Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Kincir Angin Masa Kecil

Ketika melewati sebuah lorong gedung tertentu langkah saya terhenti di depan deretan poster-poster karya pemenang dari sebuah kompetisi bertema lingkungan hidup. Hanya tergelitik sepakat dalam angan disertai imbuhan miris dalam porsi yang wajar ketika membaca kutipan ini:

"Jika pohon terakhir akan ditebang, dan mata air terakhir berhenti mengalir,
Mungkin baru saat itu manusia sadar bahwa uang tidak dapat dimakan."

Mungkin benar, itulah yang akan terjadi jika banyak pihak terus memperlakukan alam dengan seenaknya. Di Kelas Biologi ketika saya masih berbalut pakaian putih-biru sudah disinggung bahwa ada beberapa sumber daya alam yang memang tidak dapat diperbarui. Ada batas terhadap segala sesuatunya, itu fakta. Tapi saya yang adalah sarjana sosial juga tak pakar dalam hal itu dan tidak cukup kompeten untuk memberi berbagai pandangan serius dan teoritis. Satu yang saya yakini adalah prinsip konservatif yang dengan padat lugas diucapkan oleh seorang novelis tahun 1800-an pemenang penghargaan Literatur Pulitzer, Edna Feber, “Perhaps too much of everything is as bad as too little.”
Seperti sosial media yang melekat di kawula muda seantero dunia, telah dimanfaatkan untuk berbagai hal positif, dan telah bertransformasi menjadi kebutuhan. Ketika digunakan berlebihan juga membawa pengaruh buruk. Catatan lain penting di dunia maya adalah eksistensi sebuah peraturan tanpa aksara – etika nama lainnya – yang menjauhkan kita dari cemooh dan gerah para netizen lainnya.
Pemanfaatan energi berprinsip tak jauh berbeda, namun dalam konsekuensi yang jauh lebih serius sebab berkaitan dengan alam dan hajat hidup orang banyak. Kita membutuhkan energi dalam banyak bentuk. Minyak, gas, dan listrik, yang paling sering kita jumpai. Mulai menjadi masalah ketika pemanfaatan itu mengasumsikan kita adalah pengguna tunggal dan semakin parah jika ada rasa abai tentang batas dari energi tersebut. Pemborosan merupakan cerminan khas dan utama dari asumsi yang salah serta rasa abai. Inilah PR pertama kita: membenahi pola pikir. Tidak tuntas disitu, tugas selanjutnya adalah tentang tindakan nyata demi terwujudnya sustainablity. Penghematan sudah merupakan keharusan, itu tiada lagi berpilihan. Alam kita menyediakan yang tak terbatas sebenarnya, hanya kadang kita sudah terjebak dalam nyaman terhadap sesuatu yang sudah rutin kita gunakan. Sebut saja energi fosil berupa minyak bumi dan batu bara. Ketergantungan ini perlu dikoreksi, tak ubahnya ulangan harian dari siswa sekolah. Jika alam dapat bicara, mungkin dengan suara parau dia akan menunjukkan sisi-sisi dari dirinya yang belum banyak tersentuh. Angin misalnya.
 “Yuk beli kincir angin”
Ajakan seorang teman kala masa kecil menyelinap dalam jeda lamunan saya tentang pemanfaatan energi angin di masyarakat kita. Sebagai anak desa, saya akrab dengan mainan itu selain petak umpet dan juga layangan pastinya. Ada kalanya uang jajan kami habis dan memaksa kami membuat sendiri. Bermodal kertas atau botol plastik bekas, kami berkreasi. Penghematan dilakukan, rasa senangpun didapat.
