Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Beberapa kali saya disedihkan sebab muncul anggapan betapa mudah dan gemilaunya kehidupan seorang Adiss, padahal jika ditelusuri dan melihat lebih dekat, ada pula momen penolakan, langkah iman penuh air mata, dan ketakutan. Kita semua mengalami gulatan itu, melalui tapak yang spesifik yang berbeda-beda. Ini milik saya.

Januari
  • Jual baju bekas di pasar
    • Hal ini jadi berarti untuk dicatat sebab setelah maju mundur beberapa kali, saya memberanikan diri untuk menggelar tikar di pasar dan menjual baju bekas milik saya dan milik Riyan. Hasil penjualan ini saya gunakan untuk jadi tambahan dana melakukan proyek kasih ke Panti Jompo
  • Boys Brigade Leadership Development Course
    • Semacam Pramuka, di sekolah tempat saya bekerja terdapat kegiatan yang bernama Boys Brigade. Di Januari saya diberi kesempatan menjadi utusan untuk mengikuti Leadership Development Course. Sebagai bonus saya diijinkan menjadi pembimbing bagi 9 anak dari berbagai sekolah, yang terungkap kemudian sangat cerdas, ga tahu malu, dan penuh semangat hingga akhirnya berhasil menjadi juara umum di kegiatan tersebut. #soproud

Februari
  • Editor
    • Setelah perjalanan panjang IGNITE, akhirnya Februari 2017 IGNITE resmi menerima kontribusi. Saya dipercaya menjadi editor perdana sebelum akhirnya menjadi ketua divisi kepenulisan di hingga 2018. Menyenangkan sekaligus menakutkan untuk memegang karya kontributor. Saya diharuskan lebih teliti dan jelaslah tanggung jawab ini membuat saya banyak membaca dan mengenal banyak orang
  • Aktif di kegiatan Ributrukun
    • Saya bersama dua rekan muda lain diminta tolong oleh pak Wepe untuk menghandle sebuah pelatihan yang digagas oleh RR. Banyak sekali bonus ilmu dan kawan baru di tengah tuntutan menjadi sabar nan telaten sebagai contact person.
  • Ditolak beasiswa Tempo
    • Tepat 13 Februari, saya harus merasakan pahitnya penolakan dari sesuatu yang sangat saya inginkan.

Maret
  • KANCA
    • Saya mengikuti festival berjudul KANCA di Jogjakarta. Senang sekali mendengar sharing dari berbagai orang yang kiprahnya mengesankan di jagad literasi Indonesia. Saya bahkan AKHIRNYA bertemu dengan kak Windy yang tumblr nya sudah saya ikuti sejak 2009, bertemu mbak Hanny yang super baik yang juga merupakan pengelola kamantara tempat saya awal-awal mulai menulis. Semacam bonus, saya bertemu Amrazing, Bernard Batubara, Aan Mansyur, dan terfavorit bertemu kak Theo dan kak Wesley. Moment ke Jogja di Maret ini juga membuat saya tak henti bersyukur sebab disambut dengan amat baik oleh mbak Vika dan pak Khun. Sebuah perjalanan yang terbaik.
  • Diterima di Sekolah Ciputra
    • ....namun akhirnya saya memilih tetap di Gloria. Keputusan yang tidak saya sesali.

April
  • Camping di Dieng
    • Pelesir ini menjadi sangat istimewa sebab saya menggandeng satu teman perempuan yang saya kenal dari kegiatan ekspedisi. Merasakan dagdigdug bensin habis dan pom tak kunjung terlihat hingga bertemu banyak orang asing yang sangat sangat baik.
  • Project As Their Wish
    • Sebuah ide untuk memberikan kado tepat sesuai keinginan bagi para oma opa akhirnya berwujud dalam tindakan. Rasanya senang bukan kepalang saat melihat ada satu oma bahkan berlari memamerkan tas barunya ke oma-oma lain.

Mei
  • Temu Raya Pemuda GKI
    • Kegiatan yang bertempat di Semarang ini memperbolehkan saya untuk mewancari Cameo Project. Sebuah kesempatan yang berharga, untuk terus mengembangkan kemampuan wawancara dan mengolah informasi. Selain itu saya dan beberapa teman diundang ke tempat mas Agus Tato pelayanan. Sebuah ruang berdinding pink di kawasan prostitusi dan preman, tempat banyak anak jalanan belajar di sore hari.
  • Kelas Tempo
    • Dengan kegigihan, akhirnya saya dapat menapakkan kaki di Tempo dan mendapat banyak sekali ilmu serta wawasan disana. Rasanya ajaib!

Juni
  • Proper Farewell
    • Saya dan anak kelas saya membuat sebuah acara farewell yang niat. Bertempat di satu hotel besar Surabaya, saya diijinkan untuk mengutarakan ucapan syukur saya yang begitu melimpah karena memiliki mereka sebagai anak kelas saya setahun akademis. Mereka bahkan menyiapkan kejutan kue tiramisu kesukaan saya dan satu kalung emas beserta liontin hati sebagai hadiah ulang tahun dan ucapan terima kasih. I can’t be more thankful.
  • Saying goodbye
    • Tiga teman dekat saya berpamit bersamaan. Ivana, ce Jessica, dan Wisye. Rasanya hati menjadi remahan-remahan kecil yang siap dihembuskan angin Kenjeran. Terkhusus ce Jess, teman suka duka. Saat dia sudah resmi pindah, ada semacam perasaan jetlag. Rekan kemana-mana bareng harus pergi, dan saya harus mulai membiasakan itu. Perpisahan, memang tak pernah enak.

Juli
  • Jadi bridesmaid
    • Keempat kalinya menjadi bridesmaid, dan PERTAMA KALI dalam hidup harus mengenakan warna baju merah. Hanya demi sahabat. Momen ini juga membuat saya mencicipi enaknya kota Salatiga.
  • Birthday
    • Saya harus menahan tangis bahagia seharian, melihat usaha keras kekasih saya menghadirkan kejutan dan sebuah ulang tahun yang amat manis. Pertambahan usia tepat menjadi seperempat abad, membawa beban sendiri tapi hari itu, tepat 12 Juli, saya tahu Tuhan amat baik. Tak perlu kuatir. Dan terungkap ternyata... usia ini menjadi begitu berharga sebab saya diajari banyak hal.
  • Pelatihan inspiratif
    • Sekolah saya mengundang ibu Weilin Han dan membuat saya belajar SANGAT BANYAK. Begitu banyak materi yang bukan saja mengisi otak namun juga menggugah hati.

Agustus
  • Jakarta Post!
    • Sebuah kejutan tengah tahun, tulisan saya diterima dan dimuat di Jakarta Post online. Rasanya bertambah ajaib, kala mengetahui tulisan itu berhasil menjadi most-viewed article dalam sepekan. Thank God!

September
  • Komunitas Guru
    • Kang Iden yang saya temui di pelatihan Tempo, mengenalkan saya pada komunitas Guru Belajar. Di bulan September, kebetulan (jika memang kebetulan itu ada), ada momen bincang bersama mbak Najeela Shihab. Saya beruntung dapat ikut sesi obrolan itu dan mendapatkan limpahan sudut pandang menarik soal pendidikan dari para guru, pegiat pendidikan, dan mbak Najeela Shihab sendiri.

Oktober
  • Bingkisan dari Warungsatekamu
    • Atas permintaan mereka, saya menulis soal Indonesia untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI di bulan Agustus. siapa sangka, mereka menyediakan hadiah khusus yang sangat saya sukai. Buku berjudul God in Pursuit menjadi salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Tak lupa, saya memperhitungkan sebagai berkat sebab saya dapat berkenalan dengan Ary, content development dari website tersebut.

  • Melunasi Rumah
    • 4 Oktober jadi hari penting. Riyan dan saya memutuskan melunasi rumah. Sebuah keputusan yang saya ingat bukan sebagai pencapaian tapi langkah iman luar biasa. Kalau mengingat hari-hari itu, kami bergumul penuh air mata. Bagaimana jika tidak cukup, apalagi setelah drama Riyan sempat di-PHK sebab perusahaannya gulung tikar. Butuh iman besar untuk langkah ini, dan puji Tuhan, Dia memampukan.

