Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Seorang kakek tua dengan deret panjang angka di rekeningnya memutuskan untuk membeli sepetak tanah. Seperti biasa, tetangga-tetangga yang sirik mulai mencibir. "Si kakek itu sudah tua, pasti tanah itu dipersiapkan untuk makamnya kelak." Begitu ucap seorang ibu yang berlebihan berat badan sekaligus berlebihan prasangka. Namun keputusan sang kakek tampan itu sepenuhnya berbeda, dia mengeluarkan ekstra uang untuk menjadikan sepetak tanah tersebut sebagai garasi untuk mobil klasik barunya. Di meja makan saat melahap santapan malam, sang cucu perempuan dengan polos menanyakan motif pendirian garasi baru itu. Dengan senyum bersahaja lelaki beruban itu menjelaskan "aku bisa saja menggunakan tanah ini untuk makamku, tapi itu berarti aku yakin akan segera meninggal dunia. Sedangkan aku ingin hidup lebih lama lagi. Aku memilih membuat garasi karena aku percaya dan berharap masih ada cukup waktu untukku menambah deretan koleksi. Sebuah kejenakaan besar saat kita berharap hal baik namun tindakan kita menunjukkan hal sebaliknya."




Manusia senantiasa diperhadapkan pada pilihan untuk mengambil tindakan, itulah keniscayaan. Itu sudah fakta lawas bukan? Namun sadarkah kita bahwa setiap pilihan kita selalu didasari akan dua kemungkinan tujuan. Seperti analogi sang kakek, satu pilihan yang diambilnya: membeli tanah. Namun motif pemanfaatannya menjadi jauh berbeda. Pertama adalah menyiapkan untuk makam, yang mencerminkan ketakutan bahwa tidak ada cukup lagi waktu baginya menikmati hidup. Sebuah tindakan was-was akan fakta bahwa usianya sudah semakin mendekati ajal. Sedangkan yang kedua menunjukkan siratan harapan bahwa dia masih memiliki cukup waktu untuk menikmati hidup lewat deretan mobil antiknya. Satu tindakan yang sama, mengandung dua makna motif yang sepenuhnya bertolak belakang: ketakutan atau harapan.

Ketika saya memilih mempertahankan Riyan itu bisa saja karena saya takut tidak ada lelaki lain yang lebih baik dari dia, namun faktanya saya mempertahankan dia karena saya punya harapan baik untuk masa depan kami bersama.

Saat kita memilih mengalokasikan dana khusus membeli sebuah gadget baru, itupun didasarkan dua garis besar motif. Ketakutan dikatakan ketinggalan jaman atau harapan bahwa segala akses kemudahan teknologi akan mempermudah hidup kita.

Saat kita memilih giat menyelesaikan skripsi atau tesis, tak jauh berbeda halnya. Itu antara kita takut malu tertinggal teman seangkatan atau karena kita memang optimis setelah gelar sarjana/master didapat banyak peluang akan terbuka lebar.

Sudah fakta yang populer bahwa kita terus dan terus memilih sesuatu, tapi yang jarang kita ingat adalah kenapa kita memilih hal itu? Serangkaian tindakan yang menindaklanjuti pilihan sangat bergantung pada motif tersebut. Ketika saya membuang kesempatan double degree, itu sepenuhnya didasarkan pada ketakutan. Sebagian orang berkata itu hal realistis, titik diri menyadari kemampuannya. Tapi kemudian terungkap bahwa itu murni sisi pengecut saya yang menolak untuk melakukan usaha ekstra.

Hampir selalu optimisme disinonimkan dengan utopis dan ketakutan dilabeli kata realistis. Seperti si kakek, entah cucu, kerabat, atau tetangganya pasti ada yang terheran dan menertawakan pilihan membangun sebuah garasi. "Wong wes tuwek." Begitu mungkin isi cibirannya. Satu-satunya yang tahu arti harapan dan sukacita soal garasi dan koleksi itu hanyalah dia seorang. Begitu juga kita. Hampir setahun jatuh bangun di pergumulan pekerjaan, saya membuktikan mitos bahwa kadang orang lain cenderung menertawakan pilihan kita yang berlandaskan harapan. Mereka kadang tanpa sengaja melemparkan kosa kata yang merujuk pada ejekan pada kita, murni karena kedangkalan mereka memahami motif atas pilihan tersebut. Tak heran jika Paulo Coelho pernah berucap 'you dont need explain your dream, it belongs to you.' Selama kita tahu persis apa pondasi pilihan kita, suara lain tidaklah terlalu utama.

Penting untuk tegas memilih, namun juga sangat penting untuk memastikan bahwa kita sedang berdiri di batu harapan dan bukan justru berjinjit di tepi jurang ketakutan. Setiap pengalaman pahit yang sesekali saya sesali kebanyakan disponsori tindakan yang mendustai motivasinya. Dalam angan saya berkata percaya, namun tindakan justru mengarah ke hal sebaliknya. Seperti kata kakek, itu sebuah kejenakaan bukan?


"May our choice reflects our hopes not our fears"
Ketika usai memilih sesuatu, tanyakan kembali pada diri kita "apa tindakanku selanjutnya?
Apakah aku sedang mempersiapkan makam ataukah sedang membangun garasi saat ini?"

Pernah mendengar istilah headskin? Sebuah teknik mencukur yang dipangkas habis dan menyisakan sekitar setengah sentimeter rambut di atas kulit kepala. Bagi kaum adam hal ini lumrah dilakukan. Seiring jaman, beberapa perempuan terinspirasi memberikan sentuhan serupa di kepalanya. Entah sejak kapan, saya mendambakan hal serupa dan akhirnya terwujud! But the purpose of this post is not for brag my new haircut by the way.

Sepulang dari tempat yang konon hanya dicintai kaum hawa tersebut (baca: salon) saya hanya bergumam sendiri merasakan lega dan bangga akhirnya bisa 'berdaulat' atas tubuh. Pergulatan gemas ini muncul pasca mengamati bahwa setiap kali saya ingin mimiliki model rambut tertentu ada saja yang memghalangi. Sebelumnya dikarenakan alasan akan mengikuti CPNS lalu kali ini karena akan kembali menjadi guru. Memiliki potongan 'yang sepantasnya' itu adalah jalan terbaik, begitu mungkin singkatnya. Masalahnya siapa yang menjadi hakim atas 'pantas' dan 'tidak' suatu hal?

"Potongan seperti itu dianggap gak sopan" begitu kata cece dan Riyan. Kenyataannya, selain mereka berdua di luar sana masih banyak yang menilai demikian.

"A stereotype is used to catergorize a group of people. People don't understand that type of person, so they put them into classifications ..." (Urban Dictionary)
"A generalization, usually exaggerated or oversimplified and often offensive, that is used to describe or distinguish a group." (Dictionary.reference.com)

Perempuan yang memiliki cat rambut atau potongan ekstrim dianggap sebagai wanita kurang baik. Seseorang dengan tato dianggap berandalan. Lelaki dengan tindik dinilai sebagai preman. Itulah yang ada di masyarakat. Bukan hanya soal fisik, ini kadang juga tentang selera musik, masih berkeliaran orang yang mengganggap bahwa pecinta heavy metal merupakan segerombolan bandit ataupun orang yang hobi melakukan aksi vandalisme. Ataupun gaya berpakaian, yang melahirkan stereotype bahwa lelaki yang menggunakan warna pink adalah kaum 'gay'. People tend to give a label, this fact has proven many times in our daily life.




Di agamaku diajarkan 'Tubuhmu adalah Bait Allah. Janganlah merusak bait Allah', sejujurnya ayat populer ini kadang digunakan semena-mena bagi orang dengan adat ketimuran yang kental untuk mengharamkan tato dan beberapa hal lain yang dianggap tidak lazim. Ijinkan saya membagi pandangan bahwa perusakan tubuh sebenarnya adalah justru saat kita enggan membudayakan hidup sehat. Rokok adalah salah satu hal yang menurut saya memang layak untuk dilarang. Sedangkan tato, itu merupakan sebuah seni yang tidak menyakiti tubuh secara berkepanjangan. Orang Kristen yang mengerti kutipan ayat diatas anehnya justru menganggap biasa perokok namun memandang sebelah mata pemakai tato ataupun tindik.

