Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

“tabur yang baik, maka kamu juga akan menuai yang baik.”



Ponsel lama saya akhirnya pensiun, setelah saya mendapat sebuah ponsel baru. Dibandingkan menjual, saya memilih memberinya sebuah cuti di laci. Saya hanya ingin (sekaligus yakin) suatu hari jika ada seorang kerabat membutuhkan alat komunikasi secara mendesak, ponsel putih itu dapat unjuk gigi. Ternyata benar, seorang teman terpaksa merawat-inap-kan ponsel pintarnya. Saya tawarkan ponsel lama saya untuk dipinjam. Saya sedang berusaha berbuat baik. Apakah untuk menabur?

Dalam bulan ini saya sudah dua kali menampung adek kelas dari luar kota untuk menginap karena ada keperluan di Surabaya. Menjadi tuan rumah sebaik mungkin, jelas merupakan hasrat tersendiri. Menjemput, mengantar, dan menemani ke destinasi yang ingin dituju. Saya juga sedang berusaha berbuat baik disini. Apakah untuk menabur?

"Dis anterin dong kesana.."
"Dis bisa ga jemput aku disini?"
Jika tidak ada halangan, permintaan mengantar alias nebengi tidak akan saya tolak. Kadang capek, tapi toh tidak rugi apapun bagi saya. Saya sedang berusaha berbuat baik sekali lagi. Apakah untuk menabur?

TIDAK! Saya tidak sedang berusaha menabur. Saya hanya sekedar meneruskan sebuah benih ke orang lain. Saya hanya berusaha sekedar TAHU DIRI.

Kenapa begitu?
Saat saya mengurungkan niat menjual HP lama, saya hanya teringat pada sahabat saya dulu: Chyntia namanya. Dulu saya kuliah dengan modal super pas-pasan, sehingga tidak punya cukup uang untuk mengganti HP bobrok saya. Saat itu dia dengan besar hati meminjamkan HP lamanya berbulan-bulan. Tanpa sedikitpun ongkos

Saat saya menerima adek kelas untuk menginap, pikiran saya hanya tertuju pada satu nama: Sinta. Dia berkali-kali harus saya repotkan selama saya sibuk menyandang status jobseeker dan singgah ke Jakarta. Bukan hanya menampung, namun memberikan perlakuan yang selalu menyenangkan. Bahkan pernah suatu waktu di tengah hujan dia membagi payungnya hanya untuk mengantar saya ke stasiun KRL.

Saat saya memilih untuk mengantar teman ke berbagai tempat, saya dibawa pada kenangan saat saya diantar oleh Artha, kak Ajeng, dan pastinya Helen. Entah berapa kali saya nebeng. Di tengah kesibukan masing-masing, mereka selalu menyediakan waktu untuk mengantar.

Pada akhirnya tiga kebaikan yang saya sebut tadi samasekali bukan bentuk menabur, tapi wujud tahu diri. Sebagai orang yang sudah menerima kebaikan, selayaknya juga membagi kebaikan serupa.

Mungkin Chyntia, Sinta, Artha, kak Ajeng, Helen, tidak menerima tuaian dari taburannya secara langsung dari saya. Terkesan saya sedang salah alamat dalam membalas budi, tapi itu karena saya ingin memastikan bahwa benih kebaikan mereka dicicipi banyak orang lain.

Pay it forward kalau istilah kerennya. Meneruskan kebaikan kepada orang lain dan menjadikan kebaikan tersebut terus menyebar. Hukum tabur tuai itu bukan mentah-mentah menabur lalu pasti menuai dari orang yang sama. Tidak sepolos itu. Namun percayalah kebaikan yang sudah ditabur tidak akan pernah sia-sia. Sekali-kalipun tidak pernah sia-sia.

Ini memang berawal dari hukum tabur tuai yang dikenal dalam berbagai agama dan kebudayaan. Kita ditanamkan keyakinan bahwa benih yang baik akan menghasilkan panenan yang baik, dan sebaliknya pula. Anggapan itu menyemangati kita untuk menabur sebanyak mungkin benih kebaikan, atas dasar sebuah keyakinan bahwa suatu hari kita akan menuai hasilnya. Hasil yang baik. Hasil yang tidak mengecewakan.

Faktanya beberapa orang menganggap utopis prinsip ini. Kenapa? Karena mereka pernah atau bahkan sering dikecewakan. Jika tidak salah, kutipan yang sering mereka cantumkan senada demikian "adalah bodoh untuk mengharap orang lain kembali baik pada kita, setelah kita berbuat baik pada mereka. Seperti percaya bahwa seekor singa tidak akan memangsa kita, hanya karena kita tidak memangsa mereka".

Banyak kekecewaan. Merasa sudah berlaku baik ke seseorang tapi tidak merasa ada pengembalian setimpal dari orang yang sama. Kebaikan yang bertepuk sebelah tangan tampak begitu menyakitkan. Padahal prinsip tabur tuai sebenarnya jauh lebih agung dari insting sok tahu manusia.

Tiga cerita soal benih kebaikan diawal cerita ini membuat saya makin mantab dengan kebenaran bahwa benih kebaikan itu tidak akan terbuang percuma, terlepas jika orang yang menerima benih itu tidak dapat memberikan balas budi yang memadai secara langsung. Jangan jemu berbuat baik karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai.

FREE HAIRCUT FOR HOMELESS
Source: www.takepart.com

Kita tidak bisa memastikan dari siapa tuaian itu, seberapa subur benih itu, semanis apa buahnya, dan seberapa banyak panenannya. Bukan bagian kita untuk menebak apalagi mengatur, bagian kita adalah menggerakkan tangan terus untuk menabur benih baik. Toh sebenarnya kita tidak murni sedang menyemai benih, kadang kita hanya sekedar meneruskan benih itu dari seseorang ke orang lain.



"Help people, even when you know they can't help you back. Because helping people, can be a cure. Not just for those who in need but for your soul as well." -Marinela Reka


Ijinkan saya bertanya, di sepertiga tahun 2016 ini, film Indonesia apa yang sudah Anda tonton di bangku bioskop? Kalau saya, "Surat dari Praha" adalah jawabannya. Saya tidak menyesal bahkan faktanya saya begitu terkesan.

Film yang sahabat saya pilih ini merupakan sebuah film yang diinspirasi sebuah kisah nyata. Saya setuju dengan pilihannya dan kami segera bergegas menuju bangku B9-B10 ditemani seporsi kecil pop corn yang agak kelewat asin.

Awal kisah dimulai dari pesan almarhum Sulastri yang diperankan oleh Widyawati kepada anak gadisnya, Larasati, yang diperankan oleh Julie Estelle untuk menghantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat untuk Jaya yang dimainkan apik oleh Tyo Pakusadewo di Praha. Berbeda dengan film lain yang menjadikan negera lain menjadi latar, film ini saya acungi jempol karena memperlihatkan sisi sehari-hari sebuah negara dan bukan hanya disorot bagian indahnya saja. Bertabur bintang dengan kemampuan akting sangat natural menambah pesona film ini.

