Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

kita tidak akan pernah tuntas membayar hutang ke orangtua, TIDAK AKAN. hutang budi ini tidak bisa terselesaikan. namun satu hal yang saya tahu kita masih punya kewaijban untuk membayar hutang itu, jika tidak tuntas ke orang tua kita mungkin harus berlanjut ke generasi selanjutnya, untuk anak-anak kita.
yang jelas, hidup tetap menuntut kita untuk membayar hutang :)
saya sudah merasakan hal-hal yang perlu saya rasakan sebagai seorang anak, dan sudah mendapatkan yang perlu saya dapatkan, bahkan terkadang lebih dari yang saya perlukan..
sudah datang saatnya untuk saya membuat orang tua saya merasakan apa yang perlu mereka rasakan sebagai orang tua, dan membuat mereka mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan di masa tuanya..
dan sepertinya semua dimulai dari senyum bahagia mereka saat saya mengenakan toga. ya, itu alasan saya untuk tetap memperjuangkan belasan ribu kata yang (sangat) membosankan ini..

:) -di tengah pengerjaan skripsi, lantai dua perpustakaan UA.
Dimulai dari satu gelas air mineral di tangan, kenangan saat awal-awal perkuliahan muncul seketika.

Kuliah benar-benar hal besar buat saya. Melihat papa mama yang tidak mampu membiayai sekolah tingkat lanjut ini. Puji Tuhan ada satu orang yang mau bermurah hati membiayai kuliah HI ini, walaupun harus mengubur mimpi terbesar saya sebagai seorang psikolog karena tidak mendapat restu dari beliau (mari kita sebut dia sebagai ‘papa angkat’). Hanya karena belas kasihan, tepat seperti kata dasar nama belakang saya ‘eleos’ saya bisa kuliah di jalur paling murah di jurusan dan universitas yang juga banyak diimpikan orang. Dengan uang yang begitu terbatas setiap bulannya, saya berusaha untuk survive. Menjadi mahasiswa dengan gadget atau fashion terbaru adalah hal terakhir yang saya pikirkan. Bisa makan, dan sesekali mampir di mall itu besar sekali. Puji Tuhan ada kakak perempuan yang membuat barang-barang di lemari saya bisa bertambah sedikit demi sedikit. Beasiswa pun saya dedikasikan untuk membayar SPP semester.

