setelah terinterupsi banyak sekali koreksian, akhirnya bisa mengetik sesuatu malam ini.
kali ini saya hanya ingin berbagi sejauh apa anak-anak SMP ini membuat saya bukan hanya menjadi tenaga pengajar tapi juga kembali belajar :)
minggu lalu adalah jadwal ulangan harian PKN untuk kelas 7, di salah satu kelas (7C) ada satu anak yang cukup berisik. Awalnya hanya dengan teguran kecil, lalu berulang dan mengganggu teman-teman lainnya dan memaksa saya untuk menggertak bahwa saya akan mengeluarkan dia jika masih saya berisik. sayangnya dia tetap berisik. saya menghampiri mejanya dan berkata "kamu mau keluar?" dan seketika dia keluar. padahal maksud saya kali itu, sekali lagi menggertak. setelah kelas usai, para siswa moving. saya panggil anak tsb. anak cowok yang sudah jadi bulan-bulanan para guru lain ini masuk ke kelas dengan mata merah. DIA MENANGIS!! saya kaget, iba, dan masih juga terlintas marah. saya ajak dia bicara. lalu terungkaplah bahwa anak ini tidak terima dengan keputusan saya untuk mengeluarkan dia sendirian, padahal dia kelas itu ada beberapa anak selain dia yang juga menyumbangkan keributan di tengah-tengah keseriusan mengerjakan ulangan. masing-masing kami merasa benar, dan di saat yang bersamaan kami sama-sama bersalah. karena dia belum selesai mengerjakan ulangannya, saya berikan kesempatan dia untuk mengerjakan bagian yang belum dikerjakan esok harinya sepulang sekolah.
singkat kata, saya menunggu di ruangan lalu dia datang. hati saya masih terlintas sedikit kemarahan sehingga ketika dia masuk mengetuk pintu saya tidka melemparkan senyum samasekali. tapi ternyata jauh berbeda dengan dia. dia masuk dengan ceria dan kepolosan bertanya "miss, jadi kan hari ini" lalu menanyakan "soalnya tetap atau ganti miss?" juga bertanya "lho miss aku dikasih waktu berapa lama" dan rentetan pertanyaan dengan nada antusias khas remaja. saya sempat terdiam lalu menyadari hal yang saya -sebagai gadis 21 tahun- tidak mampu lagi lakukan. dia sepertinya lupa begitu saja air mata kemarahannya ke saya 1 hari sebelumnya, dia datang ke saya hari itu tanpa mengingat lagi bagian yang tidak menyenangkan. ya itulah yang semakin sulit orang dewasa lakukan, menganggap lalu perasaan negatif. memaafkan dengan tuntas, tanpa terus mengungkit kembali kemarahan dan kekecewaan. berapa banyak dari kita yang bisa melakukan hal itu?
misalnya ketika saya ada masalah dengan ibu kos, dengan mudah saya beberkan kesalahan ibu tsb. saya mengingat, mengungkit, dan memaafkan tanpa ketuntasan. sepertinya bukan hanya saya yang melakukannya, bukan hanya saya yang kehilangan kemampuan "melupakan." agaknya usia bertambah membuat memori otak terus bertambah, sehingga semakin banyak ruang untuk mengingat dan menyimpan banyak hal, yang sayangnya bukan hanya hal positif tapi juga emosi negatif.
terimakasih Georgiano yang mengingatkan saya hal ini :)
kali ini saya hanya ingin berbagi sejauh apa anak-anak SMP ini membuat saya bukan hanya menjadi tenaga pengajar tapi juga kembali belajar :)
minggu lalu adalah jadwal ulangan harian PKN untuk kelas 7, di salah satu kelas (7C) ada satu anak yang cukup berisik. Awalnya hanya dengan teguran kecil, lalu berulang dan mengganggu teman-teman lainnya dan memaksa saya untuk menggertak bahwa saya akan mengeluarkan dia jika masih saya berisik. sayangnya dia tetap berisik. saya menghampiri mejanya dan berkata "kamu mau keluar?" dan seketika dia keluar. padahal maksud saya kali itu, sekali lagi menggertak. setelah kelas usai, para siswa moving. saya panggil anak tsb. anak cowok yang sudah jadi bulan-bulanan para guru lain ini masuk ke kelas dengan mata merah. DIA MENANGIS!! saya kaget, iba, dan masih juga terlintas marah. saya ajak dia bicara. lalu terungkaplah bahwa anak ini tidak terima dengan keputusan saya untuk mengeluarkan dia sendirian, padahal dia kelas itu ada beberapa anak selain dia yang juga menyumbangkan keributan di tengah-tengah keseriusan mengerjakan ulangan. masing-masing kami merasa benar, dan di saat yang bersamaan kami sama-sama bersalah. karena dia belum selesai mengerjakan ulangannya, saya berikan kesempatan dia untuk mengerjakan bagian yang belum dikerjakan esok harinya sepulang sekolah.