Konon anak kecil adalah sumber inspirasi. Di balik kepolosan, ada banyak hikmah yang dapat dipelajari. Selama menjadi guru SMP, saya membuktikan kebenarannya. Lalu tiba-tiba membayangkan andai kita bisa menjadi mereka. Didorong keterbatasan uang saku, lahirlah kincir angin kreasi sendiri. Keinginan untuk menciptakan sesuatu kerap muncul usai merasa kurang atau saat apa yang biasanya kita gunakan sudah habis. Merasa tidak nyaman adalah permulaan penting. Sayangnya, kita belum ada di tahap itu. Mungkinkah kita harus menunggu minyak bumi habis, barulah ada keinginan untuk memanfaat sesuatu yang berbeda? Harusnya tidak.
Ada banyak sekali bagian dari alam ini yang dapat lebih dieksplorasi. Bahkan fenomena pasang surut gelombang bukan saja menginspirasi para penyair namun juga ilmuwan, Tidal wave energy contoh hasilnya. Anginpun demikian, tidak sebatas digunakan untuk menceriakan masa kanak-kanak. Kincir angin dalam ukuran yang lebih besar dan material lebih berat sudah terbukti bermanfaat di berbagai lokasi negeri ini. Kota Jakarta yang kerap menjadi sasaran berbagai keluhan juga telah memberikan contoh pintar, yaitu dengan memanfaatkan panel surya di lampu-lampu jalan tol. Mobil listrik, walau belum benar-benar ditanggapi serius oleh pemerintah, tetap merupakan inovasi yang layak diperhitungkan dalam upaya penghematan bahan bakar minyak. Sudah banyak yang dilakukan dan ini tidak dapat didustakan. Namun masih ada banyak lagi yang dapat diupayakan. Geothermal mungkin salah satunya. Memanfaatkan posisi strategis Indonesia sebagai salah satu Ring of Fire adalah pilihan cerdas. Indonesia sudah melakukannya namun belum dalam tingkat signifikan jika dibandingkan berbagai hasil studi tentang tingkat panas bumi yang sangat tinggi di negeri ini. Jumlah PLTP kita bahkan tidak lebih banyak dari jumlah jari di tangan kita. Sangat potensial namun belum menjadi familiar dan belum bertransformasi sebagai pilihan favorit.
Seperti kegiatan membuat kincir angin mainan, semua membutuhkan bahan-bahan tertentu. Keengganan untuk menciptakan atau mengubah suatu cara konvensional sering terbentur dengan mahalnya biaya awal yang harus dikeluarkan. Investasi, itulah kata kuncinya. Bermula dengan alokasi dana khusus di awal sebelum menikmati potensial manfaat. Ini seperti alur bisnis pada normalnya, tinggal mencari tahu siapa yang cukup peduli untuk merealisasikannya. Akan ada keuntungan, pastinya bagi khalayak yang terus haus akan energi seiring pertumbuhan ekonomi dan juga bagi pelaku bisnis.
Kita ada di sebuah negeri yang begitu besar nan strategis, tapi akan menjadi percuma jika pola pikir kita masih salah dan penuh kemalasan. Resource Curse merupakan teori terkenal, dimana melimpahnya sumber daya alam tidak selalu sinonim dengan segala hal positif. Ada dampak negatif yang terselip. Namun itupun dapat diubah, itu bukan sebuah keniscayaan. Ketika ada pola pikir yang tepat disertai tindakan yang nyata dan cerdas, maka keadaan akan membaik. Banyak sekali karya innovator muda di negeri ini yang berusaha membuktikannya. Mereka patut dihargai lebih. Bukan saja perkara hak paten atau pujian, namun lebih pada dukungan nyata dari berbagai pihak. Sinergi, kali ini kata kuncinya. Apapun sisi menawan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif akan sia-sia jika tanpa karya inovatif dan keseriusan yang masif. Ini PR kita semua untuk membenahi pola pikir, melakukan penghematan, dan lebih jeli memanfaatkan energi alternatif. Ini usaha kita bersama. Seperti membuat mainan kincir angin, tidak asyik jika dilakukan sendirian.

