Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Hari ini membongkar kardus tumpukan buku-buku, karena ingin menemukan satu buku agenda (almarhum) papa. Satu buku yang dia bagi untuk kami berdua bertukar tulisan. Hampir saja menguap dari ingatan, bahwa kami adalah partner kompak dalam menuangkan rangkaian kata. Ada beberapa tulisan saya yang dia salin di agenda pribadinya, dan ada banyak sajak ataupun puisi karyanya yang saya salin di buku menulis saya sejak SMP.

Jadi saya tahu, hobi berceloteh dalam baris-baris tulisan ini diwariskan dari beliau. Tipe tulisan kami juga sangat mirip, berupa kalimat-kalimat pendek, dan sangat gemar membuat rima pada akhir setiap baris. Dan kami penggila quote! Itu yang jelas.

Di tengah tumpukan buku berdebu itu, ada dua buku lain yang penuh dengan tulisan khas papa. Rasa penasaranpun hinggap. Salah satunya adalah buku diary sejak tahun 1989-1991, sebelum saya lahir. Ada dua hal yang akhirnya membuat haru, tertanggal 9 Juni 1991 papa mencatat bahwa kakak perempuan saya (Elsa) membeli mainan kereta, dan selisih empat hari kemudian catatan lain berkata bahwa papa saya mengunjungi taman Kyai Langgeng (Magelang) hanya berdua dengan kakak saya itu.

Diary macam apa itu? Bukankah diary hanya mencatat yang berkesan? Awalnya geli, tapi justru dari dua catatan sepele itu saya menangkap kasih sayang besar papa saya sebagai seorang ayah pada Putri Sulungnya itu. Sehingga perkara mengunjungi sebuah taman berdua ataupun membeli mainan keretapun dipatrikan dalam sebuah goresan tinta.

Haru makin memuncak ketika saya menemukan agenda lain yang berisikan catatan dari tahun 1996-1998. Disana dituliskan sebuah puisi dengan judul nama saya: Claudya. Mengembanglah hati ini, sebelum laki-laki manapun pernah mengirim berbagai gombalan dan mampir di hati, ada sosok laki-laki yang jatuh cinta pertama kali pada saya dan di awal kasmaran sepanjang masa, puisi sederhanapun lahir.

Begini bunyi puisinya.

“CLAUDYA
Kaulah penyulut semangat papa
Kau membuat papa bergairah
Kau membuat papa penuh energi dan daya
Papa tiada renta
Berdegup kencang jantung ini
Memacu diri
Terus berlari
Mengejar prestasi yang lebih baik lagi
Papa tiada merasa letih
Apalagi tertatih
Akhirnya raih reputasi
Demi Claudya jantung hati
Kasih papa takkan terhenti
Pasti”
(karya: Yoseph Tio)



Hari ini, sejak menit setelah saya menemukan tiga buku warisan papa, saya tersadar apa arti penting sebuah buku, atau setidaknya tulisan. Lembaran kisah, tuturan kata, hal paling sepele atau luar biasa, merupakan warisan berharga.  Tulisan adalah bukti bahwa kita pernah hidup, bukan hanya pernah “ada.” dan saya pastikan, anak saya akan memegang hal yang sama nantinya, sebuah buku yang membuat gagasan dan cinta saya tetap hidup walau kata (almarhum) sudah disematkan di awal nama saya :)

Terimakasih papa, nama “Tio” darimu yang terselip dalam namaku, ternyata mewariskan darah kecintaan yang sama, yaitu pada tulisan. Dan pastinya, terimakasih atas puisinya :) I always miss you.


Keberuntungan dan lawan katanya, konon merupakan bagian yang tidak dapat ditebak dalam hidup ini. Perjalanan saya mencicipi secuil Kamboja menunjukan bahwa hal tersebut benar adanya. Tak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi bahkan semenit di depan. Begitu pula dalam perjalanan, dibuka, diisi, dan ditutup dengan menu yang tak dapat ditebak.

