Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.


"Tuhan, aku tahu aku harus memikul salib.
sama seperti Engkau yang telah terlebih dahulu melakukannya
memikul salib karena mengasihiku.
aku tidak mengeluh, Tuhan. sungguh.
aku hanya heran haruskah Salib-ku seberat ini?
dan aku penasaran tidak bisakah aku memikul Salib yang lebih indah?
lihat, salibku begitu usang, penuh goresan. aku malu
jika memang harus berat, tidak bisakah Engkau memberiku Salib yang lebih menawan?"




((kataku lugu penuh keluh pada Penciptaku.
dan Dia mendengar, dan Dia memberi jawab dengan cara-Nya))

satu saat aku melihat temanku memikul salib yang sangat indah
penuh permata dan berlapis emas di beberapa sisinya
sungguh menawan.
lalu aku tergoda untuk meminjamnya. mencoba memikulnya
tak ku sangka, salib itu jauh lebih berat dari salib usangku
indah, tapi jauh lebih cepat membuat bahu ku ngilu
ah sudahlah. usang-pun tak apa.

di saat yang lain, tak berselang lama
aku melihat salib lain yang tak kalah memikat
pesonanya bukan karena kilau logam mulia
kali ini karena penuh mawar mekar nan semerbak
lagi-lagi, aku manusia selalu termakan rasa penasaran
walau tidak separah rasa penasaran yang menuntun hawa mencoba buah terlarang
aku pun memikulnya
tidak berat. ah sungguh aku ingin bertukar salib.
sebelum cukup jauh, aku merasa ada yang salah
darah!! bahuku terluka karena duri-duri mawar itu
lilitan mawar indah juga tak memuaskan
bahkan lebih menyakitkan.
ah sudahlah, usang-pun tak apa.

aku menyerah.
salibku yang terbaik
aku berhenti mencari salib lain yang menawan
hanya berujung kekecewaan
aku pikul yang usang ini dengan iman
berat memang, pun semua salib yang lain

mengeluh tak lagi jadi pilihan
sudahlah, usang-pun tak apa"

source :
http://jeffsprayerconnection.blogspot.com/2013/03/take-up-your-cross-and-follow.html


catatan penulis :
ungkapan "pikul-lah Salib" bukan hal asing, terkhusus bagi umat Nasrani. Sudah tak terbilang lagi berapa kali saya diingatkan dan mendengar tentang hal itu, di gereja, renungan harian, atau di persekutuan. Tapi Firman Tuhan memang tidak pernah kehilangan pesonanya. Secara tersurat ataupun tersirat melalui perumpamaan. Tulisan ini saya buat karena terinspirasi dari renungan pagi yang dibagikan oleh Guru Agama di sekolah tempat saya mengajar. Semoga tulisan ini jadi pengingat bahwa beban kita adalah beban sesuai dengan kemampuan. Tugas kita bukan untuk membuktikan salib mana yang terbaik, namun membuktikan bahwa selalu ada iman dan kesetiaan yang menguatkan pundak kita untuk memikulnya..

Salib-ku tak indah, tapi aku bangga!
usang-pun, tak apa!



Saya sangat iseng siang ini (Jumat, 17 Januari) lalu melakukan apa yang pernah disarankan oleh dosen saat kuliah "coba googling namanu sendiri, semakin banyak muncul -kecuali sosial media- semakin nyata eksistensimu di globalisasi"




Memang saat itu pembahasannya terkait globalisasi, atau persempitan dunia lebih tepatnya.
ternyata, kebanyakan yang tercantum dari hasil pencarian google atas nama "claudya tio elleossa" adalah aktivitas sosial media saya sendiri. Mengecewakan.

Namun ada pula beberapa hasil pencarian yang bahkan tidak saya duga dari aktivitas dunia maya pihak lain










HANYA ENAM? Ah saya miskin prestasi sekali.
Hmmm.. mari mencoba menghibur diri sendiri, dari kekecewaan atas ketidakpopuleran ini. Walau hanya ada enam halaman google, syukurlah tidak ada satupun gambar negatif, atau umpatan, atau berita buruk lainnya. Sangat sedikit, tapi kebanyakan berupa hal positif yang spesifik. Saya LEGA.
setidaknya ketika gelar almarhum disematkan dibelakang gelar S.Hub.Int, saya mendapati diri saya meninggalkan dunia ini dengan goresan sangat kecil yang positif.

