Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Narasi yang dibuat saat perjalanan menuju make-up prewed
Voice over yang direkam di sebuah kafe teduh di Depok
Direkam dengan menyenangkan bersama kawan dan pasangan






Saya pribadi sering menyayangkan video prewed yang hanya diisi potongan rekaman visual tanpa dengan jernih memberi tahu 'penonton' kisah pasangan. Menyadari hal itu, sedari awal saya bertekad membuat konsep storytelling dengan menceritakan tentang proses relasi kami, beberapa perbedaan, ucapan terima kasih, dan pastinya pernyataan iman kami ke Tuhan.

Gayung bersambut @joephotographie dan Eunoia video ternyata sedang ingin mencoba konsep video serupa. Mereka antusias karena akhirnya menemukan pasangan yang mau merekam suara sebagai latar video.

Memang ya, niat baik akan dipertemukan dengan tangan-tangan baik :) terima kasih sudah bersenang-senang denganku. Dan kamu yang sedang membaca, kalau suatu hari merasa butuh dibantu untuk membuat narasi, silakan kontak saya *eh kok ngiklan.





Januari
Menjadi Pandu sidang PGI di Palopo
Pengalaman ini menjawab rasa penasaran saya tentang PGI dan siapa sangka melahirkan banyak pengalaman berharga dan teman-teman baru dari segala penjuru
Eksplor Maros, Makassar, dan Toraja
Mencari satu teman penduduk lokal lalu berjalan bersama-sama dengan sepeda motor, adalah salah satu keputusan traveling terbaik.

Februari
Mengisi workshop menulis perdana
Bertempat di GKI Pinangsia, Jakarta, impian kecil awal tahun mulai bersambut restu Pencipta.

Maret
Panggilan kerja pertama dalam rangkaian #kerjadiJKT
Lowongan yang didapat dari seorang teman ini sebenarnya meminta sarjana Teologi sebagai syarat. Namun saya beranikan mencoba, sayangnya tetap tidak memenuhi kebutuhan pemberi lowongan.


April
Naskah dibukukan
Magdelene mengirim email di awal April untuk menginfokan bahwa satu tulisan saya terpilih untuk dibukukan dengan naskah-naskah lain yang pernah terbit di portal tersebut.

Kelas Menulis kedua
Jobhun Surabaya mengundang saya untuk mentoring tentang menulis di dunia digital

Liputan dari idn times
Profil saya tayang di idn times sebagai salah satu cerita hasil liputan untuk merayakan ‘bulan perempuan’

Gili Ketapang
Memanfaatkan libur UNAS, saya sendirian berpelesir ke Gili Ketapang dan mengeksplornya sendirian sepanjang hari.

Mei
Episode akhir Perjuangan #kerjadiJKT
Saya bolak-balik Surabaya-Jakarta-Surabaya dengan beberapa proses seleksi baik sebagai editor ataupun guru. Sempat dipanggil hingga tahap kedua oleh Kompas Gramedia, sayangnya gugur sebab saya dengan sangat terpaksa meminta reschedule untuk proses selanjutnya. Tepat tanggal 29 Mei, pencarian berakhir. Sebuah sekolah di Jakarta Utara dipilihkan Tuhan untuk menjadi tempat saya berproses selanjutnya.

Liputan dari Jobhun
Setelah bertemu di bulan April, mereka meminta saya berbagi untuk rubrik #ceritakarier di website mereka.

Juni
Mulai pindah ke Jakarta
Sebuah tapak baru akhirnya dimulai, tepatnya di tanggal 22. Perasaan di masa-masa itu tidak lain penuh percampuran antara rasa antusias dan kecemasan. Terus mengingatkan diri sendiri: "aku akan baik-baik saja".

Tulisan publish di Majalah Berkat

Pelesir ke Pulau Seribu
Sebuah perjalanan mendadak dengan beberapa teman yang juga sama impulsifnya dengan saya.

Juli
Menyambut (dan disambut) komunitas baru
Rutinitas di pekerjaan penuh waktu dimulai. Tanpa lama, menemukan beberapa teman dekat untuk berdiskusi baik di dalam atau luar lingkungan sekolah. Murid-murid yang menjadi rekan belajar juga tak kalah serunya.


Agustus
Hal-hal kecil yang membahagiakan
Nonton ASEAN Games, balik pakai iPhone, tulisan nongol di buku acara Festival Sastra Kristen yang digagas oleh PGI, dan mulai menggarap proyek sebagai copy writer freelance

September
Kelas Menulis Ketiga
Menjadi pembicara di kelas menulis di kampus Marturia Jogja. Senang sekali bisa berkunjung ke Jogja, mendapat feedback positif, bahkan mempersiapkan kelas selanjutnya.

Oktober
Kelas Menulis Keempat
Bertempat di Sekolah Penabur Internasional, kelas menulis kali ini adalah rangkaian dari Ibadah Raya Pemuda GKI se-jakarta. Peserta tergolong sedikit, namun tetap saja ada yang akhirnya bergabung menjadi kontributor dan berkarya bersama-sama.

November
Project ke Lapas Anak
Untuk tugas akhir siswa, saya bersama beberapa guru dan siswa IPS kelas 11 dan 12 berbagi kasih dan keceriaan di lapas anak. Kegiatan ini menjadi pengalaman perdana bagi saya, pun bagi mereka.

Gagal CPNS
Ketiga kalinya.

Desember
Kelas Menulis Kelima
Awal Desember dibuka dengan sangat menggembirakan sebab boleh mengisi lagi-lagi di Jogja. Acara ini digagas oleh GKI Gejayan, dan mempertemukan saya dengan tiga pembicara hebat lainnya. Sebuah momen istimewa sebagai ending dari rangkai perwujudan mimpi “berbagi soal menulis” di 2018. Menanti episode 2019.

Little Pause, Comma Books
Akhirnya mengikuti kelas menulis yang semuanya di luar zona nyaman bahasa sehari-hari saya dalam menulis.

Liburan dari pantai ke gunung
Menutup tahun dengan pelesir singkat di bawah terik matahari pantai lalu sejuk pegunungan. Perfecto!


Dengan rangkai suka dukanya, 2018 adalah tahun yang sangat saya syukuri. Doa terwujud, hobi terus digeluti, teman bertambah, tubuh sehat, dan ditambah beberapa pintu berkat lain. Semoga 2019 Tuhan masih terus berwelas asih memberikan segala kemampuan untuk mewujudkan mimpi :')

2019, bring it on!

Dalam 350an hari sebelum tulisan ini dibuat, banyak pelajaran yang Tuhan beri bersamaan dengan peristiwa dan momentumnya masing-masing. Namun setelah dihayati dengan lebih tenang, 2018 saya terbagi menjadi empat babak dengan pelajaran khas-nya masing-masing.

Izinkan sekali lagi secuil kisah hidup saya bagi di blog usang ini. Terima kasih telah menjadi teman.





1. Berdamai dengan ketidaksepakatan dan merayakan kesediaan mendengar

Surabaya, Januari-Mei 2018

Satu semester terakhir di tempat kerja saya yang lama bisa dibilang sangat sulit. Akibat banyak kegiatan yang saya ikuti berhubungan dengan menulis dan pengembangan diri (yang rata-rata tidak dilakukan di Kota Surabaya), saya harus dengan sabar menelan banyak sinisme rekan kerja. Belum lagi antara Maret-Mei saya harus bolak-balik Surabaya-Jakarta dan tentu sebagian di hari efektif.
Di titik itu saya belajar, semua orang di sekitar kita bisa dengan sangat mudah menghakimi. Mereka bisa dengan enteng bermain asumsi dan bergosip. Stay above them. Walaupun dicecar banyak luka saat itu, saya belajar bahwa ketika kita tidak sanggup menjelaskan satu per satu alasan atas sebuah keputusan, ketika kita tidak punya cukup kerelaan untuk membagi pergumulan ke orang yang kita rasa tidak dekat, maka kita harus belajar berdamai dengan ketidaksepakatan bahkan tuduhan yang terasa kejam.

