Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Minggu depan tepat 9 bulan saya menjadi pengangguran. Usia pas untuk seorang wanita hamil melahirkan. Di durasi ini banyak kisah tersimpan, saya berjanji membagi rinci kala semua terjelaskan benang merahnya. Sekarang adalah waktu tepat saya membagi seberkas kisah membosankan ini.
Keputusan resign dari pekerjaan yang super nyaman harus saya ambil, katakanlah ini bentuk kenekadan seorang pemudi tak tahu diri. Awalnya saya kira ini adalah strategi, terungkap kemudian ini wujud dari ingkar pada panggilan.

Di bulan-bulan awal saya menjadi pencari kerja, telinga disegarkan dengan kabar peluang untuk bergabung di sebuah lembaga nirlaba untuk menjadi tenaga pendidik di pedalaman. Panggilan ini merupakan titik terang sekaligus penghiburan besar yang tepat sesuai keinginan. "I make my dream come true" kalimat ini ingin segera saya tulis di segala sosial media. Saya menunggu jadwal wawancara dengan antusias sembari mempersiapkan segalanya, tanpa sibuk lagi membagi lamaran kerja. Antusiasme menanti kapan dapat mulai pergi ke wilayah Timur Indonesia untuk membagi ilmu. Seminggu.. dua minggu.. telepon lanjutan tak kunjung datang. Singkat cerita, entah saya dibohongi atau apa, hal itu kandas. Itulah momen terendah saya yang pertama selama menjadi jobseeker. Dalam hati saya menuduh Tuhan sedang mempermainkan saya.  Bagaimanapun sangat lebih baik jika panggilan itu tidak pernah datang, pikir saya dalam angan. Ini adalah kabar PHP alias Pemberi Harapan Palsu, tanpa kabar itu saya akan tetap giat mencari kerja tanpa terbuai ke langit ketujuh. Tanda tanya besar saya ajukan dengan nada marah.
Waktu berlalu dan saya sudah pulih dari kecewa. Fokus mempersiapkan tes CPNS adalah strategi saya di sekitar bulan November itu. Di tengah mempersiapkan diri untuk persaingan ketat menjadi abdi negara, saya lagi-lagi absen dari aktivitas menyebar lamaran. Singkat cerita, secara ajaib saya lolos hingga tahap akhir. Tahap demi tahap adalah proses saya semakin menginginkan ini. Setelah dua bulan menunggu –durasi yang cukup lama- rasa gelisah penantian tergantikan dengan air mata. Saya hanya ada di cadangan. Dibutuhkan lebih dari keajaiban untuk membuat saya benar-benar bisa bekerja disana. Tangisan saya di satu hari menjelang hari kasih sayang itu disponsori bukan hanya oleh kesedihan tapi juga amarah, mengapa harus dibawa sampai akhir jika akhirnya gagal? Waktu, dana, dan tenaga terlanjur dihabiskan disini dan berujung percuma.
Tak selang lama, panggilan dari satu tempat yang memang saya inginkan sejak saya lulus kuliah, datang. World Vision Indonesia persisnya. Ini adalah penghiburan luar biasa. Satu per satu tahap saya lewati. Hati saya bersemi, karena jika ini tempat yang Dia pilih, maka saya akan menjalaninya dengan bahagia. Kegagalan CPNS akan menjadi sepenuhnya masuk akal. Ternyata benar, saya dibawa hingga ke Tangerang. Di tengah berbagai polemik pergantian jadwal dari institusi tersebut, saya memperpanjang kesabaran. Selalu ada ruang cukup di hati bagi sesuatu yang sungguh kita ingini. Kesempatan ini benar-benar bisa memulihkan hati saya dari luka sekaligus membuat impian saya menjadi nyata. Berkunjung ke kantornya adalah momen saya makin jatuh cinta. Ora et labora saya terapkan maksimal di tahapan akhir konversi mimpi jadi nyata.
Sekembalinya ke Surabaya, sebuah email dari tim recruitment masuk ke inbox surel saya. Tanpa pikir panjang, dengan antusias saya membuka. Hanya berselang beberapa hari dari tes, hasil final telah keluar. Disana tertulis bahwa saya tidak dapat mengisi posisi tersebut. Saya baca ulang dan baca ulang, berharap ada kesalahan baca. Namun ternyata benar, satu lagi penolakan besar saya alami. Berbeda dengan kabar CPNS yang membuat saya langsung menumpahkan hujanan air mata dan menghampiri banyak kawan, kali itu saya hanya terdiam dan merahasiakannya. Saya duduk dan berdoa. Apa inti semua ini?
Di antara berbagai lamaran, hanya sedikit yang berlanjut pada panggilan. Di antara beberapa proses seleksi HANYA DUA yang sampai ke tahap akhir: CPNS dan WVI. Keduanya adalah point impian saya. Dua biji momentum membuat saya mencicipi kedua gedung tempat saya ingin berkarya namun tanpa kesimpulan bahwa mereka menerima. Merasa bodoh dan kacau. Doa usaha agaknya tak kurang-kurang saya haturkan. Kecewa jelas ada, setelah dibawa ke awan karena dua kerinduan dibimbing hingga tahap akhir, lalu dihempaskan ke dasar laut saat berujung pada penolakan. Sungguhkah seburuk itu saya? Tapi di sela itu diri hina ini meminta dengan sangat untuk rendah hati menyediakan ruang di pikiran untuk mengolah apa inti semua ini. Mungin dan hampir pasti ada sesuatu yang terlewat.