singkat kata, saya menunggu di ruangan lalu dia datang. hati saya masih terlintas sedikit kemarahan sehingga ketika dia masuk mengetuk pintu saya tidka melemparkan senyum samasekali. tapi ternyata jauh berbeda dengan dia. dia masuk dengan ceria dan kepolosan bertanya "miss, jadi kan hari ini" lalu menanyakan "soalnya tetap atau ganti miss?" juga bertanya "lho miss aku dikasih waktu berapa lama" dan rentetan pertanyaan dengan nada antusias khas remaja. saya sempat terdiam lalu menyadari hal yang saya -sebagai gadis 21 tahun- tidak mampu lagi lakukan. dia sepertinya lupa begitu saja air mata kemarahannya ke saya 1 hari sebelumnya, dia datang ke saya hari itu tanpa mengingat lagi bagian yang tidak menyenangkan. ya itulah yang semakin sulit orang dewasa lakukan, menganggap lalu perasaan negatif. memaafkan dengan tuntas, tanpa terus mengungkit kembali kemarahan dan kekecewaan. berapa banyak dari kita yang bisa melakukan hal itu?
misalnya ketika saya ada masalah dengan ibu kos, dengan mudah saya beberkan kesalahan ibu tsb. saya mengingat, mengungkit, dan memaafkan tanpa ketuntasan. sepertinya bukan hanya saya yang melakukannya, bukan hanya saya yang kehilangan kemampuan "melupakan." agaknya usia bertambah membuat memori otak terus bertambah, sehingga semakin banyak ruang untuk mengingat dan menyimpan banyak hal, yang sayangnya bukan hanya hal positif tapi juga emosi negatif.
terimakasih Georgiano yang mengingatkan saya hal ini :)
officially, getting older for once more. Praise Lord, I’m 21
years old already.
yeaaah, saya hanya mau bersyukur.. dan bersyukur.. lalu
bersyukur..
bagaimana bisa tidak bersyukur atas segala kemurahanNya yg
bahkan sebenarnya samasekali tidak layak saya –manusia berdosa ini- cicipi.
Bertambah angka usia, mendapatkan gelar sarjana masih di usia 20, melihat kakak
perempuan tercinta naik ke pelaminan, dan mendapat kerja saat saya belum
sarjana. Dua poin dalam wishlist saya
terkabul tanpa rencana. Rasanya benar-benar bulan yang luar biasa. Tapi lebih
dari itu, ada satu hal yang benar-benar membuat sukacita ini sempurna: itu
bukan tentang ‘apa’ tapi tentang ‘siapa,’ sangat bersyukur karena saya tahu
dengan persis siapa yang layak ada di samping saya saat kejayaan dan pencapaian
melimpah yaitu mereka yang setia di kala masa duka, dan terus berkata jangan
menyerah ketika saya singgah di titik terendah, sekalilagi terimakasih buat
Arlan, Kak Jo, Alfian, Krisna, kak Ajeng, Helen, Adit, dan Daud.. yang sudah
melakukan hal serupa, yang menemani saya bahkan jauh-jauh menempuh jarak surabaya-lumajang ketika saya berduka ^^
ah Tuhan, sempurna sekali apa yang Engkau kerjakan. mungkin
adiss belum punya scoopy buat memberhentikan segala kebiasaan ‘nebeng’ juga
belum punya DSLR buat menyalurkan hobi photografi, juga belum punya iPhone buat
… (entahlah, cuma pengen aja) dan belum punya seseorang yang bisa jadi alasan bergalauria, tapi lagi-lagi tidak akan kehabisan alasan untuk
bersyukur.
