Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Setelah berlayar entah dari sudut Nusantara bagian mana, penjarahan kekayaan alam Indonesia oleh Belanda tiba di sebuah pulau kecil yang terletak antara Kalimantan dan Madura. Namanya sekarang Keramian, namun dulu pulau ini disebut Ariandes. Ratusan tahun setelahnya, Pulau kecil penghasil cengkeh ini menjadi saksi 12 bocah nyasar terdampar lalu BELAJAR.

(1) Hampir Sampai

Empat jam dari Masalembu, kapal Miami berlabuh jangkar di tengah lautan. Sebelumnya, kami disambut dengan tarian selamat datang dari kawanan lumba-lumba. Tanpa diminta, mereka melompat dan berenang lincah. Saya terhenyak sesaat menyaksikan apa yang saya kira hanya mimpi menjadi nyata. Selain itu hati kami juga riang, menyambut fakta bahwa perjalanan yang mengundang mual akhirnya usai. Para ABK sudah memberitahu bahwa kami akan dijemput oleh kapal nelayan. Belum adanya dermaga yang memadai membuat transfer penumpang terjadi tengah lautan. Disana satu per satu kardus sumbangan dan kardus logistik kami turunkan lalu dengan super hati-hati kami membawa tubuh kami berpindah ke kapal yang lebih kecil, melewati sebuah tangga besi. Kapal nelayan tak perlu waktu lama untuk mengantar kami mendekati daratan. Belum selesai ternyata tapak perjalanan, sebelum menginjakkan kaki di bentangan pulau tersebut kami masih saja harus berpindah sarana. Dari kapal nelayan menuju ke sampan. "Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar!" Begitu otak saya menyimpulkan sambil tubuh menikmati angin khas pesisir.

Di sampan berkapasitas tiga orang itu saya mengobrol dengan seorang ibu beserta anak perempuannya yang bernama Nana, penduduk asli pulau Keramian. Dengan logat yang unik, ibu bertubuh kecil itu menceritakan bagaimana banyak anak di pulau tersebut tidak piawai berbahasa Indonesia. Memang, keseharian disana sangat kental dengan percakapan dua bahasa daerah: Bugis dan Madura, kemungkinan besar dikarenakan posisi geografisnya.

Sesampainya di bibir pantai kami disambut super hangat oleh perangkat desa yang telah mengetahui akan kedatangan kami lewat mas Eko Sanjaya, seorang warga asli yang secara kebetulan saya temukan alamat emailnya lewat akun Instagram. Sosial media unjuk nilai fungsi disini. 

(2) Relawan Mengabdi

Sebelum berangkat kami telah menyusun rencana bahwa di pulau ini wujud karya kami akan banyak menyentuh soal pendidikan. Bagian dominan durasi sepekan saya disini adalah membagi ilmu dan wawasan. "Kepuasan hati tercapai justru saat kita dapat melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak dapat membalas kembali samasekali," parafrase ungkapan Martin Luther King ini terbukti valid adanya. 

Tidak ada SMA disana, hanya ada lima sekolah tingkat SD dan satu sekolah tingkat SMP. Jika ditotal saya mengunjungi lima diantaranya. Bagian yang berhasil membuat saya merinding adalah ketika salah seorang siswa SD dengan berani melakukan solo lagu Indonesia Raya. Sesuai pembagian, saya banyak bertugas di kelas 4-5 SD, sebuah tantangan baru mengingat saat KKN ataupun mengajar di Gloria saya selalu berhadapan dengan siswa SMP. Nada yang ceria, ekspresi yang menggemaskan, berusaha saya tampilkan untuk menghindarkan mereka dari rasa bosan. 

Di lain kesempatan, saya merasa hebat kala berhasil mengemas Indonesia sebagai negara yang membanggakan. Juga saat saya mencontohkan beberapa nama atlet Indonesia yang mendunia untuk memotivasi mereka. Nada obrolan ini lebih serius dari biasanya, maklum penyesuaian materi dan intonasi memang harus dilakukan saat mengajar di tingkatan yang berbeda. Di tengah siang terik dan berdebu itu saya duduk membicarakan Nusantara dengan para anak SMP yang memang sudah biasa saya 'tangani'. Ketidaksiapan materi untungnya terbungkus aman lewat segala wujud spontanitas dan memuluskan saya memancing tekad dan angan mereka untuk menggoreskan asa. 

Mengajar anak-anak disana merengkuh jiwa saya pada memori tentang pedihnya kegagalan WVI (Wahana Visi Indonesia). Masih teringat jelas air mata tanpa basah dan teriak tanpa suara kala mengetahui bahwa kerinduan besar untuk berkarya di pedalaman tidak bersambut oleh sebuah penerimaan organisasi. Jika disimpulkan, arti besar pengalaman ini adalah obat yang menyembuhkan luka yang saya kira hanya dapat sembuh oleh waktu semata. Saat saya mengajar Anak-anak itu untuk berani bermimpi, sebenar-benarnya mimpi saya sedang digenapi. Ini sebuah barter yang sempurna!



Selain mengajar kami juga menyalurkan bantuan sembako. Dibantu perangkat desa, kami memetakan nama-nama yang memang membutuhkan. Aktivitas pembagian sembako ini difasilitasi sebuah motor truk yang dikenal sebagai odong-odong, sebuah sebutan yang mengundang geli di angan. Selama perjalanan blusukan ke tiga dusun, kami sembari menguji adrenalin dan ketahanan tulang ekor melewati berbagai rute bebatuan dan belokan curam.

Tiga puluh kresek paket sembako mengantarkan kami pada rumah reot, wajah keriput, dan tubuh kurus. Sebuah pemandangan miris yang harus menjadi pisau tajam menusuk orang pemerintahan agar tidak egois menghabiskan uang negara. Saat DPR membahas milyaran rupiah sebagai dana aspirasi, kami menyaksikan betapa banyak warga berjuang mengalahkan kebutuhan hari lepas hari.



(3) Yang Khas Disana

Bibir pantai hanya berjarak belasan meter dari ruas jalan utama. Tidak mengherankan jika rumah di kanan kiri jalan tersebut hampir semuanya berupa rumah panggung. Dengan tiang kayu berdiri menopang, para penduduk merasa aman kalau-kalau ombak pasang terlalu tinggi dan masuk ke permukiman. Pun hal itu wujud akulturasi budaya bawaan suku Bugis yang juga banyak tinggal di pulau yang mengandalkan penjualan kopra (kelapa kering) sebagai pemasukan ekonominya.

