Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Di sudut ruangan, saya duduk bersama dua murid perempuan. Tiba-tiba, salah satu diantara mereka mengangkat kaos menunjukkan area perut. Saya kaget. Walau sama-sama perempuan, tapi tindakan tanpa komando itu membuat saya sempat terperanjak.

turn your scars into stars
Source: 24.media.tumblr.com


miss aku lho uda ngerasain operasi

Seraya dia menunjukkan sebuah bekas jahitan yang sudah mengering. Bekas sayatan itu tak kecil, 13 cm panjangnya (sesuai konfirmasi orang tua yang bersangkutan) sehingga tak perlu menjelikan mata, saya sudah bisa menangkap operasi 'serius' telah berlangsung.
Remaja berambut semi-keriting itu lantas melanjutkan penjelasan. Ternyata sejak usia dua tahun, salah satu ginjalnya harus diangkat. Dengan beberapa alasan medis, saya menyimpulkan fakta bahwa sekitar 12 tahun sudah dia jalani hari demi hari hanya dengan satu ginjal.

dokumen pribadi
Keterangan: Salah satu ginjal tergencet kista yang cukup besar. William's tumor, sebutan medisnya.


Sampai disitu, perasaan saya bercampur. Lebih tepatnya kebingungan memilih respon yang tepat dan pantas.

Ada banyak sekali sebenarnya ketidakberuntungan yang dialami setiap insan. Murid saya hanyalah satu diantara jutaan kasus lain. Ketika sesuatu yang bahkan dia tidak bisa kendalikan, harus singgah, dan memberikan sebuah dampak yang seringnya tak nikmat. Entah perkara kondisi fisik, finansial, relasi yang retak, dan berbagai hal lain. Ketidaksempurnaan hidup itulah yang agaknya menjadikan konsep “harus kuat” menjadi begitu populer.

keep holding on

Dengan gentar saya mengajukan pertanyaan “Lalu… gimana kondisimu sekarang? dan pernah ngga kamu minder ama bekas operasi itu?”

“Semua normal miss” katanya lugas. Ternyata walau hanya dengan satu ginjal, belasan tahun dia dapat jalani dengan kondisi fisik prima, atau setidaknya tidak jauh berbeda dengan orang-orang lain. Setahun sekali memang masih harus menjalani check-up tapi selebihnya, gadis yang tahun depan akan mengenakan seragam putih abu-abu ini, menjalani berbagai aktifitas tanpa pantangan apapun.

“tapi soal minder.. ya pernah miss” begitu responnya menimpali tanda tanya saya yang kedua. “Dulu SD, pas ganti baju olahraga kan bareng-bareng, sering ditanyain temen itu luka apa”

Saya kira jawabannya hanya sampai disitu, tapi lanjutan pernyataannya membuat hati saya bergetar:

“tapi lho miss Tuhan uda baik banget sama aku, operasinya pas kecil jadi aku ga ngerasain apa-apa dan aku sehat-sehat aja sampai sekarang, jadi aku kebangetan miss kalau ga bersyukur”


Exactly! That kind of attitude is just adorable.

Sejatinya, kuat itu bukan menjadi senantiasa bahagia di tengah masalah,
Bukan pula soal berpikir positif yang berlebihan sehingga melakukan penyangkalan bahwa memang ada sesuatu-tak-enak terjadi. Kuat berbicara jauh lebih indah dari itu.

Kita jelas tahu tokoh Nick Vujicic dan lusinan orang lain dengan keterbatasan fisik namun menggoreskan karya luar biasa. Mereka semua orang yang begitu kuat menjalani hidup. Kesamaan murid saya dan mereka adalah sebuah attitude yang tepat ketika nasib seakan tak berpihak.

in this imperfect life, we can always choose our attitude about it

Pertama,
mereka menolak skenario victim playing yang berpotensi membuat mereka dapat menerima limpahan rasa kasihan. Mungkin nasib memberikan ketidakberuntungan tertentu pada kita, tapi kita selalu bisa memilih kita mau menjadi tokoh korban yang menyalahkan nasib dan mengemis rasa iba, atau menjadi seorang pemenang yang menginspirasi.

Kedua,
mereka fokus pada karunia lain yang Pencipta berikan. Alih-alih klise berpikir positif menyangkali kenyataan, mereka justru menerima utuh ketidakberuntungan itu, tapi tidak membiarkan diri terjebak di sana. Mereka tidak fokus pada apa yang tidak mereka miliki tapi fokus kepada segala berkat lain yang Pencipta sediakan.

Tiba-tiba saya teringat tentang sosok Morrie, yang ditulis dengan apik oleh Mitch Albom.
“Morrie tahu ia jadi korban nasib yang tak ada alasannya, tapi Morrie tak memilih menjadi marah. Dia memberitahu kita, masih ada orang yang berbuat baik dalam kekalahannya.”
Kalimat ini adalah refleksi yang merangkum attitude yang tepat dalam menghadapi sesuatu. 

Tidak marah dan tetap berbuat baik, bukankah butuh kekuatan besar untuk melakukannya?

Mungkin kita tidak terbatas secara fisik, tapi saya yakin di segala apa yang kita miliki, selalu ada ketidaksempurnaan. Levelnya berbeda tergantung kebijakan Pencipta, tapi yang jelas kita harus menjadi pribadi yang kuat.

Kuat untuk bersyukur, kuat untuk menjalani sesuatu dengan legowo, dan kuat untuk mampu menginsafi sesuatu yang buruk sebagai skenario terbaik.

Sudah kuatkah kita hari ini?



“Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis” -Markus 7:31

Ayat ini bukanlah sebuah baris kata yang meaningful jika hanya ditengok sekilas. Bukan sebuah penguatan iman, kalimat janji, ataupun sebuah penghiburan. Ini hanyalah catatan rute pelayanan Yesus. Sekedar rute, jika kita sekedar membaca tanpa menyediakan waktu melihat konteks sesungguhnya.



