Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Pendeta penuh sahaja itu adalah salah seorang gembala asli dari GKI Residen Sudirman, tempat saya berjemaat lima tahun terakhir. Walau tak mengenal tapi saya tahu persis namanya. Usianya belum terlalu tua dengan perawakan tergolong kurus dibandingkan para bapak lain yang mulai menimbun kegemukan di perut. Di barisan tengah, saya mengikuti ibadah seperti biasa sampai akhirnya insting sok tahu saya bergeming.

Tak biasanya, sebuah pembawaan karismatik terpancar dalam gaya luwes bapak itu sehari-hari. Kesan menggebu-gebu dalam bingkai kontrol yang mengagumkan tercermin. Ada penekanan yang berulang soal ketaatan dalam penderitaan sebagai umat Tuhan sebagai manisfestasi tema utama ibadah. Dari tengah hingga akhir khotbah suara pendeta itu mulai gontai. Ada nada yang tak terdefinisikan tersembunyi di balutan jas hitamnya yang gagah, hingga akhirnya mata itu berkaca-kaca. Jemaat -atau mungkin hanya saya- semakin terenyuh. Iya, tidak dapat disembunyikan sang pengkhotbah sedang menghayati benar isi pesan yang ia bagi. Merinding mampir. Di kala kalimat "walaupun kadang kita tidak mengerti kenapa Tuhan seakan diam pada masalah kita ..." terucap, upayanya untuk tetap tegar terkalahkan dengan tetes air mata. Saya tidak tahu kenapa beliau sore ini menjadi begitu emosional, tebak saya adalah mungkin ia sendiri sedang dalam pergumulan berat. Seakan kalimat ajakan yang ia pakai untuk menguatkan para jemaat sedang ia coba laksanakan sendiri. Tidak mudah mungkin, hingga harus ada tetes air jujur keluar dari sudut kelopak matanya.




Menjadi pewarta Firman, tidak selalu berarti bahwa ia telah tuntas melakukan isi khotbahnya, mungkin di detik ia membagi di saat yang sama persis itulah ia sedang mencoba. Salah besar jika kita asumsikan bahwa bahwa pelayan Tuhan adalah yang sudah beres total hidupnya. Memang, sudah seharusnya perkataan dan tindakan menjadi seirama, tapi kala itu masih proses ada kalanya kita memperkataan kebenaran sebagai pedang bermata dua: memberkati orang lain sembati mengoreksi diri sendiri. Sayang sekali jika kita kerap berkata: "anda lho bisa khotbah kok malah gak bisa lakuin." Proses adalah bagian hidup SEMUA ORANG tanpa terkecuali, metodenya berbeda tapi agaknya bukan didasarkan pertimbangan status tertentu.

Usaha sang pengkhotbah untuk menekankan pesan berharga itu lantas membuat saya teringat sesuatu. Betapa banyak orang yang menolak sebuah kesempatan pelayanan dengan dalih "aku belum siap" atau dengan kalimat yang lebih rohani "aku belum layak". Pertanyaannya adalah: Sungguhkah kita merasa akan layak nantinya? Tidak akan! Benarkah kita akan merasa siap suatu hari? Belum tentu!

Bahkan seorang pendetapun berjuang di tengah segala kondisi serta karakter yang sulit, tapi toh Tuhan berkenan memakai dia. Kenapa? Karena memang tidak ada seorangpun yang dipanggil karena kesempurnaan. Justru tahta panggilan yang Ia mandatkan adalah ruang untuk kita berproses menuju keserupaan dengan Pencipta. Itulah kenapa pelayanan disebut sebagai anugerah, karena itu samasekali di luar kelayakan kita.

Momen emosional tadi dengan lantang menggiring saya pada penghayatan: "tetap melakukan beban panggilan bahkan saat kondisi tidak nyaman," sebuah teladan yang bukan saja saya dengar namun telah saya saksikan.

Akhirnya kami semua -dia sang Pendeta dan kami para umat- larut dalam senyap, kami tunduk dalam durasi doa yang lebih lama dari biasanya. Dan kala ucap 'amin' terdengar, senyum teduh sumringahnya telah kembali. Sebuah kesimpulan dan 'permainan' ekspresi yang mengagumkan!
guilty pleasure
(:n) something you shouldn't like but like anyway
(:n) something that you love to do but just cannot admit that you do it

Everybody tend to have something called guilty pleasure. Maybe for extreme side the example are about porn and drugs, but if we open our mind wider and be honest to ourselves, the guilty pleasure can transform in so many forms: food, social media, clothes, movie, game, or even laziness.

Why it's called guilty?
Why it's called pleasure?
Both words are totally opposite. The first one is about feeling regret and the second one drag us to the comfort state of mind. Some activities make us confuse to define "is that a good thing to do? May I? Why shouldn't I?" We afraid of what people will see. We are live in society that push us to the always-think-twice area. Their construction of 'good' or 'bad' is affect us all the time. I didn't say it's a bad thing anyway, and the fact is I cannot imagine how chaos the world will be if every person doesn't has any guilty feeling at all. Same side of it, we desperately need a reason to be excited. Since every time our adrenaline up or after we finish our favorite meal, we can feel statisfy. That feeling help us to enjoy life.

We need both of them! The problem comes when we failed to place each in right portion. Too many guilty feeling prove that maybe we are already overthinking and be the person like what people wanna see. What I try to say is for some things that absolutely wrong like porn and drugs, we shouldn't give any compromise. The real face about pleasure is not worth to be placed at those terms. But for so many many things else, I think we must keep being ourselves without spending too many times worrying about people's opinion. 