Satu hari menjelang puasa, kami menghabiskan sore di dermaga yang sedang dibangun. Kelak dermaga ini akan mempermudah labuhnya kapal perintis dan semoga menambah mobilitas bagi masyarakat. Dalam langkah pulang kami dikenalkan dengan jajanan khas. Tak lengkap rasanya mengenal masyarakat tanpa mencicipi kuliner asli yang ada. Namanya Pempek, parasnya tak jauh beda dengan yang telah populer di Jawa, hanya lebih pipih. Dibuat dengan ikan dan olahan tepung lalu digoreng di minyak dengan api sedang, pempek ini siap dinikmati dengan kuah asam yang sangat unik. Jika pempek Palembang mengandalkan cuka untuk menghadirkan rasa asam, pempek Keramian mengandalkan biji asam yang sebenarnya. Rasa asamnya unik sekaligus membuat ketagihan.

Pulau ini terdiri dari tiga dusun yang masing-masingnya berjauhan. Dusun Air Hidup merupakan sisi kota Keramian. Nama itu diambil karena adanya mata air yang terus mengalir di sekitar sana. Dua dusun lain bernama Alas Jaya (bahasa Indonesia: hutan yang besar) sesuai penampakan fisiknya serta dusun Sudi Mampir (bahasa Indonesia: Berkenan Singgah) yang seakan membahasakan ajakan ramah untuk bertamu.

Jauh berbeda dengan Masalembo, pulau ini dialiri listrik hanya empat jam sehari (18.00 - 22.00). "Jam listrik mulai menyala kadang terlambat, tapi jam padamnya selalu tepat" begitu penuturan miris pak Kepala Desa yang bagaimanapun mengundang tawa. Tidak berlebihan jika saat kami berpamitan warga hanya menitipkan satu aspirasi untuk kami suarakan nanti: Hadirkan Listrik penuh waktu.

(4) Waktu Luang

Jalan-jalan sore menjadi kegemaran baru kala tak ada kegiatan yang mengisi. Kami pernah menyusuri 3,6 kilometer mencapai pantai yang tak terlalu indah tapi seakan menjadi pantai pribadi. Keceriaan dan kegilaan tumpah sebagai keluarga, bukan lagi sebagai selusin orang asing yang baru saja mengenal beberapa hari. Satu yang unik hari itu adalah hujan yang turun dengan tingkat labil yang tinggi. Tetes air langit yang muncul dan hilang berulang membuat kami akhirnya singgah ke beberapa rumah penduduk. Alih-alih silahturahmi, kami sebenarnya sedang berteduh tapi justru di beberapa singgah itu kami merasakan kesahajaan masyarakat Keramian yang sesungguhnya. 



Seperti rutinitas khas bulan Ramadhan, saya sekejap merasa kesepian kala 10 kawan lain pergi tarawih. Namun sesegera mereka kembali ke rumah, menit-menit 'hangat' lanjut dilakukan kadang hingga larut malam. Kami membicarakan banyak hal. Saya tidak mungkin lupa membagi satu cerita yang membuat kami semua total terbahak-bahak hingga perut terkocok lemas. Sepulang baksos kami diberi hadiah sebutir kelapa muda utuh. Sebuah tantangan bergulir untuk membuka kelapa itu dengan tangan kosong. Setelah bergantian mengupas bagian luar berupa sabut-sabut tebal, tangan kami dapat meraba batok kelapa yang jelas berkontur keras. Tak ada sangka dan tak seorangpun menduga, bukan sulap tanpa sihir, batok kelapa yang begitu keras pecah hanya dengan hantaman tangan kosong Marqi, si adik kembar saya. Sontak tawa meriah tak terelakkan, merayakan kekuatan super yang terpendam di salah satu anggota kelompok kami.

Bonus perjalanan ini adalah kulit yang menghitam pekat, tepatnya setelah mengunjungi pulau Kambing, sebuah pulau kosong kecil di sekitar Keramian. Ada gua, bukit, dan pantai yang mempesona. Namun ada yang lebih indah dari itu semua bagi saya, yaitu durasi saya mengajarkan permainan tahun 90an 'domikado' pada sekelompok anak yang memang ikut pelesir dengan kami berduabelas. Saya menghabiskan masa mengapung pulang dengan riang bermain bersama mereka. Kehidupan selalu LEBIH DARI CUKUP untuk membuat bahagia, itulah pesan tersirat yang selalu diteguhkan lewat senyum tanpa beban anak-anak kecil.



Terlalu banyak kenangan indah yang membuat kisah ini panjang teruraikan. Alinea yang telah adapun telah melewati sortir pilih dan pilah rekam peristiwa. Masih ada bagian tentang cooking class di dapur yang dengan jujur membuktikan perbedaan budaya masing-masing suku. Ingatan tentang para lelaki yang belajar mandi di sumur dikarenakan kamar mandi dimonopoli antrian kaum hawa juga menggelitik saya pada tawa. Begitu juga soal lima perempuan yang terjaga menanti para lelaki yang sedang mencari ikan hingga satu jam menjelang sahur tiba, tak ubahnya istri yang sedang menunggu suami pulang mencari nafkah.

Hanya seminggu tapi begitu banyak kebersamaan terabadikan. Dimulai dari kesediaan menanggung susah senang bersama kala mengabdi, dilanjutkan dengan sikap hangat yang sigap membantu, diisi dengan kisah hidup yang saling dibagi, dan senantiasa diwarnai insiden lucu.

Semua terkemas sesuai nama pulau ini: Keram(a)ian. Ramai dengan tawa, ramai penuh hikmah, ramai meninggalkan kenangan indah.

Kapal Miami kami sampai pagi-pagi disana. Pikat matahari yang baru gagah di langit terpantul jelas di lautan jernih sekitar pulau ini. Antara dermaga menuju pusat aktivitas masyarakat terjejer banyak kapal nelayan. Pulau yang berbentuk U landai ini memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan desa kecil di pulau Jawa. Image seram dan terpencil yang ditayangkan oleh sebuah serial televisi samasekali tidak terbukti.