Secara alur dan permainan konflik memang cenderung datar, sehingga kesan dramatisasi klimaks jauh dari film ini. Semua disodorkan alami dan membuat saya sebagai penonton menikmati setiap jengkal permainan kalimat indah namun penuh bobot pesan. Kesempatan jeli mendengar setiap kutipan di film ini akhirnya membuat saya semakin mencintai bahasa persatuan kita: bahasa Indonesia.

Lewat film ini saya begitu mengagumi beberapa fakta sejarah perpolitikan Indonesia yang membuat saya bergelut antara sedih, marah, dan simpatik. Om Jaya merupakan satu di antara banyaknya nasionalis Indonesia yang akhirnya terasingkan bahkan kehilangan kewarganegaraan karena menolak orde baru.

Larasati : apakah Om pernah menyesal dengan pilihan Om?

Om Jaya : tidak pernah. Saya melakukannya dengan kesadaran sehingga tidak perlu ada yang disesalkan. Memang begitu harga keyakinan, harus mahal, tidak boleh murah. Semakin mahal semakin berharga.

Adegan itu membuat saya terkagum akan banyak tokoh di masa perjuangan Indonesia yang begitu mantab akan keyakinannya, bukan nyaman di zona abu-abu. Di adegan yang lain saya dipaksa berdecak kagum menyimak kisah om Jaya dan tiga kawan Indonesia yang mengalami nasib serupa. Mereka dahulu naik kapal dari Medan melewati terusan Suez hingga sampai ke Praha, mendapatkan beasiswa. Sampai akhirnya berkecamuk transisi rezim dan membuat mereka berempat mantab menolak orde baru.


"Kami menolak orde baru namun kami bukan Komunis. Kami NASIONALIS" begitu kata Om Jaya yang saya yakini mewakili banyak suara korban orde baru dulu. Mereka yang dipenjara bahkan mati tanpa diadili.

Mereka menjadi stateless alias kehilangan kewarganegaraan. Iya, mereka ditolak oleh tanah air sendiri. Hingga predikat sarjana teknik nuklir tidak lagi bermakna dan menjadikan om Jaya berkarir sebagai janitor seumur hidupnya. Fakta ini membuat saya menilik ulang arti nasionalisme dan bertanya bagaimana seharusnya respon yang memadai dari pemerintah atas nasionalisme murni seperti ini. Pesan 'cintai tanah airmu' tersirat tepat di hati. Bumbu sejarah yang tepat pada porsinya menjadi pesona utama film ini, selain soal nostalgia cinta pastinya.


Om Jaya : "saya berjanji ke Sulastri dua hal. Satu, saya akan menikahinya. Dua, saya akan mencintainya seumur hidup saya. Namun nasib hidup membuat saya hanya bisa memenuhi janji yang kedua."

Nostalgia cinta di film ini tergolong klasik, namun moral yang saya petik adalah bagaimana 'ikhlas' dan 'memaafkan diri sendiri' tidak selalu datang berpasangan. Film ini tidak mengemas sesuatu menjadi super idealis, justru sangat mengena karena kenyataannya ketika kita ikhlas tidak serta-merta lahir kemampuan memaafkan diri sendiri. Pesan cinta yang kedua adalah tentang bagaimana ketulusan menggerakkan orang untuk tetap setia jauh melebihi apa yang pernah diminta.

sumber gambar: www.rappler.com

Unsur kuat lain di film ini adalah musik gubahan Glenn Fredly. Sangat Indah. Favorit saya adalah Sabda Rindu. Puitis nan merdu. Satu lagi perihal musik di film ini: permainan harmonika! Piano, gitar, bahkan biola, sudah kerap hadir di layar perfilman, namun Harmonika? Cerdas! Berbeda, namun tetap kontekstual dan memperkuat sense musik disana.


Akhirnya saya tidak menyesal samasekali merogoh kocek untuk menikmati karya anak bangsa seperti ini. Saya ingat perkataan Joko Anwar "kalimat -untuk ukuran Indonesia, lumayan lah- adalah kalimat yang merendahkan bangsa sendiri. Sebuah kebiasaan yang harus dihentikan." Saya sepakat. Saya menilai film ini tidak lebih rendah saat saya terkagum dengan berbagai film hollywood lain. Sebuah karya yang layak diapresiasi dan diteruskan jejaknya.
#HariFilmNasional 


Kita pasti tahu, ada dua macam gunung di dunia. Gunung aktif dan gunung mati. Sebagai pendaki, orang akan lebih was-was kala mendaki sebuah gunung dengan kandungan magma yang terus bergejolak. Mereka akan lebih berhati-hati karena sewaktu-waktu gunung tersebut dapat meletus. Sebaliknya untuk gunung mati, pendaki cenderung meremehkan dan tidak menganggapnya sebagai sebuah gereget yang menantang.

Kita manusia juga tergolong selayaknya dua gunung itu. Kita bisa dan memang harus memilih menjadi yang seperti apa. Magma disini berbicara soal impian. Gunung aktif melambangkan seseorang yang memiliki impian dan akhirnya menjalani hidup dengan semangat dan tujuan. Atau kita justru selayaknya gunung mati yang hidup sehari-hari tanpa arti selayaknya zombie.



Mimpi adalah energi besar. Seperti seorang Kartini yang membuat perubahan besar dimulai dari keinginan sederhana bahwa setiap wanita diberi kesempatan yang sama di bidang pendidikan. Hari Kartini bukan hanya soal emansipasi dan cocok bagi kaum perempuan semata. Pesan dari Kartini berlaku bagi kita semua! Laki-laki dan perempuan.

Pertanyaannya: apakah segala mimpi selalu berhasil? Apakah semua niat pasti terwujud? Apakah setiap keinginan pasti tercapai? TIDAK! Miss tidak akan membohongi kalian dengan janji kosong. Tapi satu hal yang miss yakini: Tuhan tidak akan pelit bagi yang mau berusaha.


Kedua, yang juga penting. Seperti apa mimpi kita?

Kembali ke ilustrasi gunung, kalau kita amati setelah meletus lahar dingin yang keluar akan membuat tanah yang dilaluinya sebagai tanah subur. Maka tidak heran kenapa di lereng gunung selalu terbentang perkebunan subur. Walaupun awalnya membahayakan namun akhirnya membawa manfaat. Bagaimana dengan mimpi kita? Apakah mimpi itu membawa manfaat untuk orang lain? Apakah impian itu membawa baikan bagi sesama? atau itu mimpi yang egois? Jangan-jangan hanya untuk memperkaya dan mempopulerkan diri sendiri.