Tapi anehnya, dengan keterbatasan semua itu, cinta mula-mula saya pada-Nya selalu mendamaikan. Tidak pernah resah, apalagi khawatir akan kelaparan, sama seperti dilema tentang gelas mineral itu. begini ceritanya.. papa angkat saya terlambat mengirim uang bulanan dan akhirnya saya hanya punya uang  satu logam 500 rupiah. Dilemma terbesar saat itu adalah: "500 ini untuk air mineral atau kerupuk?" Meminjam uang adalah pilihan paling saya hindari, dan ditengah keputusasaan itu saya pergi kuliah menuntut ilmu dengan perut terisi satu gelas air mineral. Sepulang kuliah sore itu, seperti hari-hari sebelumnya, saya mengunjungi mesin ATM dan melihat apakah ada angka disana sudah bertambah panjang atau tidak. Dan senyumpun merekah. Terlambat ukuran manusia, tapi tidak bagi Bapa. Dia tau, sore itu adalah rupiah terakhir saya, Dia memberikan tepat waktu. Satu hari terlambat, saya akan pingsan kelaparan (tidak akan sampai meninggal, karena papa mama dan cece pasti bakal ngelakuin apapun saat tau saya pingsan kelaparan ^^). Dan jika terlalu cepat, mungkin saya tidak akan merasakan betapa manisnya dilemma uang 500rupiah itu..
Nyatanya benar, pengalaman itu meneguhkan saya hari ini. Seperti saat itu, uang bulanan bukan terlambat tapi tidak dikirim bahkan. Lalu seorang kawan yang sedang ada urusan kecil datang kekos, lalu dengan kepolosannya memberikan satu gelas air mineral. Kebetulan? Mungkin. Tapi entah, ini menguatkan.
Godaan untuk tidak bersyukur menjadi sangat besar belakangan. Saya akui itu. Ketika saya mengingat kenapa saya tidak kuliah dengan biaya orang tua sendiri? Kenapa usaha papa mama ditipu orang? Kenapa mereka begini dan begitu? Kenapa papa angkat saya justru begini di masa-masa akhir kuliah? Mengapa saat cece saya sedang banyak menabung untuk pernikahannya? Mengapa ini dan mengapa itu. Ah banyak sekali. Ingin pecah rasanya kepala ini. Tapi saya patuh pada nasihat seorang sahabat saya (Sinta) “dont ask, because a question just leads you to another question”.
saat ini ‘damai sejahtera melampaui segala akal’ versi paulus benar-benar saya rasakan. Momen paskah memperkayanya. Tuhan membasuh kaki murid-Nya dan penyaliban-Nya untuk orang berdosa seperti saya adalah dua momen favorit paskah yang benar-benar menampar saya dengan pertanyaan “kenapa masih ada ragu? Apakah Hati dan Nyawa-Ku belum cukup bagimu?”
Iya, itu cukup, lebih lebih dari cukup. Air mineral, hati-Nya saat berlutut membasuh kaki, dan nyawa-Nya untuk menebus dosa, memperteguh saya malam ini. Membuat saya rindu memutar memori masa lalu sembari berbagi bagaimana Tuhan sungguh peduli. Ada dua momen favorit saya:
Saya ingat saat dapat uang karena mencoba ‘online shop’ akhir 2010, dengan motif berbagi ke sesama di masa natal, namun di saat yang sama helm saya hilang dan harus segera membeli yang baru. Hampir saja egois dan menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi, namun ketika saya ‘mengalahkan’ godaan itu, Tuhan memberikan hadiah. Satu helm keroppi yang kakak perempuan saya dapatkan (dapatkan, garisbawahi itu. Bukan belikan) kebetulan? Mungkin. Tapi itu keroppi, helm yg saya suka. Sudah penuh goresan karena itu helm bekas orang, tapi bahagianya luar biasa. Perlu lebih dari sebuah kebetulan untuk skenario semacam itu.
Saya ingat juga saat saya selesai rapat pelayanan dan tepat saya berpuasa. Saya berbisik ke Tuhan “Tuhan, adis capek banget. Bisa engga buka puasanya tanpa melangkah ke luar kosan?”. Dan, sms masuk. Satu teman mama di gereja lumajang sedang ada disurabaya dan mengunjungi saya, dan…. Membawakan makanan!! Buka puasa yang penuh haru.
Yang terbaik di antara semuanya? Adalah bagaimana Tuhan mengembalikan keluarga kami. Tuhan menunjukkan saya tepat di mata dan telinga saya, bagaimana Dia memakai momen terburuk sebagai pintu masuk terbaik. Mama papa saya berpisah sekitar dua tahun. Saya dan mama tinggal di rumah pakde saya, dengan segala kecukupan. Dan papa sendirian di rumah lama kami. Itu masa yang sulit bagi seorang anak perempuan, percayalah. Sampai suatu hari, ada insiden besar yang menyakitkan dan singkat kata membuat saya dan mama diusir. Dan satu-satunya pilihan adalah kembali ke rumah lama, kembali ke papa. Oh Tuhan, itu insiden yang begitu menyakiti kami tapi jadi awal mama dan papa bersatu kembali. Adakah yang lebih indah? Saya kembali ke rumah yang atapnya sudah bocor, dan dengan segala kesederhanaannya. Tapi saya bahagia lagi-lagi melebihi segala akal.
Dan sebenarnya, walaupun papa mama saya tidak cukup mampu membiayai kuliah saya, saya tidak punya sekecilpun hak untuk mengeluh. Mereka luar biasa. Ditengah keterbatasannya, saya tidak ingat kapan saya tidak makan enak saat saya pulang kampung halaman. Bahkan sesekali, papa dengan sepeda motor tuanya menyisihkan uang untuk membelikan saya duren, buah kesukaan. Bahkan pernah satu kali saat kartu ATM saya hilang, tepat akhir pekan, tepat uang di dompet bersisa 5000, tepat saat cece marah-marah dan tidak berbelas kasih, mama jauh-jauh dari lumajang mengantarkan ayam goreng dan uang 50ribu. Tangis saya pecah saat itu, seharian, dan kapanpun saya mengingatnya kembali, termasuk sekarang. Dan cece? Jangan tanya. Dia benar-benar malaikat tidak bersayap, kakak terbaik di dunia, sahabat pertama, mama kedua, buat saya.

