Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

ini sebuah karangan dari John Wayne Schlatter, yang tidak sengaja saya temukan ketika mengisi siang yang kosong sendirian di perpustakaan sekolah..

aku Seorang Guru

seharian, 
aku telah diminta menjadi seorang aktor, 
teman, penemu barang hilang, psikolog, 
pengganti orang tua, penasihat, 
pengarah, motivator, 
dan penjaga iman

Meski tersedia peta, 
grafik, formula, kata kerja, cerita dan buku
Aku sebenarnya tidak punya apa-apa untuk diajarkan,
karena murid-muridku sebenarnya hanya mempunyai diri mereka sendiri untuk belajar,
dan aku tahu dibutuhkan seluruh dunia untuk memberitahu siapa diri kita

aku sebuah paradoks. Aku paling keras berbicara ketika aku paling banyak mendengar
Karunia terbesarku terdapat dalam apa yang aku siap terima dari murid-muridku dengan sikap menghargai.

kekayaan materi bukanlah tujuanku, tapi aku seorang pencari harta karun, yang selalu mencari peluang baru bagi murid-muridku
-peluang untuk menggunakan bakat mereka- dan selalu mencari bakat baru yang kadang tersembunyi di balik sikap menyerah

akulah yang paling beruntung di antara semua pekerja

seorang dokter diizinkan untuk mengantar kehidupan ke dalam dunia dalam satu saat ajaib, aku diizinkan melihat kehidupan itu dilahirkan kembali setiap hari
bersama pertanyaan baru, gagasan baru, dan persahabatan baru.
seorang arsitek tahu bahwa jika ia membangun dengan teliti, bangunannya mungkin akan berdiri selama berabad-abad. Seorang guru tahu bahwa jika ia membangun dengan cinta dan kebenaran, apa yang ia bangun akan abadi

aku seorang pejuang, setiap hari bertempur melawan tekanan teman, sikap negatif, rasa takut, cara berpikir seragam prasangka, kebodohan, dan kelesuan.
tapi aku memiliki sekutu hebat: kecerdasan, rasa ingin tahu, dukungan orang tua, berbagai individu, kreatifitas, iman, cinta, dan tawa
semua bergegas menghampiriku dengan dukungan yang luar biasa.

dan kepada siapa lagi aku harus berterimakasih atas hidup indah yang begitu beruntung bisa kujalani ini selain kepada kalian, masyarakat, dan para orangtua. karena kalian telah memberiku kehormatan besar dengan mempercayaiku untuk mendidik sumbangan terbesar kalian bagi keabadian, anak-anak kalian.

aku seorang guru.. dan untuk itu aku bersyukur kepada Tuhan setiap hari


tulisan ini indah sekali.. saya bisa membayangkan guru-guru saya dulu merasakan itu semua, dan juga rekan kerja saya sekarang yang telah menikmati keindahan sebagai tenaga pendidik jauh lebih dulu daripada saya.

Hanya satu tahun menjadi guru -di sekolah ini, itupun jauh dari kata sempurna dan samasekali tidak layak merasakan emosi yang nyata tersirat dalam tulisan diatas.. Saya hanya cukup yakin, dan terus berharap bahwa satu tahun saya sebagai guru tidak berlalu sia-sia.. semoga ada pesan dan teladan yang nyata.. atau setidaknya sepotong janji persahabatan dengan mereka..
saya beryukur pada Tuhan atas setiap suka, duka, dan segala-sesuatu-diantara-keduanya selama menjadi guru. lebih dari itu, saya bersyukur karena saya diberi murid-murid yang luar biasa, yang mendudukkan saya kembali untuk belajar! :)
selamat hari Guru! untuk para Guru. dan untuk setiap kita yang dipercayakan Tuhan menjadi guru untuk satu sama lain manusia di bumi ini..

