Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Jika ditarik pola tentang apa yang terjadi seminggu ini, awalnya aku ingin memberi judul "seminggu berwajah palsu", namun kemudian aku tahu ada kalimat lain yang lebih tepat.
Menjadi wali kelas tahun ini tidaklah mudah, anak-anak yang dipercayakan kepadaku tidak seperti dua tahun lalu. Ada terlalu banyak hal yang menjebakku pada keinginan untuk membandingkan. Penatku juga disponsori oleh pikiran betapa sulitnya aku kembali stabil secara finansial setelah menjadi pengangguran setahun penuh. Sesekali sisi pemikirku mengalahkan segala kecuekan seorang sanguin. Di tengah itu semua, lelakiku di seberang sana ada di kondisi yang juga tidak terlalu baik. Tekanan untuknya memulai KPR semakin terasa, sayangnya keinginan kuat tak cukup. Berbagai faktor pertimbangan tak jarang menjadi aral yang merintangi deal pembelian. Baik soal lokasi, luas tanah, ataupun harga. Kala lelakiku berkeluh kesah, dengan otomatis aku lupakan bebanku sendiri. Sedari awal aku tahu bahwa tugas wanita adalah meringankan beban pria, itulah mengapa wanita disebut dengan istilah "penolong".

Di satu malam aku ajak dia memainkan game sambung kalimat, di malam lain dengan penuh nada manja aku menggombalinya, dan melakukan berbagai strategi hanya untuk mengembalikan sukacitanya. Dasar orang melankolis, bagi Riyan terlalu sulit untuk sekedar mengabaikan apalagi dengan cepat mengubah raut mood nya menjadi kembali ceria. Dia tertawa, tapi aku tahu persis itu hanyalah tawa yang ditujukan agar aku merasa dihargai atas setiap usaha menghibur. Di saat penat juga kepalaku, aku harus menghapus muram kekasihku. Tak hanya sehari, beberapa kali hal senada terjadi dalam seminggu. Di tengah kesal lahir aku menghibur diri dengan menulis ini :

There are some moments in life we should ignore our own burden. It's not fake, simply pretending that we can be stronger than we ever thought, and the fact is when we trying to lift someone little higher or just cheering up someone's day, we are not pretending anymore.
We've already been strong. 
Our hidden strength somehow appears just in moment when we try to be selfless




Tak selang lama, hari jumat ini tepatnya. Berbalut pakaian khas biru ala officer Girls Brigade dengan iPhone jadul di tanganku, aku tergetak dengan suara tanda masuknya sebuah surat elektronik di kotak masukku. Ternyata satu lagi penundaan konversi mimpi harus aku hadapi. Di ruang guru aku menahan tangis, tapi aku memilih untuk meletakkan sejenak sedihku di tumpukan koreksian yang menunggu. Masuk ke kelas, hal yang tak jauh berbeda terjadi, dedikasi atau sekedar janji profesional tetap memampukanku membagi ilmu dengan senyum. Pengingkaran demi pengingkaran kadang membawa pada pedih yang lebih dalam. Merasa begitu lemah, aku menghalalkan kejujuran untuk membagi beban dengan seorang kawan. Aku berniat setelah makan siang akan mengijinkan diriku jatuh dalam pengakuan semata murni untuk meringankan tekanan, ternyata jalan cerita sepenuhnya berbeda. Di kantin saat pelayan catering sibuk meladeni barisan siswa, seorang ibu penjaga koperasi meminta tolong aku menenangkan bocah yang terdiam dalam isak. Kejadian itu mengubah segalanya.

Anak itu gemuk, seorang lelaki yang biasanya membuat onar. Siang itu dia di hadapan piring makan siangnya duduk menghapus tetes air mata. Aku masih ingat jelas bulir air jernih keluar dari sudut luar matanya. Hatiku hanyut. Aku yang hari itu menahan tangis seharian, duduk lemas dan kalah. Aku pakai jariku menghapus air matanya. Dengan nada sabar dan lembut aku coba tanyakan alasan dari tangis itu. Siang itu, aku bergumam "masih ada waktu lain untuk mimpiku -yang tertunda karena email tadi pagi- digenapi, tapi air mata seorang anak kecil tidak akan bisa menanti." Ternyata siang itu bukanlah kekalahan yang meletakkanku pada tindakan tersebut, justru merupakan sebuah kemenangan. Iya, aku menang mengalahkan ego untuk hanya memikirkan diri sendiri.

Hari itu aku tahu bahwa yang aku tulis semalam sepenuhnya benar. Kekuatan tersembunyi akan keluar saat kita berusaha untuk tidak egois dengan masalah kita sendiri. "Yang kuat menopang yang lemah" begitu nasihat berharga yang kita acap dengar. Kadang kita tidak layak dikatakan kuat, kadang kita semata mencoba menjadi "tidak lebih lemah" untuk layak menopang beban orang lain. Kita semua punya masalah, jika berlandaskan itu maka semua kita akan jadi egois dan enggan merepotkan diri untuk memikirkan beban orang lain. Padahal justu saat kita berusaha menguatkan orang lain, kitapun dikuatkan. Sebuah pedang bermata dua, bukan?!

Saat aku menahan tangis dan harus menghapus air mata orang lain, disitu aku sudah tidak lagi sedang berpura-pura, saat itu aku sedang menjadi versi super dari seorang Claudya. Walaupun mungkin tidak ada seorangpun menganggap penting apa yang aku lakukan siang itu di kantin, bahkan ketika Riyan dan bocah itu juga tidak mawas tentang upayaku menghiburnya, itu bukanlah masalah besar bagiku. Hanya sedikit berharap penduduk surga menengokku sejenak, dan memperhitungkan itu sebagai kebaikan. Sebuah kebaikan yang diawali dengan kepalsuan dan dibungkus dengan kekuatan, sebuah kebaikan yang membuatku menang.

