Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Pagi itu saya buka dengan otak yang berpikir keras hampir semalaman. Menimbang dan memperkirakan banyak hal. Niat saya untuk terjun di kegiatan yang digagas Kemenko Kemaritiman ini masih saja belum utuh,  walau sudah jelas saya diperhitungkan sebagai peserta disana. Muncul di permukaan sedikit keraguan, mengingat kondisi fisik yang sempat drop akibat asam lambung yang melunjak. Hanya beralaskan rasa penasaran dan bernaungkan keberanian, kesempatan mengikuti ekspedisi ini akhirnya saya sambut hangat. Alasan kuat lain yang mendorong saya adalah fakta bahwa saya akan segera kembali menjadi guru per 1 Juli, saya HARUS datang pada para siswa dengan oleh-oleh cerita yang nyata tentang Indonesia. Optimisme dan sedikit kedisiplinan mengatur jam makan semoga cukup untuk menjauhkan saya dari nyeri lambung yang sungguh menyiksa.

Tanjung perak adalah titik saya bertemu dengan berbagai kawan dari segala penjuru tempat. Untuk sebagian orang, mendapatkan teman baru sama berharganya dengan mendapati rekening terisi baris angka panjang. Saling berkenalan, adalah kegiatan pertama kami sembari menanti kepastian jam tentang kapal yang akan menjadi sarana bagi 37 orang mewujudkan kerinduan untuk mengabdi.

Seperti saya singgung di tulisan sebelumnya, sedikit sentuhan keajaiban surga membuat saya dapat mengikuti sebuah kegiatan yang menjadi manifestasi pemenuhan mimpi saya: berlayar dan mengabdi. Nama kegiatannya adalah Ekspedisi Nusantara Jaya, yang berlandaskan misi menjangkau daerah terluar Indonesia, terkhusus pulau-pulau kecilnya. Ada banyak hal yang terjadi di luar ekspektasi, maklum kegiatan ini memang perdana dilaksanakan pun oleh kemeknnterian yang masih tergolong balita. Hingga satu titik saya dan para kawan lainnya sadar bahwa kami bukan sekedar 'peserta' disini namun merupakan kumpulan orang bersemat sebutan 'relawan'. "Relawan ya harus rela," begitu celetuk seorang bersahaja bernama Vita yang kebetulan juga sekelompok dengan saya. Kerelaan itu tentang kesabaran akan jadwal kapal perintis yang serba tak jelas juga tentang janji-janji soal fasilitas. Akibat serba tak pasti, peserta menyurut dari 98 menjadi hanya 37. Drastis bukan? 

Empat huruf saja: RELA, itu sebuah perasaan sederhana namun tidak mudah ternyata. Untungnya saya dan 36 orang lainnya cukup beruntung diberi kesempatan mempelajarinya bersama.

Awal episode seminggu luar biasa dimulai oleh sebuah latihan rasa rela. Saya kira ini appetizer yang tidak terlalu buruk, karena pengabdian kadang memang sinonim dengan pengorbanan. Dan ... Bukankah semua pengorbanan selalu menuntut kerelaan?
ada yang menaruh hatinya pada seni
kadang tentang seperangkat nada
kadang tentang rasa puas dari goresan di ujung kuas

tak sedikit yang terpana pada megahnya semesta
kesana kemari membawa hidup pada carrier yang tinggi

ada yang meletakkan cintanya pada olahraga
menjaga fisik prima untuk meraih rasa bangga

ada yang melekatkan asmara pada gaya
mendesign pakaian atau sekedar terampil memadupadan

ada juga yang jatuh cinta pada pemuas lidah
dengan memasak, dia menambah bahagia

ada yang terpaut pada aksi sosial
memberi makna pada mereka yang kadang terlupa

banyak juga yang memilih menari dalam kata
saat gubahan tulisan menjadi simbolis keterbukaan besar

ada sebagian yang memilih tetap serius
menggeluti dunia penelitian akademis
mencipta dan menyimpulkan sesuatu yang berguna

ada yang tidak bisa move-on dari fotografi
memantabkan presisi lalu jepret sana sini

ada pula yang memang cinta pada dunia wirausaha
satu hal kecil bisa berubah jadi ide bisnis di benaknya




Lalu, di antara itu semua manakah yang lebih baik? TIDAK ADA. Tidak ada yang lebih baik satu dari lainnya. Cinta yang berbeda itu ada dimana-mana, tak bisa kita menghakimi bahwa satu bidang menjadi lebih penting atau lebih remeh dari lainnya. Semua panggilan hati itu berharga, selalu ada kemungkinan dan semoga selalu ada cukup kesempatan untuk menjadikan itu sebagai sesuatu yang berguna untuk sesama.
Kampung halaman adalah sebutan bagi tempat kemana hati ini berpulang. Berupa sebuah ruang aman untuk lari dari hiruk pikuk tempat perantauan. Seringnya dia hanyalah alasan bermalasan menikmati nyaman rumah, tapi kali ini saya ingin menjelajah. Tak harus selalu jauh, menguak keindahan alam atau memenuhi kepuasan jalan-jalan bisa dimulai dari kota tempat kita bertumbuh besar. Itulah perjalanan kali ini.

Seperti biasa tawa selalu mengisi perjalanan, di sela-sela obrolan hangat khas kawan lama. Sebagian karena kalimat-kalimat humor dengan logat yang kental. Sisanya murni disponsori oleh rasa geli dari kekonyolan lampau kala masih bersekolah.

Air terjun di daerah perbatasan Lumajang dan Malang merupakan pilihan pemuas kaki gatal kami. Sebuah objek wisata yang membuat kami berempat rela menempuh jarak cukup jauh dengan medan yang relatif ekstrim. Nama tempatnya adalah Coban Sewu, jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka bermakna air terjun seribu. Tidak mengherankan mengapa penduduk memberi nama demikian sebab di satu lokasi yang sama berdiri kokoh sangat banyak jalur vertikal untuk air jatuh dengan akselerasi tinggi.

Setelah puas mengabadikan dalam jepretan ponsel, kaki kami bergegas menelesuri rute menuju goa tetes. Satu perjalanan, dua objek wisata didapatkan. Cerita ini baru benar-benar dimulai disini.