November
  • Gagas CPNS (kedua kalinya)
    • Sudah berlelah-lelah hingga ijin tidak masuk, masih saja gagal. Ada hati yang remuk, bukan saja karena ditolak tapi karena pertanyaan besar: “setelah resign bulan Juni, akan kerja apa?”  Ada kemarahan yang tersirat, mengapa pula Dia tidak sekali saja mempermudah langkah saya. Hingga akhirnya saya berdamai, sebuah keputusan lagi dan lagi yang diisi jatuh bangun.
  • #kamitidakpenting
    • Sejak TRP, saya ‘direkrut’ menjadi bagian Kami Tidak Penting yang bergerak dalam pembuatan video. Sebuah pengalaman baru untuk membuat skenario, menulis naskah, hingga narasi. Bukan saja soal “apa” yang dikerjakan namun juga “dengan siapa”. Rasanya hanya ada syukur yang diselingi penuh tawa untuk berada di tengah enam orang yang sangat nyentrik tapi penyayang.

Desember
  • Tulisan terbit (akhirnya) di Magdalene.co
    • Ini kebanggaan tersendiri bagi saya, sebab sudah beberapa kali saya harus menelan pil pahit penolakan. Tulisan soal CPNS dan kesukuan ternyata mendapat banyak respons, dan untuk itu syukur saya bertambah.
  • Project berbayar
    • Tuhan tahu, di 2018 khususnya, saya akan membutuhkan sokongan dana yang tak kecil. Apalagi dengan belum jelasnya tapak karir pasca kontrak sebagai Guru berakhir di Juni 2018. Dia mengijinkan jalan berkat-Nya terbuka, dengan berbagai cara. salah satunya dengan tugas menjadi scriptwriter bagi video prewedding. Lagi-lagi pengalaman baru, dan tambahan rupiah yang lumayan.
  • Eleos Project
    • Setelah mengevaluasi bisnis Cerryls and Co. saya memutuskan membuka satu bisnis yang lingkupnya bukan saja kartu ucapan. Dalam satu bulan ini, Eleos Project (demikian saya memberi nama) telah berkembang pesat. Semoga semakin dipilih dan diperhitungkan dalam bisnis paperie kreatif.
  • Kesaksian di gereja
    • Ketika panitia natal GKI ressud menghubungi saya untuk membagi kisah secara live di empat kali ibadah, saya gentar. Jelaslah kemampuan public speaking saya tak baik. Hanya karena Anugerah saja, saya cukup berani berbicara di depan jemaat. Walau tak sempurna, tapi setidaknya saya tahu ada beberapa orang yang boleh dikuatkan.
  • Pembicara talkshow
    • Keliatan keren ya judulnya? padahal talkshow ini hanya tingkat lokal yaitu untuk para siswa. Tapi saya sangat menghargai momen ini sebab entah bagaimana saya cukup kuat membahas soal pembullyan semasa kelas 6 SD yang saya rasakan, tanpa sedikitpun air mata. seorang Adiss yang (dianggap dan mungkin memang) jarang menguak bagian gelap dalam hidupnya pada orang lain, dapat melakukan ini. I’m so proud.


Dan inilah 2017 saya. Banyak “bonus:” yang Tuhan berikan walau tak banyak pencapaian besar seperti 2016. Saya melihat ke belakang dan menemukan kesetiaan Tuhan. Dia memberi kesempatan, membalut luka, menguatkan iman, dan menghibur dalam kekecewaan. Ada banyak kali di tahun ini saya disedihkan sebab muncul anggapan betapa mudah dan gemilaunya kehidupan seorang Adiss. Baik yang dikatakan, dipikirkan, ataupun diwujudkan dalam tindakan. Saya melihat banyak orang bahkan tak pernah mau bertanya lalu terburu membuat kesimpulan ini dan itu. Kita semua sama, sejatinya. Ada masa turun naik. 2017 ini menghadirkan banyak orang dan menelurkan banyak kesempatan. iya.. itu yang mudah tertangkap di sosial media. Padahal tahun 2017 juga diisi kekecewaan, pahitnya perpisahan, air mata yang sudah tanpa suara. Semua berujung pada satu kesimpulan: Tuhan di 2017 telah mengajarkan banyak hal.

Entah sejak kapan kita seakan didoktrin bahwa kehidupan yang selalu bersukacita adalah tolak ukur keberhasilan iman. Oke, jika itu artinya joy yang adalah rasa damai tanpa terpengaruhi keadaan, maka itu benar. Tapi jika itu membuat kita mengingkari kesusahan diri dan kecemasan yang manusiawi, maka alih-alih iman yang kuat, itu adalah kemunafikan.

Belakangan ini adalah masa berat bagi saya. Tepatnya minggu ini. Ketika menyadari dalam waktu kurang dari setahun saya akan memulai tapak di luar zona nyaman pekerjaan saya. Juga tentang keputusan besar yang kekasih saya ambil. Ada ketakutan pasti. Banyak! Takut salah memilih, takut kekurangan, dan berbagai ketakutan yang serentak menyerang dan sesekali berhasil mencuri kedamaian.

Saya yakin kita pernah ada di titik itu. Dan di saat seperti itu penting bagi kita mendengar bahwa apa yang kita rasakan adalah wajar. Penting bagi kita untuk tahu bahwa kesedihan kita tidaklah menjadi alasan untuk ditertawakan dan dituduh “kurang beriman.” Bukan karena kita sudah menyaksikan begitu baiknya Tuhan dalam kehidupan kita maka secara otomatis kita tidak merasakan ketakutan sama sekali. Bagi saya sangatlah kejam dan tidak santun ketika kita meresponi keresahan orang lain dengan sikap “ah gitu aja kok takut, katanya beriman”, atau macam respons “aku heran kamu kok bisa ketakutan begini, kan kamu uda lihat penyertaan Tuhan”.

Saya ingin mengutip kalimat dari dua tulisan yang baru saja saya edit, dan menjadi semacam kekuatan bagi saya.

  • “Jadilah pendengar yang mengijinkan orang lain memproses macam-macam emosinya dengan leluasa. Biarkan temanmu tidak menahan-nahan kepedihannya dan tidak lari dari masalahnya. Dengan mengalami emosi-emosi ini secara utuh, setidaknya beban mereka berkurang.” –Ruth Lydia
  • “Perasaan ditinggalkan Allah adalah hal yang wajar dialami orang percaya, semua raksasa rohani dalam Alkitab pernah mengalaminya, dan memang Allah merancangnya untuk membentuk kita.” –Kak Himawan

Kadang kita malu untuk menjadi prihatin dan merayakan kesedihan hanya karena mitos sehari-hari bahwa memiliki Juruselamat membuat kita tidak takut sama sekali dan akan selalu berhasil memasang wajah yang senantiasa berseri. Saat ini, saya justru lebih berani mengekspresikan kesedihan  (bukan tebar kegalauan atau curhat di sosial media ya!) secara apa adanya, terkhusus di hadapan Tuhan. Sebab semakin saya berproses dalam turun naik hidup ini, saya kian menyadari bahwa masa paling tak enak dan kondisi paling mengerikan adalah momen yang paling saya syukuri akhirnya nanti. Sebab di sana saya menemukan Allah berkarya memproses saya.


Adalah sebuah kemampuan berharga untuk merayakan setiap musim kehidupan ini dengan sepenuh-penuhnya. Dalam masa bahagia, tak kalah, masa nestapa. Karena dengan cara begitulah, kita menjadi sebenar-benarnya manusia.



An Indonesian photographer who lives in the United States was in charge for his brother’s wedding documentation. I was following the whole ceremony through his social media feed. One of his Instagram stories captured the moment when the couple was walking down the aisle and the guests were holding their phones out the entire time, along with a little protest in the caption that says, Be present people. Please BE PRESENT”, which has become a wake up call for myself.

I begin to question the importance of online presence nowadays. How most of us invest (or waste?) too many time and energy on our online persona. Take Instagram stories for example. That thing disappears within 24 hours! What’s the point really? How we have become so obsessed to experience life through our smartphone screen rather than our own eyes.





Episode 1.

Acara yang diberi nama KANCA itu mencuri hati dan menuntut untuk dicari tahu apa dan bagaimana isinya. Setelah melihat baris angka dan nama hari di kalender, saya tahu bahwa rasanya memungkinkan untuk aku ikut, asal dengan satu cuti di hari Jumat. Semua berlangsung mulus.  Tiket keretapun sudah ada tuntas dibeli. Pertanyaan utama kini adalah dimana saya akan menginap.

