Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Kemejaku berwarna ungu dan kemejamu berwarna merah muda pucat. Dengan rambut yang lebih rapi dibandingkan barisan tentara militer dalam upacara, kau menjemputku. Sepeda motormu tetap satu yang usang itu, walau aku tahu persis kau punya cukup uang untuk membeli yang baru. Entah apa istimewanya ia. Kita pergi bersama, berdua seperti biasanya. Tidak jarang orang menganggap kita kekasih dan kita tidak pernah membantah walaupun asmara sudah kita kubur lama. Dari hujan-hujan saat hendak membeli koper, mendapatkan bantal di sebuah undian kecil di pusat perbelanjaan kala natal, hingga ke ulang tahun ponakanmu, aku tidak mengingat satupun itu sebagai rutinitas biasa. Kau selalu menjadikan segalanya renyah, dan mungkin itu juga pesonamu. Ibarat minuman kau adalah seteguk choco-orange, manis namun tetap energik.

Sore itu kita keluar menghabiskan waktu di sebuah kafe atau resto lebih miripnya. Sofa berwarna abu-abu yang nyaman di area outdoor dekat kolam ikan. Sambil menunggu hidangan tiba aku mengeluarkan bingkisan kecil. Misimu adalah menraktirku entah juga dalam momen apa tepatnya, tapi misiku berbeda. Memberi hadiah adalah satu-satunya agendaku, yang aku tuntaskan dengan ditemani aroma segarnya daun tanaman gantung dan sepiring makanan Italia. Dompet coklat ada disana, ditambah sebingkai typography indah karya tangan seorang sahabat yang sudah aku pesan berminggu-minggu sebelumnya. Kau sangat terharu, sisi melankolismu seketika mencuat. Dalam posisi tulang leher sedikit merendah kau meminta maaf karena tak ada satupun hadiah yang kau siapkan. Kau hanya berjanji bahwa tahun depan, di bulan Desember, kau akan berikan satu hadiah balasan.

Di dompet itu aku jejalkan potongan kertas parfum dengan pesan-pesan tertentu. Anggap saja itu usahaku menjadi anti-mainstream dalam mengemas kartu ucapan. Di ruang transparan yang seharusnya berisi foto, aku isi kalimat doa supaya kamu segera menemukan sosok yang tepat mengisi ruang itu. Ruang hatimu dan ruang di dompetmu. Bisik itu tanpa ku sangka dikabulkan cepat oleh Pencipta. Kau kini berpasangan. Dengan motor baru kau ke kostku dan memberikan kabar secara tatap muka bahwa tambatan hati telah kau temukan dan pilihan telah kau tetapkan. Rona syukurmu tidak kalah cerah dari fajar pagi, sumringah yang gagal menyembunyikan bahagia. Aku turut bahagia walau ada bumbu cemas sulit diabaikan.

Beberapa bulan berjalan saat berbagai isu di televisi muncul hilang bergantian. Frekuensi komunikasi kita berkurang dan itu wajar. Persahabatan selalu berubah sedikit ataupun drastis saat salah satu sudah berpasangan. Kabar barunya adalah kau akan segera bertunangan. Undanganmu menorehkan senyum, sebab ternyata aku masih kau perhitungkan sebagai kawan dekat. Tanpa pikir panjang, aku lincah mencari tiket menuju pulaumu. Cuti juga aku ajukan untuk menyempatkan hadir melihatmu bertukar cincin untung-untung jika sekaligus dapat mengunjungi danau Toba, destinasi impianku.

Walau musim sudah berantakan karena pemanasan global, tapi gerimis rutin masih setia hadir di akhir tahun. Desember ini basah seperti tahun-tahun lalu. Sebagai tuan rumah kau mengganti kesediaanku merogoh kocek lebih untuk tiket pesawat dan gaji yang berkurang akibat cuti, dengan layanan prima. Kau menawarkan untuk menjemputku di bandara. Tapi... lagi-lagi ada sesuatu yang mengusikku. Entah apa itu. Aku tak berani menebak karena walaupun sesekali intuisiku tajam tapi di banyak waktu yang lain otakku begitu bising namun ompong tiada akurat. Tidak tahu lagi soal kali ini.
"Tunggu di lobby ya. Aku akan menjemputmu bersama Janice"
Begitu kalimatmu yang hampir tertelan berisik angin dan hujan. Antusiasme membanjiriku karena secara perdana akan berkenalan dengan Janice gadis pujaanmu, seseorang yang kau sebut 'anak gadis yang manis'. Tetap, secercah firasat penuh ambiguitas terus menjerit.

10 menit.. Setengah jam.. Hingga satu jam berlalu dengan penantian kosong di lobby bandara. Satu gelas choco-orange kesukaanku sudah habis namun kau serta Janice tak kunjung hadir. Inisiatifku mengambil handphone bertepatan persis dengan satu panggilan masuk dari nomor yang tidak aku kenal. Aku angkat tanpa sedikitpun berpikir, isak tangis terdengar dari seberang sana. Firasatku benar. Mamamu mengabari berita terburuk yang dalam sepersekian detik aku umpamakan sebagai ilusi semata.

Kau kecelakaan dan meninggal di perjalanan menjemputku. Hatiku remuk.

Diantar taksi, aku bergegas ke rumah sakit yang diinfokan mamamu dengan gontai. Di ruang itu aku melihat tubuh wanita, yang aku tahu pasti adalah Janice, penuh luka. Tidak banyak barang yang diselamatkan dari jenasahmu, hanya dompet yang aku kenal persis dan jam tangan yang sudah pecah. Handphonemu entah diambil siapa. Aku tidak menangis barang sedikitpun di senja itu, bukan berarti nihil sedih namun karena tidak cukup mampu. Kadang orang lupa bahwa meneteskan air mata juga butuh kekuatan. Aku tidak punya itu.

Aku tak peduli lagi soal cuti, dipecatpun aku acuh. Hanya satu inginku, terus bersama mamamu yang sendirian setelah kepergian papamu dan (calon) tunanganmu yang sedang memulihkan tubuh sekaligus jiwa yang tergoncang. Aku berusaha hadir utuh, memberikan kekuatan yang juga sebenarnya abstrak di sisiku. Pekan berganti bulan. Kami bertiga semakin erat: aku, mamamu, dan Janice.

Kesedihan itu menyatukan kami. Sebagai mama yang kehilangan anak, gadis yang kehilangan kekasih, dan aku yang kehilangan sahabat. Kami menjadi kompak dan saling menguatkan bahkan bertahun setelahnya.

Tanyakan kabar kami sekarang, maka aku beritakan kepadamu dengan lega: Mamamu yang sempat sangat kurus sudah doyan makan dan mau hadir lagi di arisan keluarga. Janice berlatih membuka hati, tanda dia sudah mulai pulih. Dan aku disini? Entah apa yang berubah drastis, tapi aku bisa tersenyum dan dengan bangga kukatakan bahwa sahabat terbaikku sudah menepati janji. Kau memberikanku hadiah dua wanita hebat di Desember ini sebagai ganti hadiah yang lupa kau siapkan tahun lalu.