Lalu pernah satu kali teman saya membagikan cerita bagaimana seseorang di gereja kami menolak musik rock untuk masuk di musik pemuda gerejawi. Alasannya? Ketakutan bahwa akan ada biusan hal negatif yang dibawa musik tersebut di kehidupan rohani. Saya hanya geli dengan pandangan itu. Sebagai seorang Kristen Protestan yang sangat mencintai cara ibadah dengan keteraturan, saya masih selalu merinding ketika -dengan sopan- aliran musik semacam itu digunakan untuk memuji Tuhan. Rasa takjub yang sama adalah saat menyaksikan seorang dengan penampilan ekstrim tertib mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli. Seraya berdecak "semua selera, suku bangsa, dan segala faktor pembeda manusia tidak dapat menghalangi kita bersama menyembah Pencipta."

I love pixie cut, headskin, assymetric style. And I do adoring tattoo so bad. So you will say that I'm a bad Christian? Of course no. Yang akan membuat saya menjadi Seorang Kristen yang buruk adalah saat saya menyanyikan dosa dan berdansa dengan kesombongan. Saat saya makan kemunafikan dan tidur dengan kebebalan.
I'm not good at make up and I'm pretty bad with hair-do stuffs. But again, these reasons will never make me a woman anyless. Yang membuat saya menjadi wanita sepenuhnya adalah kemampuan saya untuk TUNDUK, pada Allah dan nantinya pada suami saya. Menjadi wanita seutuhnya adalah tentang saya menjalankan peran 'penolong sepadan' bagi pasangan saya.

Menjadi orang sopan, beragama, berbudaya, seharusnya tidak didasarkan pada perkara-perkara yang lekat dengan selera. Hal demikian merupakan atribut manifestasi sisi subjektif yang begitu beragam. Justifikasi sebenarnya adalah tentang tindakan dan kebiasaan, sesuatu yang lebih cocok untuk disejajarkan dengan penilaian objektif. Adat ketimuran harus dijunjung, saya tidak sedikitpun memperdebatkannya. Tentang sopan santun tindak dan tutur, mari berbangga dengan tetap menjadi 'old-style' dan bukan manusia sok modern yang lupa budaya luhur bangsanya. Tapi soal selera, tolong jadilah masyarakat yang dewasa! Berhentilah memberi label.


Untuk selera, harus ada kebebasan
Untuk yang prinsipal, harus ada kesamaan
Dan untuk semuanya, perlu ada kasih!

"Karena manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir" -Pengkhotbah.

Salah satu momen yang istimewa di hidup manusia adalah saat kita diperbolehkan menjadi saksi atas realisasi sabda-Nya. Kita berdecak "ah bener ya ayat di firman itu." Setidaknya itu berlaku untuk saya. Kita bukan hanya membaca namun menyaksikan dan mengalami. Adakah yang lebih indah? Kali ini saya ditampar oleh fakta betapa kerdil diri ini untuk memahami apa yang sebenarnya sedang sibuk Dia kerjakan.

Selasa yang tidak mengandung angka cantik menghantarkan pada dua kejutan. Semuanya seirama berkolaborasi menambah kekaguman baru tentang bagaimana Tuhan berkarya di pribadi seseorang.

Tulisan blog saya tentang "malu menjadi guru" adalah tulisan paling banyak di-reshare selain tulisan tentang Riyan. Secara acak, link itu disambangi oleh seorang kenalan yang saya temui di sesi Focus Group Discussion untuk rekrutmen sebuah NGO besar. Dia bertutur tentang kesannya terhadap tulisan saya yang (Puji Tuhan) membuatnya memiliki sebuah perspektif baru. Nyatanya, komentar singkatnya juga membawa saya pada pemahaman baru yang berharga.

Dia menceritakan betapa dia kaget akan kabar penerimaan karena pada dasarnya dia hanya 'mencoba'. Jika ditanya apa yang sangat dia inginkan, maka jawabannya adalah menjadi guru mengingat dia juga dari jurusan yang sangat cocok untuk berkiprah di dunia pendidikan. Namun setelah mencoba di berbagai institusi sekolah, asanya selalu terhalang. Sampai akhirnya dia diterima di NGO ini. Sepenuhnya berkebalikan dari saya yang sangat menginginkan NGO ini namun berujung pada penolakan dan memberi jeda untuk meneguhkan bahwa saya harus kembali berkarya menjadi guru. 

Dari baris kalimat di kolom komentar itu, saya memahami betapa rencana Tuhan atas setiap pribadi begitu mengejutkan sekaligus unik. Dia membawa anak-Nya dengan segala cara menuju tempat dimana seharusnya dia berada. Kegagalan kadang pertanda kita harus berusaha lebih keras tapi tak jarang itu sinonim dengan bahasa 'tidak' dari Allah. Bukan karena Dia jahat, murni karena Dia telah menyiapkan yang PALING SESUAI. Tidak berarti yang paling nyaman, tidak selalu yang paling menggairahkan, tapi PASTI yang paling sesuai.




Kedua, saya diingatkan bahwa apa yang kita miliki bahkan walau terlihat sangat remeh, kadang adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang lain di luar sana. Tidak ada alasan kita tidak bersyukur. Sungguh. 

Ketiga, kebetulan dia sampai ke blog kumuh ini, sederhana membuat saya semakin yakin tidak ada yang kebetulan. Setiap hal bisa Dia gunakan untuk menjadi sarana penjelasan bagi orang lain semakin memahami karakter Agung nan berdaulat-Nya.

Bukan saja perkara komen 'nyasar', Selasa kali ini menjadi semakin melekat di hati sekaligus membekaskan seutas senyum adalah karena sebuah kabar bahwa saya diterima menjadi peserta salah satu kegiatan Pemerintah untuk menghidupkan semangat kemaritiman. Sebuah kegiatan bernama 'Ekspedisi Nusantara Jaya' akan mengisi bulan Juni saya. Berlayar di secuplik laut megah Indonesia lalu diselingi dengan bersandar singgah ke pulau-pulau kecil untuk membantu masyarakat disana. Kalian tahu apa artinya ini bagi saya? 

Pertama, mengikuti program pelayaran sudah saya coba sejak 2013 namun terhalang ijin cuti. Jadi jelas, ini satu lagi poin dimana mimpi saya terkonversi menjadi kenyataan. Tidak mungkin bahagia absen dari hati ini.

Kedua, makna besar kegiatan ini bagi saya personal adalah titik temu dua keinginan besar yang gagal saya dapatkan. Antara bergabung NGO dan (C)PNS. Kerinduan saya untuk 'membantu' masyarakat di luar pulau Jawa yang sesak ini saya kira hanya dapat saya lakukan lewat NGO namun ternyata asumsi saya keliru. Ada hal yang sepenuhnya berbeda dari yang saya bayangkan yang bisa membuat saya men-check salah satu poin dari daftar keinginan. Sisi lainnya adalah fakta bahwa kegiatan ini benar-benar adalah agenda pemerintah. Kabar kembali menjadi guru PKN menyisakan satu pertanyaan, bagaimana mungkin saya mengajarkan tentang Indonesia tanpa pernah benar-benar berkecimpung atau mencicipi kegiatan yang memang digarap oleh pemerintah. Ternyata, rasa heran itu ditaklukan dengan kesempatan emas ini. Lagi-lagi manusia hanya jago menerka. 

Saya akan mengikuti salah satu kegiatan dari pemerintah yang melibatkan sangat banyak kementerian plus diperbolehkan menjadi 'berguna' untuk mereka yang sering terlupa. Oke, ini menjadi akhir kisah paling sempurna yang membuktikan bahwa kita boleh memiliki kerinduan namun jangan sekali-kali menyetir Dia untuk cara penggenapan kerinduan itu!

Akhirnya dengan sejuk hati penuh kagum saya dapat meminjam sepenggal paragraf favorit yang saya temukan dari buku Almost Heaven:
"I have been given this assignment by Him, the One who knows the end from the beginning, the One who holds the future in His nail-scarred hands and so I will gladly fulfill my role. Of course, it didn’t work out according my plan. LIFE GENERALLY DOESN'T. God had a totally different plan. I don’t know. I don't think I'll ever know. And part of me doesn’t even want to know. I just wanted this to be something that could only be explained by God’s intervention."

