Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Perjalanan selalu menyimpan cerita uniknya sendiri. Kali ini sesuai dengan jumlah foto yang saya sertakan, ada tiga babak cerita yang ingin saya bagi.

  • Babak pertama: di Kereta

Saya duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki muda. Kebiasaan mengajak bicara saya tahan sebab di hadapan saya ada dua tentara yang entah mengapa menimbulkan rasa ngeri. Buku Paulo Coelho menjadi teman tunggal. Hingga di stasiun Klaten, laki-laki di samping saya membuka obrolan. Rentetan rasa terkejut, dimulai.
Terungkaplah ternyata dia tinggal di Mulyosari. Tepat seperti kos saya berada, hanya berbeda gang saja. Saya dan mahasiswa ITS semester enam itu memulai bercakap seru soal aneka kuliner di satu ruas jalan Mulyosari. Dari penyetan hingga nasi padang favorit saya.
Ketika topil beralih soal jurusan kuliah, dia tiba-tiba bertanya: "aktif PMK mbak?"
Dan saya hanya mengernyitkan alis menahan rasa kaget. Saya lantas memilih pura-pura tidak tahu sekaligus memperkirakan kemungkinan kepanjangan PMK yang lain.
"Mbak aktif persekutuan di Unair?"
Timpalnya memperjelas. Bagi saya, kosakata PMK bukanlah hal lumrah dan familiar untuk ditanyakan seorang asing di gerbong kereta.
"Mbak Kristen kan?"
Saya makin terperanga dan akhirnya bertanya balik bagaimana ia tahu.
"Dari bagian buku yang mbak kasih stabilo"
Saya pecah dalam tawa. Unik sekali kejadian ini bagi saya pribadi. Buku yang saya baca bukanlah buku rohani bahkan, namun kutipan ayat dari surat Paulus itu siapa sangka jadi permulaan obrolan dan lahirnya satu teman baru.

Terakhir, giliran saya yang bertanya. Setelah tahu bahwa kami adalah saudara seiman, saya menanyakan dimana ia biasa beribadah dan anggota jemaat manakah dia. "Ibadah di GKI Manyar, jemaat GKI Depok" dan itu membuat saya makin terbahak geli. GKI Manyar adalah GKI terdekat dengan kosan saya sedangkan GKI Depok adalah GKI terdekat dengan rumah Riyan.

Ah mungkin saya yang mencocok-cocokkan. Tapi rangkai kebetulan ini tetap saya syukuri.


  • Babak kedua: Kebaikan Sebelum Bermalam

Sesuai rencana, saya dan Nurul akan bermalam dengan camping di sisi telaga Cebongan lalu mengejar sunrise keesokan harinya. Sayangnya, karena saya buta soal mendirikan tenda, maka Nurul menjadi pejuang tunggal. Jelas, dia kesulitan. Dua orang laki-laki menghampiri dan menawarkan bantuan. Segera, tenda kami berdiri kokoh. Dua mahasiswa Kelautan Undip semester dua tersebut berpamit ke tenda mereka sendiri bergabung dua rekan mereka yang lain. Hawa dingin yang menyergap ditambah rasa syukur atas bantuan dua mas tadi membuat saya dan Nurul kemudian berinisiatif membuatkan dua gelas susu hangat. Saya mengantarnya dan mereka cukup terkejut lalu berterima kasih. Kamipun menyusul mengisi perut kami sendiri. Akibat tidak siaga dengan uang tunai, kami harus bertahan dengan mie instan yang kami bawa. Semangkok berdua. Itupun kami lahap sembari berandai kami membawa telur. Sayapun berujar bahwa saya belum kenyang. Tak selang lama, seorang perempuan yang saya tahu teman mas yang tadi, mengembalikan gelas. Kami terkaget bahagia ketika menyadari bahwa itu bukan gelas kosong namun gelas berisi susu sereal rasa vanilla. Iya, mereka membalas pemberian kami yang sebenarnya adalah ungkapan terima kasih.
Bisa ditebak, kami tidur dengan perut lebih kenyang dan hati yang senang.


  • Babak tiga: Mie Telur sesaat sebelum Pulang

Hari terakhir tiba. Usai menikmati sunrise tertutup mendung di puncak Sikunir, saya dan Nurul turun. Uang kami tersisa 25.000 dan kami rencanakan untuk membeli pengisi perut secukupnya. Di tengah tapak perjalanan turun menuju deretan warung-warung, seorang bapak menyapa. Ia adalah seorang tour-guide yang kami temui ketika kami iseng tracking di petak sembilan Dieng sehari sebelumnya. Saat itu dia sedang menunggu rombongan dari Malaysia, dan kami mengobrol cukup lama sebelum saling berpamit. Pagi tadi, ia hadir dengan satu temannya. Kami menuruni tangga demi tangga rute Cebongan-Puncak Sikunir. Hingga di depan warung mereka mengajak kami singgah.
"Tak bayari mbak, ayo sarapan sek" begitu kata pak Eko.
Walau suka gratisan, kami jelas ragu awalnya. Namun atas dasar rasa percaya, kami menerima ajakan itu. Mereka bercerita soal suka duka menjadi driver sekaligus tour-guide. Pun soal pengalaman unik selama menjadi guide bagi wisatan asing dari Australia hingga Kanada. Saya dan Nurul mendengar dengan antusias. Mereka juga memberikan kami tiga kemasan Carica sebagai buah khas Dataran Tinggi Dieng. Sesaat sebelum berpamit, kawan pak Eko (kami lupa berkenalan) memesankan dua mangkok mie kuah plus telur kepada ibu warung untuk kami dan membayar lunas semuanya. Kami terus berterima kasih dengan rasa takjub penuh syukur. Bukan hanya karena perut kenyang, namun lebih kepada kebaikan di baliknya.



Selain tiga 'kebetulan' tersebut, masih ada bapak-bapak yang TANPA DIMINTA mengarahkan jalan pedesaan kepada kami yang memang menghindari jalan besar penuh truk dan polusi. Alhasil, rute penuh sawah kami nikmati. Juga bapak penduduk yang menunjukkan beberapa spot untuk kami explore. Ya.. tanpa diminta.

Saat kami merenungkan rangkai 'kebaikan' ini, Nurul hanya berkata "ini memorable banget mbak. Rejekinya mbak Adiss nih." Saya tersenyum merasa bahwa ini memang akan jadi petualangan yang akan saya kenang. Dengan nada bercanda, saya bertanya apa yang ada di wajah kami berdua sehingga semua kebaikan itu tiba bahkan tanpa diminta. Apa kami terlihat kelaparan? Apa mereka semua bisa menerawang hati, pikiran, perut, dan dompet kami?

Nurul hanya tertawa.
Gadis berjilbab mahasiswa UGM tersebut kemudian berujar bahwa 300 km yang nekad ini telah diisi banyak berkat. Saya lagi-lagi sepakat. Pun kami menyimpulkan bersama bahwa rangkai kejadian manis ini sudah sepatutnya menyemangati kami untuk berbuat baik untuk orang lain pula.