saya menutup tulisan ini dengan quote yang sungguh-sungguh sangat sederhana
"jika kau bisa membaca tulisan ini, berterimakasihlah kepada seorang guru!" -Stiker Bemper
"banyak yang telah kupelajari dari rekan-rekanku 
lebih banyak lagi dari guruku,
tapi yang paling banyak dari murid-muridku" -Talmud
kebanyakan diantara kami, memiliki tim jagoan bola sendiri.
beberapa mengidolakan sosok CR7,
sebagian memuja tim merah (arsenal dan MU),
beberapa yang lain sangat mengagumi si Kaka,
pun ada yang bangga dengan jersey Barcelona
tapi yang indah, yang sangat saya sukai dari kelas saya adalah ketika kami tunduk bersama mendoakan timnas Indonesia

setiap hari selalu ada waktu untuk melakukan renungan di kelas. kadang saya, kadang murid saya yang memimpin. tapi setiap hari kami memliki pokok doa tertentu.
hari Selasa kami akan mendoakan secara khusus salah satu teman sekelas
hari Kamis kami akan mendoakan secaa khusus salah satu guru atau staff di sekolah
dan Hari Jumat kami akan mendoakan bangsa dan negara yang tercinta ini

awalnya mereka enggan dan merasa aneh karena saya mengajak untuk mendoakan negara ini setiap minggu. tapi seiring berjalan, mereka yang justru memberi saya ide bagian apa di negeri ini yang perlu didoakan.
semisal waktu kami sudah mendoakan pemerintahan, bencana, pemberantasan korupsi, saya semacam kebingungan apa lagi isu spesifik yang bisa didoakan. lalu seorang siswa memimpin renungan tentang "menghargai makanan" dan mereka juga yang memberi usul, untuk mendoakan orang-orang yang tidak berkecukupan untuk sesuap nasi.

selain pokok doa "rutin" saya selalu saya menanyakan hal lain apa yang mau didoakan. misalkan "ada ulangan? atau ada keluarga yang sakit?" dan satu waktu, ketika saya bertanya demikian beberapa siswa menjawab "doakan timnas miss, lawan Korsel" awalnya saya tertawa, menganggap itu hanya bercandaan. tapi raut wajah mereka menunjukkan bahwa asumsi saya salah.
saya akhirnya 'tunduk' pada permintaan polos nan tulus itu.
pertama kalinya dalam hidup saya saya membawa doa sebuah permainan bola.
saya geli, bercampur bangga sebagai anak negeri, juga merasa terharu akan nasionalisme kecil ini.

mendoakan timnas di kelas kami bukan hanya berlangsung satu waktu itu, namun hampir setiap ada pertandingan timnas, kami akan menyempatkan tunduk kepala dan berdoa.

selain membawa dalam doa, "bola" menjadi berkesan selama saya jadi guru saat ini karena tidak jarang obrolan tentang bola menjadi perekat keakraban saya dengan beberapa siswa. kerap kali, saat ada pertandingan dua klub besar saya menanyakan prediksi mereka. sebagian akurat, kebanyakan yang lain meleset jauh. dan kadang sebaliknya, mereka yang "mendatangi" saya (secara langsung ataupun di layar bbm) untuk mengabari tentang tim kesukaan saya, atau hanya sekedar menanyakan opini.
mereka adalah guru saya tentang bola, karena mereka jauh lebih banyak tahu..


dan terakhir, sepakbola yang terwujud dalam lapangan kecil, atau futsal menjadi tontonan favorit saya selama jadi guru.

futsal tidak pernah menjadi lebih menarik dibandingkan saat ini
setiap kamis ada kegiatan ekstra kulikuler. saya selalu keluar ruang guru lebih dulu, hanya untuk duduk di depan dan melihat keceriaan anak-anak SMP berebut bola. seakan tidak ada duka di muka bumi ini. seakan dunia ini hanya miliki mereka yang ada di lapangan. dan senyuman mereka seakan berbisik


"lupakan sejenak tugas dan ulangan. ayo buat gol, kawan!!"




pengalaman dengan "bola" ini akan jadi salah satu bagian favorit saya selama menjadi guru.. dan saya bersyukur atasnya..
Sebenarnya siapa itu pemuda? Dan siapa mereka yang layak dikatakan sebagai pahlawan?