Sumber foto: jawapos.com

Sebagai gambaran kondisi terjal yang dihadapi di Coban Sewu



Hutan, jembatan bambu buatan warga, dan susur sungai, adalah menu pembukanya. Uji nyali sesungguhnya adalah saat kami harus menapakkan kaki di bebatuan licin tepat dimana air mengalir. Tebing tinggi disana hanya sebentar mencuri perhatian, selebihnya saya hanya terpengeranga heran. Untuk sepersekian detik saya harap itu hanya sebuah rute cadangan dan adalah opsi lain yang lebih mudah, tapi sama seperti dalam perjuangan mencapai impian kadang jalan yang tak mulus itu adalah pilihan tunggal. Dengan kaki yang tak terlalu piawai satu persatu batu saya lewati hingga posisi semakin tinggi. Di setiap trek curam tersedia tali karet berwarna hitam pekat untuk membantu pengunjung berpegangan. Dengan jersey barcelona, celana jeans panjang warna hitam pudar, tas ransel kucel, dan sandal jepit kegedean, saya memaksa diri untuk tidak terlalu merepotkan ketiga teman saya. Air keringat bercampur dengan tetes air alam, mereka membawa pergi sedikit sisi manja saya, namun tetap dibumbui rasa takut yang khas.

Setelah ada di lokasi yang landai, tiga teman saya bersantai menikmati rokok mereka. Saat itu saya menoleh kembali ke susunan batu bersudut lebih lancip dari 45 derajat yang awalnya saya sinonimkan dengan kemustahilan. Jika dipikir, saya samasekali bukan penakut terhadap hal-hal seperti itu. Katakanlah wahana penguji adrenalin, hampir semua siap saya sambut. Tapi dibebatuan itu keberanian saya sempat menguap. Selagi teman saya masih asik dengan tembakau gulungnya, saya menemukan alasan sederhana: kepercayaan. Ketika saya naik wahana permainan pengadu adrenalin kebanyakan saya menikmati tanpa rasa takut sebab saya tahu persis sekaligus percaya bahwa setiap alat telah diperhitungkan oleh kaum ahli dan telah teruji aman. Di Coban Sewu, kedamaian itu absen sebab menyadari bahwa tali karet yang tersediapun tak terjamin, tidak ada yang tahu siapa yang membuatnya dan saya tidak cukup yakin apakan itu kuat untuk dijadikan pegangan.

Kepercayaan adalah faktor penting.

Dari perjalanan super mendadak hari itu, saya memahami makna dari sebuah quote terkenal "bird sitting on a tree is not afraid of the branch breaking, because its trust is not on the branch but on its wings." Menyelesaikan trek itu adalah simbolis bahwa saya mampu menaruh kepercayaan pada tapak kaki saya sendiri bukan pada seutas tali karet tersebut.

Rute yang sulit ditambah sumber daya yang meragukan, kadang kita jumpai dalam hidup ini. Di saat seperti itulah kita sedang diuji, siapakah yang sedang kita andalkan? Sesuatu di luar kita yang serba tidak pasti atau justru kekuatan yang diam-diam terkumpul dalam diri kita sendiri.

Setelah mengambil durasi merenung singkat, energi saya kembali terkumpul untuk meneruskan perjalanan pulang. Dengan paha penuh asam laktat, saya sempatkan menunduk lalu berbangga akan sepasang telapak kaki mungil ukuran 36 yang telah bekerja keras itu dan membuktikan bahwa saya tak salah telah percaya pada mereka. Saya berjanji akan memanjakan mereka dengan air panas sesampainya di rumah, saya tahu mereka membutuhkan itu :')
Seorang kakek tua dengan deret panjang angka di rekeningnya memutuskan untuk membeli sepetak tanah. Seperti biasa, tetangga-tetangga yang sirik mulai mencibir. "Si kakek itu sudah tua, pasti tanah itu dipersiapkan untuk makamnya kelak." Begitu ucap seorang ibu yang berlebihan berat badan sekaligus berlebihan prasangka. Namun keputusan sang kakek tampan itu sepenuhnya berbeda, dia mengeluarkan ekstra uang untuk menjadikan sepetak tanah tersebut sebagai garasi untuk mobil klasik barunya. Di meja makan saat melahap santapan malam, sang cucu perempuan dengan polos menanyakan motif pendirian garasi baru itu. Dengan senyum bersahaja lelaki beruban itu menjelaskan "aku bisa saja menggunakan tanah ini untuk makamku, tapi itu berarti aku yakin akan segera meninggal dunia. Sedangkan aku ingin hidup lebih lama lagi. Aku memilih membuat garasi karena aku percaya dan berharap masih ada cukup waktu untukku menambah deretan koleksi. Sebuah kejenakaan besar saat kita berharap hal baik namun tindakan kita menunjukkan hal sebaliknya."




Manusia senantiasa diperhadapkan pada pilihan untuk mengambil tindakan, itulah keniscayaan. Itu sudah fakta lawas bukan? Namun sadarkah kita bahwa setiap pilihan kita selalu didasari akan dua kemungkinan tujuan. Seperti analogi sang kakek, satu pilihan yang diambilnya: membeli tanah. Namun motif pemanfaatannya menjadi jauh berbeda. Pertama adalah menyiapkan untuk makam, yang mencerminkan ketakutan bahwa tidak ada cukup lagi waktu baginya menikmati hidup. Sebuah tindakan was-was akan fakta bahwa usianya sudah semakin mendekati ajal. Sedangkan yang kedua menunjukkan siratan harapan bahwa dia masih memiliki cukup waktu untuk menikmati hidup lewat deretan mobil antiknya. Satu tindakan yang sama, mengandung dua makna motif yang sepenuhnya bertolak belakang: ketakutan atau harapan.

Ketika saya memilih mempertahankan Riyan itu bisa saja karena saya takut tidak ada lelaki lain yang lebih baik dari dia, namun faktanya saya mempertahankan dia karena saya punya harapan baik untuk masa depan kami bersama.

Saat kita memilih mengalokasikan dana khusus membeli sebuah gadget baru, itupun didasarkan dua garis besar motif. Ketakutan dikatakan ketinggalan jaman atau harapan bahwa segala akses kemudahan teknologi akan mempermudah hidup kita.

Saat kita memilih giat menyelesaikan skripsi atau tesis, tak jauh berbeda halnya. Itu antara kita takut malu tertinggal teman seangkatan atau karena kita memang optimis setelah gelar sarjana/master didapat banyak peluang akan terbuka lebar.

Sudah fakta yang populer bahwa kita terus dan terus memilih sesuatu, tapi yang jarang kita ingat adalah kenapa kita memilih hal itu? Serangkaian tindakan yang menindaklanjuti pilihan sangat bergantung pada motif tersebut. Ketika saya membuang kesempatan double degree, itu sepenuhnya didasarkan pada ketakutan. Sebagian orang berkata itu hal realistis, titik diri menyadari kemampuannya. Tapi kemudian terungkap bahwa itu murni sisi pengecut saya yang menolak untuk melakukan usaha ekstra.