Sekarang di dompet coklatmu itu aku taruh foto kami bertiga, karena aku tahu pasti inilah tiga wajah yang mengisi ruang hatimu. Sekarang pergilah dengan tenang, kami saling menjaga dan akan baik-baik saja..
Saya tahu jelas, tidak semua pertanyaan perlu dijawab dan pandangan miring melelahkan untuk ditanggap. Dan... saya paham benar beberapa orang bertanya bukan karena peduli, bukan pula disponsori kerinduan melihat lebih jauh sebuah kisah dari sudut pandang orang pertama, namun murni sekedar penasaran.

Bagaimanapun saya ingin tetap menjawab banyak tipe pertanyaan semacam ini "anak HI kok jadi guru akhirnya? Ga eman?" Atau sebuah tanda tanya yang memojokkan "magang di luar negeri kok ujung-ujungnya (cuma) jadi guru?"

Di akhir Januari ini tepat 3 tahun lalu saya mulai melakukan magang di KBRI Bangkok, dan saat ini bukannya di Kemenlu ataupun KBRI tertentu, saya memilih menjadi guru. Aneh kah?



Perjalanan hidup tidak selalu terduga, bukan?! Dimulai dari guru paruh waktu empat bulan, satu tahun menjadi guru penuh waktu, satu tahun penuh menganggur, hingga saya menyadari bahwa ini panggilan hidup.

Pernah satu kali saudara Riyan bertanya hal senada, dan saya menangis seketika merasa terpojokkan dan sekelibat hina. Saya bersembunyi di punggung kekasih saya itu menutupi sudut mata yang basah. Riyan dengan kharisma penuh kasih melindungi dan mewakili saya memberi jawab: "iya soalnya itu panggilannya adiss dan disitu dia nyaman, mbak."

Kalimat yang sama akan saya berikan kepada semua orang yang terheran kenapa seorang sarjana HI memilih menjadi guru: rasa nyaman dan wujud ketaatan akan panggilan.

Sekali lagi.. Jika ada yang mau bertanya kenapa saya jadi guru, hanya itu jawabannya yaitu karena saya mau taat ke Pencipta dan itu membuat saya bahagia. Tidak kurang tidak lebih. Kalau panggilan hidup bisa kita tawar-tawar saya juga tidak akan memilih bidang yang membuat saya harus menampung banyak pandangan sinis ini. Saya akan memilih panggilan hidup sebagai presiden atau setidaknya di dunia perpolitikan dan mengambil andil signifikan dalam pemerintahan Indonesia yang semrawut ini. Tapi setelah satu tahun yang rumit saya paham bahwa ruang kelas adalah ladang yang Tuhan percayakan.

Lalu apakah eman sudah kuliah HI namun berujung menjadi guru? Sekali-kalipun tidak. Saya yakin pasti bahkan urusan sesederhana tanggal lahirpun Dia atur, maka keputusan dan kesempatan sebesar kuliah di HI Unair samasekali bukan kebetulan. Bertemu banyak dosen yang penuh wawasan, membaca banyak buku kelas dunia, bertemu banyak orang hebat, dan pastinya berlatih menulis. Tidak sedikitpun saya sesali ini.

Begitu juga soal magang di luar negeri. Magang di KBRI dan menjadi guru, adalah dua hal yang berbeda dan tidak relevan disandingkan. Setidak relevan kalimat "kamu pernah mendaki gunung kok sekarang jadi manager fashion retailer" #nahloh Tidak harus toh semua keputusan langsung berhubungan dengan tujuan hidup ini. Misalkan seorang dokter apakah tidak boleh memiliki pengalaman mengajar? Dan tidak selalu kan yang dulu aktif di LSM penghijauan harus menjadi menteri lingkungan hidup. Ketika saya melihat kawan saya yang dulu lulusan Harvard Model United Nation kini bekerja di bidang yang sepenuhnya berbeda, tidak ada sedikitpun pandangan aneh. Artinya, tidak seharusnya kita menjadi orang yang memaksakan satu pengalaman tertentu harus berkaitan erat dengan tujuan masa depan. Bukankah kita justru harus terbuka dengan banyak pengalaman? Karena akhirnya pengalaman itu selalu memperkaya, apapun pekerjaan kita akhirnya.

Orang yang berkata 'eman' hanyalah mereka yang menyempitkan hidup ini sebatas garis normatif "jika-maka". Jika kuliah hukum maka harus jadi notaris. Jika kuliah sastra maka minimal jadi penulis. Padahal hidup tidak sesempit dan selurus itu. Tapi justru disitulah keindahannya, penuh kelokan misterius yang membawa banyak pesan.

Menjelaskan hal inipun pasti masih memiliki celah untuk dihakimi. Tapi omongan orang tidak menambahkan sehastapun dalam hidup saya. Penjelasan ini akhirnya bisa terang-terangan saya bagi adalah karena saya sudah berdamai dengan semua pandangan miring semacam itu. Tanda bahwa kita sudah tuntas memaafkan adalah dengan keberanian untuk me-reka-ulang kejadian yang membawa luka. 

Awal saya memilih menjadi guru saya terus menyembunyikan rasa tidak aman dibalik kalimat 'cuma satu tahun kok'.  Tapi sekarang saat saya mendalami profesi ini, saya tidak peduli lagi soal durasi. Apalagi setelah keluarga kekasih saya senada berkata 'udah dis, terus jadi guru aja'. Kalimat super sederhana yang mengejutkan karena awalnya mereka terus menuntut saya memiliki pekerjaan yang lebih 'keren'. Bagi saya pribadi perubahan hati mereka hingga memberi dukungan semacam itu adalah sebuah perpanjangan tangan restu-Nya. Dan sama seperti banyak aspek dalam hidup, Restu Tuhan itu lebih dari cukup. Kali ini restu itu membuat saya mantab menenggelamkan jiwa di dunia pendidikan.

Saya sarjana Hubungan Internasional Unair dan sekarang saya seorang guru, saya bangga dengan itu :)

Tidak ada penjelasan tambahan. Ini bukan keanehan. Ini keyakinan, kenyamanan, ketaatan, dan keputusan penuh kesadaran. 
Semester lima saya saat itu. Pilihannya sederhana, fokus melanjutkan skripsi atau menantang diri akan petualangan baru. Saya dan lima kawan perempuan lainnya memilih yang kedua. Sesuai jurusan, tempat yang pas bagi kami magang pastinya KBRI. Kami mulai mengajukan proposal hingga singkat cerita kami diterima! Yihuuuyy.. bahagia bukan kepalang. Pertama kalinya saya akan naik pesawat, perdana pula pergi ke luar negeri (dan belum terulang sampai sekarang, hiks), bahkan bonus supernya adalah dapat tinggal selama sebulan. Syukur tak terhingga. Bermodal nekad, berbalut usaha, dan beratapkan doa, anak desa seperti saya bisa kesana. Masalah lain muncul, semua dana kami tanggung sendiri. Alhasil uang beasiswa saya kerahkan. Memang benar, kita selalu bisa menemukan alasan berjuang untuk sesuatu yang sungguh kita damba.