Film lawas berjudul GIE membantu memecahkah pergumulan nasionalis saya malam ini. Mungkin cerita ini bisa dimulai dengan quote indah dari toko Soe Hok Gie tersebut
“lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
Dan sembari saya mengetik ini, saya jadi ragu untuk melanjutkannya. Mengingat tulisan saya sebelumnya tentang upacara. Saya sudah menjadi orang munafik saat itu, demi tidak ‘diasingkan.’ Pertanyaannya, lantas apa saya layak membicarakan hal ini lebih jauh?
Biarlah. Mari menjadi sedikit bebal dan fasik, menasihati bahkan ketika saya sendiri tidak mampu melakukannya. Bukankah itu teladan dari para petinggi negara kita?

Kembali ke bahasan utama. Membicarakan pemuda, sudah bukan jamannya lagi mengkonotasikannya sebagai penggolongan usia. Pemuda nyatanya bukan batasan angka kaku di kertas, itu pendapat saya. Pemuda itu tentang jiwa, acap kali terdengar demikian. Pertanyaannya, jiwa seperti apa? Jiwa pengecut yang bahkan terkalahkan dengan budaya titip absen di kampus? Atau jiwa plagiat yang hobby comot pasang (co-pas) tulisan orang? Atau jiwa yang bermain aman, asal tidak dibenci, cukuplah. Atau justru seorang pencaci sejati, bukan untuk perbaikan hanya agar dikenal sebagai seorang muda yang kritis? Atau jiwa yang ditemukan membisu, menjadi secuil diantara yang terlupakan, tapi berjuang untuk yang mereka inginkan?

Seperti tulisan mainstream lainnya, yang terakhir adalah yang paling benar. Itulah pemuda. Mereka yang mau berjuang tanpa terlalu meributkan apa definisi perjuangan itu sendiri dan tau dengan pasti mengapa mereka berjuang. Pemuda bukan anak-anak yang tau berjuang, tapi tidak tahu alasannya. terkurung pada 'amanah agung' orang tua. Pemuda bukan pula lansia, yang tahu hal yang patut diperjuangkan tapi tidak punya lagi asa dan daya untuk melakukannya. Pemuda adalah pemuda, penuh energi, bergerak sesuai visi. seharusnya demikian.
Itu saja semangat pemuda tahun 1928 dulu, yang pada tanggal 28 Oktober berpuncak pada satu ikrar mulia di tanah subur ini. Mereka tau bahwa negeri ini terlalu beragam dan rawan perpecahan. Dan mereka bukan hanya tau tapi juga mau. Itu intinya pemuda. Mereka tidak diam berpangku tangan, pun tidak hanya memberikan kritik-kritik tanpa penyelesaian. Mereka berupaya sedapat mereka, dan disaat yang sama mereka sudah mendapatkan gelar pahlawan.
Pemuda adalah jiwa dengan semangat memperjuangkan apa yang mereka diyakini. Untuk dirinya sendiri. terangkum dalam satu kata: BERJUANG. Sedangkan pahlawan, mendasarkan perjuangannya untuk orang lain, untuk banyak orang lain, hingga tak jarang lupa memikirkan dirinya sendiri. Bisa diringkas pula dalam satu kata: BERKORBAN.
Pahlawan bukan hanya yang mau MATI untuk negeri ini, tapi juga yang mau HIDUP dan mengabdi untuk bangsa ini, bahkan ketika orang-orang lupa berterimakasih atas keringatnya.
Banyak orang yang layak dikatakan sebagai pemuda. Tapi siapa dapat menemukan pahlawan hari-hari ini?

Setidaknya marilah benar-benar menjadi pemuda. Perjuangan mimpimu, passionmu, idealismemu, dan terlebih imanmu! :) dan di sela-sela itu semua, mari sedikit berharap keajaiban, ada semangat pahlawan yang mampir dan hidup dalam jiwa kita.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, hai (calon) Pahlawan. Dan selamat Hari Pahlawan, hai para Pemuda!
bagaimana perasaanmu jika seorang di sekitarmu mendapatkan hal baik, lalu mengabarimu. ikut senang bukan? entah itu keluarga, ataupun teman. tapi kabar gembira sebenarnya menjadi jauh lebih manis ketika kita tahu bagaimana perjuangan yang ada di balik pencapaian tersebut.