Saya bukan artis, bukan orang hebat, tapi setidaknya saya ingin meninggal suatu hari nanti dengan titipan hal baik nyata di hati orang lain. Ya, juga sambil berharap hasil pencarian google semakin banyak mencatatkan nama saya di kemudian hari. Ini niat yang tidak buruk bukan? 

Mari kita renungkan, goresan atau jejak seperti apakah yang akan kita tinggalkan saat kita meninggal nanti?

Hidup Itu Hompimpah kata D. Zawawi Imron: Keluarga Bencana:

tulisan sederhana nan tulus ini, saya temukan di tengah keisengan meng-google nama saya sendiri, dan menemukan ada nama saya tercantum di blog tersebut. Ternyata dari seorang kawan pejuang tanah terpencil. Pengalaman seumur hidup yang begitu berharga! sekali lagi, terimakasih Kedasih! :) terimakasih Keluarga Bencana  :) dan terimakasih Pandu -sang penulis blog tsb- yang telah menunjukkan wajah seorang muslim yang nyata tanpa mengurangi toleransi terhadap agama saya. Salut!
Diego : aku tidak punya rasa takut, apalagi ke air
Sid : justru rasa takutlah yang membedakan kita dengan batu. (sambil memegang sebuah batu kecil lalu melemparkan ke air), mereka tidak takut dan mereka tenggelam
Ini potongan percakapan favorit saya selama liburan, yang saya dapat dari film kartun Ice Age. Saya tidak menyangka Sid bisa sebijak itu, di tengah kekonyolan tingkahnya.
Tapi yang jadi inti tulisan ini bukanlah Sid (entah dia spesies apa sebenarnya), tapi perasaan yang dialami oleh Diego. Rasa takut.

Kita pasti punya rasa takut, setiap orang. Masalahnya adalah kadang kita lupa bahwa hidup adalah perjalanan kita melawan rasa takut itu. Saya ingat sekali papa saya dengan sangat bijak pernah berkata “lakukan apa yang kamu takutkan, nanti kamu juga tahu, yang kamu takutkan itu bukan apa-apa”




Hari pertama 2014 membuat saya belajar hal yang serupa. Ajakan kak Jannung, seorang kawan yang saya kenal dari jambore GKI, untuk join ke pulau Menjangan mengawali cerita ini. Saya tanpa banyak berpikir langsung meng-iya-kan. Masalah pertama adalah karena titik bertemu 11 orang ini adalah di Banyuwangi, di jam 7 pagi. Saya berangkat dari Lumajang (dengan durasi perjalanan  sekitar 4-5 jam) yang artinya harus berangkat sekitar jam 2 pagi. Jelas cemas, cewek sendirian naik bus umum ekonomi di jam segitu. Tapi sama seperti Diego, saya memaksa diri untuk berani. Walaupun melalui usaha meyakinkan sang mama dengan sedemikian.

Setibanya di Karang Ente, terminal bus Banyuwangi, jam setengah 7, saya dijemput dan kami bergegas menuju Ketapang untuk menyebrangi selat yang penuh lalu lalang kapal itu. Singkat cerita, kami sampai di Menjangan sekitar jam setengah 11. Pulau yang tidak cantik, karena tidak ada hamparan pasir putih favorit saya. Tapi memang tujuan kesana bukan untuk berjemur atau bersantai di bibir pantai, namun justru terjun ke hamparan air asin dan menikmati surga disana. Ini pertama kalinya saya snorkeling, jadi jelas dimulai dengan panduan sang expert. Untungnya kemampuan renang saya yang pas-pasan samasekali tidak mengganggu aktivitas yang membuat ketagihan ini. Awalnya takut, karena kepanikan bisa tiba-tiba meningkat ketika di dalam air, sama seperti saat ada di ketinggian. Tapi terlalu indah terumbu karang dan terlalu lincah makhluk-makhluk air disana, sangat sayang untuk dilewatkan. Di tengah keasyikan saya, yang sudah mulai terbiasa, sang guide mengajak untuk menikmati bagian wall, atau garis perpindahan antara laut dangkal dan laut lepas. Untuk yang tidak berpengalaman, jelas menakutkan karena sisi tersebut menjorok ke air dengan kedalaman yang luar biasa. Tapi, dengan bantuan sang expert, saya mencoba. Dan tidak menyesal sedikitpun. Sepertinya tidak ada keindahan yang lebih dari itu yang pernah saya nikmati. Sunrise Bromo, seperti bukan apa-apa. Saya jatuh cinta!! Andai saya cukup mahir menumpahkan keindahan terumbu karang dan berbagai spesies ikan yang sangat fantastis disana melalui kata-kata. Pencipta Semesta ini sungguh luar biasa.