Mari kita mulai dengan melihat peta. Dari Tirus menuju danau Galilea dengan melalui Sidon. Tidakkah kita pikir ini adalah sebuah rute yang sangat tidak efektif? Apakah Yesus sang Pencipta semesta harus kembali belajar membaca peta?

Sekali-kalipun tidak.

Sidon seakan sebuah persinggahan sebelum menuju ke Danau Galilea.
Apa artinya singgah? Singgah bermakna kita harus berhenti sejenak. Sebuah persinggahan tidak mengubah tujuan utama, namun menjadi titik dan waktu pemberhentian sebelum menuju tujuan akhir itu sendiri.
Hampir sama dengan hidup ini. Masing-masing kita agaknya pernah singgah. Sama seperti Tuhan melakukannya ribuan tahun lalu, Diapun mengijinkan hal itu di skenario-Nya bagi kita. Jika direfleksikan ke diri saya sendiri, saya mengintisarikan bahwa setidaknya ada tiga alasan kenapa Tuhan menghadirkan sebuah persinggahan.


  1. Membabat Kesombongan
Dua tahun lalu saya menjalani masa satu tahun penuh sebagai pengangguran setelah 16 bulan menjadi tenaga pengajar. Eh ndelalah saya kembali menjadi guru. Sebuah kesia-siaan bukan?

Satu tahun itu adalah sebuah masa singgah bagi saya. Masa singgah yang melelahkan, sejujurnya. Setelah saya memurnikan hati dan melihat masa satu tahun itu dengan jernih, saya mengakui bahwa keputusan saya untuk resign awalnya disponsori kesombongan. Dua hal yang saya sombongkan: bahwa mendapatkan pekerjaan adalah hal mudah dan bahwa saya bisa memiliki pekerjaan yang jauh lebih keren dibandingkan hanya menjadi seorang guru.

Hari ini saya dapat melihat secara nyata bahwa satu tahun sebagai jobless tidak sia-sia samasekali. Tidak enak, tapi bermakna. Di masa itu segala kesombongan saya dibabat habis. Dengan segala kedaulatanNya -yang selalu saya kagumi- saya mendapati ada mindset yang sedang diporak-porandakan. Dari anggapan bahwa menjadi guru adalah hal hina hingga soal remehnya mendapatkan pekerjaan.

Sekali lagi saya katakan, kesombongan saya sedang dibabat habis.

Ketika kita berhenti sejenak, kita punya waktu untuk menilik ulang cara pandang kita. Memang saya akhirnya kembali menjadi guru di tempat yang sama persis, tapi saya kembali dengan sebuah pola pikir yang tak lagi sama.



2.  Melatih Kegigihan

Melepas masa SMA, pergumulan penat yang harus saya (dan ribuan orang lain) hadapi adalah masuk Universitas. Saat itu saya dihadapkan kegagalan untuk masuk jalur prestasi di Unair. Jurusan HI yang saya impikan tidak dengan mulus diraih. Kegagalan itu membuat saya singgah ke UM UGM, Simak UI, hingga PMDK umum Unair. Semua ditolak. Tanpa bimbel, saya terus belajar hingga akhirnya berhasil masuk lewat SNMPTN.

Uniknya, baik PMDK prestasi dan SNMPTN keduanya membebankan uang kuliah yang tidak berbeda barang sepeserpun. Apa intinya? Toh sama saja sebenarnya, HI Unair. Kenapa Tuhan tidak membuat saya langsung berhasil di awal? Akan jauh lebih praktis, bukan?

Sayangnya, Pencipta kita mengetahui persis arti penting sebuah proses. Dia menciptakan semesta tidak serta-merta dengan hentakan jari, bahkan walaupun Dia bisa. Dia menggunakan 7 hari, tak lain menekankan bahwa menjadi praktis bukanlah sebuah tujuan. Tetap masuk HI unair, namun dengan sebuah latihan kegigihan.

Persinggahan sekitar tiga bulan ini juga mengajarkan bahwa impian tak pernah gratis didapatkan.





3. Menguji Refleks Iman

Kadang sebuah persinggahan dapat berumur setahun, beberapa bulan, atau bahkan beberapa jam saja! Begitu pula yang saya alami bersama rekan terkasih saya. Kadang Tuhan memang humoris, ketika Dia membuat kami kaget bahkan deg-degan penuh kecemasan.

Waktu itu, ketika Riyan hendak memulai KPR, kami bergumul untuk jangka waktu KPR maksimal 15 tahun, untung-untung jika diijinkan kurang dari itu. Malam itu kami tutup dengan doa, dan keesokannya nego dimulai.

Saat itu hari Jumat, saya ingat benar, tiba-tiba HP saya berdering. Riyan di seberang sana dengan nada getir menceritakan apa yang terjadi. Pihak bank menolak pengajuan 15 tahun dan menjadikannya 20 tahun. Saya begitu kaget dan berbalut kecewa, tapi siang itu saya hanya mengajak Riyan berdoa. Kami belajar pasrah sambil mengajukan banding. Kami masih mantab dengan angka 10-15 tahun, yang berarti jika Bank masih kekeuh maka kami akan melepas rumah itu.

Konon banding dengan Bank akan memakan proses 3-7 hari. Ajaibnya saat itu, hanya beberapa jam berselang, pihak bank menyetujui di angka 12 tahun. Saat itu kami hanya tertawa haru bercampur geli. “Tuhan sedang bercanda ama kita,” begitu celetuk kami berdua.

Walau beberapa jam saja, bagi kami itupun sebuah persinggahan. Durasi sekitar 180 menit itu menguji refleks iman kami, apakah menggerutu atau penuh ketakutan atau justru aktif dalam kepasrahan iman.



Walau tiga persinggahan yang saya bagi memiliki alasan dan durasi yang berbeda, ketiganya menuntut satu hal yang sama: sikap yang tepat.

Ketika Tuhan seakan sedang mengajak kita berputar, ketika Dia mengijinkan perjalanan yang seakan tak efektif terjadi, bagaimana sikap kita? Apakah kita mau menginsafi sebuah proses atau justru berbantah? Apakah kita dengan lapang dada berkata “terjadilah seturut kehendakMu” atau justru ngotot dengan rencana diri sendiri.

