Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.


"silahkan ambil apa saja Tuhan, kalo ada sesuatu di dunia ini yang saya cari melebihi saya mencari-Mu"



Potongan doa polos ini diucapkan oleh seorang senior kenalan saya di persekutuan lintas kampus yang dia ketikkan di sebuah jejaring sosial tepat saat ulang tahunnya. Jika bagimu itu adalah doa yang mudah? maka standing applause bahkan sujud kagum mungkin harus saya dedikasikan. Karena hingga detik ini saya belum benar-benar berani dengan tulus meminta hal yang sama. Sisi pengecut terlalu takut kehilangan banyak hal di dunia ini yang kenyataannya memang menyenangkan.


Cinta saya pada Pencipta memang masih harus dipertanyakan. sangat dipertanyakan. Saya mendapati bahwa berkata "terserah" pasa Empunya hidup bukanlah hal mudah. Kalaupun mudah, itu jua bukan pilihan favorit saya. Sungguh saya ini hamba keras kepala!

Tidak jauh berbeda dengan kalimat doa pertama yang saya kutip di awal tulisan ini, kalimat "jadilah padaku seperti kehendakMu" juga tak kalah menguras kerendahan hati sekaligus keberanian yang tak terhingga. Lewat satu kalimat itu terkandung penyerahan diri yang luar biasa dan kepercayaan yang utuh, bahwa APAPUN keputusan Pencipta -bahkan walau membunuh mimpinya- adalah hal terbaik.

Lagi-lagi itu bukan pilihan yang akan saya idamkan. Bagi hamba bodoh dan egois ini, menemukan titik temu antara mimpi pribadi dan kehendak sang Khalik jauh lebih merdu terdengar.
Masih terbersit "semoga" agar saya dapat menemukan titik temu itu. Kalaupun tidak, mungkin memang waktunya bagi hamba tak berguna ini untuk belajar rendah hati berkata "terserah" pada Pencipta-nya :)


Di sebuah sudut toko buku terkemuka, seorang mas mendekat dan menawarkan pembukaan rekening sebuah akun bank tertentu. Singkatnya, dia sampai ke pertanyaan: kerja dimana. Saya jawablah: "dulu guru." Namun agaknya kata 'dulu' yang identik dengan masa lampau ini tak memuaskannya sebagai penanya. Dia bergeser pada pertanyaan:  "kalau sekarang?" dan entah ada angin apa saya jawab: "penulis" :') benar-benar pertama kalinya menyebut diri dengan status itu.

Konon kata-kata adalah doa, jadi anggaplah jawaban itu bukan sebagai kebohongan tapi optimisme doa :)

Apalagi katanya, cita-cita yg kita bagi justru lebih mudah terwujud, karena ada tekanan rasa malu pada sesama jika akhirnya mimpi yang kita ceritakan tak terwujud.

Awalnya aku simpan rapat apa yang jadi impian, pikirku biarlah ini jadi rahasia antara aku dan Pencipta semesta, tapi dengan nyali yang tersisa, dengan remah-remah harap yang masih ada, aku ceritakan mimpi ini.




Sudah ketiga orang, dua sahabat dan satu kekasih. Lalu aku temukan seberkas cahaya optimisme dari mereka, yang entah kemana nyalanya sebulan terakhir. Aku putuskan sore ini untuk membaginya di sini.
Aku sungguh ingin jadi penulis. Ini satu-satunya mimpi masa kecil yang masih mungkin aku wujudkan setelah menjadi astronot dan psikolog terbentur dinding kenyataan.

Aku tak ingin malu karena terlalu percaya diri, tapi bagaimanapun tak ada mimpi yang terlalu mustahil untuk diupayakan. Bukan begitu?

