Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Satu ketika, liburan dan berbagai rantai takdir membuat saya bergabung dalam pendakian Gunung Semeru. Untungnya, ijin dengan mudah saya kantongi. Saya pribadi sangat bangga dan lega dibesarkan dengan kombinasi nilai dari mama dan papa. Kepercayaan dan keleluasaan yang tinggi dari mama dan ketegasan prinsip dari papa, membuat saya mencicipi banyak kebebasan tanpa terlena untuk keluar dari jalur yang seharusnya.

Pendakian yang melelahkan ini berlangsung empat setengah jam. Ketika wajah Ranukumbolo mulai terlihat, saya refleks berteriak kegirangan. Adalah naluri, menjadi lebih ekspresif kala melihat bahwa jerih payah hampir sampai pada tujuannya. Sore itu saya menikmati waktu dengan cengkrama kawan dan gerakan cantik kabut yang datang. Kami seluruh pendaki bertabur takjub kala melihat meriah bintang saat malam. Lalu dengan sok, kami membuat gambar dengan menarik garis antar bintang, yang sepenuhnya hanya bentuk imitasi adegan film romantis. Keesokannya, kami mengisi perut dengan bekal seadanya. Walau masih terasa betah berinteraksi dengan alam disana, kami mulai melangkah pulang. Jalur yang berbeda dari yang kami tempuh saat berangkat, tapi sama-sama indah. Di tengah perjalanan, sembari meneguk air mineral, kami berhenti dan salah satu rekan saya berbagi cerita.

Dia merupakan sosok yang begitu menghidupi jiwa petualang dalam dirinya. Bukan sedar petualang ala-ala yang buang sampah sembarangan, namun seorang bertanggung jawab dengan alam yang dia singgahi. Dia berujar bahwa naluri petualangan ini adalah warisan dari mamanya. Iya, mamanya! Bahkan ijin untuk pergi dan pesan-pesan menjaga lingkungan adalah petuah berulang yang ia petik dari sang ibunda.

Tak berselang lama, sesampainya parkiran mobil dekat Ranupani, saya melihat pemandangan yang begitu berkesan, benar-benar mengharukan. Seorang wanita sekitar hampir 40 tahun, membuka tangan memeluk lalu mencium pipi suaminya dan dua anak laki-lakinya yang sangat belepotan dengan lumpur pasca tuntas menggapai puncak. Ah sungguh :') perasaan yang mengilhami saya menulis ini.



Melihat pemandangan di parkiran TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru), mengingat mama saya di rumah, dan mendengar cerita tentang sosok ibu yang menurunkan darah petualang, membuat saya memutuskan ingin menjadi sosok ibu seperti apa. Yes, I decided on the spot, that’s the kind of mother I wanted to be.

Namun saya tahu persis:
untuk menjadi ibu hebat saya harus terlebih dahulu menjadi wanita hebat.

Saya sangat tergugah dengan pesan bahwa wanita tidak boleh manja seperti yang ada di tautan berikut: http://trivia.id/post/wanita-tidak-boleh-selalu-manja-ini-alasan-mengapa-kamu-harus . Bacaan tersebut saya kira akan rugi untuk kita lewatkan. Beberapa poin yang gamblang dan patut direnungkan.

Entah berapa tahun lagi kita boleh mencicipi kepercayaan menjadi seorang ibu, tapi sedari sekarang sebagai seorang wanita, sudah selaiknya membentuk sosok ibu seperti apa yang kita idamkan kelak dan memperjuangkan hal itu.



Saya memang ingin ada memeluk anak dan suami saya saat turun dari puncak, atau naik ke perahu setelah jelajah laut. Tapi saya terlebih ingin menjadi wanita yang turut mendaki dan melihat indah bawah laut bersama mereka.

Saya masih jauh dari usia memiliki anak, dan masih sangat jauh untuk menjadi sosok yang saya harapkan. Setidaknya, sedari sekarang saya harus berhenti manja.



Saya hanya terus mencoba. Kamu juga kan?
“Semua orang memiliki mimpi”
Hmmm sebentar.. mungkin tepatnya begini: “semua orang boleh bermimpi”

atau versi saya: "semua orang butuh bermimpi"
Terlepas dari yang beda pendapat dan antipati, saya sepakat pada banyak motivator yang telah menekankan arti penting impian. Sudah gratis, memberi tujuan hidup pula. Kira-kira begitu. Tak mau kalah, sayapun punya. Salah satunya adalah soal pernikahan. Bukan tentang kemewahan tapi beberapa konsep yang terlanjur mendarah-daging dalam angan.

www.greenweddingshoes.com


Sore ini saya dan Riyan menghabiskan waktu melimpah membicarakan banyak hal. Di tengah obrolan itu Riyan bertanya:
“sayang.. gimana kalau dream wedding-mu tidak tercapai?”

Saya menghela nafas.
Saya diam.
Saya mengambil jeda.

Ada beberapa jenis pertanyaan yang menuntut keseriusan ganda, karena mengharuskan memberi jawab sekaligus menguji diri sendiri. Pertanyaan ini, salah satunya.
Impian soal pernikahan dan seabreg impian lain seakan menjadi kebutuhan bagi saya. Bukan karena sebuah kegagalan –atau ketakutan terhadap hal itu- saya akan membatalkan impian. Belum pernah, dan semoga tidak perlu. Bagi saya impian adalah prasyarat kehidupan.


