Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Alkisah ada dua orang yang sama-sama ingin jadi pelaut handal. Sebut saja A dan si B, untuk mempermudah. Mereka mendaftar di akademi pelayaran yang sama, namun skenario lanjutan mereka sangat berbeda.

Si A ditempatkan langsung di lautan. Semacam manifestasi prinsip "learning by doing" atau "practice makes perfect." Sedangkan si B di tempatkan di ruang kelas yang nyaman. Tenaga pengajar yang lembut namun tegas, kurikulum yang rapi. Sesekali praktek di lautan namun tetap penuh dengan pengawasan tenaga ahli dan berlokasi di laut yang juga bergelombang ringan. Pun, bukan tanpa tugas-tugas, namun semua masih dalam tahap normal yang tidak melelahkan.

Bertahun-tahun berlalu, satu tingkat selesai. Si A pulang dengan banyak memar dan luka menangani kapal di tengah lautan yang kejam. Dia jadi pelaut handal. Si B, dengan tubuh yang tergolong jelita, juga tak kalah. Diabpun menjadi pelaut handal.




Secuplik analogi ini akan mengantarkan kita pada dua tipe pelaut kehidupan ini. Mungkin kita juga akan mengerutkan alis bergumam betapa tidak adilnya skenario semacam itu bagi si A. Kemungkinanya ada dua, si A yang memang dianggap kurang pengalaman sehingga Guru merasa perlu mengirimkan dia langsung ke lautan keras, atau mungkin, Guru menilai bahwa hanya si A yang cukup mampu bertahan belajar langsung di laut.

Setiap orang dipercayakan hidup yang khas oleh sang Khalik, itu adalah sebuah keniscayaan. Lika-likunya begitu beragam sehingga sejenius apapun seseorang sepertinya tidak akan pernah mampu menyelami pemikiran yang Maha Agung. Jangankan menyelamai, untuk mengurai runtutnya saja terlampu sulit. Untuk sebagian orang, kehidupan terasa begitu rumit. Saya merasa ada di golongan itu. Kita semua agaknya merasa di golongan itu. Melihat bagaimana keluarga jatuh bangun, orang tua yang bertengkar hingga berpisah, menangis ketakutan mencari dana melanjutkan pendidikan, mengungsi tak punya rumah saat ulang tahun, dan bergelut dengan kebencian melihat ketidaksempurnaan orang sekitar.

Sekacau apapun itu, akhirnya terlewati. dan belum pernah saya menyesali dipercayakan hidup demikian. Hari ini saya melihat seorang pemudi yang dengan penuh kesakitan dibentuk oleh Penciptanya. Saya (merasa) adalah si A di analogi tadi, dan saya tak berusaha protes akan hal itu. Bertahun-tahun saya merasa baik-baik saja dengan pola didikan Pencipta saya. Hingga di suatu malam, ketika saya menceritakan hal ini ke orang terdekat yang sedang belajar menjadi pendengar yang baik, ada gelombang gelisah yang membanjiri pikiran. Dia adalah si B, bagi saya. Tak selang lama menit berganti tepat setelah saya dengan air mata haru dan sesekali pedih menceritakan perjalanan keluarga yang penuh drama, dia dengan begitu damai berkata "aku belum pernah melihat orang tuaku bertengkar."

Tepat saat itu, kali pertama mungkin dalam hidup saya ingin protes pada Penata skenario. Kenapa enak sekali dia? Punya orang tua yang saling mencintai hingga saat ini, terjauh dari "kesialan" atau berbagai kecerobohan. Pernah saya menanyakan "pergumulan apa yang membuatmu merasa sulit mengampuni?" lalu dia dengan kebingungan merasa bahwa mengampuni bukan hal susah. Dia keren! Saya begitu rendah melihat diri sendiri yang butuh bertahun-tahun mempelajari apa itu pengampunan. Saya marah seketika, kenapa sebagian orang dipercayakan hidup yang sederhana jalan ceritanya? Bukan tanpa masalah, tapi setidaknya perkara kekhawatiran dan pengampunan atau pergumulan lain dapat dia pelajari dengan lebih mulus.

Sedangkan saya entah berapa tahun harus dihabiskan untuk belajar mengampuni. Pun soal kekhawatiran, ketika yang lain termasuk sahabat saya ini gelisah bertanya "bakal kuliah dimana? bisakah masuk perguruan tinggi negeri?" saya harus tebentur dengan pertanyaan "apa saya bisa lanjut ke SMA?"

Mungkin Tuhan tidak adil.
Mungkin Tuhan kurang mencintai saya
dan lebih mencintai sahabat saya itu.

Tiga kalimat di atas hanyalah kemarahan sepersekian detik. Pada akhirnya bodoh sekali pemikiran semacam itu! Kemarahan yang mendustakan pengakuan bahwa untuk yang berkapasitas lebih dipercayakan beban yang lebih. Semua adil dalam porsi penuh kasih.

Harus diakui sangat jarang orang yang merasa dia adalah si B. Setiap orang merasa hidupnya sulit. Apakah saya benar? tapi mari dengan fair mengatakan, ada beberapa dari kita yang memang dianugerahkan kehidupan sangat indah. Jauh lebih mulus dibandingkan sebagian yang lain. Sekali lagi saya tegaskan, bukan tanpa masalah. Tapi punya jalan cerita yang tidak terlalu rumit. Punya orang tua harmonis yang mendidik atau bahkan keluarga besar yang peduli, punya kecukupan keuangan, punya sumber daya mewujudkan impian. Bersyukurlah!

Hidup yang indah dan sederhana bukan aib,
Sama seperti punya hidup yang rumit juga bukan kebanggaan.

Bagaimanapun, ini masih misteri. Tapi dari kejadian malam itu saya belajar bahwa penting bagi kita mensyukuri kehidupan indah tanpa membuat orang lain mempertanyakan Pencipta atas hidupnya yang susah. Sahabat saya malam itu, dari kalimat "aku tidak pernah melihat orangtuaku bertengkar" telah membuat saya iri, kecewa, marah, dan penuh tanya pada Pencipta. Memang, dari satu kalimat iman dapat bertumbuh atau justru terbunuh.