Hadiah untuk ultah tahun ini, tidak banyak tapi sepertinya
semua tepat sasaran. Hadiah dari cece, topi dan kacamata hitam, bener-bener dua
item idaman buat menemani perjalanan bolang selanjutnya. ada juga satu hadiah buku
dari artha dan esther, yang semakin menguatkan pengharapan. Hadiah dari Helen
dan kak Ajeng gak kalah membahana, baju kerja!! :D ya jelaslah bakal berguna. Keroppi
pink dari kakJo mungkin kurang sesuai usia, tapi gimana ya, namanya juga
koleksi. Suka-suka aja dikasih keroppi. Apalagi warnanya PINK, nemenin satu
keroppi pink di kamar yang udah setahun sendirian (lainnya warna hijau
soalnya). Intinya, ini bulan yang luaaarr biasa :D terimakasih Tuhan. Bolehlah
berkali-kali seperti ini lagi. Tapi, entah pelangi entah badai, biarkan adis tetap belajar mencintai
Engkau, Sang Pemberi dibandingkan mencintai hal-hal pemberianMu.. :)
slogan lebih cepat lebih baik ini tidak mengarah ke satu elit tertentu. tapi toh juga familiar di sekitar kita.
nah itu dia yang jadi pergumulan saya sekarang. yaitu tentang: WISUDA.
ah memang ya, alasan ngeluh manusia itu ada aja. dulu pas kuliah awal2 ngeluh jurnal yang bejibun. pas akhir-akhir ngeluh proposal dan skripsi. pas selesai semua itu, gantian ngeluh urusan wisuda yang so ribet.
intinya nih, hari ini aura muram saya ya karena emang masih gak ikhlas aja harus nunda wisuda. bukan karena saya tidak siap, tapi karena regulasi kampus yang sering tidak menyenangkan. *sigh*
kalo dari saya sendiri, gak terlalu maksa buat agustus, dari keluarga juga gak maksa. tapi ada banyak keadaan yang memang sesuai dengan prinsip "lebih cepat lebih baik"
dalam dua bulan penundaan, ada banyak hal yang tidak terbayangkan yang bisa terjadi.
kita tidak pernah tau usia seseorang. kadang ada ketakutan berlebih, orang-orang yang untuknya saya berjuang mendapat sarjana justru tidak bisa menikmati kebahagiaan wisuda saya. ya kayak papa saya.
HALAMAN INSPIRATIONAL
Jika Tuhan mengijinkanmu melangkah di jalan yang Berbatu,
itu artinya, Dia sudah menyiapkanmu
sepasang sepatu yang tangguh
-Papa
Tetapi jawab Tuhan
kepadaku: "Cukuplah kasih
karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi
sempurna." (II Korintus 12:9a)
“… beware of the sin
of ingratitude”
–St Francis Assisi: Sermon to the
Birds
So if you're full of trouble
and you never seem to win
Just
open up your heart and let the sun shine in
(Frente)
ah sekarang sudah jadi guru..
kontrak selama satu tahun kedepan sudah dimulai.
sejauh ini, sama sekali tidak menyesal tentang keputusan yang saya ambil, dengan mengeliminasikan pilihan bekerja di bank, dan memilih institusi sekolah.
walaupun dipusingkan dengan berbagai perangkat mengajar, tapi puji Tuhannya merasa begitu damai. dikelilingi atmosfer persekutuan dan tawa-tawa para siswa.
dan anehnya, ada siratan rasa bangga yang tidak bisa diingkari. bisa mengajarkan tentang Indonesia ke siswa-siswa setelah saya delapan semester belajar bagaimana negara ini berusaha untuk strategis bergerak dikancah internasional (walaupun kenyataannya tidak strategis sih -_-) daaaan cukup menantang juga mengajarkan tentang globalisasi, yang anak HI pahami dengan penuh teori tinggi, untuk ke tataran siswa. anggaplah ini satu tahun mengabdi, satu tahun untuk MEMBUMIKAN ilmu yang sudah saya terima ^^
kalo mau dibicarakan, kenapa saya memilih pekerjaan ini, saya punya tiga alasan.
pertama, saya tiga bulan bekerja sebagai part timer di sekolah ini. saya mengajar kelas 8. mereka adalah murid pertama saya. entah, ada keinginan untuk melihat mereka lulus ke SMA. dan caranya adalah dengan kembali ke sekolah tsb.