  • Impian Menghadirkan gairah
Impian membuat saya menjalani sesuatu dengan tertuju dan penuh gairah. Ketika mendambakan sesuatu, sejatinya bukan “ini harus tercapai” yang menjadi energi namun sebuah suara lembut yang menyatakan “aku akan mencoba mencapainya”. Niat “mencoba” itulah yang membukakan banyak pintu peluang.

Antusiasme dan impian memiliki korelasi erat. Bagi orang yang terlampau excited terhadap banyak hal, impian menjadi sebuah pecutan untuk tetap keep on track. Sebaliknya, bagi yang minim antuasias, impian adalah stimulan terbaik untuk menyalakan api ketertarikan.


  • Ruang Memuji Sang Sutradara
Ada 150 poin mimpi yang saya miliki. Sebagian sudah tercapai, sebagian sedang diusahakan dicapai, sebagaian hanya tinggal menunggu dilakukan, namun untuk sebagian sisanya saya tidak benar-benar tahu bagaimana mewujudkannya. Itulah intinya. Beberapa impian yang seakan misteri justru menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana kehendakNya bekerja.

Ijinkan saya memberi contoh. ketika saya menuliskan poin “ikut sidang PBB”, I have totally no idea bagaimana akan merealisasikannya. Ajaibnya, itu terwujud. Saya tidak merencanakan samasekali dan *taraaaa* itu terjadi. Di momen itu saya tahu persis bahwa ada Tangan yang selalu melampaui keterbatasan dan Tangan yang sama pula penuh dengan belas kasihan. Itu hanya satu momen. Impian kecil “S1 usia 20 tahun” dan “bekerja sebelum wisuda” semua tanpa perencanaan, terkabul.

Jangan salah tafsir! Kita tidak pernah boleh beriman bahwa semua impian akan terwujud. Kita mesti beriman bahwa Pencipta selalu memberi terbaik, bahwa Dia tidak pernah pelit, bahwa Dia pula yang penuh kuasa sekaligus belas kasih.

Ketika ada impian yang tidak terwujud, kita akan sedih. Rasakan itu sekadarnya saja lalu melanjutkan hidup dan mencapai kemungkinan yang lain. Semudah itu? IYA. Karena iman, kita dapat yakin ketika Dia berkata ‘tidak’ maka ada hal lebih baik akan datang. Klise? Mungkin. Tapi itu benar. Maka… membuang waktu dengan kesedihan akan menjadi wujud takabur paling ulung.

  • Tidak kebal kecewa
“orang yang tidak pernah kalah yakni mereka yang tak pernah bertempur.”
                Resiko impian adalah kemungkinan akan kegagalan. Selalu menyakitkan. Faktanya, hanya orang yang tidak bermimpi yang tidak pernah kalah. Mereka menghindari sayatan, perasaan tak berdaya, dan malu terhina, dengan samasekali tidak berjuang sedari awal. Saya hanya tidak mau menjadi ‘mereka’ itu. Seburuk apapun kemungkinan kegagalan, sekiranya lebih baik untuk tidak bersembunyi di balik kalimat “jangan mengharapkan apapun maka kau tidak akan kecewa.”

Kekecewaan membuat kita menyadari keterbatasan diri, membuat kaki (bahkan lutut) kita menginjak bumi, dan menguji naluri sebagai pejuang sejati.

Ketika dulu saya menceritakan soal 12 kriteria pasangan hidup saya, beberapa orang dengan sangat sopan menjelaskan: “ah kalau aku terserah Tuhan mau kasih seperti apa. Daripada bikin kriteria tapi nanti kecewa.” Hanya karena takut kecewa, beberapa orang membatalkan impiannya. Atau mungkin, sekadar meralatnya.

Oke, tentang kriteria pasangan hidup saya tidak kecewa. Tuhan berbaik hati memberikannya lewat seorang Riyan. Tapi saya punya BANYAK kekalahan yang lain. Bahkan soal 150 poin itu, mimpi “membawa mama papa pergi ke luar negeri” tidak bisa saya penuhi karena papa telah berpulang. Sedih? SANGAT! Sebuah titik kegagalan, sebagai seorang anak dan sebagai seorang pemimpi. Bagaimanapun, persis kala itu saya dijejali banyak pelajaran hidup berharga, misalnya tentang kematian dan arti keluarga.

Jika demikian, kenapa  harus anti dengan rasa kecewa?


Lamunan saya dalam penyusunan gagasan ini dipecahkan oleh Riyan di seberang sana yang menagih jawaban. Agaknya durasi saya mengambil jeda dan menarik nafas kelewat lama.

sama seperti saat aku gagal CPNS gagal menang lomba, dan kegagalan lain, aku akan sedih...
…tapi aku akan menerima dan melanjutkan hidup.”

Sang penanya puas dengan jawaban itu.

Dan aku disini hanya berbisik di hati: “Tapi untuk saat ini, ijinkan aku sekeras mungkin berusaha mewujudkannya.”