“mau budget berapa” kata pak Khun, seseorang yang saya klaim sebagai mentor menulis, dan memang berdomisili di kota kecintaan segala umat ini. Jelaslah saya menyebutkan angka yang memang terjangkau.
“lho kan kamu orang kaya” begitu timpalnya terhadap angka yang super kecil sebagai jawaban. Sayapun tertawa di depan layar ponsel. Bagaimana beliau berpikir seperti itu, coba! Usut punya usut teman penulis yang juga saya recoki di perjalanan ini turut bersumbangsih pada pelabelan dan asumsi bahwa saya seorang yang sungguh berpunya. Lagi-lagi tawa makin meriah. Diskusi melenceng sejenak sebelum akhirnya pak penulis senior itu berkata:
“uda.. kamu nginep rumahku aja. Tidur bareng putriku”
Berulang kali kalimat itu saya baca. Saya eja. Tidak salah kan? Sebuah tawaran yang bahkan tidak sepersekian detikpun saya duga.
“iya soalnya kamu ternyata bukan orang kaya”

Lagi dan lagi dan lagi saya dibuat terkejut dengan pernyataan-pernyataan yang keluar. Sebagai penjelas, kata beliau, tawaran tersebut menghindari ribet (sebab awalnya saya berencana menginap di rumah teman dekat UGM, yang notebene jauh dari lokasi acara), dan juga merupakan usul dari istrinya. Ah terserah. Latar belakang apapun itu tidak mengurangi keterkejutan saya yang sedang memegang gawai di sepetak kamar kost, dan tetap saya perhitungkan sebagai sebuah kebaikan luar biasa.

Semua sudah diatur dan saya tinggal menunggu hari untuk berangkat. Perjalanan Gubeng-Lempuyangan diisi dengan chat bersama mbak Vika. Mendapati dirinya mau menemani, telaten menjawab pertanyaan seputar Jogja, hingga menjemput di stasiun, saya kira sudah sepaket manis kebaikan bagi tamu dari Surabaya ini. Ternyata, itu belum apa-apa.

Dengan naik ojek online berbeda warna (favorit masing-masing), dia mengajak saya ke Pakualam. Bukan untuk wisata sejarah namun justru duduk di bawah pohon beringin (yang tak terlalu) rindang sembari makan es rujak dan semangkok bakso. Ibarat menyelam sambil minum air, kamipun singgah ke keraton dan mbak dengan rambut pendek itu menjelaskan beberapa hal. Tidak banyak foto saya ambil, karena bagi saya dengan hadir utuh dan meletakkan gawai saya bisa menyerap berbagai informasi maksimal. Seusai berkeliling, derap langkah kami berpindah. Tidak jauh dari situ, kami menuju ke sebuah toko minuman jamu GINGGANG. Segelas es beras kencur saya pesan. Segelas kesegaran asli Indonesia yang menjadi favorit entah sejak SD atau TK. Saya terpesona dengan setiap tegukan. Rasa yang menari di lidah akhirnya membuat saya bertekad, kapanpun saya ke Jogja, saya akan melepas rindu dengan segelas surga itu. 

Tapak berlanjut. Kami menyusuri jalan dan sesekali duduk di bangku Malioboro yang kini telah menjadi begitu rapi. Di sana saya menyaksikan campuran budaya kental menyeruak. Misalnya kedai kopi mendunia dengan desain bangunan yang vintage, berjejeran dengan berbagai toko batik yang telah berjuang bertahan di tengah gempuran perubahan. Tanpa sadar ketidaksukaan saya pada pusat perbelanjaan yang ramai mengubah suasana hati. Saya tidak lagi antusias. Keinginan membeli batikpun sirna (untuk kesekian kali). Uniknya, mbak Vika sangat peka dengan perubahan mood tersebut. Di depan gapura pecinan dan patung ayam –shio tahun ini, dia menyatakan itu. Dan saya tahu, saya harus bisa mengendalikan suasana hati untuk tetap menikmati perjalanan ini. Dengan raut kembali ceria, saya mengangguk setuju pada usulnya. Kami menuju ke arah stasiun Tugu dan memilih satu angkringan.
"es kopi susu jos satu ya mas" ucap saya sebelum sigap memilih jajanan. Seketika mas penjual dengan topi yang ia gunakan terbalik itu tertawa. Menurutnya rata-rata orang akan memesan kopi jos hitam panas, pilihan yang saya pesan agaknya aneh. Es. Kopi. Susu. Jos. Biarlah pikir saya, rasa antusias sudah cukup hari ini untuk memacu pasokan energi. Kafein pekat tidak saya butuhkan. Ia dapat cuti sejenak. Saya menikmati pesanan saya hingga tetes terakhir dengan penuh ekspresi kagum. Mbak Vika hanya terkekeh melihat seberapa ndeso saya mencicipi itu pertama kali. Menu bergeser ke burung dara bakar, hidangan traktiran tuan rumah. Mungkin aneh, adiss bisa makan begitu banyak hari itu. Rupanya perut turut menyesuaikan diri dengan antuasiasme hati.

Sekitar pukul 8 malam, Pak Khun beranjak menjemput namun mengajak untuk bersantai lebih dulu sembari mengajak satu teman yang menjadi kenalan baru saya: Mbak Riana.
“di JCo ya?” usul mbak Vika yang kemudian ditolak mentah oleh pak Khun.
“orang Surabaya kok malah diajak ke JCo”
Saya memperhatikan percakapan mereka dan hanya tertawa. Mungkin ini pertama kalinya benar-benar merasa menjadi seorang tamu yang diperlakukan SANGAT BAIK.
Menjadi win-win solution antara mbak Vika dan pak Khun, sebuah kedai dekat Mirota menjadi tempat kami berempat menghabiskan malam dengan topik yang rata-rata soal kepenulisan.

Jarum pendek sudah nyaman bertengger di angka 10, saya berpamit ke mbak Vika dan mbak Riana. Saya yang awalnya mengira rute akan pendek dan segera menuju rumah pak Khun, untuk kesekian kali dibuat terkejut. Pak Khun mengajak saya berkeliling di seputar Jogja sembari menjelaskan ini itu tentang kota ini. Saya ingat betul salah satu premisnya adalah tentang keterkaitan ruang publik dengan tingkat stress dan daya kreativitas warga. Jogja menghadirkan begitu banyak ruang publik yang nyaman, maka tak heran seni berkembang dinamis disini. Dinamis dan kondusif. Tuntas dengan segala penjelasan, kami akhirnya menuju pemberhentian terakhir: rumah Pak Khun dan keluarga.



Tepat setelah melepas sepatu abu-abu pink kado dari Riyan, saya menginjakkan kaki di ruang tamu mereka, dan tatapan saya terpaku pada sebuah lemari buku. Bukan lemari biasa, sebab itu sangat tinggi, dari lantai hingga langit-langit rumah dengan lebar yang juga memenuhi ruangan. WOW! Rumah penulis memang berbeda, saya menyimpulkan dalam angan sebelum akhirnya berbaur dengan percakapan bersama istrinya.

Setelah ngobrol sejenak, istri pak Khun menyarankan kami semua pergi istirahat. Di kamar putrinya, saya meluruskan punggung sembari tersenyum. Seharian saya diperlakukan dengan begitu baik bahkan oleh mereka yang belum terlalu lama saya kenal. Di beberapa momen, ketika badan serasa sangat lelah saya bisa tetap terjaga dan tidak terburu untuk tidur. Saya senang mereka ulang setiap kejadian supaya terekam baik dalam ingatan. Malam itu, adalah salah satu momen yang demikian.

Perut saya kekenyangan saat itu, tapi tak kalah hati yang melimpah dengan ucapan syukur. Tak berlebihan rasanya jika saya sebut perjalanan ini sebagai perjalanan ter-BAIK. Bukan terbaik dalam artian BEST tapi KINDEST. Perjalanan yang limpah kebaikan hati.

Dan begitulah. Episode pertama perjalanan ini berakhir.
I see this world differently by 25 years old. It doesn't mean I'm totally whole new person and become the wiser one, but as I said, I see this world differently now. A quarter life crisis just awesome for me because it was like huge wake up call. Aku jadi sadar banyak hal yang terlalu kuantitatif dalam hidupku dan suprisingly aku punya kesempatan buat redirect hal itu. Setidaknya tiga hal ini intisari utamanya.



1. To be cheerleader instead of success-self builder.
Dulu aku berpikir apa yang mereka nilai tentang aku menjadi begitu penting. Pengakuan tentang kemampuan menulisku, kerennya hubunganku dengan Riyan, foto pelesir kece di sosial media, atau apapun lainnya. Tapi aku sekarang melihat bahwa apa yang aku bisa lakukan buat orang lain is much much much more important. Entah kenapa, awal usia 25 ini aku dibukakan serangkaian fakta bahwa Tuhan mengijinkanku untuk menolong orang lain dan tanpa sadar itu adalah berkat luar biasa.