misalkan, temen SMP saya Reni. dia pengen banget masuk salah satu SMA terkenal di kota lain. saya jadi saksi mata bagaimana dia belajar untuk tes masuk SMA tersebut, bahkan di hari-H tes, saya ikut ke kota itu buat nemenin dia, ya sembari berharap itu bisa buat teman dekat saya itu makin semangat. pengumuman baru keluar sekitar 1 bulan setelahnya. dan saya menunggu pengumuman itu seakan saya adalah peserta tes-nya. kabar gembira pun datang, dia diterima!! rasanya happy sekali. bukan pencapaian saya, tapi karena saya tahu bagaimana dia menginginkan hal itu, dan bagaimana dia berjuang untuk hal itu, kemenangannya menjadi hal yang manis juga buat saya.

hal semacam itu terjadi beberapa kali, tapi hari senin lalu rasa bahagia semacam itu kembali muncul dengan warna yang berbeda. tidak lagi tentang teman atau saudara, tapi dari murid saya.

ceritanya begini..
saat saya part time sebagai guru (di sekolah yang sama, selama 3 bulan) ada siswa saya yang mengikuti sebuah tes beasiswa sekolah di Singapore.
penantian hasil pun berjalan. dari tiga siswa saya, ada satu orang yang benar-benar menginginkan beasiswa itu, dia belajar ekstra dibandingkan lainnya.
hari pengumumanpun tiba, dan saya mem-bbm dia sekitar jam 7 malam untuk menanyakan hasilnya, sembari berharap hasil terbaik yang muncul di layar smartphone saya.
ternyata, cerita lain yang terjadi. dua temannya sudah dihubungi bahwa mereka di terima, tapi sampai jam tujuh malam dia justru tidak mendengar hasil yang dia harap-harapkan. lalu ditengah keputusasaan penantian itu, dia tiba-tiba bercerita bahwa hal demikian sering terjadi. dia kalah dengan temannya yang level usahanya tidak sekeras dia.
kadang hidup tidak adil, sepertinya begitu kesimpulannya.
saya berusaha menghibur dia, disaat yang sama saya merasa marah untuk sejenak, entah kepada siapa. sampai malam itu saya men-tweet beberapa ekspresi ketidakterimaan saya tentang ketidakadilan hidup semacam itu.

jam 9 obrolan kami berhenti. itu batas malam saya untuk chat dengan murid saya.
sejam kemudian, dering HP saya berbunyi dan mengetahui bahwa sebuah chat masuk, dan tidak lain dari siswa yang sama. isinya? "miss akhirnya aku ditelpon. hahaha"
saya ingat sekali. itu kalimat bahagia yang samasekali tidak jelas. tapi tawa-nya mengarahkan saya pada satu kesimpulan bahwa itu tentang beasiswanya.
dia diterima!! semacam save the best for the last. jam 10 malam, untuk sebuah telpon formal itu agak mustahil. entah kenapa selarut itu, tapi siapa yang peduli, kabar gembira tetaplah kabar gembira, jam berapapun tiba-nya, tidak berubah!
saya lega bercampur bangga, karena hidup (masih) adil, karena dia berhasil, dan karena saya diikutkan perjuangannya walaupun hanya secuil.

itu terjadi bulan Juni 2012. kabar itu jelas membuat anak tsb tidak berstatus siswa Gloria lagi di tahun ajaran berikutnya. kamipun lama tidak bertemu, sampai senin kemarin dia datang kembali ke sekolah. berpamitan kepada guru-guru karena keesokan harinya dia akan berangkat. tidak disangka, dia menghampiri meja saya, dan kami menyempatkan mengingat percakapan kami malam itu. kamipun tersenyum kecil.
jika dihitung saya hanya mengajar dia tiga bulan, itupun sebagai seorang part timer. tapi saya bersyukur sekali, tiga bulan dengan anak tersebut tidak berlalu tanpa cerita.

:) selamat berjuang di negeri orang Terry. God bless you!