Tom Yum, itu menu pembuka kami sesampainya di Thailand. Dihantar oleh dua mahasiswa Indonesia, kami sambang ke sebuah kafe kecil. Letaknya tak jauh dari Victory Monument, disana kami menikmati semangkok hangat makanan khas Negeri Senyum. Kami ditraktir di malam mendung itu. Setiap sendok menjadj berkali lipat lebih nikmat, karena disponsori kebaikan dari orang yang bahkan baru kami kenal. Suap demi suap di tengah lelah namun penuh sukacita. Saya tidak akan lupa malam itu. Baik nikmat Tom Yum, juga kebaikan dua saudara setumpah darah, mas Hasan dan mas Arman.


Sebulan berjalan, banyak kuliner yang kami coba. Rata-rata yang murah, karena kami harus berhemat dan memastikan baht yang kami bawa dari Tanah Air cukup hingga sebulan ke depan.  Namun ada satu menu yang saya ingin ceritakan lengkap. Namanya Nasi Goreng Campur!

"Walah apa istimewanya?"
Mungkin begitu bantah Anda.

Eiiits tunggu dulu..

Pasca lelah berkeliling salah satu tempat iconic Thailand, saya dan kawan muslim berpencar mencari makan, Perbedaan prinsipal pemilihan makanan bukan hal yang menyulitkan kami samasekali. Cukup toleransi, kami dapat tetap menikmati hidangan Thailand sesuai selera. Secara random saya singgah ke satu tempat makan di sekitar Grand Palace, yang tak lain tempat kediaman Keluarga Raja. Nasi goreng itu tidak melewati proses menggoreng seketika pesanan tiba. Alhasil sudah siap saji dan tidak hangat. "Ah salah pilih nih" begitu ujar saya dalam hati. Tapi memang tak baik terburu menjustifikasi. Dugaan awal saya, salah. Salah total!

Foto versi cantik
Source: www.s-media-cache-ak0.pinimg.com

Nama tepatnya adalah Khao Kluk Kapi. Jika Anda mencoba mengetikkan nama tersebut ke mesin pencarian paman Google, maka akan muncul banyak gambar menggiurkan. Sampai sekarang, inilah nasi Goreng terenak yang pernah saya makan. Konsepnya sederhana. Nasi yang digoreng dengan berbagai bumbu dan bercampurkan terasi (Shrimp Paste) sebagai bintang utama. Nasi olahan yang berwarna merah tak pekat itu kemudian disajikan dengan beberapa topping penyempurna, seperti parutan mangga muda, sosis babi, tumis babi kecap, telur dipotong tipis, potongan buncis dan bawang merah. Saya tak menunggu lama untuk mulai memadupadankan setiap elemen di atas piring saya dan memindahkannya dengan penghayatan ke mulut lalu perut.

Versi apa adanya. Dokumen Pribadi
Secuplik Surga di belakang Istana Raja


Cita rasa yang sedap berpadu merdu dengan segala topping, membawa kesan tak terlupakan. Bukan menu yang riuh dibahas, namun cinta saya melekat disana. Satu porsi pencuri hati. Sungguh. Di tengah mengetik alinea di atas, saya terus harus menelan ludah merindukan sekali lagi suapan menu tersebut.

Berbagai kuliner murah meriah yang bikin rindu!
-Dokumen Pribadi-

Sebulan memang lama jika dibandingkan liburan yang hanya hitungan hari atau pekan. Tapi, kesempatan magang dengan dana minimalis ini telah membuat saya jatuh cinta pada berbagai hal dari Thailand. Tak kalah, kulinernya. Lezat cumi bakar di Chatucak, gurih kalajengking dan nikmat Pad Thai di Kaosan Road, es teh susu jumbo dan buah potong di depan Pantip Mall, durian super di sepanjang jalan Petchaburi dan pastinya nasi-goreng-tak-populer di kawasan Grand Palace. Sebulan magang yang seakan tak pernah kenyang, dan ingin terus mengulang ðŸ’•

Semoga, naluri lapar ini terpuaskan dengan kembali menjajakkan kaki disana.

Setahun lalu natal saya begitu kelabu. Tanpa pekerjaan yang artinya tanpa ada pundi rupiah di saku. Baju yang saya kenakan di natal tahun lalu tidak lain baju pinjaman dari kakak perempuan. Atasan putih dengan kain sifon lembut dan rok merah muda, saya masih ingat benar. Tahun lalu natal saya teramat sepi, tanpa sahabat, karena dua yang paling karib dengan saya sudah kembali ke tanah asalnya masing-masing. Walau kerap terdefinisikan sebagai sanguin bahkan ekstrovert bagi sebagian besar orang, namun keterampilan untuk memiliki teman sepenuhnya berbeda dengan keterampilan menjalin persahabatan. Saya tidak punya banyak sahabat. Tahun lalu juga tanpa pelayanan dan komunitas. Di natal itu hanya ada saya dan kekasih saya yang berdampingan memegang lilin dengan tatakan kertas berbentuk lingkaran berwarna coklat. Semua detail natal tahun lalu saya ingat dengan jelas. Siapa sangka menu tahun ini begitu berbeda.

Satu-satunya orang yang menemani saya di natal tahun lalu justru tidak ada di sisi. Namun semua yang absen tahun lalu, hadir saat ini. Ada pelayanan, ada sahabat datang, ada pekerjaan, dan pastinya ada baju baru.

Keuangan saya di bulan ini meningkat tajam, pikiran saya mulai menjelajah untuk membuat daftar apa saja yang ingin saya beli. Sebotol parfum merk tertentu yang telah mencuri hati saya bertahun-tahun lalu, beberapa perlengkapan basic make-up, dan  beberapa potong pakaian. Lalu teringat juga bahwa sepatu cantik saya sudah tergolong usang walau memang masih layak pakai, jika ada uang lebih mungkin saya akan membeli sepasang yang baru, begitu monolog pikiran saya. Rasanya tidak berdosa untuk sesekali memanjakan diri, pembelaan diri muncul. Sebulan penuh juga saya terus berpikir soal iPhone baru. Satu barang utama yang ingin saya beli.

Rencana mengunjungi pusat perbelanjaan saya atur dalam jadwal. Rencananya sepulang ibadah hari minggu. Tepatnya di advent ketiga. Saya dengan sengaja mengatur jadwal ibadah pagi agar ada sisa waktu untuk merealisasikan apa rencana yang ada di angan. “tangan yang penuh kebaikan” begitu tema ibadahnya. Ketika Firman diberitakan, dengan pemaparan, visualisasi, dan bumbu-bumbu humor, ada satu hati yang tertuntuk lesu.  Saya diam. Rencana ke mall saya batalkan dan saya bergegas pulang.