Let me give an example.

Weekend has similar meaning with 'time to hang out' but for some people -introvert especially- spending time in their room is a great pleasure. People tend to judge that maybe she/he are a geek or weird person just because she/he ignore one hang out invitation at the weekend. For me -about that case, being home and have self-time for introvert person is a truly pleasure so it's not necessary to add the word of 'guilty' at all.

And what will happen if we only think about pleasure?
Of course, it will hard to us to be responsible. 'Pleasure is just a bonus, not a priority' I ever read that statement and it's kinda worth remember. We must underlines that statement as a good reminder. Because at the end maturity will help us to figure it out that life doesn't always agree with our plan. Even happy ending is not always exist in the way we want.

We need extra careful to maintain our behavior in this judgmental environment, while still having a chance to be ourselves. Guilty-side seems need little bit free-soul when pleasure-side totally need enough maturity. Each control another. We have to remember that all the extreme side and whatever that too-much is not really good.



Aku dan riyan memulai pacaran sebelum akhirnya jadi sahabat karib. Malam ini ngerasain banget enaknya punya pacar multi peran. Dari kakak yang cerewet ingetin ini itu, partner seiman buat saling bahas Firman dan doa bareng, dan salah satu yang paling signifikan adalah sebagai sahabat.

Riyan gak terlalu suka kalo aku umbar masalah di publik khususnya sosial media, baginya itu akan buka kesempatan cowok lain untuk kasih perhatian yang berpotensi ganggu hubungan kami. Ke sahabat cewekpun demikian, dia ingatkan: "nanti saat sudah menikah dan muncul masalah, apakah kamu akan lebih cepat ngobrol dengan sahabatmu atau denganku?" Bagiku ini masuk akal, walaupun itu samasekali gak berarti kami tidak membutuhkan sahabat lain. Tanpa disuruhpun setelah menikmati persahabatan dengan pacar sendiri, sosial media jadi pilihan akhir untuk curcol. Tiap malem selalu ditanyain "gimana hari ini?" dan aku bisa cerita apapun, bener-bener APAPUN soal nano-nanonya hari tersebut. Belum lagi saat seperti malam ini, ada dua kejadian gak enak yang aku rasain dan aku cuma chat bilang "mas, aku ..." Sesegera itu telpon berdering, di layar hp lawasku nama riyan nongol dengan nada khawatir dan empati. Di laen waktu, saat harus menghadapi kegagalan, riyan sempatkan bilang ke aku "makasih sudah berusaha". Kalimat sederhana yang mengalihkan kesedihan pada sebuah kebesaran hati yang memulihkan.


Sahabatan ama pacar sendiri ataupun pacaran ama sahabat sendiri itu sama-sama enak, tapi catatannya adalah keduanya tidak serta-merta terjadi. Dua kepala dan dua latar belakang, artinya ada dua perbedaan yang besar harus dipertemukan. Mutlak butuh waktu. Awal-awal pacaran kami acap berantem karena beda gaya dalam definisi "sahabat yang baik". Bagiku itu berarti "mendengar banyak" dan bagi riyan itu sinonim dengan "memberi (saran) banyak". Lalu mana yang benar? Irisan keduanya, porsi takaran mendengar dan memberi saran yang seimbang, dengan bahasa dan timing yang tepat! Aku bersyukur riyan mengijinkanku memimpin untuk mengintisarikan pergolakan ini sebagai sebuah resolusi dan komitmen bagi kami berdua. Langsung berhasil? Ohhh jelas tidak! Tapi yg penting akhirnya ketekunan dan kasih menghasilkan buah manis. Menjadi saling membutuhkan, itu perasaan yang aman yang membahagiakan.

Saat ini aku menikmati hubungan yang sangat stabil, tanpa disadari melalui masa-masa sulit di awal karena penyesuaian karakter, lalu disusul dengan berbagai masalah keadaan (pekerjaanku ataupun pekerjaannya), itu semua menumbuhkan rasa sepenanggungan kami. Obrolan kami sehari-hari tak ubahnya dua sahabat karib. Dari perkara industry oil and gas, berita politik, postingan lucu 9gag, kisah masa kecil, hingga rahasia keluarga, bisa kami bagi.

Dan sangat nikmat memiliki hubungan dimana pertanyaan "gimana kamu hari ini?" menjadi sama mesranya dengan kalimat "Iloveyou" :)


-diketik sangat cepat dan penuh syukur seusai berpamit tidur-
Saya tahu bahwa kebaikan Tuhan bukan hanya soal memberikan kemudahan tapi juga tentang kekuatan saat hal sulit terjadi..

Tapi yang saya baru tahu adalah hal ini: 

Ternyata Kebaikan Tuhan juga soal bagaimana Dia memampukan kita PULIH dari sesuatu yang sangat berat melukai..

Minim mawas kita tidak sadar bahwa ternyata merupakan berkat besar untuk kita diijinkan kembali melanjutkan hidup ini dengan sebuah cara pandang yang dipulihkan, bahwa hari depan menyimpan banyak sekali keindahan dibandingkan segala luka yang terjadi di hari lalu. Saya bersyukur sebagaimanapun kemelut keluarga saya dulu, hari ini saya boleh berdiri dengan kepercayaan bahwa saya bisa membentuk keluarga yang jauh lebih baik ke depan. Tidak ada skeptisme, hanya ada iman yang terus dirangkai dalam usaha dan doa.