Dan akhirnya aku tahu judul yang tepat untuk minggu ini adalah: "seminggu menikmati kekuatan tersembunyi."

Di tengah sore hari Jumat usai meyeruput segelas kopi susu instan favorit, telingaku nakal menguping percakapan para kawan guru lain. Topiknya tentang beberapa siswa yang populer belakangan akibat segala ulah mereka. Hampir semua guru sudah dibuat geleng-geleng oleh mereka yang (untungnya) terpencar di berbagai kelas. Mereka yang masih gres melepas seragam putih-merahnya membawa berbagai kejutan.

Menghadapi berbagai karakter 'unik' itu memang menciutkan nyaliku. Aku sesekali takut. Di saat yang lain kadang aku terjebak untuk melabeli beberapa di antara mereka dengan sebutan "aneh" atau kadang menghakimi tanpa suara dengan julukan "nakal". Dan aku juga sesekali angkuh.

Ada serpihan enggan saat melihat tabel jadwalku saatnya mengunjungi mereka. Raga yang hadir tak lebih dari sekedar wujud tanggung jawab. Iya, memang kasih dan secuil dedikasi tidak pernah absen walau sesekali itu semua diselubungi pekat rasa takut. 

Masih dengan segelas kopi susu yang tersisa separuhnya, tanganku yang tak berhias cat kuku mulai membuka lembar demi lembar catatan siswa tentang satu topik renungan.
Senyap menyelinap, aku abaikan es kopi susu nikmatku.

Aku merasa bersalah, seketika.
Hidup mereka tak serenyah tawa yang dihadirkan di lorong-lorong sekolah kala 40 menit durasi istirahat tiba. Dengan membiarkan punggung jatuh di sandaran kursi kerjaku aku terkesiak tentang fakta bahwa banyak kisah tak mulus di celah kebisingan yang mereka ciptakan. Orang tua yang kurang perhatian, mama papa yang tak ubahnya dua peserta kompetisi debat, hingga pengabaian besar yang harus dirasakan bertahun-tahun.

Deretan nama yang acap memancing onar ternyata tak instan menjadi demikian.
Selalu ada sebab. Semua ada awalnya.
Terbingkai kisah sendu atau peran antagonis sebagai sponsor segala karakter kurang baik itu.
Tidak ada seorangpun yang dikodratkan menjadi pribadi yang buruk. Tak seorangpun juga yang sengaja diciptakan 'nakal' oleh Sang Khalik. Segala ke-khas-an negatif itu adalah sebuah produk berbagai faktor kompleks. Keluarga, kadang adalah penyebab utamanya. Di lembar yang sama mereka mengaku, tak mudah untuk mengucap syukur atas kondisi keluarganya.

There isn't anyone you couldn't love once you've heard their story -Aister

Membaca ataupun mendengar secuil penjelasan tu sudah berhasil meluluhkan hati, ketakutan dan kesombongan pun turut larut. Dari heran penuh gemas bergeser menjadi sendu kasihan. Mereka yang terlihat aneh, mereka yang gemar membuat onar, dan mereka yang hobi menabung daftar panjang pelanggaran justru adalah pribadi yang paling membutuhkan kelembutan dan kasih bukan justru omelan semata. Kadang yang mereka butuh adalah telinga yang siaga mendengar dan didikan yang dibahasakan dengan kepedulian.




Kadang aku (dan mungkin beberapa guru lain) hanya terlalu sombong, merasa lebih dewasa, lebih normal, dan lebih tahu. Miris memang saat predikat 'guru' membuat kami menjadi hakim atas sesama kami dan bukan justru menjadi perban yang membalut luka.

Bagaimanapun benar memang bahwa baik antara rasa takut dan sombong hanya cocok bersanding dengan sesuatu yang tak utuh kita pahami. Setelah menyimak sedikiiit saja rangkai kalimat jujur siswa, seketika gelas kaca berisi air keruh kopi susu itu menjadi cermin untukku, seraya menegur "lihatlah lebih dekat dan dengarlah lebih jernih, lalu kau akan bisa mengasihi dengan lebih tulus."
"When God smiles, everything is possible" :)

Kalimat ini terus menghantuiku. Biasanya sepenggal kalimat membayang usai membaca sebuah tulisan tertentu. Tapi tidak kali ini. Entah dimana aku menemukan baris kata itu, tapi yang jelas aku yakin itu ada maksudnya.

Tidak seperti tahun-tahun dulu, biasanya menjelang ulang tahun aku akan sibuk menuliskan banyak poin keinginan. Kata (sebagian) orang, aku terlalu idealis. Tahun ini tidak. Melihat setahun sebelumnya yang tak mulus, aku memutuskan untuk lebih sibuk menulis duapuluhdua berkat spesifik yang Tuhan berikan, di antara jutaan berkat harian yang sepanjang tahun sudah aku nikmati seperti soal makanan dan kesehatan. Aku tidak banyak berkespektasi, tentang hadiah, kejutan, termasuk segala pengabulan doa. Sudah cukup keterlaluan aku menyetir hidup ini, sesekali menjadi orang yang mengalir dalam ketidaktahuan mungkin bisa membawaku pada banyak kejutan lain. Mungkin saja begitu.

SATU JULI
Hari pertama bulan ini aku buka dengan menerima tantangan untuk mulai berkendaraan pribadi pertama kalinya. Menghadapi keganasan ruas jalan Ahmad Yani Surabaya yang kadang tak ubahnya sebuah arena balapan. Hari pertama itu juga aku sambut dengan menebarkan senyum pada rekan lama di Gloria, sebuah tempat yang membuktikan bahwa aku gagal move-on soal kecintaan akan dunia pendidikan. Antusias dan sesekali cemas mewarnai bisik doa pagi itu.



10 HARI
Seminggu awal berlalu. Tepat tanggal sepuluh, jarak antara aku dan kekasihku menyempit drastis. Hari-hari kasmaranku dimulai. Aku habiskan seperempat hariku dengannya, sebagai tanda pelampiasan akan seperempat tahun yang melekat rindu.