Saya tidak cukup terbuka untuk ini semua. Hanya sahabat-sahabat terdekat yang tahu kisah hidup saya. Inipun hanya kepingan kecil diantara keseluruhan skenario 20tahun usia saya. Saya cukup malu mengakui ketidaksempurnaan hidup saya. Tapi, entah malam ini saya ingin berbagi itu semua, mungkin salah satunya karena terlalu banyak praduga yang menuduh bahwa hidup saya begitu enaknya, atau begitu nyamannya, sehingga mereka jarang melihat saya bersedih. Saya tersenyum dan penuh syukur bukan karena hidup saya mudah, atau enak, atau nyaman. Tapi karena saya sudah merasakan hidup yg jauh lebih susah dari sekarang. seseorang tidak akan menangis karena makanan tidak enak, jika dia pernah kelaparan. ya seperti itulah. Kedua, saya merasa begitu berdosa jika bermuram diri. Saya selalu terkesan dengan nasihat dari fransiskus Asisi kepada burung-burung “hei burung, jangan jatuh pada dosa tidak bersyukur. Sebab Pencipta-mu memberimu bulu-bulu sebagai mantel, sayap untuk terbang, lalu menjadikan udara yang halus bersih sebagai rumahmu dan memenuhi segala kebutuhanmu tanpa engkau perlu menabur.” Ini nasihat untuk burung, tapi kalimat “jangan jatuh pada dosa tidak-bersyukur” itu selalu saya ingat. Bukan bulu, tapi Tuhan memberikan saya pakaian yang lebih dari cukup. Bukan sayap, tapi Dia memberikan kaki yang kuat untuk melangkah, bahkan berkat dan kesempatan hingga kaki saya bisa menapak ke negeri orang tahun ini. Udara, walau berpolusi, juga alasan bersyukur, pun atap yang melindungi dari hujan dan badai. Saat kekhawatiran terlihat paling masuk akal dibandingkan pengharapan, saya menahan air mata dan mengelus dada sembari berkata: “lebih dari burung pipit dan bunga bakung kok”.

Curahan hati penuh syukur ini, saya tutup dengan satu pujian dari NKB 09:

“Tak ku tahu akan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya ku harapkan, karna surya akan lenyap.
O tiada ku gelisah akan masa menjelang,
ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang.

Tak ku tahu akan hari esok, mungkin langit akan gelap.
tapi Dia yang berkasihan melindungi ku tetap.
meski susah perjalanan, gelombang dunia menderu.
DipimpinNyaku bertahan sampai akhir langkahku.

Refrein:
Banyak hal tak ‘ku fahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang."


Selamat paskah kawan. Terimakasih telah membaca tulisan random ini. :) jangan lupa bersyukur!
bersama mas-mas, melepas kami di DMK

35 hari petualangan sudah usai. waktunya kembali ke negeri tercinta. hari itu 7 maret, kami diantar oleh pihak supir KBRI ke bandara, dan jelas tiga mas teman kami satu apartemen turut mengantarkan. pokoknya big thanks banget buat mas Arman dan mas Achank yang udah banyak bantu, dan buat mas Riky yg yang pernah seharian menemani pencarian jersey >,< (dia baru pulang dari kamboja, jadi baru akhir-akhir gabung sama kami).
dinner 504, by mas Achank & mas Arman

akan sangat banyak yang saya rindukan dari kota Bangkok, terkhusus transportasi yang super nyaman, tingkat keamanan, dan ke-jarang-an asap rokok + bunyi klakson. sepertinya itu tiga besar hal yang benar-benar saya harapkan ada di Indonesia. tapi soal makanan, lidah gak bisa bohong, selera  20tahun jelas tidak akan dengan begitu mudah berubah.
pulaaaaang.. ke Surabaya yang penuh polusi, dengan berbagai tanggung jawab yang menanti
terimakasih Bangkok, sudah jadi bagian yang mengesankan :) selamat berjumpa lagi di lain hari ^^
sebelum kembali, setelah kegiatan magang selesai, kami tidak mau sedikitpun membuang waktu. di hari-hari akhir, ada beberapa tempat yang kami kunjungi.
pattaya salah satu iconic-nya Thailand sih. disini pusat dunia malamnya. penuh aura gelap deh pas disana >,< hehe kami ke KohLarn Island, harus nyebrang hampir sejam dari pelabuhan tempat kami turun naik Van dari Bangkok. Van bangkok-pattaya tergolong murah: 250 baht. dan untuk nyebrang hanya 30baht. lumayan baguslah pantai-nya, walaupun kata si Tsabitha, bagusan Gili Trawangan jauuuh.