Ohya, saya tidak akan lupa memberikan potongan akhir dari cerita soal dua pelaut itu versi imagi saya sendiri.

Usai selebrasi kelulusan, si B dan beberapa orang lain datang menghampiri si A, dengan antusias mendengarkan kisah seru petualangan di lautan, mereka terkagum dan berkata pada si A "terimakasih, dari pengalamanmu aku belajar. kau telah memperkaya ilmuku untuk jadi pelaut handal, ilmu yang tidak aku temukan di ruangan"
Mendengar itu, si A alih-alih bangga justru dalam senyum getir berbisik di hati: "aku yang penuh darah dan memar, tapi ternyata dariku mereka belajar. uh.. sial sekali aku"
Lalu sang Guru membuyarkan lamunan gerutuan si A dengan berkata "hai nak, murid-Ku, terimakasih telah membantu mengajari mereka. Kau partner-Ku, pengalamanmu memperkaya kurikulum sekolah yang Aku dirikan ini."

Kita tergolong yang mana bukan masalah, yang penting adalah kita bersedia berproses dan belajar dari mana saja untuk menjadi pelaut handal itu!
Bagi si A, jangan sombong menilai dirimu yang paling tangguh sehingga membuat si B rendah diri akan pelajaran di kelas!
Bagi si B, Bersyukurlah! tapi jangan pernah membuat memar luka bekas petualangan badai di laut dari si A menjadi lebih perih! dan akhirnya membuat dia mempertanyakan sang Guru.

ingatlah peraturan akademi kelautan ini:
"ragu pada Guru adalah tabu!"





dear Bayi Kudus
di manapun Kau berada

Santa dengan tumpukan hadiah bukan lagi penarik perhatianku, aku sudah besar! Gadis 22 tahun ini punya hobi baru: mengirim surat. Terkhusus setengah tahun belakangan. Sudahkah Kau membacanya? Aku menulis untuk-Mu, kadang dengan keyboard kadang dengan pena, kadang dengan syukur kebanyakan dengan gerutu. Aku tahu, aku tahu, orang bilang aku harus menyampaikannya lewat doa, sayangnya aku sudah lupa cara berdoa. Yang aku ingat adalah cara untuk menulis. Surat ini berarti harafiah, sebuah salinan susunan kata dariku menjelang lahir-Mu. ohya, sebagai peringatan saja, ini surat terakhirku, setidaknya tahun ini. Jadi jika aku menghilang beberapa waktu tidak menyapa-Mu, tolong ampuni.
Aku tahu Kau merindukanku, tapi bukankah meriah penyambutan-Mu belakangan akan menutupi duka-Mu karena kehilanganku?

sang Bayi,

Bagaimana perasaanmu? Jutaan manusia dengan segala euforia menanti-Mu. Senangkah Engkau dengan pesta belakangan ini? Ornamen penuh ceria dan kemeriahan di setiap sudut kota. Kau begitu dicintai. Namun di sela itu, sebenarnya aku masih sedih. Beberapa orang masih meributkan apakah boleh mengucapkan selamat akan kelahiran-Mu kepada kami. Tapi ya sudahlah, itulah nikmat keberagaman khas bangsa tercinta.
Hal paling menyayat hati adalah bahwa di antara berbagai kerlap-kerlip, sejujurnya aku belum menemukan keteduhan khas peristiwa kelahiran-Mu. Seakan-akan ribuan tahun lalu Kau hadir di hotel mewah. Bukankah Kau lahir di kandang hina? eh atau aku salah membaca sejarah?

sang Bayi, sang Penguasa Bumi..
Aku ingin memberitahu-Mu, betapa datarnya persiapanku akan momen istimewa setahun sekali ini. Jangan tersinggung, Kau tetap Pujaanku. Maaf ya sang Bayi Kudus, aku tak bisa menjadi seperti aku yang dulu-dulu. Jangankan pelayanan, persekutuan-pun tidak aku nikmati. Jangankan proyek berbagi, HPDT ku saja sudah abai tertumpuk sangsi. Sepertinya seseorang sedang meminjam cinta mula-mulaku.
Kalau Kau ada waktu, tolong buatkan aku sebongkah cinta awal yang baru.

Sang Bayi, yang lahir juga dalam tangisan sama seperti aku.
Mungkin Engkau terlewat sibuk dengan berbagai christmas wish yang hadir dari seluruh penjuri bumi, Kau jadi melewatkan memperhatikan gerak-gerikku. Sekarang aku beritahu pada-Mu, belakangan aku kerap menepuk dada, bukan karena sedang susah bernafas. Aku menepuk dadaku untuk mengingatkan bahwa semua masih baik-baik saja. Apakah Kau setuju bahwa hidupku memang bukan bencana?
Lain waktu, aku menepuk dadaku hanya sekedar merasakan detak jantung seorang manusia yang hidupnya masih ada dalam kendali Pencipta. apakah Kau setuju bahwa aku masih ada dalam hitungan orang yang dipedulikan oleh Bapa?
ohya, aku penasaran. Bagaimana Kau melakukan seleksi atas jutaan wish manusia di akhir tahun ini? Permintaan seperti apa yang akan Kau kabulkan? Aku sungguh ingin tahu, karena aku punya satu permintaan sebenarnya. Tapi aku ragu, apakah permintaan ini akan lolos seleksi dari-Mu. Aku juga malu, dengan kado semacam apa aku harus membalas budi nantinya?
Tolong beri aku bocoran, apa yang harus aku lakukan agar permintaanku dapat jadi kenyataan.

sang Bayi Mulia,
Tidakkah Kau pernah merasa kesepian?
atau merasa bahwa untuk mengatur dunia ini tugas yang terlalu berat?
pernah Kau iseng mempertanyakan sang Bapa?
kalau IYA, berarti kita sama!