Jumlah menit-menit tatap muka kami diwarnai dengan cengkrama bersama kakak perempuan dan ponakanku yang masih berenang dalam teduh rahim ibunya. Alasan menghemat adalah sponsor utama kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan di kafe atau mall, seperti yang dulu rutin kami lakukan. Cinta bermekaran di rumah, itu ideal memang. Sekedar menonton TV dan mengobrol di ruang tamu berempat dengan keluarga adalah pengalaman emas yang bagiku seimbang dengan harga menolak berbagai ajakan pelesir. Bersama Riyan, kencanku menjadi penuh ragam. Kami olahraga bersama, dia lari dengan gagah sedangkan aku ceria mengayuh sepeda. Lain waktu kami mencuci motor putih kesayanganku, dengan diselingi canda khas penuh cinta di garasi rumah. Salah satu yang paling berkesan adalah saat kami memasak spagetti bersama. Kebawelannya adalah bumbu penyedap khusus. Baginya aku adalah koki handal, terbukti ketika semangkuk semur daging dan beberapa perkedel bulat tersaji di meja makan. "Rasanya aneh," begitu kataku menganggap bahwa kali itu aku telah gagal. Tapi priaku justru menghabiskan dengan lahapnya menu tersebut bahkan dengan nada bangga menceritakan pada ibunya tentang masakanku.

Satu yang khas dari LDR adalah pedihnya ucapan 'sampai ketemu lagi'. Kadang itu bermakna dua bulan, atau bahkan setengah tahun ke depan. Di Juanda aku sendiri melepasnya. Setelah menyeluruput kopi sembari menanti jadwal penerbangan, dengan mata berkaca-kaca, aku membiarkan jarak kembali memelukku dan membiarkan siksaan rindu mengusikku.



TANGGAL DUABELAS
Hari favoritku tiba akhirnya. Di subuh yang gelap dua manusia menyelinap di kamarku menyanyikan lagu wajib khas ulang tahun, di sela-sela cahaya lilin. Iya, kakak ku dan pacarku lah yang berada disana. Sedikitpun tidak menyangka, lelakiku yang tidak terlalu romantis menjadi begitu kreatif menyiapkan kejutan. Belum henti, di meja makan setelah melepas 23 batang lilin di atas kue tart ku, di tengah sibuk mengunyah kue coklat yang nikmat, dia menunjukkan sebuah video. Di mahakarya itu termuat kompilasi wajah para teman-teman yang entah bagaimana caranya bisa sampai disana. Sahabat kuliah, rekan kerja, sahabat pelayanan, semua ada disitu. Air mata bahagia, yang entah kapan terakhir kali aku rasakan bisa saya nikmati lagi di pipi not-so-tembem ini. 

Di pembukaan usia 23 tahunku aku hanya menikmati setiap momen yang ada tanpa terlalu sibuk dengan teknologi semu. Aku mengambil waktu berkualitas dengan segala berkat Tuhan hari itu.



HALLO LIMA-SAHABAT
Di minggu ketiga, bahagia bergilir datang dari sahabat kuliah. Satu momen pernikahan selalu jadi ajang mini reuni. Bertemu para sahabat lama selalu menyenangkan, apalagi menyaksikan satu sahabat penuh sumringah di pelaminan megah. Beberapa rutinitas lain sisa hobi masa kuliah kami lakukan, contohnya adalah karaoke. Bersenandung fals bersama dan berebut memilih lagu favorit di deretan playlist selalu berbalutkan rasa senang nostalgia. Durasi nongkrong pun tidak berlalu sia-sia banyak cerita yang membuat kami menyimpulkan wejangan: hidup ini terlalu singkat untuk sibuk memikirkan hidup orang lain.



MALAIKAT KECIL
Tepat sehari setelahnya, klimaks Juli ku datang juga. Seorang keponakan cantik yang sudah aku cintai sembilan bulan lalu sudah bisa aku elus pipi lembutnya. Membelai rambut halus rambutnya menarikku pada imaji tentang awan-awan putih tempat para malaikat menari. Bagiku, dialah malaikat itu. Seorang gadis mungil jelita yang dibungkus dalam doa lewat nama Gicelle Joella Alvaretta.


----------------------------------------

Akhirnya, kala menengok catatan tahun lalu, aku tersadar betapa hidup ini penuh kejutan. Di usia duapuluhdua aku berkata bahwa satu yang membuat hidupku tak sempurna adalah tak segeranya hadir pekerjaan (baca: http://unspokenspace.blogspot.com/2014/06/penghujung-duapuluhsatu-kurang-satu.html). Di tahun ini, apa yang hilang sudah ada kembali, sebuah pekerjaan sesuai panggilan. Harusnya itu saja sudah membuat hidupku lengkap sempurna. Sayangnya Dia masih jadi Pribadi yang menolak untuk dapat ditebak, sehingga dengan kasih merancang pelengkap lain untuk hadir dan membuat hidup seorang Claudya lebih dari bahagia. Aku serius, ini semua LEBIH DARI BAHAGIA.

Jika masa manis ini berakhir, aku tahu itu artinya aku harus kembali membuka catatan ini dan menyadari betapa ajaib arti senyuman Tuhan dalam setiap naik-turun hidup.

Untuk masa depan, ini keyakinanku: "jika Ia tersenyum maka semua hal akan menjadi mungkin." Hanya, semoga daya juangku di usia baru seimbang dengan kadar setiap utas keyakinan itu. Jika berhasil, maka sangat besar peluang aku dapat membuat-Nya tersenyum juga kepadaku.
aku kirimkan padaMu sebuah kecup penuh syukur.. Sebuah tulisan tak menentu, ungkapan hati sebelum lelap tidur..

Tuhan, aku yakin sebelum aku lahir, kebaikanMu telah Maha hadir. Skenario hidupku telah disusun rapi seindah tatanan galaksi, hingga tidak sekedipan matapun ada yang layak dikeluhkan, dipertanyakan, apalagi disesalkan. 