“Sidon” setiap orang berbeda, ada soal putus cinta, penyakit, kegagalan, dan banyak hal lain. Tapi lagi-lagi kesamaannya adalah pasti ada sesuatu yang Tuhan ingin kita pelajari.

Ayat 37 di perikop ini menutup dengan sangat manis, bahwa rute tak efektif dan persinggahan yang kadang melelahkan itu selalu bersumber satu janji sentral: Dia menjadikan segala-galanya baik!


Kita tidak bisa mengatur persinggahan kita, tapi kita selalu bisa menentukan bagaimana sikap saat singgah. 



*Perikop yang saya angkat ini adalah sebuah ayat personal dalam perjalanan iman saya. Dalam kurun waktu delapan hari, saya mendengarkan dan membaca pendalaman soal perikop ini di banyak sisi yang berbeda. Dimulai dari sharing khotbah GPIB lewat Riyan, renungan pagi guru dari khotbah Gereja Katolik, notes facebook seorang kawan dari HKBP Denpasar, renungan harian penuntun saat teduh, hingga ditutup saat saya mendengarkan sendiri di GKI Ressud. Bagi saya, diperlukan lebih dari sekedar kebetulan untuk membuat pengulangan intens semacam ini.


Tuhan tidak pernah meminta kita untuk berhasil ataupun gagal, Dia hanya meminta kita untuk terus MENCOBA.
--

PORTOFOLIO KEBERHASILAN
  1. Menang kompetisi fotografi Perkantas
  2. Lolos audisi buku antologi travel-love
  3. Pemenang lomba menulis travelling inspiratif kompas 
  4. Nominasi Guru Blogger Inspiratif oleh Kemendikbud
  5. Pemenang Lomba "Cerita Indonesiaku" dari Telkomsel
  6. Pemenang writing class GoGirl (Surabaya)
  7. Peserta Ignition Gerakan Nasional 1000 Start-up Indonesia (sebagai Hustler)
  8. Pembina Kelas Literatur SMP Gloria 2

Sebagai Kontributor Lepas
  1. Headline dan/atau Artikel Pilihan di kompasiana (dari total 30 artikel. Kunjungi Profile)
  2. Tulisan publish di Jakarta Post Online (Status: Online, but not present)
  3. Tulisan publish di Magdele.co (Saya Cina dan Ingin Jadi PNS. Ada yang Salah?)
  4. Tulisan publish di Hipwee (7 Alasan Wanita Berprofesi Guru Layak dijadikan Istri)
  5. Tulisan Publish di PemudaMaritim.com (Inspirasi dari Wanita Pesisir)
  6. Tulisan Publish di Biro Pemuda Remaja PGI (Setapak Cerita Awal sebagai Pandu Sidang)
  7. Tulisan Publish di Warungsatekamu.org
    1. Sebuah Revisi Doa
    2. Taat Pada Panggilan
    3. Pelayanan kecil yang Berarti
    4. Perjalanan yang Membuatku Cinta Indonesia
  8. Tulisan Publish di Mojok.com (Surga Online)
  9. Tulisan Publish di Qureta.com (Ulasan Film Banda)
  10. Tulisan Publish di IDNtimes.com
    1. Definisi Sukses dari Tukang Sapu
    2. Jangan Lupa Bahagia Hari Ini
  11. Tulisan Publish di Sisternet (3 kualitas Teman)
  12. Tulisan Publish di Indonesiana Tempo (Anak Tukang Sapu dan Investasi Bodong)
  13. Tulisan Publish di LenteraHidup.com (Tiga Pelajaran Saat Tuhan Mengajak Singgah)

Tulisan di Zetta Media yang sayangnya sejak pertengahan 2018 sudah tidak dapat diakses
  1. Tulisan publish di RibutRukun.com 
    1. 4 Hikmah Masa Lalu Suram
    2. Sarjana HI kok jadi Guru
    3. Hidup bukan soal Kompetisi
    4. Membentuk Generasi Tangguh
    5. 5 hoax Pokemon
    6. Nasionalisme anak Muda
    7. Pernikahan Impian dan Arti Penting Mimpi
    8. Relasi Ribut yang Dapat Kembali Rukun
    9. Jatuh Cinta Butuh Usaha
  2. Tulisan Publish di Trivia.id (Pemuda dan Pahlawan)  
  3. Tulisan Publish di Rula.co.id (3 Poin citra diri sehat
  4. Tulisan Publish di Kamantara.id  
    1. Pilihan: Iman atau Ketakutan
    2. Bekerja Setulus Bapak Penjaga Parkir
    3. Mengapa Perlu Sekolah?
  5. Tulisan Publish di Wewerehere.id 
    1. Pulau Menjangan dan Perjalanan Menaklukkan Rasa Takut
    2. Gunung Penanggungan dan Pendakian Perdana
    3. Perbatasan Thailand-Kamboja dan Berbagai Ketidakberuntungan
Menulis Rutin dan Menjadi Content Strategist IGNITEGKI.COM
  1. Tulisan Publish di Ignitegki.com (total 22 tulisan)
    1. Menghadapi Ketidakpuasan Hidup
    2. Tiga Sumber Krisis Kepercayaan Diri
    3. Puasa Sosial Media
    4. Cameo Project dan Idealisme Mereka dalam Berkarya
    5. IGNITE yang masuk dalam hidupku
    6. Setidaknya, Jangan Memperburuk Hari Orang Lain
    7. Terpaan #Lifegoal di Tengah Hidup yang Gini-gini aja
    8. Menemukan Tuhan dari Perkara Sederhana
Diliput beberapa media daring
Menjadi Pembicara / Pengisi Workshop Menulis
  1. "Spread The Good News" GKI Priangan - Februari 2018
  2. Mentoring Jobhun - April 2018
  3. "Storytelling sebagai bagian Gereja di Era Digital" Kampus Marturia Yogyakarta - September 2018
  4. "Writing Ministry" Ibadah raya GKI se-Jakarta - Oktober 2018
  5. "Digital Ministry" GKI Gejayan Yogyakarta - Desember 2018