Masalembu, bukan Masalembo! Itulah koreksi pertama saya. Pulau ini masuk dalam kabupaten Sumenep, Madura. Tidak banyak yang berbeda dari penampakan desa-desa di Jawa, ruas jalan yang tergolong sempit, aktivitas pasar tradisional yang ramai, jejeran toko-toko kecil, dan harga makanan yang murah. Benar-benar murah! Sebagai sarapan, saya dan (lagi-lagi) dua kawan dari ITS, Diah dan Marqi, terbelalak heran ketika kami menikmati semangkuk makanan berkuah yang mereka sebut sebagai 'soto' hanya 2500 rupiah per porsinya. Ada lontong, toge, bumbu kacang, suwiran ikan tongkol, dan kuah kaldu ikan. Salah satu makanan paling unik yang pernah saya jumpai. Di pulau ini hampir semua makanan berbahan dasar ikan, maklum itulah yang paling mudah dicari. Sapi disembelih hanya saat Idul Adha dan Idul Fitri, begitu keterangan ibu penjual soto berkerudung merah gelap.

Masyarakat disana juga tergolong modern yang lancar berbahasa Indonesia, kontras dengan pulau tempat saya mengabdi. Kondisi fasilitas juga cukup membanggakan, ada listrik 24 jam, berdiri pom bensin, tersedia sinyal yang memadai, serta beberapa toko pengisian pulsa. Image 'terpencil' sama sekali tidak benar. Jika ingin menyaksikan wujud berbeda petualangan Indonesia, saya kira Masalembu cocok diperhitungkan sebagai destinasi. Lautnya indah, masyarakatnya ramah, dan tidak terlalu sulit untuk 'bertahan hidup' disana. Untuk menuju ke pulau yang mayoritas berbahasa Madura itu, tidak ada jalan lain selain melalui jalur laut. Hampir semua kapal perintis singgah di Masalembu, dikarenakan adanya dermaga yang tergolong bagus.



Di perairan sekitar Masalembu memang sudah terkenal dengan arus segita bermuda. Bukan hanya mitos, kecelakaan memang pernah terjadi bertahun lalu, membuktikan keganasan segitiga itu. Titik pertemuan tiga arus yang jelas mengalahkan para pelayar amatir. Para awak kapalpun mengakui perbedaan signifikan arus di perairan sana.

Walau hanya sebentar menginjakkan kaki di Masalembu, tapi setidaknya saya dapat membawa oleh-oleh fakta bahwa apa yang ada di serial televisi berjudul Masalembo itu sepenuhnya salah.

Jangan takut untuk singgah, Masalembu indah dan ramah, sumpah! :D

Heran dengan judul post ini? Hahaha iya, itu merupakan versi bercanda dari fakta bahwa bangsa kita memang besar dan kuat di lautan. Hal pertama yang akan saya ungkap disini adalah: berlayar itu tidak mudah! Seriously.

Kapal perintis yang mengantarkan kami ke tiga destinasi: Maselembu, Keramian, dan Matasiri dinamakan kapal Miami. Berwarna hijau tua dan diandalkan sebagai pengantar pasokan bahan makanan, singkatnya kapal ini merupakan sebuah kapal barang. Ada ruang besar yang membuat kami leluasa untuk tidur di segala sudut ditambah fakta bahwa kapal itu memang kami 'monopoli'.



Di kapal itu saya berkenalan dengan dua ABK, seorang Flores dari Larantuka (NTT) yang berpenampilan nyentrik serta Pak Ibrahim seorang Makassar yang besar di Papua. Ini semacam kebiasaan bagi saya. Selalu ada durasi waktu yang saya habiskan untuk meninggalkan keseruan bersama teman-teman lalu mengobrol dengan orang lintas usia dan lintas golongan.  Bagi saya ini cara ampuh untuk memperkaya wawasan.

Selama mengarungi lautan, Anjungan kapal merupakan tempat favorit kami berkumpul membunuh rasa bosan. Disitu kami berfoto, memasak, bermain kartu, atau sekedar bersenandung gila. Bonus perjalanan ini adalah membuat kami menyaksikan dengan mata telanjang keindahan matahari terbit dan matahari terbenam. Ah bagi saya pribadi itu keindahan sejati, mengamati secara langsung matahari bergerak turun kala senja. Saya sedang mencicipi kedamaian surga.

Perjalanan ini membagi kami dalam tiga golongan: pelaut, bukan pelaut, dan golongan tengah. Sebagian orang bisa penuh tawa dan seakan tak kunjung habis baterainya untuk tetap terjaga. Kadang bahkan masih sempat untuk usil menganggu. Ada juga golongan yang KO sekejap saat angin laut kencang berhembus dan kapal mulai bergoyang akibat gelombang. Kocaknya, sebagian di antara mereka adalah orang yang sudah menaklukan banyak tempat dan banyak puncak. Kang Abel -orang Bandung- contohnya. Tak butuh waktu lama buatnya langung tergeletak lemas segera setelah kapal mulai melaju. "Apapun tidak pernah membuat saya mabuk, kecuali laut" begitu lugasnya dengan ekspresi heran yang menggelikan berlogat sunda kental. Saya adalah golong ketiga, ada di tengah-tengah. Kuat terjaga untuk sesekali bercengkrama namun juga tepar di bantal kala ombak terlalu kencang menyerang.

Di atas kapal Miami ada beberapa kenangan manis tergoreskan bagi saya pribadi. Misalkan saat Rizal -seorang mahasiswa UB- mendapati saya seorang keturunan Tionghoa (ini fenomena jarang terjadi). Dia merupakan muslim taat yang mengagumkan, namun tak segan untuk menanyakan apa makna di balik Claudya Tio Elleossa. Juga saat saya dan Diah -mahasiswa ITS- saling menatap secara otomatis saat mendengar seorang ibu-ibu di pelabuhan berjualan "nasi bungkusnya, yang huruf A ikan Ayam - yang huruf O ikan Telur" nahloh! Kok gak sinkron.. Hahha saya dan Diah yang akhirnya jadi partner berbagi selimut hanyut dalam tawa yang renyah. Ohya saya juga merinding terkesan melihat kawan-kawan muslim yang tetap menjalankan sholat lima waktu seakan tak menyadari goncangan kapal. Suatu subuh bahkan saya -seorang Kristen- merinding haru mendengarkan Mas Beki -mahasiswa Jogja- mengaji dengan sangat merdu. Sungguh, momen seperti ini membuat saya makin bangga akan keberagaman umat beragama di Indonesia. Pemandangan seperti itu juga menggertak saya untuk menjadi umat beragama yang lebih baik. Terakhir adalah momen kala kebaikan memang selalu termanifestasi lewat tindakan. Di malam pertama pelayaran, saya bersama dua mahasiswa ITS (Diah dan Marqi) dan satu mahasiswa BSI Jakarta (mas Firman) tidur berbagi karpet yang sama. Lalu seorang bocah Jogja bernama Dika tanpa aba-aba menyelimuti kami berempat dan menyisakan dia tidur tanpa selimut samasekali. Entah kenapa ini jadi salah satu bagian mengesankan bagi saya. Kepedulian sederhana kadang bisa meninggalkan kesan mendalam. Terimakasih Dika.