Bersama seorang kawan baik. Tsabitha namanya, kami singgah ke daerah perbatasan antara Kamboja dan Thailand.  Kami disambut dengan antrian panjang, yang rekornya samasekali belum terkalahkan sejak tiga tahun lalu hingga hari ini. Di bagian imigrasi Kamboja, oknum-oknum berseragam berhasil membodohi kami dengan meminta bayaran sebesar 200 baht untuk stempel yang membekas di passport kami. Penat dan kesal hati pastinya. Kami terheran mengapa kecurangan semacam itu masih saja terjadi. Untuk sekedar menghibur hati, kami memutuskan untuk menambah satu malam menginap kami di daerah perbatasan itu. Bukan untuk mengenang atau merencanakan balas dendam, hanya sekedar menyayangkan 200 baht yang melayang, sekalian menjadikan daerah perbatasan itu sebagai ruang eksplorasi kami akan kondisi budaya dan ekonomi negara tersebut. Kemampuan bahasa Inggris yang sangat minim dari warga sana jelas menjadi kendala tersendiri sebelum akhirnya kami dapat menemukan sebuah hostel dengan harga terjangkau.
Keesokan harinya, kami bermaksud kembali ke Bangkok dengan memberi makan rasa penasaran kami terhadap rute baru yaitu via jalur kereta. Ketika matahari belum gagah di peraduannya, kami sudah terjaga untuk mencari kendaraan thuk-thuk yang akan mengantar kami dari hotel menuju stasiun.
Tidak banyak yang khas dari kereta Thailand, justru menjadi terkesan karena lorong gerbong itu mengingatkan kami berdua pada tanah kampung halaman.
Langkah kaki awal kami setibanya di stasiun bukan hanya dibarengi oleh debu-debu lantai, namun juga kekaguman akan pesona klasik di stasiun itu. Perlengkapan elektronik yang lengkap, tak mengurangi kesan bangunan tua yang khas.


jelas stasiun yang menyenangkan!


Tanpa mau terlalu lama dimanja oleh pesonanya, kami bergegas keluar dari stasiun. Satu-satunya pertanyaan yang muncul adalah, kemana lagi arah angin membawa sepasang kaki lelah kami ini. Jawaban akan perenungan singkat di tengah terik siang itu dihantarkan oleh sebuah berita di surat Kabar Bangkok Post, dituliskan disana bahwa akan ada book fair terapung terbesar di dunia, singgah ke Pelabuhan Thailand.




Tak pikir panjang, itu adalah pertanda bahwa dewi fortuna masih rindu menghiburkan hati penjelajah kami.  Pertanyaannya kini adalah bagaimana menuju ke tempat itu? Kami hanya berusaha patuh pada nasihat klasik, malu bertanya hanya akan memperburuk suasana. Singkat cerita, dewi fortuna yang hanya kiasan itu termanifestasi dalam wajah imut seorang gadis mahasiswa Chulalongkorn yang menawari kami untuk naik taxi bersama. Saat itu, pelajaran sederhana yang kami petik adalah bahwa kebaikan memang merupakan bahasa universal. Kami tak pandai berkomunikasi, bahasa beragam yang memperkaya dunia juga acap menghalangi. Namun senyum dan bantuan sederhana berbicara lebih lantang. Ya, sore itu, kami tergugah pada fakta hidup sederhana: one simple act of kindness spoke louder than a thousand words.
bersama mahasiswa Chulalongkorn

Setibanya di pelabuhan, keberuntungan kembali menyapa karena panitia memutuskan untuk menggratiskan tiket masuk. Saya dan Tsabitha hanya saling menatap geli, betapa kami beruntung hari itu. Saat itu, tak ada kata lain terucap selain mata yang terbelalak melihat kapal besar yang menepi itu, dan berhiaskan senyum kru kapal yang datang dari berbagai negara. Hingga saya menuliskan kisah ini, merinding masih hinggap mengingat betapa ajaib kapal tesebut. Membawa jutaan buku berkualitas, mengumpulkan kru dari berbagai belahan bumi, dan menyambut berbagai pengunjung dengan keramahan bak tuan rumah.




Kami bahkan sempat bertemu dengan kru asal Indonesia, dan rasanya selalu menyenangkan untuk menyapa saudara sedarah di tanah yang berbeda. Setelah berjam-jam berkeliling dan cukup mengabadikan pengalaman itu dalam jeprat-jepret senyuman, kami pun kembali pulang ke penginapan. Di perjalanan bus Thailand yang nyaman, kami berdua dengan lollipop di mulut kami, tertawa kecil penuh syukur mengingat rangkaian kebetulan yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 48 jam.