Sang Bayi yang mengasihku,
Terlalu banyak hal yang berjalan tak sesuai rencana dan terlalu sedikit kejutan yang menggembirakan.
Sudah tak banyak ingin yang tersisa. Hanya sedikit harap semoga natal ini tak terlewat begitu saja. Semoga tak berlalu tanpa arti. Mungkin tak limpah sukacita atau gema senandung riuh, yang aku perlu hanyalah rasa teduh menghayati betapa mengagumkan Kau meniadakan setiap keegoisan.

sang Bayi, sahabatku.
tolong yakinlah, bahwa aku masih sangat mengasihi-Mu.
Jangan sedih karena aku tidak bisa memberikan penyambutan yang layak.
Sebagai sahabat-Mu, aku ingin memberitahu-Mu, dunia ini bukan tempat yang ramah.
aku tahu, Kau tidak akan kewalahan mengatasinya, tapi
andai kata Kau berencana segera kembali ke surga, tolong tolong bawa aku juga :)
bagaimanapun KelahiranMu itu momen awal kesengsaraan-Mu yang penuh cinta,
tapi jika boleh aku yang egois ini meminta
bisakah momen itu justru jadi akhir dari kesengsaraanku yang penuh dosa?

sang Bayi,
Jika sudah ada waktu, balaslah surat ini. Aku menunggu

salam hangat,
pengagum-Mu,
Claudya Tio Elleossa

Di suatu klinik yang tidak terlalu besar, baik perkara ukuran dan popularitas, sebuah kabar baik dikumandangkan. Kami bertiga (aku, cece, dan suaminya) menangkap senyum lebar dari sang dokter sembari dia terus menggerakkan alat USG.

Seorang bayi sedang tidur nyaman di perut kakak perempuanku. Sudah seminggu memang jelas terlihat tanda-tanda kehamilan pada normalnya, yaitu mual dan rasa haus akan makanan asam. Aku cukup beruntung menemani dan menyaksikan fenomena hormonal perubahan selera makan dan wangi-wangian itu (sekaligus korban yang kewalahan). Setelah menanti satu tahun setengah, akhirnya kabar gembira dari Tuhan turun dan menyempurnakan sukacita bulan Desember.

Bagiku ini lagi-lagi skenario manis dan jadi penghiburan luar biasa di tengah penantian pekerjaan. Sehari-hari bersama keluarga mini ini membuatku menjadi saksi bagaimana laki-laki dapat berubah jauh lebih lembut terhadap istrinya yang sedang hamil.

Aku akan menjadi seorang AUNTIE, dan aku harap akan menjadi sosok yang dapat dia banggakan, sama yang akan dilakukan anakku kelak. Sedari saat ini aku sudah meminta ijin pada ceceku untuk kelak sesekali mengajaknya berpetualang berdua. Entah dia laki-laki atau perempuan, aku ingin kami jadi partner kece untuk membicarakan banyak hal. Ah ternyata begini rasanya menanti kehadiran anggota baru di keluarga. Aku hanyalah calon tante bukan calon ibu, namun antusiasmeku sudah membawaku pada berbagai angan tentang apa saja yang akan aku buatkan dan belikan untuknya, apa yang akan aku ajari, dan kemana saja aku akan mengajaknya. Untuk kali ini, surat menjadi pembuka sambutanku.




"dear baby, your auntie love you. Masa enam minggu awal kau hadir, akulah yang ada di sisi mamamu. Ingatlah bocah, kalau awalnya ada kemustahilan tentang hadirmu. Ada air mata ketakutan kala suara vonis disuarakan. Tapi mamamu memang idolaku, dia gigih berdoa dan berusaha untuk dapat menikmati kehormatan menjadi seorang mama. Jadi cintailah dia dengan sepenuh hatimu. Ingatlah kisahmu sebelum kau lahir, maka kau akan tahu kemustahilan hanyalah cara Pencipta menguji ketulusan dan kegigihan. Terimakasih telah menjadi penyemangatku berjuang dan pengingat betapa manisnya kedaulatan Pencipta-mu, Pencipta kita.
aku mengasihimu, senantiasa mendoakanmu, dan penuh sukacita menantimu, ponakanku :')"
Tuhan emang kece! Dia tak terluput memahamiku yang membenci tanggal 30. ada balutan duka khusus di setiap penghujung bulan, tapi hari ini sekali lagi aku dibuat malu dengan caraNya yg mengagumkan memberi penghiburan.

Super date bersama cece tersayang adalah alasan utamanya. Menikmati makanan yg memang sudah dirindukan dan akhirnya menyentuh cinema alias bioskop dengan pilihan film terbaik: Big Hero! Like everybody else, Baymax berhasil mencuri hati, film yang disodorkan dengan sisi humor serta haru yang seimbang. cerdas! Kesan pertama adalah agum dengan bagaimana ilmu pengetahuan telah berkembang sedemikian. namun berkali lipat tersentuh bukan tentang Baymax dan Hiro, seperti kebanyakan orang, justru karena relasi kakak adik antara Tadashi dan Hiro.

Aku bisa meraba bagaimana perasaan Hiro, seorang adik yang kadang sombong dan ceroboh, tak jauh beda denganku. namun oleh Pencipta ditenun sedemikian melalui sosok kakak yang luar biasa. IYA, Tadashi dengan elegan mencerminkan dua hal tentang kakak perempuan yang sungguh aku kagumi itu.

 

Pertama adalah bagaimana dia selalu memikirkan cara untuk menolong orang lain. Tadashi harus 83 kali gagal untuk menyempurnakan Baymax tanpa kenal lelah karena motivasi untuk menolong orang banyak lewat ilmu pengetahuan. Sedangkan di kehidupan nyata, cece ku melakukan dengan motif yg tak jauh berbeda. dia adalah seorang Kristen sejati bagiku, tak banyak memanggil "Tuhan.. Tuhan.." tapi hidupnya sungguh memberi dampak. Sederhana sekali prinsipnya: "diss, cece gak mau cuma cece yg berubah lebih baik. orang-orang sekitar cece pun juga harus berubah." 
Kedua, adalah kalimat "I cannot giving up on you." cece ku ahlinya dalam hal itu, sungguh! belum pernah aku dapati dia menyerah terhadap orang di sekitarnya, termasuk aku! bahkan entah berapa kali Riyan atau sahabatku harus mendengarkan betapa aku terheran dari material apa hatinya terbuat.