*tulisan ini adalah artikel yang dikirimkan untuk mengikuti kompetisi menulis dari Total energy*


Lihatlah betapa korupnya negeri ini,
ketika pejabat seakan tak punya malu lagi.

Penjajahan bukan lagi soal senapan,
tapi komisi besar menutup mulut perjuangan negeri.
Suap dimana-mana, korupsi merajarela.

Makin tak heran sebuah judul film berkata: "sungguh lucunya negeri ini"

Tapi selain itu semua, pernahkah menengok begitu melimpahnya kearifan lokal negeri ini?

Satu prinsip kuno yang baru saya pelajari hari ini adalah: "tuna satak, bati sanak"
yang artinya, kadang tidak untung berupa uang tak apa, asal jaringan makin meluas.
wah wah, para motivator dunia yang menekankan tentang jaringan daripada profit dollar bisa jadi meniru falsafah kuno kita ini.
selain itu, selama saya sebulan lebih di negeri asing, saya nyaris tidak pernah melihat ada percakapan antara dua orang yang tidak mengenal di sebuah bus kota atau tempat umum tertentu. bandingkan dengan disini, percakapan kecil di bemo hanya untuk sekedar bertanya "turun mana mbak" akan kita temui dengan mudah.
kebiasaan-kebiasaan luhur negeri ini begitu banyak. belum lagi jika kita bicarakan makanannya yang beraneka ragam, kain tradisional dari banyak tempat yang sungguh menawan.
surga dunia paling mainstream pun tak pernah sepi.
gunung megah yang menjulang.
prestasi anak negeri yang tak pula bisa dipungkiri.
jadi jika anda menanyakan saya, kenapa saya mencintai Indonesia, saya bisa jawab dengan sangat mudah.
saya cinta keberagamannya, saya cinta alamnya, saya cinta makanannya, saya cinta senyum sapa ramah orang-orangnya, saya cinta kemerduan alat musik tradisionalnya, saya cinta hampir semuanya di negeri ini.
hanya dua yang saya benci, pemerintahannya dan para golongan sok agamis yang terus memaksakan homogenitas negeri.

sang guru senior di ujung percakapan sore tadi bertanya "miss adiss ini kok bisa cinta banget sama Indonesia" lalu saya dengan lugu menjawab "saya juga gak nyangka bisa cinta banget sama negeri ini bu"

jadi moral percakapan tadi sangat sederhana, kecintaan ke Indonesia itu mudah. asal sejenak berhenti melihat pemerintahannya. :)


Tidak perlu menjadi seorang berparas rupawan dan ikut acara tahunan bergengsi di sebuah stasiun tv swasta, untuk mendapatkan panggilan “miss” :)
Sebuah tanggung jawab sebagai seorang pendidik melekat dibalik empat huruf itu.
namun panggilan yang sama mengingatkan bukan hanya tentang beban, tapi juga sukacita.
Bukan hanya tentang pekerjaan tapi panggilan
diri saya yang sebenarnya tidak pernah terungkap di ruang guru. Disana hanya tempat untuk singgah dan mengambil jeda di tengah kerasnya kehidupan kelas.
Agaknya seperti kehadiran mall di tengah perjuangan suka duka universitas.
di kelas, saya jatuh cinta.

Di durasi 40 menit di antara bel yang berdering, ada banyak cerita yang sudah dibagi, bahkan air mata pun pernah tercurah.
Di kelas, saya bermain peran. Kadang marah layaknya seorang panglima militer, kadang menurunkan nada dan berperingai lembut sebagai ibu.
Kadang saya hanya tertawa dan mengijinkan saya ditertawakan -bukan karena rasa hormat akan guru terlalu murah- tapi karena saya sedang ada dalam posisi sebagai kawan mereka.
Di kelas saya dipaksa menjadi wikipedia, mengetahui banyak hal dan harus selalu siap menjawab banyak pertanyaan.
Di kelas, saya menjaga agar sikap saya terpuji dan jadi teladan. Namun tak jarang saya buka kebobrokan dan kekonyolan masa lalu, agar mereka tidak jatuh pada lubang yang serupa.
Di kelas saya belajar, itu yang terpenting. Dan membuat saya tertunduk mengagumi hukum semesta yang agung di segala kepercayaan: “semakin banyak kamu menabur, semakin banyak kamu menuai”




Dan di ruang yang sama, saya menemukan alasan untuk bersyukur, hari lepas hari.
Saya rasa, saya telah gagal dalam mendidik murid dalam kedisiplinan. Pada akhirnya, saya sering kalah dengan rasa tidak tega. Saya bukan guru yang baik. Kelas saya berisik. Tapi bagaimanapun, saya tetap guru, saya membagi ilmu.
Di sela-sela usaha menjadi seorang yang layak mendapat hormat mereka, sekarang saya justru mengubah nada doa saya, agar Pencipta melayakkan saya mendapatkan kasih mereka. Itu berharga.
Tidak lama lagi saya akan menjadi mantan guru mereka, tapi selama panggilan “miss” itu bersua, maka saya akan tetap jadi seseorang yang dengan taat duduk diam membalas chat ataupun memberi telinga untuk mendengarkan.