Jadi...kalau saya disuruh memilih judul petualangan ini, maka kalimat dari Nurul-lah yang akan saya pinjam:


"Perjalanan Nekad Penuh Berkat"
Semarang menjadi saksi bagaimana saya dan para rekan dalam Ignite menikmati rasa panik sebagai bagian dalam skenario untuk mewujudkan prinsip "Urip iku Urup".
Sebagai tim penulis, sedari di Surabaya kami tahu jelas bahwa tugas kami adalah wawancara dan membuat artikel liputan. Satu-satunya nama yang terus kami bahas adalah pendeta Agus Tato. Seorang pendeta jalanan yang membumikan kasih Penebus dengan cara melayani "kaum terpinggirkan".
Hari yang dinanti tiba. Kami siap dengan daftar pertanyaan. Seorang kawan sebelumnya pernah bertemu mas Agus dan memberi kesan "orangnya intimidatif sekali". Jelaslah sudah itu menjadi alasan kepanikan pertama saya.
Dengan sepatu boot merah, diantar panitia dia melangkah ke ruang wawancara yang telah kami siapkan. Kami berkenalan dan segera hendak memulai.
"Sek bentar.. kamu itu cocok sekali jadi presenter di TV"
itu komentar pertamanya terhadap celoteh saya dengan tempo lebih cepat dari biasanya dan tak lain untuk menutupi tumpukan kepanikan. Kamipun tertawa. Siapa sangka durasi berjalan mulus, tak ada tatapan intimidasi. JUSTRU ada menit-menit haru hingga mata mas Agus berkaca-kaca. Saya bersyukur tak henti atas sesi santai penuh inspirasi bersamanya. Mengalir dengan penuh tawa bahkan. Ketakutan sirna.




Tak selang lama, panitia menghampiri kami.
"Cameo Project dan Tokopedia lagi kosong. Silakan masuk buat wawancara"
Kira-kira begitu bisikkannya ke salah satu rekan saya.

Saya, dan kami semua, terbelalak.
Cameo Project? Tokopedia? Wah yang bener!


Ekspresi itu perpaduan syukur atas kesempatan berharga namun tak kalah aroma panik sebab tak SEBIJI pertanyaanpun kami siapkan untuk mereka. Saya sebagai pewawancara ketakutan dan salah tingkah seketika.

Tiba-tiba saya dibawa pada pengalaman sekitar tahun lalu, dimana PERTAMA KALI saya melakukan wawancara. Tepatnya untuk liputan kegiatan pemuda GKI Citraland di Pondok Pesantren. Kala itu, perdana saya belajar menyiapkan pertanyaan dan berlatih membawa suasana menyenangkan senantiasa mengalir.

Kini apa yang di depan saya adalah sebuah kejutan. Bertemu sosok penuh prestasi di balik Tokopedia dan Cameo sebagai Youtubers yang menebar pesan positif.

Saya tahu persis Tangan di balik ini semua. Saya mengenal cara kerja semacam ini. Dipersiapkan dari kepercayaan kecil untuk melaksanakan sesuatu yang lain di hari depan. Saya dikuatkan.

Dengan notes kecil di tangan, saya mantab menemui Doni sebagai perwakilan dari Tokopedia. Dibandingkan menjadi sesi wawancara, saya rasa obrolan kami yang langsung memanggil nama tak ubahnya percakapan antar kawan. Yang satu gemar bertanya yang satunya telaten menjawab. Sudah.. sesederhana itu. Untungnya, saya tak buta soal Tokopedia. Sehingga konteks pertanyaanpun masih dalam kendali.




Giliran Doni berakhir, Cameo duduk mendekat. Kepanikan saya kembali membuncah. Bukan hanya karena berhadapan dengan 'artis' yang pastinya telah bertemu pewawancara yang jauuuuuuh lebih handal, tapi juga karena SAYA GAK PAHAM YOUTUBE! Hello! I mean it. Tidak banyak konteks yang saya kuasai. Saya hanya berusaha melawan kepanikan, atau mungkin sekadar membungkamnya. Wawancara mendebarkan itu mulai berjalan santai dan akhirnya selesai. Kami sebagai pewawancara dikenyangkan dengan berbagai pesan.


Esoknya setelah menelpon mas Agus Tato, kami mengujungi Yayasan yang ia dirikan. Sebuah petak rumah mini untuk anak-anak penduduk sekitar datang dan belajar bersama. Setelah berputar mencari alamat, saya bersama empat teman lelaki berbaju hitam menemukan gang yang dimaksud. Saat driver taksi online mulai menurunkan kecepatan, sebuah pemandangan hadir. Di pinggir jalan dua laki-laki membentak dan memarahi seorang laki-laki di dalam mobil. Bukan adegan bercanda jika dilihat dari ekspresinya.
"Ini memang gang preman, mbak" kata sang supir.

Kepanikan datang lagi. Mimpi apa juga semalam saya singgah ke gang semacam ini. Keempat teman saya hanya tertawa melihat respon kepanikan yang memang gagal saya tutupi. Kami berjalan cepat menuju rumah Yayasan tersebut. Sebuah petak tak luas berdinding warna merah muda. Kami segera hanyut dalam durasi menyenangkan bersama anak-anak SD yang sedang belajar bersama.


Dari rangkaian pelayanan ini, saya menjadi makin akrab dengan sisi diri yang mudah panik. Saya belajar memperlakukan kejutan hidup dengan lebih santun dan tidak berlebihan. Misalnya dengan kemampuan menarik nafas dan mendamaikan diri. Serta secercah kepercayaan bahwa rekan di samping saya bisa diandalkan.

Dimulai dari isu "intimidatif" mas Agus Tato, jadwal wawancara mendadak, hingga adegan preman yang berulah, semua menjadi bumbu yang layak dikenang.
Sang Pencipta bukan saja Maha Kuasa dan Maha Romantis, dengan membukakan berbagai peluang bagi kami. Ia pula agaknya Maha Humoris, yang kerap mencari alasan tertawa hingga mengijinkan umat-Nya berkeringat dingin atas sesuatu yang memang Ia jaga agar tidak membahayakan samasekali.

"Semarang menjadi arena membungkam kepanikan dan mengetahui bahwa Ia adalah Tuhan!"