Bagaimanapun TUHAN ITU BAIK, hanya tidak boleh saya kotakkan kebaikanNya dengan apa yang nyaman versi saya. Dalam hening, saya memutar kembali perjalanan pencarian kerja ini. Sebuah proses yang normalnya dialami fresh usai lulus kuliah. Tepat setelah resign dari profesi guru, tawaran pertama yang hadir adalah menjadi guru namun di sekolah lain dan jenjang yang juga berbeda. Kesempatan ini tanpa melewati lamaran senormalnya, sebab sang kepala sekolah sendiri yang memberi tawaran. Saya menolak dengan santun saat itu, karena saya tahu rencana saya ke depan. CPNS, Berkarya di Pedalaman, dan Menulis. Hanya tiga itu. Kembali menjadi guru bukanlah opsi. Sore itu saya tergelitik, jangan-jangan apa yang paling saya ingkari merupakan petunjuk paling nyata. Ah tidak mungkin, saya buyarkan lamunan. Saya tidak ingin kembali menjadi guru. Tegas saya dalam logika.
Durasi perenungan itu berlanjut dengan mengakui bahwa menjadi guru di satu tahun saya sebelumnya merupakan pengalaman luar biasa. Seutas senyuman hadir. Ditengah penolakan saya terhadap pengulangan profesi ini, saya melihat diri sendiri sebagai pribadi yang sudah mengecilkan peran yang telah menghadirkan banyak hal indah dalam 16 bulan kehidupan saya.  Dicintai banyak murid dan dapat dianggap berjasa karena membagi ilmu. Saya rasa ini cukup keren. Rasa senang menjadi guru tertutupi rasa malu. Kembali menarik mundur, pikiran ini ternyata mulai mengusik sejak satu malam di Jogja kekasih saya mengatakan dengan jujur bahwa ayahnya menginginkan menantu dengan pekerjaan yang keren. "Oke, waktunya cari pekerjaan yang lebih kece" itulah kira-kira tekad dan kesimpulan seorang Claudya malam itu, demi dapat menjadi menantu idaman sang calon mertua. Akhirnya di paragraf ini air mata saya tumpah, bukan menyalahkan Riyan apalagi ayahnya, tapi murni menertawakan diri sendiri yang dengan mudah mengingkari kebahagiaan demi kepentingan orang lain. Dan makin miris kala tahu bahwa saya telah tidak taat pada Sang Pemilik saya hanya untuk menyenangkan manusia lainnya.
Paradigma bahwa menjadi guru bukanlah hal keren semakin tertanam saat melihat teman-teman sejurusan saya. BPJS, Kemenlu, MT Danone, berbagai Bank besar, dan sebagainya. Seketika saya malu, merasa kecil, dan terkesan gagal membanggakan. Di negara ini atau mungkin masih banyak negara lain, profesi guru bukanlah hal bergengsi, bukan begitu? Sampai suatu siang saya menghampiri sahabat saya yang bijak, Sinta, untuk menceritakan ini. Dan nasihatnya saat itu adalah: sawang sinawang. Semakin kita melihat dan membandingkan, maka tidak akan ada habisnya. Lebih baik fokus melakukan yang terbaik sesuai dengan apa yang diminati. Saya sepakat. 
Mungkin kesempatan CPNS dan MT WVI hingga tahap akhir tidak lain sebagai hadiah agar saya dapat mencicipi dua gedung bangunan tempat impian saya berkarya, dua kesempatan saya bertemu sahabat saya Sinta (karena saya selalu menginap disana) dan menambah kesempatan berkencan dengan pacar saya. Entahlah, benar atau tidak. Sang Pencipta selalu layak akan prasangka baik kita. Ini adalah kebetulan yang menyakitkan bagaimanapun. Saya terlampau yakin, Dia tidak pernah berniat jahat dan sekaligus percaya Dia tidak akan nyasar menempatkan anak-Nya. Jangan-jangan ini adalah caraNya mengingatkan ke saya yang keras kepala ini bahwa Keinginan dan Rencana akhirnya kalah dengan apa yang dinamakan PANGGILAN.
Dengan berusaha lembut saya mengoreksi diri, mungkin ini adalah konsekuensi ketidaktaatan saya dari awal. Perjalanan panjang menjadi jobseeker ini telah menumpaskan tabungan dari 16 bulan saya bekerja. Pahitnya, kebanyakan dialokasikan untuk pergi ke Ibu kota beberapa kali untuk DUA proses seleksi itu: CPNS dan WVI.
Sampai detik kala mengetik ini, saya masih berusaha membuktikan bahwa saya tidak harus kembali menjadi guru. Di tengah keberdosaan, saya masih ingin ingkar lalu ngotot sebenarnya ada ladang SELAIN PENDIDIKAN yang bisa saya garap. Kalaupun saya menyadari bahwa ini adalah ladang yang bisa membahagiakan hati, saya masih ketakutan dengan rasa malu dari para murid saya dahulu, rekan kerja, teman sejurusan, dan banyak orang lain. Mama dan cece, dua orang yang paling saya repoti justru tidak saya khawatirkan. Semata karena saya paham persis bahwa mereka akan selalu memberikan dukungan tanpa padam, apapun pekerjaan yang saya pilih nantinya. Ketakutan karena ketidakmampuan membanggakan justru tertuju pada orang tua Riyan. Jika saya menjadi guru, nantinya saya perlu usaha ekstra untuk menjadi (calon) menantu yang membanggakan. Pikiran ini mengganggu tidur lelap saya.
Sembari memikirkan tentang apa arti panggilan, memori saya memunculkan seorang alumni Persekutuan kampus yang pernah bercerita tentang hal senada. Masih ingat persis dia mengatakan bahwa kita tidak bisa mengelak dari sebenar-benarnya panggilan kita. Lewat belokan-belokan tajam sekalipun Dia bisa menarik kita kembali ke ladang yang Dia siapkan, enak atau tidak enak bagi kita. Saya tidak ragu dan justru mengagumi hal itu. Yang saya tidak terima adalah jika panggilan saya ternyata di bidang yang dianggap tidak keren dan tidak menghasilkan banyak pundi rupiah. Faktanya adalah, saat saya sering mengingatkan orang lain untuk taat, saya sendiri sulit melakukannya *tawa miris*
Setelah perenungan berakhir, saya berusaha menguji hipotesis bahwa saya memang dipanggil di dunia pendidikan. Tidak baik menjadi manusia yang hanya terus berpikir tanpa bertindak. Kata Kevin DeYoung, di bukunya Just Do Something, perlu tindakan untuk terus memperjelas apa kehendakNya dan bukan hanya duduk diam merenung. Saya belajar taat dengan melamar ke sekolah-sekolah. Setiap hasil yang keluar akan jadi petunjuk nyata untuk membuktikan kebenaran hipotesis awal. Pertama kalinya dalam 9 bulan, strategi saya mulus. Upaya saya memurnikan hipotesis menunjukkan titik terang. Empat dari enam sekolah yang saya lamar merespon dengan sangat baik. Bagi saya ini adalah tanda seru besar dari Pencipta. Saya sedang ada di H-1 memilih antara dua sekolah di Surabaya. Antara galau, malu, dan senang berpadu berbalutkan satu perasaan khas hasil ketaatan: damai sejahtera. Dimanapun itu, saya ingin menjalaninya dengan kemantaban hati karena saya tahu ini adalah kepercayaanNya. Saya ingin menjadi guru yang memiliki hati terpanggil sebuah pembeda besar dari seorang Miss Adiss yang dahulu.
Durasi panjang pontang-panting pergumulan ini bagaimanapun masih layak disyukuri. Masa jobless ini membuat saya memiliki banyak waktu untuk keluarga saya, bersama mama yang sendirian di rumah dan menjadi saksi kerempongan cece yang sedang hamil anak pertama. Pun membuat saya semakin sering punya waktu mendoakan satu per satu sahabat saya dan menanyakan kabar mereka. Masa ini juga membuat saya dapat banyak menulis, satu hobi yang kadang tak sempat saya lakukan kala sibuk bekerja. Walau tidak enak, tapi rentang waktu hampir 10 bulan ini bukanlah masa yang buruk. Masih terselip beberapa kabar baik, memenangkan lomba menulis kompas dan menjadi kontributor di sebuah antologi (yang semoga segera diterbitkan) adalah salah satunya.
 Ini bukan ending yang saya bayangkan, sejujurnya. Masih terselip perasaan malu kembali menjadi guru. Tapi jika kembali menjadi guru adalah sinonim dengan ketaatan, saya akan mengambil segala resikonya. Pandangan miring orang lain akan saya tampung dengan kerendahan hati. Dari awal memang ada andil ketidaktaatan dan kesombongan, wajar jika saya harus menelan berbagai pandangan miris.