Manusia suka mencari tanda. Manusia gemar mengumpulkan fakta-fakta yang memperkuat posisinya. Itulah kenapa ulasan horoscope masih laris di kolom surat kabar dan ramalan kartu menjadi sesuatu yang tidak kehilangan pesonanya. Menjadi percaya tanpa melihat, bukan hanya Thomas yang sulit melakukannya 2000 tahun lalu.

Ini adalah cerita yang sudah lama parkir di otak saya dan akhirnya tidak tertahan untuk disemayamkan dalam tulisan. Kisah ini masih merupakan rangkaian memahami panggilan kala masa menjadi pengangguran. Seperti yang saya tulis di cerita lengkap sebelumnya, saya kembali menjadi guru. Fiuuh.. Melamar ke enam sekolah, adalah tindakan saya menguji hasil pergumulan dan semoga empat panggilan dalam satu minggu merupakan pertanda besar bahwa hmmm saya memang harus menggarap ladang ini. Tapi dasarnya manusia, seorang Claudya masih menggerutu. Setiap kali melihat aktivias sosial media kawan yang diterima mengabdi sebagai PNS dan sosial media pelayanan dari WVI, hati saya teriris (literally). Masih belum berdamai, mungkin itu tepatnya. Menerima kekalahan bukanlah hal mudah, apalagi jika setelah tahapan itu kita diharuskan masuk ke satu area baru yang sebenarnya ingin kita tinggalkan jauh. Saya bertanya ke Tuhan dan mempertanyakan diri sendiri. "Jangan-jangan aku salah mengartikan hasil pergumulan." begitu pembelaan dalam angan.
Suatu siang, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor yang tidak saya kenal. Ternyata itu lagi-lagi sebuah panggilan seleksi pekerjaan. Orang di seberang telepon itu berbicara sangat fasih dalam Bahasa Inggris, saya penasaran. Tidak berselang lama, terungkaplah bahwa itu merupakan panggilan pekerjaan dari sebuah sekolah tempat para anak expatriate di Surabaya bersekolah. WOW, saya tidak percaya lamaran yang saya kirim melebihi tenggat waktu maksimal ternyata ditanggapi dengan sangat baik. Sayangnya telepon itu berdering pasca keputusan akan ke sekolah mana saya akan berkarya sudah saya buat. Dengan sopan saya menolak tawaran itu. 

Panggilan yang mengusik jam santai saya siang itu tidaklah sia-sia. Samasekali tidak sia-sia. Lima dari enam sekolah, bukankah tanda besar bahwa this is a place I belong to be. Dua minggu setelahnya, sekolah keenam melakukan hal yang sama. Lengkap sudah pertanda ini, saya menemui jalan buntu untuk membangkang. Telepon kelima itu, menyuarakan kesan mendalam. Atas keterlambatan saya mengirimkan lamaran dan atas reputasi sekolah sebesar itu. Lebih-lebih kala saya mendengar responnya yang meminta saya kembali mencoba melamar di sekolah itu setelah kontrak saya di sekolah saya (akan) mengajar saat ini tuntas. Telepon keenam hanyalah bonus, sebuah tanda pemantab hati yang tidak saya minta, yang pastinya ditujukan untuk manusia super keras kepala seperti saya.




Kita rajin mengajukan tanda tanya pada Pencipta, jika kita cukup beruntung pertanda itu akan datang. Namun bagaimanapun kita tidak bisa terus mengandalkannya. Ada waktu di hidup pertanda akan bersembunyi hingga akhir. Percaya sebelum melihat pertanda adalah kualitas iman sesungguhnya. Saya gagal untuk itu, beruntungnya kekerdilan iman saya masih dinaungi oleh Kemurahan Pencipta. 

Setelah satu tahun ini saya tahu bahwa mencari pekerjaan (kadang) menjadi begitu rumit tapi sesuatu yang jauh melebihi itu adalah kesulitan mengungkap panggilan kita, dan kamu tahu apa yang paling sulit? menjadi taat.



Maret 2012. Pertemuan ITS dan Unair
Pertemuan perdana kami terjadi di Jombang, di rumah seorang dokter lulusan Unair yang juga aktif di persekutuan (dr. Leo Suisan). Waktu itu momennya adalah saling mengenalkan pengurus pusat persekutuan Unair dan ITS. Kami semobil di perjalanan pulang ke Surabaya, teman-teman kami entah dengan alasan apa terus menggoda dan menjodohkan kami berdua. Hal itu berlalu tanpa suara selain hanya perkenalan di sosial media. Berbulan-bulan kami menjadi hanya sekedar mengenal tanpa menjadi teman. (RY & cte)


September 2012. Ulang tahun
Di awal bulan aku dengan patuh nan lugu menuruti perintah seorang teman ITS (Beethoven) untuk mengucapkan selamat ulang tahun personal ke Riyan. Dia bahkan mengirimkan nomor Riyan lewat direct message twitter. Sms ucapanpun terkirim dan sejak saat itu kami terus saling bercakap lewat sms. Akulah yang memulai keakraban ini, sebuah sms yang tidak pernah aku sesali. (cte)
---
Di siang hari tepat di hari ulang tahunku, sebuah sms muncul dari nomor yang tidak tercatat di buku telepon. Seperti banyak sms lain, itu berisi ucapan selamat ulang tahun sambil ditambah kalimat doa singkat. Dengan penasaran aku membalas hormat berterimakasih sambil bertanya memastikan siapakah gerangan di balik nomor itu. Ternyata dia adalah Adiss anak Unair, seorang kenalan yang aku temui di Jombang beberapa bulan lalu. Terkaget juga dari mana dia mendapatkan nomorku, namun enggan lebih lanjut bertanya karena yang jelas saat itu aku sedikit berbesar hati karena dia muncul di hari pertama usia 22 tahunku. (RY)


Oktober 2012. Goodbye Papa
Papaku meninggal. Di saat itu aku melihat Riyan menjadi sosok yang meluangkan waktu untuk menghiburku. Masa kelam adalah penguji ampuh tentang kualitas seorang rekan. Riyan mendapatkan poin tambah kala itu. (cte)


Desember 2012. Natal pertama Kami
Setelah keakraban yang cukup, muncul sebuah rasa ingin mengenal adiss lebih lagi. Malam itu aku mantab untuk menyatakannya, walau memang masih bercampur rasa malu serta bingung menyusun percakapan. Adiss adalah seorang perempuan yang aku kira dapat menjadi penolong yang sepadan untukku. Hari itu aku bertekad jujur tanpa perlu terburu memulai hubungan. Bagiku, membiarkan perempuan tahu perasaanku akan membantuku menentukan sikap-sikapku ke depan sekaligus membuktikan bahwa aku seorang laki-laki yang dimandatkan menjadi inisiator dalam hubungan. Akhirnya dengan begitu jujur di sela obrolan aku mengakui ketertarikanku padanya. Malam itu aku sangat senang melihat responnya yang berterimakasih dengan tulus atas perasaan, keberanian, dan kejujuran dariku. Aku merasa memilih wanita yang tepat saat dia mengajakku menutup malam itu dengan tunduk doa bersama. Dengan jujur dia mengakui bahwa dia heran kenapa aku tertarik dalam selang waktu hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi. Terburu, mungkin itu kesannya terhadapku. (RY)
---
Terkejut adalah perasaan pertamaku, lalu disusul dengan rasa tersanjung membaca pengakuan darinya. Laki-laki yang sangat lugu, dia bahkan kebingungan sendiri menata kalimatnya. Mengingat itu membuatku tersenyum geli saat ini. Bagaimanapun itu terjadi hanya tiga bulan setelah kami intens berkomunikasi, bagiku ini sangat terburu. Namun aku belajar menghargai keberanian semacam itu dan menyerahkan ke Sutradara hidup. Toh waktu juga akan membuktikan dan memurnikan. (cte)


Januari 2013.
Masih teringat jelas aku seperti orang bodoh dengan langkah mondar mandir lalu naik-turun tangga di rumahku, hanya untuk memantabkan hati dan menata kalimat di telepon perdanaku itu. Setelah niat yang kembang kempis, aku putuskan menelepon. Setidaknya aku dapat melepasnya sebelum pergi ke negeri orang selama satu bulan. (RY)