Miss punya sebuah teladan. Namanya Ricky Elson. Dia orang Indonesia yang meraih S3 di Jepang -negara dengan terobosan teknologi luar biasa. Bukan hanya itu, dia bahkan mendapatkan hak paten soal kincir angin dengan tingkat efisiensi tinggi. Kenapa dia mau susah2 belajar sampai S3? Kenapa dia kembali ke Indonesia padahal di Jepang penuh tawaran menggiurkan? Walaupun mungkin beberapa kali gagal, kenapa dia terus mencoba menciptakan kincir angin? Ternyata karena dia tahu jelas apa yang dia tuju. Semua usahanya karena satu impiah bahwa pulau-pulau kecil di Indonesia dapat menikmati listrik dari kincir anginnya.

Ayo kita logika! Dia bisa saja menjual teknologinya untuk Jepang. Bahkan Amerika-pun hendak membeli. Namun dia menolak! Kekayaan bukanlah segalanya. Pengakuan bukanlah yang paling utama. Tapi pemenuhan MIMPI YANG MEMBAWA KEBAIKAN itulah yang paling penting.


Tidak ada MIMPI YANG TERLALU kecil sehingga layak diremehkan. Tidak ada MIMPI YANG TERLALU BESAR sehingga boleh mengijinkanmu menyerah!

Peluang dunia terbuka besar. Terkhusus bagi kalian disini: yang 24 jam dapat menikmati listrik, yang pergi ke sekolah tanpa perlu basah-basah menyebrangi sungai, yang dapat mengakses internet seharian. Akan sangat rugi jika dengan berbagai kemudahan itu kalian tidak mencapai apa-apa!

Semua mimpi layak diperjuangkan! Apa cita-cita kalian? Ingin menjadi programmer game? Sutradara? Musisi? BISA! Ilmuwan? Penulis? Arsitek? BOLEH! Dokter? Pengacara? Pelukis? SILAHKAN!

Karena pada akhirnya, di penghujung usia, kita tidak akan menyesal atas kegagalan karena terlampu sering mencoba. Kita akan menyesal atas apa yang tidak pernah kita coba perjuangkan!

Biarlah R.A Kartini dan bang Ricky Elson serta para anak bangsa membanggakan lainnya memberikan kita semangat untuk terus memperjuangkan mimpi. Kiranya Tuhan memberkati setiap impian baik kita.


*ini adalah teks amanat upacara yang saya buat H-2, pasca membaca tulisan dari bang Ricky Elson yang membuat saya mbrebes mili. Saya harap suatu hari saya bisa mbrebes mili melihat murid saya menghasilkan sebuah terobosan untuk negeri yang begitu saya cintai ini: Indonesia!

Empat orang itu bergerombol di suatu sudut di ruang guru. Ada sesuatu yang menggerakkan mereka mendekat otomatis. Pemandangan itu mengingatkan saya tentang ibu-ibu perumahan yang langsung menyatu serempak antusias kala penjual sayur datang. Sesuatu yang memikat empat guru tampan itu masih tersembunyi di balik postur mereka yang cukup gagah. Tapi… setelah menghidupkan kepekaan indra, saya tahu! Saya kenal persis aromanya. KOPI! Dugaan saya tepat, salah satu kawan kami yang baru saja menikah membawakan kopi Bali sebagai buah tangan, sontak semua pecinta kopi di ruang guru langsung bersatu.

Konon kopi merupakan minuman favorit kedua di dunia setelah teh yang memang terkenal dengan bebragai khasiat dan mengandung nilai budaya tinggi di berbagai peradaban. Sebelum Starbucks yang kita kenal saat ini, kedai kopi sudah ada ratusan tahun lalu tepatnya di Turki dan bernamakan Kiva Han. Di Indonesia kedai kopi akrab disebut WarKop, sebuah tempat yang mempertemukan banyak orang dengan berbagai latar belakang, dan membuat mereka mendadak menjadi politikus atau ekonom handal mengkritisi pemerintah. Mungkin itu kesaktian kafein. Tidak heran Eric Warren dalam bukunya Geographical of Bliss menyimpulkan bagaimana budaya ngopi telah melahirkan banyak filsuf hebat di Eropa. Mereka membiarkan pikirannya berjam-jam liar ditemani kopi dan akhirnya menemukan banyak hal.

wajah kedai kopi pertama dunia. source: http://4.bp.blogspot.com


“Kon gawe susu ga?”


Seketika lamunan saya sebagai pihak kelima di cerita ini, buyar. Logat Suroboyo kental itu memancing saya untuk memperhatikan lebih detail keseruan yang ada. Pertanyaan itu memunculkan banyak respon, atau varian, tepatnya.


aku pake susu yang banyak, biar ga deg-deg-an
punyaku dikasih gula tapi ga mau susu
kopi asli itu ya hitam ya pahit, punya saya tanpa susu dan tanpa gula” begitu komentar seorang guru kurus yang memang pecinta kopi.


Nada mereka bertiga seumpama seorang customer yang sedang memesan kopi di barista handal. Saya seketika membayangkan jika kumpulan itu semuanya penyuka kopi susu atau satu suara menjadi fans kopi hitam pekat, agaknya proses minum kopi siang itu akan menjadi jauh lebih sederhana. Tidak perlu repot bertanya tidak pula rempong meracik. Namun siapa sangka justru dari perbedaan selera itu muncul dialog dan kelakar. Seperti saat jawaban “biar ga deg-deg-an” memancing tawa renyah. Pernyataan polos dari guru paling muda di sekolah kami itu memunculkan diskusi lalu konklusi bahwa efek kafein memang mirip dengan jatuh cinta. Seorang guru bahkan menambahkan, bahwa efek itu juga senada dengan perasaan dag-dig-dug saat bertemu dengan pak Polisi di jalanan yang sedang melakukan tilang. Kesimpulan yang nyeleneh sepaket dengan tawa canda ini tidak akan muncul tanpa adanya perbedaan selera. Dari dulu kewajiban manusia bukanlah menyederhanakan (apalagi meniadakan) perbedaan, namun justru membentuk harmoni di tengah berbagai perbedaan selera. Kita mencintai keteraturan bukan homogenitas. 

Lagipula… siapa yang berwenang menetapkan racikan kopi seperti apa yang terbaik? Semua punya seleranya sendiri. Untuk beberapa orang kopi memang tidak sepantasnya ditambah susu, tapi siapa yang menjadikan itu aturan mutlak?

