Welcome to our website !

Tentang Sesuatu

Segalau apapun, pasti tetap tentang sesuatu, entah Tempat atau Teman, entah Pendapat atau Pengalaman.

Kampung halaman adalah sebutan bagi tempat kemana hati ini berpulang. Berupa sebuah ruang aman untuk lari dari hiruk pikuk tempat perantauan. Seringnya dia hanyalah alasan bermalasan menikmati nyaman rumah, tapi kali ini saya ingin menjelajah. Tak harus selalu jauh, menguak keindahan alam atau memenuhi kepuasan jalan-jalan bisa dimulai dari kota tempat kita bertumbuh besar. Itulah perjalanan kali ini.

Seperti biasa tawa selalu mengisi perjalanan, di sela-sela obrolan hangat khas kawan lama. Sebagian karena kalimat-kalimat humor dengan logat yang kental. Sisanya murni disponsori oleh rasa geli dari kekonyolan lampau kala masih bersekolah.

Air terjun di daerah perbatasan Lumajang dan Malang merupakan pilihan pemuas kaki gatal kami. Sebuah objek wisata yang membuat kami berempat rela menempuh jarak cukup jauh dengan medan yang relatif ekstrim. Nama tempatnya adalah Coban Sewu, jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka bermakna air terjun seribu. Tidak mengherankan mengapa penduduk memberi nama demikian sebab di satu lokasi yang sama berdiri kokoh sangat banyak jalur vertikal untuk air jatuh dengan akselerasi tinggi.

Setelah puas mengabadikan dalam jepretan ponsel, kaki kami bergegas menelesuri rute menuju goa tetes. Satu perjalanan, dua objek wisata didapatkan. Cerita ini baru benar-benar dimulai disini.

Sumber foto: jawapos.com

Sebagai gambaran kondisi terjal yang dihadapi di Coban Sewu



Hutan, jembatan bambu buatan warga, dan susur sungai, adalah menu pembukanya. Uji nyali sesungguhnya adalah saat kami harus menapakkan kaki di bebatuan licin tepat dimana air mengalir. Tebing tinggi disana hanya sebentar mencuri perhatian, selebihnya saya hanya terpengeranga heran. Untuk sepersekian detik saya harap itu hanya sebuah rute cadangan dan adalah opsi lain yang lebih mudah, tapi sama seperti dalam perjuangan mencapai impian kadang jalan yang tak mulus itu adalah pilihan tunggal. Dengan kaki yang tak terlalu piawai satu persatu batu saya lewati hingga posisi semakin tinggi. Di setiap trek curam tersedia tali karet berwarna hitam pekat untuk membantu pengunjung berpegangan. Dengan jersey barcelona, celana jeans panjang warna hitam pudar, tas ransel kucel, dan sandal jepit kegedean, saya memaksa diri untuk tidak terlalu merepotkan ketiga teman saya. Air keringat bercampur dengan tetes air alam, mereka membawa pergi sedikit sisi manja saya, namun tetap dibumbui rasa takut yang khas.

Setelah ada di lokasi yang landai, tiga teman saya bersantai menikmati rokok mereka. Saat itu saya menoleh kembali ke susunan batu bersudut lebih lancip dari 45 derajat yang awalnya saya sinonimkan dengan kemustahilan. Jika dipikir, saya samasekali bukan penakut terhadap hal-hal seperti itu. Katakanlah wahana penguji adrenalin, hampir semua siap saya sambut. Tapi dibebatuan itu keberanian saya sempat menguap. Selagi teman saya masih asik dengan tembakau gulungnya, saya menemukan alasan sederhana: kepercayaan. Ketika saya naik wahana permainan pengadu adrenalin kebanyakan saya menikmati tanpa rasa takut sebab saya tahu persis sekaligus percaya bahwa setiap alat telah diperhitungkan oleh kaum ahli dan telah teruji aman. Di Coban Sewu, kedamaian itu absen sebab menyadari bahwa tali karet yang tersediapun tak terjamin, tidak ada yang tahu siapa yang membuatnya dan saya tidak cukup yakin apakan itu kuat untuk dijadikan pegangan.