CV KEGAGALAN

  1. Travel-love gagal terbit
  2. Gagal menang lomba menulis dari NatGeo
  3. Gagal menang lomba menulis dari BNI
  4. Gagal menang lomba menulis dari XL dan RBI
  5. Gagal menang lomba menulis Trivia #menurutloh
  6. Gagal menang lomba menulis Potret Indonesia dari GPR
  7. Gagal Publish tulisan di Jawapos
  8. Gagal Publish tulisan di Reader's Digest
  9. Gagal Publish tulisan di Harian Kompas
  10. Ditolak dua Penerbit
  11. Gagal menang kompetisi nasionalisme simpati Loop
  12. Gagal lomba nulis wisata Thailand
  13. Gagal beasiswa Tempo
  14. Gagal menang lomba cerita Liburan Kemenpar



Tidak ada wanita yang tidak suka dibilang cantik. Satu yang berbeda adalah tidak semua orang akan menginvestasikan waktu dan uangnya untuk hal itu. Saya sendiri ingin cantik untuk kekasih saya dan saya butuh merasa cantik untuk diri saya sendiri. Repot bukan, kita tidak berminat dengan produk kecantikan tapi menolak apa adanya diri. *fiuhh

Di penghujung melepas usia 23 tahun, saya mengalami sindrom krisis kepercayaan diri. Cukup parah, agaknya. Keminderan satu per satu tiba, dari soal gigi berantakan, kulit wajah dengan bercak hitam, rambut mengembang, hingga selera fashion yang engga banget. Benar-benar gejolak aneh yang semestinya hadir ketika saya masih usia belasan tahun.

Suatu siang saya menangis sejadi-jadinya dan membatalkan kencan bersama Riyan. Entah kenapa saya merasa tidak cukup modis dan benar-benar old-fashion. Saya enggan meninggalkan rumah. Riyan tidak marah, pun tidak menenggalamkan saya dengan berbagai petuah apalagi penghakiman. Justru, segelas es krim mcFlurry dia tawarkan, dan itu menjadi solusi paling teduh. Sembari saya menghabiskan es krim lembut dengan remahan oreo di atasnya, dia setia mencari tahu kesusahan hati kekasihnya ini.

Hipotesis kala itu adalah keminderan akibat komparasi terhadap pesona menawan para kawan wanita seumuran saya. Mereka piawai berdandan dan memadumadan pakaian, sedangkan saya? sudahlah *pasrah.

Di tengah obrolan, saya melemparkan sebuah guyonan dan Riyan tertawa dengan lepasnya. Terbahak-bahak seakan tak ada beban di dunia. Dia kemudian menarik nafas, dan dengan begitu tulus berkata "udah.. kamu kayak gini aja. Ga usah susah payah mikirin penampilan. Kamu menggila kayak gini aja aku uda bahagia banget."

Merasa berhasil menghadirkan kebahagiaan, kadang menjadi kebutuhan hakiki. Menjadi cantik atau tidak cantik seketika tak lagi terlalu penting.

Akhirnya yang tersisa dan mungkin yang paling penting adalah soal prasyarat apa dan kondisi bagaimana kita merasa menarik, dan orang-orang seperti apa yang membuat kita merasa selalu cukup cantik.

Di momen sebelumnya, ketika batal memasang kawat gigi, saya meminta maaf ke Riyan. Tiba-tiba perasaan gagal menjadi sosok kekasih yang menawan, menghantui pikiran.

"Apa aku pernah mengeluh soal penampilanmu?"

Hanya pertanyaan itu yang dia lemparkan. Tanda tanya itu memancing saya berpikir, kenapa adiss berubah? Kenapa kecuekan saya soal penampilan sebelum pacaran justru hilang? Kenapa saya berpikir terlalu keras untuk menjadi cantik? Toh Riyan tidak sekali-kalipun menuntut saya menjadi modis, toh Riyan tak pernah mengeluh. Memang mungkin muasal semua ini adalah komparasi lewat sosial media, ditambah citra diri yang sedang tidak sehat.

Ketika saya tahu, bahwa di tengah ketidaksempurnaan ini saya dapat membuat orang lain bahagia, saya sepenuhnya dapat menerima diri dengan seutuhnya.

Penghujung problematika confidence crisis ini disimpulkan dengan indah saat saya bercakap dengan sahabat terbaik saya. Sebuah konklusi yang membuat saya mengucapkan selamat datang pada usia 24 tahun dengan lega dan nyaman.

Adiss: Ce.. ayu ya si ***** sekarang
Cece: iya padahal dulu tomboy
Adiss: kadang adiss ngerasa penampilan e adiss ini engga banget. Pas arek sak umur’e adiss wes pake baju-baju cantik, adiss sek kaos dan jeans doang.
Cece: hahaha yawes biarin. Tapi kamu wis lebih feminim. Belajar dandan gitu
Adiss: Iyo. Tapi tetep ngerasa cuma butiran debu ce.
Cece: halah lapo. Kamu itu kan ya menang ndek petualangan. Wes pigi mana-mana. Punya pengalaman juga. Ga semua isa ngerasain. Walaupun item tapi punya kebanggaan. Ben simple tapi wes ngeraih banyak hal.
Adiss: hmmm tapi orang seng liat adiss ya masak ngerti adiss wes ngelakukno itu semua. Toh juga ga keren-keren amet walaupun adiss enjoy.
cece: ya biarin mereka ga ngerti. Biarin ga keren. Yang penting kamu happy sama pilihanmu.

EXACTLY!! Dari obrolan itu, setidaknya saya belajar dua hal utama.

Pertama, Prinsip "bahagia dengan pilihanmu" adalah rona kecantikan berharga yang tidak bisa disembunyikan. Rona itulah yang menjadi pesona dan mengembalikan citra diri yang sehat. Rona itu juga membuat kita merasa aman dan nyaman menjadi diri sendiri. Bahkan, semakin saya sadar bahwa penghayatan akan prinsip tersebut membuat kita jauh dari rasa iri. Sebagaimana kita sudah bahagia dengan pilihan kita sendiri, sebagaimana kita sudah mendefinisikan arti bahagia kita sendiri, kitapun akan memberikan ruang orang lain menjadi happy dengan pilihan mereka sendiri. Entah melalui travelling, bersolek, memasak, ataupun mengambil pendidikan tinggi.