Satu yang mutlak adalah prinsip bahwa kopi harus diseduh dengan air, sesederhana itu.
Kadang konflik-tidak-perlu justru terjadi karena sebagian orang memutlakkan yang relatif dan kekacauan sering muncul akibat merelatifkan apa yang mutlak. Seperti kurang kerjaan menikmati kopi tanpa air, pernah coba?

source: http://i.telegraph.co.uk

Empat rekan saya itu dengan selera kopinya masing-masing mengingatkan saya dengan prinsip ini:
In necessariis unitas (unity in necessary things)
in dubiis libertas (liberty in doubtful things)
in omnibus caritas (charity in all things)
Premis ketiga dari kutipan latin Augustine of Hippo ini menjadi simpulan terbaik bagi perenungan iseng nan tidak penting yang dimulai dari sebungkus kopi bubuk Bali: "untuk segalanya harus ada kasih!" Kasih yang mau menghargai perbedaan selera. termasuk kasih untuk menawarkan segelas kopi susu super nikmat bagi saya :) *nyengir bahagia*


*this writing is inspired by true event and dedicated to Mr. teguh, Mr. Samuel, Mr. Robin, Mr. Vincent, and Mr. Ivander.
Alkisah... Suatu hari seseorang lelaki tampan terjaga dari lelapnya. Dia sendirian memikul sebuah tanggung jawab yang besar. Sang Tuan-nya meminta dia untuk memberi nama pada segala hal yang ada di taman indah itu. Satu per satu. Baik kepada burung di udara, segala kawanan liar di hutan, tak luput bagi mereka yang menghiasi lautan. Di tengah keasyikan itu, dia termangu tanya "tidak adakah dari semua makhluk itu yang sepadan untuk menolongku?" Tak berselang lama, dia bertemu belahan jiwa sepanjang masa. Benar! Ini adalah kisah perjodohan pertama di muka bumi, antara Adam dan Hawa. Dari kejadian itu, muncul banyak sekali kekaguman sekaligus membawa pada pertanyaan umum di benak para manusia jutaan tahun setelahnya.
   

Pertanyaan 1 : "kenapa Allah membuat Adam tidur?"
Setelah tugas melelahkan, sang Adam dibiarkan tidur. Ini adalah sebuah kesengajaan besar dari yang Khalik untuk memulai rencana tulus-Nya terhadap manusia pertama itu. Allah sendiri yang berinisiatif untuk menciptakan seorang Hawa. Kata kuncinya adalah adalah: inisiatif.

Bagi kita, awalnya terlihat biasa saja toh semua manusia memang akan tidur setelah lelah bekerja. Namun mari kita perhatikan pernyataan ini: 'Allah membuatnya tidur'. Jelas ini merupakan kesengajaan mulia yang memulai proses pengambilan tulang rusuk hingga pertemuan sang Adam dan perempuannya.

Sebelum kita memikirkan siapa pasangan kita, sudah seharusnya kita menghayati bahwa setiap tahap kehidupan kita adalah anugerah yang dimulai dari rencana Allah yang membawa kebaikan. Dari aktivitas tidur, Allah menyediakan pasangan bagi Adam. Dari aktivitas pelayanan kuliah, Riyan dipertemukan dengan saya. Dari organisasi kampus, sejoli memulai kisah cinta. Ada banyak hal yang dapat menjadi titik mula kisah cinta. Jika Allah sudah berinisiatif maka kegiatan sederhanapun dapat diajadikan awal yang sempurna. Sebaliknya, seberapapun kita menebar pesona jika Allah belum merasa perlu untuk mengambil inisiatif, maka tindakan kita jadi sia-sia.



Pertanyaan 2a: "Kenapa perlu ada Hawa?"
Pertanyaan jenius! Pada dasarnya Allah merupakan penolong yang jauh lebih dari cukup bagi Adam. Bagaimana tidak, faktanya Dia adalah Pencipta. Tidak diperlukan manusia lain, Allah adalah pelengkap hidup yang terbaik.

Lantas apa arti skenario pengambilan satu tulang rusuk Adam tersebut? Dia yang adalah Pencipta Semesta menahan diri-Nya untuk tidak mengisi sebuah kekosongan dalam diri Adam -sebagai simbol dari semua laki-laki- dan mengijinkan ruang kosong itu hanya diisi oleh seorang dari tulang rusuknya. Kata kuncinya adalah "menahan diri".

Hawa diciptakan jelas untuk menjadi penolong bagi Adam. Hawa diciptakan juga sebagai manifestasi Allah yang sedang menahan diri-Nya. Fakta itu tidak henti menginspirasi saya untuk menjadi wanita yang dapat mengisi sisi kosong laki-laki yang memang adalah kesengajaan Allah sendiri. Pencipta yang segala Maha itu telah menahan diri-Nya untuk mengisi kekosongan Adam, Riyan, dan seluruh laki-laki di muka bumi ini. Pengenalan akan skenario agung tersebut agaknya menyadarkan kita bahwa sebenarnya tidak ada alasan manusia tidak menahan ego-nya untuk membentuk kesepadanan dan harmoni hubungan laki-laki dan perempuan. Mengalah penuh kasih, itu adalah teladan yang diajarkan Allah di taman Eden dalam skenario pasangan hidup. Pilihannya adalah kita mau meniru atau membantah?


Pertanyaan 2b : "Kenapa tidak menciptkan 'Adam' yang lain?"
Pertanyaan cerdas dan kritis! Jika hanya untuk menolong, kenapa Allah tidak ciptakan saja laki-laki lain?
Ini karena Allah bukan hanya sedang membuat hubungan pertemanan namun sebuah hubungan unik yang dapat merepresentasikan tentang Kristus dan Jemaat-Nya. Sebuah hubungan hierarkis penuh kasih dimana ada titik pertemuan akan penghormatan dan penundukan.


Pertanyaan 3 : "Bagaimana konsep jodoh Kristen?"
Setelah Adam bangun, tertulis peristiwa selanjutnya bahwa 'Allah membawa perempuan itu pada Adam'. Inilah konsep jodoh! Pendalaman soal ayat ini pertama kali saya dengar saat saya menguping di kelas pastoral pra-nikah. Bapak pendeta dengan suara berkharismanya menjelaskan bahwa detail menarik yang kadang terlupa adalah kenyataan bahwa Adam tidak berkeliling-keliling taman untuk menemukan Hawa, namun Allah sendiri yang membawa wanita itu ke hadapan Adam.

Disini mengingatkan kita bahwa jodoh adalah seseorang yang dibawa pada kita saat kita sendiri telah baik melakukan apa yang Dia perintahkan, seperti Adam yang usai melakukan tugas memberikan nama-nama makhluk di taman itu. Ketika kita fokus untuk hidup dalam ketaatan dan melayani Dia, dengan cara-Nya sendiri sosok yang kita butuhkan akan datang. Itulah jodoh!

Hal ini ditegaskan dengan beberapa kisah lain, salah satunya adalah kisah pertemuan Ribka dengan Ishak. Kala itu Ribka hanya melakukan tindakan sederhana yaitu melayani memberi minum unta milik Eliezer -abdi Abraham yang memang diperintahkan untuk mencarikan pasangan bagi Ishak. Dimulai dari tindakan sederhana penuh kerendahan hati melayani, Ribka memikat hati Eliezer hingga diapun dipinang sebagai menantu Abraham. Baik Adam dan Hawa, Ishak dan Ribka, Musa dan Zipora mengingatkan kita untuk lihai menafsirkan setiap momen sebagau kesempatan melayani Pencipta. Tidak perlu mata yang rajin melirik sana sini, cukup fokus melayani Dia lewat berbagai hal, maka jodohpun akan Dia tunjukkan di waktu yang tepat dan cara yang mengagumkan.