Kepercayaan adalah faktor penting.

Dari perjalanan super mendadak hari itu, saya memahami makna dari sebuah quote terkenal "bird sitting on a tree is not afraid of the branch breaking, because its trust is not on the branch but on its wings." Menyelesaikan trek itu adalah simbolis bahwa saya mampu menaruh kepercayaan pada tapak kaki saya sendiri bukan pada seutas tali karet tersebut.

Rute yang sulit ditambah sumber daya yang meragukan, kadang kita jumpai dalam hidup ini. Di saat seperti itulah kita sedang diuji, siapakah yang sedang kita andalkan? Sesuatu di luar kita yang serba tidak pasti atau justru kekuatan yang diam-diam terkumpul dalam diri kita sendiri.

Setelah mengambil durasi merenung singkat, energi saya kembali terkumpul untuk meneruskan perjalanan pulang. Dengan paha penuh asam laktat, saya sempatkan menunduk lalu berbangga akan sepasang telapak kaki mungil ukuran 36 yang telah bekerja keras itu dan membuktikan bahwa saya tak salah telah percaya pada mereka. Saya berjanji akan memanjakan mereka dengan air panas sesampainya di rumah, saya tahu mereka membutuhkan itu :')
mendaki gunung membuat kita tahu bahwa "kopi dan kawan, sama hangatnya"
dan mengunjungi pantai membuat kita tahu "air kelapa dan tawa sahabat sama segarnya"

Bali 2012
karimun jawa 2014



setelah menulis tentang Kak Jonathan, Artha, dan Sinta, sahabat keempat yang ingin saya abadikan dalam tulisan adalah Helen Florensi Oleh.
kami kenal, karena ada di fakultas yang sama. aktif di persekutuan FISIP yang walau sangat terbatas tapi telah menjadi rumah bagi hati kami. di hampir full empat tahun saya menjalani pelayanan, saya ber-partner dengan dia.

tapi ternyata, cerita kami diperkaya dengan kesamaan antusiasme perjalanan. Entah sudah berapa kali kami berdua menjelajah siang bolong Surabaya untuk mengunjungi berbagai tempat makan baru.
bahkan bersepeda motor berdua ke Malang, juga melakukan hal yg serupa.

dia partner perjalanan yg super kece! tipe penjelajah yg praktis dengan kamera semi SLR kebanggaannya.
seorang cewek yang super simple. serta pastinya, sosok sahabat selalu berusaha ada untuk mem-back-up orang terdekatnya.
dan saya beruntung menjadi salah satu "orang terdekat" itu :)




32 orang berangkat. bukan jumlah sedikit walau untuk ukuran "liburan bersama"

perjalanan menuju jepara dari surabaya di mulai malam hari. perjalanan sekitar 6 jam sebelum sampai ke pelabuhan kartini. sedikit mengecewakan sebenarnya, ketika melihat bagaimana banyak wisatawan berminat terhadap karimun jawa namun fasilitas di pelabuhan sangat jauh dr kata memuaskan.
baik pelayanan petugas, kerapian lahan parkir, bahkan fasilitas toilet umum.

perjalanan dilanjutkan dengan kapal lambat (dengan harga tiket: 42000), sekitar 4 jam perjalanan laut. mual sempat mampir, baik akibat asap rokok ataupun gelombang laut.

sesampainya disana, kami naik bison menuju homestay. tidak ada yg khas dari tempat bermalam selama empat hari itu, kecuali air putih. aroma laut dan sengir asin sejumput ada di setiap teguk air putih yg kami konsumsi.
tapi jangan khawatir, banyak kelontongan yg menjual air mineral untuk para wisatawan yg memang tidak bisa kompromi dgn air putih yg "unik" itu >,<

hari pertama kami sampai sekitar jam 2 siang. bergegas mandi dan tanpa membuang waktu beberapa kami yg masih memiliki cadangan energi berjalan kaki menuju dermaga besar, tepatnya menjelang matahari terbenam.
semburat oranye tertangkap sempurna oleh air laut, dan oleh setiap mata yg memandang.