Untuk tetap percaya setelah dikecewakan
Untuk mau mengusahakan yang terbaik di masa depan, tanpa dihantui kegagalan yang lalu
Untuk tetap mengasihi bahkan usai disakiti
Semua ini adalah berkat-tak-tersadari yang dapat saya (dan Anda) nikmati


Kebaikan Tuhan (sekali lagi) bukan hanya soal memberikan kekuataan SAAT hal buruk terjadi tapi juga memberikan pemulihan SETELAH hal itu terlewati..


Sudah fakta lawas bahwa menjadi guru bukanlah hal mudah, tapi harus diakui menjadi guru Pendidikan Kewarganegaraan memiliki tantangan khas tersendiri. Berdiri menjelaskan tentang Negara di hadapan para siswa yang mungkin sudah bosan dengan berbagai kabar buruk tentang Indonesia, samasekali tak mudah. Suatu kali saya membuat sebuah kuis di kelas, lalu di pertanyaan terakhir saya sisipkan satu perintah: "tuliskan tiga hal yang kamu kagumi dari Indonesia." Serentak saya dihujani berbagai protes. Dengan nada mengeluh para siswa kebingungan mencari apa yang baik yang bisa dibanggakan di negeri ini? Kebingungan ini agaknya beralasan, sebab berita terlalu berisik dengan carut marut politik. Kejadian ini membuat saya berpikir:

sungguhkah mereka tidak tahu betapa banyaknya hal cantik dan menarik di Bumi Pertiwi?

Hal ideal selalu terbentur dengan pesimistis pikiran, namun tantangan kadang sinonim dengan peluang. Sejak saat itu saya bertekad memanfaatkan status sebagai tenaga pendidik untuk beraksi, didukung oleh kemajuan teknologi yang sayang jika tak dimanfaatkan. Saat pembahasan sampai pada topik globalisasi, terpikirkan oleh saya sebuah rencana aksi yang sedikit banyak akan membuat mereka paham tentang hal indah dari Indonesia. Tetap berbalut dengan pelajaran PKN, saya mencoba mengintegrasikan kemampuan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi khas globalisasi dengan kecintaan akan negeri.
Proyek ini saya namakan: Promote Indonesia. Bukan nama yang unik apalagi bombastis, tapi ada niat tulus di baliknya. Jangan kira penerimaan siswa akan hal ini berjalan mulus, banyak juga keluhan yang menghampiri meja saya. Bagaimanapun menyerah pada kemalasan atau komentar negatif tak akan memperbaiki keadaan. Saya sepenuhnya sadar bahwa kebanyakan siswa melakukan ini bukan karena sungguh mencintai Indonesia, tidak lain karena tuntutan dan keinginan akan nilai yang memuaskan. Tapi tak apa, setidaknya dengan tugas ini mereka 'terpaksa' mencari informasi tentang surga-surga terpencil dan keunikan kuliner di Indonesia.
Screenshot salah satu tweet siswa - dokumen pribadi

Melalui ini saya harap mereka sejenak beralih fokus dari pemberitaan negatif menuju fokus akan banyak hal yang bisa dibanggakan dari negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Kegiatan ini sangat sederhana pada dasarnya, memberikan kewajiban para siswa memanfaatkan  jejaring sosial untuk membagikan tentang hal positif dari Indonesia. Pilihan jejaring yang saya tawarkan adalah Instagram dan Twitter, mengingat penggunaan tagar lebih efektif dalam penyebarluasan isi pikiran. Aksi kerja sama Guru PKN bersama 76 siswa SMP untuk mempromosikan Indonesia ini berlangsung dua minggu, dengan topik wisata di minggu pertama dan kuliner di minggu kedua.

screenshot karya siswa di instagram - dokumen pribadi

Teknologi komunikasi informasi memang tak kebal dari celah kriminal dan penyalahgunaan, namun di jalur yang tepat, dengan strategi tertata, dan pastinya kesungguhan yang bersih, maka manfaat akan dapat diraih.

Tindakan ini adalah cara saya memanfaatkan 'hegemoni' sebagai guru menggerakan siswa untuk ambil tindakan! Dampaknya adalah para siswa belajar menggunakan jejaring sosial untuk hal yang berguna, membuat mereka mencari tahu tentang negerinya yang begitu indah, serta membagikan opini atau informasi positif tentang Indonesia kepada para penghuni dunia maya lainnya. Aksi kecil lebih baik daripada tidak bertindak samasekali, aksi bersama lebih ampuh daripada aksi seorang diri. Hanya berupa tweet atau share foto di instagram, tak masalah. Itu lebih baik daripada hanya mengkritik dan tidak berbuat apa-apa. Bukan begitu?
Salam dari kelas PKN.
Sudah sore, ini saatnya aku membangunkanmu. Lalu kamu datang dengan nada tak seramah biasanya. "Tidurku ga nyenyak" begitu katamu. Setelah kutanya, terungkaplah bahwa 'dia' yang kita rindukan telah mencuri lelapmu. Kamu berpikir soal strategi kali ini, sebuah logika dalam memilih.

Tahukah kamu?
Ada perasaan sedih padaku, selalu sedih, setiap kali ada hal yang mencuri senyummu. Tapi di balik gusarmu, tersirat banggaku. Sebuah kebanggaan terhadap pria yang serius memikirkan masa depan dan sebuah kebanggaan besar karena bisa menemanimu di masa sekarang.