Setelah beberapa jam menyusuri satu spot yang paling ramai wisatawan di pulau itu, sang guide mengajak kami naik ke kapal dan berpindah spot. Tidak ada bibir pantai sama sekali di spot kali ini. Artinya, kapal berhenti di sekitar garis wall tersebut, dan kami menceburkan diri. Spot kali ini benar-benar dalam, sehingga kami disarankan berpegangan pada pelampung. Awalnya saya enggan, terlalu beresiko untuk yang tidak mahir renang. Untungnya untuk kesekian kali saya mengingat bahwa rasa takut harus ditaklukan. Saya pakai kembali semua perlengkapan snorkeling, yang sudah sempat saya lepas, lalu menceburkan diri. Keindahan wall di spot pertama itu hanya setengah dari keindahan di spot yang baru ini. indah sekali.

Kami berkeliling memutari spot itu. Cukup jauh, melelahkan, tapi sangat-sangat terbayar dengan keindahannya. Menemukan bintang laut warna biru, berenang bersama ikan nemo, melihat berbagai spesies yang sepertinya tidak pernah saya pelajari di kelas Biologi.

Kenikmatan harus berakhir, karena waktu yang terbatas. Empat jam snorkeling di pulau Menjangan jadi pengalaman tak terlupakan. Hanya sempat mengabadikan wajah saya sendiri dengan iPhone berbalut plastic (karena kamera underwater rusak akibat sedikit kecerobohan), tapi tak apa, keindahan itu sudah terekam baik di ingatan.

Kami kembali menuju daratan, dan sebelum kembali ke Gilimanuk kami sempatkan mengisi perut dengan hidangan khas Bali: ayam betutu. Saya sangat tidak toleran dengan rasa pedas, tapi sepertinya ayam betutu ini menggoda. Walaupun lidah harus terbakar karena pedas yang menyengat, tapi ada rasa bangga dan puas tersendiri.

Di ferry kembali ke ketapang, saya tidak bergabung dalam obrolan bersama 10 orang yang lain. Saya menikmati pemandangan dengan D-SLR Nikon yang sangat sulit saya pahami. Lalu terdiam dan menyadari, dua wishlist saya tercoret hari ini. Pertama adalah nomor 24, makan makanan khas di tempat asalnya. Sebenarnya saya sudah bisa mencoret ini saat makan pad Thai di Bangkok, tapi saya ingin poin ini berupa kuliner Indonesia, selalu membayangkan akan makan nasi padang di Sumatera atau Soto di Lamongan. Samasekali tidak pernah terpikirkan, poin itu akan tercoret dengan rasa pedas ayam Betutu yang saya nikmati di tanah dewata. Dan poin ke-43 yaitu snorkeling, yang terkabul dengan begitu ajaib.
Dua poin yang terwujud samasekali tanpa rencana. Tuhan baik sekali. Di hari pertama tahun 2014 sudah memperbolehkan saya mencoret dua poin wishlist. He gives me more than I ever asked and answer my desire more than I can thought :’)
Saya hanya membayangkan, jika malam itu saya menuruti rasa takut untuk naik bus sendirian dini hari, menuruti rasa takut untuk terjun ke bagian wall dan menuruti rasa takut akan rasa pedas, mungkin saya tidak akan sebahagia ini. Lagi-lagi saya teringat akan Sid dari film Ice Age, “worth a shot!”

Ada banyak sekali hal dalam hidup yang dapat membuat kita berkata dalam hati “layak untuk dicoba” sedikit bisikan memberanikan diri, memulai petualangan dengan orang asing, menikmati perjalanan dini hari, atau sekedar melawan kebencian akan rasa pedas. Worth a Shot!

Rasa takut tidak boleh menaklukan kita, itu membuat kita waspada bukan membuat kita kalah. Karena pada dasarnya keberanian itu bukan ketiadaan rasa takut, tapi kemauan untuk melawannya!


“Worth a Shot!”
Tanggal 31 sore hingga menjelang malam, saya sibuk menuliskan ulang 150 wishlist(s) saya di buku agenda tahun ini. Ya semacam rutinitas akhir tahun, jangan lupa di tambah beberapa resolusi baru untuk tahun selanjutnya.