Maret 2013.
Ini bulan dimana aku mulai meragukan Riyan. Aku melihat bahwa perasaannya (mungkin) sudah pergi begitu saja. Dia disibukan dengan wisuda dan mencari kerja. Bahkan oleh-olehku dari Thailand yang aku harap membuatnya berinisiatif menemuiku tatap muka, hanya terbentur dengan kecuekannya. Menyebalkan! (cte)


April-Mei 2013. Hilang Kontak
Rasaku masih sama, tapi adiss tidak ada suara. (RY)
Dia berkata suka, tapi kini hilang begitu saja. Apa maksudnya? (cte)


Juli 2013. Thanks to facebook
Ulang tahunnya adalah momen kami kembali bercengkrama. Aku menyiapkan satu kejutan kecil untuk adiss di hari istimewanya itu, Satu-satunya jalan adalah mengirimkan lewat Facebook. Rasa senangnya tidak dia tutupi sama sekali, padahal pemberianku sangatlah sederhana. Menggembirakan juga merasa berhasil menunjukkan keistimewaan khusus padanya. Tidak lupa aku menanyakan nomornya lewat jendela chat facebook dan menjelaskan kenapa aku sempat menghilang. Melawan gengsi, aku mengakui di dua bulan itu aku mencarinya. (RY)
---
Dia melakukan hal simple di ulang tahunku dan membuatku terpesona. Mulai saat itu kami kembali intens berkomunikasi dan terungkap bahwa dia menghilang karena telepon genggamnya sudah tutup usia dan nomorku turut lenyap. Senyum lebar terutas karena tahu ternyata dia mencariku juga. Aaaaahh (cte)


Desember 2013. Natal kedua kami
FINALLY, dia mengajakku keluar. Di liburan Natal, dia pulang kampung ke Surabaya dan menyempatkan bertemu berdua denganku. Ini pertemuan personal kami yang pertama, tepat satu tahun setelah dia mengungkapkan perasaannya. Sebuah tahapan yang pelan namun pasti. Syukur tiada henti aku haturkan. Dari sini aku melihat kualitas pria, dimana tidak melakukan yang terlalu banyak bagi seorang perempuan sebelum memantabkan hatinya sendiri. Tidak membiarkan seorang perempuan salah tafsir akan niatan sang lelaki. Aku tahu dia grogi saat itu, sampai dia meninggalkan jaketnya di kursi restoran saat kami beranjak pergi. Selagi bertemu aku tidak lupa bertanya: “Bagaimana perasaanmu setahun lalu? Masih samakah?” (cte)
---
Sore itu aku sempat nyasar saat menjemputnya. Dia datang dengan membawa helm keroppi di tangan. “Anak ini benar-benar penyuka kodok hijau rupanya,” begitu bisikku dalam angan yang segera terpecahkan dengan sapaan “halo Riyan” darinya. Kami bersalaman, seakan baru kenal. Gadis berbalut pakaian hitam itu menunjukkan grogi yang tidak biasa. Menggelikan juga jika mengingat dia salah tingkah terhadap sebuah cherry merah di gelas minumannya. Di sela mengunyah makanan Italia dan di hadapan gadis yang aku doakan selama satu tahun itu, aku semakin memantabkan hati. Aku meminta ijin untuk menjalin komunikasi lebih intens dengannya, yaitu beralih dari komunikasi teks menuju ke telepon. Lalu aku tidak lupa menjawab pertanyaan lembutnya, dengan senyum aku menanggapi “iya, perasaanku setahun lalu itu masih sama.” (RY)


17 April 2014. Hari Eksekusi
Aku berkutat berhari-hari dengan sebuah buku pop-art. Kurang kece bagiku untuk menyatakan rasa tanpa menunjukkan usaha ekstra. Di tengah kesibukan aku belajar membuat pop-art 3D dan aku harap dapat menjadi peluru jitu mencuri kata IYA darinya. Dengan senyum berpadu nervous aku menyusun halaman per halaman. Buku itu bersampul gambar planet bumi, tempat kami bertemu (begitu pula milyaran pasangan lain. Haha) Kian hari kemantaban bertambah. Kualitasnya sebagai wanita yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti mencari yang lain. Sudah waktunya aku memulai menjalin hubungan. Jika diterima, maka saat ibadah Jumat Agung keesokan harinya, aku sudah dapat menyebutnya sebagai kekasih di hadapan Tuhanku di gereja. Oke, ini hari yang tepat! Skenario yang sempurna! (RY)
---
Nonton dan makan, aku kira hanya itu isi hari Kamis malam kami setahun lalu. Tidak disangka, dia yang saat itu berkaos biru dengan raut aneh mengumpulkan keberanian untuk menunjukkan sebuah buku. Dia memberiku waktu membaca. Disana tertulis tentang kasih, tantangan, altar gereja, dan sebuah rumah. Tanpa banyak bicara, dia menanyakan kesediaanku menjadi pasangannya. Sejujurnya aku berharap akan ditembak keesokan harinya, tepat setelah ibadah Jumat Agung selesai. Bangku gereja merupakan satu tempat idaman aku memulai sebuah hubungan. Laki-lakiku punya rencana yang berbeda mungkin. Kualitasnya sebagai laki-laki yang aku tangkap di empat bulan ini, meneguhkanku untuk berhenti menunggu yang lain. Buku astronot (begitu kami menamainya) itu siaga mengetuk kemantabanku. Jerih lelahnya terbayar dengan anggukan kepala penuh senyuman. Kami mulai pacaran! Yeaaay. (cte)


18 April 2014 (Jumat Agung). Doa
Bisikku adalah: “Terimakasih telah mati bagiku. Dan terimakasih atas orang disampingku yang kini adalah pasanganku. Tolong jagai kami, Tuhan. Ajari kami kasih-Mu” (RY & cte)