Hampir selalu optimisme disinonimkan dengan utopis dan ketakutan dilabeli kata realistis. Seperti si kakek, entah cucu, kerabat, atau tetangganya pasti ada yang terheran dan menertawakan pilihan membangun sebuah garasi. "Wong wes tuwek." Begitu mungkin isi cibirannya. Satu-satunya yang tahu arti harapan dan sukacita soal garasi dan koleksi itu hanyalah dia seorang. Begitu juga kita. Hampir setahun jatuh bangun di pergumulan pekerjaan, saya membuktikan mitos bahwa kadang orang lain cenderung menertawakan pilihan kita yang berlandaskan harapan. Mereka kadang tanpa sengaja melemparkan kosa kata yang merujuk pada ejekan pada kita, murni karena kedangkalan mereka memahami motif atas pilihan tersebut. Tak heran jika Paulo Coelho pernah berucap 'you dont need explain your dream, it belongs to you.' Selama kita tahu persis apa pondasi pilihan kita, suara lain tidaklah terlalu utama.

Penting untuk tegas memilih, namun juga sangat penting untuk memastikan bahwa kita sedang berdiri di batu harapan dan bukan justru berjinjit di tepi jurang ketakutan. Setiap pengalaman pahit yang sesekali saya sesali kebanyakan disponsori tindakan yang mendustai motivasinya. Dalam angan saya berkata percaya, namun tindakan justru mengarah ke hal sebaliknya. Seperti kata kakek, itu sebuah kejenakaan bukan?


"May our choice reflects our hopes not our fears"
Ketika usai memilih sesuatu, tanyakan kembali pada diri kita "apa tindakanku selanjutnya?
Apakah aku sedang mempersiapkan makam ataukah sedang membangun garasi saat ini?"

Pernah mendengar istilah headskin? Sebuah teknik mencukur yang dipangkas habis dan menyisakan sekitar setengah sentimeter rambut di atas kulit kepala. Bagi kaum adam hal ini lumrah dilakukan. Seiring jaman, beberapa perempuan terinspirasi memberikan sentuhan serupa di kepalanya. Entah sejak kapan, saya mendambakan hal serupa dan akhirnya terwujud! But the purpose of this post is not for brag my new haircut by the way.

Sepulang dari tempat yang konon hanya dicintai kaum hawa tersebut (baca: salon) saya hanya bergumam sendiri merasakan lega dan bangga akhirnya bisa 'berdaulat' atas tubuh. Pergulatan gemas ini muncul pasca mengamati bahwa setiap kali saya ingin mimiliki model rambut tertentu ada saja yang memghalangi. Sebelumnya dikarenakan alasan akan mengikuti CPNS lalu kali ini karena akan kembali menjadi guru. Memiliki potongan 'yang sepantasnya' itu adalah jalan terbaik, begitu mungkin singkatnya. Masalahnya siapa yang menjadi hakim atas 'pantas' dan 'tidak' suatu hal?

"Potongan seperti itu dianggap gak sopan" begitu kata cece dan Riyan. Kenyataannya, selain mereka berdua di luar sana masih banyak yang menilai demikian.

"A stereotype is used to catergorize a group of people. People don't understand that type of person, so they put them into classifications ..." (Urban Dictionary)
"A generalization, usually exaggerated or oversimplified and often offensive, that is used to describe or distinguish a group." (Dictionary.reference.com)

Perempuan yang memiliki cat rambut atau potongan ekstrim dianggap sebagai wanita kurang baik. Seseorang dengan tato dianggap berandalan. Lelaki dengan tindik dinilai sebagai preman. Itulah yang ada di masyarakat. Bukan hanya soal fisik, ini kadang juga tentang selera musik, masih berkeliaran orang yang mengganggap bahwa pecinta heavy metal merupakan segerombolan bandit ataupun orang yang hobi melakukan aksi vandalisme. Ataupun gaya berpakaian, yang melahirkan stereotype bahwa lelaki yang menggunakan warna pink adalah kaum 'gay'. People tend to give a label, this fact has proven many times in our daily life.




Di agamaku diajarkan 'Tubuhmu adalah Bait Allah. Janganlah merusak bait Allah', sejujurnya ayat populer ini kadang digunakan semena-mena bagi orang dengan adat ketimuran yang kental untuk mengharamkan tato dan beberapa hal lain yang dianggap tidak lazim. Ijinkan saya membagi pandangan bahwa perusakan tubuh sebenarnya adalah justru saat kita enggan membudayakan hidup sehat. Rokok adalah salah satu hal yang menurut saya memang layak untuk dilarang. Sedangkan tato, itu merupakan sebuah seni yang tidak menyakiti tubuh secara berkepanjangan. Orang Kristen yang mengerti kutipan ayat diatas anehnya justru menganggap biasa perokok namun memandang sebelah mata pemakai tato ataupun tindik.

Lalu pernah satu kali teman saya membagikan cerita bagaimana seseorang di gereja kami menolak musik rock untuk masuk di musik pemuda gerejawi. Alasannya? Ketakutan bahwa akan ada biusan hal negatif yang dibawa musik tersebut di kehidupan rohani. Saya hanya geli dengan pandangan itu. Sebagai seorang Kristen Protestan yang sangat mencintai cara ibadah dengan keteraturan, saya masih selalu merinding ketika -dengan sopan- aliran musik semacam itu digunakan untuk memuji Tuhan. Rasa takjub yang sama adalah saat menyaksikan seorang dengan penampilan ekstrim tertib mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli. Seraya berdecak "semua selera, suku bangsa, dan segala faktor pembeda manusia tidak dapat menghalangi kita bersama menyembah Pencipta."

I love pixie cut, headskin, assymetric style. And I do adoring tattoo so bad. So you will say that I'm a bad Christian? Of course no. Yang akan membuat saya menjadi Seorang Kristen yang buruk adalah saat saya menyanyikan dosa dan berdansa dengan kesombongan. Saat saya makan kemunafikan dan tidur dengan kebebalan.
I'm not good at make up and I'm pretty bad with hair-do stuffs. But again, these reasons will never make me a woman anyless. Yang membuat saya menjadi wanita sepenuhnya adalah kemampuan saya untuk TUNDUK, pada Allah dan nantinya pada suami saya. Menjadi wanita seutuhnya adalah tentang saya menjalankan peran 'penolong sepadan' bagi pasangan saya.

Menjadi orang sopan, beragama, berbudaya, seharusnya tidak didasarkan pada perkara-perkara yang lekat dengan selera. Hal demikian merupakan atribut manifestasi sisi subjektif yang begitu beragam. Justifikasi sebenarnya adalah tentang tindakan dan kebiasaan, sesuatu yang lebih cocok untuk disejajarkan dengan penilaian objektif. Adat ketimuran harus dijunjung, saya tidak sedikitpun memperdebatkannya. Tentang sopan santun tindak dan tutur, mari berbangga dengan tetap menjadi 'old-style' dan bukan manusia sok modern yang lupa budaya luhur bangsanya. Tapi soal selera, tolong jadilah masyarakat yang dewasa! Berhentilah memberi label.