Akhirnya, di kapal Miami itu terungkap kualitas pribadi banyak orang dari yang cuek hingga super peduli, yang menyisakan seorang Claudya untuk kembali belajar. Mengapung belasan jam di gelombang air juga membuat saya mencicipi mabuk laut yang sesungguhnya, dan oleh karenanya kekaguman saya haturkan bagi para pelaut Indonesia. Kapten dan para ABK baik dari kapal penumpang, kapal barang, ataupun kapal ikan di segala penjuru nusantara. Kalian orang hebat! 

Pagi itu saya buka dengan otak yang berpikir keras hampir semalaman. Menimbang dan memperkirakan banyak hal. Niat saya untuk terjun di kegiatan yang digagas Kemenko Kemaritiman ini masih saja belum utuh,  walau sudah jelas saya diperhitungkan sebagai peserta disana. Muncul di permukaan sedikit keraguan, mengingat kondisi fisik yang sempat drop akibat asam lambung yang melunjak. Hanya beralaskan rasa penasaran dan bernaungkan keberanian, kesempatan mengikuti ekspedisi ini akhirnya saya sambut hangat. Alasan kuat lain yang mendorong saya adalah fakta bahwa saya akan segera kembali menjadi guru per 1 Juli, saya HARUS datang pada para siswa dengan oleh-oleh cerita yang nyata tentang Indonesia. Optimisme dan sedikit kedisiplinan mengatur jam makan semoga cukup untuk menjauhkan saya dari nyeri lambung yang sungguh menyiksa.

Tanjung perak adalah titik saya bertemu dengan berbagai kawan dari segala penjuru tempat. Untuk sebagian orang, mendapatkan teman baru sama berharganya dengan mendapati rekening terisi baris angka panjang. Saling berkenalan, adalah kegiatan pertama kami sembari menanti kepastian jam tentang kapal yang akan menjadi sarana bagi 37 orang mewujudkan kerinduan untuk mengabdi.

Seperti saya singgung di tulisan sebelumnya, sedikit sentuhan keajaiban surga membuat saya dapat mengikuti sebuah kegiatan yang menjadi manifestasi pemenuhan mimpi saya: berlayar dan mengabdi. Nama kegiatannya adalah Ekspedisi Nusantara Jaya, yang berlandaskan misi menjangkau daerah terluar Indonesia, terkhusus pulau-pulau kecilnya. Ada banyak hal yang terjadi di luar ekspektasi, maklum kegiatan ini memang perdana dilaksanakan pun oleh kemeknnterian yang masih tergolong balita. Hingga satu titik saya dan para kawan lainnya sadar bahwa kami bukan sekedar 'peserta' disini namun merupakan kumpulan orang bersemat sebutan 'relawan'. "Relawan ya harus rela," begitu celetuk seorang bersahaja bernama Vita yang kebetulan juga sekelompok dengan saya. Kerelaan itu tentang kesabaran akan jadwal kapal perintis yang serba tak jelas juga tentang janji-janji soal fasilitas. Akibat serba tak pasti, peserta menyurut dari 98 menjadi hanya 37. Drastis bukan? 

Empat huruf saja: RELA, itu sebuah perasaan sederhana namun tidak mudah ternyata. Untungnya saya dan 36 orang lainnya cukup beruntung diberi kesempatan mempelajarinya bersama.

Awal episode seminggu luar biasa dimulai oleh sebuah latihan rasa rela. Saya kira ini appetizer yang tidak terlalu buruk, karena pengabdian kadang memang sinonim dengan pengorbanan. Dan ... Bukankah semua pengorbanan selalu menuntut kerelaan?
ada yang menaruh hatinya pada seni
kadang tentang seperangkat nada
kadang tentang rasa puas dari goresan di ujung kuas

tak sedikit yang terpana pada megahnya semesta
kesana kemari membawa hidup pada carrier yang tinggi

ada yang meletakkan cintanya pada olahraga
menjaga fisik prima untuk meraih rasa bangga

ada yang melekatkan asmara pada gaya
mendesign pakaian atau sekedar terampil memadupadan

ada juga yang jatuh cinta pada pemuas lidah
dengan memasak, dia menambah bahagia

ada yang terpaut pada aksi sosial
memberi makna pada mereka yang kadang terlupa

banyak juga yang memilih menari dalam kata
saat gubahan tulisan menjadi simbolis keterbukaan besar

ada sebagian yang memilih tetap serius
menggeluti dunia penelitian akademis
mencipta dan menyimpulkan sesuatu yang berguna

ada yang tidak bisa move-on dari fotografi
memantabkan presisi lalu jepret sana sini

ada pula yang memang cinta pada dunia wirausaha
satu hal kecil bisa berubah jadi ide bisnis di benaknya




Lalu, di antara itu semua manakah yang lebih baik? TIDAK ADA. Tidak ada yang lebih baik satu dari lainnya. Cinta yang berbeda itu ada dimana-mana, tak bisa kita menghakimi bahwa satu bidang menjadi lebih penting atau lebih remeh dari lainnya. Semua panggilan hati itu berharga, selalu ada kemungkinan dan semoga selalu ada cukup kesempatan untuk menjadikan itu sebagai sesuatu yang berguna untuk sesama.
Kampung halaman adalah sebutan bagi tempat kemana hati ini berpulang. Berupa sebuah ruang aman untuk lari dari hiruk pikuk tempat perantauan. Seringnya dia hanyalah alasan bermalasan menikmati nyaman rumah, tapi kali ini saya ingin menjelajah. Tak harus selalu jauh, menguak keindahan alam atau memenuhi kepuasan jalan-jalan bisa dimulai dari kota tempat kita bertumbuh besar. Itulah perjalanan kali ini.