Membahagiakan sekali ketika beberapa orang berkata bahwa aku uda jadi awal mula keberanian mereka menulis di media umum. Ketika satu orang yang dulu mengirimiku DM kekaguman akan tulisanku bahkan sudah menjadi penulis penuh waktu. Ketika beberapa teman akan mengirimkan tulisannya hanya untuk aku edit terlebih dulu. Ketika portfolio di blog cuap-cuap ku menginspirasi mereka giat berkarya. Di saat itu terungkap jelas betapa bahagia itu bukan soal "menumpuk prestasi" tapi "mengalirkan gairah mimpi".

Aku sangat senang memiliki beberapa orang yang mau dan boleh aku sebut sebagai mentor. Dan dari mereka aku belajar bahwa ikut serta dalam pertumbuhan orang lain itu memang sangat menyenangkan.

Menjadi orang di belakang layar perjuangan kawan kita itu ternyata tak kalah membahagiakan daripada fokus semata dengan kesuksesan sendiri.

2. People change, that's the hurtful truth. But you, also, will change eventually.
Beberapa orang menjadi berbeda. Ada yang makin karib ada yang makin renggang. Awalnya aku ketakutan, bagaimana jika para orang yang bagiku penting mendukung kemajuanku pergi satu persatu. Bahkan aku sempat merasa tolol dan tidak terampil membina relasi. Tapi akhirnya, aku paham. Akupun disini berubah. Adiss yang dulu sibuk mengumpulkan dukungan kini berusaha berdiri tetap mandiri dan memberi dukungan. Adiss yang awalnya berkonsep "kamu baik, aku akan ikut baik" ternyata telah ditempa agar memperlakukan siapapun dengan baik bagaimanapun kondisinya. Sebuah relasi yang tidak transaksional sedang dibangun. Semua orang berubah, pun kita. Tapi kita masih bisa menjanjikan satu hal sama: aku akan tetap mengasihimu, bagaimanapun itu.

Di titik ini aku menyadari bahwa, memiliki tuntutan agar semua orang tetap seperti kondisi awal mula kita menjadi nyaman dengan mereka, itu mengecewakan. Semua orang akan berubah. Aku teringat sepotong janji nikah “for better and for worse”, sejujurnya ini adalah konsep mendasar relasi: menerima ketika orang itu menjadi semakin baik ataupun sebaliknya. Bahwa, perubahan itu pasti. Tapi mengasihi itu pilihan.


3. What kind of people I want to become.
Menghitung. Aku memang suka aktivitas ini. Menghitung sudah berapa tempat aku kunjungi, berapa orang sudah aku kirimi paket kasih, berapa seminar aku ikuti, dan berapa banyak aku meraih poin-poin mimpi, atau bahkan target tabungan setahun ke depan. Hingga sebuah kalimat menghampiriku dari seorang teman: "Hati-hati hidup terlalu kuantitatif." Aku terkesiak. Diam. Lalu terpaksa mengakui bahwa itu benar adanya. Jangan-jangan aku terlalu sibuk menghitung dan menjadikan hidupku tak ubahnya sebuah objek yang harus diperlakukan secara kuantitatif.

Mungkin telat, tapi aku jadi sadar bahwa "meraih apa saja" itu tidak pernah menjadi lebih penting dibandingkan "menjadi seperti apa". Bahwa daftar apa saja yang ingin dilakukan tidak boleh lebih panjang daripada daftar karakter apa saja yang perlu dibenahi.

Hidup yang awalnya adalah rangkai dari kepingan-kepingan yang seru dan asyik untuk dihitung, kini berubah. Bukan berarti aku berhenti menghitung apalagi menyudahi perjuangan poin impianku, hanya saja aku tahu ada hal lain yang lebih berfaedah untuk dipantau: pertumbuhan karakterku. Itulah alasan mengapa kita disebut human being dan bukan human doing. Karena pada dasarnya yang terpenting bukan apa-apa saja yang sudah bisa kita lakukan tapi menjadi seperti apa kita dari waktu ke waktu. Apakah makin terampil mendengar? Apakah makin baik hati? Apakah makin membumi? Itu yang lebih penting.

Berproses. Sejatinya, aku ingin itu yang menjadi konsen utama hidupku. I wish from now I have an ability to appreciate every single thing as an opportunity to grow. Ya mungkin nantinya anak-anakku ga akan dapat seorang ibu yang terkenal ataupun hebat, tapi setidaknya aku ingin memastikan ibunya telah menjadi orang yang lebih baik dari usia-usia sebelumnya, dan itu akan menyemangatinya untuk tidak menyerah pada karakter buruk tertentu.



Sejujurnya melihat perubahan ini agak mengejutkan. Aku bahkan terheran bagaimana secara drastis ini semua muncul dalam otakku. I can't say it's a higher level of life. But surely, it's kinda different level for me. Different, in a good way.

So welcome 25! I'm in love with you.


Genap dua minggu sudah saya membuat konklusi atas kegalauan saya sendiri. Sebuah kegalauan yang murni disponsori rasa-kurang-bersyukur berbalut penasaran khas anak muda. Perkara galau kali ini berakar pada diterimanya saya di sebuah sekolah bergengsi di Surabaya. Dengan predikat ‘internasional’ sebagai identitasnya, sekolah ini sempat saya perjuangkan sedemikian rupa.
Diterima disana, menjalani nego gaji, hingga melihat seluk-beluk beban tugas yang akan saya emban. Kegalauanpun tiba. Ada berbagai pertimbangan plus-minus yang menghampiri. Ruang hati yang awalnya disesaki rasa penasaran sekejap berubah penuh kebimbangan. Di titik itu saya kemudian menyadari bahwa kecerobohan saya memilih resign tahun lalu menghasilkan dua karakter ini: pertimbangan lebih cermat dan perasaan takut. Cermat untuk memilih agar realistis dan tidak merugikan diri sendiri, pun takut dan cemas salah memilih.

Atas dasar itu, saya meminta waktu untuk memikirkan dengan serius. Empat hari saya mohonkan ke pihak HRD. Mereka sepakat. Saya memulai kegalauan dengan sebuah bisikan tekad untuk taat. Permasalahannya saat itu justru karena saya tidak tahu apa kehendak-Nya, lalu bagaimana mungkin saya bisa taat?
Terkadang taat menjadi berkali lipat lebih sulit karena kita bahkan tidak yakin pasti mana yang terbaik. Akhirnya, petualangan ‘meraba kehendak-Nya’, saya mulai.



  • SENIN: MEMBACA ISI HATI

Saya meyakini, apa yang tertulis di alkitab adalah sebuah suara personal yang selalu relevan segala jaman. Maka, sudah semestinya jika kegalauan singgah maka pelarian pertama kita adalah buku isi hati-Nya itu.

Lewat buku renungan (gratis) yang dibagikan oleh gereja dimana saya berjemaat, saya mulai perjalanan ini. Saat itu intisari renungan berbunyi demikian: “karena Ia adalah Pencipta, maka jalan terlogis ialah menjalani hidup ini seturut petunjuk-Nya”. Mazmur 128 jatah sarapan pagi itu meneduhkan namun tak serta merta membunuh kebingungan. Senin itu saya buka dengan sedikit kesal, seakan ingin bergumam nada protes “Lah iya Tuhan, petunjuk-Mu itu apa toh?”

Ya.. memang ada waktunya hidup membuat manusia merasa layak dan mumpuni untuk menuntut sebuah penjelasan Pencipta. Padahal, tidak samasekali.
Saya kian menyadari bagaimana konsep ‘instan’ tidak pernah jadi ciri khas sang Khalik. Saya membayangkan betapa membosankannya hidup ini jika semua yang saya tanyakan segera terjawab dan semua yang saya inginkan cepat terkabul.


“Bukan hari ini jawaban pergumulannya," batin saya.


  • SELASA: MENCATAT DAN BERTANYA

Selain berpasrah, tugas manusia selanjutnya adalah menggunakan akal budi sebagai senjata untuk memetakan kurang-lebihnya sebuah keputusan. Di selembar kertas, saya mengambil waktu yang khusyuk untuk menuliskan segala cost and benefit. Tabel tersebut kemudian saya kirimkan ke dua orang terdekat saya: cece dan Riyan. Uniknya, di kesempatan yang terpisah mereka seiya sekata mengarahkan saya pada satu keputusan tertentu.