*setelah menulis ini, saya menyimpulkan satu hal. mungkin inilah yang membuat profesi guru, walaupun gajinya (dianggap) kecil, tapi lebih bahagia dan awet  muda. melihat siswa-siswa yang diajar meraih 'sesuatu' di hari depannya, adakah kabar yang lebih indah? berapakah kompensasi uang yang bisa menandingi rasa bangga?
Mengikuti ritual dengan standar yang jauh dibawah idealisme saya sebagai ‘bekas’ murid desa.
Mungkin itulah keunggulan sekolah negeri terlebih yang di desa, sekolah yang dibiayai pemerintah.
Entah karena keharusan atau seperti apa, tapi agaknya di kota ataupun desa,
upacara bendera di sekolah negeri dilaksanakan lebih serius dibandingkan di sekolah swasta.
Mungkin itu cara mereka berterimakasih pada negara yang mengurangi biaya pendidikan mereka,
walaupun dalam hati juga mengutuk dan membenci.
Apapun motifnya,
saya bangga karena telah besar di sekolah negeri dan bertahun-tahun menikmati upacara yang khidmat. Sedangkan di tempat saya mengajar, yang kedisiplinannya jauh lebih tinggi,
tidak ada samasekali penghargaan akan berjalannya upacara.
Dua kali sudah saya mengikuti upacara sebagai seorang tenaga pendidik.
Dari dua upacara itu saya kecewa, tidak ada samasekali greget kebangsaan.
Saya benci melihat bendera merah putih sudah terpampang di tiang tanpa dinaikkan oleh petugas upacara. 
Saya benci karena lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh speaker dan bukan pita suara paduan suara siswa.
Jangan heran nantinya, jika mulut mereka lebih vocal mengutuki dibandingkan menghargai bangsa ini.
Dan saya terlebih benci pada diri saya sebagai guru PKN,
yang bahkan tidak bisa melakukan apa-apa akan hal itu.
Tidak cukup punya kuasa –atau keberanian- untuk mendobrak kebiasaan itu,
dan dengan menggerutu tertunduk lesu mengikuti ‘ritual wajib’ kebangsaan yang tanpa arti.
I'm a huge fan of photography but I'm not Photographer.
I do like travelling, but you can't call me as a Backpacker.
and I have a blog, but I'm not a truly writer.

kenapa demikian? karena saya menghormati tiga 'status' itu. Photographer, Backpacker,dan Writer.
tiga status itu didapatkan seseorang karena keseriusan mereka menjalani hobi mereka. mendalami dunia yang mereka cintai. lalu memberi sumbangsih yang signifikan.

belakangan, dunia tulis menulis di dunia maya makin marak. fotografi-pun tidak kalah populer, kesannya kamera D-SLR kini menjadi barang wajib anak muda. dan jangan tanya soal travelling. bukankah itu sekarang hal itu semacam menjadi trending topic di mana-mana.

saya sendiri kurang simpatik kepada mereka yang hanya pernah kedua destinasi (misalkan) lalu dengan bangga menyebut dirinya seorang backpacker. dan mereka yang punya D-SLR ditenteng kemana-mana untuk diakui sebagai seorang pecinta fotografi. menurut saya tidak semudah itu. in my -not so- humble opinion, orang-orang semacam itu jadi wujud pencarian pengakuan.

tidak ada standar angka, berapa destinasi minimal yang harus kau tuju untuk bisa menyebutmu seorang petualang sejati
tidak ada juga standar pengetahuan teknik memfoto, ataupun standar jumlah foto, agar kau layak dikatakan sebagai seorang pelaku seni fotografi.
dan jelas, semua orang bisa menulis, semua orang bisa membuat blog tapi hanya sebagian saja yang layak dikatakan sebagai seorang penulis.

menurut saya, seberapa kecintaan dan dedikasimu terhadap secarik tulisan, sebongkah foto, dan secuplik perjalanan, itu yang penting.

selamat berkarya para backpacker, yang mengabadikan kisahnya berupa foto ataupun tulisan. bagikan apapun yang bisa membuat negeri ini menjadi lebih baik! :) biarlah hobimu menjadi hidupmu, yang menghidupkan orang lain! ^^
Jika ada yang berpikir bahwa guru hanya mengajar, Anda salah besar! Ada banyak tumpukan koreksian yang menanti untuk digarap, ada materi-materi yang terus berjalan dan memaksa seorang guru memutar otak mencari metode yang mengasyikan, dan beban-beban administrative lainnya. Akhir semester hampir tiba, dan jelas semua tanggungan jadi memuncak.