Terlampau sering saya menerima kebaikan di atas segala kelayakan, waktunya saya memberikan ketaatan di atas segala kenyamanan.

SEMUA BAIK. Hikmah perjalanan ini akan membuat saya semakin mengenal Pencipta saya, mengenal siapa sebenarnya sahabat saya, dan mengenal diri saya sendiri. Dia masih sutradara yang punya skenario terbaik. Mengapa adegan ini terjadi dan mengapa adegan yang itu harus dihapus. Saya yakin sama seperti sangat-sangat banyak hal lain yang bisa membuat saya terkagum dengan cara-Nya berkerja yang Maha kreatif, suatu hari saya akan melihat masa ini dengan haru bahwa ternyata Dia memang selalu punya  rambu lalu lintas-Nya sendiri. Peta-Nya selalu jelas, hanya saja saya dan mungkin banyak manusia lainnya kadang berkacamata buram untuk membaca peta itu dengan baik. Atau sesekali Dia memang mengijinkan kita berpetualang di rimba, tak lain demi latihan ketahanan.

By the way, saya 'menikmati' masa ini dengan menghabiskan kitab Ayub, disana tersodor kisah yang luar biasa indah. Bukan karena ketabahannya, justru karena saya tahu bahwa seorang Ayub-pun pernah mencicipi masa mempertanyakan Pencipta dengan sedemikian.

Bersyukur dapat mencicipi secuil dari ujung kuku perenungan Ayub. Semoga akhirnya saya keluar sebagai seorang yang murni sama seperti dia, dan berujung pada kesimpulan: “aku tahu Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan TIDAK ADA rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2)


"Sayang idungku mancung ya"
Ah kata sapa. Gak mancung lah itu.
"Hmmm aku lagi PMS lho"
Ohiya sayang, mancung banget idungmu. Aku mah pesek, kalah jauh.

Tawapun pecah di sela-sela kegiatan facetime kami saat pagi dan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul rapi. Dengan alasan Premenstrual Syndrom (PMS), saya berhasil memenangkan percakapan. *devil smirk*

Satu bulan sekali, peristiwa peluruhan dinding rahim yang tidak dibuahi membawa efek tersendiri baik dari segi fisik ataupun psikologis. Pengaruh hormonal ini membuat perempuan sulit menjauh dari moody yang luar biasa, hal serupa terjadi pada saya. Rutinitas ini membuat Riyan menjadi jauh lebih waspada. Dia bahkan mengingat jadwal bulanan saya, alih-alih peduli sebenarnya hanya untuk menjaga diri kapan harus membanyak stok sabar. Masa sebulan sekali ini adalah masa PMS namun dengan kepanjangan yang berbeda: Pria Mengalah Sekali.




Seperti normalnya hubungan, perempuanlah yang harus menjadi pihak lebih lembut. Saya pun berusaha demikian. Riyan kerap memuji saya karena hampir selalu berhasil tetap kalem saat kemarahannya sudah memuncak. Bahkan pernah di tengah emosinya, tanpa banyak bicara saya mendekap dan mengelus dadanya, sambil berkata "sudah sayang, sudah" dia mengakui itu sangat menentramkan. Saya bukanlah orang yang pro bahwa perempuan adalah makhluk yang selalu ingin merasa benar. Perasaan tidak ingin disalahkan ada di laki-laki dan perempuan. Bagi saya justru sudah sewajarnya perempuan menjadi pihak yang mengalah, itu tidak lain karena naluri alami kelembutan kaum hawa.

Walau demikian ada beberapa hari dalam sebulan saya gantian yang menikmati kelembutan sekaligus kekocakan pria tersayang saya. Entahlah kenapa bagi saya pengaruh hormonal sebulan sekali ini benar-benar signifikan berdampak pada mood. Uring-uringan sangat terasa tanpa kuasa untuk melawan. Sejujurnya ini bukan sebagai alasan untuk manja dan ingin selalu benar, tapi kenyataannya ini alami secara biologis terjadi.

"Menurutmu aku manis banget pas makin lama pacaran ato justru di awal pacaran?" Tanya saya serius dengan berharap jawaban manis mesra.
"Kamu manis banget saat sebelum PMS dan setelah masa 'dapet' berakhir." Jawabnya lugas tanpa ragu.
Sayapun hanya tertawa melihat bagaimana pria saya ini begitu humorisnya menanggapi perkara sindrom pra-menstruasi. 

Masa 'Pria Mengalah Sekali' sedang saya nikmati hari-hari ini. Menyenangkan ada di hubungan di mana saya tahu tidak selamanya saya sebagai perempuan yang harus berlaku lembut dan sungguh bersyukur memiliki pria yang juga bisa menjadikan masa moody ini menjadi lebih ceria. Belum lagi senandung lembut suaranya setiap kali dilep menyerang malam sebelum tidur.

Teman saya pernah berucap kesan bahwa saya dan Riyan seperti air dan air, sama-sama lunak dan mudah mengalah. Lagi-lagi ini tentang penyesuaian diri. Sebuah adaptasi penuh kasih. Sebuah rahasia sederhana hubungan yang menyenangkan. Sebuah alasan tetap happy saat punggung terasa nyeri sekali :')


Manusia kadang kelewat bodoh dan sering ceroboh.
Tidak tahu apa yang terbaik teruntuk diri sendiri.
Justru kadang sibuk menasihati.
Kuping diberisikkan dengan pendapat sana sini.
Saat kata 'tidak' mampir di serambi,
Seketika merengek marah menempelkan wajah ke bumi
Pun kurang cukup bersabar menanti sebenar-benarnya pelangi.
Tak cukup panjang daya juang untuk tetap berlari.
Terpojok, kering, lalu mati.