Jika belakangan ini rasanya hidupku sempurna, itu murni sebuah kemurahan yang Esa. Aku tahu hal mulus tidak akan selalu selamanya, karena untuk semua hal bergantian pergi dan tiba. Akan tiba romansa berganti getir yang menyiksa. Selagi bisa, aku hanya ingin menikmati setiap inci momen ini dan melatih diri untuk semakin banyak bersyukur tanpa menjadi takabur.

Hingga nanti saat masa sempurna ini mulai 'dicoba', aku menjadi hamba yang tidak sibuk menanyakan kenapa ini dan itu terjadi tak sesuai harap dan asa, tapi justru fokus menghitung banyak berkat yang sudah aku terima melampaui segala kelayakanku sebagai manusia berdosa.

Ketika hidupku tak ubahnya teka-teki tak pasti, itu jua karena Engkau sedang menempa diri ini. Pun masa sukar akan ada akhirnya, ajari aku tak berlarut dalam muram dan sungut.

Dan akhirnya aku yakin bahwa syukur yg aku sudah haturkan tak pernah cukup seimbang dengan nikmat yang Kau beri. Karena itu, mohon ajari aku untuk merangkul erat sikap berterimakasih hari demi hari :)
Ratusan siswa berbaris di lapangan futsal, seragam mereka sama: putih-biru, namun raut mereka beragam. Dari raut kelelahan, bingung dan asing, hingga ekspresi penuh tawa. Tak hanya raut, ada keberagaman lain yang aku tangkap. Semuanya satu arah mengantarkanku pada kesimpulan: Betapa Kreatifnya sang Pencipta.

Kembali menjadi guru sinonim dengan mengucapkan selamat datang terhadap berbagai pengalaman baru dengan para siswa. Kesan pertama yang aku kenang di tengah hiruk pikuk keberisikan khas remaja adalah kekaguman betapa Tuhan menciptakan manusia sangatlah unik dan soal naluri manusia dalam mengasihi. Agaknya kesan ini kelewat sederhana di sepekan awalku di Sekolah, tapi sejujurnya itulah yang terus membuatku tersenyum di sepanjang durasi upacara pembukaan Layanan Orientasi Siswa. Saat sang Kepala Sekolah memberikan beberapa wejangan untuk siswa baru, bola mataku berkeliling nakal mengamati sepintas para calon murid, dari situ aku mendapati betapa kompleksnya faktor genetika yang mempengaruhi seorang individu dan menjadi pembeda dengan individu yang lain. Misalnya soal besar atau kecilnya hidung, model rambut, bentuk rahang, tipe senyuman, dan susunan gigi. Belum lagi jika kita berbicara soal karakter.

Seketika saya teringat sebuah film kartun yang pastinya kita kenal akrab: Winnie The Pooh. Disana tersodor beberapa karakter yang diwakilkan beragam hewan yang berbeda. dari Tiger sang pelompat, Rabbit yang gemar mengeluh, Piglet yang Imut, dan Pooh pecinta madu. Masing-masing mereka memilih kesukaan yang berbeda, ciri fisik yang pastinya berlainan, serta karakter yang juga tak sama. Cerita kartun itu hanya cerminan dari sepersekian kecil ujung kuku keagungan Pencipta. Hal lain yang saya sadari adalah naluri alami kita untuk mencintai keberagaman. Seperti yang pernah ditulis oleh Nelson Mandela: 
No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite.” ― Nelson MandelaLong Walk to Freedom



Wajah yang terjadi sekarang adalah bagaimana sebuah identitas bukan lagi bertujuan menjadi pembeda tapi juga pemisah. Sudah terlalu banyak kejadian dalam sejarah menunjukkan betapa rasa benci akan sesuatu yang berbeda telah menjadi pembenaran untuk melakukan segala kejahatan kemanusiaan, hingga akhirnya kata 'genosida' muncul dalam deret perbendaharaan kata. Kita dilahirkan dengan naluri alami mencintai, tanpa perlu pusing menanyakan terlebih dahulu: "kamu agama apa?" ataupun sekedar bergumam "dia tidak cantik, aku tidak perlu mengasihinya". Budayalah yang menggiring kita menjadi manusia pemilih.


Alih-alih bangga dengan keberagaman yang dirancang sedemikian oleh Pencipta,
dan membiarkan diri larut dalam naluri mencintai,
kita justru lebih menikmati latihan yang lebih susah: latihan untuk membenci.
Aneh bukan?



Setelah berlayar entah dari sudut Nusantara bagian mana, penjarahan kekayaan alam Indonesia oleh Belanda tiba di sebuah pulau kecil yang terletak antara Kalimantan dan Madura. Namanya sekarang Keramian, namun dulu pulau ini disebut Ariandes. Ratusan tahun setelahnya, Pulau kecil penghasil cengkeh ini menjadi saksi 12 bocah nyasar terdampar lalu BELAJAR.

(1) Hampir Sampai

Empat jam dari Masalembu, kapal Miami berlabuh jangkar di tengah lautan. Sebelumnya, kami disambut dengan tarian selamat datang dari kawanan lumba-lumba. Tanpa diminta, mereka melompat dan berenang lincah. Saya terhenyak sesaat menyaksikan apa yang saya kira hanya mimpi menjadi nyata. Selain itu hati kami juga riang, menyambut fakta bahwa perjalanan yang mengundang mual akhirnya usai. Para ABK sudah memberitahu bahwa kami akan dijemput oleh kapal nelayan. Belum adanya dermaga yang memadai membuat transfer penumpang terjadi tengah lautan. Disana satu per satu kardus sumbangan dan kardus logistik kami turunkan lalu dengan super hati-hati kami membawa tubuh kami berpindah ke kapal yang lebih kecil, melewati sebuah tangga besi. Kapal nelayan tak perlu waktu lama untuk mengantar kami mendekati daratan. Belum selesai ternyata tapak perjalanan, sebelum menginjakkan kaki di bentangan pulau tersebut kami masih saja harus berpindah sarana. Dari kapal nelayan menuju ke sampan. "Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar!" Begitu otak saya menyimpulkan sambil tubuh menikmati angin khas pesisir.