Seperti biasa tawa selalu mengisi perjalanan, di sela-sela obrolan hangat khas kawan lama. Sebagian karena kalimat-kalimat humor dengan logat yang kental. Sisanya murni disponsori oleh rasa geli dari kekonyolan lampau kala masih bersekolah.

Air terjun di daerah perbatasan Lumajang dan Malang merupakan pilihan pemuas kaki gatal kami. Sebuah objek wisata yang membuat kami berempat rela menempuh jarak cukup jauh dengan medan yang relatif ekstrim. Nama tempatnya adalah Coban Sewu, jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka bermakna air terjun seribu. Tidak mengherankan mengapa penduduk memberi nama demikian sebab di satu lokasi yang sama berdiri kokoh sangat banyak jalur vertikal untuk air jatuh dengan akselerasi tinggi.

Setelah puas mengabadikan dalam jepretan ponsel, kaki kami bergegas menelesuri rute menuju goa tetes. Satu perjalanan, dua objek wisata didapatkan. Cerita ini baru benar-benar dimulai disini.

Sumber foto: jawapos.com

Sebagai gambaran kondisi terjal yang dihadapi di Coban Sewu



Hutan, jembatan bambu buatan warga, dan susur sungai, adalah menu pembukanya. Uji nyali sesungguhnya adalah saat kami harus menapakkan kaki di bebatuan licin tepat dimana air mengalir. Tebing tinggi disana hanya sebentar mencuri perhatian, selebihnya saya hanya terpengeranga heran. Untuk sepersekian detik saya harap itu hanya sebuah rute cadangan dan adalah opsi lain yang lebih mudah, tapi sama seperti dalam perjuangan mencapai impian kadang jalan yang tak mulus itu adalah pilihan tunggal. Dengan kaki yang tak terlalu piawai satu persatu batu saya lewati hingga posisi semakin tinggi. Di setiap trek curam tersedia tali karet berwarna hitam pekat untuk membantu pengunjung berpegangan. Dengan jersey barcelona, celana jeans panjang warna hitam pudar, tas ransel kucel, dan sandal jepit kegedean, saya memaksa diri untuk tidak terlalu merepotkan ketiga teman saya. Air keringat bercampur dengan tetes air alam, mereka membawa pergi sedikit sisi manja saya, namun tetap dibumbui rasa takut yang khas.

Setelah ada di lokasi yang landai, tiga teman saya bersantai menikmati rokok mereka. Saat itu saya menoleh kembali ke susunan batu bersudut lebih lancip dari 45 derajat yang awalnya saya sinonimkan dengan kemustahilan. Jika dipikir, saya samasekali bukan penakut terhadap hal-hal seperti itu. Katakanlah wahana penguji adrenalin, hampir semua siap saya sambut. Tapi dibebatuan itu keberanian saya sempat menguap. Selagi teman saya masih asik dengan tembakau gulungnya, saya menemukan alasan sederhana: kepercayaan. Ketika saya naik wahana permainan pengadu adrenalin kebanyakan saya menikmati tanpa rasa takut sebab saya tahu persis sekaligus percaya bahwa setiap alat telah diperhitungkan oleh kaum ahli dan telah teruji aman. Di Coban Sewu, kedamaian itu absen sebab menyadari bahwa tali karet yang tersediapun tak terjamin, tidak ada yang tahu siapa yang membuatnya dan saya tidak cukup yakin apakan itu kuat untuk dijadikan pegangan.

Kepercayaan adalah faktor penting.

Dari perjalanan super mendadak hari itu, saya memahami makna dari sebuah quote terkenal "bird sitting on a tree is not afraid of the branch breaking, because its trust is not on the branch but on its wings." Menyelesaikan trek itu adalah simbolis bahwa saya mampu menaruh kepercayaan pada tapak kaki saya sendiri bukan pada seutas tali karet tersebut.

Rute yang sulit ditambah sumber daya yang meragukan, kadang kita jumpai dalam hidup ini. Di saat seperti itulah kita sedang diuji, siapakah yang sedang kita andalkan? Sesuatu di luar kita yang serba tidak pasti atau justru kekuatan yang diam-diam terkumpul dalam diri kita sendiri.

Setelah mengambil durasi merenung singkat, energi saya kembali terkumpul untuk meneruskan perjalanan pulang. Dengan paha penuh asam laktat, saya sempatkan menunduk lalu berbangga akan sepasang telapak kaki mungil ukuran 36 yang telah bekerja keras itu dan membuktikan bahwa saya tak salah telah percaya pada mereka. Saya berjanji akan memanjakan mereka dengan air panas sesampainya di rumah, saya tahu mereka membutuhkan itu :')
Seorang kakek tua dengan deret panjang angka di rekeningnya memutuskan untuk membeli sepetak tanah. Seperti biasa, tetangga-tetangga yang sirik mulai mencibir. "Si kakek itu sudah tua, pasti tanah itu dipersiapkan untuk makamnya kelak." Begitu ucap seorang ibu yang berlebihan berat badan sekaligus berlebihan prasangka. Namun keputusan sang kakek tampan itu sepenuhnya berbeda, dia mengeluarkan ekstra uang untuk menjadikan sepetak tanah tersebut sebagai garasi untuk mobil klasik barunya. Di meja makan saat melahap santapan malam, sang cucu perempuan dengan polos menanyakan motif pendirian garasi baru itu. Dengan senyum bersahaja lelaki beruban itu menjelaskan "aku bisa saja menggunakan tanah ini untuk makamku, tapi itu berarti aku yakin akan segera meninggal dunia. Sedangkan aku ingin hidup lebih lama lagi. Aku memilih membuat garasi karena aku percaya dan berharap masih ada cukup waktu untukku menambah deretan koleksi. Sebuah kejenakaan besar saat kita berharap hal baik namun tindakan kita menunjukkan hal sebaliknya."