Dia yang adalah benda penting kelak bagi keluarga, dia yang tidak bisa berpindah tapi mengharuskan kita untuk berpindah (mungkin) menjauh dari Surabaya -kota kecintaan kita berdua.

Hidup ini memang begitu sayang, tidak selalu kenyataan mengangguk setuju pada rencana. Pun Tuhan kadang berkata tidak, alih-alih jahat itu murni karena Dia siapkan yang lebih baik. Iya, hidup kadang seberantakan itu, memporakporandakan kedamaian dimulai dari sebuah tidur siang. Aku di sini bukan untuk merapikannya, aku memastikan bahwa api asamu masih menyala.

Sayang.. Ketahuilah setiap kali kamu datang dengan keluhan, ada secuil hatiku mengasihani diri sendiri. Bukan, samasekali bukan mengeluh karena keberadaanmu. Justru atas fakta bahwa aku tak banyak membantu, saranku juga kadang tak ampuh. Hanya terus berharap hal sederhana semacam surat terbuka ini ada maknanya.


Sediaku hanyalah selalu meminjamkan telinga. Siagaku itu tentang baris doa.

Tak ada hidup nihil masalah, tapi selama kamu mau mencoba maka aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap ada mendukungmu pula menyemangatimu, sayang.

Kalimat-kalimat indah di alkitab bisa kamu baca sendiri untuk menguatkan imanmu, tapi toh aku selalu ingin mencoba mengembalikanmu pada pengharapan yang sempurna. Kata semangatpun kadang tak berdaya, tapi toh tetap aku ucap semata agar kamu ingat bahwa itulah kewajiban kita. Tetap SEMANGAT.

Semangat itu tentang kemampuan tersenyum dan berbisik "Tuhan aku percaya." Semangat itu juga soal berkata "oke memang sulit, tapi aku akan mencoba."

Boleh prihatin, sejenak menggugah ketidakmampuan diri. Tapi lakukan itu sebentar saja ya sayang, lalu kembalikan seri indah muka tampanmu. Jangan bermuram karena masa depan kita tak suram. Jangan ciut bahagia, ini hanya tentang "BELUM" dan bukan kata "TIDAK BISA". Dan kuatlah besarkan jiwa! Karena tanpa disadari kamu punya dua otak, empat mata, empat tangan, dan empat kaki.. kala berjuang. 




Terpenting, kamu punya dua puluh jari tangan untuk melipat tangan memohon belas kasih pada sang Pencipta besar. Mungkin tambahan jari itu akan mempercepat doa kita sampai padaNya. Kalaupun tidak, berarti tambahan imanlah yang sedang darurat kita butuhkan. Apapun itu, semangat selalu PERLU!!

Jadiii... Sudah bisa tersenyumkah kamu petang ini? 

"Orang yang bersemangat DAPAT MENANGGUNG penderitaannya, ..." (Amsal 18:14a)


Kejadian ini berlangsung sekitar setahun lalu di kota Apel, tepatnya di lokasi sebuah gereja. Saya masih belum genap menutup pintu mobil dan beranjak, seorang aktivis gereja menegur dan tanpa banyak jeda berkomentar soal figur saya yang tak ubahnya anak SD. Seakan tersambar petir, ucapan itu cukup menghentak tapi saya pilih untuk abai. Langkah kaki saya berlanjut hingga tiba di pintu gereja. Seorang penyambut jemaat menyodorkan telapak tangannya untuk mengajak saya bersalaman. Celetukan yang tak jauh berbeda kembali saya dengar. Kali ini tentang fisik saya yang menurutnya menjadi semakin kurus. Kalimat itu bahkan ditutup dengan keseriusan ucap bahwa saya terlihat pucat dan tak ubahnya orang sakit. Menyengir aneh, hanya itu yang bisa saya lakukan toh secara objektif berat badan saya justru sedang naik. Beberapa meter kemudian, penyambut jemaat yang lain menghampiri. Mulai waspadalah saya setelah dua kali mendapatkan jackpot celetukan. Tapi ternyata hal yang sepenuhnya berbeda kali itu. Dia dengan jabatan tangan yang mantab berkomentar bahwa penampilan saya makin segar. Hal yang aneh bukan?! Hanya berjarak beberapa meter dengan fisik yang masih sama persis namun dua komentar bertolak belakang yang terlontar. 
Dari kejadian itu saya agaknya paham bahwa perkataan kita sangat dipengaruhi dengan kebiasaan kita menilai sesuatu. Serupawan apapun, seseorang dapat saja menjatuhinya sebuah komentar buruk, karena memang komentar tersebut dititikberatkan pada hal yang kurang baik. Sebaliknya, sesederhana apapun penampilan orang lain, seseorang yang sudah terbiasa berfokus pada ketulusan akan dapat saja menemukan sesuatu yang baik dan layak dipuji. Sekali lagi, ini tentang kebiasaan. Sebuah mata dan lidah yang terus harus dilatih.

Kedua saya hanya bergumam heran, apakah layak komentar senegatif itu mencuat dari mulut seorang penyambut jemaat gereja. Apa yang kita perkatakan seharusnya sinkron dengan jati diri dan posisi kita, itulah poinnya! Terlepas dari apa posisi atau profesi kita, hakikatnya adalah kita merupakan anak terang! Berarti sudah seharusnya kita mencerminkan terang yang lembut itu lewat lidah kecil ini.