kedua, karena saya butuh penghasilan. setelah kepergian penopang keluarga, tanggung jawab saya jelas tidak semakin kecil. saya memutar otak sebenarnya bukan (hanya) tentang kebutuhan hidup bulanan di kota rantauan, tapi tentang kebutuhan wisuda dan skripsi (yudisium juga) yang jelas menelan banyak biaya.
ketiga, simply karena ada tawaran. selain sekolah ini dan bank, saya belum melamar dan ditawari pekerjaan lain. dengan ijazah SMA saat itu, mau kerja apa?
dan sejauh ini, intinya saya jatuh cinta. tahun depan akan jadi sangat berat. waktunya mengucapkan perpisahan. waktunya mencari pekerjaan idaman. yang jelas tahapan kehidupan sebagai guru ini akan memperkaya saya. itu pasti ! :)
kalo mau dibicarakan, kenapa saya memilih pekerjaan ini, saya punya tiga alasan.
pertama, saya tiga bulan bekerja sebagai part timer di sekolah ini. saya mengajar kelas 8. mereka adalah murid pertama saya. entah, ada keinginan untuk melihat mereka lulus ke SMA. dan caranya adalah dengan kembali ke sekolah tsb.
kedua, karena saya butuh penghasilan. setelah kepergian penopang keluarga, tanggung jawab saya jelas tidak semakin kecil. saya memutar otak sebenarnya bukan (hanya) tentang kebutuhan hidup bulanan di kota rantauan, tapi tentang kebutuhan wisuda dan skripsi (yudisium juga) yang jelas menelan banyak biaya.
ketiga, simply karena ada tawaran. selain sekolah ini dan bank, saya belum melamar dan ditawari pekerjaan lain. dengan ijazah SMA saat itu, mau kerja apa?
dan sejauh ini, intinya saya jatuh cinta. tahun depan akan jadi sangat berat. waktunya mengucapkan perpisahan. waktunya mencari pekerjaan idaman. yang jelas tahapan kehidupan sebagai guru ini akan memperkaya saya. itu pasti ! :)
Soli Deo Gloria!
Segala
Puji dan Kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus, atas kemurahan dan anugrah-Nya
yang mengijinkan penulis menempuh perkuliahan dan bahkan memampukan untuk menuntaskannya
hingga akhir, serta untuk penyertaan dan penghiburanNya yang ajaib bahkan di
masa kedukaan yang kelam di tengah-tengah proses penulis menyelesaikan Skripsi
ini.
Pemilihan topik
skripsi ini adalah wujud kolaborasi dari berbagai faktor. Dimulai dari
ketertarikan penulis akan rezim perlindungan HaKI yang penulis pelajari dari
Mata Kuliah Globalisasi dan Strategi, yang memunculkan rasa miris akibat
ketimpangan yang muncul dari rezim tersebut, ditambah faktor kekaguman sebagai
anak desa, akan lahan sawah hijau yang membentang dan rasa penasaran sebagai
anak negeri mengapa masih ada kelaparan di negeri lumbung padi ini, yang seharusnya
tidak lagi terjadi di dunia penuh teknologi canggih. Penulis sadar bahwa
skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, walau demikian semoga memberi
wawasan signifikan bagi para pembaca.
Tuntasnya
proses skripsi ini terutama dari dan untuk Dia. I have been given this assignment by Him, the One who knows the end from
the beginning, the One who holds the future in
His nail-scarred hands and so I will gladly fulfill my role. Of course, it didn’t work out according my
plan. Life generally doesn’t. God had a totally different plan. I don’t know. I
don’t think I’ll ever know. And part of me doesn’t even want to know. I just
wanted this to be something that could only be explained by God’s intervention.
Those days I walked by faith and not by sight, It was the most exciting time of
my life. Terimasih untukNya yang membuat penulis bisa bertemu mereka
yang penulis sebutkan di 10 poin dibawah, mereka yang layak mendapat
terimakasih, karena dukungan, doa, dan semangat;
1.
Om Eddy Harsono, atau elik -yang sering penulis
panggil sebagai papa angkat- yang karena keringat dari bisnis ‘toko kue
Soponyono’nya mau membiayai kuliah, hingga gelar sarjana ini didapatkan.