Masa mendidik di bangku sekolah hampir habis. Masa bercengkrama di kelas, telah diambang batas, tapi masa jatuh cinta pada mereka akan tinggal tetap, selama mereka masih mau memanggil saya “miss”
... lalu saat saya membuka pintu, para siswa membawa lilin kecil di kelas, berbalik badan menghadap saya dan menyanyikan lagu "happy wedding miss adiss" dengan menggunakan melodi dari lagu selamat ulang tahun.
dimulai dari pertanyaan salah seorang siswa yang tergolong kepo tentang kapan saya menikah, memorable moment inipun dimulai. Dengan jujur saya jawab "usia 26" tanpa diduga, siswa tersebut berteriak membroadcast-kan secara lisan ke teman sekelas. kericuhan di kelas membuat pesan yang disampaikan tidak persis sama dengan apa yang diterima. Dengan respon terkejut mereka berteriak "miss adiss tanggal 26 menikah"
percakapan ini jadi awal mula gosip tanggal pernikahan saya.
saya hanya tersenyum, tanpa membenarkan dan tidak pula berusaha membunuh antusiasme gosip itu. pada akhirnya, tanpa disangka, penerimaan saya akan gosip ini justru jadi awal mula salah satu catatan terbaik selama satu tahun menjadi guru ini.
cake, lilin-lilin kecil, lagu, pie susu, dan kartu ucapan yang super imut menjadikan tanggal 26Februari2014 begitu berkesan. Februari ini benar-benar magical buat saya.

tanpa mengurangi makna dari kata "wedding" itu sendiri, saya mengucap syukur gosip pernikahan ini telah mengakrabkan saya dengan siswa. Semakin sempurna karena ternyata seseorang khusus, dengan begitu antusias menjadikan gosip ini sebagai doa baik bagi kami berdua. dan dengan sangat lugu berkata "lima tahun lg ya Diss" :) dan saya dengan senyum berkata "amin"

untuk melengkapi keceriaan hari itu, saya dengan sengaja membuatkan jelly dengan kreasi penuh warna. Cheerful jelly -begitu saya menamakannya- akhirnya dilahap habis oleh para siswa. Sempurnah!

"big thanks 9C. for the surprise! :D walaupun gak nikah beneran, tapi tetep excited. saya anggap ini doa. selamat ketemu di wedding saya sesungguhnya!! :D once again, thank you :D"
keputusan menjadi guru satu tahun ini, bisa saya simpulkan sebagai salah satu keputusan terbaik yang saya buat. saya hanya bisa tersenyum kecil, "Happy Wedding miss Adiss" telah memeriahkan minggu terakhir Februari yang sungguh penuh tekanan dan tanggungan kerjaan. and for that, I thank God.

Ada sebuah survey, seribu orang ditanya apa mereka mau tahu kapan mereka mati. 96 persen mengatakan tidak. Aku lebih memilih pada 4 persen. Ku pikir itu akan membuatku lega, untuk mengetahui berapa lama lagi waktuku berkarya.
Itu adalah cuplikan dari perkataan Carter dalam film favorit saya: the bucket lists
Saya sependapat! Tanpa berusaha menjadi anti-mainstream, kenyataannya saya tergolong 4 persen itu.

Hak yang tidak akan pernah dimiliki oleh manusia adalah berkata “aku belum siap” saat Tuhan sudah menetapkan tanda titik dalam hidupnya.

Bukan pula hak seorang insan-pun di bumi untuk menawar, atau sekedar meminta perpanjangan waktu menyelesaikan yang belum tuntas.

Pada akhirnya kematian, sesuatu yang terlihat “masih lama” itu sangat dekat dengan kita. Sangat dekat.

Saya tumbuh dengan kenyataan beberapa sanak keluarga saya Tuhan panggil di usia yang belum terlalu tua, bahkan beberapa diantara mereka tergolong terlalu dini untuk mengakhiri hidup. Sepertinya Tuhan berusaha mengingatkan saya sesuatu: kematian itu dekat.

Saya tidak tahu, apa yang akan saya lakukan di surga kelak. Apakah benar saya bisa menoleh ke bumi dan melihat bagaimana kelereng hijau terus berputar. Atau sungguhkah saya bisa mengintip orang-orang terkasih saya dan melihat bagaimana mereka menjalani hidup pasca kematian saya?
Tanpa terlalu ingin memberi makan rasa penasaran itu, satu yang saya tahu dengan jelas: kematian itu memang dekat. Dan fakta berikutnya adalah: saya ingin dikenang.


bersambung  (…)
This valentine was so special, dan jelas saya bakal berceloteh di sini untuk menceritakan sedetail-detailnya 2 hari istimewa ini. As I remember, I’ve been celebrate valentine since I was in junior high school. But I can tell you that this valentine is most special valentine I ever had! Most special and the sweetest one >,< you’ll know later.