Di tepi kasur saya duduk, lalu menunduk. Saya melihat malu pada apa yang saya pikirkan sehari lalu soal apa-apa saja yang hendak saya beli. Natal sempat beralih makna, dari “memberi” menjadi “memanjakan diri.” Sejujurnya saya merasa begitu berdosa, entah naluri konsumtif dari mana yang timbul di diri Claudya ini. Biasanya saya tidak begini, saya tidak suka belanja, saya merasa baik-baik saja dengan hidup yang minimalis, dan sungguh syarat hidup saya sangatlah ringan.

Sore itu menjadi titik balik saya menghayati natal ini. Entah ide darimana, saya tergelitik membuka lemari baju saya dan disana saya temukan tumpukan pakaian yang lebih dari cukup. Di samping lemari saya memiliki dua kardus pakaian yang bahkan tidak pernah saya gunakan lagi. Lucu sekali saya merasa tidak punya cukup pakaian, kecuali memang arwah keserakahan sedang hinggap.

Dulu saat kuliah saya pernah menjual baju-baju saya bersama dua sahabat saya, mengumpulkan pundi rupiah lalu membelikan cemilan-cemilan kecil untuk dibagi di orang-orang segang kosan dari anak-anak hingga manula. Pernah pula saya berjualan online hanya untuk bisa berbagi sembako saat natal seperti ini. Tanpa gaji, sebagai mahasiswa perantauan dengan uang bulanan tidak lebih dari satu juta, saya bisa berbuat banyak bagi orang lain. Kini adiss telah jatuh miskin dengan gaji diatas UMR setiap bulannya.
Orang dikatakan kaya bukan karena memiliki banyak namun karena sanggup memberi banyak. Saya malu ke Tuhan dan diri sendiri.




Sendirian saya mengambil waktu untuk merenung. Kita kadang terlalu larut dalam hingar bingar natal hingga lupa apa makna natal sesungguhnya, apa yang terbesar harus kita koreksi di penghujung tahun, apa yang Tuhan rindu kita lakukan.

Dengan tanda tanya saya keheranan kenapa saya menjadi begitu ingin tampil cantik dengan pakaian up-to-date. Tidak lain adalah karena saya melihat betapa banyak kawan saya yang bisa berpenampilan menawan dan saya tidak. Iri, selalu jadi masalah saya sejak dulu. parahnya itu membuat saya menjadi orang yang pelit berbagi. Saya telah menjadi seburuk-buruknya manusia dan semiskin-miskinnya pribadi.
Kita tidak bisa berbagi bukan karena kita kurang memiliki, namun karena lupa seberapa banyak kita sudah diberkati.
Ingatan saya melangkah mundur dan mengurai kebaikan Tuhan di masa lampau dengan mengijinkan saya mencicipi banyak pengalaman yang saya rindukan; ikut sidang PBB, mengajar di pedalaman dan berlayar, lulus usia 20tahun, kerja sebelum sarjana, hingga melayani lewat menulis, semua yang sekedar saya ucapkan sebagai kerinduan, Dia kabulkan. Saya ingat sekali telah menulis “ke ranukumbolo” di 12 Juli 2014, Dia kabulkan tepat dua minggu setelahnya. Saya dibawa ke momen saat saya mendapatkan helm keroppi dengan keajaiban. Dari dulu banyak kawan seiman saya berujar soal saktinya doa saya, karena mereka terus menyaksikan betapa banyak pengabulan doa yang saya nikmati. Faktanya adalah itu semua TIDAK PERNAH saya doakan. Saya tidak pernah meminta, percayalah! Saya hanya berkeinginan dan Tuhan terlewat baik mengabulkan itu sebagai kenyataan. Inilai prinsip saya (dulu): “lupakanlah dirimu, maka Dia akan mengingatmu.”

Tahun ini prinsip itu terbuai dengan banyak godaan komparasi, hingga saya terlalu fokus dengan diri sendiri. Citra diri saya sempat terdistraksi dengan banyak hal di dunia maya. As we grow older, as we financially improve and have more access to the many things this world has to offer, it’s really easy to get carried away and forget our identity.

Akhirnya saya berdamai, sejumlah uang yang awalnya ingin saya habiskan sendiri saya belokkan untuk melakukan misi “menjadi berkat” dan damai sejati hadir. Sebuah keasyikan tersendiri untuk meletakkan diri kita di urutan terakhir. Memang adalah jauh lebih bahagia untuk memberi daripada menerima. Kepuasan itu nyata. Sebelum natal hati saya babak belur, dan tepat saat natal tiba hati yang hancur itulah yang saya bawa, sebuah bentuk hati yang paling cocok dalam menyambut kelahiranNya: Hati yang remuk dan siap dibentuk kembali.


bukan untuk bersaing


Seorang asisten dosen saat saya kuliah pernah mengatakan bahwa hidup ini tidak harus melulu soal kompetisi. Justru menjadi sangat indah ketika itu bergeser menjadi sebuah kolaborasi, begitu imbuhnya. Dengan mindset bahwa orang lain adalah seorang pihak yang kita butuhkan untuk bekerja sama dan bukan seorang kompetitor maka akan banyak irama perlakuan yang berubah. Tindakan selalu menyesuaikan mindset. Berikut adalah beberapa sikap yang lahir atas sebuah kepercayaan sederhana: hidup ini bukan soal kompetisi.

1. Bahagia untuk kebahagiaan orang lain

Kita sudah sering mendengar bahwa sahabat yang setia adalah mereka yang hadir bukan saja saat bahagia namun juga kala susah. Itu sebuah doktrin lawas yang tanpa disadari membuat kita sukarela mengangguk setuju atasnya. Namun ada satu pandangan lain yang bagi saya pribadi patut dipikirkan ulang.

“hindari sepenuhnya orang yang hanya dekat-dekat denganmu pada saat sedih, untuk menawarkan kata penghiburan. Sebab sesungguhnya inilah yang mereka katakan dalam hati: “aku lebih kuat, aku lebih bijak”. Dekat-dekatlah pada mereka yang ada di sampingmu saat masa bahagia, sebab mereka tidak menyimpan iri dan dengki dalam diri mereka; yang ada hanya sukacita melihatmu bahagia.”

Setahun menjadi pengangguran, saya membuktikan teori non-mainstream dari penulis cerdas Paulo Coelho ini benar adanya. Dalam masa sulit itu saya melihat beberapa orang dengan setia menemani saya. Bukanlah hal yang buruk memang, namun justru menjadi miris karena saat saya mendapatkan pencapaian, dia (atau mereka) seakan absen. Ucapan “selamat” seakan terlalu mahal disampaikan. Singkatnya, bagi sebagian orang, kesusahan orang lain adalah daya pikat tertentu sedangkan topik keberhasilan cukup diambil lalu.