Menurut saya penting, untuk mendengar pendapat orang terdekat kita. Selain karena mereke mengenal baik kita, hal tersebut menjalin sebuah keterikatan yang berharga. Memang, tidak dapat dipastikan mereka selalu benar memberikan arahan, tapi yang jelas kita dapat mawas apakah keputusan kita akan beringan dengan pendapat keluarga atau sebaliknya. Alhasil, persiapan mental dapat dirajut lebih awal.


  • RABU: KONSULTASI KEPADA AHLINYA

Awalnya tiga orang senior saya pilih untuk saya hampiri dan mencurahkan segala keluh kesah. Pertama, kepala sekolah saya sendiri. Mengingat beliau adalah pimpinan sekaligus mentor saya, segala curahan pertimbangan tidak semata berorientasi pada profesionalitas. Justru, saya dibimbing untuk melihat segala kemungkinan dengan jernih.
Dengan raut yang teduh dan sejenak melepaskan atribut ‘senioritas’, beliau berucap:

“yang terpenting... jangan sampai merasa telah salah mengambil keputusan bahkan saat ada yang tidak beres dengan pilihan tersebut. “

Saya menarik nafas dan mematrikan jengkal kalimat itu. Baris kata itu menjadi begitu tajam menghujam karena sebenarnya saya kerap melakukan hal tersebut. Mempertanyakan pilihan diri sendiri ketika sesuatu yang tidak enak terjadi. Padahal seharusnya tidak demikian. Tuhan tidak pernah mengarahkan kita hidup dalam bayang ketakutan. Berani gagah menghadapi konsekuensi keputusan sama pentingnya dengan kemantaban kala memutuskan. Percakapan siang itu ditutup dengan doa. Beliau mendoakan saya, dan siapa sangka air mata menetes mengikuti hukum gravitasi. Senada dengan ayunan kaki melangkah keluar dari ruang kepala sekolah, ada sebuah kedamaian yang membuncah.

Orang kedua yang saya usik adalah pemimpin KTB saya. Miss Liona, namanya. Dia tegas sekali meresponi cerita saya. Fokus arahannya adalah motivasi dan prioritas. Melodi masukannya jauh berbeda, bukan mendamaikan namun memaksa saya untuk membedah hati saya sendiri. Sore itu di hadapan teh manis saya tertunduk menyadari bahwa ternyata banyak sekali keangkuhan dan keinginan-membuktikan-diri yang menelisip di hati.

Sudah.. saya kira cukup dua orang itu awalnya. Namun belum juga lega dan mantab hati ini. Maka, setelah menunda beberapa kali saya memutuskan untuk bertanya ke satu pembimbing. Bapak satu ini mentor saya dalam menulis. Namun saya juga mendaulat dirinya sebagai pembimbing saya, terlepas dia mau atau tidak. Sejak dia gencar memberi masukan soal LDR saya dengan Riyan, saya tahu persis saya dapat mengusiknya sesekali untuk bertanya.
Sayapun lugas melempar pertanyaan klasik, “bagaimana kita tahu kehendak Tuhan?”

“bagi saya kehendak Tuhan bukan jalan setapak, tapi ruas jalan di mana kita bisa pilih yang agak kiri, tengah, atau kanan. Sepanjang tidak bertentangan dengan firman Tuhan yang eksplisit.”

Kalimat ini kemudian dilanjutkan dengan hantaman tanda tanya.
“katanya mau pindah Jakarta?”
“ngapain pindah kalau cuma satu tahun?”
“yakin bisa handle tipe anak manja?”

Terlihat jelas ia tahu gambaran rencana saya ke depan, sehingga segala responnya bukan lantas semata menasehati namun membuat saya berpikir ulang banyak hal. Dinding kokoh ambisi fana saya, roboh seketika. Saya mulai mantab malam itu.


  • KAMIS: MEMOHONKAN KONFIRMASI*
(*Peringatan sederhana: tidak selalu Tuhan memberikan konfirmasi tersurat seperti ini. Maka, jangan menuntut. Jika ada, bersyukurlah imanmu sedang dimantabkan. Jika nihil, bersyukurlah imanmu sedang diperkuat)


Sudah ada satu keputusan di angan. Jika dikonversi ke prosentase, sekitar 95% telah mencapai kadar mantab dan bulat hati. Namun, namanya manusia, masih saja memelas konfirmasi untuk mengisi 5% kosong tersebut.

Di sela-sela waktu berbincang santai dengan para kawan kerja, topik perlahan tapi pasti beralih soal pekerjaan. Hingga singkat cerita, seorang guru matematika berkata spontan (saya mengetik ini dengan merinding mengingat kembali momen itu)

“kalau miss Adiss ingin coba-coba yang lain itu gak papa, bahkan saya lihat itu memang diijinkan Tuhan. Sampai akhirnya nanti miss bisa mantab tahu mana yang terbaik.”

Hati saya bergelimang kagum dengan cara sang Khalik berbicara dengan berbagai media. 5% terpenuhi saat itu. Satu kalimat celetukan yang memantabkan segala pergumulan ini.




Emailpun saya kirimkan. Sebuah ucapan terima kasih dan permohonan maaf karena tak dapat bergabung di institusi tersebut. Bagaimanapun singkatnya, petualangan ini  telah meneguhkan saya (lagi-lagi) soal penyertaan-Nya yang senantiasa sempurna. Ada saja yang Ia siapkan, bahkan kegalauanpun digunakan untuk membuat saya makin mengenal cara kerja-Nya yang berproses manis.

Kegalauan apapun yang sedang kita alami, semestinya kita mulai dengan kesadaran utuh bahwa Tuhan mengijinkan perjalanan iman yang kerap diisi tanda tanya. Namun melampaui tanda tanya itu, janji “semua baik” dan pernyataan “Aku menyertaimu” akan terbukti sempurna.
Kegalauan hanyalah satu alat untuk kita punya alasan berpetualang dengan-Nya. Ia kerap rindu menggandeng tangan kita mesra, hingga Ia dengan sengaja membawa kita pada rimba yang membuat kita gentar. Namun akhirnya, karena kita tahu di tangan siapa hidup ini berada, bara api di kakipun tak akan membuat kita berhenti melangkah. Gentar, iya. Berhenti, tidak.



Selamat berpetualang, kawan! Jangan mencobai diri dengan kegalauan, namun ketika itu terpaksa datang, sambutlah dengan riang. Itu artinya satu rute perjalanan iman, akan segera dimulai. 
Perjalanan selalu menyimpan cerita uniknya sendiri. Kali ini sesuai dengan jumlah foto yang saya sertakan, ada tiga babak cerita yang ingin saya bagi.

  • Babak pertama: di Kereta

Saya duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki muda. Kebiasaan mengajak bicara saya tahan sebab di hadapan saya ada dua tentara yang entah mengapa menimbulkan rasa ngeri. Buku Paulo Coelho menjadi teman tunggal. Hingga di stasiun Klaten, laki-laki di samping saya membuka obrolan. Rentetan rasa terkejut, dimulai.
Terungkaplah ternyata dia tinggal di Mulyosari. Tepat seperti kos saya berada, hanya berbeda gang saja. Saya dan mahasiswa ITS semester enam itu memulai bercakap seru soal aneka kuliner di satu ruas jalan Mulyosari. Dari penyetan hingga nasi padang favorit saya.
Ketika topil beralih soal jurusan kuliah, dia tiba-tiba bertanya: "aktif PMK mbak?"
Dan saya hanya mengernyitkan alis menahan rasa kaget. Saya lantas memilih pura-pura tidak tahu sekaligus memperkirakan kemungkinan kepanjangan PMK yang lain.
"Mbak aktif persekutuan di Unair?"
Timpalnya memperjelas. Bagi saya, kosakata PMK bukanlah hal lumrah dan familiar untuk ditanyakan seorang asing di gerbong kereta.
"Mbak Kristen kan?"
Saya makin terperanga dan akhirnya bertanya balik bagaimana ia tahu.
"Dari bagian buku yang mbak kasih stabilo"
Saya pecah dalam tawa. Unik sekali kejadian ini bagi saya pribadi. Buku yang saya baca bukanlah buku rohani bahkan, namun kutipan ayat dari surat Paulus itu siapa sangka jadi permulaan obrolan dan lahirnya satu teman baru.

Terakhir, giliran saya yang bertanya. Setelah tahu bahwa kami adalah saudara seiman, saya menanyakan dimana ia biasa beribadah dan anggota jemaat manakah dia. "Ibadah di GKI Manyar, jemaat GKI Depok" dan itu membuat saya makin terbahak geli. GKI Manyar adalah GKI terdekat dengan kosan saya sedangkan GKI Depok adalah GKI terdekat dengan rumah Riyan.