Pertanyaan 4: "Bagaimana Adam yakin bahwa Hawa adalah yang sepadan baginya?"
Jawaban pertama adalah karena tidak ada perempuan lain saat itu. Hahaha mari tertawa sejenak. Itulah yang berbeda ketika jumlah penduduk bumi menjadi milyaran orang, dimana godaan untuk membandingkan dan 'cari aja yang lain' lebih mudah dilakukan.

Saya telah membaca beberapa buku soal pasangan hidup, namun dari kelas pastoral pra-nikah itu saya mempelajari lagi pesona indah perjodohan pertama ini. "Sepadan" adalah sesuatu yang ada di ukuran Allah. Hampir mustahil kita mengetahui seseorang itu sepadan dengan kita atau tidak TANPA kita dekat dengan Allah. Sepadan merupakan wujud kesesuaian paling tinggi berdasarkan standar Allah.  Manusia menjalaninya dengan ketaatan dan iman berbalut pengharapan penuh kasih. Semoga secuplik percakapan malam saya dengan Riyan ini memberikan sedikit gambaran:
Adiss : kalau ada perempuan yang lebih terampil mencintaimu dan lebih sepadan dalam menolongmu, kamu boleh putusin aku.
Riyan : kalau gitu aku boleh dong cari yang lain, aku coba jalani untuk cari tahu.
Adiss : gak bisa, putuskan aku dulu baru silahkan cari yang lain
Riyan : lalu gimana aku tahu kalau belum menjalani?
Adiss : itulah iman! Saat kamu memulai pacaran denganku kamu juga tidak tahu persis apakah aku akan bisa menjadi penolongmu dan apakah kita sepadan. Kamu hanya yakin akan hal itu, lalu memulai denganku. Saat itu kamu sedang mempraktekan soal iman, pengharapan, dan kasih dalam waktu bersamaan.
Riyan : *senyum* itulah kenapa aku tidak pernah menyesal memilihmu.

Sebelum kita berkomitmen dalam hubungan kita masih boleh untuk menerka-nerka sosok seperti apa yang akan sepadan dengan kita, lewat mengenal Tuhan dan diri sendiri sebaik mungkin. Namun saat sudah dalam hubungan, terkaan itu sudah harus berganti menjadi pengakuan dan iman bahwa pasangan kita adalah yang PALING SEPADAN bukan karena perbandingan, namun karena iman dan pengharapan.





Dari satu kata 'sepadan', dimulai dari satu Oknum Berdaulat, bertempat di satu taman istimewa, skenario ini menghadirkan kekayaan yang luar bisa yang menyisakan kesimpulan: Allah adalah makcomblang terbaik sepanjang masa! Percayakan kisahmu pada-Nya! :)
Beberapa waktu lalu saya disibukkan dengan kegiatan pengumpulan dana. Lewat penjualan gelang denim, kami rindu memberikan donasi dukungan bagi komunitas CrossLine. Dana terkumpul, dan saya kira cerita telah usai.

 

Dengan badan kekar, ripped jeans,
dan tato gambar Yesus di lengannya,
Bang Jack -dari pihak CrossLine- dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis tertentu.
Terungkap kemudian betapa dia bersyukur bahwa ada sebuah komunitas pemuda gereja yang membuatkan charity bagi pelayanan mereka.
Dengan nada yang makin lirih dia berkata bahwa ini kali pertama sebuah komunitas melakukan hal demikian bagi mereka. Tanpa diminta.
Seketika saya menangis. Ternyata perkara menjualkan beberapa gelang seharga 15 ribu telah menjadi berkat besar bagi sekelompok orang lain.

Bagi saya, itulah keindahan melayani Tuhan, kita diperbolehkan mendapati bahwa hidup kita yang jauh dari sempurna dapat jadi berkat. Kita mencicipi hikmah dari sebuah pilihan untuk melawan kenyamanan. Seketika lelaki kekar itu jujur berterimakasih pada kami, maka ingatan saya dibawa pada momen dimana saya riweuh balesin satu per satu chat beli gelang dan sekedar menyempatkan waktu buat kirim paketan, dan saya tahu itu sudah terbayar LUNAS.

Ada beberapa orang yang merasa menjadi orang baik saja sudah cukup. Sebagian yang lain menganggap bahwa pekerjaan adalah ladang tunggal pelayanan. Tapi sebagian yang lain memilih untuk mengurangi waktu bersantai demi melayani. Bahkan tak jarang ada yang memberi hidup untuk merangkul banyak orang. Pundi rupiah tidak sibuk mereka habiskan untuk mengikuti tren baik fashion atau lifestyle tertentu tapi untuk berbagi.

Lalu apa untungnya bagi mereka?
Kenyamanan berkurang padahal tak semua mawas akan karya dan karsanya.
Waktu santai menipis seraya dompet juga kembang kempis.
Satu kenikmatan yang mereka (dan semoga kita juga) bisa kecap dibandingkan mereka yang hanya memilih nyaman adalah: tahu bahwa Tuhan telah pakai mereka (dan semoga kita) yang super cemar buat jadi berkat.

Selain itu agaknya kebahagian orang yang melayani adalah bertambahnya banyak sekali alasan untuk bersyukur. Ijinkan saya menjelaskan bagian ini. Orang yang melayani dengan sungguh memautkan hatinya bukan hanya pada urusan pribadinya. Dia pautkan rasa terhadap sebuah acara, sebuah misi khusus, atau hal lain. Sehingga ketika orang-yang-tidak-melayani hanya bersyukur atas apa yang ada di hidupnya sendiri, orang-yang-tahu-pelayanan bisa menemukan terlampau banyak alasan untuk bersyukur dan masuk ke banyak kesempatan menyaksikan betapa kerennya Tuhan.

Tidak ada karya hebat yang lahir dari sebuah keegoisan menomorsatukan kenyamanan. Jika Dia yang adalah pemilik semesta mau melawan kenyamanan surga buat menyelamatkan kita, masak kita terlampu jijik merangkul mereka yang dianggap hina? 




Suatu hari seorang nenek berusia 90 tahunan kehilangan salah satu dari anting-antingnya. Dibandingkan menyerah, sang nenek berdoa. Entah apa yang istimewa dari anting itu karena jika dilihat dari harga, maka sebenarnya tidak tergolong mahal. Jika dilihat dari rupa, juga bukan sesuatu yang sangat indah. Benar-benar sepasang anting biasa. Selama tiga hari nenek itu terus berdoa, walaupun keluarganya sudah pesimis dan merasa bahwa ini waktunya sang nenek untuk menyerah dan segera membeli anting-anting baru.