Terakhir, dari kejadian yang masih sama saya memperkirakan apa efek dari rangkaian kata-kata. Jika saja saya hanya jemaat tamu, maka seusai mendapatkan komentar senegatif itu maka saya mungkin akan berpikir ulang untuk tetap beribadah disana. Dari satu komentar mungkin sebuah hati sedang dipahitkan atau justru dipulihkan. Pertanyaannya kini adalah bagaimana kita sehari-hari, apakah perkataan kita membuat orang nyaman dan merasa disambut atau justru membuat mereka merasa tertolak?

Sebuah hari minggu pagi yang bagi saya sedikit menjengkelkan namun menyisakan pelajaran berharga.






*Tulisan ini adalah parafrase dari renungan pagi Mr Lukas (English Teacher) di sekolah tempat saya mengajar, sebuah renungan sederhana yang menegur dan sangat memberkati.
... sebuah pesan yang terus berulang ...
Dimulai dari tepat minggu lalu saat saya dan Riyan menghabiskan hari minggu malam dengan bertukar khotbah, pertama kalinya saya tahu tentang "sero-fenisia". Lalu pengakraban kata itu disusul dengan satu artikel renungan dan satu update status path kawan saya tentang ringkasan khotbah di gerejanya. Ibadah minggu tadi, adalah penguat semua kebetulan ini. Kali ini, saya memberanikan diri untuk memparafrase apa yang saya dapatkan dari semua rangkaian kebetulan tentang wanita sero-fenosia dan seorang tuli dan gagap. Dengan segala keterbatasan pengetahuan alkitab dan juga keterampilan menulis, saya harap tidak mengurangi kesempatan untuk berkat indah ini dinikmati.

_______

Dalam Markus 7:24-37, dipaparkan secuplik adegan saat Yesus mengunjungi wilayah tirus. Disana Yesus dihampiri oleh seorang wanita non-Yahudi yang memohon pertolongan untuk anaknya yang sedang kerasukan setan lalu disusul dengan karya kesembuhan bagi seorang tuli dan gagap.

Agaknya adegan senada sudah pernah terjadi di bagian lain injil, tentang Yesus yang berbelas kasih dan melakukan keajaiban. Namun kenapa perikop ini menjadi unik?

Pertama, mari kita ingat bahwa setiap injil memiliki ciri dan sasaran yang berbeda. Matius misalnya memfokuskan pada pembaca orang Yahudi sehingga tidak mengherankan jika kitab itu dimulai dengan menuliskan silsilah Yesus sebagai ototrisasi perihal Yesus sesuai dengan tradisi Yahudi. Sedangkan Markus adalah injil yang ditujukan bagi para orang non-Yahudi atau dalam bahasa Perjanjian Baru sering diwakilkan dengan sebutan "Yunani" (Gentile, dalam bahasa Inggris). Perikop soal sero-fenisia ini HANYA termuat di kitab Markus, sehingga hampir mustahil hal tersebut dilakukan tanpa tujuan. Markus seakan ingin mengantarkan pesan peneguhan bagi orang-orang yang dianggap tidak terpilih oleh Allah.

Kedua, mari tengok konteks geografis di perikop itu.


Yesus dikatakan mengunjungi Tirus secara sengaja. Signifikansinya adalah bahwa Tirus (dan Sidon) bukan wilayah Yahudi. Anggapan bahwa Yesus rasis dan hanya melayani kaum Yahudi sepenuhnya digagalkan di perikop ini. Kesengajaan Yesus mengunjungi wilayah non-Yahudi adalah bukti bahwa pelayanannya tidak berbatas kesamaan suku bangsa. Selain itu, konteks geografis juga disinggung di ayat 31. Kita akan merasa biasa saja jika hanya membaca kalimat itu tanpa meluangkan waktu melihat konteks lebih besar. Wilayah Tirus, Sidon, dan Danau Galilea semacam segitiga siku-siku dimana Tirus adalah titik pertemuan dua garis tegak lurusnya. Untuk menuju Danau Galilea Yesus SAMASEKALI TIDAK PERLU melewati Sidon. Tapi, Dia memilih untuk melalui wilayah itu. Sekali lagi, disitulah penegasan betapa tudingan rasis pada Yesus adalah hal tidak relevan. Fakta besarnya adalah Sidon bukan hanya dijadikan sebagai bagian dari rute perjalanan oleh-Nya, namun juga tempat pelayanan yang terbukti dengan Dia yang berkenan menyembuhkan seorang tuli dan gagap (ayat 34). Yesus merepotkan diriNya sendiri dengan menambah jauh perjalanan untuk berkarya bagi orang-orang non-Yahudi karena Dia tahu ada orang yang sedang membutuhkan.




JamahanNya, bukankah dari situ kita seharusnya tersentuh dengan betapa murahnya Penebus kita?Dengan cara-Nya sendiri Ia tahu bagaimana akan menyalurkan pertolongan bagi kita.