Ah mungkin saya yang mencocok-cocokkan. Tapi rangkai kebetulan ini tetap saya syukuri.


  • Babak kedua: Kebaikan Sebelum Bermalam

Sesuai rencana, saya dan Nurul akan bermalam dengan camping di sisi telaga Cebongan lalu mengejar sunrise keesokan harinya. Sayangnya, karena saya buta soal mendirikan tenda, maka Nurul menjadi pejuang tunggal. Jelas, dia kesulitan. Dua orang laki-laki menghampiri dan menawarkan bantuan. Segera, tenda kami berdiri kokoh. Dua mahasiswa Kelautan Undip semester dua tersebut berpamit ke tenda mereka sendiri bergabung dua rekan mereka yang lain. Hawa dingin yang menyergap ditambah rasa syukur atas bantuan dua mas tadi membuat saya dan Nurul kemudian berinisiatif membuatkan dua gelas susu hangat. Saya mengantarnya dan mereka cukup terkejut lalu berterima kasih. Kamipun menyusul mengisi perut kami sendiri. Akibat tidak siaga dengan uang tunai, kami harus bertahan dengan mie instan yang kami bawa. Semangkok berdua. Itupun kami lahap sembari berandai kami membawa telur. Sayapun berujar bahwa saya belum kenyang. Tak selang lama, seorang perempuan yang saya tahu teman mas yang tadi, mengembalikan gelas. Kami terkaget bahagia ketika menyadari bahwa itu bukan gelas kosong namun gelas berisi susu sereal rasa vanilla. Iya, mereka membalas pemberian kami yang sebenarnya adalah ungkapan terima kasih.
Bisa ditebak, kami tidur dengan perut lebih kenyang dan hati yang senang.


  • Babak tiga: Mie Telur sesaat sebelum Pulang

Hari terakhir tiba. Usai menikmati sunrise tertutup mendung di puncak Sikunir, saya dan Nurul turun. Uang kami tersisa 25.000 dan kami rencanakan untuk membeli pengisi perut secukupnya. Di tengah tapak perjalanan turun menuju deretan warung-warung, seorang bapak menyapa. Ia adalah seorang tour-guide yang kami temui ketika kami iseng tracking di petak sembilan Dieng sehari sebelumnya. Saat itu dia sedang menunggu rombongan dari Malaysia, dan kami mengobrol cukup lama sebelum saling berpamit. Pagi tadi, ia hadir dengan satu temannya. Kami menuruni tangga demi tangga rute Cebongan-Puncak Sikunir. Hingga di depan warung mereka mengajak kami singgah.
"Tak bayari mbak, ayo sarapan sek" begitu kata pak Eko.
Walau suka gratisan, kami jelas ragu awalnya. Namun atas dasar rasa percaya, kami menerima ajakan itu. Mereka bercerita soal suka duka menjadi driver sekaligus tour-guide. Pun soal pengalaman unik selama menjadi guide bagi wisatan asing dari Australia hingga Kanada. Saya dan Nurul mendengar dengan antusias. Mereka juga memberikan kami tiga kemasan Carica sebagai buah khas Dataran Tinggi Dieng. Sesaat sebelum berpamit, kawan pak Eko (kami lupa berkenalan) memesankan dua mangkok mie kuah plus telur kepada ibu warung untuk kami dan membayar lunas semuanya. Kami terus berterima kasih dengan rasa takjub penuh syukur. Bukan hanya karena perut kenyang, namun lebih kepada kebaikan di baliknya.



Selain tiga 'kebetulan' tersebut, masih ada bapak-bapak yang TANPA DIMINTA mengarahkan jalan pedesaan kepada kami yang memang menghindari jalan besar penuh truk dan polusi. Alhasil, rute penuh sawah kami nikmati. Juga bapak penduduk yang menunjukkan beberapa spot untuk kami explore. Ya.. tanpa diminta.

Saat kami merenungkan rangkai 'kebaikan' ini, Nurul hanya berkata "ini memorable banget mbak. Rejekinya mbak Adiss nih." Saya tersenyum merasa bahwa ini memang akan jadi petualangan yang akan saya kenang. Dengan nada bercanda, saya bertanya apa yang ada di wajah kami berdua sehingga semua kebaikan itu tiba bahkan tanpa diminta. Apa kami terlihat kelaparan? Apa mereka semua bisa menerawang hati, pikiran, perut, dan dompet kami?

Nurul hanya tertawa.
Gadis berjilbab mahasiswa UGM tersebut kemudian berujar bahwa 300 km yang nekad ini telah diisi banyak berkat. Saya lagi-lagi sepakat. Pun kami menyimpulkan bersama bahwa rangkai kejadian manis ini sudah sepatutnya menyemangati kami untuk berbuat baik untuk orang lain pula.

Jadi...kalau saya disuruh memilih judul petualangan ini, maka kalimat dari Nurul-lah yang akan saya pinjam:


"Perjalanan Nekad Penuh Berkat"
Semarang menjadi saksi bagaimana saya dan para rekan dalam Ignite menikmati rasa panik sebagai bagian dalam skenario untuk mewujudkan prinsip "Urip iku Urup".
Sebagai tim penulis, sedari di Surabaya kami tahu jelas bahwa tugas kami adalah wawancara dan membuat artikel liputan. Satu-satunya nama yang terus kami bahas adalah pendeta Agus Tato. Seorang pendeta jalanan yang membumikan kasih Penebus dengan cara melayani "kaum terpinggirkan".
Hari yang dinanti tiba. Kami siap dengan daftar pertanyaan. Seorang kawan sebelumnya pernah bertemu mas Agus dan memberi kesan "orangnya intimidatif sekali". Jelaslah sudah itu menjadi alasan kepanikan pertama saya.
Dengan sepatu boot merah, diantar panitia dia melangkah ke ruang wawancara yang telah kami siapkan. Kami berkenalan dan segera hendak memulai.
"Sek bentar.. kamu itu cocok sekali jadi presenter di TV"
itu komentar pertamanya terhadap celoteh saya dengan tempo lebih cepat dari biasanya dan tak lain untuk menutupi tumpukan kepanikan. Kamipun tertawa. Siapa sangka durasi berjalan mulus, tak ada tatapan intimidasi. JUSTRU ada menit-menit haru hingga mata mas Agus berkaca-kaca. Saya bersyukur tak henti atas sesi santai penuh inspirasi bersamanya. Mengalir dengan penuh tawa bahkan. Ketakutan sirna.




Tak selang lama, panitia menghampiri kami.
"Cameo Project dan Tokopedia lagi kosong. Silakan masuk buat wawancara"
Kira-kira begitu bisikkannya ke salah satu rekan saya.

Saya, dan kami semua, terbelalak.
Cameo Project? Tokopedia? Wah yang bener!


Ekspresi itu perpaduan syukur atas kesempatan berharga namun tak kalah aroma panik sebab tak SEBIJI pertanyaanpun kami siapkan untuk mereka. Saya sebagai pewawancara ketakutan dan salah tingkah seketika.

Tiba-tiba saya dibawa pada pengalaman sekitar tahun lalu, dimana PERTAMA KALI saya melakukan wawancara. Tepatnya untuk liputan kegiatan pemuda GKI Citraland di Pondok Pesantren. Kala itu, perdana saya belajar menyiapkan pertanyaan dan berlatih membawa suasana menyenangkan senantiasa mengalir.

Kini apa yang di depan saya adalah sebuah kejutan. Bertemu sosok penuh prestasi di balik Tokopedia dan Cameo sebagai Youtubers yang menebar pesan positif.

Saya tahu persis Tangan di balik ini semua. Saya mengenal cara kerja semacam ini. Dipersiapkan dari kepercayaan kecil untuk melaksanakan sesuatu yang lain di hari depan. Saya dikuatkan.

Dengan notes kecil di tangan, saya mantab menemui Doni sebagai perwakilan dari Tokopedia. Dibandingkan menjadi sesi wawancara, saya rasa obrolan kami yang langsung memanggil nama tak ubahnya percakapan antar kawan. Yang satu gemar bertanya yang satunya telaten menjawab. Sudah.. sesederhana itu. Untungnya, saya tak buta soal Tokopedia. Sehingga konteks pertanyaanpun masih dalam kendali.