Nenek itu masih teguh berdoa. Di tengah siang usai mengucap 'amin' dari doanya, dia dengan tubuh yang masih bugar walau di usia senja mulai bergerak menyapu ruangannya yang ada di lantai dua. Balkon lantai dua turut ia sapu. Posisi balkon itu menjorok keluar hingga dari sana sang nenek bisa melihat taman yang berada di bawah. Masih dengan sapu kayu di tangan, dia mendapati ada yang aneh, sesuatu yang kecil dan mengkilap. Silau cahayanya terpantul dan membuat nenek ingat akan sesuatu: antingnya! Dengan segera sang nenek meminta tolong pembantu rumah tangga untuk memastikan benda apakah yang ada di tengah rerumputan itu.

Ternyata benar! Itu adalah anting-anting yang sempat hilang. Doanya selama tiga hari, terkabul.




Seorang wanita lanjut usia dengan keterbatasan penghilatan dapat menemukan anting-anting kecil dari jarak lantai dua menuju ke taman bawah, pasti ini bukanlah kebetulan. Ini justru sebuah pengabulan doa dari Tuhan.

Tapi pertanyaannya sekarang adalah.. kenapa Tuhan repot-repot mengabulkan doa seorang nenek perihal anting yang tak mahal itu?

Jawabannya adalah karena itulah Allah kita: Allah yang telah berjanji akan setia hingga masa putih rambut kita (Yesaya 46:4


Dengan kisah nyata soal nenek dan anting-antingnya itu mari kita tanyakan serius dalam hati:
Apa alasan yang cukup besar yang memperbolehkan kita untuk khawatir? Perkara apa yang terlampau ngeri hingga membuat kita punya alasan untuk takut? Keadaan sekacau apa yang membenarkan kita untuk ragu?
Jika perkara anting tak berharga Dia pedulikan, apakah iya perihal seserius masa depan akan Dia abaikan? Sekali-kalipun tidak.
Jika doa dari seorang wanita tua yang ba tidak lagi dapat produktif melayani, Dia kabulkan. Masakkah Dia akan cuek atas doa kita yang masih dapat sangat produktif Dia pakai di ladangNya? Niscaya tidak!

----
*kisah ini diinspirasi kejadian nyata, yang sangat apik dibagikan oleh partner kerja saya: Mr. Lukas di renungan pagi para guru. Ini kedua kalinya saya memparafrase ceritanya yang selalu berkesan, setelah kisah LIDAH SEPERTI APA
Renungan ini bagi saya bukan sekedar memberkati namun sangat menghangatkan hati :)
Kemejaku berwarna ungu dan kemejamu berwarna merah muda pucat. Dengan rambut yang lebih rapi dibandingkan barisan tentara militer dalam upacara, kau menjemputku. Sepeda motormu tetap satu yang usang itu, walau aku tahu persis kau punya cukup uang untuk membeli yang baru. Entah apa istimewanya ia. Kita pergi bersama, berdua seperti biasanya. Tidak jarang orang menganggap kita kekasih dan kita tidak pernah membantah walaupun asmara sudah kita kubur lama. Dari hujan-hujan saat hendak membeli koper, mendapatkan bantal di sebuah undian kecil di pusat perbelanjaan kala natal, hingga ke ulang tahun ponakanmu, aku tidak mengingat satupun itu sebagai rutinitas biasa. Kau selalu menjadikan segalanya renyah, dan mungkin itu juga pesonamu. Ibarat minuman kau adalah seteguk choco-orange, manis namun tetap energik.

Sore itu kita keluar menghabiskan waktu di sebuah kafe atau resto lebih miripnya. Sofa berwarna abu-abu yang nyaman di area outdoor dekat kolam ikan. Sambil menunggu hidangan tiba aku mengeluarkan bingkisan kecil. Misimu adalah menraktirku entah juga dalam momen apa tepatnya, tapi misiku berbeda. Memberi hadiah adalah satu-satunya agendaku, yang aku tuntaskan dengan ditemani aroma segarnya daun tanaman gantung dan sepiring makanan Italia. Dompet coklat ada disana, ditambah sebingkai typography indah karya tangan seorang sahabat yang sudah aku pesan berminggu-minggu sebelumnya. Kau sangat terharu, sisi melankolismu seketika mencuat. Dalam posisi tulang leher sedikit merendah kau meminta maaf karena tak ada satupun hadiah yang kau siapkan. Kau hanya berjanji bahwa tahun depan, di bulan Desember, kau akan berikan satu hadiah balasan.

Di dompet itu aku jejalkan potongan kertas parfum dengan pesan-pesan tertentu. Anggap saja itu usahaku menjadi anti-mainstream dalam mengemas kartu ucapan. Di ruang transparan yang seharusnya berisi foto, aku isi kalimat doa supaya kamu segera menemukan sosok yang tepat mengisi ruang itu. Ruang hatimu dan ruang di dompetmu. Bisik itu tanpa ku sangka dikabulkan cepat oleh Pencipta. Kau kini berpasangan. Dengan motor baru kau ke kostku dan memberikan kabar secara tatap muka bahwa tambatan hati telah kau temukan dan pilihan telah kau tetapkan. Rona syukurmu tidak kalah cerah dari fajar pagi, sumringah yang gagal menyembunyikan bahagia. Aku turut bahagia walau ada bumbu cemas sulit diabaikan.

Beberapa bulan berjalan saat berbagai isu di televisi muncul hilang bergantian. Frekuensi komunikasi kita berkurang dan itu wajar. Persahabatan selalu berubah sedikit ataupun drastis saat salah satu sudah berpasangan. Kabar barunya adalah kau akan segera bertunangan. Undanganmu menorehkan senyum, sebab ternyata aku masih kau perhitungkan sebagai kawan dekat. Tanpa pikir panjang, aku lincah mencari tiket menuju pulaumu. Cuti juga aku ajukan untuk menyempatkan hadir melihatmu bertukar cincin untung-untung jika sekaligus dapat mengunjungi danau Toba, destinasi impianku.

Walau musim sudah berantakan karena pemanasan global, tapi gerimis rutin masih setia hadir di akhir tahun. Desember ini basah seperti tahun-tahun lalu. Sebagai tuan rumah kau mengganti kesediaanku merogoh kocek lebih untuk tiket pesawat dan gaji yang berkurang akibat cuti, dengan layanan prima. Kau menawarkan untuk menjemputku di bandara. Tapi... lagi-lagi ada sesuatu yang mengusikku. Entah apa itu. Aku tak berani menebak karena walaupun sesekali intuisiku tajam tapi di banyak waktu yang lain otakku begitu bising namun ompong tiada akurat. Tidak tahu lagi soal kali ini.
"Tunggu di lobby ya. Aku akan menjemputmu bersama Janice"
Begitu kalimatmu yang hampir tertelan berisik angin dan hujan. Antusiasme membanjiriku karena secara perdana akan berkenalan dengan Janice gadis pujaanmu, seseorang yang kau sebut 'anak gadis yang manis'. Tetap, secercah firasat penuh ambiguitas terus menjerit.