---
Jangan takut bermimpi,
sebab ketika kau menginginkan sesuatu,
semesta berkonspirasi menolongmu





Pagi itu, aku buka lebih awal dari biasanya. Kegelisahan yang muncul, juga lebih besar dari semestinya.
Aku sempat menakutkan masa depan. Terlalu banyak impian yang aku simpan, tapi seakan kekurangan sumber daya untuk mewujudkan. Kadang mimpi itu memotivasi kadang juga menjadi beban tak terbantahkan. Batas mimpi dan obsesi menjadi begitu tipis. Singkatnya, pagi itu aku ketakutan.
Aku memulai perjalanan di Senin pagi dari daerah Ahmad Yani. Riuh, penuh kendaraan bermotor. Tak ada yang beda aku duga. Masih dengan kemacetan, polusi, dan kegelisahan tak diundang. Sampai, di perempatan Wonokromo aku tahu: Sang Khalik memelukku erat.
Di perempatan kala lampu merah menghadang, aku menatap ke langit dan melihat banyak burung berterbangan. Banyak. Lebih banyak dari biasanya. Telah kesekian kali aku melewati daerah itu di Senin pagi, aku yakin: ada yang beda.

Mereka lincah mengepakkan sayap menghiasi pemandangan langit pagi yang agak berdebu. Sayap hitam mereka membentang, mengingatkan pada indah kepolosan gambar burung versi taman kanak-kanak.
Aku tak jeli jenis burung apa mereka dan tak pula menebak apakah mereka saling bercengkrama membicarakan hidup dengan sesamanya
Aku hanya penasaran apakah mereka punya kekhawatiran. Misalnya soal makanan apa hari ini, biaya pembuatan sarang, atau kekhawatiran akan pemburu yang mengintai.
Hanya dua yang aku tahu: pertama, fakta bahwa mereka terbang lincah. Kedua, bahwa burung-burung itu telah menjadi bahasa sederhana nan hangat sang Pencipta.

Mungkin kebetulan, atau mungkin sebuah kesengajaan Ilahi. Tapi sekali lagi aku menggugah diri.. jika burung-burung di udara saja Ia pelihara, jika mereka yang tak menabur saja dapat terbang dengan anggun, masakkah masa depanku Ia abaikan?
Ketika seorang proffesor jenius membutuhkan seumur hidupnya untuk belajar biologi..
Ketika seorang astronom mendedikasikan dirinya pada berbagai teori untuk menjelaskan galaksi..
Dia -sang Berdaulat- mencipta itu semua.
Ia yang mengatur jagat raya,
memerintah di atas semesta,
lalu apakah Dia akan kurang daya dan kuasa menolong hamba yang mau berusaha?
Sekali-kalipun tidak.
Aku mengakui kuasaNya, tapi tak kurang mengagumi pelukanNya...
... yang begitu terampil membahasakan kasih dan providensi.

Lewat udara yang segar ketika seseorang merasa hidupnya terlalu pengap derita.
Lewat gemersik rumput dan senandung alam, saat seseorang tertekan berisik tuntutan orang sekitar. Lewat senyum kakek penjual buah yang sedang menyebrang jalan, ketika seseorang merasa tak ada lagi keramahan yang bertahan.
Dan pastinya.. lewat gerak-tanpa-gelisah burung-yang-tak-menabur, ketika seseorang takut akan masa depan. Sepertiku. Senin pagi. Di perempatan Wonokromo.



Di sudut ruangan, saya duduk bersama dua murid perempuan. Tiba-tiba, salah satu diantara mereka mengangkat kaos menunjukkan area perut. Saya kaget. Walau sama-sama perempuan, tapi tindakan tanpa komando itu membuat saya sempat terperanjak.

turn your scars into stars
Source: 24.media.tumblr.com


miss aku lho uda ngerasain operasi

Seraya dia menunjukkan sebuah bekas jahitan yang sudah mengering. Bekas sayatan itu tak kecil, 13 cm panjangnya (sesuai konfirmasi orang tua yang bersangkutan) sehingga tak perlu menjelikan mata, saya sudah bisa menangkap operasi 'serius' telah berlangsung.
Remaja berambut semi-keriting itu lantas melanjutkan penjelasan. Ternyata sejak usia dua tahun, salah satu ginjalnya harus diangkat. Dengan beberapa alasan medis, saya menyimpulkan fakta bahwa sekitar 12 tahun sudah dia jalani hari demi hari hanya dengan satu ginjal.

dokumen pribadi
Keterangan: Salah satu ginjal tergencet kista yang cukup besar. William's tumor, sebutan medisnya.


Sampai disitu, perasaan saya bercampur. Lebih tepatnya kebingungan memilih respon yang tepat dan pantas.

Ada banyak sekali sebenarnya ketidakberuntungan yang dialami setiap insan. Murid saya hanyalah satu diantara jutaan kasus lain. Ketika sesuatu yang bahkan dia tidak bisa kendalikan, harus singgah, dan memberikan sebuah dampak yang seringnya tak nikmat. Entah perkara kondisi fisik, finansial, relasi yang retak, dan berbagai hal lain. Ketidaksempurnaan hidup itulah yang agaknya menjadikan konsep “harus kuat” menjadi begitu populer.

keep holding on

Dengan gentar saya mengajukan pertanyaan “Lalu… gimana kondisimu sekarang? dan pernah ngga kamu minder ama bekas operasi itu?”