MAINSTREAM-isme
(:noun) paham yang menempatkan rata-rata pilihan kebanyakan sebagai pertimbangan.

Penambahan imbuhan 'isme' adalah keisengan saya, tanpa maksud apa-apa selain agar terdengar lebih keren. Harus diakui kata 'mainstream' ataupun sang antonim yang berimbuhan 'anti' di depannya adalah kosa kata populer saat ini. Apakah memang menjadi 'berbeda' sekarang merupakan toplist pekerjaan favorit generasi kita? Sepertinya begitu. Menjadi lain dari yang kebanyakan, kuda laut punya cara sendiri untuk itu. Bayi kuda laut dilahirkan tidak dari betina. Emansipasi yang kerap diteriakkan kaum hawa juga secara kodrati disuarakan oleh spesies ini. Tugas melahirkan justru diemban apik oleh sang jantan. Satu dari jutaan keunikan alam.

Menjadi berbeda dari yang kebanyakan terkesan lebih seksi.  Misalnya adalah passion to travel -Wanderlust- demikian julukannya. Bekerja di kantoran dianggap terlalu boring dan menetap di satu tempat tanpa travelling dianggap usang, agaknya itu yang disuarakan banyak kaum muda belakangan ini. Di instagram akan begitu mudah menemukan akun yang menampilkan rangkaian perjalanan di surga-surga dunia semudah menemukan apa arti rumus phytagoras di mesin pencarian google.


Memang merasa bangga jika menjadi berbeda itu hal naluriah bagi kita manusia. Namun bagaimana dengan kisah sang kuda laut tadi? Saya tergelitik rasa penasaran akan apa yang dipikirkan oleh spesies lain dalam koridor laut yang sama. "Macho kok bunting" apakah ejekan semacam itu kerap didengarnya? Entahlah. Saya bukan seorang psikolog -baik manusia apalagi hewan.
Di tengah keunikannya, saya yakin pasti kuda laut tidak pernah merepotkan diri dengan melihat apa yang mayoritas terjadi. Jika memang dia punya cukup waktu dan energi mengamati penduduk lautan, mungkin dia akan tergoda akan salah satu dari dua hal ini: angkuh karena terlalu berbeda atau minder (juga) karena terlalu berbeda.

Alam yang menakjubkan ini menyiratkan sebuah pesan yang kaya. Kuda laut hanya salah satunya. Masih banyak yang lain, misalnya kolibri, satu-satunya burung yang dapat terbang mundur. Atau kaum nokturnal yang melakukan terobosan pada pembagian waktu antara aktivitas dan istirahat. Paus, sang pesenandung di lautan. Semua di alam ini adalah sebuah ke-khas-an. Menjadi berbeda adalah hal paling mainstream di muka bumi.

Paulo Coelho, lagi-lagi saya harus mengutip darinya, pernah berkata: "pohon tidak pernah berusaha menjadi berbeda, dia hanya berusaha tumbuh dan menjadi dirinya sebaik mungkin. Sungai pun tak berusaha menjadi berguna, dia hanya berusaha tetap mengalir. Dia berusaha menjadi sungai. Lalu darinya, banyak makhluk dapat dihidupi."

Kutipan sederhana dari peraih nobel dunia literatur tersebut mengusir virus mainstreamisme dengan lantang. Perbedaan dasar sebenarnya adalah: "melihat siapa?" Saat berusaha menjadi berbeda sesungguhnya kita sedang melihat ke orang lain. Kita melihat apa yang berlaku kebanyakan, entah akan mengikuti atau justru melawan arus nantinya. Pesan yang diajarkan alam justru jauh lebih sederhana: lihatlah ke dirimu sendiri. Entah hanya belasan atau jutaan orang yang memiliki kesamaan pekerjaan atau hobi, itu tidak terlalu penting. Bagaimana kamu mengupayakan pekerjaan dan hobi, itu jauh lebih penting. Inilah pesan kedua. Saat mainstreamisme mengajak kita menghitung kuantitas, alam mengajarkan lagi-lagi yang lebih sederhana: tetaplah bertahan dan lakukan yang terbaik! Alam mengajarkan tentang kualitas!

Si jantan hippocampus tidak pernah berusaha menjadi anti-mainstream dengan hak untuk melahirkan. Dia hanya berusaha menjadi kuda laut. Kolibri pun demikian, dia tak merepotkan diri untuk lebih dulu melakukan survey terhadap kemampuan terbang kawan-kawan berbulu lainnya. Dia hanya berusaha menjadi kolibri yang tetap terbang.

Bagi sungai, yang terbaik adalah tetap basah dan mengalir. Idaman bagi sang pohon adalah tetap bertumbuh dan berbuah. Tapi untuk manusia? siapa yang dapat mendefinisikannya? no one but ourselves :)

But who can say what’s best? That’s why you need to grab whatever chance of happiness you have, and not worry about other people too much. -Haruki Murakami

Berbahagialah ia yang terlalu lelah memikirkan hari esok. Lelap nyenyak menjadi miliknya. Esok masih saja ditemani kabut. Biarkan aku bersandar sejenak. Saat ini harus aku maknai juga :)

Satu paragraf singkat diatas bukan gubahan seorang Claudya, Di tengah menunggu sebuah antrian, tersodor sebuah majalah lokal perusahaan dan saya tergelitik untuk menguak apa yang ada di dalamnya. Durasi dihabiskan lebih banyak di halaman paragraf tersebut terpatri. Saya membaca ulang bagian "terlalu lelah memikirkan hari esok." Sontak saya bertanya apakah salah memikirkan hari esok? Bukankah itu hal yang wajar? Tidak ada seorangpun yang membantu saya menemukan jawabannya. Karena kadang jawaban memang harus dibuat dan tak sekedar dinanti, maka saya membuat jawaban versi saya sendiri hari ini:

Tidak ada yang salah dengan merencanakan masa depan. Tentang apa, kemana, berapa, dan kapan. Saya dan Anda memiliki angan akan masing-masingnya. Menginginkan apa, hendak pergi kemana, ingin berpenghasilan berapa, dan menikah kapan, Semua ada dalam baris pikiran yang terkonversi dalam tiga hal: rencana, upaya, dan doa. Ketiga ini adalah cara ampuh menjawab pertanyaan bagaimana kita mewujudkan itu semua. Sayangnya kadang kita lupa menarik nafas dan memberi koma pada perjuangan untuk menjawab pertanyaan mengapa kita memikirkan itu?