Perjalanan itu mengajarkan kamu bahwa antrian terpanjang dalam hidup kadang adalah antrian dari kesialan menuju keberuntungan. Tak ada jalan pintas dalam antrian, itu catatan pentingnya. Satu-satunya cara adalah tetap di jalur, berusaha menikmati setiap menit dan setiap langkah. Dibuka dengan ketidakberuntungan yang mengesalkan, menuju pada sebuah kapal besar ajaib yang menepi di pelabuhan. Antrian kami menghabiskan banyak baht, keringat, dan nyaris menguapkan semangat. Namun memaksa diri untuk tetap mengikuti naluri perjalanan tanpa tergesa untuk pulang, membawa kami pada kepuasan besar.




Karena suatu hal murid les saya mendadak ketakutan akan pikirannya sendiri. Bocah kelas 2 SD yang jago bahasa inggris itu, terisak keras sembari memegang kepala berusaha melupakan suatu kata yang menghantui. Sampai di satu titik kala sudut matanya masih basah, dia menangkupkan tangan sembari menengadah ke saya yang memang lebih tinggi, lalu berkata: "can you pray for me?"


Hati saya luluh, Seorang makhluk polos di hadapan saya dengan sangat santun meminta sesuatu yang tidak akan pernah menjadi terlalu mahal untuk dilakukan: DOA.

Sebagai guru di sekolah rohani, sebagai anak dan adik, sebagai kakak bimbing, sebagai sahabat, dan sebagai pacar, memimpin doa bukanlah hal yang asing. Sedari kecil papa saya sudah membiasakan untuk saya memimpin doa di meja makan. Menampung sebuah private message berisi "dis doakan aku ..." Juga terlampau sering saya terima. Tapi sore ini ada seorang bocah yang sangat bergumul dengan karakternya memohon guru les yang baru ia kenal seminggu untuk menghadap Pencipta. Entah kenapa saya begitu terkesan dengan adegan tadi. Setiap kata dan ekspresinya seakan berjalan lambat berulang di otak. 

Kita tidak pernah tahu dari mana pelajaran akan didapat, kita tidak pernah tahu berkat macam apa yang hadir lewat seseorang, dan jelas kita tidak pernah bisa menerka orang atau kejadian seperti apa yang dapat Tuhan pakai untuk mendidik kita. Siapa sangka dari anak SD, seorang dewasa justru ditegur.

Sangat penting agaknya untuk mengenalkan tentang Pencipta sedini mungkin pada seorang individu. Indah sekali lho saat kita mengalami kesusahan, kita tahu kemana kita harus pergi. Dan bayangkan saja jika itu terjadi sejak sekolah dasar atau bahkan sebelumnya. Tidak ada jaminan memang seorang anak yang dikenalkan Tuhan sedari kecil akan mudah dididik atau pasti jadi anak yang baik, tapi poinnya adalah dia tahu bahwa segala hal dapat dia bawa ke Tuhan dan tahu pasti bahwa Dia dapat diandalkan. Ketika seseorang tahu bahwa dia harus berdoa minta tolong saat PR-nya sulit, saya yakin itu akan membiasakan dia juga merendah untuk masalah-masalah lebih besar dalam hidupnya kelak, untuk belajar tunduk mengandalkan Dia.

Dari sisi saya sebagai orang dewasa, adegan ketulusan tadi mengingatkan apa yang Paulus pernah bilang "Dia menggunakan yang bodoh untuk mempermalukan yang bijak", begitu kira-kira isi suratnya dan begitu pula simpulan kejadian tadi. Saya jarang sekali berdoa belakangan ini, bukan karena saya merasa mampu, tapi simple karena saya tahu bahwa solusi dari masalah adalah tindakan nyata. Saya lupa satu hal: meminta tolong pada Empunya hidup. Meminta arahan dan kekuatan, saat melakukan tindakan-tindakan tersebut. Kadang kita memisahkan antara hal rohani dan non-rohani, untuk yang kita kira perkara rohani kita getol doakan tapi untuk sebagian yang tidak rohani kita cuek bebek dengan pendapat dan pimpinan-Nya. Padahal bahkan perkara degup jantungpun adalah sebuah kemurahan Pencipta. Aneh sekali jika kita mengkotakkan perkara antara "silahkan Tuhan, masuk dan tolong aku" dengan "tidak perlu Tuhan, ini bukan tentang aku dan Engkau."

Seorang bocah yang ketakutan dengan kata "cookies monster" tahu bahwa dia harus lari ke Tuhan dulu sebelum berupaya menghapus ketakutannya. Masakkah kita lupa bahwa kita harus lari padaNya dulu untuk sgala sesuatu?



