kegigihan passion yang tak mengecewakan! Musik kalian boleh berdebu, tapi biarlah ketulusan tetap menggebu!
Alkisah ada dua orang yang sama-sama ingin jadi pelaut handal. Sebut saja A dan si B, untuk mempermudah. Mereka mendaftar di akademi pelayaran yang sama, namun skenario lanjutan mereka sangat berbeda.

Si A ditempatkan langsung di lautan. Semacam manifestasi prinsip "learning by doing" atau "practice makes perfect." Sedangkan si B di tempatkan di ruang kelas yang nyaman. Tenaga pengajar yang lembut namun tegas, kurikulum yang rapi. Sesekali praktek di lautan namun tetap penuh dengan pengawasan tenaga ahli dan berlokasi di laut yang juga bergelombang ringan. Pun, bukan tanpa tugas-tugas, namun semua masih dalam tahap normal yang tidak melelahkan.

Bertahun-tahun berlalu, satu tingkat selesai. Si A pulang dengan banyak memar dan luka menangani kapal di tengah lautan yang kejam. Dia jadi pelaut handal. Si B, dengan tubuh yang tergolong jelita, juga tak kalah. Diabpun menjadi pelaut handal.




Secuplik analogi ini akan mengantarkan kita pada dua tipe pelaut kehidupan ini. Mungkin kita juga akan mengerutkan alis bergumam betapa tidak adilnya skenario semacam itu bagi si A. Kemungkinanya ada dua, si A yang memang dianggap kurang pengalaman sehingga Guru merasa perlu mengirimkan dia langsung ke lautan keras, atau mungkin, Guru menilai bahwa hanya si A yang cukup mampu bertahan belajar langsung di laut.

Setiap orang dipercayakan hidup yang khas oleh sang Khalik, itu adalah sebuah keniscayaan. Lika-likunya begitu beragam sehingga sejenius apapun seseorang sepertinya tidak akan pernah mampu menyelami pemikiran yang Maha Agung. Jangankan menyelamai, untuk mengurai runtutnya saja terlampu sulit. Untuk sebagian orang, kehidupan terasa begitu rumit. Saya merasa ada di golongan itu. Kita semua agaknya merasa di golongan itu. Melihat bagaimana keluarga jatuh bangun, orang tua yang bertengkar hingga berpisah, menangis ketakutan mencari dana melanjutkan pendidikan, mengungsi tak punya rumah saat ulang tahun, dan bergelut dengan kebencian melihat ketidaksempurnaan orang sekitar.

Sekacau apapun itu, akhirnya terlewati. dan belum pernah saya menyesali dipercayakan hidup demikian. Hari ini saya melihat seorang pemudi yang dengan penuh kesakitan dibentuk oleh Penciptanya. Saya (merasa) adalah si A di analogi tadi, dan saya tak berusaha protes akan hal itu. Bertahun-tahun saya merasa baik-baik saja dengan pola didikan Pencipta saya. Hingga di suatu malam, ketika saya menceritakan hal ini ke orang terdekat yang sedang belajar menjadi pendengar yang baik, ada gelombang gelisah yang membanjiri pikiran. Dia adalah si B, bagi saya. Tak selang lama menit berganti tepat setelah saya dengan air mata haru dan sesekali pedih menceritakan perjalanan keluarga yang penuh drama, dia dengan begitu damai berkata "aku belum pernah melihat orang tuaku bertengkar."

Tepat saat itu, kali pertama mungkin dalam hidup saya ingin protes pada Penata skenario. Kenapa enak sekali dia? Punya orang tua yang saling mencintai hingga saat ini, terjauh dari "kesialan" atau berbagai kecerobohan. Pernah saya menanyakan "pergumulan apa yang membuatmu merasa sulit mengampuni?" lalu dia dengan kebingungan merasa bahwa mengampuni bukan hal susah. Dia keren! Saya begitu rendah melihat diri sendiri yang butuh bertahun-tahun mempelajari apa itu pengampunan. Saya marah seketika, kenapa sebagian orang dipercayakan hidup yang sederhana jalan ceritanya? Bukan tanpa masalah, tapi setidaknya perkara kekhawatiran dan pengampunan atau pergumulan lain dapat dia pelajari dengan lebih mulus.