Sepulang rumah, sukacita ku semakin sempurna mendapati kekasihku rela menyempatkan waktu bercengkrama bahkan di jam setengah 12 malam. Dengan lembut masih mengajakku bercanda. Berbalut nada kantuk menanyaiku tentang hari ini.




Hari ini harusnya aku bersedih, tapi hari ini aku tak punya waktu untuk itu. Jadwal sedih rutinku telah Dia ganti dengan rasa penasaran mengapa Dia begitu berbaik memberikanku kakak sekeren cece dan pacar sebaik Riyan. Aku mengagumi mereka!

Nb : Tuhan, aku tetap lebih mengagumi-Mu. tenang saja :)
Judul yang saya pilih tidak lain adalah sepotong janji suci pernikahan. Entah sudah berapa banyak juta pasang manusia saling cinta telah menyatakannya dalam pelbagai bahasa yang berbeda. Sebuah janji pada pasangan, dihadapan para keluarga dan pemuka agama, menjadi awal sebuah perjalanan rumah tangga dimulai. Dari satu kalimat banyak tanggung jawab yang akan diemban masing-masing pengucapnya.

Saya belum menikah, jadi saya jelas tak dapat menghayati janji itu secara utuh. Tapi ijinkan saya membagi apa yang saya pikirkan dari kalimat janji suci itu.

janji yang serius tapi sangat manusiawi.


"for better and for worse",
adalah sebuah ungkapan yang siap akan perubahan.
tidak dikatakan "for good and bad" yang merujuk ke kondisi stagnan,
janji "better and worse" menyimpan misteri perubahan yang PASTI akan dialami pasangan.



Di balik janji "for better" berarti ada sebuah kesiapan menapaki tindakan yang lebih baik. Pekerjaan yang lebih baik, mengharuskan pilihan pindah kota tempat tinggal yang sudah nyaman. Mimpi studi lanjut di luar negeri, atau banyak pencapaian lain. Mungkin terlihat lebih mudah dibandingkan menerima "for worse" tapi mutlak perlu ada kesiapan. Belum lagi perubahan karakter atau kebiasaan tertentu. Memang idealnya terjadi demikian, mari dengan fair mengakui bahwa sedari kecil kita diperhadapkan dengan banyak pembiasaan baik yang nyatanya tak semua dapat melebur ke karakter kita dengan mulus.

Untuk "for worse" jelas dibutuhkan banyak sekali penerimaan dan pengampunan. Kesalahan ataupun pudarnya kondisi serba manis masa awal pernikahan. Entah siapa pencetus kalimat janji suci ini, tapi bagi saya ini JENIUS!

Dalam periode pacaran, saya menyadari bahwa penerimaan akan perubahan bukanlah hal mudah, kebanyakan karena godaan pembandingan dengan kondisi yang sebelumnya. Hal ini adalah satu babak pembelajaran khusus bagi saya. Setelah berhenti membandingkan sang kekasih dengan orang lain, lalu berhenti untuk membandingkan dia dengan diri sendiri dan berakhir pada kesimpulan bahwa kami memang punya bahasa kasih yang berbeda. Masa belakangan ini latihan bergeser untuk membuat saya berhenti membandingkan kekasih saya hari ini dengan dirinya sendiri hari lalu.

Daun tidak bisa menuntut Embun membasahinya dengan konsistensi sempurna setiap hari
inilah analogi yang saya tegaskan ke diri sendiri, bahwa pembandingan terhadap hari yang lalu hanya akan membawa pada tuntutan akan konsistensi sempurna yang KITA TAHU tidak akan pernah dipenuhi oleh manusia.

Proses berhenti membandingkan dan siap atas segala perubahan ini adalah satu dari sekian banyak latihan mempersiapkan diri, sebelum saya akhirnya mampu mengucapkan janji:
"loving you for better and for worse, I do" :)


NB: Riyan, tolong sabar ya..

Konon, kita tak bisa berbohong hanya sekali, akan ada kebohongan lain yang perlu menutupi. Begitu pula dengan mimpi. Aku rasa, ketika satu terjawab yang lain akan turut terealisasi.