Ingin bahagia, banyak yang menjawab demikian mungkin. Perencanaan yang rinci dipuji sebagai sebuah rasa mawas akan masa depan sehingga dapat menciptakan kehidupan yang nyaman. Memastikan apa yang masih ada dalam kendali dan menekan kemungkinan kecerobohan. Manusia ahli dalam hal itu. Sayangnya dengan jawaban tersebut, kita lupa bahwa bahagia merupakan state of mind atau pengkondisian pikiran, itu adalah keputusan, yang bagi sebagian orang dinganggap sebagai tujuan.

"Jika sudah memiliki ini, sudah pergi kesana kemari, dan setiap bulan sudah mengantongi puluhan juta gaji, baru saya akan bahagia." Kita memberi syarat atas perasaan dan suasana kehidupan yang sebenarnya dapat kita rasakan kapanpun kita mau. Kabar baiknya adalah bahagia dapat dimulai hari ini. Menurut saya yang selalu sok tahu ini, banyak orang yang tidak mampu menikmati "sekarang" karena mereka merasa kebahagiaan ada nan jauh disana. Kebahagiaan ada di masa depan, sehingga membuat mereka terlalu sibuk memikirkan tentang apa yang masih bersemat kata "akan."

Bagi kita dan mereka yang sudah bahagia hari ini, rencana adalah wujud syukur yang menjauhkan kita dari takabur. Kita tidak takabur atau terlalu sombong menilai bahwa kehidupan akan selalu mudah, karena itu kita membuat rencana. Kita SUDAH bahagia hari ini, bukan karena hidup kita serba ideal namun karena kita memilih demikian. Kita sudah bahagia, kita tidak kesulitan untuk menikmati apa yang dinamakan: HARI INI.

Kepastian bukan penghuni hari esok, pun kebahagiaan. 
Mereka berdua adalah tamu hari ini. (cte)








No explanation needed.
"Never use stereotypes, both in real life and your writing."

karena yang kurus tidak selalu diet
dan dokter tidak harus bertulisan tangan jelek
laki-laki tidak haram menyukai pink
dan orang kaya tidak selalu naik mobil mewah
:)

kadang saat kamu sudah benar-benar lelah, Tuhan merayu dengan mengabulkan harapan yang hanya kamu bisikan atau menyelipkan semangat lewat pujian sekitar :)



Seharusnya tulisan tentang ini sudah terpampang disini sebelum tahun berganti. Ketika sepi kabar baik, dua hidangan penutup tahun 2014 adalah kabar saya memenangkan lomba menulis cerita travelling inspiratif dari Kompas dan kabar menjadi kontributor Love Journey. Dimulai dari meneliti jejak karir senior jurusan saya, Mas Lalu Abdul Fatah yang memang serius berkecimpung dalam dunia menulis, sayapun tergoda melakukan strategi yang tidak jauh berbeda (walaupun sepertinya dalam kadar yang masih terlampau tak sama). Bermula dari kesetiaan mengikuti lomba-lomba lalu menjadi kontributor, menerbitkan buku sendiri, lalu berkarir di dunia literatur. Terbersit keinginan serupa untuk menerbitkan buku. Itu pendeknya. Sama seperti pegiat mimpi lain -tidak bisa disangkal- ada kalanya memang kita merasa impian kita terlalu muluk dan ada saatnya kita bahkan mempertanyakan bijaksanakah pilihan untuk ngotot terhadap satu intuisi. Di tengah saya mengalami itu, Tuhan yang Maha Asik memperlihatkan restuNya lewat satu prestasi kecil ini. Dia selalu layak terhadap prasangka baik kita.

Soal antologi, sebenarnya ini yang kedua. Tulisan pertama saya yang terabadikan dalam buku adalah lewat buku Share His Glory, yang diterbitkan oleh Gereja. Walaupun memang berlabel "untuk kalangan sendiri" tapi setidaknya saya tahu ada beberapa orang yang tidak saya kenal yang sudah membaca kisah saya dan berharap mereka terberkati olehnya.




Keinginan saya tiba-tiba bertutur tentang ini disponsori rasa bahagia yang memuncak satu pekan penuh yang lalu. Tautan menuju salah satu tulisan saya berkeliaran di sosial media dan memancing ratusan pengunjung di blog usang ini. BEYOND EXPECTATION. Berbagai kawan bahkan menghampiri dengan genggaman apresiasi. Sungguh itu bermakna besar, belum pula kenyataan melihat ucapan terimakasih karena tulisan saya tersebut telah menyadarkan sesuatu. Sepertinya itulah keindahan membagi tulisan. Sebuah hobi yang hampir saya kubur mati. Satu teman bahkan datang dan dengan tulus berkata "terima kasih karena sudah menulis ya dis." Bagi saya, baik prestasi menulis ataupun apresiasi pembaca adalah cara Pencipta merayu saya untuk tetap menari dalam kata.

Entah kapan dan entah apa bisa saya merealisasikan mimpi menerbitkan buku, masih tanda tanya. Pencipta hanya merayu dengan tanda seru: " tetaplah menulis!"




Ada sebuah kisah, tentang seorang nabi bernama Elia.
Setelah melakukan banyak perkara, dia diperhadapkan pada ancaman bahaya.
Seorang bernama izebel menggertak menghabisi nyawa.
Walau nabi, dia hanya manusia.
Rasa takutpun melanda.
Dia memilih menjauh dari realita.

Murung menyendiri, lalu malaikat Tuhan menghampiri.
Disedikan roti bakar dan air sekendi.
Tapi di dalam hati, Elia tidak mengerti.
Satu yang dia mau adalah Izebel mati, agar cemas di hidupnya bisa pergi.


((blogpost ini dikembangkan menjadi artikel renungan, dapat di baca di https://ignitegki.com/article/111-kisah-roti-bakar-dan-sekendi-air-sebagai-pengingat-kebaikan-tuhan)

Namun Pencipta memang tak terduga. Izebel mati tak di jaman Elia.
Walau mampu, tapi Allah menunda kematian sang sumber bahaya.
Elia hanya diperintah, untuk tetap melangkah.