Untuk selera, harus ada kebebasan
Untuk yang prinsipal, harus ada kesamaan
Dan untuk semuanya, perlu ada kasih!

"Karena manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir" -Pengkhotbah.

Salah satu momen yang istimewa di hidup manusia adalah saat kita diperbolehkan menjadi saksi atas realisasi sabda-Nya. Kita berdecak "ah bener ya ayat di firman itu." Setidaknya itu berlaku untuk saya. Kita bukan hanya membaca namun menyaksikan dan mengalami. Adakah yang lebih indah? Kali ini saya ditampar oleh fakta betapa kerdil diri ini untuk memahami apa yang sebenarnya sedang sibuk Dia kerjakan.

Selasa yang tidak mengandung angka cantik menghantarkan pada dua kejutan. Semuanya seirama berkolaborasi menambah kekaguman baru tentang bagaimana Tuhan berkarya di pribadi seseorang.

Tulisan blog saya tentang "malu menjadi guru" adalah tulisan paling banyak di-reshare selain tulisan tentang Riyan. Secara acak, link itu disambangi oleh seorang kenalan yang saya temui di sesi Focus Group Discussion untuk rekrutmen sebuah NGO besar. Dia bertutur tentang kesannya terhadap tulisan saya yang (Puji Tuhan) membuatnya memiliki sebuah perspektif baru. Nyatanya, komentar singkatnya juga membawa saya pada pemahaman baru yang berharga.

Dia menceritakan betapa dia kaget akan kabar penerimaan karena pada dasarnya dia hanya 'mencoba'. Jika ditanya apa yang sangat dia inginkan, maka jawabannya adalah menjadi guru mengingat dia juga dari jurusan yang sangat cocok untuk berkiprah di dunia pendidikan. Namun setelah mencoba di berbagai institusi sekolah, asanya selalu terhalang. Sampai akhirnya dia diterima di NGO ini. Sepenuhnya berkebalikan dari saya yang sangat menginginkan NGO ini namun berujung pada penolakan dan memberi jeda untuk meneguhkan bahwa saya harus kembali berkarya menjadi guru. 

Dari baris kalimat di kolom komentar itu, saya memahami betapa rencana Tuhan atas setiap pribadi begitu mengejutkan sekaligus unik. Dia membawa anak-Nya dengan segala cara menuju tempat dimana seharusnya dia berada. Kegagalan kadang pertanda kita harus berusaha lebih keras tapi tak jarang itu sinonim dengan bahasa 'tidak' dari Allah. Bukan karena Dia jahat, murni karena Dia telah menyiapkan yang PALING SESUAI. Tidak berarti yang paling nyaman, tidak selalu yang paling menggairahkan, tapi PASTI yang paling sesuai.




Kedua, saya diingatkan bahwa apa yang kita miliki bahkan walau terlihat sangat remeh, kadang adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang lain di luar sana. Tidak ada alasan kita tidak bersyukur. Sungguh. 

Ketiga, kebetulan dia sampai ke blog kumuh ini, sederhana membuat saya semakin yakin tidak ada yang kebetulan. Setiap hal bisa Dia gunakan untuk menjadi sarana penjelasan bagi orang lain semakin memahami karakter Agung nan berdaulat-Nya.

Bukan saja perkara komen 'nyasar', Selasa kali ini menjadi semakin melekat di hati sekaligus membekaskan seutas senyum adalah karena sebuah kabar bahwa saya diterima menjadi peserta salah satu kegiatan Pemerintah untuk menghidupkan semangat kemaritiman. Sebuah kegiatan bernama 'Ekspedisi Nusantara Jaya' akan mengisi bulan Juni saya. Berlayar di secuplik laut megah Indonesia lalu diselingi dengan bersandar singgah ke pulau-pulau kecil untuk membantu masyarakat disana. Kalian tahu apa artinya ini bagi saya? 

Pertama, mengikuti program pelayaran sudah saya coba sejak 2013 namun terhalang ijin cuti. Jadi jelas, ini satu lagi poin dimana mimpi saya terkonversi menjadi kenyataan. Tidak mungkin bahagia absen dari hati ini.

Kedua, makna besar kegiatan ini bagi saya personal adalah titik temu dua keinginan besar yang gagal saya dapatkan. Antara bergabung NGO dan (C)PNS. Kerinduan saya untuk 'membantu' masyarakat di luar pulau Jawa yang sesak ini saya kira hanya dapat saya lakukan lewat NGO namun ternyata asumsi saya keliru. Ada hal yang sepenuhnya berbeda dari yang saya bayangkan yang bisa membuat saya men-check salah satu poin dari daftar keinginan. Sisi lainnya adalah fakta bahwa kegiatan ini benar-benar adalah agenda pemerintah. Kabar kembali menjadi guru PKN menyisakan satu pertanyaan, bagaimana mungkin saya mengajarkan tentang Indonesia tanpa pernah benar-benar berkecimpung atau mencicipi kegiatan yang memang digarap oleh pemerintah. Ternyata, rasa heran itu ditaklukan dengan kesempatan emas ini. Lagi-lagi manusia hanya jago menerka. 

Saya akan mengikuti salah satu kegiatan dari pemerintah yang melibatkan sangat banyak kementerian plus diperbolehkan menjadi 'berguna' untuk mereka yang sering terlupa. Oke, ini menjadi akhir kisah paling sempurna yang membuktikan bahwa kita boleh memiliki kerinduan namun jangan sekali-kali menyetir Dia untuk cara penggenapan kerinduan itu!

Akhirnya dengan sejuk hati penuh kagum saya dapat meminjam sepenggal paragraf favorit yang saya temukan dari buku Almost Heaven:
"I have been given this assignment by Him, the One who knows the end from the beginning, the One who holds the future in His nail-scarred hands and so I will gladly fulfill my role. Of course, it didn’t work out according my plan. LIFE GENERALLY DOESN'T. God had a totally different plan. I don’t know. I don't think I'll ever know. And part of me doesn’t even want to know. I just wanted this to be something that could only be explained by God’s intervention."

Manusia suka mencari tanda. Manusia gemar mengumpulkan fakta-fakta yang memperkuat posisinya. Itulah kenapa ulasan horoscope masih laris di kolom surat kabar dan ramalan kartu menjadi sesuatu yang tidak kehilangan pesonanya. Menjadi percaya tanpa melihat, bukan hanya Thomas yang sulit melakukannya 2000 tahun lalu.