:)
Tuanku, yang membuat segala serba pantas,
mohon berikan hamba rasa cemas
dengan porsi paling pas
rapuhkan hati dan otak yang terlalu keras
apalagi kemalasan meminta jalan pintas

Ayah semesta yang memegang kendali
atas nafas hidup hingga titik mati
ijinkan anakMu terputus nadi dalam menertawakan diri
karena mengasihani sendiri adalah satu tapak pasti
kala kelam membaca jati diri

Pelatih hidup yang sangar,
latih aku, lewat suka ataupun sukar
beri aku suplemen nyali yang besar
untuk tegar menapaki jalan yang kasar

wahai sang Guru,
ajari apapun yang aku perlu tahu
didik aku walaupun penuh pilu
tapi jadikan jauh
segala sesuatu yang justru memancing ragu

dan untuk Kau yang Maha
untuk Kau sang pemilik saya
jadikan aku kristal kaca
walau rapuh tapi indah
sering terlupa tapi membuat sang Pemilik bangga
dan terpenting dari segala, selalu dijaga agar tak sampai pecah
hanya untuk Kau, aku membuat rima
salam rindu teduh dari gelas kaca



Di masa lampau ada begitu banyak pergumulan yg saya lalui, kadang mulus kadang menguras iman. Menjadi jobless sejujurnya hal kecil bagi saya apalagi di masa jobless ini saya benar-benar punya waktu menggarap mimpi saya.

Sejujurnya, sampai detik ini tak ada jaminan keberhasilan atas perjuangan saya. tapi bukankah lebih terhormat mati di tengah perjalan mencari sumur daripada tewas karena diam meratapi kehausan?

Ada banyak hal yang saya rindukan, dan walau perlahan dan terlihat tak pasti, Tuhan begitu bermurah mewujudkan. Ada banyak masalah yang menempa, walau menguras air mata dan terlihat tak berujung toh akhirnya selalu berakhir indah.




aku tak pernah ragu akan Tuhanku.
aku ragu akan diriku, mampukah tuntas menggarap mimpi ini.
dan ragu akan orang-orang terdekatku, sabarkah menunggu mimpi ini terealisasi.

Jangan khawatirkan aku, kawan!
tapi tolong khawatirkan aku, Tuhan!

Entah sudah berapa banyak angkutan umum yang saya 'nikmati' selama di surabaya. dan sudah banyak sekali hal berharga yang saya temukan di jalan raya di tengah lampu merah saat duduk di bemo yang punya banyak pilihan warna.

 

Di tengah terik surabaya seorang supir dari angkot E yang saya tumpangi, membisikan kebenaran bahwa "kebaikan adalah bahasa universal manusia"

 


Awalnya saya terkesan dengan bagaimana dia bersedia menurunkan penumpang usia baya di sisi kanan jalan mengingat ibu tersebut memang menuju ke tempat yang ada di kanan jalan. Hal ini saya anggap kebaikan signifikan karena saya pernah meminta hal serupa dulu, dan supir angkot saat itu justru menolak dengan judesnya.

 

Masih dengan supir yang sama, seorang penumpang salah naik angkot. Di tengah perjalanan obrolan singkat membuat ibu berkerudung merah tua itu menyadari bahwa angkot yang dia tumpangi tidak mengarah ke tempat yang dia tuju. Tanpa diminta mas supir angkot yang memang belum terlalu tua itu menurunkan ibu tersebut di depan angkot yang seharusnya.

 

Pikir saya kenapa repot? Cukup turunkan di tempat lalu beri tahu apa angkot yang benar, sudah cukup. Lagi-lagi saya menangkap sebuah kualitas karakter di balik kaos lusuhnya. Puncaknya, kebaikan paling mengesankan adalah ketika di lampu merah depan RS Husada Utama, angkotnya berjejeran dengan angkot E lain. Percakapan singkat antara dua supir tersebut bukan sebagai dua orang yang berebut penumpang tapi sesama supir sepenanggungan.

 

Angkot tersebut hanya berisi satu penumpang, berbeda dengan angkot yang saya naiki, yaitu dengan 4 penumpang di dalamnya. Tiba-tiba dua perempuan hendak naik dab bergabung dengan kami berempat. Namun dengan mengejutkan dan tersirat ketulusan, mas supir justru menyuruh dua perempuan tadi naik ke angkot kawannya yang memang lebih sepi penumpang.

 

Kekaguman saya jelas terpancar di wajah, dan jika saya tak salah membaca suasana, penumpang lain menangkap aura kebaikan yang serupa.

 

"masih banyak orang baik di jalan kering kerontang Surabaya" begitu pikir saya.