Sedangkan saya entah berapa tahun harus dihabiskan untuk belajar mengampuni. Pun soal kekhawatiran, ketika yang lain termasuk sahabat saya ini gelisah bertanya "bakal kuliah dimana? bisakah masuk perguruan tinggi negeri?" saya harus tebentur dengan pertanyaan "apa saya bisa lanjut ke SMA?"

Mungkin Tuhan tidak adil.
Mungkin Tuhan kurang mencintai saya
dan lebih mencintai sahabat saya itu.

Tiga kalimat di atas hanyalah kemarahan sepersekian detik. Pada akhirnya bodoh sekali pemikiran semacam itu! Kemarahan yang mendustakan pengakuan bahwa untuk yang berkapasitas lebih dipercayakan beban yang lebih. Semua adil dalam porsi penuh kasih.

Harus diakui sangat jarang orang yang merasa dia adalah si B. Setiap orang merasa hidupnya sulit. Apakah saya benar? tapi mari dengan fair mengatakan, ada beberapa dari kita yang memang dianugerahkan kehidupan sangat indah. Jauh lebih mulus dibandingkan sebagian yang lain. Sekali lagi saya tegaskan, bukan tanpa masalah. Tapi punya jalan cerita yang tidak terlalu rumit. Punya orang tua harmonis yang mendidik atau bahkan keluarga besar yang peduli, punya kecukupan keuangan, punya sumber daya mewujudkan impian. Bersyukurlah!

Hidup yang indah dan sederhana bukan aib,
Sama seperti punya hidup yang rumit juga bukan kebanggaan.

Bagaimanapun, ini masih misteri. Tapi dari kejadian malam itu saya belajar bahwa penting bagi kita mensyukuri kehidupan indah tanpa membuat orang lain mempertanyakan Pencipta atas hidupnya yang susah. Sahabat saya malam itu, dari kalimat "aku tidak pernah melihat orangtuaku bertengkar" telah membuat saya iri, kecewa, marah, dan penuh tanya pada Pencipta. Memang, dari satu kalimat iman dapat bertumbuh atau justru terbunuh.

Ohya, saya tidak akan lupa memberikan potongan akhir dari cerita soal dua pelaut itu versi imagi saya sendiri.

Usai selebrasi kelulusan, si B dan beberapa orang lain datang menghampiri si A, dengan antusias mendengarkan kisah seru petualangan di lautan, mereka terkagum dan berkata pada si A "terimakasih, dari pengalamanmu aku belajar. kau telah memperkaya ilmuku untuk jadi pelaut handal, ilmu yang tidak aku temukan di ruangan"
Mendengar itu, si A alih-alih bangga justru dalam senyum getir berbisik di hati: "aku yang penuh darah dan memar, tapi ternyata dariku mereka belajar. uh.. sial sekali aku"
Lalu sang Guru membuyarkan lamunan gerutuan si A dengan berkata "hai nak, murid-Ku, terimakasih telah membantu mengajari mereka. Kau partner-Ku, pengalamanmu memperkaya kurikulum sekolah yang Aku dirikan ini."

Kita tergolong yang mana bukan masalah, yang penting adalah kita bersedia berproses dan belajar dari mana saja untuk menjadi pelaut handal itu!
Bagi si A, jangan sombong menilai dirimu yang paling tangguh sehingga membuat si B rendah diri akan pelajaran di kelas!
Bagi si B, Bersyukurlah! tapi jangan pernah membuat memar luka bekas petualangan badai di laut dari si A menjadi lebih perih! dan akhirnya membuat dia mempertanyakan sang Guru.

ingatlah peraturan akademi kelautan ini:
"ragu pada Guru adalah tabu!"