(Hampir) setahun sudah, usia hubungan kami. Melewati banyak kata maaf dan terimakasih. Diisi dengan ribuan kata panggilan ‘sayang’ yang kerap menguap di tengah amarah. (23 kata)
365 hari kami merajut kasih, diselingi doa dan kemesraan, kadang berganti pertengkaran konyol yang pada akhirnya berujung tawa geli. Kami bergantian merendah untuk bersedia diisi. Berusaha tangguh untuk layak mengisi. (30 kata)
Setelah menjalani proses panjang, orang kerap bertanya pada kami “kenapa harus perlahan jika bisa cepat?” Betul juga. Tapi agaknya mereka lupa bahwa ada kenikmatan khusus yang tidak akan dirasakan jika tergesa-gesa. Waktu adalah penguji terbaik. Jarak adalah tambahan faktor yang memurnikan. Apakah rasa itu hanya asmara atau sebuah keseriusan masa depan. Proses perlahan yang lelakiku pilih adalah kebanggaan kami. (58 kata)
Aku bisa saja menuturkan segala kelemahaannya, begitu sebaliknya. Tapi setahun ini mengajarkan bahwa hubungan antara dua manusia adalah tentang berfokus terhadap apa yang baik sembari saling berproses membenahi yang kurang baik, Sesederhana itu. Tentang penerimaan dan penyesuaian. Dua orang yang sama-sama tidak sempurna, penuh beda, namun saling cinta. Akhirnya menyisakan dua kewajiban yang sama rata: meregang dan melebur. Itulah garis besar satu tahun ini. (64 kata)
Melebur. Bagian menyakitkan yang pertama. Beberapa orang (laki-laki khususnya) bahkan menganggap ini sebagai kelemahan, tapi berita buruknya adalah ini harus dilakukan. Rasa sakit itu berbanding lurus dengan imbalan kedamaian. Mengalah dan mengesampingkan kerasnya diri sendiri, bukankah ini latihan ikhlas yang sesungguhnya? Ketika ada beberapa perbedaan, dua manusia bergantian melebur kadang dengan rela seringnya dengan sedikit terpaksa. Meleburkan apa? meleburkan selera, pandangan, dan pastinya ego. Memadukan perbedaan menuju satu anggukan sepakat yang seirama. (72 kata)
Meregang. Tak ubahnya perempuan hamil. Analogi ini aku pilih setelah menyaksikan bagaimana calon ponakanku terus mengambil ruang di perut ibunya. Awalnya mengira perutnya sudah cukup membuncit dan tak akan lebih membesar lagi, namun kenyataannya berbeda. Penyesuaian ukuran uterus terus terjadi demi memberi ruang kepada manusia lain. Itulah yang dilakukan dalam hubungan. Melakukan penyesuaian dan memberikan ruang. Ada kalanya merasa “ini sudah cukup” namun kenyataannya, naluri cinta memampukan ruang itu terus membesar. Itulah jalan berbagi hidup, yaitu dengan memberi ruang. Dengan meregang. (81 kata)
Seorang kakak persekutuan kampus pernah kutanya seberapa dia yakin akan menikah dengan kekasihnya, dia menjawab 99%. Seorang Adiss terperanga heran, andai aku bisa seberani dia. Satu persennya adalah jika faktor distraksi yang benar-benar tidak bisa dikendalikan terjadi, begitu jelasnya. Jika padaku ditanyakan apakah kami pasti akan menikah? Aku tidak tahu jawabannya dan juga tidak tahu bagaimana bergeming bijak dan merdu untuk itu. Satu yang pasti, pernikahan adalah tujuan kami. Sebuah tujuan suci yang kami landasi dengan iman, pengharapan, dan kasih. Aku hanya terus berharap ini adalah kisah yang tidak mengenal pisah. (91 kata)
Dia pernah sedikit mengecewakanku soal kelalaiannya menyemarakkan hari ulang tahun dengan kejutan ataupun pemberian sesuai ekspektasiku yang mungkin terlalu tinggi. Namun di hari yang berbeda dia memberiku hadiah paling indah yang berbeda: keluarga. Ini kado terbaik sepanjang masa. Dimulai dari ibadah natal bersama orang tuanya, aku mengenal keluarga baru yang semoga kemudian dapat aku sebut sebagai mertua. Belum lagi rasa besar hati karena diperkenalkan di keluarga besar. Aku melihat bagaimana lelakiku yang tidak jago merangkai kata namun ahli membuat gadisnya tergila-gila. Bukti keseriusannya bukanlah kalimat “mencintaimu selamanya” namun sebuah tindakan mempersilahkan aku masuk di keluarga yang begitu ia banggakan. Aku lebih dari beruntung. (103 kata)
Mengasihi dengan sederhana, aku belajar darinya. Tanpa banyak basa-basi namun penuh aksi. Tidak banyak mengumbar janji namun menatap masa depan bersama dengan pasti. Suatu malam kala aku berbaring santai dengan kakak perempuanku, Riyan menelpon dan seketika membawaku pergi dari sebuah kasur empuk menuju awan-awan lembut. “Kalau tahun depan aku sudah mampu, lalu aku ajak kamu nikah, gimana?” Ah sungguh, pertanyaan yang belum terjawab itu memenangkan hatiku sebagai seorang perempuan. Tidak terburu-buru dan terus mempersiapkan segalanya, kami rajin saling mengingatkan tentang itu sembari memilih terhanyut dalam rutinitas yang tidak pernah membosankan: sekedar ucapan selamat pagi ataupun senyum melepas malam. Konsistensi dan kesetiaan, adalah bahasa romantisme universal cinta yang dewasa, setidaknya menurutku. (110 kata)
Di sejumlah hari kami bersama, di sela-sela rindu terselip pilu. Dia beberapa kali menghancurkan hatiku. Misalnya saat bertanya “kapan kita bisa tinggal satu kota?” Jawaban akan tanda tanya itu belum kami temukan hingga hari ini. Jarak yang ada bukan bencana namun bagaimanapun rindu yang menggebu itu tidak selalu nikmat. Dia sekali lagi mematahkan hati, saat jam dua pagi mengirimkan teks memberitahu bahwa dia sakit dan dengan rendah hati berandai aku dapat disana merawatnya. Miris mengusir tidur lelapku. Aku yang adalah gadisnya tidak dapat berbuat apa-apa. Merawat hanya lewat kalimat. Memberi rasa nyaman lewat ketikan tangan. Jarak membawa siksa, itu adalah fakta. Teknologi memang membantu, membuatku dapat menikmati senyum tampannya. Namun untuk gandengan tangannya yang sangat lembut, aku tetap harus sabar menunggu. (122 kata)
Memiliki Riyan membuatku menyadari betapa indahnya relasi yang berkiblat pada hubungan Kristus dan jemaat-Nya ini. Di sebuah buku rohani tentang pasangan hidup aku melihat betapa indahnya skenario saat Allah menciptakan Hawa untuk Adam. Dia yang adalah Pencipta Semesta menahan diri-Nya untuk tidak mengisi sebuah kekosongan dalam diri Adam -sebagai smbol dari semua laki-laki- dan mengijinkan ruang kosong itu hanya diisi oleh seorang dari tulang rusuknya. Peristiwa perjodohan pertama di muka bumi ini tidak henti menginspirasiku untuk menjadi wanita yang dapat mengisi sisi kosong laki-laki yang memang adalah kesengajaan Allah sendiri. Pencipta yang segala Maha itu telah menahan diri-Nya untuk mengisi kekosongan Adam, Riyan, dan seluruh laki-laki di muka bumi ini. Pengenalan akan skenario agung tersebut agaknya menyadarkan kami bahwa sebenarnya tidak ada alasan manusia tidak menahan ego-nya untuk membentuk kesepadanan dan harmoni hubungan perempuan dan laki-laki. Mengalah penuh kasih, itu adalah teladan pertama yang diajarkan Allah di taman Eden dalam skenario pasangan hidup. Pilihannya adalah kita mau meniru atau membantah? (159 kata)
Perasaan paling menyenangkan dari memiliki Riyan adalah merasa cukup. Dua teman perempuanku pernah berdebat kecil mempertanyakan tentang “mencari yang terbaik” atau “mencari yang lebih baik.” Bagiku, ada banyak orang yang lebih baik dari Riyan. Daniela Mananta misalnya. Itu sekaligus menjelaskan Riyan bukanlah yang super ataupun terbaik. Tapi ijinkan aku membagi pandangan, bahwa yang kita cari bukanlah yang terbaik ataupun lebih baik. Pencarian semacam itu sangat melelahkan. Sebenarnya yang kita butuhkan adalah menemukan yang paling sepadan. Dia yang kurang-lebihnya dapat mengisi kita dan diisi oleh kita. Aku menemukannya dalam diri Riyan Yonathan. Kenyataannya wanita bukan hanya mencari pria yang dapat membuatnya tertawa namun juga bersedia dibuat tertawa olehnya. Bukan hanya tegas untuk mengatur tapi juga memiliki hati yang bersedia ditegur. Tidak dapat dipungkiri ketika kita memberi saran, teguran atau sekedar alasan untuk tertawa, kepercayaan diri meningkat. Dari kepercayaan diri yang cukup, cinta yang sehat mengembang. Di momen Riyan tertawa, aku menjadi semakin jatuh cinta. Merasa cukup, itu perasaan sederhana yang luar biasa. Membisukan hingar bingar keserakahan manusia. (166 kata)


----
Akhirnya jika ditanyakan apa momen terindah bagiku dalam 12 bulan ini, maka aku akan jawab: saat Riyan berkata “aku merasa begitu dikasihi olehmu.” Ini adalah pencapaian dan keberhasilan terbaikku. Satu kalimat yang memperlihatkan bahwa segala usahaku ditafsirkan tepat oleh pasanganku. Kasihku pada Riyan di 12 bulan hubungan kami, sama seperti jumlah kata dalam 12 paragraf di tulisan ini: terus bertambah. Aku menulis ini dengan sedemikian, untuk menyuarakan syukurku yang tidak terhingga :)



Tentang perjalanan cintaku, aku harap kamu adalah titik. Tidak ada alinea baru setelahmu. Dan tentang lembar kisah kita berdua, aku harap setiap hari adalah koma. Selalu ada lanjutan baru yang membuat kasihku semakin bertambah.
Judul diatas bukanlah sebuah majas melainkan tema harafiah. Belakangan ini saya sedang gandrung dengan tren masa kini: LARI. Pacar saya sudah mengingatkan untuk saya mencoba aktivitas yang katanya asyik ini sejak lama, tapi saya terlalu enggan dan lebih berminat dengan jenis olahraga lain. Setiap kali melihat di sosial media beberapa orang berkomentar "lari itu bikin nagih", saya hanya mengangkat satu alis tanda ragu dan heran.