Ini adalah cerita yang sudah lama parkir di otak saya dan akhirnya tidak tertahan untuk disemayamkan dalam tulisan. Kisah ini masih merupakan rangkaian memahami panggilan kala masa menjadi pengangguran. Seperti yang saya tulis di cerita lengkap sebelumnya, saya kembali menjadi guru. Fiuuh.. Melamar ke enam sekolah, adalah tindakan saya menguji hasil pergumulan dan semoga empat panggilan dalam satu minggu merupakan pertanda besar bahwa hmmm saya memang harus menggarap ladang ini. Tapi dasarnya manusia, seorang Claudya masih menggerutu. Setiap kali melihat aktivias sosial media kawan yang diterima mengabdi sebagai PNS dan sosial media pelayanan dari WVI, hati saya teriris (literally). Masih belum berdamai, mungkin itu tepatnya. Menerima kekalahan bukanlah hal mudah, apalagi jika setelah tahapan itu kita diharuskan masuk ke satu area baru yang sebenarnya ingin kita tinggalkan jauh. Saya bertanya ke Tuhan dan mempertanyakan diri sendiri. "Jangan-jangan aku salah mengartikan hasil pergumulan." begitu pembelaan dalam angan.
Suatu siang, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor yang tidak saya kenal. Ternyata itu lagi-lagi sebuah panggilan seleksi pekerjaan. Orang di seberang telepon itu berbicara sangat fasih dalam Bahasa Inggris, saya penasaran. Tidak berselang lama, terungkaplah bahwa itu merupakan panggilan pekerjaan dari sebuah sekolah tempat para anak expatriate di Surabaya bersekolah. WOW, saya tidak percaya lamaran yang saya kirim melebihi tenggat waktu maksimal ternyata ditanggapi dengan sangat baik. Sayangnya telepon itu berdering pasca keputusan akan ke sekolah mana saya akan berkarya sudah saya buat. Dengan sopan saya menolak tawaran itu. 

Panggilan yang mengusik jam santai saya siang itu tidaklah sia-sia. Samasekali tidak sia-sia. Lima dari enam sekolah, bukankah tanda besar bahwa this is a place I belong to be. Dua minggu setelahnya, sekolah keenam melakukan hal yang sama. Lengkap sudah pertanda ini, saya menemui jalan buntu untuk membangkang. Telepon kelima itu, menyuarakan kesan mendalam. Atas keterlambatan saya mengirimkan lamaran dan atas reputasi sekolah sebesar itu. Lebih-lebih kala saya mendengar responnya yang meminta saya kembali mencoba melamar di sekolah itu setelah kontrak saya di sekolah saya (akan) mengajar saat ini tuntas. Telepon keenam hanyalah bonus, sebuah tanda pemantab hati yang tidak saya minta, yang pastinya ditujukan untuk manusia super keras kepala seperti saya.




Kita rajin mengajukan tanda tanya pada Pencipta, jika kita cukup beruntung pertanda itu akan datang. Namun bagaimanapun kita tidak bisa terus mengandalkannya. Ada waktu di hidup pertanda akan bersembunyi hingga akhir. Percaya sebelum melihat pertanda adalah kualitas iman sesungguhnya. Saya gagal untuk itu, beruntungnya kekerdilan iman saya masih dinaungi oleh Kemurahan Pencipta. 

Setelah satu tahun ini saya tahu bahwa mencari pekerjaan (kadang) menjadi begitu rumit tapi sesuatu yang jauh melebihi itu adalah kesulitan mengungkap panggilan kita, dan kamu tahu apa yang paling sulit? menjadi taat.



Maret 2012. Pertemuan ITS dan Unair
Pertemuan perdana kami terjadi di Jombang, di rumah seorang dokter lulusan Unair yang juga aktif di persekutuan (dr. Leo Suisan). Waktu itu momennya adalah saling mengenalkan pengurus pusat persekutuan Unair dan ITS. Kami semobil di perjalanan pulang ke Surabaya, teman-teman kami entah dengan alasan apa terus menggoda dan menjodohkan kami berdua. Hal itu berlalu tanpa suara selain hanya perkenalan di sosial media. Berbulan-bulan kami menjadi hanya sekedar mengenal tanpa menjadi teman. (RY & cte)


September 2012. Ulang tahun
Di awal bulan aku dengan patuh nan lugu menuruti perintah seorang teman ITS (Beethoven) untuk mengucapkan selamat ulang tahun personal ke Riyan. Dia bahkan mengirimkan nomor Riyan lewat direct message twitter. Sms ucapanpun terkirim dan sejak saat itu kami terus saling bercakap lewat sms. Akulah yang memulai keakraban ini, sebuah sms yang tidak pernah aku sesali. (cte)
---
Di siang hari tepat di hari ulang tahunku, sebuah sms muncul dari nomor yang tidak tercatat di buku telepon. Seperti banyak sms lain, itu berisi ucapan selamat ulang tahun sambil ditambah kalimat doa singkat. Dengan penasaran aku membalas hormat berterimakasih sambil bertanya memastikan siapakah gerangan di balik nomor itu. Ternyata dia adalah Adiss anak Unair, seorang kenalan yang aku temui di Jombang beberapa bulan lalu. Terkaget juga dari mana dia mendapatkan nomorku, namun enggan lebih lanjut bertanya karena yang jelas saat itu aku sedikit berbesar hati karena dia muncul di hari pertama usia 22 tahunku. (RY)


Oktober 2012. Goodbye Papa
Papaku meninggal. Di saat itu aku melihat Riyan menjadi sosok yang meluangkan waktu untuk menghiburku. Masa kelam adalah penguji ampuh tentang kualitas seorang rekan. Riyan mendapatkan poin tambah kala itu. (cte)


Desember 2012. Natal pertama Kami
Setelah keakraban yang cukup, muncul sebuah rasa ingin mengenal adiss lebih lagi. Malam itu aku mantab untuk menyatakannya, walau memang masih bercampur rasa malu serta bingung menyusun percakapan. Adiss adalah seorang perempuan yang aku kira dapat menjadi penolong yang sepadan untukku. Hari itu aku bertekad jujur tanpa perlu terburu memulai hubungan. Bagiku, membiarkan perempuan tahu perasaanku akan membantuku menentukan sikap-sikapku ke depan sekaligus membuktikan bahwa aku seorang laki-laki yang dimandatkan menjadi inisiator dalam hubungan. Akhirnya dengan begitu jujur di sela obrolan aku mengakui ketertarikanku padanya. Malam itu aku sangat senang melihat responnya yang berterimakasih dengan tulus atas perasaan, keberanian, dan kejujuran dariku. Aku merasa memilih wanita yang tepat saat dia mengajakku menutup malam itu dengan tunduk doa bersama. Dengan jujur dia mengakui bahwa dia heran kenapa aku tertarik dalam selang waktu hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi. Terburu, mungkin itu kesannya terhadapku. (RY)
---
Terkejut adalah perasaan pertamaku, lalu disusul dengan rasa tersanjung membaca pengakuan darinya. Laki-laki yang sangat lugu, dia bahkan kebingungan sendiri menata kalimatnya. Mengingat itu membuatku tersenyum geli saat ini. Bagaimanapun itu terjadi hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi, bagiku ini sangat terburu. Namun aku belajar menghargai keberanian semacam itu dan menyerahkan ke Sutradara hidup. Toh waktu juga akan membuktikan dan memurnikan. (cte)