Bagi saya tidak ada konklusi lain yang lebih baik dari ini.
Setiap kita sudah tentu memiliki sebuah konsep “pemberian terbaik”. Ada yang menakarnya dari harga, ada pula dari kualitas, atau mementingkan nilai fungsi. Begitu pula ketika kita sedang berusaha “memberi” untuk orang lain. Bagi saya pribadi, pemberian terbaik adalah pemberian yang disertai penyangkalan diri namun tetap dipenuhi rasa sukacita. Perdebatan “lebih baik memberi uang” atau “lebih baik memberi waktu” menjadi begitu sia-sia, sebab setiap orang bergumul dengan penyangkalan diri tertentu. Semisal saya ketika kuliah yang sangat minim budget namun melimpah waktu luang, memberi dalam bentuk uang adalah tantangan terbesar. Namun kini, dengan gaji –yang lebih dari cukup, menyediakan waktu menjadi sebuah penyangkalan diri. Atas dasar itulah, ketika memikirkan proyek kasih, titik tekan saya adalah tentang waktu dan ketelatenan. Apakah saya dan teman-teman saya akan sanggup?

Tercetuslah satu kegiatan untuk memberi para oma-opa di Panti Werda sebuah kado sesuai keinginan mereka. “As They Wish” begitulah kalimat yang baru saja mencuat di kepala.
Saat itu hari Minggu usai persekutuan guru Gloria, kami bergegas untuk mencari tahu apa keinginan oma-opa dengan berkunjung ke panti tersebut. Siapa sangka, 15 Oma dan 3 Opa menyambut kami dengan hangat.
Kami berbincang untuk mencari tahu apa yang diinginkan masing-masing mereka. Awalnya saya pribadi mengira itu akan dijawab semacam “selendang” atau “daster” atau “kaos”, namun siapa sangka permintaan oma opa itu spesifik, lucu, dan mengharukan. Misalnya Oma Arlina yang meminta jas hujan. Ketika kami tanya, jawabannya sangat sederhana namun tangkas menegur kami. “Supaya kalau hujan, tetap bisa jalan kaki ke gereja”. Rasanya saya begitu malu, dengan motor dan jas hujan kadang saya menjadikan rintik air sebagai alasan untuk membolos ibadah. Sedangkan seorang Oma dengan tubuhnya yang renta, mencari cara untuk tetap menemui Penciptanya di gereja.

Oma kedua yang kami tanyakan adalah Oma yang sangat ceria. Ketika kami bertanya, dia berpikir lalu menoleh ke arah lantai. Seketika dia berkata “oma mau sepatu kayak nonik ini”, jawabnya sambil menunjuk ke arah sepatu yang sedang dikenakan ce Jessica. Oma Evy Maria kemudian mencoba sepatu itu agar kami dapat memperkirakan nomor kakinya. “Wah ini pas banget, ini buat oma aja ya,” ditutup dengan gelak tawa yang menyenangkan. Kami tak berhenti tersenyum.
Permintaan ada yang begitu sederhana seperti “selendang yang lembut” atau “daster pink”, namun ada pula permintaan semacam “daster dengan renda di bagian leher, berlengan, motif batik, dan ada kantongnya”. Bagian soal renda di leher itu membuat kami sekelompok kebingungan hingga berakhir dengan miss Ona yang menjahitkan renda manual di satu daster yang kami beli.

Pertemuan pertama ini membuat saya paham betapa mereka ingin didengarkan, bahwa mereka juga memiliki selera dan keinginan. Saya makin bersyukur dengan konsep proyek kasih kami. Tidak sekadar memberi namun dapat tepat sesuai keinginan hati.

Seusai keinginan hadiah direkap, kami berenam segera membagi tugas. Siapa beli apa. Tidak ada samasekali pertimbangan rata atau tidak. Komitmen semata. Dan lagi-lagi saya paham, memang menyenangkan memiliki orang yang sehati dan seidealisme dengan kita.

Setelah sebulan pencarian kado dilakukan, hari ini menjadi pertemuan kedua dan puncak acara. Kami hadir dengan 18 kado, dan makan siang. Tak kalah, hati yang siap bersukacita bersama. Respon mereka di tengah siang panas Surabaya hari ini memastikan bahwa jerih lelah kami tak sia-sia. Mereka menyambut kami dan segera berkumpul untuk persekutuan kecil. Uniknya, di usia mereka yang senja, ketika ada kesempatan untuk persembahan pujian, selalu saja ada oma yang mengajukan diri. Dari lagu “setinggi-tingginya langit” dan lagu tahun 70an yang sesungguhnya tidak pernah saya dengar sebelumnya. Saya bahagia melihat kebersamaan kami.



Waktu untuk membagi kadopun tiba. Pukul 11.30 adalah jam makan siang mereka, maka sekalian kami bagi sekotak nasi. Sebelum berpindah ke ruang makan, kami sempatkan foto bersama lalu berpamit. Namun beberapa oma menahan kami dengan jabatan tangan terima kasih yang berulang. Sebuah respon yang manis, hangat, dan lagi-lagi membahagiakan. Kami yang juga masih betah menghabiskan waktu disana, menyempatkan singgah ke kamar Opa Agus yang sedang terbaring sakit. Kami menyerahkan hadiah buatnya. Saat saya di ambang pintu, saya tak sengaja melihat Oma Liang yang telah membuka kadonya. Sesuai permintaan, tas coklat ia dapatkan. Namun responnya menjadi sangat berharga untuk saya kenang. Dia berlari dan memamerkan tas barunya. Oma yang lain menyambut dengan tawa berbalut ekspresi ingin segera menyelesaikan makan siang untuk membuka kado.

Dari dua kunjungan ini, kami yang niatnya membuat bahagia justru dibuat bahagia tak kurang-kurang. Memang benar, ketika kita sibuk membahagiakan orang lain alih-alih menjadi egois dengan hidup sendiri, maka bahagia pula yang kita tuai.

Ini sebenarnya proyek kasih kedua saya bersama teman KTB guru di Gloria. Pertama, kami memilih yayasan anak kanker sebagai penyaluran bahasa kasih. Kali ini, panti werda.
Tadi di perjalanan, Wisye berucap dan berterima kasih karena gagasan proyek kasih yang saya ajukan. Berselang hitungan detik, saya menimpali bahwa sayalah yang sesungguhnya bersyukur sebab dikelilingi orang yang mau mendengar, mengindahkan, dan mewujudkan gagasan itu bersama. Bahkan ce Jess dengan sabar menahan malu menemani saya menjual baju bekas di pasar Mulyosari.
Ini adalah konsep kegiatan kedua setelah proyek “Dedicated for a Life” yang juga saya gagas dengan menggunakan prinsip ATM. Amati (dari lembaga nirlaba tertentu), Tiru, dan Modifikasi. Bersama Helen dan kak Ajeng dua sahabat saya, kami berjerih lelah penuh sukacita bersama dan mengajak rekan pemuda GKI Residen Sudirman untuk bergabung.

Saya mungkin hanyalah seorang konseptor –yang hanya bisa memodifikasi ide yang sudah ada. Namun juga seorang pengecut karena tidak pernah berani melakukan sebuah aksi sendirian. Hanya saja, Tuhan memang tahu benar kelemahan ini dan menganugerahkan saya rekan untuk mengeksekusi sebuah gagasan. Kata orang “niat baik akan selalu mendapatkan jalan”, saya yakini hal tersebut tepat adanya.