Memang bukan berarti semua yang menawarkan penghiburan saat kesulitan datang harus disinonimkan dengan keirian, tapi yang perlu digarisbawahi adalah penting untuk memiliki kawan dan menjadi kawan yang dapat tulus bahagia atas keberhasilan satu sama lain. Dari satu tahun masa gelap itu, saya belajar bahwa sebenar-benarnya kawan adalah mereka yang ada di dua sisi hidup ini. Mereka yang tidak tawar di masa susah saya dan juga tidak pahit atas sukses saya. Mereka yang hadir baik di muram ataupun saat cemerlang. Saat kita memposisikan orang lain sebagai kawan dan bukan objek kesombongan alias kompetitor kita, maka tidak akan ada rasa iri dan tidak pula ada serpihan dengki atas keberhasilan orang tersebut.

2. Memiliki rasa aman

Tidak menjadikan orang lain sebagi kompetitor juga menghadirkan rasa aman. Sebuah perasaan yang kerap absen di hingar-bingar hidup masa kini. Selain menjadi bahagia atas pencapaian orang lain, rasa aman juga menggiring kita pada penempatan diri yang tepat. Sebuah kombinasi rasa hormat terhadap orang lain, yang dimulai dengan penghargaan akan diri sendiri.
mengagumi milik orang tanpa meratapi milik sendiri

Selalu, terlalu mudah bagi siapapun masuk pada sebuah kubu ekstrim tertentu. Beberapa orang sangat suka mencari kesalahan atau ketidakberesan atas suatu hal atau atas seseorang. Dari penampilan, karya tangan, kinerja, bahkan postingan instagram bisa jadi alasan untuk mencela. Sebagian yang lain terlalu mudah memuji, sedikit-dikit kagum dan merasa wah dengan apa yang dimiliki orang lain hingga sampai di titik lupa mensyukuri miliknya sendiri. Walau keduanya adalah ekstrim yang bertolakbelakang namun menurut saya keduanya bersumber dari satu hal: rasa tidak aman.

Saya pernah memiliki seorang kawan yang demi mengemas hidupnya menarik, dia menampilkan banyak kebohongan. Awalnya saya kagum bahkan sempat iri dengan kehidupannya, namun setelah tahu itu semua hanya karangan, rasa iri berganti dengan kasihan. Jauh lebih baik kita yang sudah merasa cukup asik dengan kehidupan ala kadarnya tanpa sibuk menambah bumbu-bumbu dusta.

true!
Ohya, saat kita menganggap orang lain sebagai kompetitor kita juga secara otomatis sedang masuk ke area bisnis yang artinya berlaku strategi promosi. Jika dibumikan ke kehidupan sehari-hari, promosi itu tentang kesibukan untuk mengekspos segala daya tarik. Tipe demikian tidak segan menjadikan kekurangan orang lain untuk mengekspos kehebatannya. Standar bahagianya juga didasarkan pada deklarasi orang lain sehingga dia dengan begitu riuh dan berisik mencari sebuah justifikasi yang dapat memperkuat posisinya sendiri. Confidence is silence, insecurities are loud. Itu sepenuhnya benar. Semakin seseorang berisik soal hidup orang lain semakin terbukti dia sedang tidak nyaman dengan hidupnya sendiri.

Melelahkan sekali lho jika kita tergolong orang demikian. Kita jadi lupa bersyukur padahal seharusnya kita tahu persis nilai diri kita. Seorang bijak pernah berkata bahwa setelah Pencipta membuat setiap orang di dunia ini, Dia langsung menghancurkan cetakannya. Artinya apa? Setiap orang sudah digariskan untuk unik! Karena itu, sekarang waktunya kita mencintai diri kita dengan porsi yang tepat. Let us never feel inferior nor superior.


3. Pick your inner circle

Bertemanlah dengan semua orang, tapi pilihlah dengan siapa kamu bergaul
Saya tidak percaya premis bahwa kita adalah tokoh tunggal yang memutuskan siapa diri kita. Setiap karakter dan kebiasaan merupakan produk kombinasi lingkungan dan karakter bawaan. Bagaimanapun kita perlu berhati-hati, Kita menganggap semua orang adalah kawan, tapi kita tetap berkewajiban untuk memilah dengan siapa kita akan berpartner karib. Kita memberikan senyum tulus kepada semua orang namun menentukan dengan siapa kita akan masuk ke ruang rapat.

be good for someone you don’t like it’s not fake, it simply you mature enough to keep your good attitude through your dislike.”

Kecerobohan memilih rekan kerja sama saja sedang merusak investasi tertentu. Ini samasekali bukan soal menemukan orang yang persis sama dengan kita. Ini tentang mereka yang berbeda namun hadir idealisme senada, dengan karakter yang membangun, dan minat yang saling nyambung. Misalnya begini, idealisme tentang ketepatan waktu. Merepotkan bukan jika kita tergolong disiplin dalam ketepatan waktu harus berpartner dengan mereka yang sangat abai akan hal tersebut.

4. (a) Honest not rude

Sekali lagi menjadi ekstrimis tertentu tidaklah bijak dalam pergaulan. Ekstrim pertama adalah sebuah gelembung eksklusif. Hal itu seringnya diatasnamakan slogan “be yourself” atau “ini gaya gue!”. Pada beberapa kasus lain, gelembung eksklusif itu berlabelkan “passion” atau “style” yang membuat orang bangga menjadi nyeleneh dan menolak segala hal yang terlihat mainstream. Sebenarnya ada pembeda besar antara menjadi jujur mengekspresikan diri dengan menjadi tidak sopan. Garis pembatasnya memang sangat tipis, tapi tetap berbeda. Kita boleh dan memang harus memiliki minat khusus serta idealisme tertentu namun samasekali tidak berarti kita harus dikekang oleh hal itu. Stay current, kalau kata mbak Diana Rikasari. Tetap memberi makan minat kita sendiri tanpa menolak segala obrolan soal bidang lain, agaknya itu lebih tepat.

4.   (b) never being hypocrite! Just adapt.

Ekstrim selanjutnya adalah soal peleburan. Rasanya hampir mustahil untuk menihilkan ketidakcocokan dalam sebuah pergaulan. Setiap orang punya berbagai faktor pembeda, katakanlah soal karakter, kebiasaan, dan selera. Demi membuat harmoni kita dihadapkan pada kewajiban untuk melebur. Kita memberikan ruang tertentu dalam diri kita untuk diubah demi memberikan ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri. Bagaimanapun itu tidak sinonim dengan kemunafikan. Melebur adalah produk dari kerendahan hati dan adaptasi, berbeda dengan pemasangan seribu wajah hanya untuk selalu diterima di segala lingkungan. Saya sepakat dengan kutipan pendek dari Paulo Coelho, penulis favorit saya: “Jika kamu berusaha menyenangkan semua orang maka kamu akan kehilangan hormat mereka.”