Nyaris sama dengan proposal kegiatan yang diajukan untuk meminta bantuan dana, penantian pasangan versiku juga demikian. Aku ajukan dengan getar pada Pencipta selusin poin yang ingin aku dapati di pribadi pasangan hidupku kelak. Ini rahasia hanya antara aku dan Empunya semesta. Rangkaian kriteria akan sosok pasangan idaman membuatku menanti dengan kesabaran walau dalam kesendirian. Seseorang datang lalu pergi, membuatku getir mengakui hatiku seumpama bandara, beberapa singgah tanpa aku biarkan menetap. Iya, satu-satunya yang aku butuhkan adalah laki-laki yang menjadikan hatiku sebagai rumah. Empat tahun setelahnya, aku menemukan sosok itu. Genggaman tangannya adalah mimpi yang telah termanifestasi dalam kenyataan. Hatiku tertambat pada seorang pria lulusan teknik yang memenangkan kata “iya” dariku dengan cara yang memukau nan unik.
Berselang dua hari setelah pertemuan meresmikan hubungan, dia kembali melanjutkan perantauan ke ibu kota yang konon sangat kejam. LDR adalah wujud konsekuensi sekaligus komitmen kami untuk mempersiapkan masa depan bersama dengan mencari nafkah di kota yang berbeda. Dengan hamburan rasa rindu, kami memilih Yogyakarta menjadi pilihan titik temu di suatu kesempatan akhir minggu. Berada di tengah antara Surabaya-Jakarta, agaknya menjadikan Yogyakarta sebagai pilihan strategis nan adil. Pun dia adalah sebuah kota pilihan yang tak pernah membosankan.
Permohonan cuti adalah hal pertama yang harus kami pikirkan, sebelum menikmati perjalanan perdana sebagai pasangan. Di sela kesibukan pekerjaan kami juga saling bertukar informasi untuk penginapan serta jadwal kereta. Pemilihan tanggal liburan kami adalah saat high season, momen yang tepat namun sepaket dengan konsekuensi sulitnya menemukan penginapan. Tak berselang lama, kami berangkat dari stasiun kota yang berbeda, sayangnya jadwal kereta dari Surabaya mengharuskan aku tiba terlebih dahulu. Salah satu kebetulan paling manis dalam perjalanan ini adalah alunan lagu Yogyakarta dari kla-project yang didendangkan tepat saat aku menapakan kaki di lantainya yang berdebu. Di larut malam, aku menanti kereta dari Jakarta memperdengarkan nyaring suaranya. Masih teringat jelas ekspresi sang kekasih kala turun dari gerbong kereta dan mendapati wanitanya telah menanti dengan senyum penuh rindu. Sebuah perasaan yang ingin aku nikmati lain waktu kami melakukan perjalanan bersama.
Malam itu kami hanya berbalut lelah akibat perjalanan panjang. Dengan naik taxi kami menuju ke penginapan. Tak banyak canda cengkrama karena sejujurnya kami hanya ingin bergegas dari stasiun menuju kamar kami masing-masing. Durasi malam itu hanya dihabiskan dengan saling menatap dan saling melemparkan senyum lega, karena akhirnya perjalanan ini terwujud juga. Sebelum melelapkan diri di ruang yang terpisah, kami menyempatkan waktu untuk tertunduk dalam doa bersama. Sebuah menu pembuka perjalanan yang begitu manis dan bersahaja. Aku menyebutnya “formasi doa 20 jari” dan sejak malam itu, formasi demikian adalah salah satu rutinitas yang aku rindukan.
Adalah kebiasaan setiap melakukan perjalanan, aku membawa sebuah buku harian tempat aku menuliskan 150 impian sebelum usia 30 tahunku tiba. Di kamarku sendiri, dengan penuh haru syukur aku mencoret salah satu poin malam itu. Jemari dengan spidol warna kuning terang mengarah pada nomor 66 dimana tertulis keinginanku untuk mencicipi duo backpacker as a couple. “Ah akhirnya, satu lagi poin terkabul!” Begitu kataku dalam angan dan girang.
Di sela euforia sukacita itu, aku baca ulang seluruh poin yang tertulis disana. Hingga di nomor 98 aku terhenti. Keinginan untuk mengunjungi rumah sakit kelahiran adalah sesuatu yang memang aku idamkan, selain itu adalah salah satu pesan yang diamanatkan kepadaku oleh Almarhum papa semasa beliau hidup. Kebetulan tangisan pertamaku sebagai seorang bayi di bumi ini bertempat di Magelang, dan tak sampai dua tahun setelahnya kami sekeluarga berpindah kota tempat tinggal. Itulah mengapa kunjungan ke Rumah Sakit kelahiran akan menjadi sesuatu yang istimewa. Keesokan paginya, dengan sedikit ragu memberanikan diri bertanya pada sang kekasih apakah mungkin untuk mengunjungi tempat itu, selagi kami berdua memang sedang ada di Yogyakarta. Tak banyak berharap persetujuan darinya, karena menyadari bahwa untuk menuju ke Magelang akan mengubah rundown kami, yang seharusnya hari itu menikmati desiran ombak pantai gunung kidul. Siapa sangka, lelaki ini sekali lagi memenangkan hati dengan antusiasmenya memenuhi keinginanku. Destinasi pantai berganti menuju kota Magelang.
Bermodal google maps, kami mencari arah menuju Rumah Sakit saksi perjuangan gigih mamaku 22 tahun yang lalu. Perjalanan Yogyakarta-Magelang bukan perjalanan yang senantiasa mulus, saya mendapati bagaimana pasangan saya ini sungguh bukan orang yang mudah mentoleransi kecerobohan. Mungkin salah satu karakter dan tuntutan mendasar dari anak teknik adalah perfeksionismenya, sehingga tak mengejutkan dia kerap geram dengan kecerobohanku. Dengan nada gemas, dia terheran betapa payahnya aku dalam membaca peta. Oke, pembelaanku tak banyak berbeda dari perempuan lainnya: kaum hawa memang lebih suka berhenti untuk bertanya dibandingkan membaca peta. Pasti mengesalkan baginya harus beberapa kali memutar arah, tapi yang mengagumkan adalah bagaimana dia dengan sabar mengajariku lalu sesekali menyemangatiku yang sudah hampir putus asa karena terlalu sering salah menunjuk arah saat itu. Tak ada nada kasar dan tak ada penghakiman bernada kesombongan, kekesalan dan gemas hatinya masih berbalut kasih dalam memperlakukan wanitanya.
Setelah beberapa kali salah membedakan kanan dan kiri atau sekedar terlambat memberi tahu saatnya berbelok, akhirnya kami tiba. Lega, perasaan pertama saat itu, kewajiban membaca peta terhenti sejenak. Kami berdiri di depan sebuah gedung rumah sakit yang tak terlalu besar, namun membuat saya merinding gembira. Di tengah terik kota Magelang yang teduh itu, lelaki kebanggaanku telah membantuku memenuhi amanat almarhum Papaku. Tak banyak yang kami lakukan, hanya sekedar mengambil foto sebagai kenang-kenangan. Masih dengan petunjuk peta elektronik, perjalanan berlanjut menuju ke salah satu keajaiban dunia: Borobudur.
Di tempat itu, kami menemukan sebuah kesamaan yaitu menikmati setiap detail tanpa terburu-buru. Kadang beberapa orang akan sibuk berfoto atau sekedar berkeliling tanpa mau perlahan menikmati ilmu dibalik sebuah destinasi, misalnya tentang sejarah. Aku seakan menemukan sebuah kesamaan erat bagaimana kami bisa melangkah perlahan menikmati setiap relief di candi yang masyur itu, dengan obrolan-obrolan bertukar wawasan. Masih di kawasan Borobudur, ketika tiba di Museum Samudera-Reksa yang merupakan ruang khusus penyimpanan salah satu replika kapal gagah kejayaan masa lalu. Disana aku melihat sendiri betapa dia mencintai ilmunya. Kebetulan dia adalah lulusan teknik perkapalan, yang membuat ruangan itu tak lain adalah dunianya. Membaca satu per satu informasi yang tertempel di dinding itu, dan dengan nada antusias menjelaskan beberapa hal teknis kapal kepadaku yang awam ini. Tak sepenuhnya mengerti, tapi bagaimanapun membuatku merasa terkagum dengan warisan kapal-kapal nusantara jaman dulu. Itulah bagian yang menyenangkan jika pasangan kita berbeda disiplin ilmu, akan banyak informasi baru yang dapat dibarter untuk memperkaya masing-masing kami. Perbedaan memang tak selalu memecah.