sunset di dermaga besar


nyatanya sore itu saya menemukan keindahan yg melampaui semburat cahaya kala senja: Fatimah dan Soleha.
dua gadis cilik yg malu-malu mendekati kami. dan saya sambut dengan tawaran meminjamkan kacamata serta topi saya untuk mereka pakai. keakraban berlanjut. kami bermain, bernyanyi, dan menari bersama. iya, saya MENARI. walau hanya berputar ala penari balet, itu bukan hal mudah bagi orang usia 21. dan hanya rasa bahagia yg nyata berbinar di mata saya sore itu.
sepertinya jepretan sahabat saya, helen, lebih bisa berbicara dari rangkaian kata saya tentang sore bahagia di dermaga.


bahagia emang super sederhana


petualangan dimulai. esok paginya kami beranjak ke dermaga karena kami akan menyebrang menuju pulau-pulau di sekitar Karimun Jawa besar. (sejujurnya, saya tidak ingat persis urutan nama pulau yg saya kunjungi. maaf). dalam satu hari kami berhenti di tiga spot snorkeling. tapi tidak ada satupun spot yg benar-benar mengesankan. jadi lagi-lagi tak akan banyak cerita soal ini.



di perahu yg saya naiki, ada pak sabar. dia menjadi teman ngobrol yg menambahkan kepingan pengetahuan pada otak kecil saya. tentang tradisi lomban di hari ketujuh sawal dan dengan senyum menjawab penasaran konyol saya "pak kalau ada yg butuh operasi caesar gimana ya?"

hampir terlewat, ada nama lain yg juga mencuri hati saya di pulau itu. di hari kedua saya dan helen berencana menikmati sunrise di sebuah pantai, yg dikenal dengan nama: nirwana. akhirnya, semalam sebelumnya kami harus mencari rental sepeda motor. dan kami temukanlah rental motor "jojo"
dengan harga 50rb untuk setengah hari.
owner rental ini, membiar kami mengambil sendiri motor di parkirannya saat hendak menuju nirwana di jam subuh. MENGAMBIL SENDIRI, dengan kondisi kunci yg bergelantung. itu sukar kami cerna, tapi akhirnya membuat saya mengagumi etos saling percaya di masyarakat sana.

dan bagian terakhir yg cukup layak dibagi adalah: tongseng. jika anda mengunjungi karimun jawa jangan sampai lupa menikmati cumi tongseng di alun-alun. harganya bervariasi, tergantung ukuran. tapi rasa dijamin nikmat dan bikin rindu :)

di hari kepulangan, ada sesuatu yg membuat perjalanan ini ditutup dgn rasa miris.
pagi-pagi buta kami sudah sampai di dermaga. titik-titik gerimis menemani durasi penantian keberangkatan kapal. kamu menunggu tepat di belakang portal penutup jalan. saya, rombongan, dan banyak wisatawan lain.
kecewanya adalah, beberapa orang tidak cukup sabar menanti kedatangan petugas untuk membuka portal dan menerobos masuk.
oke, di hadapan para turis asing kelakukan warga asli demikian. rombongan tai lung kungfu dari bandung, dengan jaket kebanggaan mereka menerobos bersama. bahkan harus saya akui, juga ada dua orang dari institusi sekolah saya mengajar. tidak ada pembelaan yg cukup untuk tindakan semacam itu. kesabaran menunggu akan jauh lebih terhormat.
tanpa ingin merinci kejadian ini, saya harap masyarakat Indonesia bukan hanya menjadi wisatawan yg cerdas tapi juga bijak.

banyak kekecewaan di perjalanan ini. tapi masih beruntung karena ada alasan yg membuat saya memperhitungkan ini sebagai pengalaman yg mengesankan: para warga disana dan kuliner malamnya.dan sedikit banyak adalah karena ini merupakan momen terakhir menghabiskan waktu bersama rekan kerja :')

sesama guru IPS: kocak!
ladies :)