Tiga kebaikan kecil dari seorang supir angkot setidaknya telah membuat empat penumpang saat itu turun dengan sebuah keyakinan bahwa memang masih banyak orang baik.

 


Andrea Sach di film The Devil Wears Prada secara anggun dan elegan menunjukkan pada kita bahwa setelah kuliah, setiap orang diperhadapkan pada banyak pilihan pekerjaan. ada kalanya kita harus terjun ke bidang yang tidak rencanakan. suatu lahan yang benar-benar baru untuk digarap. tapi dari situ akan terungkap potensi-potensi diri yang tersembunyi. sebelum akhirnya sampai pada pekerjaan impian.

mungkin untuk sebagian kita harus keluar-masuk beberapa kali sebelum akhirnya menemukan yang membahagiakan hati.
sebagian lain cukup bernyali membayar harga untuk sesuatu yang jelas dia tahu sehingga tak mau terjun seasalnya (seperti tulisan twin saya: UNTITLED | about my Life dan skenarioNya..)
dan pasti ada pula yang terlanjur nikmat dengan bidang baru, dan melupakan mimpi awalnya. bukan hal yang buruk, sungguh. bukankah cinta memang bisa berubah? :)

satu-satunya masalah adalah saat kita terjebak pada pekerjaan yang membuat kita menggerutu melulu. pekerjaan yang kita kerjakan tidak dengan sepenuh hati.

saya selalu suka bagian dari film konyol Mr.Deeds.

"All I'm saying is, when you were kids...

...did you dream about becoming a savvy investor one day who would think with his wallet instead of his heart?
Come on, I know I didn't.
I wanted to be a fireman. I wanted to be the guy everybody called on if they were in trouble.
I wanted to help people and yeah, I wanted to slide down those wicked awesome poles.
But money, that was the last thing I thought about.

What about you, sir? Did you want to be a fireman?
No, I did not. Truth be told, I wanted to be a veterinarian.

Cool. Why would you want to do that?
-I wanted to help sick animals.
And what do you do now?
-I own a chain of slaughterhouses.

You kind of went the other way on that one, didn't you?

Okay. In the back. Come on. Tell me what you wanted to be.

-I wanted to be a magician.
And what do you do now?
-I operate a pornographic website.
That makes people happy also, I guess. But kind of in a grosser way.

Who else?

-I wanted to be a senator.
-I wanted to be a florist.
-lnternational House Pancake.
-I wanted to be a Ping-Pong champion.

But you're not those things you wanted to be, are you?
Everybody made a compromise, then another compromise"

kita sering melakukan pengecualian, dan pengecualian lain. dan akhirnya menjadi sosok yang mungkin akan dibenci oleh masa anak-anak kita.
kadang saya hanya ingin idealis dan memperjuangkan itu. sudah dua bulan saya menganggur. tanpa mau pura-pura fine, saya mulai merasa khawatir. tapi, di tengah itu semua hari ini saya kembali menggarap mimpi lawas saya.



saya sudah menyerah akan mimpi masa kecil menjadi astronot, karena minim informasi dan peluang di Indonesia.
saya juga menyerah akan rasa rindu menjadi psikolog, karena pilihan patuh pada orang tua.
jadi sekali saja dalam hidup saya tidak ingin lagi menyerah. dengan alasan apapun. saya ingin dan akan jadi penulis!

dan saya harap, sebelum uang tabungan saya ludes, mimpi itu sudah terkonversi menjadi kenyataan :') pray for me ya! *karena kalau tidak, blog ini akan saya penuhi dengan keluhan serapah* hahaha
"Persahabatan bagai kepompong. Mengubah ulat menjadi kupu-kupu"

begitulah sebuah lirik lagu berbunyi. dan itulah juga yang sering terjadi. ini adalah tulisan yang saya temukan diantara tulisan berdebu di note facebook. kejadiannya 21 Januari, di kala saya masih memakai seragam putih-abu.