Tulisan yang saya tulis sembari terus tersenyum dan hampir mencapai 1000 kata ini, tidak lain untuk menyemangati kita bersama untuk melakukan sesuatu sebagai ucapan syukur. Menurut saya pribadi, masa bekerja adalah masa emas untuk berbagi. KSeperti yang terus terulang di caption atau di sela tulisan, saya merasa lebih dari cukup dengan gaji yang Tuhan beri. Saya bisa pergi ke luar kota untuk belajar atau sekadar pelesir, membeli buku, atau makan kekinian. Maka, akan sangat egois jika saya (dan kita semua) lupa berbagi.

Sekarang saya akan memikirkan sebuah konsep proyek kasih yang lain. Saya tidak tahu kawan mana lagi yang akan Tuhan beri sebagai rekan sepelayanan, saya juga tidak tahu kapan itu akan terealisasi. Satu saja yang saya yakini, untuk niat baik akan selalu menemukan jalan.

Selamat berbagi, teman-teman. Di luar sana ada begitu banyak orang yang kesepian atau setidaknya ingin sedikit lebih diperhatikan. Mari jangan jemu berbuat baik, karena apabila datang waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

“how far you go in life, depends on your being tender with the young, compassionate with the aged, sympathetic with the striving, and tolerant of the weak and strong. Because someday in life you will have been all of these.” –George Washington Carver
2009
Masa kuliah adalah masa termiskin saya. Minimnya dana tak lain adalah imbas kegagalan pengaturan ekonomi keluarga. Jenjang 8 semester disponsori oleh kebaikan hati seorang saudara ditambah beasiswa untuk menyambung hidup. Di masa itu, bukan hanya saya yang berjuang survive di tanah rantau, tapi juga mama papa di rumah. Ah saya enggan memberikan detail rincinya, karena hari-hari ini begitu menguras hati, dan untuk tulisan ini saya bertekad akan mengarunginya dengan tegar. Tanpa air mata.

Di masa kesulitan ekonomi kami, setiap saya pulang ke rumah, selalu terhidang makanan enak, Tak mahal, kadang hanya sayur bayam dan dadar jagung kesukaan, tapi nikmatnya menjulang luar biasa. Segala keterbatasan juga membuat saya harus tidur di rumah yang tak elok, ada beberapa sisi yang bocor, tapi lagi-lagi tak mengurangi kadar bahagia. Lalu di sebuah siang, dengan sepeda motor bekas yang baru papa beli, ia mengajak saya pergi. Tanpa memberitahu mama apalagi cece.

Tidak jauh dari desa saya: Jatiroto, ada sederet orang yang mengadu nasib dengan berdagang buah favorit kami sekeluarga: durian. Kami menempuh perjalanan sekitar 15 menit, dan sampai pada satu penjual durian yang kami pilih secara acak. Kami duduk, dan makan durian berdua. Sembari melumat dengan lahap setiap biji, kami membicarakan banyak hal. Ia selalu ingin tahu soal kuliah saya, apa ada kendala dan apa saja yang sudah saya pelajari. Iya, itu memang kebiasaannya sejak dulu kala. Saat saya SD, setiap pulang sekolah ia tak pernah absen bertanya: "Belajar apa hari ini, Dis?" dan itu memaksa saya untuk serius memperhatikan saat di kelas agar bisa menjawab pertanyaan demikian dengan mantab.

Setelah hampir usai kami mengosongkn setiap celah di buah tersebut, papa segera membayar sesuai harga yang telah disepakati di awal (setelah tawar-menawar yang hebat!). Sejenak sebelum pulang dan kembali naik ke motor, papa berkata "Dis, jangan bilang cece nanti dia iri papa belum belikan durian. Kalau ada uang lebih nanti gilirannya cece."


Entah bagaimana, orang tua selalu punya kekuatan untuk mencintai anaknya.


2017
Hari Valentine tiba lagi. Tepatnya, ini kali ketiga saya dan Riyan merayakan sebagai sepasang kekasih. Tahun lalu kami mengisi tanggal ini dengan sepiring rawon pak Pangat di daerah Wonokromo. Kami beri judul "valentine romantis nan ekonomis". Di saat yang sama, lewat instagram kami menyaksikan beberapa kawan mengemas hari yang penuh pro-kontra ini dengan lunch istimewa di berbagai kafe elit. Kami seketika merasa hina.

Hari ini, tak lebih baik. Masih nihil ceremonial. Masih tidak ada bunga dari kekasih saya. Coklatpun tiada, apalagi durian! Aiiih dia pembenci akut buah surga tersebut. Tapi anehnya, saya merasa tak kurang dicintai. Di siang tadi, ia menelpon saya. Sebuah tindakan yang tidak pernah ia lakukan sejak di tempat kerja yang baru. Menyapa hangat dan berderai canda tawa di durasi tak lebih dari 5 menit. Di malam hari, ia yang sudah berpamit tidur, memaksakan dirinya untuk bercengkrama dengan saya terlebih dahulu. Ia kemudian menutup dengan kalimat "semoga tahun depan bisa makan enak merayakan bareng ya".

karena kasih itu mau melangkah bersama, apapun kondisinya.



---
Kisah 2009 dan 2017 itu punya kesamaan, bahwa baik durian dan telepon siang bolong telah menyuarakan bahasa cinta yang amat besar. Di tengah berbagai distorsi akan makna kasih, keduanya membawa saya pada satu simpulan: Kasih itu berjuang. Dan berharap.

Dengan keterbatasan uang, pengeluaran puluhan ribu untuk durian adalah pemborosan, tapi papa masih saja mencoba membahagiakan saya. Dengan segala kesibukan, keterbatasan dana untuk beli tiket, dan jarak yang membentang, Riyan pun mengupayakan lahirnya perasaan dicintai bagi kekasihnya.
Itulah kasih yang saya hayati hari ini: Kerelaan untuk melewati kesulitan, kesediaan untuk mengusahakan perbaikan, dan pengorbanan melampaui keterbatasan.

Di bagian akhir kisah, selalu ada sebuah harapan yang dilontarkan. Baik dari papa dan juga Riyan. Satu lagi unsur kasih bagi saya adalah: harapan. Bukan hanya tataran perasaan tapi iman dan kesanggupan untuk percaya. Sudah banyak orang yang mati rasa dan berhenti berharap karena dipahitkan keadaan, tapi disitulah kasih berperan. Ia memampukan manusia untuk percaya pada sesuatu yang bahkan belum dilihatnya. Kasih menyanggupkan seseorang bermimpi dan memberi kekuatan untuk menerima segala kemungkinan.


Karena bukan Cinta, jika terlampau pasrah. Bukan Cinta, jika tidak percaya. 

