Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

2009
Masa kuliah adalah masa termiskin saya. Minimnya dana tak lain adalah imbas kegagalan pengaturan ekonomi keluarga. Jenjang 8 semester disponsori oleh kebaikan hati seorang saudara ditambah beasiswa untuk menyambung hidup. Di masa itu, bukan hanya saya yang berjuang survive di tanah rantau, tapi juga mama papa di rumah. Ah saya enggan memberikan detail rincinya, karena hari-hari ini begitu menguras hati, dan untuk tulisan ini saya bertekad akan mengarunginya dengan tegar. Tanpa air mata.

Di masa kesulitan ekonomi kami, setiap saya pulang ke rumah, selalu terhidang makanan enak, Tak mahal, kadang hanya sayur bayam dan dadar jagung kesukaan, tapi nikmatnya menjulang luar biasa. Segala keterbatasan juga membuat saya harus tidur di rumah yang tak elok, ada beberapa sisi yang bocor, tapi lagi-lagi tak mengurangi kadar bahagia. Lalu di sebuah siang, dengan sepeda motor bekas yang baru papa beli, ia mengajak saya pergi. Tanpa memberitahu mama apalagi cece.

Tidak jauh dari desa saya: Jatiroto, ada sederet orang yang mengadu nasib dengan berdagang buah favorit kami sekeluarga: durian. Kami menempuh perjalanan sekitar 15 menit, dan sampai pada satu penjual durian yang kami pilih secara acak. Kami duduk, dan makan durian berdua. Sembari melumat dengan lahap setiap biji, kami membicarakan banyak hal. Ia selalu ingin tahu soal kuliah saya, apa ada kendala dan apa saja yang sudah saya pelajari. Iya, itu memang kebiasaannya sejak dulu kala. Saat saya SD, setiap pulang sekolah ia tak pernah absen bertanya: "Belajar apa hari ini, Dis?" dan itu memaksa saya untuk serius memperhatikan saat di kelas agar bisa menjawab pertanyaan demikian dengan mantab.

Setelah hampir usai kami mengosongkn setiap celah di buah tersebut, papa segera membayar sesuai harga yang telah disepakati di awal (setelah tawar-menawar yang hebat!). Sejenak sebelum pulang dan kembali naik ke motor, papa berkata "Dis, jangan bilang cece nanti dia iri papa belum belikan durian. Kalau ada uang lebih nanti gilirannya cece."


Entah bagaimana, orang tua selalu punya kekuatan untuk mencintai anaknya.


2017
Hari Valentine tiba lagi. Tepatnya, ini kali ketiga saya dan Riyan merayakan sebagai sepasang kekasih. Tahun lalu kami mengisi tanggal ini dengan sepiring rawon pak Pangat di daerah Wonokromo. Kami beri judul "valentine romantis nan ekonomis". Di saat yang sama, lewat instagram kami menyaksikan beberapa kawan mengemas hari yang penuh pro-kontra ini dengan lunch istimewa di berbagai kafe elit. Kami seketika merasa hina.

Hari ini, tak lebih baik. Masih nihil ceremonial. Masih tidak ada bunga dari kekasih saya. Coklatpun tiada, apalagi durian! Aiiih dia pembenci akut buah surga tersebut. Tapi anehnya, saya merasa tak kurang dicintai. Di siang tadi, ia menelpon saya. Sebuah tindakan yang tidak pernah ia lakukan sejak di tempat kerja yang baru. Menyapa hangat dan berderai canda tawa di durasi tak lebih dari 5 menit. Di malam hari, ia yang sudah berpamit tidur, memaksakan dirinya untuk bercengkrama dengan saya terlebih dahulu. Ia kemudian menutup dengan kalimat "semoga tahun depan bisa makan enak merayakan bareng ya".

karena kasih itu mau melangkah bersama, apapun kondisinya.



---
Kisah 2009 dan 2017 itu punya kesamaan, bahwa baik durian dan telepon siang bolong telah menyuarakan bahasa cinta yang amat besar. Di tengah berbagai distorsi akan makna kasih, keduanya membawa saya pada satu simpulan: Kasih itu berjuang. Dan berharap.

Dengan keterbatasan uang, pengeluaran puluhan ribu untuk durian adalah pemborosan, tapi papa masih saja mencoba membahagiakan saya. Dengan segala kesibukan, keterbatasan dana untuk beli tiket, dan jarak yang membentang, Riyan pun mengupayakan lahirnya perasaan dicintai bagi kekasihnya.
Itulah kasih yang saya hayati hari ini: Kerelaan untuk melewati kesulitan, kesediaan untuk mengusahakan perbaikan, dan pengorbanan melampaui keterbatasan.

Di bagian akhir kisah, selalu ada sebuah harapan yang dilontarkan. Baik dari papa dan juga Riyan. Satu lagi unsur kasih bagi saya adalah: harapan. Bukan hanya tataran perasaan tapi iman dan kesanggupan untuk percaya. Sudah banyak orang yang mati rasa dan berhenti berharap karena dipahitkan keadaan, tapi disitulah kasih berperan. Ia memampukan manusia untuk percaya pada sesuatu yang bahkan belum dilihatnya. Kasih menyanggupkan seseorang bermimpi dan memberi kekuatan untuk menerima segala kemungkinan.


Karena bukan Cinta, jika terlampau pasrah. Bukan Cinta, jika tidak percaya. 

Perjuangan dan harapan, itulah inti kisah percintaan yang sesungguhnya. Kadang semahal keberanian mengajak menikah disertai cincin berlian, tapi kadang juga semurah harga durian dan telepon di jam makan siang.

Kado indah, makan malam mesra, hingga sepucuk surat merah muda, semua hanyalah pernak-pernik pemeriah. Tapi yang terpenting:
Kasih itu Berjuang. Sudahkah kita?