Terimakasih telah menjadi alat Tuhan untuk mendekatkan penulis kepada
cita-cita, ditengah segala keterbatasan orang tua kandung penulis. Tanpa
beliau, kuliah akan hanya jadi angan.
2.
Papa, Yoseph Tio, yang sudah damai di surga,
yang meninggalkan penulis di tengah-tengah masa akhir perjuangan dan untuk
Mama, Kristien Handayani, dengan segala ketegarannya. Terimakasih atas unconditional love yang membuat penulis
tidak pernah menemukan alasan untuk menyerah. Terimakasih juga untuk Cece, Elsa
Anastasia, yang menjadi sahabat pertama dan mama kedua bagi penulis, yang
kepedulian dan ketulusannya mengajarkan penulis banyak hal.
3.
Dosen Pembimbing Skripsi penulis, Bapak
Vinsensio Dugis atas bimbingannya selama dua semester ini. Terimakasih untuk ibu
Baiq Wardhani selaku ketua departemen HI, penguji proposal, serta Mas Radityo,
dan Mas M. Yunus yang telah memberikan banyak masukan melalui sidang
pra-skripsi. Terimakasih kepada Mas Joko Susanto atas wawasan yang selalu
memancing rasa ingin tahu, termasuk tentang TRIPs dari perkuliahan Globalisasi
Strategi. Terimakasih untuk Mas Safril sebagai dosen wali awal penulis.
4.
Keluarga UK3, terkhusus Tim Choir, Daud, Arlan,
KakFeni, Alfian, dan Adit, termasuk karena mau menempuh jarak Surabaya-Lumajang
untuk menguatkan penulis di masa kedukaan. Juga untuk segenap kelurga PD Fisip,
termasuk adik-adik bimbing penulis. Terimakasih atas kesempatan melayani dan
membuat penulis bertemu banyak sahabat dan saudara baru. Terimakasih karena
membuat penulis semakin mengenal sang Pencipta.
5.
Sahabat-sahabat terdekat penulis. CCCL (Chika,
Chyntia, Claudya, Lia) yang sempat jadi sahabat di awal-awal perkuliahan, miss you all. Kak Jonathan Pratama,
sahabat terdekat penulis untuk mendengar dan didengar, yang selalu menambah
keindahan dan ucapan syukur di hari natal, terimakasih atas dukungan, teladan,
dan masukan. ‘Pakdhe’ Krisna, terlepas dari segala terpaan kata ‘cie’ dari sana
sini, terimakasih telah mau berdoa untuk penulis. Terimakasih untuk Kak Ajeng
dan Helen yang jadi partner terdekat di akhir perkuliahan, semoga kita segera
mewujudkan semua poin dalam bucket list kita.
Untuk Yudha, yang juga menjadi teman sharing
penulis. Untuk ‘fro’ Daniel, yang tetap menjadi teman baik, dari perjuangan
UM-UGM hingga detik ini. Dan pastinya untuk Artha, teman kosan yang sudah
menjadi sahabat baik penulis, terimakasih atas semua bantuan baik makanan
hingga telinga yang mendengarkan selama tinggal ‘serumah’.
6.
Sahabat HI penulis: Ocik, yang penulis kenal
semenjak daftar ulang SNMPTN; Sinta, yang mengajarkan penulis apa itu
kerendahanhati sesungguhnya; Erryn sang partner saling curcol terkhusus di masa
skripsi ini; Putri, yang tidak jarang memahami sesuatu yang sama dengan penulis
hanya dengan tatapan mata; serta Dindya yang serba tahu banyak hal. Untuk
teman-teman sebimbingan pak Dugis, Mami Sheila yang sudah menjadi Srikandi 3.5
tahun, Bella dan Anjar, dan terkhusus Trully dan Tsabitha yang banyak penulis rempong-in dan saling menyemangati. Pastinya, untuk HIers 2009, dengan
segala keunikan individunya dan keseruan acara tahunannya, dan rasa
sepenanggungan akibat tumpukan jurnal, Proud
to be HIers! Semoga gelar S.Hub.Int ditambah passion masing-masing membawa kita semua pada kesuksesan! Amin!
Selamat berkumpul lagi di lain kesempatan, terkhusus pernikahan teman seangkatan!
Selamat menempuh kehidupan tanpa perhitungan SKS. We did it!
7.