Perjuangan dan harapan, itulah inti kisah percintaan yang sesungguhnya. Kadang semahal keberanian mengajak menikah disertai cincin berlian, tapi kadang juga semurah harga durian dan telepon di jam makan siang.

Kado indah, makan malam mesra, hingga sepucuk surat merah muda, semua hanyalah pernak-pernik pemeriah. Tapi yang terpenting:
Kasih itu Berjuang. Sudahkah kita?

Saya merasa ini adalah bulan yang panjang. Bukan karena membosankan, tapi karena medapati bahwa dalam tempo 30 hari setumpuk kisah telah terajut. Untuk produktifitas, bulan ini mengecewakan. Tulisan saya tidak terbit dimanapun selain di blog pribadi. Terlepas dari itu, begitu banyak hal yang boleh terjadi, diraih, dan terpenting, dipelajari.

source:www.theoddesyonline.com


1. Stay Closer with Soponyono

Toko kue yang telah ada bahkan sebelum saya lahir ini, memang milik keluarga besar. Namun kala saya menginjak kuliah, soponyono seakan seorang asing. Tak ada lagi waktu di dapur bercengkrama dengan para mbak, tak ada durasi menjadi kasir dan melayani pembeli yang sebagian adalah fans berat pastel nikmat kami. Tapi, di awal tahun ini, saya mencoba kembali menghayati toko ini sebagai denyut nadi saya sendiri. Tiga hari menjaga toko yang membuat banyak kenangan tentang keluarga kembali menghangat dalam ingatan.


2. Paket Kasih Tuntas Terkirim

Dalam rangka merayakan Natal dan sebagai ucapan syukur, saya membagi paketan sederhana kepada 8 kawan. Namun karena pulang kampung, beberapa di antaranya harus tertunda. Bulan ini, saya menuntaskan semuanya. Saya selalu sumringan ketika melihat satu per satu memberikan kabar bahwa paket telah diterima dan bahkan bonusnya mereka menyukai apa yang saya pilih. Memang benar prinsip sederhana ini:

"Kita hidup dari apa yang kita terima, kita bahagia dari apa yang kita beri”.




3. Capen Inspiratif

Karena  proyek menulis dalam tim IGNITE akan dimulai, takdir mempertemukan saya dengan dua wanita yang sangat menginspirasi. Keduanya adalah calon pendeta. Satu wanita yang pertama usianya lebih muda, dengan begitu humoris dan energetik  dia menceritakan tentang bagaimana dia menginsafi panggilan menjadi seorang hamba Tuhan. Saya terbelalak tak henti menyaksikan betapa Tuhan super unik dalam membuatkan peta kehidupan bagi masing-masing anak-Nya. Wanita kedua tak kalah inspiratif. Dengan pembawaan yang lebih kalem dan berwibawa, dia menceritakan pengalaman soal pasangan dan penerimaan diri. Sebuah cerita jujur dalam konteks kami yang baru perdana mengenal saat itu. Kisah hidup yang tulus dibagi memang ampuh menjadi berkat.



4. Drama Power Bank

Salah satu keping cerita yang paling menguras hati. Tepat di momen harbolnas, Riyan membeli sebuah power bank. Warnanya cantik, kapasitas besar, merk ternama, dan fitur fast charging. Kami mengidamkannya untuk menjadi rekan ketika kami sedang jalan-jalan atau mungkin pelesir bersama tahun ini. Ternyata semua berjalan tak mulus. Paketan barang tersebut ditujukan ke alamat kost saya, dan ternyata setelah penjaga kost meletakkan di depan kamar saya, barang berwarna biru tajam itu raib. Setelah memastikan segala runtut peristiwa, saya dan penjaga kos menjadikan beberapa teman sebagai tersangka. Mengingat harga barang yang bagi saya dan Riyan tak murah, kami sampai pada keputusan meminta ibu kos menemani saya melakukan geledah. Semua sepakat bahwa keesokan harinya, rencana itu akan dieksekusi.




Saat malam, saya berbaring dengan begitu resah. Merasa jahat karena menuduh, tapi juga sedih kenapa drama seperti ini perlu terjadi. Akhirnya saya MEMUTUSKAN BERDAMAI. Saya membatalkan rencana menggeledah dan melalui doa memberikan pengampunan. Alhasil, hati saya tentram. Gejolak ini saya tutup dengan konklusi:

“damai sejahteraku tidak sebanding dengan uang (ratusan ribu) tersebut”.

Saya tidur malam itu dengan sangat lega. Memang, pengampunan itu mendamaikan. Esok harinya, saya hendak menuju kamar mandi dan penjaga kosan menemukan paketan saya di parkir sepeda motor. Paketannya MASIH RAPI. Saya merasa seseorang sedang mengajak saya bercanda. Tapi momen munculnya kembali power bank tersebut sangat indah. Tepat setelah saya belajar melepaskan dan mengampuni. Masih jadi misteri siapa yang mengambil dan menaruhnya kembali. Tapi drama-tak-penting ini patut disyukuri karena mengingatkan betapa damai sejahtera itu lebih mahal dan bahwa: pengampunan selalu mendamaikan.

5. Projek Baju Bekas
Sebuah cerita yang sudah saya tuntas dan rinci bagi di blogpost sebelumnya. Sebuah pengalaman yang berkesan, hanya dengan berusaha mewujudkan gagasan kasih tertentu. Memang, bahagia itu sederhana. Dengan berusaha selfless dan mengambil aksi dalam segala kerinduan.


6. Inspiring HRD Staff

Bangunannya megah dan semua staff berbahasa Inggris lancar. Begitulah gambaran tempat saya kembali menantang diri. Seperti pada umumnya proses seleksi, saya bertemu dengan staff Human Resource Department. Tanpa ekspektasi, justru hanya bisik cemas agar orang yang akan saya temui bukan tipe galak dan kaku. Doa saya terkabul! Bukan hanya tidak kaku, namun juga seorang lawan bicara yang luar biasa. Dia seperti trampolin yang membuat percakapan makin luas namun juga makin dalam. Dari soal penerimaan diri hingga Donald Trump, kami bahas bersama. Sebuah siang yang berkesan. Dia yang perdana saya kenal tersebut bahkan bertanya soal 150 mimpi saya dan berkata "kamu sudah mencapai setengahnya, saatnya menambah mimpimu dan sekaligus memperbesarnya." Sebuah saran yang bahkan tidak saya dapatkan dari kawan-kawan terdekat saya. I wish, in the future I can have more time to chit-chat with her.



7. Another Volunteering Experience 
Sebuah iseng yang berujung pada pengalaman baru volunteering di ranah digital. Lewat Chapter, lembaga nirlaba dari Singapura, saya mendedikasikan waktu luang dan kuota internet untuk mengedukasi masyarakat soal krisis listrik yang dialami oleh masyarakat Banten.