yang lain pada tulis nama pacar -_-

setelah ke KohLarn island, lagi-lagi 'berpisah', saya, Tsabitha, dan Ocik melanjutkan perjalanan dan mampir ke walking streetnya, sedangkan Bella, Putri dan Anggia langsung pulang. kami menikmati walking street di kala sore menjelang malam, bener-bener kayak chaosan road lah, tapi dengan aura 'gelap' yang benar-benar pekat.

tidak terlalu banyak cerita di Pattaya.. kalo boleh pilih ya pilih Krabi atau Phi-phi island lah ya, tapi itu jauh dari Bangkok, plus sangat-lah menguras budget, so berharap satu hari bisa kesana lagi ya ^^

H-2 kepulangan, saya dan Bitha (selalu berdua ya) menjelajah art festival. kebetulan ada pameran street-art, lukisan-lukisan tiga dimensi yang dilukis dijalanan Bangkok.








melepas lelah sambil duduk-duduk di area central world





ketemu artis, semacam 'olga'nya Indonesia

petunjuk jalan street art




Tentang magang ya, seharusnya ini jadi kisah paling panjang, karena 5 hari dalam seminggu, dari jam 8 sampai jam 5, selama empat minggu dihabiskan di wilayah Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok (KBRI Bangkok). FYI, KBRI Bangkok salah satu KBRI terbesar. Di lahan yang sama, KBRI Bangkok punya sekolah Indonesia-Bangkok, buat para diaspora Indonesia, dan juga wisma yang tergolong gede. Ada beberapa atase dan fungsi, tapi untuk program magang, tersedia lima pilihan: Fungsi Ekonomi, Atase Politik, Atase Perdagangan, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, dan Fungsi Penerangan Sosial Budaya. Nah, karena kami berenam maka kami diharuskan rolling di setiap minggunya.
bagian luar KBRI



Di minggu pertama, saya dan tsabitha berkesempatan ke PenSosBud. Kantor paling cozy deh, penuh barang display budaya. Atasan kami: Pak Gofar. Ada juga staff lokal (orang Thai) namanya Phi Namon, dan staff dari Indonesia, Mas Aji. Mereka berdua itu khas banget, mas Aji kayak mas beruang dan orangnya flat sekali, bikin gemes si anak-anak magang. Kalo phi (sebutan ‘kakak’) Namon, bahasa inggisnya agak lucu, tapi orangnya baik banget. Di minggu ini, kami berdua awalnya sudah kebagian tugas buat manage pertemuan radio dan majalah Thailand buat wawancara sama pak Lutfi Rauf (Duta Besar). Di minggu ini juga kami berkutat dengan Koran untuk membuat laporan dwi-mingguan. karena fungsi penerangan, jadi kantor ini sangat sering berurusan dengan media. Selain itu, yang paling seru ya, kami bantu nyiapin acara Angklung Night, pergelaran seni besar yang diadain KBRI dan mengundang orang-orang besar di Thailand. Sayangnya, acara itu berlangsung 12 Maret, dan kami sudah harus kembali ke ‘rumah’ tanggal 7 Maret-nya L
undangan angklung night

ohya, saya merasa tidak kebetulan ada di fungsi ini di minggu pertama, karena saya langsung kenal phi Namon yang akhirnya mengenalkan saya ke gereja BIC (Bethany International Church) di Bangkok, yang notabene melayani ibadah dalam bahasa Indonesia (dan Thai, dan English). Eh usut punya usut, dia ikut gereja di situ karena phi Namon emang lagi ber-relationship sama orang Indonesia yang udah lama tinggal di Bangkok. Orang Batak lhoo.. pas saya sadar, di kantor PenSosBud gak ada diplay kain ulos, ya sontak kaget lah, nah kan bang Haris (sekarang sudah jadi suaminya phi Namon) orang Batak, nah ternyata si abang dan keluarganya ini emang uda lahir dan besar di Thailand, jadi jangankan ulos, bahasa Batak-pun tak bisa tapi bahasa Thailand lancar. Akhirnya, ulos dari Bang Riswan –atas seijinnya- saya serahkan ke kantor PenSosBud, ya cara sederhana melestarikan budaya bangsa, walaupun bukan suku saya sih ^^