Ketiga, mari kita berpindah ke konteks tradisi. Di perikop itu dikatakan bahwa seorang Wanita sero-fenosia menghampiri Yesus (ayat 26). Terlihat sangat sangat sederhana memang sebelum kita menyadari pemetaan perbedaan besar antara Yesus dan Wanita tsb. Yesus adalah seorang laki-laki Yahudi sedangkan wanita tersebut adalah seorang wanita non-Yahudi. Konteks tradisi saat itu adalah sangat tidak sopan untuk wanita menghampiri pria di kawasan publik, APALAGI jika itu bersebrangan suku bangsa. Apa yang dilakukan wanita itu adalah sikap iman yang besar. Bahkan tanpa kita sadari dari tindakan itu termanifestasi tiga hal besar sekaligus: Iman, Pengharapan, dan kasih. Iman yang meyakini bahwa Yesus MAMPU menolong, pengharapan bahwa Yesus akan MAU menolong, dan kasih kepada anaknya yang sedang menderita.

(ditambahkan 8 Maret) Selain tiga konteks yang ada di atas, ada hal unik lain yang khas di perikop ini. Keempat: konteks kebiasaan. Beralih dari wanita Sero-fenisia menuju ke karya Yesus pada seorang tuli dan gagap (ayat 31-35). Di banyak kisah penyembuhan yang lain Tuhan Yesus terlebih sering menggunakan pernyataan tegas yang membawa mukjizat, namun di peristiwa ini Yesus melakukan setidaknya tiga tindakan aktif untuk suatu karya penyembuhan. Pertama tindakan mengajak orang tuli dan gagap tersebut untuk menjauh dari keramaian sehingga mereka dapat secara personal berinteraksi (ayat 32). Hal ini menjadi berkesan ketika kita menyadari bahwa seseorang yang tuli dan gagap adalah orang yang sangat sulit bersentuhan secara sosial. Bayangkan, tuli dan gagap! Bukan buta dan lumpuh yang membuat mobilitas terganggu namun komunikasi dapat tetap berjalan. Ajakan yesus untuk mereka memisahkan diri dari orang banyak menyuarakan empati personal tak terhingga. Kedua adalah tindakan Yesus yang memasukkan jari dan meraba lidah untuk mengantarkan sebuah kesembuhan. Kenapa tidak hanya lewat kata-kata seperti biasanya? Mungkin dapat menjadi perenungan bahwa terkadang belas kasih tidak boleh hanya berhenti lewat doa dan kalimat simpatik namun tangan dan kaki yang bergerak. Ketiga, Yesus menengadah ke langit (ayat 34), disini diekspresikan sebuah kerendahan hati besar dari kepada Bapa. Jika Dia yang juga Allah penuh kuasa dapat sedemikian merendahkan hati dan mengandalkan Bapa, bagaimana kita manusia yang samasekali bukan maha-kuasa bahkan tidak tahu apa yang terjadi barang sejam ke depan?

Setelah memahami konteks besar bacaan, mari beralih ke hal-hal detail di bacaan tersebut dan mengambil intisari teladan.

Ayat 24 "... Ia tidak mau ada orang yang mengetahui kedatanganNya ..." ditambah ayat 36, tersingkap attitude Yesus: giat dalam diam. Baru beberapa waktu lalu saya hadir dalam sebuah KKR remaja, seorang hamba Tuhan yang agaknya memang populer di Surabaya tak sedikit menyinggung kiprah dan prestasinya dalam pelayanan di sela-sela pelayanan Firman. Walau terlihat rohani untuk menyatakan berapa banyak jiwa yang sudah dilayani, agaknya itu tetap bukanlah hal yang Yesus teladankan. Ketika hendak memulai pelayanan disana, Yesus bahkan berusaha menyembunyikannya. Sungguh miris jika kita anak Tuhan masih sibuk mencari pengakuan dengan menggembar-gemborkan hal baik yang kita lakukan.

Dalam ayat 27-28 termuat kalimat soal anjing dan reremahan roti. Terlihat keras dan sesekali membenarkan soal tudingan rasisme Yesus. Tapi justru di kalimat ini sedang ditunjukkan integritas Yesus yang tetap berbalut kasih ditambah ekspresi iman dari wanita Sero-fenisia tsb. Dari sini kita dapat menegaskan sekali lagi tentang besarnya Kemurahan Allah. Seruan iman seorang non-Yahudi pun Ia balas dengan sebuah sentuhan mukjizat, apalagi seruan anak-anakNya.

Ayat 36, adalah soal kesaksian. Kita tahu bahwa bersaksi adalah bagian lekat dari seorang anak Tuhan. Tapi acapkali kita seakan enggan, karena merasa tidak perlu dan tidak cukup penting. Padahal secara mendasar respon kita sebagai orang yang tahu diri ketika usai menerima kebaikan adalah menceritakan itu. Saya pernah mendengarkan analogi indah ini.


"Kita tertimpa kecelakaan dan sedang membutuhkan dengan sangat donor darah, padahal darah tsb tergolong sulit, lalu seorang datang tanpa dibayar mau memberikan donor darah. Apakah respon kita? Pertama adalah kita akan berterimakasih karena bantuannya kita batal mati. Kedua kita akan berusaha membalas budi, dengan mengirimkan hadiah atau apapun itu. Terakhir secara otomatis kita akan bercerita ke teman kita 'orang itu lho yang sudah selamatkan aku, karena donor darahnya'."

Analogi itu hanyalah perkara darah jasmani yang pada akhirnya tidak berguna lagi saat kita mati karena usia nantinya. Tapi anehnya kita lebih bisa tahu diri ke yang memberi hal sementara dibandingkan ke Yang memberi kekekalan. Kita manusia cenderung lupa betapa banyak dan keren yang Tuhan sudah anugerahkan, sehingga akhirnya tidak merasa berkewajiban untuk bersaksi. Jadi sekarang, masih malas bersaksi?