Sampai suatu siang di sebuah laboratorium kesehatan, sosok bapak dengan jas putih dan pembawaan yang kalem memeriksa denyut nadi dan detak jantung saya. Ragu dan heran saya melebur menjadi tekad.

"Jantungnya santai ya mbak. Beda sama orangnya yang sangat bersemangat." begitu kalimat pertamanya sembari masih memegang stetoskop di tangan.
oh gitu ya dok?
"Iya mbak. Jantung dan sisi sanguinnya gak sinkron ini."
Dia menambah kalimat yang membuat saya meraba, dia ini dokter atau psikolog ya?

Nasihat berulang-ulang dari Riyan terkalahkan dengan satu komentar seimbang antara miris dan humoris dari Dokter tersebut. Setelah prosesi pemeriksaan umum selesai, dia menyarankan saya mencoba olahraga lari. Alasannya sederhana karena olahraga itu memang sangat baik menjaga konsistensi tempo detak jantung.

Oke, saya akan biasakan lari. Itu tekad saya sepulang dari laboratorium kesehatan. Hal tersebut terlaksana setidaknya seminggu penuh ini. Selagi di desa dengan kesejukan dan suara alam yang indah, saya bangun lebih pagi untuk mengekspresikan saya menyayangi sang organ pemompa darah.

Setelah lari sekitar 15 menit, saya letakkan telapak tangan di dada hanya untuk merasakan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. Menyenangkan! dag-dig-dug kencang pasca lari mengingatkan saya tentang panas-dingin kala jatuh cinta. Merasakan dengan telapak tangan bagaimana jantung ini lebih bergairah memompa darah menyulut semangat saya juga. Perasaan unik ini sangat menyenangkan. Dan somehow, ini yang membuat saya ketagihan.


Kapanpun kita ingin menyerah atau sedang jenuh, sepertinya lari adalah solusi ampuh! Bukan lari dari kenyataan yang justru tidak membawa hikmah apa-apa, tapi justru lari keluar rumah dan menggerakkan kaki lebih lincah, lalu menikmati fakta ada organ tubuh kita yang begitu bergairah mempertahankan hidupnya.

Lari seminggu ini, bagi saya pribadi, bukan saja latihan fisik namun juga peneduh psikologis. Dia bertransformasi menjadi salah satu pengingat jitu untuk saya lebih menghargai hidup dari hal sederhana, seperti hembusan nafas, detak jantung, udara pagi, dan segarnya air putih :)

Lagi-lagi, ini perasaan yang menyenangkan!

Majalah terkemuka Amerika Serikat, TIME, tahun lalu memuat satu bahasan khusus tentang SURGA. Sampulnya bergambar seorang laki-laki sedang duduk dengan pose sedang meneropong sesuatu di awan-awan. Judul yang terpampang adalah Rethinking Heaven.

Saya penasaran surga seperti apa yang akan dibahas oleh majalah yang jelas bukan genre religius itu. Ekspektasi saya cukup tinggi. Ada banyak informasi yang saya dapatkan, tentang konsep surga di berbagai budaya dan kepercayaan.

Siang itu saya sedang berada di Perpustakaan tersohor Universitas Indonesia, dan disanalah saya mendapatkan intisari bagaimana pemikiran soal kehidupan setelah kematian membawa pengaruh signifikan bagi durasi kala masih di bumi. “People who are heaven-minded are world changers.” Begitu bunyi sepenggal kalimat di halaman itu.

Berusaha menjadi orang baik, sederhananya, merupakan implikasi logis dari kepercayaan akan eksistensi surga.

Saya disini tidak ingin sedang membedahnya dari segi keimanan saya, justru saya tergelitik tentang bagaimana kita sebagai orang bertuhan -terlepas apapun agama kita- menghayati keimanan dalam keseharian kita.

Apakah menjadi orang yang sangat ngotot ingin masuk surga dan menjadi pengikut agama yang baik menghalalkan kita terus mencari kesalahan atau titik lemah agama lain? Saya rasa tidak.

Oke, saya akan akui saya menulis ini karena rasa gerah akan laman facebook saya yang diisi satu dua orang yang terus saling bertemu dalam kolom ‘comment’ untuk berdebat. Ini bukan tentang agama apa dan siapa yang mengatakannya, ini tentang mengoreksi cara-cara kita saat berupaya membuktikan bahwa kita adalah seorang “heaven-minded.”

Baik dari kawan Kristen (seagama dengan saya) ataupun kawan Muslim, saya menemukan dua tipe ‘religius’ yang sangat berbeda. Orang pertama sangat hobi menggunakan sosial medianya untuk membuka ruang ‘bertukar pikiran’ walaupun kebanyakan berujung pada debat dunia maya. Melalui facebook, kebanyakan, dia bahkan tak segan untuk memberikan komparasi akan dua agama mayoritas di negeri ini. Yang Kristen menyindir yang Islam, dan sang Muslim menyindir Orang Nasrani. Saya tidak tahu apa motifnya.

Tipe kedua, diwakili oleh teman KKN saya, dia adalah seorang Muslim yang paling Islam yang pernah saya temui. Ini juga mewakili satu sahabat Kristen saya yang juga mengantongi kekaguman saya luar biasa. Mereka berdua sangat taat bahkan banyak berkarya. Sosial media mereka religius namun dengan nada yang sepenuhnya berbeda. Bukan melakukan perbandingan doktrin antar agama, kebanyakan justru membagi hal inspiratif atau bahkan koreksi terhadap teman seagamanya. 

Sebagai misal adalah saat kawan muslim saya membagi artikel bagaimana umat muslim harus belajar tertib merapikan sandal saat sholat Jumat. Dia tak tanggung-tanggung menampilkan kontrasnya perbedaan soal kerapian itu dengan kawan kita yang beragama Budha di depan Vihara. Sama-sama melakukan komparasi mungkin, namun untuk mengoreksi sesama penganut agamanya. Teman saya yang Kristen juga berlaku demikian, dia mencetuskan beberapa kalimat yang justru menegur sesama orang Nasrani.

Apakah artinya kawan muslim saya menjadi kurang-Islam dengan memuji salah satu kebiasaan baik orang Budha? Tidak samasekali! Apakah teman Kristen saya mnjadi kurang berkualitas keimanannya dengan memberikan teguran-teguran halus tentang kekristenan? Sekali lagi, tidak!

Saya kira –pendapat sangat personal- orang yang menghayati agamanya benar-benar tidak akan disibukkan dengan diskusi-diskusi tentang “siapa yang lebih benar?”

Apa yang disebut orang muslim sebagai ‘Dakwah’, kami (saya dan teman Kristen) sebut sebagai ‘Penginjilan’. Keduanya menganjurkan kita membagi ‘kabar baik’ sesuai agama masing-masing, jika saya tidak salah mengartikan.

Di saat yang bersamaan saya yakin, keduanya juga tidak pernah bertujuan untuk memecah belah dan memanaskan suasana.

Kita berusaha membuat teman seagama kita menjadi lebih baik tanpa membuat teman lintas agama kita tersinggung. Kita yang meyakini agama kita dengan teguh sekaligus teduh, akan lebih banyak membagikan hal-hal indah tentang kepercayaan kita tanpa perlu menciderai agama lain. Fakta bahwa kita hidup di negara seberagam Indonesia agaknya menggiring kita pada tuntutan tata perilaku tertentu demi menjaga kedamaian, walaupun sebatas di ruang maya.

Lebih dari itu. Surga yang dijanjikan masing-masing agama seharusnya mendorong para pengikutnya mencari tahu karya apa yang dapat digarap untuk menjadikan kehidupan lebih baik bukan justru membuat banyak pihak merasa terusik.

“…. To open their arms more often than they point fingers” -TIME


I’ve learned from life that sometimes, the darkest times can bring us to the brightest places.

That our most painful struggles can grant us the most necessary growth.