Semoga memberkati :)



13 November lalu menjadi catatan penting bagi kita betapa semakin keji dan kejamnya kehidupan. Isu terorisme terus bergulir di berbagai penjuru dunia. Kita menjadi mudah untuk berkata #prayfor #paris #lebanon #baghdad apalagi dengan sosial media yang kita punya. Tren masa kini adalah jempol kita bergerak lebih cepat dari aksi yang ada. Quote yang saya angkat merupakan wujud sindiran bagi kita yang sangat getol menampilkan empati kepada dunia luar yang begitu jauh tapi kesulitan untuk mencintai sesama kita di sekitar.


Mewujudkan kemanusiaan tidak selalu berarti kita terjun ke lapangan sebagai tenaga sukarela ataupun mengekspos berbagi kalimat empatik. Satu hal yang tersisa untuk kita jawab: "sudahkah kita benar-benar menjadi orang yang baik bagi teman kerja kita? Sudahkah kita berhenti dari kebiasaan menggosip? Sudahkah hati kita damai dan terjauh dari perasaan tersinggung?"

Saya mengamati satu kebiasaan dari para pengguna sosial media di Indonesia atau mungkin dunia. Bahwa perdebatan pro dan kontra selalu menjadi hal menarik dimana semakin itu panas justru semakin baik. Masih soal prayforparis ya, saat saya menengok laman facebook saya, sebuah paragraf panjang tersodor dari seseorang yang sedang mengajukan opininya. Dia mengekspresikan rasa gerah akibat sindiran orang lalu tak lupa disusul bumbu pembelaan. Satu alis saya naik. Tanpa disadari perilaku yang mudah tersulut dan terhasut inilah yang mengabsenkan damai sehari-hari. Mudah sekali terganggu dengan respon orang lalu memberikan respon balik dan terus bergulir.

Jika karena satu ucap teman kita hati kita sudah dipenuhi amarah, jika kita gagal mencintai orang yang tinggal seatap dengan kita, sungguhkah kita sudah lebih baik dari mereka yang menghabisi nyawa?

Memang kita tidak sampai membunuh orang, tapi standar Tuhan begitu tinggi. Jika kita MEMBENCI saudara kita maka kita tak ubahnya pembunuh. Belum lagi fakta bahwa tindakan kriminalitas seperti itu tak jarang adalah akumulasi kebencian. Tanpa disadari kita ambil peran di dalamnya. Akibat tidak banyak orang yang menabur benih kedamaian, hingga yang bertumbuh subur justru amarah yang menumpahkan darah. Sekali lagi saya bertanya, sungguhkah kita sudah lebih baik dari 'mereka'?

THINK TWICE!
Pendeta penuh sahaja itu adalah salah seorang gembala asli dari GKI Residen Sudirman, tempat saya berjemaat lima tahun terakhir. Walau tak mengenal tapi saya tahu persis namanya. Usianya belum terlalu tua dengan perawakan tergolong kurus dibandingkan para bapak lain yang mulai menimbun kegemukan di perut. Di barisan tengah, saya mengikuti ibadah seperti biasa sampai akhirnya insting sok tahu saya bergeming.

Tak biasanya, sebuah pembawaan karismatik terpancar dalam gaya luwes bapak itu sehari-hari. Kesan menggebu-gebu dalam bingkai kontrol yang mengagumkan tercermin. Ada penekanan yang berulang soal ketaatan dalam penderitaan sebagai umat Tuhan sebagai manisfestasi tema utama ibadah. Dari tengah hingga akhir khotbah suara pendeta itu mulai gontai. Ada nada yang tak terdefinisikan tersembunyi di balutan jas hitamnya yang gagah, hingga akhirnya mata itu berkaca-kaca. Jemaat -atau mungkin hanya saya- semakin terenyuh. Iya, tidak dapat disembunyikan sang pengkhotbah sedang menghayati benar isi pesan yang ia bagi. Merinding mampir. Di kala kalimat "walaupun kadang kita tidak mengerti kenapa Tuhan seakan diam pada masalah kita ..." terucap, upayanya untuk tetap tegar terkalahkan dengan tetes air mata. Saya tidak tahu kenapa beliau sore ini menjadi begitu emosional, tebak saya adalah mungkin ia sendiri sedang dalam pergumulan berat. Seakan kalimat ajakan yang ia pakai untuk menguatkan para jemaat sedang ia coba laksanakan sendiri. Tidak mudah mungkin, hingga harus ada tetes air jujur keluar dari sudut kelopak matanya.