Borobudur tak hanya menyimpan sejarah kearifan dan kejayaan nusantara, namun juga sejarah pribadiku. Nama panggilanku sejak kecil hingga hari ini sangat jauh berbeda dari nama asliku. Tak sedikitpun ada kesamaan. Nama itu tidak lain lahir dari sebuah diskusi singkat di taman kawasan Borobudur. Uniknya, diskusi penentuan nama panggilan itu tidak terjadi antara orang tuaku namun antara tukang kebun dan seorang turis. Di Borobudur nama panggilanku menengok sejarahnya.
Bagi sepasang kekasih hal penting tak melulu soal menemukan kesamaan, namun juga menemukan perbedaan yang saling melengkapi. Ujung jalan-jalan di Borobudur kami membuatku menemukan satu perbedaan yang membahagiakan. Di kala makan siang, seorang ibu tua mendekat ke bangku kami duduk menjajakan jualannya. Dengan nada kalem dan ekspresi datar, dia masuk dalam tawar-menawar dengan ibu tersebut. Singkat cerita, harga termurah dari pacarku ini memenangkan nego. Aku terheran melihat seorang lelaki dengan piawai melakukan tawar-menawar harga, karena sebenarnya kemampuan itu tak ada dalam diriku. Dia adalah partner yang sungguh melengkapiku, bahkan di perkara sederhana ini.
Usai perjalanan yang menggosongkan itu, kami ingin bersantai menikmati makan malam berdua. Kebetulan kami sama-sama penggila pasta dan beruntungnya tak jauh dari penginapan kami menemukan sebuah restoran pasta dengan konsep outdoor dengan rasa yang otentik Italia. Makan malam itu tak berlalu hanya dengan obrolan khas pacaran. Suasana romantis taman berpadu cahaya lampu-lampu kecil tak menghindarkan kami dari sebuah kegiatan unik yang memang sudah aku rencanakan. Di meja restoran itu aku mengajarinya permainan kartu poker dan jenis permainan kartu lainnya. Agaknya perbedaan kami bertukar dari yang senormalnya. Keterampilan menawar harga harusnya dikuasai kaum hawa ternyata tidak ada dalam diriku, demikian perihal main kartu serta permainan penguji adrenalin yang senormalnya ada di lelaki justru tak ada dalam dirinya. Sungguh kombinasi yang membuka lebar peluang saling melengkapi. Hal-hal semacam ini tak akan kami sadari jika kebersamaan selalu ada dalam jarak yang terpisah.
Hari ketiga kami sekaligus penghujung liburan telah sampai di depan mata. Sebelum mengunjungi tempat-tempat sesuai rencana, kami sejenak beribadah bersama. Kebetulan itu hari minggu, sehingga kami sempatkan mencari gereja yang tak jauh dari penginapan untuk menghadap ke Pencipta yang merajut kisah kami berdua. Setelah mengisi kebutuhan rohani saatnya mengisi kebutuhan jasmani. Di depan Malioboro Mall kami menetapkan pilihan sarapan. Menunya adalah nasi pecel. Dengan lesehan kami menikmati sarapan berdua. Tidak beruntungnya adalah nasi pecel yang kami pesan ternyata sangatlah pedas bagiku yang samasekali tidak kuat menahan panas di lidah. Dengan menyesal aku harus menyerah dan hanya memakan bagian yang belum banyak tersentuh oleh bumbu kacang khas Indonesia itu. Dia terganggu dengan kenyataan ada sisa makanan yang tidak dihabiskan, lalu tanpa banyak berkomentar dia dengan sukarela menghabiskan bagian di piring bambuku itu. Sebuah momen yang membuatku mendapati karakter positif dalam dirinya.
Sisa hari itu sebelum jadwal sore kereta kami tiba, dengan lincah kami singgah ke Taman Sari, Benteng Vrederburg, tempat oleh-oleh, dan sejenak makan siang di salah satu tempat Gudeg terkenal di Yogyakarta. Pukul 13.00 kami harus mengembalikan sepeda motor sewaan kami, padahal kereta kami berdua tiba di Lempuyangan sore menjelang malam. Untuk penghematan, kami menolak perpanjangan durasi sewa motor dan beralih ke kendaraan umum khas Yogyakarta: TransJogja. Sembari menghabiskan empat jam menanti jadwal kereta, kami berjalan menyusuri Malioboro dan sesekali menepi melihat beberapa barang. Tapi tak ada satupun yang kami beli. Satu lagi catatan kesamaan kami berdua, kami bukan tipe yang gelap mata terhadap barang-barang. Jika tak butuh, tak perlu merogoh saku. Aku rasa kesamaan prinsip ini akan menghindarkan kami dari perdebatan alokasi dana ketika nantinya kami berumahtangga. Sepasang kaki telah lelah tak sepakat dengan antusiasme mata yang masih ingin menikmati pemandangan transaksi jual beli di sepanjang jalan. Protes lelah kaki kami tidak lain karena perjalanan menyusuri lorong terkenal itu harus dengan membawa barang bawaan serta oleh-oleh bakpia di kanan tangan dan kiri.
Malioboro Mall menjadi pilihan singgah terakhir. Di sebuah kafe, kami memanfaatkan dengan baik waktu yang tersisa sembari menyeruput minuman dingin yang menghilangkan dahaga. Siang itu, aku keluarkan buku harianku. Di hadapannya, masih dengan spidol yang sama, aku coret poin wishlist nomor 98. Dengan tatapan serius nan tulus aku ungkapkan terimakasih karena membuatku dapat mengunjungi tempat kelahiran. Senyum merekah di bibir kami berdua. Dia adalah orang pertama yang aku perbolehkan memegang buku harianku bahkan mengijinkannya membaca satu per satu poin wishlist itu. Kata orang, kedekatan teruji ketika seseorang dengan berani membagi mimpi-mimpinya, dan siang itu aku membuktikan bahwa itu benar. Usai tuntas membaca, dia memegang tanganku lalu berkata “aku akan bantu kamu wujudkan satu per satu.” Kalimat mengandung janji itu melelehkan hatiku sebagai seorang perempuan. Dia tidak berjanji akan mewujudkan semua, dia hanya berjanji akan menjadi penolongku mewujudkan sedikit demi sedikit. Sebuah janji yang tak melampui kemampuan adalah sebuah janji yang bisa dipercaya. Waktu akhirnya membawa kami pada kewajiban kembali ke kota perantauan. Dengan naik becak kami menuju ke stasiun. Peristiwa sendu akhirnya terjadi, dimana aku harus melepasnya. Dengan menarik nafas aku sesaat merasa seperti jelangkung di perjalanan ini. Datang tak dijemput pulangpun tak diantar. Dengan dendam dan humor aku berkata kali selanjutnya dia harus merasakan perasaan rindu gelisah kala menjemput dan sedih tak rela saat mengantar.
Di tengah perjalanan malam kereta menuju kembali ke kota perantauanku, aku menyadari bahwa kesulitan menjalin sebuah hubungan jarak jauh bukan saja tentang menimbun rindu dan menguji kepercayaan, namun sempitnya kesempatan mengenal pasangan secara langsung. Bagaimana dia memilih menu makanan? Bagaimana caranya memperlakukan tukang parkir dan pelayanan restoran? Apakah dia membuang sampah pada tempatnya? Berbagai kebiasaan sederhana mengungkapkan kualitas pribadi seseorang, yang sangat sulit terungkap dengan percakapan via suara semata. Memang traveling adalah kesempatan mengungkap karakter tersembunyi baik diri sendiri, penduduk sekitar, dan juga partner perjalanan, dan itulah yang terjadi di perjalanan perdana kami.
Tak banyak tempat yang kami kunjungi saat itu, dan harus diakui kebanyakan adalah destinasi wajib Yogyakarta, seperti Benteng Vederburg, Taman Sari, Borobudur, dan Kuliner Gudeg. Tak layak saya berbangga akan naluri petualang kami. Beruntungnya kesempurnaan kisah perjalanan tidak selalu dinilai dari banyaknya destinasi yang dikunjungi, bukan pula pilihan tempat anti-mainstream hasil eksplorasi. Kadang kesempurnaan perjalanan sederhana disimpulkan dari seberapa banyak keyakinan dan syukur yang lahir saat itu. Tiga hari dua malam di kota klasik Yogyakarta membuatku mantab memperhitungkan dia sebagai bagian di masa depan kelak, atas segala persamaan terlebih perbedaan kami yang saling melengkapi. Di lorong jalanan Maliboro, di atas susunan bebatuan Borobudur, dan di tengah hiruk Lempuyangan, mimpiku dengan setia menggenggam tangan lalu memancing syukur, bagaimana dia yang adalah jawaban mimpi telah menolongku mewujudkan dua mimpiku saat itu. Semakin istimewa karena dia yang adalah lelaki impianku juga berjanji mewujudkan mimpi-mimpiku lainnya.
Adakah yang lebih indah ketika satu mimpi membuat mimpi-mimpi lain terealisasi?