I’ve learned that what seems like a curse at the moment can actually be a blessing,
and that what seems like the end of the road is actually just the discovery that I am meant to travel down a different path. 

I’ve learned that no matter how difficult things seem, there is always hope.




And I’ve learned that no matter how powerless I feel or how horrible things seem, I can’t give up. I have to keep going.
Even when it’s scary,
even when all of my strength seems gone,
I have to keep picking myself back up and moving forward,
because whatever I'm battling in the moment, it will pass, and I will make it through. I’ve made it this far. I can make it through whatever comes next...

(Powerful Word by Yasinta Astrid)
Minggu depan tepat 9 bulan saya menjadi pengangguran. Usia pas untuk seorang wanita hamil melahirkan. Di durasi ini banyak kisah tersimpan, saya berjanji membagi rinci kala semua terjelaskan benang merahnya. Sekarang adalah waktu tepat saya membagi seberkas kisah membosankan ini.
Keputusan resign dari pekerjaan yang super nyaman harus saya ambil, katakanlah ini bentuk kenekadan seorang pemudi tak tahu diri. Awalnya saya kira ini adalah strategi, terungkap kemudian ini wujud dari ingkar pada panggilan.

Di bulan-bulan awal saya menjadi pencari kerja, telinga disegarkan dengan kabar peluang untuk bergabung di sebuah lembaga nirlaba untuk menjadi tenaga pendidik di pedalaman. Panggilan ini merupakan titik terang sekaligus penghiburan besar yang tepat sesuai keinginan. "I make my dream come true" kalimat ini ingin segera saya tulis di segala sosial media. Saya menunggu jadwal wawancara dengan antusias sembari mempersiapkan segalanya, tanpa sibuk lagi membagi lamaran kerja. Antusiasme menanti kapan dapat mulai pergi ke wilayah Timur Indonesia untuk membagi ilmu. Seminggu.. dua minggu.. telepon lanjutan tak kunjung datang. Singkat cerita, entah saya dibohongi atau apa, hal itu kandas. Itulah momen terendah saya yang pertama selama menjadi jobseeker. Dalam hati saya menuduh Tuhan sedang mempermainkan saya.  Bagaimanapun sangat lebih baik jika panggilan itu tidak pernah datang, pikir saya dalam angan. Ini adalah kabar PHP alias Pemberi Harapan Palsu, tanpa kabar itu saya akan tetap giat mencari kerja tanpa terbuai ke langit ketujuh. Tanda tanya besar saya ajukan dengan nada marah.
Waktu berlalu dan saya sudah pulih dari kecewa. Fokus mempersiapkan tes CPNS adalah strategi saya di sekitar bulan November itu. Di tengah mempersiapkan diri untuk persaingan ketat menjadi abdi negara, saya lagi-lagi absen dari aktivitas menyebar lamaran. Singkat cerita, secara ajaib saya lolos hingga tahap akhir. Tahap demi tahap adalah proses saya semakin menginginkan ini. Setelah dua bulan menunggu –durasi yang cukup lama- rasa gelisah penantian tergantikan dengan air mata. Saya hanya ada di cadangan. Dibutuhkan lebih dari keajaiban untuk membuat saya benar-benar bisa bekerja disana. Tangisan saya di satu hari menjelang hari kasih sayang itu disponsori bukan hanya oleh kesedihan tapi juga amarah, mengapa harus dibawa sampai akhir jika akhirnya gagal? Waktu, dana, dan tenaga terlanjur dihabiskan disini dan berujung percuma.
Tak selang lama, panggilan dari satu tempat yang memang saya inginkan sejak saya lulus kuliah, datang. World Vision Indonesia persisnya. Ini adalah penghiburan luar biasa. Satu per satu tahap saya lewati. Hati saya bersemi, karena jika ini tempat yang Dia pilih, maka saya akan menjalaninya dengan bahagia. Kegagalan CPNS akan menjadi sepenuhnya masuk akal. Ternyata benar, saya dibawa hingga ke Tangerang. Di tengah berbagai polemik pergantian jadwal dari institusi tersebut, saya memperpanjang kesabaran. Selalu ada ruang cukup di hati bagi sesuatu yang sungguh kita ingini. Kesempatan ini benar-benar bisa memulihkan hati saya dari luka sekaligus membuat impian saya menjadi nyata. Berkunjung ke kantornya adalah momen saya makin jatuh cinta. Ora et labora saya terapkan maksimal di tahapan akhir konversi mimpi jadi nyata.
Sekembalinya ke Surabaya, sebuah email dari tim recruitment masuk ke inbox surel saya. Tanpa pikir panjang, dengan antusias saya membuka. Hanya berselang beberapa hari dari tes, hasil final telah keluar. Disana tertulis bahwa saya tidak dapat mengisi posisi tersebut. Saya baca ulang dan baca ulang, berharap ada kesalahan baca. Namun ternyata benar, satu lagi penolakan besar saya alami. Berbeda dengan kabar CPNS yang membuat saya langsung menumpahkan hujanan air mata dan menghampiri banyak kawan, kali itu saya hanya terdiam dan merahasiakannya. Saya duduk dan berdoa. Apa inti semua ini?
Di antara berbagai lamaran, hanya sedikit yang berlanjut pada panggilan. Di antara beberapa proses seleksi HANYA DUA yang sampai ke tahap akhir: CPNS dan WVI. Keduanya adalah point impian saya. Dua biji momentum membuat saya mencicipi kedua gedung tempat saya ingin berkarya namun tanpa kesimpulan bahwa mereka menerima. Merasa bodoh dan kacau. Doa usaha agaknya tak kurang-kurang saya haturkan. Kecewa jelas ada, setelah dibawa ke awan karena dua kerinduan dibimbing hingga tahap akhir, lalu dihempaskan ke dasar laut saat berujung pada penolakan. Sungguhkah seburuk itu saya? Tapi di sela itu diri hina ini meminta dengan sangat untuk rendah hati menyediakan ruang di pikiran untuk mengolah apa inti semua ini. Mungin dan hampir pasti ada sesuatu yang terlewat.