Suatu hari saya pernah tertekan karena merasa begitu kesulitan untuk menjadi pribadi yang menyenangkan bagi semua orang. Faktanya adalah it’s nice to be nice. Tapi ini fakta kedua: it’s wise to be wiser. Baik Riyan dan dua sahabat dekat saya mengatakan hal yang sama persis malam itu: Tuhan tidak pernah meminta saya untuk menjadi menyenangkan bagi semua orang. Saya cukup harus melakukan yang BENAR. Karena akhirnya saya tidak bisa merangkul SEMUA orang, hanya sebagian saja yang benar-benar dipercayakan Tuhan untuk menjadi sahabat saya. Maka dari itu sangat penting untuk lebih berfokus menjaga mereka yang hanya sebagian itu. Pesan itu meredefinisi arti persahabatan bagi saya pribadi, dan pesan yang sama inilah yang ingin saya tegaskan kepada siapapun yang terkadang merasakan hal yang serupa. 


4. (Kesimpulan)

Like and dislike adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, berita baiknya adalah tujuan hidup kita bukanlah untuk menjadi disukai (apalagi dibenci). Memang hidup kadang memaksa kita menjadi multiperan. Sesekali menjadi konyol, lain waktu menjadi serius penuh wibawa. Sesekali jadi lincah selayaknya anak kecil lain waktu harus penuh bahasa kedewasaan. Itu semua tergantung tempat, kondisi, dan dengan siapa kita sedang berhadapan. Itu semua soal kemasan luar, bukan soal nilai diri pun bukan tentang prinsip dan identitas. Kita menjadi fleksibel soal SIKAP tanpa menjadi bunglon soal PRINSIP. Kita perlu memiliki porsi yang tepat: antara jujur namun tetap sopan dan melebur adaptif tanpa menjadi munafik.


---
Keberhasilan tidak diukur dari ketenaran. Setidaknya itu menurut seorang tukang sapu di kantor pinggiran kota. Dengan senyum tanpa gerutu dia menyapu ubin-ubin indah disana selama bertahun-tahun. Walau upah tidak seberapa, namun kepuasan selalu dikantonginya kala pulang. Satu kali sang istri terheran apa alasan di balik senyum bangganya. Terungkap bahwa beberapa tamu dan pegawai kantor bercakap memuji lantai bersih dan berkilau yang menyambut derap kaki mereka. Dengan ekspresi lega lelaki paruh baya itu menambahkan: “mereka tidak mengenal namaku namun mereka menjadi nyaman dan memuji lantai bersih yang telah ku sapu. Itu kesuksesan besar bagiku."
Tak lama, sang anak bungsu mereka mendekat. Dengan raut penasaran besar menuju ke pangkuan ibunya lalu bertanya: “ayah, apa itu kesuksesan?”

nak, kesuksesan adalah saat kau berhasil memberi dampak baik lewat karyamu. Kesuksesan juga tentang rasa hormat sebab kau bekerja bukan melulu untuk hidup dan pengakuan semata namun untuk menunjukkan cintamu pada sesama. Sering kali orang abai terhadap jerih lelahmu, namun kau tidak dilumpuhkan oleh itu, ketulusan menjadi peganganmu. Sesekali kau berbuat salah namun kau tidak membiarkan penyesalan mengepungmu.”

Sang ayah berhenti sejenak, untuk menyeruput wedang jahe yang dihidangkan oleh putri sulungnya. Petuahpun berlanjut.

“Sesekali kau tersentak fakta bahwa banyak orang yang lebih kaya dan lebih terkenal ketimbang dirimu, namun kau tetap baik-baik saja tanpa iri mengutuki karyamu sendiri. Kau sedang tidak membuang waktu dengan membandingkan apa yang kau kerjakan dengan apa yang dikerjakan orang lain. Itu juga merupakan kesuksesan."

“jadi ayah, berarti kesuksesan tentang waktu yang sangat lama, bukan?!” Dengan nada memastikan sang anak kembali bertanya.
"tidak anakku, kesuksesan bukanlah hasil akhir yang baru bisa kau nikmati setelah berjerih lelah dalam waktu tertentu. Ia merupakan tamu harian, yang selalu mengetuk pintu rumah orang yang dapat berbaring tidur di ranjangnya dengan jiwa damai. Juga kepada mereka yang berkata 'aku akan memberikan yang terbaik hari ini' setiap pagi usai berlutut memohon makanan yang secukupnya pada Empunya kemuliaan."

dan jangan lupa..” sahut sang istri “kesuksesan juga tentang memiliki cukup waktu yang hangat bersama sanak, kawan, dan keluarga.

Semua menyaut dalam senyum sepakat dan syukur sebelum beranjak dalam istirahat lelap.

tulisan ini dimulai dari diskusi bersama Riyan soal definisi sukses
serta diperkaya dan diinspirasi oleh tulisan Paulo Coelho lewat sub-bab "keberuntungan"
di bukunya yang berjudul "manuskrip yang ditemukan di arca"

Hari ini membongkar kardus tumpukan buku-buku, karena ingin menemukan satu buku agenda (almarhum) papa. Satu buku yang dia bagi untuk kami berdua bertukar tulisan. Hampir saja menguap dari ingatan, bahwa kami adalah partner kompak dalam menuangkan rangkaian kata. Ada beberapa tulisan saya yang dia salin di agenda pribadinya, dan ada banyak sajak ataupun puisi karyanya yang saya salin di buku menulis saya sejak SMP.

Jadi saya tahu, hobi berceloteh dalam baris-baris tulisan ini diwariskan dari beliau. Tipe tulisan kami juga sangat mirip, berupa kalimat-kalimat pendek, dan sangat gemar membuat rima pada akhir setiap baris. Dan kami penggila quote! Itu yang jelas.

Di tengah tumpukan buku berdebu itu, ada dua buku lain yang penuh dengan tulisan khas papa. Rasa penasaranpun hinggap. Salah satunya adalah buku diary sejak tahun 1989-1991, sebelum saya lahir. Ada dua hal yang akhirnya membuat haru, tertanggal 9 Juni 1991 papa mencatat bahwa kakak perempuan saya (Elsa) membeli mainan kereta, dan selisih empat hari kemudian catatan lain berkata bahwa papa saya mengunjungi taman Kyai Langgeng (Magelang) hanya berdua dengan kakak saya itu.

Diary macam apa itu? Bukankah diary hanya mencatat yang berkesan? Awalnya geli, tapi justru dari dua catatan sepele itu saya menangkap kasih sayang besar papa saya sebagai seorang ayah pada Putri Sulungnya itu. Sehingga perkara mengunjungi sebuah taman berdua ataupun membeli mainan keretapun dipatrikan dalam sebuah goresan tinta.