Januari 2013.
Masih teringat jelas aku seperti orang bodoh dengan langkah mondar mandir lalu naik-turun tangga di rumahku, hanya untuk memantabkan hati dan menata kalimat di telepon perdanaku itu. Setelah niat yang kembang kempis, aku putuskan menelepon. Setidaknya aku dapat melepasnya sebelum pergi ke negeri orang selama satu bulan. (RY)


Maret 2013.
Ini bulan dimana aku mulai meragukan Riyan. Aku melihat bahwa perasaannya (mungkin) sudah pergi begitu saja. Dia disibukan dengan wisuda dan mencari kerja. Bahkan oleh-olehku dari Thailand yang aku harap membuatnya berinisiatif menemuiku tatap muka, hanya terbentur dengan kecuekannya. Menyebalkan! (cte)


April-Mei 2013. Hilang Kontak
Rasaku masih sama, tapi adiss tidak ada suara. (RY)
Dia berkata suka, tapi kini hilang begitu saja. Apa maksudnya? (cte)


Juli 2013. Thanks to facebook
Ulang tahunnya adalah momen kami kembali bercengkrama. Aku menyiapkan satu kejutan kecil untuk adiss di hari istimewanya itu, Satu-satunya jalan adalah mengirimkan lewat Facebook. Rasa senangnya tidak dia tutupi sama sekali, padahal pemberianku sangatlah sederhana. Menggembirakan juga merasa berhasil menunjukkan keistimewaan khusus padanya. Tidak lupa aku menanyakan nomornya lewat jendela chat facebook dan menjelaskan kenapa aku sempat menghilang. Melawan gengsi, aku mengakui di dua bulan itu aku mencarinya. (RY)
---
Dia melakukan hal simple di ulang tahunku dan membuatku terpesona. Mulai saat itu kami kembali intens berkomunikasi dan terungkap bahwa dia menghilang karena telepon genggamnya sudah tutup usia dan nomorku turut lenyap. Senyum lebar terutas karena tahu ternyata dia mencariku juga. Aaaaahh (cte)


Desember 2013. Natal kedua kami
FINALLY, dia mengajakku keluar. Di liburan Natal, dia pulang kampung ke Surabaya dan menyempatkan bertemu berdua denganku. Ini pertemuan personal kami yang pertama, tepat satu tahun setelah dia mengungkapkan perasaannya. Sebuah tahapan yang pelan namun pasti. Syukur tiada henti aku haturkan. Dari sini aku melihat kualitas pria, dimana tidak melakukan yang terlalu banyak bagi seorang perempuan sebelum memantabkan hatinya sendiri. Tidak membiarkan seorang perempuan salah tafsir akan niatan sang lelaki. Aku tahu dia grogi saat itu, sampai dia meninggalkan jaketnya di kursi restoran saat kami beranjak pergi. Selagi bertemu aku tidak lupa bertanya: “Bagaimana perasaanmu setahun lalu? Masih samakah?” (cte)
---
Sore itu aku sempat nyasar saat menjemputnya. Dia datang dengan membawa helm keroppi di tangan. “Anak ini benar-benar penyuka kodok hijau rupanya,” begitu bisikku dalam angan yang segera terpecahkan dengan sapaan “halo Riyan” darinya. Kami bersalaman, seakan baru kenal. Gadis berbalut pakaian hitam itu menunjukkan grogi yang tidak biasa. Menggelikan juga jika mengingat dia salah tingkah terhadap sebuah cherry merah di gelas minumannya. Di sela mengunyah makanan Italia dan di hadapan gadis yang aku doakan selama satu tahun itu, aku semakin memantabkan hati. Aku meminta ijin untuk menjalin komunikasi lebih intens dengannya, yaitu beralih dari komunikasi teks menuju ke telepon. Lalu aku tidak lupa menjawab pertanyaan lembutnya, dengan senyum aku menanggapi “iya, perasaanku setahun lalu itu masih sama.” (RY)


17 April 2014. Hari Eksekusi
Aku berkutat berhari-hari dengan sebuah buku pop-art. Kurang kece bagiku untuk menyatakan rasa tanpa menunjukkan usaha ekstra. Di tengah kesibukan aku belajar membuat pop-art 3D dan aku harap dapat menjadi peluru jitu mencuri kata IYA darinya. Dengan senyum berpadu nervous aku menyusun halaman per halaman. Buku itu bersampul gambar planet bumi, tempat kami bertemu (begitu pula milyaran pasangan lain. Haha) Kian hari kemantaban bertambah. Kualitasnya sebagai wanita yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti mencari yang lain. Sudah waktunya aku memulai menjalin hubungan. Jika diterima, maka saat ibadah Jumat Agung keesokan harinya, aku sudah dapat menyebutnya sebagai kekasih di hadapan Tuhanku di gereja. Oke, ini hari yang tepat! Skenario yang sempurna! (RY)
---
Nonton dan makan, aku kira hanya itu isi hari Kamis malam kami setahun lalu. Tidak disangka, dia yang saat itu berkaos biru dengan raut aneh mengumpulkan keberanian untuk menunjukkan sebuah buku. Dia memberiku waktu membaca. Disana tertulis tentang kasih, tantangan, altar gereja, dan sebuah rumah. Tanpa banyak bicara, dia menanyakan kesediaanku menjadi pasangannya. Sejujurnya aku berharap akan ditembak keesokan harinya, tepat setelah ibadah Jumat Agung selesai. Bangku gereja merupakan satu tempat idaman aku memulai sebuah hubungan. Laki-lakiku punya rencana yang berbeda mungkin. Kualitasnya sebagai laki-laki yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti menunggu yang lain. Buku astronot (begitu kami menamainya) itu siaga mengetuk kemantabanku. Jerih lelahnya terbayar dengan anggukan kepala penuh senyuman. Kami mulai pacaran! Yeaaay. (cte)


18 April 2014 (Jumat Agung). Doa
Bisikku adalah: “Terimakasih telah mati bagiku. Dan terimakasih atas orang disampingku yang kini adalah pasanganku. Tolong jagai kami, Tuhan. Ajari kami kasih-Mu” (RY & cte)