“Semua normal miss” katanya lugas. Ternyata walau hanya dengan satu ginjal, belasan tahun dia dapat jalani dengan kondisi fisik prima, atau setidaknya tidak jauh berbeda dengan orang-orang lain. Setahun sekali memang masih harus menjalani check-up tapi selebihnya, gadis yang tahun depan akan mengenakan seragam putih abu-abu ini, menjalani berbagai aktifitas tanpa pantangan apapun.

“tapi soal minder.. ya pernah miss” begitu responnya menimpali tanda tanya saya yang kedua. “Dulu SD, pas ganti baju olahraga kan bareng-bareng, sering ditanyain temen itu luka apa”

Saya kira jawabannya hanya sampai disitu, tapi lanjutan pernyataannya membuat hati saya bergetar:

“tapi lho miss Tuhan uda baik banget sama aku, operasinya pas kecil jadi aku ga ngerasain apa-apa dan aku sehat-sehat aja sampai sekarang, jadi aku kebangetan miss kalau ga bersyukur”


Exactly! That kind of attitude is just adorable.

Sejatinya, kuat itu bukan menjadi senantiasa bahagia di tengah masalah,
Bukan pula soal berpikir positif yang berlebihan sehingga melakukan penyangkalan bahwa memang ada sesuatu-tak-enak terjadi. Kuat berbicara jauh lebih indah dari itu.

Kita jelas tahu tokoh Nick Vujicic dan lusinan orang lain dengan keterbatasan fisik namun menggoreskan karya luar biasa. Mereka semua orang yang begitu kuat menjalani hidup. Kesamaan murid saya dan mereka adalah sebuah attitude yang tepat ketika nasib seakan tak berpihak.

in this imperfect life, we can always choose our attitude about it

Pertama,
mereka menolak skenario victim playing yang berpotensi membuat mereka dapat menerima limpahan rasa kasihan. Mungkin nasib memberikan ketidakberuntungan tertentu pada kita, tapi kita selalu bisa memilih kita mau menjadi tokoh korban yang menyalahkan nasib dan mengemis rasa iba, atau menjadi seorang pemenang yang menginspirasi.

Kedua,
mereka fokus pada karunia lain yang Pencipta berikan. Alih-alih klise berpikir positif menyangkali kenyataan, mereka justru menerima utuh ketidakberuntungan itu, tapi tidak membiarkan diri terjebak di sana. Mereka tidak fokus pada apa yang tidak mereka miliki tapi fokus kepada segala berkat lain yang Pencipta sediakan.

Tiba-tiba saya teringat tentang sosok Morrie, yang ditulis dengan apik oleh Mitch Albom.
“Morrie tahu ia jadi korban nasib yang tak ada alasannya, tapi Morrie tak memilih menjadi marah. Dia memberitahu kita, masih ada orang yang berbuat baik dalam kekalahannya.”
Kalimat ini adalah refleksi yang merangkum attitude yang tepat dalam menghadapi sesuatu. 

Tidak marah dan tetap berbuat baik, bukankah butuh kekuatan besar untuk melakukannya?

Mungkin kita tidak terbatas secara fisik, tapi saya yakin di segala apa yang kita miliki, selalu ada ketidaksempurnaan. Levelnya berbeda tergantung kebijakan Pencipta, tapi yang jelas kita harus menjadi pribadi yang kuat.

Kuat untuk bersyukur, kuat untuk menjalani sesuatu dengan legowo, dan kuat untuk mampu menginsafi sesuatu yang buruk sebagai skenario terbaik.

Sudah kuatkah kita hari ini?



“Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis” -Markus 7:31

Ayat ini bukanlah sebuah baris kata yang meaningful jika hanya ditengok sekilas. Bukan sebuah penguatan iman, kalimat janji, ataupun sebuah penghiburan. Ini hanyalah catatan rute pelayanan Yesus. Sekedar rute, jika kita sekedar membaca tanpa menyediakan waktu melihat konteks sesungguhnya.



Mari kita mulai dengan melihat peta. Dari Tirus menuju danau Galilea dengan melalui Sidon. Tidakkah kita pikir ini adalah sebuah rute yang sangat tidak efektif? Apakah Yesus sang Pencipta semesta harus kembali belajar membaca peta?

Sekali-kalipun tidak.

Sidon seakan sebuah persinggahan sebelum menuju ke Danau Galilea.
Apa artinya singgah? Singgah bermakna kita harus berhenti sejenak. Sebuah persinggahan tidak mengubah tujuan utama, namun menjadi titik dan waktu pemberhentian sebelum menuju tujuan akhir itu sendiri.
Hampir sama dengan hidup ini. Masing-masing kita agaknya pernah singgah. Sama seperti Tuhan melakukannya ribuan tahun lalu, Diapun mengijinkan hal itu di skenario-Nya bagi kita. Jika direfleksikan ke diri saya sendiri, saya mengintisarikan bahwa setidaknya ada tiga alasan kenapa Tuhan menghadirkan sebuah persinggahan.