buku yang mengisi waktu luang
Di minggu kedua, saya di fungsi ekonomi, bareng si Putri. Kata Putri, nganggur banget di kantor ini, mana tempat meja kami ada di sejenis gudang -_- bukan di ruang utama. Ternyata, gak nganggur juga, saya dan putri ditugaskan menuliskan beberapa dokumen, dan membuat beberapa review. Kalo uda nganggur ya, di fungsi ini jadi krik krik banget, si putri watsapp’an mulu sama si Aris, cowoknya, nah saya? Hanya bisa bermain onet >,< yang berkesan karena saya bisa ikut sidang UNESCAP dan seminar kementerian luar negeri di IDIS (Institute of Diplomacy and International Study), yang menghadirkan orang penting kedua di kementerian luar negeri Thailand. Dua momen penuh ilmu deh pokoknya. Di kantor fungsi ekonomi ada pak Wasana, lulusan Unair, jadi ya semacam nostalgia, beliaunya cerita-cerita. Yang berkesan dari beliau, selain traktirannya, adalah pesan sederhana favorit saya: “kalau nikah sama anak teknik aja” dan satu lagi, quote-nya: “usia 20an itu adalah usia ketika dunia terlihat begitu misterius”


Di minggu ketiga, saya berpindah ke atase perdagangan. Menurut Bella dan Tsabitha yang sebelumnya disini, ini kantor paling hectic, dan ternyata itu benar. Hectic banget, telpon berdering tiap waktu. Di kantor di temani dua staff, satu mbak Merry orang salatiga, dan phi Prim, orang Thai. Dua-duanya seru abis, enak sekali diajak ngobrol. Ohya, ada bu Ida sebagai ibu Atase, orangnya tegas sekali, belajar banyak dari beliau. Selama di kantor ini, saya ditugaskan membantu membantu menjawab email perusahaan Thailand yang mau berbisnis dengan Indonesia. Misalnya tentang prosedur ekspor pelumas, perihal SNI, dan prosedur ekspor kaolin yang ditanyakan beberapa perusahaan Thailand. Ya cukup sibuk, tapi benar-benar belajar banyak. 

meja saya di atase perdagangan

Sebelum pulang ke Indonesia, bu Ida sempat mengajak kami makan malam eksklusif di Bayoke, titik tertinggi di Bangkok, lantai 89. Makan puas malam itu, karena bertipe all you can eat. Benar-benar ALL, dari sushi, pasta, chicken wine (pake wine asli di bumbunya, teman muslim tidak ikut mencicipi. Ini sulit ditemukan di Surabaya, akhirnya bisa coba!!), dan banyak menu dengan porsi semaunya. Yang berkesan dari makan malam ini adalah lima mas-mas yang nari dan nyanyi pake peralatan dapur, yang so entertaining! Setelah makan, kami bersama bu Ida, mbak Merry, dan phi Prim naik dan menikmati Bangkok dari atas, terasa mimpi menikmati ini :’) phi Prim juga sempat membuat kami have fun maen bowling di Siam Paragon. Kalo mbak Merry, ngajak gowes puter-puter taman, tapi saya gak ikut karena itu hari minggu dan tidak mungkin melewatkan ibadah ^^

bowling - Siam Paragon
phi Prim dan kami ber-6

Minggu terakhir, saya di atase pendidikan. lagi-lagi, kata temen-temen di atase ini nganggur pake banget, tapi untungnya saat saya disana, tidak demikian. Tugas yang saya lakukan, me-manage kunjungan beberapa universitas baik ke KBRI dan ke universitas di Thailand. Satu yang tidak saya duga adalah, saya kedapatan mempersiapkan acara Camp Tech, acaranya ITS yang berurusan dengan beberapa universitas besar Thailand. Ah, sepertinya saya emang berjodoh sama anak teknik :) (ngarep total). Hehe ohya, di atase ini ada pak Yunardi yang punya suara sungguh-sungguh berwibawa, dan sangat baik! Ada juga phi Meg, pak Darmanto, dan Mrs.Supit. cukup hectic di minggu itu, ‘nganggur’ sama sekali tidak ada, dan itulah yang saya cari. Udah jauh-jauh kesini, jangan sampai di kantor cuma duduk-duduk aja kan? ^^

thainichi institute, bersama pak Dubes
Selain kegiatan di kantor-kantor itu, pak Suargana, yang begitu baik juga membuat kami belajar tentang prosedur ke-konsuler-an J
Kami juga sempat diajak ke Thai-Nichi Institute bersama Bapak Duta Besar, Lutfi Rauf. Ini institute teknik, kerja sama Thailand-Jepang. Ah lagi-lagi merasa begitu berjodoh dengan anak teknik ^^ bahkan saat di negeri orangpun diijinkan mampir kampus-nya anak teknik
tarian Thailand dan Jepang - Thai-Nichi Institute