(Hampir) setahun sudah, usia hubungan kami. Melewati banyak kata maaf dan terimakasih. Diisi dengan ribuan kata panggilan ‘sayang’ yang kerap menguap di tengah amarah. (23 kata)
365 hari kami merajut kasih, diselingi doa dan kemesraan, kadang berganti pertengkaran konyol yang pada akhirnya berujung tawa geli. Kami bergantian merendah untuk bersedia diisi. Berusaha tangguh untuk layak mengisi. (30 kata)
Setelah menjalani proses panjang, orang kerap bertanya pada kami “kenapa harus perlahan jika bisa cepat?” Betul juga. Tapi agaknya mereka lupa bahwa ada kenikmatan khusus yang tidak akan dirasakan jika tergesa-gesa. Waktu adalah penguji terbaik. Jarak adalah tambahan faktor yang memurnikan. Apakah rasa itu hanya asmara atau sebuah keseriusan masa depan. Proses perlahan yang lelakiku pilih adalah kebanggaan kami. (58 kata)
Aku bisa saja menuturkan segala kelemahaannya, begitu sebaliknya. Tapi setahun ini mengajarkan bahwa hubungan antara dua manusia adalah tentang berfokus terhadap apa yang baik sembari saling berproses membenahi yang kurang baik, Sesederhana itu. Tentang penerimaan dan penyesuaian. Dua orang yang sama-sama tidak sempurna, penuh beda, namun saling cinta. Akhirnya menyisakan dua kewajiban yang sama rata: meregang dan melebur. Itulah garis besar satu tahun ini. (64 kata)
Melebur. Bagian menyakitkan yang pertama. Beberapa orang (laki-laki khususnya) bahkan menganggap ini sebagai kelemahan, tapi berita buruknya adalah ini harus dilakukan. Rasa sakit itu berbanding lurus dengan imbalan kedamaian. Mengalah dan mengesampingkan kerasnya diri sendiri, bukankah ini latihan ikhlas yang sesungguhnya? Ketika ada beberapa perbedaan, dua manusia bergantian melebur kadang dengan rela seringnya dengan sedikit terpaksa. Meleburkan apa? meleburkan selera, pandangan, dan pastinya ego. Memadukan perbedaan menuju satu anggukan sepakat yang seirama. (72 kata)
Meregang. Tak ubahnya perempuan hamil. Analogi ini aku pilih setelah menyaksikan bagaimana calon ponakanku terus mengambil ruang di perut ibunya. Awalnya mengira perutnya sudah cukup membuncit dan tak akan lebih membesar lagi, namun kenyataannya berbeda. Penyesuaian ukuran uterus terus terjadi demi memberi ruang kepada manusia lain. Itulah yang dilakukan dalam hubungan. Melakukan penyesuaian dan memberikan ruang. Ada kalanya merasa “ini sudah cukup” namun kenyataannya, naluri cinta memampukan ruang itu terus membesar. Itulah jalan berbagi hidup, yaitu dengan memberi ruang. Dengan meregang. (81 kata)
Seorang kakak persekutuan kampus pernah kutanya seberapa dia yakin akan menikah dengan kekasihnya, dia menjawab 99%. Seorang Adiss terperanga heran, andai aku bisa seberani dia. Satu persennya adalah jika faktor distraksi yang benar-benar tidak bisa dikendalikan terjadi, begitu jelasnya. Jika padaku ditanyakan apakah kami pasti akan menikah? Aku tidak tahu jawabannya dan juga tidak tahu bagaimana bergeming bijak dan merdu untuk itu. Satu yang pasti, pernikahan adalah tujuan kami. Sebuah tujuan suci yang kami landasi dengan iman, pengharapan, dan kasih. Aku hanya terus berharap ini adalah kisah yang tidak mengenal pisah. (91 kata)
Dia pernah sedikit mengecewakanku soal kelalaiannya menyemarakkan hari ulang tahun dengan kejutan ataupun pemberian sesuai ekspektasiku yang mungkin terlalu tinggi. Namun di hari yang berbeda dia memberiku hadiah paling indah yang berbeda: keluarga. Ini kado terbaik sepanjang masa. Dimulai dari ibadah natal bersama orang tuanya, aku mengenal keluarga baru yang semoga kemudian dapat aku sebut sebagai mertua. Belum lagi rasa besar hati karena diperkenalkan di keluarga besar. Aku melihat bagaimana lelakiku yang tidak jago merangkai kata namun ahli membuat gadisnya tergila-gila. Bukti keseriusannya bukanlah kalimat “mencintaimu selamanya” namun sebuah tindakan mempersilahkan aku masuk di keluarga yang begitu ia banggakan. Aku lebih dari beruntung. (103 kata)
Mengasihi dengan sederhana, aku belajar darinya. Tanpa banyak basa-basi namun penuh aksi. Tidak banyak mengumbar janji namun menatap masa depan bersama dengan pasti. Suatu malam kala aku berbaring santai dengan kakak perempuanku, Riyan menelpon dan seketika membawaku pergi dari sebuah kasur empuk menuju awan-awan lembut. “Kalau tahun depan aku sudah mampu, lalu aku ajak kamu nikah, gimana?” Ah sungguh, pertanyaan yang belum terjawab itu memenangkan hatiku sebagai seorang perempuan. Tidak terburu-buru dan terus mempersiapkan segalanya, kami rajin saling mengingatkan tentang itu sembari memilih terhanyut dalam rutinitas yang tidak pernah membosankan: sekedar ucapan selamat pagi ataupun senyum melepas malam. Konsistensi dan kesetiaan, adalah bahasa romantisme universal cinta yang dewasa, setidaknya menurutku. (110 kata)
Di sejumlah hari kami bersama, di sela-sela rindu terselip pilu. Dia beberapa kali menghancurkan hatiku. Misalnya saat bertanya “kapan kita bisa tinggal satu kota?” Jawaban akan tanda tanya itu belum kami temukan hingga hari ini. Jarak yang ada bukan bencana namun bagaimanapun rindu yang menggebu itu tidak selalu nikmat. Dia sekali lagi mematahkan hati, saat jam dua pagi mengirimkan teks memberitahu bahwa dia sakit dan dengan rendah hati berandai aku dapat disana merawatnya. Miris mengusir tidur lelapku. Aku yang adalah gadisnya tidak dapat berbuat apa-apa. Merawat hanya lewat kalimat. Memberi rasa nyaman lewat ketikan tangan. Jarak membawa siksa, itu adalah fakta. Teknologi memang membantu, membuatku dapat menikmati senyum tampannya. Namun untuk gandengan tangannya yang sangat lembut, aku tetap harus sabar menunggu. (122 kata)
Memiliki Riyan membuatku menyadari betapa indahnya relasi yang berkiblat pada hubungan Kristus dan jemaat-Nya ini. Di sebuah buku rohani tentang pasangan hidup aku melihat betapa indahnya skenario saat Allah menciptakan Hawa untuk Adam. Dia yang adalah Pencipta Semesta menahan diri-Nya untuk tidak mengisi sebuah kekosongan dalam diri Adam -sebagai smbol dari semua laki-laki- dan mengijinkan ruang kosong itu hanya diisi oleh seorang dari tulang rusuknya. Peristiwa perjodohan pertama di muka bumi ini tidak henti menginspirasiku untuk menjadi wanita yang dapat mengisi sisi kosong laki-laki yang memang adalah kesengajaan Allah sendiri. Pencipta yang segala Maha itu telah menahan diri-Nya untuk mengisi kekosongan Adam, Riyan, dan seluruh laki-laki di muka bumi ini. Pengenalan akan skenario agung tersebut agaknya menyadarkan kami bahwa sebenarnya tidak ada alasan manusia tidak menahan ego-nya untuk membentuk kesepadanan dan harmoni hubungan perempuan dan laki-laki. Mengalah penuh kasih, itu adalah teladan pertama yang diajarkan Allah di taman Eden dalam skenario pasangan hidup. Pilihannya adalah kita mau meniru atau membantah? (159 kata)
Perasaan paling menyenangkan dari memiliki Riyan adalah merasa cukup. Dua teman perempuanku pernah berdebat kecil mempertanyakan tentang “mencari yang terbaik” atau “mencari yang lebih baik.” Bagiku, ada banyak orang yang lebih baik dari Riyan. Daniela Mananta misalnya. Itu sekaligus menjelaskan Riyan bukanlah yang super ataupun terbaik. Tapi ijinkan aku membagi pandangan, bahwa yang kita cari bukanlah yang terbaik ataupun lebih baik. Pencarian semacam itu sangat melelahkan. Sebenarnya yang kita butuhkan adalah menemukan yang paling sepadan. Dia yang kurang-lebihnya dapat mengisi kita dan diisi oleh kita. Aku menemukannya dalam diri Riyan Yonathan. Kenyataannya wanita bukan hanya mencari pria yang dapat membuatnya tertawa namun juga bersedia dibuat tertawa olehnya. Bukan hanya tegas untuk mengatur tapi juga memiliki hati yang bersedia ditegur. Tidak dapat dipungkiri ketika kita memberi saran, teguran atau sekedar alasan untuk tertawa, kepercayaan diri meningkat. Dari kepercayaan diri yang cukup, cinta yang sehat mengembang. Di momen Riyan tertawa, aku menjadi semakin jatuh cinta. Merasa cukup, itu perasaan sederhana yang luar biasa. Membisukan hingar bingar keserakahan manusia. (166 kata)