  1. Membabat Kesombongan
Dua tahun lalu saya menjalani masa satu tahun penuh sebagai pengangguran setelah 16 bulan menjadi tenaga pengajar. Eh ndelalah saya kembali menjadi guru. Sebuah kesia-siaan bukan?

Satu tahun itu adalah sebuah masa singgah bagi saya. Masa singgah yang melelahkan, sejujurnya. Setelah saya memurnikan hati dan melihat masa satu tahun itu dengan jernih, saya mengakui bahwa keputusan saya untuk resign awalnya disponsori kesombongan. Dua hal yang saya sombongkan: bahwa mendapatkan pekerjaan adalah hal mudah dan bahwa saya bisa memiliki pekerjaan yang jauh lebih keren dibandingkan hanya menjadi seorang guru.

Hari ini saya dapat melihat secara nyata bahwa satu tahun sebagai jobless tidak sia-sia samasekali. Tidak enak, tapi bermakna. Di masa itu segala kesombongan saya dibabat habis. Dengan segala kedaulatanNya -yang selalu saya kagumi- saya mendapati ada mindset yang sedang diporak-porandakan. Dari anggapan bahwa menjadi guru adalah hal hina hingga soal remehnya mendapatkan pekerjaan.

Sekali lagi saya katakan, kesombongan saya sedang dibabat habis.

Ketika kita berhenti sejenak, kita punya waktu untuk menilik ulang cara pandang kita. Memang saya akhirnya kembali menjadi guru di tempat yang sama persis, tapi saya kembali dengan sebuah pola pikir yang tak lagi sama.



2.  Melatih Kegigihan

Melepas masa SMA, pergumulan penat yang harus saya (dan ribuan orang lain) hadapi adalah masuk Universitas. Saat itu saya dihadapkan kegagalan untuk masuk jalur prestasi di Unair. Jurusan HI yang saya impikan tidak dengan mulus diraih. Kegagalan itu membuat saya singgah ke UM UGM, Simak UI, hingga PMDK umum Unair. Semua ditolak. Tanpa bimbel, saya terus belajar hingga akhirnya berhasil masuk lewat SNMPTN.

Uniknya, baik PMDK prestasi dan SNMPTN keduanya membebankan uang kuliah yang tidak berbeda barang sepeserpun. Apa intinya? Toh sama saja sebenarnya, HI Unair. Kenapa Tuhan tidak membuat saya langsung berhasil di awal? Akan jauh lebih praktis, bukan?

Sayangnya, Pencipta kita mengetahui persis arti penting sebuah proses. Dia menciptakan semesta tidak serta-merta dengan hentakan jari, bahkan walaupun Dia bisa. Dia menggunakan 7 hari, tak lain menekankan bahwa menjadi praktis bukanlah sebuah tujuan. Tetap masuk HI unair, namun dengan sebuah latihan kegigihan.

Persinggahan sekitar tiga bulan ini juga mengajarkan bahwa impian tak pernah gratis didapatkan.





3. Menguji Refleks Iman

Kadang sebuah persinggahan dapat berumur setahun, beberapa bulan, atau bahkan beberapa jam saja! Begitu pula yang saya alami bersama rekan terkasih saya. Kadang Tuhan memang humoris, ketika Dia membuat kami kaget bahkan deg-degan penuh kecemasan.

Waktu itu, ketika Riyan hendak memulai KPR, kami bergumul untuk jangka waktu KPR maksimal 15 tahun, untung-untung jika diijinkan kurang dari itu. Malam itu kami tutup dengan doa, dan keesokannya nego dimulai.

Saat itu hari Jumat, saya ingat benar, tiba-tiba HP saya berdering. Riyan di seberang sana dengan nada getir menceritakan apa yang terjadi. Pihak bank menolak pengajuan 15 tahun dan menjadikannya 20 tahun. Saya begitu kaget dan berbalut kecewa, tapi siang itu saya hanya mengajak Riyan berdoa. Kami belajar pasrah sambil mengajukan banding. Kami masih mantab dengan angka 10-15 tahun, yang berarti jika Bank masih kekeuh maka kami akan melepas rumah itu.

Konon banding dengan Bank akan memakan proses 3-7 hari. Ajaibnya saat itu, hanya beberapa jam berselang, pihak bank menyetujui di angka 12 tahun. Saat itu kami hanya tertawa haru bercampur geli. “Tuhan sedang bercanda ama kita,” begitu celetuk kami berdua.

Walau beberapa jam saja, bagi kami itupun sebuah persinggahan. Durasi sekitar 180 menit itu menguji refleks iman kami, apakah menggerutu atau penuh ketakutan atau justru aktif dalam kepasrahan iman.



Walau tiga persinggahan yang saya bagi memiliki alasan dan durasi yang berbeda, ketiganya menuntut satu hal yang sama: sikap yang tepat.

Ketika Tuhan seakan sedang mengajak kita berputar, ketika Dia mengijinkan perjalanan yang seakan tak efektif terjadi, bagaimana sikap kita? Apakah kita mau menginsafi sebuah proses atau justru berbantah? Apakah kita dengan lapang dada berkata “terjadilah seturut kehendakMu” atau justru ngotot dengan rencana diri sendiri.