Setelah tuntas menuliskan semuanya, saya tutup buku agenda dan menyodorkan proposal keinginan dan beberapa rencana saya ke hadapan Pemilik Hidup. Dari jam 10 hingga jam setengah satu pagi, saya mengikuti ibadah pergantian tahun. Oleh Gembala gereja, di beri tema “eben heazer” yang artinya “sampai disini Tuhan menolong kita”

Eben Heazer sangat nyata bagi saya, Tuhan menolong saya sedemikian rupa tahun 2013. Baik berupa pencapaian atau kegagalan, baik pengabulan doa atau kata ‘tidak’ dari-Nya, baik berupa banyak orang baru hingga seseorang yang khusus. Tapi, kata “sampai disini” sungguh mengusik saya. Lalu bagaimana 2014 saya? Jangan-jangan pertolongan-Nya tidak akan berlanjut.  Untung saja usikan ini terpecahkan oleh sang Pendeta, bahwa sebenarnya di dalam kata eben haezer itu sendiri terkandung janji Tuhan, untuk hari yang selanjutnya.

Tepat pergantian jam, terdengar beberapa letupan kembang api, tapi di detik itu saya sedang dengan begitu damai berlutut di hadapan-Nya, menyerahkan semua rencana dan ketakutan saya dan pastinya menyebutkan satu per satu nama orang yang begitu saya kasihi. Inilah yang membuat saya tidak bisa melewatkan pergantian tahun selain di gereja kampung halaman. Bukan kembang api, kebersamaan dengan kawan, ataupun makanan yang berlimpah, yang saya tunggu di momen pergantian tahun. Melainkan menulis Resolusi, mendapat Ayat emas, dan BERLUTUT di rumah-Nya, itu menjadi hal paling berharga dan favorit saya untuk momen pergantian tahun.

ohya, ayat emas tahun ini diinspirasi lagi-lagi oleh pemazmur. Melalui mazmur 48:13-15 tentang kegagahan kota sion yang berujung pada kemuliaan Allah. saya merasa hal tsb sungguh nyata, melihat saya menutup tahun ini dengan penuh syukur atas banyak pencapaian yang semua menjadi kesaksian akan kebaikanNya. private message yang lagi-lagi pas!

Setelah ibadah selesai, setiap dari jemaat maju ke sebuah meja kecil, mengambil satu ayat emas tahunan (tentang ayat emas, saya sudah pernah bagi di postingan lainnya - http://unspokenspace.blogspot.com/2012/12/private-message-from-god.html).
Saya menebak, pasti saya akan diingatkan Tuhan untuk lebih rendah hati, baik ke manusia terlebih ke Dia. Saya merasa tahun ini mulus sekali, dan godaan untuk tinggi hati dan merasa mampu tanpa-Nya, begitu nyata. Atau mungkin diingatkan untuk lebih berbagi (baca: tidak pelit) karena tabungan yang raib akibat kegiatan magang, saya harus menghemat sedemikian dari gaji saya, dan meniadakan kemurahan hati. My Creator is definitely unpredictable. Terkaget ketika membuka kertas ayat emas yang saya ambil acak diantara tumpukan kertas ayat-ayat lain. Justru satu hal yang saya rasa sudah saya lakukan dengan baik tahun ini. Sempat berpikir: “Tuhan gak salah nih?”

Tapi saya teringat, tahun 2012 saya disambut dengan ayat "hanya dekat Allah saja kiranya aku tenang, sebab daripada-Nyalah harapanku" (Mazmur 62:6)
Itu sangat aneh, karena 2011 tahun dimana saya sangat dekat dengan Tuhan. Kenapa diingatkan untuk dekat lagi? ternyata tidak lain karena tahun 2012 banyak sekali hal yang bisa jadi alasan untuk saya menjauh. Dan menjadi tenang, itu adalah hal yang luar biasa mustahil.
Karena itu ayat emas saya tahun ini, walaupun belum saya pahami, pasti dipakai Tuhan sebagai “peringatan dari awal.” Nanti saya pasti bagi disini, ketika ayat emas ini benar-benar ‘berbicara’ melalui sebuah kejadian tertentu. We’ll see..

Tahun 2014 yang entah seperti apa nantinya, ingatlah Eben Haezer! Tuhan sudah menolong, dan Dia tetap akan menolong J selamat tahun baru \m/ selamat berkarya.