Di sampan berkapasitas tiga orang itu saya mengobrol dengan seorang ibu beserta anak perempuannya yang bernama Nana, penduduk asli pulau Keramian. Dengan logat yang unik, ibu bertubuh kecil itu menceritakan bagaimana banyak anak di pulau tersebut tidak piawai berbahasa Indonesia. Memang, keseharian disana sangat kental dengan percakapan dua bahasa daerah: Bugis dan Madura, kemungkinan besar dikarenakan posisi geografisnya.

Sesampainya di bibir pantai kami disambut super hangat oleh perangkat desa yang telah mengetahui akan kedatangan kami lewat mas Eko Sanjaya, seorang warga asli yang secara kebetulan saya temukan alamat emailnya lewat akun Instagram. Sosial media unjuk nilai fungsi disini. 

(2) Relawan Mengabdi

Sebelum berangkat kami telah menyusun rencana bahwa di pulau ini wujud karya kami akan banyak menyentuh soal pendidikan. Bagian dominan durasi sepekan saya disini adalah membagi ilmu dan wawasan. "Kepuasan hati tercapai justru saat kita dapat melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak dapat membalas kembali samasekali," parafrase ungkapan Martin Luther King ini terbukti valid adanya. 

Tidak ada SMA disana, hanya ada lima sekolah tingkat SD dan satu sekolah tingkat SMP. Jika ditotal saya mengunjungi lima diantaranya. Bagian yang berhasil membuat saya merinding adalah ketika salah seorang siswa SD dengan berani melakukan solo lagu Indonesia Raya. Sesuai pembagian, saya banyak bertugas di kelas 4-5 SD, sebuah tantangan baru mengingat saat KKN ataupun mengajar di Gloria saya selalu berhadapan dengan siswa SMP. Nada yang ceria, ekspresi yang menggemaskan, berusaha saya tampilkan untuk menghindarkan mereka dari rasa bosan. 

Di lain kesempatan, saya merasa hebat kala berhasil mengemas Indonesia sebagai negara yang membanggakan. Juga saat saya mencontohkan beberapa nama atlet Indonesia yang mendunia untuk memotivasi mereka. Nada obrolan ini lebih serius dari biasanya, maklum penyesuaian materi dan intonasi memang harus dilakukan saat mengajar di tingkatan yang berbeda. Di tengah siang terik dan berdebu itu saya duduk membicarakan Nusantara dengan para anak SMP yang memang sudah biasa saya 'tangani'. Ketidaksiapan materi untungnya terbungkus aman lewat segala wujud spontanitas dan memuluskan saya memancing tekad dan angan mereka untuk menggoreskan asa. 

Mengajar anak-anak disana merengkuh jiwa saya pada memori tentang pedihnya kegagalan WVI (Wahana Visi Indonesia). Masih teringat jelas air mata tanpa basah dan teriak tanpa suara kala mengetahui bahwa kerinduan besar untuk berkarya di pedalaman tidak bersambut oleh sebuah penerimaan organisasi. Jika disimpulkan, arti besar pengalaman ini adalah obat yang menyembuhkan luka yang saya kira hanya dapat sembuh oleh waktu semata. Saat saya mengajar Anak-anak itu untuk berani bermimpi, sebenar-benarnya mimpi saya sedang digenapi. Ini sebuah barter yang sempurna!



Selain mengajar kami juga menyalurkan bantuan sembako. Dibantu perangkat desa, kami memetakan nama-nama yang memang membutuhkan. Aktivitas pembagian sembako ini difasilitasi sebuah motor truk yang dikenal sebagai odong-odong, sebuah sebutan yang mengundang geli di angan. Selama perjalanan blusukan ke tiga dusun, kami sembari menguji adrenalin dan ketahanan tulang ekor melewati berbagai rute bebatuan dan belokan curam.

Tiga puluh kresek paket sembako mengantarkan kami pada rumah reot, wajah keriput, dan tubuh kurus. Sebuah pemandangan miris yang harus menjadi pisau tajam menusuk orang pemerintahan agar tidak egois menghabiskan uang negara. Saat DPR membahas milyaran rupiah sebagai dana aspirasi, kami menyaksikan betapa banyak warga berjuang mengalahkan kebutuhan hari lepas hari.



(3) Yang Khas Disana

Bibir pantai hanya berjarak belasan meter dari ruas jalan utama. Tidak mengherankan jika rumah di kanan kiri jalan tersebut hampir semuanya berupa rumah panggung. Dengan tiang kayu berdiri menopang, para penduduk merasa aman kalau-kalau ombak pasang terlalu tinggi dan masuk ke permukiman. Pun hal itu wujud akulturasi budaya bawaan suku Bugis yang juga banyak tinggal di pulau yang mengandalkan penjualan kopra (kelapa kering) sebagai pemasukan ekonominya.

Satu hari menjelang puasa, kami menghabiskan sore di dermaga yang sedang dibangun. Kelak dermaga ini akan mempermudah labuhnya kapal perintis dan semoga menambah mobilitas bagi masyarakat. Dalam langkah pulang kami dikenalkan dengan jajanan khas. Tak lengkap rasanya mengenal masyarakat tanpa mencicipi kuliner asli yang ada. Namanya Pempek, parasnya tak jauh beda dengan yang telah populer di Jawa, hanya lebih pipih. Dibuat dengan ikan dan olahan tepung lalu digoreng di minyak dengan api sedang, pempek ini siap dinikmati dengan kuah asam yang sangat unik. Jika pempek Palembang mengandalkan cuka untuk menghadirkan rasa asam, pempek Keramian mengandalkan biji asam yang sebenarnya. Rasa asamnya unik sekaligus membuat ketagihan.