*tulisan ini merupakan tulisan yang berhasil lolos audisi "would you be my travelmate"


Seperti dalam banyak bidang kehidupan, perbedaan cenderung menjadi alasan masalah. Begitu pula tentang bahasa kasih. Ekspresi mencintai yg acap kali berbeda dari setiap manusia.

Sekitar sebulan lalu, sebuah doa indah dinaikan oleh pendeta di gereja saya: "Tuhan ampunilah kami jika kami gagal memahami bahasa kasihMu, dan menganggapnya sebagai sebuah kekangan. ampunilah kami jika kami juga gagal menangkap bahasa kasih dari sesama kami"

Belakangan, kondisi jobless saya membuat saya bahkan tak sanggup bayar uang kos. hahaha (sungguh komedi paling tragis bulan ini). Saya harus pindahan, dan mengungsi. saya melihat betapa dua sahabat saya: Helen dan kak Ajeng bersedia saya repotkan untuk menampung saya dan mengantarkan saya kesana-sini.

Tulisan ini dimulai dr rasa haru, akan bahasa kasih yg mereka tunjukan pada saya: kesediaan untuk membantu. Di saat yg lain, saya dengan keterbatasan saya, sangat jarang memberikan bantuan yang nyata. Tapi, bahasa kasih saya berbicara dalam tindakan yang berbeda, yaitu pemberian.

Saya tidak pernah menuntut mereka menghujani saya dgn pemberian, sama seperti yang saya lakukan. Dan beruntungnya mereka pun tidak terlintas menuntut saya siap sedia membantu, karena saya tak akan mampu melakukannya.

Kami bersahabat baik, dengan bahasa kasih yg berbeda. Saya tidak merasa telah melakukan lebih banyak dari yang saya terima. Semoga mereka juga demikian.

Lalu, tiba-tiba saya diusik dengan perenungan mengapa hal seideal itu tak berlaku penuh pada hubungan saya dengan Riyan. Kebetulan minggu ini, saya bertemu seorang kawan baru. Di tengah-tengah obrolan, terucap sebuah kalimat: "bahasa kasihku adalah pemberian, tapi bahasa kasihnya adalah waktu yg berkualitas"
Saya terbelalak melihat itulah yang juga persis terjadi pada relasi saya sendiri.

Saya sempat digusarkan dengan melihat bagaimana usaha dari pacar yang dibawah ekspektasi saya, tentang hadiah ulang tahun. Mungkin kekanak-kanakan memang, tapi sometimes we expect more from someone, because we would be willing to do that much for them.

Tanpa mau mendetailkan masalah ini, saya sadar pada dasarnya ini tentang perbedaan bahasa kami, termasuk dalam meresponi hari penting semacam ulang tahun. Dia menemani saya EMPAT jam di awal usia baru. Setiap menitnya adalah ekspresi bagaimana dia mengistimewakan saya terkhusus di tanggal itu. Tapi saya mengharapkan lebih, berupa cake berlilin yang bisa saya tiup misalkan.