Di tengah pergulatan itu, saya sempat senang sebab beberapa orang berusaha melakukan konfirmasi atas asumsinya dengan mengajak saya bicara. Awalnya saya kira itu untuk mengetahui sudut pandang saya, namun sayangnya alih-alih ditujukan mengurai kesalahpahaman, kadang dialog diinisiasi seseorang semata untuk memberitahu bahwa kita salah dan dia benar. Awal tahun ini saya diingatkan 

the biggest communication problem is we do not listen to understand. We listen to reply.”

Ketika kita sudah kerap dikecewakan sebab kita tidak didengarkan, maka saya rasa cara terbaik untuk memutus rantai itu dan wujud pengampunan sesungguhnya adalah dengan belajar menjadi pendengar yang lebih baik. Kesediaan “mendengar” sejak saat itu akhirnya menjadi satu kualitas yang saya usahakan untuk diri saya sendiri di sepanjang tahun ini dan jadi kualitas yang saya hargai dari diri orang lain. Sangat saya hargai.


2. Allah memang selalu punya cara

Menuju Jakarta, April - Mei 2018

Sedari awal tahun dan pasca gagalnya CPNS kedua kali, saya tahu ada tanggungan penting yang harus dikerjakan: mencari kerja di Jakarta. Usaha yang saya beri judul #kerjadiJKT menjadi agak drama karena terselip di dalam hati: “Tuhan kalau boleh tahun ini beri pengalaman pekerjaan selain guru. Dan tolong, sebelum Juni sudah datang kepastian.”

Harapan itu mengarahkan usaha saya untuk melamar sebagai editor di beberapa tempat sembari melamar di sekolah. Sayangnya, saya makin tahu ke mana Dia mengarahkan dengan hilangnya kesempatan menjadi editor penuh waktu di salah satu penerbitan terbesar di Indonesia sebab saya meminta reschedule wawancara usai lulus tes tulis. Akhirnya saya berlabuh di sebuah sekolah dengan sebuah simbolik legal yang sulit dibantah: tanda tangan kontrak. Tepat di akhir Mei.  Kejadian ini membuat saya tahu Dia mengabulkan doa saya tentang “kepastian sebelum Juni” namun agaknya masih menggeleng tentang “kerja penuh waktu selain sebagai guru.”

Tanpa perlu mendetailkan rinci kronologisnya, saya belajar bahwa Tuhan selalu punya cara-Nya sendiri untuk menghantarkan kita ke tempat yang Dia siapkan. Kadang itu mengundang tawa, kadang membuat kita jantungan, kadang memancing kernyit alis seraya berujar “ga salah nih, Tuhan?

Salah satu kejadian paling bercanda adalah momen berderingnya gawai tepat saat saya keluar dari lift lantai empat sekolah lama. Momennya dramatis semacam sinetron, kalau saya ingat. Sebuah telepon dari website anak muda yang sedang sangat maju di Indonesia. Panggilan dari mereka tidak bisa saya penuhi mengingat saya sudah tanda tangan kontrak sesaat sebelumnya. Lalu pihak penelpon berkata cukup kecewa dengan hal itu. Saya jadi ikut agak kesal kenapa juga lamaran yang sejak lama baru ditindaklanjuti hari itu. Respons mereka membuat saya terdiam: "kami sudah berkali-kali mencoba menelpon namun tidak pernah berhasil."
Alih-alih sedih, saat itu saya tahu persis bahwa Tuhan masih ingin saya jadi guru. Selama ini banyak telepon masuk baik-baik saja, bagaimana mungkin mereka gagal? Saya tahu persis Siapa yang bisa membuat skenario sebercanda ini.

Tuhan mungkin mengajak bercanda secara skenario, tapi Dia tidak sekalipun bercanda untuk memenuhi janji-Nya bahwa Dia akan menjalankan dengan sempurna semua rencana baik-Nya.


3. Allah peduli harapan yang diam-diam ada di hati 

Jakarta, sejak Juli 2018


Ingat baris doa permohonan saya di poin sebelumnya? Walaupun tetap menjadi guru sebagai pekerjaan penuh waktu di tahun ini, terungkap dalam prosesnya ternyata Tuhan mengabulkan juga keinginan saya untuk 'bekerja' di bidang menulis. Seorang kawan yang mengenal saya dari IGNITE memberikan peluang untuk saya menjalani side job sebagai Copy Writer. Ini poin pertama yang membuat saya tahu, Tuhan peduli sekali dengan keinginan dalam hati saya. Bahkan tanpa saya apply, kesempatan itu datang. And of course, I couldn't ask for more. 

Salah satu hadiah terbesar dari tempat kerja saya saat ini, adalah bertemu dengan orang-orang yang punya minat serupa. Atau setidaknya, mau mencicipi kecintaan yang serupa. Selama empat tahun di sekolah lama saya merasa kesepian sebab tidak ada yang benar-benar bisa saya ajak untuk bergairah tentang menulis. Tapi benar, lagi-lagi, Tuhan peduli bahkan terhadap kerinduan yang diam-diam ada di hati.

Di satu siang, saya menceritakan tentang ini ke pak Sur (seorang rekan guru yang kini juga aktif menulis di laman IGNITE) bahwa saya senang sekali mengundang rekan kerja untuk menjadi rekan sehobi. Bagi saya, beliau dan beberapa rekan lain telah jadi hadiah. Telah jadi pengabulan doa. Lalu saya ingat beliau balik bercerita bahwa guru senior yang saya gantikan adalah penulis banyak buku puisi, telah mengajak sedemikian rekan-rekan guru untuk menulis. Hingga beliau pensiun, beliau tidak melihat harapannya terwujud. “Lalu miss datang, dan tanpa lama sudah mengajak beberapa orang aktif menulis. Saya rasa miss itu jawaban doa beliau.”

Saya tahu, hanya anugerah yang memungkinkan skenario macam ini. Ada kalanya kita menjadi sangat takjub saat menyadari bahwa dengan keberadaan diri kita apa adanya, termasuk dengan segala kecintaan kita yang terasa biasa saja, ditambah keterbukaan untuk bertumbuh bersama, Tuhan bisa pakai menjadi secuil berkat bagi sebuah komunitas.

Akhirnya, harus diakui betapa misteriusnya cara kerja Pencipta merangkai sesuatu. Misalnya dengan bagaimana Dia membuat beberapa manusia bertemu dan mengetahui bahwa mereka telah menjadi hadiah, untuk satu sama lain. Dan betul memang:
Hadiah terbaik adalah saat kita tahu bahwa kita juga diperhitungkan sebagai hadiah.

4. Bersahabat dengan tanda tanya

Jakarta, Oktober - Desember 2018

Tiga bulan terakhir saya didera banyak pertanyaan. Saya beri contoh: Mengapa kita harus menikah? Untuk apa sebenarnya mempunyai anak? Apakah dia meninggal sudah dengan mengampuni? Mengapa kita tidak hidup nomaden saja?
Serbuan pertanyaan lain juga berlomba minta dijawab dengan beragam subjek dan kata tanya yang mengiringi. Cuitan saya di media sosial jadi penuh kegalauan, jerawat menyerang tanpa ampun, dan hubungan saya dengan pasangan terkena imbas pula.

Kalau dipikir mungkin ini akibat liarnya pikiran saat waktu kosong yang melimpah saat di Jakarta, yang akhirnya digunakan baik untuk menonton film indie di daerah Cikini, membaca buku (yang juga ga banyak-banyak amat), dan merenung sendiri di taman.