"liburan yang menyenangkan walaupun hari-hari sebelumnya seperti ruangan gelap karena terlambat membayar tagihan listrik.

aku, reni, adam, bagus, gita, dan renny, bermula dari kejenuhan menghabiskan waktu liburan tanpa petualangan. kita memutuskan pergi walau tak jauh, menghirup udara liburan yang identik dengan sebuah kebebasan dari rutinitas untuk mengerjakan PR dan berkutat dengan ulangan
pagi itu cerah serasa awan kelam pun cuti menampakkan diri. Namun semua berubah tanpa permisi untuk menyuramkan langit dan menyembunyikan senyuman mentari. Mendung datang dan hati pun mulai kalut. “byuuuuuuurr” hujan pun tak tertahan tumpah membasahi liburan ini . Tanpa sungkan sang tetesan air hujan perlahan namun pasti makin membuat kami menggigil seraya dengan super keotomatisannya gerombolan gerutu pun menetes dari bibir kami

Kami pulang. Beberapa jam kami sampai dan mencoba memperbaiki penampilan. Entah angin apa yang terhembus waktu itu hingga dengan segera tawa memecah suasana, tetangga tertawa melihat aku dan yang lain basah kuyup serta mengertakan gigi tanpa remote control.

sontak saja kami pun merasa konyol, langit pun tak mau ketinggalan untuk beri peertanda yang indah, aku mempelopori untuk melepas alas kaki dan keluar dari teras rumah itu, menengadahkan wajahku melihat betapa indah cara langit menumpahkan air kehidupan. Aku mulai tersadar ini terlihat sangat bodoh di mata para sahabatku dan yang paling bodoh mereka mengikuti kebodohan ku ini. benar memang, "good friends never let their friend, do silly things ... alone" Mereka turut terjun dan kita pun bernyanyi. Menikmati liburan indah ini dengan patuh pada kata peribahasa 'sudah basah mandi sekalian'

sebenarnya simple. Dari kehujanan jadi hujan-hujan, sebuah pembiasan dari metamorfosa ulat menjadi kupu-kupu yang harus melalui tahap menjadi kepompong. Dan kepompong inilah yang aku beri nama “ persahabatan “

aku bersyukur Tuhan membuat perahu ku singgah ke sebuah pelabuhan yang bernama persahabatan, saat aku lelah mendayung dalam samudra perjalanan kehidupan. Di pelabuhan ini aku belajar, mengerti bahwa mentari selalu bersinar dengan indah jika kita menikmatinya, aku mencoba memahami betapa suci udara pagi saat kita tahu bahwa di belahan lain dari bumi dan tatanan galaksi ini ada sudut yang terjamah oleh molekul udara yang menyejukkan hati."

sumber foto : www.livethroughtheheart.com


Banyak hal indah yang Tuhan ijinkan aku pelajari melalui sebuah persahabatan.
dan kali ini, mengingatkan saya pada sebuah petuah terkenal
"life isn't about waiting for the storm to pass, it's about learning how to dance in the rain"
It seems everything is confusing now. Holiday is always fascinating, but too much day-off is indeed boring and pointless. A long hard day I had been through makes me want to write this.

For some times, I asked God about a lot of things or may be just tried to awakening him for my suffer -as matter of fact, this suffer is because my own choice.-

In an angry voice I said "I don't know, God"
Not long after I whispered my self: "yes, you didn't know, and that's totally fine. Nobody ask you to figuring out what's going on here neither force you to explain these messy stuffs. The only thing they need is make sure that you are still trying, keep going, and never stop believing. Maybe there is one thing they ask you: eliminate every possibility to give up"

I guess closest people of mine doesn't get the point here. I mean, it's my fault because I didn't share this complete story to them. They think they understand me, maybe they do-maybe they don't. I've got a lot of supports and a fair amount of doubts, still from the same people. and nearly all of those make "this trying" even harder.




I'm wondering why they never let me responsible my fault by my own.

If I say I don't need any of their support, it will be a huge lie.

Not a day goes by that I don't think about these "next job" things. The temptation to complain came every minutes of my time. What I have to say? I've already made certain of what I want and now I'm on my leap (the tough one) to chase them, to pursue them.