Bagian yang melelahkan dari magang Cuma satu: heels. 9 jam tiap harinya dengan hak tinggi, cukup menyiksa. Tapi overall, merasa sangat beruntung dan terberkati selama empat minggu magang disini ^^ puji Tuhan..

di taman deket apartemen, pulang magang

jam setengah 6 malam ini, masih terang gitu ^^



selain pasar dan mall, ada beberapa yang jadi must visited place :)

#1 Grand Palace.
(dari Victory Monument, bisa naik bis nomor 509)
Grand Palace itu semacam Borobudurnya Indonesia lah, tapi dengan tema warna emas dimana-mana. dengan harga 500 baht, kita dapat tiket terusan: Grand Palace, Emerald Budha, Vimanmek Mansion, Ananta Samakhom  Hall. sayangnya, empat tempat dalam tiket terusan ini terpisah di dua lokasi yang cukup jauh. jadi agak mustahil kalo mau nikmatin semua dalam satu hari. disekitar situ juga ada Wat Pho dan Wat Arun dan Sleeping Budha. untuk Sleeping Budha, jika beruntung dan dianggap orang Thailand asli, kita gak perlu bayar tiket masuk. kawasan Grand palace itu luas banget, termasuk istana King Bumibhol. ohya, karena ini termasuk wilayah suci dan peribadatan, pakaian mini dilarang masuk, jadi jangan pakai celana pendek, ataupun baju tanpa lengan.
ada satu yang amazing banget, patung bongkahan emas. sayang dilarang foto disana. satu lagi, di kawasan grand palace ada museum tekstil, yang didirikan sebagai bentuk dedikasi dari sang Ratu.


lukisan kisah tentang penyelamatan emerald budha

depan istana raja



sleeping Budha


nasi goreng babi Grand Palace, 50baht

di hari yang berbeda, kami memanfaatkan tiket terusan: Ananta Samakhom Hall (bangunan bergaya Eropa) dan Vimanmek Mansion yang ada di daerah Dusit.

ananta samakhom hall

vimanmek mansion

karena sudah terlanjur di area dusit, kami mengunjungi kebun binatang. Dusit zoo. jauh lebih bagus taman safari deh -_- yang paling heboh di hari itu adalah, saya di pup-in pinguin -_-
ini pelakunya!!
ternoda celana saya -_-

untungnya ya, saya hari itu pulang ke gereja, jadi sebelumnya bawa celana panjang :) terselamatkan..


setelah tiga minggu di negeri gajah, baru di zoo ini lihat gajah asli :3 sayangnya, malah miris. soalnya dieksploitasi jadi bahan sirkus.. huhuhu








#2 : Chaosan Road
udah terkenal lah ya, chaosan road itu. penuh bule. kayak legiannya Bali gitu.
disana cuma makan sama nikmatin jalanan aja. harga barang-barangnya jauh lebih mahal >,<
kalo ada yang pernah nonton Running Man episode Thailand, nah pasti lumayan familiar sama tempat ini, salah satu spot permainan permainan running man *\(^o^)/*


si bitha beli belalang goreng di Chaosan Road

buat take photo aja 10baht lho

yang paling oke adalah kami makan Pad Thai, mie asli Thailand :) enak banget.. ^^

#3 Asiatique Riverfront
kalau mau kesini harus nyebrang chao phraya dulu. disini penuh makanan. yang sempet aku beli, es krim turki, yang biasanya dimainin sama yg jual itu. tempat ini, cozy banget buat jalan-jalan, tapi buat dinner sambil nikmatin desiran air sungai kebanggaan negara itu, butuh merogoh kocek yang tidak sedikit -_- jadi hanya jalan-jalan, dan taraaaaaa naik BIANGLALA!! 200 baht, untuk 5 kali putaran. tinggi banget juga lho ^^




#4 bangkok art and culture centre
lagi-lagi berdua sama Bitha, sepulang saya ke gereja sebelum kami ke China town. kami ke museum.
ini konsep musemnya oke banget deh. dan ada perpustakaan paling sunyi yang pernah saya kunjungi dala
m hidup, buka satu halaman buku aja bakal denger lho >,< museum ini, ada dari seni keramik, seni literatur, lukis, pahat, macem-macem deh.. ^^

ini satu shop di dalam museum, penuh barang-barang unik ^^

museum dari sisi atas