(KJV+)  Then Samuel took a stone, and set it between Mizpeh and Shen, and called  the name of it Ebenezer, saying, hitherto hath the LORD helped us.


sejujurnya, 150 poin itu saya buat se-pengen saya (yaiyalah, masak sepengen kamu?) maksudnya, saya gak pernah menata kehidupan berdasarkan poin itu, dan samasekali tidak pernah menyusun rencana untuk mencapai-nya satu per-satu. saya bukan tipe yang sangat disetir dengan poin-poin tersebut, jika banyak yang tercapai saya bisa bilang itu terjadi begitu saja :) ya karena Tuhan bermurah ke saya ^^

oke, karena saya malas mengetik ulang, saya share capture'an tweet aja. hehe





Mazmur 48:15 “Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita!”


Jika sebelumnya aku menulis tentang KakJo yang diterima kerja di tempat idaman sesuai passion dan juga tentang kelulusan yang brilliant dari sahabat sejurusan, Sinta, sekarang jemari ini akan menari untuk kawanku yang lainnya.

Jika ada yang menghabiskan banyak sekali malam bersamaku, itu adalah Arthami Berliana Hutagalung. Sahabat sekosan sejak 2010.
Aku ingat sekali, saat kabar papa ku dipanggil Tuhan, orang yang sedang ada di sisiku, dan menenangkanku tidak lain adalah dia.
Sahabat terbaik untuk menemani lemburan-lemburan tugas kuliah. Apalagi di masa skripsi, kami berempat: saya-dia-laptopku-laptopnya, berjuang hingga matahari kembali terbit..

Kadang kami minum kopi, sengaja tetap terjaga entah untuk apa.. hanya sekedar ngobrol membahas hidup yang penuh warna, persis seperti lampu-lampu yang melilit pohon natal.

Perjuangan skripsiku sudah berakhir Juli lalu, juga bukan tanpa Artha..
Dia satu teman yang bahkan mau datang ke sidangku, yang berbeda jurusan dengannya.. menemani hingga hasil dibacakan. Tapi yang tidak akan bisa aku lupa adalah bagaimana dia menenangkanku di masa nano-nano semalam sebelum sidang. Antara takut dan gembira, Artha menemaniku memilih yang kedua.
Terimakasih Artha, telah jadi pendengar yang luar biasa..
dan terimakasih karena kamu selalu mengingatkan: "bahkan ketika kita ambil sedikit jeda sejenak, jangan terlalu terlena. Jangan lupa, beban lainnya akan terus datang!"


Selamat untukmu, Arthami Berliana Hutagalung, S.Ak. Kita sudah sama-sama sarjana J \m/
Januari
sibuk ngumpulin duit dan segala tetek bengek berangkat ke Thailand
untuk pertama kalinya bikin cece nangis L  feeling so bad.

Februari
Internship life. One lifetime experience. My Miraculous Month.
Ngerasain sidang PBB. Ngunjungi Logos Hope (dengan kebetulan), Chinese New Year yang paling seru, dan sebagainya. Banyak wishlist-s yang bisa dicoret bulan ini.

Maret
Raker uk3. It means, tugas sebagai BPH telah usai :’)
JKS di Malang. Teman baru dimana-mana J

April
Mulai Ngajar di Gloria (sebagai part timer, 3 bulan)

Mei
Skripsi SELESAI!! Oh thanks God.

Juni
Mulai gabung sama komunitas baru lagi: RessYouth J

Juli
Tanggal 1 : Mulai ngajar lagi, sebagai full timer
Tanggal 7 : my sister’s wedding
Tanggal 10 : sidang skripsi
Tanggal 12 : ulang tahun
Tanggal 15 : pengumuman lomba foto, dan juara II

Agustus
Ikut liputan investigas salah satu saluran TV swasta
Reuni temen SMP angkatan lulus tahun 2007
Ikut upacara bendera (setelah sekian lama)
Gagal Yudisium

September
Finally Yudisium beres! Ready for graduation next month
Pertama kali-nya mendoakan timnas (di kelas 7D)
Pindah kosan setelah empat tahun yang sangat nyaman di gang Karang menjangan V-VI

Oktober
GRADUATE!! J feeling so great
Pertama kalinya lihat DBL (junior pula) but it’s totally fun \m/
Jambore Pemuda GKI se-Jawa Bali. Pengalaman Baru, Teman baru.

November
Peringatan Hari Pahlawan di sekolah
Kena teguran karena tulisan
Cooking class bareng para siswa \m/

Desember
Ke Monkasel dan Tugu Pahlawan (my first, padahal uda 4 tahun di Surabaya)
Nginep di sekolah (acara PerJuSa)
Joyful Christmas.
Punya novel kedua (setelah Geographical of Bliss, Desember 2012)

Merci Beoucoup mon Seigneur ^^

Mazmur 48:15 “Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita!”