I still won't let anybody to discover what I've planned. I just need they trust me one thing: these tiring things don't make me love them and God any less.

because I'm quite sure this truth: "experiencing difficult times is simply mean letting God navigate you to the best place you're supposed to be, while also make you witnessing His perfect Providence right before your eyes" :)
Setelah berjam-jam menghabiskan waktu sendiri dengan cemilan di sebuah tempat makan populer.. di tengah keasyikan saya menjelajah dunia pinterest, seorang teman SMP saya muncul di layar aplikasi sosial media. Dengan berbagai emote dia menceritakan kesedihan yg mendalam akibat kandasnya hubungan yang telah dirajut tujuh tahun lamanya.

Tak berselang lama, teman SMP lain, muncul di aplikasi sosial media yg sama. Dengan nada bangga bercerita bahwa telah menuntaskan jenjang kuliahnya. Bukan saja tepat waktu, tapi juga dengan catatan yang memuaskan.

Lalu, saya terhenyak mengingat bahwa tepat sehari sebelumnya hal senada terjadi.

Sahabat kuliah saya, seorang laki-laki yg kini merantau di ibukota, meminta waktu khusus untuk bertelepon dengan saya. Betapa senyum merekah melihat kawan saya ini sedang jatuh cinta. mendengar suara berselingtawa yang mengisyaratkan asmara yang nyata.
Tepat di waktu yang sama -di HP yang berbeda- kawan kuliah saya yang lain bertutur sedih lewat teks tentang ancaman tertunda yudisium akibat kesalahan yang bukan dari dirinya. Ikut khawatir jelas saat itu, karena saya tau persis sulitnya perjuangannya menuju gelar sarjana.

dua hari berturut-turut
dua kawan SMP
dua kawan kuliah
dua kisah sedih
dua kisah bahagia

Kebetulan ini tidak mengubah hidup saya secara dramatis, hanya harus diakui menjadikan saya lebih paham pada ungkapan lawas bahwa hidup seperti roda itu masih relevan. atau lebih manisnya. seperti naik bianglala: "sometimes you're up, sometimes you're down. in the end you just have to learn enjoy the ride (and found good friend to be with you)"

Pergantian suka dan duka, baik bagi kita sendiri atau hidup orang sekitar kita, siapa yang bisa mengaturnya kecuali sang Pencipta? Mendung dan terik datang bergantian. Itulah yang membuat kebijaksanaan dapat tumbuh di kehidupan.




Bagian penting lain yang tak kalah berkesan adalah, kesiapan ada di sekitar alat komunikasi. Kita tidak akan tahu kapan seorang kawan mencurahkan berbagai keluhan atau keceriaan. Kita tak bisa meraba kapan mereka menghampiri minta pedapat. Kita harus siap di sana, menjadi sahabat bak seorang suami yang istrinya sedang hamil tua. Mungkin memberi masukan, tapi seringnya sekadar memberi telinga untuk mendengarkan :)


"diss, pergumulanmu sama riyan itu salah satu cerita pergumulan PH favoritku. pelan, gak banyak yg tahu, dan akhirnya jadi."

-celetukan seorang teman di tengah seruput kopinya-

melewati smsan, ganti ke whatsapp, lalu bbm, dan diselingi bbrp telpon.

butuh setengah tahun dari ketemu kenalan sampai mulai smsan
satu per tigapuluhdua windu jarak dari smsan sampai mulai mendoakan
dan tepat 365 hari penantian sejak pertama mendoakan hingga bertatap muka berdua
dan selusin pekan dari natal 2013 (pertemuan berdua perdana) hingga mengambil komitmen dalam hubungan..

jadi jika ada orang yg mengira saya sedang madly in love karena BARU jadian, itu salah.
saya madly in love karena saya sudah dan sedang (dan semoga terus) memiliki hasil doa dan penantian, yg jauh lebih lama dari yg orang pernah duga.

jatuh cinta saya pada Riyan hanya sepersekian dari kekaguman saya pada Perajut kisah kami berdua.

saya kini bisa membagi hal berharga pada sesama teman wanita: penantian (pasangan) yg digantungkan pada Sutradara Semesta yg paling berdaulat, tidak mengecewakan.
dan semoga Kekasih disana juga berani menyimpulkan pada teman laki-laki nya: pencarian (pasangan) yg digantungkan pada Sutradara Semesta yg paling berdaulat tidak mengecewakan.