Menjadi pewarta Firman, tidak selalu berarti bahwa ia telah tuntas melakukan isi khotbahnya, mungkin di detik ia membagi di saat yang sama persis itulah ia sedang mencoba. Salah besar jika kita asumsikan bahwa bahwa pelayan Tuhan adalah yang sudah beres total hidupnya. Memang, sudah seharusnya perkataan dan tindakan menjadi seirama, tapi kala itu masih proses ada kalanya kita memperkataan kebenaran sebagai pedang bermata dua: memberkati orang lain sembati mengoreksi diri sendiri. Sayang sekali jika kita kerap berkata: "anda lho bisa khotbah kok malah gak bisa lakuin." Proses adalah bagian hidup SEMUA ORANG tanpa terkecuali, metodenya berbeda tapi agaknya bukan didasarkan pertimbangan status tertentu.

Usaha sang pengkhotbah untuk menekankan pesan berharga itu lantas membuat saya teringat sesuatu. Betapa banyak orang yang menolak sebuah kesempatan pelayanan dengan dalih "aku belum siap" atau dengan kalimat yang lebih rohani "aku belum layak". Pertanyaannya adalah: Sungguhkah kita merasa akan layak nantinya? Tidak akan! Benarkah kita akan merasa siap suatu hari? Belum tentu!

Bahkan seorang pendetapun berjuang di tengah segala kondisi serta karakter yang sulit, tapi toh Tuhan berkenan memakai dia. Kenapa? Karena memang tidak ada seorangpun yang dipanggil karena kesempurnaan. Justru tahta panggilan yang Ia mandatkan adalah ruang untuk kita berproses menuju keserupaan dengan Pencipta. Itulah kenapa pelayanan disebut sebagai anugerah, karena itu samasekali di luar kelayakan kita.

Momen emosional tadi dengan lantang menggiring saya pada penghayatan: "tetap melakukan beban panggilan bahkan saat kondisi tidak nyaman," sebuah teladan yang bukan saja saya dengar namun telah saya saksikan.

Akhirnya kami semua -dia sang Pendeta dan kami para umat- larut dalam senyap, kami tunduk dalam durasi doa yang lebih lama dari biasanya. Dan kala ucap 'amin' terdengar, senyum teduh sumringahnya telah kembali. Sebuah kesimpulan dan 'permainan' ekspresi yang mengagumkan!
guilty pleasure
(:n) something you shouldn't like but like anyway
(:n) something that you love to do but just cannot admit that you do it

Everybody tend to have something called guilty pleasure. Maybe for extreme side the example are about porn and drugs, but if we open our mind wider and be honest to ourselves, the guilty pleasure can transform in so many forms: food, social media, clothes, movie, game, or even laziness.

Why it's called guilty?
Why it's called pleasure?
Both words are totally opposite. The first one is about feeling regret and the second one drag us to the comfort state of mind. Some activities make us confuse to define "is that a good thing to do? May I? Why shouldn't I?" We afraid of what people will see. We are live in society that push us to the always-think-twice area. Their construction of 'good' or 'bad' is affect us all the time. I didn't say it's a bad thing anyway, and the fact is I cannot imagine how chaos the world will be if every person doesn't has any guilty feeling at all. Same side of it, we desperately need a reason to be excited. Since every time our adrenaline up or after we finish our favorite meal, we can feel statisfy. That feeling help us to enjoy life.

We need both of them! The problem comes when we failed to place each in right portion. Too many guilty feeling prove that maybe we are already overthinking and be the person like what people wanna see. What I try to say is for some things that absolutely wrong like porn and drugs, we shouldn't give any compromise. The real face about pleasure is not worth to be placed at those terms. But for so many many things else, I think we must keep being ourselves without spending too many times worrying about people's opinion. 

Let me give an example.

Weekend has similar meaning with 'time to hang out' but for some people -introvert especially- spending time in their room is a great pleasure. People tend to judge that maybe she/he are a geek or weird person just because she/he ignore one hang out invitation at the weekend. For me -about that case, being home and have self-time for introvert person is a truly pleasure so it's not necessary to add the word of 'guilty' at all.