dear Bayi Kudus
di manapun Kau berada

Santa dengan tumpukan hadiah bukan lagi penarik perhatianku, aku sudah besar! Gadis 22 tahun ini punya hobi baru: mengirim surat. Terkhusus setengah tahun belakangan. Sudahkah Kau membacanya? Aku menulis untuk-Mu, kadang dengan keyboard kadang dengan pena, kadang dengan syukur kebanyakan dengan gerutu. Aku tahu, aku tahu, orang bilang aku harus menyampaikannya lewat doa, sayangnya aku sudah lupa cara berdoa. Yang aku ingat adalah cara untuk menulis. Surat ini berarti harafiah, sebuah salinan susunan kata dariku menjelang lahir-Mu. ohya, sebagai peringatan saja, ini surat terakhirku, setidaknya tahun ini. Jadi jika aku menghilang beberapa waktu tidak menyapa-Mu, tolong ampuni.
Aku tahu Kau merindukanku, tapi bukankah meriah penyambutan-Mu belakangan akan menutupi duka-Mu karena kehilanganku?

sang Bayi,

Bagaimana perasaanmu? Jutaan manusia dengan segala euforia menanti-Mu. Senangkah Engkau dengan pesta belakangan ini? Ornamen penuh ceria dan kemeriahan di setiap sudut kota. Kau begitu dicintai. Namun di sela itu, sebenarnya aku masih sedih. Beberapa orang masih meributkan apakah boleh mengucapkan selamat akan kelahiran-Mu kepada kami. Tapi ya sudahlah, itulah nikmat keberagaman khas bangsa tercinta.
Hal paling menyayat hati adalah bahwa di antara berbagai kerlap-kerlip, sejujurnya aku belum menemukan keteduhan khas peristiwa kelahiran-Mu. Seakan-akan ribuan tahun lalu Kau hadir di hotel mewah. Bukankah Kau lahir di kandang hina? eh atau aku salah membaca sejarah?

sang Bayi, sang Penguasa Bumi..
Aku ingin memberitahu-Mu, betapa datarnya persiapanku akan momen istimewa setahun sekali ini. Jangan tersinggung, Kau tetap Pujaanku. Maaf ya sang Bayi Kudus, aku tak bisa menjadi seperti aku yang dulu-dulu. Jangankan pelayanan, persekutuan-pun tidak aku nikmati. Jangankan proyek berbagi, HPDT ku saja sudah abai tertumpuk sangsi. Sepertinya seseorang sedang meminjam cinta mula-mulaku.
Kalau Kau ada waktu, tolong buatkan aku sebongkah cinta awal yang baru.

Sang Bayi, yang lahir juga dalam tangisan sama seperti aku.
Mungkin Engkau terlewat sibuk dengan berbagai christmas wish yang hadir dari seluruh penjuri bumi, Kau jadi melewatkan memperhatikan gerak-gerikku. Sekarang aku beritahu pada-Mu, belakangan aku kerap menepuk dada, bukan karena sedang susah bernafas. Aku menepuk dadaku untuk mengingatkan bahwa semua masih baik-baik saja. Apakah Kau setuju bahwa hidupku memang bukan bencana?
Lain waktu, aku menepuk dadaku hanya sekedar merasakan detak jantung seorang manusia yang hidupnya masih ada dalam kendali Pencipta. apakah Kau setuju bahwa aku masih ada dalam hitungan orang yang dipedulikan oleh Bapa?
ohya, aku penasaran. Bagaimana Kau melakukan seleksi atas jutaan wish manusia di akhir tahun ini? Permintaan seperti apa yang akan Kau kabulkan? Aku sungguh ingin tahu, karena aku punya satu permintaan sebenarnya. Tapi aku ragu, apakah permintaan ini akan lolos seleksi dari-Mu. Aku juga malu, dengan kado semacam apa aku harus membalas budi nantinya?
Tolong beri aku bocoran, apa yang harus aku lakukan agar permintaanku dapat jadi kenyataan.

sang Bayi Mulia,
Tidakkah Kau pernah merasa kesepian?
atau merasa bahwa untuk mengatur dunia ini tugas yang terlalu berat?
pernah Kau iseng mempertanyakan sang Bapa?
kalau IYA, berarti kita sama!