Haru makin memuncak ketika saya menemukan agenda lain yang berisikan catatan dari tahun 1996-1998. Disana dituliskan sebuah puisi dengan judul nama saya: Claudya. Mengembanglah hati ini, sebelum laki-laki manapun pernah mengirim berbagai gombalan dan mampir di hati, ada sosok laki-laki yang jatuh cinta pertama kali pada saya dan di awal kasmaran sepanjang masa, puisi sederhanapun lahir.

Begini bunyi puisinya.

“CLAUDYA
Kaulah penyulut semangat papa
Kau membuat papa bergairah
Kau membuat papa penuh energi dan daya
Papa tiada renta
Berdegup kencang jantung ini
Memacu diri
Terus berlari
Mengejar prestasi yang lebih baik lagi
Papa tiada merasa letih
Apalagi tertatih
Akhirnya raih reputasi
Demi Claudya jantung hati
Kasih papa takkan terhenti
Pasti”
(karya: Yoseph Tio)



Hari ini, sejak menit setelah saya menemukan tiga buku warisan papa, saya tersadar apa arti penting sebuah buku, atau setidaknya tulisan. Lembaran kisah, tuturan kata, hal paling sepele atau luar biasa, merupakan warisan berharga.  Tulisan adalah bukti bahwa kita pernah hidup, bukan hanya pernah “ada.” dan saya pastikan, anak saya akan memegang hal yang sama nantinya, sebuah buku yang membuat gagasan dan cinta saya tetap hidup walau kata (almarhum) sudah disematkan di awal nama saya :)

Terimakasih papa, nama “Tio” darimu yang terselip dalam namaku, ternyata mewariskan darah kecintaan yang sama, yaitu pada tulisan. Dan pastinya, terimakasih atas puisinya :) I always miss you.


Keberuntungan dan lawan katanya, konon merupakan bagian yang tidak dapat ditebak dalam hidup ini. Perjalanan saya mencicipi secuil Kamboja menunjukan bahwa hal tersebut benar adanya. Tak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi bahkan semenit di depan. Begitu pula dalam perjalanan, dibuka, diisi, dan ditutup dengan menu yang tak dapat ditebak.

Bersama seorang kawan baik. Tsabitha namanya, kami singgah ke daerah perbatasan antara Kamboja dan Thailand.  Kami disambut dengan antrian panjang, yang rekornya samasekali belum terkalahkan sejak tiga tahun lalu hingga hari ini. Di bagian imigrasi Kamboja, oknum-oknum berseragam berhasil membodohi kami dengan meminta bayaran sebesar 200 baht untuk stempel yang membekas di passport kami. Penat dan kesal hati pastinya. Kami terheran mengapa kecurangan semacam itu masih saja terjadi. Untuk sekedar menghibur hati, kami memutuskan untuk menambah satu malam menginap kami di daerah perbatasan itu. Bukan untuk mengenang atau merencanakan balas dendam, hanya sekedar menyayangkan 200 baht yang melayang, sekalian menjadikan daerah perbatasan itu sebagai ruang eksplorasi kami akan kondisi budaya dan ekonomi negara tersebut. Kemampuan bahasa Inggris yang sangat minim dari warga sana jelas menjadi kendala tersendiri sebelum akhirnya kami dapat menemukan sebuah hostel dengan harga terjangkau.
Keesokan harinya, kami bermaksud kembali ke Bangkok dengan memberi makan rasa penasaran kami terhadap rute baru yaitu via jalur kereta. Ketika matahari belum gagah di peraduannya, kami sudah terjaga untuk mencari kendaraan thuk-thuk yang akan mengantar kami dari hotel menuju stasiun.
Tidak banyak yang khas dari kereta Thailand, justru menjadi terkesan karena lorong gerbong itu mengingatkan kami berdua pada tanah kampung halaman.
Langkah kaki awal kami setibanya di stasiun bukan hanya dibarengi oleh debu-debu lantai, namun juga kekaguman akan pesona klasik di stasiun itu. Perlengkapan elektronik yang lengkap, tak mengurangi kesan bangunan tua yang khas.


jelas stasiun yang menyenangkan!


Tanpa mau terlalu lama dimanja oleh pesonanya, kami bergegas keluar dari stasiun. Satu-satunya pertanyaan yang muncul adalah, kemana lagi arah angin membawa sepasang kaki lelah kami ini. Jawaban akan perenungan singkat di tengah terik siang itu dihantarkan oleh sebuah berita di surat Kabar Bangkok Post, dituliskan disana bahwa akan ada book fair terapung terbesar di dunia, singgah ke Pelabuhan Thailand.




Tak pikir panjang, itu adalah pertanda bahwa dewi fortuna masih rindu menghiburkan hati penjelajah kami.  Pertanyaannya kini adalah bagaimana menuju ke tempat itu? Kami hanya berusaha patuh pada nasihat klasik, malu bertanya hanya akan memperburuk suasana. Singkat cerita, dewi fortuna yang hanya kiasan itu termanifestasi dalam wajah imut seorang gadis mahasiswa Chulalongkorn yang menawari kami untuk naik taxi bersama. Saat itu, pelajaran sederhana yang kami petik adalah bahwa kebaikan memang merupakan bahasa universal. Kami tak pandai berkomunikasi, bahasa beragam yang memperkaya dunia juga acap menghalangi. Namun senyum dan bantuan sederhana berbicara lebih lantang. Ya, sore itu, kami tergugah pada fakta hidup sederhana: one simple act of kindness spoke louder than a thousand words.
bersama mahasiswa Chulalongkorn

Setibanya di pelabuhan, keberuntungan kembali menyapa karena panitia memutuskan untuk menggratiskan tiket masuk. Saya dan Tsabitha hanya saling menatap geli, betapa kami beruntung hari itu. Saat itu, tak ada kata lain terucap selain mata yang terbelalak melihat kapal besar yang menepi itu, dan berhiaskan senyum kru kapal yang datang dari berbagai negara. Hingga saya menuliskan kisah ini, merinding masih hinggap mengingat betapa ajaib kapal tesebut. Membawa jutaan buku berkualitas, mengumpulkan kru dari berbagai belahan bumi, dan menyambut berbagai pengunjung dengan keramahan bak tuan rumah.




Kami bahkan sempat bertemu dengan kru asal Indonesia, dan rasanya selalu menyenangkan untuk menyapa saudara sedarah di tanah yang berbeda. Setelah berjam-jam berkeliling dan cukup mengabadikan pengalaman itu dalam jeprat-jepret senyuman, kami pun kembali pulang ke penginapan. Di perjalanan bus Thailand yang nyaman, kami berdua dengan lollipop di mulut kami, tertawa kecil penuh syukur mengingat rangkaian kebetulan yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 48 jam.