I do agree that 14 February is only a number, and I never said that we must wait till that day come to share something, and to do something out of ‘normal’. Tapi untuk beberapa hal, sebuah identitas “tanggal” menyempurnakan sebuah kesan. Menurut saya begitu. Jadi jangan takut melakukan sesuatu di-luar-kebiasaan di tanggal istimewa.




Pudding


I made something by my own for my beloved students finally. Awalnya mikir gak bisa wujudin ini gara-gara alasan “I have no enough time” tapi nasihat klasik bilang “you will never have enough time, you have to make it” dan akhirnya saya memutuskan membuatkan pudding untuk murid-murid 7D dan beberapa orang terdekat saya di sekolah. Di tengah gerimis membasahi kepala dan becek mengotori kaki, saya berjalan kaki membeli cup-cup pudding, dan bahan-bahan di toko sekitar kosan. Lalu saya mulai membuat, dari adonan coklat, moka, caramel, dan strawberry. Dari jam 7 sampai jam 11. Di tengah empat jam itu, dengan kondisi kepala agak pusing akibat gerimis, seingat saya, senyuman tak pergi dari bibir. Tanpa keluhan bukan karena tak ada rasa lelah, tapi karena saya tahu untuk siapa saya melakukan ini, untuk mereka yang saya kasihi.
Pelajaran berharga di dapur: cinta membuat sesuatu menjadi ringan.

Coklat
Valentine tak lengkap tanpa coklat. Bukan begitu? Dan ini jelas valentine ter-manis yang pernah saya alami. Belasan batang coklat mewarnai meja kerja saya, sebagai pemberian dari murid-murid saya. Ah so happy! Walaupun akhirnya bingung ini gimana ngabisinnya. Bisa dipastikan valentine tahun depan, saya akan merindukan tumpukan coklat semacam ini :( lalu di tengah lumeran coklat di mulut, saya tersenyum kecil menyadari seberapapun dewasa atau tua-nya usia, kita tetap bahagia ketika orang lain memberikan sesuatu untuk kita. Tidak terlupakan, itu fakta sederhana yang membahagiakan.



Friendship Card
Saya selalu rindu, setiap orang terdekat saya menyimpan sesuatu yang berwujud untuk mengenang saya. Fakta bahwa saya –dan kita semua- akan meninggal itu sangat menolong untuk belajar menyisakan sesuatu yang baik di muka bumi ini, setidaknya di ingatan dan di tangan orang-orang terdekat. Dengan keterbatasan kreativitas saya buatkan sebuah kartu sederhana yang setidaknya mengingatkan dua sahabat saya ini bagaimana saya bersyukur memiliki mereka. Ketika membuatkan kartu ini, saya sedang berada di sekolah di tengah kekosongan akibat siswa diliburkan mendadak pasca hujan abu parah di Surabaya. Seorang rekan guru, melihat saya berkutat dengan guntingan dan sebagainya lalu dengan polos berkomentar “miss adiss ini romantis ya.” Haha sontak saya tertawa. Entahlah itu menggelikan, tapi membuat saya tersanjung bagaimanapun.
Ohya kembali ke topik, kami bertiga –saya, Helen, kak Ajeng- sudah merencanakan cukup lama untuk mencoret bucket lists nomor 10 kami: minum kopi luwak. Akhirnya, terwujud! Puji Tuhan.
Saya bahagia, karena saya membuatkan sesuatu untuk sahabat saya, karena saya bisa minum kopi termahal di dunia asli Indonesia, karena saya bisa mencoret wishlist saya, dan karena saya tidak sendirian melewatkan malam itu.