Soleha, Fatimah, pak Sabar, dan mas Jojo adalah kebetulan "manis" yg saya temui di sela-sela ketidaksempurnaan perjalanan ini.
pertemuan dengan mereka membuat saya merasa sedang mengambil sepotong fortune cookies yg tepat dan membuat perjalanan ini tetap layak dibagi.

sisi berkesan dari perjalanan sama seperti fortune cookies, kita tidak bisa menebak apa yg akan membuat hati kita tersenyum. mungkin satu-satunya yg dibutuhkan adalah ketegasan yg cukup untuk melawan kekecewaan dan tetap melangkah, setegas langkah saya sore itu menuju dermaga yg menjadi awal kisah cinta di karimun jawa.
sembari menikmati suasana mendung kota probolinggo, saya mem-flashback perjalanan saya di tahun ini. per januari 2014 sampai bulan sebelum berganti usia, ada setidaknya empat perjalanan berkesan

5 bulan sebelumnya..
dengan status sebagai "penyusup" tepat di hari pertama tahun ini, pulau menjangan menjadi saksi seorang bernyali ciut melawan sisi pengecutnya akan kedalaman dan rasa pedas.
di perairan pulau kecil itu, kagum tak henti meluap, akan keindahan bawah laut. pesona yg melebihi tebaran awan di puncak penanggungan, sunrise di bromo, bahkan laut jernih serta pasir putih karimun jawa.
dua wishlist bisa tercoret, adalah bonus. suatu perjalanan dengan kawan-kawan baru tanpa banyak rencana dan berakhir dengan kepuasaan!

2 bulan sebelumnya ...
pendakian perdana di 1653 mdpl. petualangan yang tidak menyisakan kesempatan untuk mencoret barang sebijipun wishlist. tapi perjalanan kaki 6 jam yg basah, dengan medan yg tak mudah jelas melekat di hati karena siratan rasa yg tak terkira. entah kapan bisa menikmati lagi perasaan semacam itu: haru dan bangga

bersama bendera kebanggaan saya


beberapa minggu yg lalu ...
di awal bulan ini, saya mengunjungi kota klasik: Jogjakarta. tidak ada yg terlalu mainstream di kota ini. Malioboro tak pernah kehilangan pesona. Borobudur yg megah juga tetap layak disinggahi. tapi perjalanan ini menetap di ingatan karena sang partner perjalanan dan kunjungan ke rumah sakit kelahiran saya di magelang, yg sekaligus menjawab salah satu poin dari 150 keinginan saya.
tempat tangisan pertama saya di bumi
entah kenapa suka banget sama foto kami satu ini


se minggu lalu ...
perjalanan paling tidak menarik, karena dilakukan berombongan. pun kecewa dengan alam bawah laut yg sudah rusak. jauh kalah indah dibandingan jelajah bawah laut menjangan. tapi jatuh cinta masih boleh saya cicipi di perjalanan kali ini, karena mengenal orang-orang warga asli Karimun Jawa, serta olahan ikannya yg murah tapi sakti menggugah selera. mengunjungi destinasi yg memang saya ingin tuju, lega rasanya!

bersama pak Sabar. yang menjelaskan banyak hal tentang pulau itu.

dua bocah cewek yg menyambut sore saya di dermaga Karimun Jawa

di menjangan, saya jatuh cinta dengan keindahan bawah lautnya.
di jogjakarta, saya jatuh cinta dengan partner perjalanan saya.
di karimun jawa, saya jatuh cinta dengan sikap sahaja warga lokal sana.
di penanggungan, saya jatuh cinta pada setiap jengkal langkah, setiap tetes embun, keringat, bahkan air hujan. tak mungkin lupa, jatuh cinta dengan samudera awan dan siratan sinar matahari yg berangkat gagah ke peraduan. tapi yg terpenting, disana saya jatuh cinta pada: diri saya sendiri.

kecuali penanggungan, di setiap perjalanan terselip kesempatan mencoret beberapa poin dari 150 keinginan.
tapi entah mengapa, pendakian adalah cerita yg paling ingin saya banggakan di usia ini.
semoga itu pertanda, di usia duapuluhdua akan ada puncak lain yg mengijikan saya melakukan pengulangan rasa yg serupa :)