Perjalanan itu mengajarkan kamu bahwa antrian terpanjang dalam hidup kadang adalah antrian dari kesialan menuju keberuntungan. Tak ada jalan pintas dalam antrian, itu catatan pentingnya. Satu-satunya cara adalah tetap di jalur, berusaha menikmati setiap menit dan setiap langkah. Dibuka dengan ketidakberuntungan yang mengesalkan, menuju pada sebuah kapal besar ajaib yang menepi di pelabuhan. Antrian kami menghabiskan banyak baht, keringat, dan nyaris menguapkan semangat. Namun memaksa diri untuk tetap mengikuti naluri perjalanan tanpa tergesa untuk pulang, membawa kami pada kepuasan besar.




Karena suatu hal murid les saya mendadak ketakutan akan pikirannya sendiri. Bocah kelas 2 SD yang jago bahasa inggris itu, terisak keras sembari memegang kepala berusaha melupakan suatu kata yang menghantui. Sampai di satu titik kala sudut matanya masih basah, dia menangkupkan tangan sembari menengadah ke saya yang memang lebih tinggi, lalu berkata: "can you pray for me?"


Hati saya luluh, Seorang makhluk polos di hadapan saya dengan sangat santun meminta sesuatu yang tidak akan pernah menjadi terlalu mahal untuk dilakukan: DOA.

Sebagai guru di sekolah rohani, sebagai anak dan adik, sebagai kakak bimbing, sebagai sahabat, dan sebagai pacar, memimpin doa bukanlah hal yang asing. Sedari kecil papa saya sudah membiasakan untuk saya memimpin doa di meja makan. Menampung sebuah private message berisi "dis doakan aku ..." Juga terlampau sering saya terima. Tapi sore ini ada seorang bocah yang sangat bergumul dengan karakternya memohon guru les yang baru ia kenal seminggu untuk menghadap Pencipta. Entah kenapa saya begitu terkesan dengan adegan tadi. Setiap kata dan ekspresinya seakan berjalan lambat berulang di otak. 

Kita tidak pernah tahu dari mana pelajaran akan didapat, kita tidak pernah tahu berkat macam apa yang hadir lewat seseorang, dan jelas kita tidak pernah bisa menerka orang atau kejadian seperti apa yang dapat Tuhan pakai untuk mendidik kita. Siapa sangka dari anak SD, seorang dewasa justru ditegur.

Sangat penting agaknya untuk mengenalkan tentang Pencipta sedini mungkin pada seorang individu. Indah sekali lho saat kita mengalami kesusahan, kita tahu kemana kita harus pergi. Dan bayangkan saja jika itu terjadi sejak sekolah dasar atau bahkan sebelumnya. Tidak ada jaminan memang seorang anak yang dikenalkan Tuhan sedari kecil akan mudah dididik atau pasti jadi anak yang baik, tapi poinnya adalah dia tahu bahwa segala hal dapat dia bawa ke Tuhan dan tahu pasti bahwa Dia dapat diandalkan. Ketika seseorang tahu bahwa dia harus berdoa minta tolong saat PR-nya sulit, saya yakin itu akan membiasakan dia juga merendah untuk masalah-masalah lebih besar dalam hidupnya kelak, untuk belajar tunduk mengandalkan Dia.

Dari sisi saya sebagai orang dewasa, adegan ketulusan tadi mengingatkan apa yang Paulus pernah bilang "Dia menggunakan yang bodoh untuk mempermalukan yang bijak", begitu kira-kira isi suratnya dan begitu pula simpulan kejadian tadi. Saya jarang sekali berdoa belakangan ini, bukan karena saya merasa mampu, tapi simple karena saya tahu bahwa solusi dari masalah adalah tindakan nyata. Saya lupa satu hal: meminta tolong pada Empunya hidup. Meminta arahan dan kekuatan, saat melakukan tindakan-tindakan tersebut. Kadang kita memisahkan antara hal rohani dan non-rohani, untuk yang kita kira perkara rohani kita getol doakan tapi untuk sebagian yang tidak rohani kita cuek bebek dengan pendapat dan pimpinan-Nya. Padahal bahkan perkara degup jantungpun adalah sebuah kemurahan Pencipta. Aneh sekali jika kita mengkotakkan perkara antara "silahkan Tuhan, masuk dan tolong aku" dengan "tidak perlu Tuhan, ini bukan tentang aku dan Engkau."

Seorang bocah yang ketakutan dengan kata "cookies monster" tahu bahwa dia harus lari ke Tuhan dulu sebelum berupaya menghapus ketakutannya. Masakkah kita lupa bahwa kita harus lari padaNya dulu untuk sgala sesuatu?



Semoga memberkati :)



13 November lalu menjadi catatan penting bagi kita betapa semakin keji dan kejamnya kehidupan. Isu terorisme terus bergulir di berbagai penjuru dunia. Kita menjadi mudah untuk berkata #prayfor #paris #lebanon #baghdad apalagi dengan sosial media yang kita punya. Tren masa kini adalah jempol kita bergerak lebih cepat dari aksi yang ada. Quote yang saya angkat merupakan wujud sindiran bagi kita yang sangat getol menampilkan empati kepada dunia luar yang begitu jauh tapi kesulitan untuk mencintai sesama kita di sekitar.


Mewujudkan kemanusiaan tidak selalu berarti kita terjun ke lapangan sebagai tenaga sukarela ataupun mengekspos berbagi kalimat empatik. Satu hal yang tersisa untuk kita jawab: "sudahkah kita benar-benar menjadi orang yang baik bagi teman kerja kita? Sudahkah kita berhenti dari kebiasaan menggosip? Sudahkah hati kita damai dan terjauh dari perasaan tersinggung?"

Saya mengamati satu kebiasaan dari para pengguna sosial media di Indonesia atau mungkin dunia. Bahwa perdebatan pro dan kontra selalu menjadi hal menarik dimana semakin itu panas justru semakin baik. Masih soal prayforparis ya, saat saya menengok laman facebook saya, sebuah paragraf panjang tersodor dari seseorang yang sedang mengajukan opininya. Dia mengekspresikan rasa gerah akibat sindiran orang lalu tak lupa disusul bumbu pembelaan. Satu alis saya naik. Tanpa disadari perilaku yang mudah tersulut dan terhasut inilah yang mengabsenkan damai sehari-hari. Mudah sekali terganggu dengan respon orang lalu memberikan respon balik dan terus bergulir.

Jika karena satu ucap teman kita hati kita sudah dipenuhi amarah, jika kita gagal mencintai orang yang tinggal seatap dengan kita, sungguhkah kita sudah lebih baik dari mereka yang menghabisi nyawa?

Memang kita tidak sampai membunuh orang, tapi standar Tuhan begitu tinggi. Jika kita MEMBENCI saudara kita maka kita tak ubahnya pembunuh. Belum lagi fakta bahwa tindakan kriminalitas seperti itu tak jarang adalah akumulasi kebencian. Tanpa disadari kita ambil peran di dalamnya. Akibat tidak banyak orang yang menabur benih kedamaian, hingga yang bertumbuh subur justru amarah yang menumpahkan darah. Sekali lagi saya bertanya, sungguhkah kita sudah lebih baik dari 'mereka'?

THINK TWICE!