Old friend
Persahabatan konon semakin teruji oleh waktu, dan jarak. Kebahagiaan saya di tanggal 14 tidak berhenti. Esoknya (baca: tanggal 15) saya lagi-lagi bersyukur karena skenario yang Tuhan siapkan. Saya bisa bertemu teman lama saya, teman sejak SMP hingga saya sekarang jadi guru anak SMP. Kita berpisah SMA, kuliah, berpisah kota, dan tidak selalu punya cukup kesempatan bercengkrama bahkan walau hanya melalui sosial media. Tapi ketika kami bertemu, kenangan lama pun membaur. Kami tidak menjadi orang asing bagi satu sama lain, bercerita layaknya tak ada lagi kesibukan yang menanti. 3 jam mengobrol mengobati rasa kangen dan menyempurnakan bulan kasih sayang ini.


Lovely Patty
Yang membuat manis hari-hari ini tak juga kehabisan ide, rasanya belum cukup membuat saya bahagia. Tanggal 15 malam, saya bergabung di komunitas rohani saya (selain uk3): RessYouth. Acara gathering kali ini agendanya makan burger bareng-bareng. Simple sih, tapi penuh sukacita! Burger tipis kadang jauh lebih enak ketika dimakan bersama kawan-kawan daripada burger berlapis-lapis yang dimakan sendirian. Asik. Dan pastinya malam itu, sukacita saya terlengkapi dengan dua hal yang saya sangat suka: es nutrisari dan kartu (baik remi ataupun uno)!!


A phone call
Last but not least, telpon dari seseorang menyempurnakan dua hari penuh kasih ini. Bercengkrama walau hanya lewat telpon sudah sangat cukup. Tidak jauh berbeda dengan valentine sebelumnya, masih sendiri. Hanya, valentine kali ini sudah ada seseorang istimewa yang saya doakan. Penuh keraguan tentang kisah ini, mengingat beberapa hal. Kadang ada ketakutan ending kisah ini tidak seperti yang saya impikan dan lebih baik diakhiri lebih awal sebelum terlalu jauh. Tapi sama seperti hari-hari lalu, sebuah panggilan dan percakapan telpon selalu berhasil mengingatkan bahwa hal ini layak diperjuangkan. Dan di paragraph ini, saya hanya ingin mengutip kalimat Paulus ketika mengingat jemaat Filipi “every time I think of you, I give thanks to my God” (Philippians 1:3)

Pembelajaran utama dari valentine tahun ini adalah : kasih itu ditindaknyatakan. Berupa pudding, burger, atau hanya sekedar menyempatkan waktu bertemu kawan lama. Berwujud kartu, coklat, atau panggilan telpon. Kasih itu sebuah verb, kata kerja aktif, yang harus dikonversikan melalui sebuah tindakan.
"one simple act of kindness spoke louder than a thousand profound love" :)

*tulisan bahagia ini tidak luput dari kesedihan akibat bencana gunung Kelud. Semoga para korban diberikan penghiburan dari sang Pencipta. Amin.
"tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian"

-the five people you met in heaven (Mitch Albom)
Sudah fakta lawas bahwa menjadi guru bukanlah hal mudah, tapi harus diakui menjadi guru Pendidikan Kewarganegaraan memiliki tantangan khas tersendiri. Berdiri menjelaskan tentang Negara di hadapan para siswa yang mungkin sudah bosan dengan berbagai kabar buruk tentang Indonesia, samasekali tak mudah. Hal ideal selalu terbentur dengan pesimistis pikiran, Namun tantangan kadang sinonim dengan peluang. Sejak saat itu saya bertekad memanfaatkan status sebagai tenaga pendidik untuk beraksi.