Seiring makin kencangnya pertanyaan, saya mulai membagi keluhan ke beberapa orang. Uniknya, ada tiga respons yang saya dapat. Pertama, kesan "ya ampun kurang kerjaan sekali mempertanyakan itu"; kedua, "itu bagus, perlu emang demikian"; ketiga, "bagus, tapi hati-hati".

Sependek usia pergumulan ini, saya rasa respons ketiga adalah yang paling tepat. Kita harus bersyukur ketika ada titipan rasa penasaran, yang artinya akan ada upaya berdialog. Dengan subjek yang kita pertanyakan dan Tuhan sendiri. Saya teringat bagaimana Ayub berdialog dengan Tuhan, dan dari sana Ayub menyadari tak ada lagi alasan untuknya meragukan Pencipta.

Beriringan dengan syukur, tetap perlu rasa waspada. Harus diakui ada jenis pertanyaan yang muncul karena kita kurang bersyukur. Ada juga jenis pertanyaan yang sebenarnya murni kekepoan yang tidak konstruktif semacam pengandaian terhadap apa yang sudah lewat. Dan pastinya tipe pertanyaan demikian tidak layak terhadap waktu dan energi kita. Legowo, kemudian jadi opsi tunggal.

Mau tak mau kita akhirnya perlu merapikan isi kepala. Membuat daftar tentang pertanyaan apa saja yang akan tetap kita perjuangkan jawabannya (beserta bagaimana menemukan jawabannya), dan pertanyaan mana saja yang akan kita ikhlaskan untuk tetap jadi misteri.
Sebenarnya ini menjengkelkan sekaligus menantang. Bayangkan ada insting anak kecil yang hinggap kembali untuk mempertanyakan banyak hal, bukankah ini menyenangkan dan melelahkan di waktu yang sama?

Di tengah polemik dalam kepala, ada satu yang paling mendamaikan: bahwa di sela segala tanda tanya, Tuhan memelihara. Kita diperbolehkan merangkul kebingungan sebagai sebuah kesempatan untuk makin akrab dengan-Nya. Untuk berdialog dan menjadi manusia yang menjalani sesuatu dengan sadar penuh.




Sebuah konklusi
Selain empat pelajaran sentral tersebut, masih banyak pelajaran lain yang tidak kalah saya syukuri. Baik dari murid-murid yang menyenangkan (dan mengetahui banyak hal lebih dari saya), dari rekan yang tanpa perlu waktu lama bisa cocok dan saling membagi cerita, dari komunitas ataupun #jelajahhariini yang saya lakukan di akhir pekan di Jakarta.

Tahun 2018, akhirnya, sama seperti tahun yang lalu dan berikutnya: selalu ada waktu untuk suka dan duka. Ada pencapaian tapi ada juga kekalahan.
Ada kalanya merasa dikecewakan tak lain untuk berlatih mengampuni;
di lain waktu merasa kalah, hingga sadar hidup juga bukan pertandingan;
atau masa saat kita kehabisan kata-kata karena melihat betapa murah hatinya Pencipta peduli bahkan atas permintaan sederhana yang bahkan lupa disebut di doa.

Saya yakin hidupmu juga demikian, ada air mata dan ada gelak tawa. Semoga, tahun yang sudah berjalan dengan pelajaran yang setiap orang pasti berbeda tetap bermuara pada dua pengakuan yang sama: Pertama, Tuhan sayang kita. Kedua, Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu (termasuk untuk memproses kita) dan tidak ada rencana-Nya yang gagal.

Sudah berulang kali saya terheran bagaimana sebuah relasi diakhiri hanya berlandaskan alasan: “hello temanku bukan cuma dia” atau kalimat semacam ini “emang dia kira aku butuh dia! Masih banyak temanku yang lain yang lebih baik.”

Di era kekinian, alasan tersebut dikemas dalam dalih semacam ini: “kalau ga cocok ya silakan unfollow” // “kalau merasa terganggu, boleh delete contact”

Sejatinya kalimat-kalimat itu daripada berkesan dewasa menjauh dari konflik, justru bentuk kemalasan luar biasa. Kemalasan berproses. Kemalasan berdiskusi. kemalasan... mempertahankan relasi.

Padahal ketika ada orang yang tidak sepaham dengan kita, sebenarnya kita bisa membuat jembatan untuk berbicara dan bertukar pandangan. Sebuah prinsip saya ingin terus hidupi: "kalau aku benar, belum tentu orang lain salah".



Ketika tulisan saya disanggah habis-habisan, atau ketika seseorang merasa tidak pas dengan perilaku saya, dengan sadar penuh saya menolak untuk terjebak pada kemalasan yang saya sebut di atas. Walau dibutuhkan latihan hati berulang kali, saya tidak akan segan membuka ruang dialog dan berlatih tidak pelit untuk meminta maaf. Saya melakukan itu sejatinya karena paham bahwa relasi saya dengan seseorang lebih berharga daripada gengsi untuk meminta maaf dan jauuuuh lebih berharga dari kekerasan hati untuk emnahan ruang diskusi. Teman saya yang super flegmatis kerap terheran bagaimana saya tidak anti dengan konfrontasi dan ketika saya jelaskan, dia paham bahwa itu semua berjangkarkan sebuah iman bahwa saya dan orang sekitar saya dapat mendewasa bersama. Di saat yang lain, seorang kakak senior mengapresiasi pilihan saya untuk menegurnya empat mata alih-alih menjadikannya sebagai bahan gosip.

Semua prinsip saya dalam berelasi, yang menolak untuk bergosip dan membuka ruang diskusi walau kadang berujung konfrontasi, dimulai dari kesadaran bahwa Tuhan menciptakan kemampuan komunikasi pada manusia, salah satunya untuk mendamaikan gesekan. Bukan justru sebaliknya.

Saya teringat satu peristiwa ketika saya di Palopo. Di rumah yang saya tinggali, ada satu meja ruang tamu pecah sebab terlalu lama dibebani kuah bakso panas yang teman saya beli. Saya kira keluarga di tempat itu akan membuang pecahan tersebut, atau menutupinya dengan taplak di sisi yang pecah, atau mudahnya.. beli saja yang baru. Namun yang dilakukan teman saya sepenuhnya berbeda. Mereka mencari lem kaca dan mulai mengelem kembali pecahan kaca itu di posisi semula. Saya kaget dengan keputusan itu, namun dengan segera bergabung lalu berkeringat bersama, mengipas hingga menggunakan hair dryer untuk membuat lem segera kering.


Kejadian ini sangat membekas di benak saya karena satu hal, bahwa itu adalah pilihan tidak populer namun sarat makna. Dibutuhkan sebuah keterampilan khusus untuk memperbaiki alih-alih mengambil jalan pintas “beli saja yang baru”.
Sedari awal saya tahu saya akan menulis soal insiden meja pecah ini, maka saya sempatkan untuk mengabadikan kejadian tsb dalam rekam gambar.

Bayangkan betapa banyak relasi yang dapat dipulihkan ketika semua berprinsip yang serupa: coba perbaiki dulu. Sayangnya, banyak orang yang hanya ingin dikelilingi oleh mereka yang sepaham dan sependapat, sehingga ketika perbedaan mencuat mereka memilih jalan malas: “ya sudah berhenti saja berteman denganku, ga papa kok.” Banyak orang yang lebih suka “membuang” daripada “memperbaiki” atau setidaknya “mencoba memperbaiki”.