Saya merasa ini adalah bulan yang panjang. Bukan karena membosankan, tapi karena medapati bahwa dalam tempo 30 hari setumpuk kisah telah terajut. Untuk produktifitas, bulan ini mengecewakan. Tulisan saya tidak terbit dimanapun selain di blog pribadi. Terlepas dari itu, begitu banyak hal yang boleh terjadi, diraih, dan terpenting, dipelajari.

source:www.theoddesyonline.com


1. Stay Closer with Soponyono

Toko kue yang telah ada bahkan sebelum saya lahir ini, memang milik keluarga besar. Namun kala saya menginjak kuliah, soponyono seakan seorang asing. Tak ada lagi waktu di dapur bercengkrama dengan para mbak, tak ada durasi menjadi kasir dan melayani pembeli yang sebagian adalah fans berat pastel nikmat kami. Tapi, di awal tahun ini, saya mencoba kembali menghayati toko ini sebagai denyut nadi saya sendiri. Tiga hari menjaga toko yang membuat banyak kenangan tentang keluarga kembali menghangat dalam ingatan.


2. Paket Kasih Tuntas Terkirim

Dalam rangka merayakan Natal dan sebagai ucapan syukur, saya membagi paketan sederhana kepada 8 kawan. Namun karena pulang kampung, beberapa di antaranya harus tertunda. Bulan ini, saya menuntaskan semuanya. Saya selalu sumringan ketika melihat satu per satu memberikan kabar bahwa paket telah diterima dan bahkan bonusnya mereka menyukai apa yang saya pilih. Memang benar prinsip sederhana ini:

"Kita hidup dari apa yang kita terima, kita bahagia dari apa yang kita beri”.




3. Capen Inspiratif

Karena  proyek menulis dalam tim IGNITE akan dimulai, takdir mempertemukan saya dengan dua wanita yang sangat menginspirasi. Keduanya adalah calon pendeta. Satu wanita yang pertama usianya lebih muda, dengan begitu humoris dan energetik  dia menceritakan tentang bagaimana dia menginsafi panggilan menjadi seorang hamba Tuhan. Saya terbelalak tak henti menyaksikan betapa Tuhan super unik dalam membuatkan peta kehidupan bagi masing-masing anak-Nya. Wanita kedua tak kalah inspiratif. Dengan pembawaan yang lebih kalem dan berwibawa, dia menceritakan pengalaman soal pasangan dan penerimaan diri. Sebuah cerita jujur dalam konteks kami yang baru perdana mengenal saat itu. Kisah hidup yang tulus dibagi memang ampuh menjadi berkat.



4. Drama Power Bank

Salah satu keping cerita yang paling menguras hati. Tepat di momen harbolnas, Riyan membeli sebuah power bank. Warnanya cantik, kapasitas besar, merk ternama, dan fitur fast charging. Kami mengidamkannya untuk menjadi rekan ketika kami sedang jalan-jalan atau mungkin pelesir bersama tahun ini. Ternyata semua berjalan tak mulus. Paketan barang tersebut ditujukan ke alamat kost saya, dan ternyata setelah penjaga kost meletakkan di depan kamar saya, barang berwarna biru tajam itu raib. Setelah memastikan segala runtut peristiwa, saya dan penjaga kos menjadikan beberapa teman sebagai tersangka. Mengingat harga barang yang bagi saya dan Riyan tak murah, kami sampai pada keputusan meminta ibu kos menemani saya melakukan geledah. Semua sepakat bahwa keesokan harinya, rencana itu akan dieksekusi.




Saat malam, saya berbaring dengan begitu resah. Merasa jahat karena menuduh, tapi juga sedih kenapa drama seperti ini perlu terjadi. Akhirnya saya MEMUTUSKAN BERDAMAI. Saya membatalkan rencana menggeledah dan melalui doa memberikan pengampunan. Alhasil, hati saya tentram. Gejolak ini saya tutup dengan konklusi:

“damai sejahteraku tidak sebanding dengan uang (ratusan ribu) tersebut”.

Saya tidur malam itu dengan sangat lega. Memang, pengampunan itu mendamaikan. Esok harinya, saya hendak menuju kamar mandi dan penjaga kosan menemukan paketan saya di parkir sepeda motor. Paketannya MASIH RAPI. Saya merasa seseorang sedang mengajak saya bercanda. Tapi momen munculnya kembali power bank tersebut sangat indah. Tepat setelah saya belajar melepaskan dan mengampuni. Masih jadi misteri siapa yang mengambil dan menaruhnya kembali. Tapi drama-tak-penting ini patut disyukuri karena mengingatkan betapa damai sejahtera itu lebih mahal dan bahwa: pengampunan selalu mendamaikan.

5. Projek Baju Bekas
Sebuah cerita yang sudah saya tuntas dan rinci bagi di blogpost sebelumnya. Sebuah pengalaman yang berkesan, hanya dengan berusaha mewujudkan gagasan kasih tertentu. Memang, bahagia itu sederhana. Dengan berusaha selfless dan mengambil aksi dalam segala kerinduan.


6. Inspiring HRD Staff

Bangunannya megah dan semua staff berbahasa Inggris lancar. Begitulah gambaran tempat saya kembali menantang diri. Seperti pada umumnya proses seleksi, saya bertemu dengan staff Human Resource Department. Tanpa ekspektasi, justru hanya bisik cemas agar orang yang akan saya temui bukan tipe galak dan kaku. Doa saya terkabul! Bukan hanya tidak kaku, namun juga seorang lawan bicara yang luar biasa. Dia seperti trampolin yang membuat percakapan makin luas namun juga makin dalam. Dari soal penerimaan diri hingga Donald Trump, kami bahas bersama. Sebuah siang yang berkesan. Dia yang perdana saya kenal tersebut bahkan bertanya soal 150 mimpi saya dan berkata "kamu sudah mencapai setengahnya, saatnya menambah mimpimu dan sekaligus memperbesarnya." Sebuah saran yang bahkan tidak saya dapatkan dari kawan-kawan terdekat saya. I wish, in the future I can have more time to chit-chat with her.