8. Belajar Bersama Remaja Hebat
Sebagai perwakilan dari sekolah, saya diutus mengikuti kegiatan semacam latihan kepemimpinan. Awalnya saya ikuti dengan enggan. Bagaimana tidak, acara ini mengambil jatah akhir pekan yang biasanya saya gunakan maksimal untuk hobi. Tapi di acara ini, saya bertemu squad yang super menyenangkan dan belajar berbagai materi baru. Soal public speaking, games kreatif, hingga tampilan power point yang baik bagi anak genZ. Sangat memperkaya!




9. Cerryls Melebarkan Sayap
Ada 14 toko total sampai saat ini, sebuah tambahan yang makin signifikan. Pasti, hal semacam ini tidak akan luput saya hitung sebagai kebaikan Pencipta. Rasanya masih tidak percaya, begitu melimpahnya toko yang menerima kami hingga beberapa putaran. Secara online, pertumbuhan kami amat lambat, tapi cakupan Cerryls melalui toko ternyata semakin besar. Belum lagi ketika melihat berbagai 'kebetulan'. Misalnya, ketika bertemu ibu kepala cabang yang dengan welcome menerima Cerryls di lima cabang mereka, hanya karena "dulu saya juga bisnis kartu ucapan". Rasanya Bahagia bukan kepalang! Begitu pula takjub ketika menyaksikan seorang kawan menawari untuk Cerryls diliput di majalah online Surabaya: Submagz.
Jika ada niat, banyak jalan akan dibuka. Saya yakin itu.

10. Dapat partner buat Cerryls
Masih soal Cerryls kesayangan, bulan ini jalan hidup mempersatukan saya dengan mbak sanguin-melankolis sebagai partner bisnis. Awalnya kami hanya satu komunitas menulis, tapi lagi-lagi kejutan hidup menyodorkan cerita yang sepenuhnya tak terduga namun menyenangkan. Sebentar lagi, Cerryls yang awalnya bergerak hanya di kartu ucapan akan merambah item lain. We're so glad about this!

11. Banyak dikecewakan
Bulan ini menjadi berharga bukan hanya soal berkat, berkat, dan berkat. Tapi juga rasa kecewa terhadap berbagai perilaku. Sakitnya perasaan tidak diperhitungkan, sedihnya atas perilaku tidak adil, bahkan pahitnya diremehkan. Namun di saat yang sama, (kebetulan) saya sedang menuntaskan membaca sebuah buku relasi. Dan dituliskan apik sebuah kalimat berikut:
"my respond is my responsibility".
Ketika kita merasa begitu kecewa, sikap untuk marah dan protes, sikap untuk membalas dan menjatuhkan, semua adalah tanggung jawab pribadi kita. Bukan tergantung pada tindakan mereka, tapi berdasar nilai apa yang sebenarnya kita hayati. Saya sedang berlatih untuk terus memilih sikap yang baik, apapun kondisinya.


12. Jadi Editor
Terakhir, ini yang paling membuat rasa gentar, takjub, bangga, dan bahagia bercampur satu dan berkecamuk penuh harmoni. Lewat IGNITE, saya belajar hal yang sepenuhnya baru. Sebuah kepercayaan yang mengerikan tapi tidak akan saya sia-siakan. Secara keterampilan, jelas saya belum terlalu mumpuni. Itulah kenapa, tugas ini mengingatkan saya pada makna anugerah dan memaksa saya belajar. Sebuah kesibukan baru yang saya nikmati.





Dan akhirnya, yang baik, buruk, dan segala sesuatu di antaranya, tak ada yang saya sesali. Durasi 31 hari penuh emosi :') tepat seperti bianglala, ada naik dan turun yang ekstrim tapi menggembirakan. Bulan Februari ini, saya menanti beberapa 'keputusan'. Tidak ada daya untuk menebak episode selanjutnya. Seperti hari lalu, saya terlampau yakin semua akan baik lewat cara-Nya. #Eleos!


Walau kulit tak putih, dan mata tak sipit, saya bisa pastikan bahwa ada darah Tionghoa mengalir di diri saya. Tak berusaha menutupi tapi juga tak membanggakannya berlebih. Tapi premis tersebut -bahwa saya orang Tionghoa- merupakan pembuka penting kisah ini.
Fakta kedua adalah, pacar saya yang sering dikira orang Chinese itu, justru Jawa tulen.

Pacaran beda suku pasti tak serumit beda agama. Tapi ada dinamika seru yang lahir karena perbedaan ini. Tepat seperti saat ini, sehari menjelang Chinese New Year, tiga tahun lalu, saya dan Riyan masuk pada arena pertengkaran perdana. Isu yang kami angkat tak kalah panas dengan debat cagub yang sedang saya saksikan di sela menulis cerita ini, yaitu: Kue Keranjang vs Kue Bulan.

source: www.harnas.com


Saat itu kami yang masih dalam tahap PDKT berdebat, kue apa yang sebenarnya dijadikan bagian budaya dalam perayaan Chinese New Year. Saya ngotot kue bulan dan dia di kubu kue keranjang. Tapi percakapan itu berujung ricuh karena saya merasa tidak terima. Bagi saya, tidak karena ada darah Tionghoa, maka saya tahu segala seluk beluk budaya suku ini, dan pembebanan untuk know-everything itu menyebalkan. Saya marah, Riyan turut bete.

Mengenang kejadian itu selalu mengundang tawa. Bagaimana mungkin sepasang pemuda usia dua puluhan memilih topik seremeh ini untuk bertengkar?

Tapi, hari ini ketika Tahun Monyet telah beralih menjadi Tahun Ayam, saya melihat semua proses menyebalkan, akan menjadi cerita manis kemudian hari. Selain perselingkuhan dan kebohongan, saya kira semua berpotensi menjadi sebuah memori sejuk. Saya sendiri tidak menyesali setiap pertengkaran yang ada. Ada yang membuat kami tertawa saling mengejek dan ada pula yang masih tersimpan rapi di note kami berdua sebagai sebuah pelajaran berharga

Selain itu, dengan proses tiga tahun saya makin sadar bagaimana waktu selalu menjadi pihak objektif yang memurnikan.
Dengan minimnya pengenalan, jangan heran jika banyak sekali konflik terjadi. Tapi semakin lama, sepasang kekasih yang kian mengenal akan paham bahwa ada beberapa hal yang tak layak untuk menghabiskan energi. Pun, bahwa waktu juga yang akan memperdalam pengenalan. Apa yang disuka dan tidak diminati pasangan.

Terakhir, saya bersyukur bahwa sebelum kami memutuskan jadian kami pernah mencicipi konflik. Artinya, baik Riyan dan saya masuk dalam satu komitmen bukan dengan mata buta. Juga bukan dengan pandangan serba manis dan sempurna akan pasangan. Kami dibukakan lebih awal seberapa (calon) pasangan kami dapat berubah menjadi super mbencekno.