Perbedaan bahasa kami tidak semulus yang terjadi antara saya dan dua sahabat saya.

Thank to Hapsari Cinantya, teman baru super sanguin, yang membagi nasehat berharga dan menjawab sikap macam apa yg harus ada di tengah perbedaan bahasa kasih baik antara pasangan ataupun dalam persahabatan:

"Untuk segala sesuatu yang prinsip, perlu ada kesamaan. untuk segala sesuatu yg tidak prinsip, perlu ada kebebasan. Dan untuk segala sesuatunya, harus ada kasih :)"

Jika boleh menambahkan quote itu, maka kalimat yg tepat mungkin adalah: "dan untuk membedakan mana yang prinsipal dan mana yg tidak, butuh hikmat"

Tak terlalu masalah masing-masing kita memiliki perbedaan bahasa kasih, yang akan jadi masalah adalah saat kasih tidak dibahasakan samasekali. Toh sebenarnya, Pencipta kita sudah menanamkan naluri membaca bahasa kasih itu sejak dari lahir. Semacam bayi yang paham bahwa gendongan di tengah larut malam adalah bahasa kasih yang luar biasa dari orang tua, yang menentramkan dalam tidur lelapnya.


"silahkan ambil apa saja Tuhan, kalo ada sesuatu di dunia ini yang saya cari melebihi saya mencari-Mu"



Potongan doa polos ini diucapkan oleh seorang senior kenalan saya di persekutuan lintas kampus yang dia ketikkan di sebuah jejaring sosial tepat saat ulang tahunnya. Jika bagimu itu adalah doa yang mudah? maka standing applause bahkan sujud kagum mungkin harus saya dedikasikan. Karena hingga detik ini saya belum benar-benar berani dengan tulus meminta hal yang sama. Sisi pengecut terlalu takut kehilangan banyak hal di dunia ini yang kenyataannya memang menyenangkan.


Cinta saya pada Pencipta memang masih harus dipertanyakan. sangat dipertanyakan. Saya mendapati bahwa berkata "terserah" pasa Empunya hidup bukanlah hal mudah. Kalaupun mudah, itu jua bukan pilihan favorit saya. Sungguh saya ini hamba keras kepala!

Tidak jauh berbeda dengan kalimat doa pertama yang saya kutip di awal tulisan ini, kalimat "jadilah padaku seperti kehendakMu" juga tak kalah menguras kerendahan hati sekaligus keberanian yang tak terhingga. Lewat satu kalimat itu terkandung penyerahan diri yang luar biasa dan kepercayaan yang utuh, bahwa APAPUN keputusan Pencipta -bahkan walau membunuh mimpinya- adalah hal terbaik.

Lagi-lagi itu bukan pilihan yang akan saya idamkan. Bagi hamba bodoh dan egois ini, menemukan titik temu antara mimpi pribadi dan kehendak sang Khalik jauh lebih merdu terdengar.
Masih terbersit "semoga" agar saya dapat menemukan titik temu itu. Kalaupun tidak, mungkin memang waktunya bagi hamba tak berguna ini untuk belajar rendah hati berkata "terserah" pada Pencipta-nya :)


Di sebuah sudut toko buku terkemuka, seorang mas mendekat dan menawarkan pembukaan rekening sebuah akun bank tertentu. Singkatnya, dia sampai ke pertanyaan: kerja dimana. Saya jawablah: "dulu guru." Namun agaknya kata 'dulu' yang identik dengan masa lampau ini tak memuaskannya sebagai penanya. Dia bergeser pada pertanyaan:  "kalau sekarang?" dan entah ada angin apa saya jawab: "penulis" :') benar-benar pertama kalinya menyebut diri dengan status itu.

Konon kata-kata adalah doa, jadi anggaplah jawaban itu bukan sebagai kebohongan tapi optimisme doa :)

Apalagi katanya, cita-cita yg kita bagi justru lebih mudah terwujud, karena ada tekanan rasa malu pada sesama jika akhirnya mimpi yang kita ceritakan tak terwujud.

Awalnya aku simpan rapat apa yang jadi impian, pikirku biarlah ini jadi rahasia antara aku dan Pencipta semesta, tapi dengan nyali yang tersisa, dengan remah-remah harap yang masih ada, aku ceritakan mimpi ini.




Sudah ketiga orang, dua sahabat dan satu kekasih. Lalu aku temukan seberkas cahaya optimisme dari mereka, yang entah kemana nyalanya sebulan terakhir. Aku putuskan sore ini untuk membaginya di sini.
Aku sungguh ingin jadi penulis. Ini satu-satunya mimpi masa kecil yang masih mungkin aku wujudkan setelah menjadi astronot dan psikolog terbentur dinding kenyataan.

Aku tak ingin malu karena terlalu percaya diri, tapi bagaimanapun tak ada mimpi yang terlalu mustahil untuk diupayakan. Bukan begitu?

:)
Tuanku, yang membuat segala serba pantas,
mohon berikan hamba rasa cemas
dengan porsi paling pas
rapuhkan hati dan otak yang terlalu keras
apalagi kemalasan meminta jalan pintas

Ayah semesta yang memegang kendali
atas nafas hidup hingga titik mati
ijinkan anakMu terputus nadi dalam menertawakan diri
karena mengasihani sendiri adalah satu tapak pasti
kala kelam membaca jati diri

Pelatih hidup yang sangar,
latih aku, lewat suka ataupun sukar
beri aku suplemen nyali yang besar
untuk tegar menapaki jalan yang kasar

wahai sang Guru,
ajari apapun yang aku perlu tahu
didik aku walaupun penuh pilu
tapi jadikan jauh
segala sesuatu yang justru memancing ragu

dan untuk Kau yang Maha
untuk Kau sang pemilik saya
jadikan aku kristal kaca
walau rapuh tapi indah
sering terlupa tapi membuat sang Pemilik bangga
dan terpenting dari segala, selalu dijaga agar tak sampai pecah
hanya untuk Kau, aku membuat rima
salam rindu teduh dari gelas kaca