Giliran Doni berakhir, Cameo duduk mendekat. Kepanikan saya kembali membuncah. Bukan hanya karena berhadapan dengan 'artis' yang pastinya telah bertemu pewawancara yang jauuuuuuh lebih handal, tapi juga karena SAYA GAK PAHAM YOUTUBE! Hello! I mean it. Tidak banyak konteks yang saya kuasai. Saya hanya berusaha melawan kepanikan, atau mungkin sekadar membungkamnya. Wawancara mendebarkan itu mulai berjalan santai dan akhirnya selesai. Kami sebagai pewawancara dikenyangkan dengan berbagai pesan.


Esoknya setelah menelpon mas Agus Tato, kami mengujungi Yayasan yang ia dirikan. Sebuah petak rumah mini untuk anak-anak penduduk sekitar datang dan belajar bersama. Setelah berputar mencari alamat, saya bersama empat teman lelaki berbaju hitam menemukan gang yang dimaksud. Saat driver taksi online mulai menurunkan kecepatan, sebuah pemandangan hadir. Di pinggir jalan dua laki-laki membentak dan memarahi seorang laki-laki di dalam mobil. Bukan adegan bercanda jika dilihat dari ekspresinya.
"Ini memang gang preman, mbak" kata sang supir.

Kepanikan datang lagi. Mimpi apa juga semalam saya singgah ke gang semacam ini. Keempat teman saya hanya tertawa melihat respon kepanikan yang memang gagal saya tutupi. Kami berjalan cepat menuju rumah Yayasan tersebut. Sebuah petak tak luas berdinding warna merah muda. Kami segera hanyut dalam durasi menyenangkan bersama anak-anak SD yang sedang belajar bersama.


Dari rangkaian pelayanan ini, saya menjadi makin akrab dengan sisi diri yang mudah panik. Saya belajar memperlakukan kejutan hidup dengan lebih santun dan tidak berlebihan. Misalnya dengan kemampuan menarik nafas dan mendamaikan diri. Serta secercah kepercayaan bahwa rekan di samping saya bisa diandalkan.

Dimulai dari isu "intimidatif" mas Agus Tato, jadwal wawancara mendadak, hingga adegan preman yang berulah, semua menjadi bumbu yang layak dikenang.
Sang Pencipta bukan saja Maha Kuasa dan Maha Romantis, dengan membukakan berbagai peluang bagi kami. Ia pula agaknya Maha Humoris, yang kerap mencari alasan tertawa hingga mengijinkan umat-Nya berkeringat dingin atas sesuatu yang memang Ia jaga agar tidak membahayakan samasekali.

"Semarang menjadi arena membungkam kepanikan dan mengetahui bahwa Ia adalah Tuhan!"

Bagi saya tidak ada konklusi lain yang lebih baik dari ini.
Setiap kita sudah tentu memiliki sebuah konsep “pemberian terbaik”. Ada yang menakarnya dari harga, ada pula dari kualitas, atau mementingkan nilai fungsi. Begitu pula ketika kita sedang berusaha “memberi” untuk orang lain. Bagi saya pribadi, pemberian terbaik adalah pemberian yang disertai penyangkalan diri namun tetap dipenuhi rasa sukacita. Perdebatan “lebih baik memberi uang” atau “lebih baik memberi waktu” menjadi begitu sia-sia, sebab setiap orang bergumul dengan penyangkalan diri tertentu. Semisal saya ketika kuliah yang sangat minim budget namun melimpah waktu luang, memberi dalam bentuk uang adalah tantangan terbesar. Namun kini, dengan gaji –yang lebih dari cukup, menyediakan waktu menjadi sebuah penyangkalan diri. Atas dasar itulah, ketika memikirkan proyek kasih, titik tekan saya adalah tentang waktu dan ketelatenan. Apakah saya dan teman-teman saya akan sanggup?

Tercetuslah satu kegiatan untuk memberi para oma-opa di Panti Werda sebuah kado sesuai keinginan mereka. “As They Wish” begitulah kalimat yang baru saja mencuat di kepala.
Saat itu hari Minggu usai persekutuan guru Gloria, kami bergegas untuk mencari tahu apa keinginan oma-opa dengan berkunjung ke panti tersebut. Siapa sangka, 15 Oma dan 3 Opa menyambut kami dengan hangat.
Kami berbincang untuk mencari tahu apa yang diinginkan masing-masing mereka. Awalnya saya pribadi mengira itu akan dijawab semacam “selendang” atau “daster” atau “kaos”, namun siapa sangka permintaan oma opa itu spesifik, lucu, dan mengharukan. Misalnya Oma Arlina yang meminta jas hujan. Ketika kami tanya, jawabannya sangat sederhana namun tangkas menegur kami. “Supaya kalau hujan, tetap bisa jalan kaki ke gereja”. Rasanya saya begitu malu, dengan motor dan jas hujan kadang saya menjadikan rintik air sebagai alasan untuk membolos ibadah. Sedangkan seorang Oma dengan tubuhnya yang renta, mencari cara untuk tetap menemui Penciptanya di gereja.

Oma kedua yang kami tanyakan adalah Oma yang sangat ceria. Ketika kami bertanya, dia berpikir lalu menoleh ke arah lantai. Seketika dia berkata “oma mau sepatu kayak nonik ini”, jawabnya sambil menunjuk ke arah sepatu yang sedang dikenakan ce Jessica. Oma Evy Maria kemudian mencoba sepatu itu agar kami dapat memperkirakan nomor kakinya. “Wah ini pas banget, ini buat oma aja ya,” ditutup dengan gelak tawa yang menyenangkan. Kami tak berhenti tersenyum.
Permintaan ada yang begitu sederhana seperti “selendang yang lembut” atau “daster pink”, namun ada pula permintaan semacam “daster dengan renda di bagian leher, berlengan, motif batik, dan ada kantongnya”. Bagian soal renda di leher itu membuat kami sekelompok kebingungan hingga berakhir dengan miss Ona yang menjahitkan renda manual di satu daster yang kami beli.

Pertemuan pertama ini membuat saya paham betapa mereka ingin didengarkan, bahwa mereka juga memiliki selera dan keinginan. Saya makin bersyukur dengan konsep proyek kasih kami. Tidak sekadar memberi namun dapat tepat sesuai keinginan hati.

Seusai keinginan hadiah direkap, kami berenam segera membagi tugas. Siapa beli apa. Tidak ada samasekali pertimbangan rata atau tidak. Komitmen semata. Dan lagi-lagi saya paham, memang menyenangkan memiliki orang yang sehati dan seidealisme dengan kita.

Setelah sebulan pencarian kado dilakukan, hari ini menjadi pertemuan kedua dan puncak acara. Kami hadir dengan 18 kado, dan makan siang. Tak kalah, hati yang siap bersukacita bersama. Respon mereka di tengah siang panas Surabaya hari ini memastikan bahwa jerih lelah kami tak sia-sia. Mereka menyambut kami dan segera berkumpul untuk persekutuan kecil. Uniknya, di usia mereka yang senja, ketika ada kesempatan untuk persembahan pujian, selalu saja ada oma yang mengajukan diri. Dari lagu “setinggi-tingginya langit” dan lagu tahun 70an yang sesungguhnya tidak pernah saya dengar sebelumnya. Saya bahagia melihat kebersamaan kami.



Waktu untuk membagi kadopun tiba. Pukul 11.30 adalah jam makan siang mereka, maka sekalian kami bagi sekotak nasi. Sebelum berpindah ke ruang makan, kami sempatkan foto bersama lalu berpamit. Namun beberapa oma menahan kami dengan jabatan tangan terima kasih yang berulang. Sebuah respon yang manis, hangat, dan lagi-lagi membahagiakan. Kami yang juga masih betah menghabiskan waktu disana, menyempatkan singgah ke kamar Opa Agus yang sedang terbaring sakit. Kami menyerahkan hadiah buatnya. Saat saya di ambang pintu, saya tak sengaja melihat Oma Liang yang telah membuka kadonya. Sesuai permintaan, tas coklat ia dapatkan. Namun responnya menjadi sangat berharga untuk saya kenang. Dia berlari dan memamerkan tas barunya. Oma yang lain menyambut dengan tawa berbalut ekspresi ingin segera menyelesaikan makan siang untuk membuka kado.

Dari dua kunjungan ini, kami yang niatnya membuat bahagia justru dibuat bahagia tak kurang-kurang. Memang benar, ketika kita sibuk membahagiakan orang lain alih-alih menjadi egois dengan hidup sendiri, maka bahagia pula yang kita tuai.