Manusia senantiasa diperhadapkan pada pilihan untuk mengambil tindakan, itulah keniscayaan. Itu sudah fakta lawas bukan? Namun sadarkah kita bahwa setiap pilihan kita selalu didasari akan dua kemungkinan tujuan. Seperti analogi sang kakek, satu pilihan yang diambilnya: membeli tanah. Namun motif pemanfaatannya menjadi jauh berbeda. Pertama adalah menyiapkan untuk makam, yang mencerminkan ketakutan bahwa tidak ada cukup lagi waktu baginya menikmati hidup. Sebuah tindakan was-was akan fakta bahwa usianya sudah semakin mendekati ajal. Sedangkan yang kedua menunjukkan siratan harapan bahwa dia masih memiliki cukup waktu untuk menikmati hidup lewat deretan mobil antiknya. Satu tindakan yang sama, mengandung dua makna motif yang sepenuhnya bertolak belakang: ketakutan atau harapan.

Ketika saya memilih mempertahankan Riyan itu bisa saja karena saya takut tidak ada lelaki lain yang lebih baik dari dia, namun faktanya saya mempertahankan dia karena saya punya harapan baik untuk masa depan kami bersama.

Saat kita memilih mengalokasikan dana khusus membeli sebuah gadget baru, itupun didasarkan dua garis besar motif. Ketakutan dikatakan ketinggalan jaman atau harapan bahwa segala akses kemudahan teknologi akan mempermudah hidup kita.

Saat kita memilih giat menyelesaikan skripsi atau tesis, tak jauh berbeda halnya. Itu antara kita takut malu tertinggal teman seangkatan atau karena kita memang optimis setelah gelar sarjana/master didapat banyak peluang akan terbuka lebar.

Sudah fakta yang populer bahwa kita terus dan terus memilih sesuatu, tapi yang jarang kita ingat adalah kenapa kita memilih hal itu? Serangkaian tindakan yang menindaklanjuti pilihan sangat bergantung pada motif tersebut. Ketika saya membuang kesempatan double degree, itu sepenuhnya didasarkan pada ketakutan. Sebagian orang berkata itu hal realistis, titik diri menyadari kemampuannya. Tapi kemudian terungkap bahwa itu murni sisi pengecut saya yang menolak untuk melakukan usaha ekstra.

Hampir selalu optimisme disinonimkan dengan utopis dan ketakutan dilabeli kata realistis. Seperti si kakek, entah cucu, kerabat, atau tetangganya pasti ada yang terheran dan menertawakan pilihan membangun sebuah garasi. "Wong wes tuwek." Begitu mungkin isi cibirannya. Satu-satunya yang tahu arti harapan dan sukacita soal garasi dan koleksi itu hanyalah dia seorang. Begitu juga kita. Hampir setahun jatuh bangun di pergumulan pekerjaan, saya membuktikan mitos bahwa kadang orang lain cenderung menertawakan pilihan kita yang berlandaskan harapan. Mereka kadang tanpa sengaja melemparkan kosa kata yang merujuk pada ejekan pada kita, murni karena kedangkalan mereka memahami motif atas pilihan tersebut. Tak heran jika Paulo Coelho pernah berucap 'you dont need explain your dream, it belongs to you.' Selama kita tahu persis apa pondasi pilihan kita, suara lain tidaklah terlalu utama.

Penting untuk tegas memilih, namun juga sangat penting untuk memastikan bahwa kita sedang berdiri di batu harapan dan bukan justru berjinjit di tepi jurang ketakutan. Setiap pengalaman pahit yang sesekali saya sesali kebanyakan disponsori tindakan yang mendustai motivasinya. Dalam angan saya berkata percaya, namun tindakan justru mengarah ke hal sebaliknya. Seperti kata kakek, itu sebuah kejenakaan bukan?


"May our choice reflects our hopes not our fears"
Ketika usai memilih sesuatu, tanyakan kembali pada diri kita "apa tindakanku selanjutnya?
Apakah aku sedang mempersiapkan makam ataukah sedang membangun garasi saat ini?"

Pernah mendengar istilah headskin? Sebuah teknik mencukur yang dipangkas habis dan menyisakan sekitar setengah sentimeter rambut di atas kulit kepala. Bagi kaum adam hal ini lumrah dilakukan. Seiring jaman, beberapa perempuan terinspirasi memberikan sentuhan serupa di kepalanya. Entah sejak kapan, saya mendambakan hal serupa dan akhirnya terwujud! But the purpose of this post is not for brag my new haircut by the way.

Sepulang dari tempat yang konon hanya dicintai kaum hawa tersebut (baca: salon) saya hanya bergumam sendiri merasakan lega dan bangga akhirnya bisa 'berdaulat' atas tubuh. Pergulatan gemas ini muncul pasca mengamati bahwa setiap kali saya ingin mimiliki model rambut tertentu ada saja yang memghalangi. Sebelumnya dikarenakan alasan akan mengikuti CPNS lalu kali ini karena akan kembali menjadi guru. Memiliki potongan 'yang sepantasnya' itu adalah jalan terbaik, begitu mungkin singkatnya. Masalahnya siapa yang menjadi hakim atas 'pantas' dan 'tidak' suatu hal?

"Potongan seperti itu dianggap gak sopan" begitu kata cece dan Riyan. Kenyataannya, selain mereka berdua di luar sana masih banyak yang menilai demikian.

"A stereotype is used to catergorize a group of people. People don't understand that type of person, so they put them into classifications ..." (Urban Dictionary)
"A generalization, usually exaggerated or oversimplified and often offensive, that is used to describe or distinguish a group." (Dictionary.reference.com)

Perempuan yang memiliki cat rambut atau potongan ekstrim dianggap sebagai wanita kurang baik. Seseorang dengan tato dianggap berandalan. Lelaki dengan tindik dinilai sebagai preman. Itulah yang ada di masyarakat. Bukan hanya soal fisik, ini kadang juga tentang selera musik, masih berkeliaran orang yang mengganggap bahwa pecinta heavy metal merupakan segerombolan bandit ataupun orang yang hobi melakukan aksi vandalisme. Ataupun gaya berpakaian, yang melahirkan stereotype bahwa lelaki yang menggunakan warna pink adalah kaum 'gay'. People tend to give a label, this fact has proven many times in our daily life.




Di agamaku diajarkan 'Tubuhmu adalah Bait Allah. Janganlah merusak bait Allah', sejujurnya ayat populer ini kadang digunakan semena-mena bagi orang dengan adat ketimuran yang kental untuk mengharamkan tato dan beberapa hal lain yang dianggap tidak lazim. Ijinkan saya membagi pandangan bahwa perusakan tubuh sebenarnya adalah justru saat kita enggan membudayakan hidup sehat. Rokok adalah salah satu hal yang menurut saya memang layak untuk dilarang. Sedangkan tato, itu merupakan sebuah seni yang tidak menyakiti tubuh secara berkepanjangan. Orang Kristen yang mengerti kutipan ayat diatas anehnya justru menganggap biasa perokok namun memandang sebelah mata pemakai tato ataupun tindik.