7. Another Volunteering Experience 
Sebuah iseng yang berujung pada pengalaman baru volunteering di ranah digital. Lewat Chapter, lembaga nirlaba dari Singapura, saya mendedikasikan waktu luang dan kuota internet untuk mengedukasi masyarakat soal krisis listrik yang dialami oleh masyarakat Banten.



8. Belajar Bersama Remaja Hebat
Sebagai perwakilan dari sekolah, saya diutus mengikuti kegiatan semacam latihan kepemimpinan. Awalnya saya ikuti dengan enggan. Bagaimana tidak, acara ini mengambil jatah akhir pekan yang biasanya saya gunakan maksimal untuk hobi. Tapi di acara ini, saya bertemu squad yang super menyenangkan dan belajar berbagai materi baru. Soal public speaking, games kreatif, hingga tampilan power point yang baik bagi anak genZ. Sangat memperkaya!




9. Cerryls Melebarkan Sayap
Ada 14 toko total sampai saat ini, sebuah tambahan yang makin signifikan. Pasti, hal semacam ini tidak akan luput saya hitung sebagai kebaikan Pencipta. Rasanya masih tidak percaya, begitu melimpahnya toko yang menerima kami hingga beberapa putaran. Secara online, pertumbuhan kami amat lambat, tapi cakupan Cerryls melalui toko ternyata semakin besar. Belum lagi ketika melihat berbagai 'kebetulan'. Misalnya, ketika bertemu ibu kepala cabang yang dengan welcome menerima Cerryls di lima cabang mereka, hanya karena "dulu saya juga bisnis kartu ucapan". Rasanya Bahagia bukan kepalang! Begitu pula takjub ketika menyaksikan seorang kawan menawari untuk Cerryls diliput di majalah online Surabaya: Submagz.
Jika ada niat, banyak jalan akan dibuka. Saya yakin itu.

10. Dapat partner buat Cerryls
Masih soal Cerryls kesayangan, bulan ini jalan hidup mempersatukan saya dengan mbak sanguin-melankolis sebagai partner bisnis. Awalnya kami hanya satu komunitas menulis, tapi lagi-lagi kejutan hidup menyodorkan cerita yang sepenuhnya tak terduga namun menyenangkan. Sebentar lagi, Cerryls yang awalnya bergerak hanya di kartu ucapan akan merambah item lain. We're so glad about this!

11. Banyak dikecewakan
Bulan ini menjadi berharga bukan hanya soal berkat, berkat, dan berkat. Tapi juga rasa kecewa terhadap berbagai perilaku. Sakitnya perasaan tidak diperhitungkan, sedihnya atas perilaku tidak adil, bahkan pahitnya diremehkan. Namun di saat yang sama, (kebetulan) saya sedang menuntaskan membaca sebuah buku relasi. Dan dituliskan apik sebuah kalimat berikut:
"my respond is my responsibility".
Ketika kita merasa begitu kecewa, sikap untuk marah dan protes, sikap untuk membalas dan menjatuhkan, semua adalah tanggung jawab pribadi kita. Bukan tergantung pada tindakan mereka, tapi berdasar nilai apa yang sebenarnya kita hayati. Saya sedang berlatih untuk terus memilih sikap yang baik, apapun kondisinya.


12. Jadi Editor
Terakhir, ini yang paling membuat rasa gentar, takjub, bangga, dan bahagia bercampur satu dan berkecamuk penuh harmoni. Lewat IGNITE, saya belajar hal yang sepenuhnya baru. Sebuah kepercayaan yang mengerikan tapi tidak akan saya sia-siakan. Secara keterampilan, jelas saya belum terlalu mumpuni. Itulah kenapa, tugas ini mengingatkan saya pada makna anugerah dan memaksa saya belajar. Sebuah kesibukan baru yang saya nikmati.





Dan akhirnya, yang baik, buruk, dan segala sesuatu di antaranya, tak ada yang saya sesali. Durasi 31 hari penuh emosi :') tepat seperti bianglala, ada naik dan turun yang ekstrim tapi menggembirakan. Bulan Februari ini, saya menanti beberapa 'keputusan'. Tidak ada daya untuk menebak episode selanjutnya. Seperti hari lalu, saya terlampau yakin semua akan baik lewat cara-Nya. #Eleos!


Walau kulit tak putih, dan mata tak sipit, saya bisa pastikan bahwa ada darah Tionghoa mengalir di diri saya. Tak berusaha menutupi tapi juga tak membanggakannya berlebih. Tapi premis tersebut -bahwa saya orang Tionghoa- merupakan pembuka penting kisah ini.
Fakta kedua adalah, pacar saya yang sering dikira orang Chinese itu, justru Jawa tulen.

Pacaran beda suku pasti tak serumit beda agama. Tapi ada dinamika seru yang lahir karena perbedaan ini. Tepat seperti saat ini, sehari menjelang Chinese New Year, tiga tahun lalu, saya dan Riyan masuk pada arena pertengkaran perdana. Isu yang kami angkat tak kalah panas dengan debat cagub yang sedang saya saksikan di sela menulis cerita ini, yaitu: Kue Keranjang vs Kue Bulan.

source: www.harnas.com


Saat itu kami yang masih dalam tahap PDKT berdebat, kue apa yang sebenarnya dijadikan bagian budaya dalam perayaan Chinese New Year. Saya ngotot kue bulan dan dia di kubu kue keranjang. Tapi percakapan itu berujung ricuh karena saya merasa tidak terima. Bagi saya, tidak karena ada darah Tionghoa, maka saya tahu segala seluk beluk budaya suku ini, dan pembebanan untuk know-everything itu menyebalkan. Saya marah, Riyan turut bete.