Pulau ini terdiri dari tiga dusun yang masing-masingnya berjauhan. Dusun Air Hidup merupakan sisi kota Keramian. Nama itu diambil karena adanya mata air yang terus mengalir di sekitar sana. Dua dusun lain bernama Alas Jaya (bahasa Indonesia: hutan yang besar) sesuai penampakan fisiknya serta dusun Sudi Mampir (bahasa Indonesia: Berkenan Singgah) yang seakan membahasakan ajakan ramah untuk bertamu.

Jauh berbeda dengan Masalembo, pulau ini dialiri listrik hanya empat jam sehari (18.00 - 22.00). "Jam listrik mulai menyala kadang terlambat, tapi jam padamnya selalu tepat" begitu penuturan miris pak Kepala Desa yang bagaimanapun mengundang tawa. Tidak berlebihan jika saat kami berpamitan warga hanya menitipkan satu aspirasi untuk kami suarakan nanti: Hadirkan Listrik penuh waktu.

(4) Waktu Luang

Jalan-jalan sore menjadi kegemaran baru kala tak ada kegiatan yang mengisi. Kami pernah menyusuri 3,6 kilometer mencapai pantai yang tak terlalu indah tapi seakan menjadi pantai pribadi. Keceriaan dan kegilaan tumpah sebagai keluarga, bukan lagi sebagai selusin orang asing yang baru saja mengenal beberapa hari. Satu yang unik hari itu adalah hujan yang turun dengan tingkat labil yang tinggi. Tetes air langit yang muncul dan hilang berulang membuat kami akhirnya singgah ke beberapa rumah penduduk. Alih-alih silahturahmi, kami sebenarnya sedang berteduh tapi justru di beberapa singgah itu kami merasakan kesahajaan masyarakat Keramian yang sesungguhnya. 



Seperti rutinitas khas bulan Ramadhan, saya sekejap merasa kesepian kala 10 kawan lain pergi tarawih. Namun sesegera mereka kembali ke rumah, menit-menit 'hangat' lanjut dilakukan kadang hingga larut malam. Kami membicarakan banyak hal. Saya tidak mungkin lupa membagi satu cerita yang membuat kami semua total terbahak-bahak hingga perut terkocok lemas. Sepulang baksos kami diberi hadiah sebutir kelapa muda utuh. Sebuah tantangan bergulir untuk membuka kelapa itu dengan tangan kosong. Setelah bergantian mengupas bagian luar berupa sabut-sabut tebal, tangan kami dapat meraba batok kelapa yang jelas berkontur keras. Tak ada sangka dan tak seorangpun menduga, bukan sulap tanpa sihir, batok kelapa yang begitu keras pecah hanya dengan hantaman tangan kosong Marqi, si adik kembar saya. Sontak tawa meriah tak terelakkan, merayakan kekuatan super yang terpendam di salah satu anggota kelompok kami.

Bonus perjalanan ini adalah kulit yang menghitam pekat, tepatnya setelah mengunjungi pulau Kambing, sebuah pulau kosong kecil di sekitar Keramian. Ada gua, bukit, dan pantai yang mempesona. Namun ada yang lebih indah dari itu semua bagi saya, yaitu durasi saya mengajarkan permainan tahun 90an 'domikado' pada sekelompok anak yang memang ikut pelesir dengan kami berduabelas. Saya menghabiskan masa mengapung pulang dengan riang bermain bersama mereka. Kehidupan selalu LEBIH DARI CUKUP untuk membuat bahagia, itulah pesan tersirat yang selalu diteguhkan lewat senyum tanpa beban anak-anak kecil.



Terlalu banyak kenangan indah yang membuat kisah ini panjang teruraikan. Alinea yang telah adapun telah melewati sortir pilih dan pilah rekam peristiwa. Masih ada bagian tentang cooking class di dapur yang dengan jujur membuktikan perbedaan budaya masing-masing suku. Ingatan tentang para lelaki yang belajar mandi di sumur dikarenakan kamar mandi dimonopoli antrian kaum hawa juga menggelitik saya pada tawa. Begitu juga soal lima perempuan yang terjaga menanti para lelaki yang sedang mencari ikan hingga satu jam menjelang sahur tiba, tak ubahnya istri yang sedang menunggu suami pulang mencari nafkah.

Hanya seminggu tapi begitu banyak kebersamaan terabadikan. Dimulai dari kesediaan menanggung susah senang bersama kala mengabdi, dilanjutkan dengan sikap hangat yang sigap membantu, diisi dengan kisah hidup yang saling dibagi, dan senantiasa diwarnai insiden lucu.

Semua terkemas sesuai nama pulau ini: Keram(a)ian. Ramai dengan tawa, ramai penuh hikmah, ramai meninggalkan kenangan indah.

Kapal Miami kami sampai pagi-pagi disana. Pikat matahari yang baru gagah di langit terpantul jelas di lautan jernih sekitar pulau ini. Antara dermaga menuju pusat aktivitas masyarakat terjejer banyak kapal nelayan. Pulau yang berbentuk U landai ini memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan desa kecil di pulau Jawa. Image seram dan terpencil yang ditayangkan oleh sebuah serial televisi samasekali tidak terbukti.




Masalembu, bukan Masalembo! Itulah koreksi pertama saya. Pulau ini masuk dalam kabupaten Sumenep, Madura. Tidak banyak yang berbeda dari penampakan desa-desa di Jawa, ruas jalan yang tergolong sempit, aktivitas pasar tradisional yang ramai, jejeran toko-toko kecil, dan harga makanan yang murah. Benar-benar murah! Sebagai sarapan, saya dan (lagi-lagi) dua kawan dari ITS, Diah dan Marqi, terbelalak heran ketika kami menikmati semangkuk makanan berkuah yang mereka sebut sebagai 'soto' hanya 2500 rupiah per porsinya. Ada lontong, toge, bumbu kacang, suwiran ikan tongkol, dan kuah kaldu ikan. Salah satu makanan paling unik yang pernah saya jumpai. Di pulau ini hampir semua makanan berbahan dasar ikan, maklum itulah yang paling mudah dicari. Sapi disembelih hanya saat Idul Adha dan Idul Fitri, begitu keterangan ibu penjual soto berkerudung merah gelap.