Keluarga Bencana KKN Kedasih. Satu pengabdian di
tanah pedesaan mempertemukan penulis dengan 19 teman yang begitu menyenangkan
yang tetap karib hingga penulis menulis paragraf ini.
8. Empat teman anak teknik 2009 yang penulis kenal
secara ‘ajaib’ yang ternyata menjadi bagian yang banyak membantu dan
menyemangati. Riyan ITS, bang Riswan Udayana dan Aggy UB, yang sangat menguatkan,
selalu menyemangati, dan begitu peduli. Dan Manuel dari teknik pertanian UNEJ
yang menjadi teman diskusi penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Terlihat
kecil yang kalian lakukan, terlihat kebetulan cara kita mengenal, tapi semua
Tuhan pakai untuk membawa kebaikan.
9.
Untuk mereka yang tidak bisa penulis abaikan. CG,
sahabat sejak SD (Andin ‘twin’, Masita, Nia, mbak Vinda, Evi Dumeg), teman SMP
(terkhusus Reni), terimakasih karena keakraban yang memudar karena jarak
ternyata tidak mengalahkan kebaikan dan perhatian kalian. Teman SMA kelas
akselerasi (terkhusus Wisesya yang sedang sama-sama memperjuangkan kelarnya
skripsi ini), teman-teman JKS, Nav, Perkantas, dan RessYouth yang mewarnai
perjalanan kuliah hingga penyelesaian skripsi ini. Untuk mbak Shanti, Sehat,
dan Gabby, sebagai ex-roommate
penulis yang penuh wejangan. Penulis juga menyempatkan berterimakasih untuk
para siswa kelas VIII SMP Kristen Gloria, karena keunikan (termasuk kebandelan)
kalian telah menjadi alasan untuk tertawa, bangun pagi, dan penuh semangat
selama menjadi guru part-time di masa
akhir kuliah yang membosankan ini. Dan terakhir, untuk beberapa orang di gang
Karang Menjangan V-VI, yang membuat perjalanan kosan-kampus selama hampir empat
tahun, menjadi cerah karena penuh sapaan, terimakasih!
10. Tidak
lupa untuk keluarga besar, baik dari Papa ataupun Mama, terimakasih atas diam
seribu bahasa yang penuh keraguan, celaan, dan sesekali rasa bangga.
Terimakasih karena segalanya itu telah menambah semangat penulis untuk
membuktikan bahwa penulis bisa!
Dan untuk
siapapun yang layak untuk mendapatkan ‘terimakasih’ ini, yang tidak dapat
penulis tulis satu per satu, yang membantu secara langsung dan tidak. Terimakasih
atas perhatian tak bersuara. Terimakasih karena kalian semua membuat penulis
tahu bahwa Mazmur 91:11 (“karena malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya
kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu”) bukan hanya rangkaian kalimat
semata.
Surabaya, 7 Juni 2013
Penulis
belakangan semakin sering membaca quote ini.. sudah klasik sekali rasanya. tapi semakin lama saya berpikir kenapa harus membedakan antara 'lesson' dan 'blessing'?
untuk mereka yang mengecewakan, melukai, dan tidak menyenangkan, dianggap menjadi sebuah pelajaran.. dan mereka yang 'cocok' dengan kita, yang sampai akhir tetap menjadi 'baik' dianggap sebagai sebuah berkat..
kenapa harus dipisah?
bukankah untuk orang yang paling tidak menyenangkan sekalipun pernah menjadi alasan kita tersenyum? dan orang yang sangat cocok sedemikian dengan kitapun pada akhirnya pernah mengunjungi satu titik ketidakcocokan?
saya sendiri tidak akan memilah-milah mana kelompok orang yang menjadi berkat dan mana yang menjadi pelajaran. kenapa tidak mendapat keduanya dari setiap orang yg Tuhan ijinkan hadir? :)
kita tidak akan pernah tuntas membayar hutang ke orangtua, TIDAK AKAN. hutang budi ini tidak bisa terselesaikan. namun satu hal yang saya tahu kita masih punya kewaijban untuk membayar hutang itu, jika tidak tuntas ke orang tua kita mungkin harus berlanjut ke generasi selanjutnya, untuk anak-anak kita.
yang jelas, hidup tetap menuntut kita untuk membayar hutang :)


.jpg)