10 menit.. Setengah jam.. Hingga satu jam berlalu dengan penantian kosong di lobby bandara. Satu gelas choco-orange kesukaanku sudah habis namun kau serta Janice tak kunjung hadir. Inisiatifku mengambil handphone bertepatan persis dengan satu panggilan masuk dari nomor yang tidak aku kenal. Aku angkat tanpa sedikitpun berpikir, isak tangis terdengar dari seberang sana. Firasatku benar. Mamamu mengabari berita terburuk yang dalam sepersekian detik aku umpamakan sebagai ilusi semata.

Kau kecelakaan dan meninggal di perjalanan menjemputku. Hatiku remuk.

Diantar taksi, aku bergegas ke rumah sakit yang diinfokan mamamu dengan gontai. Di ruang itu aku melihat tubuh wanita, yang aku tahu pasti adalah Janice, penuh luka. Tidak banyak barang yang diselamatkan dari jenasahmu, hanya dompet yang aku kenal persis dan jam tangan yang sudah pecah. Handphonemu entah diambil siapa. Aku tidak menangis barang sedikitpun di senja itu, bukan berarti nihil sedih namun karena tidak cukup mampu. Kadang orang lupa bahwa meneteskan air mata juga butuh kekuatan. Aku tidak punya itu.

Aku tak peduli lagi soal cuti, dipecatpun aku acuh. Hanya satu inginku, terus bersama mamamu yang sendirian setelah kepergian papamu dan (calon) tunanganmu yang sedang memulihkan tubuh sekaligus jiwa yang tergoncang. Aku berusaha hadir utuh, memberikan kekuatan yang juga sebenarnya abstrak di sisiku. Pekan berganti bulan. Kami bertiga semakin erat: aku, mamamu, dan Janice.

Kesedihan itu menyatukan kami. Sebagai mama yang kehilangan anak, gadis yang kehilangan kekasih, dan aku yang kehilangan sahabat. Kami menjadi kompak dan saling menguatkan bahkan bertahun setelahnya.

Tanyakan kabar kami sekarang, maka aku beritakan kepadamu dengan lega: Mamamu yang sempat sangat kurus sudah doyan makan dan mau hadir lagi di arisan keluarga. Janice berlatih membuka hati, tanda dia sudah mulai pulih. Dan aku disini? Entah apa yang berubah drastis, tapi aku bisa tersenyum dan dengan bangga kukatakan bahwa sahabat terbaikku sudah menepati janji. Kau memberikanku hadiah dua wanita hebat di Desember ini sebagai ganti hadiah yang lupa kau siapkan tahun lalu.





Sekarang di dompet coklatmu itu aku taruh foto kami bertiga, karena aku tahu pasti inilah tiga wajah yang mengisi ruang hatimu. Sekarang pergilah dengan tenang, kami saling menjaga dan akan baik-baik saja..
Saya tahu jelas, tidak semua pertanyaan perlu dijawab dan pandangan miring melelahkan untuk ditanggap. Dan... saya paham benar beberapa orang bertanya bukan karena peduli, bukan pula disponsori kerinduan melihat lebih jauh sebuah kisah dari sudut pandang orang pertama, namun murni sekedar penasaran.

Bagaimanapun saya ingin tetap menjawab banyak tipe pertanyaan semacam ini "anak HI kok jadi guru akhirnya? Ga eman?" Atau sebuah tanda tanya yang memojokkan "magang di luar negeri kok ujung-ujungnya (cuma) jadi guru?"

Di akhir Januari ini tepat 3 tahun lalu saya mulai melakukan magang di KBRI Bangkok, dan saat ini bukannya di Kemenlu ataupun KBRI tertentu, saya memilih menjadi guru. Aneh kah?



Perjalanan hidup tidak selalu terduga, bukan?! Dimulai dari guru paruh waktu empat bulan, satu tahun menjadi guru penuh waktu, satu tahun penuh menganggur, hingga saya menyadari bahwa ini panggilan hidup.

Pernah satu kali saudara Riyan bertanya hal senada, dan saya menangis seketika merasa terpojokkan dan sekelibat hina. Saya bersembunyi di punggung kekasih saya itu menutupi sudut mata yang basah. Riyan dengan kharisma penuh kasih melindungi dan mewakili saya memberi jawab: "iya soalnya itu panggilannya adiss dan disitu dia nyaman, mbak."

Kalimat yang sama akan saya berikan kepada semua orang yang terheran kenapa seorang sarjana HI memilih menjadi guru: rasa nyaman dan wujud ketaatan akan panggilan.

Sekali lagi.. Jika ada yang mau bertanya kenapa saya jadi guru, hanya itu jawabannya yaitu karena saya mau taat ke Pencipta dan itu membuat saya bahagia. Tidak kurang tidak lebih. Kalau panggilan hidup bisa kita tawar-tawar saya juga tidak akan memilih bidang yang membuat saya harus menampung banyak pandangan sinis ini. Saya akan memilih panggilan hidup sebagai presiden atau setidaknya di dunia perpolitikan dan mengambil andil signifikan dalam pemerintahan Indonesia yang semrawut ini. Tapi setelah satu tahun yang rumit saya paham bahwa ruang kelas adalah ladang yang Tuhan percayakan.

Lalu apakah eman sudah kuliah HI namun berujung menjadi guru? Sekali-kalipun tidak. Saya yakin pasti bahkan urusan sesederhana tanggal lahirpun Dia atur, maka keputusan dan kesempatan sebesar kuliah di HI Unair samasekali bukan kebetulan. Bertemu banyak dosen yang penuh wawasan, membaca banyak buku kelas dunia, bertemu banyak orang hebat, dan pastinya berlatih menulis. Tidak sedikitpun saya sesali ini.

Begitu juga soal magang di luar negeri. Magang di KBRI dan menjadi guru, adalah dua hal yang berbeda dan tidak relevan disandingkan. Setidak relevan kalimat "kamu pernah mendaki gunung kok sekarang jadi manager fashion retailer" #nahloh Tidak harus toh semua keputusan langsung berhubungan dengan tujuan hidup ini. Misalkan seorang dokter apakah tidak boleh memiliki pengalaman mengajar? Dan tidak selalu kan yang dulu aktif di LSM penghijauan harus menjadi menteri lingkungan hidup. Ketika saya melihat kawan saya yang dulu lulusan Harvard Model United Nation kini bekerja di bidang yang sepenuhnya berbeda, tidak ada sedikitpun pandangan aneh. Artinya, tidak seharusnya kita menjadi orang yang memaksakan satu pengalaman tertentu harus berkaitan erat dengan tujuan masa depan. Bukankah kita justru harus terbuka dengan banyak pengalaman? Karena akhirnya pengalaman itu selalu memperkaya, apapun pekerjaan kita akhirnya.