Minggu terakhir di tahun ini adalah liburan yang berkualitas. Seperti kata penulis buku Geographical of Bliss, mereka yang penya waktu untuk membiarkan pikirannya berkeliaran justru bisa lebih mendalami apa yang terjadi di sekitarnya. Perkataan itu ditujukan untuk menjelaskan orang Eropa yang menghabiskan banyak waktu di kafe, untuk ‘merenung’ dan akhirnya melahirkan banyak ilmuwan serta filsuf hebat. Sepertinya perenungan demikian telah membius saya di liburan ini. Bukan, bukan tentang hal yang sangat rohani atau dramatis. Hanya memaknai kembali bagaimana sebuah pertemanan dimulai.

Percakapan intens saya dengan seorang kawan yang saya kenal tahun lalu membuat saya menyadari kecenderungan yang sama dalam hidup ini, ya dalam hidup saya.

Tidak ada yang kebetulan, itu benar dan filosofi ini sudah sangat populer. Seperti satu ucapan di film full house “takdir adalah serangkaian kebetulan yang menuju pada satu titik yang sama”

Antara kebetulan dan pertemanan, dua hal berbeda konteks yang dalam eksekusi lapangannya sangatlah berkaitan. Ada begitu banyak kebetulan yang membuat sebuah pertemanan bahkan persahabatan di mulai. Seseorang yang tidak pernah kita dengar namanya, yang tidak kita kenal melalui komunitas terdekat kita (kelas di sekolah, ataupun di jurusan saat kuliah), yang tidak pernah kita rencanakan pertemuannya, mungkin menjadi seseorang we can count for a lifetime.
Kita bisa memulai pertemanan dimana saja dan kapan saja, baru kemarin saat malam natal saya berkenalan dengan dua orang perantau baru di Surabaya. Satu orang dari Jakarta, dan satu yang lain dari Jogja. Kami bersebelahan saat malam natal, kami ngobrol bertukar pin dan tidak disangka keakraban kami layaknya kawan yang sudah lama mengenal. Entah sampai kapan ini bertahan, mungkin hanya sebentar seperti euphoria tahun baru yang paling lama bertahan hanya dua minggu. Tapi kenapa berusaha menebak? Cukup tetap jadi orang yang positif, sambut setiap orang baru dengan kehangatan. Seperti kata Sidney white “awalnya saya hanya ingin diterima, namun saya sadar kita semua ingin diterima.” Dan karena itu, saya ingin berusaha memperlakukan orang yang saya kenal baik lama ataupun baru saja, dengan sebaik-baiknya.

Tidak ada yang membenci sebuah pertemuan, entah itu akan bertahan atau tidak nantinya. Bahkan ketika hanya berujung “mengenal,” itu tetap layak disyukuri. Mungkin seperti saya dan twin saya, Limbong. Kami kebetulan berkenalan di sebuah acara di Bali, dan ‘secara ajaib’ saya menemukan dia adalah saudara kembar saya yang terpisah, karena ulang tahun kami persis sama. Tapi itu hanya euphoria semata, pada kenyataannya saya tidak pernah benar-benar berbagi apapun dengan dia kecuali sebuah buku untuk hadiah ulang tahunnya. Tidak ada cerita yang pernah kami bagi. Tapi tidak semua kisah seperti itu.

Kadang kebetulan membuat kita menemukan rekan terbaik di kala hidup ada di titik terburuk. Seperti antara saya dan Fro (Daniel Jones Bernadi). Kami mengenal tanpa sengaja karena sama-sama ikut UM UGM di Jogja, dan sama-sama ditolak lalu sama-sama diterima di UNAIR. Bahkan saat ini, ketika dia punya seorang kekasih, dia masih mau menjaga percakapan kecil kami. Dan jangan tanya, ketika saya insomnia, dialah yang akan saya cari. Saya membayangkan jika saat itu SMA saya dan SMA-nya tidak join bus untuk UM UGM di Jogja dan jika salah satu dari kami diterima di UGM, mungkin dia hanya akan jadi someone-I-know but will never be my friend. Untungnya semua ‘jika’ itu tidak terjadi.