Kedua, merasa cantik dan menjadi cantik ternyata lagi-lagi dasarnya tentang pilihan. Memilih untuk menerima diri sendiri dengan bahagia dan memilih orang-orang seperti apa yang kita ijinkan hadir di hidup kita dan membawa pengaruh.

Saya hanya cukup beruntung telah memilih Riyan dan cece saya sebagai influencer di hidup ini. Andai saja saya memilih Awkarin, ah entahlah apa jadinya diri ini. Sekian.

imperfection is beautiful




Suatu hari sekumpulan orang melakukan pertemuan akbar membahas nasib lanjutan seorang terdakwa kasus.

Ada dilema di benak jemaat sidang kala itu: melepaskan dengan pengampunan dan sekedar melakukan pembinaan atau tetap memenjarakan yang pastinya merusak masa depan sang terdakwa.

Lalu saya diminta bersuara. Dengan lantang saya berkata: "Tuhan itu adil dan kasih. Selalu ada pengampunan, namun bukan justru meniadakan konsekuensi."




Dengan logat mantab dan penuh pemahaman, saya memenangkan hati hampir seisi ruangan sidang. Mereka mengangguk sepakat. Hukuman tetap harus dilakukan.


Beberapa detik setelah palu diketuk, cermin besar menyambut untuk mengajak merenung: "adiss, andaikata suatu hari kamu ada di posisi terdakwa itu, apakah kamu akan berani bilang yang sama?"

Saya berpikir keras di tengah hiruk pikuk sidang yang berlanjut pada kasus kedua. Andaikata suatu hari saya melakukan kesalahan, apakah saya dapat besar hati dan berani berkata: "oke Tuhan adil dan kasih. Saya sudah melakukan kesalahan, saya layak dihukum. Tolong maafkan saya tapi tetap berikan hukuman bagi saya."

Saya sangsi. Mungkin saya akan berkelit. Mungkin pula saya akan memelas sedemikian untuk memohon pengampunan. Mungkin saya akan menyembunyikan kalimat itu. Atau mungkin hanya menekankan pada 'kasih' dan mengabaikan sisi 'adil'.



Source: www.mcgilldaily.com
Faktanya, kita terlampu sering menjadi hakim yang hebat untuk orang lain dan pengacara mahir untuk diri sendiri.

Apa yang kita tahu dan apa yang kita ingin terapkan untuk orang lain, seringnya sulit jika berhadapan dengan diri sendiri. Maka tak heran jika ribuan kutipan dari filsuf hebat segala jaman menekankan bahwa musuh sejati seorang manusia adalah dirinya sendiri.

Konsep kebenaran selalu membutuhkan kedewasaan yang utuh. Untuk menerapkan yang sepadan baik bagi orang lain dan diri sendiri.

Jika di sidang itu saya (dan Anda) berani berkata: "Tuhan itu kasih dan adil, kita sepatutnya meneladani. Kita memaafkan sang terdakwa hari ini, namun dia tetap harus dipenjara" maka di sidang lain saat kita yang menjadi terdakwa, kita sudah semestinya besar jiwa berkata: "ampuni aku, tapi tetap jatuhkan hukuman itu bagiku!"


Beranikah kita?


Sudah setengah tahun  aku menunda menuliskan surat terbuka ini. Temanku sudah mendorong untuk melakukannya pasca sebuah 'kejutan'. Katanya, supaya tidak banyak orang yang bernasib sepertiku.

Aku abaikan pesan itu. Toh mungkin ini hal sepele. Surat elektronik yang aku kirimpun rasanya tak digubris, sehingga aku makin minder untuk meluangkan waktu menulis buatmu.

Kebetulanpun terjadi. Aku ingat persis, saat itu jam 11 malam dan ragaku sudah tenggelam dalam lelap, seseorang yang aku anggap sebagai 'mentor' dalam dunia menulis mengirimkan sebuah pesan.
Pertanyaan sangat tepat sasaran "apa yang pernah dilakukan Hipwee terhadapmu?"

Siapa sangka pertanyaan ini menelisik memori dan menyemangatiku untuk menulis lagi untukmu. Iya, aku gunakan kata 'lagi' untuk menunjukkan sebuah pengulangan. Pada dasarnya aku sudah pernah menulis untukmu dan berbuah kekecewaan.

18 Mei 2015, tulisanku terbit di lamanmu. Sungguh kebanggaan saat itu. Dimuat di media online sebesar hipwee, bagi seorang amatir sepertiku, adalah kepuasan tersendiri. Pihak redaksi mengirimkan surat elektronik untuk mengabari bahwa tulisan sudah dishare sebanyak 16.000-sekian kali. WOW! Jauh melebihi ekspektasi.



Tidak baik terbuai dalam kepuasan melulu. Mulailah diri ini mencari alasan kebanggaan yang lain dalam dunia menulis. Hingga karena iseng semata, bulan November di tahun yang sama, aku mencari artikel lamaku. Persinggahanku ke lamanmu berbuah sia-sia. Tak habis akal, aku cari kotak masuk surel darimu. Lagi-lagi, nihil. Aku terheran.

Setelah ulet memainkan kata kunci, VOILA! Artikel tulisanku ketemu.



Hanya satu yang membuat penemuan itu berujung pada diam seribu kata: tidak ada namaku disana. Ada nama lain yang menjadi profil penulis artikel yang hampir 100% adalah tulisanku (aku tidak menghitung seberapa banyak perubahan yang ia lakukan). Geram berbalut kecewa mendapati itu. Dengan hati panas, aku berusaha mendinginkan kepala menentukan langkah selanjutnya. Surelpun aku layangkan. Tiada detail memang, karena hanya ingin menguji bagaimana responmu. Mungkin terlalu abstrak, atau mungkin kau tak punya waktu untuk meresponi kekecewaan kontributor amatir ini.