Beberapa waktu lalu saya menikmati notes dari seorang pendeta yang menjelaskan tentang anggapan miring soal kampus yang beliau bina. Daripada berkata, "ya sudah kalau tidak sepakat, tidak usah masuk kampus ini,” beliau justru memberi penjelasan, dan mengundang orang lain mengenal kampusnya lebih dekat. Saya respect sekali dengan tindakan macam ini. Bukan berarti semua keputusan kita perlu dijelaskan. Energi kita terbatas untuk itu. Hanya, ketika ada orang mempertanyakan atau menyalahkan, maka baiklah kita menjelaskan. Ini juga bukan tentang keeping toxic person, ya! Sebab ada beberapa orang yang mungkin sepahaman dengan kita, tapi membawa aura negatif. Untuk orang demikian maka layaklah memberi jarak interaksi.

Kita harus terus ingat, agaknya, bahwa manusia menajamkan manusia. Kalau sampai akhirnya, kita masih suka bergosip, suka senewen ama keputusan orang, suka berpikir negatif hanya karena beda pandangan, dan tidak tahan kritik, mungkin itu semua karena kita terlalu mudah menyerah. Kita meniadakan perbedaan. Kita memuluskan lingkungan. Kita mengusir orang-orang yang akan menajamkan. Saya suka satu quote ini, sebuah bentuk percakapan ketika seorang muda bertanya ke pasangan oma-opa, rahasia awetnya hubungan mereka.


“how did you manage to say with your spouse for 65 years?”
“because we were born in a time when if something was broken we would fix it, not throw it away 


Jika kita tidak memberi diri buat terluka dan gemar membuang, jika kita begitu mudahnya menyerah, dan jika kita ingin bertumbuh namun selalu di zona nyaman, maka sampai ladang gandum dihujani meteor coklat dan jadi koko crunch, kita akan jadi pribadi yang sama. Tidak ada penajaman yang signifikan. Umur bertambah, karakter tidak.

Maka mari bersyukur jika hari-hari ini kita masih memiliki rekan yang berbeda pandangan, sebab itu indikasi baik bahwa kita masih dikelilingi orang-orang yang berpotensi menajamkan. Sebaliknya, kalau ternyata semua orang selalu sepakat dan senantiasa mengapresiasi apalagi mengglorifikasi keputusan kita, hati-hati. Antara mereka adalah serigala berbulu domba, diri kita sendiri yang memang terlampau bijaksana nan mengagumkan, atau kemungkinan terakhir.. mereka tak cukup berani berselisih dan terlalu malas untuk saling menajamkan.



Selamat merayakan berproses, selalu dan senantiasa.

Setelah pergi dua pekan penuh, ada sedikit rasa takut untuk kembali ke sekolah. Rasa kuatir berkeliaran di hati sehingga membuat doa saya di Senin pagi menjadi lebih sungguh-sungguh. Memang manusia, dalam kondisi tertentu menyuarakan baris doa lebih lantang dari biasanya.
Di antara berbagai macam pikiran negatif, satu yang paling saya takutkan bukan justru tatapan penghakiman dari rekan kerja yang harus menanggung jam kosong saya selama 10 hari pergi, namun rasa asing pada murid. Saya takut jika mereka memberi tatapan asing tanda tak kenal. Atau ekspresi marah lantas mengabaikan keberadaan saya. Oh sungguh, membayangkan saja mengerikan apalagi harus menelannya.

Sayangnya tidak ada pilihan untuk bersembunyi, maka mau tak mau saya jejakkan kaki di ruang guru, pastinya dengan hati yang terus bergumam sendiri. Ada tatapan yang aneh, seperti yang saya duga. Saya seakan seorang guru baru yang tidak mengenal seorangpun. Saya bahkan salah tingkah bagaimana harus memulai interaksi. Untungnya kondisi demikian hanya bertahan sekitar setengah jam, sebab waktunya saya naik ke lantai empat dan menyambut anak kelas saya. 26 siswa yang mungkin tatapannya akan menjadi paling menyakitkan.
Berjarak lima atau enam langkah dari pintu ruang kelas 7A, satu anak berteriak memberi tahu teman-temannya, “miss adiss balik”. Saya butuh kemampuan khusus saat itu untuk menahan air mata. Rasa haru dan secercah rasa bersalah. Saya masuk ruangan dengan senyum sangat lebar, menyapa mereka yang kerap bikin jengkel dan marah tapi nyatanya paling saya sayang dan rindukan. Ekspresi polos mereka sebagai remaja nihil penghakiman, hanya ada penyambutan yang diisi dengan rasa kangen dan sukacita. “yeaaay miss renungan lagi” // “miss Adiss makin gosong hihihi” // “miss hari ini Sandra ulang tahun”. Saya tahu betapa berharga arti “pulang” saat itu. Di sebuah ruang kelas pojok lantai 4.

Agaknya Tuhan tahu ada rasa rindu yang sebegitu menggebu, hingga semingguan ini setiap kali menggantikan guru yang tidak masuk, jam inval selalu istimewa. Saya kebagian masuk ke pelajaran seni rupa, olahraga, hingga ekskul dance, yang artinya menambah interaksi saya bersama siswa dengan rupa yang ekspresif dan ruang yang leluasa. Segala ketakutan saya samasekali tidak terbukti. Justru empat hari ini (Senin-Kamis) semua detail terasa jelas dan layak dikenang. Misalkan saat beberapa anak kelas 9 menyapa saya: “miss kapan PKn lagi” // “long time no see miss!” // “yeaay diinval miss adiss”. Bahkan dua hari lalu, seorang siswa kelas 8 (yang tidak saya ajar tahun ini) yang sering membuat jengkel para guru, bisa-bisanya menyapa di tangga: “miss kok lama kita ga ketemu”.
Tepat kemarin tiga siswi kelas saya menghampiri:
“miss kami mau ikut lomba lho sama mr. El”
“oh bagus. Semangat ya. Miss doakan” balas saya samping menepuk pundak salah satu dari mereka
“iya miss, doanya miss terbaik pokoknya! Kita doakan pas renungan pagi ya miss” kata seorang siswi dengan gerak tubuh yang amat lincah.
Sebagai seseorang yang bahasa kasihnya memang “word of appreciation”, perkataan semacam itu jelaslah terpatri dengan penuh kesan manis.


Hati saya terus dibahagiakan bukan kepalang, apalagi ketika beberapa siswa di kelas yang berbeda bahkan mendekat dan berkata “miss dari mana, ayo cerita-cerita miss” // “miss habis ngapain sih, bagi cerita miss”. Rasanya tujuan saya mengembara dan mencari ilmu jauh dan mahal, langsung terbayar. Saya bisa cerita soal makna kematian bagi orang Toraja, saya bisa cerita tentang makanan unik yang baru saya coba, saya bisa cerita apapun yang saya dapatkan bukan dari laman pencarian daring namun dari pengalaman saya sendiri. Ada beberapa orang yang memandang miring pilihan saya pergi, tidak profesional mungkin dianggapnya. Pastilah itu anggapan wajar walau tak sepenuhnya benar. Tapi biarlah hati ini tetap terjaga, bahwa seorang miss Adiss tidak akan serajin ini untuk mendapat pengalaman baru, jika tidak untuk kembali dan memperkaya para siswa.

Kerap kali saya disedihkan sebab beberapa orang yang berpikir bahwa saya telah kehilangan kecintaan dan panggilan saya sebagai seorang pendidik. Praduga itu mungkin berangkat dari pengamatan bagaimana saya sangat menikmati aktivitas berkomunitas dan menulis. Dan saking kuatnya anggapan itu, ada kalanya saya mempertanyakan diri saya sendiri dan menganggap itu sebagai sebuah kebenaran. Tapi empat hari dengan tipikal interaksi hangat bersama siswa dan bagaimana mereka sukses membesarkan hati saya berulang-ulang kali, saya yakin bahwa ruang kelas tetap jadi bagian cinta saya berlabuh. Seperti menulis, dan berkomunitas, semua adalah bagian dari hati ini.