Orang yang berkata 'eman' hanyalah mereka yang menyempitkan hidup ini sebatas garis normatif "jika-maka". Jika kuliah hukum maka harus jadi notaris. Jika kuliah sastra maka minimal jadi penulis. Padahal hidup tidak sesempit dan selurus itu. Tapi justru disitulah keindahannya, penuh kelokan misterius yang membawa banyak pesan.

Menjelaskan hal inipun pasti masih memiliki celah untuk dihakimi. Tapi omongan orang tidak menambahkan sehastapun dalam hidup saya. Penjelasan ini akhirnya bisa terang-terangan saya bagi adalah karena saya sudah berdamai dengan semua pandangan miring semacam itu. Tanda bahwa kita sudah tuntas memaafkan adalah dengan keberanian untuk me-reka-ulang kejadian yang membawa luka. 

Awal saya memilih menjadi guru saya terus menyembunyikan rasa tidak aman dibalik kalimat 'cuma satu tahun kok'.  Tapi sekarang saat saya mendalami profesi ini, saya tidak peduli lagi soal durasi. Apalagi setelah keluarga kekasih saya senada berkata 'udah dis, terus jadi guru aja'. Kalimat super sederhana yang mengejutkan karena awalnya mereka terus menuntut saya memiliki pekerjaan yang lebih 'keren'. Bagi saya pribadi perubahan hati mereka hingga memberi dukungan semacam itu adalah sebuah perpanjangan tangan restu-Nya. Dan sama seperti banyak aspek dalam hidup, Restu Tuhan itu lebih dari cukup. Kali ini restu itu membuat saya mantab menenggelamkan jiwa di dunia pendidikan.

Saya sarjana Hubungan Internasional Unair dan sekarang saya seorang guru, saya bangga dengan itu :)

Tidak ada penjelasan tambahan. Ini bukan keanehan. Ini keyakinan, kenyamanan, ketaatan, dan keputusan penuh kesadaran. 
Semester lima saya saat itu. Pilihannya sederhana, fokus melanjutkan skripsi atau menantang diri akan petualangan baru. Saya dan lima kawan perempuan lainnya memilih yang kedua. Sesuai jurusan, tempat yang pas bagi kami magang pastinya KBRI. Kami mulai mengajukan proposal hingga singkat cerita kami diterima! Yihuuuyy.. bahagia bukan kepalang. Pertama kalinya saya akan naik pesawat, perdana pula pergi ke luar negeri (dan belum terulang sampai sekarang, hiks), bahkan bonus supernya adalah dapat tinggal selama sebulan. Syukur tak terhingga. Bermodal nekad, berbalut usaha, dan beratapkan doa, anak desa seperti saya bisa kesana. Masalah lain muncul, semua dana kami tanggung sendiri. Alhasil uang beasiswa saya kerahkan. Memang benar, kita selalu bisa menemukan alasan berjuang untuk sesuatu yang sungguh kita damba.

Tom Yum, itu menu pembuka kami sesampainya di Thailand. Dihantar oleh dua mahasiswa Indonesia, kami sambang ke sebuah kafe kecil. Letaknya tak jauh dari Victory Monument, disana kami menikmati semangkok hangat makanan khas Negeri Senyum. Kami ditraktir di malam mendung itu. Setiap sendok menjadj berkali lipat lebih nikmat, karena disponsori kebaikan dari orang yang bahkan baru kami kenal. Suap demi suap di tengah lelah namun penuh sukacita. Saya tidak akan lupa malam itu. Baik nikmat Tom Yum, juga kebaikan dua saudara setumpah darah, mas Hasan dan mas Arman.


Sebulan berjalan, banyak kuliner yang kami coba. Rata-rata yang murah, karena kami harus berhemat dan memastikan baht yang kami bawa dari Tanah Air cukup hingga sebulan ke depan.  Namun ada satu menu yang saya ingin ceritakan lengkap. Namanya Nasi Goreng Campur!

"Walah apa istimewanya?"
Mungkin begitu bantah Anda.

Eiiits tunggu dulu..

Pasca lelah berkeliling salah satu tempat iconic Thailand, saya dan kawan muslim berpencar mencari makan, Perbedaan prinsipal pemilihan makanan bukan hal yang menyulitkan kami samasekali. Cukup toleransi, kami dapat tetap menikmati hidangan Thailand sesuai selera. Secara random saya singgah ke satu tempat makan di sekitar Grand Palace, yang tak lain tempat kediaman Keluarga Raja. Nasi goreng itu tidak melewati proses menggoreng seketika pesanan tiba. Alhasil sudah siap saji dan tidak hangat. "Ah salah pilih nih" begitu ujar saya dalam hati. Tapi memang tak baik terburu menjustifikasi. Dugaan awal saya, salah. Salah total!

Foto versi cantik
Source: www.s-media-cache-ak0.pinimg.com

Nama tepatnya adalah Khao Kluk Kapi. Jika Anda mencoba mengetikkan nama tersebut ke mesin pencarian paman Google, maka akan muncul banyak gambar menggiurkan. Sampai sekarang, inilah nasi Goreng terenak yang pernah saya makan. Konsepnya sederhana. Nasi yang digoreng dengan berbagai bumbu dan bercampurkan terasi (Shrimp Paste) sebagai bintang utama. Nasi olahan yang berwarna merah tak pekat itu kemudian disajikan dengan beberapa topping penyempurna, seperti parutan mangga muda, sosis babi, tumis babi kecap, telur dipotong tipis, potongan buncis dan bawang merah. Saya tak menunggu lama untuk mulai memadupadankan setiap elemen di atas piring saya dan memindahkannya dengan penghayatan ke mulut lalu perut.

Versi apa adanya. Dokumen Pribadi
Secuplik Surga di belakang Istana Raja


Cita rasa yang sedap berpadu merdu dengan segala topping, membawa kesan tak terlupakan. Bukan menu yang riuh dibahas, namun cinta saya melekat disana. Satu porsi pencuri hati. Sungguh. Di tengah mengetik alinea di atas, saya terus harus menelan ludah merindukan sekali lagi suapan menu tersebut.

Berbagai kuliner murah meriah yang bikin rindu!
-Dokumen Pribadi-

Sebulan memang lama jika dibandingkan liburan yang hanya hitungan hari atau pekan. Tapi, kesempatan magang dengan dana minimalis ini telah membuat saya jatuh cinta pada berbagai hal dari Thailand. Tak kalah, kulinernya. Lezat cumi bakar di Chatucak, gurih kalajengking dan nikmat Pad Thai di Kaosan Road, es teh susu jumbo dan buah potong di depan Pantip Mall, durian super di sepanjang jalan Petchaburi dan pastinya nasi-goreng-tak-populer di kawasan Grand Palace. Sebulan magang yang seakan tak pernah kenyang, dan ingin terus mengulang ðŸ’•

Semoga, naluri lapar ini terpuaskan dengan kembali menjajakkan kaki disana.