Sang Bayi yang mengasihku,
Terlalu banyak hal yang berjalan tak sesuai rencana dan terlalu sedikit kejutan yang menggembirakan.
Sudah tak banyak ingin yang tersisa. Hanya sedikit harap semoga natal ini tak terlewat begitu saja. Semoga tak berlalu tanpa arti. Mungkin tak limpah sukacita atau gema senandung riuh, yang aku perlu hanyalah rasa teduh menghayati betapa mengagumkan Kau meniadakan setiap keegoisan.

sang Bayi, sahabatku.
tolong yakinlah, bahwa aku masih sangat mengasihi-Mu.
Jangan sedih karena aku tidak bisa memberikan penyambutan yang layak.
Sebagai sahabat-Mu, aku ingin memberitahu-Mu, dunia ini bukan tempat yang ramah.
aku tahu, Kau tidak akan kewalahan mengatasinya, tapi
andai kata Kau berencana segera kembali ke surga, tolong tolong bawa aku juga :)
bagaimanapun KelahiranMu itu momen awal kesengsaraan-Mu yang penuh cinta,
tapi jika boleh aku yang egois ini meminta
bisakah momen itu justru jadi akhir dari kesengsaraanku yang penuh dosa?

sang Bayi,
Jika sudah ada waktu, balaslah surat ini. Aku menunggu

salam hangat,
pengagum-Mu,
Claudya Tio Elleossa

Di suatu klinik yang tidak terlalu besar, baik perkara ukuran dan popularitas, sebuah kabar baik dikumandangkan. Kami bertiga (aku, cece, dan suaminya) menangkap senyum lebar dari sang dokter sembari dia terus menggerakkan alat USG.

Seorang bayi sedang tidur nyaman di perut kakak perempuanku. Sudah seminggu memang jelas terlihat tanda-tanda kehamilan pada normalnya, yaitu mual dan rasa haus akan makanan asam. Aku cukup beruntung menemani dan menyaksikan fenomena hormonal perubahan selera makan dan wangi-wangian itu (sekaligus korban yang kewalahan). Setelah menanti satu tahun setengah, akhirnya kabar gembira dari Tuhan turun dan menyempurnakan sukacita bulan Desember.

Bagiku ini lagi-lagi skenario manis dan jadi penghiburan luar biasa di tengah penantian pekerjaan. Sehari-hari bersama keluarga mini ini membuatku menjadi saksi bagaimana laki-laki dapat berubah jauh lebih lembut terhadap istrinya yang sedang hamil.

Aku akan menjadi seorang AUNTIE, dan aku harap akan menjadi sosok yang dapat dia banggakan, sama yang akan dilakukan anakku kelak. Sedari saat ini aku sudah meminta ijin pada ceceku untuk kelak sesekali mengajaknya berpetualang berdua. Entah dia laki-laki atau perempuan, aku ingin kami jadi partner kece untuk membicarakan banyak hal. Ah ternyata begini rasanya menanti kehadiran anggota baru di keluarga. Aku hanyalah calon tante bukan calon ibu, namun antusiasmeku sudah membawaku pada berbagai angan tentang apa saja yang akan aku buatkan dan belikan untuknya, apa yang akan aku ajari, dan kemana saja aku akan mengajaknya. Untuk kali ini, surat menjadi pembuka sambutanku.




"dear baby, your auntie love you. Masa enam minggu awal kau hadir, akulah yang ada di sisi mamamu. Ingatlah bocah, kalau awalnya ada kemustahilan tentang hadirmu. Ada air mata ketakutan kala suara vonis disuarakan. Tapi mamamu memang idolaku, dia gigih berdoa dan berusaha untuk dapat menikmati kehormatan menjadi seorang mama. Jadi cintailah dia dengan sepenuh hatimu. Ingatlah kisahmu sebelum kau lahir, maka kau akan tahu kemustahilan hanyalah cara Pencipta menguji ketulusan dan kegigihan. Terimakasih telah menjadi penyemangatku berjuang dan pengingat betapa manisnya kedaulatan Pencipta-mu, Pencipta kita.
aku mengasihimu, senantiasa mendoakanmu, dan penuh sukacita menantimu, ponakanku :')"