Mengenang kejadian itu selalu mengundang tawa. Bagaimana mungkin sepasang pemuda usia dua puluhan memilih topik seremeh ini untuk bertengkar?

Tapi, hari ini ketika Tahun Monyet telah beralih menjadi Tahun Ayam, saya melihat semua proses menyebalkan, akan menjadi cerita manis kemudian hari. Selain perselingkuhan dan kebohongan, saya kira semua berpotensi menjadi sebuah memori sejuk. Saya sendiri tidak menyesali setiap pertengkaran yang ada. Ada yang membuat kami tertawa saling mengejek dan ada pula yang masih tersimpan rapi di note kami berdua sebagai sebuah pelajaran berharga

Selain itu, dengan proses tiga tahun saya makin sadar bagaimana waktu selalu menjadi pihak objektif yang memurnikan.
Dengan minimnya pengenalan, jangan heran jika banyak sekali konflik terjadi. Tapi semakin lama, sepasang kekasih yang kian mengenal akan paham bahwa ada beberapa hal yang tak layak untuk menghabiskan energi. Pun, bahwa waktu juga yang akan memperdalam pengenalan. Apa yang disuka dan tidak diminati pasangan.

Terakhir, saya bersyukur bahwa sebelum kami memutuskan jadian kami pernah mencicipi konflik. Artinya, baik Riyan dan saya masuk dalam satu komitmen bukan dengan mata buta. Juga bukan dengan pandangan serba manis dan sempurna akan pasangan. Kami dibukakan lebih awal seberapa (calon) pasangan kami dapat berubah menjadi super mbencekno.

Tapi akhirnya, kami mengucapkan selamat datang pada sebuah relasi dengan sebuah bisikan di hati: "Pasanganku ini kadang menjengkelkan, tapi aku akan tetap memilih dia. Lagi, dan lagi."


Kamu pilih kue bulan atau kue keranjang?
kalau aku, pilih kamu <3 td="">

Saya membuka tahun ini secara mainstream. Jalan apalagi selain dengan menuliskan beberapa resolusi. Salah satunya adalah keinginan kuat saya untuk aksi sosial kecil. Sebenarnya ide ini sudah lama lahir di benak, namun kewalahan membagi waktu membuat saya menunda wacana ini. 2016 berlalu, dan 2017 adalah saatnya! Konsepnya sederhana: “make your closet bigger and your heart nicer


Saya memutuskan mengurangi barang-barang yang saya kira sudah sangat jarang saya pakai. Terkhusus pakaian. Saya pergi pagi-pagi dengan bermodal tikar, beberapa kresek, dan dua kardus pakaian saya dan satu kardus pakaian pacar saya. Proyek kecil-kecilan ini memang gagasan kami berdua.


Awalnya sangat sepi. Rasanya muka ini sudah saya pertebal hanya untuk berani menjajakkan jualan kepada ibu-ibu yang lewat sepulang dari pasar. Tapi usaha dan ketulusan tak sia-sia bahkan berbuah manis, walau membutuhkan waktu. Seorang bapak datang dan menjadi pembeli perdana. Ia memborong beberapa kemeja pria. Dua jam kami disana dan puluhan pakaian terjual. Hasilnya tak seberapa, hanya 150 ribu rupiah. Tapi di baliknya ada limpahan bahagia. Rasa sukacita ketika melihat nenek-nenek yang memborong ‘pakaian baru’ bagi cucu perempuannya hingga memberikan diskon ke seorang ibu tua yang ingin membeli namun tak cukup uang. Kepuasan juga lahir dari usaha untuk tidak konsumtif namun melihat hidup kita lebih dari cukup. Dan terakhir, hati kami riang tak terkira karena uang tersebut dapat kami alokasikan untuk berbagi sembako ke beberapa orang yang membutuhkan di sekitar gang kosan saya.


Seperti slogan yang telah saya sebutkan, sebenarnya sederhana. Gerakan ini mengajak kita untuk melonggarkan lemari. Bukan dengan membeli lemari yang lebih besar lho ya! Tapi dengan mengosongkan sebagian untuk dibagikan. Dijual, lalu hasil penjualannya kembali untuk berbagi. Baju lama bagi kita adalah sukacita baru bagi mereka.
Sudahkah kita produktif? Sudahkah kita peduli? Sudahkah kita berbagi? Karena negeri ini akan lebih baik, semua dimulai dari diri sendiri.
Saya masih percaya, bahwa hidup ini bukanlah sebuah pertandingan. Tapi dalam beberapa kondisi, saya harus mengakui konsep menang-kalah tak dapat ditampikkan.
Di penghujung 2016 ini, ketika melihat kembali ke belakang, ada berbagai hal telah hadir. Entah yang fenomenal, biasa saja, kecewa, atau kepuasan. Lalu apa intinya? Rata-rata orang yang membaca tulisan ini juga tetap menjadi ‘orang biasa’. Seberapapun kita telah patuh pada nasihat Mario Teguh soal "nobody to somebody", dan mengikuti berbagai petunjuk dari buku "cepat kaya dan sukses sedari muda", ternyata toh kita tetap bukan siapa-siapa. Anak gang sebelah aja paling ga tahu nama kita. Tak banyak dikenal dan tak menjulang pencapaian. Saya pasti tak sendirian dalam meratapi hidup yang gini-gini aja.
Perenungan ini dicerahkan ketika saya pulang kampung halaman. Setelah tenikmati sayur bayam dan dadar jagung nikmat, saya nongkrong di depan TV bersama mama menonton salah satu film favorit saya: Real Steel.
Jika Anda sudah pernah menontonnya, pasti familiar dengan peran Atom. Dia adalah sebuah robot rongsokan yang ditemukan di kala hidup Charlie Kenton sedang berada di titik rendah. Bukan robot yang istimewa tapi berhasil sampai ke sebuah ajang kompetisi bergengsi.