Hingga langkah selanjutnya adalah meminta teman yang pakar dalam dunia IT untuk menyelidiki. Fakta yang ia temukan semakin memantabkan patah hatiku.


Lewat archive.org ditemukan bahwa tautan artikel itu berasal dari kontribusi tulisanku. Entah bagaimana bisa berubah nama. Sentuhan keanehan semakin tajam saat aku menyadari bahwa segala korespondensiku dengan redaksimu, raib. Aku tak punya bukti, kecuali sebuah screenshot yang aku bagi di instagram. Seakan menghilangkan jejak. Tidak bisa dipastikan memang itu merupakan faktor kesengajaan atau kesalahan teknis.


Aku tidak akan menghakimimu, Hipwee. Entah karena keteledoran ini ataupun keenggananmu meresponi keluhanku. Tidak apa. Toh sudah berlalu lama.

Hanya lewat surat-terbuka-yang-belum-tentu-viral-ini aku keluarkan segala keluh kesah.

Seseorang menyuruhku untuk mengirimkan tulisan lagi di hipwee dan jawabanku hanya satu: aku jera. Kata orang, kalau mau jadi penulis harus pernah mengalami kejadian getir semacam plagiasi ini. Kalau memang mitos itu benar, maka aku tak perlu marah padamu. Justru terimakasih akan aku haturkan.

Bagaimanapun, banyak anak Indonesia mencintai karyamu, Hipwee. Integritas dan kepedulian menjadi barang mutlak. Integritas untuk langkah preventif penyimpangan dan kepedulian sebagai aksi tanggung jawab. Aku harap keduanya tetap kau miliki. Terimakasih jika mau meluangkan waktu membaca ocehan keluhan ini.



“tabur yang baik, maka kamu juga akan menuai yang baik.”



Ponsel lama saya akhirnya pensiun, setelah saya mendapat sebuah ponsel baru. Dibandingkan menjual, saya memilih memberinya sebuah cuti di laci. Saya hanya ingin (sekaligus yakin) suatu hari jika ada seorang kerabat membutuhkan alat komunikasi secara mendesak, ponsel putih itu dapat unjuk gigi. Ternyata benar, seorang teman terpaksa merawat-inap-kan ponsel pintarnya. Saya tawarkan ponsel lama saya untuk dipinjam. Saya sedang berusaha berbuat baik. Apakah untuk menabur?

Dalam bulan ini saya sudah dua kali menampung adek kelas dari luar kota untuk menginap karena ada keperluan di Surabaya. Menjadi tuan rumah sebaik mungkin, jelas merupakan hasrat tersendiri. Menjemput, mengantar, dan menemani ke destinasi yang ingin dituju. Saya juga sedang berusaha berbuat baik disini. Apakah untuk menabur?

"Dis anterin dong kesana.."
"Dis bisa ga jemput aku disini?"
Jika tidak ada halangan, permintaan mengantar alias nebengi tidak akan saya tolak. Kadang capek, tapi toh tidak rugi apapun bagi saya. Saya sedang berusaha berbuat baik sekali lagi. Apakah untuk menabur?

TIDAK! Saya tidak sedang berusaha menabur. Saya hanya sekedar meneruskan sebuah benih ke orang lain. Saya hanya berusaha sekedar TAHU DIRI.

Kenapa begitu?
Saat saya mengurungkan niat menjual HP lama, saya hanya teringat pada sahabat saya dulu: Chyntia namanya. Dulu saya kuliah dengan modal super pas-pasan, sehingga tidak punya cukup uang untuk mengganti HP bobrok saya. Saat itu dia dengan besar hati meminjamkan HP lamanya berbulan-bulan. Tanpa sedikitpun ongkos

Saat saya menerima adek kelas untuk menginap, pikiran saya hanya tertuju pada satu nama: Sinta. Dia berkali-kali harus saya repotkan selama saya sibuk menyandang status jobseeker dan singgah ke Jakarta. Bukan hanya menampung, namun memberikan perlakuan yang selalu menyenangkan. Bahkan pernah suatu waktu di tengah hujan dia membagi payungnya hanya untuk mengantar saya ke stasiun KRL.

Saat saya memilih untuk mengantar teman ke berbagai tempat, saya dibawa pada kenangan saat saya diantar oleh Artha, kak Ajeng, dan pastinya Helen. Entah berapa kali saya nebeng. Di tengah kesibukan masing-masing, mereka selalu menyediakan waktu untuk mengantar.

Pada akhirnya tiga kebaikan yang saya sebut tadi samasekali bukan bentuk menabur, tapi wujud tahu diri. Sebagai orang yang sudah menerima kebaikan, selayaknya juga membagi kebaikan serupa.

Mungkin Chyntia, Sinta, Artha, kak Ajeng, Helen, tidak menerima tuaian dari taburannya secara langsung dari saya. Terkesan saya sedang salah alamat dalam membalas budi, tapi itu karena saya ingin memastikan bahwa benih kebaikan mereka dicicipi banyak orang lain.

Pay it forward kalau istilah kerennya. Meneruskan kebaikan kepada orang lain dan menjadikan kebaikan tersebut terus menyebar. Hukum tabur tuai itu bukan mentah-mentah menabur lalu pasti menuai dari orang yang sama. Tidak sepolos itu. Namun percayalah kebaikan yang sudah ditabur tidak akan pernah sia-sia. Sekali-kalipun tidak pernah sia-sia.

Ini memang berawal dari hukum tabur tuai yang dikenal dalam berbagai agama dan kebudayaan. Kita ditanamkan keyakinan bahwa benih yang baik akan menghasilkan panenan yang baik, dan sebaliknya pula. Anggapan itu menyemangati kita untuk menabur sebanyak mungkin benih kebaikan, atas dasar sebuah keyakinan bahwa suatu hari kita akan menuai hasilnya. Hasil yang baik. Hasil yang tidak mengecewakan.