Bagaimanapun TUHAN ITU BAIK, hanya tidak boleh saya kotakkan kebaikanNya dengan apa yang nyaman versi saya. Dalam hening, saya memutar kembali perjalanan pencarian kerja ini. Sebuah proses yang normalnya dialami fresh usai lulus kuliah. Tepat setelah resign dari profesi guru, tawaran pertama yang hadir adalah menjadi guru namun di sekolah lain dan jenjang yang juga berbeda. Kesempatan ini tanpa melewati lamaran senormalnya, sebab sang kepala sekolah sendiri yang memberi tawaran. Saya menolak dengan santun saat itu, karena saya tahu rencana saya ke depan. CPNS, Berkarya di Pedalaman, dan Menulis. Hanya tiga itu. Kembali menjadi guru bukanlah opsi. Sore itu saya tergelitik, jangan-jangan apa yang paling saya ingkari merupakan petunjuk paling nyata. Ah tidak mungkin, saya buyarkan lamunan. Saya tidak ingin kembali menjadi guru. Tegas saya dalam logika.
Durasi perenungan itu berlanjut dengan mengakui bahwa menjadi guru di satu tahun saya sebelumnya merupakan pengalaman luar biasa. Seutas senyuman hadir. Ditengah penolakan saya terhadap pengulangan profesi ini, saya melihat diri sendiri sebagai pribadi yang sudah mengecilkan peran yang telah menghadirkan banyak hal indah dalam 16 bulan kehidupan saya.  Dicintai banyak murid dan dapat dianggap berjasa karena membagi ilmu. Saya rasa ini cukup keren. Rasa senang menjadi guru tertutupi rasa malu. Kembali menarik mundur, pikiran ini ternyata mulai mengusik sejak satu malam di Jogja kekasih saya mengatakan dengan jujur bahwa ayahnya menginginkan menantu dengan pekerjaan yang keren. "Oke, waktunya cari pekerjaan yang lebih kece" itulah kira-kira tekad dan kesimpulan seorang Claudya malam itu, demi dapat menjadi menantu idaman sang calon mertua. Akhirnya di paragraf ini air mata saya tumpah, bukan menyalahkan Riyan apalagi ayahnya, tapi murni menertawakan diri sendiri yang dengan mudah mengingkari kebahagiaan demi kepentingan orang lain. Dan makin miris kala tahu bahwa saya telah tidak taat pada Sang Pemilik saya hanya untuk menyenangkan manusia lainnya.
Paradigma bahwa menjadi guru bukanlah hal keren semakin tertanam saat melihat teman-teman sejurusan saya. BPJS, Kemenlu, MT Danone, berbagai Bank besar, dan sebagainya. Seketika saya malu, merasa kecil, dan terkesan gagal membanggakan. Di negara ini atau mungkin masih banyak negara lain, profesi guru bukanlah hal bergengsi, bukan begitu? Sampai suatu siang saya menghampiri sahabat saya yang bijak, Sinta, untuk menceritakan ini. Dan nasihatnya saat itu adalah: sawang sinawang. Semakin kita melihat dan membandingkan, maka tidak akan ada habisnya. Lebih baik fokus melakukan yang terbaik sesuai dengan apa yang diminati. Saya sepakat. 
Mungkin kesempatan CPNS dan MT WVI hingga tahap akhir tidak lain sebagai hadiah agar saya dapat mencicipi dua gedung bangunan tempat impian saya berkarya, dua kesempatan saya bertemu sahabat saya Sinta (karena saya selalu menginap disana) dan menambah kesempatan berkencan dengan pacar saya. Entahlah, benar atau tidak. Sang Pencipta selalu layak akan prasangka baik kita. Ini adalah kebetulan yang menyakitkan bagaimanapun. Saya terlampau yakin, Dia tidak pernah berniat jahat dan sekaligus percaya Dia tidak akan nyasar menempatkan anak-Nya. Jangan-jangan ini adalah caraNya mengingatkan ke saya yang keras kepala ini bahwa Keinginan dan Rencana akhirnya kalah dengan apa yang dinamakan PANGGILAN.
Dengan berusaha lembut saya mengoreksi diri, mungkin ini adalah konsekuensi ketidaktaatan saya dari awal. Perjalanan panjang menjadi jobseeker ini telah menumpaskan tabungan dari 16 bulan saya bekerja. Pahitnya, kebanyakan dialokasikan untuk pergi ke Ibu kota beberapa kali untuk DUA proses seleksi itu: CPNS dan WVI.
Sampai detik kala mengetik ini, saya masih berusaha membuktikan bahwa saya tidak harus kembali menjadi guru. Di tengah keberdosaan, saya masih ingin ingkar lalu ngotot sebenarnya ada ladang SELAIN PENDIDIKAN yang bisa saya garap. Kalaupun saya menyadari bahwa ini adalah ladang yang bisa membahagiakan hati, saya masih ketakutan dengan rasa malu dari para murid saya dahulu, rekan kerja, teman sejurusan, dan banyak orang lain. Mama dan cece, dua orang yang paling saya repoti justru tidak saya khawatirkan. Semata karena saya paham persis bahwa mereka akan selalu memberikan dukungan tanpa padam, apapun pekerjaan yang saya pilih nantinya. Ketakutan karena ketidakmampuan membanggakan justru tertuju pada orang tua Riyan. Jika saya menjadi guru, nantinya saya perlu usaha ekstra untuk menjadi (calon) menantu yang membanggakan. Pikiran ini mengganggu tidur lelap saya.
Sembari memikirkan tentang apa arti panggilan, memori saya memunculkan seorang alumni Persekutuan kampus yang pernah bercerita tentang hal senada. Masih ingat persis dia mengatakan bahwa kita tidak bisa mengelak dari sebenar-benarnya panggilan kita. Lewat belokan-belokan tajam sekalipun Dia bisa menarik kita kembali ke ladang yang Dia siapkan, enak atau tidak enak bagi kita. Saya tidak ragu dan justru mengagumi hal itu. Yang saya tidak terima adalah jika panggilan saya ternyata di bidang yang dianggap tidak keren dan tidak menghasilkan banyak pundi rupiah. Faktanya adalah, saat saya sering mengingatkan orang lain untuk taat, saya sendiri sulit melakukannya *tawa miris*
Setelah perenungan berakhir, saya berusaha menguji hipotesis bahwa saya memang dipanggil di dunia pendidikan. Tidak baik menjadi manusia yang hanya terus berpikir tanpa bertindak. Kata Kevin DeYoung, di bukunya Just Do Something, perlu tindakan untuk terus memperjelas apa kehendakNya dan bukan hanya duduk diam merenung. Saya belajar taat dengan melamar ke sekolah-sekolah. Setiap hasil yang keluar akan jadi petunjuk nyata untuk membuktikan kebenaran hipotesis awal. Pertama kalinya dalam 9 bulan, strategi saya mulus. Upaya saya memurnikan hipotesis menunjukkan titik terang. Empat dari enam sekolah yang saya lamar merespon dengan sangat baik. Bagi saya ini adalah tanda seru besar dari Pencipta. Saya sedang ada di H-1 memilih antara dua sekolah di Surabaya. Antara galau, malu, dan senang berpadu berbalutkan satu perasaan khas hasil ketaatan: damai sejahtera. Dimanapun itu, saya ingin menjalaninya dengan kemantaban hati karena saya tahu ini adalah kepercayaanNya. Saya ingin menjadi guru yang memiliki hati terpanggil sebuah pembeda besar dari seorang Miss Adiss yang dahulu.
Durasi panjang pontang-panting pergumulan ini bagaimanapun masih layak disyukuri. Masa jobless ini membuat saya memiliki banyak waktu untuk keluarga saya, bersama mama yang sendirian di rumah dan menjadi saksi kerempongan cece yang sedang hamil anak pertama. Pun membuat saya semakin sering punya waktu mendoakan satu per satu sahabat saya dan menanyakan kabar mereka. Masa ini juga membuat saya dapat banyak menulis, satu hobi yang kadang tak sempat saya lakukan kala sibuk bekerja. Walau tidak enak, tapi rentang waktu hampir 10 bulan ini bukanlah masa yang buruk. Masih terselip beberapa kabar baik, memenangkan lomba menulis kompas dan menjadi kontributor di sebuah antologi (yang semoga segera diterbitkan) adalah salah satunya.
 Ini bukan ending yang saya bayangkan, sejujurnya. Masih terselip perasaan malu kembali menjadi guru. Tapi jika kembali menjadi guru adalah sinonim dengan ketaatan, saya akan mengambil segala resikonya. Pandangan miring orang lain akan saya tampung dengan kerendahan hati. Dari awal memang ada andil ketidaktaatan dan kesombongan, wajar jika saya harus menelan berbagai pandangan miris.

Terlampau sering saya menerima kebaikan di atas segala kelayakan, waktunya saya memberikan ketaatan di atas segala kenyamanan.

SEMUA BAIK. Hikmah perjalanan ini akan membuat saya semakin mengenal Pencipta saya, mengenal siapa sebenarnya sahabat saya, dan mengenal diri saya sendiri. Dia masih sutradara yang punya skenario terbaik. Mengapa adegan ini terjadi dan mengapa adegan yang itu harus dihapus. Saya yakin sama seperti sangat-sangat banyak hal lain yang bisa membuat saya terkagum dengan cara-Nya berkerja yang Maha kreatif, suatu hari saya akan melihat masa ini dengan haru bahwa ternyata Dia memang selalu punya  rambu lalu lintas-Nya sendiri. Peta-Nya selalu jelas, hanya saja saya dan mungkin banyak manusia lainnya kadang berkacamata buram untuk membaca peta itu dengan baik. Atau sesekali Dia memang mengijinkan kita berpetualang di rimba, tak lain demi latihan ketahanan.

By the way, saya 'menikmati' masa ini dengan menghabiskan kitab Ayub, disana tersodor kisah yang luar biasa indah. Bukan karena ketabahannya, justru karena saya tahu bahwa seorang Ayub-pun pernah mencicipi masa mempertanyakan Pencipta dengan sedemikian.

Bersyukur dapat mencicipi secuil dari ujung kuku perenungan Ayub. Semoga akhirnya saya keluar sebagai seorang yang murni sama seperti dia, dan berujung pada kesimpulan: “aku tahu Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan TIDAK ADA rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2)