Semingguan ini saya diajari untuk mengasihi tanpa banyak prasangka. Dan itu semua saya dapatkan dari para remaja. Terpenting, mereka yang menegaskan ke saya, bahwa anggapan miring itu tidak layak saya percaya. Bahwa ternyata untuk siswa, saya akan mampu terus jatuh cinta.


 “ah kamu baper ya” begitu kata satu teman membaca postinganku tentang kepulangan ke Surabaya dan berkata selamat tinggal ke rekan pandu yang siapa sangka telah jadi bagian istimewa di hati. Masalahnya sederhana, sulit untuk tidak “bawa perasaan” ketika dua minggu bertemu orang yang sama dan di satu titik harus berpamitan untuk berpisah. Untuk itu, tulisan ini dibuat. Karena terlalu banyak hal yang meluap di hati atas rekan-rekan yang Tuhan anugerahkan, aku mau coba menguraikannya satu per satu.


Pertama, pastinya Untuk rumah Oma squad (Angel, Queen, Kiki, Desta, Kak Thia, Tika, Olip, Icha, Oma, Christy, dan Junio). Air mata keluar di sudut mata saat mengetik paragraf ini. dan memang, bagian berpamitan paling susah adalah menyiapkan hati untuk tidak lagi meneguk nikmat teh manis hangat buatan Oma di pagi hari dan ritual mencuci di larut malam. Benar memang, hal sederhana justru yang akan paling dirindukan. Terima kasih untuk sebuah persahabatan yang diisi dengan Es buah nikmat sepulang gereja, kapurung dengan kuah segar, hingga drama pecah meja. Terima kasih sudah menjadi saudari baru bagi seorang Claudya.



Terjadinya seluruh jalinan persahabatan ini tidak lain juga hasil kerja keras tim BPR PGI yang telah melakukan seleksi hingga membina kami. Maka selanjutnya aku mau berterima kasih buat kak Abdiel secara khusus. Seorang yang dengan segala kerendahan hatinya membuatku bukan hanya mendengar namun melihat pesan “jadilah tuntas dengan dirimu sendiri” diwujudnyatakan. Tak lupa teman-teman lain, seperti Olip yang jadi alarm pagi dan kedewasaannya menghadapi segala sesuatu, kak Anggara yang walau kerap otoriter namun jadi pendengar, Richard yang sangat kreatif dan jadi pembawa backsound saat momen di bandara, WW sebagai partner babivora dan diskusi serius sesekali, dan untuk Ryan Stevano William Manoby, yang tentangnya dapat kutulis berlembar-lembar, terima kasih selalu rajin memfoto kami dan menjadi kakak yang setia menyemangati.

Untuk rekan pandu lain yang padanya memoriku ikut tertambat, seperti Ike yang super jahil tapi sekarang aku kangenin; Chiko yang di tengah lawakannya menggugahku tentang seberapa “mewah” kehidupan bergereja yang aku nikmati di Surabaya; Vincent yang selalu bertanya “kakak suka pelayanan kan?” sebagai kode untuk meminta tolong sesuatu; Flo yang keren sekali sebagai tim ibadah; Cindy yang akan kukenang semua nada bicara dan becandanya yang jauh dari kesan mahasiswa STT; Egy yang suaranya bikin aku ngefans dan sedang sibuk merilis Lambe Murah; bang Uchu, kak Ritta, kak Anna, dan bang Yosa yang uda super super baik dan banyak bantuin; Andri yang sering kerja bareng dan punya minat yang sama di literasi; Willie yang guyonannya receh tapi somehow akan kuingat, kudoakan juga kamu segera menapak ke Semeru dan ohya aku berharap bisa singgah lagi di rumah nyamanmu lagi di Latuppa; Martin yang ajak explore dan menunjukkan sikap keugaharian jauh lebih keren dibandingkan para bapak-ibu yang duduk di kursi sidang; Rony yang selalu bikin suasana energik dimanapun; Este dan Karput yang suka ngegas tapi selalu bawa rona ceria sendiri; Arrang, pandu termuda dan satu-satunya yang panggil aku “miss”, aku percaya banget kamu akan jadi orang hebat!

Untuk nama-nama lain yang mungkin tidak kusebut secara spesifik, kalian tidak kurang istimewa, percayalah! Mungkin terbatas durasi (dan energiku) untuk mengenal semua secara personal, tapi aku mengasihi dan bersyukur atas kehadiran kalian tanpa terkecuali.

Selain rekan pandu, Sidang MPL PGI 2018 juga mempertemukanku dengan beberapa orang keren lain. Tapi satu yang paling berkesan adalah bertemu dan mengobrol dengan pak Albertus Patty. Terkhusus sebelum makan siang hari terakhir sidang, setelah turun dari ‘panggung’ beliau menghampiri kak El dan berkata sambil berjalan ke arahku: “ayo fotokan aku dengan nona manis ini”, alhasil, hati ini terbang dan senyumpun mengembang. Seharian aku dibuat seperti orang kasmaran! Terima kasih pak Albertus Patty, senang sekali bertemu, mengobrol, dan diajak foto bersama (padahal memang sudah plan minta foto bareng).



Keikutsertaanku sebagai pandu tidak dapat dipungkiri juga hasil kebaikan beberapa pihak, maka kusempatkan juga menyebutnya di tulisan-yang-mirip-seperti-pengantar-skripsi-ini >,<.
Untuk para pendeta di GKI Residen Sudirman yang telah memberi support yang konkret, dan tim di sekolah yang harus kutinggalkan dengan penuh inval, terima kasih banyak dan maaf telah merepotkan.

Ada syukur tak terhingga atas satu episode hidup yang boleh bersinggungan dengan peristiwa sidang MPL PGI, yang mempertemukan seorang nona medok ini dengan beragam kawan dan berbagai pengalaman. Di tengah bermacam gesekan dan drama yang sesekali menguras hati, ditemukan terlebih banyak keceriaan dan rasa ‘seperjuangan’. Karena itu, janganlah heran jika ada perasaan yang terbawa dan mungkin sejenak melekat di Palopo, karena untuk durasi hampir penuh dua minggu ini, banyak cerita sudah ditorehkan. Maka.. mari mengizinkan diri kita masing-masing ada di fase kebaperan yang cukup hingga dapat mengabadikan memori dengan rapih tanpa menjadi terbuai euforia semata. Sah-sah saja harusnya untuk menjadi pandu yang baper. Iya, Baper. Bawa perasaan, boleh. Bawa perubahan, harus.
Sampai ketemu di Sumba!


Soli Deo Gloria!
Beberapa kali saya disedihkan sebab muncul anggapan betapa mudah dan gemilaunya kehidupan seorang Adiss, padahal jika ditelusuri dan melihat lebih dekat, ada pula momen penolakan, langkah iman penuh air mata, dan ketakutan. Kita semua mengalami gulatan itu, melalui tapak yang spesifik yang berbeda-beda. Ini milik saya.

Januari
  • Jual baju bekas di pasar
    • Hal ini jadi berarti untuk dicatat sebab setelah maju mundur beberapa kali, saya memberanikan diri untuk menggelar tikar di pasar dan menjual baju bekas milik saya dan milik Riyan. Hasil penjualan ini saya gunakan untuk jadi tambahan dana melakukan proyek kasih ke Panti Jompo
  • Boys Brigade Leadership Development Course
    • Semacam Pramuka, di sekolah tempat saya bekerja terdapat kegiatan yang bernama Boys Brigade. Di Januari saya diberi kesempatan menjadi utusan untuk mengikuti Leadership Development Course. Sebagai bonus saya diijinkan menjadi pembimbing bagi 9 anak dari berbagai sekolah, yang terungkap kemudian sangat cerdas, ga tahu malu, dan penuh semangat hingga akhirnya berhasil menjadi juara umum di kegiatan tersebut. #soproud

Februari
  • Editor
    • Setelah perjalanan panjang IGNITE, akhirnya Februari 2017 IGNITE resmi menerima kontribusi. Saya dipercaya menjadi editor perdana sebelum akhirnya menjadi ketua divisi kepenulisan di hingga 2018. Menyenangkan sekaligus menakutkan untuk memegang karya kontributor. Saya diharuskan lebih teliti dan jelaslah tanggung jawab ini membuat saya banyak membaca dan mengenal banyak orang
  • Aktif di kegiatan Ributrukun
    • Saya bersama dua rekan muda lain diminta tolong oleh pak Wepe untuk menghandle sebuah pelatihan yang digagas oleh RR. Banyak sekali bonus ilmu dan kawan baru di tengah tuntutan menjadi sabar nan telaten sebagai contact person.
  • Ditolak beasiswa Tempo
    • Tepat 13 Februari, saya harus merasakan pahitnya penolakan dari sesuatu yang sangat saya inginkan.