----
Akhirnya jika ditanyakan apa momen terindah bagiku dalam 12 bulan ini, maka aku akan jawab: saat Riyan berkata “aku merasa begitu dikasihi olehmu.” Ini adalah pencapaian dan keberhasilan terbaikku. Satu kalimat yang memperlihatkan bahwa segala usahaku ditafsirkan tepat oleh pasanganku. Kasihku pada Riyan di 12 bulan hubungan kami, sama seperti jumlah kata dalam 12 paragraf di tulisan ini: terus bertambah. Aku menulis ini dengan sedemikian, untuk menyuarakan syukurku yang tidak terhingga :)



Tentang perjalanan cintaku, aku harap kamu adalah titik. Tidak ada alinea baru setelahmu. Dan tentang lembar kisah kita berdua, aku harap setiap hari adalah koma. Selalu ada lanjutan baru yang membuat kasihku semakin bertambah.
Judul diatas bukanlah sebuah majas melainkan tema harafiah. Belakangan ini saya sedang gandrung dengan tren masa kini: LARI. Pacar saya sudah mengingatkan untuk saya mencoba aktivitas yang katanya asyik ini sejak lama, tapi saya terlalu enggan dan lebih berminat dengan jenis olahraga lain. Setiap kali melihat di sosial media beberapa orang berkomentar "lari itu bikin nagih", saya hanya mengangkat satu alis tanda ragu dan heran.

Sampai suatu siang di sebuah laboratorium kesehatan, sosok bapak dengan jas putih dan pembawaan yang kalem memeriksa denyut nadi dan detak jantung saya. Ragu dan heran saya melebur menjadi tekad.

"Jantungnya santai ya mbak. Beda sama orangnya yang sangat bersemangat." begitu kalimat pertamanya sembari masih memegang stetoskop di tangan.
oh gitu ya dok?
"Iya mbak. Jantung dan sisi sanguinnya gak sinkron ini."
Dia menambah kalimat yang membuat saya meraba, dia ini dokter atau psikolog ya?

Nasihat berulang-ulang dari Riyan terkalahkan dengan satu komentar seimbang antara miris dan humoris dari Dokter tersebut. Setelah prosesi pemeriksaan umum selesai, dia menyarankan saya mencoba olahraga lari. Alasannya sederhana karena olahraga itu memang sangat baik menjaga konsistensi tempo detak jantung.

Oke, saya akan biasakan lari. Itu tekad saya sepulang dari laboratorium kesehatan. Hal tersebut terlaksana setidaknya seminggu penuh ini. Selagi di desa dengan kesejukan dan suara alam yang indah, saya bangun lebih pagi untuk mengekspresikan saya menyayangi sang organ pemompa darah.

Setelah lari sekitar 15 menit, saya letakkan telapak tangan di dada hanya untuk merasakan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. Menyenangkan! dag-dig-dug kencang pasca lari mengingatkan saya tentang panas-dingin kala jatuh cinta. Merasakan dengan telapak tangan bagaimana jantung ini lebih bergairah memompa darah menyulut semangat saya juga. Perasaan unik ini sangat menyenangkan. Dan somehow, ini yang membuat saya ketagihan.


Kapanpun kita ingin menyerah atau sedang jenuh, sepertinya lari adalah solusi ampuh! Bukan lari dari kenyataan yang justru tidak membawa hikmah apa-apa, tapi justru lari keluar rumah dan menggerakkan kaki lebih lincah, lalu menikmati fakta ada organ tubuh kita yang begitu bergairah mempertahankan hidupnya.

Lari seminggu ini, bagi saya pribadi, bukan saja latihan fisik namun juga peneduh psikologis. Dia bertransformasi menjadi salah satu pengingat jitu untuk saya lebih menghargai hidup dari hal sederhana, seperti hembusan nafas, detak jantung, udara pagi, dan segarnya air putih :)

Lagi-lagi, ini perasaan yang menyenangkan!