Di sela itu semua, Elia berharap disapa oleh Allah.
Lewat hal luar biasa seperti badai dan gempa.
Namun tak dia dapati sapaan Pencipta.
Justru di angin sepoi, kelembutanNya nyata

Ribuan Tahun berikutnya, seorang Claudya mengalami yang serupa walau tak persis sama
Menanti jawaban doa dalam waktu yang lama.
Dari yakin, berubah marah. Dari Khawatir hingga mati rasa.
Bagaimanapun, kisah Elia mengingatkan pesan berharga:

"kebaikan Tuhan bukan hanya tentang solusi atas masalah,
tapi juga tentang rangkaian pemeliharaan selagi menunggu solusi itu tiba."





Just like the picture said: no relationship is easy. It needs hard work indeed. This story is about how imperfect person like me and almost perfect person like Riyan keep stay. We stayed.


Rahasia 1: kasih dan kesepakatan
Riyan: "kita ini sebelum jadian bilang saling suka karakter masing-masing. Setelah jadian, baru terungkap semua. Yang bikin bertahan cuma sayang dan niat"
Dimulai dari kasih lalu dilanjutkan dengan niat. Rahasia sembilan bulan kami, sesederhana itu.

Kata Morrie di tulisan Mitch Albom, pernikahan akan mengalami banyak masalah jika tidak sepakat pada serangkaian nilai penting yang sama. Begitu pula pacaran, dua manusia perlu menyepakati hal-hal penting dalam hubungan. Misalkan tentang kejujuran, tentang prioritas pembagian waktu, tentang attitude saat berdebat (tidak kasar, tidak menutup telpon, dll) juga banyak hal lain. Kita tidak sedang mencari partner yang sempurna, justru sedang mengusahakan kesepakatan sepanjang usia dengan sesama manusia yang lemah.
"Lalu pertanyaannya, apa nilai yang paling penting?" tanya Mitch Albom
"Nilai tentang berharganya hubungan kalian" Jawab Morrie sang bijak.
Percuma ada cinta menggebu jika hanya satu orang yang menilai berharga sebuah hubungan. Ini mutlak: DIBUTUHKAN DUA ORANG yang sama-sama meyakini harga relasi kasih yang mereka miliki.


Rahasia 2: Kerja keras
Ketika aku dan Riyan memulai hubungan ini, bahkan setelah proses saling mengenal yang tergolong lama, kamipun masih dikejutkan dengan berbagai karakter satu sama lain. Riyan harus terkaget dengan ke-moody-an ku dan akupun harus terbebelalak dengan sisi koleris Riyan yang dominan. Satu dan disusul berbagai kejutan lainnya selama sembilan bulan hubungan ini. Pengenalan ini tak akan berakhir walaupun kami berdua sudah beranak-pinak memenuhi bumi.

Di sela satu per satu karakter yang terungkap, sepasang kekasih akan diperhadapkan pada beberapa kekaguman bernada "astaga I found my other half" yaitu melihat berbagai perbedaan yang saling melengkapi. Tapi potensi ketidakcocokan juga muncul. Ketidakdewasaan akan berkata bahwa itu alasan berpisah, tapi kasih yang menuju pernikahan kudus paham bahwa perasaan cocok adalah alasan bertahan dan ketidakcocokan adalah ruang untuk berproses. Lagi-lagi, Sesederhana itu.

Kerja keras pertama dalam hubungan adalah mindset atau hikmat yang memastikan bahwa 'The One' is could be from anyone. But the "Real One" is someone who makes you said "yes". Tanpa mindset ini, silahkan keluar masuk hubungan mencari kesempurnaan yang PASTI melelahkan. Saat Riyan menembakku dengan peluru berwujud buku pop-art yang sangat indah, dia tidak menuliskan disana untuk aku menjadi pacarnya. Dia justru memintaku menjadi partner mengucap janji setia di altar gereja dan menghabiskan waktu bersama anak-anak di sebuah rumah. Dia dan aku tidak sedang mencoba-coba "apakah kami cocok?" percobaan itu sudah berjalan satu tahun empat bulan sebelum malam penuh grogi dia memintaku menjadi kekasih.

Rahasia 3: Kerja keras
Di antara tumpukan kagum atau sinis orang sekitar, kami bertahan. Pertahanan ini bukan tanpa sayatan. Entah berapa kali maaf harus saling termohonkan. Usia penuh ego tak bisa diingkari membuat perdebatan makin runyam. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu cemburu.
"Manusia menajamkan manusia"
Kerap aku mengingatkan ini baik ke Riyan atau diri sendiri ketika kami mulai geram dengan rasa sakit baik akibat kesalahan atau teguran. Persis malam ini saat aku memimpin kami berdua berdoa, terucap kalimat:
"Tuhan,
berikan kami kelembutan saat meresponi kesalahan.
Kerendahan hati untuk mengakui salah.
Kebesaran hati untuk mengampuni"

Ketika dua orang bersama, pasti mereka akan saling menyakiti. Sengaja ataupun tidak. Karena itulah, kerja keras kedua adalah: sikap terhadap kesalahan.
Suatu malam setelah bertengkar parah dan Riyan merasa sangat lelah, aku bertanya "Riyan masih punya stok maaf buat adiss?" lalu dia dengan nada belum sepenuhnya pulih ceria menjawab: "iya tinggal sedikit"
Dari situ aku menyadari, stok maaf yang berharga itu terus berkurang seiring kesalahan. Tapi bagi mereka yang sungguh saling mengasihi dan berniat seumur hidup bersama, stok itu tidak boleh dan tidak akan pernah habis. Selalu ada keceriaan baru yang membuat stok itu secara otomatis nan ajaib bertambah. Akan ada memori indah yang memampukan seseorang berinisiatif menambah lagi tumpukan pengampunan tersebut. dan tenang, Sang Sumber Stok Maaf itu selalu bermurah pada kita.

Hampir aku beranjak ke point selanjutnya lalu melupakan kenyataan pahit dalam hubungan: Memaafkan yang mengaku salah, itu mudah. Memaafkan yang tidak mengaku salah, itu sulit. Meminta maaf saat salah, itu juga sulit. Tapi meminta maaf ketika merasa tidak salah, itu paling sulit.

Aku tahu, Riyan begitu berjuang di tengah kolerisnya tentang hal ini. Baik meminta maaf ataupun memaafkan. Kadang dia gagal, tapi dia juga pernah berhasil, dan saat itu dia bertransformasi menjadi seseorang yang tidak ingin aku lepaskan hingga uban menjadi kebanggaan. Aku mengaguminya.
Tidak ada kelembutan Riyan dalam hal ini yang membuatku ingin manja mengulangi salah dan memperalatnya. Entah bagaimana kelembutanku di mata Riyan. Satu yang aku tahu, tidak pernah ada kelembutan yang menodai harga diri. Kelembutan pria justru menjadi alasan wanita belajar penundukan dan Kelembutan wanita, adalah alasan seorang pria tetap setia.