Oke sampai sana dulu.
Mungkin sebagian dari kita melihat 2016 dengan lega karena berhasil mencapai beberapa hal. Memenangkan lomba, menambah komunitas, gaji meningkat, banyak melakukan perjalanan, membuka bisnis, atau mendapatkan prestasi di tempat kerja. Menyenangkan bukan? Saya merasakan persis sama. Banyak pencapaian yang tiba dan dipercayakan oleh Pencipta. Singkatnya, saya dan Anda semua seketika merasa layak membusungkan dada dengan senyum bangga.
Lalu semua itu runtuh ketika kita tersadar…. Teman kita sudah ke Maldives ketika kita hanya bangga dengan Bandung atau Batu (Malang). Teman kita sudah menjadikan Eropa dan Indonesia tak jauh beda dengan Surabaya-Sidoarjo, ketika kita masih mengandalkan tiket promo 0 rupiah atau hadiah lomba buat pergi kemana-mana. Teman kita sudah bisa membelikan papanya mobil dan ibunya tas hermes asli, ketika kita masih memilih es teh di restoran hanya karena itu yang paling murah. Kita tertunduk lesu. “ah ternyata.. belum apa-apa aku ini.” Saya merasakan itu, setiap detailnya.
Persis seperti Atom, dia sampai di kejuaraan bergengsi namun pulang dengan kekalahan. Sia-sia. Bukankah banyak dari kita seperti itu? Kita mencapai banyak hal, tapi tetap pecundang kala disandingkan dengan kemegahan keberhasilan orang lain. Lalu apa intinya?


Zeus, lawan Atom, dinyatakan menang.

Atom kalah. Itu fakta dan hasil akhir, namun bukan kisah keseluruhan. Di balik kekalahan itu, hubungan Charlie dan Max sebagai ayah dan anak dipulihkan. Sebagai bonus, passion bertinju dari Charlie juga dapat disalurkan. Walau Atom kalah, ada yang berharga di baliknya. Sayangnya banyak dari kita yang masih fokus pada hasil semata, baik dalam melihat diri sendiri atau orang lain.

Di titik manapun kita berada sekarang, penting untuk mengingat bahwa: pertama, proses tak pernah kalah penting dibandingkan hasil. Mungkin gaji tak meningkat drastis, tapi kita telah berani mencoba berbagai hal baru dan terus menantang diri. Kedua, tentang progress. Bahwa, pertandingan sesungguhnya bukan antara kita dan orang lain, tapi “kita yang sekarang” dibandingkan “kita yang dulu”. Poin ini patut jadi perenungan besar. Sudahkah kita menjadi versi yang lebih baik? Atom yang kalah itu, telah berangkat dari rongsokan menuju pentas dunia. Lonjakan besar!
Kamu anak desa, belum ke Eropa tapi sudah survive di perantauan? Berbanggalah! Orang tuamu hanya bisnis kecil-kecilan tapi kamu bisa sarjana hingga mendukung finansial keluargamu? Berbanggalah! Kamu sudah bisa mendapatkan uang dari hobimu? Oh jelas kamu boleh berbangga! Yang salah adalah saat kita terlampau pasrah dengan “hidup gini-gini aja” tanpa berusaha lebih. Kewajiban kita selalu soal: berjuang.
Mungkin sampai akhirnya kita akan ‘kalah’ dan menjadi orang biasa-biasa saja. Lalu kenapa?
Saat ini tagar semacam #lifegoal, #relationshipgoal, dan segala goal lain kerap mendistraksi penghargaan yang lebih esensi: secuplik proses dan segenggam progress. Semua goal klise kekinian yang membuat sebuah perjalanan hidup menjadi kalah saat tak bisa mengikuti standar tertentu (Sandy Yeriko, 2016). Standar yang mana? Sosial media kita sudah dibanjiri olehnya. Soal popularitas dan besaran income, misalnya. Ambil contoh kalimat ini:
work until you shop without looking the price tag
atau kalimat macam:
work hard until you don’t need to introduce yourself”.
Jika memang standarnya demikian, ayo angkat tangan bagi yang merasa sudah mencapai titik tersebut. Adakah? Saya sendiri tak berani mengacungkan jari. Saya masih sering diresahkan dengan harga yang tercantum di pusat perbelanjaan. Kabar baiknya, itu tak masalah!
Pasti kita tetap perlu goal. Teman saya Sandy Yeriko dari band hateaway menuliskan begitu apik bagian ini:
  • “kita perlu punya tujuan, faktanya tujuan itu akan sangat penting bagi masa depan kita. Tapi jangan sampai tujuan kita berbahan bakar keirian sosial sehingga kita lebih berorientasi pada ‘terlihat keren’ dibandingkan ‘beneran keren’. Memang, mengembangkan citra keren itu lebih gampang dan less sacrificial daripada ngembangin potensi diri, tapi itu akan membuat dunia kita tidak tersentuh berbagai pengalaman, pikiran kita berkelana dalam kekecewaan, dan mimpi kita yang sebenarnya tidak sempat diperjuangkan.”