“Sidon” setiap orang berbeda, ada soal putus cinta, penyakit, kegagalan, dan banyak hal lain. Tapi lagi-lagi kesamaannya adalah pasti ada sesuatu yang Tuhan ingin kita pelajari.

Ayat 37 di perikop ini menutup dengan sangat manis, bahwa rute tak efektif dan persinggahan yang kadang melelahkan itu selalu bersumber satu janji sentral: Dia menjadikan segala-galanya baik!


Kita tidak bisa mengatur persinggahan kita, tapi kita selalu bisa menentukan bagaimana sikap saat singgah. 



*Perikop yang saya angkat ini adalah sebuah ayat personal dalam perjalanan iman saya. Dalam kurun waktu delapan hari, saya mendengarkan dan membaca pendalaman soal perikop ini di banyak sisi yang berbeda. Dimulai dari sharing khotbah GPIB lewat Riyan, renungan pagi guru dari khotbah Gereja Katolik, notes facebook seorang kawan dari HKBP Denpasar, renungan harian penuntun saat teduh, hingga ditutup saat saya mendengarkan sendiri di GKI Ressud. Bagi saya, diperlukan lebih dari sekedar kebetulan untuk membuat pengulangan intens semacam ini.


Tuhan tidak pernah meminta kita untuk berhasil ataupun gagal, Dia hanya meminta kita untuk terus MENCOBA.
--

PORTOFOLIO KEBERHASILAN
  1. Menang kompetisi fotografi Perkantas
  2. Lolos audisi buku antologi travel-love
  3. Pemenang lomba menulis travelling inspiratif kompas 
  4. Nominasi Guru Blogger Inspiratif oleh Kemendikbud
  5. Pemenang Lomba "Cerita Indonesiaku" dari Telkomsel
  6. Pemenang writing class GoGirl (Surabaya)
  7. Peserta Ignition Gerakan Nasional 1000 Start-up Indonesia (sebagai Hustler)
  8. Pembina Kelas Literatur SMP Gloria 2

Sebagai Kontributor Lepas
  1. Headline dan/atau Artikel Pilihan di kompasiana (dari total 30 artikel. Kunjungi Profile)
  2. Tulisan publish di Jakarta Post Online (Status: Online, but not present)
  3. Tulisan publish di Magdele.co (Saya Cina dan Ingin Jadi PNS. Ada yang Salah?)
  4. Tulisan publish di Hipwee (7 Alasan Wanita Berprofesi Guru Layak dijadikan Istri)
  5. Tulisan Publish di PemudaMaritim.com (Inspirasi dari Wanita Pesisir)
  6. Tulisan Publish di Biro Pemuda Remaja PGI (Setapak Cerita Awal sebagai Pandu Sidang)
  7. Tulisan Publish di Warungsatekamu.org
    1. Sebuah Revisi Doa
    2. Taat Pada Panggilan
    3. Pelayanan kecil yang Berarti
    4. Perjalanan yang Membuatku Cinta Indonesia
  8. Tulisan Publish di Mojok.com (Surga Online)
  9. Tulisan Publish di Qureta.com (Ulasan Film Banda)
  10. Tulisan Publish di IDNtimes.com
    1. Definisi Sukses dari Tukang Sapu
    2. Jangan Lupa Bahagia Hari Ini
  11. Tulisan Publish di Sisternet (3 kualitas Teman)
  12. Tulisan Publish di Indonesiana Tempo (Anak Tukang Sapu dan Investasi Bodong)
  13. Tulisan Publish di LenteraHidup.com (Tiga Pelajaran Saat Tuhan Mengajak Singgah)

Tulisan di Zetta Media yang sayangnya sejak pertengahan 2018 sudah tidak dapat diakses
  1. Tulisan publish di RibutRukun.com 
    1. 4 Hikmah Masa Lalu Suram
    2. Sarjana HI kok jadi Guru
    3. Hidup bukan soal Kompetisi
    4. Membentuk Generasi Tangguh
    5. 5 hoax Pokemon
    6. Nasionalisme anak Muda
    7. Pernikahan Impian dan Arti Penting Mimpi
    8. Relasi Ribut yang Dapat Kembali Rukun
    9. Jatuh Cinta Butuh Usaha
  2. Tulisan Publish di Trivia.id (Pemuda dan Pahlawan)  
  3. Tulisan Publish di Rula.co.id (3 Poin citra diri sehat
  4. Tulisan Publish di Kamantara.id  
    1. Pilihan: Iman atau Ketakutan
    2. Bekerja Setulus Bapak Penjaga Parkir
    3. Mengapa Perlu Sekolah?
  5. Tulisan Publish di Wewerehere.id 
    1. Pulau Menjangan dan Perjalanan Menaklukkan Rasa Takut
    2. Gunung Penanggungan dan Pendakian Perdana
    3. Perbatasan Thailand-Kamboja dan Berbagai Ketidakberuntungan
Menulis Rutin dan Menjadi Content Strategist IGNITEGKI.COM
  1. Tulisan Publish di Ignitegki.com (total 22 tulisan)
    1. Menghadapi Ketidakpuasan Hidup
    2. Tiga Sumber Krisis Kepercayaan Diri
    3. Puasa Sosial Media
    4. Cameo Project dan Idealisme Mereka dalam Berkarya
    5. IGNITE yang masuk dalam hidupku
    6. Setidaknya, Jangan Memperburuk Hari Orang Lain
    7. Terpaan #Lifegoal di Tengah Hidup yang Gini-gini aja
    8. Menemukan Tuhan dari Perkara Sederhana
Diliput beberapa media daring
Menjadi Pembicara / Pengisi Workshop Menulis
  1. "Spread The Good News" GKI Priangan - Februari 2018
  2. Mentoring Jobhun - April 2018
  3. "Storytelling sebagai bagian Gereja di Era Digital" Kampus Marturia Yogyakarta - September 2018
  4. "Writing Ministry" Ibadah raya GKI se-Jakarta - Oktober 2018
  5. "Digital Ministry" GKI Gejayan Yogyakarta - Desember 2018