Kadang kebetulan juga menuntunmu ke orang-orang yang membuatmu belajar. Misalnya belajar gigih meraih cinta (asik bahasanya ya :p) yang saya sadari beberapa hari yang lalu dari Rado, kawan dekat Limbong, yang sedang berusaha memenangkan hati sahabat cewek terdekat saya. You-might-know-who-is-she.
Mungkin lebih dari itu, membuat belajar memaknai apa yang terjadi. Seperti bagaimana kebetulan mempertemukan saya dengan kakJo. Di mulai di natal 2010. Kami menjadi sama-sama perantau yang kebetulan menghabiskan hari penuh sukacita dan kedamaian tidak bersama keluarga di rumah. Melalui percakapan online facebook, kami janjian pergi ke ibadah natal bersama, padahal tidak pernah berkenalan secara tatap muka sebelumnya. Banyak yang saya pelajari dari kakak ini, tapi yang terpenting saya menemukan seorang yang selalu bisa saya usik dengan cerita-cerita gembira ketika saya jatuh cinta, dan cerita muram ketika patah hati. Saya tidak mau membayangkan, jika hari natal itu saya memilih pulang kampung, mungkin saya tidak akan menemukan sahabat baik seperti kakJo.

Kebetulan juga tidak jarang membimbingmu ke seorang kawan yang menularkan antusiasme tinggi dalam hidup. Seperti antara saya dan Arya. Jika dia dan kawan saya tidak pernah jadian, mungkin kami tidak akan mengenal. Bahkan setelah dia dan kawan saya berhenti memadu cinta sekitar 2 tahun lalu, bahkan walaupun dia sempat pindah ke Bogor, kami tetap akrab hingga hari ini. Saya telah menjadi temannya sejak dia gandrung skate board, capoeira, dan sekarang beatbox, dan saya harap ketika hobinya lagi-lagi berubah, saya tetap jadi temannya. Dia menjadi teman yang sangat antusias pada banyak hal, dan kamu pasti tahu antusiasme itu seperti rasa kantuk, bisa menular tanpa kita sadari.

Dan mungkin, kebetulan juga yang mungkin akan membawamu setapak demi setapak pada seseorang yang ingin kau doakan setiap hari. Seperti saya hari ini dengan seseorang yang berusaha mencari alamat blog saya sekarang, Riyan. Bermulai dari bercandaan di perjalanan Jombang-Surabaya antara BPH PMK ITS dan BPH UK3 UA, dan bermula dari kepatuhan saya terhadap suruhan Beetho (kawannya) untuk sms dia di hari ulang tahunnya yang menjadi permulaan kedekatan kami hingga sekarang.

yang istimewa dari sebuah pertemanan adalah tidak ada status 'mantan', kita tidak bisa mengubah status apapun. Bahkan antara saya dan Limbong, saya tidak akan menjuluki-nya “mantan kembaran.” Sama seperti tidak akan ada mantan ayah atau mantan ibu, sepertinya juga tidak akan ada mantan teman atau mantan kenalan apalagi mantan sahabat J dan itu kabar baiknya! yang ada hanyalah istilah "kawan lama" bukan "mantan kawan." Kecuali, Anda memilih untuk mengakhiri itu, memberikan sebauh batas akhir pada relasi yang tidak harus berakhir.

Sepertinya di tulisan lain, saya pernah mengatakan ini, tapi biarkan saya ulangi. Hal paling saya syukuri dan saya banggakan di dunia ini, setelah keselamatan dari Pencipta saya, adalah orang-orang yang Tuhan ijinkan hadir. Saya tidak bisa membanggakan fisik saya, apalagi bakat saya. Saya bukan orang jenius, dan sangat payah di dunia olahraga dan seni. Tapi di tengah keterbatasan dan ketidaklayakan ini, Tuhan anugrahkan banyak banyak sekali orang yang akan melipatgandakan sukacita di hari bahagia, dan mengangkat saya lebih tinggi ketika saya sudah menyerah dan menempelkan wajah ke bumi. Apa yang bisa saya kata?
kecenderungannya hanya satu: kebetulan selalu terjadi.

Orang-orang itu semua lahir dari ‘kebetulan ajaib’ yang Dia rancangkan. Mereka yang memeriahkan hidup saya yang entah akan berujung pada usia berapa. dan mungkin menjadi seperti Richard Parker untuk seorang Pi, yang membuat gairah untuk hidup tetap ada.
saya anjurkan anda mengamati film Life of Pi, ada begitu banyak kebetulan yang terjadi, dan semua berujung pada satu kisah yang membuat orang lain dan dirinya sendiri belajar tentang Tuhan. Kadnag tentang Hikmat-Nya, kadang hanya sekedar membuat kita mengingat bahwa Tuhan memang ada dan terus berkarya.

jadi.. jangan takut, karena yang mengatur kebetulan itu adalah Pencipta Semesta yang tidak akan pernah melakukan salah..