Rahasia 4: Kerja keras (peringatan: saya akan menulis banyak disini)
Setiap kali kami membatalkan niat menyerah, satu kalimat yang selalu muncul di otakku adalah: masih ada dua orang yang mau berjuang.

Perjuangan kami bukan hanya tentang berusaha saling bertemu di tengah jarak yang memisah. Lebih jauh dari itu, rutinitas harian kami adalah wujud perjuangan yang nyata. Kadang berupa kreatifitas membuat pasangan senang. Seperti yang kerap aku lakukan, mengirimi Riyan gambar di sela waktu kerjanya, memanfaatkan spontanitas khas sanguin untuk menceriakannya dengan gombalan dan kejutan dengan barang hadiah. Kadang kerja keras juga ditunjukan dengan konsistensi tingkat tinggi ala Riyan. Menelpon minimal satu jam setiap malam, menyapa pagi, dan menyempatkan saling menggoda di jam makan siang. Serta kesiapsiagaan Riyan menawarkan tangan bantuan, itu juga adalah bahasa kasih luar biasa.

Perjuangan juga terwujud dalam kerelaan membatasi kedekatan dengan kawan lawan jenis. Dia hampir tidak pernah membuatku cemburu apalagi curiga. Sayangnya, Riyan harus merelakan hatinya beberapa kali kecewa. Ini adalah satu bab lagi pelajaran ketat yang sudah berhasil kami lalui.

Jadi, kerja keras selanjutnya dapat diringkas dengan: bahasa kasih. Banyak pasangan saling cinta, tapi juga tak sedikit yang kandas karena gagal membahasakan kasih mereka dengan anggapan pasangan telah tahu itu. Ingatlah, kita tidak berpacaran dengan cenayang. Tak masalah bagaimana cara membahasakannya, yang masalah adalah ketika kasih tidak dibahasakan samasekali

Romantisme itu perlu! Tapi bahasa romantis setiap orang juga berbeda. Coba bandingkan antara mbak Angel-mas Adi dan Bintang-Bastian. Completely different style to express love. Soal kreatifitas dia kalah dariku. Begitu sebaliknya, soal ketekunan akupun kalah jauh darinya. Dalam batin aku mengagumi romantisme tingkat tinggi seorang laki-laki yang dilakukan Riyan dengan cakap, yaitu dengan serius memikirkan masa depan. Tentang rumah, kendaraan, jumlah anak, bahkan hewan peliharaan tak sungkan dia diskusikan denganku.

Bahasa kasih, lagi-lagi aku harus katakan, kami memang berbeda dan puji Tuhan, kami telah banyak sekali mengalami kemajuan soal ini. Ah sungguh bukan hal yang mudah awalnya. Aku menuntut dia berbicara bahasa kasih sepertiku, dan dia mengakui dengan gemas berbalut rendah hati bahwa itu terlalu berat baginya. Sampailah aku di satu titik dimana aku menyerah menyetir bahasa kasihnya. Terlalu sulit mengharapkan spontanitas dari seorang koleris sesulit mengharapkan stabilitas dari seorang sanguin. Malam ini, aku dapat tersenyum bangga mengingat betapa kami telah belajar.

Usai pergumulan panjaaaaang soal ini,  aku mendapati satu fakta di satu tengah malam aku terjaga: "jangan mencari perasaan adil. Tapi usahakanlah kasih yang terus memberi" Ketika kita mencari keadilan, kebanyakan kita akan tidak terpuaskan. Antara sombong merasa telah melakukan lebih banyak atau insecured karena melakukan lebih sedikit. Jadi, lebih baik fokuskan pikiran pada "apa yang bisa aku lakukan untuk kekasihku ini?"

Rahasia 5: Kerja keras.
Hampir selalu setiap selesai berdebat aku menuliskan sesuatu di kumpulan note kami. Disana tertumpuk kesimpulan dari setiap masalah, agar kami tak mengulangi kesalahan yang sama atau sekedar mencatat apa yang pasangan kami inginkan. Mulai belakangan ini aku juga memutuskan dan mengajak Riyan untuk berdoa bersama setiap kali kami selesai bertengkar.

Ini rahasia hampir terakhir: komunikasi dan resolusi. Bukan karena ada di urutan belakang, maka ini kurang penting. Nyatanya ini adalah salah satu yang paling esensial: komunikasi vertikal dan horizontal + resolusi vertikal dan horizontal. Pada Tuhan dan pada pasangan. Mengundang campur tangan Tuhan, bukan hanya teori dan iming-iming kemudahan. Bergantung padaNya dalam mengasihi orang lain mutlak dibutuhkan. Belum pernah lepas dari ingatan ketika aku memohon dengan sangat "Tuhan berikan kami kasih mesra" lalu Tuhan secara begitu ajaib memampukan kami mewujudkan kemesraan luar biasa. Juga bagaimana di satu hari kami mendengar khotbah tema yang PERSIS sama di dua jenis gereja di dua kota yang berlainan dari dua tokoh Alkitab yang berbeda. Dua manusia saling jatuh cinta lalu saling berusaha, tapi ada Tangan Tak Terlihat yang senantiasa menjaga dan memelihara di tengah kecerobohan dan keterbatasan.

Komunikasi tidak cukup jika tidak dibarengi dengan rumusan komitmen ke depan. Pun resolusi juga tidak terwujud tanpa komunikasi. Riyan sangat baik dalam menjaga komunikasi, dan keterampilanku bekerja saat menyusun resolusi. Kami berbeda namun saling melengkapi disini.