Maret
  • KANCA
    • Saya mengikuti festival berjudul KANCA di Jogjakarta. Senang sekali mendengar sharing dari berbagai orang yang kiprahnya mengesankan di jagad literasi Indonesia. Saya bahkan AKHIRNYA bertemu dengan kak Windy yang tumblr nya sudah saya ikuti sejak 2009, bertemu mbak Hanny yang super baik yang juga merupakan pengelola kamantara tempat saya awal-awal mulai menulis. Semacam bonus, saya bertemu Amrazing, Bernard Batubara, Aan Mansyur, dan terfavorit bertemu kak Theo dan kak Wesley. Moment ke Jogja di Maret ini juga membuat saya tak henti bersyukur sebab disambut dengan amat baik oleh mbak Vika dan pak Khun. Sebuah perjalanan yang terbaik.
  • Diterima di Sekolah Ciputra
    • ....namun akhirnya saya memilih tetap di Gloria. Keputusan yang tidak saya sesali.

April
  • Camping di Dieng
    • Pelesir ini menjadi sangat istimewa sebab saya menggandeng satu teman perempuan yang saya kenal dari kegiatan ekspedisi. Merasakan dagdigdug bensin habis dan pom tak kunjung terlihat hingga bertemu banyak orang asing yang sangat sangat baik.
  • Project As Their Wish
    • Sebuah ide untuk memberikan kado tepat sesuai keinginan bagi para oma opa akhirnya berwujud dalam tindakan. Rasanya senang bukan kepalang saat melihat ada satu oma bahkan berlari memamerkan tas barunya ke oma-oma lain.

Mei
  • Temu Raya Pemuda GKI
    • Kegiatan yang bertempat di Semarang ini memperbolehkan saya untuk mewancari Cameo Project. Sebuah kesempatan yang berharga, untuk terus mengembangkan kemampuan wawancara dan mengolah informasi. Selain itu saya dan beberapa teman diundang ke tempat mas Agus Tato pelayanan. Sebuah ruang berdinding pink di kawasan prostitusi dan preman, tempat banyak anak jalanan belajar di sore hari.
  • Kelas Tempo
    • Dengan kegigihan, akhirnya saya dapat menapakkan kaki di Tempo dan mendapat banyak sekali ilmu serta wawasan disana. Rasanya ajaib!

Juni
  • Proper Farewell
    • Saya dan anak kelas saya membuat sebuah acara farewell yang niat. Bertempat di satu hotel besar Surabaya, saya diijinkan untuk mengutarakan ucapan syukur saya yang begitu melimpah karena memiliki mereka sebagai anak kelas saya setahun akademis. Mereka bahkan menyiapkan kejutan kue tiramisu kesukaan saya dan satu kalung emas beserta liontin hati sebagai hadiah ulang tahun dan ucapan terima kasih. I can’t be more thankful.
  • Saying goodbye
    • Tiga teman dekat saya berpamit bersamaan. Ivana, ce Jessica, dan Wisye. Rasanya hati menjadi remahan-remahan kecil yang siap dihembuskan angin Kenjeran. Terkhusus ce Jess, teman suka duka. Saat dia sudah resmi pindah, ada semacam perasaan jetlag. Rekan kemana-mana bareng harus pergi, dan saya harus mulai membiasakan itu. Perpisahan, memang tak pernah enak.

Juli
  • Jadi bridesmaid
    • Keempat kalinya menjadi bridesmaid, dan PERTAMA KALI dalam hidup harus mengenakan warna baju merah. Hanya demi sahabat. Momen ini juga membuat saya mencicipi enaknya kota Salatiga.
  • Birthday
    • Saya harus menahan tangis bahagia seharian, melihat usaha keras kekasih saya menghadirkan kejutan dan sebuah ulang tahun yang amat manis. Pertambahan usia tepat menjadi seperempat abad, membawa beban sendiri tapi hari itu, tepat 12 Juli, saya tahu Tuhan amat baik. Tak perlu kuatir. Dan terungkap ternyata... usia ini menjadi begitu berharga sebab saya diajari banyak hal.
  • Pelatihan inspiratif
    • Sekolah saya mengundang ibu Weilin Han dan membuat saya belajar SANGAT BANYAK. Begitu banyak materi yang bukan saja mengisi otak namun juga menggugah hati.

Agustus
  • Jakarta Post!
    • Sebuah kejutan tengah tahun, tulisan saya diterima dan dimuat di Jakarta Post online. Rasanya bertambah ajaib, kala mengetahui tulisan itu berhasil menjadi most-viewed article dalam sepekan. Thank God!

September
  • Komunitas Guru
    • Kang Iden yang saya temui di pelatihan Tempo, mengenalkan saya pada komunitas Guru Belajar. Di bulan September, kebetulan (jika memang kebetulan itu ada), ada momen bincang bersama mbak Najeela Shihab. Saya beruntung dapat ikut sesi obrolan itu dan mendapatkan limpahan sudut pandang menarik soal pendidikan dari para guru, pegiat pendidikan, dan mbak Najeela Shihab sendiri.

Oktober
  • Bingkisan dari Warungsatekamu
    • Atas permintaan mereka, saya menulis soal Indonesia untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI di bulan Agustus. siapa sangka, mereka menyediakan hadiah khusus yang sangat saya sukai. Buku berjudul God in Pursuit menjadi salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Tak lupa, saya memperhitungkan sebagai berkat sebab saya dapat berkenalan dengan Ary, content development dari website tersebut.

  • Melunasi Rumah
    • 4 Oktober jadi hari penting. Riyan dan saya memutuskan melunasi rumah. Sebuah keputusan yang saya ingat bukan sebagai pencapaian tapi langkah iman luar biasa. Kalau mengingat hari-hari itu, kami bergumul penuh air mata. Bagaimana jika tidak cukup, apalagi setelah drama Riyan sempat di-PHK sebab perusahaannya gulung tikar. Butuh iman besar untuk langkah ini, dan puji Tuhan, Dia memampukan.

November
  • Gagas CPNS (kedua kalinya)
    • Sudah berlelah-lelah hingga ijin tidak masuk, masih saja gagal. Ada hati yang remuk, bukan saja karena ditolak tapi karena pertanyaan besar: “setelah resign bulan Juni, akan kerja apa?”  Ada kemarahan yang tersirat, mengapa pula Dia tidak sekali saja mempermudah langkah saya. Hingga akhirnya saya berdamai, sebuah keputusan lagi dan lagi yang diisi jatuh bangun.
  • #kamitidakpenting
    • Sejak TRP, saya ‘direkrut’ menjadi bagian Kami Tidak Penting yang bergerak dalam pembuatan video. Sebuah pengalaman baru untuk membuat skenario, menulis naskah, hingga narasi. Bukan saja soal “apa” yang dikerjakan namun juga “dengan siapa”. Rasanya hanya ada syukur yang diselingi penuh tawa untuk berada di tengah enam orang yang sangat nyentrik tapi penyayang.