Selamat menjelang tahun baru!! Buka senyum lebar-lebar ke setiap orang yang kau temui, siapa tahu dia akan jadi sahabatmu selamanya!
ini sebuah karangan dari John Wayne Schlatter, yang tidak sengaja saya temukan ketika mengisi siang yang kosong sendirian di perpustakaan sekolah..

aku Seorang Guru

seharian, 
aku telah diminta menjadi seorang aktor, 
teman, penemu barang hilang, psikolog, 
pengganti orang tua, penasihat, 
pengarah, motivator, 
dan penjaga iman

Meski tersedia peta, 
grafik, formula, kata kerja, cerita dan buku
Aku sebenarnya tidak punya apa-apa untuk diajarkan,
karena murid-muridku sebenarnya hanya mempunyai diri mereka sendiri untuk belajar,
dan aku tahu dibutuhkan seluruh dunia untuk memberitahu siapa diri kita

aku sebuah paradoks. Aku paling keras berbicara ketika aku paling banyak mendengar
Karunia terbesarku terdapat dalam apa yang aku siap terima dari murid-muridku dengan sikap menghargai.

kekayaan materi bukanlah tujuanku, tapi aku seorang pencari harta karun, yang selalu mencari peluang baru bagi murid-muridku
-peluang untuk menggunakan bakat mereka- dan selalu mencari bakat baru yang kadang tersembunyi di balik sikap menyerah

akulah yang paling beruntung di antara semua pekerja

seorang dokter diizinkan untuk mengantar kehidupan ke dalam dunia dalam satu saat ajaib, aku diizinkan melihat kehidupan itu dilahirkan kembali setiap hari
bersama pertanyaan baru, gagasan baru, dan persahabatan baru.
seorang arsitek tahu bahwa jika ia membangun dengan teliti, bangunannya mungkin akan berdiri selama berabad-abad. Seorang guru tahu bahwa jika ia membangun dengan cinta dan kebenaran, apa yang ia bangun akan abadi

aku seorang pejuang, setiap hari bertempur melawan tekanan teman, sikap negatif, rasa takut, cara berpikir seragam prasangka, kebodohan, dan kelesuan.
tapi aku memiliki sekutu hebat: kecerdasan, rasa ingin tahu, dukungan orang tua, berbagai individu, kreatifitas, iman, cinta, dan tawa
semua bergegas menghampiriku dengan dukungan yang luar biasa.

dan kepada siapa lagi aku harus berterimakasih atas hidup indah yang begitu beruntung bisa kujalani ini selain kepada kalian, masyarakat, dan para orangtua. karena kalian telah memberiku kehormatan besar dengan mempercayaiku untuk mendidik sumbangan terbesar kalian bagi keabadian, anak-anak kalian.

aku seorang guru.. dan untuk itu aku bersyukur kepada Tuhan setiap hari


tulisan ini indah sekali.. saya bisa membayangkan guru-guru saya dulu merasakan itu semua, dan juga rekan kerja saya sekarang yang telah menikmati keindahan sebagai tenaga pendidik jauh lebih dulu daripada saya.

Hanya satu tahun menjadi guru -di sekolah ini, itupun jauh dari kata sempurna dan samasekali tidak layak merasakan emosi yang nyata tersirat dalam tulisan diatas.. Saya hanya cukup yakin, dan terus berharap bahwa satu tahun saya sebagai guru tidak berlalu sia-sia.. semoga ada pesan dan teladan yang nyata.. atau setidaknya sepotong janji persahabatan dengan mereka..
saya beryukur pada Tuhan atas setiap suka, duka, dan segala-sesuatu-diantara-keduanya selama menjadi guru. lebih dari itu, saya bersyukur karena saya diberi murid-murid yang luar biasa, yang mendudukkan saya kembali untuk belajar! :)
selamat hari Guru! untuk para Guru. dan untuk setiap kita yang dipercayakan Tuhan menjadi guru untuk satu sama lain manusia di bumi ini..

saya menutup tulisan ini dengan quote yang sungguh-sungguh sangat sederhana
"jika kau bisa membaca tulisan ini, berterimakasihlah kepada seorang guru!" -Stiker Bemper