CV KEGAGALAN

  1. Travel-love gagal terbit
  2. Gagal menang lomba menulis dari NatGeo
  3. Gagal menang lomba menulis dari BNI
  4. Gagal menang lomba menulis dari XL dan RBI
  5. Gagal menang lomba menulis Trivia #menurutloh
  6. Gagal menang lomba menulis Potret Indonesia dari GPR
  7. Gagal Publish tulisan di Jawapos
  8. Gagal Publish tulisan di Reader's Digest
  9. Gagal Publish tulisan di Harian Kompas
  10. Ditolak dua Penerbit
  11. Gagal menang kompetisi nasionalisme simpati Loop
  12. Gagal lomba nulis wisata Thailand
  13. Gagal beasiswa Tempo
  14. Gagal menang lomba cerita Liburan Kemenpar



Tidak ada wanita yang tidak suka dibilang cantik. Satu yang berbeda adalah tidak semua orang akan menginvestasikan waktu dan uangnya untuk hal itu. Saya sendiri ingin cantik untuk kekasih saya dan saya butuh merasa cantik untuk diri saya sendiri. Repot bukan, kita tidak berminat dengan produk kecantikan tapi menolak apa adanya diri. *fiuhh

Di penghujung melepas usia 23 tahun, saya mengalami sindrom krisis kepercayaan diri. Cukup parah, agaknya. Keminderan satu per satu tiba, dari soal gigi berantakan, kulit wajah dengan bercak hitam, rambut mengembang, hingga selera fashion yang engga banget. Benar-benar gejolak aneh yang semestinya hadir ketika saya masih usia belasan tahun.

Suatu siang saya menangis sejadi-jadinya dan membatalkan kencan bersama Riyan. Entah kenapa saya merasa tidak cukup modis dan benar-benar old-fashion. Saya enggan meninggalkan rumah. Riyan tidak marah, pun tidak menenggalamkan saya dengan berbagai petuah apalagi penghakiman. Justru, segelas es krim mcFlurry dia tawarkan, dan itu menjadi solusi paling teduh. Sembari saya menghabiskan es krim lembut dengan remahan oreo di atasnya, dia setia mencari tahu kesusahan hati kekasihnya ini.

Hipotesis kala itu adalah keminderan akibat komparasi terhadap pesona menawan para kawan wanita seumuran saya. Mereka piawai berdandan dan memadumadan pakaian, sedangkan saya? sudahlah *pasrah.

Di tengah obrolan, saya melemparkan sebuah guyonan dan Riyan tertawa dengan lepasnya. Terbahak-bahak seakan tak ada beban di dunia. Dia kemudian menarik nafas, dan dengan begitu tulus berkata "udah.. kamu kayak gini aja. Ga usah susah payah mikirin penampilan. Kamu menggila kayak gini aja aku uda bahagia banget."

Merasa berhasil menghadirkan kebahagiaan, kadang menjadi kebutuhan hakiki. Menjadi cantik atau tidak cantik seketika tak lagi terlalu penting.

Akhirnya yang tersisa dan mungkin yang paling penting adalah soal prasyarat apa dan kondisi bagaimana kita merasa menarik, dan orang-orang seperti apa yang membuat kita merasa selalu cukup cantik.

Di momen sebelumnya, ketika batal memasang kawat gigi, saya meminta maaf ke Riyan. Tiba-tiba perasaan gagal menjadi sosok kekasih yang menawan, menghantui pikiran.

"Apa aku pernah mengeluh soal penampilanmu?"

Hanya pertanyaan itu yang dia lemparkan. Tanda tanya itu memancing saya berpikir, kenapa adiss berubah? Kenapa kecuekan saya soal penampilan sebelum pacaran justru hilang? Kenapa saya berpikir terlalu keras untuk menjadi cantik? Toh Riyan tidak sekali-kalipun menuntut saya menjadi modis, toh Riyan tak pernah mengeluh. Memang mungkin muasal semua ini adalah komparasi lewat sosial media, ditambah citra diri yang sedang tidak sehat.

Ketika saya tahu, bahwa di tengah ketidaksempurnaan ini saya dapat membuat orang lain bahagia, saya sepenuhnya dapat menerima diri dengan seutuhnya.

Penghujung problematika confidence crisis ini disimpulkan dengan indah saat saya bercakap dengan sahabat terbaik saya. Sebuah konklusi yang membuat saya mengucapkan selamat datang pada usia 24 tahun dengan lega dan nyaman.