Terakhir dari ayat 37, sebuah penutup yang SANGAT INDAH. Kita dapat tahu bahwa Allah membuat segala sesuatunya BAIK. Mungkin terlihat rumit dan aneh seperti pilihanNya menentukan rute menuju danau Galilea, namun itulah kedaulatanNya! Walau kadang terkesan tidak rasional, taruhlah iman! Bahwa Dia sungguh jago mentransformasi yang usang menjadi baru, yang lunglai menjadi kokoh, dan yang suram menjadi cerah! Amin. 



Sumber:
1. khotbah GPIB MORIA Jaksel, 31 Agutus 2015.
2. Khotbah GKI Residen Sudirman Surabaya 06 September 2015.
3. Renungan harian Wasiat 4 September 2015
4. Khotbah HKBP Denpasar 06 September 2015
5. Renungan Pagi Guru 8 Maret 2016
Jika ditarik pola tentang apa yang terjadi seminggu ini, awalnya aku ingin memberi judul "seminggu berwajah palsu", namun kemudian aku tahu ada kalimat lain yang lebih tepat.
Menjadi wali kelas tahun ini tidaklah mudah, anak-anak yang dipercayakan kepadaku tidak seperti dua tahun lalu. Ada terlalu banyak hal yang menjebakku pada keinginan untuk membandingkan. Penatku juga disponsori oleh pikiran betapa sulitnya aku kembali stabil secara finansial setelah menjadi pengangguran setahun penuh. Sesekali sisi pemikirku mengalahkan segala kecuekan seorang sanguin. Di tengah itu semua, lelakiku di seberang sana ada di kondisi yang juga tidak terlalu baik. Tekanan untuknya memulai KPR semakin terasa, sayangnya keinginan kuat tak cukup. Berbagai faktor pertimbangan tak jarang menjadi aral yang merintangi deal pembelian. Baik soal lokasi, luas tanah, ataupun harga. Kala lelakiku berkeluh kesah, dengan otomatis aku lupakan bebanku sendiri. Sedari awal aku tahu bahwa tugas wanita adalah meringankan beban pria, itulah mengapa wanita disebut dengan istilah "penolong".

Di satu malam aku ajak dia memainkan game sambung kalimat, di malam lain dengan penuh nada manja aku menggombalinya, dan melakukan berbagai strategi hanya untuk mengembalikan sukacitanya. Dasar orang melankolis, bagi Riyan terlalu sulit untuk sekedar mengabaikan apalagi dengan cepat mengubah raut mood nya menjadi kembali ceria. Dia tertawa, tapi aku tahu persis itu hanyalah tawa yang ditujukan agar aku merasa dihargai atas setiap usaha menghibur. Di saat penat juga kepalaku, aku harus menghapus muram kekasihku. Tak hanya sehari, beberapa kali hal senada terjadi dalam seminggu. Di tengah kesal lahir aku menghibur diri dengan menulis ini :

There are some moments in life we should ignore our own burden. It's not fake, simply pretending that we can be stronger than we ever thought, and the fact is when we trying to lift someone little higher or just cheering up someone's day, we are not pretending anymore.
We've already been strong. 
Our hidden strength somehow appears just in moment when we try to be selfless




Tak selang lama, hari jumat ini tepatnya. Berbalut pakaian khas biru ala officer Girls Brigade dengan iPhone jadul di tanganku, aku tergetak dengan suara tanda masuknya sebuah surat elektronik di kotak masukku. Ternyata satu lagi penundaan konversi mimpi harus aku hadapi. Di ruang guru aku menahan tangis, tapi aku memilih untuk meletakkan sejenak sedihku di tumpukan koreksian yang menunggu. Masuk ke kelas, hal yang tak jauh berbeda terjadi, dedikasi atau sekedar janji profesional tetap memampukanku membagi ilmu dengan senyum. Pengingkaran demi pengingkaran kadang membawa pada pedih yang lebih dalam. Merasa begitu lemah, aku menghalalkan kejujuran untuk membagi beban dengan seorang kawan. Aku berniat setelah makan siang akan mengijinkan diriku jatuh dalam pengakuan semata murni untuk meringankan tekanan, ternyata jalan cerita sepenuhnya berbeda. Di kantin saat pelayan catering sibuk meladeni barisan siswa, seorang ibu penjaga koperasi meminta tolong aku menenangkan bocah yang terdiam dalam isak. Kejadian itu mengubah segalanya.

Anak itu gemuk, seorang lelaki yang biasanya membuat onar. Siang itu dia di hadapan piring makan siangnya duduk menghapus tetes air mata. Aku masih ingat jelas bulir air jernih keluar dari sudut luar matanya. Hatiku hanyut. Aku yang hari itu menahan tangis seharian, duduk lemas dan kalah. Aku pakai jariku menghapus air matanya. Dengan nada sabar dan lembut aku coba tanyakan alasan dari tangis itu. Siang itu, aku bergumam "masih ada waktu lain untuk mimpiku -yang tertunda karena email tadi pagi- digenapi, tapi air mata seorang anak kecil tidak akan bisa menanti." Ternyata siang itu bukanlah kekalahan yang meletakkanku pada tindakan tersebut, justru merupakan sebuah kemenangan. Iya, aku menang mengalahkan ego untuk hanya memikirkan diri sendiri.