And what will happen if we only think about pleasure?
Of course, it will hard to us to be responsible. 'Pleasure is just a bonus, not a priority' I ever read that statement and it's kinda worth remember. We must underlines that statement as a good reminder. Because at the end maturity will help us to figure it out that life doesn't always agree with our plan. Even happy ending is not always exist in the way we want.

We need extra careful to maintain our behavior in this judgmental environment, while still having a chance to be ourselves. Guilty-side seems need little bit free-soul when pleasure-side totally need enough maturity. Each control another. We have to remember that all the extreme side and whatever that too-much is not really good.



Aku dan riyan memulai pacaran sebelum akhirnya jadi sahabat karib. Malam ini ngerasain banget enaknya punya pacar multi peran. Dari kakak yang cerewet ingetin ini itu, partner seiman buat saling bahas Firman dan doa bareng, dan salah satu yang paling signifikan adalah sebagai sahabat.

Riyan gak terlalu suka kalo aku umbar masalah di publik khususnya sosial media, baginya itu akan buka kesempatan cowok lain untuk kasih perhatian yang berpotensi ganggu hubungan kami. Ke sahabat cewekpun demikian, dia ingatkan: "nanti saat sudah menikah dan muncul masalah, apakah kamu akan lebih cepat ngobrol dengan sahabatmu atau denganku?" Bagiku ini masuk akal, walaupun itu samasekali gak berarti kami tidak membutuhkan sahabat lain. Tanpa disuruhpun setelah menikmati persahabatan dengan pacar sendiri, sosial media jadi pilihan akhir untuk curcol. Tiap malem selalu ditanyain "gimana hari ini?" dan aku bisa cerita apapun, bener-bener APAPUN soal nano-nanonya hari tersebut. Belum lagi saat seperti malam ini, ada dua kejadian gak enak yang aku rasain dan aku cuma chat bilang "mas, aku ..." Sesegera itu telpon berdering, di layar hp lawasku nama riyan nongol dengan nada khawatir dan empati. Di laen waktu, saat harus menghadapi kegagalan, riyan sempatkan bilang ke aku "makasih sudah berusaha". Kalimat sederhana yang mengalihkan kesedihan pada sebuah kebesaran hati yang memulihkan.


Sahabatan ama pacar sendiri ataupun pacaran ama sahabat sendiri itu sama-sama enak, tapi catatannya adalah keduanya tidak serta-merta terjadi. Dua kepala dan dua latar belakang, artinya ada dua perbedaan yang besar harus dipertemukan. Mutlak butuh waktu. Awal-awal pacaran kami acap berantem karena beda gaya dalam definisi "sahabat yang baik". Bagiku itu berarti "mendengar banyak" dan bagi riyan itu sinonim dengan "memberi (saran) banyak". Lalu mana yang benar? Irisan keduanya, porsi takaran mendengar dan memberi saran yang seimbang, dengan bahasa dan timing yang tepat! Aku bersyukur riyan mengijinkanku memimpin untuk mengintisarikan pergolakan ini sebagai sebuah resolusi dan komitmen bagi kami berdua. Langsung berhasil? Ohhh jelas tidak! Tapi yg penting akhirnya ketekunan dan kasih menghasilkan buah manis. Menjadi saling membutuhkan, itu perasaan yang aman yang membahagiakan.

Saat ini aku menikmati hubungan yang sangat stabil, tanpa disadari melalui masa-masa sulit di awal karena penyesuaian karakter, lalu disusul dengan berbagai masalah keadaan (pekerjaanku ataupun pekerjaannya), itu semua menumbuhkan rasa sepenanggungan kami. Obrolan kami sehari-hari tak ubahnya dua sahabat karib. Dari perkara industry oil and gas, berita politik, postingan lucu 9gag, kisah masa kecil, hingga rahasia keluarga, bisa kami bagi.

Dan sangat nikmat memiliki hubungan dimana pertanyaan "gimana kamu hari ini?" menjadi sama mesranya dengan kalimat "Iloveyou" :)


-diketik sangat cepat dan penuh syukur seusai berpamit tidur-
Saya tahu bahwa kebaikan Tuhan bukan hanya soal memberikan kemudahan tapi juga tentang kekuatan saat hal sulit terjadi..

Tapi yang saya baru tahu adalah hal ini: 

Ternyata Kebaikan Tuhan juga soal bagaimana Dia memampukan kita PULIH dari sesuatu yang sangat berat melukai..