Suatu kali saya adakan sebuah kuis di kelas, lalu di pertanyaan terakhir saya sisipkan satu perintah: “tuliskan tiga hal baik dan satu hal buruk dari Indonesia.” Serentak saya dihujani berbagai protes. Dengan nada mengeluh para siswa kebingungan mencari apa yang baik yang bisa dibanggakan di negeri ini? Kebingungan ini agaknya beralasan, sebab berita terlalu berisik dengan carut marut politik. Kejadian ini membuat saya berpikir, sungguhkah mereka tidak tahu betapa banyaknya hal cantik dan menarik di Bumi Pertiwi?
Waktu berselang cukup lama, hingga Saat pembahasan sampai pada topik globalisasi. Berbeda dengan topik sebelemunya yang kebanyakan memanfaatkan aktivitas di kelas untuk menunjuang kreativitas dan pemahaman akan teori, kali ini saya tergelitik untuk lebih mendekatkan para peserta didik pada kegiatan di luar kelas untuk memahami aplikasi dari teori itu sendiri. Inti dari Globalisasi yang saat itu saya sampaikan cukup sederhana: “globalisasi itu ruang dimana jika kita lengah kita kalah.” Hal itu saya tekankan dengan sebuah rencana proyek tertentu. Mengingat bahwa globalisasi sendiri adalah masa kejayaan informasi, maka proyek bersama saya arahkan ke hal tersebut.
Tetap berbalut dengan pelajaran PKN, saya mencoba mengintegrasikan kemampuan penguasaan teknologi informasi khas globalisasi dengan kecintaan akan negeri. Satu proyek ini saya namakan: Promote Indonesia. Bukan nama yang unik apalagi bombastis, tapi ada niat tulus di baliknya. Jangan kira penerimaan siswa akan hal ini berjalan mulus, banyak juga keluhan yang menghampiri meja saya. Namun menyerah pada kemalasan atau komentar negative tak akan memperbaiki keadaan. Begitu kira-kira prinsip saya. Sepenuhnya sadar bahwa kebanyakan siswa melakukan ini bukan karena sungguh mencintai Indonesia, namun tidak lain karena tuntutan dan keinginan akan nilai yang memuaskan. Tapi tak apa, setidaknya dengan tugas ini mereka ‘terpaksa’ mencari informasi tentang surga-surga terpencil di Indonesia serta ke-khas-an kuliner Indonesia. Melalui ini saya harap mereka sejenak beralih fokus dari pemberitaan negatif menuju fokus akan banyak hal yang bisa dibanggakan dari negeri yang gemah ripah loh jinawi ini.
Proyek ini sangat sederhana yaitu memberikan kewajiban para siswa memanfaatkan sosial media untuk membagikan tentang hal positif dari Indonesia. Pilihan sosial media yang saya tawarkan adalah Instagram dan Twitter, mengingat penggunaan tagar yang efektif dalam penyebarluasan isi pikiran. Dalam proyek ini mereka bukan hanya membagi sekedar gambar, namun juga informasi yang berkaitan. Misalkan berkenaan dengan perkiraan budget yang dibutuhkan dan akses menuju tempat wisata. Penilaian saya dasarkan pada keunikan konten dan cara penyampaian, yang semuanya dapat mengasah kretifitas mereka, dalam mengedit foto contohnya. Ini adalah kolaborasi Guru PKN bersama 76 siswa SMP untuk mempromosikan Indonesia yang berlangsung dua minggu, dengan topik wisata di minggu pertama dan kuliner di minggu kedua.

capture aktivitas instagram seorang siswa tentang wisata dari asal dia berada: Ternate






Capture dari aktivitas seorang siswa di twitter untuk promote Indonesia

Bagi saya, Guru bukan saja tentang membagi ilmu, namun juga membiuskan cinta pada peserta didiknya, Seperti guru matematika yang meyakinkan bahwa matematika itu asik dan berguna, guru Pendidikan Kewarganegaraan-pun serupa. Guru PKN bukan hanya tentang memenuhi kewajiban kurikulum tentang Pemerintahan Indonesia, namun membiuskan rasa bangga dan cinta akan Bangsa. Tindakan ini adalah cara saya memanfaatkan ‘hegemoni’ sebagai guru menggerakan siswa untuk ambil tindakan! Dampaknya adalah para siswa belajar menggunakan sosial media untuk hal yang berguna, membuat mereka mencari tahu tentang negerinya yang begitu indah, serta membagikan opini atau informasi positif tentang Indonesia kepada para pengguna social media lainnya. Aksi kecil lebih baik daripada tidak bertindak samasekali, aksi bersama lebih ampuh daripada aksi seorang diri. Hanya berupa tweet atau share foto di instagram, tak masalah. Daripada hanya mengkritik dan tidak berbuat apa-apa. Bukan begitu?



Salam dari kelas PKN.

"Tuhan, aku tahu aku harus memikul salib.
sama seperti Engkau yang telah terlebih dahulu melakukannya
memikul salib karena mengasihiku.
aku tidak mengeluh, Tuhan. sungguh.
aku hanya heran haruskah Salib-ku seberat ini?
dan aku penasaran tidak bisakah aku memikul Salib yang lebih indah?
lihat, salibku begitu usang, penuh goresan. aku malu
jika memang harus berat, tidak bisakah Engkau memberiku Salib yang lebih menawan?"