Hari itu aku tahu bahwa yang aku tulis semalam sepenuhnya benar. Kekuatan tersembunyi akan keluar saat kita berusaha untuk tidak egois dengan masalah kita sendiri. "Yang kuat menopang yang lemah" begitu nasihat berharga yang kita acap dengar. Kadang kita tidak layak dikatakan kuat, kadang kita semata mencoba menjadi "tidak lebih lemah" untuk layak menopang beban orang lain. Kita semua punya masalah, jika berlandaskan itu maka semua kita akan jadi egois dan enggan merepotkan diri untuk memikirkan beban orang lain. Padahal justu saat kita berusaha menguatkan orang lain, kitapun dikuatkan. Sebuah pedang bermata dua, bukan?!

Saat aku menahan tangis dan harus menghapus air mata orang lain, disitu aku sudah tidak lagi sedang berpura-pura, saat itu aku sedang menjadi versi super dari seorang Claudya. Walaupun mungkin tidak ada seorangpun menganggap penting apa yang aku lakukan siang itu di kantin, bahkan ketika Riyan dan bocah itu juga tidak mawas tentang upayaku menghiburnya, itu bukanlah masalah besar bagiku. Hanya sedikit berharap penduduk surga menengokku sejenak, dan memperhitungkan itu sebagai kebaikan. Sebuah kebaikan yang diawali dengan kepalsuan dan dibungkus dengan kekuatan, sebuah kebaikan yang membuatku menang.

Dan akhirnya aku tahu judul yang tepat untuk minggu ini adalah: "seminggu menikmati kekuatan tersembunyi."

Di tengah sore hari Jumat usai meyeruput segelas kopi susu instan favorit, telingaku nakal menguping percakapan para kawan guru lain. Topiknya tentang beberapa siswa yang populer belakangan akibat segala ulah mereka. Hampir semua guru sudah dibuat geleng-geleng oleh mereka yang (untungnya) terpencar di berbagai kelas. Mereka yang masih gres melepas seragam putih-merahnya membawa berbagai kejutan.

Menghadapi berbagai karakter 'unik' itu memang menciutkan nyaliku. Aku sesekali takut. Di saat yang lain kadang aku terjebak untuk melabeli beberapa di antara mereka dengan sebutan "aneh" atau kadang menghakimi tanpa suara dengan julukan "nakal". Dan aku juga sesekali angkuh.

Ada serpihan enggan saat melihat tabel jadwalku saatnya mengunjungi mereka. Raga yang hadir tak lebih dari sekedar wujud tanggung jawab. Iya, memang kasih dan secuil dedikasi tidak pernah absen walau sesekali itu semua diselubungi pekat rasa takut. 

Masih dengan segelas kopi susu yang tersisa separuhnya, tanganku yang tak berhias cat kuku mulai membuka lembar demi lembar catatan siswa tentang satu topik renungan.
Senyap menyelinap, aku abaikan es kopi susu nikmatku.

Aku merasa bersalah, seketika.
Hidup mereka tak serenyah tawa yang dihadirkan di lorong-lorong sekolah kala 40 menit durasi istirahat tiba. Dengan membiarkan punggung jatuh di sandaran kursi kerjaku aku terkesiak tentang fakta bahwa banyak kisah tak mulus di celah kebisingan yang mereka ciptakan. Orang tua yang kurang perhatian, mama papa yang tak ubahnya dua peserta kompetisi debat, hingga pengabaian besar yang harus dirasakan bertahun-tahun.

Deretan nama yang acap memancing onar ternyata tak instan menjadi demikian.
Selalu ada sebab. Semua ada awalnya.
Terbingkai kisah sendu atau peran antagonis sebagai sponsor segala karakter kurang baik itu.
Tidak ada seorangpun yang dikodratkan menjadi pribadi yang buruk. Tak seorangpun juga yang sengaja diciptakan 'nakal' oleh Sang Khalik. Segala ke-khas-an negatif itu adalah sebuah produk berbagai faktor kompleks. Keluarga, kadang adalah penyebab utamanya. Di lembar yang sama mereka mengaku, tak mudah untuk mengucap syukur atas kondisi keluarganya.

There isn't anyone you couldn't love once you've heard their story -Aister

Membaca ataupun mendengar secuil penjelasan tu sudah berhasil meluluhkan hati, ketakutan dan kesombongan pun turut larut. Dari heran penuh gemas bergeser menjadi sendu kasihan. Mereka yang terlihat aneh, mereka yang gemar membuat onar, dan mereka yang hobi menabung daftar panjang pelanggaran justru adalah pribadi yang paling membutuhkan kelembutan dan kasih bukan justru omelan semata. Kadang yang mereka butuh adalah telinga yang siaga mendengar dan didikan yang dibahasakan dengan kepedulian.




Kadang aku (dan mungkin beberapa guru lain) hanya terlalu sombong, merasa lebih dewasa, lebih normal, dan lebih tahu. Miris memang saat predikat 'guru' membuat kami menjadi hakim atas sesama kami dan bukan justru menjadi perban yang membalut luka.

Bagaimanapun benar memang bahwa baik antara rasa takut dan sombong hanya cocok bersanding dengan sesuatu yang tak utuh kita pahami. Setelah menyimak sedikiiit saja rangkai kalimat jujur siswa, seketika gelas kaca berisi air keruh kopi susu itu menjadi cermin untukku, seraya menegur "lihatlah lebih dekat dan dengarlah lebih jernih, lalu kau akan bisa mengasihi dengan lebih tulus."