Ambisi untuk tampil senantiasa ‘menang’ dan menggapai berbagai utopisme, membuat kita gagal fokus pada potensi dan mimpi yang sebenarnya. Terlebih, membuat kita pelit apresiasi. Padahal, mungkin sampai akhirnya kita akan menjadi gini-gini aja. Tidak terkenal dan tidak menjadi milyuner Indonesia. Kita masih tetap di strata tengah sebagian besar orang di BUMI ini, dan sekali lagi, itu tak masalah!
Dengan menerima diri, kita sanggup untuk mengarahkan mimpi. Dengan meredefinisi arti sukses, kita sanggup berdamai bahkan merayakan kegagalan. Dan, dengan menghargai proses dan progress, maka kita akan semakin mampu menghargai hal-hal sederhana dalam hidup.
Kita akan belajar mengukur diri sendiri dengan cara yang lebih sehat: dari indahnya berteman, membuat karya sesuai idealisme, membantu orang yang kesulitan, membaca buku yang bagus, dan tertawa bersama mereka yang kita sayangi. Terdengar membosankan, bukan? Itu karena hal-hal tersebut adalah perkara remeh yang biasa-biasa saja. Tetapi mungkin tergolong biasa-biasa saja karena suatu alasan: bahwa itulah yang sebenarnya berarti (Parafrase tulisan Mark Manson oleh Akbar Saputra).
Source: www.fontysblogt.nl


Selamat tinggal 2016. Atom (dan kita) tetap kalah tahun ini, tapi yang terpenting:
kita bahagia!
Saya membuat rangkuman ini setelah iseng menemukan tulisan lama soal recap tahun 2013. Tahun ini tak bombastis, tak banyak pencapaian juga. Tapi entah kenapa saya bahagia sekali, sungguh. Merasakan begitu banyak peluang telah saya manfaatkan. betapa banyak kawan baru hadir, betapa banyak ketakutan telah saya bisukan. Bukan tahun yang buruk, saya kira. Di penghujung tahun ini saya melihat ke belakang dengan lega.

Januari
Menang kompetisi dari Telkomsel, dengan hadiah Samsung J5

Februari
Pelayanan bersama Grup KTB ke Yayasan Kasih Anak Kanker

Maret
Jelajah (kuliner) PUAS ke Banyuwangi

April
Menang kompetisi dari GoGirl, dengan hadiah iPad mini.



Mei
Coret wishlist nomor 130 dan 142
Pertama kalinya jadi pembina Upacara
Ke Pekanbaru, menjalankan tugas sebagai bridesmaid  dan sebagai sahabat

Juni
Memulai Bisnis kartu ucapan Cerryls and Co

Juli
Buka usia baru dengan touring Jelajah Probolinggo

Agustus
Pertama kalinya menjadi seorang pewawancara untuk sebuah liputan - Tugas Ignite

September
Menjadi seorang Pembicara pertama kalinya, di persekutuan Pemuda
Terima Katekisasi dan resmi sebagai jemaat GKI Residen Sudirman
Mulai jadi pembina klub Menulis di SMP 2 Gloria

Oktober
Menerbitkan tulisan 'berbayar' (dapat honor) dari Mojok.co

November
Melengkapi target tahun 2016: publish di 10 Website

Desember
Ke Gili Trawangan!
Quality time with Family






Tiba-tiba saya teringat bahwa di awal tahun, tepatnya saat Chinese New Year membuka tahun Monyet Api, seseorang bertanya apa shio saya lalu berkata dengan tanpa beban "wah peruntunganmu jelek tahun ini". Saya sempat gentar beberapa detik, sebelum berganti dalam gelak tawa. Hidup saya ditentukan oleh Tuhan yang mau Mati di Kayu Salib, bukan oeh ramalan atau sugesti apapun. Dan baru kemarin, saya tahu peris, ramalan 'peruntungan jelek' itu tak terbukti,

Seperti nama saya 'eleos' yang artinya Belas Kasihan Pencipta, sedari tahun 1992 hingga 2016 (yang cemerlang ini), dan seterusnya, saya yakin hanya Anugerah-Nya yang akan memegang kendali. 

"selalu mencoba" adalah garis besar prinsip saya tahun ini, dan semua itu tak lain adalah bahasa kasih seorang adiss-yang-bukan-siapa-siapa-ini ke Pencipta, karena saya penuh meyakini adalah kesalahan jika kita beriman tanpa berusaha dan adalah kemalasan jika kita mengasihi tanpa bertindak.



Selamat Datang 2017. Yuk tetap berjuang!
The first impression that crossed my mind: “WHAAATT ???”
I was quite surprised to find that I had only one week to prepare everything. That holiday was a grand prize from a competition that I’ve joined. My feeling was mostly confused instead of happy. To travel far from home without knowing anyone was something new for me. I had to admit there were several trips before but this journey is different, even the ticket and hostel were free, I should arrange my own itinerary. And in one week? Are you kidding me? *take a deep breath* then I sat and smiled. However I must thank God for this chance. I stopped complain and started to prepare myself.

“Just like Bali”
that’s a statement I whispered in my mind. There were a lot of foreigners. The weather was hot and dusty. I didn’t enjoy it at all. I had no intention to stay there any longer. So did my partners. Oh sorry! I haven’t introduce my friends yet, my new friends actually.

Source: www.data.whicdn.com


The short-hair girl who always wears jumpsuit is Monica from Lampung. In the right is Rasty from Pontianak. She was born naturally with pretty curly hair. You may wonder why all the girls? Simply because this trip is a reward from one big make-up product company, so only girls can join. *Devil smirk*.

We then directly moved our footsteps to Gili Trawangan. People often said that this island was more beautiful than most of Bali beaches. I disagree. This island for me is way much more beautiful. Even long before we have known that Bali is called “Paradise of gods”, don’t we ever dare to look down other place in Indonesia. There are million hidden gems here. We must be thankful, and of course, keep it clean.