Rahasia terakhir: Pengharapan dan Ucapan syukur.
Mengucap syukurlah senantiasa dan tetaplah percaya, kata Paulus. Perjuangan menuju pernikahan sangat berat, tapi pengharapan akan keindahan sebuah pernikahan juga menjadi alasan bertahan di setiap pahit manis perjalanan. Kita bekerja keras seumur hidup, kita tangguh bertahan terhadap apa yang kita anggap baik di depan. Itu adalah hal baik jika kita boleh berjerih lelah untuk sesuatu, karena itu tanda kita masih manusia, sebab tak ada perjuangan di dunia orang mati,  ucap sang Bijak Pengkhotbah.
Seperti syukur karena diberikan kesempatan kuliah dan pengharapan akan gelar sarjana akan menjadikan semangat berjuang menyelesaikan skripsi. Begitu pula dengan relasi sejoli manusia.
"beyond blessed and proud to call you mine, Riyan Yonathan" inilah kalimat pembukaku saat kami berdua jadian. Perasaan bangga dan terberkati itu masih sama seperti hari ini, dan menjadi penyemangat aku melakukan segala kerja keras. Aku bersyukur atas yang aku miliki. Aku merasa cukup. Aku (dimampukan) untuk percaya bahwa apa yang akan kami miliki ke depan sungguh indah. Aku sebagai wanita berhenti menanti yang lain dan Riyan sebagai laki-laki berhenti mencari yang lain. Kami bertahan, bukan karena pasangan kami sempurna, bukan karena hubungan ini selalu nyaman, tapi karena kasih, pengharapan, dan pastinya ucapan syukur yang memampukan kami bekerja keras.

Sekian.

Ini rahasia kami, setiap pasangan memiliki rahasianya sendiri. Di antara itu semua masih terlalu banyak wujud kerja keras yang harus diusahakan. Yang jelas kasih adalah investasi besar, kami belajar menumbuhkannya dengan kerja keras.

Sebagai penutup, aku sisipkan to do list kami :) 

1. Berdoa bersama dan terus saling mengasihi
2. Setia melakukan hal-hal sederhana untuk pasangan
3. Bertanya jika ingin tahu
4. Berkata "tidak" dengan hormat, jika tidak sepakat
5. Memuji dengan tulus
6. Menegur dengan rendah hati
7. Meminta maaf dan mengampuni
8. Mendengar tanpa menghakimi
9. Bercerita dengan apa adanya

Sungguh kami tidak sempurna melakukan ini semua. Kami hanya berusaha menjadi dua kawan baik yang saling bekerjasama. Menjadi partner yang saling mendukung di suka duka. Baik air mata tawa, air mata pergumulan, dan air mata luka, sudah mengairi baris doa kami. Di ribuan hari bersama ke depan (jika Tuhan menghendaki) akan muncul masalah baru dan tantangan baru, tapi juga akan ada kekuatan baru!
kami tidak pernah sendirian berjuang, itulah rahasia terbesar.
Sebelum beranjak ke rumah sakit sebagai rutinitas seminggu ini untuk membawakan mama apapun yang dia perlu, saya tertahan sejenak di depan layar TV. Bukan karena film seru seperti alasan saya biasanya, pagi ini karena lagu "cintaku" yang didendangkan tiga musisi yang wajahnya tidak familiar samasekali. Ternyata, tiga laki-lagi dengan dua gitar dan satu kajoon itu adalah para musisi jalanan. Sontak membawa saya pada ingatan bagaimana para pengamen menjadi bagian yang menyenangkan di seperempat usia saya yang bisa dikatakan "banyak di jalanan." Bukan sebagai pengamen seperti bahasan disini tapi sebagai perantau.

source : herdiansyahnotion.files.wordpress.com

Tiba-tiba kekaguman memenuhi pikiran saya selagi liputan tentang IMJ (Institut Musik Jalanan) ditampilkan. Mungkin hal ini berangkat dari sentimen pengalaman pribadi. 

Rasa dekat dengan para musisi jalanan jika ditelusur telah dimulai sejak saya SMP, dengan mencoba dua kali menyanyi diatas bus dan satu kali di perumahan bersama para kawan memenuhi rasa penasaran. Saat SMA, selama dua tahun, hampir setiap hari menjalani setidaknya 30 menit perjalanan bus antar kota yang kerap diwarnai melodi merdu kadang sumbang dari para pengamen. Koin atau uang kertas selalu saya sediakan khusus, wujud apresiasi atas musikalitas penghibur itu, menjadi awal keakraban saya dengan mereka. Sesekali mengobrol, sembari menunggu bus penuh. Suara merdu menggairahkan jalanan yang berdebu ditambah peringatan tulus untuk terhindar dari kejahatan. Menjadi teman mereka, adalah salah satu pengalaman berharga selama masa SMA yang sejauh ingatan mengenang dominan diisi dengan target angka pelajaran. Suatu kali seorang mabuk di kala bus sepi mencoba bermaksud tak baik pada saya, seketika mas pengamen kenalan dengan topi dekil dan celana jeans penuh sobekan naik masuk ke bus dan menggagalkan tindakan buruk sang pemabuk itu.

Kenyataannya, jalan raya dan kantor mewah itu sama, ada orang baik ada orang jahat di dalamnya. Sama-sama ada pengais rejeki, kadang halal kadang haram. Keduanya juga selalu menawarkan pelajaran dan pastinya menuntut kita seimbang antara ramah dan waspada.

Sayangnya masih banyak orang yang penuh dengan curiga atau bahkan kesombongan untuk menahan keramahan bagi kaum pengais rejeki jalanan.

Kembali ke IMJ, kekaguman tulus saya haturkan bagi para foundernya. Saya tak punya alasan untuk tak sepakat dengan penjelasan salah satu founder IMJ yang diundang di acara Indonesia Morning Show itu:
"karena beberapa perda pelarangan bukan hanya membatasi ruang berekspresi, tapi juga tanpa disadari melahirkan bibit kriminal baru."
Sepenuhnya sepakat! Lebih dari setuju!
Laranglah pengemis, tapi jangan pengamen! Mereka adalah penebar karya. Jalanan adalah panggung mereka. Jika pemerintah belum dapat memfasilitasi, maka jangan menjarah ruang ekspresi. Jika pemerintah tak punya cukup waktu memperhatikan, setidaknya jangan beri label haram pada kreatifitas jalanan.

Mereka dengan berbagai keterbatasan telah menelurkan satu album dengan cover gambar tematik hitam putih diisi dengan 10 dendangan gubahan para pengamen berbagai sudut di ibukota. Judul album perdana seharga Rp. 20.000,- ini memuat pesan "kalahkan hari ini."
Mereka membawa penegasan, to live our daily life till the fullest. Mengalahkan hari lepas hari, baik jalanan dan perkantoran (sekali lagi saya katakan) sama-sama keras, kalahkan itu!

Sekali lagi, selamat IMJ! Pagi ini dengan kehadiran beberapa dari kalian di IMS membuat saya memutar memori dan mengingatkan kegigihan passion yang tak mengecewakan! Musik kalian boleh berdebu, tapi biarlah ketulusan tetap menggebu!