Faktanya beberapa orang menganggap utopis prinsip ini. Kenapa? Karena mereka pernah atau bahkan sering dikecewakan. Jika tidak salah, kutipan yang sering mereka cantumkan senada demikian "adalah bodoh untuk mengharap orang lain kembali baik pada kita, setelah kita berbuat baik pada mereka. Seperti percaya bahwa seekor singa tidak akan memangsa kita, hanya karena kita tidak memangsa mereka".

Banyak kekecewaan. Merasa sudah berlaku baik ke seseorang tapi tidak merasa ada pengembalian setimpal dari orang yang sama. Kebaikan yang bertepuk sebelah tangan tampak begitu menyakitkan. Padahal prinsip tabur tuai sebenarnya jauh lebih agung dari insting sok tahu manusia.

Tiga cerita soal benih kebaikan diawal cerita ini membuat saya makin mantab dengan kebenaran bahwa benih kebaikan itu tidak akan terbuang percuma, terlepas jika orang yang menerima benih itu tidak dapat memberikan balas budi yang memadai secara langsung. Jangan jemu berbuat baik karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai.

FREE HAIRCUT FOR HOMELESS
Source: www.takepart.com

Kita tidak bisa memastikan dari siapa tuaian itu, seberapa subur benih itu, semanis apa buahnya, dan seberapa banyak panenannya. Bukan bagian kita untuk menebak apalagi mengatur, bagian kita adalah menggerakkan tangan terus untuk menabur benih baik. Toh sebenarnya kita tidak murni sedang menyemai benih, kadang kita hanya sekedar meneruskan benih itu dari seseorang ke orang lain.



"Help people, even when you know they can't help you back. Because helping people, can be a cure. Not just for those who in need but for your soul as well." -Marinela Reka


Ijinkan saya bertanya, di sepertiga tahun 2016 ini, film Indonesia apa yang sudah Anda tonton di bangku bioskop? Kalau saya, "Surat dari Praha" adalah jawabannya. Saya tidak menyesal bahkan faktanya saya begitu terkesan.

Film yang sahabat saya pilih ini merupakan sebuah film yang diinspirasi sebuah kisah nyata. Saya setuju dengan pilihannya dan kami segera bergegas menuju bangku B9-B10 ditemani seporsi kecil pop corn yang agak kelewat asin.

Awal kisah dimulai dari pesan almarhum Sulastri yang diperankan oleh Widyawati kepada anak gadisnya, Larasati, yang diperankan oleh Julie Estelle untuk menghantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat untuk Jaya yang dimainkan apik oleh Tyo Pakusadewo di Praha. Berbeda dengan film lain yang menjadikan negera lain menjadi latar, film ini saya acungi jempol karena memperlihatkan sisi sehari-hari sebuah negara dan bukan hanya disorot bagian indahnya saja. Bertabur bintang dengan kemampuan akting sangat natural menambah pesona film ini.

Secara alur dan permainan konflik memang cenderung datar, sehingga kesan dramatisasi klimaks jauh dari film ini. Semua disodorkan alami dan membuat saya sebagai penonton menikmati setiap jengkal permainan kalimat indah namun penuh bobot pesan. Kesempatan jeli mendengar setiap kutipan di film ini akhirnya membuat saya semakin mencintai bahasa persatuan kita: bahasa Indonesia.

Lewat film ini saya begitu mengagumi beberapa fakta sejarah perpolitikan Indonesia yang membuat saya bergelut antara sedih, marah, dan simpatik. Om Jaya merupakan satu di antara banyaknya nasionalis Indonesia yang akhirnya terasingkan bahkan kehilangan kewarganegaraan karena menolak orde baru.

Larasati : apakah Om pernah menyesal dengan pilihan Om?

Om Jaya : tidak pernah. Saya melakukannya dengan kesadaran sehingga tidak perlu ada yang disesalkan. Memang begitu harga keyakinan, harus mahal, tidak boleh murah. Semakin mahal semakin berharga.

Adegan itu membuat saya terkagum akan banyak tokoh di masa perjuangan Indonesia yang begitu mantab akan keyakinannya, bukan nyaman di zona abu-abu. Di adegan yang lain saya dipaksa berdecak kagum menyimak kisah om Jaya dan tiga kawan Indonesia yang mengalami nasib serupa. Mereka dahulu naik kapal dari Medan melewati terusan Suez hingga sampai ke Praha, mendapatkan beasiswa. Sampai akhirnya berkecamuk transisi rezim dan membuat mereka berempat mantab menolak orde baru.


"Kami menolak orde baru namun kami bukan Komunis. Kami NASIONALIS" begitu kata Om Jaya yang saya yakini mewakili banyak suara korban orde baru dulu. Mereka yang dipenjara bahkan mati tanpa diadili.

Mereka menjadi stateless alias kehilangan kewarganegaraan. Iya, mereka ditolak oleh tanah air sendiri. Hingga predikat sarjana teknik nuklir tidak lagi bermakna dan menjadikan om Jaya berkarir sebagai janitor seumur hidupnya. Fakta ini membuat saya menilik ulang arti nasionalisme dan bertanya bagaimana seharusnya respon yang memadai dari pemerintah atas nasionalisme murni seperti ini. Pesan 'cintai tanah airmu' tersirat tepat di hati. Bumbu sejarah yang tepat pada porsinya menjadi pesona utama film ini, selain soal nostalgia cinta pastinya.


Om Jaya : "saya berjanji ke Sulastri dua hal. Satu, saya akan menikahinya. Dua, saya akan mencintainya seumur hidup saya. Namun nasib hidup membuat saya hanya bisa memenuhi janji yang kedua."