Lalu pernah satu kali teman saya membagikan cerita bagaimana seseorang di gereja kami menolak musik rock untuk masuk di musik pemuda gerejawi. Alasannya? Ketakutan bahwa akan ada biusan hal negatif yang dibawa musik tersebut di kehidupan rohani. Saya hanya geli dengan pandangan itu. Sebagai seorang Kristen Protestan yang sangat mencintai cara ibadah dengan keteraturan, saya masih selalu merinding ketika -dengan sopan- aliran musik semacam itu digunakan untuk memuji Tuhan. Rasa takjub yang sama adalah saat menyaksikan seorang dengan penampilan ekstrim tertib mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli. Seraya berdecak "semua selera, suku bangsa, dan segala faktor pembeda manusia tidak dapat menghalangi kita bersama menyembah Pencipta."

I love pixie cut, headskin, assymetric style. And I do adoring tattoo so bad. So you will say that I'm a bad Christian? Of course no. Yang akan membuat saya menjadi Seorang Kristen yang buruk adalah saat saya menyanyikan dosa dan berdansa dengan kesombongan. Saat saya makan kemunafikan dan tidur dengan kebebalan.
I'm not good at make up and I'm pretty bad with hair-do stuffs. But again, these reasons will never make me a woman anyless. Yang membuat saya menjadi wanita sepenuhnya adalah kemampuan saya untuk TUNDUK, pada Allah dan nantinya pada suami saya. Menjadi wanita seutuhnya adalah tentang saya menjalankan peran 'penolong sepadan' bagi pasangan saya.

Menjadi orang sopan, beragama, berbudaya, seharusnya tidak didasarkan pada perkara-perkara yang lekat dengan selera. Hal demikian merupakan atribut manifestasi sisi subjektif yang begitu beragam. Justifikasi sebenarnya adalah tentang tindakan dan kebiasaan, sesuatu yang lebih cocok untuk disejajarkan dengan penilaian objektif. Adat ketimuran harus dijunjung, saya tidak sedikitpun memperdebatkannya. Tentang sopan santun tindak dan tutur, mari berbangga dengan tetap menjadi 'old-style' dan bukan manusia sok modern yang lupa budaya luhur bangsanya. Tapi soal selera, tolong jadilah masyarakat yang dewasa! Berhentilah memberi label.


Untuk selera, harus ada kebebasan
Untuk yang prinsipal, harus ada kesamaan
Dan untuk semuanya, perlu ada kasih!

"Karena manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah dari awal sampai akhir" -Pengkhotbah.

Salah satu momen yang istimewa di hidup manusia adalah saat kita diperbolehkan menjadi saksi atas realisasi sabda-Nya. Kita berdecak "ah bener ya ayat di firman itu." Setidaknya itu berlaku untuk saya. Kita bukan hanya membaca namun menyaksikan dan mengalami. Adakah yang lebih indah? Kali ini saya ditampar oleh fakta betapa kerdil diri ini untuk memahami apa yang sebenarnya sedang sibuk Dia kerjakan.

Selasa yang tidak mengandung angka cantik menghantarkan pada dua kejutan. Semuanya seirama berkolaborasi menambah kekaguman baru tentang bagaimana Tuhan berkarya di pribadi seseorang.

Tulisan blog saya tentang "malu menjadi guru" adalah tulisan paling banyak di-reshare selain tulisan tentang Riyan. Secara acak, link itu disambangi oleh seorang kenalan yang saya temui di sesi Focus Group Discussion untuk rekrutmen sebuah NGO besar. Dia bertutur tentang kesannya terhadap tulisan saya yang (Puji Tuhan) membuatnya memiliki sebuah perspektif baru. Nyatanya, komentar singkatnya juga membawa saya pada pemahaman baru yang berharga.

Dia menceritakan betapa dia kaget akan kabar penerimaan karena pada dasarnya dia hanya 'mencoba'. Jika ditanya apa yang sangat dia inginkan, maka jawabannya adalah menjadi guru mengingat dia juga dari jurusan yang sangat cocok untuk berkiprah di dunia pendidikan. Namun setelah mencoba di berbagai institusi sekolah, asanya selalu terhalang. Sampai akhirnya dia diterima di NGO ini. Sepenuhnya berkebalikan dari saya yang sangat menginginkan NGO ini namun berujung pada penolakan dan memberi jeda untuk meneguhkan bahwa saya harus kembali berkarya menjadi guru. 

Dari baris kalimat di kolom komentar itu, saya memahami betapa rencana Tuhan atas setiap pribadi begitu mengejutkan sekaligus unik. Dia membawa anak-Nya dengan segala cara menuju tempat dimana seharusnya dia berada. Kegagalan kadang pertanda kita harus berusaha lebih keras tapi tak jarang itu sinonim dengan bahasa 'tidak' dari Allah. Bukan karena Dia jahat, murni karena Dia telah menyiapkan yang PALING SESUAI. Tidak berarti yang paling nyaman, tidak selalu yang paling menggairahkan, tapi PASTI yang paling sesuai.




Kedua, saya diingatkan bahwa apa yang kita miliki bahkan walau terlihat sangat remeh, kadang adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang lain di luar sana. Tidak ada alasan kita tidak bersyukur. Sungguh. 

Ketiga, kebetulan dia sampai ke blog kumuh ini, sederhana membuat saya semakin yakin tidak ada yang kebetulan. Setiap hal bisa Dia gunakan untuk menjadi sarana penjelasan bagi orang lain semakin memahami karakter Agung nan berdaulat-Nya.

Bukan saja perkara komen 'nyasar', Selasa kali ini menjadi semakin melekat di hati sekaligus membekaskan seutas senyum adalah karena sebuah kabar bahwa saya diterima menjadi peserta salah satu kegiatan Pemerintah untuk menghidupkan semangat kemaritiman. Sebuah kegiatan bernama 'Ekspedisi Nusantara Jaya' akan mengisi bulan Juni saya. Berlayar di secuplik laut megah Indonesia lalu diselingi dengan bersandar singgah ke pulau-pulau kecil untuk membantu masyarakat disana. Kalian tahu apa artinya ini bagi saya? 