Desember
  • Tulisan terbit (akhirnya) di Magdalene.co
    • Ini kebanggaan tersendiri bagi saya, sebab sudah beberapa kali saya harus menelan pil pahit penolakan. Tulisan soal CPNS dan kesukuan ternyata mendapat banyak respons, dan untuk itu syukur saya bertambah.
  • Project berbayar
    • Tuhan tahu, di 2018 khususnya, saya akan membutuhkan sokongan dana yang tak kecil. Apalagi dengan belum jelasnya tapak karir pasca kontrak sebagai Guru berakhir di Juni 2018. Dia mengijinkan jalan berkat-Nya terbuka, dengan berbagai cara. salah satunya dengan tugas menjadi scriptwriter bagi video prewedding. Lagi-lagi pengalaman baru, dan tambahan rupiah yang lumayan.
  • Eleos Project
    • Setelah mengevaluasi bisnis Cerryls and Co. saya memutuskan membuka satu bisnis yang lingkupnya bukan saja kartu ucapan. Dalam satu bulan ini, Eleos Project (demikian saya memberi nama) telah berkembang pesat. Semoga semakin dipilih dan diperhitungkan dalam bisnis paperie kreatif.
  • Kesaksian di gereja
    • Ketika panitia natal GKI ressud menghubungi saya untuk membagi kisah secara live di empat kali ibadah, saya gentar. Jelaslah kemampuan public speaking saya tak baik. Hanya karena Anugerah saja, saya cukup berani berbicara di depan jemaat. Walau tak sempurna, tapi setidaknya saya tahu ada beberapa orang yang boleh dikuatkan.
  • Pembicara talkshow
    • Keliatan keren ya judulnya? padahal talkshow ini hanya tingkat lokal yaitu untuk para siswa. Tapi saya sangat menghargai momen ini sebab entah bagaimana saya cukup kuat membahas soal pembullyan semasa kelas 6 SD yang saya rasakan, tanpa sedikitpun air mata. seorang Adiss yang (dianggap dan mungkin memang) jarang menguak bagian gelap dalam hidupnya pada orang lain, dapat melakukan ini. I’m so proud.


Dan inilah 2017 saya. Banyak “bonus:” yang Tuhan berikan walau tak banyak pencapaian besar seperti 2016. Saya melihat ke belakang dan menemukan kesetiaan Tuhan. Dia memberi kesempatan, membalut luka, menguatkan iman, dan menghibur dalam kekecewaan. Ada banyak kali di tahun ini saya disedihkan sebab muncul anggapan betapa mudah dan gemilaunya kehidupan seorang Adiss. Baik yang dikatakan, dipikirkan, ataupun diwujudkan dalam tindakan. Saya melihat banyak orang bahkan tak pernah mau bertanya lalu terburu membuat kesimpulan ini dan itu. Kita semua sama, sejatinya. Ada masa turun naik. 2017 ini menghadirkan banyak orang dan menelurkan banyak kesempatan. iya.. itu yang mudah tertangkap di sosial media. Padahal tahun 2017 juga diisi kekecewaan, pahitnya perpisahan, air mata yang sudah tanpa suara. Semua berujung pada satu kesimpulan: Tuhan di 2017 telah mengajarkan banyak hal.

Entah sejak kapan kita seakan didoktrin bahwa kehidupan yang selalu bersukacita adalah tolak ukur keberhasilan iman. Oke, jika itu artinya joy yang adalah rasa damai tanpa terpengaruhi keadaan, maka itu benar. Tapi jika itu membuat kita mengingkari kesusahan diri dan kecemasan yang manusiawi, maka alih-alih iman yang kuat, itu adalah kemunafikan.

Belakangan ini adalah masa berat bagi saya. Tepatnya minggu ini. Ketika menyadari dalam waktu kurang dari setahun saya akan memulai tapak di luar zona nyaman pekerjaan saya. Juga tentang keputusan besar yang kekasih saya ambil. Ada ketakutan pasti. Banyak! Takut salah memilih, takut kekurangan, dan berbagai ketakutan yang serentak menyerang dan sesekali berhasil mencuri kedamaian.

Saya yakin kita pernah ada di titik itu. Dan di saat seperti itu penting bagi kita mendengar bahwa apa yang kita rasakan adalah wajar. Penting bagi kita untuk tahu bahwa kesedihan kita tidaklah menjadi alasan untuk ditertawakan dan dituduh “kurang beriman.” Bukan karena kita sudah menyaksikan begitu baiknya Tuhan dalam kehidupan kita maka secara otomatis kita tidak merasakan ketakutan sama sekali. Bagi saya sangatlah kejam dan tidak santun ketika kita meresponi keresahan orang lain dengan sikap “ah gitu aja kok takut, katanya beriman”, atau macam respons “aku heran kamu kok bisa ketakutan begini, kan kamu uda lihat penyertaan Tuhan”.

Saya ingin mengutip kalimat dari dua tulisan yang baru saja saya edit, dan menjadi semacam kekuatan bagi saya.

  • “Jadilah pendengar yang mengijinkan orang lain memproses macam-macam emosinya dengan leluasa. Biarkan temanmu tidak menahan-nahan kepedihannya dan tidak lari dari masalahnya. Dengan mengalami emosi-emosi ini secara utuh, setidaknya beban mereka berkurang.” –Ruth Lydia
  • “Perasaan ditinggalkan Allah adalah hal yang wajar dialami orang percaya, semua raksasa rohani dalam Alkitab pernah mengalaminya, dan memang Allah merancangnya untuk membentuk kita.” –Kak Himawan

Kadang kita malu untuk menjadi prihatin dan merayakan kesedihan hanya karena mitos sehari-hari bahwa memiliki Juruselamat membuat kita tidak takut sama sekali dan akan selalu berhasil memasang wajah yang senantiasa berseri. Saat ini, saya justru lebih berani mengekspresikan kesedihan  (bukan tebar kegalauan atau curhat di sosial media ya!) secara apa adanya, terkhusus di hadapan Tuhan. Sebab semakin saya berproses dalam turun naik hidup ini, saya kian menyadari bahwa masa paling tak enak dan kondisi paling mengerikan adalah momen yang paling saya syukuri akhirnya nanti. Sebab di sana saya menemukan Allah berkarya memproses saya.


Adalah sebuah kemampuan berharga untuk merayakan setiap musim kehidupan ini dengan sepenuh-penuhnya. Dalam masa bahagia, tak kalah, masa nestapa. Karena dengan cara begitulah, kita menjadi sebenar-benarnya manusia.



An Indonesian photographer who lives in the United States was in charge for his brother’s wedding documentation. I was following the whole ceremony through his social media feed. One of his Instagram stories captured the moment when the couple was walking down the aisle and the guests were holding their phones out the entire time, along with a little protest in the caption that says, Be present people. Please BE PRESENT”, which has become a wake up call for myself.

I begin to question the importance of online presence nowadays. How most of us invest (or waste?) too many time and energy on our online persona. Take Instagram stories for example. That thing disappears within 24 hours! What’s the point really? How we have become so obsessed to experience life through our smartphone screen rather than our own eyes.





Episode 1.

Acara yang diberi nama KANCA itu mencuri hati dan menuntut untuk dicari tahu apa dan bagaimana isinya. Setelah melihat baris angka dan nama hari di kalender, saya tahu bahwa rasanya memungkinkan untuk aku ikut, asal dengan satu cuti di hari Jumat. Semua berlangsung mulus.  Tiket keretapun sudah ada tuntas dibeli. Pertanyaan utama kini adalah dimana saya akan menginap.