((kataku lugu penuh keluh pada Penciptaku.
dan Dia mendengar, dan Dia memberi jawab dengan cara-Nya))

satu saat aku melihat temanku memikul salib yang sangat indah
penuh permata dan berlapis emas di beberapa sisinya
sungguh menawan.
lalu aku tergoda untuk meminjamnya. mencoba memikulnya
tak ku sangka, salib itu jauh lebih berat dari salib usangku
indah, tapi jauh lebih cepat membuat bahu ku ngilu
ah sudahlah. usang-pun tak apa.

di saat yang lain, tak berselang lama
aku melihat salib lain yang tak kalah memikat
pesonanya bukan karena kilau logam mulia
kali ini karena penuh mawar mekar nan semerbak
lagi-lagi, aku manusia selalu termakan rasa penasaran
walau tidak separah rasa penasaran yang menuntun hawa mencoba buah terlarang
aku pun memikulnya
tidak berat. ah sungguh aku ingin bertukar salib.
sebelum cukup jauh, aku merasa ada yang salah
darah!! bahuku terluka karena duri-duri mawar itu
lilitan mawar indah juga tak memuaskan
bahkan lebih menyakitkan.
ah sudahlah, usang-pun tak apa.

aku menyerah.
salibku yang terbaik
aku berhenti mencari salib lain yang menawan
hanya berujung kekecewaan
aku pikul yang usang ini dengan iman
berat memang, pun semua salib yang lain

mengeluh tak lagi jadi pilihan
sudahlah, usang-pun tak apa"

source :
http://jeffsprayerconnection.blogspot.com/2013/03/take-up-your-cross-and-follow.html


catatan penulis :
ungkapan "pikul-lah Salib" bukan hal asing, terkhusus bagi umat Nasrani. Sudah tak terbilang lagi berapa kali saya diingatkan dan mendengar tentang hal itu, di gereja, renungan harian, atau di persekutuan. Tapi Firman Tuhan memang tidak pernah kehilangan pesonanya. Secara tersurat ataupun tersirat melalui perumpamaan. Tulisan ini saya buat karena terinspirasi dari renungan pagi yang dibagikan oleh Guru Agama di sekolah tempat saya mengajar. Semoga tulisan ini jadi pengingat bahwa beban kita adalah beban sesuai dengan kemampuan. Tugas kita bukan untuk membuktikan salib mana yang terbaik, namun membuktikan bahwa selalu ada iman dan kesetiaan yang menguatkan pundak kita untuk memikulnya..

Salib-ku tak indah, tapi aku bangga!
usang-pun, tak apa!



Saya sangat iseng siang ini (Jumat, 17 Januari) lalu melakukan apa yang pernah disarankan oleh dosen saat kuliah "coba googling namanu sendiri, semakin banyak muncul -kecuali sosial media- semakin nyata eksistensimu di globalisasi"




Memang saat itu pembahasannya terkait globalisasi, atau persempitan dunia lebih tepatnya.
ternyata, kebanyakan yang tercantum dari hasil pencarian google atas nama "claudya tio elleossa" adalah aktivitas sosial media saya sendiri. Mengecewakan.

Namun ada pula beberapa hasil pencarian yang bahkan tidak saya duga dari aktivitas dunia maya pihak lain










HANYA ENAM? Ah saya miskin prestasi sekali.
Hmmm.. mari mencoba menghibur diri sendiri, dari kekecewaan atas ketidakpopuleran ini. Walau hanya ada enam halaman google, syukurlah tidak ada satupun gambar negatif, atau umpatan, atau berita buruk lainnya. Sangat sedikit, tapi kebanyakan berupa hal positif yang spesifik. Saya LEGA.
setidaknya ketika gelar almarhum disematkan dibelakang gelar S.Hub.Int, saya mendapati diri saya meninggalkan dunia ini dengan goresan sangat kecil yang positif.

Saya bukan artis, bukan orang hebat, tapi setidaknya saya ingin meninggal suatu hari nanti dengan titipan hal baik nyata di hati orang lain. Ya, juga sambil berharap hasil pencarian google semakin banyak mencatatkan nama saya di kemudian hari. Ini niat yang tidak buruk bukan? 

Mari kita renungkan, goresan atau jejak seperti apakah yang akan kita tinggalkan saat kita meninggal nanti?