Minim mawas kita tidak sadar bahwa ternyata merupakan berkat besar untuk kita diijinkan kembali melanjutkan hidup ini dengan sebuah cara pandang yang dipulihkan, bahwa hari depan menyimpan banyak sekali keindahan dibandingkan segala luka yang terjadi di hari lalu. Saya bersyukur sebagaimanapun kemelut keluarga saya dulu, hari ini saya boleh berdiri dengan kepercayaan bahwa saya bisa membentuk keluarga yang jauh lebih baik ke depan. Tidak ada skeptisme, hanya ada iman yang terus dirangkai dalam usaha dan doa.





Untuk tetap percaya setelah dikecewakan
Untuk mau mengusahakan yang terbaik di masa depan, tanpa dihantui kegagalan yang lalu
Untuk tetap mengasihi bahkan usai disakiti
Semua ini adalah berkat-tak-tersadari yang dapat saya (dan Anda) nikmati


Kebaikan Tuhan (sekali lagi) bukan hanya soal memberikan kekuataan SAAT hal buruk terjadi tapi juga memberikan pemulihan SETELAH hal itu terlewati..


Sudah fakta lawas bahwa menjadi guru bukanlah hal mudah, tapi harus diakui menjadi guru Pendidikan Kewarganegaraan memiliki tantangan khas tersendiri. Berdiri menjelaskan tentang Negara di hadapan para siswa yang mungkin sudah bosan dengan berbagai kabar buruk tentang Indonesia, samasekali tak mudah. Suatu kali saya membuat sebuah kuis di kelas, lalu di pertanyaan terakhir saya sisipkan satu perintah: "tuliskan tiga hal yang kamu kagumi dari Indonesia." Serentak saya dihujani berbagai protes. Dengan nada mengeluh para siswa kebingungan mencari apa yang baik yang bisa dibanggakan di negeri ini? Kebingungan ini agaknya beralasan, sebab berita terlalu berisik dengan carut marut politik. Kejadian ini membuat saya berpikir:

sungguhkah mereka tidak tahu betapa banyaknya hal cantik dan menarik di Bumi Pertiwi?

Hal ideal selalu terbentur dengan pesimistis pikiran, namun tantangan kadang sinonim dengan peluang. Sejak saat itu saya bertekad memanfaatkan status sebagai tenaga pendidik untuk beraksi, didukung oleh kemajuan teknologi yang sayang jika tak dimanfaatkan. Saat pembahasan sampai pada topik globalisasi, terpikirkan oleh saya sebuah rencana aksi yang sedikit banyak akan membuat mereka paham tentang hal indah dari Indonesia. Tetap berbalut dengan pelajaran PKN, saya mencoba mengintegrasikan kemampuan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi khas globalisasi dengan kecintaan akan negeri.
Proyek ini saya namakan: Promote Indonesia. Bukan nama yang unik apalagi bombastis, tapi ada niat tulus di baliknya. Jangan kira penerimaan siswa akan hal ini berjalan mulus, banyak juga keluhan yang menghampiri meja saya. Bagaimanapun menyerah pada kemalasan atau komentar negatif tak akan memperbaiki keadaan. Saya sepenuhnya sadar bahwa kebanyakan siswa melakukan ini bukan karena sungguh mencintai Indonesia, tidak lain karena tuntutan dan keinginan akan nilai yang memuaskan. Tapi tak apa, setidaknya dengan tugas ini mereka 'terpaksa' mencari informasi tentang surga-surga terpencil dan keunikan kuliner di Indonesia.
Screenshot salah satu tweet siswa - dokumen pribadi

Melalui ini saya harap mereka sejenak beralih fokus dari pemberitaan negatif menuju fokus akan banyak hal yang bisa dibanggakan dari negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Kegiatan ini sangat sederhana pada dasarnya, memberikan kewajiban para siswa memanfaatkan  jejaring sosial untuk membagikan tentang hal positif dari Indonesia. Pilihan jejaring yang saya tawarkan adalah Instagram dan Twitter, mengingat penggunaan tagar lebih efektif dalam penyebarluasan isi pikiran. Aksi kerja sama Guru PKN bersama 76 siswa SMP untuk mempromosikan Indonesia ini berlangsung dua minggu, dengan topik wisata di minggu pertama dan kuliner di minggu kedua.

screenshot karya siswa di instagram - dokumen pribadi

Teknologi komunikasi informasi memang tak kebal dari celah kriminal dan penyalahgunaan, namun di jalur yang tepat, dengan strategi tertata, dan pastinya kesungguhan yang bersih, maka manfaat akan dapat diraih.