Pertama, mengikuti program pelayaran sudah saya coba sejak 2013 namun terhalang ijin cuti. Jadi jelas, ini satu lagi poin dimana mimpi saya terkonversi menjadi kenyataan. Tidak mungkin bahagia absen dari hati ini.

Kedua, makna besar kegiatan ini bagi saya personal adalah titik temu dua keinginan besar yang gagal saya dapatkan. Antara bergabung NGO dan (C)PNS. Kerinduan saya untuk 'membantu' masyarakat di luar pulau Jawa yang sesak ini saya kira hanya dapat saya lakukan lewat NGO namun ternyata asumsi saya keliru. Ada hal yang sepenuhnya berbeda dari yang saya bayangkan yang bisa membuat saya men-check salah satu poin dari daftar keinginan. Sisi lainnya adalah fakta bahwa kegiatan ini benar-benar adalah agenda pemerintah. Kabar kembali menjadi guru PKN menyisakan satu pertanyaan, bagaimana mungkin saya mengajarkan tentang Indonesia tanpa pernah benar-benar berkecimpung atau mencicipi kegiatan yang memang digarap oleh pemerintah. Ternyata, rasa heran itu ditaklukan dengan kesempatan emas ini. Lagi-lagi manusia hanya jago menerka. 

Saya akan mengikuti salah satu kegiatan dari pemerintah yang melibatkan sangat banyak kementerian plus diperbolehkan menjadi 'berguna' untuk mereka yang sering terlupa. Oke, ini menjadi akhir kisah paling sempurna yang membuktikan bahwa kita boleh memiliki kerinduan namun jangan sekali-kali menyetir Dia untuk cara penggenapan kerinduan itu!

Akhirnya dengan sejuk hati penuh kagum saya dapat meminjam sepenggal paragraf favorit yang saya temukan dari buku Almost Heaven:
"I have been given this assignment by Him, the One who knows the end from the beginning, the One who holds the future in His nail-scarred hands and so I will gladly fulfill my role. Of course, it didn’t work out according my plan. LIFE GENERALLY DOESN'T. God had a totally different plan. I don’t know. I don't think I'll ever know. And part of me doesn’t even want to know. I just wanted this to be something that could only be explained by God’s intervention."

Manusia suka mencari tanda. Manusia gemar mengumpulkan fakta-fakta yang memperkuat posisinya. Itulah kenapa ulasan horoscope masih laris di kolom surat kabar dan ramalan kartu menjadi sesuatu yang tidak kehilangan pesonanya. Menjadi percaya tanpa melihat, bukan hanya Thomas yang sulit melakukannya 2000 tahun lalu.

Ini adalah cerita yang sudah lama parkir di otak saya dan akhirnya tidak tertahan untuk disemayamkan dalam tulisan. Kisah ini masih merupakan rangkaian memahami panggilan kala masa menjadi pengangguran. Seperti yang saya tulis di cerita lengkap sebelumnya, saya kembali menjadi guru. Fiuuh.. Melamar ke enam sekolah, adalah tindakan saya menguji hasil pergumulan dan semoga empat panggilan dalam satu minggu merupakan pertanda besar bahwa hmmm saya memang harus menggarap ladang ini. Tapi dasarnya manusia, seorang Claudya masih menggerutu. Setiap kali melihat aktivias sosial media kawan yang diterima mengabdi sebagai PNS dan sosial media pelayanan dari WVI, hati saya teriris (literally). Masih belum berdamai, mungkin itu tepatnya. Menerima kekalahan bukanlah hal mudah, apalagi jika setelah tahapan itu kita diharuskan masuk ke satu area baru yang sebenarnya ingin kita tinggalkan jauh. Saya bertanya ke Tuhan dan mempertanyakan diri sendiri. "Jangan-jangan aku salah mengartikan hasil pergumulan." begitu pembelaan dalam angan.
Suatu siang, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor yang tidak saya kenal. Ternyata itu lagi-lagi sebuah panggilan seleksi pekerjaan. Orang di seberang telepon itu berbicara sangat fasih dalam Bahasa Inggris, saya penasaran. Tidak berselang lama, terungkaplah bahwa itu merupakan panggilan pekerjaan dari sebuah sekolah tempat para anak expatriate di Surabaya bersekolah. WOW, saya tidak percaya lamaran yang saya kirim melebihi tenggat waktu maksimal ternyata ditanggapi dengan sangat baik. Sayangnya telepon itu berdering pasca keputusan akan ke sekolah mana saya akan berkarya sudah saya buat. Dengan sopan saya menolak tawaran itu. 

Panggilan yang mengusik jam santai saya siang itu tidaklah sia-sia. Samasekali tidak sia-sia. Lima dari enam sekolah, bukankah tanda besar bahwa this is a place I belong to be. Dua minggu setelahnya, sekolah keenam melakukan hal yang sama. Lengkap sudah pertanda ini, saya menemui jalan buntu untuk membangkang. Telepon kelima itu, menyuarakan kesan mendalam. Atas keterlambatan saya mengirimkan lamaran dan atas reputasi sekolah sebesar itu. Lebih-lebih kala saya mendengar responnya yang meminta saya kembali mencoba melamar di sekolah itu setelah kontrak saya di sekolah saya (akan) mengajar saat ini tuntas. Telepon keenam hanyalah bonus, sebuah tanda pemantab hati yang tidak saya minta, yang pastinya ditujukan untuk manusia super keras kepala seperti saya.




Kita rajin mengajukan tanda tanya pada Pencipta, jika kita cukup beruntung pertanda itu akan datang. Namun bagaimanapun kita tidak bisa terus mengandalkannya. Ada waktu di hidup pertanda akan bersembunyi hingga akhir. Percaya sebelum melihat pertanda adalah kualitas iman sesungguhnya. Saya gagal untuk itu, beruntungnya kekerdilan iman saya masih dinaungi oleh Kemurahan Pencipta. 

Setelah satu tahun ini saya tahu bahwa mencari pekerjaan (kadang) menjadi begitu rumit tapi sesuatu yang jauh melebihi itu adalah kesulitan mengungkap panggilan kita, dan kamu tahu apa yang paling sulit? menjadi taat.