Masyarakat disana juga tergolong modern yang lancar berbahasa Indonesia, kontras dengan pulau tempat saya mengabdi. Kondisi fasilitas juga cukup membanggakan, ada listrik 24 jam, berdiri pom bensin, tersedia sinyal yang memadai, serta beberapa toko pengisian pulsa. Image 'terpencil' sama sekali tidak benar. Jika ingin menyaksikan wujud berbeda petualangan Indonesia, saya kira Masalembu cocok diperhitungkan sebagai destinasi. Lautnya indah, masyarakatnya ramah, dan tidak terlalu sulit untuk 'bertahan hidup' disana. Untuk menuju ke pulau yang mayoritas berbahasa Madura itu, tidak ada jalan lain selain melalui jalur laut. Hampir semua kapal perintis singgah di Masalembu, dikarenakan adanya dermaga yang tergolong bagus.



Di perairan sekitar Masalembu memang sudah terkenal dengan arus segita bermuda. Bukan hanya mitos, kecelakaan memang pernah terjadi bertahun lalu, membuktikan keganasan segitiga itu. Titik pertemuan tiga arus yang jelas mengalahkan para pelayar amatir. Para awak kapalpun mengakui perbedaan signifikan arus di perairan sana.

Walau hanya sebentar menginjakkan kaki di Masalembu, tapi setidaknya saya dapat membawa oleh-oleh fakta bahwa apa yang ada di serial televisi berjudul Masalembo itu sepenuhnya salah.

Jangan takut untuk singgah, Masalembu indah dan ramah, sumpah! :D

Heran dengan judul post ini? Hahaha iya, itu merupakan versi bercanda dari fakta bahwa bangsa kita memang besar dan kuat di lautan. Hal pertama yang akan saya ungkap disini adalah: berlayar itu tidak mudah! Seriously.

Kapal perintis yang mengantarkan kami ke tiga destinasi: Maselembu, Keramian, dan Matasiri dinamakan kapal Miami. Berwarna hijau tua dan diandalkan sebagai pengantar pasokan bahan makanan, singkatnya kapal ini merupakan sebuah kapal barang. Ada ruang besar yang membuat kami leluasa untuk tidur di segala sudut ditambah fakta bahwa kapal itu memang kami 'monopoli'.



Di kapal itu saya berkenalan dengan dua ABK, seorang Flores dari Larantuka (NTT) yang berpenampilan nyentrik serta Pak Ibrahim seorang Makassar yang besar di Papua. Ini semacam kebiasaan bagi saya. Selalu ada durasi waktu yang saya habiskan untuk meninggalkan keseruan bersama teman-teman lalu mengobrol dengan orang lintas usia dan lintas golongan.  Bagi saya ini cara ampuh untuk memperkaya wawasan.

Selama mengarungi lautan, Anjungan kapal merupakan tempat favorit kami berkumpul membunuh rasa bosan. Disitu kami berfoto, memasak, bermain kartu, atau sekedar bersenandung gila. Bonus perjalanan ini adalah membuat kami menyaksikan dengan mata telanjang keindahan matahari terbit dan matahari terbenam. Ah bagi saya pribadi itu keindahan sejati, mengamati secara langsung matahari bergerak turun kala senja. Saya sedang mencicipi kedamaian surga.

Perjalanan ini membagi kami dalam tiga golongan: pelaut, bukan pelaut, dan golongan tengah. Sebagian orang bisa penuh tawa dan seakan tak kunjung habis baterainya untuk tetap terjaga. Kadang bahkan masih sempat untuk usil menganggu. Ada juga golongan yang KO sekejap saat angin laut kencang berhembus dan kapal mulai bergoyang akibat gelombang. Kocaknya, sebagian di antara mereka adalah orang yang sudah menaklukan banyak tempat dan banyak puncak. Kang Abel -orang Bandung- contohnya. Tak butuh waktu lama buatnya langung tergeletak lemas segera setelah kapal mulai melaju. "Apapun tidak pernah membuat saya mabuk, kecuali laut" begitu lugasnya dengan ekspresi heran yang menggelikan berlogat sunda kental. Saya adalah golong ketiga, ada di tengah-tengah. Kuat terjaga untuk sesekali bercengkrama namun juga tepar di bantal kala ombak terlalu kencang menyerang.

Di atas kapal Miami ada beberapa kenangan manis tergoreskan bagi saya pribadi. Misalkan saat Rizal -seorang mahasiswa UB- mendapati saya seorang keturunan Tionghoa (ini fenomena jarang terjadi). Dia merupakan muslim taat yang mengagumkan, namun tak segan untuk menanyakan apa makna di balik Claudya Tio Elleossa. Juga saat saya dan Diah -mahasiswa ITS- saling menatap secara otomatis saat mendengar seorang ibu-ibu di pelabuhan berjualan "nasi bungkusnya, yang huruf A ikan Ayam - yang huruf O ikan Telur" nahloh! Kok gak sinkron.. Hahha saya dan Diah yang akhirnya jadi partner berbagi selimut hanyut dalam tawa yang renyah. Ohya saya juga merinding terkesan melihat kawan-kawan muslim yang tetap menjalankan sholat lima waktu seakan tak menyadari goncangan kapal. Suatu subuh bahkan saya -seorang Kristen- merinding haru mendengarkan Mas Beki -mahasiswa Jogja- mengaji dengan sangat merdu. Sungguh, momen seperti ini membuat saya makin bangga akan keberagaman umat beragama di Indonesia. Pemandangan seperti itu juga menggertak saya untuk menjadi umat beragama yang lebih baik. Terakhir adalah momen kala kebaikan memang selalu termanifestasi lewat tindakan. Di malam pertama pelayaran, saya bersama dua mahasiswa ITS (Diah dan Marqi) dan satu mahasiswa BSI Jakarta (mas Firman) tidur berbagi karpet yang sama. Lalu seorang bocah Jogja bernama Dika tanpa aba-aba menyelimuti kami berempat dan menyisakan dia tidur tanpa selimut samasekali. Entah kenapa ini jadi salah satu bagian mengesankan bagi saya. Kepedulian sederhana kadang bisa meninggalkan kesan mendalam. Terimakasih Dika.