Tapi akhirnya, kami mengucapkan selamat datang pada sebuah relasi dengan sebuah bisikan di hati: "Pasanganku ini kadang menjengkelkan, tapi aku akan tetap memilih dia. Lagi, dan lagi."


Kamu pilih kue bulan atau kue keranjang?
kalau aku, pilih kamu <3 td="">

Saya membuka tahun ini secara mainstream. Jalan apalagi selain dengan menuliskan beberapa resolusi. Salah satunya adalah keinginan kuat saya untuk aksi sosial kecil. Sebenarnya ide ini sudah lama lahir di benak, namun kewalahan membagi waktu membuat saya menunda wacana ini. 2016 berlalu, dan 2017 adalah saatnya! Konsepnya sederhana: “make your closet bigger and your heart nicer


Saya memutuskan mengurangi barang-barang yang saya kira sudah sangat jarang saya pakai. Terkhusus pakaian. Saya pergi pagi-pagi dengan bermodal tikar, beberapa kresek, dan dua kardus pakaian saya dan satu kardus pakaian pacar saya. Proyek kecil-kecilan ini memang gagasan kami berdua.


Awalnya sangat sepi. Rasanya muka ini sudah saya pertebal hanya untuk berani menjajakkan jualan kepada ibu-ibu yang lewat sepulang dari pasar. Tapi usaha dan ketulusan tak sia-sia bahkan berbuah manis, walau membutuhkan waktu. Seorang bapak datang dan menjadi pembeli perdana. Ia memborong beberapa kemeja pria. Dua jam kami disana dan puluhan pakaian terjual. Hasilnya tak seberapa, hanya 150 ribu rupiah. Tapi di baliknya ada limpahan bahagia. Rasa sukacita ketika melihat nenek-nenek yang memborong ‘pakaian baru’ bagi cucu perempuannya hingga memberikan diskon ke seorang ibu tua yang ingin membeli namun tak cukup uang. Kepuasan juga lahir dari usaha untuk tidak konsumtif namun melihat hidup kita lebih dari cukup. Dan terakhir, hati kami riang tak terkira karena uang tersebut dapat kami alokasikan untuk berbagi sembako ke beberapa orang yang membutuhkan di sekitar gang kosan saya.


Seperti slogan yang telah saya sebutkan, sebenarnya sederhana. Gerakan ini mengajak kita untuk melonggarkan lemari. Bukan dengan membeli lemari yang lebih besar lho ya! Tapi dengan mengosongkan sebagian untuk dibagikan. Dijual, lalu hasil penjualannya kembali untuk berbagi. Baju lama bagi kita adalah sukacita baru bagi mereka.
Sudahkah kita produktif? Sudahkah kita peduli? Sudahkah kita berbagi? Karena negeri ini akan lebih baik, semua dimulai dari diri sendiri.
Saya masih percaya, bahwa hidup ini bukanlah sebuah pertandingan. Tapi dalam beberapa kondisi, saya harus mengakui konsep menang-kalah tak dapat ditampikkan.
Di penghujung 2016 ini, ketika melihat kembali ke belakang, ada berbagai hal telah hadir. Entah yang fenomenal, biasa saja, kecewa, atau kepuasan. Lalu apa intinya? Rata-rata orang yang membaca tulisan ini juga tetap menjadi ‘orang biasa’. Seberapapun kita telah patuh pada nasihat Mario Teguh soal "nobody to somebody", dan mengikuti berbagai petunjuk dari buku "cepat kaya dan sukses sedari muda", ternyata toh kita tetap bukan siapa-siapa. Anak gang sebelah aja paling ga tahu nama kita. Tak banyak dikenal dan tak menjulang pencapaian. Saya pasti tak sendirian dalam meratapi hidup yang gini-gini aja.
Perenungan ini dicerahkan ketika saya pulang kampung halaman. Setelah tenikmati sayur bayam dan dadar jagung nikmat, saya nongkrong di depan TV bersama mama menonton salah satu film favorit saya: Real Steel.
Jika Anda sudah pernah menontonnya, pasti familiar dengan peran Atom. Dia adalah sebuah robot rongsokan yang ditemukan di kala hidup Charlie Kenton sedang berada di titik rendah. Bukan robot yang istimewa tapi berhasil sampai ke sebuah ajang kompetisi bergengsi.

Oke sampai sana dulu.
Mungkin sebagian dari kita melihat 2016 dengan lega karena berhasil mencapai beberapa hal. Memenangkan lomba, menambah komunitas, gaji meningkat, banyak melakukan perjalanan, membuka bisnis, atau mendapatkan prestasi di tempat kerja. Menyenangkan bukan? Saya merasakan persis sama. Banyak pencapaian yang tiba dan dipercayakan oleh Pencipta. Singkatnya, saya dan Anda semua seketika merasa layak membusungkan dada dengan senyum bangga.
Lalu semua itu runtuh ketika kita tersadar…. Teman kita sudah ke Maldives ketika kita hanya bangga dengan Bandung atau Batu (Malang). Teman kita sudah menjadikan Eropa dan Indonesia tak jauh beda dengan Surabaya-Sidoarjo, ketika kita masih mengandalkan tiket promo 0 rupiah atau hadiah lomba buat pergi kemana-mana. Teman kita sudah bisa membelikan papanya mobil dan ibunya tas hermes asli, ketika kita masih memilih es teh di restoran hanya karena itu yang paling murah. Kita tertunduk lesu. “ah ternyata.. belum apa-apa aku ini.” Saya merasakan itu, setiap detailnya.
Persis seperti Atom, dia sampai di kejuaraan bergengsi namun pulang dengan kekalahan. Sia-sia. Bukankah banyak dari kita seperti itu? Kita mencapai banyak hal, tapi tetap pecundang kala disandingkan dengan kemegahan keberhasilan orang lain. Lalu apa intinya?


Zeus, lawan Atom, dinyatakan menang.

Atom kalah. Itu fakta dan hasil akhir, namun bukan kisah keseluruhan. Di balik kekalahan itu, hubungan Charlie dan Max sebagai ayah dan anak dipulihkan. Sebagai bonus, passion bertinju dari Charlie juga dapat disalurkan. Walau Atom kalah, ada yang berharga di baliknya. Sayangnya banyak dari kita yang masih fokus pada hasil semata, baik dalam melihat diri sendiri atau orang lain.