Our one week in Lombok was magical. We visited  Gili Air, that has a wonderful snorkeling spot. We also enjoyed sunset in pink beach. If regular poem start with “roses are red, violets are blue”, my kind poem that time was “the sand is pink, the sky is orange”. We also felt a great joy when we arrived at Malimbu Hill. From up there, we could see an amazing scenery.

Every place we visited brings not only happiness but also the warmth to our friendship.
As I told you before, Monica, Rasty, and I were totally strangers at first. We come from different backgrounds and cities. But our passion in travelling unites us. We spent our time and share our own craziness just like best friend did. I think this is one benefit of travelling. We can find a new friend. And who knows, a best friend? Like Rasty and I. Who knows that the little coincidence called fate unite three long lost soul. We there in January 2014 and next month I will go to Pontianak to attend Rasty’s wedding, as a bridesmaid. I couldn’t more happy.

Our trip wasn’t perfect. There we lots of moments that disappoint us. Like when we rent bycycle and paid too much because we totally forgot to bargain (may be we are too excited). Also, when we bought expensive gelato and picked the wrong flavor.
source: www.static1.squarespace.com

“Curiosity could kill us”
that’s a lesson after eating our macadamia-nut-mix-pineapple-and-mint gelato. The taste was horrible. We were also sad when found out that Monica’s favorite sandal lost because she didn’t put it in proper place. Despite that all, we remain incredibly thankful. We met no bad people, found new friends, witnessed great view of undersea, and tried a lot of amazing new food. We had no regret at all.

Perfect journey isn’t real
The real journey isn’t perfect

We must deal with all the possibilities, ready for life surprises, and keep good attitude toward anything.



ps: ----
*Sebuah karya fiksi kedua, setelah cerpen 'Janji".
**Sebuah karya berbahasa Inggris juga yang kedua, setelah tulisan tentang perjalanan ke Bangkok.
*** Terimakasih para kawan guru Bahasa Inggris yang siap mengulurkan bantuan untuk cek-grammar. Kali ini, untuk Miss Yohana.
**** Tulisan ini lahir dari soal ujian siswa kelas tujuh yang harus menceritakan sebuah pengalaman liburan. Di saat yang sama saya harus menunda menuju ke sebuah destinasi impian. Alhasil, inilah wujud imajinasi saya :')

Sekitar jam 9 pagi, di ruang guru saya bersama guru bahasa Inggris membahas soal US Election. Kabar yang sementara kami dapat, Trump unggul memenangkan sebagian besar suara. Kami geleng-geleng. Entah kenapa dunia semakin gonjang-ganjing. Ada begitu banyak hal yang tak terduga. Wawasan soal Donald Trump sejauh ini hanya saya dapat dari tulisan dosen saya. Dan di titik itu, saya kira Hillary Clinton lah yang akan memenangkan mayoritas suara. Entah kenapa yang terjadi justru sebaliknya. Di tengah obrolan dua orang yang juga tak paham benar, tiba-tiba pengumuman sentral sekolah menggelegar.
“semua anak-anak di lantai dua harap keluar. Hentikan semua pembelajaran.”
Source: http://quoteshunter.com/


Obrolan Donald Trump pun beralih fokus. Saya dan guru bahasa Inggris, saling menatap dan kebingungan. Kami sudah menduga, ada sesuatu sepertinya. Sesuatu yang salah. Tanpa banyak bertanya, kami berdua memutuskan mengikuti instruksi. Para guru dikomando untuk menenangkan siswa dan mengatur agar semuanya terkendali. Di detik itu, kami masih nihil petunjuk apa yang sebenarnya terjadi. Banyak asumsi, tapi terlalu tergesa untuk menyimpulkan sesuatu.


Semua siswa sudah di luar gedung sekolah, namun mereka dan kami para guru masih terus menebak. Ada yang mengira konstruksi bangunan sedang bermasalah hingga menduga ini (hanya) simulasi penanganan bencana, hingga satu ekspresi serius menjelaskan berbagai tanda tanya.
Seorang guru senior dengan penuh wibawa menjelaskan bahwa ada sebuah ancaman bom kepada sekolah kami. hmmm tunggu dulu.. BOM? Sepersekian detik saya mengira ini prank, tapi dari nada pengumuman hingga berbagai ekspresi, saya tahu ini hal serius. Ketika kami di depan gedung sekolah kami mendapati ada beberapa mobil pihak berwajib berjejer. Lalu terlihat sekelompok gegana berjalan memasuki gedung. Ternyata sekitar pukul 7.40 staff SMA Gloria Pakuwon City menerima telepon ancaman bahwa akan ada ledakan tiga kali. Tak tinggal diam, dari pihak sekolah langsung menghubungi polsek Mulyorejo. Singkat cerita, satu gedung dinyatakan aman. Di saat yang sama, orang tua sudah terlanjur tahu. Kabar menyebar dengan begitu cepat, begitu pula aroma kepanikan. Satu per satu orang tua dengan ekspresi cemas menjemput anaknya. Itu terjadi sekitar pukul 10.

Siswa semakin banyak yang dijemput, guru jadi sasaran, satpam kewalahan, dan pers mulai datang. Salah satu orang tua murid memanggil saya, dan saya tahu jelas siapa beliau. Dia meminta tolong saya mencarikan tiga anaknya. Sesegera saya menemukan mereka, saya menuntun mereka menuju gerbang. Sangat refleks, mereka memeluk mama mereka. Salah satu di antara mereka, pecah dalam tangis. Seketika hati saya terenyuh. Haru sekaligus marah. Terharu, karena kasih sayang orang tua yang selalu bertindak tangkas. Terharu melihat saktinya sebuah pelukan yang menghembuskan rasa aman. Tapi juga marah. Sebuah amarah terhadap siapapun yang menelepon dan menyebarkan isu tak benar ini. Entah apa motifnya, dan terlepas berujung ledakan atau tidak, harus digarisbawahi bahwa terorisme bukan hanya soal ledakan namun penyebaran rasa takut. Dan siang itu, kami merasakannya. Kami para guru, siswa, dan tentunya para orang tua.

Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan sampai ke siapapun yang melakukan keisengan tak lucu ini. Tapi bagi kita semua, percayalah bukan hidup penuh ketakutan yang kita inginkan. Bukan kebencian yang harus kita bagikan.

Lalu apa hubungannya, Trump, ancaman bom, dan kasih sayang? Tiga poin itu saya pilih sebagai ringkasan hari ini. Lagipula mau tidak mau kejadian tadi menguatkan fakta bahwa banyak lelucon yang terjadi tanpa terlebih dulu meminta ijin.

Untuk itulah, dibutuhkan kesigapan yang tepat sasaran. Trump terpilih dengan segala pro kontranya dan ancaman bom dengan segala aroma ketakutannya, harus dikalahkan dengan sebuah pesan damai. Kesadaran akan kasih sayang menjadi semakin vokal dibutuhkan justru di kondisi semacam ini.



Bukan saling menuding dan menyalahkan, bukan menghakimi apalagi menebarkan rasa benci, tapi memberikan bahasa kasih seperti ibu dan satu anak murid saya yang larut hangat dalam satu pelukan rasa aman.


Dear Adiss..

"Aku tau ini semua adalah kesia-siaan. tapi Tuhan, raja tua ini juga ingin merasa bangga akan dirinya sendiri"

Seperti yang kamu kira Dis, hidup memang seperti uang gaji. Pilihan soal apa yang harus dikerjakan mengarah ada dua hal: masa kini dan nanti. Betul kan? Ada yang harus ditabung buat masa depan. Ada yang harus dinikmati sekarang.

Bayangkan saja jika kamu hanya fokus menabung, sudah hampir pasti kamu akan banyak mengeluh karena semua tentang apa 'yang akan datang'. Terkesan jauh hingga membuat mudah jenuh. Kamu akan merasa semua berat karena tidak ada yang dapat kamu nikmati saat ini.
Sebaliknya, jika kamu hanya fokus masa kini. Kamu akan kelabakan di masa depan. Terlalu bergairah hingga hilang arah.

Aku bersyukur, kamu paham bahwa hidup ini harus diisi impian masa depan, tapi juga target jangka pendek. Keduanya akan saling menyemangati, percayalah hal itu, Dis. Ada selebrasi bahagia kini dan nanti. Barusan satu pencapaian dapat kamu raih. Kecil, namun bagaimanapun aku ingin memberimu selamat, dan…. Terimakasih!

Selamat, target mini yang membuatmu tak henti berhitung "sudah berapa ya? kurang berapa ya?" hampir di setiap malam menjelang tidur, sudah tercapai.

Selamat karena telah menolak untuk bermanja dengan kehidupan.

Selamat karena telah menantang dirimu sendiri, mencoba, gagal, dan terus berusaha.

Target 10 portal mu ini terlampau remeh bagi orang lain. Dan kabar baiknya adalah: itu tak masalah. Kamu yang paham medan perang ini, jadi jangan heran hanya kamu yang tahu persis manis kemenangan di baliknya. #MudaBikinBangga

Daftar lengkap link tulisan di kesepuluh portal ini:
http://unspokenspace.blogspot.co.id/2016/08/rekam-jejak-si-amatir.html


Aku tahu kamu masih sangat baru. Kamu yang penuh keingintahuan terus menjelajah, melakukan komparasi, dan belajar mengenal masing-masingnya. Kamu pernah merasakan pahit ketika tulisanmu berlabelkan nama orang lain. Tapi kamupun boleh mencicipi manis rupiah-yang-tak-seberapa juga dari rangkai kata. Belum lagi ketika ada orang yang penuh ketulusan mengapresiasi dan berkata “ini memberkati”. Bukankah dengan itu saja sebenarnya kamu sudah puas? Tapi aku paham persis dirimu, kamu memang kurang kerjaan!

Hanya, teruslah ingat: jangan terbuai keberhasilan dan jangan pahit dengan kegagalan.

Aku tahu Dis, betapa kadang kamu menangis melihat banyak pengabaian di sekitarmu. Tapi ini pesanku, lakukan untuk Tuhan. Tolong dengan sangat, jangan jadikan ini pemuas obsesimu tapi bentuk kamu mempertanggungjawabkan talenta dariNya.

Seperti idamanmu, jika di surga kelak kamu ditanyakan “mana talenta yang Aku berikan?”, maka kamu dapat menjawab: “sudah habis terpakai, Tuhan. Aku tidak membawa apa-apa lagi untuk pulang.” Jadikan imaji percakapan surga itu nyata, lewat karyamu saat ini.

Terakhir,  Seperti kutipan di awal tulisan ini, ini hanya kesia-siaan, Dis. Ingat itu baik-baik. Toh yang menganggap ini hal besar hanya kamu sendiri. Hanya kamu yang tahu arti bangga akan 10 portal itu. Tapi, biarlah, siapa peduli. To give yourself a credit and proud, is a must!

Bukan orang lain, kamulah orang pertama yang harus bahagia atas pencapaian kecil ini.

Terimakasih karena telah mencoba. Terutama, terimakasih karena bersedia membayar harga.

Aku akan menulis lagi untukmu lain waktu, saat kamu memang butuh. 


With Love,
Adiss