Adiss: Ce.. ayu ya si ***** sekarang
Cece: iya padahal dulu tomboy
Adiss: kadang adiss ngerasa penampilan e adiss ini engga banget. Pas arek sak umur’e adiss wes pake baju-baju cantik, adiss sek kaos dan jeans doang.
Cece: hahaha yawes biarin. Tapi kamu wis lebih feminim. Belajar dandan gitu
Adiss: Iyo. Tapi tetep ngerasa cuma butiran debu ce.
Cece: halah lapo. Kamu itu kan ya menang ndek petualangan. Wes pigi mana-mana. Punya pengalaman juga. Ga semua isa ngerasain. Walaupun item tapi punya kebanggaan. Ben simple tapi wes ngeraih banyak hal.
Adiss: hmmm tapi orang seng liat adiss ya masak ngerti adiss wes ngelakukno itu semua. Toh juga ga keren-keren amet walaupun adiss enjoy.
cece: ya biarin mereka ga ngerti. Biarin ga keren. Yang penting kamu happy sama pilihanmu.

EXACTLY!! Dari obrolan itu, setidaknya saya belajar dua hal utama.

Pertama, Prinsip "bahagia dengan pilihanmu" adalah rona kecantikan berharga yang tidak bisa disembunyikan. Rona itulah yang menjadi pesona dan mengembalikan citra diri yang sehat. Rona itu juga membuat kita merasa aman dan nyaman menjadi diri sendiri. Bahkan, semakin saya sadar bahwa penghayatan akan prinsip tersebut membuat kita jauh dari rasa iri. Sebagaimana kita sudah bahagia dengan pilihan kita sendiri, sebagaimana kita sudah mendefinisikan arti bahagia kita sendiri, kitapun akan memberikan ruang orang lain menjadi happy dengan pilihan mereka sendiri. Entah melalui travelling, bersolek, memasak, ataupun mengambil pendidikan tinggi.

Kedua, merasa cantik dan menjadi cantik ternyata lagi-lagi dasarnya tentang pilihan. Memilih untuk menerima diri sendiri dengan bahagia dan memilih orang-orang seperti apa yang kita ijinkan hadir di hidup kita dan membawa pengaruh.

Saya hanya cukup beruntung telah memilih Riyan dan cece saya sebagai influencer di hidup ini. Andai saja saya memilih Awkarin, ah entahlah apa jadinya diri ini. Sekian.

imperfection is beautiful




Suatu hari sekumpulan orang melakukan pertemuan akbar membahas nasib lanjutan seorang terdakwa kasus.

Ada dilema di benak jemaat sidang kala itu: melepaskan dengan pengampunan dan sekedar melakukan pembinaan atau tetap memenjarakan yang pastinya merusak masa depan sang terdakwa.

Lalu saya diminta bersuara. Dengan lantang saya berkata: "Tuhan itu adil dan kasih. Selalu ada pengampunan, namun bukan justru meniadakan konsekuensi."




Dengan logat mantab dan penuh pemahaman, saya memenangkan hati hampir seisi ruangan sidang. Mereka mengangguk sepakat. Hukuman tetap harus dilakukan.


Beberapa detik setelah palu diketuk, cermin besar menyambut untuk mengajak merenung: "adiss, andaikata suatu hari kamu ada di posisi terdakwa itu, apakah kamu akan berani bilang yang sama?"

Saya berpikir keras di tengah hiruk pikuk sidang yang berlanjut pada kasus kedua. Andaikata suatu hari saya melakukan kesalahan, apakah saya dapat besar hati dan berani berkata: "oke Tuhan adil dan kasih. Saya sudah melakukan kesalahan, saya layak dihukum. Tolong maafkan saya tapi tetap berikan hukuman bagi saya."

Saya sangsi. Mungkin saya akan berkelit. Mungkin pula saya akan memelas sedemikian untuk memohon pengampunan. Mungkin saya akan menyembunyikan kalimat itu. Atau mungkin hanya menekankan pada 'kasih' dan mengabaikan sisi 'adil'.



Source: www.mcgilldaily.com
Faktanya, kita terlampu sering menjadi hakim yang hebat untuk orang lain dan pengacara mahir untuk diri sendiri.

Apa yang kita tahu dan apa yang kita ingin terapkan untuk orang lain, seringnya sulit jika berhadapan dengan diri sendiri. Maka tak heran jika ribuan kutipan dari filsuf hebat segala jaman menekankan bahwa musuh sejati seorang manusia adalah dirinya sendiri.

Konsep kebenaran selalu membutuhkan kedewasaan yang utuh. Untuk menerapkan yang sepadan baik bagi orang lain dan diri sendiri.

Jika di sidang itu saya (dan Anda) berani berkata: "Tuhan itu kasih dan adil, kita sepatutnya meneladani. Kita memaafkan sang terdakwa hari ini, namun dia tetap harus dipenjara" maka di sidang lain saat kita yang menjadi terdakwa, kita sudah semestinya besar jiwa berkata: "ampuni aku, tapi tetap jatuhkan hukuman itu bagiku!"


Beranikah kita?