“mau budget berapa” kata pak Khun, seseorang yang saya klaim sebagai mentor menulis, dan memang berdomisili di kota kecintaan segala umat ini. Jelaslah saya menyebutkan angka yang memang terjangkau.
“lho kan kamu orang kaya” begitu timpalnya terhadap angka yang super kecil sebagai jawaban. Sayapun tertawa di depan layar ponsel. Bagaimana beliau berpikir seperti itu, coba! Usut punya usut teman penulis yang juga saya recoki di perjalanan ini turut bersumbangsih pada pelabelan dan asumsi bahwa saya seorang yang sungguh berpunya. Lagi-lagi tawa makin meriah. Diskusi melenceng sejenak sebelum akhirnya pak penulis senior itu berkata:
“uda.. kamu nginep rumahku aja. Tidur bareng putriku”
Berulang kali kalimat itu saya baca. Saya eja. Tidak salah kan? Sebuah tawaran yang bahkan tidak sepersekian detikpun saya duga.
“iya soalnya kamu ternyata bukan orang kaya”

Lagi dan lagi dan lagi saya dibuat terkejut dengan pernyataan-pernyataan yang keluar. Sebagai penjelas, kata beliau, tawaran tersebut menghindari ribet (sebab awalnya saya berencana menginap di rumah teman dekat UGM, yang notebene jauh dari lokasi acara), dan juga merupakan usul dari istrinya. Ah terserah. Latar belakang apapun itu tidak mengurangi keterkejutan saya yang sedang memegang gawai di sepetak kamar kost, dan tetap saya perhitungkan sebagai sebuah kebaikan luar biasa.

Semua sudah diatur dan saya tinggal menunggu hari untuk berangkat. Perjalanan Gubeng-Lempuyangan diisi dengan chat bersama mbak Vika. Mendapati dirinya mau menemani, telaten menjawab pertanyaan seputar Jogja, hingga menjemput di stasiun, saya kira sudah sepaket manis kebaikan bagi tamu dari Surabaya ini. Ternyata, itu belum apa-apa.

Dengan naik ojek online berbeda warna (favorit masing-masing), dia mengajak saya ke Pakualam. Bukan untuk wisata sejarah namun justru duduk di bawah pohon beringin (yang tak terlalu) rindang sembari makan es rujak dan semangkok bakso. Ibarat menyelam sambil minum air, kamipun singgah ke keraton dan mbak dengan rambut pendek itu menjelaskan beberapa hal. Tidak banyak foto saya ambil, karena bagi saya dengan hadir utuh dan meletakkan gawai saya bisa menyerap berbagai informasi maksimal. Seusai berkeliling, derap langkah kami berpindah. Tidak jauh dari situ, kami menuju ke sebuah toko minuman jamu GINGGANG. Segelas es beras kencur saya pesan. Segelas kesegaran asli Indonesia yang menjadi favorit entah sejak SD atau TK. Saya terpesona dengan setiap tegukan. Rasa yang menari di lidah akhirnya membuat saya bertekad, kapanpun saya ke Jogja, saya akan melepas rindu dengan segelas surga itu. 

Tapak berlanjut. Kami menyusuri jalan dan sesekali duduk di bangku Malioboro yang kini telah menjadi begitu rapi. Di sana saya menyaksikan campuran budaya kental menyeruak. Misalnya kedai kopi mendunia dengan desain bangunan yang vintage, berjejeran dengan berbagai toko batik yang telah berjuang bertahan di tengah gempuran perubahan. Tanpa sadar ketidaksukaan saya pada pusat perbelanjaan yang ramai mengubah suasana hati. Saya tidak lagi antusias. Keinginan membeli batikpun sirna (untuk kesekian kali). Uniknya, mbak Vika sangat peka dengan perubahan mood tersebut. Di depan gapura pecinan dan patung ayam –shio tahun ini, dia menyatakan itu. Dan saya tahu, saya harus bisa mengendalikan suasana hati untuk tetap menikmati perjalanan ini. Dengan raut kembali ceria, saya mengangguk setuju pada usulnya. Kami menuju ke arah stasiun Tugu dan memilih satu angkringan.
"es kopi susu jos satu ya mas" ucap saya sebelum sigap memilih jajanan. Seketika mas penjual dengan topi yang ia gunakan terbalik itu tertawa. Menurutnya rata-rata orang akan memesan kopi jos hitam panas, pilihan yang saya pesan agaknya aneh. Es. Kopi. Susu. Jos. Biarlah pikir saya, rasa antusias sudah cukup hari ini untuk memacu pasokan energi. Kafein pekat tidak saya butuhkan. Ia dapat cuti sejenak. Saya menikmati pesanan saya hingga tetes terakhir dengan penuh ekspresi kagum. Mbak Vika hanya terkekeh melihat seberapa ndeso saya mencicipi itu pertama kali. Menu bergeser ke burung dara bakar, hidangan traktiran tuan rumah. Mungkin aneh, adiss bisa makan begitu banyak hari itu. Rupanya perut turut menyesuaikan diri dengan antuasiasme hati.

Sekitar pukul 8 malam, Pak Khun beranjak menjemput namun mengajak untuk bersantai lebih dulu sembari mengajak satu teman yang menjadi kenalan baru saya: Mbak Riana.
“di JCo ya?” usul mbak Vika yang kemudian ditolak mentah oleh pak Khun.
“orang Surabaya kok malah diajak ke JCo”
Saya memperhatikan percakapan mereka dan hanya tertawa. Mungkin ini pertama kalinya benar-benar merasa menjadi seorang tamu yang diperlakukan SANGAT BAIK.
Menjadi win-win solution antara mbak Vika dan pak Khun, sebuah kedai dekat Mirota menjadi tempat kami berempat menghabiskan malam dengan topik yang rata-rata soal kepenulisan.

Jarum pendek sudah nyaman bertengger di angka 10, saya berpamit ke mbak Vika dan mbak Riana. Saya yang awalnya mengira rute akan pendek dan segera menuju rumah pak Khun, untuk kesekian kali dibuat terkejut. Pak Khun mengajak saya berkeliling di seputar Jogja sembari menjelaskan ini itu tentang kota ini. Saya ingat betul salah satu premisnya adalah tentang keterkaitan ruang publik dengan tingkat stress dan daya kreativitas warga. Jogja menghadirkan begitu banyak ruang publik yang nyaman, maka tak heran seni berkembang dinamis disini. Dinamis dan kondusif. Tuntas dengan segala penjelasan, kami akhirnya menuju pemberhentian terakhir: rumah Pak Khun dan keluarga.



Tepat setelah melepas sepatu abu-abu pink kado dari Riyan, saya menginjakkan kaki di ruang tamu mereka, dan tatapan saya terpaku pada sebuah lemari buku. Bukan lemari biasa, sebab itu sangat tinggi, dari lantai hingga langit-langit rumah dengan lebar yang juga memenuhi ruangan. WOW! Rumah penulis memang berbeda, saya menyimpulkan dalam angan sebelum akhirnya berbaur dengan percakapan bersama istrinya.

Setelah ngobrol sejenak, istri pak Khun menyarankan kami semua pergi istirahat. Di kamar putrinya, saya meluruskan punggung sembari tersenyum. Seharian saya diperlakukan dengan begitu baik bahkan oleh mereka yang belum terlalu lama saya kenal. Di beberapa momen, ketika badan serasa sangat lelah saya bisa tetap terjaga dan tidak terburu untuk tidur. Saya senang mereka ulang setiap kejadian supaya terekam baik dalam ingatan. Malam itu, adalah salah satu momen yang demikian.

Perut saya kekenyangan saat itu, tapi tak kalah hati yang melimpah dengan ucapan syukur. Tak berlebihan rasanya jika saya sebut perjalanan ini sebagai perjalanan ter-BAIK. Bukan terbaik dalam artian BEST tapi KINDEST. Perjalanan yang limpah kebaikan hati.

Dan begitulah. Episode pertama perjalanan ini berakhir.