Di tengah kejenuhan itu, Tuhan sediakan penghiburan
.
Dan sepanjang saya mengingat, setiap minggu Tuhan berikan satu penghiburan tersendiri. Ini adalah tulisan tentang bagaimana Tuhan memimpin saya dalam menjalani profesi berharga ini, dan mengijinkan siswa saya dengan cara polosnya sendiri membuat saya tahu bahwa saya dihargai. Samasekali bukan tulisan untuk menyombongkan diri. Jika nantinya saya lemah, saya berharap saya kembali bisa mengingat penghiburan-penghiburan Tuhan melalui tulisan ini, dan kembali menjadi kuat.

Penghiburan pertama yang paling saya ingat, beberapa bulan lalu. di kelas bahasa mandarin siswa diminta untuk menuliskan satu paragraph tentang sekolahnya dalam bahasa mandarin. Salah satu hal yang harus dicantumkan adalah pelajaran kesukaan. Seorang siswa (yang terkenal jenius, sempurna di setiap pelajaran) menanyakan ke Lao Shi-nya, apa bahasa mandarin pelajaran PKN. Hal ini tidak saya dengar langsung tapi dari cerita lao shi yang bersangkutan, saat makan siang. Hati saya berbinar saat itu. Seorang murid terbaik, memilih pelajaran PKN sebagai pelajaran favoritnya. Di lain hari, tiba-tiba dia mengirimkan sebuah capture’an (sayangnya terhapus L) percakapannya dengan temannya yang saat hari itu (tepat saat ada pelajaran PKN) harus mengikuti sebuah kegiatan di luar sekolah. Bunyi percakapannya kira-kira begini:
K.A : kan enak besok gak ikut pelajaran
E: haha iya dong. mau ikut?
K.A : engga. seneng gak ikut pelajaran PKN?
E : lho engga :’( pengen ikut pelajaran PKN
Sederhana sekali bukan? Tapi saya menghargai hal itu. Setidaknya pelajaran yg saya ajar tidak menjadi momok bagi siswa-siswa saya.
Lain waktu, seorang anak dari kelas lain bertemu saya dan berkata “lho miss, kenapa PKN itu cuma seminggu sekali. Gimana bisa cinta bangsa kalo PKN aja cuma seminggu sekali” hahaha masuk akal sih celetukan siswa polos ini. Dan dari anak yang sama dia berkata (baru beberapa hari yang lalu) “enakan PKN hari senin miss, biar senin ada yg seru pelajarannya. Sekarang diganti ke hari selasa, hari seninnya jadi berat banget miss” :’) salahkan jika saya merasa dihargai dengan hal-hal semacam itu?

Dan yang paling ekstrem, dan sekaligus membahagiakan.

Saya pernah berceletuk (kelepasan bicara) bahwa saya mengajar mereka hanya 1 tahun. Dan tidak dikira respon mereka sungguh mengharukan. Hampir semua langsung bertanya “lho kenapa miss” saya pun akhirnya sedikit menjelaskan rencana saya untuk pekerjaan yang lain. Ada yang mengira pekerjaan saya tetap sebagai guru tapi di sekolah lain, dan dia dgn sangat esktrem berceletuk “aku ikut pindah kemana miss ngajar” saya tahu, itu hanya celetukan semata, tapi lucu dan membahagiakan juga kalau diingat. Lalu anak yang lain dalam kelas itu berkata “lho pelajaran PKN nanti jadi boring lagi, kayak pas SD”

Dan banyak hal-hal kecil semacam itu yang saya boleh alami. Benar-benar memberi kekuatan ketika kejenuhan mulai menyerang.


Ada banyak orang hebat, melalukan hal yang baik dengan caranya, Tapi menurut saya, hanya yang beruntung yang diijinkan tahu bahwa apa yang mereka kerjakan itu dihargai orang, hanya yang beruntung yang diijinkan tahu bagaimana ketulusan orang lain menilai apa yang mereka kerjakan. dan puji Tuhan, saya termasuk dalam hitungan orang beruntung tersebut!