Nostalgia cinta di film ini tergolong klasik, namun moral yang saya petik adalah bagaimana 'ikhlas' dan 'memaafkan diri sendiri' tidak selalu datang berpasangan. Film ini tidak mengemas sesuatu menjadi super idealis, justru sangat mengena karena kenyataannya ketika kita ikhlas tidak serta-merta lahir kemampuan memaafkan diri sendiri. Pesan cinta yang kedua adalah tentang bagaimana ketulusan menggerakkan orang untuk tetap setia jauh melebihi apa yang pernah diminta.

sumber gambar: www.rappler.com

Unsur kuat lain di film ini adalah musik gubahan Glenn Fredly. Sangat Indah. Favorit saya adalah Sabda Rindu. Puitis nan merdu. Satu lagi perihal musik di film ini: permainan harmonika! Piano, gitar, bahkan biola, sudah kerap hadir di layar perfilman, namun Harmonika? Cerdas! Berbeda, namun tetap kontekstual dan memperkuat sense musik disana.


Akhirnya saya tidak menyesal samasekali merogoh kocek untuk menikmati karya anak bangsa seperti ini. Saya ingat perkataan Joko Anwar "kalimat -untuk ukuran Indonesia, lumayan lah- adalah kalimat yang merendahkan bangsa sendiri. Sebuah kebiasaan yang harus dihentikan." Saya sepakat. Saya menilai film ini tidak lebih rendah saat saya terkagum dengan berbagai film hollywood lain. Sebuah karya yang layak diapresiasi dan diteruskan jejaknya.
#HariFilmNasional 


Kita pasti tahu, ada dua macam gunung di dunia. Gunung aktif dan gunung mati. Sebagai pendaki, orang akan lebih was-was kala mendaki sebuah gunung dengan kandungan magma yang terus bergejolak. Mereka akan lebih berhati-hati karena sewaktu-waktu gunung tersebut dapat meletus. Sebaliknya untuk gunung mati, pendaki cenderung meremehkan dan tidak menganggapnya sebagai sebuah gereget yang menantang.

Kita manusia juga tergolong selayaknya dua gunung itu. Kita bisa dan memang harus memilih menjadi yang seperti apa. Magma disini berbicara soal impian. Gunung aktif melambangkan seseorang yang memiliki impian dan akhirnya menjalani hidup dengan semangat dan tujuan. Atau kita justru selayaknya gunung mati yang hidup sehari-hari tanpa arti selayaknya zombie.



Mimpi adalah energi besar. Seperti seorang Kartini yang membuat perubahan besar dimulai dari keinginan sederhana bahwa setiap wanita diberi kesempatan yang sama di bidang pendidikan. Hari Kartini bukan hanya soal emansipasi dan cocok bagi kaum perempuan semata. Pesan dari Kartini berlaku bagi kita semua! Laki-laki dan perempuan.

Pertanyaannya: apakah segala mimpi selalu berhasil? Apakah semua niat pasti terwujud? Apakah setiap keinginan pasti tercapai? TIDAK! Miss tidak akan membohongi kalian dengan janji kosong. Tapi satu hal yang miss yakini: Tuhan tidak akan pelit bagi yang mau berusaha.


Kedua, yang juga penting. Seperti apa mimpi kita?

Kembali ke ilustrasi gunung, kalau kita amati setelah meletus lahar dingin yang keluar akan membuat tanah yang dilaluinya sebagai tanah subur. Maka tidak heran kenapa di lereng gunung selalu terbentang perkebunan subur. Walaupun awalnya membahayakan namun akhirnya membawa manfaat. Bagaimana dengan mimpi kita? Apakah mimpi itu membawa manfaat untuk orang lain? Apakah impian itu membawa baikan bagi sesama? atau itu mimpi yang egois? Jangan-jangan hanya untuk memperkaya dan mempopulerkan diri sendiri.

Miss punya sebuah teladan. Namanya Ricky Elson. Dia orang Indonesia yang meraih S3 di Jepang -negara dengan terobosan teknologi luar biasa. Bukan hanya itu, dia bahkan mendapatkan hak paten soal kincir angin dengan tingkat efisiensi tinggi. Kenapa dia mau susah2 belajar sampai S3? Kenapa dia kembali ke Indonesia padahal di Jepang penuh tawaran menggiurkan? Walaupun mungkin beberapa kali gagal, kenapa dia terus mencoba menciptakan kincir angin? Ternyata karena dia tahu jelas apa yang dia tuju. Semua usahanya karena satu impiah bahwa pulau-pulau kecil di Indonesia dapat menikmati listrik dari kincir anginnya.

Ayo kita logika! Dia bisa saja menjual teknologinya untuk Jepang. Bahkan Amerika-pun hendak membeli. Namun dia menolak! Kekayaan bukanlah segalanya. Pengakuan bukanlah yang paling utama. Tapi pemenuhan MIMPI YANG MEMBAWA KEBAIKAN itulah yang paling penting.


Tidak ada MIMPI YANG TERLALU kecil sehingga layak diremehkan. Tidak ada MIMPI YANG TERLALU BESAR sehingga boleh mengijinkanmu menyerah!

Peluang dunia terbuka besar. Terkhusus bagi kalian disini: yang 24 jam dapat menikmati listrik, yang pergi ke sekolah tanpa perlu basah-basah menyebrangi sungai, yang dapat mengakses internet seharian. Akan sangat rugi jika dengan berbagai kemudahan itu kalian tidak mencapai apa-apa!

Semua mimpi layak diperjuangkan! Apa cita-cita kalian? Ingin menjadi programmer game? Sutradara? Musisi? BISA! Ilmuwan? Penulis? Arsitek? BOLEH! Dokter? Pengacara? Pelukis? SILAHKAN!

Karena pada akhirnya, di penghujung usia, kita tidak akan menyesal atas kegagalan karena terlampu sering mencoba. Kita akan menyesal atas apa yang tidak pernah kita coba perjuangkan!

Biarlah R.A Kartini dan bang Ricky Elson serta para anak bangsa membanggakan lainnya memberikan kita semangat untuk terus memperjuangkan mimpi. Kiranya Tuhan memberkati setiap impian baik kita.


*ini adalah teks amanat upacara yang saya buat H-2, pasca membaca tulisan dari bang Ricky Elson yang membuat saya mbrebes mili. Saya harap suatu hari saya bisa mbrebes mili melihat murid saya menghasilkan sebuah terobosan untuk negeri yang begitu saya cintai ini: Indonesia!