Di titik manapun kita berada sekarang, penting untuk mengingat bahwa: pertama, proses tak pernah kalah penting dibandingkan hasil. Mungkin gaji tak meningkat drastis, tapi kita telah berani mencoba berbagai hal baru dan terus menantang diri. Kedua, tentang progress. Bahwa, pertandingan sesungguhnya bukan antara kita dan orang lain, tapi “kita yang sekarang” dibandingkan “kita yang dulu”. Poin ini patut jadi perenungan besar. Sudahkah kita menjadi versi yang lebih baik? Atom yang kalah itu, telah berangkat dari rongsokan menuju pentas dunia. Lonjakan besar!
Kamu anak desa, belum ke Eropa tapi sudah survive di perantauan? Berbanggalah! Orang tuamu hanya bisnis kecil-kecilan tapi kamu bisa sarjana hingga mendukung finansial keluargamu? Berbanggalah! Kamu sudah bisa mendapatkan uang dari hobimu? Oh jelas kamu boleh berbangga! Yang salah adalah saat kita terlampau pasrah dengan “hidup gini-gini aja” tanpa berusaha lebih. Kewajiban kita selalu soal: berjuang.
Mungkin sampai akhirnya kita akan ‘kalah’ dan menjadi orang biasa-biasa saja. Lalu kenapa?
Saat ini tagar semacam #lifegoal, #relationshipgoal, dan segala goal lain kerap mendistraksi penghargaan yang lebih esensi: secuplik proses dan segenggam progress. Semua goal klise kekinian yang membuat sebuah perjalanan hidup menjadi kalah saat tak bisa mengikuti standar tertentu (Sandy Yeriko, 2016). Standar yang mana? Sosial media kita sudah dibanjiri olehnya. Soal popularitas dan besaran income, misalnya. Ambil contoh kalimat ini:
work until you shop without looking the price tag
atau kalimat macam:
work hard until you don’t need to introduce yourself”.
Jika memang standarnya demikian, ayo angkat tangan bagi yang merasa sudah mencapai titik tersebut. Adakah? Saya sendiri tak berani mengacungkan jari. Saya masih sering diresahkan dengan harga yang tercantum di pusat perbelanjaan. Kabar baiknya, itu tak masalah!
Pasti kita tetap perlu goal. Teman saya Sandy Yeriko dari band hateaway menuliskan begitu apik bagian ini:
  • “kita perlu punya tujuan, faktanya tujuan itu akan sangat penting bagi masa depan kita. Tapi jangan sampai tujuan kita berbahan bakar keirian sosial sehingga kita lebih berorientasi pada ‘terlihat keren’ dibandingkan ‘beneran keren’. Memang, mengembangkan citra keren itu lebih gampang dan less sacrificial daripada ngembangin potensi diri, tapi itu akan membuat dunia kita tidak tersentuh berbagai pengalaman, pikiran kita berkelana dalam kekecewaan, dan mimpi kita yang sebenarnya tidak sempat diperjuangkan.”

Ambisi untuk tampil senantiasa ‘menang’ dan menggapai berbagai utopisme, membuat kita gagal fokus pada potensi dan mimpi yang sebenarnya. Terlebih, membuat kita pelit apresiasi. Padahal, mungkin sampai akhirnya kita akan menjadi gini-gini aja. Tidak terkenal dan tidak menjadi milyuner Indonesia. Kita masih tetap di strata tengah sebagian besar orang di BUMI ini, dan sekali lagi, itu tak masalah!
Dengan menerima diri, kita sanggup untuk mengarahkan mimpi. Dengan meredefinisi arti sukses, kita sanggup berdamai bahkan merayakan kegagalan. Dan, dengan menghargai proses dan progress, maka kita akan semakin mampu menghargai hal-hal sederhana dalam hidup.
Kita akan belajar mengukur diri sendiri dengan cara yang lebih sehat: dari indahnya berteman, membuat karya sesuai idealisme, membantu orang yang kesulitan, membaca buku yang bagus, dan tertawa bersama mereka yang kita sayangi. Terdengar membosankan, bukan? Itu karena hal-hal tersebut adalah perkara remeh yang biasa-biasa saja. Tetapi mungkin tergolong biasa-biasa saja karena suatu alasan: bahwa itulah yang sebenarnya berarti (Parafrase tulisan Mark Manson oleh Akbar Saputra).
Source: www.fontysblogt.nl


Selamat tinggal 2016. Atom (dan kita) tetap kalah tahun ini, tapi yang terpenting:
kita bahagia!
Saya membuat rangkuman ini setelah iseng menemukan tulisan lama soal recap tahun 2013. Tahun ini tak bombastis, tak banyak pencapaian juga. Tapi entah kenapa saya bahagia sekali, sungguh. Merasakan begitu banyak peluang telah saya manfaatkan. betapa banyak kawan baru hadir, betapa banyak ketakutan telah saya bisukan. Bukan tahun yang buruk, saya kira. Di penghujung tahun ini saya melihat ke belakang dengan lega.

Januari
Menang kompetisi dari Telkomsel, dengan hadiah Samsung J5

Februari
Pelayanan bersama Grup KTB ke Yayasan Kasih Anak Kanker

Maret
Jelajah (kuliner) PUAS ke Banyuwangi

April
Menang kompetisi dari GoGirl, dengan hadiah iPad mini.



Mei
Coret wishlist nomor 130 dan 142
Pertama kalinya jadi pembina Upacara
Ke Pekanbaru, menjalankan tugas sebagai bridesmaid  dan sebagai sahabat

Juni
Memulai Bisnis kartu ucapan Cerryls and Co

Juli
Buka usia baru dengan touring Jelajah Probolinggo

Agustus
Pertama kalinya menjadi seorang pewawancara untuk sebuah liputan - Tugas Ignite

September
Menjadi seorang Pembicara pertama kalinya, di persekutuan Pemuda
Terima Katekisasi dan resmi sebagai jemaat GKI Residen Sudirman
Mulai jadi pembina klub Menulis di SMP 2 Gloria

Oktober
Menerbitkan tulisan 'berbayar' (dapat honor) dari Mojok.co

November
Melengkapi target tahun 2016: publish di 10 Website

Desember
Ke Gili Trawangan!
Quality time with Family






Tiba-tiba saya teringat bahwa di awal tahun, tepatnya saat Chinese New Year membuka tahun Monyet Api, seseorang bertanya apa shio saya lalu berkata dengan tanpa beban "wah peruntunganmu jelek tahun ini". Saya sempat gentar beberapa detik, sebelum berganti dalam gelak tawa. Hidup saya ditentukan oleh Tuhan yang mau Mati di Kayu Salib, bukan oeh ramalan atau sugesti apapun. Dan baru kemarin, saya tahu peris, ramalan 'peruntungan jelek' itu tak terbukti,

Seperti nama saya 'eleos' yang artinya Belas Kasihan Pencipta, sedari tahun 1992 hingga 2016 (yang cemerlang ini), dan seterusnya, saya yakin hanya Anugerah-Nya yang akan memegang kendali. 

"selalu mencoba" adalah garis besar prinsip saya tahun ini, dan semua itu tak lain adalah bahasa kasih seorang adiss-yang-bukan-siapa-siapa-ini ke Pencipta, karena saya penuh meyakini adalah kesalahan jika kita beriman tanpa berusaha dan adalah kemalasan jika kita mengasihi tanpa bertindak.



Selamat Datang 2017. Yuk tetap berjuang!