Akhirnya, di kapal Miami itu terungkap kualitas pribadi banyak orang dari yang cuek hingga super peduli, yang menyisakan seorang Claudya untuk kembali belajar. Mengapung belasan jam di gelombang air juga membuat saya mencicipi mabuk laut yang sesungguhnya, dan oleh karenanya kekaguman saya haturkan bagi para pelaut Indonesia. Kapten dan para ABK baik dari kapal penumpang, kapal barang, ataupun kapal ikan di segala penjuru nusantara. Kalian orang hebat! 

Pagi itu saya buka dengan otak yang berpikir keras hampir semalaman. Menimbang dan memperkirakan banyak hal. Niat saya untuk terjun di kegiatan yang digagas Kemenko Kemaritiman ini masih saja belum utuh,  walau sudah jelas saya diperhitungkan sebagai peserta disana. Muncul di permukaan sedikit keraguan, mengingat kondisi fisik yang sempat drop akibat asam lambung yang melunjak. Hanya beralaskan rasa penasaran dan bernaungkan keberanian, kesempatan mengikuti ekspedisi ini akhirnya saya sambut hangat. Alasan kuat lain yang mendorong saya adalah fakta bahwa saya akan segera kembali menjadi guru per 1 Juli, saya HARUS datang pada para siswa dengan oleh-oleh cerita yang nyata tentang Indonesia. Optimisme dan sedikit kedisiplinan mengatur jam makan semoga cukup untuk menjauhkan saya dari nyeri lambung yang sungguh menyiksa.

Tanjung perak adalah titik saya bertemu dengan berbagai kawan dari segala penjuru tempat. Untuk sebagian orang, mendapatkan teman baru sama berharganya dengan mendapati rekening terisi baris angka panjang. Saling berkenalan, adalah kegiatan pertama kami sembari menanti kepastian jam tentang kapal yang akan menjadi sarana bagi 37 orang mewujudkan kerinduan untuk mengabdi.

Seperti saya singgung di tulisan sebelumnya, sedikit sentuhan keajaiban surga membuat saya dapat mengikuti sebuah kegiatan yang menjadi manifestasi pemenuhan mimpi saya: berlayar dan mengabdi. Nama kegiatannya adalah Ekspedisi Nusantara Jaya, yang berlandaskan misi menjangkau daerah terluar Indonesia, terkhusus pulau-pulau kecilnya. Ada banyak hal yang terjadi di luar ekspektasi, maklum kegiatan ini memang perdana dilaksanakan pun oleh kemeknnterian yang masih tergolong balita. Hingga satu titik saya dan para kawan lainnya sadar bahwa kami bukan sekedar 'peserta' disini namun merupakan kumpulan orang bersemat sebutan 'relawan'. "Relawan ya harus rela," begitu celetuk seorang bersahaja bernama Vita yang kebetulan juga sekelompok dengan saya. Kerelaan itu tentang kesabaran akan jadwal kapal perintis yang serba tak jelas juga tentang janji-janji soal fasilitas. Akibat serba tak pasti, peserta menyurut dari 98 menjadi hanya 37. Drastis bukan? 

Empat huruf saja: RELA, itu sebuah perasaan sederhana namun tidak mudah ternyata. Untungnya saya dan 36 orang lainnya cukup beruntung diberi kesempatan mempelajarinya bersama.

Awal episode seminggu luar biasa dimulai oleh sebuah latihan rasa rela. Saya kira ini appetizer yang tidak terlalu buruk, karena pengabdian kadang memang sinonim dengan pengorbanan. Dan ... Bukankah semua pengorbanan selalu menuntut kerelaan?
ada yang menaruh hatinya pada seni
kadang tentang seperangkat nada
kadang tentang rasa puas dari goresan di ujung kuas

tak sedikit yang terpana pada megahnya semesta
kesana kemari membawa hidup pada carrier yang tinggi

ada yang meletakkan cintanya pada olahraga
menjaga fisik prima untuk meraih rasa bangga

ada yang melekatkan asmara pada gaya
mendesign pakaian atau sekedar terampil memadupadan

ada juga yang jatuh cinta pada pemuas lidah
dengan memasak, dia menambah bahagia

ada yang terpaut pada aksi sosial
memberi makna pada mereka yang kadang terlupa

banyak juga yang memilih menari dalam kata
saat gubahan tulisan menjadi simbolis keterbukaan besar

ada sebagian yang memilih tetap serius
menggeluti dunia penelitian akademis
mencipta dan menyimpulkan sesuatu yang berguna

ada yang tidak bisa move-on dari fotografi
memantabkan presisi lalu jepret sana sini

ada pula yang memang cinta pada dunia wirausaha
satu hal kecil bisa berubah jadi ide bisnis di benaknya




Lalu, di antara itu semua manakah yang lebih baik? TIDAK ADA. Tidak ada yang lebih baik satu dari lainnya. Cinta yang berbeda itu ada dimana-mana, tak bisa kita menghakimi bahwa satu bidang menjadi lebih penting atau lebih remeh dari lainnya. Semua panggilan hati itu berharga, selalu ada kemungkinan dan semoga selalu ada cukup kesempatan untuk menjadikan itu sebagai sesuatu yang berguna untuk sesama.