Tindakan ini adalah cara saya memanfaatkan 'hegemoni' sebagai guru menggerakan siswa untuk ambil tindakan! Dampaknya adalah para siswa belajar menggunakan jejaring sosial untuk hal yang berguna, membuat mereka mencari tahu tentang negerinya yang begitu indah, serta membagikan opini atau informasi positif tentang Indonesia kepada para penghuni dunia maya lainnya. Aksi kecil lebih baik daripada tidak bertindak samasekali, aksi bersama lebih ampuh daripada aksi seorang diri. Hanya berupa tweet atau share foto di instagram, tak masalah. Itu lebih baik daripada hanya mengkritik dan tidak berbuat apa-apa. Bukan begitu?
Salam dari kelas PKN.
Sudah sore, ini saatnya aku membangunkanmu. Lalu kamu datang dengan nada tak seramah biasanya. "Tidurku ga nyenyak" begitu katamu. Setelah kutanya, terungkaplah bahwa 'dia' yang kita rindukan telah mencuri lelapmu. Kamu berpikir soal strategi kali ini, sebuah logika dalam memilih.

Tahukah kamu?
Ada perasaan sedih padaku, selalu sedih, setiap kali ada hal yang mencuri senyummu. Tapi di balik gusarmu, tersirat banggaku. Sebuah kebanggaan terhadap pria yang serius memikirkan masa depan dan sebuah kebanggaan besar karena bisa menemanimu di masa sekarang.

Dia yang adalah benda penting kelak bagi keluarga, dia yang tidak bisa berpindah tapi mengharuskan kita untuk berpindah (mungkin) menjauh dari Surabaya -kota kecintaan kita berdua.

Hidup ini memang begitu sayang, tidak selalu kenyataan mengangguk setuju pada rencana. Pun Tuhan kadang berkata tidak, alih-alih jahat itu murni karena Dia siapkan yang lebih baik. Iya, hidup kadang seberantakan itu, memporakporandakan kedamaian dimulai dari sebuah tidur siang. Aku di sini bukan untuk merapikannya, aku memastikan bahwa api asamu masih menyala.

Sayang.. Ketahuilah setiap kali kamu datang dengan keluhan, ada secuil hatiku mengasihani diri sendiri. Bukan, samasekali bukan mengeluh karena keberadaanmu. Justru atas fakta bahwa aku tak banyak membantu, saranku juga kadang tak ampuh. Hanya terus berharap hal sederhana semacam surat terbuka ini ada maknanya.


Sediaku hanyalah selalu meminjamkan telinga. Siagaku itu tentang baris doa.

Tak ada hidup nihil masalah, tapi selama kamu mau mencoba maka aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap ada mendukungmu pula menyemangatimu, sayang.

Kalimat-kalimat indah di alkitab bisa kamu baca sendiri untuk menguatkan imanmu, tapi toh aku selalu ingin mencoba mengembalikanmu pada pengharapan yang sempurna. Kata semangatpun kadang tak berdaya, tapi toh tetap aku ucap semata agar kamu ingat bahwa itulah kewajiban kita. Tetap SEMANGAT.

Semangat itu tentang kemampuan tersenyum dan berbisik "Tuhan aku percaya." Semangat itu juga soal berkata "oke memang sulit, tapi aku akan mencoba."

Boleh prihatin, sejenak menggugah ketidakmampuan diri. Tapi lakukan itu sebentar saja ya sayang, lalu kembalikan seri indah muka tampanmu. Jangan bermuram karena masa depan kita tak suram. Jangan ciut bahagia, ini hanya tentang "BELUM" dan bukan kata "TIDAK BISA". Dan kuatlah besarkan jiwa! Karena tanpa disadari kamu punya dua otak, empat mata, empat tangan, dan empat kaki.. kala berjuang. 




Terpenting, kamu punya dua puluh jari tangan untuk melipat tangan memohon belas kasih pada sang Pencipta besar. Mungkin tambahan jari itu akan mempercepat doa kita sampai padaNya. Kalaupun tidak, berarti tambahan imanlah yang sedang darurat kita butuhkan. Apapun itu, semangat selalu PERLU!!

Jadiii... Sudah bisa tersenyumkah kamu petang ini? 

"Orang yang bersemangat DAPAT MENANGGUNG penderitaannya, ..." (Amsal 18:14a)