Ini sebenarnya proyek kasih kedua saya bersama teman KTB guru di Gloria. Pertama, kami memilih yayasan anak kanker sebagai penyaluran bahasa kasih. Kali ini, panti werda.
Tadi di perjalanan, Wisye berucap dan berterima kasih karena gagasan proyek kasih yang saya ajukan. Berselang hitungan detik, saya menimpali bahwa sayalah yang sesungguhnya bersyukur sebab dikelilingi orang yang mau mendengar, mengindahkan, dan mewujudkan gagasan itu bersama. Bahkan ce Jess dengan sabar menahan malu menemani saya menjual baju bekas di pasar Mulyosari.
Ini adalah konsep kegiatan kedua setelah proyek “Dedicated for a Life” yang juga saya gagas dengan menggunakan prinsip ATM. Amati (dari lembaga nirlaba tertentu), Tiru, dan Modifikasi. Bersama Helen dan kak Ajeng dua sahabat saya, kami berjerih lelah penuh sukacita bersama dan mengajak rekan pemuda GKI Residen Sudirman untuk bergabung.

Saya mungkin hanyalah seorang konseptor –yang hanya bisa memodifikasi ide yang sudah ada. Namun juga seorang pengecut karena tidak pernah berani melakukan sebuah aksi sendirian. Hanya saja, Tuhan memang tahu benar kelemahan ini dan menganugerahkan saya rekan untuk mengeksekusi sebuah gagasan. Kata orang “niat baik akan selalu mendapatkan jalan”, saya yakini hal tersebut tepat adanya.

Tulisan yang saya tulis sembari terus tersenyum dan hampir mencapai 1000 kata ini, tidak lain untuk menyemangati kita bersama untuk melakukan sesuatu sebagai ucapan syukur. Menurut saya pribadi, masa bekerja adalah masa emas untuk berbagi. KSeperti yang terus terulang di caption atau di sela tulisan, saya merasa lebih dari cukup dengan gaji yang Tuhan beri. Saya bisa pergi ke luar kota untuk belajar atau sekadar pelesir, membeli buku, atau makan kekinian. Maka, akan sangat egois jika saya (dan kita semua) lupa berbagi.

Sekarang saya akan memikirkan sebuah konsep proyek kasih yang lain. Saya tidak tahu kawan mana lagi yang akan Tuhan beri sebagai rekan sepelayanan, saya juga tidak tahu kapan itu akan terealisasi. Satu saja yang saya yakini, untuk niat baik akan selalu menemukan jalan.

Selamat berbagi, teman-teman. Di luar sana ada begitu banyak orang yang kesepian atau setidaknya ingin sedikit lebih diperhatikan. Mari jangan jemu berbuat baik, karena apabila datang waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

“how far you go in life, depends on your being tender with the young, compassionate with the aged, sympathetic with the striving, and tolerant of the weak and strong. Because someday in life you will have been all of these.” –George Washington Carver
2009
Masa kuliah adalah masa termiskin saya. Minimnya dana tak lain adalah imbas kegagalan pengaturan ekonomi keluarga. Jenjang 8 semester disponsori oleh kebaikan hati seorang saudara ditambah beasiswa untuk menyambung hidup. Di masa itu, bukan hanya saya yang berjuang survive di tanah rantau, tapi juga mama papa di rumah. Ah saya enggan memberikan detail rincinya, karena hari-hari ini begitu menguras hati, dan untuk tulisan ini saya bertekad akan mengarunginya dengan tegar. Tanpa air mata.

Di masa kesulitan ekonomi kami, setiap saya pulang ke rumah, selalu terhidang makanan enak, Tak mahal, kadang hanya sayur bayam dan dadar jagung kesukaan, tapi nikmatnya menjulang luar biasa. Segala keterbatasan juga membuat saya harus tidur di rumah yang tak elok, ada beberapa sisi yang bocor, tapi lagi-lagi tak mengurangi kadar bahagia. Lalu di sebuah siang, dengan sepeda motor bekas yang baru papa beli, ia mengajak saya pergi. Tanpa memberitahu mama apalagi cece.

Tidak jauh dari desa saya: Jatiroto, ada sederet orang yang mengadu nasib dengan berdagang buah favorit kami sekeluarga: durian. Kami menempuh perjalanan sekitar 15 menit, dan sampai pada satu penjual durian yang kami pilih secara acak. Kami duduk, dan makan durian berdua. Sembari melumat dengan lahap setiap biji, kami membicarakan banyak hal. Ia selalu ingin tahu soal kuliah saya, apa ada kendala dan apa saja yang sudah saya pelajari. Iya, itu memang kebiasaannya sejak dulu kala. Saat saya SD, setiap pulang sekolah ia tak pernah absen bertanya: "Belajar apa hari ini, Dis?" dan itu memaksa saya untuk serius memperhatikan saat di kelas agar bisa menjawab pertanyaan demikian dengan mantab.

Setelah hampir usai kami mengosongkn setiap celah di buah tersebut, papa segera membayar sesuai harga yang telah disepakati di awal (setelah tawar-menawar yang hebat!). Sejenak sebelum pulang dan kembali naik ke motor, papa berkata "Dis, jangan bilang cece nanti dia iri papa belum belikan durian. Kalau ada uang lebih nanti gilirannya cece."


Entah bagaimana, orang tua selalu punya kekuatan untuk mencintai anaknya.


2017
Hari Valentine tiba lagi. Tepatnya, ini kali ketiga saya dan Riyan merayakan sebagai sepasang kekasih. Tahun lalu kami mengisi tanggal ini dengan sepiring rawon pak Pangat di daerah Wonokromo. Kami beri judul "valentine romantis nan ekonomis". Di saat yang sama, lewat instagram kami menyaksikan beberapa kawan mengemas hari yang penuh pro-kontra ini dengan lunch istimewa di berbagai kafe elit. Kami seketika merasa hina.

Hari ini, tak lebih baik. Masih nihil ceremonial. Masih tidak ada bunga dari kekasih saya. Coklatpun tiada, apalagi durian! Aiiih dia pembenci akut buah surga tersebut. Tapi anehnya, saya merasa tak kurang dicintai. Di siang tadi, ia menelpon saya. Sebuah tindakan yang tidak pernah ia lakukan sejak di tempat kerja yang baru. Menyapa hangat dan berderai canda tawa di durasi tak lebih dari 5 menit. Di malam hari, ia yang sudah berpamit tidur, memaksakan dirinya untuk bercengkrama dengan saya terlebih dahulu. Ia kemudian menutup dengan kalimat "semoga tahun depan bisa makan enak merayakan bareng ya".

karena kasih itu mau melangkah bersama, apapun kondisinya.



---
Kisah 2009 dan 2017 itu punya kesamaan, bahwa baik durian dan telepon siang bolong telah menyuarakan bahasa cinta yang amat besar. Di tengah berbagai distorsi akan makna kasih, keduanya membawa saya pada satu simpulan: Kasih itu berjuang. Dan berharap.

Dengan keterbatasan uang, pengeluaran puluhan ribu untuk durian adalah pemborosan, tapi papa masih saja mencoba membahagiakan saya. Dengan segala kesibukan, keterbatasan dana untuk beli tiket, dan jarak yang membentang, Riyan pun mengupayakan lahirnya perasaan dicintai bagi kekasihnya.
Itulah kasih yang saya hayati hari ini: Kerelaan untuk melewati kesulitan, kesediaan untuk mengusahakan perbaikan, dan pengorbanan melampaui keterbatasan.

Di bagian akhir kisah, selalu ada sebuah harapan yang dilontarkan. Baik dari papa dan juga Riyan. Satu lagi unsur kasih bagi saya adalah: harapan. Bukan hanya tataran perasaan tapi iman dan kesanggupan untuk percaya. Sudah banyak orang yang mati rasa dan berhenti berharap karena dipahitkan keadaan, tapi disitulah kasih berperan. Ia memampukan manusia untuk percaya pada sesuatu yang bahkan belum dilihatnya. Kasih menyanggupkan seseorang bermimpi dan memberi kekuatan untuk menerima segala kemungkinan.


Karena bukan Cinta, jika terlampau pasrah. Bukan Cinta, jika tidak percaya. 

Perjuangan dan harapan, itulah inti kisah percintaan yang sesungguhnya. Kadang semahal keberanian mengajak menikah disertai cincin berlian, tapi kadang juga semurah harga durian dan telepon di jam makan siang.

Kado indah, makan malam mesra, hingga sepucuk surat merah muda, semua hanyalah pernak-pernik pemeriah. Tapi yang terpenting:
Kasih itu Berjuang. Sudahkah kita?